• Kepompong XXX 2: Sex Craze Nerd

    Kepompong XXX 2: Sex Craze Nerd


    188 views

    Cerita MayaKarya cipta ini dilindungi undang -undang hukum alam gaib. Dilarang mengcopy-paste, mengubah isinya, atau mengaku-ngaku sebagai yang nulis. Para pelanggar dijamin akan mandul!

    • Yang mau muat di tempat lain, minta izin dulu sama gue atau bos Shu, plus nama penulis sama Disc nya jangan dihapus
    • Cerita berikut jelas hanya fiksi semata, dan berdasarkan sebuah sinetron di salah satu TV swasta di Indonesia, namun tidak mengikuti jalan cerita sinetron tersebut (ya iyalah!).

    ********

    Kepompong

    Tasya melangkah pelan menuju pintu rumahnya. Badannya terasa sakit-sakit, terutama selangkangnnya yang baru saja dihajar habis-habisan oleh penis-penis dengan berbagai ukuran. Tapi ia amat menyukai perasaan ini, perasaan nikmat dan tidak berdaya, ketika ia menyerahkan tubuhnya sepenuhnya untuk digarap sebebas-bebasnya. Perlahan Tasya membuka pintu rumahnya diiringi derit engsel yang perlu diminyaki.

    “Sya, baru pulang?” terdengar suara ibunya dari dapur.

    ”Iya Bu. Ada ekskul dulu barusan.” Kata Tasya sambil bergegas menuju kamarnya.

    Biasanya sepulang sekolah, Tasya mencium tangan ibunya terlebih dahulu, tapi hari ini tubuhnya bau sperma yang disemprotkan semena-mena hampir keseluruh bagian tubuhnya oleh geng ranmor yang baru saja menggarapnya. Meski sudah dibersihkan, namun Tasya khawatir bau itu masih bisa tercium oleh ibunya, jadi ia bergegas menjauh. Cerita Maya

    “Sya, nggak makan dulu?” Seru ibunya ketika melihat anaknya menghilang dibalik pintu kamar.

    “Nanti aja Bu, masih kenyang.” Kenyang karena kebanyakan menelan sperma dari pria-pria yang ejguelasi dalam mulutnya.

    “Ya udah. Tapi jangan lupa nanti makan ya, jaga kesehatan. Anak kesayangan ibu jangan sampai sakit.” Kata ibunya dari balik pintu yang tertutup.

    “Iya bu.”

    Tasya sedikit tersenyum. Ibunya masih menganggapnya sebagai gadis kecil lugu yang masih perlu dikelonin. Andai saja ibunya melihat kelguean Tasya beberapa jam yang lalu, ketika ia melayani nafsu pria-pria kasar dengan nafsu yang tidak kalah menggebu-gebu. Andai saja ibunya melihat ketika relung-relung tubuh Tasya dijejali penis demi penis secara bergantian. Andai ia tahu…

    Tiba-tiba HP Tasya berbunyi, ketika ia melihat layarnya, tertera nama Hellen disana.

    “Hai hai, ada apa Len?”

    “Hai Sya. Gini, malem ini elo mau nggak nginep di rumah gue?”

    “Nginep? Emang ada apaan, ortu lu pada pergi?”

    “Nggak sih… Cuma pengen aja ngobrolin sesuatu.”

    “Ngobrolin apaan sih?”

    “Ada deh.”

    “Ih sok misterius amat sih. Emang gak bisa besok aja di sekolah?”

    “Ihhh sombong banget sih. Ini penting lho. Ayo dong Sya, pleasseee.”

    “Iya, iya. Ntar gue nginep di rumah elo deh.”

    “Siipp dah. See you later, muaachhh.”

    Koneksi pun terputus, sementara Tasya bertanya-tanya masalah penting apa sih yang hendak dibicarakan Hellen sampai-sampai ia tidak besok menunggu sampai besok?

    **********

    “Hai Sya. Kata Hellen kamu mau nginep ya malem ini?” Tanya mamanya Hellen yang sepertinya sedang sibuk menyiapkan makan malam.

    “Iya Tante. Hellen katanya lagi pengen ditemenin.”

    “Aduh, emang geng de’Rainbow, nggak bisa dipisahin sebentar aja, lengket banget.” Canda mama Hellen.

    “He he, biasa aja kok Tante.”

    “Udah naek aja, Hellen ada tuh di kamarnya.”

    “Oh iya, permisi Tante.”

    Tasya melengos pergi menuju kamar Hellen yang sudah ia hafal dimana letaknya. Tasya hendak mengetuk pintu kamar Hellen ketika pintu itu terbuka, menampakkan wajah Hellen yang tersenyum-senyum aneh.

    “Hai Sya, udah nyampe?”

    “Belom, masih di jalan! Ya udah nyampe lah!”

    “Hi hi, sewot amat, lagi sensi ya? Masuk Sya.”

    Tasya pun memasuki kamar yang girly banget namun juga dihiasi buku-buku tebal yang bertebaran dimana-mana.

    “Aduh, kamar cewek kok berantakan gini sih?” Protes Tasya sambil memunguti buku-buku yang berserakan.

    “Eh udah biarin aja gue yang beresin. Elo pasti masih capek kan?”

    Gerakan Tasya terhenti “Capek? Maksud lu?”

    “Ehh, nggaakk. Udah lu tiduran aja, biar gue yang beresin.”

    Dengan sedikit salah tingkah Hellen memberesi kamarnya sambil bersiul-siul nggak jelas, sedangkan Tasya memandangnya dengan tatapan curiga.

    *********

    “Lagi ngapain Sya?”

    “Eh? Oh ini ngerjain PR Bahasa Inggris.” Jawab Tasya yang memang tampak mumet mengerjakan lembar-lembar soal PR diatas meja belajar Hellen.

    “Oh yang itu? Nyontek punya gue aja, tuh ada di sebelah kanan elo.” Kata Hellen sambil menghanduki rambutnya yang basah, karena ia memang baru selesai mandi.

    “Nggak ah, gue pengen ngerjain sendiri, kalau nyontek terus kapan bisanya?”

    “He he tumben insyaf.” Canda Hellen sambil mengaduk-aduk tumpukan pakaiannya di lemari, mencari kaus tidur favoritnya.

    Setelah menemukan apa yang ia cari, Hellen membuka jubah mandi yang ia kenakan dan membiarkannya jatuh ke lantai, hingga sekarang ia berdiri dengan hanya mengenakan celana dalam saja. Hellen bukan termasuk cewek populer di sekolahnya, namun jika saja para cowok di sekolahnya melihatnya seperti ini, tidak diragukan lagi mereka pasti langsung meneteskan air liurnya melihat tubuh semolek dan putih mulus seperti ini.

    “Wah nggak nyangka, ternyata Hellen si kutu buku bodinya bagus juga ya?” Canda Tasya dengan pandangan mata yang melekat pada setiap gerakan Hellen, yang kini telah mengenakan kaus warna hijau bergambar Hello Kitty di depannya.

    ”Eh? Biasa aja kali, bukannya bodi elo yang bagus? Sampai-sampai cowok-cowok itu nggak ada puas-puasnya…” Gumam Hellen sambil melangkah dan duduk di pinggir tempat tidurnya.

    Meskipun hanya gumaman yang tidak begitu jelas, namun terdengar bagaikan petir di telingan Tasya. Jantung berdetak kencang, dan ia bertanya-tanya, mungkinkan Hellen mengetahui rahasianya dan Chacha, ataukah Hellen hanya asal bicara saja?

    “Maksud lu?” Meskipun sudah berusaha tenang, namun tak ayal suara Tasya bergetar ketika mengucapkannya.

    “Apa? Oh ituu… anu, sebenernya ini yang mau gue bicarakan sama elo… soal cowok-cowok dekil di rumah yang elo kunjungin tadi sore.”

    Mendengar ini, untuk sejenak waktu terasa berhenti bagi Tasya. Kaget, bingung, malu, marah, semua bergejolak dalam benaknya. Tanpa sadar Tasya bergerak cepat menghampiri Hellen yang masih duduk di pinggir tempat tidur dan menekan kedua bahunya.

    “Elo… elo ngelihat semuanya?”

    “I… iya.” Hellen bergumam pelan.

    Lutut Tasya terasa goyah dan ia pun jatuh terduduk di lantai di hadapan Hellen.

    “Sebenernya Chacha udah cerita semuanya ke gue,soal penculikan itu… dan juga soal… perkosaann yang menimpa dia sama elo. Tapi dia pesen supaya gue pura-pura nggak tahu, jadi selama ini gue…”

    “Chacha cerita sama elo?! Kenapa?”

    “Soalnya… dia minta bantuan gue buat ngawasin elo…”

    “Ngawasin gue, emang kenapa?”

    “Kata Chacha, sejak perkosaan itu, tingkah elo jadi agak aneh Sya. Chacha khawatir kalau… kalau ada apa-apa sama elo, jadi gue sama Chacha gantian ngawasin elo.”

    “Termasuk ngikutin gue sepulang sekolah?” Tasya terdengar sedikit geram, padahal saat ini yang ia rasakan adalah malu yang teramat sangat. Maklum, ia mengira bahwa selama ini ia berhasil menutupi perasaan dan perbuatannya dihadapan Chacha, tapi ternyata Chacha menyadari perubahan tingkah lakunya, bahkan mengajak Hellen untuk mengawasinya.

    “Iya… begitu deh… tapi… kenapa Sya? Kenapa elo balik lagi ke tempat itu?” Hellen perlahan mengelus rambut di kepala Tasya yang kini tertunduk lesu.

    “Gue… nggak tahu Len. Gue… terus terang gue… suka dengan perlakuan mereka sama gue.”

    Hellen tersentak mendengar pengakuan jujur Tasya. Ia sungguh tidak tahu harus berkata apa.

    “Elo… pasti nganggap gue cewek murahan ya Len? Nganggap kalau gue… cewek gila… sex” Kata terakhir itu hanya berupa bisikan pelan dari bibir Tasya.

    “Ihh nggak kok, suer nggak.”

    Hellen yang kebingungan melihat kelakuan sahabatnya itu lalu ikut duduk bersimpuh dan medekap Tasya dalam pelukannya. Tasya pun sesegukan di bahu Hellen sambil balas memeluknya, air matanya pun membasahi bagian pundak Hellen. Hellen pun mengelus-elus rambut Tasya, mencoba menenangkannya, sampai akhirnya gadis itu berhenti menangis. Tapi Hellen merasakan ada sesuatu yang aneh, hembusan nafas Tasya yang menerpa lehernya terasa berat, dan sebelum ia menyadarinya, sebuah kecupan panas menerpa lehernya yang putih mulus, mengirimkan getaran kesekujur tubuhnya.

    “Sya?” Hellen mencoba melepaskan pelukannya, tapi dekapan Tasya mengunci lengannya dan sekaligus tubuhnya. Hellen pun Cuma bisa membiarkan kepala Tasya yang bergerak-gerak dilehernya, menciumi leher Hellen si bintang pelajar.

    “Hellen… kamu wangi banget…” bisik Tasya di dekat telinga Hellen.

    “Sya, kamu ngapain?” Erang Hellen.

    Tasya melepaskan pelukannya, tapi kedua tangannya memegangi kedua bahu Hellen. Mata Tasya bertatapan dengan mata Hellen, keduanya terdiam, tidak yakin apa yang harus diperbuat. Akhirnya perlahan Tasya mendekatkan bibirnya dan melumat bibir.

    “Sya…” Desah Hellen berusaha menolak ciuman sahabatnya, namun kemudian matanya terpejam ketika Tasya kembali mengulum bibirnya yang mungil. Tasya pun tampak rakus menghisap mulut gadis itu sampai air ludah keduanya bercampur dan belepotan.

    Tangan Tasya pun bergerilya menyusup kebalik kaus yang dikenakan Hellen, merayap melalui perut, hingga akhirnya menggengam induk buah dada Hellen dan kemudian meremas-remasnya dalam sebuah gerakan yang teratur. Ibu jarinya bergerak mengulas-ngulas melingkari puting susu gadis itu, sambil sesekali memuntir-muntir puting susu Hellen dengan ibu jari dan telunjuknya.,Tangan Tasya pun semakin keras meremas-remas induk payudara Hellen hingga gadis itu tak terasa mulai mendesah pelan. Tasya tiba-tiba menghentikan ciumannya, membuat Hellen diamdiam merasa kecewa. TanganTasya menyingkapkan kaus Hellen keatas, hingga keindahan dan kemulusan payudara Hellen pun tersingkap.

    “Wahh, ternyata Hellen si bintang pelajar punya toket sebesar dan seindah ini. Siapa sangka.” Kata Tasya yang sambil tersenyum nakal mengelus-ngelus puncak buah dada Hellen yang memang terbilang montok dan bulat sempurna, sungguh indah.

    “Sya, jangan.” Mulutnya berkata tidak, tapi Hellen tidak berbuat apapun untuk menghentikan Tasya.

    Tanpa berkata apa-apa, Tasya kembali menciumi leher mulus Hellen yang menebarkan wangi sabun mandi.

    “Sshhh… Ssssshhh Aaahhhh…” desahan suara Hellen terdengar semakin memburu, ketika ciuman Tasya semakin turun dan hinggap dipuncak buah dada Hellen dengan lidah bergerak kesana kemari seperti gerakan orang sedang menyapu. Bibir Tasya menyusuri seluruh permukaan bukit lembut dan kenyal itu, sebelum akhirnya naik dan mengemut-ngemut payudara Hellen, memubuatnya sesekali menahan nafas merasakan kehangatan mulut Tasya yang rakus menghisap-hisap puncak buah dada gadis berkacamata itu. Tubuh Hellen pun tampak kejang-kejang seiring dengan semakin kuatnya hisapan Tasya di payudaranya.

    “Owww. Akhhhh… jangan Sya. Ihhhh” tangan Hellen berusaha menyingkirkan kepala Tasya ketika mulutnya mengigit-gigit kecil puting susunya, namun tangan Tasya menangkap kedua tangan Hellen dan menguncinya kebelakang punggung. Jika Hellen serius melawan, tentu seja tenaga keduanya berimbang, namun Hellen pun hanya melawan dengan setengah hati, jadi dengan mudah Tasya bisa menahan tangannya. Mulut Tasya pun semakin buas mengecup, menggelitiki hingga mengigit-gigit puncak payudara Hellen dengan gemas.

    “Aduhhh! Sya jangann… gue nga mau ahhh… Owwww!!!” Hellen masih berusaha protes, namun tiba-tiba merasa kecewa ketika Tasya menghentikan gerakannya.

    “Ya udahhh. Tapi kalau elo nggak mau, gimana kalau lu yang mainin punya gue” Tasya menegakkan tubuhnya dan membuka kaus yang ia kenakan berikut bra yang ia pakai. Sehingga saat ini ia duduk bersimpuh dihadapan Hellen dengan bertelanjang dada.

    Hellen hanya bisa terbengong memandangi buah dada sahabatnya itu, jadi Tasya pun menarik kedua tangan Hellen dan menggenggamkannya pada payudaranya. Perlahan Hellen pun mulai mengelusi buah dada Tasya yang meskipun tidak begitu besar, namun dihiasi putting kecoklatan yang mengacung indah. Jari telunjuk Hellen pun memutari putting Susu yang sudah mengeras itu, diikuti oleh tangan yang meremas-remas pelan bukit payudara itu. Mata Tasya pun sampai terpejam-pejam keenakan sedangkan bibirnya sedikit terbuka dan mendesis-desis. Melihat itu Hellen merasa gemas dan langsung melumat bibir sahabatnya itu dengan bibirnya, suara kecupan dan sedotan pun mulai terdengar diselingi desahan-desahan pelan penuh kenikmatan.

    Ciuman-ciuman Hellen lalu menjalar turun, ke leher, hingga kebelahan dada Tasya, lidahnya menjilati belahan dada gadis itu sebelum akhirnya mengemut-ngemut buah dada Tasya. Hisapan-hisapan kuat Hellen membuat bukit susu Tasya menjadi kemerahan, butir-butir keringat lembut pun mulai muncul menghiasi payudara gadis itu, membuatnya semakin mengkilap indah dibawah sinar lampu dikamar.

    “Leenn…”

    Tasya tiba-tiba mendorong kepala Hellen dan mendorong tubuhnya hingga terbaring di lantai. Masih belum sadar apa yangterjadi, Hellen merasakan celana dalamnya ditarik dengan keras oleh Tasya, spontan Hellen mengangkat pinggulnya untuk memudahkan Tasya menarik lepas celana dalamnya. Begitu celana dalam itu terlepas, kedua tangan Tasya langsung mengelus-ngelus paha Hellen dan mendorongnya hingga mengangkang lebar-lebar. Mata Tasya menatap nanar gundukan bukit mungil yang terbelah tampak bersih dan terawat di selangkangan Hellen. Kedua jari telunjuknya lalu menguakkan bibir vagina Hellen, hingga menunjukkan keindahan isinya. Wajah Hellen langsung memerah karena desakan birahi yang meledak-ledak dikepalanya, ketika melihat ekspresi wajah Tasya yang kelihatan begitu bernafsu. Tasya perlahan menciumi bagian dalam paha Hellen, ciumannya kemudian terus turun kearah selangkangan Hellen. Mulut Tasya bergerak menuju liang vagina Hellen yang dihiasi rambut yang jarang. Tasya mengendus-ngendus sesaat, mencium bau aroma birahi yang sangat terasa sekali, sebelum akhirnya mulai menjilati pinggirannya, dan kemudian menaruh lidahnya di tengah-tengah vagina Hellen, perlahan lidah itu mulai mengorek-ngorek belahan bibir vagina gadis itu. Rasanya agak asin dan gurih tapi sungguh membuat tergila-gila. Tasya pun mempercepat jilatannya, membuat Hellen mulai menggeliat tak menentu. Dengan tangannya Tasya mencari bibir vagina Hellen lalu membukanya dengan menariknya ke samping, lidahnya pun menerobos lebih dalam lagi, membuat desahan Hellen makin keras dan tanpa terasa mulai mendorong kepala kepala Tasya lebih melekat ke selangkangannya, karena gemas dan kegelian. Tarian lidah Taysa membuat Hellen makin keenakan dan kegelian, pinggulnya mulai bergoyang tak menentu. Apalagi ketika Tasya menemukan benjolan kecil pada vagina Hellen. Dengan jarinya, Tasya membuka penutup clitorisnya dan lantas mengusap dan mengggesek tombol kecil itu. Diikuti lidahnya yang menyelusup masuk ke dalam vagina Hellen yang makin basah.

    Tanpa sadar Hellen mulai meremas-remas buah dadanya sendiri, dan ketika Tasya menghisap clitorisnya perlahan, Hellen mengepit kepalanya di antara kedua pahanya, dan menggeliat pada waktu yang bersamaan.

    “Sya… Sya… Please… don’t… don’t stop.” Rintihnya perlahan.

    Lidah Tasya makin menari-nari di dalam vagina Hellen sedangkan satu tangannya menyusup kedalam celana pendeknya dan memainkan vaginanya sendiri yang juga sudah basah kuyup. Diamuk birahi seperti ini, Tasya makin bersemangat dan perlahan memasukkan jari kecilnya di lubang vagina Hellen yang masih perawan. Jari kecil pun berganti dengan jari telunjuk, ketika tiba-tiba badan Hellen mulai mengejang dan bergetar pelan.

    “Syaaa…” Hellen merintih cukup keras yang mungkin terdengar sampai keluar kamarnya.

    Tasya masih mengisap, dan kadang-kadang menjilati bagian dalam vagina Hellen ketika merasa himpitan paha Hellen tiba-tiba mengejang, dan vaginanya memuntahkan lendir yang berwarna putih bening yang kemudian dihisap dan dijilati Tasya dengan penuh semangat.

    “Ahhhhhhh….!! Crrr Crrrttt” Hellen meliukkan tubuhnya, mengejang kemudian terbaring lemas.

    Tasya menghentikan jilatannya dan mulai bergerak naik, menciumi perut, dada, leher, hingga akhirnya melumat bibir Hellen yang setengah terbuka. Dan lendir yang tadinya memenuhi mulut Tasya pun belepotan di mulut keduanya,bercampur air liur.

    “Hi hi, mulut kamu bau.” Canda Hellen ketika Tasya menghentikan lumatannya.

    “Emang itu salah siapa? Salah kamu kan? Memek punya kamu.” Balas Tasya sambil mencubit pinggang Hellen. Keduanya pun tertawa cekikikan, sampai akhirnya keduanya terbaring bersebelahan sambil berpelukan.

    “Sya…”

    “Hmm.”

    “Kalau mainnya ama cowok, apa seenak barusa?” Tanya Hellen dengan pandangan sedikit menerawang.

    “Hmm, susah jelasinnya.”

    “Kok susah?”

    “Abis beda rasanya, gak bisa dibandingin. Kayak makan jeruk sama apel, beda aja.”

    “Gue pengen coba Sya… ML sama cowok.”

    “Nanti aja kapan-kapan. Sekarang lu masih punya hutang ama gue.”

    Tasya bergerak menindih Hellen dan kembali melumat bibir Hellen.

    “Sya…” Desah Hellen.

    Dan yang terdengar sesudah itu hanyalah sebuah melody yang panas dan membakar birahi. Melodi desahan dan rintihan dua gadis remaja yang sedang memuaskan nafsu birahi. Berdua dalam sebuah kamar yang tertutup.

    ***********

    Sudah tradisi geng de’Rainbow untuk pergi jalan-jalan pada malam minggu bareng-bareng, maklum semua anggotanya termasuk golongan Jojoba alias Jomblo-jomblo bahagia. Tempat yang mereka pilih kali ini adalah sebuah pusat perbelanjaan yang baru dibuka beberapa minggu yang lalu, tentu saja niatnya sama sekali bukan untuk belanja, melainkan sekedar jalan-jalan saja, syukur-syuku bisa nemu orang yang bisa mengakhiri status jomblo mereka. Saat itu Hellen dan Tasya berjalan paling depan sambil bergandengan tangan, Chacha berjalan sendirian dengan kepala sedikit tertunduk, sedangkan Indra dan Bebi berada paling belakang agak menjauh.

    “Ndra, lu perhatiin gak ada yang aneh sama Tasya, Hellen, dan Chacha belakangan ini?”Tanya Bebi.

    “Aneh? Aneh bagaimana?”

    “Ih, itu lho, Chacha keliatan agak down n murung. Trus Tasya sama Hellen kok kayaknya lengket banget belakangan ini, kemana-mana berdua terus, sekarang aja jalan pake gandengan tangan segala.”

    “Oh, kalo Chacha emang keliatannya sih lagi ada masalah, tapi dia nggak mau bilang ada apa. Tapi kalo Tasya ama Hellen kayaknya wajar-wajar aja, namanya juga temen wajar dong kalau lengket.”

    “Ih tapi ini lengketnya nggak wajar Ndra, mereka udah kayak…”

    “Kayak apa?”

    “Kayaakkk… orang pacaran.”

    “Hushh, ngawur banget sih lu. Masak mereka pacaran? Emangnya mereka lessb…”

    “Eh siapa tahu, gara-gara kelamaan jomblo mereka jadi lesbi. Lagian cewek kan beda sama cowok, cewek tuh kalau emang suka dan cinta, cowok atau cewek nggak ada bedanya.”

    “Akh ngawur ngawur. Udah ah.” Indra menutup pembicaraan, tetapi dalam benaknya langsung membayangkan adegan mesra antara Hellen dan Tasya, lengkap dengan desahan dan rintihan antara mereka berdua.

    “Duh, ngawur… kacau ini kacau.” Desisnya pelan sambil menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan mesum di benaknya.

    ***********

    Selepas bel istirahat berbunyi, seperti biasa kantin sekolah langsung diserbu ratusan siswa kelaparan yang mencari pengganjal perut, diantara ratusan siswa tersebut terselip juga Chacha dan Bebi, tapi Tasya dan Hellen tidak terlihat bersama mereka.

    “Beb, si Tasya sama Hellen kemana?”

    “Oh, mereka katanya mau ke WC dulu.”

    “Ke WC…?” Chacha sedikit merenung dan hanya mengaduk aduk milkshake pesanannya tanpa meminumnya.

    ”Lu perhatiin nggak Beb, kalau belakangan ini mereka kemana-mana selalu berdua terus?” Kata Chacha kemudia.

    “Ih ih persis,bener tuh. Gue juga ngomong gitu ama Indra, tapi dia nggak percaya. Kata Indra gue Cuma bayangin yang nggak-nggak, tapi menurut gue mereka tuh kayak orang lagi… pacaran.”

    “Pacaran…?” gumam Chacha dengan pandangan menerawang.

    *********

    Sementara itu Tasya dan Hellen memang sedang berada di WC sekolah, tapi bukan untuk menuntaskan hajat, melainkan untuk menuntaskan hasrat yang lain. Di salah satu bilik WC tersebut, Tasya dan Hellen sedang berciuman dengan penuh nafsu dan nafas yang memburu. Bibir keduanya berpagutan saling berkulum mesra, keduanya sudah dikuasai oleh hasrat birahi. Tasya mendorong tubuh Hellen hingga ia tersandar di tembok, ciuman keduanya menjadi liar dan Tasya pun menjelajahi leher dan rahang Hellen sambil memeluk pinggangnya erat. Hellen pun memejamkan matanya menikmati perlakuan teman satu gengnya tersebut. Hellen menurunkan tangannya dan menarik rok seragam Tasya naik lalu menyelinap masuk, hingga menyusup ke dalam celana dalam yang dikenakan Tasya, dan menyentuh vagina Tasya hingga pemiliknya menjerit pelan. Hellen menjentik-jentikkan jarinya di clitoris Tasya sambil terkadang memilin-milinnya, hingga Tasya merasakan geli dan kenikmatan yang luar biasa dari bawah sana. Tasya pun menggelinjang-gelinjang tak tahan. Tasya membalasnya dengan membuka dua kancing teratas seragam Hellen dan menyusupkan tangannya kesana, meremas-remas gundukan daging disana, sementara jari-jari Hellen terus beraksi di dalam lubang kewanitaan Tasya, menusuknya, menariknya masuk, dan begitu terus. Kenikmatan mengaliri tubuh Tasya menguasai sekujur tubuh dan membuatnya semakin menggelinjang-gelinjang kegelian. Tiba-tiba sebuah gedoran keras di pintu terdengar membahana mengagetkan keduanya. Tasya dan Hellen dengan cepat menghentikan perbuatan mereka dan merapikan pakaian mereka yang acak-acakan.

    “Ada orangnya.” Teriak Hellen.

    “Iya tahu, Hellen sama Tasya kan? Ayo keluar, gue mau ngomong.” Sebuah suara yang tidak asing lagi terdengar.

    Tasya dan Hellen bergegas keluar dari bilik WC tersebut, dan diluar sudah menanti Claudya, musuh bebuyutan geng de’Rainbow, menatap keduanya dengan pandangan sinis dan senyum penuh kemenangan.

    “Mau apa sih lu? Tuh WC yang lain kan pada kosong.” Kata Hellen dengan ketus.

    “Lho, siapa yang bilang gue mau ke WC? Gue Cuma mau nunjukkin ini sama kalian.” Claudya menggerakkan tangannya yang tadinya tersembunyi di balik punggung. Di tangannya tergenggam HP canggih lengkap dengan kamera beresolusi tinggi. Claudya mengacungkan HP tersebut dan di layarnya terputar rekaman video. Bukan rekaman video biasa, melainkan adegan hot antara Hellen dan Tasya di dalam WC barusan, tampaknya diambil lewat bagian atas pintu WC yang memang dilapisi kaca tembus pandang. Rekaman tersebut memang tampak bergoyang-goyang, namun ada beberapa bagian yang di zoom, dan tampak jelas siapa dan sedang apa Tasya dan Hellen didalam WC tersebut.

    “Ahh itu!” Hellen memekik tertahan, sedangkan Tasya spontan bergerak untuk merebut HP tersebut dari tangan Claudya, namun Claudya lebih gesit menarik tangannya dan menyimpannya ke belakang punggung.

    “Eitts enak aja mau ngerebut barang orang.” Ejeknya.

    “Claudya… hapus rekaman itu, kalau nggak…” Ancam Hellen.

    “Kalau nggak apa? Emang gue takut ama lu? Ha ha ha, ngimpi kali.” Ejek Claudya sambil ketawa,

    “Claudya, mau lu apa si?” Tanya Tasya yang mulai geram.

    “Mau gue? Gue mau kalian membubarkan geng bulukan kalian itu, sekarang juga! Kalau nggak, gue bakalan sebarin rekaman ini ke anak-anak satu sekolah, biar mereka pada tahu kalau geng de’Derainbow itu isinya adalah cewek-cewek penyuka sesama jenis.”

    “Claudya! Lu jangan berani-berani…”

    “Heh, ya iyalah gue berani, siapa takut sama cewek cungkring dan kutu buku kayak kalian berdua. Lagian selama rekaman ini ada di gue, kalian emangnya bisa apa?” Ejek Claudya sambil tertawa puas.

    Hellen dan Tasya berpandangan sejenak, mereka tahu kalau mereka nggak punya pilihan selain menuruti keinginan Claudya.

    “Oke, kalo kami membubarkan de’Rainbow, lu akan menghapus rekaman itu kan?” tanya Hellen.

    “Ya nggak lah! Gue bakalan simpen rekaman ini sebagai asuransi, supaya kalian nggak bakalan nyambung lagi abis itu. Pokoknya selama rekaman ini ada ditangan gue, kalian nggak boleh ketemuan apalagi ngumpul bareng. Pokoknya persahabatan kalian harus putus.”

    “Lu keterlaluan banget sih?!”

    “So what gitu lho? Toh kalian nggak punya pilihan lain. Denger ya,bubarkan de’Rainbow, atau tanggung akibatnya.” Claudya melambaikan HP di tangannya sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Tasya dan Hellen yang kebingungan.

    “Sya, gimana ini? Kita mesti gimana?”

    “Tenang Len, semua pasti ada jalan keluarnya.”

    “Tapi kita mesti ngomong apa sama Chacha, Bebi, dan Indra?”

    “Kita nggak bakalan ngomong apa-apa sama mereka.”

    “Lho, terus Claudya?”

    “Dia gak bakalan nepatin janjinya, cepat atau lambat rekaman itu pasti akan nyebar keseluruh sekolah, mungkin malah keseluruh Indonesia.”

    “Ihh kok malah nakutin gitu sih Sya?”

    “Satu-satunya cara kita mesti ngerebut HP beserta rekaman itu.”

    “Tapi gimana caranya?”

    “Tenang Len, gue ada rencana.” Pandangan Tasya ketika mengatakan kalimat itu amat serius, bahkan menakutkan, sehingga Hellen sedikit gemetar melihatnya.

    *********

    Malam itu Claudya senyum senyum sendiri dalam kamarnya. Tangannya menggenggam HP berisi rekaman Tasya dan Hellen yang ia mabil tadi siang. Dengan rekaman ini, keinginannya untuk membubarkan geng de’Rainbow akhirnya tercapai, dan rasa iri dan dendamnya akan kepopuleran geng tersebut di sekolah akhirnya akan menemui pembalasan yang memuaskan. Tentu saja setelah geng tersebut bubar, Claudya diam diam akan menyebarkan rekaman tersebut melalui internet, hingga tuntaslah rencana pembalasan yang ia susun. Tidak cukup hanya dengan membubarkan, ia juga harus menghancurkan seluruh anggota de’Rainbow! Tiba-tiba terasa HP nya bergetar, tanda ada yang menghubunginya. Nomer HP siapa nih? Pikirnya ketika ternyata no yang menghubunginya tidak terdaftar dalam buku telepon HP-nya.

    “Halo.”

    “Claudya? Ini Tasya.”

    “Oh kamu… mau apa pake nelpon-nelpon segala?”

    “Gue sama Hellen udah keluar dari geng de’Rainbow dan gak akan temenan lagi sama semua anggotanya, tapi Chacha sama Bebi bukan urusan kita, kita nggak bisa ngapa-ngapain kalau mereka mau nerusin geng de’Rainbow.” Kata-kata Tasya terdengar tajam.

    “Oh gitu… oke gue terima. Biar Bebi sama Chacha jadi urusan gue, tapi lu harus pegang janji dan jauhin mereka semua, termasuk Hellen temen lesbian lu.”

    “Oke gue janji, tapi sebelumnya gue mau bicara langsung sama lu.”

    “Ya udah, ngomong aja.”

    “Nggak lewat telepon, gue mau ketemu langsung, sekarang juga.”

    “Aduuhh banyak tingkah amat si lu?! Gue lagi males ke luar nih.” Claudya melirik jam dinding dan melihat jam menunjukkan pukul 7 malam, terhitung masih pagi memang.

    “Sebentar aja, gue ada di depan rumah lu, lu tinggal keluar aja.”

    “Depan rumah gue? Ngapain lu kesini…? Ya udah, tunggu sebentar.”

    Claudya menutup hubungan, lalu bangkit dan mengenakan jaket kesayangannya sebelum akhirnya bergegas menuju keluar rumahnya. Tidak lupa membawa HP yang berisi adegan panas antara Tasya dan Hellen itu.

    “Eh, mau kemana jam segini?” Mama Claudya yang memergokinya ketika membuka pintu keluar bertanya.

    “Mau nyari snack dulu ke BeastMart.”

    “Aduh, kan bentar lagi makan malem?”

    “Ya ampun ma, snack doang gitu lho, bentar lagi juga dah laper.”

    “Ya udah, tapi jangan lama-lama.” Kata mamanya.

    “Iya.” Claudya berkata pendek sebelum melangkah meninggalkan rumahnya melewati gerbang.

    Di luar ia celingukan sejenak mencari Tasya, hingga matanya tertumbuk pada sesosok tubuh yang melambai dari sudut jalan yang gelap karena lampu jalan di bagian tersebut mati. Claudya pun menghampiri Tasya.

    “Ih ngapain sih pake gelap-gelapan gini? Sok misterius banget.” Ketus Claudya.

    “Kan biar enak.”

    “Enak apanya?”

    “Enak nyuliknya.”

    Claudya terlambat menyadari ketenangan dalam nada suara Tasya. Ia juga terlambat menyadari ketika beberapa sosok bayangan melompat dari kegelapan dan langsung mengurung dan memegangi tubuhnya, termasuk membekap mulut dan hidungnya dengan segumpal kain yang menyebarkan bau wangi yang memusingkan kepala. Matanya sempat tertumbuk pada wajah Tasya yang memancarkan ekspresi aneh, ekspresi yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, menakutkan. Lalu kesadarannya pun menghilang, hanya gelap.

    ********

    Kesadaran Claudya perlahan mulai kembali. Ia membuka matanya yang masih terasa berat bagai diganduli batu. Kepalanya pun terasa amat pusing dan seluruh ruangan tempat ia berada terasa berputar. Tunggu… ruangan? Claudya mecoba memfokuskan penglihatannya dan melihat sekeliling ruangan yang sama sekali tidak ia kenal. Ia mencoba bangkit, tapi tidak bisa, karena tangannya terikat pada kepala ranjang besi tempat ia berbaring. Ia mencoba menggerakan kakinya, namun ternyata kakinya pun terikat. Tapi bukan hanya itu yang menganggetkannya, yang lebih membuatnya terkejut, ia terbaring terikat di ranjang tersebut dengan telanjang bulat! Ia tidak tertutup secarik kain pun, apalagi tubuhnya terikat membentuk huruf x, hingga kedua kakinya mengangkang, memperlihatkan vaginanya yang tidak tertutup apapun. Ia merasa panik dan mulai meronta sekuat tenaga, hingga menimbulkan bunyi derit ranjang dan benturan besi dengan lantai dan tembok. Tidak lama kemudian pintu kamar tersebut terbuka, dan lima orang pria berwajah seram dan dekil memasuki kamar tersebut, diikuti oleh… Tasya dan Hellen!

    “Udah bangun neng?” Kata salah satu pria tersebut.

    “Tasya… Hellen?! Kalian… mau apa?! Lepasin gue!” Meski mencoba memberanikan diri, namun melihat pandangan buas pria-pria seram yang melekat pada tubuh telanjangnya, membuatnya ketakutan setengah mati.

    Tanpa menjawab pertanyaan Claudya, Tasya menggerakan tangannya yang ternyata menggenggam handicam kecil dan mulai mengarahkannya pada tubuh telanjang Claudya yang terikat tak berdaya.

    “Rekaman di HP lu, lu bikin kopiannya?” Kata Tasya dingin sambil bergerak memutari ranjang tempat Claudya berbaring, memastikan handicam di tangannya merekam setiap jengkal tubuh telanjang Claudya.

    “Sya… Sya… tolong, lepasin gue Sya.” Claudya kini mulai dicengkram rasa takut dan air mata pun mulai mengalir dari kedua bola matanya.

    “Rekaman di HP lu, lu bikin kopiannya?” Kata Tasya dingin, seakan tidak mendengar permohonan Claudya.

    “Sya…”

    “Jawab! Lu bikin kopiannya nggak?!” Bentak Tasya keras.

    Hellen yang Cuma berdiri di belakang sempat terkejut mendengar bentakan Tasya. Selama mereka berteman, baru kali ini Hellen mendengar Tasya membentak seperti itu.

    “Nggak… nggak, gue nggak bikin kopiannya.” Kata Claudya di sela isak tangisnya.

    “Bener?”

    “Suer.”

    Tasya menurunkan tangannya dan berhenti merekam seluruh kejadian tersebut. Ia lalu duduk diatas ranjang disamping tubuh telanjang Claudya sambil perlahan membelai-belai rambut di kepala musuh bebuyutannya itu.

    “Denger ya, gue udah hapus rekaman itu dari HP lu, jadi sekarang lu nggak bisa ngapa-ngapain kita. Justru sebaliknya, gue punya rekaman ini sekarang.” Kata Tasya sambil menunjukkan Handicam di tangannya.

    Baca Juga Cerita Seks Kepompong XXX: Persahabatan Bagai…

    “Dan sekarang pun kalau gue mau, gue bisa ngancurin hidup lu dengan menyuruh temen-temen gue ini ngegarap lu habis-habisan sambil gue rekam. Dan lu bisa jadi bakalan jadi bintang bokep paling terkenal di internet, kalau rekaman itu gue sebar ke seluruh dunia.”

    ”Sya… jangan Sya. Lu kan anak baik, masa lu tega sih.” Wajah Claudya memucat ketika mendengar ancaman tersebut, dan ia hanya bisa memohon-mohon meminta belas kasihan.

    “Hmm gimana yaaa…? Kayaknya temen-temen gue udah nggak tahan tu liat bodi mulus kamu gini. Iya nggak brur?” Kata Tasya kepada pria-pria yang berada di dalam kamar tersebut.

    “Lha iya lah Sya. Udah, biar kita garap aja ni cewek rame-rame. Berani-beraninya ngancem Tasya, cewek kesayangan kita.” Kata salah satu dari mereka.

    “Jangan Sya, please jangan…” Claudya semakin ketakutan.

    “Oke, kalau gitu sekarang gue akan lepasin lu. Tapi inget, jangan pernah lagi lu ganggu gue atau temen-temen gue. Daannn… mulai sekarang, kalau gue suruh apapun sama lu, lu harus melaksanakan perintah gue, apapun itu. Mengerti?!” hardik Tasya.

    “Iya, iya Sya. Gue janji.” Karena tidak ada pilihan lain, Claudya terpaksa setuju.

    “Bagus. Brur, lepasin dia, kasih balik bajunya, terus anterin pulang ya.” Kata Tasya sambil menepuk bahu salah satu pria kasar tersebut.

    “Lepasin Sya? Yaa apa nggak sayang? Kita celup dulu boleh ya?” Kata salah satu pemuda yang tampak amat bernafsu tersebut.

    “Nggak boleh. Jangan diapa-apain, balikin ke rumahnya.” Kata Tasya Sambil bergegas meninggalkan ruangan tersebut, diikuti Hellen.

    ”Aduh Sya, lu sempet bikin gue takut. Kirain lu bakalan nyuruh mereka buat bener-bener merkosa si Claudya.”

    “Ya enggak lah. Gue nggak sejahat itu. Tapi liat aja, kalau Claudya masih juga ganggu kita, gue gak bakalan segan lagi.” Ekspresi wajah Tasya yang tadi begitu serius dan dingin, kini kembali ceria seperti biasa.

    “Sya, masa sih celup aja nggak boleh?” Si pemuda kasar yang tadi protes kini keluar dari kamar dan kembali kembali menyatakan keberatannya.

    “Ih lu tu Den, emang nafsuan banget sih orangnya. Lu mikirin perasaan gue dong. Yang minta bantuan lu buat nyulik dia kan gue, berarti dia adalah tanggung jawab gue Den. Kalau sampai dia ngapa-ngapain, gue yang mesti tanggung jawab, gue nggak mau itu.” Kata Tasya.

    “Iya iya, gue ngerti.” Deden tampak bersungut-sungut. “Tapi sebagai gantinya, lu harus ngelayanin gue malem ini, gimana?” Wajah Deden kembali berbinar nakal.

    “Enak aja lu doang. Kita kerja bareng-bareng, enaknya juga bareng-bareng dong.” Empat orang pria yang juag termasuk komplotan geng ranmor itu akhirnya keluar kamar sambil salah satunya membopong tubuh Claudya yang sudah berpakaian lengkap, namun tampak tak sadarkan diri.

    “Iya ah, berisik lu pade. Gue kan udah janji mau nginep disini malem ini. Itu bayaran atas bantuan kalian kan?”

    “He he, siip dah. Tapi temen lu itu gimana, dia ikut nginep nggak?” Tanya salah satu dari mereka yang bernama Sigit, sambil mengarahkan pandangannya pada Hellen.

    Tasya melirik sejenak kearah Hellen yang tampak tertunduk malu.

    “Tau, tanya sendiri sama dia.” Kata Tasya.

    “Gimana Neng, mau nginep disini nggak malem ini? Kita senang-senang sepuasnya.” Kata orang yang bernama Iwan.

    Setelah ragu-ragu sejenak, Hellen pun mengangguk pelan.

    “Naah gitu dong! Asyikk kita senang-senang malem ini.” Kelima pria tersebut langsung cengar-cengir nggak jelas.

    “Ih udah ah, cepetan anterin Claudya balik ke rumahnya, ntar keluarganya keburu panik lagi nyariin dia. Tenang aja, abis kalian balik, kita pasti masih disini kok.”

    Kelima pria tersebut tampak berunding sejenak, diikuti oleh gerakan hompimpa antara mereka. Dua orang pria tersebut mengeluarkan erangan kecewa sambil kemudian bergerak keluar melalui pintu sambil membawa tubuh Claudya yang masih tak sadarkan diri. Sementara 3 orang pria yang tersisa kini menatap Tasya dan Hellen dengan pandangan “lapar”.

    “Kan nggak perlu kita semua yang nganter, bagaimana kalau kita mulai duluan pesta ini.” kata Deden sambil menatap Hellen, barang baru yang belum terjamah sebelumnya.

    “Sya…” Gumam Hellen perlahan, bernada ketakutan.

    “Lu takut Len? Mau kita batalin aja apa?” Bisik Tasya.

    “Nggak usah… gue juga pengen… tapii gue agak-agak takut.”

    “Tenang aja Len.” Tasya berusaha menenangkan Hellen yang tampak amat gugup menghadapi pengalaman pertamanya ini.

    Ketiga laki-laki berwajah sangar dihadapan mereka dengan terburu-buru membuka pakaian mereka masing-masing, hingga akhirnya ketiganya menampakkan tubuh kasar dan berotot, lengkap dengan batang penis yang hitam teracung-acung dan bergoyang ketika ketiganya menghampiri Tasya dan Hellen. Kedua gadis itu kini dikepung oleh tiga batang penis yang sudah siap untuk menghujam dan mereguk habis kenikmatan dari tubuh kedua gadis cantik itu. Tasya tersenyum kecil kemudian membuka kausnya berikut bra yang ia kenakan. Ia lalu berlutut seakan-akan menyerah dalam todongan tiga batang penis yang terangguk-angguk itu. Mulut Tasya langsung mengemut kepala penis Deden, sedangkan kedua tangannya mengocok-ngocok batang kemaluan Iwan dan SIgit.

    “Sya… jangan Si Deden doang dong!! gantian dong ngemutnya..!”

    “Iya nih.. Emutin kontol gue juga dong!” protes Iwan.

    Tasya pun mulai bergantian melumat dan mengemut-ngemut penis ketiga orang itu yang terkekeh keenakan

    “Mmmhh…seeepp…ckkk…ckkk” mulut gadis itu berdecak-decak ketika mengulumi tiga batang penis yang hitam dan baunya tidak sedap, sedangkan Hellen hanya terbengong melihat kelakuan sahabatnya itu.

    “Hellen, sini.” Ajak Tasya ketika melihat Hellen hanya terbengong.

    “Eh, iya.” Hellen pun berjalan menghampiri Tasya, dan ketika sudah sampai di sampingnya, Tasya menarik tangan sahabatnya tersebut hingga Hellen ikut berlutut di sebelah Tasya, dan sama-sama berada dibawah todongan tiga penis hitam para pemuda kasar tersebut. Tasya meraih tangan Hellen dan meletakkannya pada batang kemaluan Iwan.

    “Ayoo.. lu kocok-kocok sambil jilatin” Tasya mengajari Hellen untuk memainkan penis.

    Hellen si bintang pelajar merasakan perasaan yang aneh, ketika merasakan denyutan-denyutan hangat batang Iwan dalam genggaman telapak tangannya. Tiba-tiba saja keraguannya menguap , sirna entah kemana. Tangannya dengan perlahan mulai mengocok-ngocok batang penis itu, lalu Hellen menggunakan mulutnya untuk menciumi batang penis Iwan yang hanya bisa meringis-ringis keenakan. Lidah Hellen pun terus menari-nari diatas kepala penis Iwan yang bentuknya mirip helm. Deden lalu ikut berlutut dibelakang Hellen, lalu meraih ujung kaus yang dikenakan Hellen dan menariknya keatas. Hellen yang tahu maksud Deden lalu mengangkat kedua tangannya keatas untuk memudahkan Deden membuka kausnya. Deden tidak lupa membuka kancing bra Hellen dan menariknya keatas, hingga Hellen kini berlutut dengan bertelanjang dada, memperlihatkan payudaranya yang amat montok, putih dan mulus. Kedua tangan Deden langsung meremas-remas payudara gadis itu dari belakang, kemudian jari tangannya mencubit dan menarik-narik puting susunya, sesekali dipelintir-pelintirnya puting itu sampai Hellen merintih keenakan.

    “Njing… kecil-kecil toketnya montok banget… hmmm pentilnya oke juga nih.” Deden masih sempat-sempatnya berkomentar.

    “Len, jilatin bijinya juga. Cowok suka kalo bijinya dijilatin.” Bisik Tasya di kuping Hellen, memberi ilmu cara memuaskan lelaki.

    Mendengar itu, jilatan dan ciuman Hellen kini turun ke buah pelir Iwan yang bertekstur kasar, lidahnya terjulur-julur keluar mengulas-ngulas biji pelir si preman sambil sesekali mengulumnya dengan mulut dan menyentilnya dengan lidah, membuat si pemilik biji makin blingsatan dan hanya bisa meremas-remas rambut Hellen yang bergerak maju mundur. Tak lama kemudian Hellen menghentikan jilatannya, , Ia menatap kepala penis Iwan sebentar sebelum membuka mulutnya lebar-lebar dan…

    “Hfffhhh.. hhmmm..nmm” Hellen memasukkan penis itu kedalam mulutnya dan menghisapnya dengan keras hingga mengeluarkan suara-suara nggak jelas dari mulutnya.

    Suara mulut itu terdengar begitu mengasikkan ditelinga Iwan, sampai-sampai tubuhnya merinding merasakan penisnya sedang diemut-emut oleh seorang gadis cantik yang masih anak sekolahan, dengan tubuh muda yang masih segar dan kencang. Sementara Tasya sedang disibukkan oleh kegiatannya menghisap penis Sigit. Sedangkan tangan Deden yang tidak pernah berhenti merayapi tubuh Hellen kini berusaha membuka kancing dan resleting celana pendek yang dikenakan Hellen, berhasil! Dan celana pendek itupun merosot hingga ke lutut Hellen. Jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalam Hellen dan merayap mencari liang yang ada di selangkangannya. Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu yang sudah terasa basah, semakin lama semakin dalam. Hellen mulai menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginanya itu bergerak-gerak dengan liar. Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginanya dengan menggunakan dua jari. Hellen pun mulai tak kuasa untuk menahan diri dan lenguhan-lenguhan panjang mulai keluar dari mulutnya. Hanya berselang lima menit kemudian, badan Iwan sudah gemetaran tak menentu dan meracau tak jelas dan kelihatan kalau ia beberapa kali hendak menarik penisnya dari isapan Hellen. Tasya yang sudah melihat gelagat, hendak memperingatkan Hellen namun terlambat, Iwan menekan kepala Hellen dan penisnya langsung menyemburkan cairan putih kental yang banyak sekali didalam mulut Hellen.

    “Ueeddaann… gak tahan gueee!” Erang Iwan.

    Hellen sempat terkejut merasakan semburan cairan hangat tersebut, namun tanpa kesulitan ia menelan semua cairan asin kental tersebut, bahkan tidak lupa menyeruput ujung kontol Iwan untuk mendapatkan sisa cairan yang masih tertinggal disana.

    “Aduuhh… duh ngiluu…” Keluh Iwan karena isapan Hellen ternyata terlalu keras untuk penisnya yang masih terasa sensitif sehabis orgasme.

    “Duh payah lu Wan, baru diisep bentar aja udah keluar.” Ejek Sigit yang masih menikmati servis oral Tasya.

    “Bukan gitu men, cewek ini jago banget isep kontol. Lu mesti coba sendiri, enak banget mulutnya.” Keluh Iwan yang masih sedikit ngos-ngosan.

    Mendengar ini perasaan Tasya agak campur aduk. Beberapa hari yang lalu ia mendengar bahwa memek Chacha ternyata lebih nikmat, wangi, dan peret dari punyanya. Kini ia mendengar bahwa Hellen ternyata lebih jago ngisep kontol darinya. Hati Tasya pun merasa iri dan cemburu, yang kemudian ia lampiaskan dengan memperhebat servis oralnya pada penis Sigit.

    “Sya… eh… aduh Sya.” Sigit pun kelabakan menerima serangan yang amat bersemangat itu.

    Sementara Deden yang merasa nafsunya sudah di ubun-ubun lalu menarik tubuh Hellen dan mendorongnya dengan kasar hingga terduduk diatas sofa. Dengan tidak sabar Deden berlutut dihadapan Hellen dan menarik celana dalam Hellen, satu-satunya yang masih melekat di tubuhnya. Setelah terlepas, Deden mencampakkan celana dalam itu sembarangan saja, lalu meraih bagian bawah lutut Hellen kemudian mengangkangkan kedua kakinya kesamping kiri dan kanan sehingga kakinya membentuk huruf “M”, seolah-olah ingin mempertontonkan keindahan vaginanya yang mungil dihadapan Deden. Deden pun sejenak nanar melihat gundukan bukit kecil yang ditumbuhi rambut jarang di bagian atasnya itu.

    “Jangan… jangan dilihat…” Desis Hellen dengan wajah memerah karena malu.

    Seumur hidupnya belum pernah ada lelaki yang melihatnya dengan tatapan seperti itu, wajar saja jika kali ini ada rasa malu bercampur bangga melihat ada pria yang terlihat amat sangat bernafsu melihat tubuh telanjangnya. Dada Deden pun seakan hendak meledak melihat tatapan malu-malu kucing Hellen, tampak innocent tapi sekaligus penuh nafsu dan menggoda. Dengan tidak sabar ia mengarahkan kepala penisnya menggesek-gesek bibir vagina gadis itu, setelah dirasakan pas barulah Deden menggerakkan penisnya dalam sebuah irama yang menyentak-nyentak, berusaha memasuki lubang vagina Hellen yang masih perawan.

    “Awww…!” satu sentakan yang kasar dan kuat membuat gadis itu menjerit kecil, kepalanya tengadah keatas, matanya terpejam-pejam dengan bibir yang sedikit terbuka, ada suara-suara lirih yang keluar dari bibir mungil gadis itu ketika Deden menekan batang penisnya semakin dalam

    “Den… aduh, pelan-pelan.” Rintih Hellen yang merasakan vaginanya dipaksa merenggang di luar batas. Padahal ukuran penis Deden termasuk biasa saja.

    Deden sendiri adalah orang kasar yang terbiasa bergelut di dunia hitam. Wajahnya pun jauh dari tampan apalagi lembut. Tapi ketika melihat ekspresi wajah Hellen yang begitu mengiba, rasa kasihannya timbul juga dan dadanya terasa hangat dan aneh. Sejenak ia menghentikan gerakannya dan dengan perlahan menurunkan kepalanya dan mengecup lembut bibir Hellen. Hellen sejenak terkejut, namun tanpa ragu ia kemudian membalas kecupan lembut itu, tambah lama tambah bernafsu hingga keduanya kemudian saling melumat dan menghisap mulut lawannya.

    “Heekk…” keluar suara dari mulut Hellen ketika satu sentakan keras dari Deden mengirim penisnya untuk amblas seluruhnya masuk kedalam vagina Hellen, sekaligus menembus selaput dara yang selama ini ia jaga.

    “Sakit say?” kata Deden ketika melihat Hellen yang menggigit bibirnya sendiri, sambil membelai rambut Hellen.

    “Hmm… erghh… nggak kok.” Desis Hellen dengan nafas ngos-ngosan.

    “Gue entot lu sekarang ya?” Kata Deden.

    Hellen Cuma menganggukan kepala, dan batang penis Deden pun mulai keluar masuk liang vaginanya perlahan-lahan, sepertinya Deden sedang meresapi jepitan memek Hellen yang seret dan peret dibatang kemaluannya.

    “Enak gak say…? Memek lu enak banget.” Tanya Deden sambil memaju mundurkan batang kemaluannya semakin kuat merojok-rojok lubang memek gadis itu.

    “Mmmhhh… enak banget Den… kontol lu eenaakk… ” Hellen mulai mengikuti kebiasaan mereka untuk mengeluarkan kata-kata kasar untuk menambah nafsu sex mereka.

    “Teruuuss Den… entot gue sepuas… lu” Erang Hellen dengan terputus-putus, karena sodokan-sodokan Deden yang semakin kasar dan liar.

    “Waduuhh, udah pada mulai aja, curang banget sih lu pada.”

    Dua orang pria yang tadi mengantar Claudya pulang kini sudah kembali. Dengan tidak sabaran mereka langsung melucuti pakaian masing-masing dan langsung menyerbu Hellen. Pemuda yang bernama Adi langsung duduk disebelah kanan Hellen, tangannya bergerak mengelus -ngelus induk payudara Hellen sebelah bawah sambil menciumi leher mulus Hellen yang sudah dipenuhi butir-butir keringat yang wangi. Sesekali Adi meremas kuat-kuat induk payudara gadis itu sampai pemiliknya melenguh panjang. Sedangkan Maman berdiri disebelah kiri gadis itu dan menarik kepala Hellen sambil menjejalkan batang penisnya kedalam mulut gadis itu lalu menggerakkannya maju mundur.

    “Asyik gue paling suka toket sama pentil montok kayak gini..! Duhhh susu…” Adi menundukkan kepalanya dan lidahnya menggeliat-geliat menggelitiki puting susu Hellen, kadang mulutnya mengecup dan melumat -lumat puncak buah dada Hellen yang memang montok dan putih mulus. Hellen sejenak melepaskan batang kemaluan Maman, gadis itu memejamkan matanya menikmati serangan-serangan Adi dibuah dadanya yang membuntal semakin padat, dan terutama sodokan-sodokan Deden yang semakin kuat.

    ”Plokkk… keplokkkk… keplokkkk” suara itu terdengar dengan keras berbaur dengan rintihan dan erangan lirih Hellen.

    “Yeee.., kok berhenti?! Ayo dong isep kontol gue!!!” tangan Maman kembali menarik kepala Hellen dan menekankan kepala penisnya kedalam mulut si gadis. Hellen membuka mulutnya kembali dan menerima batang yang kini kembali menyesaki rongga mulutnya itu.

    Sedangkan Tasya tampak sibuk di sandwich oleh Iwan dan Sigit. Tasya tampak ngos-ngosan dengan wajah meringis-ringis menahan nikmat yang diakibatkan dua penis yang menjebol vagina dan anusnya secara bersamaan. Ia paling suka dijepit seperti ini, dikeroyok dua, tiga, atau bahkan banyak kontol sekaligus untuk memuaskan nafsunya yang semakin menggebu-gebu. Hanya beberapa menit kemudian, Hellen memekik kecil ketika akhirnya Deden berhasil mengantarnya ke puncak kenikmatannya. Hellen merasakan dirinya ditelan gelombang besar yang meluluh lantakkan tubuhnya, seluruh tubuhnya gemetaran menahan nikmat yang tak tertandingi.

    “Ahhh..aahhh..ahhh…erhhgggg…oh..godddd” erangnya sensual menambah semangat Deden untuk terus memacu tubuh Hellen yang terlonjak-lonjak.

    Hellen pun menjerit, orgasmenya telah tiba…Tak terbayangkan rasanya, terlalu nikmat. Tubuhnya pun merenggang, lemah, lemas, pikirannya melayang. Deden merasakan semburan cairan orgasme Hellen, menerpa penisnya, hangat

    “Crrrrttt.. Crrrttttttt” cairan itu keluar berdenyut-denyut diiringi rasa nikmat yang membuat tubuh Hellen mengejang, lendir-lendir lengket namun licin itu kini membuat suara berkecipak – kecipak, Ketika Deden semakin kuat memompa lubang seret itu, hingga akhirnya

    “Argggg..!! Houhhhhhh.. gila ni memek… ” Deden menggeram-geram sebelum akhirnya menusukkan batang kemaluannya dalam-dalam dan menyemburkan spermanya memenuhi liang memek Hellen dan membanjiri rahim mudanya. Deden pun mencabut penisnya sambil terengah-engah.

    “Man, kita bawa ke kamar aja yuk? Biar lebih enak.” Kata Adi yang masih sibuk meremas-remas payudara Hellen.

    “Boleh.” Jawab Maman, ia lalu dengan mudah mengangkat tubuh Hellen dan membawanya kedalam kamar tempat tadi Claudya diikat.

    Sesampainya disana Maman dengan kasar melemparkan tubuh Hellen keatas ranjang yang untungnya dilapisi spring bed yang empuk. Laki-laki berwajah sangar itu lalu berbaring di sebelah Hellen sambil mengocok-ocok penisnya yang sudah amat tegang.

    “Ayo neng, naik sini.” Katanya pada Hellen.

    Hellen yang sudah kesambit setan nikmat tanpa ragu segera mengangkangi penis Maman. Hellen meraih penis itu dan sejenak menggesek sambil menekan-nekankan kepala penis itu ke lubang vaginanya sendiri. Hellen perlahan menurunkan tubuhnya dan menggigit bibirnya ketika merasakan kepala penis Maman mendesak masuk dengan gagah. Dengan tidak sabaran Maman menarik turun tubuh Hellen hingga penisnya langsung amblas seluruhnya kedalam vagina gadis remaja itu, lalu Maman langsung mengentotnya dengan gerakan-gerakan yang cenderung kasar dan brutal.

    “Awwww !! Akhhhhh… Mmmhh” Hellen merengek-rengek ketika penis Maman mengocok-ngocok lubang vaginanya kuat-kuat, berkali-kali gadis itu terpekik ketika Maman menyentakkan batang kontolnya menghantam vagina gadis berkacamata itu.

    “He he, gimana, enak kan kontol gue?” Kata Maman disela-sela gempurannya.

    “Banggeett… memek gue…. gimana?” Balas Hellen.

    “Siipp… banget, ahhh.” Erang Maman.

    “Wahhh…!! Gue kebagian pantatnya nih…” Adi yang entah sejak kapan ada di belakang Hellen kini menggesek-gesekkan kepala penisnya dibelahan buah pantat Hellen. Setelah menemukan lubang yang dicari, satu tangannya menahan pinggang Hellen kemudian sambil menekankan batang penisnya kuat kuat, hingga tubuh Hellen terdorong-dorong disebelah bawah ketika Adi, berkali-kali menghentakkan kemaluannya dengan kasar.

    “Bang.. pelann-pelannn… Akkhhhhhh….” Hellen terpaksa berpegangan pada kedua bahu Maman.

    “Udah..! Tenang aja.. Ungghhh Arggg… ” kata Adi sambil kembali menekan pantatnya.

    Dan Hellen pun memekik panjang ketika penis Adi sukses menjebol lubang anusnya. Punggung Hellen pun melenting kebelakang mirip seperti sebuah busur, mencoba menahan rasa sakit dan sesak yang menyerbunya. Merasakan jepitan lubang yang begitu sempit, Adi justru malah tambah semangat. Tanpa ragu ia langgsung menggenjot lubang pantat Hellen dengan kecepatan tinggi.

    “Uggghhhhhhh…. ! aduhh duhhhh…. Shhhh” gerakan Adi yang kasar membuat Hellen meringis-ringis kesakitan, terkadang mulutnya menganga lebar, kedua matanya membeliak merasakan sodokan-sodokan kasar dilubang anus dan lubang vaginanya yang bekerja sama dengan apik, seakan merobek-robek bagian bawah tubuhnya.

    “Berisik lu ah…” Maman langsung menarik kepala Hellen, mulutnya langsung menyumpal bibir gadis itu yang sedang meringis-ringis, sementara tangan Adi merayap meremas-remas induk buah dada Hellen, dan sejenak yang terdengar dari dalam kamar itu hanyalah suara rintihan dan desahan tertahan dari tiga anak manusia yang sedang memuaskan nafsu birahi mereka.

    Sementara diluar kamar itu, 4 tubuh bergelimpangan karena kehabisan tenaga setelah memacu diri kelewat batas demi mengejar nafsu. Tasya memandangi penis-penis layu yang baru saja menjebol vagina dan anusnya. Ia sebenarnya masih ingin “nambah”, tapi sayang ketiga pria di sekelilingnya masih terbaring kelelahan. Tiba-tiba terdengar suara pintu depan rumah yang terbuka, diikuti langkah-langkah kaki berdebam. Dadang beserta 4 orang anggota geng ranmor itu rupanya sudah pulang dari “bekerja”. Mata Dadang si bos preman separuh baya itu langsung tertumbuk pada gelimpangan tubuh-tubuh lemas di ruang tengah.

    “Lho, ada neng Tasya rupanya, pantesan pada lemes kayak gini,abis ngewe yah?” Kata salah satu pria yang baru tiba itu.

    “Asyik ada Tasya. Sya lu nginep malem ini?” Tanya yang seorang lagi.

    “Iya.” Tasya menjawab dengan suara dibuat sesendu mungkin.

    “Asyiik, boleh dong kita ngentot lu sekarang?”

    “Boleh…”

    “Siipp, beres proyek langsung ngewe.”

    Tubuh mulus gadis cantik bernama Tasya itu pun langsung dikerubuti oleh tiga orang laki-laki bertubuh hitam berwajah sangar dan bengis. Sementara Dadang dan Isman si wakil ketua geng itu tampak celingukan.

    “Den, si Adi amasi Maman kemana?” Tanya Dadang pada Deden.

    “Di kamar noh, lagi ngegarap barang baru, temennya Tasya. Cakep lho ceweknya.” Jawab Deden.

    “Barang baru?” Dadang mengusap-usap dagunya lalu berjalan menuju pintu kamar tempat dimana Hellen berada.

    Dadang langsung membuka pintu kamar tersebut dan melihat Hellen yang berbaring lemas diatas kasur, nafasnya masih terengah-engah sedangkan tangan tangan nakal Adi dan Maman merayapi tubuhnya yang mulus. Tampaknya ketiganya sudah selesai memuaskan nafsu masing-masing.

    “Di, Man!” Bentak Dadang karena kedua anak buahnya itu tampak tidak menyadari kehadirannya.

    “Eh bos, udah balik.” Kata Adi yang langsung bangkit, diikuti Maman.

    Dadang menatap tubuh mungil Hellen yang sudah berhias keringat ditubuhnya, menimbulkan efek berkilauan yang menggoda. Nafsu Dadang langsung bangkit.

    “Lu berdua keluar, gue pengen nyobain ni memek.”Kata Dadang.

    “Oh, pasti bos. Silahkan pake sepuasnya.” Kata Adi sambil cengengesan meninggalkan kamar tersebut, diikuti Maman.

    Hellen menatap Dadang yang membuka pakainnya satu persatu. Wajah pria itu sungguh seram, dan kelihatannya ia cukup tua untuk menjadi ayahnya. Hellen seharusnya merasa muak atau takut, tapi ketika melihat kontol raksasa Dadang yang telah mengacung perkasa, justru malah menimbulkan senyuman di bibir Hellen. Dan gadis itupun menyambut ketika tubuh Dadang yang bau keringat, menyerbu tubuh mungilnya dengan penuh nafsu. Tanpa buang-buang waktu Dadang langsung menindih tubuh Hellen dan menjilati leher dan payudara montok Hellen yang dihiasi keringat, tidak lupa tangannya meremas-remas pantat Hellen yang membusung padat. Hellen yang merasakan jilatan-jilatan Dadang merasa kegelian hingga tak terasa terkikik pelan. Tapi bukannya berhenti, Dadang justru mengangkat satu lengan Hellen hingga memperlihatkan ketiaknya yang bersih mulus dan langsung menjilatinya dengan bersemangat. Keringat si gadis muda justru terasa nikmat bagi Dadang yang sudah terbuai nafsu.

    “Nggak… aduuhh geliii.” Hellen terengah-engah antara geli dan perasaan aneh yang menyerbunya. Dadang terlihat amat menikmati setiap jengkal tubuhnya, dan itu menimbulkan perasaan bangga dalam diri Hellen. Cukup lama juga keduanya bergumul,saling mulat dan saling jilat.

    “Nungging lu…” Perintah Dadang sambil melepaskan tindihannya pada tubuh Hellen.

    Hellen pun bangkit dan menungging membelakangi Dadang, seakan memamerkan lubang surganya yang indah kepada Dadang. Dadang pun makin bernafsu melihat “barang baru” yang liar ini. Ia langsung menggenggam penis raksasanya dan…

    “Eggghhh… Heeennnnn… akkkkkkkkk” Hellen menggeleng-gelengkan kepalanya ketika merasakan suatu benda kenyal berusaha menerobos lubang vaginanya. Benda kenyal itu rasanya amat besar, hingga Hellen pun mengerang ketika merasakan lingkaran bibir vaginanya terasa dipaksa membuka selebar mungkin.

    “Awwww..!! ” jeritan panjang pun keluar dari mulutnya ketika merasakan tusukan kuat Dadang menembus jauh kedalam relung tubuhnya, semakin lama semakin dalam menyentak-nyentak kasar memasuki lubang vagina gadis itu.

    “Edannn!! Memek lu sempit amat…!! Baru belajar ngentot lu ya..” Kata Dadang sambil terus menjejal-jejalkan batang penisnya hingga terasa mentok.

    Dadang lalu menggerakkan penisnya memutar-mutar seperti sedang mengocok-ngocok lubang vagina gadis itu. Sambil sesekali menampar pantat Hellen yang membuntal padat, putih dan mulus, hingga berwarna kemerahan dan menimbulkan cap tangan lima jari. Saat itu Dadang melihat lubang anus Hellen yang merekah dan menutup, tanpa ragu Dadang langsung menusukkan jari tengahnya kedalam lubang anus Hellen dan langsung mengocoknya didalam, merasakan jepitan lubang yang bergerinjal itu.

    “Ehmm aduhh…” tangan Hellen yang tadinya menopang tubuhnya langsung ambruk, dan kini wajahnya menempel ke bantal, mencoba meredam jeritan yang hendak meloncat keluar dari mulutnya. Tapi anehnya, yang justru keluar malah…

    “Enhhhh.. Osssshhhh..tteeruuss baanng…..” Erang Hellen minta tambah. Preman bertubuh tinggi besar dengan tampang yang seram itu pun menyodok-nyodok dengan semakin kasar sehingga tubuh Hellen tersentak-sentak dengan makin kuat.

    Sekitar seperempat jam kemudian tubuh Hellen menggeliat dan melengkung seperti sedang mengalami siksaan yang sangat nikmat, vaginanya langsung menyemburkan cairan berwarna bening yang menyiram penis Dadang yang masih menggenjotnya habis-habisan. Kemudian tubuh Hellen terkulai lemas, namun masih dalam posisi menungging. Melihat Hellen yang sudah terkulai lemas, Dadang justru malah mempercepat genjotannya, hingga tubuh Hellen pun hanya bisa terguncang-guncang mengikuti sodokan Dadang. Hanya berselang lima menit kemudian Dadang sudah mencapai batasnya. Dengan cepat ia menggulingkan tubuh Hellen, lalu bergerak mengangkangi wajah gadis itu dan menjejalkan penisnya kedalam mulut mungil itu.

    “Ngehheee… telen tuh peju gue.” Dadang mengerang sambil menyemprotkan spermanya yang kental didalam mulut Hellen, sementara tubuhnya berkedut-kedut menahan nikmat.

    Hellen yang kini sudah gila peju, tanpa keberatan menerima cairan asin kental yang muncrat dari kepala kontol Dadang. Hellen bahkan menghisap dan mengurut kontol itu untuk mengeluarkan cairan yang mungkin masih tersisa dalam batangnya. Begitu semburannya selesai, Dadang langsung ambruk dan jatuh terduduk sambil bersandar ke kepala ranjang. Saat itu Hellen bangkit dan merangkak mendekati Dadang. Setelah wajahnya hanya terpisah beberapa jengkal dari wajah Dadang, Hellen membuka mulutnya, memperlihatkan cairan putih kental yang memenuhi mulutnya. Hellen lantas memutar-mutar lidahnya sambil mencecap cairan peju Dadang itu, sebelum akhirnya menelannya dengan desahan nikmat. Dadang terkekeh melihat kelakuan gadis yang baru saja hilang keluguannya itu. Cerita Maya

    “Enak neng?”

    “Segeerr.”

    Hellen lantas menciumi dada Dadang yang berbulu, turun ke perut, lantas memasukan dan menghisap penis dadang yang sudah layu didalam mulutnya. Dadang langsung merinding karena penisnya yang baru saja orgasme masih terasa amat sensitif, apalagi diperlakukan seperti itu oleh mulut basah dan hangat milik seorang gadis remaja cantik.

    “Nama lu siapa?” Tanya Dadang.

    “Hellen.” Jawab si gadis disela-sela hisapannya.

    “Hellen… lu doyan kontol?”

    “Ehmmm… banget.”

    “Hua ha ha…” Dadang tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Hellen itu. Tanggannya lantas membelai-belai rambut Hellen yang tergerai indah.

    Rintik-rintik gerimis diluar kini semakin besar, dan memang semalaman itu turun hujan tanpa henti, seakan menemani dua gadis remaja cantik yang sedang digilir oleh sepuluh orang orang laki-laki seram dan kasar itu sampai mereka puas menyalurkan nafsu binatangnya, semalam suntuk.

    Bersambung… —————–

  • Kepompong XXX: Persahabatan Bagai…

    Kepompong XXX: Persahabatan Bagai…


    90 views

    Cerita MayaHii lagi males bikin disclaimer. Pokoknya ni cerita cuma ada di KBB, kalau ada yang copy paste ke tempat lain tanpa izin, MANDULLLL! Yang mau muat di tempat lain, minta izin dulu sama gue atau bos Shu, plus nama penulis sama Disc nya jangan dihapus. Oks lanjuutt!

    **********

    Chacha, Helen & Tasya

    Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam lebih saat film yang diputar dibioskop tersebut akhirnya usai. Para penonton pun akhirnya berhamburan keluar melalui pintu keluar yang telah disediakan, diantara mereka ada 4 orang gadis cantik yang sepertinya masih berusia belasan tahun. Layaknya para gadis yang sedang mekar-mekarnya, keempat gadis itu berbicara dengan ribut mengenai film yang baru saja mereka tonton. Cerita Maya

    “Ih sumpah Edward Cullen tuh cuaakeep banget, coba dia orang Indonesia…” Cetus salah satu dari mereka yang sepertinya agak genit.

    “Kalau dia orang Indo namanya ganti, jadi Edi Cuplis.” Potong gadis yang agak tomboy.

    “Ih tapi kalau beneran vampir, secakep apa juga aku gak mau ah, ntar digigit lagi.” Sambut cewek yang feminin.

    “Tapi menurut buku yang aku baca, vampir tuh sebenernya Cuma boongan aja kok.” Sambung cewek yang berkacamata.

    Keempat gadis ceriwis itu terus berbicara sambil menuruni tangga yang berujung sampai ke basement dari mall tempat bioskop itu berada.

    “Beb kenapa gak besok aja sih transfer uangnya? Udah malem nih, basement kan sepi kalau jam segini, kalau ada rampok gimana?”

    “Ya maaf, abisnya aku tadi lupa, malah nonton dulu. Kata mama ini penting, transfer uangnya mesti malem ini, soalnya Om Joko nungguin.”

    “Tenang aja, kalau ada apa-apa kan ada Chacha, ya nggak Cha?”

    “Iya, tenang aja ah. Penakut banget sih.” Cetus si tomboy yang berwajah cantik.

    Keempat gadis itu kembali berjalan beriringan, tapi kali ini lebih merapat karena ternyata memang basement mall itu malam itu sepi sekali, bahkan satpam yang biasa berjaga dekat bilik ATM pun tidak kelihatan batang hidungnya.

    “Beb, cepetan gih.” Hellen si cewek berkacamata mulai tidak sabaran.

    “Iya ah.” Bebi si genit pun memasuki bilik ATM sementara ketiga temannya menunggu diluar.

    Belum lama berlalu, Tasya si cewek feminin yang lembut tiba-tiba melihat ada satu bayangan aneh di kegelapan. Karena penasaran ia memincingkan matanya untuk melihat lebih jelas dan iapun melihat ada sesosok bayangan yang sedang mengotak-atik pintu sebuah mobil mewah yang diparkir di basement tersebut.

    “Cha, itu… kayaknya maling mobil deh Cha.” Bisik Tasya pada Chacha yang memang paling pemberani diantara mereka.

    “Mana?”

    “Itu… agak jauh emang.” Tasya agak ragu-ragu untuk menunjuk, takut si maling mobil bisa melihat gerakannya.

    “Lu yakin Sya?”

    “Kayaknya sih begitu.”

    “Kalau gitu lu tunggu disini…”

    “Eh eh, mau kemana Cha? Jangan nekat gitu dong.” Hellen si kutu buku yang penakut kini mulai khawatir melihat keberanian temannya.

    “Gue Cuma mau nyari satpam dulu. Lu berdua tunggu dulu disini, awasi tu maling tapi jangan ketahuan.”

    Belum sempat keduanya mencegah, Chacha telah bergerak menuju tangga ke lantai atas.

    “Aduuh gimana nih?”

    “Tenang aja, kita pura-pura nggak tahu aja.”

    Si maling mobil rupanya telah berhasil melumpuhkan alarm dan membuka pintu mobil, kini ia masuk dan mulai mengutak atik kunci starter mobil tersebut. Tapi tiba-tiba terdengar suara gemuruh langkah kaki diikuti bayangan beberapa orang berseragam security yang langsung mengepung mobil tersebut beserta si maling didalamnya. Keributan dan saling bentak pun terjadi hingga akhirnya salah satu dari satpam tersebut menyeret keluar si maling mobil dan menyeretnya ke ruang keamanan. Tidak lupa beberapa satpam yang lain menghadiahi bogem mentah pada si maling mobil.

    “Aduh untunglah keburu.” Chacha yang sedikit terengah-engah setelah berlarian turun naik tangga kini telah kembali.

    “Aduuh ngeri banget, kok pake dipukulin segala sih?” Tasya yang memang lembut hati tidak tega juga melihat adegan didepannya itu.

    Salah satu satpam yang menangkap maling tersebut menghampiri ketiga gadis yang masih terbengong melihat perkembangan peristiwa tersebut.

    “Aduh, terima kasih ya adek-adek, sudah membantu kami menjaga keamanan dan ketertiban disini. Memang akhir-akhir sering sekali terjadi kasus curanmor di mall-mall sekitar sini, hampir saja kami juga kecolongan.”

    “Iya sama-sama Pak, sesama manusia kan harus tolong-menolong.” Kata Chacha.

    “Oh iya, adek-adek tolong tulis nama dan alamatnya masing-masing ya, siapa tahu nanti polisi butuh adek-adek sebagai saksi di pengadilan nanti.”

    “Pengadilan…? Saksi…? Ih nggak mau…” Hellen kembali ketakutan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

    “Ih penakut amat sih.” Dengan cepat Chacha menuliskan nama dan alamatnya pada selembar kertas yang disodorkan pak satpam, Tasya juga melakukan hal yang sama.

    “Terima kasih adek-adek.” Pak satpam memberi hormat dan langsung menuju tangga mengikuti rekan-rekannya yang tadi menyeret si maling mobil.

    “Eh ada apaan sih ribut-ribut?” Bebi yang baru keluar dari bilik ATM tampak kebingungan karena ketinggalan berita.

    “Yey lu sendiri sih yang kelamaan di dalem, kirain udah mati digigit vampir.” Chacha mencoba bercanda, untuk mengusir rasa tegang yang baru saja menguasainya.

    “Hah, vampir?”

    ************

    Beberapa bulan berlalu sejak peristiwa di basement mall tersebut. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, Tasya dan Chacha dipanggil ke pengadilan sebagai saksi yang memberatkan. Berkat kesaksian mereka berdua, akhirnya si maling mobil yang belakangan diketahui bernama Nanang, dijebloskan ke penjara dengan hukuman yang cukup berat juga. Setelah jatuh vonis, kehidupan geng de’Rainbow kembali berjalan seperti biasa, dipenuhi keceriaan yang biasa ditemui dalam kehidupan remaja; namun yang tak mereka ketahui, badai telah menanti dihadapan mereka.

    “Cha, si Tasya kemana ya? Tumben gak masuk sekolah.” Tanya Hellen kepada Chacha yang sedang asik membantai sepiring siomay di meja kantin sekolah.

    “Nggak tahu, tadi udah aku coba telepon, HP-nya mati.”

    “Perasaan kemaren nggak kenapa-napa tuh, apa kita tengok aja abis pulang nanti?” Bebi ikut duduk di meja sambil membawa semangkuk bakso yang masih mengepul panas.

    “Boleh, ntaran yah…” Perkataan Chacha terpotong oleh suara tone HP-nya, ada SMS yang masuk.

    “Eh panjang umur ni anak, baru aja diomongin, udah nge-SMS.” Ujar Chacha setelah melihat nama Tasya sebagai pengirim SMS tersebut.

    “Apa katanya Cha?” Tanya Hellen penasaran.

    Jantung Chacha langsung berdetak kencang ketika membaca isi pesan yang baru saja diterimanya.

    “Datang ke alamat dibawah ini sekarang juga! Atau teman lu yang punya HP ini bakal gua kirim ke neraka! Datang sendiri dan jangan lapor polisi atau beritahu siapapun, kalau mau temen lu selamat!” di bagian bawah SMS tersebut tercantum sebuah alamat yang tidak begitu jauh dari sekolah tersebut. Chacha menutup HP nya dengan raut muka khawatir, ini tidak mungkin hanya lelucon atau candaan, Tasya bukan gadis yang bisa melancarkan lelucon kejam semacam ini. Artinya memang benar-benar ada yang menculik Tasya, entah untuk alasan apa.

    “Kenapa Cha, Tasya bilang apa?” Hellen yang penasaran kembali mendesak Chacha.

    “Ah nggak, Tasya bilang dia jenguk neneknya keluar kota jadi bolos sekolah, mungkin sampai besok.” Chacha terpaksa berbohong karena tidak mau melibatkan teman-temannya, apalagi mengingat isi pesan yang ia terima tadi, ia tidak boleh memberitahukan situasi ini kepada siapa pun.

    “Oh gitu doang, kirain kenapa.” Bebi si genit kembali sibuk dengan mangkuk baksonya.

    Chacha termenung mencoba merencanakan langkah selanjutnya, tapi ia tahu bahwa ia tidak punya pilihan, ia harus mengikuti perintah pesan tadi, ia harus kabur dari sekolah sekarang juga. Chacha yang setengah melamun tidak menyadari kilatan aneh pada mata Hellen yang menatapnya tajam.

    *********

    Tasya terikat erat di sebuah kursi, sehingga untuk sekedar menggeliat pun ia tidak mampu. Ia hendak berteriak namun mulutnya tersumbat sapu tangan yang dijejalkan kedalam mulutnya oleh para penculiknya. Saat itu dia sedang berada di sebuah ruangan yang cukup luas dari sebuah rumah yang cukup besar. Di sekelilingnya duduk dan berdiri pemuda-pemuda yang semuanya berjumlah 10 orang, sepertinya rata-rata berusia sekitar 25 tahun dan tampangnya tidak ada satupun yang beres. Mereka semua tampak begitu jelek dan menyeramkan, beberapa di antaranya bahkan memiliki wajah penuh bekas luka atau tubuh yang dipenuhi tato. Beberapa jam yang lalu ketika ia dalam perjalanan kesekolah, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti melintang didepannya dan beberapa orang langsung turun dan menangkapnya. Tasya sudah mencoba melawan namun apalah artinya tenaga seorang gadis remaja sepertinya dibanding beberapa lelaki kekar yang menculikknya tersebut. Tasya tahu apa rencana mereka karena mereka telah memberitahunya, ia berharap Chacha tidak akan datang atau melapor pada polisi, biarlah ia saja yang menjadi korban, Tasya sudah pasrah. Harapan Tasya tampaknya akan terkabul karena hingga jam 11 lebih tidak ada tanda-tanda kedatangan Chacha. Para penculiknya pun kelihatan mulai tidak sabaran dan beberapa kali mendesis marah ketika melihat jam. Tiba-tiba semua yang ada di ruangan tersebut dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka oleh seseorang, semua mata tertuju pada pintu itu, Tasya sempat berharap itu adalah polisi, tetapi yang memasuki ruangan justru adalah Chacha! Ia tidak sendirian karena dua orang pemuda yang dandanannya mirip dengan para penculiknya, menguntit dibelakangnya. Wajah Chacha terlihat serius dan tenang, namun jelas terlihat tubuhnya yang masih tertutup seragam sekolah itu tampak gemetar karena ketakutan. Chacha tersentak kaget saat melihat Tasya yang terikat tak berdaya, ia menjerit dan mencoba menghampiri Tasya untuk melepaskannya, namun dua orang penculiknya menahan Chacha dengan memegang kedua tangan Chacha. Gadis cantik itu coba berontak tapi tenaganya bukan tandingan kedua orang itu.

    “Lepasiinn! Siapa kalian?! Apa mau kalian, uang? Asal kalian lepasin kami, aku pasti penuhin permintaan kalian.” Sadar keadaan kurang menguntungkan, Chacha mencoba tawar menawar dengan penculiknya.

    “He he, lu kira kita penculik? Lu mau tahu siapa kita?” Seorang pria separuh baya yang tampangnya amat menyeramkan dan penuh codet menghampiri Chacha, sepertinya ia adalah pemimpin gerombolan ini, karena yang lain tampak amat takut padanya.

    “Lu masih inget orang yang namanya Nanang? Orang yang lu jeblosin ke penjara? Dia itu adik gue! Dan ini semua adalah temen-temennya.” Tandas si codet.

    “Oh, jadi kalian kawanan pencuri mobil itu. Karena kawan kalian ketangkep, terus kalian ganti profesi jadi penculik buat minta tebusan?” Chacha memberanikan diri bertanya.

    “Tebusan? Ha ha ha, kita emang nyulik kalian berdua, tapi bukan buat minta tebusan, yang kita semua inginkan adalah ngebalasin dendam Nanang yang udah lu jeblosin ke penjara.”

    “Kalian…mau bunuh kami?” Kini Chacha mulai ketakutan.

    “Bunuh? Nggak lah, sayang banget kalau cewek-cewek cantik kayak kalian kami bunuh gitu aja. Kami justru mau ngasih enak sama kalian.”

    Mendengar kalimat dan melihat wajah mesum si codet, Chacha langsung sadar maksud para penculiknya, wajahnya langsung memucat, nasib yang lebih buruk dari kematian kini mulai mengintai dia dan Tasya.

    “Nggakk… tolong jangan… kalian mau uang kan… orang tua saya kaya, berapa pun yang kalian minta…”

    “Berisik! Udah gue bilang, kita gak butuh duit! Sekarang cepet buka baju lu, atau gue kirim temen lu ke neraka.”

    Chacha melihat salah satu dari penculiknya kini berdiri dekat Tasya yang masih terikat di kursi, dan mengacungkan pisau yang berkilat tajam ke leher Tasya. Chacha tahu ini bukanlah ancaman kosong belaka, dari lagak para penculiknya udah jelas bunuh membunuh tidaklah tabu bagi mereka. Tapi walau bagaimanapun ia tidak rela diperkosa begitu saja tanpa perlawanan, sejenak ia bimbang.

    “Ngelawan lu?! Ton,mampusin aja tuh anak.” Perintah si codet.

    “Nggak jangan! Baik aku nurut, tapi janji, abis ini lu lepasin kita berdua.” Chacha panik dan tidak punya pilihan lain selain menuruti mereka.

    “Iya iya, gue janji, sekarang cepet buka baju lu!” Perintah si codet.

    Dengan masih sedikit ragu-ragu, Chacha dengan perlahan mulai melucuti pakaian yang ia kenakan, mulai dari kancing teratas kemejanya, turun kebawah dan kemudian ia jatuhkan kelantai. Berikutnya ia membuka kancing rok seragamnya dan membiarkannya meluncur bebas ke lantai.Kini ia berdiri dengan hanya mengenakan bra dan celana dalam berwarna pink sehingga lekuk tubuhnya yang indah dan putih mulus terlihat jelas. Chacha berdiri mematung dan menggigit bibirnya dengan tabah, sementara semua penjahat itu menatap tubuhnya yang indah sambil meneguk ludah. Si codet yang bernama Dadang membuka suara.

    “Hahaha… sekarang puter badan lu, kita semua mau liat body kamu yang seksi itu!”
    Chacha dengan takut-takut memuar tubuhnya yang semakin gemetaran, para penjahat yang mengelilinginya langsung bersuit-suit melihat tubuhnya yang meski tonjolan-tonjolannya tidak begitu besar, namun amat proporsional dan putih mulus.

    Beberapa dari mereka pun mulai berkomentar.

    ”Wuiihh, Ni ABG pasti lezat buangeet!” Hahaha..”
    “Iya nih, gue taruhan dia pasti masih perawan…”
    “Gak, gak mungkin. Cewek secantik gini pasti udah dijebol duluan, gak percaya gue.”

    “Eits kalau gitu jadi nih taruhan?”

    “Boleh.”

    Mendengar percakapan tersebut, Chacha yang hendak membuka bra yang ia kenakan kini menghentikan gerakannya, ia benar-benar merasa takut dan berusaha sekuatnya menahan tangis. Dadang yang tidak sabar lalu mendekat, tangannya merenggut bra itu lepas dari tubuh Chacha, hingga ia terjatuh terduduk ke lantai papan karena tubuhnya tertarik, ia tersungkur dalam keadaan telanjang dada, buah dadanya tampak tergantung indah, padat berisi dan sangat ranum. Para penjahat itu pun langsung bersiul-siul nakal dan mengeluarkan kata-kata yang mesum. Chacha refleks menutupi dadanya dengan kedua tangan, wajahnya kini memerah, semenjak ia mulai beranjak dewasa baru kali ini ada yang melihatnya bertelanjang dada, apalagi yang melihatnya adalah para penjahat yang kelihatannya amat liar dan beringas. Dadang ikut berlutut dan segera menyerbu dan melumat bibir Chacha habis habisan membuat si gadis cantik kelabakan. Chacha pun menggapai gapai berusaha mendorong wajah Dadang untuk melepaskan pagutannya, tetapi kedua tangannya dicengkeram di bagian pergelangan hingga ia sama sekali tak bisa bergerak. Chacha sempat gelagapan, karena air liur Dadang terus membanjir masuk ke dalam mulutnya, membuatnya jijik dan mual. Untunglah Dadang melepaskan pagutannya dari bibir Chacha. Sang gadis pun terbatuk- batuk dan megap- megap berusaha menghirup udara segar.

    Dadang kini berdiri dan dengan berkacak pinggang menyuruh Chacha untuk membukakan celananya. Karena tidak ada pilihan lain, Chacha pun melaksanakan perintah itu, dengan Jari-jarinya yang gemetar, ia berusaha melepaskan kancing celana Dadang, setelah berhasil perlahan menurunkan restleting celananya dan celana itupun langsung jatuh kelantai. Rupanya Dadang tidak memakai celana dalam, karena kini di depan matanya Chacha melihat sebatang penis yang mengacung dengan panjang sekitar 20 cm, dengan urat-urat yang menonjol. Kepala penis itu sendiri berdiameter amat tebal, sampai-sampai wajah Chacha memucat melihatnya.
    “Nah, sekarang jilatin sama isep kontol gue sampe gue keluar. Dan ati-ati jangan sampe lu gigit, kalo sampe kegigit, gue potong-potong temen lu!” Ancam Dadang.
    Chacha benar-benar merasa shock, ia adalah gadis baik-baik dan belum pernah melakukan oral seks sebelumnya. Perasaannya muak membayangkan memasukan penis lelaki asing dalam mulutnya, namun ia ketakutan mendengar ancaman Dadang jika ia tidak menuruti perintahnya. Tidak ada pilihan lain, ia harus menurut.
    “Lho, kok bengong, ayo cepet!” bentak Dadang tidak sabar.

    Tidak tahu bagaimana memulainya, Chacha meraih penis Dadang, baru menyentuhnya dengan tangan saja sudah membuatnya merinding, hangat dan berurat, menimbulkan perasaan aneh yang campur aduk dalam dirinya. Perlahan Chacha menempelkan bibirnya yang mungil ke kepala penis Dadang dan mulai menciuminya selama beberapa saat.

    “Kok Cuma diciumin doang? Isep dong!” Bentak Dadang.

    Chacha lalu mengeluarkan lidahnya lalu ia menjilati batang penis itu, sambil menelan ludah ia membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukan kepala penis tadi ke dalam mulutnya, sedangkan lidahnya terus menjilati. Nafas Dadang sekarang semakin berat dan terengah-engah, sementara itu Chacha terus menjilati kepala penisnya, sesaat dirasakannya sesuatu cairan yang aneh di ujung penis itu, tapi ia berusaha melupakan apa yang baru dijilatnya, sambil menutup matanya erat-erat.

    Sementara Tasya yang masih terikat tak berdaya hanya bisa menangis melihat sahabatnya dipermalukan sedemikian rupa, ia mencoba berontak dan berteriak, tapi semuanya sia-sia belaka. Tiba-tiba ia merasakan rabaan pada sekujur tubuhnya, payudaranya yang berukuran sedang pun tak luput dari rabaan juga. Rupanya penjahat yang tadi mengancamnya dengan belati mulai tidak tahan juga melihat suguhan adegan antara bosnya dengan Chacha, jadi ia melampiaskannya pada Tasya. Orang itu membuka celananya dan tak lama kemudian mengacunglah penisnya di depan wajah Tasya. Orang itu dengan cepat membuka sumbatan mulut Tasya dan menjejalkan penisnya kedalam mulut Tasya.

    “Isep, kalau nggak gue bunuh temen lu.:

    Tasya kini berada dalam posisi yang sama dengan Chacha, dan ia pun mengambil keputusan yang sama dan meskipun masih amat kaku – apalagi karena tangannya masih terikat dibelakang punggungnya, Tasya mulai menciumi dan menjilati penis itu sampai pemiliknya mengerang keenakan. Penis itu tidak sebesar milik Dadang, tapi kepala penisnya sangat besar dan berwarna ungu. Tasya pun terus melakukan kuluman dan sedotan hingga penis itu pun ereksi sempurna. Pemilik penis itupun menggerakkan pantatnya maju mundur seakan sedang menyetubuhi mulut Tasya yang mungil. Sementara itu Chacha masih sibuk menservis Dadang. Dengan tangan kanannya Chacha memegang batang penis Dadang, sementara kepalanya bergerak maju mundur berirama dengan bibir yang terus menggosok-gosok maju mundur pada kepala dan batang penis hitam milik Dadang, sedangkan lidahnya terus begerak menjilati dan membasahinya. Dadang mulai mengerang tak keruan dan tiba-tiba memegang dan mendorong kepala Chacha hingga dahinya bersentuhan dengan perut Dadang. Chacha langsung merasa mual karena kepala penis Dadang menusuk tenggorokannya, apalagi ketika penis itu menyemprotkan sperma masuk ke dalam mulut dan tenggorokannya. Chacha belum pernah merasakan sperma sebelumnya, ia tak berdaya menelan semua cairan kental asin yang memenuhi mulutnya, dan dengan leluasa masuk ke dalam perutnya.
    “aararaagghh!” erang Dadang, sementara Chacha hanya bisa menelan semua sperma yang terus keluar dari penis itu.
    “Telen tu peju!!” erang Dadang lagi.
    Lalu pegangan Dadang pada rambutnya perlahan mengendor dan aliran sperma yang keluar pun melambat dan akhirnya berhenti. Dadang pun akhirnya menarik keluar penisnya dari mulut Chacha yang langsung membungkuk terengah-engah menghirup udara, beberapa kali ia meludahkan sisa-sisa sperma yang masih menempel di lidah dan langit-langit mulutnya.

    “Isapan lu bener-bener hebat! Gue nggak percaya kalau lu baru kali ini ngisep kontol.” Ejek Dadang. Wajah Chacha pun memerah mendengar ejekan tersebut.
    “Oke giliran aku sekarang!” penjahat yang berkepala botak kini maju menggantikan Dadang.

    Si botak menyodorkan penisnya di dekat mulut Chacha, bahkan hampir menempel ke bibirnya. Dengan perlahan ia membuka mulutnya, dan memberikan servis oral, sama seperti yang baru saja ia berikan pada Dadang barusan. SI botak segera melenguh dan meracau tak karuan sambil meremas-remas rambut Chacha. Sementara itu, Tasya merasakan ikatan tangannya dibuka seseorang, dan ia merasakan telapak tangan kirinya digenggamkan pada sebatang penis. Rupanya salah seorang penjahat tersebut mulai ikut-ikutan dan iri karena seorang gadis cantik dengan kulit yang putih mulus terawat, kini sedang mengoral penis temannya yang hitam dan kasar. Telapak tangan Tasya digosok-gosokan seakan sedang mengocok penis itu. Remasan lembut pada payudara Tasya kini makin brutal dan kasar, hingga ia tidak tahan untuk tidak merintih.

    “Aduhh, jangan keras-ke… hmmp” Kalimatnya terputus karena mulutnya kembali dijejali penis bau si penjahat.

    Kini ia dikeroyok tiga orang, yang satu menikmati kelembutan tangannya, yang satu menikmati servis mulutnya, sedangkan yang satu lagi menggerayangi tubuhnya habis-habisan.

    Lewat sudut matanya Chacha bisa melihat sahabatnya juga sedang dikerjai habis-habisan, tiba-tiba kesadarannya timbul, para penjahat ini tidak mungkin melepasnya sampai disini saja. Tidak ada jaminan jika ia melayani mereka, ia dan Tasya akan dibebaskan. Chacha yang memang pemberani kini ingin berontak, ia berpikir untuk menggigit sampai putus penis yang sedang ada dalam mulutnya itu. Tapi baru saja ia membulatkan tekadnya, si Botak berkelojotan dan erangannya makin keras, ia buru buru menarik penisnya dari mulut Chacha dan langsung menyemburkan sperma hangatnya ke pada wajahnya yang cantik. Sebagian dari sperma itu mengenai matanya, hingga ia terpaksa mengatupkan kedua matanya karena sedikit perih. Ia mencoba mengusap sperma tersebut namun tangannya ada yang menarik membuatnya hilang keseimbangan dan terbanting ke lantai. Chacha merasakan kedua tangannya dicengkram dan direntangkan hingga ia tak bisa bergerak lagi. Kedua pergelangan kakinya juga dalam keadaan terpentang dan dicengkeram entah oleh siapa. Chacha pun hanya bisa menyerah pasrah ketika merasakan ada yang menindih tubuhnya. Ia berusaha mengatur nafasnya yang tersengal sengal.

    “Breettt…” Chacha bisa merasakan celana dalamnya dirobek, dan terlihatlah vaginanya yang ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting yang tidak begitu lebat.
    Chacha meronta dan mencoba berteriak, tapi cengkeraman tangan pada kedua tangan dan kakinya terlalu kuat. Mulutnyapun terbungkam oleh robekan celana dalamnya sendiri membuat semua usahanya sia-sia belaka. Kini ingin melawanpun ia tidak mampu. Salah satu penjahat yang berambut kribo yang kini sedang menindih tubuhnya kini membimbing penisnya menuju vagina Chacha. Namun sang gadis semakin meronta, membuat si kribo kesulitan memasukkan penisnya ke dalam lubang vaginanya.

    “Setaannn! Lu mau gue mampusin? Diem nggak lu!” Bentak si kribo.

    Meski terpaksa memincingkan matanya karena masih sedikit tertutup sperma, Chacha berusahan memelototi pemerkosanya.

    “Plaakkk!” Sebuah tamparan keras menerpa wajahnya. Kepalanya terasa pening dan gerakannya terhenti.

    Memanfaatkan hal tersebut, si kribo kembali mengarahkan penisnya yang sudah keras ke vagina Chacha dengan bantuan tangan. Chacha hanya bisa menggeram ketika penis itu mulai menembus lebih dalam masuk 5, 10, 15 cm penis itupun masuk dengan satu kali dorongan, dengan deras menerobos vagina perawan itu. Chacha berusaha menjerit sekeras-kerasnya, dan makin meronta-ronta, namun ia tanpa daya menghentikan pemerkosanya. Si kribo sendiri tampak amat menikmati jepitan vagina sempit Chacha, dan ia bahkan juga menikmati rontaan dan erangan kesakitan tertahan dari mulut Chacha. Sungguh amat sadis.

    “Ooooh… sakiiiit…” jerit Chacha dalam hati.

    Tubuhnya mengejang didera rasa sakit yang teramat sangat. Tak ada rasa nikmat sedikitpun. Apalagi ketika si kribo mulai memompa liang vaginanya. Air matanya mulai mengalir karena tak kuat menahan siksaan ini.Bukannya kasihan, si kribo justru malah menggenjotnya dengan gencar. Penisnya bergerak keluar masuk dengan kecepatan tinggi, diwarnai merah darah perawan Chacha. Ketika Kribo sedang memperkosanya, laki-laki lainnya ikut menyakiti Chacha dengan mencubit, meremas, meraba, mengisap, mengigit, menjilat dan menciumi seluruh tubuhnya. Mereka mulai dengan memainkan buah dada dan mengisapi puting susunya, tangan-tangan mereka juga menarik-narik dan menjepit puting susunya, menambah derita Chacha.

    Sekitar lima belas menit kemudian genjotan si Kribo semakin keras dan diiringi erangannya, sperma si kribo menyemprot liang vagina Chacha dengan deras dan ia langsung menarik penisnya mengakhiri perkosaannya terhadap diri Chacha. Begitu si kribo bangkit, penjahat lain langsung menggantikan tempatnya, dan dengan perlahan membenamkan penisnya ke dalam liang vagina Chacha, dan si gadis cantik hanya bisa memejamkan mata, berusaha menahan rasa perih yang diakibatkan terbelahnya liang vaginanya oleh benda asing yang tak kenal kasihan. Setelah penisnya tertelan seluruhnya, si penjahat berkulit hitam mulai memompa vaginanya sambil melenguh lenguh keenakan.

    ”Ngghhh.. ngehe… aaah… enak banget ni memek” Dia tertawa puas sambil menggenjot tubuh Chacha bagaikan menunggangi kuda binal.

    Pandangan mata Chacha yang mulai jelas kini memandang sekeliling, mencoba mencari Tasya sahabatnya yang pendiam dan feminin. Ia mengkhawatirkan nasib sahabatnya yang lembut hati tersebut. Namun ia terbelalak ketika melihat bahwa Tasya yang sudah telanjang bulat kini sedang berlutut di hadapan dua penjahat yang juga telah telanjang bulat. Masing-masing tangan Tasya memegang satu penis yang dihisap dan disedotnya secara bergantian sambil sesekali dikocoknya hingga kedua penjahat tersebut mengerang keenakan. Wajah Tasya tampak amat santai, bahkan memancarkan sedikit rasa gembira. Ada apa ini? Apa yang terjadi dengan Tasya? Pikir Chacha dalam hati. Lewat sela-sela kaki Tasya yang sedikit terbuka, sebuah tangan menyelusup dari belakang dan jari-jari tangan itu terulur hingga menemukan belahan pada bukit kecil itu, dan menyusuri belahan tersebut dengan jarinya. Erangan pun keluar dari mulut Tasya, susuran jari berbulu di sepanjang belahan vagina itu pun semakin dalam dan mulai bergerak masuk, menusuk kedalam liangnya sedikit menembus liang vagina yang belum pernah terjamah siapapun sebelumnya. Jari-jari tangan itu mengorek-orek bagian dalam vagina Tasya yang hanya ditutupi bulu-bulu jarang sambil sesekali memijit dan menggosok tombol kecil yang ada disana.

    Pekikan kecil terdengar dari mulut Tasya, tapi bukan pekikan protes, justru malah pekikan manja yang amat menggoda. Si pemilik tangan mendekap tubuh Tasya dengan satu tangannya dan berbisik pelan di telinga Tasya.

    “Suka ya memek kamu diobok-obok kayak gini, heh kamu suka?”

    “Eh… erghhh” Semburat merah menghiasi wajah Tasya, ia tampak menahan senyum dan mengangguk pelan.

    “Wuihh. Kalau yang ini kayaknya suka dientot nih… Kayaknya gak usah dipaksa.” Ejek penjahat yang penisnya sedang dikocok Tasya.

    ”Apaaa?!!” Jerit Chacha dalam hati.

    Apa selama ini dibalik wajahnya yang kalem, Tasya ternyata seorang gadis dengan nafsu birahi yang tinggi? Mungkinkan selama ini ia telah tertipu dengan wajah innocent itu?! Tiba-tiba si Botak menduduki perut Chacha dan menjepitkan penisnya diantara kedua bukit payudaranya yang berukuran sedang, sambil mendorong pantatnya maju mundur, sehingga penisnya menggesek-gesek di antara kedua gundukan buah dadanya. Ia melakukannya sambil menyeringai puas, tidak peduli bahwa Chacha merasa begitu sesak karena diduduki olehnya hingga nafasnya pun putus-putus. Tak lama kemudian si penjahat yang sedang menggenjot vaginanya tampak terengah-engah. Iapun mengalami ejakulasi dan menumpahkan spermanya ke dalam vagina Chacha. Kepanikan kembali melanda Chacha… Para pemerkosanya tidak memakai kondom!! Bagaimana jika ia sampai hamil?!! Ia ingin berontak, namun sekujur tubuhnya terasa sakit sampai-sampai kepalaku rasanya mau pecah. Keadaannya sudah setengah sadar ketika ia merasakan liang vaginanya kembali menelan penis. Selang beberapa saat dari batang kemaluan si botak yang dijepit payudaranya menyembur sperma yang menyemprot wajah dan leher chacha, kemudian sisa-sisa spermanya dioleskan pada kedua pentil si gadis cantik. Chacha sudah tak bisa mengerang lagi, tubuhnya rasanya lumpuh, tak ada tenaga untuk menggeliat ataupun mengejang, walaupun merasakan sakit yang amat sangat ketika lagi lagi liang vaginanya harus menelan sebatang penis, entah milik siapa. Tubuhnya tersentak sentak mengikuti irama pemilik penis yang menggagahinya tanpa perlawanan sedikitpun.

    Sementara keadaan Tasya justru bertolak belakang. Ia sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, seakan tubuhnya bergerak sendiri melayani nafsu para penjahat itu. Ia menyukainya, ia suka menjadi obyek pelampiasan nafsu para lelaki kasar ini. Mungkin selama ini ia telah menipu diri dan memendam nafsunya dalam-dalam, namun kini ia menemukan pelampiasanya. Kocokan dan hisapannya pada penis-penis yang mengacung tegak dihadapannya kini makin mantap, dan Tasya pun makin menikmati gerayangan tangan-tangan kasar yang menjamahi seluruh tubuhnya, termasuk bagian tubuhnya yang paling pribadi… memeknya! Tiba-tiba sebuah tangan mendorongnya hingga ia terpaksa bertopang dengan kedua tangannya. Tasya pun merasakan sebuah tangan menguakkan vaginanya yang kini terbuka bebas. Diikuti sentuhan benda basah dan hangat yang mengirimkan getaran-getaran halus ke seluruh tubuhnya. Tasya memejamkan kedua matanya, menikmati sentuhan lidah hangat yang menelusur sepanjang garis celah kelaminnya, membuka dan mengecup bagian tubuhnya yang paling rahasia, surga kecil di belahan paha seorang gadis. Tubuhnya pun semakin gemetar ketika lidah itu menyelusup masuk ke dalam lubang kecil merah muda yang hangat dan lembab miliknya. Sensasi ini… sensasi ini luar biasa… ia ingin lagi. Chacha bisa melihat ekspresi kenikmatan pada wajah Tasya, ia mengira Tasya benar benar sudah kehilangan akal. Ini gila, masa Tasya menikmati diperkosa?! Tapi Cacha benar-benar tak bisa berbuat apa-apa, bahkan saat ini penjahat yang sedang menikmati tubuhnya berguling sambil menarik menarik tubuhnya hingga menindihnya. Si penjahat pun menarik pantatnya turun dengan kuat, sehingga batang penisnya yang telah terjepit diantara bibir vagina Chacha amblas seluruhnya kedalam liang kenikmatan gadis remaja itu. Ia pun dengan cepat mulai memompa dan mengaduk-aduk vagina Chacha dengan gerakan-gerakan yang cepat. Belum apa-apa Chacha merasakan ada yang menguak kedua buah pantatnya dan kemudian sebuah jari menyelip dibelahan pantatnya, mencari – cari lubang Anusnya. Setelah menemukan apa yang dicari, jari itu menekan masuk memekarkan lubang anusnya

    “Emhhh!!” Mulut Chacha yang kini tak tersumbat terbuka seperti huruf O. Kepalanya terangkat keatas , menahan rasa sesak dianusnya, Sementara jari itu terus menekan sedalam-dalamnya, sambil sesekali bergerak memutar-mutar didalam lubang anusnya.

    Tidak lama kemudia jari itu dicabut keluar lubang anus Chacha oleh pemiliknya, dan sebagai gantinya, suatu benda tumpul menggesek-gesek anusnya. Mata Chacha terbelalak dan tubuhnya menjadi kaku tegang ketika merasakan sebuah kepala batang penis mulai memasuki lubang anusnya.

    ”Nggak… Jangaann! Please” sia-sia Chacha memohon.

    Dengan satu dorongan, kepala penis yang ternyata milik si Botak akhirnya terbenam kedalam anusnya.Chacha pun hanya bisa melolong ketika penis Botak lebih dalam masuk hampir seluruhnya kedalam anusnya! Chacha terbaring terengah-engah dengan dua penis menjejali dua rongga tubuhnya, sesak sekali.Si Botak lalu memegangi pantatnya dan mulai bergerak, perlahan tapi tetap menyakitkan, memompa keluar masuk dengan gerakan-gerakan yang semakin lama semakin brutal dan buas, tanpa mengenal kasihan Sambil melakukannya ia juga meremas-remas pantat Chacha yang putih mulus dan sesekali menamparnya hingga kulit pantatnya kemerahan dan terasa pedih. Mereka makin keras menghentak-hentakan, pinggul dan pantatnya. Kedua penis hitam itu secara bersamaan bergerak keluar dan masuk vagina dan anusnya yang masih sempit. Bagian bawah tubuh Chacha seperti tersobek-sobek, tak terlukiskan sakitnya. Tapi si Botak dan temannya terus bergerak keluar masuk, sampai akhirnya Chacha hanya bisa merintih-rintih pelan, terlalu sakit dan lelah untuk bisa berteriak. Tiba-tiba penjahat yang sedang menikmati vaginanya meracau tidak jelas dan menghentakkan pinggulnya, dan cairan hangat sperma terasa memenuhi vagina Chacha, dan untuk kesekian kali rahimnya dibanjiri sperma para bajingan ini. Chacha sudah tidak mampu lagi bergerak ketika si Botak, juga dengan keras dan brutal mencapai puncak dan menyemprotkan spermanya didalam anus si gadis.

    Baca Juga Cerita Seks The Serial Rapist Gang 2

    Chacha mengira jika ia bisa istirahat sejenak, namun beberapa pasang tangan langsung menariknya dan kembali tubuhnya yang mungil dijepit dua badan hangus milik para penjahat itu. Chacha bisa merasakan bagaimana dua batang penis kembali memasuki dua relung tubuhnya yang pribadi, dan ia tak bisa berbuat apa-apa. Sementara itu Tasya yang telah telanjang bulat kini dtelentangkan di atas lantai beralas karpet tidak jauh dari Chacha. Pemuda yang membaringkan Tasya kini mengambil posisi di antyara kedua kaki Tasya dan diangkat dan disangkutkan ke pundaknya betis kiri Tasya. Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vagina Tasya yang sudah sangat basah. Ada rasa geli menyerang di situ hingga tanpa terasa Tasya menggelinjang dan memejamkan mata. Sedetik kemudian, sang gadis merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginanya. Dengan perlahan namun pasti, kejantanan itu meluncur masuk semakin dalam. Sementara Tasya melihat dengan sedikit takjub, bagaimana batang penis itu menerobos vaginanya, sungguh terasa absurd, seakan ia sedang menonton film dan bukan mengalaminya sendiri. Ketika sudah masuk setengahnya penis itu akhirnya mengalami hambatan, jadi si pemuda memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga Tasya pun berteriak karena terasa nyeri. Namun tanpa memberi kesempatan untuk membiasakan diri dulu, si pemuda sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri, menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghujam-hujamkan penisnya ke dalam tubuh muda Tasya hingga si gadis memekik keras setiap kali kejantanan itu menyentak ke dalam. Pedih dan ngilu. Namun bercampur nikmat yang tak terkira. Ada sensasi aneh yang baru pertama kali dirasakan si gadis muda, di mana di sela-sela rasa ngilu itu terselip rasa nikmat yang tak terkira.

    “Sakit… erghhh… sakit” keluhnya setiap kali penis itu menghujam dalam, tapi Tasya juga tidak ingin jika pemuda dekil tersebut berhenti menggenjotnya, merintih antara nikmat dan sakit.

    Si pemuda yang baru saja menjebol keperawanan Tasya kini dengan semangat memaju mundurkan pantatnya sambil merem melek.

    “Geblek, enak banget ni memek… ABG… uedan…” Racaunya

    Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudara Tasya yang terbuka bebas. Pada saat itu, seorang laki-laki yang juga telah telanjang bulat, menyodorkan batang penisnya ke depan mulut Tasya, tangannya meraih kepala si gadis dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulut Tasya. Namun tanpa harus dipaksa, Tasya melahap penis itu dan mulai mengulum dan menyedot penis itu kuat kuat hingga pemiliknya melenguh pelan

    “Oooohh.. heeeehhhh..” Selagi mengulum penis itu, Tasya merasakan liang vaginanya begitu nikmat dan nyaman dimanjakan sodokan yang kadang lembut dan kadang menyentak.

    ”Oh… nggghh.. enaak…” Tanpa sadar ia berkata.

    “Enak ya neng?” bisik si pemuda yang sedang menggenjotnya. “Suka ya dientot?”

    “Iyaa.. oooh… aku… mmmppphh…. Oooh.. terus”

    Nafsu birahi yang sudah menguasai dirinya ini membuat Tasya tak lagi malu-malu untuk meminta dipuaskan oleh pemerkosannya itu. Si pemuda pun memperhebat genjotannya, dan tubuh Tasya pun bergetar hebat menahan nikmat. Ia tidak mengerti bagaimana gesekan dua anggota tubuh bisa menimbulkan rasa nikmat seperti ini, tapi ia tidak peduli, yang ia pedulikan hanyalah terjangan sebatang penis dalam vaginanya dan mengulum penis dalam mulutnya.

    “Nggghhh.. mmmm… mmmhh…” Tasya melenguh keenakan sambil terus mengulum dan menyedot penis di mulut itu, dan pemiliknya pun menggeliat hebat.

    “Uedan, jangan keras-keras nyedotnya neng…”

    Tapi terlambat, tubuh si pemuda bergetar dan tak lama kemudian Tasya merasakan semburan cairan dalam mulutnya. Cairan itu tersa aneh, asin, gurih dan hangat, mencecapnya dan ternyata ia menyukai rasanya, sehingga ia pun terus menyedot penis itu untuk menghisap cairan yang mungkin masih tersisa, hal ini membuat pemiliknya makin kelojotan. Tak lama Tasya kemudian melepaskan hisapannya dan pemilik penis itupun langsung ambruk di depannya.. Tepat ketika ia terduduk di lantai, si pemuda yang menggenjot vaginnanya juga sudah berejakulasi.

    “Oooohh…. enaknya memek lu…”, erangnya dengan penuh kenikmatan, ia menyodokkan penisnya dalam dalam, seolah ingin menyemprot bagian terdalam dari liang vagina Tasya dengan spermanya. Tasya bisa merasakan liang vaginanya tersemprot cairan hangat yang terasa nyaman, ada rasa senang dan bangga dalam hatinya ketika bisa memuaskan pemuda tersebut, sungguh aneh sekali.

    Setelah semburannya selesai, si pemuda mencabut penisnya. Tasya pun terbaring dan tanpa sadar tangannya meraih vaginanya sendiri dan mulai memasukann dua jari tangannya kedalam liangnya, menguceknya perlahan dan mengorek bagian dalamnya yang basah oleh cairan cinta dan sperma pemerkosanya. Lalu dengan perlahan menarik kedua jarinya yang ini berlumuran aneka cairan itu keluar dan memasukkannya kedalam mulutnya. Matanya terpejam ketika mencecap cairan yang melumuri jari-jarinya itu, entah kenapa terasa enak sekali. Perlahan Tasya membuka matanya dan menatap sayu kearah pria-pria yang terbengong melihat kelakuannya yang tampak amat menikmati perkosaan yang menimpanya. Tasya mengerang lembut dengan mulut separuh terbuka, tidak salah lagi mengundang pria-pria tersebut untuk segera menikmati seluruh bagian tubuhnya.

    Para pria yang sempat terbengong itupun langsung tersadar dan langsung mengerubungi tubuh Tasya, sedangkan si gadis tanpa sadar mengeluarkan pekikan senang ketika beberapa batang penis yang telah mengacung tegang mulai mendekatinya. Sementara kini keadaanku Chacha sudah benar benar tak karuan. Ini adalah kali pertamanya berhubungan sex dan ia langsung digangbang secara nonstop oleh para penjahat ini. Setidaknya sudah sembilan orang menikmati tubuhnya, baik itu mulut, vagina, maupun anusnya. Dan kini ia dikeroyok empat orang sekaligus. Dua orang menyusu di payudara kiri dan kanannya. Satu lagi memompa liang vagina, dan satu lagi menikmati servis oral darinya.

    “Ngghhh… aduuh…” Chacha melenguh dan menggeliat kesakitan, karena kedua orang itu tidak hanya menyusu, mereka berdua juga meremasi payudaranya dengan kasar dan masih ditambah gigitan-gigitan kecil pada kedua puting payudaranya, membuatnya menggeleng gelengkan kepala kuat kuat, tak kuasa menerima segala rangsangan ini.

    Beberapa saat kemudian salah satu dari mereka mengerang panjang dan menembakkan spermanya di dalam liang vagina Chacha. Beberapa saat tubuhnya berkelojotan, kelihatan sekali ia merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tak lama ia mencabut penisnya dari jepitan liang vagina Chacha yang kini sediit memar karena tanpa henti menelan banyak penis selama hampir dua jam ini. Dan seperti yang sudah ia duga, kali ini pun tidak ada waktu istirahat, karena pemuda gondrong yang tadi menjebol keperawanan Tasya kini telah memposisikan diri didepan selangkangannya.

    “He he, sekarang giliran gue ngerasain memek yang ini.” Katanya sambil menghujamkan penisnya dan menggenjot vagina Chacha dengan buas, dengan mata yang setengah terpejam penuh penghayatan.

    “Gimana brur, enakan yang mana memeknya?” Tanya salah satu dari mereka.

    “Anjritt, enakan… yang ini… gila top banget.” Erang si gondrong.

    Chacha dan Tasya sama-sama mendengar ucapan si gondrong barusan, dan perasaan kedua gadis itu langsung kacau balau dengan alasan yang berbeda. Chacha antara bangga dan sebal, Tasya antara iri dan penasaran.

    “Erghhh… enaaknyaaa….” erang pemerkosa Tasya, dan ia menyemprotkan spermanya bertubi tubi didalam liang vagina Tasya.

    Si pemuda menarik lepas penisnya dari jepitan vagina Tasya, dan segera menjejalkan penisnya kedalam mulut si gadis, dan Tasya pun segera melakukan kuluman pada seluruh permukaan penis dan sedikit menggerak gerakkan penisnya yang kini belepotan oleh sisa sperma yang masih melekat di permukaannya. Tasya yang masih dalam keadaan menungging tiba-tiba merasakan tangan-tangan kasar berusaha membuka lubang pantatnya, dan serasa sesuatu benda yang besar berusaha mendobrak masuk. Tasya meringis kesakitan saat benda itu mulai terbenam ke dalam anusnya, iapun berusaha berontak namun pinggulnya dipegang oleh sepasang tangan yang kokoh yang ternyata milik Dadang si pemimpin gerombolan ranmor itu. Dadang yang memiliki penis raksasa hanya memompa hingga setengah batang kemaluannya saja yang masuk, namun gerakannya sangat cepat dan deras, membuat liang anus Chacha yang sempit harus terbuka lebar, hingga lama kelamaan penis Dadan dapat masuk lebih dalam dan pompaannya pun semakin ganas. Merasakan benda raksasa itu keluar masuk liang anusnya, Tasya mengejang-ngejang dan seluruh tubuhnya menggelinjang, suaranya parau saat merintih panjang. Ada perasaan aneh saat relung terdalam tubuhnya yang sebelumnya tak pernah tersentuh itu tiba-tiba diserbu kenikmatan seperti ini. Tanpa sadar Tasya ikut membalas sodokan Dadang dengan bergoyang naik turun dan sedikit goyang kanan kiri, hingga payudaranya yang padat dan ranum tampak bergoyang-goyang keras. Dadang pun makin blingsatan dan meremas-remas dan menarik-narik buah dada Tasya dengan brutal, namun pemiliknya justru santai-santai saja, malah tampak makin menikmatinya.

    Seperempat jam kemudian pertahanan Dadang terlihat sedikit goyang, dan wajahnya semakin memerah. Benar saja tak lama Dadang pun menggeram, tangannya tiba tiba menampar pantat Tasya keras sekali hingga memerah.

    “Gillaa nih pantat..enak banget”

    Tasya bisa merasakan penis Dadang berdenyut keras dan liang anusnya di sembur cairan hangat , Dadang lalu mencabut penisnya dan menggulirkan tubuhnya di samping Tasya dengan tubuh terasa lemas.Begitu Dadang tumbang, penis lain kembali menyerbu. Kali ini vaginanya yang diterobos dengan sodokan-sodaokan yang amat mantap. Entah berapa lama “perkosaan” ini berlangsung, namun rangsangan-rangsangan hebat dan rasa tak berdaya ini benar benar membuat Tasya melayang dalam kenikmatan. Akhirnya orgasme yang sudah ia nanti datang juga. Tubuhnya mengejang hebat, kedua kakiku melejang lejang, punggungnya melengkung bagai busur dan ia pun melenguh lenguh keenakan.

    “Ngggghhhh…. Nggghhh… aduuuuh ooooohhh….”

    Cairan orgasme langsung membanjir, membuat selangkangannya terasa amat nikmat, turun ke paha hingga membasahi lantai. Belum pernah ia mengalami sensasi seperti ini sebelumnya, luar biasa. Dan dalam waktu yang hampir bersamaan, pemuda berjerawat yang sedang menggenjotnya pun tersentak sentak.

    “Oohhh.. memek lu ini… anjrit ” Dia mengerang panjang.

    Tasya pun merasakan nikmat yang ia rasakan makin menghebat ketika penis dalam vaginanya berkedut keras dan spermanya yang hangat itu menyembur dengan deras membasahi liang vaginanya.

    ”Ngghhhh… oooohhh…” Tasya kembali melenguh keenakan, vaginanya berdenyut denyut seakan hendak pecah. Perlahan tubuhnya ambruk ke lantai dan terkulai lemas. Tenaganya sudah habis dan nafasnya pun tersengal sengal serasa hampir putus.

    Tasya melihat Chacha juga sudah kepayahan dan tubuhnya hanya terguncang-guncang tanpa daya mengikuti pemerkosanya. Melihat ekspresi wajah Chacha dan lenguhan keras pemerkosanya, entah kenapa Tasya merasa senang, dan perlahan nafsunya kembali bangkit. Dan ia memang tidak perlu kecewa, karena saat ini saja, sebuah tangan yang entah milik siapa, sedang mengobok-obok vaginanya yang telah penuh beraneka macam cairan. Kedua belas pemerkosa bejat itu terus bergantian memperkosa Tasya dan Chacha di seluruh lubang yang ada. Kedua gadis itu terkadang menelan sperma yang disemburkan di dalam mulutnya, kadang disembur dalam vagina atau anusnya. Begitu penis yang satu selesai, penis lain langsung menggantikan kembali masuk hingga semuanya mendapat bagian menggunakan mulut, vagina dan anus Tasya dan Chacha paling sedikit satu kali. Dan ketika orang-orang tersebut sudah merasa puas, mereka membiarkan tubuh telanjang kedua gadis itu tergeletak begitu saja dilantai, sementara mereka asyik mengobrol sambil merokok dan tertawa-tawa puas setelah menggarap habis-habisan dua gadis remaja itu. Chacha tetap tak bergeming dalam posisi tergeletak dengan kaki mengangkang dan cairan sperma meleleh keluar dari vagina, anus dan sudut mulutnya. Chacha berusaha melihat sekelilinginya, dan bisa melihat Tasya yang terbaring menelungkup tak jauh darinya. Kedua mata tasya tampak terpejam, hingga Chacha merasa khawatir jangan-jangan ada apa-apa dengan sahabatnya itu. Namun perlahan Chacha melihat sudut bibir Tasya tertarik, dan sebuah senyuman mengembang di bibir sahabatnya itu, jelas sekali senyuman puas. Setelah itu semuanya gelap dan dan Chacha pun langsung tak sadarkan diri.

    *********

    Chacha perlahan membuka kedua matanya. Seluruh tubuhnya terasa amat sakit, terutama selangkangannya yang terasa perih dan terbakar. Chacha teringat semua kejadian yang menimpanya dan langsung tersentik kaget hendak bangun, namun sebuah tangan menahan bahunya.

    “Hussh udah tiduran aja. Badan kamu pasti sakit-sakit ya.” Suara Tasya.

    “Sya, ini…”

    “Tenang aja, kita udah aman. Semuanya udah berakhir.” Tasya membelai lembut rambut Chacha.

    Chacha melihat sekeliling dan ternyata ia sudah berada di kamar tasya yang sederhana.

    “Bagaimana…?”

    “Mereka yang nganterin kita. Tadinya aku mau nganterin kamu langsung ke rumah, tapi takut orang tua kamu nanya macem-macem kalau ngeliat keadaan kamu kayak gini, jadi aku bawa kamu ke sini. Aku sudah telepon mama kamu, dan bilang kalau malam ini kamu nginep di rumahku.”

    “Hmm thanks ya Sya.” Gumam Chacha.

    “Gak usah terima kasih segala, kita kan temen.”

    “Tapi awas aja orang-orang itu, akan gue balas…”

    “Jangan Cha! Mereka bukan orang-orang yang bisa kamu anggap enteng, pikirin keselamatan kamu Cha.”

    Tasya tampak khawatir dan menggenggam tangan Chacha dengan erat.

    “Tapi…”

    “Yang lalu biarlah berlalu Cha, udah lupain aja semua. Yang penting kita berdua selamat… oke?”

    Setelah ragu-ragu sejenak Chacha menganggukan kepalanya. Namun dibenaknya masih bergejolak dendam yang membara. Chacha tidak melihat senyum aneh yang mengembang di bibir Tasya, senyum yang penuh misteri.

    *********

    Pada suatu sore, Tasya tampak ragu-ragu berdiri di depan sebuah rumah yang cukup besar. Ia menengok ke kiri dan kanan sebelum akhirnya menghampiri pintu rumah tersebut. Tangannya memijit bel di samping pintu gerbang tersebut dan terdengarlah suara bel yang cukup nyaring. Tidak lama kemudian pintu gerbang tersebut dibuka oleh seorang pemuda berjerawat yang langsung cengar-cengir ketika melihat Tasya.

    “He he datang lagi… mau minta nambah neng?” kata si pemuda.

    “Eh… nggak… anu.”

    Tasya tertunduk malu. Tanpa ragu si pemuda menggamit tangan Tasya dan menariknya masuk kedalam rumah, dan pintu gerbang rumah itu pun kembali tertutup. Baik Tasya maupun pemuda tersebut tidak melihat sesosok tubuh yang berlindung dibalik pohon yang tak jauh dari gerbang tersebut. Sepasang mata itu terus mengikuti bayangan tubuh Tasya sejak meninggalkan gerbang sekolah hingga sampai kerumah ini. Cerita Maya

    “Tasya… kenapa ia kembali ke sini… dengan sukarela?”

    Hellen si kutu buku mendesis pelan sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot.

    Bersambung… kali…
    By: Raito Yagami
    PS
    He he, buat yang jarang nonton TV sore, “Kepompong” itu judul sinetron remaja di SCTV soal geng De’Rainbow yang terdiri dari 4 cewek plus satu cowok. Gue sendiri sebenernya baru beberapa kali aja nonton (dapet rekomendasi dari komen di KBB ini yang cerita Dewi Persik kalo gak salah. Ternyata yang maen Aryani Fitria, he he termasuk fave gue juga, jadinya bikin semi fanfict gini.

    Tolong dikritisi tapi jangan kejem-kejem ya… monggo.

    BTW, buat yang suka nonton, ni sinetron masih tayang gak sih? Kok kemaren (13 maret 2009) gak ada sih?

  • The Serial Rapist Gang 2

    The Serial Rapist Gang 2


    277 views

    Cerita MayaKadang hidup secara berlebihan membuat kita tidak bisa melihat sisi yang berbeda. Hana, sebagai contohnya, hidup secara berlebihan. Dia tidak datang dari keluarga yang kaya raya, tetapi didikan orang tuanya membuat dirinya menjadi berpikiran sempit. Orang tuanya sangat berlebihan dalam memproteksi anak-anak mereka. Hal-hal yang umum bagi remaja, seperti pacaran, bolos sekolah, ataupun pergi main di malam minggu, sangat dibenci Hana. Dia berpikir bahwa hal-hal seperti itu buang-buang waktu dan berpengaruh buruk bagi remaja seusianya. Dunia dipandang oleh Hana dengan cara hitam dan putih. Memang dengan didikan seperti itu Hana menjadi anak yang baik, dan berprestasi di SMAnya, sebuah SMA Katolik swasta yang cukup mentereng di kota Bandung. Gadis keturunan Palembang – Batak ini cukup menonjol di tengah lingkungan yang didominasi oleh siswa keturunan Tionghoa. Namun karena ibunya Palembang – Tionghoa, maka dari segi fisik Hana tidak terlalu berbeda, namun warna putih kulitnya yang kuning langsat berbeda dengan putih kulitnya kebanyakan keturunan Tionghoa. Tinggi badannya 169 cm, rambut lurus panjang sepunggung, dengan muka yang selalu tersenyum manis. Dan karena Hana memiliki muka yang manis, dan juga badan yang tinggi dan bagus, banyak lelaki ingin memacarinya. Tetapi Hana selalu menolak lelaki-lelaki yang mendatanginya. Dia menganggap berpacaran adalah hal bodoh yang bisa merusak prestasi sekolahnya. Bagi gadis berusia 17 tahun itu, belajar dan les segala macam hal seperti bahasa asing dan pelajaran sekolah lebih berguna. Alhasil Hana tidak mempunyai banyak teman karena sifatnya yang sangat naïf. Teman-temannya yang membawa majalah remaja ke sekolah ataupun berhandphone ria dikala jam pelajaran, sering menjadi sasaran omelannya.

    The Serial Rapist Gang 2

    Hana sebenarnya ingin mempunyai teman yang banyak, namun tingkahnya yang sangat naïf dan memandang dunia ini hitam putih menyebabkan dirinya dijauhi teman-temannya. Tetapi dia selalu saja optimis bahwa orang yang pintar dan berprestasi akan disenangi semua orang. Tak heran dia selalu ceria dan menganggap semuanya baik-baik saja. Bisa dibilang di setiap harinya dia selalu berada dalam suasana yang ceria. Tetapi itu semua akan berubah. Kehidupan Hana akan berubah malam ini. Sepulang dari les Bahasa Inggris, Hana teringat kalau dia lupa membeli sesuatu yang dipesan oleh ibunya. Ibunya menitip agar Hana mampir sebentar ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan rumah tangga sebelum pergi les. Dan tentunya Hana panik. Sebagai anak yang selalu menurut kepada orang tuanya, Hana bergegas pergi ke supermarket yang dekat dengan tempat les bahasa inggrisnya. Namun ketika sedang memasuk-masukkan barang ke dalam keranjang, hujan turun dengan derasnya. Hana menjadi makin panik karenanya, karena bisa-bisa dia terlambat pulang ke rumah. Sambil membawa kantong belanjaan, ia dengan cemas berdiri di depan pintu pusat perbelanjaan itu. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, tetapi hujan belum juga reda. Handphone Hana belum berbunyi, mungkin orang tuanya mengira dia masih di jalan pulang. Perjalanan ke rumahnya dengan menggunakan angkutan umum kira-kira sekitar sejam jika jalan tidak macet. Itu karena rumah hana jauh dari pusat kota. Jika hujan begini, pasti jalanan menjadi macet, apalagi bercampur dengan jam orang pulang kerja. Dan Hana pun tidak membawa payung. Karena tidak tahan menunggu, Hana berlari menerjan hujan mencari kendaraan umum, di tempat mangkalnya yang terletak di jalan samping supermarket yang agak sepi. Cerita Maya

    Hana berlari di bawah terjangan hujan. Namun sungguh sial, dia tidak bisa menemukan kendaraan umum yang biasa dinaikinya sepulang les bahasa Inggris. Tetapi dia melihat sebuah taksi sedang berhenti di pinggir jalan. Tanpa pikir panjang, Hana segera berlari ke arah taksi. Supir taksi dengan sigap keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuknya. Setelah menyapa Hana, supir taksi segera melaju sembari menanyakan tujuan Hana. Hana menjawab sambil agak heran. Supir taksi yang satu ini agak beda dengan supir taksi kebanyakan. Supir taksi ini potongannya tidak tampak seperti supir. Dilihat dari dandanannya, dia lebih cocok menjadi eksekutif muda atau yang setingkat. Tapi Hana tidak ambil pusing, supir taksi mungkin saja ada yang ganteng, begitu pikirnya. Karena jalanan agak macet, sang supir mengusulkan untuk lewat jalan kecil yang lebih sepi. Hana setuju saja dengan usul tersebut, yang penting cepat pulang, begitu pikirnya. Taksi pun berbelok ke arah jalan yang sepi. Hana menghela nafas dan berharap dia segera sampai di rumah agar orang tuanya tidak terlalu marah. Ini pertama kalinya dia terlambat pulang. Dan memang benar saja, tak berapa lama handphonenya berbunyi. Rupanya ibunya menelpon sambil marah-marah. Ia berusaha menjelaskan keadaannya tetapi tetap saja disemprot, ia terdiam mendengarkan omelan ibunya di telepon. Ketika akan membantah, Hana kaget karena tiba-tiba mobil berhenti dan pintu penumpang terbuka. Dua orang laki-laki asing masuk dan langsung merebut handphone Hana dan membuangnya ke luar mobil. Lelaki yang masuk dari pintu sebelah kanan langsung menyergap Hana dan menelikungnya, sementara lelaki satunya lagi menyiapkan seutas tali untuk mengikatnya. Hana berteriak keras-keras tetapi mobil tiba-tiba berjalan dan melaju kencang. Lelaki pertama dengan erat memegangi tangannya dan temannya dengan susah payah mencoba mengikat Hana yang tidak bisa diam. Namun akhirnya Hana takluk. Kekuatan remaja perempuan umur 17 tahun tidak bisa mengalahkan kekuatan dua pria dewasa.

    Hana yang tangannya sudah terikat ke belakang, rambutnya dijambak dan dia diperintah untuk kembali memposisikan badannya duduk di tengah kedua laki-laki itu. Hana bingung apa yang akan terjadi pada dirinya. Lelaki yang duduk disebelah kanan mulai merabai pahanya.

    “Jangan… jangan… “ Hana memohon kepada orang tersebut.

    Namun orang tersebut malah terlihat semakin bernafsu dan tangannya menyelusup masuk ke dalam rok abu-abu yang dipakainya. Hana semakin takut. Dia ingat berita pemerkosaan yang akhir-akhir ini sering muncul di koran regional. Korban diantaranya adalah dua orang siswi smp yang pulang kemalaman setelah membolos sekolah. Hana pikir, karena dia tidak mungkin pulang kemalaman, dia tidak akan menjadi korban dari komplotan pemerkosa itu. Dan dia semakin takut ketika mobil taksi itu malah berjalan menuju daerah pegunungan.

    “Pak ! jangan… mau dibawa kemana saya !?!? Argh…..”

    Lelaki satu lagi menjambak rambut Hana yang panjang dan dalam posisi kepala Hana mendongak ke atas, dia menciumi leher Hana. Baju seragam sma Hana yang basah membuatnya semakin terlihat menggairahkan. Lelaki yang duduk di kanan sudah mulai meraba vaginanya. Sementara Hana tidak berhenti berteriak dan meminta tolong

    “TOLONG !!!! LEPAS !!! LEPASIN SAYA!!! PEMERKOSA!!! TOLONG!!! Ugh…” Hana berhenti berteriak ketika ulu hatinya ditinju dengan keras.

    Tidak jelas siapa yang meninjunya. Yang pasti setelah itu Hana menjadi mual dan susah untuk berteriak. Lelaki yang tadi meraba-raba vaginanya kini mengambil segumpal kain dan menyumpalkannya ke mulut Hana agar Hana diam.

    “Mmmpph… Mppph.. Mmmm. “ Hana merasa ngeri ketika lelaki yang satunya lagi mulai membuka kancing seragam SMAnya.

    Di balik seragam putihnya Hana memakai BH berwarna biru muda, warna yang cocok dengan kulit yang putih. Sementara lelaki yang tadi menyumpal mulutnya sekarang mulai merobek rok abu-abunya dengan gunting. Walaupun Hana meronta dan berontak, namun tetap saja tenaganya masih kalah kuat. Apalagi dalam posisi terikat. Ditambah lagi suarah lenguhan dan erangan tertahan dari Hana membuat kedua orang itu semakin bernafsu.

    Selama 17 tahun hidupnya, Hana tidak pernah mengenal laki-laki. Ia tidak ingin pacaran dulu karena dia khawatir hal tersebut akan mengganggu studinya. Pacaran saja tidak pernah, apalagi seks diluar nikah, dan Hana selalu mengecam perbuatan itu. Selain daripada itu Hana rajin ke gereja dan aktif di organisasi kepemudaan gereja. Tetapi lihat sekarang, Hana diikat dan disumpal mulutnya dalam kondisi setengah telanjang, di dalam taksi palsu yang membawanya ke sebuah villa terpencil. Kedua orang yang duduk di bangku belakang bersama Hana hanya meraba-raba badannya dan menciumi badan Hana. Setelah tiba di villa, mereka memaksa Hana berjalan kedalam dengan menjambak rambut Hana. Hana sudah berlinang air mata ketika mereka tiba di villa itu. Hana digirng masuk kedalam sebuah kamar yang rapih, dan ada springbed ukuran besar di tengahnya. Dan yang membuatnya kaget, banyak laki-laki yang sedang duduk di kamar tersebut sembari menonton sebuah film porno. Dan yang lebih mengejutkan lagi, film porno itu menayangkan seorang ibu muda yang tengah diperkosa oleh beberapa lelaki, yang dimana laki-laki yang ada di dalam film itu, adalah orang-laki yang sedang menonton. Hana kaget saat ia memperhatikan lubang anus ibu muda itu sedang dimasuki penis. Hana mendelik ketika dia melihat ibu muda itu berteriak-teriak kesakitan sambil menangis. Seumur hidupnya Hana tidak pernah melihat hubungan seks dilakukan lewat anus. Dia hanya tahu hubungan seks konvensional, melalui pelajaran biologi dan pendidikan bahaya seks bebas di kegiatan gerejanya. Hana digiring dan disuruh duduk di kasur itu. Hana sangat merasa ketakutan ketika semua mata di ruangan itu tertuju padanya. Para pemerkosa itu sudah mulai menghina Hana dengan sebutan-sebutan yang tidak pantas, seperti perek, pelacur, dan sebagainya, sebutan yang belum pernah ia dapatkan selama ini. Dia merasa masa depannya yang sedang ia bangun sekarang akan hancur jika dia diperkosa orang-orang ini. Apalagi jumlahnya sepuluh orang. Seorang lelaki langsung menyergapnya, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dia menggesekan batang penisnya ke vagina Hana. Gesekan antara kain celana dalam dan vagina Hana membuat Hana merasa sensasi yang aneh. Sumpal mulutnya dibuka oleh orang yang lain. Pipi Hana langsung ditampar oleh seseorang. Dia ditampar berkali-kali dan diperintahkan untuk membuka mulutnya agar bisa melakukan oral seks.

    Hana diposisikan tengkurap di tengah tempat tidur. Seorang lelaki tiduran didepan wajahnya, dan memaksa memasukkan penisnya ke mulutnya. Karena ia terus-terusan menghindar, orang yang lain menimpa badan Hana dari belakang dan mencekik lehernya, memaksanya membuka mulut. Hana terpaksa membuka mulut karena lehernya amat sakit.

    “Mmmph… Mmmpphh… Ahh…” Hana meracau tidak jelas ketika penis tersebut menghunjam masuk mulutnya.
    Sementara ketika dia mengoral penis secara paksa, celana dalamnya dilepas dengan dirobek. Dua orang lelaki memegangi dan merentangkan kaki Hana. Lelaki yang mencekik Hana kini tidak menimpanya lagi, tetapi menduduki punggung Hana. Hana merasakan sebuah tangan mengelusi vaginanya. Jari tangan tersebut masuk2 ke dalam lubang vagina Hana. Badan Hana tampak kejang-kejang mencoba berontak, tetapi dalam keadaan berat karena diduduki oleh seorang laki-laki dan kakinya dipegangi, Hana tidak bisa melawan. Sang pemilik tangan menggesek-gesekkan jarinya dengan kasar. Hana tampak memejamkan matanya, menahan diri agar dia tidak menikmati apa yang dilakukan para pemerkosa itu kepadanya.
    “Eh anjrit !” lelaki yang sedang dioral penisnya oleh Hana tiba-tiba berteriak. “ Eh perek ! beraninya lo gigit penis gw ! “ pria itu mencabut penisnya dari mulut Hana karena tampaknya Hana tidak sengaja menggigit penis pria tersebut.

    “Uhuk… Uhuk.. huk” Hana mengambil kesempatan itu untuk batuk dan menarik banyak nafas.
    “Balikin badannya, harus gw yang pertama ngewe ni cewek ! “ perintahnya dituruti teman2nya. Pria yang menduduki punggung Hana bangkit, dan orang-orang yang tadi memegangi kaki serta meraba-raba vagina Hana membalikkan badannya dengan paksa. “Jangan ! Jangan ! Saya masih perawan… lepasin saya ! “ tangis Hana sambil berteriak-teriak. Dia meronta sejadi-jadinya tetapi apa daya badannya dipegangi oleh para pemerkosa itu. Disaat orang yang akan mengambil keperawanannya bersiap untuk memasukkan penisnya ke dalam vagina Hana, teman-temannya menggunting BH Hana. Sekarang Hana telanjang bulat di depan 10 pemerkosa itu
    “Aaaaaaaaaaaaaah !” Hana berteriak dengan keras ketika vaginanya dihunjam oleh penis. “Aah.. Mmmh.. Aaah.. Ngggh…” ia mengerang seiring dengan irama gerakan maju mundur penis pemerkosanya. Pemerkosa-pemerkosa yang lain ada yang mengabadikan adegan perkosaan itu dan beberapa dari mereka meremasi buah dada Hana.
    “Gw keluarin di dalem ya !”
    “Ah ! Jangan ! Nanti saya hamil ! “ Hana berusaha berontak dengan menendang-nendangkan kakinya, tetapi kakinya dipegangi dengan kuat oleh yang lain.

    “aaahhh… “ sang pemerkosa mengeluarkan spermanya sampai habis di dalam vagina Hana.

    Hana menggelinjang karena geli oleh hangatnya sperma di dalam vaginanya.

    “Eh liat tuh cewek kayaknya keenakan juga” ejek yang lain.
    Pemerkosa pertama dengan bangga mencabut penisnya yang sudah lemas dan berlumuran darah perawan. Pemerkosa kedua mengambil posisi yang ditinggalkan oleh pemerkosa pertama. Hana hanya bisa pasrah sekarang. Dia tahu kalau dia sudah tidak mungkin diselamatkan. Pemerkosa kedua duduk dan mengangkat badan Hana ke pangkuannya. Dia memeluk Hana dan melepas ikatannya.

    “Sekarang gw mau lu kocokin kontol temen gua sementara gua perkosa elu” perintah pemerkosa kedua.

    Hana tidak menjawab. Matanya basah oleh air mata dan pandangannya kosong. Dia yang menjaga keperawanannya dengan tidak melakukan seks bebas ternyata harus kehilangan keperawanannya dengan menjadi mainan seks 10 lelaki yang tidak ia kenal. Sejujurnya para pemerkosa ini senang mendapatkan korban seperti Hana. Ada beberapa korban yang harus disiksa sedemikian rupa hingga mau menurut. Beberapa korban yang lain ada yang meronta sampai akhir, sehingga harus menggunakan kekerasan dalam memerkosanya. Sedangkan yang seperti Hana ini cenderung untuk pasrah ketika keperawanannya terenggut. Dan untuk tipe yang terakhir ini biasanya sang korban adalah perawan, jadi mereka merasa sudah tidak patut untuk berontak lagi karena keperawanan mereka sudah hilang, jadi sama saja. Sementara korban yang sudah tidak perawan relatif sering melawan. Sambil duduk di pinggiran kasur spring bed itu, pemerkosa kedua menggerakkan penisnya naik turun, karena Hana tidak bergerak sama sekali. Hana konsentrasinya terfokus pada penis yang ada di kedua buah tangannya. Karena dia tidak pernah memasturbasikan penis sama sekali, maka rasanya aneh. Genggamannya tidak erat dan iramanya kocokannya kacau balau.

    “Amatiran banget ni perek” kata salah satu pemerkosanya.

    “Gw mau keluar “ kata pemerkosa kedua.

    “mmmmhh” Hana melenguh merasakan hangatnya sperma di dalam rahimnya.
    “Cepet banget lu keluar “ kata pemerkosa yang lain
    “Abisnya enak banget ni cewek rapet abis “ jawab pemerkosa kedua

    Dua pemerkosa yang sedang dimasturbasikan oleh Hana terpaksa menunggu untuk memnucratkan spermanya karena pemerkosa ketiga akan menikmat vagina Hana. Ketika pemerkosa ketiga akan sudah memangku Hana dan bersiap untuk menikmati vaginanya, pemerkosa yang lain memotong aksinya.

    “Eh gw mau dong make pantatnya” pemerkosa ketiga setuju dan segera tiduran sembari memasukkan penisnya ke vagina Hana yang sudah agak longgar dan licin karena sperma.

    Pria ke 4 mengambil ancang-ancang dan dengan pelan-pelan memasukkan penisnya ke anus Hana yang rapat.

    “UH…. SAKIT !!…. LEPAS !…. AAAH….” Hana berteriak ketika lelaki itu memasukkan penisnya ke lubang anusnya.
    “HAhaha.. katanya sakit kok ga berontak sih ? “ Ejek yang lain ketika melihat badan Hana lemas lunglai di atas badan pemerkosa ketiga. Pemerkosa keempat menarik tangan Hana kebelakang agar badan Hana tegak dan dia mudah melakukan anal seks.
    “Tunggu gw ikutan “ Pria satu lagi mengambil posisi berlutut di depan muka Hana. “Buka mulut lo ! Awas jangan digigit ya “ katanya sambil memegangi kepala Hana dan memasukkan penis ke dalam mulutnya. Pada saat ketiga pria itu menggerakkan penis mereka, Hana merasakan hal yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia harus berjuang melawan sakit yang luar biasa akibat lubang anus dan vaginanya dimasuki penis secara bersamaan.

    “mmmmmpph… ahh…. Mmmm” Hana hanya bisa meracau tak jelas.
    “Haha.. liat tuh dia malah keenakan sekarang” Ejekan demi ejekan kembali dilontarkan pada Hana.

    “Ahh… Enak banget… telen semua sperma gw..” Kata pemerkosa yang sedang dioral oleh Hana. Ketika sperma itu muncrat di mulutnya, Hana terbatuk dan berusaha memuntahkan sperma itu, tetapi pemerkosa itu malah memaksa Hana melelan spermanya dengan terus menyodokan penisnya ke mulut Hana. Adegan-adegan selanjutnya dapat dibayangkan. Kesepuluh pemerkosa itu menggilir ketiga lubang Hana, mulut, vagina dan anus.

    Karena Hana tidak memberontak, maka mereka memutuskan tidak akan menyiksa Hana lebih hebat lagi. Mereka mengurungkan niat mereka untuk memasukkan dua penis sekaligus dalam vagina Hana. Pemerkosaan itu berlangsung berjam-jam. Ketika sedang diperkosa dalam posisi misionaris dan seorang lagi menggesek2an penisnya pada belahan dada Hana, seseorang dari mereka melontarkan sebuah ide.

    “Gimana kalo kita simpen ni cewek beberapa hari, sumpah belum ada yang seenak ini” Hana kaget tetapi dia tidak mampu melawan. Dia takut dipukul, ataupun disiksa oleh para pemerkosa itu.
    “Gua setuju, kita simpen ni cewek dan kita ubah dia dulu jadi maniak seks, baru dilepasin” jawab yang lain.

    Perkosaan malam itu selesai. Semua orang menikmati mulut, vagina, dan anus Hana. Seseorang memapah Hana yang lemas lunglai dengan badan basah penuh sperma dan keringat ke kamar mandi. Orang tersebut memandikan Hana dengan air hangat di bawah shower. Tapi lama-lama nafsu orang itu kembali.

    “Eh, kamu coba nungging dan pegangan ke bak mandi” perintahnya.

    Hana tidak menjawab tapi dia dengan gerakan lambat melakukan apa yang disuruh. Orang itu memasukkan penisnya dari belakang dan mulai menggerakannya maju mundur. Tangannya nakal meremasi buah dada Hana.

    “Uuhh…. Ah…..” Hana mengerang, entah mengapa sepertinya dia agak menikmati perbuatan yang satu ini. Tiba-tiba pintu kamar mandi digedor.

    “WOI ! jangan dipake lagi tuh perek. Besok aja, dah malem, mendingan kita istirahat !” akhirnya dia mengurungkan niatnya dan kembali memandikan Hana.
    Keesokan paginya Hana tidak diberi pakaian apapun. Dia dibiarkan telanjang bulat seharian. Hana disuruh menonton rekaman adegan-adegan pemerkosaan pagi itu. Hana takut dan ngeri melihat adegan-adegan itu. Hana melihat ada dua orang remaja putri yang tampaknya dibawah umur diikat ke kursi dan diperkosa secara bergiliran, vagina dimasuki dua penis bersamaan, dan juga ada korban mereka yang sedang mens, sehingga hanya lubang anus dan mulutnya yang dipakai. Jam-jam selanjutnya sungguh tidak tertahankan. Hana terus-terusan dipakai oleh kesepuluh pemerkosa itu. Semua posisi yang mungkin dalam seks dicoba, dan sudah tak terhitung berapa sperma yang Hana telan. Lucu mengingat kemarin Hana adalah siswi kuper yang kolot dan sekarang dia seperti pelacur professional yang siap dipakai kapan saja oleh siapa saja. Dan tidak ada yang tahu kapan Hana akan dilepas oleh kelompok pemerkosa itu….

    ———————————————————-
    Ifa

    Ifa

    Tidak seperti biasanya, kali ini tersangka pelaku pemerkosaan beramai-ramai bukanlah geng pemerkosa itu lagi. Geng pemerkosa masih aktif menjalankan rutinitasnya, setelah menjadikan Hana sebagai sex toy mereka, mereka tampaknya bosan, dan membuang Hana begitu saja di tempat umum. Mereka masih senang menculik wanita muda dan memperkosanya beramai-ramai. Cerita tentang mereka masih akan dilanjutkan nanti, yang pasti mereka ber10 siap untuk menyiksa dan menggagahi wanita-wanita yang ada. Ifa tidak sabar menunggu jam 4 sore ini. Rangga akan menjemputnya. Mereka baru saja berpacaran 1 minggu. Rangga, adalah kakak kelas Ifa waktu SMP dulu. Sekarang Rangga sudah kelas 1 SMA. Sedang Ifa, duduk di kelas 3 SMP. Rangga yang masih sering main ke bekas SMPnya itu memang sudah lama menaruh hati kepada Ifa. Berawal dari curi-curi pandang, lalu memberanikan diri untuk kenalan, akhirnya mereka resmi berpacaran seminggu yang lalu. Orang tua Ifa biasa-biasa saja menghadapi kejadian ini. Toh sudah waktu nya juga anak gadis mereka akan berpacaran. Mereka juga tahu kalau Rangga dan Ifa akan pergi nonton sore ini, dan akan melakukan hal-hal biasa seperti makan bareng dan jalan-jalan. Orang tua Ifa sudah menitip pesan, agar mereka pulang sebelum pukul 10 malam. Waktu yang dinantikan akhirnya tiba. Motor bebek keluaran baru Rangga akhirnya datang menghampiri rumah Ifa. Setelah berbincang-bincang dan berkenalan dengan orang tua Ifa, Rangga dan Ifa akhirnya berangkat ke sebuah mall di daerah yang terkenal dengan toko jeansnya di Bandung.
    “Fa, kita nonton dulu ya, baru pulangnya makan…” ajak Rangga sesaat sebelum motor melaju.
    “Terserah deh, yang penting hari ini kita seneng-seneng kan ?” Ifa tampak berseri-seri.
    Sehabis menonton film, mereka pun memutuskan untuk jalan-jalan sejenak di mall itu. Sekilas memang mereka tampak bahagia, bergandengan tangan malu-malu dan bercanda layaknya pasangan biasa. Namun siapa tahu itulah awal petaka bagi mereka berdua. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam. Masih pagi untuk ukuran malam minggu. Apalagi malam ini masih ramai. Jalan masih padat dipenuhi mobil-mobil wisatawan lokal yang umumnya berasal dari Jakarta. Tak puas berjalan-jalan di mall tersebut, mereka meluncur ke sebuah tempat makan di bandung selatan. Sekitar jam 9 malam akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Agar bisa berduaan di atas motor tanpa terganggu arus lalu lintas yang padat dan riuh rendahnya malam minggu, mereka memutuskan untuk melewati jalan-jalan kecil yang sepi. Namun siapa sangka keputusan ini adalah keputusan yang akan merubah hidup mereka, terutama hidup Ifa.

    Pada awalnya jalan yang hanya berjarak 4 km itu biasa-biasa saja, namun beberapa saat kemudian, 3 buah motor mengepung motor Rangga. Sudah jelas ini pasti adalah geng bermotor yang marak di kota Bandung. Rangga berusaha kalem dengan mengendarai motor lambat-lambat. dia berharap ada mobil muncul sehingga perhatian para anggota geng motor itu teralihkan.
    “Eh !! Motor kamu bagus ya ! boleh ga kalo kita ambil !” Teriak salah satu pengendara motor.
    “Wah bawa cewek nih… mau indehoi ya ? Boleh dong kita dapet bagian !” teriak pengendara yang lain. Total ada 5 orang yang mengepung Rangga dengan 3 motor. Rangga berharap itu hanya gertak sambal saja. Rangga berusaha tetap tenang sambil melihat ke ujung jalan. Ada angkutan kota sedang berhenti disana. Dia agak tenang karena angkutan kota itu tampaknya akan lama berada disana. Tiba-tiba “Duak !!” seseorang menendang motor Rangga. Rangga dan Ifa terjatuh dari motor. Malang bagi Ifa, dia kaki kanannya tertimpa motor. Sehingga sulit untuk berdiri. Rangga dengan panik segera bangkit. Dia tidak melihat Angkutan Kota itu lagi. Rangga yang bingung ternyata segera lari menuju arah jalan besar.
    “RANGGA!!!” Ifa berteriak sekuat tenaga memanggil Rangga. Tapi Rangga terus saja berlari.
    “yah, pacarnya pengecut tuh…” ledek salah seorang dari mereka.
    “Woi ! jangan !” tiba-tiba yang lainnya berteriak. Rupanya seseorang lagi menyingkirkan motor Rangga dan tampak memeluk Ifa dan meraba-raba buah dadanya yang kecil dengan kasar.

    “Tolong !” Ifa berteriak.
    Walaupun beberapa dari mereka tidak setuju untuk melecehkan Ifa, namun mereka berpikir cepat, daripada ditangkap polisi dan dipukuli warga, mereka melepas sepatu Ifa dan mengikat tangannya dengan tali sepatu tersebut. Salah seorang dari mereka lalu mencopot slayer mereka dan menyumpal mulut Ifa. Ifa pun dipakaikan jaket tudung mereka agar ikatan tangan dan mulutnya yang tersumpal tidak dilihat orang.

    Baca Juga Cerita Seks The Serial Rapist Gang

    Ifa lalu dinaikkan ke salah satu motor mereka dan didempet dari belakang oleh orang lainnya. Jadi mereka tampak seperti naik motor bertiga, dengan Ifa ada di tengah. Motor-motor tersebut melaju dengan kencang menuju sebuah pabrik di daerah Soekarno Hatta, yang tidak berpenghuni dan beroperasi lagi. Biasanya di tempat ini mereka memreteli motor jarahan mereka, sekedar untuk dikanibal dengan motor mereka atau untuk menjual sparepartnya. Disana ada dua orang lainnya yang sedang duduk-duduk merokok sambil minum dari botol bir murah yang sama.
    “Eh… apaan nih ?” mereka kaget waktu lima orang temannya bukannya membawa motor jarahan, malahan membawa cewek ABG yang tangannya terikat dan mulutnya tersumpal.
    Ketujuh orang itu adalah pemuda-pemuda tanggung yang tampaknya berusia 20an awal ataupun baru lulus SMA. Mereka penganggur, kecuali satu yang masih duduk di kelas 3 SMA. Dan mereka bergabung di sebuah geng motor yang terkenal di kota Bandung. Mereka biasanya, demi balapan liar, merampas motor orang lain dan memreteli sparepartnya untuk diuangkan ataupun dikanibal ke motor mereka. Walaupun kedua orang itu kaget, mereka mengerti dan membuka pintu yang menuju ruangan dalam pabrik itu. Mereka membawa Ifa ke sebuah ruangan yang tadinya adalah ruangan mandor. Entah darimana mereka memiliki kunci ruangan tersebut. Kamar itu penuh dengan puntung rokok mereka, sebuah pesawat TV bermerek tidak jelas, satu unit playstation 1 milik mereka dan beberapa kasur tempat mereka biasa tidur-tiduran atau membawa pelacur kesana. Singkat cerita ruangan ini sudah menjadi basecamp mereka.
    “Gila apa ?!? gw ga mau kalo merkosa anak orang !” Tiba-tiba salah satu dari mereka angkat bicara.
    “Eh ! Udah kagok. Memek gratis nih !” Ifa dipegangi oleh dua orang. Ifa masih berusaha berontak, meracau sekenanya walaupun itu semua tidak berguna. Mereka diam untuk beberapa detik. Ifa berharap mereka sadar dan melepaskannya. Tapi tiba-tiba lima orang dari mereka segera membuka baju mereka. Ifa kaget dan makin meronta.

    “Sini lu” Seseorang menarik Ifa dan menjatuhkannya di atas kasur itu. Mereka lalu mengelilingi Ifa dan meraba-raba buah dadanya dan vagina Ifa. Ifa ngeri dan memberontak sejadi2nya, dia tidak bisa membayangkan dirinya diperkosa 7 orang lelaki. Sementara kedua orang lainnya membuka baju mereka dan mengambil sebuah pisau.
    Dengan paksa mereka merobek T shirt dan celana jeans Ifa. Ifa memakai BH dan celana dalam Putih.

    “Wih… wangi… mulus lagi…”

    Mereka semakin bernafsu meraba-raba badan Ifa dan menciumi badannya. Bahkan Seseorang dari mereka berusaha mencupang leher Ifa. Ifa jijik, walaupun mereka tidak dekil dan tidak berbadan bau.
    “Buka dong sumpelan mulutnya, gua pingin denger dia teriak-teriak, kayak di film-film bokep, ga akan ada yang denger dia teriak-teriak juga kan ?” salah satu dari mereka menyuruh temannya membuka sumpalan mulut Ifa.
    “AAAAH….. TOLONG !!! LEPAS !!!!! “ Namun mereka malah memelorotkan celana dalam gadis itu.

    “Wah kayaknya enak nih memeknya” salah satu dari mereka mulai berjongkok dan menciumi vagina Ifa.

    “UUUHHHH !!! GA MAU !!! AHH!!!” Ifa berusaha memberontak. Tapi orang tersebut makin bernafsu menciumi vagina Ifa. Dia bahkan menjilatinya dengan penuh nafsu.
    “Duh ga tahan nih pengen ngewe, ada yang bawa kondom ga ?” tanya seseorang.
    “GA usah lah… langsung aja, keluarin aja di dalem semua….” Ifa makin kaget dan makin berontak. “JANGAN !!! GA MAU !!!! LEPASIN !!!!” teriaknya sambil mencucurkan air mata.
    “Lah ribut nih perek abege… udah diem aja, sumpel kontol nih biar ga ribut” Salah satu dari mereka berlutut di atas muka Ifa. Dia mencekik Ifa agar Ifa membuka mulutnya. IFa berontak dan terus menutup mulutnya. Beberapa tamparan di pipinya membuatnya tak tahan lagi. Dia membuka mulutnya. Dan kemudian penis itu masuk ke dalam mulutnya.

    “Awas kalo digigit !” Ancam orang yang memaksa Ifa melakukan oral seks tersebut. Dia menggerakan penisnya maju mundur.

    “Mmmphhh… mmmmppphh” Ifa bergumam tertahan. Salah seorang dari mereka malah mengeluarkan hape berkamera, dan memfoto-foto kegiatan pemerkosaan ini.
    “Wah enak nih mulutnya” ujarnya
    “Crotin di dalem dong !” yang lain memberi semangat.

    Cukup lama oral seks paksa tersebut berlangsung. Selain harus mengulum penis, vagina Ifa juga dijilati oleh orang kedua. Dia tidak tahan sensasi aneh yang ada dalam tubuhnya.
    “Ahhh…” Akhirnya spermanya muncrat di mulut Ifa.

    “Uhuk… Uhuk… Ahhh..” Ifa terbatuk dan berusaha memuntahkan sperma yang ada di mulutnya. “Nggg… Udah… lepasin saya….” Ifa menangis. Dia takut diperkosa dan dirusak masa depannya.
    “Cengeng nih perek… cepetan, perkosa….”
    Orang pertama membalikkan badan Ifa. Dia memaksa Ifa menungging .

    “Nih gua dapet perawan nih..” yang lainnya hanya tertawa, bahkan ada yang masih meraba-raba badan Ifa.
    “UHHH…… Arrggghhhhhh” Ifa berteriak sejadi-jadinya ketika penis itu memaksa masuk vagina perawannya.

    “Buset sempit banget…” dan orang itu mulai menggerakkan penisnya maju mundur.

    “Eh buka tuh BH nya” dan mereka merobek BH Ifa dengan cepat.

    “Haha.. toketnya kecil !! Gila ya.. masih kecil dah jadi perek !!” buah dada Ifa memang kecil.

    Tiba-tiba salah seorang dari mereka menciumi putting Ifa. Salah seorang lagi menahan badan Ifa agar yang lainnya leluasa menyetubuhi dan meraba-raba Ifa.
    “Mulutnya nganggur tuh !” Dan tiba-tiba sudah ada penis yang memaksa masuk ke mulut Ifa.

    Lehernya kembali dicekik agar penis tersebut bisa leluasa masuk ke dalam mulutnya.

    “haha.. kayak di film bokep nih !” Ejek seseorang.

    “hmmpph… Mmmm….” Ifa hanya bisa melenguh dan menangis tertahan. Dia sudah tidak berontak lagi. Sudah tidak ada gunanya karena keperawanannya sudah hilang dan dia dalam kondisi telanjang terikat. Tidak bisa kemana-man lagi.
    “Eh pantatnya nganggur tuh !” celetuk salah seorang dari mereka.

    “MMmmmm!!!! MMmmmm !!!” Tiba-tiba Ifa bergumam tidak jelas.

    “haha.. pereknya ga mau… tapi kita paksa ya neng…” ledek salah seorang dari mereka.
    “Gua mau keluar” ujar orang yang sedang memperkosa Ifa. Orang itu lalu mencengkram pantat Ifa sambil menampar2nya.

    “Ahhhh” Sperma muncrat di vagina Ifa. Dari vaginanya menetes cairan percampuran sperma dan darah perawannya. “Wah enak banget nih perek perawan..”

    ”Sini” Seseorang yang duduk mengangkat dan memangku Ifa.

    Tubuh kecil ABG itu tidak ada apa-apanya bagi mereka. Dia berusaha memasukkan penisnya ke lubang vagina Ifa.

    “uhhh….udah…….. sakit….” Ifa tetap berusaha berontak.

    “Daripada ribut, nih lubang pantatnya dipergunain” ejek salah seorang dari mereka.
    “Mmmhhh.. jangan…. “Ifa memohon saat seseorang menusuki lubang pantatnya dengan jari.

    “Sakit….” Ifa menolak dengan lemasnya.

    Beberapa saat kemudian, Ifa merasa ada sesuatu yang lebih besar akan memasuki lubang pantatnya.

    “IHHH!!! JANGAN!!!! AAAHHHH!!!!” Ifa kembali berontak saat penis seseorang masuk pelan-pelan ke dalam lubang pantatnya.
    “Jangan ada yang minta dia nyepong ya, gua mau liat reaksinya !” perintah salah seorang dari mereka sambil mengarahkan kamera hape video ke arah Ifa.
    “UUUGGGHH!!!! AAAHHHH!!! UDAH ! UDAH!” Ifa merengek kesakitan ketika dua buah penis maju mundur di lubang pantat dan vaginanya. Air matanya terus keluar, mukanya merah dan mulutnya terus meracau. Air liur dan sperma yang ada di mulutnya menetes melalui bibirnya.
    “Enak banget nih pantatnya perek abege” ledek orang yang sedang menyodomi Ifa.

    “UH !UH! UDAH !!! TOLOOONGG!!! AAARRRGGGHHHH !!!!! UUUHH!!!!” Ifa terus meracau. Dia menyeringai menahan sakit di lubang pantat dan vaginanya.
    “Eh gua pernah liat di bokep, ada yang masukin dua kontol sekaligus di memek, tar kita cobain ke cewek ini ya !” tiba-tiba seseorang memberi usul lain.

    “Oke, tapi kita longgarin dulu lubang memeknya “ jawab yang lain.
    “JANGAN !!!! sakit !!!! uuuuuhh….. mmmmmmhhh… Augh….. Sakit !!! Udah ! Lepasin! Uuuuh…. AAAAAHH…” Ifa terus merengek tak henti-henti.

    “Kita keluar bareng ya” ujar orang yang memperkosa Ifa.

    “Ahhh… enak…” Ifa terkulai lemas ketika kedua batang penis itu dicabut. “Oke, gentian”

    Ifa lalu disetubuhi dalam posisi misionaris dan seseorang memaksa Ifa mengoral dirinya.

    “Asik nih perek… sering-sering apa ya kita kayak gini” rupanya mereka merasakan sensasi liar pemerkosaan, pemaksaan dan penyiksaan.

    Air mata Ifa sudah kering. Badannya merah-merah penuh bekas tamparan dan cupang.

    “Genjot terus nih ABG sampai pagi” salah seorang dari mereka mengejek Ifa sambil memuncratkan spermanya di muka Ifa.

    Selesai disetubuhi dalam posisi misionaris, Ifa dipaksa berdiri, walaupun dia lunglai. Lagi-lagi dia disetubuhi sambil berdiri dan mulutnya pun dipaksa untuk lagi-lagi menelan sperma. Setelah itu Ifa Disodomi berurutan oleh dua orang. Ifa yang berontak lagi dipegangi dan ikatan tangannya diperkuat.

    “Udah…… Mau pulang….. Udah….” Ifa merengek seperti anak kecil.

    Dia tidak tahan lagi diperkosa dan semua lubangnya dipakai secara paksa. Ifa sedang dalam posisi doggy style, seseorang menggaulinya dari belakang dan Ifa hanya bisa melenguh pelan.

    “Abis dia crot, kita cobain ya masukin dua kontol sekaligus di lubang memeknya”

    Ifa ngeri mendengarnya. Dia tidak bisa membayangkan rasa sakitnya. Setelah sperma orang terakhir keluar, Salah seorang dari mereka duduk dan memangku Ifa. Tetapi Ifa memunggungi orang tersebut. Kaki Ifa direntangkan lebar-lebar. Orang yang duduk itu memasukkan penisnya ke vagina Ifa.

    “Uhhh…” Ifa sudah tidak bisa menghitung lagi kali keberapa vaginanya dimasuki penis.

    “Eh… AARRGGHHHHH!!!!” Ifa kaget ketika ada penis lain yang masuk ke vaginanya. Rupanya orang lain berlutut dan memasukkan penisnya dengan paksa ke lubang yang sudah terisi itu.
    “AAAAHHH !!!! SAKIIIIIIIIITT !!!! MAU ROBEK!!! JANGANN!!!!! “ Ifa terus merengek saat lubang vaginanya dimasuki dua penis.

    “Unnnnggggghhh Unggghhh Aaaaahh..” Ifa terus meracau dan berteriak-teriak tak jelas sepanjang proses itu. Ifa kembali menangis dengan air mata yang kering. “Ampuuuun…. UDAH!!….” Ifa terus-terusan merengek dan memohon seiring dengan gerakan kedua penis tersebut.

    “Wih mantap… kayak di bokep !” komentar yang menonton.

    “Euuughhhh” Ifa berteriak melengking ketika kedua penis itu menyentakkan dirinya pertanda orgasme.
    Selanjutnya bisa dibayangkan. Ifa kembali mengalami double penetration. Baik dobel lewat vagina maupun lewat vagina dan pantat. Ifa hanya bisa melenguh dan berteriak setiap prose situ terjadi. Malah kadang-kadang ketika dia dipaksa melakukan oral seks, dia hanya bisa diam dan menangis. Cerita Maya
    “Dah nih… capek” kata seseorang dari mereka

    “Bentar !” Ifa sedang mengalami triple penetration sekaligus.

    Pantat, Vagina, dan mulutnya sibuk menservis penis-penis para pemerkosanya. Pantatnya merah penuh bekas tamparan. Matanya sudah sayu dan ada jejak air mata. Mukanya merah dan pasti perasaannya tidak karuan serta mual.
    “Uhhh,,, Uhh….. “Ifa terus melenguh tak jelas. Tiap penis memasuki vagina, pantat dan mulutnya.
    “Sini, minum dulu”, salah seorang menenggakkan botol bir ke mulut Ifa. Cairan alcohol itu masuk menyiram keronkongan Ifa, sampai ifa tersedak dan batuk.
    Setelah puas, ketujuh orang itu lalu memuncratkan sperma mereka di wajah Ifa. Mereka memakai baju lagi dan keluar ruangan, mereka lalu merokok dan minum-minum. Ifa ditinggalkan sendiri dalam keadaan amburadul. Tubuhnya penuh sperma, lubang2nya juga penuh sperma. Ifa mulai menangis terisak….

    By: Racebannon

  • The Serial Rapist Gang

    The Serial Rapist Gang


    310 views

    Cerita MayaMutia namanya, dia adalah seorang mahasiswi berumur 19 tahun di sebuah PTN di Bandung. Ia memiliki tinggi sekitar 165 cm, bertubuh montok dan berpipi chubby, dengan rambut panjang sepunggung yang ikal. Kulitnya putih bersih dan pipinya bersemu merah, tampak menarik bagi setiap laki-laki yang melihatnya. Tapi sore itu menjadi sore yang tak terlupakan bagi Mutia. Hari itu hampir maghrib. Dan langit gelap akibat dari hujan deras sore itu. Mutia sedang berdiri di bawah atap gerbang kampusnya, menunggu hujan reda. Tiba-tiba sebuah mobil kijang innova menghampiri Mutia. Jendela pintu belakang membuka. Tampak seorang pria tersenyum manis kepadanya dan menanyakan alamat kepadanya. Ketika Mutia akan menghampiri jendela yang sedang terbuka itu, tiba2 pintu mobil tersebut terbuka, dan seseorang menyergap Mutia dari belakang lalu kemudian dengan cepat mendorong Mutia ke dalam mobil. Di mobil itu rupanya sudah ada 4 laki-laki lainnya. Seorang menyupir, satu orang di kursi depan dan dua di belakang. Ditambah lelaki yang menyergap Mutia, mereka berjumlah 5 orang. 3 lelaki di kursi belakang mulai menggerayangi dan memegangi tangan Mutia yang meronta-ronta. Seseorang mengambil tali dan mengikat tangan Mutia ke belakang. Dua orang lagi berusaha menciumi leher Mutia dan meremas-remas buah dada Mutia. Mutia berteriak sejadi-jadinya. Dia bahkan tidak mengenal siapa para lelaki ini, dan mengapa mereka melecehkannya secara seksual. Mobil tersebut meluncur ke sebuah villa di kawasan lembang. Mutia yang terikat lalu kemudian dibawa masuk ke sebuah villa. Ternyata di dalam villa ada 5 lelaki lainnya yang tengah menunggu. Mutia menangis makin keras membayangkan apa yang akan mereka lakukan.

    The Serial Rapist Gang

    Berada di sebuah tempat asing, berada dalam keadaan terikat dan dikelilingi oleh 10 laki-laki yang tidak ia kenal sama sekali membuat Mutia panik. Mutia yang menangis didudukkan pada sebuah sofa di pojok ruangan itu. Kesepuluh lelaki itu seakan tidak peduli kepada keadaan Mutia yang menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Dari tatapan mereka yang penuh nafsu kepada Mutia, sudah jelas apa yang akan mereka lakukan. Mereka akan memperkosa Mutia. Tidak jelas motif mereka apa dan apakah mereka mengenal Mutia, tapi sudah pasti mereka menginginkan Mutia melayani nafsu seks mereka. 3 orang lelaki membawa gunting dan benda tajam, mulai merobek2 atasan dan celana jeans Mutia. Mutia yang meronta tidak kuasa menahan mereka karena tangannya terikat dan tenaga ketiga lelaki itu jauh lebih kuat daripada Mutia. Kini tubuh Mutia yang putih dan montok hanya ditutupi oleh BH dan celana dalam yang berwarna putih bersih. Setelah itu, kesepuluh lelaki itu menanggalkan pakaian mereka. Mutia yang ketakutan tampak gugup. Sepertinya baru pertama kali ini Mutia melihat penis lelaki secara langsung. Mereka semua langsung menggerayangi badan Mutia, meremasi pantat, buah dada dan menggesek-gesekkan jari mereka ke vagina gadis itu. Salah seorang dari mereka menampari wajah Mutia dan memintanya untuk mengoral penis mereka. Mutia berusaha bertahan dengan mengatupkan mulutnya sekuat tenaga. Tapi itu tidak berlangsung lama karena teman lainnya memegangi badan Mutia dan ada yang mencekik lehernya, sehingga mulutnya terbuka. Tapi karena takut Mutia nekat menggigit penisnya, orang yang meminta Mutia mengoral penisnya mengurungkan niat. Cerita Maya

    Maka mereka merobek-robek celana dalam Mutia dan beberapa dari mereka memegangi kaki Mutia agar pahanya terbuka lebar. Salah seorang dari mereka dengan susah payah memasukkan penisnya ke vagina Mutia. Mutia berteriak kesakitan. Ia tidak pernah membayangkan kalau keperawanannya akan diambil dengan cara seperti ini. Dia tidak pernah membayangkan dirinya akan diperkosa beramai-ramai oleh orang-orang yang sama sekali tidak ia kenal. Orang yang mengambil keperawanan Mutia terus menggerak-gerakkanan badannya maju mundur, memompa penisnya tanpa mengenal lelah. 10 menit kemudian orang tersebut tanpa berkata apa-apa memuncratkan spermanya di dalam vaginanya. Mutia tidak menyangka bahwa pemerkosanya akan mengeluarkan spermanya di dalam. Orang tersebut tertawa puas dan menyuruh teman-temannya untuk segera mengambil jatah mereka. Mutia yang sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi kini hanya bisa menangis sesenggukan meratapi nasibnya. Orang kedua meminta teman-temannya merubah posisi Mutia. Orang tersebut tiduran diatas karpet dan teman lainnya mendudukkan Mutia diatas penisnya. Mutia kaget karena penis orang kedua ini lebih besar daripada penis sebelumnya. Dengan sedikit usaha lebih mereka menggerakan badan Mutia agar Mutia bergerak naik turun memompa penis orang kedua. Tak berselang berapa lama, salah seorang dari mereka mengambil lotion dan mulai mengoleskannya ke lubang anus Mutia. Rupanya dia sudah tidak tahan menunggu giliran. Setelah mengoleskan Lotion, dengan susah payah dia memasukkan penisnya kedalam lubang anus Mutia. Mutia memekik tertahan, tenaganya habis akibat dia meronta tadi, juga karena perkosaan pertamanya. Lubang vagina dan lubang anus Mutia diperkosa bersamaan. Setelah orang ketiga mengeluarkan spermanya di lubang anus Mutia, orang berikutnya mulai mengambil alih. Mereka lalu melepaskan ikatan tangan Mutia. Mutia sudah tidak memberontak lagi. Tetapi dia masih terus meneteskan air mata.

    Mereka meminta tangan Mutia untuk mengocok penis2 mereka. Dan Mutia sudah tidak peduli lagi ketika seseorang memasukkan penis ke mulutnya. Dengan meneteskan air mata, Mutia pasrah menerima nasibnya. Dia mengoral sambil memasturbasikan penis2 yang lain sementara lubang anus dan vaginanya tidak henti2nya digilir oleh kesepuluh penis tersebut. Mereka dengan sembarangan mengeluarkan sperma di vagina, anus dan mulut Mutia. Mereka seakan tidak peduli bahwa Mutia bisa hamil akibat perbuatan mereka. Beberapa dari mereka yang telah menikmati tubuh Mutia beristirahat sambil menonton teman2 lainnya menggilir tubuh Mutia. Mereka melontarkan ejekan yang merendahkan Mutia. Tak sedikit pula mereka mengambil gambar pemerkosaan itu dengan kamera digital, bahkan ada yang membawa handycam dan merekam adegan perkosaan itu. Setelah beberapa dari mereka merasa cukup kuat kembali, mereka mulai lagi menikmati tubuh Mutia. Mutia diperintahkan untuk tidur telentang di karpet, sementara salah seorang dari mereka kembali memperkosa Mutia. Vagina Mutia yang telah basah oleh sperma tanpa ampun terus dipompa. Sementara salah seorang dari mereka menikmati vagina Mutia, 3 orang dari mereka masturbasi dihadapan muka Mutia, dan menyemprotkan sperma mereka membasahi muka Mutia. Wajah Mutia yang tampak lemas itu kini basah oleh sperma. Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, beberapa dari mereka sudah mulai berpakaian kembali. Namun 3 orang masih menggarap Mutia. Seseorang menikmati vagina Mutia dari belakang, seorang sedang dioral oleh Mutia. Karena Mutia sudah lemas, maka seseorang lagi menjambak rambut Mutia dan menggerakkan kepalanya maju mundur, mengoral penis temannya sembari menunggu gilirannya menikmati tubuh Mutia kembali. Tubuh Mutia yang telanjang bulat basah oleh keringat dan sperma. Air matanya sudah kering dan tenaganya sudah habis.

    Selesai memperkosa dan melecehkan Mutia semalaman itu, mereka memakaikan kaos oblong yang oversize untuk Mutia. Mereka menaikkan Mutia ke mobil dan mobil mulai melaju kembali. Sebelum mereka menurunkan Mutia, di mobil mereka kembali meminta Mutia untuk mengoral mereka. Akhirnya mereka menurunkan Mutia di depan gerbang sebuah pusat perbelanjaan terkemuka. Pemerkosaan, dengan korban acak dan tanpa motif tertentu, bisa menimpa siapa saja, dan kali ini Mutia menjadi korbannya.

    ***********************

    Erina dan Devi

    Erina & Devi

    Devi dan Erina adalah dua orang siswi SMP yang bersahabat sangat erat. Mereka sering kali berjalan-jalan berdua saja, bahkan tak jarang pula mereka membolos sekolah untuk bersenang-senang. Ketika siswa siswi kelas 3 lainnya sibuk dengan pelajaran tambahan sehabis sekolah, mereka dengan diam-diam berusaha kabur dari sekolah hanya untuk shopping ke pusat perbelanjaan yang cukup terkenal. Dengan menggunakan seragam sekolah, mereka tampak cuek saja berjalan-jalan berdua di pusat perbelanjaan tersebut. Devi dan Erina sama-sama memiliki tinggi badan sekitar 150 cm. Keduanya bertubuh langsing, walaupun Devi sedikit lebih kurus dari Erina. Devi memiliki muka yang judes dan tatapan mata yang tajam, bibirnya tipis dan memiliki rambut sebahu. Sedangkan Erina memiliki wajah yang teduh, pembawaan yang lembut, juga rambut lurus panjang sepunggung. Di sekolahnya mereka menjadi rebutan para lelaki, maklum anak baru gede, baru kenal-kenalnya dengan yang namanya pacaran. Mereka sendiri masing-masing telah memiliki pacar, tetapi pada hari ini mereka hanya jalan berdua saja. Hari itu mereka menghabiskan waktu mulai dari makan di food court, main di game center, dan window shoppin berkeliling dari lantai paling bawah sampai lantai paling atas. Tak terasa hari sudah mulai gelap, sudah menunjukkan pukul setengah 7 malam rupanya. Maka mereka berdua memutuskan untuk pulang. Dengan alasan menghemat ongkos, mereka memutuskan untuk berjalan menyusuri jalan kecil yang berada di balik pusat perbelanjaan tersebut. Tiba-tiba mereka disergap dari belakang. Tangan mereka dikunci ke punggung dan mulut mereka dibungkam agar tidak teriak. Tenaga penyergap mereka sangat kuat. Dua orang lelaki yang menyergap mereka hanya butuh waktu sebentar untuk menunggu mobil teman mereka melewati jalan itu. Erina dan Devi pun diangkut ke dalam mobil.

    Di dalam mobil itu sudah menunggu 2 orang lainnya. Penyergap mereka dan satu temannya berusaha mengikat tangan dan kaki Erina dan Devi. Sedangkan yang menyetir mobil dengan cepat memacu mobil tersebut ke arah Lembang. Rupanya mereka komplotan yang sama dengan komplotan yang menculik dan memperkosa Mutia. Setelah Erina dan Devi terikat, ketiga lelaki itu dengan penuh nafsu membuka kancing seragam SMP mereka. Di balik kemeja seragam rupanya mereka mengenakan kaos dalam agar BH mereka tidak tampak jelas. Ketiga lelaki itu merabai dan meremas buah dada Erina dan Devi yang belum sepenuhnya matang itu. Sesampainya di villa terpencil tempat mereka biasa melakukan aksi biadab mereka itu, Erina dan Devi digotong masuk. Rupanya ke 6 lelaki lainnya sedang mempersiapkan dua buah kursi dan tali untuk mengikat Erina dan Devi. Mereka kemudian ditelanjangi, sembari mereka meraba-raba dan menggesekkan jari mereka ke vagina yang baru mulai ditumbuhi bulu-bulu halus tersebut. Mereka dengan sedemikian rupa mengikat kaki dan tangan Erina dan Devi pada kursi tersebut, agar kaki mereka berdua tetap mengangkang, untuk mempermudah proses pemerkosaan. Bagi 2 remaja putri berusia 14 tahun itu, hari ini merupakan mimpi buruk bagi mereka. Mereka akan kehilangan keperawanannya kepada lelaki-laki yang tidak dikenal dan dengan cara yang menyakitkan. Mereka tidak pernah membayangkan akan diperkosa secara bergilir oleh sepuluh lelaki, di saat-saat mereka baru mengenal pacaran dan cinta monyet. Erina dan Devi menangis sesenggukan dan memohon-mohon untuk dilepaskan. Tetapi kesepuluh lelaki tersebut lebih tertarik untuk memperkosa, menyiksa dan melecehkan dua orang anak baru gede tersebut. Salah seorang dari pemerkosa tersebut menunjukkan sebuah album foto sambil tertawa-tawa kepada keduanya. Erina dan Devi bergidik ketakutan melihat foto-foto di dalam album tersebut. Mereka melihat kesepuluh lelaki itu tampak ramai-ramai memperkosa beberapa wanita, terutama pada foto yang menunjukkan vagina seseorang wanita keturunan Tionghoa yang berbadan mungil dimasuki dua batang penis sekaligus. Wanita itu tampak menangis menahan sakit. Belum lagi sebuah foto yang menunjukkan sorang wanita berkulit hitam manis tampak terikat dengan muka berlumuran sperma.

    Tiba-tiba Devi mendengar Erina mengerang-ngerang ketakutan. Rupanya salah seorang pemerkosa sedang menjilati vaginanya. Devi kaget ketika dua orang pemerkosa menggesekkan penis mereka ke badannya. Devi menangis berteriak-teriak minta dilepaskan. Ia berhenti berteriak setelah dia melihat nasib Erina. Seseorang sedang memperkosa Erina dengan ukuran penis yang lumayan besar, sedang menjebol vagina anak SMP yang sempit itu. Devi melihat penis tersebut berlumuran darah, darah keperawanan Erina. Sedangkan seorang lagi sedang meremas buah dada Erina yang kecil dari balik kursi. Erina mengerang dan berteriak-teriak tidak jelas. Sementara Devi merasakan ada benda tumpul yang berusaha menembus vaginanya. Seseorang mencoba memperkosa Devi. Devi berteriak memohon ampun, karena badannya tidak dapat digerakkan karena terikat dengan erat di kursi. Sambil menunggu giliran memperkosa Erina dan Devi, mereka ada yang menggerayangi tubuh Erina dan Devi yang belum dewasa itu. Beberapa dari mereka ada yang mengabadikan momen perkosaan itu dengan kamera digital dan handycam. Erina dan Devi masing-masing diperkosa oleh 5 orang berturut-turut. Beberapa orang yang belum mendapat giliran memperkosa Devi dan Erina di awal tampak mempersiapkan kasur tipis yang digelar diatas karpet. Erina dan Devi berteriak-teriak dan mengerang tidak jelas. Mereka tampak kepayahan walaupun masing-masing dari mereka baru digarap oleh satu orang. Sangat sulit tampaknya bagi mereka mengingat keperawanan mereka direnggut oleh orang-orang yang tidak mereka kenal, dengan cara diperkosa. Erina sudah lemas ketika orang pertama yang memperkosanya mengeluarkan sperma di lubang vaginanya. Sementara Devi masih menangis dengan keras dan berusaha berontak walaupun tampaknya usahanya sia-sia.

    Setengah jam sudah berlalu dan masing-masing 5 orang telah menyemprotkan sperma mereka kedalam vagina Erina dan Devi. Beberapa dari mereka ada yang meremasi buah dada Erina dan Devi yang kecil ketika memperkosa, bahkan ada yang dengan kejamnya mencekik leher dan menampar muka Erina dan Devi ketika mereka menikmati lubang vagina Erina dan Devi. Erina dan Devi tampak lemas, dengan nafas yang berat serta air mata yang terus mengalir. Orang-orang tersebut melepas ikatan Devi, sementara kursi tempat Erina diikat dipindahkan posisinya menghadap kasur tipis yang sudah disediakan di lantai. Devi yang lemas dipapah untuk tiduran dalam posisi tengkurap di atas kasur. Sekitar tiga orang yang tenaganya sudah kembali tampak meraba-raba badan mungil Devi. Seseorang dari mereka duduk di hadapan muka Devi, untuk meraih kepala Devi dan memaksa Devi mengoral penisnya. Kepala Devi yang terkulai lemas dengan rambut acak-acakan dipaksa untuk maju mundur mengoral penis tersebut. Sementara dua orang lagi mengoleskan lotion ke lubang pantat Devi. Seseorang mendekati Erina yang masih terikat di kursi dan menyuruh Erina untuk memperhatikan Devi diperkosa habis2an malam itu. Dia juga mengatakan giliran Erina akan tiba setelah mereka beristirahat, sehabis menggarap Devi. Salah seorang yang mengoleskan lotion ke lubang anus Devi tampak mencoba memasukkan penisnya ke dalam lubang anus Devi. Devi meracau tidak jelas ketika penis tersebut berhasil masuk, karena mulutnya sedang mengoral penis milik pemerkosa lainnya. Devi terbatuk ketika penis yang sedang dioralnya memuncratkan sperma di dalam mulutnya. Lelaki berikutnya menggantikan posisi penis yang tadi dioral Devi. Beberapa saat kemudian kedua penis yang sedang menikmati tubuh Devi muncrat bersamaan di mulut dan anus Devi. Dua lelaki berikutnya melakukan hal yang lebih ekstrim. Mereka menikmati lubang vagina dan lubang anus Devi secara bersamaan. Devi yang kepayahan hanya bisa meracau lemah dan meneteskan air mata. Erina yang dari tadi ketakutan melihat Devi diperkosa sedemikian rupa, ternyata sudah disibukkan dengan vibrator yang dipaksa masuk kedalam vaginanya. Erina menangis tertahan ketika vibrator tersebut digerakkan maju mundur di dalam vaginanya.

    Setelah adegan double penetration ke vagina dan anus Devi, sekarang vaginanya mengalami double vaginal alias dua orang dengan paksa memasukkan penis mereka secara bersamaan ke vagina Devi. Devi tak bisa bersuara lagi ketika orang ketiga memasukkan penis ke mulut Devi. Devi tampak lemas dan kepayahan, tetapi kesepuluh orang tersebut tidak berhenti menggilir mulut, vagina, dan anus Devi. Sekitar satu jam kemudian kesepuluh orang tersebut sudah kecapaian menggilir Devi. Erina tampaknya sedikit beruntung karena dia belum mengalami apa yang Devi alami, walaupun cepat atau lambat dirinya akan segera disiksa secara seksual oleh kesepuluh orang tersebut. Devi tampak mengenaskan. Muka dan mulutnya penuh sperma, dan sperma juga mengalir keluar dari lubang vagina dan anusnya. Badannya basah oleh keringat, juga memerah dibeberapa bagian akibat tamparan dan pukulan para pemerkosanya. Devi yang sudah kepayahan, digotong masuk ke sebuah kamar dan ditidurkan disana. Dari luar kamar tersebut dikunci. Kesepuluh orang itu memakai pakaian mereka kembali dan tampak bersantai dengan merokok dan makan makanan kecil. Dua jam kemudian, Erina yang tertidur terbangun karena ikatannya dibuka. Erina yang tampak sudah tidak bertenaga lagi pasrah menghadapi nasibnya. Dia akan diperkosa secara brutal oleh sepuluh orang. Erina hanya bisa menangis ketika seseorang mengoleskan lotion ke lubang anusnya. Bagi remaja putri berumur 14 tahun, melihat temannya diperkosa dengan brutal oleh orang-orang yang tidak dikenal, dan juga dirinya yang tengah mengalami perkosaan tersebut, merupakan pengalaman buruk yang tidak terbayangkan. Rupanya vagina Erina yang terlebih dahulu dipakai. Dengan posisi woman on top, tubuh mungil Erina terguncang-guncang di atas tubuh pemerkosanya. Pria kedua mengambil posisi untuk memasukkan penisnya kedalam anus Erina. Pemerkosa yang lainnya ada yang meminta Erina memintanya mengoral penisnya ataupun memasturbasikan mereka. Jadilah selain di double penetration pada anus dan vaginanya, Erina yang sudah kehabisan tenaga dengan terpaksa sibuk melayani penis-penis yang memintanya oral seks maupun dimasturbasikan.

    Baca Juga Cerita Seks Ngentot Sange Di Toilet Sekolah

    Kesepuluh orang itu tak henti-hentinya bertukar posisi. Dengan semena-mena mereka mengeluarkan sperma mereka di lubang anus, vagina, mulut ataupun menyemprotkannya ke badan Erina. Walaupun mereka tidak memaksa memasukkan dua penis sekaligus ke vagina Erina seperti apa yang mereka lakukan terhadap Devi, tetapi bagi Erina, dimana ketiga lubangnya dimasuki oleh penis secara bersamaan adalah siksaan yang tak akan dilupakannya seumur hidup. Akhirnya kesepuluh orang tersebut mengakhiri perkosaan mereka terhadap Erina. Erina tampak lemas dan badannya basah oleh sperma dan keringat. Tanpa banyak bicara lagi kesepuluh orang itu membopong Erina ke arah mobil. Di sana mereka diangkut kembali untuk diturunkan di suatu tempat. Dua tubuh gadis smp yang telanjang itu tetap dikerjai di dalam mobil. Beberapa orang yang membawa mereka masih memaksa mereka untuk melakukan oral seks maupun kembali menikmati lubang vagina kedua gadis remaja itu. Hingga akhirnya Devi dan Erina diturunkan di jalan di mana mereka diculik tadi, dengan keadaan telanjang bulat dan badan penuh dengan keringat dan sperma, dan barang-barang mereka seperti seragam dan tas sekolah dilemparkan begitu saja ke arah mereka. Setelah Erina dan Devi, korban-korban lainnya pun akan muncul. Tidak perlu motif atau kebetulan yang aneh untuk melancarkan aksi perkosaan. Hanya butuh nafsu dan perempuan manapun yang bisa diculik dan diperkosa.

    ***********************

    Wine

    Wine

    Wine terbangun dari pingsannya. Sesaat dia tidak sadar dia berada dimana. Tiba-tiba dia kaget, ketika mengetahui tangan dan kakinya terikat, dan tubuhnya pun telanjang bulat. Tapi lucunya Wine masih menggenakan kacamatanya. Wine menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, dimana dirinya terikat diatas sofa yang ada di tengah sebuah ruangan. Wine adalah seorang program director sebuah radio remaja di kota bandung. Wine memiliki tubuh yang mungil, kulit hitam manis, berkacamata dan rambut sebahunya dikuncir kuda. Wine tidak ingat apapun yang terjadi. Dia hanya mengingat ketika dia akan memasuki mobilnya yang diparkir di seberang jalan sebuah warung makanan pinggir jalan yang sepi. Setelah itu ingatannya hitam total, entah dia pingsan ataupun dibius. Bagi gadis berumur 24 tahun itu, keadaan dirinya sekarang sungguh tidak nyaman. Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. 15 menit kemudian, masuklah sepuluh orang lelaki telanjang yang kesemuanya tampak penuh nafsu. Tanpa aba2 mereka langsung menggerayangi tubuh Wine. Wine berteriak dan berusaha memberontak ketika orang2 itu meremas2 buah dadanya, menggosok2an jari mereka ke vaginanya dan menciumi badannya. Wine merasa aneh, disatu sisi dia merasa tidak nyaman tapi di satu sisi lain dia merasa nikmat. Mungkin itu karena Wine relatif sering berhubungan seks dengan pacarnya. Tetapi berhubungan seks dengan banyak orang, apalagi dalam kondisi perkosaan, Wine belum pernah mengalaminya.

    Para pemerkosa itu makin bernafsu dan ada yang menyodorkan penisnya ke mulut Wine. Dengan paksa ia tampar muka Wine dan memasukkan penisnya kedalam mulut Wine. Kepala Wine digerakkan maju mundur mengocok penis itu. Di satu sisi Wine merasa kegelian karena seseorang mulai menjilati vaginanya. Beberapa orang yang lain melepas ikatan kaki Wine dan memegangi kaki Wine agar pahanya terus terbuka. Wine belum pernah merasakan serangan seperti ini, dimana seseorang menjilati vaginanya, banyak orang meraba-raba bagian vital tubuhnya dan mengoral seks di waktu yang bersamaan. Ditambah lagi tangannya terikat, dimana dia berada dalam posisi tidur telentang yang tidak nyaman. Laki-laki yang memaksanya mengoral tidak berhenti memaju mundurkan kepala Wine. Dia tidak peduli ketika wine terbatuk-batuk tersedak penisnya. Sementara seseorang dari mereka mengambil vibrator, dan menyuruh temannya yang sedang menjilati vagina Wine untuk minggir. Orang itu memasukkan vibrator ke dalam vagina Wine dan memajumundurkan vibrator tersebut. Karena Wine sudah tidak perawan lagi, maka pekerjaan itu tidak sulit dilakukan. Wine berusaha menahan diri dan meronta, menjaga agar dirinya tidak menikmati getaran dari vibrator tersebut. Namun karena dirinya terikat dan juga banyak lelaki yang mengerubunginya, maka Wine mau tak mau merasa terangsang dan tak lama kemudian Wine merasakan orgasme akibat perlakuan para pemerkosanya. Menyadari korbannya telah orgasme, para pemerkosa itu semakin bernafsu. Orang yang tadi memainkan vibrator di vagina Wine dengan paksa memasukkan penisnya kedalam vagina Wine dan memompanya maju mundur. Namun baru beberapa saat vaginanya dinikmati, penis yang sedang Wine oral sudah memuncratkan sperma ke dalam mulut Wine. Wine tersedak oleh sperma yang ada di mulutnya yang menyebabkannya terbatuk. sementara itu pria yang sedang menikmati vagina Wine semakin bersemangat memompakan penisnya ke dalam vagina Wine, sedangkan beberapa pria lainnya menggerayangi badan Wine. Ada juga yang mengabadikan momen ini dengan kamera digital dan handycam.

    Pria yang menikmati vagina Wine semakin bernafsu ketika Wine berteriak dan meracau tak jelas. Tak lama kemudian dia mengeluarkan spermanya di dalam lubang vagina Wine. Wine meronta, takut dirinya akan hamil akibat perbuatan itu, tetapi sudah terlambat, sperma sudah dikeluarkan di dalam vaginanya. Lelaki kedua sudah antri untuk menikmati Wine. Dia memasukkan penisnya dengan paksa ke vagina Wine yang sudah basah oleh sperma. Dia menyuruh teman-temannya mengangkat tubuh Wine agar posisinya menjadi woman on top. Belum sempat orang tersebut memompakan penisnya, seseorang lagi dengan paksa mencoba memasukkan penisnya ke lubang anus Wine. Selama berhubungan seks dengan pacarnya, Wine tidak pernah melakukan anal seks. Merasa ada benda tumpul yang dengan paksa berusaha masuk ke lubang anusnya, Wine meronta dan berusaha memberontak. Tetapi karena tangannya terikat dan dia pun dipegangi oleh banyak lelaki, maka hasilnya sia-sia. Ketika penis itu masuk pelan-pelan ke lubang anusnya, Wine berteriak dengan kencang. Ia pun mulai menangis. Bagi orang yang pertama kali melakukan anal seks, pastinya rasanya amatlah sakit. Kedua orang itu pun memaksa memaju mundurkan penis mereka. Wine menangis dan meracau sejadi-jadinya. Apalagi ketika orang yang menikmati anusnya dengan kasar meremasi buah dadanya. Penglihatan Wine menjadi tidak jelas karena kacamatanya menjadi buram akibat keringat. Beruntung ada orang yang melepas dan melempar kacamatanya entah kemana. Rupanya orang yang melepas kacamatanya tadi menampar wajah Wine dan dengan paksa memasukkan penis di mulut Wine. 3 lubang Wine dirusak bersamaan. Orang yang menikmati lubang anus sudah mengeluarkan spermanya. Tetapi siksaan belum selesai, orang selanjutnya menggantikan posisinya. Karena lubang anus Wine menjadi licin akibat sperma, maka tidak sulit bagi orang selanjutnya untuk memasukkan penisnya ke lubang anus Wine.

    Tiba-tiba orang yang menikmati mulut dan vagina Wine memuncratkan spermanya secara bersamaan. Ketiga orang itu menarik penis mereka dari lubang kenikmatan tersebut. Tetapi orang yang menikmati lubang anus Wine menarik badan Wine agar tiduran diatas tubuhnya. Orang itu memasukkan penisnya di vagina Wine. Wine panik dan berusaha meronta kembali ketika ada orang yang mau memasukkan penisnya juga ke dalam vagina Wine. Wine membayangkan sakitnya jika vaginanya dimasuki oleh dua batang penis secara bersamaan. Tetapi badan Wine dipegangi dan lehernya dicekik sehingga rontaanya sia-sia belaka. Wine berteriak sangat keras ketika penis kedua memasuki vaginanya. Dia merasakan sakit yang luar biasa. Dia berteriak minta ampun dan menangis sejadi-jadinya ketika kedua penis itu digerakkan maju mundur di lubang vaginanya. Namun para pemerkosa itu malah tertawa-tawa dan mengucapkan kata2 kasar yang melecehkan Wine. Salah seorang dari mereka berlutut di atas wajah Wine dan dengan kasar memasukkan penisnya ke mulut Wine. Tanpa menggerakan penisnya dia memasturbasikan penisnya sendiri. Tak lama kemudian spermanya muncrat di dalam mulut Wine. Perasaan Wine campur aduk. Mulutnya penuh dengan rasa tidak enak akibat campuran sperma beberapa orang. Sementara ketika lubang anusnya terasa sakit, vaginanya terasa lebih perih karena sedang dimasuki dua penis sekaligus. Tenaga Wine sudah melemah. Buktinya dia yang dari tadi berteriak dan meracau dengan semangatnya sekarang hanya bisa melenguh pelan mengikuti irama gerakan kedua penis tersebut. Dan dia pun hanya memekik pelan ketika kedua penis itu mengeluarkan spermanya.

    Kedua lelaki itu mencabut penisnya yang sudah lemas. Wine agak merasa lega. Dia berharap perkosaan terhadap dirinya berakhir. Tetapi dia salah. Tiga orang yang baru saja menikmati tubuhnya tiba-tiba mengangkat badannya. Seseorang memeluknya dari belakang dan membopongnya. Dua orang lagi memegangi kakinya dan merantangkannya lebar-lebar. beberapa orang yang belum mendapat giliran pun mengantri.

    Orang pertama yang mengantri segera memasukkan penisnya kedalam vagina Wine. Wine yang sudah lemas hanya bisa memekik tertahan. Matanya sudah basah oleh air mata. Sperma menetes dari lubang anus, dan mulutnya. Orang tersebut memaju mundurkan penisnya dengan semangat. Wine dengan sisa-sisa tenaganya memohon agar mereka menyudahi perbuatan mereka. Laki-laki yang sedang menikmati lubang vaginanya merespon dengan menampar wajah Wine keras-keras. ia malah semakin brutal dengan menambah kecepatan gerakan penisnya. Ditambah lagi kini ia melakukannya sambil mencekik leher Wine dengan tangan kiri dan tangan kanannya menampari wajah Wine. Keadaan makin diperparah ketika ada seseorang yang mengambil lilin, menyalakannya dan meneteskan lelehannya di perut dan dada Wine. Entah darimana tenaga Wine untuk berteriak kembali. Wine kembali berteriak tak karuan. Tak jarang dia berteriak meminta mereka untuk berhenti. Orang pertama memuncratkan spermanya di vagina Wine. Orang berikutnya menggantikan posisinya. Dengan penuh nafsu, dia menggerakan penisnya dengan cepat. Wine berteriak makin keras. Wine meracau dengan tidak jelas dan sangat rebut. Tiba-tiba orang yang sedang memperkosanya meninju wajah Wine dengan keras. Wine memekik. Hidungnya mimisan akibat pukulan tersebut. Seperti tidak berperasaan, orang tersebut langsung melanjutkan gerakan penisnya. Seseorang mengambil celana dalam Wine, dan menyumpalkannya ke mulut Wine. Sekarang Wine hanya bisa menangis sesenggukan dengan mulut tersumpal. Selesai orang kedua mengeluarkan spermanya, orang ketiga meminta teman-temannya untuk menurunkan Wine dan memposisikan agar tubuh Wine menungging. Setelah Wine menungging, dia memasukkan penisnya ke lubang anus Wine. Dengan mata basah dan mulut tersumpal celana dalam, Wine sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dengan posisi seperti itu, lubang anus dan lubang vaginanya digilir. Cerita Maya

    Lama-lama Wine merasa pandangannya kabur. Karena tenaganya habis dan tidak tahan disiksa, Wine akhirnya jatuh pingsan. Wine kaget. Dia terbangun karena ada air mengenai wajahnya. Rupanya Wine berada di kamar mandi. Dia sedang dimandikan oleh 3 orang lelaki, tentu saja mereka adalah pemerkosa Wine. Ikatan tangan Wine sudah dilepas. Dia melihat di pergelangan tangannya memerah bekas ikatan, dan badannya dipenuhi memar akibat pukulan dan tindak kekerasan para pemerkosanya. Dia diberi sabun oleh salah seorang pemerkosanya, dan pelan-pelan Wine menyabuni tubuhnya. Tapi ketiga lelaki itu rupanya bernafsu lagi. Mereka tiba-tiba menyergap Wine. Wine sudah pasrah. Dia segera mengambil posisi duduk diatas orang yang tiduran, sementara pantatnya dimasuki penis dan pria satu lagi memintanya mengoral penisnya. Di bawah guyuran shower, ketiga pemerkosa itu kembali menikmati tubuh Wine. Selesai dimandikan Wine disuruh memakai kaos putih yang oversize, dan dinaikkan ke mobil. 4 orang menemaninya dalam mobil, dan di mobil itu, 3 orang kecuali yang menyupir kembali mengerjai Wine. Mereka menyuruh Wine mengoral dan memasturbasikan penis mereka. Pemerkosa yang menyupir memberhentikan mobil mereka tepat dibelakang mobil Wine, tempat dimana dia diculik dan dibius tadi. Wine pun disuruh turun dari mobil tersebut dengan mulut penuh sperma. Dan mereka meninggalkan Wine begitu saja.

    By: Racebannon

  • Ngentot Sange Di Toilet Sekolah

    Ngentot Sange Di Toilet Sekolah


    665 views

    Cerita Maya | Pada waktu itu aku masih duduk di SMP kelas II, pernah terjadi kejadian yang sangat mengasyikan dan lebih baik ini jangan ditiru. Pada waktu di SMP, aku termasuk anak yang cukup nakal dan sekolahku itu pun merupakan sekolah yang banyak menampung para anakanak nakal, sehingga tanpa kusadari aku pun bisa dibilang lumayan lebih banyak nakalnya dari pada baiknya.

    Ngentot Sange Di Toilet Sekolah

    Saat itu ada seorang teman sekelasku yang bernama Ika. Ika memang cewek yang paling dekat dengan cowok dan terkenal paling bandel juga nakal. Tidak jarang temanteman pun menyimpulkan bahwa dia cewek binal, karena dia berpenampilan agak seronok dibandingkan teman-temannya, yaitu dengan baju sekolah yang tidak dimasukkan ke dalam, melainkan hanya diikat antar ujung kain dan menggunakan rok yang sangat minim dan pendek, yaitu satu telapak tangan dari lutut. Ika seorang gadis yang cukup manis dengan ciri-ciri tinggi yang pada waktu itu sekitar 160 cm, berat badan 45 kg dengan kulit putih serta bentuk wajah yang oval. Ika memiliki rambut sebahu, hitam tebal, pokoknya oke punya tuh doi. Agen Bola Cerita Maya

    Setelah bel kelas berbunyi yang tandanya masuk belajar, semua muridmurid masuk ke kelas. Tetapi anehnya, empat anak yang terdiri dari 3 cowok dan 1 cewek itu masih mengobrol di luar kelas yang tempatnya tidak jauh dari WC, dan sepertinya terjadi kesepatan diantara mereka. Setelah pelajaran kedua selesai, temanteman cowok yang bertiga itu meminta ijin keluar untuk ke WC kepada guruku yang mengajar di pelajaran ketiga, sehingga membuatku curiga.

    Di dalam hatiku aku bertanya, “Apa yang akan mereka perbuat..?”

    Tidak lama setelah temanteman cowok meminta ijin ke WC tadi, malah Ika pun meminta ijin kepada guru yang kebetulan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang lumayan boring. Rasa penasaranku makin bertambah dan temantemanku juga ada yang bertanyatanya mengenai apa yang akan mereka perbuat di WC. Karena aku tidak dapat menahan rasa penasaranku, akhirnya aku pun meminta ijin untuk ke WC dengan alasan yang pasti. Sebelum sampai di WC kulihat temanteman cowok kelasku yang bertiga itu kelihatannya sedang menunggu seseorang. Tidak lama kemudian terlihat Ika menuju tempat temanteman cowok tersebut dan mereka bersama-sama masuk ke kamar WC secara bersamaan.

    Rasa penasaranku mulai bertambah, sehingga aku mendekati kamar WC yang mereka masuki. Terdengar suara keributan seperti perebutan makanan di ruangan tersebut. Akhirnya aku masuk ke kamar WC, secara perlahanlahan kubuka pintu kamar WC yang bersampingan dengan kamar WC yang mereka masuki, sehingga percakapan dan perbuatan mereka dapat terdengar dengan jelas olehku.

    “Hai Tun, Sep, siapa yang akan duluan..?” tanya Iwan kepada mereka.

    Dijawab dengan serentak dari mulut Ika seorang cewek, dia menjawab dengan nada menantang, “Ayo.., siapa saja yang akan duluan. Aku sanggup kok kalaupun kalian langsung bertiga..!”

    Aku bertanya-tanya, apa sih yang mereka perundingkan, sampaisampai saling menunjuk dan menantang seperti itu. Tapi aku tetap terdiam membisu sambil memperhatikan kembali, apa yang akan terjadi.

    Setelah itu, tidak lama kemudian Asep menjawab dengan nada ringan, “Yah udah, kalau begitu Kita bertiga barengbareng ajah. Biar rame..!” katanya.

    Langsung disambut ucapan Asep tersebut oleh Ika, “Ayo cepetan..! Nanti keburu pulang sekolah.”

    Dan akhirnya Utun pun berucap, “Ayo Kita mulai..!”

    Setelah itu tidak terdengar suara percakapan mereka lagi, tetapi terdengar suara reslueting yang sepertinya dibuka dan juga suara orang membuka baju.

    Tidak lama kemudian terdengar suara riang mereka bertiga dengan ucapan menanyakan pada Ika, “Hey Ka.., Siapa sih yang paling besar alat kelamin Kami bertiga ini..?”

    Ika pun menjawab dengan nada malumalu, “Kayanya sih Utun yang paling gede, hitam lagi.” dengan sedikit nada menyindir dan langsung dijawab oleh Utun, “Hey Ka..! Cepetan buka tuh baju Kamu, biar cepet asik si Joni, Kita nih enggak kuat lagi..!

    Setelah terdengar Ika membuka bajunya, tidak lama kemudian terdengar suara temanteman cowok bertiga, Utun, Asep, Iwan dengan nada ganas, “Wauw.., benarbenar body Kamu Ka, kaya putri turun dari langit..!”

    Tidak lama kemudian Asep bertanya pada Ika, “Ka.., kalau Aku boleh tidak meraba buah dadamu ini yang bagaikan mangkuk mie ini Ka..?”

    Ika pun menjawab dengan nada enteng, “Yah sok aja, yang penting jangan dirusak ajah..!”

    Utun pun sepertinya tidak mau kalah dengan Asep, dia pun bertanya, “Ka.., Aku bolehkan memasukkan alat kelaminku ke lubang gua rawamu ini kan Ka..?” sambil meraba-raba alat kelamin Ika.

    Ika pun menjawab dengan nada mendesak, karena alat kelaminnya sepertinya sedang diraba-raba oleh Utun, “Aahh.. uhh.. boleh Tun.. asal jangan sangar yah tun..!”

    Dan terakhir terdengar suara Iwan yang tak mau kalah juga, “Ka.., Aku boleh kan menciumimu mulai dari bibir hingga lehermu Ka.., boleh kan..?”

    Ika menjawab dengan nada seperti kesakitan, “Awww.. Uuuhh.. iyaiya, boleh deh semuanya..!”

    Suarasuara tersebut terdengar olehku di samping kamar WC yang mereka isi, yang kebanyakan suarasuara tersebut membuat saya risih mendengarnya, seperti, “Aaahh.. eehh.. aawww.. eheh.. owwoowww.. sedap..!”

    Dan tidak lama kemudian terdengar suara Ika, “Kalian jangan terlalu nafsu dong..!” kata Ika kepada temanteman cowok tersebut, “Karena Aku kan sendirian.., sedangkan Kalian bertiga enggak sebanding dong..!”

    Tetapi mereka bertiga tidak menjawab ucapan Ika tersebut, dan akhirnya terdengar suara jeritan kesakitan yang lumayan keras dari Ika, “Aaawww.., sakit..!”

    Ika kemudian melanjutkan dengan ucapan, “Aduh Tun.., Kamu udah mendapatkan keperawanan Saya..!”

    Dijawab dengan cepat oleh Utun, “Gimana Ka..? Hebatkan Saya.”

    Setelah itu Utun pun mendesah seperti kesakitan, “Adu.. aduh.., kayanya alat kelaminku lecet deh dan akan mengeluarkan cairan penyubur.” kata-katanya ditujukan kepada temantemannya.

    Tidak lama kemudian Iwan bertanya kepada Ika, “Ka aku bosan cuma menyiumi Kamu aja Ka.., Aku kan kepingin juga kaya Utun..!”

    Iwan pun langsung bertukar posisi, yang anehnya posisi Iwan tidak sama seperti yang dilakukan Utun, yaitu memasukkan alat kelaminnya ke lubang pembuangan (anus) dari belakang, sehingga Ika tidak lama kemudian menjerit kedua kalinya

    Aaawww.. Iiihh.. perih tahu Wan..! Kamu sih salah jalur..!” rintih Ika menahan sakit.

    Tetapi sepertinya Iwan tidak menghiraukan ucapan Ika, dan terus saja Iwan berusaha ingin seperti Utun, sampai alat kelaminnya mencapai klimaks dan mengeluarkan cairan penyejuk hati. Hanya berlangsung sebentar, Iwan pun menjerit kesakitan dan alat kelaminnya pun dikeluarkan dari lubang pembuangan dengan mengatakan, “Aaahh.., uuhh.., uuhh.., enaak Ka, makasih. Kamu hebat..!”

    Baca Juga Cerita Seks Menikmati Tubuh Ibu Murid Lesku

    Asep yang setia hanya meraba-raba payudara Ika dan sekali-kali menggigit payudara Ika. Tetapi ternyata akhirnya Asep bosan dan ingin seperti kedua temannya yang mengeluarkan cairan penyubur tersebut sambil berkata, “Ka.., Aku juga mau kaya mereka dong, ayo Ka..! Kita mainkan..”

    Ika menjawab dengan nada lemas, “Aduh Sep..! Kayanya Aku udah capek Sep, sorry yah Sep..!”

    Akhirnya Asep kesal pada Ika dan langsung saja Asep menarik tangan Ika kepada alat kelaminnya dengan menyodorkan alat kelaminnya.

    “Ka.., pokoknya Aku enggak mo tahu.., Aku pinggin kaya mereka berdua..!”

    Ika menjawab dengan nada lemas, “Aduh Sep.., gimana yah, Aku benar benar lemas Sep..!”

    Aku tetap terdiam di kamar WC tersebut.

    Ada sekitar 45 menit berlanjut, dan aku pun berpikir apakah mungkin mereka berbuat oral seks karena masih duduk di SMP. Hal ini mendorong rasa penasaran tersebut untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya aku dapat melihat mereka dari atas, karena kamar WC di sekolahku pada waktu itu tembok pembaginya tidak tertutup sampai dengan atas langit, sehingga aku dapat melihat mereka berempat. Karena kesal akibat Asep tidak dipenuhi permintaannya, akhirnya Asep menarik kepala Ika ke depan alat kelaminnya yang sudah menegang tersebut.

    Asep berkata dengan nada mengancam kepada Ika, “Ayo Ka..! Kalo gitu kelomohi alat kelaminku hingga Aku merasakan enaknya seperti mereka..!”

    Setelah berusaha memanjat untuk melihat adgean secara langsung, aku dapat melihat dengan jelas. Ika seorang cewek langsung saja mengerjakan apa yang disuruh oleh Asep, sedangkan temannya yang berdua lagi, Utun dan Iwan duduk di lantai, tergeletak menahan rasa enak bercampur sakit yang mereka rasakan tersebut.

    Tidak berlangsung lama, Asep berkata kepada Ika, “Ka.., Ka.., Ka.., ahh.. aah.. awas Ka..! Aku akan mengirimkan cairan penyuburku yang hebat ini..!”

    Kulihat Ika langsung menyopotkan alat kelamin Asep dari mulutnya, dan terlihat raut wajah Ika yang sayu dan sendu bercampur gembira karena dapat uang dan sedih karena keperawanannya sudah hilang oleh mereka bertiga. Dasar Asep sedang kesal, Asep menyemprotkan cairan penyuburnya kepada Ika dan kedua temannya dengan mendesis kesakitan terlebih dahulu.

    “Aaahh.., uuhh.., Awas cairan penyuburku ini diterima yah..!” kata Asep sambil tangannya tetap mengocokkan penisnya.

    Kulihat Asep menyempotkan cairan penyubur itu dari alat kelaminnya secara kasar.

    Setelah ada 15 menit sehabis Asep mengeluarkan cairan penyuburnya, kulihat mereka langsung berpakaian kembali setelah mereka menyopotkan bajubaju mereka sampai tidak tersisa sehelai kain pun. Sebelum mereka keluar, aku langsung cepat keluar dari kamar mandi tersebut secara perlahanlahan agar tidak terdengar oleh mereka. Kemudian aku menuju ke kelas yang telah memulai pelajarannya dari tadi. Hanya berselang beberapa menit, mereka masuk ke kelas seorangseorang agar tidak ketahuan oleh guru kami.

    Hari itu tidak terasa lama sampai bel keluar sekolah berbunyi. Kulihat mereka bertiga teman cowokku, Asep, Iwan, Utun sedikit lelah, seperti kehabisan nafas dan anehnya mereka berjalan seperti kehabisan tenaga.

    Karena aku suka iseng ke temen, aku langsung bertanya kepada mereka bertiga, “Hey Kalian kayanya pada lemes banget. Habis ngebuat su.., sumur yah..?”

    Langsung dijawab dengan enteng oleh perwakilan mereka bertiga, yaitu Asep, “Iya Bie, enak tahu kalo ngegali sumur tersebut dengan ramerame..!”

    “Ohh gitu yah..?” jawabku dengan tersenyum karena tahu apa yang mereka perbuat tadi.

    Tidak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Ika berjalan sendirian dengan memegang tas kantongnya yang sehari-hari tasnya selalu di atas pundaknya. Sekarang hanya dibawa dengan cara dijingjing olehnya.

    Langsung saja aku memanggilnya, “Ka.., Ika.. Ka.. tunggu..!”

    Ika menjawab dengan nada lemas, “Ada apa Bie..?”

    Karena aku juga ingin iseng padanya, kulangsung bertanya, “Ka.., kayanya Kamu kecapean. Habis tertembak peluru nyasar yang menghajarmu, ya Ka..?”

    Ika pun menjawab dengan nada kesal, mungkin bahkan tersindir, “Yah.. Bie.., bukan peluru nyasar, tapi burung gagak yang nyasar menyerang sarang tawon dan goa Hiro, tahu..!”

    Mendengar nadanya yang tersinggung, aku langsung meminta maaf kepada Ika.

    “Ka.., maaf. Kok gitu aja dianggap serius, maaf yah Ka..?” kataku menenangkannya sambil tersenyum bersahabat.

    Karena aku penasaran, aku langsung menyerempetmenyerempet agar terpepet.

    “Ka.., boleh enggak Ka, Aku coba masuk ke goa Hiro tersebut..? Kayanya sih asik.. bisa terbang kaya burung..!” pintaku sambil tertawa pelan. Cerita Maya

    Karena Ika sudah kesal dan lelah, Ika menjawab, “Apa sih Kamu Bie..? Kamu mau goa Saya, nanti dong antri.., masih banyak burung yang mau masuk ke goaku, tahu..!”

    Dan akhirnya aku tertawa dengan rasa senang.

  • Menikmati Tubuh Ibu Murid Lesku

    Menikmati Tubuh Ibu Murid Lesku


    1104 views

    Cerita Maya | Aku mempunyai tetangga di diarea kosku bernama Bu Putri, dia menyandang status single parent dan mempunyai anak satu. Cerita Sex aku ini bermula ketika Bu Putri memintaku untuk memberikan les private anaknya yg bernama Esty. Esty sekarang kelas Tiga SMP, sebab ucap Bu Putri Esty lemah dalam pelajaran Bahasa Inggris, dan ditambah lagi sebentar lagi memasuki Ujian Nasional, sebab itu Bu Putri meminta tolong memberi pelajaran tambahan pada anak perempuannya. Bu Putri sangat khawatir bila anaknya tak lulus dalam ujian nasional. Permintaan Bu Putri-pun aku respon dan itung-itung buat uang tambahan, hehe… maklum namanya juga mahasiswa

    Menikmati Tubuh Ibu Murid Lesku

    Kebetulan sekali mata pelajaran ini sesuai dgn jurusan yg kuambil, So tak ada kendala bagi aku. Singkat cerita jadwal private yg telah kami sepakati, yaitu jam 07.00-09.00 malam, les private ini dilakukan 3 kali seminggu dirumah Bu Putri. Ini sangat menguntungkan sekali So dgn jalan kaki saja sudah sampai, irit bensin bro, Cuma modal kaki aja, lumayan rejeki anak sholeh, hehe. Oh iya Les Private ini sekali pertemuan 60 ribu, dgn hasil segitu aku bisa mengkalkulasi penghasilan tambahanku perbulan. Cerita Maya

    Pada hari itu mulailah aku memberi les private pada Esty, awalnya semua berjalan lancar, seperti layaknya les private pada umumnya. Pada suatu malam sesuai dgn jadwal, aku datang ke rumah Bu Putri dengan maksud memberi les private pada Esty. Sesampainya disana ternyata yg ada hanya Bu Putri saja waktu itu, ucap Bu Putri, Esty lagi main dgn temannya sebab ada keperluan. Bu Putri berucap, mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Sambil menunggu Esty, Bu Putri-pun menyuguhkan secangkir kopi hangat dan sedikit cemilan padaku. Sambil menunggu Esty kami-pun berbincang,

    “ Kopinya kok didiamkan sih Mas Didit, ayo silahkan diminum kopinya !!! ” ucap Bu Putri.

    “ Oh Iya, hhe… aku minum ya Bu Kopinya ” jawabku sambil mengambil cangkir berisi kopi hangat yg ada di depanku.

    “ Iya Mas silahkan !!! Sekarang udah semester berapa Mas Didit ? ” Bu Putri memulai percakapan.

    “ Aku sudah semester akhir ini Bu, Tapi, skripsi aku belom selesai, hehe… ” jawab aku malu-malu sambil meletakkan cangkir kopi ke atas meja lagi.

    “ Ouh gitu ya Mas… sebentar lagi selesai dong, hehe… Nanti kalo sudah lulus, Esty gak ada yg ngajar les private lagi dong Mas Didit ” ucap Bu Putri.

    “ Tenang aja sih Bu, skripsi aku juga masih lama, bisa jadi nanti duluan Esty lulusnya daripada aku… ” jawabku.

    “ Mas Didit ini bisa aja, betah banget sih kuliahnya… hehe… Kuliah lama-lama emang gak kepingin Nikah apa ? ” Tanya Bu Putri mengejutkanku.

    “ Ah Ibu ini ada-ada aja, semua laki-laki pasti kepingin nikahlah Bu… lagian kuliah aja belom selesai, masa iya mau mikir Nikah sih Bu ? ” Jawabku.

    “ Kamu itu gimana sih Mas, nanti nyesel loh kalo nunda-nunda Nikah… ” ucap Bu Putri menggodaku.

    “ Maksudnya nyesel gimana Bu ? ” tanyaku penasaran.

    “ Kamu tahu nggk sih Mas, Kawin itu enak lho…!! ” ucap Bu Putri.

    “ Kalo mikir kawinya aja sih memang enak Bu, tapi tanggung jawabnya-kan besar Bu, belom lagi nanti menafkahinya… hehe… ” Jawabku.

    Mendadak Bu Putri bangkit dari tempat duduknya, dgn sekejap lalu dia duduk di sampingku. Aku-pun kaget dgn apa yg dilakukan oleh Bu Putri, dan mendadak dia berbisik di kupingku,

    “ kalo kamu mau, kamu gak perlu mikir masalah tanggung jawab, apalagi menafkahinya Mas Didit! ” bisik Bu Putri di kupingku.

    Seketika itu juga, mendadak tangannya menyentuh kemaluanku yg tidur di balik celana jeans yg ku kenakan,

    “ Bu! kalo Esty dateng gimana? ” tanyaku dgn gugup dgn aksi Bu Putri terhadapku.

    Mendengar pertanyaanku itu, Bu Putri mendorong badanku hingga terbaring di Kursi, dan menindih badanku lalu kembali berbisik.

    “ Tenang saja! Semua sudah Ibu rencanakan. Esty tak akan pulang ke rumah malam ini, sebab dia sedang ada kegiatan Camping di sekolahnya. Tadi sore, Esty pesan sama Bu, minta tolong menyampaikan ke kamu bahwa private malam ini ditiadakan dulu… ”

    Penjelasan Bu itu cukup mengagetkanku. Dalam perasaan gugup bercampur birahi yg menggoda, mendadak Bu Putri yg duduk di atas badanku yg terbaring di kursi ruang tamu itu, Bu melepaskan pakaiannya sehingga payudara putih besar yg tertampung dalam Bra putih menjadi pemandangan langka di hadapanku. Seterusnya Bu Putri melepaskan rok panjang yg ia kenakan, sehingga sesosok badan wanita yg hanya tertutup oleh BH dan CD menjadi pemandangan nyata di depan mata.

    Sejujurnya, aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini, tapi rasa gugup dan kaget masih menyelimuti hatiku. Di waktu itulah, mendadak Bu Putri berusaha membuka kancing celanaku dan menurunkan reslitingku. Dia tersenyum padaku, lalu berucap,

    “ Burungmu pasti sulit bernafas kalo tak dikeluarkan…. ” ucapnya.

    Mendengar ucap-ucap itu, aku pun berusaha melempar senyumku dan seketika itu juga ku turunkan celana jeansku dan ku biarkan Bu Putri yg mengeluarkan kemaluan dari celana dalamku.

    Batang kemaluanku yg sudah tegang, langsung menyembul keluar sesudah Bu Putri menurunkan CDku. Beberapa waktu Bu memandangi dan meremas batang kemaluanku, lalu ia menunduk dan memasukkan kemaluanku ke dalam mulutnya. sebuah kenikmatan yg tak tertahan waktu lidah Bu Putri membelai kepala kemaluanku. Sepertinya, aku tak sanggup menahan puncak birahi yg sudah berada di ubun-ubun. Akibatnya, air maniku pun keluar dgn kencang mengisi mulut Bu yg sedang memainkan lidahnya di kepala kemaluanku.

    Melihat cepatnya aku mencapai puncak, Bu Putri bukannya kecewa. Ia malah tersenyum dgn lelehan air mani di bibirnya. Bu Putri mengeluarkan sisa air mani yg masih berada di mulutnya dan meludahkannya ke batang kemaluanku. Kemudian ia kembali mengulum kemaluanku yg mulai melemah selama beberapa waktu. Dgn bibir yg masih berlumuran air mani, Bu Putri kembali menjatuhkan badannya di atas badanku, lalu mencium bibirku. ku coba untuk membalas reaksinya dgn menyambut lidahnya yg masuk ke mulutku.

    Seketika aku-pun merasakan sebuah sensasi yg luar biasa ketika Bu Putri seakan mengajak berbagi air mani di mulutku. Aku tak perduli dgn bau air mani yg kecut harus masuk ke tenggorokanku, yg ku pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar kemaluanku bisa kembali bangkit dari kematiannya. aku mencoba meremas-remas payudara besar yg masih terbungkus BH, sebuah hal yg luar biasa yg tak pernah ku mimpikan sebelomnya. Ternyata menjadi guru private anak tetangga merupakan awal hilangnya keperjakaanku. Bu Putri telah merencanakan ini secara sempurna tanpa ku ketahui sebelumnya.

    Mungkin sebagai seorang janda, ia juga merindukan nikmatnya waktu melakukan hubungan dgn suaminya yg telah meninggal dunia sekitar setahun yg lalu.Sesudah puas berciuman mesra di kursi, Bu Putri bangkit dari badanku. Ia kemudian menarik celana Jeans dan CDku sampai terlepas dan memintaku untuk melepaskan pakaian juga. ku turuti saja keinginannya, hingga aku menjadi sesosok laki-laki bugil dgn kemaluan yg mati tergantung. Bu Putri memegang tanganku dan menarikku menuju sebuah kamar yg bisa dipastikan adalah kamar tidurnya. Sesudah berada di dalam kamar, Bu Putri melepaskan BH dan CD putih yg ia kenakan. Kemudian ia berdiri di hadapanku dgn badan bugil. Dalam posisi berdiri, kami kembali berciuman. Lalu ia berucap padaku:

    “ Dit! jika kamu sudah siap, lakukan saja yg ingin kau lakukan dgn Bu…. Bu akan menunggu… ” demikian perucapannya yg dipenuhi dgn birahi indah.

    Kemudian dia berjalan meninggalkanku dan menghempaskan badannya di atas tempat tidur empuk yg ada di kamarnya itu. Ajakan itu tak ingin ku sia-siakan dan hilang begitu saja. Sesosok badan wanita yg siap untuk dinikmati, kenapa tak aku manfaatkan.Tanpa pikir panjang, ku Masati badan Bu Putri yg telah terhidang siap saji untuk disantap. Lalu ku mulai aksiku dari menaiki badan Bu Putri dan mencium bibirnya. Bibir dan lidah kami saling beradu dalam suasana yg penuh birahi. Sambil terus berciuman, ku remas salah 1 payudara Bu Putri yg lumayan besar dan lembek, dgn salah 1 tangan menopang berat badanku agar tak menindih sempurna badan Bu Putri.

    Aktivitas itu terus ku lakukan, hingga akhirnya batang kemaluanku kembali terjaga dari tidurnya. Dalam suasana penuh nafsu yg tak tertahan, ku belai selangkangan Bu Putri yg ditumbuhi oleh bulu yg lebat. Ku coba untuk merayap dan memasukkan jariku ke belahan di pangkal paha Bu Putri. Tak terlalu sulit untuk mendapatkannya, hingga dalam beberapa detik, aku telah berhasil menenggelamkan jari tengahku di liang kemaluan Bu Putri. Sewaktu kemudian, ku mainkan jariku di liang yg basah itu, sehingga membuat Bu Putri mendesah. Sepertinya dia mulai merasakan kenikmatan bercinta dgnku. Sebagai seorang yg tak pernah melakukan hubungan seks layaknya suami istri, aku tak begitu mengerti apa yg harus ku lakukan pada badan bugil yg waktu itu telah siap untuk ku nikmati.

    Yg ada dalam pikiranku hanyalah menikmati, dan bukan memberi kenikmatan.

    Tanpa terlalu lama bermain dgn benda yg juga baru pertama kali ku belai, aku mulai berpikir untuk memasukkan kemaluanku yg sudah cukup keras ke dalam liang kemaluan Bu Putri yg kenyal dan dikelilingi oleh bulu yg lebat. Aku merubah posisi ku, lalu mengarahkan kepala kemaluanku ke belahan di sela paha Bu dgn tanganku. Mungkin sebab statusnya yg janda beranak 1, alias sudah bukan perawan, batang kemaluanku tak terlalu sulit untuk menerobos masuk ke kemaluan Bu Putri.

    Rasa yg ku dapatkan waktu menggenjot liang kemaluan Bu Putri yg lembat sungguh tak bisa

    ku lukiskan dgn ucap-ucap. Batang kemaluanku yg terjepit oleh dinding kemaluan yg kenyal benar-benar memaksaku untuk menuju puncak birahi. Tak seberapa lama aku melakukan hal tersebut, dapat ku rasakan bahwa desiran darahku seakan berkumpul di pangkal kemaluanku. Waktu itulah, aku semakin meningkatkan tempo permainanku, hingga akhirnya aku tak tahan lagi.

    Ku hentakkan pantatku sekeras mungkin, sehingga kemaluanku tenggelam sempurna di dalam liang kemaluan Bu Putri dan ku rasakan air maniku keluar dan mengisi liang kemaluan Bu Putri.

    Aku sama sekali tak berpikir akan akibat yg mungkin terjadi dgn tertanamnya air mani di rahim Bu Putri, kecuali sesudah batang kemaluanku kembali melemah dan ku jatuhkan badanku di samping badan Bu Putri yg basah bermandikan keringat. Bu Putri tersenyum padaku, lalu berucap,

    “ Gag perlu belajar lama, ya? ” ucap Bu sambil bangkit dari posisinya.

    Entah apa yg akan dia lakukan, ia berdiri di atas tempat tidur lalu ia duduk di atas dadaku sambil mengarahkan kemaluannya yg masih basah tersebut ke daerah wajahku.

    “ Mainkan lidahmu, Dit! ” Ucap Bu Putri kemudian.

    Tanpa pikir panjang dan banyak tanya, ku turuti saja keinginannya, ku jilati belahan kemaluan Bu Putri yg duduk di atas wajahku. Dgn bantuan jariku, ku buka belahan kemaluan Bu yg kenyal itu lalu ku masukkan lidahku sedalam-dalamnya ke liang kemaluan Bu Putri. Mendadak ku rasakan cairan putih kental yg tak lain adalah air maniku keluar dari liang kemaluan Bu Putri dan masuk ke mulutku. Meskipun agak jijik, tapi aku tak berani memuntahkannya dari mulutku. Aku hanya menahannya di mulutku sambil terus memainkan lidahku di liang kemaluan yg terbuka lebar itu.

    Beberapa waktu sesudah aktivitas menjilat itu ku lakukan untuk Bu Putri, ku coba untuk kembali menjatuhkan badan Bu Putri ke tempat tidur. Waktu itulah, kembali ku cium bibir Bu Putri sambil mengeluarkan air mani yg ada di mulutku dan memasukkannya ke mulut Bu Putri. Bu Putri bukannya menolak, ia malah menerima dan bahkan menelan air mani yg ku keluarkan di mulutnya.

    Beberapa waktu sesudah aktivitas menjilat itu ku lakukan untuk Bu Putri, ku coba untuk kembali menjatuhkan badan Bu Putri ke tempat tidur. Waktu itulah, kembali ku cium bibir Bu Putri sambil mengeluarkan air mani yg ada di mulutku dan memasukkannya ke mulut Bu Putri. Bu Putri bukannya menolak, ia malah menerima dan bahkan menelan air mani yg ku keluarkan di mulutnya.

    Baca Juga Cerita Seks BERSAMA WALI KELAS ANAKKU

    Seingatku, malam itu aku melakukan hubungan seks dgn Bu Putri lebih dari 10 kali. Sebab setiap kali kemaluanku bangun, aku langsung memasukkan ke liang kemaluan Bu. Dari pelajaran malam itu, yg ada di pikiranku hanyalah keinginan untuk terus bisa merasakan kemaluan, hingga akhirnya aku berhasil merenggut keperawanan Esty, putri Bu Putri sendiri. Sebab seringnya bercinta dgn Bu Putri, Ibu dari siswa privateku, Esty, hubungan gelap tanpa komitmen yg selama ini terjalin antara kami, tercium oleh Esty. Hal ini terjadi ketika suatu malam, sesudah aku memberikan private di rumah Esty, hujan turun dgn lebatnya.’

    Bu Putri menyarankan, agar aku tak usah pulang dulu sebelom hujan reda. Tetapi ternyata hujan tak berhenti hingga lewat jam 11 malam. Bu Putri menyarankan untuk bermalam saja.

    Meskipun dgn sedikit basa-basi penolakan, tetapi tawaran itu ku terima dgn senang hati, dan memang itu harapanku, berharap dinginnya malam dgn suasana hujan lebat, akan menambah indah nuansa pencapaian puncak birahi dalam bercinta dgn janda beranak 1 itu.

    Malam itu, aku hanya tidur di kursi ruang tamu, sebab memang hanya ada 2 kamar di rumah Bu Putri

    Mungkin hanya sekedar mengelabui Esty yg belom tahu hubungan gelap yg ku jalin dgn Ibunya. Di kursi itu, aku terus memainkan jariku di HPku yg hanya bergetar jika ada SMS atau panggilan masuk, sebab memang aku sedang SMSan dgn Bu Putri yg ada di kamarnya. Saling merayu di udara dgn bahasa yg mengoda birahi. Sesudah memastikan Esty tertidur di kamarnya, sekitar pukul 12.30 malam, Bu Putri mengirinkan SMS yg berbunyi,

    “ Dit! Ke Kamar Ibu dong, Ibu udah pngin sekali nih !!! ”

    Menerima SMS itu, dgn penuh semangat, aku keluar dari selimutku dan bangkit dari kursi lalu melangkah perlahan ke kamar Bu Putri. Suasana hujan yg masih sangat lebat memberikan keleluasaan bagiku, sebab suara langkahku tak akan memecah heningnya malam.

    Waktu aku membuka pintu kamar Bu Putri, mendadak Esty keluar dari kamarnya. Hal tersebut tentu saja sangat mengejutkanku. Apalagi melihat ekspresi kekagetan Esty melihat gelagatku.

    “ Bang Didit, itukan kamar Mamah, Abang mau ngapain kesitu ? ” tanya Esty pada aku,

    Begitulah ucap yg terucap dari gadis muda berusia 15 tahun, putri tunggal Bu Esty. Aku yg kaget sebab nyaris tertangkap basah dgn dorongan birahiku, langsung berusaha mencari alasan yg tepat untuk jawaban untuk pertanyaannya tersebut.

    “ Eeee…. ” jawabku seraya tanganku melepas gagang pintu kamar Bu Putri yg kebetulan telah terlanjur terbuka, sambil terus berpikir keras untuk mencari alasan.

    “ Begini Es! tadi Abang kira ini kamar kamu… Ucap Mamah kamu, Abang disuruh membangunkan kamu. Kamu disuruh Mamah kamu tidur dgn Mamah, Abang di suruh tidur di kamar kamu… Gitu, Rin! ” Jawabku dgn bahasa yg agar berbelit-belit.

    Esty-pun mengerutkan keningnya beberapa waktu, lalu kemudian melempar senyumnya.

    “ Oo Iya, Bang! Kamar Esty di sini, Abang tidur aja di sini !!! biar Esty tidur di kamar Mamah ” begitu jawab Esty sambil masuk kembali ke kamarnya dgn maksud mungkin mengambil keperluan tidurnya.

    Ku tutup kembali pintu kamar Bu Putri dgn segudang kekecewaan, sebab hasrat yg memuncak tak bisa terlampiaskan di malam yg begitu mendukung ini. Dgn langkah lemas, ku beranjak ke kamar Esty, dan ku lihat Esty telah siap meninggalkan kamarnya menuju kamar Mamahnya.

    “ Silahkan, Ka! ” sapa Esty mempersilahkan aku untuk tidur di kamarnya.

    “ Sebab itusih, ya Rin! ” sapaku waktu dia ke luar dari kamarnya.

    Esty hanya melempar senyum waktu berlalu dari hadapanku. Ku lihat dgn selimut di tangannya, dia membuka kamar Mamahnya, kemudian masuk dan menutup pintu kamar Mamahnya tersebut. Dgn tertutupnya pintu kamar Bu Putri, sebab itu pupuslah harapan untuk bisa kembali bercinta dgn Bu Putri. Malam terus berlalu, tetapi aku tetap tak bisa tertidur sebab gagalnya mencuri kesempatan indah untuk bercinta. jam 1 malam, hujan telah berhenti, mendadak HPku bergetar, dan ku lihat ada SMS masuk. Aku buka dan kubaca, ternyata Bu Putri yg mengirimnya.

    “ Dit! kmu psti belom tdur kn? ” itulah bunyi SMSnya.

    Dgn masuknya SMS itu, aku merasa ada secercah harapan baru untuk kembali bisa melepas hasrat yg tertunda. langsung ku balas SMS Bu Putri,

    “ Belom, Bu? gimana nih? aku udah gak tahan mo nancepin lgi. ” jawabku via SMS.

    Tak lama, masuk lagi balasan dari Bu Putri,

    “ iya, Bu jg nih ” begitu jawab Bu Putri singkat.

    Dgn gesit ku mainkan jariku merangkai SMS balasan, dgn maksud menyusun strategi untuk bisa memadu hasrat tanpa diketahui Esty, anak perempuannya.

    “ Esty dah bobo ya Bu? ” bgitu isi SMSku.

    “ Iya! ” jawab Bu Putri dgn singkat.

    “ Bu, Tititku dah bngun nih, Bu! sudah ga thn mo ngntot memek Bu! ” begitu rayuanku dalam SMS berusaha mengajak Bu Putri untuk kembali melakukan hubungan seks dgnku.

    “ Dit! kmu tljg dlu, ya! nnti Bu ksana ” bgitulah balasan Bu.

    Dgn girang ku balas SMS Bu Putri dgn dua ucap “ OK! ” Dgn semangat menggebu, ku lepaskan sluruh pakaianku dan ku baringkan badanku di atas tempat tidur di kamar Esty, putri semata wayangnya. Dgn rasa tak sabar, kembali ku berniat untuk mengirim SMS ke Bu Putri, tetapi mendadak ku dengar pintu kamar di buka dgn hati-hati, dan ku dgn suara pintu itu kembali di tutup dgn hati-hati. Dalam senyapnya malam yg di hiasi suara rintik-rintik air sisa hujan lebat, tak ku dengar adanya langkah yg dateng menuju kamar dimana aku terbaring menunggu waktu-waktu indah menikmati kemaluan Bu Putri yg lembek dan basah.

    Mendadak gagang pintu kamar mulai bergerak dan pintu pun mulai terbuka perlahan. Tetapi aku sangat kaget, sebab yg dateng bukan Bu Putri, melainkan Esty, putrinya yg baru kelas 3 SMP. Esty meletakkan jari telunjuknya di bibir sebagai isyarat agar aku tak bicara. Aku yg sudah terlanjur telanjang, tak sanggup berbuat apa-apa kecuali menutupi batang kemaluanku yg sudah keras dgn guling yg ada di sampingku.

    Sesudah kembali menutup pintu kamar dgn hati-hati, Esty melangkah ke arahku, dan duduk di sampingku lalu menarik guling yg menutup kemaluanku. Ia kemudian menggenggam batang kemaluanku dgn kencang, sehingga hampir membuatku berteriak. Esty mendekatkan wajahnya ke hadapanku dan dgn nada berbisik, Esty berucap,

    “ Jadi selama ini, Abang dibayar bukan hanya untuk ngasih private aku ya? ”

    “ Maaf, Es! Abang… bukan begitu! kamu tak mengerti… ”

    “ Abang gag usah bohong! Esty sudah baca semua SMS Abang di HP Mamah… ”

    “ Apa? jadi yg ….. ”

    Belom selesai aku menjawab,

    “ Iya! yg balas SMS Abang itu Esty ! ”

    “ Maafkan Abang, Es! Abang gag ada maksud begitu… ”

    “ Udah deh! Abang gag usah bohong… Kenapa Abang melakukan ini dengan Mamahku!? ”

    “ Es! bukan kemauan Abang, Rin! Abang juga gag tahu kenapa ini sampai terjadi…!! ”

    “ Bang! Mulai hari ini, Esty gag mau private lagi sama Abang… Esty kecewa sama Abang! ”

    Mendengar kekecewaan Esty itu, ku peluk badan Esty dan ku ciumi bibirnya, tetapi Esty tak bereaksi melawan, apalagi berteriak. Ku jatuhkan badannya ke tempat tidur sambil terus ku ciumi bibirnya. Ku tahan gerakan kedua tangannya dgn kedua tanganku, dan ku tindih badannya agar dia tak lagi sanggup bergerak. Merasakan Esty yg tak bereaksi melawan terhadap aksiku, dan cenderung pasrah, aku menghentikan ciumanku dan ku tatap wajah Esty. Tetapi yg terlihat dari wajahnya bukan kekecewaan. Esty justru melemparkan senyumannya padaku,

    “ Ada apa ini? ” pikirku dalam hati.

    “ Perawani Esty, Bang! tapi jangan hamili Esty! ” itulah kalimat yg terucap dibalik senyumnya.

    Aku pun senang mendengar kalimat itu. Tanpa pikir panjang, ku lepaskan seluruh pakaian yg menutup badannya, mulai dari babydol yg dikenakannya, hingga BH dan CDnya. Tampak dihadapanku sesosok badan kecil yg lumayan langsung dgn buah dada kecil yg montok. Selangkangan Esty yg cembung dgn rambut ikal tipis yg tumbuh dipermukaannya, merupakan sebuah pemadangan baru yg sangat indah bagiku.

    Aku tak mau melewatkan kesempatan untuk merasakan bagaimana nikmatnya kemaluan seorang perawan berusia 15 tahun. Tanpa menunggu lebih lama, langsung ku angkat kedua kakinya, sehingga selangkangannya terbuka lebar. Terlihat jelas belahan kemaluan Esty yg hanya seperti lipatan kulit berbentuk garis lurus. Tak terlihat disana ada liang untuk masuknya kemaluanku yg sudah siap tempur. Tanpa pikir panjang, langsung ku arahkan kepala kemaluanku ke belahan yg masih sangat rapat itu. Dgn kedua tangannya, Esty memegang kakinya yg terbuka lebar ke atas.

    Dgn bantuannya itu, aku bisa menggunakan jariku untuk membuka belahan kemaluan Esty. Bisa ku lihat di dalamnya daging yg agak basah berwarna merah muda, dan langsung ku tancapkan kepala kemaluanku di sela belahan yg terbuka itu. Dgn sedikit memaksa, kepala kemaluanku berhasil menerobos liang kemaluannya yg terasa sangat sempit. Aku terus menekan agar kemaluanku bisa masuk sempurna ke dalam kemaluan Esty, namun usaha itu harus ku lakukan dgn perlahan. Aku harus tarik ulur agar cairan kemaluannya membasahi seluruh batang kemaluanku. Tanpa cara itu, Kemaluanku tak bisa dipaksa masuk.

    Sedikit demi sedikit, batang kemaluanku semakin dalam masuk ke liang kemaluan Esty yg sangat sempit, sampai akhirnya setengah batang kemaluanku telah berhasil masuk. Dalam posisi kemaluan yg setengah menancap di selangkangannya, ku jatuhkan badanku di dadanya. Ku raih bibirnya dan mencoba menciuminya, ku remas payudara montok yg masih ranum itu, sesekali ku jilati pipi, kuping, leher dan terkadang turun ke payudaranya. Esty terpejam dan sesekali berdesis, sepertinya ia menikmati belaian yg lidahku di leher dan payudaranya. Bahkan mungkin ia melupakan bahwa kemaluanku baru setengah masuk ke liang kemaluannya.

    Melihat keadaan itu, ku tumpukan badanku di atas siku yg berada di kedua sisi badannya dan ku pegang erat bahunya. Dgn terus menjilati payudaranya dan sesekali mengecup puting susunya, kembali ku genjot liang kemaluannya yg sangat rapat dan kesat. Terus ku coba dan ku coba, meski kedua bahunya telah ku pegang erat, tetapi tetap saja genjotan yg ku lakukan untuk menerobos liang kemaluannya hanya bisa masuk dgn perlahan. Akhirnya ku putuskan untuk fokus pada usaha untuk memasukkan kemaluan ke liang kemaluannya. Aku turun dari tempat tidur, dan menarik badan Esty ke sisi tempat tidur itu. Dgn posisi berdiri di sisi tempat tidur, kembali ku arahkan kemaluanku yg sedikit ku basahi dgn air liurku ke liang kemaluannya. Kemaluanku kembali hanya bisa masuk setengah ke dalam liang kemaluan Esty, namun dgn posisi berdiri, aku bisa menahan kedua pahanya agar badannya tak bergerak mengikuti tiap genjotanku. Usahaku akhirnya tak sia-sia, sebab dgn posisi itu, aku bisa lebih cepat menerobos liang kemaluan Esty dgn sempurna. Cerita Maya

    Dalam posisi tenggelam sempurna, aku menjatuhkan badanku ke dada Esty dan berguling agar posisi Esty di atas. Ku peluk badan Esty dan ku coba menarik keluar kemaluanku dari liang sempit yg basah itu, lalu mendorongnya masuk kembali. Beberapa kali ku lakukan itu, aku kembali berguling, sehingga posisiku mebali di atas. Waktu itulah permainan sesungguhnya di mulai. Kemaluan Esty sepertinya telah sanggup beradaptasi dgn benda tumpul yg menerobos liang kemaluannya. Rapatnya liang kemaluan Esty memberikan kenikmatan yg luar biasa yg tak pernah ku rasakan waktu bercinta dgn Bu Putri. dinding kemaluan Esty seakan mencengkram erat batang kemaluanku, persis seperti waktu pertama Esty mencengkar kemaluanku dgn tangannya. Berkali-kali aku menyetubuhi Esty, dan membuang air mani ku ke rahimnya, setelah beberapa bulan berlalu aku mendapat kabar bahwa Ibu Putri dan Esty hamil mengandung benih yang ku tanam.. Dan aku pun menikahi mereka berdua, semenjak itu kami selalu bermain bertiga, tak terbayangkan nikmatnya bercinta dengan ibu dan anaknya tersebut..

  • BERSAMA WALI KELAS ANAKKU

    BERSAMA WALI KELAS ANAKKU


    861 views

    Cerita Maya | Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki yang telah memasuki ke ajang pendidikan tentunya sangat membahagiakan. Ini terjadi denganku dikala anakku yang bernama Jerry telah memasuki SD kelas 1. Setelah istriku meninggal karena terkena penyakit kanker payudara, akulah satu-satunya yang harus mengurusi anakku, Jerry. Secara jujur, kehidupanku sangat menyedihkan dibandingkan sebelum istriku meninggal. Sekarang semuanya kulakukan sendiri seperti mengajari anakku mengerjakan PR-nya, memasak yang tentunya bercampur dengan kesibukanku di kantor sebagai salah satu orang terpenting di perusahaan Jepang yang berdomisili di Jakarta.

    BERSAMA WALI KELAS ANAKKU

    Kadang-kadang aku menjadi bingung sendiri karena bagaimanapun masakanku tidak sesempurna istriku dan untunglah Jerry, anakku satu-satunya tidak pernah mengkritik hasil masakanku walaupun aku tahu bahwa semua hasil masakanku tidak enak karena kadang-kadang terlalu asin dan kadang-kadang gosong. Suatu hari Jerry memberitahuku bahwa aku mesti datang ke sekolahnya karena gurunya ingin bertemu denganku. Cerita Maya

    Pada hari yang sudah ditentukan, aku pergi ke sekolah anakku untuk bertemu Ibu Diana dan sewaktu aku bertemu dengannya, aku menjadi cukup gugup dan untunglah perasaan itu dapat kukuasai karena bagaimanapun aku pergi dengan anakku dan aku tidak ingin anakku membaca kegugupanku itu. Akhirnya aku dipersilakan duduk oleh ibu guru yang ternyata belum menikah itu karena aku tidak melihat cincin kawin di jarinya dan juga dia mengaku sendiri bahwa dia masih single ketika kupanggil dia dengan sebutan Ibu Diana.

    Didalam percakapan itu, dia menceritakan mengenai pelajaran Jerry yang agak tertinggal dengan murid-murid lainnya. Ternyata baru ketahuan dari pengakuan Jerry, bahwa walaupun dia rajin mengerjakan PR tetapi dia tidak pernah mengulang pelajarannya karena waktunya dihabiskan untuk bermain Play Station yang kubelikan untuknya sehari setelah kepergian istriku supaya dia tidak menangis lagi.

    Akhirnya diperoleh kesepakatan bahwa Ibu Diana akan memberikan anakku les privat dan setelah kami sama-sama sepakat mengenai harga perjamnya, kami bersalaman dan meninggalkan sekolah itu. Selama perjalanan ke rumah, aku selalu teringat dengan wajah imut guru muda anakku itu.

    Sore harinya setelah aku tidur sore, aku teringat bahwa 1 jam mendatang guru anakku akan datang dan berarti aku juga harus bersiap-siap untuk menyambutnya. Setelah guru Jerry datang dan aku mengajaknya ngobrol untuk beberapa saat, dia kemudian minta izin untuk memulai les privat untuk anakku. Aku hanya mengangguk dan meninggalkan mereka berdua. Aku mulai membaca koran Kompas hari itu dan aku sekali-kali mencuri pandang pada guru anakku yang sedang mengajari Jerry. Kulihat bahwa Ibu Diana ini cukup pengertian dalam mengajari anakku yang kadang-kadang masih cukup bingung akan materi yang dipelajarinya.

    Dua jam berlalu sudah dan kusadari bahwa jam privat les sudah usai dan ketika dia hendak pulang ke rumahnya, aku menawarkan kepadanya untuk mengantarkannya berhubung hari sudah malam dan aku tahu persis bahwa tidak ada lagi kendaraan umum pada jam-jam begitu di sekitar rumahku. Akhirnya aku mengeluarkan mobil BMW kesayanganku dan setelah aku bersiap-siap, aku menyuruh Jerry untuk mengulang pelajaran yang tadi sementara aku akan mengantarkan gurunya pulang. Jerry menuruti ucapan ayahnya dan tanpa basa basi, dia mulai membuka kembali bukunya dan mengulang materi yang baru saja dipelajarinya.

    Aku kemudian mulai menyuruh Ibu Diana untuk masuk dan kemudian aku memulai mengendarai mobil itu setelah aku menutup pintu gerbang tentunya karena aku tidak mempunyai pembantu rumah tangga saat itu. Di tengah perjalanan, kami bercakap-cakap mengenai segala hal dan mengenai perubahan yang dialami Jerry setelah ibunya meninggal dunia. Nampaknya Ibu Diana serius sekali mendengarkan curahan hatiku yang kesepian setelah ditinggal oleh istriku. Cerita Seks Wali kelas

    Tiba-tiba ketika kami sedang asyik bercakap-cakap, aku melihat sekilas seorang anak kecil yang sedang lari menyeberang sehingga dengan secepat kilat, aku langsung mengerem secara mendadak dan disaat aku mengerem mendadak itu, karena Ibu Diana lupa tidak memakai “Seatbelt”, dia langsung jatuh kedalam pelukanku. Dia nampaknya malu sekali setelah kejadian itu tetapi setelah aku bilang tidak apa-apa, dia kembali seperti sediakala dan sekarang kami nampaknya semakin akrab dan aku menjadi sangat kaget dikala dia minta tolong untuk pergi ke motel terdekat karena dia ingin buang air dengan alasan bahwa rumahnya masih sangat jauh.

    Aku melihat ekspresi wajahnya seperti orang yang menahan sesuatu sehingga akhirnya aku menyetujui untuk pergi ke motel terdekat untuk menyelesaikan ‘bisnis’nya.

    Baca Juga Cerita Seks Kupuaskan Dua Tetanggaku Yang Menggoda

    Akhirnya kami berada di dalam sebuah motel murah yang tidak jauh dari tempat aku mengerem mendadak tadi. Setelah berada di dalam kamar, aku langsung duduk di tepi ranjang sementara Ibu Diana dengan kecepatan yang luar biasa langsung pergi ke arah toilet yang berada di dalam kamar motel itu. Beberapa menit kemudian, aku dikagetkan oleh Ibu Diana yang keluar dari dalam toilet dengan mendadak.

    “Bu.. ada apa?” aku mendadak gugup bercampur kepingin melihat tubuh Ibu Diana yang sangat indah itu.

    Tapi tiba-tiba Diana menarikku dan langsung mencium bibirku. Sepertinya aku mau meledak! Ibu Diana yang tingginya 172 cm, rambut panjang dan tubuhnya sempurna sekali, padat, keras, sedikit berotot perut, pokoknya seksi sekali. Diana menuntun tanganku ke dadanya. Disuruhnya aku meremas-remas dadanya. Belakangan kuketahui ukuranya 34C. Kemudian dia sendiri melepas bajunya dengan senyumnya yang menggoda sekali. Aku hanya diam terpaku melihat caranya melepas pakaian dengan pelan-pelan dengan gaya yang menggairahkan sambil menggoyang pinggulnya. Cerita Seks Wali kelas

    Kemudian terlihatlah semua bagian tubuhnya yang biasanya tersembunyi. Dadanya yang montok kencang menggantung-gantung, bulu kemaluannya yang tipis rapi, tubuhnya yang putih mulus sangat menggairahkan. Batang kejantananku juga sudah membesar mengeras lebih dari biasanya. Lalu Diana kembali merapatkan tubuhnya ke arahku, ditempelkannya mulutnya ke kupingku, menjilatinya dan berbisik kepadaku,

    “Kamu akan merasakan seperti di surga.” Tapi aku masih berusaha menghindar walaupun sebenarnya aku mau kalau tidak pemalu.

    “Nanti kalau teman-teman datang bagaimana?”

    “Tenang saja saya sudah bilang mau tidur sebentar di sini dan jangan diganggu

    Gile sudah direncanakan! Tanpa kusadari kemejaku sudah lepas (ke mana-mana aku biasa memakai kemeja lengan pendek) Diana menjilati perutku dan terus ke bawah. Aku masih diam ketakutan. Sampai akhirnya dia membuka celana dalamku.

    “Wah, ini akan hebat sekali. Begitu besar, keras. Belum pernah aku melihat seperti ini di film porno.”

    Diana mulai mengisap-isap batang kemaluanku (baru-baru ini aku tahu namanya disepong karena almarhum istriku tidak pernah melakukannya).

    “Aaarghh.. argh..” aku baru sekali senikmat itu.

    “Kamu mulai bergairah kan, Sayang?” Baru kali itu dia memanggilku sayang.

    Aku benar-benar bergairah sekarang. Kuangkat tubuhnya ke kasur kujilati liang kewanitaannya yang sudah basah itu.

    “Nnngghhh.. ngghhh.. aaahh… ahhh” Diana mulai mengerang-ngerang.

    Tapi itu membuatku makin bergairah. Kuhisapi puting susunya yang berwarna pink. “Aahhh.. yeahh.. Tak kusangka kamu agresif sekali.” Kumasukkan jariku ke liang senggamanya. Kusodok-sodok makin lama makin cepat. Diana hanya bisa mengerang, mendesah-desah.

    “Ricky, cepat masukkan.. ahhnggh.. cepat, Diana udah nggak tahan.. ahhh.. Tapi pelan-pelan, Diana masih perawan.”

    Waktu itu aku tidak memikirkan dia perawan atau tidak. Aku hanya memasukkan batang kemaluanku dengan pelan-pelan, sempit sekali. Benar-benar masih perawan, kupikir. Liang kewanitaannya begitu ketat menjepit batang kejantananku. Sampai akhirnya batang kemaluanku yang panjangnya 20 cm dan diameternya 3,8 cm amblas semua.

    “Aaakkhhh…” lagi-lagi teriakannya membuatku bersemangat sekali. Kusodok sekuat-kuatnya, sekancang-kencangnya. “Ngghhh.. Rickkk.. gede banget.. aanggghh.. indah sekali rasanya.”

    Kemudian kami mengganti posisi nungging. “Plok.. plok.. plok..” suara waktu aku sedang menggenjotnya dari belakang. Dadanya berayun-ayun. Diana kadang meremasnya sendiri. “Aahhh.. lagi.. lebih cepat.. Aaahhh.. Diana udah keluar.. Kamu keluarin di luar, ya!” Tidak lama kemudian akupun keluar juga.

    Kusemprot maniku ke sekujur tubuh Diana yang lemas tak berdaya. Dijilatinya lagi batang kenikmatanku sampai lama sekali sampai-sampai keluar lagi. Dengan nafas masih memburu terengah-engah, Diana memakai pakaiannya kembali. “Kamu hebat sekali Rick. Diana puas sekali. Sebenarnya aku sudah jatuh hati kepadamu pada pandangan pertama.” Kemudian sebelum keluar kamar Diana kembali mencium bibirku. Kali ini aku tidak malu lagi, kucium dia sambil kupegang payudaranya.

    Setelah kenikmatan bersama itu, kami berpelukan untuk beberapa menit dan kami berciuman lagi untuk beberapa lama. Sejujurnya aku sudah jatuh hati kepada guru anakku sejak pertama kali bertemu dan sekarang baru kusadari bahwa dia juga telah jatuh hati kepadaku. Setelah itu aku kemudian berkata kepadanya,

    “Diana, aku ingin kamu menjadi kekasihku yang bersedia mengajari Jerry..” film barat klik Belum selesai aku menyelesaikan kata-kataku, Diana langsung menciumku dan aku membalasnya dengan penuh kemesraan dan tentunya berbeda dengan perlakuan kami yang baru saja terjadi. Cerita Maya

    Setelah kami berciuman untuk beberapa menit, Diana langsung berkata kepadaku, “Ricky, aku juga ingin memiliki kekasih dan ternyata aku sekarang menemukannya dan aku ingin menikah denganmu dan kita bisa bersama-sama mendidik Jerry.” Setelah kejadian itu, Diana sering pergi keluar bersamaku dan Jerry.

  • Kupuaskan Dua Tetanggaku Yang Menggoda

    Kupuaskan Dua Tetanggaku Yang Menggoda


    977 views

    Cerita Maya | Aku adalah seorang pria lajang 20 th dengan tinggi 175 cm berat 70 kg yang sedang kuliah di salah satu PTN di daerahku. Aku tinggal disebuah rumah bedeng 5 pintu dan aku berada pada pintu yang pertama. Kalau dibandingkan dengan teman-temanku, aku termasuk anak yang pemalu alias kuper (kurang pergaulan).

    Kupuaskan Dua Tetanggaku Yang Menggoda

    Hal ini membuatku lebih betah berada di kosanku, oh ya di bedeng tersebut aku nge-kost, dari pada harus keluar rumah tanpa tujuan. Sesekali aku juga sering menonton film BF untuk memuaskan hasrat birahiku dan selalu berakhir dengan beronani.

    Cukup sudah pengantarnya ok. Sekarang lanjut ke pengalaman pertamaku yang berawal dari tempat kost dimana aku tinggal. Disebelah (pintu no2) tinggal seorang wanita muda sekitar 25 tahun bernama Cindy tinggi 160 berat 50 kg yang bersuamikan seorang supir taxi tetapi sudah 7 tahun belum dikarunia seorang anak. Cerita Maya

    Pintu no3 ditempati oleh seorang wanita 35 tahun tinggi 165 berat 60 kg yang sudah memiliki 2 orang anak 7 dan 5 tahun yang semuanya perempuan, ia bernama Mita. Nah, dari sinilah semuanya berawal.

    Seperti biasa pada pagi hari semua penghuni bedeng sibuk dibelakang (mandi, mencuci). Perlu diketahui bahwa kondisi di rumah ini memiliki 5 kamar mandi terpisah dari rumah dan 2 buah sumur (air harus diangkat ke kamar mandi, maklum yang punya rumah belum punya Sanyo).

    Aku yang sudah terbiasa mandi paling pagi sedang duduk santai sambil nonton TV. Lagi asik nonton terdengar olehku gemercik air seperti orang sedang mandi.

    Mulanya sih biasa saja, tapi lama kelamaan penasaran juga aku dibuatnya. Aku mencoba melihat dari balik celah pintu belakang rumahku, dan aduh!! betapa kagetnya aku ketika melihat Mbak Cindy yang sedang mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku tidak tahu mengapa ia begitu berani untuk membuka tubuhnya pada tempat terbuka seperti itu.

    Mbak Cindy yang sedikit kurus ternyata memiliki payudara sekitar 32b dan sangat seksi sekali. Dengan bentuknya yang kecil beserta puting warna merah jambu untuk orang yang sudah menikah bentuknya masih sangat kencang.

    Aku terus mengamati dari balik celah pintu, tanpa kusadari batang kejantananku sudah mulai berdiri. Sudah tak tahan dengan pemandangan tersebut aku langsung melakukan onani sambil membayangkan bercinta dengan Mbak Cindy ditempat terbuka tersebut.

    Semenjak hal itu, aku jadi ketagihan untuk selalu mengintip jika ada kesempatan. Keesokan harinya, aku masih sangat terbayang-bayang akan bentuk tubuh Mbak Cindy. Hari itu adalah hari minggu, dan aku sedikit kesiangan.

    Ketika aku keluar untuk mandi, aku melihat Mbak Mita sedang mencuci pakaian. Dengan posisinya yang menjongkok terlihat jelas olehku belahan payudaranya yang terlihat sudah agak kendor tapi berukuran 34 b.

    Setiap kali aku memperhatikan pantatnya, entah mengapa aku langsung bernafsu dibuatnya (mungkin pengaruh film BF dengan doggy style yang kebetulan favoritku). Kembali batang kemaluanku tegang dan seperti biasa aku melakukan onani di kamar mandi.

    Dua hari kemudian terjadi keributan di tetanggaku, yaitu Mbak Mita yang sedang bertengkar hebat dengan suaminya (seorang agen). Ia menangis dan kulihat suaminya langsung pergi entah kemana.

    Aku yang kebetulan berada disitu tidak bisa berbuat apa-apa. Yang ada dipikiranku adalah apa sebenarnya yang sedang terjadi. Keesokan harinya Mbak Mita pergi dengan kedua anaknya yang katanya kerumah nenek, dan kembali sorenya.

    Sore itu aku baru akan mandi, begitu juga dengan Mbak Mita. Setelah selesai aku langsung buru-buru keluar dari kamar mandi karena kedinginan. Diluar dugaanku ternyata aku menabrak sesuatu yang ternyata adalah Mbak Mita. Keadaan waktu itu sangat gelap (mati lampu) sehingga kami saling bertubrukan. Menerima tubrukan itu, Mbak Mita hampir jatuh dibuatnya.

    Secara reflek aku langsung menangkap tubuhnya. AduH! Tenyata aku tanpa sengaja telah menyentuh payudaranya. ” Maaf.. Aduh maaf mbak, nggak sengaja” ucapku. ” Nggak, nggak pa pa kok, wong saya yang nggak liat” balasnya.

    Sejenak kami terdiam dikeheningan yang pada saat itu sama-sama merasakan dinginnya angin malam. Tanpa dikomando, tubuh kami kembali saling berdekatan setelah tadi sempat malu karena kecerobohan kami berdua. Aku sangat degdegan dibuatnya dan tidak tahu harus berbuat apa pada posisi seperti ini.

    Sepertinya Mbak Mita mengetahui bahwa aku belum pengalaman sama sekali. Ia kemudian mengambil inisiatif dan langsung memegang kemaluanku yang berada dibalik handuk.

    Est ..est.. auw ..aku mengerang keenakan. Belum selesai aku merasakan belaian tangannya, tiba-tiba ujung kemaluanku terasa disentuh oleh benda lembut dan hangat. Mbak Mita sudah berada dibawahku dengan posisi jongkok sambil mengulum kemaluanku. Aduuhh .. nikmatt.. terus .. Akh ..est .. Sekarang aku sudah telanjang bulat dibuatnya.

    10 menit sudah kemaluanku dikulum oleh Mbak Mita. Aku yang tadi pemalu sekarang mulai mengambil tindakan. Mbak Mita kusuruh berdiri dihadapanku dan langsung kulumat bibinya dengan lembut. Est .. Ah ..uh ouw .. Ia mendesah ketika bibir kami saling berpagutan satu sama lain. Ciumanku sekarang telah berada pada lehernya. Bau sabun mandi yang masih melekat pada tubuhnya menambah gairahku.

    Est .. Ah .. teruss.. kepalanya tengadah keatas menahan nikmat. Kini tiba saat yang kutunggu. Handuk yang masih menutupi tubuhnya langsung kubuka tanpa hambatan. Secara samar-samar dapat kulihat bentuk payudaranya. Kuremas dan kukecup dengan lembut dan au ..est..nikmaat..teruss ..aow .., Mbak Mita menahan nikmat.

    Sambil terus mencicipi bagian tubuhnya akhirnya aku sampai juga didaerah kemaluannya. Aku sedikit ragu untuk memcicipi kemaluanya yang sudah sedikit basah itu. Seperti difilm BF aku mencoba mempraktekkan gaya melumat kemaluan wanita.

    Kucoba sedikit dengan ujung lidahku, rasanya ternyata sedikit asin dan berbau amis. Tetapi itu tidak menghentikanku untuk terus menjilatinya. Semakin lama rasa jijik yang ada berubah menjadi rasa ninkmat yang tiada tara.

    Est ..est ..teruuss ..tee..russ..auw ..nik, mat..mbak Mita tak mampu menahan nikmat yang diterimanya dari jilatan mautku yang sesekali kuiringi dengan memasukkan jariku ke liang senggamanya.

    “Mbak mau .. kelu..ar ahh” racaunya. Tanpa kusadari tiba-tiba keluar cairan kental dari vagina nya yang belakangan kutau bahwa itu adalah cairan wanita. Aku belum berhenti dan terus menjilati kemaluanya sampai bersih.

    Puas aku menjilati kemaluannya kemudian langsung aku angkat ia kedalam rumahnya menuju kamar tidurnya. Aduh .. benar-benar tak habis pikir olehku, wanita segede ini bisa kuangkat dengan mudah. Sesampai dikamarnya aku langsung terbaring dengan posisi terlentang. Mbak Mita tanpa diperintah sudah tahu apa yang kumau dan langsung mengambil posisi berada diatasku.

    Oh ..ya pembaca, bahwa batang kemaluanku standar-standar saja untuk orang Indonesia. Aku yang berada dibawah saat itu sengaja tidak berbuat apa-apa dan membiarkan Mbak Mita mengambil inisiatif untuk memuaskanku.

    Mbak Mita langsung memegang kemaluanku dan mencoba memasukkannya kedalam liang senggamanya. Blues..bleb.. tanpa hambatan batang kejantananku tenggelam seluruhnya kedalam liang kenikmatan Mbak Mita. Est..es..auw..oh..ah..aku hanya terpejam merasakan kemaluanku seperti diperas-peras dan hangat sekali rasanya.

    Aku tak menyangka bahwa kenikmatan bersenggama dengan wanita lebih nikmat dibanding dengan aku beronani. Mbak Mita mulai menggenjot pantatnya secara perlahan tapi pasti.

    Baca Juga Cerita Seks SKenikmatan tubuh Babysitterku

    Ah..ah..ah..oh..oh..nik..maatt..ahh.. Mbak Mita terus melakukan gerakan yang sangat erotis. Desahan Mbak Mita membuatku semakin bernafsu ditambah dengan payudaranya bergoyang kesana-kemari.

    Rupanya aku tak bisa lagi tinggal diam. Aku berusaha mengimbangi genjotan Mbak Mita sehingga irama genjotan itu sangat merdu dan konstan. Tanganku pun tidak mau kalah dengan pantatku.

    Aku berusaha mencapai kedua payudara yang ada didepan mataku itu. “Wah ..indahnya pemandangan ini” ucapku dalam hati. Tidak puas dengan hanya menyentuh payudara Mbak Mita, aku langsung mengambil posisi duduk sehingga payudara Mbak Mita tepat berada didepan wajahku.

    Kembali aku melumat putingnya dengan lembut kiri dan kanan bergantian. Ahh..ah ..ah..oh.. Est..ss Mbak Mita kelihatannya tak tahan menahan nikmat dengan perlakuanku ini.

    Lama kelamaan genjotan Mbak Mita semakin cepat dan aku..a..ku.. kee..luuarr..ahh..ohh..nikmaatt Mbak Mita akhirnya mencapai klimaks yang kedua kalinya. Aku yang belum apa-apa merasa kesal tidak bisa klimaks secara bersamaan.

    Akhirnya aku meminta Mbak Mita untuk kembali mengulum kemaluanku. Mbak Mita yang sudah mendapat kepuasan dengan semangat mengulum dan menjilati kemaluanku. Est..est..ahh..oh ucapku ketika Mbak Mita semakin mempercepat kuluman dan kocokannya pada kemaluanku. Sepertinya ia ingin segera memuaskanku dan menikmati air kejantananku.

    Selang 10 menit ah..auw..oh..nik..maatt..oh.. crot..crot..crot..semua air maniku tertumpah diwajah Mbak Mita dan diseluruh tubuhnya. Saat itu Mbak Mita tidak berhenti kulumannya dan menjilati seluruh air jantan tersebut. Aku sangat ngilu dibuatnya tapi sungguh masih sangat nikmat sekali.

    Setelah merasakan kepuasan yag tiada tara kami langsung jatuh terkulai diatas kasur. Mbak Mita tampaknya sangat kelelahan dan langsung tertidur pulas dengan keadaan telanjang bulat. Aku yang takut nanti ketahuan orang lain langsung keluar dari kamar tersebut dan mengambil handukku menuju rumahku.

    Ketika aku baru akan keluar dari rumah Mbak Mita, alangkah terkejutnya aku ketika dihadapanku ada seorang wanita yang kuduga sudah berdiri disitu dari tadi dan menyaksikan semua perbuatan kami.

    Eh..mm..mbak..mbak ..Cindy..ternyata ia tidak lain adalah Mbak Cindy. “Permisi mbak, aku mau masuk dulu” ucapku pura-pura tidak ada yang terjadi. Sambil berjalan tergesa-gesa aku langsung menuju rumahku untuk menghindari introgasi dari Mbak Cindy. Tiba-tiba “tunggu!!” teriak Mbak Cindy.

    Aku langsung panas dingin dibuatnya. “Jangan jangan ia akan melaporkanku ke Kepala Desa lagi” ucapku dalam hati.” Aduuhh gawat nih, bisa-bisa cuci kampung” pikirku. ” A..a..ada apa ya mbak” balasku.

    Mbak Cindy langsung mendekatku dan berkata ” kamu akan aku laporkan kesuami Mbak Mita dan kepala desa atas apa yang telah kamu lakukan” ucap Mbak Cindy. ” Ta..tapi kami melakukannya atas dasar suka sama suka Mbak ” balasku dengan perasaan sedikit cemas. Tiba-tiba ” ha..ha..ha..ha.. ” Mbak Cindy tertawa.

    Aku semakin bingung dibuatnya karena mungkin Mbak Cindy punya dendam dan sekarang berhasil membalaskannya. ” Nggak usah takut, pokoknya sekarang kamu tetap berdiri disitu dan jangan sekali-kali bergerak ok!” usulnya. “Mbak mau melaporkan saya atau takut saya lari” ucapku semakin bingung. Tanpa bicara lagi Mbak Cindy semakin mendekatiku.

    Setelah tidak ada lagi jarak diantara kami tangan Mbak Cindy langsung melepas handuk yang kugunakan tadi sehingga aku kembali telanjang bulat.”Mbak jangan dikebiri ya..” ucapku.”Nnggak..nggak pa pa kok” balasnya. Mbak Cindy ternyata langsung berjongkok dan mulai mengocok kemaluanku.

    Aduhai Ah..ah..oh..oh.. aku yang tadi lemas kembali bergairah dibuatnya. Belum lagi aku selesai merasakan nikmatnya kocokan lembut dari tangan Mbak Cindy, aku kembali merasakan ada benda lembut, hangat dan basah menyentuh kepala kemaluanku.

    Aku langsung tahu bahwa itu adalah kuluman dan jilatan dari mulut Mbak Cindy setelah tadi aku merasakannya dengan Mbak Mita. Kuluman dan jilatan Mbak Cindy ternyata lebih nikmat dari Mbak Mita. Aku bertaruh bahwa Mbak Cindy telah melakukan berbagai macam gaya dan variasi dengan suaminya untuk memperoleh keturunan.

    Estt..ah..oh..oh..aduhh..auw.. desahku menahan hebatnya kuluman Mbak Cindy. 15 menit sudah acara kulum-kuluman itu dan sekarang Mbak Cindy telah berganti posisi dengan menungging.

    Pantatnya yang kecil namun berisi itu sekarang menantangku untuk ditusuk segera dengan rudalku. “Ayo..cepetan..kamu sudah lama menginginkan ini kan..Mbak tau kamu sering ngintip dari celah pintu itu..ayoo masukkan dong” ucapnya dengan mesra.

    Aku jadi malu dibuatnya bahwa selama ini ia tahu akan perbuatanku. Tanpa pikir panjang aku langsung mencoba memasukkan batang kemaluanku ke liang kenikmatan Mbak Cindy.

    “Aduh!!” meleset pada tusukanku yang pertama. Aku kembali mecoba dan bluess..akhirnya aku berhasil juga. “Gila nih perempuan “pikirku, “ternyata lubang kemaluannya masih sempit sekali” ucapku. Perlahan aku coba menggoyangkan pantatku mau-mundur. CerMita Dewasa Tante

    Ah.ah..ahh..oh..oh..oh..ah.. Mbah Cindy mulai mendesah menahan nikmat. Aku semakin mempercepat goyanganku karena memang ini adalah gaya favoritku. “Ayo..teruuss..ayo..” teriakku memberi semangat”.

    Ah..ah..ah..oh..desah Mbak Cindy semakin terdengar kencang. Melihat payudaranya yang bergelantung dan bergoyang-goyang membuatku ingin mewujudkan impianku selama ini.

    Sambil terus menggenjot Mbak Cindy aku berusaha mencapai payudaranya. Kuremas-remas dengan garangnya seolah meremas santan kelapa. Aw..sakiitt..adu..hh..ah..ah.. Mbak Mita tak tahan akan perlakuanku. Aku tidak memperdulikannya dan tetap menggenjot dengan cepat.

    Kemudian aku mengganti posisi dengan menggendong Mbak Cindy didepanku. Bluess.. Kembali batang kejantananku kumasukkan kedalam liang senggamanya. Ahh..ah..ah..ah..desah Mbak Cindy menahan nikmat.

    Kulumat bibir dan kuciumi seluruh leher dan kukecup kedua puting susunya yang merah itu. Adu..nikkmatt sekaalii ah..ah..ah..oh..oh.. Mendapat perlakuan demikian bertubi-tubi akhirnya Mbak Cindy tak sanggup lagi menahan klimaksnya “Keeluuarr ..mau..ke..lua..rr akhirnya Mbak Cindy mencapai klimaksnya.

    Aku yang sedikit lagi juga hampil finish semakin menggenjot dengan cepat.”Blep..blep..blep..bunyi hentakan sodokan antara kemaluanku dan kemaluan Mbak Cindy yang sudah sangat basah tersebut.

    Tidak lama kemudian aku merasakan ada denyut-denyut di ujung batang kemaluanku dan:”Crot..crot..crot..tumpahlah seluruh iir maniku kedalam liang senggamanya.

    Setelah itu kami berciuman sambil merasakan sisa-sisa nikmat yang ada dan kembali kerumah masing-masing. Keesokan harinya ketika bertemu, kami seolah-olah tidak merasakan sesuatu terjadi. Cerita Maya

    Pembaca sekalian rupanya Mbak Mita tidak mau lagi berbicara denganku semenjak kejadian itu tapi aku terkadang masih melakukan hubungan sex ini hanya dengan Mbak Cindy saja ketika saya sedang ingin atau ia sedang sangat ingin melakukannya.

    Sekarang saya sudah selesai kuliah dan tidak lagi tinggal dibedengan itu. Saya masih sangat merindukan untuk kembali berhubungan sex dengan Mbak Cindy atau Mbak Mita karena mereka telah membuat saya tidak perjaka lagi.

  • Kenikmatan tubuh Babysitterku

    Kenikmatan tubuh Babysitterku


    644 views

    Cerita Maya | Aku adalah seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang mampu di mana papaku sibuk dengan urusan kantornya dan mamaku sibuk dengan arisan dan belanja-belanja. Sementara aku dibesarkan oleh seorang baby sitter yang bernama Marni. Aku panggil dengan Mbak Marni.

    Kenikmatan tubuh Babysitterku

    Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 saat aku lulus SMP Swasta di Jakarta. Pada waktu itu aku dan kawan-kawanku main ke rumahku, sementara papa dan mama tidak ada di rumah. Adi, Dadang, Abe dan Aponk main ke rumahku, kami berlima sepakat untuk menonton VCD porno yang dibawa oleh Aponk, yang memang kakak iparnya mempunyai usaha penyewaan VCD di rumahnya. Aponk membawa 4 film porno dan kami serius menontonnya. Tanpa diduga Mbak Marni mengintip kami berlima yang sedang menonton, waktu itu usia Mbak Marni 28 tahun dan belum menikah, karena Mbak Marni sejak berumur 20 tahun telah menjadi baby sitterku.

    Tanpa disadari aku ingin sekali melihat dan melakukan hal-hal seperti di dalam VCD porno yang kutonton bersama dengan teman-teman. Mbak Marni mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat dan tidak ketahuan oleh keempat temanku. Cerita Maya

    “Maaf yah, gue mau ke belakang dulu..”

    “Ya.. ya.. tapi tolong ditutup pintunya yah”, jawab keempat temanku.

    “Ya, nanti kututup rapat”, jawabku.

    Aku keluar kamarku dan mendapati Mbak Marni di samping pintuku dengan nafas yang tersengal-sengal.

    “Hmm.. hmm, Mas Ton”, Mbak Marni menegurku seraya membetulkan posisi berdirinya.

    “Ada apa Mbak ngintip-ngintip Tonny dan kawan-kawan?” tanyaku keheranan.

    Hatiku berbicara bahwa ini kesempatan untuk dapat melakukan segala hal yang tadi kutonton di VCD porno.

    Perlahan-lahan kukunci kamarku dari luar kamar dan aku berpura-pura marah terhadap Mbak Marni.

    “Mbak, apa-apaan sih ngintip-ngintip segala.”

    “Hmm.. hmm, Mbak mau kasih minum untuk teman-teman Mas Tonny”, jawabnya.

    “Nanti aku bilangin papa dan mama loh, kalo Mbak Marni ngintipin Tonny”, ancamku, sembari aku pergi turun ke bawah dan untungnya kamarku berada di lantai atas.

    Mbak Marni mengikutiku ke bawah, sesampainya di bawah, “Mbak Marni, kamu ngintipin saya dan teman-teman itu maksudnya apa?” tanyaku.

    “Mbak, ingin kasih minum teman-teman Mas Tonny.”

    “Kok, Mbak nggak membawa minuman ke atas”, tanyaku dan memang Mbak Marni ke atas tanpa membawa minuman.

    “Hmm.. Hmm..” ucap Mbak Marni mencari alasan yang lain.

    Dengan kebingungan Mbak Marni mencari alasan yang lain dan tidak disadari olehnya, aku melihat dan membayangkan bentuk tubuh dan payudara Mbak Marni yang ranum dan seksi sekali. Dan aku memberanikan diri untuk melakukan permainan yang telah kutonton tadi.

    “Sini Mbak”

    “Lebih dekat lagi”

    “Lebih dekat lagi dong..”

    Mbak Marni mengikuti perintahku dan dirinya sudah dekat sekali denganku, terasa payudaranya yang ranum telah menyentuh dadaku yang naik turun oleh deruan nafsu. Aku duduk di meja makan sehingga Mbak Marni berada di selangkanganku.

    “Mas Tonny mau apa”, tanyanya.

    “Mas, mau diapain Mbak?”, tanyanya, ketika aku memegang bahunya untuk didekatkan ke selangkanganku.

    “Udah, jangan banyak tanya”, jawabku sembari aku melingkari kakiku ke pinggulnya yang seksi.

    “Jangan Mas.. jangan Mas Tonny”, pintanya untuk menghentikanku membuka kancing baju baby sitterku.

    “Jangan Mas Ton, jangan.. jangan..” tolaknya tanpa menampik tanganku yang membuka satu persatu kancing bajunya.

    Sudah empat kancing kubuka dan aku melihat bukit kembar di hadapanku, putih mulus dan mancung terbungkus oleh BH yang berenda. Tanpa kuberi kesempatan lagi untuk mengelak, kupegang payudara Mbak Marni dengan kedua tanganku dan kupermainkan puting susunya yang berwarna coklat muda dan kemerah-merahan.

    “Jangan.. jangaan Mas Tonny”

    “Akh.. akh.. jangaan, jangan Mas”

    “Akh.. akh.. akh”

    “Jangan.. Mas Tonn”

    Aku mendengar Mbak Marni mendesah-desah, aku langsung mengulum puting susunya yang belum pernah dipegang dan di kulum oleh seorang pria pun. Aku memasukkan seluruh buah dadanya yang ranum ke dalam mulutku sehingga terasa sesak dan penuh mulutku. “Okh.. okh.. Mas.. Mas Ton.. tangan ber..” tanpa mendengarkan kelanjutan dari desahan itu kumainkan puting susunya dengan gigiku, kugigit pelan-pelan. “Ohk.. ohk.. ohk..” desahan nafas Mbak Marni seperti lari 12 kilo meter. Kupegang tangan Mbak Marni untuk membuka celana dalamku dan memegang kemaluanku. Tanpa diberi aba-aba, Mbak Marni memegang kemaluanku dan melakukan gerakan mengocok dari ujung kemaluanku sampai pangkal kemaluan.

    “Okh.. okh.. Mbak.. Mbaak”

    “Teruss.. ss.. Mbak”

    “Mass.. Mass.. Tonny, saya tidak kuat lagi”

    Mendengar itu lalu aku turun dari meja makan dan kubawa Mbak Marni tiduran di bawah meja makan. Mbak Marni telentang di lantai dengan payudara yang menantang, tanpa kusia-siakan lagi kuberanikan untuk meraba selangkangan Mbak Marni. Aku singkapkan pakaiannya ke atas dan kuraba-raba, aku merasakan bahwa celana dalamnya sudah basah. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam CD-nya dan aku merasakan adanya bulu-bulu halus yang basah oleh cairan liang kewanitaannya.

    Baca Juga Cerita Seks Sebut saja namaku Lila, umurku 16 tahun

    “Mbak, dibuka yah celananya.” Mbak Marni hanya mengangguk dua kali. Sebelum kubuka, aku mencoba memasukkan telunjukku ke dalam liang kewanitaannya. Jari telunjukku telah masuk separuhnya dan kugerakkan telunjukku seperti aku memanggil anjingku.

    “Shs.. shss.. sh”

    “Cepat dibuka”, pinta Mbak Marni.

    Kubuka celananya dan kulempar ke atas kursi makan, aku melihat kemaluannya yang masih orisinil dan belum terjamah serta bulu-bulu yang teratur rapi. Aku mulai teringat akan film VCD porno yang kutonton dan kudekatkan mulutku ke liang kewanitaannya. Perlahan-lahan kumainkan lidahnku di sekitar liang surganya, ada rasa asem-asem gurih di lidahku dan kuberanikan lidahku untuk memainkan bagian dalam liang kewanitaannya. Kutemukan adanya daging tumbuh seperti kutil di dalam liang kenikmatannya, kumainkan daging itu dengan lidahku.

    “Massh.. Mass..”

    “Mbak mau kelluaar..”

    Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan “keluar”, tetapi aku semakin giat memainkan daging tumbuh tersebut, tanpa kusadari ada cairan yang keluar dari liang kewanitaannya yang kurasakan di lidahku, kulihat liang kewanitaan Mbak Marni telah basah dengan campuran air liurku dan cairan liang kewanitaannya. Lalu aku merubah posisiku dengan berlutut dan kuarahkan batang kemaluanku ke lubang senggamanya, karena sejak tadi kemaluanku tegang. “Slepp.. slepp” Aku merasakan kehangatan luar biasa di kepala kemaluanku.

    “Mass.. Mass pellann dongg..” Kutekan lagi kemaluanku ke dalam liang surganya. “Sleep.. sleep” dan, “Heck.. heck”, suara Mbak Marni tertahan saat kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaannya. “Mass.. Mass.. pelaan..” Nafsu birahiku telah sampai ke ubun-ubun dan aku tidak mendengar ucapan Mbak Marni. Maka kupercepat gerakanku. “Heck.. heck.. heck.. tolong.. tollong Mass pelan-pelan” tak lama kemudian, “Mas Tonny, Mbaak keluaar laagi” Bersamaan dengan itu kurasakan desakan yang hebat dalam kepala kemaluanku yang telah disemprot oleh cairan kewanitaan Mbak Marni. Maka kutekan sekuat-kuatnya kemaluanku untuk masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni. Kudekap erat tubuh Mbak Marni sehingga agak tersengal-sengal, tak lama kemudian, “Croot.. croot” spermaku masuk ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni.

    Setelah Mbak Marni tiga kali keluar dan aku sudah keluar, Mbak Marni lemas di sampingku. Dalam keadaan lemas aku naik ke dadanya dan aku minta untuk dibersihkan kemaluanku dengan mulutnya. Dengan sigap Mbak Marni menuruti permintaanku. Sisa spermaku disedot oleh Mbak Marni sampai habis ke dalam mulutnya. Kami melakukan kira-kira selama tiga jam, tanpa kusadari teman-temanku teriak-teriak karena kunci pintu kamarku sewaktu aku keluar tadi. “Tonny.. tolong bukain dong, pintunya” Maka cepat-cepat kuminta Mbak Marni menuju ke kamarnya untuk berpura-pura tidur dan aku naik ke atas membukakan pintu kamarku. Bertepatan dengan aku ke atas mamaku pulang naik taksi. Dan kuminta teman-temanku untuk makan oleh-oleh mamaku lalu kusuruh pulang.

    Setelah seluruh temanku pulang dan mamaku istirahat di kamar menunggu papa pulang. Aku ke kamar Mbak Marni untuk meminta maaf, atas perlakuanku yang telah merenggut keperawanannya.

    “Mbak, maafin Tonny yah!”

    “Nggak apa-apa Mas Tonny, Mbak juga rela kok”

    “Keperawanan Mbak lebih baik diambil sama kamu dari pada sama supir tetangga”, jawab Mbak Marni. Dengan kerelaannya tersebut maka, kelakuanku makin hari makin manja terhadap baby sitterku yang merawatku semenjak usiaku sembilan tahun. Sejak kejadian itu kuminta Mbak Marni main berdiri, main di taman, main di tangga dan mandi bersama, Mbak Marni bersedia melakukannya.

    Hingga suatu saat terjadi, bahwa Mbak Marni mengandung akibat perbuatanku dan aku ingat waktu itu aku kelas dua SMA. Papa dan mamaku memarahiku, karena hubunganku dengan Mbak Marni yang cantik wajahnya dan putih kulitnya. Aku dipisahkan dengan Mbak Marni, Mbak Marni dicarikan suami untuk menjadi bapak dari anakku tersebut.

    Sekarang aku merindukan kebersamaanku dengan Mbak Marni, karena aku belum mendapatkan wanita yang cocok untukku. Itulah kisahku para pembaca, sekarang aku sudah bekerja di perusahaan ayahku sebagai salah satu pimpinan dan aku sedang mencari tahu ke mana Mbak Marni, baby sitterku tersayang dan bagaimana kabarnya Tonny kecilku.Aku adalah seorang anak yang dilahirkan dari keluarga yang mampu di mana papaku sibuk dengan urusan kantornya dan mamaku sibuk dengan arisan dan belanja-belanja. Sementara aku dibesarkan oleh seorang baby sitter yang bernama Marni. Aku panggil dengan Mbak Marni.

    Peristiwa ini terjadi pada tahun 1996 saat aku lulus SMP Swasta di Jakarta. Pada waktu itu aku dan kawan-kawanku main ke rumahku, sementara papa dan mama tidak ada di rumah. Adi, Dadang, Abe dan Aponk main ke rumahku, kami berlima sepakat untuk menonton VCD porno yang dibawa oleh Aponk, yang memang kakak iparnya mempunyai usaha penyewaan VCD di rumahnya. Aponk membawa 4 film porno dan kami serius menontonnya. Tanpa diduga Mbak Marni mengintip kami berlima yang sedang menonton, waktu itu usia Mbak Marni 28 tahun dan belum menikah, karena Mbak Marni sejak berumur 20 tahun telah menjadi baby sitterku.

    Tanpa disadari aku ingin sekali melihat dan melakukan hal-hal seperti di dalam VCD porno yang kutonton bersama dengan teman-teman. Mbak Marni mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat dan tidak ketahuan oleh keempat temanku.

    “Maaf yah, gue mau ke belakang dulu..”

    “Ya.. ya.. tapi tolong ditutup pintunya yah”, jawab keempat temanku.

    “Ya, nanti kututup rapat”, jawabku.

    Aku keluar kamarku dan mendapati Mbak Marni di samping pintuku dengan nafas yang tersengal-sengal.

    “Hmm.. hmm, Mas Ton”, Mbak Marni menegurku seraya membetulkan posisi berdirinya.

    “Ada apa Mbak ngintip-ngintip Tonny dan kawan-kawan?” tanyaku keheranan.

    Hatiku berbicara bahwa ini kesempatan untuk dapat melakukan segala hal yang tadi kutonton di VCD porno.

    Perlahan-lahan kukunci kamarku dari luar kamar dan aku berpura-pura marah terhadap Mbak Marni.

    “Mbak, apa-apaan sih ngintip-ngintip segala.”

    “Hmm.. hmm, Mbak mau kasih minum untuk teman-teman Mas Tonny”, jawabnya.

    “Nanti aku bilangin papa dan mama loh, kalo Mbak Marni ngintipin Tonny”, ancamku, sembari aku pergi turun ke bawah dan untungnya kamarku berada di lantai atas.

    Mbak Marni mengikutiku ke bawah, sesampainya di bawah, “Mbak Marni, kamu ngintipin saya dan teman-teman itu maksudnya apa?” tanyaku.

    “Mbak, ingin kasih minum teman-teman Mas Tonny.”

    “Kok, Mbak nggak membawa minuman ke atas”, tanyaku dan memang Mbak Marni ke atas tanpa membawa minuman.

    “Hmm.. Hmm..” ucap Mbak Marni mencari alasan yang lain.

    Dengan kebingungan Mbak Marni mencari alasan yang lain dan tidak disadari olehnya, aku melihat dan membayangkan bentuk tubuh dan payudara Mbak Marni yang ranum dan seksi sekali. Dan aku memberanikan diri untuk melakukan permainan yang telah kutonton tadi.

    “Sini Mbak”

    “Lebih dekat lagi”

    “Lebih dekat lagi dong..”

    Mbak Marni mengikuti perintahku dan dirinya sudah dekat sekali denganku, terasa payudaranya yang ranum telah menyentuh dadaku yang naik turun oleh deruan nafsu. Aku duduk di meja makan sehingga Mbak Marni berada di selangkanganku.

    “Mas Tonny mau apa”, tanyanya.

    “Mas, mau diapain Mbak?”, tanyanya, ketika aku memegang bahunya untuk didekatkan ke selangkanganku.

    “Udah, jangan banyak tanya”, jawabku sembari aku melingkari kakiku ke pinggulnya yang seksi.

    “Jangan Mas.. jangan Mas Tonny”, pintanya untuk menghentikanku membuka kancing baju baby sitterku.

    “Jangan Mas Ton, jangan.. jangan..” tolaknya tanpa menampik tanganku yang membuka satu persatu kancing bajunya.

    Sudah empat kancing kubuka dan aku melihat bukit kembar di hadapanku, putih mulus dan mancung terbungkus oleh BH yang berenda. Tanpa kuberi kesempatan lagi untuk mengelak, kupegang payudara Mbak Marni dengan kedua tanganku dan kupermainkan puting susunya yang berwarna coklat muda dan kemerah-merahan.

    “Jangan.. jangaan Mas Tonny”

    “Akh.. akh.. jangaan, jangan Mas”

    “Akh.. akh.. akh”

    “Jangan.. Mas Tonn”

    Aku mendengar Mbak Marni mendesah-desah, aku langsung mengulum puting susunya yang belum pernah dipegang dan di kulum oleh seorang pria pun. Aku memasukkan seluruh buah dadanya yang ranum ke dalam mulutku sehingga terasa sesak dan penuh mulutku. “Okh.. okh.. Mas.. Mas Ton.. tangan ber..” tanpa mendengarkan kelanjutan dari desahan itu kumainkan puting susunya dengan gigiku, kugigit pelan-pelan. “Ohk.. ohk.. ohk..” desahan nafas Mbak Marni seperti lari 12 kilo meter. Kupegang tangan Mbak Marni untuk membuka celana dalamku dan memegang kemaluanku. Tanpa diberi aba-aba, Mbak Marni memegang kemaluanku dan melakukan gerakan mengocok dari ujung kemaluanku sampai pangkal kemaluan.

    “Okh.. okh.. Mbak.. Mbaak”

    “Teruss.. ss.. Mbak”

    “Mass.. Mass.. Tonny, saya tidak kuat lagi”

    Mendengar itu lalu aku turun dari meja makan dan kubawa Mbak Marni tiduran di bawah meja makan. Mbak Marni telentang di lantai dengan payudara yang menantang, tanpa kusia-siakan lagi kuberanikan untuk meraba selangkangan Mbak Marni. Aku singkapkan pakaiannya ke atas dan kuraba-raba, aku merasakan bahwa celana dalamnya sudah basah. Tanganku mulai kumasukkan ke dalam CD-nya dan aku merasakan adanya bulu-bulu halus yang basah oleh cairan liang kewanitaannya.

    “Mbak, dibuka yah celananya.” Mbak Marni hanya mengangguk dua kali. Sebelum kubuka, aku mencoba memasukkan telunjukku ke dalam liang kewanitaannya. Jari telunjukku telah masuk separuhnya dan kugerakkan telunjukku seperti aku memanggil anjingku.

    “Shs.. shss.. sh”

    “Cepat dibuka”, pinta Mbak Marni.

    Kubuka celananya dan kulempar ke atas kursi makan, aku melihat kemaluannya yang masih orisinil dan belum terjamah serta bulu-bulu yang teratur rapi. Aku mulai teringat akan film VCD porno yang kutonton dan kudekatkan mulutku ke liang kewanitaannya. Perlahan-lahan kumainkan lidahnku di sekitar liang surganya, ada rasa asem-asem gurih di lidahku dan kuberanikan lidahku untuk memainkan bagian dalam liang kewanitaannya. Kutemukan adanya daging tumbuh seperti kutil di dalam liang kenikmatannya, kumainkan daging itu dengan lidahku.

    “Massh.. Mass..”

    “Mbak mau kelluaar..”

    Aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan “keluar”, tetapi aku semakin giat memainkan daging tumbuh tersebut, tanpa kusadari ada cairan yang keluar dari liang kewanitaannya yang kurasakan di lidahku, kulihat liang kewanitaan Mbak Marni telah basah dengan campuran air liurku dan cairan liang kewanitaannya. Lalu aku merubah posisiku dengan berlutut dan kuarahkan batang kemaluanku ke lubang senggamanya, karena sejak tadi kemaluanku tegang. “Slepp.. slepp” Aku merasakan kehangatan luar biasa di kepala kemaluanku.

    “Mass.. Mass pellann dongg..” Kutekan lagi kemaluanku ke dalam liang surganya. “Sleep.. sleep” dan, “Heck.. heck”, suara Mbak Marni tertahan saat kemaluanku masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaannya. “Mass.. Mass.. pelaan..” Nafsu birahiku telah sampai ke ubun-ubun dan aku tidak mendengar ucapan Mbak Marni. Maka kupercepat gerakanku. “Heck.. heck.. heck.. tolong.. tollong Mass pelan-pelan” tak lama kemudian, “Mas Tonny, Mbaak keluaar laagi” Bersamaan dengan itu kurasakan desakan yang hebat dalam kepala kemaluanku yang telah disemprot oleh cairan kewanitaan Mbak Marni. Maka kutekan sekuat-kuatnya kemaluanku untuk masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni. Kudekap erat tubuh Mbak Marni sehingga agak tersengal-sengal, tak lama kemudian, “Croot.. croot” spermaku masuk ke dalam liang kewanitaan Mbak Marni.

    Setelah Mbak Marni tiga kali keluar dan aku sudah keluar, Mbak Marni lemas di sampingku. Dalam keadaan lemas aku naik ke dadanya dan aku minta untuk dibersihkan kemaluanku dengan mulutnya. Dengan sigap Mbak Marni menuruti permintaanku. Sisa spermaku disedot oleh Mbak Marni sampai habis ke dalam mulutnya. Kami melakukan kira-kira selama tiga jam, tanpa kusadari teman-temanku teriak-teriak karena kunci pintu kamarku sewaktu aku keluar tadi. “Tonny.. tolong bukain dong, pintunya” Maka cepat-cepat kuminta Mbak Marni menuju ke kamarnya untuk berpura-pura tidur dan aku naik ke atas membukakan pintu kamarku. Bertepatan dengan aku ke atas mamaku pulang naik taksi. Dan kuminta teman-temanku untuk makan oleh-oleh mamaku lalu kusuruh pulang.

    Setelah seluruh temanku pulang dan mamaku istirahat di kamar menunggu papa pulang. Aku ke kamar Mbak Marni untuk meminta maaf, atas perlakuanku yang telah merenggut keperawanannya.

    “Mbak, maafin Tonny yah!”

    “Nggak apa-apa Mas Tonny, Mbak juga rela kok”

    “Keperawanan Mbak lebih baik diambil sama kamu dari pada sama supir tetangga”, jawab Mbak Marni. Dengan kerelaannya tersebut maka, kelakuanku makin hari makin manja terhadap baby sitterku yang merawatku semenjak usiaku sembilan tahun. Sejak kejadian itu kuminta Mbak Marni main berdiri, main di taman, main di tangga dan mandi bersama, Mbak Marni bersedia melakukannya.

    Hingga suatu saat terjadi, bahwa Mbak Marni mengandung akibat perbuatanku dan aku ingat waktu itu aku kelas dua SMA. Papa dan mamaku memarahiku, karena hubunganku dengan Mbak Marni yang cantik wajahnya dan putih kulitnya. Aku dipisahkan dengan Mbak Marni, Mbak Marni dicarikan suami untuk menjadi bapak dari anakku tersebut. Cerita Maya

    Sekarang aku merindukan kebersamaanku dengan Mbak Marni, karena aku belum mendapatkan wanita yang cocok untukku. Itulah kisahku para pembaca, sekarang aku sudah bekerja di perusahaan ayahku sebagai salah satu pimpinan dan aku sedang mencari tahu ke mana Mbak Marni, baby sitterku tersayang dan bagaimana kabarnya Tonny kecilku.

  • Sebut saja namaku Lila, umurku 16 tahun

    Sebut saja namaku Lila, umurku 16 tahun


    691 views

    Cerita Maya | Sebut saja namaku Lila, umurku 16 tahun, kelas 2 SMA. Sebagai anak SMA, tinggiku relatif sedang, 165 cm, dengan berat 48 kg, dan cup bra 34B. Untuk yang terakhir itu, aku memang cukup pede. Walau sebenarnya wajahku cukup manis (bukannya sombong, itu kata teman-temanku…) aku sudah lumayan lama menjomblo, 1 tahun. Itu karena aku amat selektif memilih pacar… enggak mau salah pilih kayak yang terakhir kali.

    Sebut saja namaku Lila, umurku 16 tahun
    Di sekolah aku punya teman akrab namanya Stella. Dia juga lumayan cantik, walau lebih pendek dariku, tapi dia sering banget gonta-ganti pacar. Stella memang sangat menarik, apalagi ia sering menggunakan seragam atau pakaian yang minim… peduli amat kata guru, pesona jalan terus!

    Saat darmawisata sekolah ke Cibubur, aku dan dia sekamar, dan empat orang lain. Satu kamar memang dihuni enam orang, tapi sebenarnya kamarnya kecil bangeeet… aku dan Stella sampai berantem sama guru yang mengurusi pembagian kamar, dan alhasil, kami pun bisa memperoleh villa lain yang agak lebih jauh dari villa induk. Cerita Maya

    Disana, kami berenam tinggal dengan satu kelompok cewek lainnya, dan di belakang villa kami, hanya terpisah pagar tanaman, adalah villa cowok.

    “Lil, lo udah beres-beres, belum?” tanya Stella saat dilihatnya aku masih asyik tidur-tiduran sambil menikmati dinginnya udara Cibubur, lain dengan Jakarta.

    “Belum, ini baru mau.” Jawabku sekenanya, karena masih malas bergerak.

    “Nanti aja, deh. Kita jalan-jalan, yuk,” ajak Stella santai.

    “Boljug…” gumamku sambil bangun dan menemaninya jalan-jalan. Kami berkeliling melihat-lihat pasar lokal, villa induk, dan tempat-tempat lain yang menarik. Di jalan, kami bertemu dengan Rio, Adi, dan Yudi yang kayaknya lagi sibuk bawa banyak barang.

    “Mau kemana, Yud?” sapa Stella.

    “Eh, Stel. Gue ama yang lain mau pindahan nih ke villa cowok yang satunya, villa induk udah penuh sih.” Rio yang menjawab. “Lo berdua mau bantu, nggak? Gila, gue udah nggak kuat bawa se-muanya, nih.” Pintanya memelas.

    “Oke, tapi yang enteng ajaaa…” jawabku sambil mengambil alih beberapa barang ringan. Stella ikut meringankan beban Adi dan Yudi.

    Sampai di villa cowok, aku bengong. Yang bener aja, masa iya aku dan Stella harus masuk ke sana? Akhirnya aku dan Stella hanya mengantar sampai pintu. Yudi dan Adi bergegas masuk, sementara Rio malah santai-santai di ruang tamu. “Masuk aja kali, Stel, Lil.” Ajaknya cuek.

    “Ngng… nggak usah, Yud.” Tolakku. Stella diam aja.

    “Stella! Sini dong!” terdengar teriakan dari dalam. Aku mengenalinya sebagai suara Feri.

    “Gue boleh masuk, ya?” tanya Stella sambil melangkah masuk sedikit.

    “Boleh doooong!!” terdengar koor kompak anak cowok dari dalam. Stella langsung masuk, aku tak punya pilihan lain selain mengikutinya.

    Di dalam, anak-anak cowok, sekitar delapan orang, kalo Rio yang diluar nggak dihitung, lagi asyik nongkrong sambil main gitar. Begitu melihat kami, mereka langsung berteriak girang, “Eh, ada cewek!! Serbuuuuu!!” Serentak, delapan orang itu maju seolah mau mengejar kami, aku dan Stella langsung mundur sambil tertawa-tawa.

    Aku langsung mengenali delapan orang itu, Yudi, Adi, Feri, Kiki, Dana, Ben, Agam, dan Roni. Semua dari kelas yang berbeda-beda.

    Tak lama, aku dan Stella sudah berada di antara mereka, bercanda dan ngobrol-ngobrol. Stella malah dengan santai tiduran telungkup di kasur mereka, aku risih banget melihatnya, tapi diam aja. Entah siapa yang mulai, banyak yang menyindir Stella.

    “Stell… nggak takut digrepe-grepe lu di atas sana?” tanya Adi bercanda.

    “Siapa berani, ha?” tantang Stella bercanda juga. Tapi Kiki malah menanggapi serius, tangannya naik menyentuh bahu Stella. Cewek itu langsung mem*kik menghindar, sementara cowok-cowok lain malah ribut menyoraki. Aku makin gugup.

    “Stell, bener ya kata gosip lo udah nggak virgin?” kejar Roni.

    “Kata siapa, ah…” balas Stella pura-pura marah. Tapi gayanya yang kenes malah dianggap seb-agai anggukan iya oleh para cowok. “Boleh dong, gue juga nyicip, Stell?” tanya Dio.

    Stella diam aja, aku juga tambah risih. Apalagi pundak Feri mulai ditempelkan ke pundakku, dan entah sengaja atau tidak, tangan Agam menyilang di balik punggungku, seolah hendak merangkul. Bingung karena diimpit mereka, aku memutuskan untuk tidak bergerak.

    “Gue masih virgin, Lila juga… kata siapa itu tadi?” omel Stella sambil bergerak untuk turun dari kasur. Tapi ditahan Roni. “Gitu aja marah, udah, kita ngobrol lagi, jangan tersinggung.” Bujuknya sambil mengelus-elus rambut Stella. Aku tahu Stella dulu pernah suka sama Roni, jadi dia membi-arkan Roni mengelus rambut dan pundaknya, bahkan tidak marah saat dirangkul pinggangnya.

    “Lil, lo mau dirangkul juga sama gue?” bisik Agam di telingaku. Rupanya ia menyadari kalau aku memperhatikan tangan Roni yang mengalungi pinggang Stella. Tanpa menunggu jawaban, Agam memeluk pinggangku, aku kaget, namun sebelum protes, tangan Feri sudah menempel di pahaku yang terbungkus celana selutut, sementara pelukan Agam membuatku mau tak mau berbaring di dadanya yang bidang.

    Teriakan protes dan penolakanku tenggelam di tengah-tengah sorakan yang lain. Rio bahkan sampai masuk ke kamar karena mendengar ribut-ribut tadi.

    “Gue juga mau, dong!” Yudi dan Kiki menghampiri Stella yang juga lagi dipeluk Roni, sementara Adi, Ben, dan Rio menghampiriku. Berbeda denganku yang menjerit ketakutan, Stella malah kelihatan keenakan dipeluk-peluki dari berbagai arah oleh cowok-cowok yang mulai kegirangan itu.

    “Jangan!” teriakku saat Rio mencium pipi, dan mulai merambah bibirku. Sementara Ben menjilati leherku dan tangannya mampir di dada kiriku, meremas-remasnya dengan gemas sampai aku ke-gelian.

    Kurasakan genggaman kuat Feri di dada kananku, sementara Adi menjilati pusarku. Terny-ata mereka telah mengangkat kaosku sampai sebatas dada. Aku menjerit-jerit memohon supaya mereka berhenti, tapi sia-sia.

    Kulirik Stella yang sedang mendapat perlakuan sama dari Roni, Yudi, dan Kiki, bahkan Dana telah melucuti celana jins Stella dan melemparnya ke bawah kasur.

    Lama-kelamaan, rasa geli yang nikmat membungkus tubuhku. Percuma aku menjerit-jerit, akhir-nya aku pasrah. Melihatnya, Agam langsung melucuti kaosku, dan mencupang punggungku. Feri dan Rio bahkan sudah membuka seluruh pakaian mereka kecuali celana dalam.

    Aku kagum juga melihat dada Feri yang bidang dan harumnya khas cowok. Aku hanya bisa terdiam dan meringis nikmat saat dada bidang itu mendekapku dan menciumi bibirku dengan ganas.

    Baca Juga Cerita Seks Kupuaskan Teman Istriku Yang Kesepian

    Aku membalas ciu-man Feri sambil menikmati bibir Adi yang tengah mengulum payudaraku yang ternyata sudah terl-epas dari pelindungnya. Vaginaku terasa basah, dan gatal. Seolah mengetahuinya, Rio membuka celanaku sekaligus CDku sehingga aku langsung bugil. Agak risih juga dipandangi dengan begitu liar dan berhasrat oleh cowok-cowok itu, tapi aku sudah mulai keenakan.

    “Ssshh…. aaakhh…” aku mendesis saat Adi dan Ben melumat payudaraku dengan liar. “Mmmh, toket lo montok banget, Liiiil…” gumam Ben. Aku tersenyum bangga, namun tidak lama, karena aku langsung menjerit kecil saat kurasakan sapuan lidah di bibir vaginaku. “Cihuy… Lila emang masih perawan…” Agam yang entah sejak kapan sudah berada di daerah rahasiaku menyeringai. “Akkkhh… jangan Gam…” desahku saat kurasakan kenikmatan yang tiada tara.

    “Gue udah kebelet, niih… gue perawanin ya, Lil…” Tak terasa, sesuatu yang bundar dan keras menyusup ke dalam vaginaku, ternyata penis Agam sudah siap untuk bersarang disana. Aku men-desah-desah diiringi jeritan kesakitan saat ia menyodokku dan darah segar mengalir. “Sakiiit…” erangku. Agam menyodok lagi, kali ini penisnya sudah sepenuhnya masuk, aku mulai terbiasa, dan ia pun langsung menggenjot dan menyodok-nyodok. Aku mengerang nikmat.

    “Ssshh… terusss… yaaa, akh! Akh! Nikmat, Gam! Teruuss… sayang, puasin gue… Akkkhh…”

    Sementara pantat Agam masih bergoyang, cowok-cowok lain yang sudah telanjang bulat juga mulai berebutan menyodorkan penis mereka yang sudah tegang ke bibirku.

    “Gue dulu ya, Lil… nih, lu karaoke,” ujar Rio sambil menyodokkan penisnya ke dalam mulutku. Aku agak canggung dan kaget menerimanya, tapi kemudian aku mulai mengulumnya dan mempe-rmainkan lidahku menjelajahi barang Rio.

    Ia mendesah-desah keenakan sambil merem-melek. Sementara Ben masih menikmati buah dadaku, Adi nampaknya sudah mulai beranjak ke arah Stella yang dikerubuti dan digenjot juga sama sepertiku.

    Bedanya, kulihat Stella sudah nungging, ala doggy style, penis Dana tengah menggenjot vaginanya dan toketnya yang menggantung sedang dilahap oleh Kiki, sementara mulutnya mengoral penis Yudi. Stella nampak amat menikm-atinya, dan cowok-cowok yang mengerumuninya pun demikian.

    Beberapa saat kemudian, kulihat Dana orgasme, dan kemudian Rio yang keenakan barangnya kuoral juga orgasme dalam mulutku, aku kewalahan dan hampir saja memuntahkan cairannya.

    Mendadak, kurasakan vaginaku banjir, ternyata Agam sudah orgasme dan menembakkan sper-manya di dalam vaginaku, cowok itu terbaring lemas di sampingku, untuk beberapa menit, kukira ia tidur, tapi kemudian ia bangun dan menciumi pusarku dengan penuh nafsu. Kini, vaginaku suda-h diisi lagi dengan penis Beni.

    Penisnya lebih besar dan menggairahkan, sehingga membuat mata-ku terbelalak terpesona. Beni menyodokkan penisnya dengan pelan-pelan sebelum mulai mengg-enjotku, rasanya nikmat sekali seperti melayang. Kedua kakiku menjepit pinggangnya dan bongka-han pantatku turut bergoyang penuh gairah. Kubiarkan tubuhku jadi milik mereka.

    “Akkkhh…. ssshh… terus, teruuusss sayaaang… akh, nikmat, aaahhh…” erangku keenakan. Tok-etku yang bergoyang-goyang langsung ditangkap oleh mulut dan tangan Rio. Ia memainkan puting susuku dan mencubit-cubitnya dengan gemas, aku semakin berkelojotan keenakan, dan meracau tidak jelas, “Akkkhh… teruuuss… entot gue, entooott gue teruuss! Gue milik luu… aakhh…!!”

    “Iya sayyyaangg… gue entot lu sampe puasss…” sahut Ben sambil mencengkeram pantatku dan mempercepat goyangan penisnya. Rio juga semakin lahap menikmati gunung kembarku, menjilat, menggigit, mencium, seolah ingin menelannya bulat-bulat, dan sebelum aku sempat meracau lagi, Agam telah mendaratkan bibirnya di bibirku, kami saling berpagutan penuh gairah, melilitkan lidah dengan sangat liar, dan klimaksnya saat gelombang kenikmatan melandaku sampai ke puncaknya.

    “Aaakkhh…. gue mau…!” Belum selesai ucapanku, aku langsung orgasme. Ben menyusul beber-apa saat kemudian, dan vaginaku benar-benar banjir. Tubuh Ben langsung jatuh dengan posisi penisnya masih dalam jepitan vaginaku, ia memeluk pinggangku dan menciumi pusarku dengan lemas.

    Sementara aku masih saja digerayangi oleh Agam yang tak peduli dengan keadaanku dan meminta untuk dioral, dan Rio yang menggosok-gosokkan penisnya di toketku dengan nikmat.

    Beberapa saat kemudian, Agam pun orgasme lagi. Agam jatuh dengan posisi wajah tepat di sampingku, sementara Rio tanpa belas kasihan memasukkan penisnya ke vaginaku, dan mengge-njotku lagi sementara aku berciuman penuh gairah dengan Agam.

    Selang beberapa saat Rio org-asme dan jatuh menindihku dengan penis masih menancap, ia memelukku mesra sebelum kemud-ian tertidur. Aku sempat mendengar erangan nikmat dari arah Stella, sebelum akhirnya benar-benar tertidur kecapekan, membiarkan Beni dan Agam yang masih menciumi sekujur tubuhku. Cerita Maya

    Selama tiga hari kami disana, kami selalu melakukannya setiap ada kesempatan. Sudah tak ter-hitung lagi berapa kali penis mereka mencumbu vaginaku, namun aku menikmati itu semua. Bahk-an, bila tak ada yang melihat, aku dan Stella masih sering bermesraan dengan salah satu dari mereka, seperti saat aku berpapasan dengan Agam di tempat sepi, aku duduk di pangkuannya sementara tangannya menggerayangi dadaku, dan bibirnya berciuman dengan bibirku, dan penis-nya menusuk-nusukku dari bawah.

    Sungguh pengalaman yang mendebarkan dan penuh nikmat—tubuhku ini telah digauli dan dimiliki beramai-ramai, namun aku malah ketagihan.

  • Kupuaskan Teman Istriku Yang Kesepian

    Kupuaskan Teman Istriku Yang Kesepian


    739 views

    Cerita Maya | Suatu malam hari aku sampai di rumah sekitar jam 6. 30, aku ketemu isteri, Yuni, di teras dan minta dia bikinin kopi. Aku buru-buru masuk kamar mandi yang ada di kamar utamaku, bilang sama dia kalo kebelet pipis, padahal aku mau ngecek kalo ada bekas-bekas liptick atau apa lainnya dari Bu Henny atau Bu Yanti tadi (pernah ketahuan sekali ada bekas liptick di bajuku dan kami ribut sekitar 1 minggu). Aku mandi air panas dari shower sekitar 10 menit. Badanku jadi segar kembali. Aku lupa enggak bawa handuk jadi keluar dari kamar mandi telanjang.

    Kupuaskan Teman Istriku Yang Kesepian

    Sedang aku cari handuk, isteriku masuk kamar terus bilang

    ”Bugil, nich ye. Sini, aku cariin handuk”.

    Dia ambil handuk, dikasihkan ke aku, tapi tangannya sempat memegang kontolku sambil ngomong”Yang beginian aja koq banyak yang nyari”.

    Deg, aku kaget dalam hati. Apa dia tahu lagi aku menyeleweng? Apa dia tahu hari ini aku masuk motel sama cewek? Apa Bu Yanti udah telepon dia?

    Aku masih diam dan takut ketahuan, ketika isteriku bilang

    ”Kopinya udah Mas, mumpung masih panas diminum, ada lumpia sama cake juga tuch”.

    “Iya, iya”, kataku.

    Aku pakai celana pendek (CD juga) dan kaos oBLong dan ke ruang keluarga minum kopi dan menikmati snack, sambil baca koran sementara isteriku menemani, juga Dinda, teman isteriku. Sekitar jam 7. 30 aku masuk kamar, bilang mau tidur dulu. Aku betul-betul cape, habis seharian ngerjain dua perempuan masing-masing dua kali lagi. Aku terlelap. Cerita Maya

    Aku terbangun ketika merasakan ada tangan halus menggerayangi kontolku, aku buka mata eh isteriku duduk diranjang dan cepat sekali mencopot celana pendekku sekaligus CD ku dia langsung sedot kontolku dia kulum dia jilat-jilat kepala kontolku biji pelerku. Ini betul-betul kejutan karena sudah lama sekali dia enggak pernah ngoral aku. Tapi aku juga khawatir jangan-jangan dia mau bikin ngaceng kontolku terus memotongnya, karena aku ingat kata-kata dia waktu ngambilin handuk tadi”Yang beginian aja koq banyak yang nyari”. Aku jadi waspada, tetapi itu enggak terjadi, malah sesudah sekitar 5 menit isteriku ngoral kontolku, langsung dia buka semua pakaiannya, kaosku juga dibukain dan dia jongkok diatas kontolku, nafsu sekali dia, dia pegang dan masukin ke vaginanya, dia main atas menghadapku sekitar 7 menit, ganti posisi membelakangiku tanpa mencabut kontolku (persis seperti Bu Yanti tadi siang), dia menurun-naikkan pantatnya kencang sekali, penuh gairah yang enggak biasa-biasanya. Karena rahasia keluarga, aku enggak ceritain detilnya, yang jelas sesudah sekitar 20 menit aku masih bisa keluarin pejuh meski cuma beberapa tetes.

    Sesudah selesai, isteriku dengan lembut sekali membersihkan kontolku, dia sendiri kemudian ke kamar mandi, terus tiduran diatas dadaku, dia elus-elus dadaku, dikecupnya bibirku. Aku sangat heran dengan perlakuannya yang sudah lama sekali enggak dia berikan padaku.

    Akhirnya dia bilang

    ”Mas, aku mau cerita dan minta sesuatu ke Mas. Tapi sangat rahasia, Mas”.

    “Ada apa, Niek? Kalo bisa, ya kenapa enggak?”.

    Dengan suara lembut akhirnya isteriku buka rahasia, kalo dia meminta aku memberikan kehangatan buat Ibu Dinda. Bu Dinda, teman isteriku, umurnya 42 th, punya anak 1 dan suaminya lagi tugas belajar diluar negeri sudah 1 th tinggal 1 th lagi. Dulu Dinda diajak suaminya ke LN enggak mau, dia memilih ambil MM bidang IT (Information Technology) di satu universitas di Jakarta, dengan izin cuti panjang dari perusahaannya di Solo.

    Selama di Jakarta, dia banyak tinggal di rumah kami, meski sering bolak balik Jakarta-Solo menengok anaknya yang diasuh orang tua Bu Dinda. Aku tahu dia rajin sekali belajar dan cari data dari banyak instansi, juga mengakses internet untuk mendapatkan data maupun pengetahuan IT yang modern dari universitas di Jepang, Amrik juga Inggris. Dia juga sangat rajin senam, fitness maupun BL, beberapa kali aku temanin dia jogging di Senayan. Dia selalu anggun dengan BLazer dan mobil kecil yang dibawanya dari Solo, meskipun dirumah selalu santai dengan pakaian longgar. Memang bodynya aduhai sekali, ditambah kulitnya yang mulus kencang. Payudaranya kelihatan kencang, pinggulnya bagus dan pantat bulat padat. Tapi aku enggak pernah mikirin Bu Dinda yang aneh-aneh. Waktu aku kelihatan bengong mendengarkan permintaan isteriku, isteriku bilang kalo Bu Dinda sendiri yang memintanya, sudah beberapa kali dengan pertimbangan2 mendalam.

    Bu Dinda selama ini mencoba menahan hasrat sexualnya melalui kegiatan-kegiatan belajar, senam, fitness, BL, tapi keinginan bersanggama enggak bisa dihilangkan. Bu Dinda onani, tapi enggak puas juga. Waktu suaminya belum ke LN mereka paling sedikit sehari sekali ML. Bu Dinda juga punya teman deket selama belajar di Jakarta, dia pikir apa mau ngajak mereka ML. Tapi akhirnya Bu Dinda memilih aku, karena dianggap bisa menjaga rahasia, demikian juga isteriku, tanpa Bu Dinda dan suami serta keluarganya kehilangan nama baik di masyarakat. Isteriku sendiri bilang kalo tidak keberatan.

    “Itulah Mas, ceritanya. Kalo Mas mau, malam ini aku atur acara sama Ibu Dinda. Tapi terus terang tadi aku kerjain Mas, soalnya aku mau duluan sebelum Bu Dinda kerjain punya Mas ini”, kata isteriku sambil tersenyum nakal sambil memegang kontolku.

    Baca Juga Cerita Seks Ngentot Mama Kawanku Yang Penuh Gairah

    Aku masih diam saja, enggak percaya sama permintaan yang enggak masuk akal ini, tidur sama Ibu Dinda yang sama sekali nonsense menurutku.

    Petang Hari Dengan Ibu Dinda

    Kami makan bertiga, aku duduk diujung meja dengan isteri disebelah kananku dan Ibu Dinda disebelah kiriku. Pemandangan biasa sehari-hari. Tapi kali ini, bukan lagi biasa. Aku makan cukup banyak.

    Sesudah makan, Ibu Dinda mau kupasin mangga, tapi isteriku bilang”Nggak usah Bu, biar aku aja. Ibu temanin Mas aja”.

    Kami di meja makan sekitar 30 menit. Kecuali cerita bohong kalo aku cape sekali kena macet dijalan dan banyak kerjaan harus ke Cikarang ngecek inventory disana, aku banyak diam, tapi pikiranku mulai ngebayangin Ibu Dinda yang memang cantik, anggun, berwibawa dan sexy, aku bayangin gerakan2nya kalo fitness, kalo senam ringan waktu pantatnya nungging, waktu jogging buah dadanya goyang-goyang. Ibu Dinda suka dansa, dia juga bisa tari Jawa. Enggak terasa lutut kaki kiriku menempel ke kaki kanan Bu Dinda dibawah meja dan ini mulai menimbulkan sensasi sexual yang menggairahkan.

    Sesudah selesai makan, isteriku bilang”Ibu keatas dulu ya, siapin VCD, kita karaoke bareng-bareng. Aku mau benahin ini dulu”, kata isteriku yang cepat membersihkan meja dll karena pembantu kami cuman kerja siang hari aja, jadi kami cuma bertiga kalo malam hari.

    Isteriku memang baik sekali, dia juga siapin vitamin h. n dan i. (nggak boleh sebut merek kan?) supaya aku perkasa, dia tersenyum waktu nyuruh aku minum, mungkin dalam hati dia bilang”Nih biar kuat, tadi kan cuma ngecret aja”.

    Kami bertiga berkaraoke ria di kamar keluarga diatas. Suasana santai yang diciptakan isteriku, lagu-lagu yang kami nyanyikan bersama, benar-benar memberikan kelegaan, keriangan dan kedekatan hatiku dengan Bu Dinda. Rasa cape-cape hilang semuanya. Aku duduk ditengah diapit Yuni dan Ibu Dinda di sofa besar yang empuk, kadang-kadang berdiri waktu nyanyi, sekali-sekali makan cake dan minum coca cola yang disediakan isteriku. Ada sekitar 1 jam acara karaokean ini, terus isteriku ngusulin kita melantai aja, dia pilih lagu-lagu berirama walts seperti Tenneese Waltz, The Last Waltz dan sejenisnya. Isteriku mula-mula ajak aku dansa, dia seakan demonstasikan didepan Ibu Dinda gimana pasangan suami-isteri dansa sambil berpelukan erat, pipi menempel, tangan meraba pantat dansa yang pelan merangsang.

    Sesudah 3 lagu, kemudian dia suruh aku gantian sama Ibu Dinda sambil berbisik”Sekarang Mas sama Bu Dinda ya. Aku ikhlas sekali, Mas”.

    Aku enggak perlu lagi menjawabnya, karena aku memang sudah ingin mendekap Ibu Dinda. Aku dekatin Dinda, aku ajak dia dengan senyum yang Bu Dinda balas dengan senyum manis sekali, aku rangkul kemudian langkah kakiku dan Bu Dinda mengikuti waltz demi waltz yang enggak terputus, karena udah disetel sama isteriku. Awalnya aku belum rapat memeluk Bu Dinda, mungkin aku ragu dan dia juga malu-malu, tapi aku mulai merasakan kehangatan tubuh indah ini, body tinggi dengan porsi atletis, lekuk-liku yang artistik sekali, Hemm, Bu Dinda memakai parfum yang merangsang seperti yang dipakai Bu Yanti tadi. Aku yang Cuma pakai celanda pendek dan kaos, juga Bu Dinda dengan short ketat dan kaos pendek tanpa beha berpelukan erat dan semakin erat, kepalanya bersandar di bahuku, payudaranya menempel ketat di dadaku, pantatnya yang besar keras aku rapatkan sambil terus aku elus-elus, barangnya yang cembung menempel dikontolku yang keduanya hanya dibatasi celana. detak jantungku bertambah kuat, nafas menderu panas.

    Aku lihat isteriku udah enggak ada lagi, dia sangat baik memberikan kesempatan kami mereguk kehangatan. Sambil kaki masih mengayun enggak karuan lagi mengikuti irama lagu, aku copot kaosku dan aku juga mencopot kaos ketat Bu Dinda. Bukan main Semua cewek hari ini kalah sama Bu Dinda, susu Bu Henny kalah besar, payudara Bu Yanti kalah kenyal, juga isteriku tentu saja. Aku masih meneruskan ayunan kaki, tapi bibir ini mulai mencium buah dada Bu Dinda hingga dia mengerang, aku kulum pentilnya yang masih kecil (mungkin dulu dia enggak nyusuin anaknya) warnanya kemerahan. Aku enggak tahu lagi apa musik masih mengalun apa enggak, tangan ini mulai meremas buah dada yang indah sekali itu mengelus perutnya yang kecil meraba dan menekan pantatnya yang besar keras aku tempelkan kontolku kencang sekali keshort ketatnya yang membentuk cembung karena vaginanya Di atas ada kamar yang cukup besar, aku ayunkan Bu Dinda dengan langkah pelan kedalam sambil berpelukan erat, aku hidupkan AC dan aku melantai atau lebih tepat mengadu badan didepan kaca besar.

    Aku nikmati tubuh indah melalui kaca, aku rasakan kehangatan nafas Bu Dinda, aku hirup wangi tubuhnya wangi wanita yang minta dipuaskan syahwatnya. Bu Dinda kelihatan malu waktu melihat dirinya di kaca, dia alihkan pandangan ketempat lain. Aku sengaja lama-lamain kemesraan ini, sekaligus memulihkan kondisiku alias mengembalikan keperkasaan kontolku setelah minum vitamin dan obat kuat dari isteriku tadi. Ibu Dinda pasrah tapi enggak mau pro-aktif, mungkin masih malu, dia biarkan aku berbuat apa saja menggerayangi lekuk-liku tubuhnya dan kemudian melucuti short dan sekaligus CD nya kaki yang indah, paha yang berisi. Aku renggangkan pelukan dan pandang tubuh indah Bu Dinda, dia malu.

    “Mas, jangan dilihat gitu ach”, sambil dia merebahkan badannya ke aku.

    Aku peluk dia, aku cium dan aku balikkan kearah kaca.

    “Mas, malu ah Mas”, kata Bu Dinda waktu melihat tubuhnya telanjang bulat di kaca.

    Tapi aku perkuat rangkulanku sambil meremas buah dadanya, aku cium lehernya dan tanganku yang lain meraba-raba pusat kewanitaannya yang berambut tipis tanganku kuat memegang pahanya aku buka selangkangannya, aku telusuri vaginanya yang kenyal aku elus belahannya.

    “Mas. udah Mas.”, kata Bu Dinda dan memang aku merasakan cairan hangat keluar dari vaginanya.

    “Aku keluar Mas”.

    Dia mulai gemetar, lalu aku angkat dia ke ranjang besar. aku rebahkan dan lagi aku raba-raba vaginanya. aku elus itilnya. aku lihat merah sekali. Bu Dinda cepat-cepat menutupinya, tapi aku angkat lagi tangannya karena aku mau menikmati pemandangan ‘apem Solo belah tengah’ yang gurih ini. Aku sengaja enggak mau ngoral dia, aku sentuhkan jariku pelan-pelan ke itilnya. Bibir kemaluan Bu Dinda semakin basah. Aku enggak tahan lagi, aku lepas celana pendek dan CDku aku naik ke atas dan aku arahkan kontolku yang ngaceng keras itu kelubang kemaluan Bu Dinda aku tekan sekali dua kali belum masuk, akhirnya tangan Dinda membantu mengarahkan ke lubang kemaluannya yang sempit sekali, dan akhirnya BLees kepala kontolku menembus kemaluan Bu Dinda yang rapet, sesak rasanya. Aku maklum vagina Bu Dinda udah setahun enggak kemasukan kontol jadi kaget tapi senang sekali apalagi tadi aku bilang kepala kontolku memang besar meski panjang kontolku biasa-biasa aja. Aku sadar siapa yang aku setubuhi, maka aku beraksi gentleman cara halus aku pakai aku tusuk pelan tapi mantap ada mungkin 5 menit ketika Bu Dinda berbisik”Mas cape ya? Biar aku yang kerja”.

    Bu Dinda ambil alih kendali senggama, dia goyangkan pantatnya enggak terlalu cepat, tapi dia kerja dengan tenaga dalamnya otot-otot vaginanya mencengkeram erat kontolku memiji-mijit batang kemaluanku, aku betul-betul keenakan, jarang sekali perempuan bisa empot-empot ayam seperti Bu Dinda. Isteriku pernah coba, tapi enggak lagi sesudah punya anak, beberapa cewek bisa empot-empot ayam, yang terlama dan terkuat aku ingat Mbak Rita cewek Kuningan yang aku pernah aku entotin tiga kali. Aku enggak perlu keluar banyak energi menyetubuhi Bu Dinda, aku naik turunkan kontolku pelan-pelan dan dalam-dalam di lubang senggama Bu Dinda, sementara empot-empot vaginanya terus mengurut-urut batang kontolku sedangkan mulutku menyedot buah dada putih besar bagai hidangan yang harus dinikmati, tangan Bu Dinda memelukku erat, tangan kananku meremas bokong dia dan angan kiriku menahan berat badanku. shhssh, sshh. desis Bu Dinda terus menerus ada sekitar 10 menit, lalu Bu Dinda mengerang”Maas, aku keluar lagi Maas.”.

    Aku cium keningnya, bukannya Bu Dinda melemah tapi dia pindahkan kedua tanganku dikiri kanan mepet buah dadanya dan tangan dia dua-duanya memegang sandaran ranjang Bu Dinda keluarkan tenaga dalam lebih hebat lagi pantat memutar teratur sekali lebih keras dan, empot-empot-empot-empot vagina Bu Dinda lebih sering dan lebih kencang memijat-mijat kontolku.

    “Maas. aduuh.”, Bu Dinda orgasme lagi, tapi pantatnya terus berputar dan empot-empotnya enggak berhenti berhenti.

    Kontolku dengan kuat aku gosokkan kekiri-kanan bibir vaginanya, aku senggol-senggolkan ke itil Bu Dian sementara aku senang sekali pandangin wajah Bu Dinda yang merem melek, mulut terbuka agak lebar aku jawab haus gairah Bu Dian dengan tusukan-tusukanku kejantananku, aku penuhin dahaga syahwati Bu Dinda dengan sodokan-sodokan kemaluanku yang kuat, aku bikin Bu Dinda menggelinjang mengerang penuh nikmat birahi.

    “Aah. aah. aahh.”, erangan erotis Bu Dinda yang semakin keras sampai akhirnya aku tumpahkan air maniku dalam-dalam ke vagina Bu Dinda.

    “Mas. Maas. Maas.”, jerit kecil Bu Dinda sambil kakinya mancal-mancal dan dia tarik aku, dia gigit leherku.

    Air maniku ternyata cepat direproduksi, cairan kelaki-lakianku banyak masuk ke vagina Bu Dinda, pejuh kental hangatku memenuhi hasrat terpendam kewanitaan Bu Dinda, dia puas Agak lama aku masih benamkan kontolku di vagina Bu Dinda, aku enggak mau lepaskan keajaiban bersenggama dengan Bu Dinda, begitu juga Dinda masih menjepitkan vaginanya kekontolku dengan merapatkan pahanya. Kami berdua diam, tersenyum penuh makna, kemudian Dinda meneteskan air mata. Aku hapus air mata itu dan aku berbaring disampingnya, aku belai dia.

    Lama juga Bu Dinda diam menenangkan diri sebelum dia bangkit, mengecup bibirku dan bilang”Mas tiduran aja, ya”.

    Dia masuk ke kamar mandi yang juga ada di lantai atas, dia bersihkan diri sekitar 5 menit dan ke ranjang lagi, membersihkan kontolku dengan handuk kecil yang sudah dibasahin, mesra sekali dia perlakuan atau pelayanan dia, sesudah selesai, dia merangkul aku, aku sun keningnya, kami berbaring berpelukan. Cerita Maya

    “Mas, Mas Hikam betul jaga rahasia ya. Aku cuman percaya sama Mas Hikam dan Mbak Yuni”.

    “OK, sayang. You can trust me”, kataku sambil mempererat dekapanku.

    Kami berdua telanjang berpelukan, buah dadanya menempel dadaku, kaki kiriku ditindih kaki kanannya, kaki kananku menindih kaki kirinya. pikiranku melayang-layang penuh kepuasan, janganlah kenikmatan ini berlalu “Ibu Dinda, wanita sempurna cantik, luar dalam, pinter, gesit, pakar di ranjang”, akhirnya aku tertidur.

  • Ngentot Mama Kawanku Yang Penuh Gairah

    Ngentot Mama Kawanku Yang Penuh Gairah


    598 views

    Cerita Maya | Yang kualami kurang lebih 2 tahun yang lalu. Saya adalah seorang siswa SMU swasta di sebuah kota X, nama saya adalah Endy dan saya saat ini berumur 18 tahun. Saya mempunyai suatu kebiasaan untuk melakukan onani, yah mungkin satu kali untuk satu hari.

    Saya mempunyai seorang teman, bisa dikatakan dia merupakan teman saya yang terbaik, karena hampir setiap hari kami selalu bersama. Saya memang sering main ke rumahnya dan tentu saja, saya sering berjumpa dengan mamanya. Dapat dikatakan mamanya saat ini kira-kira berusia 36 tahun, tetapi tubuhnya terlihat bagaikan seorang gadis yang berusia 20 tahunan. Yah montok dan padat sekali dan saya memanggil mamanya Tante Nita. Tentu saja saya sering melakukan onani dengan menghayalkan mama kawanku ini.

    Ngentot Mama Kawanku Yang Penuh Gairah

    Suatu hari, kami bersama teman-teman sekolah lainnya akan melaksanakan pesta barbeque dan tempat kami berkumpul merupakan rumah dari kawanku ini. Karena masih menunggu teman kami yang belum hadir, maka saya bermain di rumah kawanku ini dengan permainan dadu dengan yang lainnya. Mungkin karena kebetulan saya melempar dadunya terlalu kuat, maka dadu itu jatuh ke arah kamar mama temanku. Lalu dengan malas dan ogah-ogahan, saya bangkit untuk mengambil dadunya. Tetapi saat akan mengambil dadunya, saya melihat suatu pemandangan yang membuat saya sangat terangsang. Saya melihat Tante Nita hanya memakai celana dalamnya saja, langsung saja kemaluan saya terbangun dan saya segera berjalan keluar sambil berusaha menenangkan diri. Sambil bermain dadu kembali, saya menghayalkan bentuk tubuh Tante Nita yang membuatku sangat terangsang. Tetapi sesaat kemudian, Tante Nita keluar dari kamarnya. Dengan serempak, kami memanggilnya dengan panggilan Tante, tetapi saya tidak berani untuk menatapnya, yah mungkin karena saya malu dan agak sedikit takut mengingat kejadian tadi. Cerita Maya

    Karena temanku sudah memanggil, maka kami menyudahi permainan dadu kami dan kami mulai bergerak ke luar rumah. Sesaat sampai di luar rumah, saya melihat Tante Nita sedang berdiri sambil memandang ke arahku, lalu dia menyuruhku untuk menemaninya ke rumahnya yang lain untuk sekedar mengambil barang bekas. Dengan gugup saya menjawab dengan jawaban “Ya”, lalu Tante Nita mengambil kunci rumahnya dan kami pun berangkat. Sambil mengikutinya dari belakang, saya memperhatikan goyangan pinggulnya dan tentu saja saat ini saya sudah sangat ingin melakukan masturbasi, tetapi karena balum memiliki kesempatan, maka saya diam saja sambil menghayalkan sedang bersetubuh dengan Tante Nita.

    Sesampainya di rumah tersebut, saya melihat rumah tersebut sudah lama tidak dihuni, mungkin saja karena Tante Nita baru saja pindah ke rumah baru. Kemudian kami pun masuk ke dalam. Dengan hati-hati saya memperhatikan sekeliling rumah tersebut. Memang agak berdebu tetapi masih terlihat kalau rumah tersebut rapi.

    Sesampainya di ruang tengah rumah tersebut, Tante Nita bertanya kepadaku, “Apa yang kamu lihat waktu kamu mengambil dadu yang terjatuh itu tadi..?”

    Dengan terkejut saya menjawab, “Saya tidak melihat apa-apa, Tante…”

    Lalu Tante Nita berkata, “Kamu jangan bohong, nanti saya laporkan bahwa kamu berbuat yang tidak senonoh pada Tante..”

    Dengan terbata-bata, saya menjawab bahwa saya melihat Tante sedang ganti baju, tetapi saya tidak melihatnya dengan jelas.

    Lalu Tante Nita bertanya lagi, “Apakah kamu ingin melihatnya sekali lagi..?”

    Seperti mendapat durian runtuh, maka saya menjawab, “Kalo Tante Nita mengijinkan, saya mau Tante.”

    Sesaat Tante Nita diam, lalu dia menyuruh saya untuk mendekat. Dengan hati-hati, maka saya mendekat padanya, lalu Tante Nita menarik tangan saya dan mencium bibir saya. Tentu saja saya balas dengan ciuman kembali, sedangkan kedua tangan saya diam saja karena sesungguhnya saya dalam keadaan yang sangat tegang.

    Berbeda dengan tangan Tante Nita, tangannya mulai memegang kejantanan saya dan satunya lagi mulai meremas pantat saya. Kemudian Tante Nita mulai membuka resluiting celana saya dan mulai mengocok kemaluan saya. Saya merasakan kenikmatan karena tangan Tante Nita sangat lembut dan sangat berpengalaman. Karena terbawa perasaan nikmatnya, mata saya mulai tertutup dan mulai menikmati permainan Tante Nita. Belum berlangsung lama permainan kami, Tante Nita menghentikan permainannya, tentu saja hal ini membuat saya keheranan.

    Lalu saya mulai berani menatapnya dan saya bertanya kepadanya, “Tante, bolehkah saya memegang payudara Tante..?”

    Sambil sedikit tersenyum, Tante Nita berkata, “Terserah kamu sayang…”

    Lalu tangan saya mulai meraba payudara Tante, tetapi saya merabanya dari luar saja karena masih tertutup oleh baju dah BH-nya.

    Karena merasa kurang puas, maka saya bertanya lagi, “Tante, bolekah saya membuka baju tante..?”

    Dengan sedikit kesal, Tante Nita menjawab, “Kamu boleh melakukan semua yang ingin kamu lakukan, tubuh saya sekarang ini adalah milikmu sepenuhnya.”

    Dengan terbata-bata saya menjawab, “Terima kasih Tante…”

    Lalu Tante Nita berkata lagi, “Panggil saya Nita saja, tidak usah lagi sebutkan Tantenya.”

    Lalu saya menjawab, “Ya, Tante.., eh, maksud saya Nita.”

    Permainan terus berlanjut, saya mulai membuka kancing baju Tante Nita. Terlihatlah dua bukit kembar yang indah sekali, mungkin ukurannya sekitar 36A. Lalu saya mulai meremas dan mencium payudara Tante Nita dan Tante Nita mulai merasakan kenikmatan dan mengeluarkan suara desahan.

    “Uuhhh… ahhh..,”

    Saya mulai membuka ikatan BH-nya dan menyemburlah payudaranya. Dengan liar bibir saya mulai menghisap payudara yang di sebelah kanan, sedangkan tangan saya meremas dengan keras payudaranya yang di sebelah kiri. Saya terus menghisap puting payudara Tante Nita kurang lebih 5 menit lamanya. Kemudian saya melepaskannya dan saya melihat putingnya sudah berwarna kemerah-merahan agak hitam.

    Kemudian Tante Nita mulai turun dan berjongkok di hadapan kemaluan saya. Dengan cepat dia menurunkan celana jeans saya sekaligus dengan celana dalam saya, lalu dia pun membuka mulutnya dan memasukkan kemaluan saya ke mulutnya. Hal ini membuat saya terkejut, kemudian Tante Nita mulai menghisap kemaluan saya dan memainkannya di dalam mulutnya yang membuat saya lupa diri. Tangan saya mulai menjambak rambut Tante Nita dan kaki saya mulai menjinjit karena saya merasakan kenikmatan yang hebat. Kurang lebih 10 menit kemudian, saya merasakan ada yang mendesak keluar seperti saat saya sedang melakukan masturbasi dan saya mulai mengerang, “Aduh, Nita… saya sampai nih, uh… uhhh… uuuhhh…” Dan Tante Nita mulai mempercepat permainannya dan akhirnya saya mengeluarkan cairan sperma saya di dalam mulutnya Tante Nita. Saya merasakan Tante Nita menghisap habis seluruh sperma saya dan menelannya. Dalam sisa-sisa kenikmatan, saya melihat Tante Nita bangkit dan mencium bibir saya, yang tentu saja saya balas dengan ciuman yang hangat dan liar.

    Hanya dalam hitungan beberapa detik, Tante Nita menekan kepala saya dan saya pun mengerti apa yang diinginkan Tante Nita. Saya mulai berjongkok dan Tante Nita berganti posisi dengan tubuhnya bersandar pada dinding rumah. Dengan perlahan saya menurunkan celanan Tante, lalu saya melihat CD warna biru langitnya Tante Nita dengan segunduk daging yang menonjol di antara kakinya, selain itu saya juga melihat CD-nya mulai basah oleh cairan kemaluannya. Tante Nita berkata kepada saya, “Endy, cepat donk.., Tante sudah nggak tahan nih…” Dengan tenang saya menjawab, “Iya Nita..,” dan saya mulai memeloroti CD-nya. Saya melihat rambut kemaluan Tante Nita yang sungguh subur tetapi terawat dengan rapih.

    Sejujurnya, saya sungguh tidak menyangka keindahan alat kelamin wanita ini berbeda dengan yang pernah saya lihat di film-film blue bahkan sangat berbeda. Dengan perlahan-lahan, saya mulai menyapu kemaluan Tante Nita dengan lidah saya. Sesudah rambut kemaluannya basah oleh air liur saya, saya mulai memasukkan lidah saya di antara kemaluannya dan saya menemukan sebuah bijian kecil. Dengan lidah saya, saya mulai menjilati biji tersebut, hal ini membuat Tante Nita mengerang keenakan.

    “Endy.., terus.., Tante merasa nikmat sekali, ah… ah… uhhh…” desahnya.

    Karena merasakan Tante Nita yang mulai terangsang, maka saya mempercepat jilatan saya pada bijian tersebut kurang lebih 6 menit Tante Nita menjerit sambil memegang dan menjambak rambut saya.

    “Uhhh… Tante sampai nihhh… ayo terus Ndyyy… ah… ehmmm… nikmat sekali.”

    Lalu saya melepaskan permainan lidah saya dan saya melanjutkan dengan tangan saya yang mulai mengosok dan mengocok kemaluan Tante Nita karena saya merasa jijik untuk menghisap air kemaluan wanita tetapi dengan cepat Tante menarik kepalaku dan mengarahkannya kembali ke kemaluannya. Karena ingin memuaskan Tante Nita, maka saya mulai memainkan lidah saya di kemaluan Tante Nita.

    Akhirnya Tante mengejang dan berteriak, “Ahh… ahhh… auuu… ehmmm… saya sampai, terus Ndyyy… uhh… ahhh… aahhh…”

    Saya merasakan ada cairan yang keluar dari kemaluan Tante, maka saya menghisap seluruh cairan tersebut sampai kering dan kemudian saya menelannya.

    Karena melihat Tante Nita sedang merasakan sisa-sisa kenikmatannya maka saya bangkit dan mencium bibirnya, sedangkan tangan saya meremas payudaranya.

    Lalu Tante Nita membuka matanya dan tersenyum nakal sambil berkata, “Endy, kamu kurang ajar sekali, bahkan dengan mama kawan baikmu pun kamu berani berbuat begitu.”

    Dengan terkejut saya berkata, “Tapi Tante, saya tidak bermaksud begitu, khan tante yang…” Belum selesai saya berkata Tante Nita memotongnya dan berkata, “Saya tahu kamu tidak bermaksud begitu tapi kamu sudah melakukannya jadi ya.., nggak apa-apa deh… tante suka dengan permainan kamu. Lain kali kamu harus melakukannya dengan Tante lagi, kalo tidak.. Tante akan laporkan kamu sama yang lainnya!”

    Lalu saya tersenyum dan berkata, “Tante nakal sekali, saya sampai terkejut, tapi Tante jangan khawatir, lain kali saya akan melayani Tante lagi, saya janji Nita.”

    “Kamu harus ingat janji kamu yach… sekarang kita harus berpakaian kembali, lalu kamu kembali ke teman kamu… khan kamu mau barbeque khan..?” kata Tante Nita kemudian yang sempat membuatku terkejut seperti sadar kembali kalau kami sudah meninggalkan acara pesta.

    Dengan cepat saya mulai membetulkan pakaian saya dan merapikan rambut saya sambil bertanya kepada Tante Nita, “Tante.., kita sudah pergi berapa lama sih..? Kalo ketahuan gimana, Tante..?”

    Dengan tenang Tante menjawab, “Kamu jangan khawatir, Tante akan mengaturnya supaya aman.”

    Lalu kami pun kembali ke rumah Tante Nita yang baru meskipun dalan hatiku masih ada sedikit keraguan. Sesampainya disana, Tante berkata bahwa kami membongkar seluruh rumah untuk mencari kunci lemarinya sehingga memerlukan waktu setengah jam. Sambil bernafas lega, saya menoleh ke arah Tante Nita dan melihatnya tertawa, sungguh mengoda sekali.

    Beginilah awal kisahku dengan Tante Nita yang merupakan mama dari kawan baikku. Di pesta barbeque bersama temanku, saya merasa sangat tidak tenang bahkan terasa ada yang ingin dikeluarkan. Akhirnya saya pun melakukan masturbasi di kamar mandi, tentu saja sambil menghayalkan Tante Nita. Dalam hati saya tentu saja sangat ingin untuk melakukannya dengan Tante nita, tetapi yah…

    Baca Juga Cerita Seks Kisah Perselingkuhan Sesama Guru Sekolah (Dari Kisah Nyata)

    Hari ini sudah lewat 2 minggu sejak kejadian di malam pesta barbeque itu. Saya sendiri sudah tidak sabar dan frekuensi onani saya malah semakin meningkat, bahkan bisa tiga kali dalam satu hari. Tetapi siang harinya, ketika baru pulang dari sekolah, sesampai di rumah dan duduk di kursi sambil melepas sepatu, saya menggerutu, “Aduh, hari ini kok panas sekali…”Tetapi tiba-tiba saya mendengar pembantu saya berteriak, “Mas Endy ada telpon tuh..!”

    Lalu sambil malas-malasan saya bangkit dan mengambil telepon sambil menjawab, “Halo..?”

    “Ini Endy yach..?” tanya orang lawan bicara saya.

    Saya jawab, “Iya, disana siapa yach..?”

    “Kamu udah lupa yach ama saya..?” dengan logat memancing.

    Karena merasa dipermainkan, saya mulai emosi dan menjawab, “Disana siapa sich kalo nggak mo bilang lagi saya tutup teleponnya nih..!”

    “Kok marah sich..? Nanti tante laporkan kamu lho dan nggak tante kasih kamu kenikmatan lagi.” kata lawan bicara saya lagi.

    Mendengar kata-katanya yang terakhir tadi, saya jadi teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu dan saya langsung menjawab lagi, “Oh, ini Tante Nita yach..? Sori Tante gua lagi nggak mood nih… Tante sich main-main aja…”

    Lalu Tante Nita berkata “Nggak mood yach..? Jadi sama Tante juga nggak mood donk..? Tadinya

    Tante mo ajak kamu ke rumah Tante nih, abisnya lagi sepi nih.., tapi nggak jadi deh..”

    Dengan cepat saya memotong, “Bentar dulu Tante, kalo Tante sich gua jadi mood lagi nih, emang teman saya (maksudnya anak Tante Nita yang menjadi teman baik saya) nggak ada di rumah yach..?”

    “Kamu tenang aja deh… pokoknya dari sekarang (saat itu jam 12:30) sampe nanti sore jam 5 kita aman deh.., jadi datang nggak..?” tanya Tante Nita.

    Tentu saja saya menjawab, “Jadi donk Tante.., bentar lagi saya ke sana Tante, Tante tunggu yach..!”

    Setelah itu, saya segera menutup teleponnya seperti tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Kemudian saya segera berlari ke kamar dan ganti baju, terus segera keluar rumah menuju rumah Tante Nita, karena dari rumahku ke rumah Tante Nita memerlukan waktu sekitar 15 menit jalan kaki. Karena ingin cepat tiba disana, maka saya naik angkot (angkutan umum perkotaan) saja.

    Sesampainya di rumah Tante Nita, saya segera memutar ke belakang karena lewat pintu samping rumah Tante Nita lebih aman dan sepi. Kemudian dengan perlahan saya mengetuk pintu dan terdengar Tante Nita menjawab.

    “Iya, bentar…” lalu Tante Nita membuka pintu dan mempersilakan saya masuk.

    Di depan saya, Tante Nita berpakaian kaos oblong dan celana pendek putih. Berpenampilan seperti itu tentu saja sama dengan menampakkan BH dan CD-nya yang berwarna hitam secara sengaja kepada saya. Dalam pikiran saya mungkin Tante Nita sengaja membuat saya terangsang, tetapi saya berusaha tetap tenang, yah.. stay cool deh pokoknya.

    Setelah itu, Tante Nita menyuruh saya mengikutinya dan saya pun berjalan. Tetapi begitu melihat pinggulnya yang bergoyang, saya tidak tahan lagi, segera saya menarik Tante Nita dan menciumnya. Tante Nita pun segera membalas ciumanku dan tangan saya segera bergerak untuk membuka bajunya.

    Bersamaan dengan itu, Tante Nita berkata, “Jangan di sini donk sayang..!”

    “Dimana Tante..?” tanya saya.

    “Di kamar Tante aja…” kata Tante Nita.

    Lalu saya pun segera menarik tangan Tante Nita dan berkata, “Jadi, tunggu apa lagi Tante..?”

    Setelah sampai di kamar Tante Nita, saya segera merebahkannya. Di mata saya, Tante Nita tampak sangat anggun dan mengairahkan. Dengan tidak membuang waktu lagi, saya segera menciumnya dan ciuman saya di balas Tante Nita dengan hangat. Sementara itu tangan saya segera bergerak aktif untuk meremas buah dada Tante Nita. Tiba-tiba Tante Nita mendorongku dan dengan terkejut saya bangkit, tetapi kemudian Tante Nita segera menarikku dan naik di atas tubuhku sehingga posisi saya sekarang adalah Tante Nita di atas tubuh saya. Saya segera mambuka baju Tante Nita sehingga tampaklah buah dadanya yang masih dibungkus oleh BH hitamnya. Saat itu Tante Nita menunduk sehingga sekarang buah dadanya tampak di depan mataku dengan sangat jelas.

    Untuk menghemat waktu dan karena memang saya juga sudah sangat terangsang, maka saya segera melumat payudara Tante Nita dan melepas BH hitamnya.

    “Aduh enak sekali, ahhh… uh… sttt…” desahnya yang menandakan Tante Nita sudah terangsang.

    Karena sudah terangsang maka Tante Nita segera melepas baju dan celana saya, sehingga saya hanya tinggal memakai CD saja. Kemudian saya berguling ke samping sehingga posisi saya sekarang di atas Tante Nita, lalu saya segera merangkak turun dan melepas celananya sehingga tampaklah pemandangan di depan wajah saya sebuah surga kenikmatan yang masih terbungkus oleh kain hitam. Tanpa menunggu aba-aba darinya, saya langsung melepaskan CD-nya Tante Nita dan tampaklah kemaluan Tante Nita yang terawat dengan rapih. Sungguh sangat indah dan berbeda dengan yang pertama kali saya lihat dulu.

    Dengan perlahan saya menjilati permukaan vaginanya dan Tante Nita pun segera mengerang.

    “Aduh, nikmat sekali… sungguh… geli tapi… ahhh… uhhh… terus Endy…”

    Segera saya menaikkan permainan saya sehingga tidak lama kemudian Tante Nita pun menjerit.

    “Aduh saya sampai Ndyyy… segera keluar… ahhh…”

    Lalu saya segera menghisap bijian di kemaluan Tante Nita sehingga saat cairan kemaluan Tante Nita keluar, segera saya hisap habis dan menelannya.

    Dalam sisa kenikmatannya, Tante Nita berkata, “Endy… biarkan Tante Nita istirahat yach..? Nanti Tante Nita baru melanjutkannya kembali.”

    Saya segera menjawab, “Iya Tante…”

    Setelah beristirahat 15 menit, Tante Nita mulai bangkit dan segera melepas CD saya. Tampaklah kemaluan saya yang masih dalam posisi setengah tiang. Tante Nita segera memasukkannya ke dalam mulutnya dan menjilatinya. Di dalam mulut Tante Nita, kemaluanku segera mengeras hingga dalam posisi yang siap tempur. Tante Nita sungguh sangat berpengalaman dalam menjilati kejantanan pria yang dengan cara menghisap dan kadang-kadang mengigitnya dengan perlahan. Hal ini membuatku sangat terangsang. Karena sudah tidak tahan lagi, maka saya segera menarik tubuh Tante Nita ke atas dan dan membalikkannya.

    “Tante Nita, saya sudah tidak tahan lagi, sekarang saya masukkan yach Tante..?” tanya saya yang sudah merasa sangat terangsang.

    Tante Nita menjawab, “Terserah kamu Ndyy.., tapi hati-hati yach soalnya punya tante udah lama nih nggak digunakan..”

    Dengan pelan dan hati-hati saya mengarahkan kepala kemaluan saya ke dalam lubang kemaluan

    Tante. Kepala kemaluan saya mulai menyentuh bibir kemaluan Tante Nita, lalu saya menekannya sehingga kepala kemaluan saya sudah terbenam ke dalamnya.

    Tante Nita segera menjerit, “Aduh… sakit sekali… pelan-pelan Ndy…”Tetapi saya sudah tidak perduli lagi, saya segera melanjutkan aksi saya dengan menekan kemaluaan saya lebih dalam lagi dan kepala kemaluan saya juga mulai terasa perih karena ini adalah pertama kali saya melakukan hubungan intim. Saya tetap menekan batang kemaluan saya sehingga tidak lama kemudian, seluruh kemaluan saya sudah terbenam dalam kemaluan Tante Nita.

    Tante Nita lalu mengerang, “Aduh sakit sekali… biarkan tetap di dalam Endy, aduh… ahhh… ehmmm… uh…”

    Setelah terdiam hampir 5 menit, saya segera mengoyang pinggul saya dengan naik turun secara berirama dan Tante Nita pun mengimbanginya dengan goyangan pinggulnya yang membuat saya merasa sangat keenakan.

    Tante Nita tiba-tiba mengerang secara tidak jelas, “Aduh… sakit sekali, tapi enak sekali, terus Endy…”

    Saya sudah tidak memperdulikan Tante Nita dan hanya terus memacu kemaluan saya untuk mencapai kenikmatan.

    Tidak lama kemudian, setelah 8 menit, saya mendengar Tante Nita menjerit kembali, “Aduh… saya sampai Ndyyy… akan segera keluar nih…”

    Saya menjawabnya, “Sebentar lagi Nita, sebentar lagi… saya juga hampir sampai nih…”

    Tidak lama, Tante Nita tiba-tiba mengejang dan saya merasakan ada cairan hangat di dalam kemaluan Tante Nita dan Tante Nita mengerang lagi, “Aduh… ahhh… aku sampai Endy… nikmat sekali…”

    Tidak sampai disitu, selang beberapa detik, saya merasa juga ada yang mendesak keluar dari kemaluan saya dan akan segera meledak.

    Rupanya saya juga telah mencapai kenikmatan dunia dan saya menjerit, “Saya sampai Tante eh… ahhh… nikmat sekali”

    Lalu saya segera jatuh dan berbaring di samping tubuh Tante Nita sambil merasakan sisa kenikmatan yang telah kami capai berdua.

    Setelah beristirahat, kami melakukannya lagi 3 kali dalam tempo yang cepat. Tante Nita dan saya sama-sama mencapai puncak kenikmatan 3 kali.

    Setelah mandi dan pikiran kami sudah tidak terpengaruh nafsu lagi, Tante Nita berkata padaku,

    “Tante Nita minta maaf Endy… tadi Tante Nita telah merenggut keperjakaan kamu… sungguh Tante Nita minta maaf..”

    Tetapi saya segera berkata, “Tidak apa-apa Tante, saya rela kok menyerahkannya pada Tante, sungguh saya sangat menyukai permainan tadi. Tapi Tante Nita harus janji kalo Tante Nita lain kali harus memberikan kenikmatan yang sama lagi kepadaku..!”

    Sambil tersenyum, Tante Nita berkata, “Iya… Tante sangat senang dengan permainan tadi, Tante janji, Tante bersedia melayani kamu lagi, tapi kamu juga harus membuat Tante merasa keenakan seperti tadi..” dan saya mengiyakannya. Cerita Maya

    Hubungan kami hampir berlangsung selama 2 tahun, tetapi kami melakukannya dengan caracara yang tradisional. Saya maupun Tante Nita tidak menyukai gaya-gaya yang terlalu berani seperti gaya anjing maupun yang lainnya. Hubungan kami sekarang meskipun belum diputuskan berakhir, tetapi kami hampir tidak pernah berjumpa lagi, karena saya sudah melanjutkan kuliah di luar kota yang tentu saja dengan anaknya Tante Nita. Hubungan saya dengan Tante Nita sampai sekarang tetap menjadi rahasia kecil kami. Jikalau saya liburan dan pulang ke kampung halaman saya, Tante Nita selalu meminta bagiannya dan saya pun dengan senang hati melayaninya.

  • Kisah Perselingkuhan Sesama Guru Sekolah (Dari Kisah Nyata)

    Kisah Perselingkuhan Sesama Guru Sekolah (Dari Kisah Nyata)


    687 views

    Cerita Maya | Seorang wanita dengan jilbab hijau lumut tampak berjalan terburu-buru menuju ruang guru, belahan rok yang cukup sempit memaksa wanita itu mengayun langkah kecil nan cepat. Namun saat dirinya tiba diruangan yang dituju, disana hanya didapatinya Bu Rini yang sibuk mengoreksi hasil ujian harian para siswa.

    Rini

    “Bu.. apa Pak Rian sudah pulang?”

    “Mungkin sudah,” jawab Bu Rini, memandang Reyna dengan wajah penuh curiga, setau Bu Rini hubungan antara Reyna dan Rian memang tak pernah akur, meski sama-sama guru muda, pemikiran Reyna dan Rian selalu bersebrangan. Reyna yang idealis dan Rian yang liberal. Cerita Maya

    “Memangnya ada apa Bu?” lanjut wanita itu, penasaran.

    “Oh… tidak.. hanya ada perlu beberapa hal,” elak Reyna.

    “Apa itu tentang pengajuan kenaikan pangkat dan golongan?” tambah Rini yang justru semakin penasaran.

    “Bukan.. eh.. iya.. saya pamit duluan ya Bu,” ucap Reyna bergegas pamit.

    Semoga saja SMS itu cuma canda,” ucapnya penuh harap, bergegas menuju parkir, mengacuhkan pandangan satpam sekolah yang menatap liar tubuh semampai dibalut seragam hijau lumut khas PNS, ketat membalut tubuhnya.

    Mobil Avanza, Reyna, membelah jalan pinggiran kota lebih cepat dari biasanya. Hatinya masih belum tenang, pikirannya terus terpaku pada SMS yang dikirimkan Rian, padahal lelaki itu hanya meminta tolong untuk membantunya menyusun persyaratan pengajuan pangkat, tapi rasa permusuhan begitu lekat dihatinya.

    Jantung Reyna semakin berdebar saat mobilnya memasuki halaman rumah, di sana telah terparkir Ninja 250 warna hijau muda, “tidak salah lagi itu pasti motor Rian,” bisik hati Reyna. Di kursi beranda sudut mata wanita muda itu menangkap sosok seorang lelaki, asik dengan tablet ditangannya. “Kamu…” ucap Reyna dengan nada suara tak suka.

    Rian membalas dengan tersenyum.

    “Masuklah, tapi ingat suamiku tidak ada dirumah, jadi setelah semua selesai kamu bisa langsung pulang,” ucap Reyna ketus, meninggalkan lelaki itu diruang tamu.

    Beraktifitas seharian disekolah memaksa Reyna untuk mandi, saat memilih baju, wanita itu dibuat bingung harus mengenakan baju seperti apa, apakah cukup daster rumahan ataukah memilih pakaian yang lebih formal.

    “Apa yang ada diotak mu, Rey?!.. Dia adalah musuh bebuyutan mu disekolah,” umpat hati Reyna, melempar gaun ditangannya ke bagian bawah lemari.

    Lalu mengambil daster putih tanpa motif. Tapi sayangnya daster dari bahan katun yang lembut itu terlalu ketat dan sukses mencetak liuk tubuhnya dengan sempurna, memamerkan bongkahan payudara yang menggantung menggoda.

    Reyna kembali dibuat bingung saat memilih penutup kepala, apakah dirinya tetap harus mengenakan kain itu ataukah tidak, toh ini adalah rumahnya. Namun tak urung tangannya tetap mengambil kain putih dengan motif renda yang membuatnya terlihat semakin anggun, tubuh indah dalam balutan serba putih yang menawan

    Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 petang dan untuk yang kedua kalinya Reyna menyediakan teh untuk Rian. Sementara lelaki itu masih terlihat serius dengan laptop dan berkas-berkas yang harus disiapkan, sesekali Reyna memberikan arahan.

    Tanpa sadar mata Reyna mengamati wajah Rian yang memang menarik. “Sebenarnya cowok ini rajin dan baik, tapi kenapa sering sekali sikapnya membuatku emosi,” gumam Reyna, teringat permusuhannya dilingkungan sekolah.

    Pemuda yang memiliki selisih umur empat tahun lebih muda dari dirinya. Sikap keras Reyna sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan berbanding terbalik dengan sikap Rian yang kerap membela murid-murid yang melakukan pelanggaran disiplin.

    “Tidak usah terburu-buru, minum dulu teh mu, lagipula diluar sedang hujan,” tegur Reyna yang berniat untuk bersikap lebih ramah.

    “Hujan?… Owwhh Shiiit.. Ibuku pasti menungguku untuk makan malam,” umpat Rian.

    Reyna tertawa geli mendengar penuturan Rian, “makan malam bersama ibumu? Tapi kamu tidak terlihat seperti seorang anak mami,” celetuk Reyna usil, membuat Rian ikut tertawa, namun tangannya terus bergerak seakan tidak tergoda untuk meladeni ejekan Reyna.

    “Bereeesss..” ucap Rian tiba-tiba mengagetkan Reyna yang asik membalas BBM dari suaminya.

    “Jadi apa aku harus pulang sekarang?” tanya Rian, wajahnya tersenyum kecut saat mendapati hujan diluar masih terlalu lebat.

    “Di garasi ada jas hujan, tapi bila kamu ingin menunggu hujan teduh tidak apa-apa,” tawar Reyna yang yakin motor Rian tidak mungkin menyimpan jas hujan.

    “Aku memilih berteduh saja, sambil menemani bu guru cantik yang sedang kesepian, hehehe…”

    “Sialan, sebentar lagi suamiku pulang lhoo,”

    Sesaat setelah kata itu terucap, Blackberry ditangan Reyna menerima panggilan masuk dari suaminya, tapi sayangnya suaminya justru memberi kabar bahwa dirinya sedikit terlambat untuk pulang, dengan wajah cemberut Reyna menutup panggilan.

    “Ada apa, Rey..”

    “Gara-gara kamu suamiku terlambat pulang,”

    “Lhoo, kenapa gara-gara aku? Hahaha…” Rian tertawa penuh kemenangan, dengan gregetan Reyna melempar bantal sofa. Obrolan kembali berlanjut, namun lebih banyak berkutat pada dinamika kehidupan disekolah dan hal itu cukup sukses mencairkan suasana.

    Reyna seakan melihat sosok Rian yang lain, lebih supel, lebih bersahabat dan lebih humoris. Jauh berbeda dari kacamatanya selama ini yang melihat guru cowok itu layaknya perusuh bagi dirinya, sebagai penegak disiplin para siswa.

    “Aku heran, kenapa kamu justru mendekati anak-anak seperti Junot dan Darko, kedua anak itu tak lagi dapat diatur dan sudah masuk dalam daftar merah guru BK,” tanya Reyna yang mulai terlihat santai. “Seandainya bukan keponakan dari pemilik yayasan, pasti anak itu sudah dikeluarkan dari sekolah,” sambungnya.

    “Yaa, aku tau, tapi petualangan mereka itu seru lho, mulai dari nongkrong di Mangga Besar sampai ngintipin anak cewek dikamar mandi, guru juga ada lho yang mereka intipin,” “Hah? yang benar? gilaaa, itu benar-benar perbuatan amoral,” Reyna sampai meloncat dari duduknya, berpindah ke samping Rian.

    “Tapi tunggu, bukankah itu artinya kamu mendukung kenakalan mereka, dan siapa guru yang mereka intip?” tanya Reyna dengan was-was, takut dirinya menjadi korban kenakalan kedua siswa nya.

    “Sebenarnya mereka anak yang cerdas dan kreatif, bayangkan saja, hanya dengan pipa ledeng dan cermin mereka bisa membuat periskop yang biasa digunakan oleh kapal selam,” ucap Rian serius, memutar tubuhnya berhadapan dengan Reyna yang penasaran.

    “Awalnya mereka cuma mengintip para siswi tapi bagiku itu tidak menarik, karena itu aku mengajak mereka mengintip di toilet guru, apa kamu tau siapa yang kami intip?”

    Wajah Reyna menegang, menggeleng dengan cepat. “Siapa?,,,”

    “kami mengintip guru paling cantik disekolah, Ibu Reyna Raihani!”

    “Apa? gilaaa kamu Ian, kurang ajar,” Reyna terkaget dan langsung menyerang Rian dengan bantal sofa.

    “ampuun Reeeey, Hahahaa,,”

    “Sebenarnya kamu ini guru atau bukan sih? Memberi contoh mesum ke murid-murid, besok aku akan melaporkan mu ke kepala sekolah,” sembur Reyna penuh emosi.

    Rian berusaha menahan serangan dengan mencekal lengan Reyna.

    “Hahahaa, aku bohong koq, aku justru mengerjai mereka, aku tau yang sedang berada di toilet adalah Pak Tigor dan apa kamu tau efeknya? Mereka langsung shock melihat batang Pak Tigor yang menyeramkan, Hahaha,” Reyna akhirnya ikut tertawa, tanpa sadar jika lengannya masih digenggam oleh Rian.

    “Tu kan, kamu itu sebenarnya lebih cantik jika sedang tertawa, jadi jangan disembunyikan di balik wajah galakmu,” ucap Rian yang menikmati tawa renyah Reyna yang memamerkan gigi gingsulnya. Seketika Reyna terdiam, wajahnya semakin malu saat menyadari tangan Rian masih menggenggam kedua tangannya.
    Rini

    Tapi tidak berselang lama bentakan dari bibir tipisnya kembali terdengar, “Hey!.. Kalo punya mata dijaga ya,” umpat Reyna akibat jelajah mata Rian yang menyatroni gundukan payudara dibalik gaun ketat yang tak tertutup oleh jilbab, Reyna beranjak dan duduk menjauh, merapikan jilbabnya.

    “Punyamu besar juga ya,” balas Rian, tak peduli akan peringatan Reyna yang menjadi semakin kesal lalu kembali melempar bantalan sofa. “Ga usah sok kagum gitu, lagian kamu pasti sudah sering mengintip payudara siswi disekolah?,,”

    “Tapi punyamu spesial, milik seorang guru tercantik disekolah,”

    “Sialan..” dengus Reyna merapikan jilbabnya, tapi sudut bibirnya justru tersenyum, karena tak ada wanita yang tidak suka bila dipuji. Wajah Reyna memerah , kalimat Rian begitu vulgar seakan itu adalah hal yang biasa.

    “Rey… liat dong,”

    “Heh? Kamu mau liat payudaraku , gilaa… Benda ini sepenuhnya menjadi hak milik suamiku,” Wanita itu memeletkan lidahnya, tanpa sadar mulai terbawa sifat Rian yang cuek.

    “Ayo dooong, penasaran banget nih,”

    “Nanti, kalo aku masuk kamar mandi intipin aja pake piroskop ciptaan kalian itu, hahaha..” Reyna tertawa terpingkal menutup wajahnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.

    “Yaaa, paling ngga jangan ditutupin jilbab keq,” sungut Rian, keqi atas ulah Reyna yang menertawakannya.

    “Hihihi… Liat aja ya, jangan dipegang,” Ucap guru cantik itu dengan mata tertuju ke TV, lalu mengikat jilbabnya kebelakang.

    “Kurang..”

    “Apalagi? Bugil?” matanya melotot seolah-olah sedang marah, tetapi jantungnya justru berdebar kencang, menantang hatinya sejauh mana keberanian dirinya.

    “satu kancing aja,”

    “Dasar guru mesum,” Reyna lagi-lagi memeletkan lidahnya lalu kembali menolehkan wajahnya ke TV, namun tangannya bergerak melepas kancing atas.

    Tapi tidak berhenti sampai disitu, karena tangannya terus bergerak melepas kancing kedua lalu menyibak kedua sisinya hingga semakin terbuka, membiarkan bongkahan berbalut bra itu menjadi santapan penasaran mata Rian. Entah apa yang membuat Reyna seberani itu, untuk pertama kalinya dengan sengaja menggoda lelaki lain dengan tubuh nya.

    “Punyamu pasti lebih kencang dibanding milik Anita,” sambung Rian, matanya terus terpaku ke dada Reyna sambil mengusap-usap dagu yang tumbuhi jambang tipis, seolah menerawang seberapa besar daging empuk yang dimiliki wanita cantik itu. Tapi kata-kata Rian justru membuat Reyna kaget, bingung sekaligus penasaran. “Hhmmm.. Ada hubungan apa antara dirimu dan Bu Nita?”

    “Tidak ada, aku hanya menemani wanita itu, menemani malam-malamnya yang sepi,”

    “Gilaaa.. Apa kamu… eeeenghhh,,,”

    “Maksudmu aku selingkuhan Bu Anita kan? Hahaha…” Rian memotong kalimat Reyna setelah tau maksud kalimat yang sulit diucapkan wanita itu. “Bisa dikatakan seperti itu, hehehe.. Tapi kami sudah mengakhirinya tepat seminggu yang lalu,”

    “Kenapa?” sambar Reyna yang tiba-tiba penasaran atas isu skandal yang memang telah menyebar dikalangan para guru mesum. Rian menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya. “Suaminya curiga dengan hubungan kami, meski Anita menolak untuk mengakhiri aku tetap harus mengambil keputusan itu, resikonya terlalu besar,”

    “Apa kamu mencintai Bu Anita?”

    Rian tidak langsung menjawab tapi justru mengambil rokok dari kantongnya, setelah tiga jam lebih menahan diri untuk tidak menghisap lintingan tembakau dikantongnya, akhirnya lelaki itu meminta izin, “Boleh aku merokok?”

    “Silahkan..” jawab Reyna cepat.

    “Aku tidak tau pasti, Anita wanita yang cantik, tapi dia bukan wanita yang kuidamkan,” beber lelaki itu setelah menghembuskan asap pekat dari bibirnya. Tapi wajah wanita didepannya masih menunjukkan rasa penasaran, “lalu apa saja yang sudah terjadi antara dirimu dan Anita?” cecarnya.

    “Hahahaha.. Maksudmu apa saja yang sudah kami lakukan?”

    Wajah Reyna memerah karena malu, Rian dengan telak membongkar kekakuannya sebagai seorang wanita dewasa. “Anita adalah wanita bersuami, artinya kau tidak berhak untuk menjamah tubuhnya,” ucap Reyna berusaha membela keluguan berfikirnya.

    Rian tersenyum kecut, mengakui kesalahannya, “Tak terhitung lagi berapa kali kami melakukannya, mulai dari dirumahku, dirumahnya, bahkan kami pernah melakukan diruang lab kimia, desah suaranya sebagai wanita yang kesepian benar-benar menggoda diriku, rindu pada saat-saat aku menghamburkan spermaku diwajah cantiknya.”

    Seketika wajah Reyna terasa panas membayangkan petualangan, Anita, “Kenapa kamu tidak menikah saja?” tanya Reyna berusaha menetralkan debar jantungnya. “Belum ada yang cocok,” jawab Rian dengan simpel, membuat Reyna menggeleng-gelengkan kepala, wanita itu mengambil teh dimeja dan meminumnya.

    “Rey.. selingkuhan sama aku yuk..”

    Brruuuuuffftttt…

    Bibir tipis Reyna seketika menghambur air teh dimulutnya.

    “Dasar guru mesum,” umpat Reyna membuang wajahnya, yang menampilkan ekspresi tak terbaca, kejendela yang masih mempertontonkan rinai hujan yang justru turun semakin deras.

    “Aku masak dulu, lapar nih,” ucap Reyna, beranjak dari sofa berusaha menghindar dari tatapan Rian yang begitu serius, jantungnya berdegub keras masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Rian.

    “Rey…” Panggilan Rian menghentikan langkah wanita itu.

    “Kenapa wajahmu jadi pucat begitu, tidak perlu takut aku cuma bercanda koq,” ujar lelaki itu sambil terkekeh.

    “Siaaal, ni cowok sukses mengerjai aku,” umpat hati Reyna.

    “Aku tau koq, kamu tidak mungkin memiliki nyali untuk menggoda guru super galak seperti aku,” ucapnya sambil memeletkan lidah. Diam-diam bibirnya tersenyum saat Rian mengikuti ke dapur. Hatinya mencoba berapologi, setidaknya lelaki itu dapat menemaninya saat memasak.

    Reyna dengan bangga memamerkan keahliannya sebagai seorang wanita, tangannya bergerak cepat menyiapkan dan memotong bumbu yang diperlukan, sementara Rian duduk dikursi meja makan dan kembali berceloteh tentang kenakalan dan kegenitan para siswi disekolah yang sering menggoda dirinya sebagai guru mesum jomblo tampan.

    “Awas aja kalo kamu sampai berani menyentuh siswi disekolah,” Reyna mengingatkan Rian sambil mengacungkan pisau ditangan, dan itu membuat Rian tertawa terpingkal.

    “Ckckckck, mahir juga tangan mu Rey,” Rian mengkomentari kecepatan tangan Reyna saat memotong bawang bombay.

    “Hahaha… ayo sini aku ajarin..” tawar Reyna tanpa menghentikan aksinya.

    Tapi Reyna terkejut ketika Rian memeluknya dari belakang, bukan.. cowok itu bukan memeluk, karena tangannya mengambil alih pisau dan bawang yang ada ditangannya. “Ajari aku ya..” bisik Rian lembut tepat ditelinganya.

    Kepala wanita itu mengangguk, tersenyum tersipu. Tangannya terlihat ragu saat menyentuh dan menggenggam tangan Rian yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Perlahan pisau bergerak membelah daging bawang.

    “tangan mu terlalu kaku, Hahahaa,”

    “Ya maaf, tanganku memang tidak terlatih melakukan ini, tapi sangat terlatih untuk pekerjaan lainnya.”

    “Oh ya? Contohnya seperti apa? Membuat periskop untuk mengintip siswi dikamar mandi? Hahaha,,,”

    “Bukan, tapi tanganku sangat terampil untuk memanjakan wanita cantik seperti mu,” ucap lelaki itu, melepaskan pisau dan bawang, beralih mengusap perut Reyna yang datar dan perlahan merambat menuju payudara yang membusung.

    Baca Juga Cerita Seks Nikmatnya Bercinta Dengan Guru Praktek Di Sekolah

    “Hahaha, tidaak tidaaak, aku bukan selingkuhanmu, ingat itu,” tolak Reyna berusaha menahan tangan Rian.

    “Rey, jika begitu jadilah teman yang mesra untuk diriku, dan biarkan temanmu ini sesaat mengangumi tubuhmu, bila tanganku terlalu nakal kamu bisa menghentikanku dengan pisau itu, Deal?…”

    Tubuh Reyna gemetar, lalu mengangguk dengan pelan, “Ya, Deaaal.” ucap bibir tipisnya, serak. Reyna kembali meraih pisau dan bawang dan membiarkan tangan kekar Rian dengan jari-jarinya yang panjang menggenggam payudara nya secara utuh. Memberikan remasan yang lembut, memainkan sepasang bongkahan daging dengan gemas.
    Rini

    Mata Reyna terpejam, kepalanya terangkat seiring cumbuan Rian yang perlahan merangsek keleher yang masih terbalut jilbab. Romansa yang ditawarkan Rian dengan cepat mengambil alih kewarasan Reyna.

    “Owwhhhh,” bibir Reyna mendesah, kakinya seakan kehilangan tenaga saat jari-jari Rian berhasil menemukan puting payudara yang mengeras.

    “Riaaaan,” ucap wanita itu sesaat sebelum bibirnya menyambut lumatan bibir yang panas.

    Membiarkan lelaki itu menikmati dan bercanda dengan lidahnya, menari dan membelit lidahnya yang masih berusaha menghindar. “Eeeemmhhh…” wajahnya terkaget, Rian dalam hisapan yang lembut membuat lidah nya berpindah masuk menjelajah mulut lelaki itu dan merasakan kehangatan yang ditawarkan.

    Menggelinjang saat lelaki itu menyeruput ludah dari lidahnya yang menari. Jika Reyna mengira permainan ini sebatas permainan pertautan lidah, maka wanita itu salah besar, karena jemari dari lelaki yang kini memeluknya penuh hasrat itu mulai menyelusup kebalik kancingnya.

    “Boleh?”

    Wanita berbalut jilbab itu tak berani menjawab, hanya memejamkan matanya dan menunggu keberanian silelaki untuk menikmati tubuhnya. Begitu pun saat tangan Rian berusaha menarik keluar bongkahan daging padat yang membusung menantang dari bra yang membekap.

    “Oooowwwhh, eemmppphhh,” tubuh Reyna mengejang seketika, tangan lentiknya tak mampu mengusir tangan Rian, hanya mencengkram agar jemari lelaki itu tidak bergerak terlalu lincah memelintir puting mungilnya.

    “Rey.. Kenapa kamu bisa sepasrah ini?.. Benarkah kamu menyukai lelaki ini?.. Bukan.. Ini bukan sekedar pertemanan Rey.. Meski kau tidak menyadari aku bisa merasakan bibit rasa suka dihatimu akan lelaki itu, Rey…” hati kecil Reyna mencoba menyadarkan. Tapi wanita itu justru berusaha memungkiri penghianatan cinta yang dilakoninya, berusaha mengenyahkan bisikan hati dengan memejamkan matanya lebih erat.

    Wajahnya mendongak ke langit rumah, berusaha lari dari batinnya yang berteriak memberi peringatan. Pasrah menunggu dengan hati berdebar saat tangan Rian mulai mengangkat dasternya keatas dan dengan pasti menyelinap kebalik kain kecil, menyelipkan jari tengah kecelah kemaluan yang mulai basah.

    “Ooowwwhhhhhhh,” bibirnya mendesah panjang, berusaha membuka kaki lebih lebar seakan membebaskan jari-jari Rian bermain dengan klitorisnya.

    Kurihiiiing…

    Kurihiiiing…

    Dering HP mengagetkan keduanya, membuat pergumulan birahi itu terlepas. Kesadaran Reyna mengambil alih seketika, dirinya semakin shock melihat nama yang tertera dilayar HP, ‘Mas Anggara’.

    “Hallo mas, halloo,,” sambut Reyna diantara usahanya mengkondisikan jantung yang berdegup kencang.

    “Mas sedang dimana, kenapa belum pulang?” ucap Reyna kalut dengan rasa takut dan bersalah yang begitu besar, seolah suaminya kini berdiri tepat didepannya.

    “Mas masih dirumah sakit, mungkin tidak bisa pulang malam ini,” jawab suara besar diujung telpon.

    “Iya.. Iya tidak apa-apa, Mas kerja saja yang tenang,”

    Setelah mengucap salam, sambungan telpon dimatikan. Reyna berdiri bersandar dimeja, menghela nafas panjang lalu meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.

    “Rian, terimakasih untuk semuanya, tapi kau bisa pulang sekarang,”

    “Tidak Rey, kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai,”

    “Apa maksudmu?… Tidak.. Aku bukan seperti Anita yang kesepian, aku tidak memiliki masalah apapun dengan suamiku, keluarga yang kumiliki saat ini adalah keluarga yang memang kuidamkan…” wajah Reyna menjadi pucat saat Rian mendekat menempel ketubuhnya, mengangkat dasternya lebih tinggi, memeluk dan meremas pantat yang padat berisi.

    “Rian, ingat!.. Kamu seorang guru, bukan pemerkosa..” didorongnya tubuh lelaki itu, tapi dekapan tangan Rian terlalu erat.

    “Yaa.. Aku memang bukan pemerkosa, aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah kita mulai,”

    “Gila kamu Rian, aku adalah istri yang setia, tidak seperti wanita-wanita yang pernah kau tiduri ”

    “Ohh ya?,,” Rian tersenyum sambil menurunkan celananya dan memamerkan batang yang telah mengeras, batang besar yang membuat Reyna terhenyak.

    Tiba-tiba dengan kasar Rian mencengkram tubuh Reyna dan mendudukkan wanita itu diatas meja, dengan gerakan yang cepat menyibak celana dalam Reyna, batang besar itu telah berada didepan bibir senggama Reyna.

    “Jangan Riaaan, aku bisa berbuat nekat,” Reyna mulai menangis ketakutan, meraih garpu yang ada disampingnya, mengancam Rian.

    “Kenapa mengambil garpu, bukankah disitu ada pisau?” Rian terkekeh, wajah yang tadi dihias senyum menghanyutkan kini berubah begitu menakutkan.

    “Aaaaaaaaaaaggghh…” Rian berteriak kesakitan saat Reyna menusukkan garpu ke lengan lelaki itu.

    Lelaki itu menepis tangan Reyna, merebut garpu dan melemparnya jauh, darah terlihat merembes dikemeja lelaki itu. “Bila ingin mengakhiri ini seharusnya kau tusuk tepat di ulu hatiku,” ucapnya dengan wajah menyeringai sekaligus menahan sakit.

    “Tidaaak Riaaaan, hentikaaan,” Reyna berhasil berontak mendorong tubuh besar Rian lalu berlari kearah kamar, tapi belum sempat wanita itu menutup kamar Rian menahan dengan tangannya.

    “Aaaaagghh…” Rian mengerang kesakitan akibat tangannya yang terjepit daun pintu, lalu dengan kasar mendorong hingga membuat Reyna terjengkal.

    “Dengar Rey.. Sudah lama aku menyukai mu, dan aku berusaha menarik perhatianmu dengan menentang setiap kebijakan mu,”

    Dengan kasar Rian mendorong wanita itu kelantai dan melucuti pakaiannya, Reyna berteriak meminta tolong sembari mempertahankan kain yang tersisa, tapi derasnya hujan mengubur usahanya. Lelaki itu berdiri mengangkangi tubuh Reyna yang terbaring tak berdaya, memamerkan batang besar yang mengeras sempurna, kejantanan yang jelas lebih besar dari milik suaminya.

    Wanita itu menangis saat Rian dengan kasar menepis tangan yang masih berusaha menutupi selangkangan yang tak lagi dilindungi kain. “Cuu.. Cukup Rian, sadarlaaah..” sambil terus menangis Reyna berusaha menyadarkan, tapi usahanya sia-sia, mata lelaki itu terhiptonis pada lipatan vagina dengan rambut kemaluan yang terawat rapi.

    Dengan kekuatan yang tersisa Reyna berusaha merapatkan kedua pahanya, namun terlambat, Rian telah lebih dulu menempatkan tubuhnya diantara paha sekal itu dan bersiap menghujamkan kejantanannya untuk mengecap suguhan nikmat dari wanita secantik Reyna.

    “Ooowwhhh… Vagina mu lebih sempit dibanding milik Anita,” desah Rian seiring kejantanan yang menyelusup masuk ke liang si betina.

    “Oohhkk.. Oohhkk..” bibir Reyna mengerang menerima hujaman yang dilakukan dengan kasar, semakin keras batang besar itu menghujam semakin kuat pula jari-jari Reyna mencakar tangan Rian, air matanya tak henti mengalir.
    Rini

    Tubuhnya terhentak bergerak tak beraturan, Rian menyetubuhinya dengan sangat kasar. Wajah lelaki itu menyeringai saat melipat kedua paha Reyna keatas, memberi suguhan indah dari batang besar yang bergerak cepat menghujam celah sempit vagina Reyna.

    “Sayang, aku bisa merasakan lorong vaginamu semakin basah, ternyata kamu juga menikmati pemerkosaan ini, hehehe”

    Plak…

    Pertanyaan Rian berbuah tamparan dari tangan Reyna, tapi lelaki itu justru tertawa terpingkal, lidahnya menjilati jari-jari kaki Reyna yang terangkat keatas dengan pinggul yang terus bergerak menghujamkan batang pusakanya. Puas bermain dengan kaki Reyna, tangan lelaki itu bergerak melepas bra yang masih tersisa.

    “Ckckckck… Sempurna, sejak dulu aku sudah yakin payudaramu lebih kencang dari milik Anita,”

    Tubuh Reyna melengkung saat putingnya dihisap lelaki itu dengan kuat. “Oooooouugghh..”

    “Pasti Anita malam ini tidak bisa tidur karena menunggu batang kejantanan yang kini sedang kau nikmati, Oowwhhh kecantikan, keindahan tubuh dan nikmatnya vaginamu benar-benar membuatku lupa pada beringasnya permainan Anita,” ucap Rian, membuat Reyna kembali melayangkan tangannya kewajah lelaki itu.

    “Bajingan kamu, Ian..” umpat wanita itu, tapi tak berselang lama bibirnya justru mendesah saat lidah Rian bermain ditelinganya. “Oooowwwhhhhh….”

    “Hehehe…akuilah, jika kamu juga menikmati pemerkosaan ini, rasakanlah besarnya penisku divagina sempit mu ini,”

    Mata wanita itu terpejam, air matanya masih mengalir dengan suara terisak ditingkahi lenguhan yang sesekali keluar tanpa sadar. Hatinya berkecamuk, sulit memang memungkiri kenikmatan yang tengah dirasakan seluruh inderanya.

    “Reeeey… Sadarlah, kamu wanita baik-baik, seorang istri yang setia, setidaknya tutuplah mulut nakal mu itu,” teriak hatinya mencoba mengingatkan, membuat airmata Reyna semakin deras mengalir.

    Yaa.. meski hatinya berontak, tapi tubuhnya telah berkhianat, pinggulnya tanpa diminta bergerak menyambut hentakan batang yang menggedor dinding rahim. Rian tersenyum penuh kemenangan.

    “Berbaliklah, sayang,” pintanya.

    Tubuh Reyna bergerak lemah membelakangi Rian, pasrah saat lelaki itu menarik pantatnya menungging lebih tinggi, menawarkan kenikmatan dari liang senggama yang semakin basah. Jari-jari lentiknya mencengkram sprei saat lelaki dibelakang tubuhnya menggigiti bongkahan pantatnya dengan gemas.

    “Oooowwwhhhh… Eeeeeenghhh..” pantat indah yang membulat sempurna itu terangkat semakin tinggi ketika lidah yang panas memberikan sapuan panjang dari bibir vagina hingga keliang anal.

    Rasa takut dan birahi tak lagi mampu dikenali, matanya yang sendu mencoba mengintip pejantan yang membenamkan wajah tampannya dibelahan pantat yang bergetar menikmati permainan lidah yang lincah menari, menggelitik liang vagina dan anusnya, suatu sensasi kenikmatan yang tak pernah diberikan oleh suaminya.

    Isak tangis bercampur dengan rintihan. Hati yang berontak namun tubuhnya tak mampu berdusta atas lenguhan panjang yang mengalun saat batang besar Rian kembali memasuki tubuhnya, menghantam bongkahan pantatnya dengan bibir menggeram penuh nafsu.

    Begitupun saat Rian meminta Reyna untuk menaiki tubuhnya, meski airmatanya jatuh menetes diatas wajah sipejantan tapi pinggul wanita itu bergerak luwes dengan indahnya menikmati batang besar yang dipaksa untuk masuk lebih dalam.

    “Aaaawwhhhh Rey… Boleh aku menghamilimu?” ucap Rian saat posisinya kembali berada diatas tubuh Reyna, menunggangi tubuh indah yang baru saja meregang orgasme.

    Wanita itu membuang wajahnya, bibirnya terkatup rapat tak berani menjawab hanya gerakan kepala yang menggeleng menolak, matanya begitu takut beradu pandang dengan mata Rian yang penuh birahi.

    Batang besar Rian bergerak cepat, orgasme yang diraih siwanita membuat lorong senggamanya menjadi sangat basah. Hentakan pinggul lelaki itu begitu cepat dan kuat seakan ingin membobol dinding rahim, memaksa Reyna berpegangan pada besi ranjang penikahannya untuk meredam kenikmatan yang didustakan.

    “Reeeeey.. Boleh aku menghamilimuuu?.. Aaaagghhh, cepaaaaat jawaaaaaaaab,” teriak Rian yang menggerakkan pinggulnya semakin cepat.

    Reyna menatap Rian dengan kepala yang menggeleng. “Jangaaan.. kumohooon jangaaaan… Rian tersenyum menyeringai “Kamu yakin?Tidak ingin merasakan sensasi bagaimana sperma lelaki lain menghambur dirahim mu?”

    Plaaak..

    Reyna kembali menampar wajah Rian untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini jauh lebih keras. Wanita menjerit terisak, tapi kaki jenjangnya justru bergerak melingkari pinggul silelaki, tangannya memeluk erat seakan ingin menyatukan dua tubuh.

    Tangis Reyna semakin menjadi, menangisi kekalahannya. Tangannya menyusuri punggung Rian yang berkeringat lalu meremas pantat yang berotot seakan mendukung gerakan Rian yang menghentak batang semakin dalam.

    “Kamu jahaaaaat Riaaaan.. jahaaaaat..” teriak Reyna seiring lenguh kenikmatan dari bibir silelaki.

    Menghambur bermili-mili sperma dilorong senggama, menghantar ribuan benih kerahim siwanita yang mengangkat pinggulnya menyambut kepuasan silelaki dengan lenguh orgasme yang kembali menyapa, tubuh keduanya mengejat, menggelinjang, menikmati suguhan puncak dari sebuah senggama tabu.

    “Kenapa kau mempermainkan aku seperti ini,” isak Reyna dengan nafas memburu, tangannya masih meremasi pantat berotot Rian yang sesekali mengejat untuk menghantar sperma yang tersisa kerahim si wanita.

    “Karena aku mencintaimu,” bisik lembut si penjantan ditelinga betina yang membuat pelukannya semakin erat, membiarkan tubuh besar itu berlama-lama diatas tubuh indah yang terbaring pasrah. Membisu dalam pikiran masing-masing.

    “Apa kamu bersedia menjadi teman selingkuhku?”’

    Reyna menggeleng dengan cepat, “Aku tidak berani, Rian, Ooooowwhhhhhh..” wanita itu melepaskan pagutan kakinya dan mengangkang lebar, membiarkan silelaki kembali menggerakkan pingulnya dan memamerkan kehebatan kejantanannya dicelah sempit vagina Reyna.

    “Tapi bagaimana bila aku memaksa?..”

    “Itu tidak mungkin Oooowwhhh… Aku sudah bersuami dan memiliki anak, aaaahhhhhh…” Reyna menggelengkan kepala, berusaha kukuh atas pendirian, meski pinggul indahnya bergerak liar, tak lagi malu untuk menyambut setiap hentakan yang menghantar batang penis kedalam tubuhnya.’

    Reyna tak ingin berdebat, tangannya menjambak rambut Rian saat bibir lelaki itu kembali berusaha merayu, membekap wajah Rian pada kebongkahan payudara dengan puting yang mengeras.

    “Kamu jahat, Ian.. Tak seharusnya aku membiarkan lelaki lain menikmati tubuhku.. Ooowwwhh.. Ooowwwhhh…”

    Setelahnya tak ada lagi kalimat lagi yang keluar selain desahan dan lenguhan dan deru nafas yang memburu. Hingga akhirnya bibir Rian bersuara serak memanggil nama si wanita.

    “Reeeeey… Boleeeehkaaan?”

    Reyna menatap sendu wajah birahi Rian, dengan kesadaran yang penuh wanita itu mengangguk lalu merentang kedua tangan dan kakinya, memberi izin kepada silelaki untuk kembali menghambur sperma kedalam rahimnya.

    “Reeeey..” panggil lelaki itu kembali, membuat siwanita bingung, sementara tubuhnya telah pasrah menjadi pelampiasan dari puncak birahi Rian.

    Dengan wajah memelas tangan Rian bergerak mengusap wajah Reyna, telunjuknya membelah bibir tipis siwanita.

    “Dasar guru mesum, ” ucap Reyna sambil menampar pipi Rian tapi kali ini dengan lembut,

    “kamu menang banyak hari ini, Ian..” ucapnya lirih dengan mata sembap oleh air mata.

    “Boleeeh?..”

    Reyna memalingkan wajahnya, lalu mengangguk ragu. Rian bangkit mencabut batangnya lalu mengangkangi wajah guru cantik itu. Sudut mata Reyna menangkap wajah tampan silelaki yang menggeram sambil memainkan batang besar tepat didepan wajah nya.

    Jemari lentiknya gemetar saat mengambil alih batang besar itu dari tangan Rian. Memberanikan diri untuk menatap lelaki yang mengangkangi wajahnya, kepasrahan wajah seorang wanita atas lelaki yang menikmati tualang birahi atas tubuhnya.

    “Aaaaaaaagghhh.. Aaaaagghhh.. Reeeeey..” wajah Rian memucat seiring sperma yang menghambur kewajah cantik yang menyambut dengan mata menatap sendu. “Aaaaaagghhhh.. Sayaaaaaang..”

    Tak pernah sekalipun Reyna menyaksikan seorang pejantan yang begitu histeris mendapatkan orgasmenya, dan tak pernah sekalipun Reyna membiarkan seorang pejantan menghamburkan sperma diwajah cantiknya. Dengan ragu Reyna membuka bibirnya, membiarkan tetesan sperma menyapa lidahnya. Batang itu terus berkedut saat jari lentik Reyna yang gemetar menuntun kedalam mulutnya.

    Menikmati keterkejutan wajah Rian atas keberaniannya. Bibirnya bergerak lembut menghisap batang Rian, mempersilahkan lelaki itu mengosongkan benih birahi didalam bibir tipisnya.

    “Ooooooowwwhhhhh.. Reeeeeeeey…” Rian mengejat, menyambut tawaran Reyna dengan beberapa semburan yang tersisa.

    “Cepatlah pulang.. Aku tidak ingin suamiku datang dan mendapati dirimu masih disini,” pinta Reyna setelah Rian sudah mengenakan kembali seluruh pakaiannya.

    “Masih belum puas?.. dasar guru mesum,” ucapnya ketus saat Rian memeluk dari belakang.

    “aku bukanlah selingkuhan mu, catat itu,” Reyna menepis tangan Rian.

    “Yaa.. Aku akan mencatatnya disini, disini, dan disini..” jawab Rian sambil menunjuk bibir tipis Reyna, lalu beralih meremas payudara yang membusung dan berakhir dengan remasan digundukan vagina.

    “Dasar gila ni cowok,” umpat hati Reyna, yang kesal atas ulah Rian tetap terlihat cuek setelah apa yang terjadi.

    Reyna menatap punggung Rian saat lelaki itu melangkah keluar, hujan masih mengguyur bumi Jakarta dengan derasnya, dibibir pintu lelaki itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, menampilkan wajah serius.

    “Maaf Rey, sungguh ini diluar dugaanku, semua tidak lepas dari khayalku akan dirimu, tapi aku memang salah karena mencintai wanita bersuami, Love you Rey..” ucap Rian lalu melangkah keluar kepelukan hujan.

    “Riaaan.. Love u too,” teriak Reyna dengan suara serak, membuat langkah Rian terhenti

    “Tapi maaf aku tidak bisa jadi selingkuhanmu.” lanjutnya.

    “Mamaaaaaa, Elminaaaa pulaaaaang,” teriak seorang bocah dengan ceria, coba mengagetkan wanita yang sibuk merapikan tempat tidur yang berantakan, gadis kecil itu langsung menghambur memeluk tubuh Reyna, ibunya.

    Usaha gadis itu cukup berhasil, Reyna sama sekali tidak menduga, Ermina, putri kecilnya yang beberapa hari menginap ditempat kakeknya dijemput oleh suaminya.

    “Ini buat mama dari Elmina,” ucapnya cadel, menyerahkan balon gas berbentuk amor yang melayang pada seutas tali. “Elmina kangen mamaa, selamat valentine ya, ma, Semoga mama semakin cantik dan sehat selalu..”

    Wajah mungil itu tersenyum ceria, senyum yang begitu tulus akan kerinduan sosok seorang ibu. Reyna tak lagi mampu membendung air mata, menatap mata bening tanpa dosa yang menunjukkan kasih sayang seorang anak. Sementara dibelakang gadis itu berdiri suaminya, Anggara, sambil menggenggam balon yang sama.

    “Selamat valentine, sayang,” ucap Anggara, tersenyum dengan gayanya yang khas, senyum lembut yang justru mencabik-cabik hati Reyna.

    Seketika segala sumpah serapah tertumpah dari hatinya, atas ketidaksetiaannya sebagai seorang istri, atas ketidak becusannya menyandang sebutan seorang ibu. Cerita Maya

    “Maafin Mama, sayang,” ucap Reyna tanpa suara, memeluk erat tubuh mungil Ermina, terisak dengan tubuh gemetar. “Maafin mama, Pah,”

    Tengah malam, Reyna berdiri dibalik jendela, menatap gulita dengan gundah. Suaminya dan Ermina telah terlelap.

    PING!…

    Tanpa hasrat wanita itu membuka BBM yang ternyata menampilkan pesan dari Rian.

    “Besok pukul 12 aku tunggu di lab kimia, ”

    Jemari kiri Reyna erat menggenggam tangan suaminya yang tengah pulas tertidur, sementara tangan kanannya menulis pesan dengan gemetar. “Ya, aku akan kesitu,”

  • Nikmatnya Bercinta Dengan Guru Praktek Di Sekolah

    Nikmatnya Bercinta Dengan Guru Praktek Di Sekolah


    588 views

    Cerita Maya | Waktu itu aku masih kelas dua, di salah satu SMA Negeri di Bandung. Aku termasuk salah satu siswa dengan segudang kegiatan. Dari mulai aktif di OSIS, musik, olahraga, sampai aktif dalam hal berganti-ganti pacar.
    Rany

    Tapi satu hal yang belum pernah kulakukan saat itu hubungan kelamin. Sering kali aku berkhayal sedang berhubungan badan dengan salah satu wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi aku tidak punya keberanian untuk meminta, mengajak ataupun melakukan itu.

    Mungkin karena cerita sahabatku yang terpaksa menikah karena telah menghamili pacarnya dan sekarang hidupnya hancur lebur. Itu mungkin yang bikin kutakut, setengah mati. Tapi aku menyukai rasa takut itu, bukankah rasa takut itu yang bisa menjauhkan aku dari perbuatan dosa. Cerita Maya

    Pada suatu saat, datang gerombolan guru praktek dari IKIP Bandung yang akan menggantikan guru kami untuk beberapa minggu. Salah satu dari guru praktek itu bernama Rany. Dia orangnya cantik, ah bukan… bukan cantik… tapi dia sempurna. Peduli setan dengan matematika yang diajarkannya, aku hanya ingin menikmati wajahnya, memeluk tubuhnya yang tinggi semampai, mengecup bibirnya, dan… aku pun berkhayal sangat jauh, tapi semua itu tidak mungkin. Dengan pacarku yang seumur denganku saja, aku tidak berani, apalagi dengan Rany.

    Singkat cerita, aku melaju dengan motorku. Hari sudah sore aku harus cepat-cepat sampai di rumah. Dalam perjalanan kulihat bu Rany. Aku memberanikan diri berhenti dan menghampirinya. Setelah sedikit berbasa-basi dia bercerita bahwa dirinya baru saja pindah kost dan tempat kost yang sekarang letaknya tepat di tengah-tengah antara sekolahku dengan rumahnya. Sehingga setiap sore aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Kejadian itu berlangsung setiap hari selama 1 minggu lebih. Kami berdua mulai akrab, bahkan nantinya terlalu akrab.

    Seperti biasanya, aku mengantarkan Ibu Rany pulang ke kost-nya. Anehnya saat itu, dia tidak ingin langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di pertokoan di daerah Alun-Alun Bandung. Setelah puas kami pun pulang menuju ke kost Ibu Rany.

    Dan ketika kupamit Ibu Rany memegang tanganku dan…

    “Jangan pulang dulu, dong!” Ibu Rany menahanku, tapi memang inilah yang selama ini kuharapkan.

    “Udah malam Bu, takut entar dimarahi…” Perkataanku terhenti melihat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang kecil.

    “Jangan panggil aku Ibu Rany, coba tebak berapa umurku?” ternyata umurnya terpaut 5 tahun dengan umurku yang saat itu 17 tahun.

    “Panggil aku Rany.” Aku hanya menganggukkan kepalaku.

    “Sini yuk, aku punya baju baru yang akan aku pamerkan kepadamu.”

    Ditariknya tanganku menuju kamarnya, jantungku mulai berdetak kencang.

    Sesampainya di kamar, dia menyuruhku duduk di depan televisi yang memperlihatkan pahlawan kesayanganku, McGyver. Rany kemudian menghampiri lemari pakaian di samping televisi.

    “Aku punya 3 buah baju baru, coba kamu nilai mana yang paling bagus.”

    Kujawab dengan singkat, “OK!” lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku. Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat dengan jelas betapa dia dengan santainya membuka baju seragam kuliahnya, jantungku berdebar keras. Rany hanya menyisakan BH berwarna hitam dan celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang mencari pakaian di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.

    “Aku tidak bisa menemukan baju baruku, kemana ya?” Aku hanya terdiam pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju kepada belahan pantat yang hanya tertutup kain tipis.

    Sesekali dia membalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat dua buah benda yang menggunung di balik BH-nya. Akhirnya dia mengenakan gaun tidur berwarna pink yang sangat tipis, Lalu dia menghampiriku, dan kami berdua duduk berhadapan.

    “Kamu kenapa, kok pucat”, aku terdiam.

    “Kamu takut ya?” Aku tetap terdiam.

    “Aku tau kamu suka aku.” Aku terdiam.

    “Hey, ngomong dong.” Aku tetap terdiam.

    Dalam kediamanku selama itu aku menyimpan sesuatu di dadaku yang berdetak sangat kencang dan keras serasa ingin meledak ketika dia menempelkan bibir mungilnya ke bibirku. Dia melumat bibirku, sedikit buas tapi mesra. Aku mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Kugerakkan bibirku dan kulumat kembali bibirnya. Tak lama kemudian, telapak tangan Rany yang hangat meraih pergelangan tanganku. Dibawanya tanganku ke arah buah dadanya. Jantungku saat itu sangat tidak karuan. Kuremas buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, tapi aku dapat merasakan betapa kencangnya kedua gunung surga itu. Lidah kami pun mulai bermain.

    Tiba-tiba dia mendorongku, terus mendorongku sehingga aku telentang di atas karpet kamarnya. Aku hanya menurut dan tak bergerak. Rany membuka baju tidurnya yang tipis. Kali ini dia tidak berhenti ketika hanya BH dan CD-nya saja yang melekat di tubuhnya, tapi BH-nya kemudian terjatuh ke karpet. Belum sempat aku bergerak, Rany menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, buah dadanya yang sangat keras menindih dadaku.

    “Kamu suka, ya?” aku mengangguk.

    Aku tak kuasa menahan diri, ketika aku mengangkat kepalaku untuk melumat bibirnya kembali, dia menahan kepalaku, aku heran.

    “Ke.. ke… kenapa Ran?” kataku terbata-bata.

    Dia hanya tersenyum, lalu dengan santainya dia memanjat turun tubuhku. Aku hanya terdiam, aku tidak berani bergerak. Aku bagaikan seorang prajurit yang hanya bergerak berdasarkan komando dari Rany. Dia mulai membelai pahaku dan sedikit mempermainkan selangkanganku. Sesekali dia menciumi celana seragam abu-abuku tepat pada bagian batang kejantananku. Aku memejamkan mata, aku pasrah,

    “Aku… aku… ah…!”

    Aku membiarkannya, ketika Rany mulai membuka celana seragamku, mulai dari ikat pinggangku dan berlanjut dengan menyingkapkan CD-ku. Dia meraih batang kemaluanku dengan mesranya.

    Baca Juga Cerita Seks Ngewe Bosku Yang Cantik Dan Kesepian

    “Ah… crot… crot… crot…!” Aku tak kuasa menahan diriku ketika bibirnya yang mungil menyentuh kepala kemaluanku.

    Aku malu, malu setengah mati.

    “Tenang, itu biasa kok.”

    Senyumnya membuat rasa maluku hilang, senyum dari wajah sang bidadari itu membuat keberanianku muncul,

    “Ya aku berani, aku nekat!”

    Aku menarik kepalanya dan membalikkan tubuhku, sehingga aku berada tepat di atasnya. Dia sedikit kaget, tapi hal itu membuat aku suka dan makin berani. Aku beranjak ke bawah, kubuka CD-nya. Saat itu yang ada dipikiranku hanya satu, aku harus mencontoh film-film biru yang pernah kutonton.

    “Kamu mulai nakal, ya.”

    “Ibu guru tidak suka.”

    Rany

    Aku tak memperdulikan candanya. Kuturunkan CD-nya perlahan, kulihat sekilas rumput kecil yang menutupi celah surganya. Seketika kucumbu dan kumainkan lidahku di celah surga itu. Tangan kananku terus menarik CD-nya sampai ke ujung kakinya dan kulempar entah jatuh di mana. Aku menghentikan sejenak permainan lidahku, kuangkat pinggul yang indah itu dan kugendong dia menuju ke tempat tidur yang terletak tepat di belakang kami berdua.

    Kuletakkan tubuh semampai dengan tinggi 173cm itu tepat di pinggir tempat tidur. Aku kemudian berjongkok, dan kembali memainkan lidahku di sekitar celah surganya, bahkan aku berhasil menemukan batu kecil di antara celah itu yang setiap kutempelkan lidahku dia selalu mengerang, mendesah, bahkan berteriak kecil.

    Tangan kiriku ikut bermain bersama lidahku, dan tangan kananku membersihkan sisa air mani yang baru saja keluar. Wow… batang kejantananku sudah keras lagi. Ketika aku sedang asyik bermain di celah surganya, dia menarik kepalaku.

    “Buka celana kamu, semuanya…!” Aku menurut dan kembali menindih tubuhnya.

    Setelah kepala kami berdekatan dia mencium bibirku sekali dan kemudian dia tersenyum, hanya saat itu matanya sudah sayu, tidak lagi bulat penuh dengan cahaya yang sangat menyilaukan.

    Dia mengangkat kepalanya disertai tangan kananya meraih batangku dan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Tapi ketika batangku menyentuh bibir lubang kemaluannya,

    “Crot… cret… creeett…!” Kembali aku meraih puncakku, dia pun tersenyum.

    Hanya saat itu aku tidak lagi malu, yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin bisa memuaskannya sebelum orgasmeku yang ketiga. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini batang kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Rany mengocok-ngocok batanganku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di depanku dan juga membelai rambutnya yang hitam legam, aku kembali bernafsu.

    “Pelan-pelan aja tidak usah takut.” Dia berbisik dan tersenyum padaku.

    Tak karuan perasaanku saat itu, apalagi ketika kepala kemaluanku dioles-oleskannya ke bibir kemaluannya. Tangannya yang kecil mungil itu akhirnya menarik batang kemaluanku dan membimbingnya untuk memasuki lubang kewanitaannya.

    “Bles… sss… sek!” Batangku sudah seratus persen tertanam di lubang surganya.

    Rasa percaya diriku semakin meningkat ketika aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengalami orgasme. Aku mulai menarik pinggulku sehingga kemaluanku tertarik keluar dan membenamkannya lagi, terus menerus berulang. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk begitu seterusnya.

    “Oh Dig…!” Dia mulai memanggil nama akrabku, aku dipanggil Jedig oleh sahabat-sahabatku.

    Selama ini Rany hanya memanggil nama asliku seperti yang tertera di dalam absen kelasku.

    “Dig, terus… kamu mulai pintar…” Aku tak peduli, aku terus bergerak naik turun.

    Aku merasakan batang kemaluanku yang basah oleh cairan dari lubang surga milik Rany. Naik dan turun hanya itu yang kulakukan. Sesekali aku mencium bibirnya, sesekali tanganku mempermainkan bibir dan buah dadanya.

    “Ah… ah… ah, ah… oh!” Nafasnya memburu.

    “Ah Dig… ah… ah… ooowww!” Dia berteriak kecil, matanya sedikit melotot dan kemudian dia kembali tersenyum.

    Aku terdiam sejenak, aku heran kenapa dia melakukan itu. Yang kuingat, saat itu batang kemaluanku serasa disiram oleh cairan hangat ketika masih ada di dalam lubang kemaluannya. “Ntar dulu ya Jedig Sayang.” Dia mengangkat tubuhnya sehingga kemaluanku terlepas, aku menahan tubuhnya. Aku tak ingin kemaluanku terlepas aku masih ingin terus bermain.

    “Eit… sabar dong, kita belum selesai kok.” Kulihat dirinya memutar tubuhnya kemudian nungging di depan mataku.

    Aku sangat mengerti apa yang harus kulakukan, ya… seperti di film-film itu.

    Aku mendekatinya dengan batang kemaluanku yang sudah siap menghunus lubang kemaluannya. Aku mencoba memasukannya, tapi aku mengalami kesulitan. Satu, dua, ya dua kali aku gagal memasukan batangku. Akhirnya dia menggunakan tangan mungilnya untuk membimbing batangku.

    “Blesss…” Batangku masuk dengan perlahan. Berbeda dengan tadi, sekarang aku tidak lagi naik turun tetapi maju mundur.

    Kami berdua mendesah. Nafas kami saling memburu. Terus dan terus lagi.

    “Ah… oh… uh… terus Dig…, ah… oooww!” Kembali dia berteriak kecil, saat ini aku mengerti, setiap kali dia berteriak pasti kemudian dia merubah posisinya.

    Benar saja posisi kami kembali seperti posisi awal. Dia telentang di bawah dan aku menindihnya di atas. Aku tidak lagi memerlukan tangan mungilnya untuk membimbingku. Aku sudah bisa memasukan batang kemaluanku sendiri tepat menuju lubang surga yang sesekali beraroma harum bunga itu.

    Kembali aku melakukan naik dan turun. Kali ini aku menjadi siswa yang benar-benar aktif, tidak hanya di sekolah tapi di ranjang. Kuangkat kaki kanannya, kujilati betisnya yang tanpa cacat itu sambil terus menggerakan pinggulku.

    Beberapa saat kemudian, aku merasakan darahku mengalir dengan keras, ada sesuatu di dalam tubuhku yang siap untuk meledak. Gerakanku semakin kencang, cepat, dan tidak teratur.

    “Terus Dig, lebih cepat lagi… terus lebih cepat lagi Dig, terus.”

    Gerakanku semakin cepat. Kami berdua sudah seperti kuda liar yang saling kejar-mengejar sehingga terdengar suara nafas yang keras dan saling sambut menyambut.

    “Terus Dig, terus… ah… uh… oh…!”

    “Oban sayang… ah… dig… dig… dig… aaoowww!”

    Saat ini teriakannya sangat keras dan kulihat matanya sedikit melotot dan giginya terkatup dengan sangat keras. Kemudian dia terjatuh.

    “Dig cepetan ya sayang…!”

    “Aku capek.”

    Aku tak bisa berhenti menggerakan tubuhku, sepertinya ada suatu kekuatan yang mendorong dan menarik pinggulku.

    “Ah… oh… Ufff… aaah…!”

    “Crot… cret… cret…!”

    Muncratlah air kenikmatan itu dari tubuhku. Aku terjatuh di sampingnya, aku puas! Dia tersenyum padaku dan memelukku, dia menaruh kepalanya di dadaku. Setelah mengecup bibirku kami berdua pun tertidur pulas.

    Beberapa bulan setelah percintaanku dengan Ibu Rany… Perpisahaan pun dimulai, setelah aku memainkan beberapa lagu di panggung perpisahaan untuk menandakan berakhirnya masa kerja praktek mahasiswa-mahasiswa IKIP di sekolahku. Kulihat mereka menaiki bus bertuliskan IKIP di pinggirnya. Aku mencari Rany, bidadari yang merenggut keperjakaanku. Cerita Maya

    “Rany… hey…!” Rany menengok dan matanya melotot.

    “Ups… Ibu Rany!” Aku lupa, dia kan guruku.

    “Sampai ketemu lagi ya, jangan lupa belajar!” sambil menaiki tangga bus dia menyerahkan surat padaku.

    Aku langsung membaca dan tak mengerti apa maksud dari tuRanyn itu.

    Akhirnya bus itu pergi dan saat itulah saat terakhir aku melihatnya. Aku tak akan pernah lupa walaupun hanya sekali aku melakukannya dengan Rany. Tapi itu sangat berbekas. Aku selalu merindukannya. Bahkan aku selalu berkhayal aku ada di dekat dia setiap aku dekat dengan perempuan. Sekarang ketika aku sudah duduk di bangku kuliah aku baru mengerti apa arti dari surat Rany.

  • Ngewe Bosku Yang Cantik Dan Kesepian

    Ngewe Bosku Yang Cantik Dan Kesepian


    441 views

    Cerita Maya | Sudah dua tahun aku bekerja di perusahaan swasta ini. Aku bersyukur, karena prestasiku, di usia yang ke 25 ini aku sudah mendapat posisi penyelia.

    Atasanku seorang wanita berusia 42 tahun. Walaupun cantik, tapi banyak karyawan yang tidak menyukainya karena selain keras, sombong dan terkadang suka cuek.’

    Lita

    Namun sebagai bawahannya langsung aku cukup mengerti beban posisi yang harus dipikulnya sebagai pemimpin perusahaan. Kalau karyawan lain ketakutan dipanggil menghadap sama Bu Lita, aku malah selalu berharap dipanggil. Bahkan sering aku mencari-cari alasan untuk menghadap keruangan pribadinya. Cerita Maya

    Sebagai mantan pragawati tubuh Bu Lita sangatlah bagus diusia kepala empat ini. Wajahnya yang cantik tanpa ada garis-garis ketuaan menjadikannya tak kalah dengan anak muda. Saking keseringan aku mengahadap keruangannya, aku mulai menangkap ada nada-nada persahabatan terlontar dari mulut dan gerak-geriknya.

    Tak jarang kalo aku baru masuk ruangannya Bu Lita langsung memuji penampilanku. Aku bangga juga mulai bisa menarik perhatian. Mudah-mudahan bisa berpengaruh di gaji hahaha nyari muka nih.

    Sampai suatu ketika, lagi-lagi ketika aku dipanggil mengahadap, kulihat raut muka Bu Lita tegang dan kusut. Aku memberanikan diri untuk peduli,

    “Ibu kok hari ini kelihatan kusut? ada masalah?”, sapaku sembari menuju kursi didepan mejanya.

    “Ia nih Ndy, aku lagi stres,udah urusan kantor banyak, dirumah mesti berantem sama suaminya kusut deh”, jawabnya ramah, sudut bibirnya terlihat sedikit tersenyum.

    “Justru aku manggil kamu karena aku lagi kesel. Kenapa ya kalau lagi kesel trus ngeliat kamu aku jadi tenang”, tambahnya menatapku dalam.

    Aku terhenyak diam, terpaku. Masak sih Bu Lita bilang begitu? Batinku.

    “Andy,ditanya kok malah bengong”, Bu Lita menyenggol lenganku.

    “Eeehh nggak,abisnya kaget dengan omongan Ibu kayak tadi. Aku kaget dibilang bisa nenangin seorang wanita cantik”, balasku gagap.

    “Ndy nanti temenin aku makan siang di Hotel ya.. Kita bicarain soal promosi kamu. Tapi kita jangan pergi bareng ,nggak enak sama teman kantor. kamu duluan aja, kita ketemu disana”, kata Bu Lita.

    Aku semakin tergagap, tidak menyangka akan diajak seperti ini.

    “Baik Bu”, jawabku sambil keluar dari ruangannya.

    Setelah membereskan file-file, pas jam makan siang aku langsung menuju hotel tempat janji makan siang. Dalam mobilku aku coba menyimpulkan promosi jabatan apa yang akan Bu Lita berikan. Seneng sih, tapi juga penuh tanda tanya.

    Kenapa harus makan siang di hotel? Terbersit dipikiranku, mungkin Bu Lita butuh teman makan, teman bicara atau mudah-mudaha teman tidur.. upss mana mungkin Bu Lita mau tidur dengan aku. Dia itu kan kelas atas sementara aku karyawan biasa. Aku kesampingkan pikiran kotor.

    Sekitar setengah jam aku menungu di lobby hotel tiba-tiba seorang bellboy menghampiriku. Setelah memastikan namaku dia mempersilahkanku menuju kamar 809, katanya Bu Lita menunggu di kamar itu.

    Aku menurut aja melangkah ke lift yang membawaku ke kamar itu. Ketika kutekan bel dengan perasaan berkecamuk penuh tanda tanya berdebar menunggu sampai pintu dibukain dan Bu Lita tersenyum manis dari balik pintu.

    “Maaf ya Ndy aku berobah pikiran dengan mengajakmu makan di kamar. Mari.. kita ngobrol-ngobrol kamu mau pesen makanan apa?”, kata Bu Lita sambil menarik tangan membawaku ke kursi. Aku masih gugup.

    “Nggak usah gugup gitu dong”, ujar Bu Lita melihat tingkahku.

    “Aku sebetulnya nggak percaya dengan semua ini .aku nggak nyangka bisa makan siang sana Ibu seperti ini.Siapa sih yang nggak bangga diundang makan oleh wanita secantik Ibu?”, ditengah kegugupanku aku masih sempat menyempilkan jurus-jurus rayuan. Aku tau pasti pujian kecil bisa membangkitkan kebanggan.

    “Ahh kamu Ndy bisa aja,emangnya aku masih cantik”, jawab Bu Lita dengan pipi memerah. Ihh persis anak ABG yang lagi dipuji.

    “Iya Bu, sejujurnya aku selama ini memipikan untuk bisa berdekatan dan berduan dengan Ibu,makanya aku sering nyari alasan masuk keruangan Ibu”, kataku polos.

    “Aku sudah menduga semua itu soalnya aku perhatikan kamu sering nyari-nyari alasan menghadap aku. Aku tau itu. Bahkan kamu sering curi-curi pandang menatapku kan?”, ditembak seperti itu aku jadi malu juga.

    Memang aku sering menatap Bu Lita disetiap kesempatan, apa lagi kalau sedang rapat kantor. Rupanya tingkahku itu diperhatikannya.

    Kami berpandangan lama. Lama kami berhadapan, aku di tempat duduk sedangkan Bu Lita dibibir tempat tidur. Dari wajahnya terlihat kalau wanita ini sedang kesepian, raut mukanya menandakan kegairahan.

    Perlahan dia berdiri dan menghampiriku. Masih tetap berpandangan, wajahnya semakin dekat.. dekat.. aku diam aja dan hup.bibirnya menyentuh bibirku. Kutepis rasa gugup dan segera membalas ciumannya. Bu Lita sebentar menarik bibirnya dan menyeka lipstik merahnya dengan tisu. Lalu tanpa dikomando lagi kami sudah berpagutan.

    “Pesen makannya nanti aja ya Ndy”, katanya disela ciuman yang semakin panas.

    Wanita cantik betinggi 165 ini duduk dipangkuanku. Sedikit aku tersadar dan bangga karena wanita ini seorang boss ku, duduk dipangkuanku. Tangan kirinya melingkar dileherku sementara tangan kanan memegang kepalaku.

    Ciumannya semakin dalam, aku lantas mengeluarkan jurus-jurus ciuman yang kutau selama ini. Kupilin dan kuhisap lidahnya dengan lidahku. Sesekali ciumanku menggerayang leher dan belakang telinganya. Bu Lita melolong kegelian.

    “Ndy kamu hebat banget ciumannya, aku nggak pernah dicium seperti ini sama suamiku, bahkan akhir-akhir ini dia cuek dan nggak mau menyentuhku”, cerocos Bu Lita curhat.

    Aku berpikir, bego banget suaminya tidak menyentuh wanita secantik Bu Lita. Tapi mungkin itulah kehidupan suami istri yang lama-lama bosan, pikirku.

    Bu Lita menarik tanganku. Kutau itu isyarat mengajak pindah ke ranjang. Namun aku mencegahnya dengan memeluknya saat berdiri. Kucium lagi berulang-ulang, tanganku mulai aktif meraba buah dadanya.

    Bu Lita menggelinjang panas. Blasernya kulempar ke kursi, kemeja putihnya kubuka perlahan lalu celana panjangnya kuloloskan.

    Bu Lita hanya terdiam mengikuti sensasi yang kuberikan. Wow, aku tersedak melihat pemandangan didepanku. Kulitnya putih bersih, pantatnya berisi, bodynya kencang dan ramping. Celana dalam merah jambu sepadan warna dengan BH yang menutupi setangkup buah dada yang walaupun tidak besar tapi sangat menggairahkan. Agen Judi Online Kualitas Super

    “Ibu bener-bener wanita tercantik yang pernah kulihat”, gumamku.

    Bu Lita kemudian mengikuti aksiku tadi dengan mulai mencopot pakaian yang kukenakan. Namun dia lebih garang lagi karena pakaianku tanpa bersisa, polos. Mr. Happy yang sedari tadi tegang kini seakan menunjukkan kehebatannya dengan berdiri tegak menantang Bu Lita.

    “Kamu ganteng Ndy”, katanya seraya tanganya meraup kemaluanku dan ahh bibir mungilnya sudah mengulum.

    Oh nikmatnya. Sentuhan bibir dan sapuan lidahnya diujung Mr.Happy ku bener-bener bikin sensasi dan membuat nafsu meninggi.

    Aku nggak tahan untuk berdiam diri menerima sensasi saja. Kudorong tubuhnya keranjang, kuloloskan celana dalam dan BH-nya. Sambil masih tetap menikmati jilatan Bu Lita, aku meraih dua bukit kembar miliknya dan kuremas-remas. Tanganku merayap keselangkangannya.

    Jari tengahku menyentuh itilnya dan mulai mengelus, basah. Bu Lita terhentak. Sesekali jari kumasukkan kedalam vaginanya. Berusaha membuat sensasi dengan menyentuh G-spot-nya.

    Atas inisiatifku kami bertukar posisi, gaya 69. Jilatan lidahnya semakin sensasional dengan menulur hingga ke pangkal kemaluanku. Dua buah bijiku diseruputnya Bener-bener enak.

    Baca Juga Cerita Seks Kupuasi Tante Stella Yang Dikhianati Suaminya

    Gantian aku merangkai kenikmatan buat Bu Lita, kusibakkan rambut-rambut halus yang tertata rapi dan kusentuh labia mayoranya dengan ujung lidah. Dia menggeliat. Tanpa kuberi kesempatan untuk berpikir, kujilati semua susdut vaginanya, itilnya kugigit-gigit.

    Bu Lita menggelinjang tajam dan, “Ndy aku keluar lo.. nggak tahan”, katanya disela rintihan.

    Tubuhnya menegang dan tiba-tiba terhemmpas lemas, Bu Lita orgasme.

    Aku bangga juga bisa membuat wanita cantik ini puas hanya dalam lima menit jilatan.

    “Enak Ndy, aku bener-bener nafsu sama kamu. Dan ternyata kamu pintar muasin aku,makasih ya Ndy”, ujarnya.

    “Jangan terima kasih dulu Bu, soalnya ini belum apa-apa, nanti Andy kasi yang lebih dahsyat”, sahutku. Prediksi Skor Bola

    Kulihat matanya berbinar-binar.

    “Bener ya Ndy, puasin aku, sudah setahun aku nggak merasakan orgasme, suamiku sudah bosan kali sama aku”, bisiknya agak merintih lirih.

    Hanya berselang lima menit kugiring tubuh Bu Lita duduk diatas pinggulku. Mr.Happy kumasukkan ke dalam vaginanya dan bless,lancar karena sudah basah. Tanpa dikomando Bu Lita sudah bergerak naik turun.

    Posisi ini membuat ku bernafsu karena aku bisa menatap tubuh indah putih mulus dengan wajah yang cantik, sepuasnya. Lama kami bereksplorasi saling merangsang. Terkadang aku mengambil posisi duduk dengan tetap Bu Lita dipangkuanku. Kupeluk tubuhnya kucium bibirnya.

    “Ahh enak sekali Ndy”, ntah sudah berapa kali kata-kata ini diucapkannya.

    Mr.Happyku yang belum terpuaskan semakin bergejolak disasarannya. Aku lantas mengubah posisi dengan membaringkan tubuh Bu Lita dan aku berada diatas tubuh mulus. Sambil mencium bibir indahnya, kumasukkan Mr.Happy ke vaginanya. Pinggulku kuenjot naik turun. Kulihat Bu Lita merem-melek menahan kenikmatan.

    Pinggulnya juga mulai bereaksi dengan bergoyang melawan irama yang kuberikan. Lama kami dalam posisi itu dengan berbagai variasi, kadang kedua kakinya kuangkat tinggi, kadang hanya satu kaki yang kuangkat.

    Sesekali kusampirkan kakinya ke pundakku. Bu Lita hanya menurut dan menikmati apa yang kuberikan. Mulutnya mendesis-desis menahan nikmat.

    Tiba-tiba Bu Lita mengerang panjang dan “Ndy, aku mau keluar lagi, aku bener-bener nggak tahan”, katanya sedikit berteriak.

    “Aku juga mau keluar nih.. bareng yuk”, ajakku.

    Dan beberapa detik kemudian kami berdua melolong panjang “Ahh..”.

    Kurasakan spermaku menyemprot dalam sekali dan Bu Lita tersentak menerima muntahan lahar panas Mr. Happyku. Kami sama sama terkulai.

    “Kamu hebat Ndy, bisa bikin aku orgasme dua kali dalam waktu dekat”, katanya disela nafas yang tersengal.

    Aku cuma bisa tersenyum bangga.

    “Bu Lita nggak salah milih orang, aku hebat kan?” kataku berbangga yang dijawabnya dengan ciuman mesra.

    Setelah mengaso sebentar Bu Lita kemudian menuju kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan shower. Dari luar kamar mandi yang pintunya nggak tertutup aku menadang tubuh semampai Bu Lita.

    Tubuh indah seperti Bu Lita memang sangat aku idamkan. Aku yang punya kecenderungan sexual bener-bener menemukan jawaban dengan Bu Lita. Bosku ini bener-bener cantik, maklum mantan peragawati. Tubuhnya terawat tanpa cela. Aku sangat beruntung bisa menikmatinya, batinku.

    Mr.Happyku tanpa dikomando kembali menegang melihat pemandangan indah itu. Perlahan aku bangun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi. Bu Lita yang lagi merem menikmati siraman air dari shower kaget ketika kupeluk.

    Kami berpelukan dan berciuman lagi. Kuangkat pantatnya dan kududukkan di meja toilet. Kedua kakinya kuangkat setengah berjongkok lalu kembali kujilati vaginanya.

    Bu Lita kembali melolong. Ada sekitar lima menit keberi dia kenikmatan sapuan lidahku lantas kuganti jilatanku dengan memasukkan Mr. Happyku. Posisiku berdiri tegak sedangkan Bu Lita tetap setengah berjongkok di atas meja.

    Kugenjot pantatku dengan irama yang pasti. Dengan posisi begini kami berdua bisa melihat jelas aktifitas keluar masuknya Mr.Happy dalam vagina, dua-duanya memerah tanda nikmat.

    Setelah puas dengan posisi itu kutuntun Bu Lita turun dan kubalikkan badannya. Tangannya menumpu di meja sementara badannya membungkuk. Posisi doggie style ini sangat kusukai karena dengan posisi ini aku ngerasa kalau vagina bisa menjepit punyaku dengan mantap. Ketika kujebloskan si Mr.Happy, uupps Bu Lita terpekik. Kupikir dia kesakitan, tapi ternyata tidak.

    “Lanjutin Ndy, enak banget.. ohh.. kamu hebat sekali”, bisiknya lirih.

    Ada sekitar 20 menit dalam posisi kesukaanku ini dan aku nggak tahan lagi mau keluar.

    “Bu.. aku keluar ya”, kataku.

    “Ayo sama-sama aku juga mau”, balasnya disela erangan kenikmatannya.

    Dan.. ohh aku lagi-lagi memuncratkan sperma kedalam vaginanya yang diikuti erangan puas dari Bu Lita. Aku memeluk kencang dari belakang, lama kami menikmati sensasi multi orgasme ini. Sangat indah karena posisi kami berpelukan juga menunjang.

    Kulihat dicermin kupeluk Bu Lita dari belakang dengan kedua tanganku memegang dua bukit kembarnya sementara tangannya merangkul leherku dan yang lebih indah, aku belum mencopot si Mr. Happy.. ohh indahnya.

    Selesai mandi bersama kamipun memesan makan. Selesai makan kami kembali kekantor dengan mobil sendiri-sendiri. Sore hari dikantor seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sebelum jam pulang Bu Lita memanggilku lewat sekretarisnya. Duduk berhadapan sangat terasa kalau suasananya berobah, tidak seperti kemarin-kemarin. Sekarang beraroma cinta. Cerita Maya

    “Ndy, kamu mau kan kalau di kantor kita tetep bersikap wajar layaknya atasan sama bawahan ya. Tapi kalo diluar aku mau kamu bersikap seperti suamiku ya”, katanya tersenyum manja.

    “Baik Bu cantik”, sahutku bergurau.

    Sebelum keluar dari ruangannya kami masih sempat berciuman mesra.

    Sejak itu aku resmi jadi suami simpanan bos ku. Tapi aku menikmati karena aku juga jatuh cinta dengan wanita cantik idaman hati ini. Sudah setahun hubungan kami berjalan tanpa dicurigai siapapun karena kami bisa menjaga jarak kalau di kantor.

  • Kupuasi Tante Stella Yang Dikhianati Suaminya

    Kupuasi Tante Stella Yang Dikhianati Suaminya


    423 views

    Cerita Maya | Panggil saja aku Ronald, dulu aku mempunyai kelompok belajar yang selalu rutin belajar di salah satu rumah teman kami, Faris. Aku, Faris, Yadi dan Boby. Setiap ada tugas atau akan ulangan kami berempat selalu belajar kelompok sampai menginap, karena pada saat itu, anak kelas satu masuk sekolah pada siang hari.

    Temanku yang bernama Faris dari keluarga yang bisa dibilang kaya dibanding teman-teman yang lain. Dia adalah anak kedua dari 2 bersaudara alisa anak ragil. Ayahnya seorang pejabat Depkeu dan ibunya merupakan dokter di salah satu RS ternama di kota S, kami biasanya memanggil dengan sebutan tante Stella. Kalau belajar kami sampai malem otomatis kami bertiga menginap di rumah Faris. Malah kadang kami sering diajak berlibur sama keluarganya Faris.

    Rumah Faris terdiri dari dua lantai. Bila Faris sudah tidur di kamarnya yang berada di lantai bawah, kami bertiga sering membicarakan kakaknya yang bernama Mela. Hal yang kami bicarakan tidak lain adalah wajah ayunya serta body seksi yang disertai kulit putih mulus terawat. Tapi anehnya, aku malah tertarik melihat tante Stella, yang usianya kira-kira 40tahun. Bila melihat tante Stella muncullah hasrat fantasi sexku yang membuat darahku berdesir tak menentu. Berhubung tante Stella merupakan ibu kandung dari teman baikku jadi aku hanya bisa berkhayal dan cuma bisa memendam rasa ini, aku tidak berani cerita pada orang lain. Cerita Maya

    Seluruh anggota keluarga Faris penyuka olahraga, maka setiap minggu selalu diisi dengan kegiatan berolahraga. Terutama olahraga tenis. Kebetulan aku juga mahir dalam bidang tenis, maka aku selalu diajak bermain tenis bersama.

    Aku yang dianggap paling jago, maka aku sering dipasangkan dengan tente Stella apabila bermain double. Tante Stella memiliki body yang proporsional dengan tinggi badan sekitar 167cm, pakaian yang dikenakan tante Stella sewaktu bermain tenis memang selalu seksi. Dengan memakai rok pendek serta atasan model tank top. Kami sering berpelukan serta bersentuhan apabila kami memenangkan permainan. Dan itu membuat jantungku berdebar tak menentu serta timbul hasrat sex terhadap tante Stella. Kadang setelah selesai olahraga, aku langsung masturbasi dengan membayangkan wajah dan tubuh tante Stella yang seksi.

    Pada waktu malam minggu, karena tak memiliki pacar aku menghabiskan malamku dengan berkeliling kompleks menggunakan mobil papaku sendirian. Semua temanku pada ngapel termasuk Faris. Tepat di depan rumah Faris, entah apa yang terjadi dengan mobil yang kubawa tiba-tiba terbatuk-batuk seperti kehabisan BBM. Padahal waktu itu hujan sangat lebatnya dan SPBU terdekat kira-kira 3km dari lokasi tempat mobilku mogok. Akhirnya aku memutuskan untuk meminjam telepon di rumah Faris untuk menelpon papaku atau siapa saja untuk membantuku membelikan BBM.

    Sambil hujan-hujanan aku berlari menuju rumah Faris, begitu sampai diteras rumahnya, terlihat suasananya sepi tak ada mobil atau terdengar suara dari dalam rumah menandakan kalau rumahnya sedang kosong. Meski begitu aku tetap saja mencoba memencet bel rumah 2x, tapi tak lama kemudian terdengar suara dari dalam rumah.

    “Ya…siapa?”. Begitu mendengar jawaban itu hatiku langsung berdebar karena aku sangat kenal dengan suara itu

    “Ronald, tante…maaf tante malem-malem ganggu. Aku kehabisan bensin di depan rumah tante dan berniat mau pinjam telpon untuk menghubungi papa saya” jawabku.

    Kemudian terdengar suara langkah menuju pintu dan ketika pintu terbuka tampaklah sesosok wanita setengah baya yang terlihat sangat menawan.

    “Ronald…malem-malem gini hujan-hujanan, ayo masuk dulu, langsung masuk saja ke kamar Faris untuk cari baju ganti, terus kalau sudah selesai ke ruang tengah ya biar tante buatin teh anget” kata tante Stella.]

    Di dalam kamar dan berganti baju, aku masih terbayang tante Stella yang pada waktu malam itu menggunakan gaun tidur yang tipis yang memperlihatkan tubuh seksinya.

    Begitu selesai ganti baju aku langsung menuju ruang tengah seperti yang disuruh tante Stella. Kuminum teh hangat bikinan tente Stella, dan kemudian bertanya padanya,

    “Kog sepi tante pada kemana?”

    “Om, lagi ke rumah saudaranya yang sedang sakit, sedangkan Mela tadi dijemput pacarnya mau diajak jalan dan Faris kamu tau sendiri donk kemana dia” terang tante Stella.

    “Kog tante gak ikut Om?” tnyaku penasaran.

    “Kebetulan mbak Minah(pembantu rumah tante Stella) sedang ijin pulang kampung, jadi tante harus jaga rumah deh” jawabnya.

    “Oh iya tante, aku mau pinjem telpon jadi lupa nih” kataku.

    “Hahahaa…emang kamu lagi mikiran apa kog jadi lupa kalau mau pinjam telpon” kata tante Stella sambil tertawa.

    “Hehehee…gak mikir apa-apa kog tante?” jawabku agak malu.

    Aku langsung saja menuju ruang keluarga dan segera telpon ke rumahku tapi sama sekali tak ada jawaban. AKu mencobanya berulang kali tetap saja tak ada yang menjawab telponku. Dari belakang tiba-tiba terdengar suara tante Stella,

    “Gak diangkat Ron?” tanyanya.

    “Gak tante, mungkin sudah pada tidur” jawabku.

    “Ya udah kamu tunggu Faris aja, sembari nemenin tante” katanya.

    “Iya tante” jawabku singkat.

    Kemudian tante Stella mengajakku ke duduk di sofa depan TV. Sebelum aku sempat duduk di sofa, tante Stella berkata padaku,

    “Oya Ron, tolong donk ajarin tante lagunya Cellin Dion yang My Heart Will Go On, jari-jari tante masih kagok untuk berpindah-pindah”

    “Kapan tante?” tanyaku.

    “Sekarang aja yuk, mumpung kamu disini…” ajaknya.

    Kami berdua lalu berjalan menuju piano dan duduk berdampingan di kursi piano yang tidak terlalu besar. Karena aku mengajari perpindahan jari-jari tangan otomatis aku selalu memegang jari tante Stella yang halus dengan kuku yang terawat dengan baik. Detak jantungku terasa makin berdebar apalagi ditambah menghirup bau parfum dari tubuh tante Stella yang membuat batang kontolku jadi mengeras secara perlahan.

    “Lhoh Ron kenapa suaramu jadi bergetar gitu, kamu kedinginan ya?” tanya tante Stella.

    “Gakpap kok tante, aku hanya…” jawabku terpotong.

    “Jangan-jangan kamu gak mau ngajarin tante ya? Atau mungkin kamu ada janji malam minggu dengan pacar kamu?” tante tanye Stella penasaran.

    “Aku belum punya pacar tante, gak kayak Faris dan yang lainnya” jawabku.

    Duduk tante Stella semakin merapat padaku dan tiba-tiba kepalanya bersandar di bahuku dan dia bertanya padaku,

    “Ron, pernah gak Faris bercerita padamu kalau ayahnya punya istri lagi yang jauh lebih seksi dan muda dari tante, usianya 27tahunan kira-kira”

    Mendengar itu aku jadi kaget setengah mati masak sih ayahnya Faris punya istri lagi padahal menurutku tante Stella nyaris sempurna.

    asak sih tante, kalau aku lihat sih tante sama om mesra-mesraan terus” kataku.

    Baca Juga Cerita Seks Berawal Dari Bioskop Berujung Kenikmatan

    Lagi-lagi duduk tante Stella semakin merapat padaku, tangannya diletakkan diatas pahaku dan dengan tidak sengaja tanganya menyentuh batang kontolku yang sejak tadi makin mengeras saja, tante Stella pun lalu berteriak kecil,

    “Ah…”. Tante Stella langsung menatapku yang menunduk malu. Dengan wajah sendu dan sensual dia kembali bertanya padaku,

    “Ron, jawab jujur yaaah, kamu sudah pernah berhubungan intim belum?”

    Dan dengan kaget dan gugup aku menjawab, “Be..be…belum pernah tante”

    “Mau gak kalau tante ajarin…sebagai gantinya kamu ngajarin tante main piano” katanya.

    Aku tak kuasa menjawab pertanyaan tante Stella tersebut tapi tiba-tiba tante Stella langsung menyosor mulutku secara liar. Lidahnya terus berusaha menjilat seluruh bagian mulutku. Tak hanya itu tangannya pun terus meremas telinga dan rambutku.

    “Ronald sayang, ayo kita pindah ke kamar aja yuk” ajaknya. Mendengar itu aku semakin kaget bercampur bahagia karena sebentar lagi aku bisa merasakan kehangatan tubuh tante Stella yang sudah lama aku idamkan.

    Sesampainya di kamar tante Stella langsung mendorongku ke kasur dan menindih badanku. Selanjutnya tante Stella langsung melucuti baju tidurnya dan terbentanglah toket montok dengan puting kemerahan. Dalam keadaan masih bengong, tiba-tiba tangan tante Stella menarik tanganku dan langsung dibimbingnya ke arah toketnya. Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku langsung meremas dengan halus sambil memilin putingnya yang makin tegak dan mengeras.

    “Sssthhh…oohhh…terus Ron, puasin tante Ron…” racaunya. Sadar aku masih memakai baju kemudian tante Stella segera melucuti seluruh pakaianku dan mengelus-elus selakanganku dan mulai meremas lembut batang kontolku.

    “Burungmu besar juga ya Ron…boleh gak tante jilat?”

    “Boleh saja kalau tante mau…”

    Dengan beringas tante Stella langsung turun dan mulai mejilati batang kontolku. AKu merasakan kenikmatan yang luar biasa sekali. Tante Stella menjilati dan mengulum kontolku dengan mahir sekali. Kurasakan kepala kontolku sampai menyentuh ujung kerongkongannya. Tak lama kemudian tante Stella merubah posisinya menjadi 69. Terlihatlah suatu pemandangan indah, bulu hitam dengan belahan merah dan segumpal daging merah kecil yang berkilau.

    “Ayo jilat memek tante Ron” pintanya.

    Tanpa sungkan-sungkan dan membantah, langsung saja kuarahkan lidahku untuk menjelajah sambil terus menghirup harumnya kemaluan tante Stella yang bagaikan candu itu.

    Usai permainan saling menjilat, tante Stella segera berbaring dan memintaku untuk berdiri sambil tangannya terus menggenggam batang kontolku dan dituntunnya ke arah memeknya.

    “Ayo Ron, sekarang masukan burungmu ke dalam lubang memekku” pintanya. Tante Stella membimbingku dengan menekan tubuhku hingga batang kontolku menyentuh ke bibir memeknya dan dengan sedikit dorongan akhirnya ” Bleeesss….”

    “Aaaahhh….” desah tante Stella memecah kesunyian.

    Sambil terus menyodokkan kontolku tak lupa aku meremas-remas toket tante Stella secara bergantian. Tanpa berkata apa-apa, tante Stella tiba-tiba membantingku dan menduduki tubuhku. Dia mulai bergerak turun naik memutar. Aku semakin takjub saja melihat keagresifan tante Stella ini. Untuk mengimbangi permainan tante Stella, kuangkat pinggulku agar kontolku bisa masuk lebih dalam dan tak lupa tanganku terus memilin putingnya. Mulut kami terus meracau dengan kata-kata yang menunjukkan kepuasan, tante Stella memintaku untuk membalikkan badannya ke posisi semula sambil memintaku untuk menyodoknya lebih cepat. Semakin lama kurasakan batang kontolku semakin berdenyut dan memek tante Stella juga kurasakan hal yang sama. Tidak lama kemudian tubuh kami mengejang dan seperti di komando kami berdua berteriak,

    “Arrgghhh…aaahhh….oohhh….”

    Dari kemaluanku kurasakan keluar cairan nikmat dengan denyut kenikmatan dari dalam memek tante Stella dan kami saling berpelukan erat dengan nafas yang memburu sambil terus menikmati kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata yang baru saja aku raih bersama tante Stella. Wanita yang selama ini menjadi fantasi sex ku.

    Usai adegan yang tak mungkin kuhapuskan dari ingatanku, tante Stella bertanya,

    “Gimana Don, puas gak? kalau lain waktu kita ulang lagi kamu keberatan gak?”

    “Puas banget tante…iya aku mau, kapanpun tante butuh langsung saja kontak aku”

    “Makasih ya” katanya sambil mencium mesra pipiku.

    Setelah itu aku dan tante kembali berbenah dan kemudian kami berdua duduk di teras menunggu Faris pulang untuk mengantarku mencari bensin. Cerita Maya

    Usai kejadian itu kami masih terus melakukan hubungan terlarang ini secara sembunyi-sembunyi. Hal ini berakhir ketika aku memutuskan untuk menikah 4 tahun yang lalu.

    Tante Stella pun berpesan padaku, “Jangan pernah khianati istrimu, karena tante sudah merasakan bagaimana sakitnya dikhianati suami.”

    Dan sampai sekarang kami masih berhubungan baik, bersilaturrahmi dan saling memberi spirit di saat kami merasa jatuh. Aku sangat menghormati hubungan ini, karena pada dasarnya aku sangat menghargai tante Stella sebagai istri dan ibu yang baik

  • Berawal Dari Bioskop Berujung Kenikmatan

    Berawal Dari Bioskop Berujung Kenikmatan


    443 views

    Cerita Maya | Ini adalah pengalaman yang paling aku ingat saat Awal Mula Di Bioskop dengan Cewe Nakal yang baru aku tau dan berbeda dengan yang ku kenal sebelumnya.langsung saja aku ceritakan pengalaman aku ini .

    Sebagai marketing, perusahaan mengutusku untuk menemuinya. Pada awal pertemuan siang itu, aku sama sekali tidak menduga bahwa Ibu Shella yang kutemui ternyata pemilik langsung perusahaan.

    Wajahnya cantik, kulitnya putih laksana pualam, tubuhnya tinggi langsing (Sekitar 175 cm) dengan dada yang menonjol indah. Dan pinggulnya yang dibalut span ketat membuat bentuk pinggangnya yang ramping kian mempesona, juga pantatnya wah sungguh sangat montok, bulat dan masih kencang. Cerita Maya

    Sepanjang pembicaraan dengannya, konsentrasiku tidak 100%, melihat gaya bicaranya yang intelek, gerakan bibirnya yang sensual saat sedang bicara, apalagi kalau sedang menunduk belahan buah dadanya nampak jelas, putih dan besar

    Di sofa yang berada di ruangannya yang mewah dan lux, kami akhirnya sepakat mengikat kontrak kerja. Sambil menunggu sekretaris Ibu Shella membuat kontrak kerja, kami mengobrol kesana-kemari bahkan sampai ke hal yang agak pribadi.

    Aku berani bicara kearah sana karena Ibu Shella sendiri yang memulai. Dari pembicaraan itu, baru kuketahui bahwa usianya baru 25 tahun, dia memegang jabatan direktur sekaligus pemilik perusahaan menggantikan almarhum suaminya yang meninggal karena kecelakaan pesawat.

    “Pak gala sendiri umur berapa”, bisiknya dengan nada mesra

    “Saya umur 26 tahun, Bu!” balasku

    “sudah berkeluarga?”, pertanyaannya semakin menjurus, aku sampai GR sendiri

    “Belum, Bu!”

    Tanpa kutanya, Ibu Shella menerangkan bahwa sejak kematian suaminya setahun lalu, dia belum mendapatkan penggantinya

    “Ibu cantik, masih muda, saya rasa seribu lelaki akan berlomba mendapatkan Ibu Shella”, aku sedikit memujinya.

    “Memang, ada benarnya juga yang Bapak Gala ucapkan, tapi mereka rata-rata juga mengincar kekayaan saya”, nadanya sedikit merendah

    Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, Ibu Shella bangkit berdiri membukakan pintu, ternyata sekretarisnya telah selesai membuat kontrak kerjanya

    “Kalau begitu, saya permisi pulang, Bu!, semoga kerjasama ini dapat bertahan dan saling menguntungkan”, aku segera pamit dan mengulurkan tangan

    “Semoga saja”, tangannya menyambut uluran tanganku

    “Terima kasih atas kunjungannya, Pak Gala ”

    Cukup lama kami bersalaman, aku merasakan kelembutan tangannya yang bagaikan sutera, namun sebentar kemudian aku segera menarik tanganku, takut dikira kurang ajar. Namun naluri laki-lakiku bekerja, dengan halus aku mulai merancang strategi mendekatinya

    “Oh ya, Bu Shella, sebelum saya lupa, sebagai perkenalan dan mengawali kerjasama kita, bagaimana kalau Ibu Shella wsaya undang untuk makan malam bersama”, aku mulai memasang jerat

    “Terima kasih”, jawabnya singkat

    “Mungkin lain waktu, saya hubungi Pak Gala, untuk tawaran ini ”

    “Saya tunggu, Bu permisi”

    Aku tak mau mendesaknya lebih lanjut. Aku segera meninggalkan kantor Ibu Shella dengan sejuta pikiran menggelayuti benakku. Sepanjang perjalanan, aku selalu terbayang kecantikan wajahnya, postur tubuhnya yang ideal. Ah kayaknya semua kriteria cewek idaman ada padanya

    Tak terasa satu bulan sejak pertemuan itu, meskipun aku sering mampir ke tempat Ibu Shella dalam kurun waktu tersebut, tapi tidak kutemui tanda-tanda aku bisa mengajaknya sekedar Dinner. Meskipun hubunganku dengannya menjadi semakin akrab

    Menginjak bulan ke-2, akhirnya aku bisa mengajaknya keluar sekedar makan malam. Aku ingat sekali waktu itu malam Minggu,

    kami bagai sepasang kekasih, meskipun pada awalnya dia ngotot ingin menggunakan mobilnya yang mewah, akhirnya dia bersedia juga menggunakan mobil Katanaku yang bisa bikin perut mules.

    Beberapa kali malam Minggu kami keluar, sungguh aku jadi bingung sendiri, aku hanya berani menggenggam jarinya saja, itupun aku gemetaran,

    degup-degup di jantungku terasa berdetak kencang padahal hubungan kami sudah sangat dekat, bahkan aku dan dia sama-sama saling memanggil nama saja, tanpa embel-embel Pak atau Bu .

    Sampai pada malam Minggu yang kesekian kalinya, kuberanikan diri untuk memulainya, waktu itu kami di dalam bioskop Dalam keremangan, aku menggenggam jarinya, kuelus dengan mesra,

    kelembutan jarinya mengantarkan desiran-desiran aneh di tubuhku, kucoba mencium tangannya pelan, tidak ada respon, kulepas jemari tangannya dengan lembut. Kurapatkan tubuhku dengan tubuhnya, kupandangi wajahnya yang sedang serius menatap layar bioskop

    Dengan keberanian yang kupaksakan, kukecup pipinya Dia terkejut, sebentar memandangku Aku berpikir pasti dia akan marah, tapi respon yang kuterima sungguh membuatku kaget Dengan tiba-tiba dia memelukku, mulutnya yang mungil langsung menyambar mulutku dan melumatnya

    Sekian detik aku terpana, tapi segera aku sadar dan balas melumat bibirnya, ciumannya makin ganas, lidah kami saling membelit mencoba menelusuri rongga mulut lawan Sementara tangannya semakin kuat mencengkram bahuku Aku mulai beraksi,tanganku bergerak merambat ke punggungnya, kuusap lembut punggungnya, bibirku yang terlepas menjalar ke lehernya yang jenjang dan putih, aku menggelitik belakang telinganya dengan lidahku

    “Shella, aku sayang kamu”, kubisikkan kalimat mesra di telinganya

    “Gal, akupun sayang kamu”, suaranya sedikit mendesah menahan birahinya yang mulai bangkit.

    Dan saat tanganku menyusup ke dalam blousnya, erangannya semakin jelas terdengar Aku merasakan kelembutan buah dadanya, kenyal. Kupilin halus putingnnya, sementara tanganku yang satunya menelusuri pinggangnya dan meremas-remas pinggulnya yang sangat bahenol

    Segera kubuka kancing blous bagian depannya, suasana bioskop yang gelap sangat kontras sekali dengan buah dadanya yang putih Perlahan kukeluarkan buah dadanya dari branya, kini di depanku terpampang buah dadanya yang sangat indah,kucium dan kujilat belahannya, hidungku bersembunyi diantara belahan dadanya, lidahku yang basah dan hangat terus menciumi sekelilingnya perlahan naik hingga ke bagian putingnya.Kuhisap pelan putingnya yang masih mungil, kugigit lembut, kudorong dengan lidahku Shella semakin meracau Tanganya menekan kuat kepalaku saat putingnya kuhisap agak kuat Sementara aku merasakan gerakan di celanaku semakin kuat, senjataku sudah menegang maksimal.

    Tanganku yang satunya sudah bergerak ke pahanya, spannya kutarik ke atas hingga batang pahanya tampak mulus, putih Kubelai, kupilin pahanya sementara mulutku mengisap terus puting buah dadanya kiri dan kanan Dan saat jariku sampai di pangkal pahanya,

    aku menemukan celana dalamnya Perlahan jari-jariku masuk lewat celah celana dalamnya, kugeser ke kiri, akhirnya jari-jariku menemukan rambut kemaluan memek yang sangat lebat

    Dengan tak sabar, kugosokkan jariku di klitorisnya sementara mulutku masih asyik menjilati puting buah dadanya yang semakin mencuat ke atas pertanda gairah nya sudah memuncak, meskipun jari-jariku sedikit terhalang celana dalamnya tapi aku masih dapat menggesek klitorisnya,

    bahkan dengan cepat kumasukkan jariku ke dalam celahnya yang lembat, terasa agak basah Jariku berputar-putar di dalamnya, sampai kutemukan tonjolan lembut bergerigi di dalam kemaluannya, kutekan dengan lembut G-spotnya itu, kekiri dan kekanan perlahan

    “Achh Gala aku sudah nggak tahan Terus Gal oh ” Suaranya makin keras, birahinya sudah dipuncak

    Tangannya menekan kepalaku ke buah dadanya hingga aku sulit bernafas, sementara tangan yang satunya menekan tanganku yang di kemaluannya semakin dalam. Akhirnya kurasakan seluruh tubuhnya bergetar, kuhisap kuat puting susunya, kumasukkan jariku semakin dalam

    “Ahh oh Gal aku ke lu ar ” Kurasakan jariku hangat dan basah “Makasih Gal, sudah lama aku tak merasakan kenikmatan ini ” Aku hanya bisa diam,menahan tegangnya senjataku yang belum terlampiaskan tapi rupanya Shella sangat pengertian Dengan lincahnya dibukanya resleting celanaku, jari-jarinya mencari senjataku

    Aku membantunya dengan menggerakan sedikit tubuhku Saat tangannya mendapatkan apa yang dicarinya, sungguh reaksinya sangat hebat “Oh besar sekali Gal aku suka aku suka barang yang besar ” Shella seperti anak kecil yang mendapatkan permen.

    Baca Juga Cerita Seks Aku Hamil Dengan Teman Suamiku

    Senjataku yang sudah kaku perlahan dikocoknya, aku merasakan nikmat atas perlakuannya, sementara tangannya asyik mengocok batang senjataku, tangan satunya membuka kancing bajuku, mulutnya yang basah menciumi dadaku dan menjilati putingku, sesekali Shella menghisap putingku.

    Aliran darahku semakin panas, gairah ku makin terbakar Aku merasakan spermaku sudah mengumpul di ujung, sementara kepala senjataku semakin basah oleh pelumas yang keluar .

    “Shella, aku sudah nggak tahan ”

    “Tahan sebentar, Gal ”

    Shella melepaskan jilatan lidahnya di dadaku dan langsung memasukkan senjataku ke dalam mulutnya, aku merasakan kuluman mulutnya yang hangat dan sempit Kulihat mulutnya yang mungil sampai sesak oleh kemaluanku Shella semakin kuat mengocok batang senjataku ke dalam mulutnya

    Akhirnya kakiku sedikit mengejang untuk melepaskan spermaku “Awas Shell, aku mau keluar ” kutarik rambutnya agar menjauh dari batang senjataku, tapi Shella malah memasukkan senjataku ke dalam mulutnya lebih dalam,

    aku tak tahan lagi, kulepaskan tembakanku, 7 kali denyutan cukup memenuhi mulutnya yang mungil dengan spermaku

    Shella dengan lahap langsung menelannya dan membersihkan cairan yang tertinggal di kepala senjataku dengan lidahnya Aku menarik nafas panjang mengatur degup jantungku yang tadi sangat cepat.

    Setelah lampu menyala kembali pertanda pertunjukan telah usai, kami sudah rapi kembali Kulihat jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul 10 00 malam. Aku langsung mengantarnya pulang, dalam perjalanan kami tak banyak bicara, kami saling memikirkan kejadian yang baru saja kami alami bersama

    Sampai di rumahnya yang mewah di bilangan Pluit, aku langsung ditariknya menuju kamar pribadinya yang sangat luas “Gal, saya belum puas, kita teruskan permainan yang tadi ”

    Tangannya langsung membuka kancing bajuku dan mulai membangkitkan gairah ku, sementara pikiranku semakin bingung, kenapa Shella yang tadinya kalem bisa berubah ganas begini?

    Tapi pikiranku kalah dengan gairah yang mulai berkobar di dadaku, terlebih saat tangannya dengan lihai mengusap dadaku Bagai musafir seluruh tubuhku dicium dan dijilatinya dengan penuh nafsu Aku pun tak mau kalah sigap, di ranjangnya yang empuk kami bergulat saling memilin, melumat, dan saling menghisap.

    Saat pakaian kami mulai tertanggal dari tempatnya Kami saling melihat, aku melihat kesempurnaan tubuhnya, apalagi di daerah selangkangannya yang putih bersih,sangat kontras dengan bulu kemaluannya yang sangat hitam dan lebat Dan Shella memandangi senjataku yang mengacung menunjuk langit-langit kamar Hanya sebentar kami berpandangan, aku langsung meraih tubuhnya dan memapahnya ke ranjang

    Kuletakkan hati-hati tubuhnya yang gempal dan lembut, aku mulai menciumi seluruh tubuhnya, lidahku menari-nari dari leher sampai ke jari-jari kakinya Kuhisap puting buah dadanya yang kemerahan, kujilat dan sesekali kugigit mesra Ssementara tanganku yang lain meremas-remas pinggul dan pantatnya yang sangat kenyal

    Pergulatan kami semakin seru, kini posisi kami berbalikan seperti angka 69, kami saling menghisap puting dada Saat aku memainkan puting dadanya yang sudah mencuat,lidahnya menjilati putingku Aku turun menjilati perutnya, kurasakan juga perutku dijilati dan akhirnya lidah kami saling menghisap kemaluan

    Aku merasakan hangat di kepala senjataku saat lidahku menari-nari menelusuri celah kemaluannya, lidahku semakin dalam masuk ke dalam celah kewanitaannya yang telah basah, kuhisap klitorisnya kuat-kuat, kurasakan tubuhnya bergetar hebat

    Lima belas menit sudah kami saling menghisap, nafsuku yang sudah di ubun-ubun menuntut penyelesaian Segera aku membalikkan tubuhku.Kini kami kembali saling melumat bibir,

    sementara senjataku yang sudah basah oleh liurnya kuarahkan ke celah pahanya, sekuat tenaga aku mendorongnya namun sulit sekali Tubuh kami sudah bersimbah peluh.

    Akhirnya tak sabar tangan Shella memandu senjataku, setelah sampai di pintu kemaluannya, kutekan kuat, Shella membuka pahanya lebar-lebar dan senjataku melesak ke dalam kemaluannya Kepala senjataku sudah berada di dalam celahnya, hangat dan menggigit Kutahan pantatku,aku menikmati remasan kemaluannya di batanganku Perlahan kutekan pantatku, senjataku amblas sedalam-dalamnya.Gigi Shella yang runcing tertancap di lenganku saat aku mulai menaikturunkan pantatku dengan gerakan teratur

    Remasan dan gigitan liang kewanitaannya di seluruh batang senjataku terasa sangat nikmat Kubalikan tubuhnya, kini tubuh Shella menghadap ke samping Senjataku menghujam semakin dalam,kuangkat sebelah kakinya ke pundakku Batang senjataku amblas sampai mentok di mulut rahimnya Puas dari samping, tanpa mencabut senjataku, kuangkat tubuhnya, dengan gerakan elastis kini aku menghajarnya dari belakang.

    Tanganku meremas bongkahan pantatnya dengan kuat, sementara senjataku keluar masuk semakin cepat Erangan dan rintihan yang tak jelas terdengar lirih, membuat semangatku semakin bertambah Ketika kurasakan ada yang mau keluar dari kemaluanku,segera kucabut senjataku “Pllop ” terdengar suara saat senjataku kucabut, mungkin karena ketatnya lubang kemaluan Shella mencengkram senjataku “Achh, kenapa Gal aku sedikit lagi”, protes Shella

    Dia langsung mendorong tubuhku, kini aku telentang di bawah, dengan sigap Shella meraih senjataku dan memasukkannya ke dalam lubang sorganya sambil berjongkok

    Kini Shella dengan buasnya menaikturunkan pantatnya, sementara aku di bawah sudah tak sanggup rasanya menahan nikmat yang kuterima dari gerakan Shella, apalagi saat pinggulnya sambil naik-turun digoyangkan juga diputar-putar, aku bertahan sekuat mungkin

    Satu jam sudah berlalu, kulihat Shella semakin cepat bergerak, cepat hingga akhirnya aku merasakan semburan hangat di senjataku saat tubuhnya bergetar dan mulutnya meracau panjang “Oh aku puas Gal,sangat puas ” tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, namun senjataku yang sudah berdenyut-denyut belum tercabut dari kemaluannya. Kurasakan buah dadanya yang montok menekan tubuhku seirama dengan tarikan nafasnya

    Setelah beberapa saat, aku sudah merasakan air maniku tidak jadi keluar, segera kubalikkan tubuhnya kembali. Kini dengan gaya konvensional aku mencoba meraih puncak kenikmatan, kemaluannya yang agak basah tidak mengurangi kenikmatan

    Aku terus menggerakkan tubuhku Perlahan gairah nya kembali bangkit, terlebih saat batang senjataku mengorek-ngorek lubang kemaluannya kadang sedikit kuangkat pantatku agar G-spotnya tersentuh Kini pinggul Shella yang seksi mulai bergoyang seirama dengan gerakan pantatku Jari-jarinya yang lentik mengusap dadaku, putingku dipilin-pilinnya, hingga sensasi yang kurasakan tambah gila. Cerita Maya

    Setengah jam sudah aku bertahan dengan gaya konvensional Perlahan aku mulai merasakan cairanku sudah kembali ke ujung kepala senjataku Saat gerakanku sudah tak beraturan lagi, berbarengan dengan hisapan Shellapada putingku dan pitingan kakinya di pinggangku, kusemprotkan air maniku ke dalam kemaluannya, kami berbarengan orgasme=

    Sejak kejadian itu, kami sering melakukannya. Aku baru tahu bahwa gairah nya sangat tinggi, selama ini dia bersikap alim, karena tidak mau sembarangan main dengan cowok.

    Dia mau denganku karena aku sabar, baik dan tidak mengejar kekayaannya. Apalagi begitu dia tahu bahwa senjataku dua kali lipat mantan suaminya, tambah lengket saja gairah nya.

  • Aku Hamil Dengan Teman Suamiku

    Aku Hamil Dengan Teman Suamiku


    571 views

    Cerita Maya | Aku lihat keluargaku dan keluarga Kokoku sangat bahagia dengan lahirnya cucu pertama mereka, apalagi karena bayi pertamaku ini adalah laki-laki yang punya arti penting dalam tradisi chinese. Walaupun aku masih merasa letih akibat dari proses melahirkan yang panjang, aku bersyukur bisa tetap melahirkan dengan proses alami. Tetapi bagaimanapun kebahagiaanku terasa belum lengkap karena ayah biologis dari anakku tidak bisa mendampingi aku saat aku mempertaruhkan nyawa melahirkannya ke dunia.

    Memang betul, anak yang baru saja kulahirkan bukanlah berasal dari benih koko atau suamiku sendiri tapi dari benih mas Arif, seorang pria pribumi yang merupakan partner bisnis suamiku dan sudah berkeluarga.

    Aku sempat khawatir apakah anakku nantinya akan lebih mirip bapak biologisnya dibadingkan dengan ibunya, karena kalau hal ini terjadi maka perselingkuhanku akan langsung ketahuan. Tapi ketakutanku ternyata tidak beralasan karena mata anakku tetap sipit dan berkulit putih walaupun beberapa bagian wajahnya lebih mirip mas Arif dari pada Koko. Aku berharap akan bertemu mas Arif nanti di jam besuk untuk memperlihatkan kepadanya bahwa anak biologisnya itu sehat-sehat saja. Cerita Maya

    Dalam kegembiraannya Koko dan mertua perempuanku mengatakan bahwa mereka berharap aku melahirkan 2 sampai 3 anak lagi agar rumah tidak sepi katanya. Aku hanya tersenyum kecut karena aku tidak begitu yakin apakah mas Arif masih mau menghamiliku lagi ? Bahkan aku juga tidak tahu apakah aku masih punya kesempatan untuk bercinta dengan mas Arif lagi.

    Namaku Yuna, usiaku saat itu 29 tahun, aku keturunan Chinese yang masih totok dan aku sekarang jadi ibu rumah tangga yang sehari-hari bertugas merawat kedua mertuaku karena suamiku yang umurnya jauh lebih tua dariku masih serumah dengan orang tuanya. Aku baru menikah satu tahunan dengan Koko dari perjodohan antar keluarga. Sebenarnya bukan aku tidak mampu mencari pacar sendiri untuk jadi suamiku tetapi kebanyakan pacarku tidak sesuai dengan selera orang tuaku yang cukup kolot sehingga akhirnya aku “terlambat kawin”.

    Menurut orang-orang wajahku sangat khas oriental dengan kulit yang putih bersih, rambutku hitam lurus panjang sampai melewati bahu. Walaupun badanku tidak bisa dibilang langsing, tapi juga tidak bisa dibilang gemuk karena tidak ada lipatan-lipatan lemak pada tubuhku. Keistimewaanku adalah ukuran dadaku yang ekstra besar tapi padat demikian juga dengan pinggulku dan bulatan pantatku yang agak besar. Bila koko sudah memintaku berpakaian yang seksi, maka sangat sulit melarang laki-laki untuk tidak melihatku dengan pikiran jorok mereka.

    Sebelum menikah, pergaulanku cukup bebas dalam artian aku selalu tidur dengan pacar-pacarku sejak masih di SMA. Tidak kurang dari lima orang cowok pernah meniduri aku, masing-masing antara satu sampai dua tahunan lama berhubungannya. Tentu saja tidak banyak yang tahu reputasiku kecuali bekas cowok-cowokku itu sendiri karena orang lain tahunya aku adalah gadis yang baik dan aktivis gereja. Malahan dari lima orang cowok yang pernah meniduri aku, tiga diantaranya justru aku yang merenggut keperjakaan mereka.

    Menikah dengan Kokoku sekarang seolah-olah hukuman bagi pergaulan bebasku sebelumnya, ruang gerakku menjadi sangat terbatas karena hampir tidak bisa keluar rumah kecuali untuk belanja atau ke gereja. Belanja keperluan keluarga sudah terlalu melelahkan bagi mertuaku, sehingga aku bisa pergi sendiri karena koko juga tidak mau mengantar. Kalau ke gereja apalagi, Kokoku dan keluarganya sangat paranoid dengan gereja terutama pendeta-pendetanya tapi untungnya mereka tidak melarangku untuk ikut aktivitas gereja terutama yang tidak harus keluar sumbangan.

    Setelah setahun menikah, aku belum memperlihatkan tanda-tanda akan hamil padahal kedua mertuaku terus-terusan bertanya karena menganggap kesempatan untuk anaknya sudah semakin sempit. Aku menjadi cukup stress memikirkannya karena kalau diperiksa ke dokter semuanya baik-baik saja. Apakah ini karena dulu aku pernah menggugurkan kandunganku sampai lima kali ? Tentu saja aku tidak pernah bisa menceritakan hal ini ke dokter kandunganku. Malah aku bersyukur dokterku tidak bisa menemukan bekas-bekas aborsi yang pernah aku lakukan.

    Dari setiap hubungan dengan kelima orang pacarku, masing-masing pernah membuatku hamil. Nafsu berahiku yang sangat besar sering membuatku lupa tempat dan waktu untuk minta segera disetubuhi kepada pacar-pacarku. Akibatnya ada beberapa persetubuhan yang memaksa pacarku melepaskan spermanya di dalam tanpa memakai pengaman. Tentu saja hanya aku sendiri yang tahu berapa kali aku pernah melakukan aborsi, bahkan sebagian besar cowokku tidak tahu bahwa mereka telah membuatku hamil karena aku keburu memutuskan hubungan dengan mereka. Hanya pada kehamilan pertama saja yang diketahui cowokku karena saat itu juga aku sendiri panik dan terjebak dalam kebingungan yang berlarut-larut sampai usia kandunganku hampir tiga bulan sebelum akhirnya bisa digugurkan.

    Aku kenal dengan mas Arif karena diperkenalkan oleh Kokoku sebelum kami menikah. Mas Arif merupakan partner bisnis Kokoku sejak lama, mereka mendirikan perusahaan sama-sama yang terus berjalan sampai sekarang. Sejak pertama kali bertemu aku punya perasaan aneh tentang mas Arif, bukan perasaan buruk malah sebaliknya yaitu aku tertarik kepada mas Arif sebagai wanita terhadap pria. Kenapa aku bilang aneh karena aku biasanya tidak pernah tertarik kepada pria beristri dan aku juga sebenarnya tidak pernah tertarik pada pria pribumi.

    Umur mas Arif lebih tua dari koko, sangat ramah dan penuh perhatian, selalu mendengar lawan bicaranya tanpa pernah meremehkannya walaupun ternyata dia lebih benar. Hal ini sangat berbeda dengan kokoku yang tidak pernah menanggapiku kalau pendapatku sudah dianggapnya salah. Secara fisik walaupun sudah umur 40an, mas Arif juga terlihat seksi dengan bulu-bulu tangannya yang lebat. Sedangkan kumis dan jenggotnya yang lebat tapi beruban menunjukkan kematangannya dengan asam garam kehidupan.

    Tekanan mertua dan suami ditambah rahasia masa lalu yang tidak bisa aku ceritakan pada siapapun membuat aku sering sakit-sakitan sampai akhirnya aku bisa berkomunikasi dengan mas Arif.

    Awalnya sederhana saja, aku memang sengaja mencari dan meng-add akun mas Arif di FBku. Rasa ketertarikanku pada mas Arif membuatku nekat ingin lebih mengenal dia dan berusaha bisa berkomunikasi. Ternyata mas Arif sama sekali tidak keberatan berkomunikasi denganku dengan catatan jangan sampai diketahui oleh kokoku karena dia tahu persis adat buruknya. Oleh karena itu kami hanya menggunakan identitas asli saat menggunakan akun fesbuk tetapi untuk chatting masing-masing sudah punya nama samaran lain

    Awalnya aku hanya berkomunikasi untuk berbasa basi saja atau bertanya-tanya seputar pekerjaan kokoku supaya aku bisa lebih mengerti dia. Kokoku benar-benar terlalu malas untuk menerangkan pekerjaannya sendiri kepadaku karena aku Cuma lulusan SMA dibandingkan dia yang lulusan S1 perguruan tinggi ternama dan S2 dari luar negeri. Tapi lama kelamaan aku mulai berani curhat ke mas Arif, tentu saja awalnya hanya untuk hal-hal sepele tapi lama kelamaan karena jawaban-jawaban dari mas Arif begitu menyejukkan aku mulai memasuki daerah pribadi.

    Seperti keluhanku saat bersetubuh dengan koko sampai kepada kehidupan seksku di masa lalu. Sebenarnya sih aku “terjebak” oleh kecerdikan mas Arif yang mulai melihat bahwa pengalaman seksku lebih baik dari pada kokoku. Tapi karena dia tidak pernah menghakimi sama sekali perbuatanku, maka aku malah merasa benar-benar telah menemukan teman curhatku. Tentu saja aku belum berterus terang bahwa aku pernah melakukan aborsi, bahkan sampai lima kali, karena aku belum berani menebak reaksinya terhadap hal yang satu ini.

    Chatting di internet memang memungkinkan orang untuk melewati batas-batas yang hampir tidak mungkin dilakukan di dunia nyata oleh orang-orang yang sebenarnya saling asing sama sekali. Awalnya aku yang mencoba memancingnya untuk “menaikkan status” menjadi berpacaran di dunia maya karena toh sekarang kami sudah menggunakan nama samaran masing-masing. Ternyata mas Arif bersedia saja selama kami menambah beberapa kode “pengaman” untuk mencegah akun masing-masing diterobos orang lain.

    Jadilah kami mulai berpacaran di dunia maya, seperti pacaranku sebelumnya aku merasa bebas untuk “berhubungan seks” dengan pacarku termasuk yang di dunia maya kali ini. Apabila aku belum orgasme setelah disetubuhi koko, aku minta mas Arif untuk memuaskanku sampai orgasme melalui persetubuhan ala chatting. Apabila mas Arif bilang “aku remas remas payudaramu”, maka aku meremas-remas payudaraku dengan membayangkan mas Arif yang melakukannya. Biasanya hanya sampai mengelus-elus vaginaku saja oleh chattingannya mas Arif, aku sudah bisa orgasme.

    Aku benar-benar mulai tergila-gila dengan mas Arif dan benar-benar mulai menganggap bahwa aku ini adalah pacar gelapnya dia. Untuk semakin memudahkan komunikasi kami, mas Arif lalu mengajarkanku untuk memanfaatkan webcam dari notebookku sehingga sekarang kami bisa saling melihat satu dengan lainnya. Tanpa malu-malu aku sering tampil di depan webcam mulai dari berpakaian seksi, berpakaian minim, bertelanjang bulat sampai beronani. Tentu saja hal itu hanya bisa aku lakukan saat koko sedang tidak ada di rumah, sedangkan mertuaku tidak mungkin bisa memergokiku karena kamarku ada di lantai 2.

    Bercumbu di dunia maya lama kelamaan mulai tidak cukup buatku, aku mulai menginginkan bercinta sungguhan dengan mas Arif. Saat aku sampaikan keinginanku ini, ternyata mas Arif pun punya keinginan yang sama. Walaupun begitu ternyata sangat sulit menemukan waktu yang pas untuk bertemu karena mas Arif ingin persetubuhan yang pertama harus penuh kesan bukan persetubuhan singkat di mobil misalnya. Hal ini membuatku hampir menjadi putus asa karena waktu yang tersedia bagiku amat terbatas yaitu saat aku ke pasar atau ke gereja.

    Tapi akhirnya kesempatan itu datang juga, karena suatu hal Koko tidak bisa pergi ke Singapura untuk membeli obat buat mertuaku sehingga dia memintaku yang pergi ke sana. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan, aku sekalian membujuk Koko untuk membiarkan aku berobat menyuburkan kandunganku di Singapura, terserah itu dilakukan di rumah sakit atau ke shinshe yang ada di sana. Dasar kalau sudah hoki, ternyata mertuaku sangat mendukung bahkan ikut mencarikan informasi mengenai klinik yang bisa aku datangi. Akhirnya aku dapat ijin untuk pergi ke Singapura selama lima hari karena memang perawatannya sendiri memerlukan proses pengambilan sampel sebelum dan saat memasuki masa suburku.

    Pada hari H sesampainya di bandara aku segera bergegas ke business lounge seperti yang diminta mas Arif karena dia sudah menunggu di sana. Setelah cipika cipiki kami mencoba mengobrol, ternyata semua jadi kikuk lagi tidak selancar waktu ngobrol chatting di internet tapi akhirnya mas Arif berhasil mencairkan suasana dengan gurauan-gurauannya. Walaupun kami berusaha bersikap sewajar mungkin tapi tidak bisa dipungkiri tetap terlihat ada suasana kemesraan di antara kami. Sebagian orang di sana sering melirik kami dengan pandangan heran karena melihat pasangan pribumi sawo matang berbaju kasual dengan Chinese putih yang sangat sipit yang berbaju seksi.

    Akhirnya waktu untuk boarding tiba, sebelum kami berjalan ke boarding lounge mas Arif tiba-tiba berbisik padaku untuk melepas celana dalamku di toilet business lounge sebelum naik pesawat. Mukaku sampai merah merona karena jengah mendengarnya dan sempat protes karena aku sudah memakai rok mini yang tinggal 1/3 paha kalau sedang duduk tapi mas Arif keukeuh pada permintaannya. Walaupun aku tidak mengerti tujuannya tetapi aku turuti juga kemauan mas Arif yang menungguku melepas celana dalamku di luar pintu toilet dengan senyuman nakal.

    Entah bagaimana caranya mas Arif bisa mengatur kami duduk berdampingan di pesawat padahal waktu check-in kami terpisah dan kami duduk di baris yang memang hanya ada dua kursi saja. Aku kembali terheran-heran saat mas Arif mengambil selimut yang tersedia di bagasi cabin dan memakainya untuk menutupi pahaku yang hanya tertutup rok mini. Pikirku mungkin mas Arif tidak terbiasa berjalan dengan wanita yang berpakaian seksi karena istri dan anak perempuan mas Arif sehari-harinya pakai jilbab. Hal itu berbeda dengan Kokoku yang selalu menginginkan aku berpakaian seseksi mungkin, apalagi karena payudaraku sangat besar dan bulat membuat dia selalu membelikan aku baju-baju yang membuat kelebihan ukuran dadaku semakin terlihat.

    Di dalam pesawat aku mulai berani bergelendotan manja dengan mas Arif yang membalasnya dengan kecupan-kecupan kecil di pipi dan bibirku. Jantungku mulai berdebar kencang membayangkan apa yang akan kami lakukan selama beberapa malam ke depan tanpa gangguan siapapun. Setelah pesawat take-off tangan mas Arif mulai masuk kebalik selimut yang menutup pahaku. Sekarang aku jadi mengerti tujuan mas Arif menyuruhku membuka celana dalam dan kemudian menutupinya dengan selimut. Tanpa kusadari kulit wajahku kembali merah merona dan nafasku mulai memburu, padahal tangan mas Arif baru memijat-mijat pahaku saja.

    “Hhhhhhhh ….” Aku mendesah pelan sekali saat tangan mas Arif mulai mengusap-usah pangkal pahaku.
    Secara naluriah aku membuka pahaku selebar yang memungkinkan di kursi pesawat dan merubah posisi dudukku agak sedikit melorot pada sandaran kursi supaya seluruh bagian vaginaku lebih mudah dijangkau.

    “Ahhhh …mmmassshhhhh….” Aku mendesah tertahan sambil memeluk tangan mas Arif ketika kelentitku mulai diusap-usap jari tangannya dan mebuat cairan vaginaku mulai membasahi lubang senggamaku.
    “Masukin massh… ohhh…masukiiiinnnn …aja…massshhhh…” Erangku karena sudah tidak tahan lagi kalau jari-jari mas Arif hanya menggesek di luar lubang senggamaku saja.

    CLEEPPP ….. kurasakan salah satu jari mas Arif sudah masuk ke dalam liang senggamaku
    Srrtt..srrttt ….srrrtt … dengan cepat jari itu keluar masuk liang senggamaku di balik selimut.
    “A…a…a….a…” aku berusaha bertahan sekuat tenaga supaya tidak mengeluarkan jeritan kenikmatanku hingga akhirnya tanpa sadar aku menggigit-gigit lengan mas Arif yang dari tadi sudah aku peluk.

    “Ooohhh Tuhaann ….oohh Tuhann … nikmat sekali…ohhhh …” Gumamku saat kurasakan orgasmeku hampir tiba.
    “Oucccchhhhhhhh…..masss….ahhhhhh….” Tanpa sadar aku menggeliat di kursi saat orgasmeku datang dan membuat selimutnya melorot walapun mas Arif masih sempat menariknya kembali.

    “Aduuuh enak sekali mas … terima kasih ya …” Kataku sambil membantu mas Arif membersihkan jari-jari tangannya yang belepotan oleh cairan vaginaku sampai ke punggung dan telapak tangannya.
    Aku juga sempat mencubit mas Arif karena cemburu ketika seorang pramugari mencoba bermain mata dengannya sambil memasukkan jarinya kedalam bibirnya walaupun mas Arif hanya menanggapinya dengan senyum ramah biasa. Mungkin pramugari itu bisa menduga apa yang dilakukan mas Arif kepadaku dari balik selimut yang menutupiku.

    Fantasiku mulai melayang ke mana-mana, bayangkan saja dalam waktu kurang dari 5 menit dan hanya dengan jari tangannya saja mas Arif bisa membuatku orgasme. Padahal selama ini setiap cowok yang sudah meniduri aku jarang sekali yang bisa membuatku orgasme. Aku jadi makin tidak sabar ingin segera berhubungan badan dengan mas Arif, kata beberapa temanku penis orang pribumi rasanya lain dan gaya mereka bercinta juga berbeda. Dari pengalamanku berhubungan badan dengan Koko maupun kelima pacarku yang semuanya Chinese, semua rasanya sama saja kalau sudah di dalam liang senggamaku walaupun ukuran penisnya beda-beda.

    Beberapa menit kemudian pesawat sudah mendarat di Changi Airport dan kembali saat kami jalan berdua menuju imigrasi orang-orang sering memandang kami dengan pandangan ganjil atau senyum nakal. Waktu aku tanya ke mas Arif apakah dia melihat seperti yang aku lihat atau itu hanya perasaanku saja karena pertama kalinya kami bepergian bersama. Mas Arif menjawab bahwa dia juga melihat apa yang aku lihat, menurutnya selain perbedaan ras penampilan kami memang jauh berbeda. Mas Arif berpenampilan dewasa dan kalem, sedangkan aku terlihat seksi dan nakal karena mungkin sudah dibiasakan oleh Kokoku.

    Saran dari mas Arif adalah aku merubah sedikit penampilanku agar kami tidak jadi terlalu mencolok. Walaupun tidak dikatakannya langsung, aku juga mengerti bahwa dia tidak ingin aku dianggap sebagai wanita bayaran yang mendampingi pengusaha atau pejabat pribumi yang sedang berlibur.
    Tanpa terasa kami sudah sampai di hotel Grand Hyatt di Scotts Road yang biasa di pakai Koko kalau dia ke Singapore. Kamar-kamar kami selain berbeda juga berada di tower yang terpisah dengan lift sendiri-sendiri. Mas Arif sudah memperhitungkan semuanya dengan cukup teliti karena dia tahu betul sifat Kokoku. Mas Arif juga sudah membeli SIM Card lokal untuk kami pakai berkomunikasi satu sama lain selama di Singapore.
    Begitu sampai ke kamar aku mulai gelisah karena sangat kangen dengan mas Arif, apalagi dengan kejadian di pesawat tadi. Tapi mas Arif pesan bahwa aku jangan mengontak dia tapi harus menunggu dia yang mengontak aku karena dia belum mempersiapkan HPku untuk diisi nomor lokal tadi.

    Ting…toooooong … tiba-tiba bel kamarku berbunyi
    Ternyata mas Arif yang ada di luar pintu. Aku segera membukakan pintu untuknya dan menyambutnya dengan gembira karena benar-benar tidak menyangka mas Arif akan ke kamarku secepat ini.
    Hhhhhhmmmmmpppphhhh …. Aku langsung mencium bibirnya dengan penuh rasa rindu sampai lupa menutup pintu kamarku.
    “Kok lama sekali datangnya …. ?” Kataku manja setelah kami selesai berciuman, padahal aku sendiri baru saja meletakkan koper dan bersih-bersih sedikit tapi belum sempat ganti baju.
    “Saya tadi harus cari tahu dulu siapa pemilik benda ini …” jawab mas Arif sambil memperlihatkan celana dalam hitam transparan yaitu celana dalam yang aku copot di Cengkareng.

    Rupanya mas Arif berhasil mencomotnya dari tasku tanpa aku ketahui.
    “Aduuuuh kok jadi ada di sana sih ?” Mukaku langsung berubah merah karena malu.
    Waktu aku berhasil merebutnya malahan mas Arif kembali memelukku dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lain langsung merogoh masuk kedalam rok miniku yang tentu saja masih belum memakai celana dalam lagi. Aku segera melepas rok miniku itu sehingga sekarang bagian bawahku sudah telanjang. Mas Arif langsung meresponnya dengan melepaskan celana yang dipakainya dan kemudian celana dalamnya.“Iiiiiihhhhhhhh …. !!!” Spontan aku berteriak kaget waktu melihat penis mas Arif yang sudah mengacung ke arahku.

    Penis mas Arif ukurannya biasa-biasa saja, tapi yang sangat berbeda adalah warnanya yang hitam kemerahan dan bentuknya yang pipih bukan bulat. Di sekeliling penisnya terlihat banyak urat-urat pembuluh darah yang menggelembung sehingga penis itu seperti batang pohon yang dililit oleh akar-akar bahar disekelilingnya. Aku merasakan liang senggama di vaginaku berkontraksi dan mulai lembab karena bentuk penis Arif yang sebenarnya agak menyeramkan bagiku tetapi mulai membangkitkan gairah berahiku dengan seketika.
    “Kenapa sayang ?” Tanya mas Arif keheranan.

    “Aku belum pernah lihat penisnya pri … eh … seperti ini” Jawabku kagok
    “Maksudnya belum pernah liat penis orang pribumi ya ?” Canda mas Arif
    “Mau cicipin sekarang ?”
    “Mauuuuu ….” Kataku manja sambil mencium mas Arif, sedangkan tangan kananku memegang penisnya.
    Vaginaku semakin lembab oleh cairan dan mulai terasa berdenyut-denyut karena aku terangsang sendiri saat menggenggam penis mas Arif. Ketika menggenggam penisnya yang pipih, aku seperti sedang memegang ikan lele yang besar yang berontak ingin lepas.

    “Masukkin langsung aja masss …. Aku udah ga tahan pengen diijut” kataku memakai istilah dalam bahasa sunda jalanan untuk bersetubuh.
    Tanpa menunggu lagi mas Arif langsung mendorong tubuhku ke dinding kamar hotel, kemudian dengan menekuk kedua lututnya penisnya mulai diarahkan vaginaku untuk mencari lubang senggamanya. Kepala penis mas Arif aku pegang dengan jari-jariku untuk membantunya mencapai liang senggamaku. Terus terang aku belum pernah bersetubuh sambil berdiri dengan cowok-cowokku sebelumnya, apalagi dengan Kokoku.

    “Aaaaahhhhhh ……” Aku mendesah saat kepala penisnya masuk kedalam liang senggamaku, mas Arif tidak langsung memasukkan seluruh batangnya tapi memutar-mutar dulu kepala penisnya seolah-olah ingin mengenali situasinya dulu.
    BLESSSSSSSS ……
    Pelan-pelan batang penis mas Arif masuk ke dalam liangku sampai masuk seluruhnya dengan mulus karena vaginaku benar-benar sudah siap menerima tamu.
    “Adddddaaaawwwwwwww …..auhhhhhh…aaaahhhhhh ….” Aku mengerang kenikmatan.

    Sambil tangannya menyangga kedua pantatku, mas Arif meluruskan kembali kakinya yang tadi ditekuk sehingga otomatis aku terangkat ke atas seperti melayang dan terasa nikmat sekali. Kemudian aku diminta untuk melingkarkan kaki di pinggulnya sedangkan tanganku memeluk lehernya.
    Mas Arif mulai memompa penisnya keluar masuk vaginaku dengan gerakan pelan sambil sedikit menekan sehingga aku merasa sedang dipaku di dinding dengan penis sebagai pasaknya. Cairan vaginaku mengalir dengan derasnya sampai keluar dan membasahi bulu kemaluan kami berdua.
    “Ahhh ….ahhhh …hehhhh…hehhhh…ahhhh…ahhh” aku terus mengeluarkan desah nikmat mengikuti irama gerakan penisnya dengan mata sipitku yang terpejam.

    Baca Juga Cerita Seks Mertuaku Yang Hot Dan Kesepian

    Pakaian bagian atasku yang masih lengkap dengan BH karena belum kulepas mulai kusut dan basah oleh keringat, pakaian mas Arif juga sudah mulai acak-acakan. Posisi bersetubuh kami memang hanya melekatkan tubuh pada bagian pinggul kebawah sehingga tidak terlalu mengganggu.
    “Aduuuhhhh massshh … enak sekali ….ahhhh ….enak terusshhh…shhhh…” Aku mulai meracau bersamaan denga semakin memuncaknya rasa nikmatku.

    “Aaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh ………masssssssss…….akuuuu…dappppaaaaaaaattt” aku menjerit saat orgasmeku meledak dengan tiba-tiba.
    Kaki dan tanganku langsung menjepit tubuh mas Arif dengan kencang, mukaku terasa memerah dan mata sipitku tiba-tiba melotot saat mencapai puncak kenikmatanku dari penis orang pribumi pertamaku.

    Setelah klimaks orgasmenya berlalu, aku langsung merasa lemas sehingga kakiku tidak kuat lagi menjepit pinggangnya dan terjuntai lemas. Mas Arif menghentikan pompaannya, kemudian memelukku dan menyandar kepalaku di bahunya lalu aku dibopongnya ke ranjang dengan penisnya masih ada di dalam vaginaku.

    “Uuuuuuuuhhhhhhhhhhh …..” aku melenguh nikmat saat penis mas Arif terlepas dari vaginaku setelah membaringkanku di tempat tidur.
    Dengan telaten mas Arif melepas baju dan BH yang tersisa, kemudian dia melepaskan juga bajunya sendiri sehingga sekarang kami berdua sudah telanjang bulat. Aku lihat penis mas Arif masih tegak melengkung ke atas dan berkilat-kilat terkena cahaya dari layar TV. Rupanya mas Arif masih belum ejakulasi, padahal biasanya cowok-cowokku ejakulasi duluan sebelum aku orgasme atau paling tidak bersamaan datangnya.
    Kakiku direntangkannya lebar-lebar dengan satu tangannya sedangkan tangannya yang lain mengocok-ngocok penisnya sambil diarakan ke liang senggamaku.

    BLESSSSS ….. dengan sekali genjotan pada pinggulnya seluruh batang penisnya langsung masuk ke dalam vaginaku sampai kepangkalnya.
    “Auuuuuhhhhhhhhhhhhh…..Masshh …pelan-pelan” jeritku karena merasa sedikit ngilu pada vaginaku akibat persetubuhan kami yang sambil berdiri tadi.
    Dengan lembut mas Arif mulai menggerakkan penisnya maju mundur di dalam liang senggamaku yang belum terlalu basah setelah tadi rehat untuk mengulum penis itu tadi. Walaupun begitu bukan berarti kenikmatannya berkurang, apalagi mas Arif memang sangat telaten mencari-cari area di dalam rongga liang senggamaku yang lebih sensitif apabila disentuh dengan penisnya.

    “Aduh mas enak sekali di situ ….ohhhh ….ohhhh….oohhhhhhh” Reaksi spontanku terhadap titik sensitif yang disentuh penisnya juga menjadi sangat membantu mas Arif untuk mengerti kebutuhanku.
    Tanpa harus menunggu lama vaginaku mulai basah lagi …
    CROK…. CROK …. CROK …. CROK ….CROK ….mulai terdengar bunyi nyaring dari cairan vaginaku yang terpompa keluar oleh gerakan penis mas Arif.

    “Ohhhhhh….enak sekali…ahhhh….ahh…..ahh….” Aku terus mendesah nikmat
    Mas Arif menaikkan kakiku ke bahunya dan merubah posisi badannya menjadi setengah berjongkok sehingga pinggulku otomatis agak terangkat juga. Dalam posisi ini tanpa ampun mas Arif memompakan penisnya dengan sangat cepat membuatku tubuhku bergoyang-goyang sesuai irama pompaannya. Penisnya terasa melesak sangat dalam ke arah rahimku membuatku ingin meraung raung kenikmatan kalau tidak malu sama mas Arif, akhirnya aku meremas-remas dan menggigit-gigit bantal yang ada di kepalaku sebagai pengalihannya.

    “Arrrrkkkhhhhh ….arrrkkkkkhhhh ….arrrkkkkhh …” Akhirnya aku hanya mengeluarkan erangan tertahan dengan badan yang melenting-lenting di ranjang.
    CROK…CROK …CROK….CROK …CROK … Bunyi becek dari vaginaku semakin keras terdengar
    “AAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH……” Aku melolong kenikmatan saat aku kembali mendapat orgasme. Mataku yang sipit membelalak sejenak sebelum berputar sampai hanya kelihatan putih matanya saja.

    Pompaan penis mas Arif makin lama makin pelan mengikuti redanya puncak orgasmeku, kakiku juga diturunkan dari bahunya lalu tubuhnya direbahkan sambil menindih tubuhku.

    “Kamu bisa menikmatinya sayang ?” Bisik mas Arif sambil mencium bibirku dan mengecup-ngecup pipi serta leherku “Aku belum keluar lhooo…”
    “Enak sekali mas, benar-benar merupakan pengalaman yang sama sekali baru” Jawabku sambil membalas ciuman dan kecupannya.
    “Mas mau minta Yuna ngapain supaya mas bisa keluar ?” Aku menawarkan bantuan agar mas Arif bisa ejakulasi.

    Mas Arif minta kami merubah posisi dengan aku ada di atasnya tanpa melepaskan penis dari vaginaku terlebih dahulu. Akhirnya sambil berciuman kami berguling di ranjang sampai posisi kami berbalik di sisi lainnya. Aku lihat bed cover tempat kami bersetubuh sebelumnya sudah basah oleh cairan vaginaku sehingga meninggalkan noda yang cukup lebar.

    “Ahhhh ….” Aku mendesah pelan saat payudaraku dicium dan diremas oleh mas Arif.
    Dengan lahap putting payudaraku di hisap-hisapnya, sedangkan payudaraku yang lainnya di remas-remas dengan tangannya. Payudaraku sangat besar, sehingga telapak tangan mas Arif yang sudah lebarpun hanya bisa meremas tidak sampai setengah bagiannya.
    Sambil menikmati permainan mas Arif pada payudaraku dalam kondisi setengah tengkurap aku mulai bergerak memaju mundurkan pinggulku untuk menggesekan penis Arif dalam lubang seggamaku.

    “Ohhhhh….shhhhh…” Aku kembali mendesah menikmati hasil dari pergerakanku sendiri.
    Makin lama aku aku bergerak makin cepat dan diimbangi oleh mas Arif dengan gerakan pinggulnya yang menekan penisnya makin kedalam saat gerakan mundurku membuatku menjerit-jerit nikmat.

    “AAAAHHHH ….AHHHHH…..AHHHHHH ….AAmmmpppphhhhhh” Jeritanku kadang disumpal mas Arif dengan ciumannya, mungkin dia khawatir jeritanku “mengganggu” tamu-tamu lain.
    Aku kemudian diminta untuk mengambil posisi dengan badan yang lebih tegak seperti sedang menaiki kuda sehingga gerakanku sekarang adalah naik turun. Mas Arif tetap mengimbangiku dengan menaikkan pinggulnya untuk menyambut setiap gerakan turunku yang membuat seolah penisnya menancap dalam-dalam tembus sampai jantungku. Belum lagi aktivitas tangannya yang meremas payudaraku, mempermainkan putingnya atau mempermainkan kelentiku.

    “Mass…enak mashhh…. Kontolnya enak sekali….mashhh kontolnyaaaahhh”
    Aku meracau dengan pilihan kata-kata yang sudah tidak terkontrol lagi. Maklum sebagai orang yang berasal dari keluarga cina totok, aku hanya bergaul dengan buruh pribumi level bawah di toko atau perusahaan kami yang pilihan bahasanya sering kali kasar.
    “Ohhhh….ohhhhh…ohhhhh….ohhhh…..”

    Gelombang orgasme terasa mulai muncul lagi sehingga aku mulai mempercepat gerakanku. Butir-butir keringat mulai muncul di sekujur tubuhku membuat tubuhku menjadi kuning berkilatan. Rambutku yang asalnya panjang terurai sampai ke punggung mulai acak-acakan menutupi sebagian mukaku sampai ke dadaku.

    “Mass….aaakkkuuu udaaah mau dappaaatthhhh …..”
    Teriakku dengan tubuh mulai bergetar karena diterjang gelombang orgasme yang begitu nikmat.
    “Yunaii….saya juga akan keluarrrr ….” Sambut mas Arif sambil menahan pinggulku dibawah dan dia sendiri melentingkan tubuhnya untuk membuat penisnya tertancap dalam-dalam.

    “Ouuhhhhh …keluarkan semua pejunya masshhh ….untukkuu…..” Keluarnya air mani di dalam tubuhku seperti bonus bagi kenikmatan sebelumnya.
    SROOOOTTT….SROOOTTT ….SROOOTTTT ….SROOOTTT….SROOOOTTT …srrrt …srrttt…srttt
    Lima semprotan air mani yang kuat aku rasakan membanjiri rahimku diikuti beberapa semprotan kecil sesudahnya.
    Untuk sejenak aku seperti tidak sadarkan diri, tidak ada yang bisa aku ingat selain kenikmatan puncak yang sedang aku rasakan sekarang. Orgasme yang dibarengi dengan semprotan air mani mas Arif merupakan orgasme pamungkas yang sempurna bagiku.
    Setelah berahiku mulai reda badanku ambruk di atas tubuh mas Arif yang segera memelukku dengan mesranya. Rambutku yang acak-acakan dirapikannya dan kemudian menciumi aku dengan hangat.

    “Yuna, kamu sangat luar biasa …. Saya benar-benar dipuaskan oleh kamu” Bisik mas Arif kepadaku dengan suara yang mesra.
    “Mas Arif juga hebat sekali…aku sangat menikmati ijutannya bikin ketagihan” Jawabku malu-malu dengan nafas masih belum teratur.
    “Apalagi semprotan pejunya juga sangat enak, nikmat sekali ….” Lanjutku sambil tersenyum manis.
    “Kamu mau aku cariin pil anti hamil untuk berjaga-jaga ?” Mas Arif berbalik tanya seperti teringat sesuatu setelah aku bicara soal semprotan air maninya di dalam tubuhku tadi.

    “Ga usah mas, malah lebih baik kalau aku bisa punya anak dari mas …” Kataku manja hingga jadi malu sendiri dan membenamkan mukaku di dadanya.
    Mas Arif kemudian mengangkat mukaku dan memandangku dengan lembut tapi terlihat serius “Yuna kamu pikirkan baik-baik dulu, jangan sampai omongan kamu itu hanya bawaan emosi karena kita habis bercinta”
    “Tapi saya tidak keberatan kalau Yuna memang ingin dibuahi dengan benihku “ Lanjut mas Arif
    Aku hanya mengangguk sebagai jawabannya karena tekadku sudah bulat, bahkan sebelum pergi ke sini aku memang sudah bertekad untuk punya anak dari mas Arif saja dari pada dibilang tidak subur oleh keluarga kokoku.

    “Aaaahhhhhhhhhhhhhh ….” Aku kembali mendesah saat mas Arif melepas penisnya yang mulai lunak kembali.
    Dia kemudian mengambil handuk kecil dari kamar mandi yang sudah di beri air hangat, dengan lembut dibasuhnya vaginaku dengan handuk hangat tadi sampai bersih baru dia membersihkan penisnya sendiri. Setelah membuka bed cover yang basah oleh keringat kami dan cairan vaginaku, kami berbaring kembali di ranjang dengan tetap bertelanjang bulat. Saat itu kami pergunakan untuk “lebih mengenal” perabotan masing-masing yang sebelumnya dipergunakan.

    Bulu vaginaku yang hitam tipis dan berbentuk pohon palm merupakan favorit mas Arif selain kelentitku yang panjang. Mas Arif juga bisa menebak bahwa aku udah pernah hamil lebih dari dua bulan sebelum digugurkan hanya dari bentuk putingku yang memang sudah membesar dan berwarna lebih gelap saat aku masih perawan. Aku hanya bisa mengiyakan dan minta maaf karena tidak berterus terang sebelumnya sambil jantungku jadi berdebar takut perasaan mas Arif jadi berubah terhadapku. Mas Arif ternyata tidak marah, hanya dia berpesan kalau memang ingin serius tentang dihamili olehnya, maka dia tidak ingin aku menggugurkan kandungannya lagi.

    Saat aku bertanya mengenai kenapa penisnya berbeda dengan penis-penis yang pernah aku kenal apakah ada hubungan dengan ras. Dia bilang perbedaan utama adalah karena sebagai muslim penisnya sudah disunat sejak kecil sehingga pertumbuhannya berbeda dengan penis-penis yang tidak disunat atau disunat setelah dewasa. Penis cowok-cowokku memang ujungnya tertutup kulit saat sedang tidak berereksi sedangkan kepala penis mas Arif langsung terbuka dengan lekukan miring dilehernya sehingga menjadi batas yang jelas dengan batang penisnya.

    Aku coba kulum penis mas Arif sampai berereksi lagi sehingga sekarang aku bisa melihat dari dekat benda yang tadi membuatku meraung-raung kenikmatan. Tanpa sadar aku terhanyut untuk menghisap dan menjilati kepala penis mas Arif sampai mas Arif akan mendapat ejakulasi lagi. Dia minta aku untuk menelan seluruh air maninya dan tentu saja aku mau melakukannya dengan senang hati walaupun sebelumnya aku tidak pernah mau kalau disuruh melakukannya oleh cowokku yang pertama dan juga Kokoku.A

    Mas Arif bukan hanya sekedar berbeda rasa penisnya, tapi juga berbeda dalam gaya bercintanya yang selalu mengutamakan kepuasanku terlebih dahulu. Dia juga membuat aku tetap punya harga diri walaupun hanya sebagai pacar gelapnya atau wanita simpanannya. Padahal selama ini aku selalu diperlakukan tak lebihnya sebagai obyek pemuas syahwat bagi cowok-cowok yang meniduriku. Pada saat aku memang membutuhkan hal itu tidak terlalu terasa, tapi sangat menyakitkan pada saat mereka membutuhkanku karena umumnya mereka tidak mau tahu apakah aku sudah siap dipenetrasi atau tidak.

    Selama di Singapore kami bercinta sebanyak 3 sampai 4 kali dalam sehari, saat bercinta di pagi hari kami sepakat untuk mengeluarkan air maninya di luar supaya saat diperiksa di klinik tidak masuk ke dalam medical recordku. Tapi untungnya metoda terapi mereka tidak melarang aku bercinta selama menjalankan pengobatan.

    Beberapa teknik bercinta kilat juga kami coba praktekkan walaupun sebenarnya tidak perlu kalau melhat situasi selama kami di sana, tapi mas Arif yakin bahwa setelah kembali ke Bandung kesempatan untuk bercinta memang akan sangat terbatas. Bercinta di mobil atau di motel-motel short time akan menjadi sering kami lakukan dan mas Arif ingin memastikan bahwa aku bisa mencapai orgasme sedikitnya satu kali. Cerita Maya

    Sesaat setelah mendarat di bandara Cengkareng, mas Arif kembali mengajakku bercinta di hotel Bandara sebanyak dua kali untuk memastikan pembuahanku dengan benihnya karena saat itu aku memasuki fase masa suburku sebelum akhirnya kami pulang dengan menumpang travel yang berbeda. Begitu aku sampai rumah Koko langsung menyetubuhiku tanpa memperdulikan apakah aku sedang kelelahan atau tidak. Tiga malam selanjutnya seperti siksaan bagiku karena Koko terus menerus ingin menyetubuhiku, katanya untuk memanfaatkan masa efektif terapi yang aku jalani.

    Akhirnya memang aku hamil dan naluriku meyakini bahwa benih jabang bayiku adalah mas Arif bukan suamiku. Aku dan mas Arif masih sering bertemu untuk bercinta sampai kandunganku berusia 8 bulan, pengelola motel sering memandang kami dengan heran melihat ada wanita hamil besar masih sewa short time di motelnya dia. Walaupun begitu keluarga suamiku menjadi sangat gembira dan tidak ada kecurigaan sama sekali bahwa benih cucunya berasal dari orang lain … mitra bisnis suamiku sendiri.

  • Mertuaku Yang Hot Dan Kesepian

    Mertuaku Yang Hot Dan Kesepian


    465 views

    Cerita Maya | Aku berusia 30 tahun, sebut saja namaku Sigit, Nabila istriku Berusia 29 Tahun. Kami baru dikaruniai seorang anak lelaki yang lucu yang ku beri nama Sandy, berusia 2,5 tahun. Pada hari yang sudah kami tentukan aku sekeluarga berangkat ke Kota S. Penumpang kereta Argo Lawu tidak terlalu penuh! Mungkin, dikarenakan hari libur masih beberapa hari lagi, jadi aku istri dan anakku lebih leluasa beristirahat selama dalam perjalanan.

    Jam 5:30 pagi kereta tiba di stasiun kota S, Kami di jemput Ibu mertuaku dan pakde Supardi sopir keluarga Mertuaku. Ibu mertuaku begitu bahagianya dengan kedatangan kami, anak kami Sandy pun langsung dipeluk dan diciumi, maklum anak kami Sandy cucu lelaki pertama bagi keluarga bapak dan Ibu mertuaku. Cerita Maya

    Akhirnya, kami sampai juga di desa GL tempat tinggal mertuaku, suasana desa yang cukup tenang langsung terasa, ditambah lagi rumah mertuaku yang begitu besar, hanya dihuni oleh Bapak dan Ibu mertuaku saja. kelima anak bapak dan Ibu mertuaku semuanya perempuan, dan sudah pada menikah semua! kecuali Adik iparku yang paling bungsu saja yang belum menikah! dan saat ini sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negri di kota Y.

    “Bapak mana Bu? Tanya Nabila istriku”.

    “Bapakmu lagi kerumah Bupati, Biasalah paling-paling ngomongin proyek!”, Jawab Ibu mertuaku. Ibu mertuaku seorang wanita yang berumur kurang lebih 48 tahun, kulitnya putih bersih. Bapak dan Ibu mertuaku menikah disaat usia mereka masih remaja, namun begitu, Ibu mertuaku masih tetap terlihat cantik walaupun usianya hampir memasuki kepala lima. Istriku sendiri anak kedua dari 5 bersaudara.

    Setelah mandi dan beristirahat kami pun makan pagi bersama. Kami bercerita kesana kemari sambil melepas lelah dan rasa rindu kami, tanpa terasa haripun sudah menjelang sore . Selepas mahgrib bapak mertuaku kembali dari rumah bupati, kami pun kembali bertukar cerita, semakin malam semakin sepi padahal baru jam 8 malam. Maklumlah didesa!

    “Ini minum wedang buatan Ibu! Biar kalian segar saat bangun pagi harinya”. Aku, istriku dan bapak mertuaku pun langsung memimum wedang buatan Ibu mertuaku. “Enak sekali Bu! apa ini Tanya Nabila istriku “. “Itu wedang ramuan Ibu sendiri! Gimana, seger kan?”.

    Kami pun melanjutkan obrolan kami kembali, kurang lebih setengah jam kami ngobrol, rasanya mata ini kok berat sekali.

    Istriku pamit menyusul anak kami yang sudah duluan tertidur. Aku mencoba bertahan dari rasa ngantuk! dan melanjutkan cerita kami, namun apa daya! rasa ngantuk ini sudah terlalu berat. Akupun pamit tidur pada bapak dan Ibu mertuaku. Sambil menguap aku berjalan menuju kamar tidur kami yang cukup besar, kulihat istri dan anakku sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tumben dia nggak nungguin aku? Aku pun langsung merebahkan diri karena rasa ngantuk yang begitu berat. Tak lama aku pun langsung tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasakan seperti ada yang menciumku, membelaiku, aku mencoba untuk membuka mataku, namun aku tetap tidak sanggup untuk membuka mataku ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dimataku, yang membuat aku terus tertidur.

    Aku juga merasakan nikmat saat berejakulasi. Dan Aku beranggapan bahwa semua ini hanya mimpi basah saja.

    Ketika pagi harinya aku terbangun, kulihat istri dan anakku masih lelap tertidur, aku ke kamar mandi untuk kencing! begitu aku melihat kemaluanku, ada bekas sperma kering? Kupegang kemaluanku dan jembutku kok lengket? ketika kucium, aku mengenal betul bau yang begitu kas, bau dari lendir kemaluan perempuan. Aku berpikir kok mimpi basah ada bau lendir perempuannya?, apa semalam aku diperkosa setan? Saat kami semua sarapan pagi, aku hendak menceritakan peristiwa yang kualami semalam, tapi aku malu, takut ditertawakan, jadi aku diamkan saja peristiwa semalam. Hari kedua disana, aku, istri dan anakku tamasya ke daerah wisata, kami pulang sudah malam. Seperti hari kemarin, setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya, aku dan istriku pun langsung meminumnya. Herannya kurang lebih 30 menit setelah aku menghabiskan wedang buatan Ibu mertuaku, rasa ngantuk kembali menyerang aku dan istriku.

    Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang begitu sangat, kami berdua pamit hendak tidur, untungnya anak kami sudah tertidur dalam perjalanan pulang.

    “Mas aku ngantuk! selamat tidur ya Mas!”.

    Langsung istriku merebahkan badan dan tertidur dengan pulasnya. Aku pun ikut tertidur. Apa yang kemarin malam terjadi, malam ini terulang kembali. Pagi harinya setelah aku melihat bekas sperma dan bekas lendir perempuan yang sudah mengering dan membuat kusut jembutku, aku bertanya tanya dalam hatiku?, apa yang sebenarnya terjadi?
    Hari ketiga, aku tidak ikut pergi jalan jalan!, hanya istri anak serta Ibu mertuaku saja yang pelesir ke tempat sanak family keluarga istriku. Aku hanya rebahan ditempat tidur sambil melamun dan mengingat kejadian yang kualami selama 2 malam ini. Apa ada mahluk halus yang memperkosaku disaat aku tidur? Kenapa setiap habis meminum wedang, aku jadi ngantuk? apa karena suasana desa yang sepi? Padahal aku biasanya kuat begadang, atau karena wedang? Nanti malam aku coba untuk tidak meminum wedang buatan Ibu, batinku.

    Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, karena lelah akhirnya aku pun tertidur. Saat malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul dan berbincang bincang. Seperti hari kemarin-kemarin pula, Ibu mertuaku memberi kami wedang buatannya. Istri dan bapak mertuaku pun sudah menghabiskan minumannya, sementara aku belum meminumnya. “Kok nggak diminum Mas wedangnya”, tanya Ibu mertuaku? Aku memang mencoba untuk tidak meminum wedang tersebut, walaupun badan segar saat bangun tidur! namun aku berniat untuk tetap tidak memimumnya. Karena aku penasaran dengan apa sudah aku alami beberapa hari ini. Saat aku hendak meminumnya aku berpura pura sakit perut, sambil membawa wedang yang seolah olah sedang kuminum aku berjalan kearah dapur menuju toilet. Padahal sesampainya dikamar mandi, aku langsung membuang wedang tersebut.

    Aku berkumpul kembali ke ruang keluarga, kurang lebih tiga puluh menit! kulihat istiku dan bapak mertuaku sudah mengantuk dan berniat untuk tidur. Namun hal itu tidak terjadi denganku, apa karena aku tidak meminum wedang tersebut? Aku masih segar dan belum mengantuk. Aku pun berpura-pura seperti orang mengantuk, kami berdua pamit dan masuk kekamar, istriku  pun mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang cukup nyaman dimata. “Mas aku ngantuk sekali! Kamu nggak kepengen kan? Besok aja ya Mas! aku ngantuk sekali Mas” Kukecup kening istriku dan dia pun langsung tertidur. Aku masih melamun, kenapa hari ini aku tidak mengantuk seperti biasanya? Apa karena aku tidak meminum wedang buatan Ibu? Hampir setengah jam setelah istriku terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri kearah kamarku! Langsung aku pura-pura tertidur. Kulihat ada yang membuka pintu kamarku, saat kubuka sedikit kelopak mataku ternyata Ibu mertuaku! Mau apa beliau? Aku terus pura-pura tertidur.

    Untung lampu tidur dikamar kami remang-remang jadi ketika aku sedikit membuka kelopak mataku tidak terlihat oleh Ibu mertuaku. Deg.. jantungku berdebar saat Ibu mertuaku menghampiriku, langsung mengelus elus burungku yang masih terbungkus celana pendek. Aku hendak menegurnya, namun rasa penasaran dengan apa yang terjadi 2 hari ini dan apa yang akan dilakukan Ibu mertuaku membuat aku terus berpura-pura tertidur. Ibu mertuaku pun langsung menurunkan celana pendek serta celana dalamku tanpa rasa canggung atau takut kalau aku dan istri ku terbangun, atau mungkin juga mertuaku sudah yakin kalau kami sudah sangat nyenyak sekali. Blass lepas sudah celanaku! Aku telanjang, jantungku pun makin berdebar, aku terus berpura-pura tertidur dengan rasa penasaran atas perbuatan Ibu mertuaku. Aku menahan napas saat Ibu mertuaku mulai menjilati dan mengulum kemaluanku, hampir aku mendesih, aku mencoba terus bertahan agar tidak mendesis dan membiarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya.

    Kemaluanku sudah berdiri dengan tegaknya, Ibu mertuaku dengan asiknya terus mengulum kemaluanku tanpa tahu bahwa aku tidak tertidur. Jujur aku akui, bahwa aku juga sebenarnya sudah sangat terangsang sekali. Ingin rasanya saat itu juga, aku bangun, langsung menerkam, mencumbu dan menyetubuhi Ibu mertuaku. Kutahan semua gejolak birahiku, dan ku biarkan Ibu mertuaku terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba Ibu mertuaku melepas kulumannya dan bangkit berdiri, aku terus memperhatikannya, dan bless.. mertuaku melepas dasternya, ternyata dibalik daster tersebut mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi. Aku sangat berdebar, dag.. dig.. dug suara jantungku saat menyaksikan tubuh telanjang Ibu mertuaku, apalagi ketika Ibu mertuaku mulai naik ketempat tidur, langsung mengangkangiku tepat diatas burungku, makin tak karuan detak jantungku. Digenggamnya kemaluanku, diremas halus sambil dikocok-kocok perlahan, kemudian di gesek-gesekan ke memek Ibu mertuaku.

    Aku sudah tidak tahan lagi! Ingin rasanya langsung kumasukan kontolku! Sambil berjongkok, burungku pun diarahkannya kelubang surga Ibu mertuaku! perlahan-lahan sekali beliau menurunkan pantatnya memasukan burungku ke memeknya! sambil memejamkan mata menikmati mili demi mili masuknya burungku ke sarangnya.

    “Ahh.. ahh nikmat”, jerit mertuaku, saat semua burungku telah amblas masuk tertelan memek Ibu mertuaku. Sambil terus berpura-pura tertidur aku menahan gejolak birahiku yang sudah memuncak. “Ahh.. Ibu mertuaku menjerit tertahan saat beliau mulai naik turun bergoyang menikmati rasa nikmat yang beliau rasakan. Ibu mertuaku terus menjerit, mendesah, tanpa takut aku, istri dan anakku atau bapak mertuaku terbangun. Ibu mertuaku terus bergoyang naik turun. Belum beberapa lama menaik turunkan pantatnya, tubuh Ibu mertuaku mengejang.

    “Ahh nikkmatt”, jerit panjang Ibu mertuaku.

    Rupanya Ibu mertuaku baru saja mendapatkan orgasmenya. Ibu mertuaku langsung rebah menindih tubuhku mencium bibirku membelai kepalaku seperti, seorang istri yang baru saja selesai bersetubuh dengan suaminya, aku langsung membuka mataku. “Jadi selama ini aku tidak bermimpi! dan tidak pula tidur dengan mahluk halus!”. Ibu mertuaku bangkit karena kaget “Mass ka.. mu ndak ti.. dur? kamu nggak meminum wedang yang Ibu bikin?”. “Tidak Bu! aku tidak meminumnya”, Ibu mertuaku salah tingkah dan serba salah! mukanya memerah tanda beliau mengalami malu yang sangat luar biasa. Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang,

    “Mass..”, Ibu mertuaku menangis sambil duduk dan memeluk kakiku. “Ammpuni Ibu, Mass”.
    Aku merasa kasihan melihat Ibu mertuaku seperti itu, karena aku sendiri pun sudah sangat terangsang akibat permainan Ibu mertuaku tadi. “Bu aku belum tuntas!”, aku angkat mertuaku, aku peluk, kucium bibirnya.

    “Sudah Bu, jangan menangis!, aku juga menikmatinya kok Bu!”.

    Kulepas bajuku, kami berdua sudah telanjang bulat, kupeluk Ibu mertuaku dan kami pun berciuman dengan buasnya. “Ahh Mas.. nikmat.. Mas..”, saat kuhisap dan kuremas tetek mertuaku yang sudah kendur.. “Ah.. Mas nikmat..”, kutelusuri seluruh tubuhnya, dari teteknya, terus kuciumi perutnya yang agak gendut. “Ahh Mass”, jeritnya, saat kuhisap kemaluannya, kujilati itilnya sambil ku gigit gigit kecil. Dua jariku pun terbenam di dalam memek ibu mertuaku, jeritan mertuaku makin tak terkendali, apalagi disaat dua jariku mengocok dan menari-nari dilubang memeknya dan lidahku menari nari di itilnya.

    “Ahh.. Mass Ibu mau keluar lagi.. ahh! Ibu keluarr!, aarrgghh”, jerit ibu mertuaku.

    Tanpa sadar kaki mertuaku menjepit kepalaku! Sampai sampai aku tidak bisa bernapas.

    “Enak Bu?”
    “Enak sekali Mas”. Kucium kembali mertuaku.
    “Bu.. apa Nabila nanti nggak bangun?”
    “Tenang Mas! Wedang itu merupakan obat tidur buatan Ibu yang paling ampuh!”
    “Tidak berbahaya Bu?”
    “Tidak Mas”

    Kugeluti kembali mertuaku.. kucium.. kuhisap teteknya. Kucolok-colok memeknya dengan dua jari saktiku. “Oohh Mass masukin Mass Ibu sudah nggak tahan lagi.. Mas”. Dengan gaya konvensional langsung kuarahkan kontolku ke lubang surga Ibu mertuaku, dan akhirnya masuk sudah. “Oh.. Mas nikmat sekali..”.

    Baca Juga Cerita Seks Bercinta Dengan Guru Praktek Di Sekolah

    “Iya Bu.. aku juga nikmat.. memek Ibu nikmat sekali.., goyang terus Bu..”. Kami pun terus berpacu dalam nikmatnya lautan birahi. Aku mendayung naik turun dan Ibu mertuaku bergoyang seirama dengan bunyi kecipak-kecipak dari pertemuan dua alat kelamin kami. “Ohh Mas.. Ibu mau keluar lagi..”. Rupanya Ibu mertuaku orang yang gampang meraih orgasme dan gampang kembali pulihnya, aku pun tak mau kehilangan moment. “Tahan Buu!, sedikit lagi akuu juga keluarr..”, sambil kupercepat goyangan keluar masuk kontolku. “Akk Mass, Ibu sudah nggak kuatt”. Dan serr serr aku merasakan kemaluanku seperti di siram air yang hangat rasanya. Aku pun sudah tak kuat lagi menahan ejakulasiku! “Ibuu aacchh, cret.. cret.. cret..”, aku pun rubuh memeluk Ibu mertuaku.

    “Bu!, jadi yang yang kemarin-kemarin itu Ibu yang melakukannya?” “Iya Mas, maafin Ibu! Ibu jatuh cinta sama Mas Sigit sejak pertama kali Ibu melihat Mas. Apalagi Bapak sudah lama terserang impotensi”.

    “Kenapa harus seperti pencuri Bu?”.
    “Ibu takut ditolak Mas! lagi pula Ibu malu, sudah tua kok gatel”. “Apa semua mantu Ibu, Ibu perlakukan seperti ini?”. Sambil melotot Ibu mertuaku berkata, “Tidak Mas! Mas Sigit adalah lelaki kedua setelah bapak, Mas lah yang Ibu sayangi”. Kucium kembali mertuaku, kupeluk. “Mulai besok Ibu jangan pakai wedang lagi, untuk Ibu, aku siap melayani, kapanpun Ibu mau”. Kami pun bersetubuh kembali, tanpa mempedulikan bahwa di sampingku, istri dan anakku tertidur dengan pulasnya. Tanpa istriku tahu! didekatnya aku dan ibunya sedang menjerit jerit mereguk nikmatnya persetubuhan kami. Saat ayam berkokok dan jam menunjukan pukul 3:30 kami menyudahi pertarungan yang begitu nikmat, lalu Ibu mertuaku dengan santai berjalan keluar dari kamar kami sambil berkata, “Mas Sigit terima kasih!”.

    Yah.. itulah awal hubungan seksku dengan Ibu mertuaku, walaupun ada rasa sesal, namun rasa sesal itu lenyap tertelan nikmat yang kudapat, dan aku pun jadi tahu bahwa wanita seusia Ibu mertuaku sangat nikmat untuk di setubuhi. Nanti akan aku ceritakan kembali kisah persetubuhanku dengan mertuaku selama aku liburan di desa GL. Pagi Harinya, saat aku terbangun waktu sudah menunjukan pukul 10:15, kulihat disampingku, istri dan anakku sudah tidak ada lagi. Ahh.., aku pun termenung mengingat kejadian semalam, aku masih tidak menyangka. Ibu mertuaku, orang yang sangat aku hormati, dan sangat aku kagumi kecantikannya, dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepadaku. Malah ibu mertuaku juga yang memulai awal perselingkuhan kami. “Selamat pagi Ma”, sapaku saat kulihat di dapur istriku sedang membuatkan kopi untukku, “Kok sepi pada kemana mah?” “Kamu sih bangunnya kesiangan, Bapak pergi ke Wonogiri, Ibu pergi ke pasar sama Sandy”. Kupandangi wajah istriku, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Ibu mertuaku, akupun jadi terangsang, karena peristiwa semalam masih membekas dalam ingatanku.

    “Ihh.. apa-apaan sih Mas.. jangan disini dong Mas..”, protes istriku saat kutarik lengannya, langsung kupeluk dan kulumat bibirnya..

    “Mas.. malu.. ahh, nanti kalau Ibu datang bagaimana?” Aku yang sudah benar benar terbakar birahi, sudah tidak perduli lagi akan protes istriku, kuremas teteknya, ku lumat bibirnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Ibu mertuaku. Kubalik tubuh istriku, dalam posisi agak membungkuk, kusingkap ke atas dasternya kuturunkan celana dalamnya dan,

    “Uhh Mas pelan pelan dong.” Aku tak perduli, kuturunkan celanaku sebatas lutut, langsung kuarahkan burungku yang sudah tegak berdiri kelobang memek istriku. “Mass.. pelan pelan.. dong.. sakit.. Mas.” Semakin istriku berteriak, gairahku pun semakin meninggi, aku terus memaksa memasukan kontolku ke lubang memek istriku, yang belum basah benar.

    “Ahh..”, jeritku, saat burungku amblas tertelan memek istriku.

    Entahlah, saat itu aku merasakan gairahku begitu tinggi, langsung ku kugoyang maju mundur pantatku. “Ahh nikmat Billl..”, kugoyang dengan keras keluar masuk kontolku. “Mas.. enak mass.” Terus kugoyang maju mundur, mungkin karena terlalu bernafsu, baru beberapa menit saja, rasanya ejakulasiku sudah semakin dekat, denyutan di kontolku semakin membuat aku mempercepat kocokan kontolku di lubang memek istriku. “Billl.. aku mau keluarr nihh.” “Tahann mass, jangan dulu.., tahan sayang”, pinta istriku. Namun, semua permintaan istriku itu sia-sia, aku sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku, sedetik kemudian aahh, seluruh syaraf tubuhku menegang dan crot.. crot.. crott.. uhh.. aku menjerit tertahan sambil dengan erat kupeluk tubuh istriku dari belakang.

    Kulihat, raut wajah kekecewaan diwajah Nabila istriku, “Maaf.. ya.. sayang. aku sudah ngak tahan, aku terlalu bernafsu, habis kamu sexy sekali hari ini”, rayuku. “Ndak apa-apa Mass..”, kukecup keningnya. “Kamu aneh deh Mas?, ngak biasanya kamu kasar kayak tadi?”, tanya istriku sambil berlalu menuju kamar mandi.

    Kasihan istriku. padahal saat bersetubuh dengannya, aku membayangkan, yang sedang kusetubuhi adalah ibu mertuaku. Saat siang menjelang, setelah makan siang, istriku dijemput oleh teman-teman genknya waktu di SMA dulu, rupanya istriku sudah janjian untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu, kebetulan salah satu sahabat karib istriku yang sekarang ini tinggal di Lampung, saat ini sedang pulang kampung juga. “Pada mau kemana nih?” Tanyaku “Mumpung kita lagi pada kumpul nih Mas, kita mau jalan- jalan aja Mas. Ya.. Paling-paling ke kota S makan Soto gading”, Jawab mereka.

    Setelah berbasa basi, mereka pamit padaku dan ibu mertuaku. “Da.. da Sandy jagain mamah ya..”, kukecup anakku. “Bu aku pergi dulu ya”, pamit istriku. “Mas aku jalan jalan dulu yahh, bye Mas” Saat aku masuk kedalam rumah aku lihat Ibu mertuaku sedang mengunci pintu gerbang.

    “Kok digembok bu? “Biar aman”, katanya, sambil berjalan dan masuk kedalam rumah, dan klik.. Pintu rumah pun di kunci oleh Ibu mertuaku. Aku dan Ibu Mertuaku saling berpandangan, seperti sepasang kekasih yang lama sekali tidak berjumpa dan saling merindukan, entah siapa yang memulai aku dan Ibu mertuaku sudah saling berpelukan dengan mesranya, Kukecup keningnya, dan kuremas remas bongkahan pantatnya.

    “Mas Sigit, Saat-saat seperti inilah yang paling ibu tunggu-tunggu” kupandangi wajah ibu mertuaku, sungguh cantik sekali, kukecup kening mertuaku, kulumat bibirnya, kami berciuman dengan buasnya, saling sedot, saling hisap, kuangkat dan kulepas daster yang dipakai ibu mertuaku.

    Terbuka sudah, ternyata ibu mertuaku sudah tidak memakai Bh dan celana dalam lagi, kuhisap teteknya, kujilati inchi demi inchi seluruh tubuh Ibu mertuaku. “Ahh Mass, terus Mas.. sshh enak sayang..” Kuajak Ibu mertuaku pindah ke sofa. “Kamu duduk Mas..”, dilepasnya kaos dan celanaku, aku dan ibu mertuaku sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menempel ditubuh kami berdua.

    “Ahh.. nikmat bu.., ohh hisap terus bu, hisap kontolku bu.. ahh” Nikmat sekali kuluman ibu mertuaku, kami berdua sudah lupa diri, saling merangsang saling meremas. “Ohh.. bu.., aku pun bangkit untuk merubah posisi, kurebahkan ibu mertuaku di lantai, kakinya mengangkang, kupandangi memeknya, yang telah melahirkan istriku, kuhisap, kukecup dengan lembut memek ibu mertuaku, kujilati dengan penuh perasaan, kuhisap semua cairan yang keluar dari lubang memek Ibu mertuaku “Ohh.. Mas.. jangan siksa Ibu sayang.., Mass, Sigitt..oohh..ohh .., masukin sekarang Mas.., Ibu sudah mau keluar sayang” Langsung kuarahkan batang kontolku kelubang surga ibu mertuaku.

    yang sudah pasrah dan siap untuk di sodok-sodok kontolku. Kugesek-gesek perlahan kontolku di itil Ibu mertuaku yang sudah mengeras dan.. belss.. uhh, rintih Ibu mertuaku saat kepala kontolku menerobos memasuki lubang nikmatnya. “Ohh.., Mas masukin semuanya sayang.. jangan siksa ibu.. sayang..” Lalu kuhentak dengan kasar.. ahh.. jerit mertuaku saat seluruh batang kontolku amblas meluncur dengan indahnya terbenam dijepit memek Ibu mertuaku, yang rasanya membuat aku jadi ketagihan mengentoti ibu mertuaku. Kupeluk ibu mertuaku, kami pun saling melumat, kuangkat perlahan-lahan kontolku kuhujam kembali dengan keras.

    “Aahh..”, jerit ibu mertuaku.
    “Mas.. Sigit.. entotin Ibu Mass.. entotin Ibu.. Mas .. ohh mass. puasin Ibu.. sayang.., uhh ahh.”

    Akupun semakin terangsang dan bersemangat mendengar rintihan dan jeritan-jeritan jorok yang keluar dari mulut Ibu mertuaku. Kunaik turunkan pantatku dengan tempo yang cepat dan kasar. “Ahh.. ahh .. Ibu.., jeritku, aku mau keluar.. buu.” “Iyaa.. sayang ibu juga mau keluarr.” Kupercepat kocokan keluar masuk kontol ku, plak.. plak.. plak.. “Mass.. ayo Mass.. keluar.. bareng.. sayang. Ahh..”

    Tubuh ibu mertuaku pun mengejang, kakinya menjepit pinggangku. “Mass ahh ahh” “Ibuu, arrgg”, jerit kami bersamaan saat nikmat itu datang seperti ombak yang bergulung gulung.
    “Crot.. crott.. crott..”, kusirami rahim ibu mertuaku dengan spermaku.

    Aku dan Ibu mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan, “Bu..” kulihat ibu mertuaku masih memejamkan matanya, dengan nafas terengah-engah.

    Aku dan Ibu mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan, “Bu..” kulihat ibu mertuaku masih memejamkan matanya, dengan nafas terengah-engah.

    “Iya Mas..”
    “Rasanya aku jatuh cinta sama ibu..”, kulihat ibu mertuaku tersenyum. manis sekali..
    “Ibu maukan jadi kekasihku bu”.

    Ibu mertuaku pun hanya tersenyum dan mengecup keningku dengan mesranya, sambil berkata, “Mas ini nikmat sekali..”, dikecup kembali keningku. Hari itu sampai magrib menjelang kami berdua terus berbugil ria, aku dan ibu mertuaku seperti layaknya pengantin baru, yang terus menerus melakukan persetubuhan tanpa merasa bosan, tanpa lelah kami terus menumpahkan cairan nikmat kami, di dapur, dikamar tidur ibu mertuaku dan di kamar mandi. Yang paling dahsyat, setelah aku dan ibu mertuaku, meminum jamu buatan ibu mertuaku.

    Badanku segar sekali, dan kontolku begitu keras dan kokoh.., kukocok kontolku dilubang surga Ibu mertuaku, sampai banjir memek Ibu mertuaku dan ibu mertuaku memohon kepadaku agar aku memasukan kontolku di lubang anusnya. Nikmat sekali .. saat kutembakan spermaku didalam liang anus Ibu mertuaku. Saat istriku kembali selepas isya, kusambut istriku dan teman temannya, setelah berbincang bincang sebentar teman teman istriku pamit pulang. Istriku pun masuk menuju kamar hendak menaruh anak kami yang sudah lelap tertidur ke pembaringan. “Mas aku taruh Sandy di kamar dulu ya..”, kulirik Ibu mertuaku dan kuhampiri beliau sambil berbisik. “Bu.., Nabila adalah istri pertamaku, dan Ibu istri keduaku”, ujarku. Ibu mertuaku pun tersenyum dengan manisnya, sambil mencubit pinggangku. Hari itu benar benar dahsyat. Dua lubang, lubang memek dan lubang anus Ibu mertuaku sudah aku rasakan.

    Pada hari keenam liburan kami di desa Gl, aku dan istriku terpaksa harus pulang ke Jakarta, karena dikantor istriku ada keperluan mendadak dan membutuhkan kehadiran Istriku. Mau tidak mau aku dan Istriku membatalkan semua acara liburan kami di kota S. Kulihat Ibu mertuaku tampak sedih dan murung, beliau bilang sama Bapak mertuaku kalau beliau masih kangen sama kami, dan kalau menunggu hari raya nanti, rasanya terlalu lama buat beliau. Padahal itu adalah alasan Ibu mertuaku, Ibu mertuaku masih belum mau berpisah denganku, kurayu istriku agar membujuk Bapak mertuaku, berkat bujukan istriku akhirnya Bapak mertuaku membolehkan ibu mertuaku ikut kami ke Jakarta. Ibu mertuaku sangat gembira sekali dan kulihat sekilas matanya melirik kearahku.

    Besoknya Aku memesan tiket kereta Argo Dwipangga, karena hari itu hari kerja, maka Aku pun dengan mudah memperoleh tiket, Aku membeli empat tiket dan sedikit oleh-oleh untuk teman teman kami. Sesampainya aku dirumah, kami pun langsung berkemas kemas merapikan barang bawaan kami., Jam sudah menunjukan pukul 6:30 sore. Saat aku hendak menuju kekamar mandi aku berpapasan dengan Ibu mertuaku yang hari itu tampak cantik sekali, kubisikan kepadanya, agar Ibu mertuaku tidak usah memakai celana dalam, ibu mertuaku pun tersenyum penuh arti.

    Dengan diantar Pakde Supardi dan Bapak mertuaku Jam 8:30 malam kami tiba di stasiun Balapan, setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam kereta pun berangkat.

    Kuputar bangku tempat duduk kami, biar kami bisa saling berhadapan. Istriku duduk bersama anakku yang sudah tertidur dipangkuan istriku sementara aku duduk bersama ibu mertuaku. Setelah lewat stasiun yogyakarta, kulihat bangku disamping tempat duduk lami kosong. Berarti sudah tidak ada penumpang.., akupun pindah tempat duduk di sebelah kami, ternyata penumpang kereta hari ini tidak begitu penuh.

    Dinginnya AC di kereta membuat banyak penumpang yang menarik selimut dan tertidur dengan lelapnya.

    Kulihat istri dan ibu mertuaku pun sudah tertidur. Jam 2 pagi aku terbangun kulihat istri dan anakku masih tertidur, aku bangkit dengan perlahan lahan kucolek Ibu mertuaku, beliau membuka matanya, sstt, aku pun memberi kode kepada Ibu mertuaku. perlahan lahan Ibu mertuaku bangkit, kulihat istri dan anakku masih tertidur. “Bu.. aku kepengen.. bisikku..”, Ibu mertuaku pun tersenyum, kami berjalan ke arah belakang melewati penumpang lain yang masih lelap tertidur. Sesampainya kami di gerbong belakang, tepat dibelakang gerbong kami, ternyata hanya ada beberapa penumpang yang sedang terlelap dan masih banyak kursi yang kosong. Setelah mendapat tempat duduk yang kurasa aman kuputar bangku didepan biar aman dan lega bagian tengahnya.

    Langsung kupeluk Ibu mertuaku, kami pun saling berpagutan, kuremas tetek Ibu mertuaku, dengan perasaan yang sangat berdebar, kubuka celanaku sampai sebatas lutut, kontolku sudah tegak dengan sempurna, kuangkat rok panjang Ibu mertuaku.. woww ternyata Ibu mertuaku sudah tidak memakai celana dalam lagi. “Kamu yang suruh.. katanya”, sambil memencet hidungku.

    Aku duduk di lantai kereta, badanku bersandarkan tempat duduk, Ibu mertuaku pun bangkit mengangkangiku, perlahan-lahan di arahkan memeknya ke burungku yang sudah tidak sabar menerima sarangnya. Diturunkan perlahan lahan dan bless.. amblas semua kontolku masuk kedalam tertelan lobang nikmat Ibu mertuaku yag sudah sangat basah sekali.

    “Ahh rintih kami bersamaan..”

    Goncangan kereta api dan goyangan naik turun pantat Ibu mertuaku menambah nikmatnya persetubuhan kami. Dengan cepat Ibu mertuaku menaik turunkan pantatnya, kami berdua bersetubuh dengan rintihan perlahan. takut kalau-kalau ada penumpang yang terbangun dan melihat perbuatan kami. Cerita Maya

    Hanya beberapa menit saja.., “Aahh, hh.. Ibuu aku.. aku.. mau keluarr..”.

    “Crot.. crot.. crott..” Kuangkat badanku dan kupeluk dengan erat tubuh Ibu mertuaku, tanpa sadar Ibu mertuaku pun mengigit pundakku saat ejakulasi dan orgasme bersamaan hadir melanda dua insan manusia yang sedang lupa diri dan dilanda asmara. “Deg-deg-deg-deg”, suara jantungku, untungnya tidak ada seorangpun yang lewat.. mondar mandir.

    Buru buru Aku dan Ibu mertuaku merapikan pakaian kami dan bergegas kembali ke gerbong kami, kulihat anak dan istriku masih lelap tertidur, Aku dan Ibu mertuaku kembali keposisi kami masing-masing dan tertidur dengan senyum penuh kepuasan.

  • Bercinta Dengan Guru Praktek Di Sekolah

    Bercinta Dengan Guru Praktek Di Sekolah


    296 views

    Cerita Maya | Waktu itu aku masih kelas dua, di salah satu SMA Negeri di Bandung. Aku termasuk salah satu siswa dengan segudang kegiatan. Dari mulai aktif di OSIS, musik, olahraga, sampai aktif dalam hal berganti-ganti pacar.

    Tapi satu hal yang belum pernah kulakukan saat itu hubungan kelamin. Sering kali aku berkhayal sedang berhubungan badan dengan salah satu wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi aku tidak punya keberanian untuk meminta, mengajak ataupun melakukan itu.

    Mungkin karena cerita sahabatku yang terpaksa menikah karena telah menghamili pacarnya dan sekarang hidupnya hancur lebur. Itu mungkin yang bikin kutakut, setengah mati. Tapi aku menyukai rasa takut itu, bukankah rasa takut itu yang bisa menjauhkan aku dari perbuatan dosa. Cerita Maya

    Pada suatu saat, datang gerombolan guru praktek dari IKIP Bandung yang akan menggantikan guru kami untuk beberapa minggu. Salah satu dari guru praktek itu bernama Rany. Dia orangnya cantik, ah bukan… bukan cantik… tapi dia sempurna. Peduli setan dengan matematika yang diajarkannya, aku hanya ingin menikmati wajahnya, memeluk tubuhnya yang tinggi semampai, mengecup bibirnya, dan… aku pun berkhayal sangat jauh, tapi semua itu tidak mungkin. Dengan pacarku yang seumur denganku saja, aku tidak berani, apalagi dengan Rany.

    Singkat cerita, aku melaju dengan motorku. Hari sudah sore aku harus cepat-cepat sampai di rumah. Dalam perjalanan kulihat bu Rany. Aku memberanikan diri berhenti dan menghampirinya. Setelah sedikit berbasa-basi dia bercerita bahwa dirinya baru saja pindah kost dan tempat kost yang sekarang letaknya tepat di tengah-tengah antara sekolahku dengan rumahnya. Sehingga setiap sore aku mengantarkannya ke tempat kost-nya. Kejadian itu berlangsung setiap hari selama 1 minggu lebih. Kami berdua mulai akrab, bahkan nantinya terlalu akrab.

    Seperti biasanya, aku mengantarkan Ibu Rany pulang ke kost-nya. Anehnya saat itu, dia tidak ingin langsung pulang tapi mengajakku jalan-jalan di pertokoan di daerah Alun-Alun Bandung. Setelah puas kami pun pulang menuju ke kost Ibu Rany.

    Dan ketika kupamit Ibu Rany memegang tanganku dan…

    “Jangan pulang dulu, dong!” Ibu Rany menahanku, tapi memang inilah yang selama ini kuharapkan.

    “Udah malam Bu, takut entar dimarahi…” Perkataanku terhenti melihat dia menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya yang kecil.

    “Jangan panggil aku Ibu Rany, coba tebak berapa umurku?” ternyata umurnya terpaut 5 tahun dengan umurku yang saat itu 17 tahun.

    “Panggil aku Rany.” Aku hanya menganggukkan kepalaku.

    “Sini yuk, aku punya baju baru yang akan aku pamerkan kepadamu.”

    Ditariknya tanganku menuju kamarnya, jantungku mulai berdetak kencang.

    Sesampainya di kamar, dia menyuruhku duduk di depan televisi yang memperlihatkan pahlawan kesayanganku, McGyver. Rany kemudian menghampiri lemari pakaian di samping televisi.

    Kujawab dengan singkat, “OK!” lalu kembali aku menonton McGyver kesayanganku. Walaupun mataku tertuju ke pesawat televisi, tapi aku dapat melihat dengan jelas betapa dia dengan santainya membuka baju seragam kuliahnya, jantungku berdebar keras. Rany hanya menyisakan BH berwarna hitam dan celana dalam hitam. Dia melakukan gerakan seolah sedang mencari pakaian di tumpukan bajunya yang tersusun rapih di dalam lemari.

    “Aku tidak bisa menemukan baju baruku, kemana ya?” Aku hanya terdiam pura-pura menonton TV, tapi pikiranku tertuju kepada belahan pantat yang hanya tertutup kain tipis.

    Sesekali dia membalikkan tubuhnya sehingga aku bisa melihat dua buah benda yang menggunung di balik BH-nya. Akhirnya dia mengenakan gaun tidur berwarna pink yang sangat tipis, Lalu dia menghampiriku, dan kami berdua duduk berhadapan.

    “Kamu kenapa, kok pucat”, aku terdiam.

    “Kamu takut ya?” Aku tetap terdiam.

    “Aku tau kamu suka aku.” Aku terdiam.

    “Hey, ngomong dong.” Aku tetap terdiam.

    Dalam kediamanku selama itu aku menyimpan sesuatu di dadaku yang berdetak sangat kencang dan keras serasa ingin meledak ketika dia menempelkan bibir mungilnya ke bibirku. Dia melumat bibirku, sedikit buas tapi mesra. Aku mulai memberanikan diri untuk membalasnya. Kugerakkan bibirku dan kulumat kembali bibirnya. Tak lama kemudian, telapak tangan Rany yang hangat meraih pergelangan tanganku. Dibawanya tanganku ke arah buah dadanya. Jantungku saat itu sangat tidak karuan. Kuremas buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil, tapi aku dapat merasakan betapa kencangnya kedua gunung surga itu. Lidah kami pun mulai bermain.

    Tiba-tiba dia mendorongku, terus mendorongku sehingga aku telentang di atas karpet kamarnya. Aku hanya menurut dan tak bergerak. Rany membuka baju tidurnya yang tipis. Kali ini dia tidak berhenti ketika hanya BH dan CD-nya saja yang melekat di tubuhnya, tapi BH-nya kemudian terjatuh ke karpet. Belum sempat aku bergerak, Rany menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku, buah dadanya yang sangat keras menindih dadaku.

    “Kamu suka, ya?” aku mengangguk.

    Aku tak kuasa menahan diri, ketika aku mengangkat kepalaku untuk melumat bibirnya kembali, dia menahan kepalaku, aku heran.

    “Ke.. ke… kenapa Ran?” kataku terbata-bata.

    Dia hanya tersenyum, lalu dengan santainya dia memanjat turun tubuhku. Aku hanya terdiam, aku tidak berani bergerak. Aku bagaikan seorang prajurit yang hanya bergerak berdasarkan komando dari Rany. Dia mulai membelai pahaku dan sedikit mempermainkan selangkanganku. Sesekali dia menciumi celana seragam abu-abuku tepat pada bagian batang kejantananku. Aku memejamkan mata, aku pasrah,

    “Aku… aku… ah…!”

    Aku membiarkannya, ketika Rany mulai membuka celana seragamku, mulai dari ikat pinggangku dan berlanjut dengan menyingkapkan CD-ku. Dia meraih batang kemaluanku dengan mesranya.

    “Ah… crot… crot… crot…!” Aku tak kuasa menahan diriku ketika bibirnya yang mungil menyentuh kepala kemaluanku.

    Aku malu, malu setengah mati.

    “Tenang, itu biasa kok.”

    Senyumnya membuat rasa maluku hilang, senyum dari wajah sang bidadari itu membuat keberanianku muncul,

    “Ya aku berani, aku nekat!”

    Aku menarik kepalanya dan membalikkan tubuhku, sehingga aku berada tepat di atasnya. Dia sedikit kaget, tapi hal itu membuat aku suka dan makin berani. Aku beranjak ke bawah, kubuka CD-nya. Saat itu yang ada dipikiranku hanya satu, aku harus mencontoh film-film biru yang pernah kutonton.

    “Kamu mulai nakal, ya.”

    “Ibu guru tidak suka.”

    Aku tak memperdulikan candanya. Kuturunkan CD-nya perlahan, kulihat sekilas rumput kecil yang menutupi celah surganya. Seketika kucumbu dan kumainkan lidahku di celah surga itu. Tangan kananku terus menarik CD-nya sampai ke ujung kakinya dan kulempar entah jatuh di mana. Aku menghentikan sejenak permainan lidahku, kuangkat pinggul yang indah itu dan kugendong dia menuju ke tempat tidur yang terletak tepat di belakang kami berdua.

    Kuletakkan tubuh semampai dengan tinggi 173cm itu tepat di pinggir tempat tidur. Aku kemudian berjongkok, dan kembali memainkan lidahku di sekitar celah surganya, bahkan aku berhasil menemukan batu kecil di antara celah itu yang setiap kutempelkan lidahku dia selalu mengerang, mendesah, bahkan berteriak kecil.

    Baca Juga Cerita Seks Sex Dengan Kasir Swalayan

    Tangan kiriku ikut bermain bersama lidahku, dan tangan kananku membersihkan sisa air mani yang baru saja keluar. Wow… batang kejantananku sudah keras lagi. Ketika aku sedang asyik bermain di celah surganya, dia menarik kepalaku.

    “Buka celana kamu, semuanya…!” Aku menurut dan kembali menindih tubuhnya.

    Setelah kepala kami berdekatan dia mencium bibirku sekali dan kemudian dia tersenyum, hanya saat itu matanya sudah sayu, tidak lagi bulat penuh dengan cahaya yang sangat menyilaukan.

    Dia mengangkat kepalanya disertai tangan kananya meraih batangku dan mengarahkannya ke lubang kemaluannya. Tapi ketika batangku menyentuh bibir lubang kemaluannya,

    “Crot… cret… creeett…!” Kembali aku meraih puncakku, dia pun tersenyum.

    Hanya saat itu aku tidak lagi malu, yang ada dipikiranku hanyalah aku ingin bisa memuaskannya sebelum orgasmeku yang ketiga. Aku heran setelah orgasme yang pertama ini batang kejantananku tidak lagi lemas, kubiarkan Rany mengocok-ngocok batanganku, dengan hanya melihat garis wajah milik sang bidadari di depanku dan juga membelai rambutnya yang hitam legam, aku kembali bernafsu.

    “Pelan-pelan aja tidak usah takut.” Dia berbisik dan tersenyum padaku.

    Tak karuan perasaanku saat itu, apalagi ketika kepala kemaluanku dioles-oleskannya ke bibir kemaluannya. Tangannya yang kecil mungil itu akhirnya menarik batang kemaluanku dan membimbingnya untuk memasuki lubang kewanitaannya.

    “Bles… sss… sek!” Batangku sudah seratus persen tertanam di lubang surganya.

     

    Rasa percaya diriku semakin meningkat ketika aku menyadari bahwa aku tidak lagi mengalami orgasme. Aku mulai menarik pinggulku sehingga kemaluanku tertarik keluar dan membenamkannya lagi, terus menerus berulang. Keluar, masuk, keluar, masuk, keluar, masuk begitu seterusnya.

    “Oh Dig…!” Dia mulai memanggil nama akrabku, aku dipanggil Jedig oleh sahabat-sahabatku.

    Selama ini Rany hanya memanggil nama asliku seperti yang tertera di dalam absen kelasku.

    “Dig, terus… kamu mulai pintar…” Aku tak peduli, aku terus bergerak naik turun.

    Aku merasakan batang kemaluanku yang basah oleh cairan dari lubang surga milik Rany. Naik dan turun hanya itu yang kulakukan. Sesekali aku mencium bibirnya, sesekali tanganku mempermainkan bibir dan buah dadanya.

    “Ah… ah… ah, ah… oh!” Nafasnya memburu.

    “Ah Dig… ah… ah… ooowww!” Dia berteriak kecil, matanya sedikit melotot dan kemudian dia kembali tersenyum.

    Aku terdiam sejenak, aku heran kenapa dia melakukan itu. Yang kuingat, saat itu batang kemaluanku serasa disiram oleh cairan hangat ketika masih ada di dalam lubang kemaluannya. “Ntar dulu ya Jedig Sayang.” Dia mengangkat tubuhnya sehingga kemaluanku terlepas, aku menahan tubuhnya. Aku tak ingin kemaluanku terlepas aku masih ingin terus bermain.

    “Eit… sabar dong, kita belum selesai kok.” Kulihat dirinya memutar tubuhnya kemudian nungging di depan mataku.

    Aku sangat mengerti apa yang harus kulakukan, ya… seperti di film-film itu.

    Aku mendekatinya dengan batang kemaluanku yang sudah siap menghunus lubang kemaluannya. Aku mencoba memasukannya, tapi aku mengalami kesulitan. Satu, dua, ya dua kali aku gagal memasukan batangku. Akhirnya dia menggunakan tangan mungilnya untuk membimbing batangku.

    “Blesss…” Batangku masuk dengan perlahan. Berbeda dengan tadi, sekarang aku tidak lagi naik turun tetapi maju mundur.

    Kami berdua mendesah. Nafas kami saling memburu. Terus dan terus lagi.

    “Ah… oh… uh… terus Dig…, ah… oooww!” Kembali dia berteriak kecil, saat ini aku mengerti, setiap kali dia berteriak pasti kemudian dia merubah posisinya.

    Benar saja posisi kami kembali seperti posisi awal. Dia telentang di bawah dan aku menindihnya di atas. Aku tidak lagi memerlukan tangan mungilnya untuk membimbingku. Aku sudah bisa memasukan batang kemaluanku sendiri tepat menuju lubang surga yang sesekali beraroma harum bunga itu.

    Kembali aku melakukan naik dan turun. Kali ini aku menjadi siswa yang benar-benar aktif, tidak hanya di sekolah tapi di ranjang. Kuangkat kaki kanannya, kujilati betisnya yang tanpa cacat itu sambil terus menggerakan pinggulku.

    Beberapa saat kemudian, aku merasakan darahku mengalir dengan keras, ada sesuatu di dalam tubuhku yang siap untuk meledak. Gerakanku semakin kencang, cepat, dan tidak teratur.

    “Terus Dig, lebih cepat lagi… terus lebih cepat lagi Dig, terus.”

    Gerakanku semakin cepat. Kami berdua sudah seperti kuda liar yang saling kejar-mengejar sehingga terdengar suara nafas yang keras dan saling sambut menyambut.

    “Terus Dig, terus… ah… uh… oh…!”

    “Oban sayang… ah… dig… dig… dig… aaoowww!”

    Saat ini teriakannya sangat keras dan kulihat matanya sedikit melotot dan giginya terkatup dengan sangat keras. Kemudian dia terjatuh.

    “Dig cepetan ya sayang…!”

    “Aku capek.”

    Aku tak bisa berhenti menggerakan tubuhku, sepertinya ada suatu kekuatan yang mendorong dan menarik pinggulku.

    “Ah… oh… Ufff… aaah…!”

    “Crot… cret… cret…!”

    Muncratlah air kenikmatan itu dari tubuhku. Aku terjatuh di sampingnya, aku puas! Dia tersenyum padaku dan memelukku, dia menaruh kepalanya di dadaku. Setelah mengecup bibirku kami berdua pun tertidur pulas.

    Beberapa bulan setelah percintaanku dengan Ibu Rany… Perpisahaan pun dimulai, setelah aku memainkan beberapa lagu di panggung perpisahaan untuk menandakan berakhirnya masa kerja praktek mahasiswa-mahasiswa IKIP di sekolahku. Kulihat mereka menaiki bus bertuliskan IKIP di pinggirnya. Aku mencari Rany, bidadari yang merenggut keperjakaanku. Cerita Maya

    “Rany… hey…!” Rany menengok dan matanya melotot.

    “Ups… Ibu Rany!” Aku lupa, dia kan guruku.

    “Sampai ketemu lagi ya, jangan lupa belajar!” sambil menaiki tangga bus dia menyerahkan surat padaku.

    Aku langsung membaca dan tak mengerti apa maksud dari tuRanyn itu.

    Akhirnya bus itu pergi dan saat itulah saat terakhir aku melihatnya. Aku tak akan pernah lupa walaupun hanya sekali aku melakukannya dengan Rany. Tapi itu sangat berbekas. Aku selalu merindukannya. Bahkan aku selalu berkhayal aku ada di dekat dia setiap aku dekat dengan perempuan. Sekarang ketika aku sudah duduk di bangku kuliah aku baru mengerti apa arti dari surat Rany.

  • Sex Dengan Kasir Swalayan

    Sex Dengan Kasir Swalayan


    314 views

    Cerita Maya | Larah yang masih berumur 25 tahun tidak menyadari bahayanya bekerja sebagai kasir di sebuah toko serba ada di Jakarta. Dengan semangat dan keinginan untuk mandiri membuat dirinya tidak mempedulikan nasehat orang tuanya yang merasa risau melihat putriya sering mendapat giliran jaga dari malam hingga pagi. Larah lebih memilih bekerja pada shift tersebut, karena dari saat tengah malam sampai pagi, jarang sekali ada pembeli, sehingga Larah bisa belajar untuk kuliahnya siang nanti.

    Sampai akhirnya pada suatu malam, Larah mendapati dirinya ditodong oleh sepucuk pistol tepat di depan matanya. Yang berambut Gondrong, dan yang satu lagi berkumis tebal. Mereka berdua, menerobos masuk membuat Larah yang sedang berkonsentrasi pada bukunya terkejut. Cerita Maya

    “Keluarin uangnya!” perintah si Gondrong, sementara si Kumis memutuskan semua kabel video dan telepon yang ada di toko itu. Tangan Larah gemetar berusaha membuka laci kasir yang ada di depannya, saking takutnya kunci itu sampai terjatuh beberapa kali. Setelah beberapa saat, Larah berhasil membuka laci itu dan memberikan semua uang yang ada di dalamnya, sebanyak 100 ribu kepada si Gondrong, Larah tidak diperkenankan menyimpan uang lebih dari 100 ribu di laci tersebut. Karena itu setiap kelebihannya langsung dimasukan ke lemari besi. Setelah si Gondrong merampas uang itu, Larah langsung mundur ke belakang, ia sangat ketakutan kakinya lemas, hampir jatuh.

    “Masa cuma segini?!” bentak si Gondrong.

    “Buka lemari besinya! Sekarang!” Mereka berdua menggiring Larah masuk ke kantor manajernya dan mendorongnya hingga jatuh berlutut di hadapan lemari besi. Larah mulai menangis, ia tidak tahu nomor kombinasi lemari besi itu, ia hanya menyelipkan uang masuk ke dalam lemari besi melalui celah pintunya.

    “Cepat!” bentak si Kumis, Larah merasakan pistol menempel di belakang kepalanya. Larah berusaha untuk menjelaskan kalau ia tidak mengetahui nomor lemari besi itu. Untunglah, melihat mata Larah yang ketakutan, mereka berdua percaya. “Brengsek! Nggak sebanding sama resikonya! Iket dia, biar dia nggak bisa manggil polisi!” Larah di dudukkan di kursi manajernya dengan tangan diikat ke belakang. Kemudian kedua kaki Larah juga diikat ke kaki kursi yang ia duduki. si Kumis kemudian mengambil plester dan menempelkannya ke mulut Larah.

    “Beres! Ayo cabut!”

    “Tunggu! Tunggu dulu cing! Liat dia, dia boleh juga ya?!”.

    “Cepetan! Ntar ada yang tau! Kita cuma dapet 100 ribu, cepetan!”.

    “Gue pengen liat bentar aja!”.

    Mata Larah terbelalak ketika si Gondrong mendekat dan menarik t-shirt merah muda yang ia kenakan. Dengan satu tarikan keras, t-shirt itu robek membuat BH-nya terlihat. Payudara Larah yang berukuran sedang, bergoyang-goyang karena Larah meronta-ronta dalam ikatannya.

    “Wow, oke banget!” si Gondrong berseru kagum.

    “Oke, sekarang kita pergi!” ajak si Kumis, tidak begitu tertarik pada Larah karena sibuk mengawasi keadaan depan toko.

    Tapi si Gondrong tidak peduli, ia sekarang meraba-raba puting susu Larah lewat BH-nya, setelah itu ia memasukkan jarinya ke belahan payudara Larah. Dan tiba-tiba, dengan satu tarikan BH Larah ditariknya, tubuh Larah ikut tertarik ke depan, tapi akhirnya tali BH Larah terputus dan sekarang payudara Larah bergoyang bebas tanpa ditutupi selembar benangpun.

    “Jangan!” teriak Larah. Tapi yang tedengar cuma suara gumaman. Terasa oleh Larah mulut si Gondrong menghisapi puting susunya pertama yang kiri lalu sekarang pindah ke kanan. Kemudian Larah menjerit ketika si Gondrong mengigit puting susunya.

    “Diem! Jangan berisik!” si Gondrong menampar Larah, hingga berkunang-kunang. Larah hanya bisa menangis.

    “Gue bilang diem!”, sembari berkata itu si Gondrong menampar buah dada Larah, sampai sebuah cap tangan berwarna merah terbentuk di payudara kiri Larah. Kemudian si Gondrong bergeser dan menampar yang sebelah kanan. Larah terus menjerit-jerit dengan mulut diplester, sementara si Gondrong terus memukuli buah dada Larah sampai akhirnya bulatan buah dada Larah berwarna merah.

    “Ayo, cepetan cing!”, si Kumis menarik tangan si Gondrong.

    “Kita musti cepet minggat dari sini!” Larah bersyukur ketika melihat si Gondrong diseret keluar ruangan oleh si Kumis. Payudaranya terasa sangat sakit, tapi Larah bersyukur ia masih hidup. Melihat sekelilingnya, Larah berusaha menemukan sesuatu untuk membebaskan dirinya. Di meja ada gunting, tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali.

    “Hey, Roy! Tokonya kosong!”.

    “Masa, cepetan ambil permen!”.

    “Goblok lo, ambil bir tolol!”.

    Tubuh Larah menegang, mendengar suara beberapa anak-anak di bagian depan toko. Dari suaranya ia mengetahui bahwa itu adalah anak-anak berandal yang ada di lingkungan itu. Mereka baru berusia sekitar 12 sampai 15 tahun. Larah mengeluarkan suara minta tolong.

    “sstt! Lo denger nggak?!”.

    “Cepet kembaliin semua!”.

    “Lari, lari! Kita ketauan!”.

    Tiba-tiba salah seorang dari mereka menjengukkan kepalanya ke dalam kantor manajer. Ia terperangah melihat Larah, terikat di kursi, dengan t-shirt robek membuat buah dadanya mengacung ke arahnya.

    “Buset!” berandal itu tampak terkejut sekali, tapi sesaat kemudian ia menyeringai.

    “Hei, liat nih! Ada kejutan!”

    Larah berusaha menjelaskan pada mereka, menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berusaha menjelaskan bahwa dirinya baru saja dirampok. Ia berusaha minta tolong agar mereka memanggil polisi. Ia berusaha memohon agar mereka melepaskan dirinya dan menutupi dadanya. Tapi yang keluar hanya suara gumanan karena mulutnya masih tertutup plester. Satu demi satu berandalan itu masuk ke dalam kantor. Satu, kemudian dua, lalu tiga. Empat. Lima! Lima wajah-wajah dengan senyum menyeringai sekarang mengamati tubuh Larah, yang terus meronta-ronta berusaha menutupi tubuhnya dari pandangan mereka. Berandalan, yang berumur sekitar 15 tahun itu terkagum-kagum dengan penemuan mereka.

    “Gila! Cewek nih!”.

    “Dia telanjang!”.

    “Tu liat susunya! susu!”.

    “Mana, mana gue pengen liat!”.

    “Gue pengen pegang!”.

    “Pasti alus tuh!”.

    “Bawahnya kayak apa ya?!”.

    Mereka semua berkomentar bersamaan, kegirangan menemukan Larah yang sudah terikat erat. Kelima berandal itu maju dan merubung Larah, tangan-tangan meraih tubuh Larah. Larah tidak tahu lagi, milik siapa tanga-tangan tersebut, semuanya berebutan mengelus pinggangnya, meremas buah dadanya, menjambak rambutnya, seseorang menjepit dan menarik-narik puting susunya. Kemudian, salah satu dari mereka menjilati pipinya dan memasukan ujung lidahnya ke lubang telinga Larah.

    “Ayo, kita lepasin dia dari kursi!” Mereka melepaskan ikatan pada kaki Larah, tapi dengan tangan masih terikat di belakang, sambil terus meraba dan meremas tubuh Larah. Melihat ruangan kantor itu terlalu kecil mereka menyeret Larah keluar menuju bagian depan toko. Larah meronta-ronta ketika merasa ada yang berusaha melepaskan kancing jeansnya. Mereka menarik-narik jeans Larah sampai akhirnya turun sampai ke lutut. Larah terus meronta-ronta, dan akhirnya mereka berenam jatuh tersungkur ke lantai. Sebelum Larah sempat membalikkan badannya, tiba-tiba terdengar suara lecutan, dan sesaat kemudian Larah merasakan sakit yang amat sangat di pantatnya. Larah melihat salah seorang berandal tadi memegang sebuah ikat pinggang kulit dan bersiap-siap mengayunkannya lagi ke pantatnya!

    Baca Juga Cerita Seks Wik Wik Dengan Operator Warnet

    “Bangun! Bangun!” ia berteriak, kemudian mengayunkan lagi ikat pinggangnya. Sebuah garis merah timbul di pantat Larah. Larah berusaha berguling melindungi pantatnya yang terasa sakit sekali. Tapi berandal tadi tidak peduli, ia kembali mengayunkan ikat pinggang tadi yang sekarang menghajar perut Larah.

    “Bangun! naik ke sini!” berandal tadi menyapu barang-barang yang ada di atas meja layan hingga berjatuhan ke lantai. Larah berusaha bangun tapi tidak berhasil. Lagi, sebuah pukulan menghajar buah dadanya. Larah berguling dan berusaha berdiri dan berhasil berlutut dan berdiri. Berandal tadi memberikan ikat pinggang tadi kepada temannya. “Kalo dia gerak, pukul aja!”

    Langsung saja Larah mendapat pukulan di pantatnya. Berandal-berandal yang lain tertawa dan bersorak. Mereka lalu mendorong dan menarik tubuhnya, membuat ia bergerak-gerak sehingga mereka punya alasan lagi buat memukulnya. Berandal yang pertama tadi kembali dengan membawa segulung plester besar. Ia mendorong Larah hingga berbaring telentang di atas meja. Pertama ia melepaskan tangan Larah kemudian langsung mengikatnya dengan plester di sudut-sudut meja, tangan Larah sekarang terikat erat dengan plester sampai ke kaki meja. Selanjutnya ia melepaskan sepatu, jeans dan celana dalam Larah dan mengikatkan kaki-kaki Larah ke kaki-kaki meja lainnya. Sekarang Larah berbaring telentang, telanjang bulat dengan tangan dan kaki terbuka lebar menyerupai huruf X.

    “Waktunya Pesta!” berandal tadi lalu menurunkan celana dan celana dalamnya. Mata Larah terbelalak melihat penisnya menggantung, setengah keras sepanjang 20 senti. Berandal tadi memegang pinggul Larah dan menariknya hingga mendekati pinggir meja. Kemudian ia menggosok-gosok penisnya hingga berdiri mengacung tegang.

    “Waktunya masuk!” ia bersorak sementara teman-teman lainnya bersorak dan tertawa. Dengan satu dorongan keras, penisnya masuk ke vagina Larah. Larah melolong kesakitan. Air mata meleleh turun, sementara berandal tadi mulai bergerak keluar masuk. Temannya naik ke atas meja, menduduki dada Larah, membuat Larah sulit bernafas. Kemudian ia melepaskan celananya, mengeluarkan penisnya dari celana dalamnya. Plester di mulut Larah ditariknya hingga lepas. Larah berusaha berteriak, tapi mulutnya langsung dimasuki oleh penis berandal yang ada di atasnya. Langsung saja, penis tadi mengeras dan membesar bersamaan dengan keluar masuknya penis tadi di mulut Larah. Pandangan Larah berkunang-kunang dan merasa akan pingsan, ketika tiba-tiba mulutnya dipenuhi cairan kental, yang terasa asin dan pahit. Semprotan demi semprotan masuk, tanpa bisa dimuntahkan oleh Larah. Larah terus menelan cairan tadi agar bisa terus mengambil nafas.

    Berandal yang duduk di atas dada Larah turun ketika kemudian, berandal yang sedang meperkosanya di pinggir meja bergerak makin cepat. Ia memukuli perut Larah, membuat Larah mengejang dan vaginanya berkontraksi menjepit penisnya. Ia kemudian memegang buah dada Larah sambil terus bergerak makin cepat, ia mengerang-erang mendekati klimaks. Tangannya meremas dan menarik buah dada Larah ketika tubuhnya bergetar dan sperma pun menyemprot keluar, terus-menerus mengalir masuk di vagina Larah. Sementara itu berandal yang lainnya berdiri di samping meja dan melakukan masturbasi, ketika pimpinan mereka mencapai puncaknya mereka juga mengalami ejakulasi bersamaan. Sperma mereka menyemprot keluar dan jatuh di muka, rambut dan dada Larah.

    Larah tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, ketika tahu-tahu ia kembali sendirian di toko tadi, masih terikat erat di atas meja. Ia tersadar ketika menyadari dirinya terlihat jelas, jika ada orang lewat di depan tokonya. Larah meronta-ronta membuat buah dadanya bergoyang-goyang. Ia menangis dan meronta berusaha melepaskan diri dari plester yang mengikatnya. Setelah beberapa lama mencoba Larah berhasil melepaskan tangan kanannya. Kemudian ia melepaskan tangan kirinya, kaki kanannya. Tinggal satu lagi.]

     

    “Wah, wah, wah!” terdengar suara laki-laki di pintu depan. Larah terkejut dan berusaha menutupi dada dan vaginanya dengan kedua tangannya.

    “Tolong saya!” ratap Larah.

    “Tolong saya Pak! Toko saya dirampok, saya diikat dan diperkosa! Tolong saya Pak, panggilkan polisi!”]

    “Nama lu Larah kan?” tanya laki-laki tadi.

    “Bagaimana bapak tahu nama saya?” Larah bingung dan takut.

    “Gue Roy. Orang yang kerjaannya di toko ini lo rebut!”.

    “Saya tidak merebut pekerjaan bapak. Saya tahu dari iklan di koran. Saya betul-betul tidak tahu pak! Tolong saya pak!”.

    “Gara-gara lo ngelamar ke sini gue jadi dipecat! Gue nggak heran lo diterima kalo liat bodi lo”.]

    Larah kembali merasa ketakutan melihat Roy, seseorang yang belum pernah dilihat dan dikenalnya tapi sudah membencinya. Larah kembali berusaha melepaskan ikatan di kaki kirinya, membuat Raoy naik pitam. Ia menyambar tangan Larah dan menekuknya ke belakang dan kembali diikatnya dengan plester, dan plester itu terus dilitkan sampai mengikat ke bahu, hingga Larah betul-betul terikat erat. Ikatan itu membuat Larah kesakitan, ia menggeliat dan buah dadanya semakin membusung keluar.

    “Lepaskan! Sakit! aduuhh! Saya tidak memecat bapak! Kenapa saya diikat?”

    “Gue tadinya mau ngerampok nih toko, cuma kayaknya gue udah keduluan. Jadi gue rusak aja deh nih toko”.

    Ia kemudian melepaskan ikatan kaki Larah sehingga sekarang Larah duduk di pinggir meja dengan tangan terikat di belakang. Kemudian diikatnya lagi dengan plester.

    Kemudian Roy mulai menghancurkan isi toko itu, etalase dipecahnya, rak-rak ditendang jatuh. Kemudian Roy mulai menghancurkan kotak pendingin es krim yang ada di kanan Larah. Es krim beterbangan dilempar oleh Roy. Beberapa di antaranya mengenai tubuh Larah, kemudian meleleh mengalir turun, melewati punggungnya masuk ke belahan pantatnya. Di depan, es tadi mengalir melalui belahan buah dadanya, turun ke perut dan mengalir ke vagina Larah. Rasa dingin juga menempel di buah dada Larah, membuat putingnya mengeras san mengacung. Ketika Roy selesai, tubuh Larah bergetar kedinginan dan lengket karena es krim yang meleleh.

    “Lo keliatan kedinginan!” ejek Roy sambil menyentil puting susu Larah yang mengeras kaku.

    “Gue musti kasih lo sesuatu yang anget.”

    Roy kemudian mendekati wajan untuk mengoreng hot dog yang ada di tengah ruangan. Larah melihat Roy mendekat membawa beberapa buah sosis yang berasap. “Jangaann!” Larah berteriak ketika Roy membuka bibir vaginanya dan memasukan satu sosis ke dalam vaginanya yang terasa dingin karena es tadi. Kemudian ia memasukan sosis yang kedua, dan ketiga. Sosis yang keempat putus ketika akan dimasukan. Vagina Larah sekarang diisi oleh tiga buah sosis yang masih berasap. Larah menangis kesakitan kerena panas yang dirasakannya.

    “Keliatannya nikmat!” Roy tertawa.

    “Tapi gue lebih suka dengan mustard!” Ia mengambil botol mustard dan menekan botol itu. Cairan mustard keluar menyemprot ke vagina Larah. Larah menangis terus, melihat dirinya disiksa dengan cara yang tak terbayangkan olehnya.

    Sambil tertawa Roy melanjutkan usahanya menghancurkan isi toko itu. Larah berusaha melepaskan diri, tapi tak berhasil. Nafasnya tersengal-sengal, ia tidak kuat menahan semua ini. Tubuh Larah bergerak lunglai jatuh.”

    “Hei! Kalo kerja jangan tidur!” bentak Roy sambil menampar pipi Larah.

    “Lo tau nggak, daerah sini nggak aman jadi perlu ada alarm.”

    Larah meronta ketakutan melihat Roy memegang dua buah jepitan buaya. Jepitan itu bergigi tajam dan jepitannya keras sekali. Roy mendekatkan satu jepitan ke puting susu kanan Larah, menekannya hingga terbuka dan melepaskannya hingga menutup kembali menjepit puting susu Larah. Larah menjerit dan melolong kesakitan, gigi jepitan tadi menancap ke puting susunya. Kemudian Roy juga menjepit puting susu yang ada di sebelah kiri. Air mata Larah bercucuran di pipi.

    Kemudian Roy mengikatkan kawat halus di kedua jepitan tadi, mengulurnya dan kemudian mengikatnya ke pegangan pintu masuk. Ketika pintu itu didorong Roy hingga membuka keluar, Larah merasa jepitan tadi tertarik oleh kawat, dan membuat buah dadanya tertarik dan ia menjerit kesakitan.

    “Nah, udah jadi. Lo tau kan pintu depan ini bisa buka ke dalem ama keluar, tapi bisa juga disetel cuma bisa dibuka dengan cara ditarik bukan didorong. Jadi gue sekarang pergi dulu, terus nanti gue pasang biar pintu itu cuma bisa dibuka kalo ditarik. Nanti kalo ada orang dateng, pas dia dorong pintu kan nggak bisa, pasti dia coba buat narik tuh pintu, nah, pas narik itu alarmnya akan bunyi!”

    “Jangan! saya mohoon! mohon! jangan! jangan! ampun!”

    Roy tidak peduli, ia keluar dan tidak lupa memasang kunci pada pintu itu hingga sekarang pintu tadi hanya bisa dibuka dengan ditarik. Larah menangis ketakutan, puting susunya sudah hampir rata, dijepit. Ia meronta-ronta berusaha melepaskan ikatan. Tubuh Larah berkeringat setelah berusaha melepaskan diri tanpa hasil. Lama kemudian terlihat sebuah bayangan di depan pintu, Larah melihat ternyata bayangan itu milik gelandangan yang sering lewat dan meminta-minta. Gelandangan itu melihat tubuh Larah, telanjang dengan buah dada mengacung.

    Gelandang itu mendorong pintu masuk. Pintu itu tidak terbuka. Kemudian ia meraih pegangan pintu dan mulai menariknya.

    Larah berusaha menjerit “Jangan! jangan! jangan buka! jangaann!”, tapi gelandangan tadi tetap menarik pintu, yang kemudian menarik kawat dan menarik jepitan yang ada di puting susunya. Gigi-gigi yang sudah menancap di daging puting susunya tertarik, merobek puting susunya. Larah menjerit keras sekali sebelum jatuh di atas meja. Pingsan.

    Larah tersadar dan menjerit. Sekarang ia berdiri di depan meja kasir. Tangannya terikat ke atas di rangka besi meja kasir. Sedangkan kakinya juga terikat terbuka lebar pada kaki-kaki meja kasir. Ia merasa kesakitan. Puting susunya sekarang berwarna ungu, dan menjadi sangat sensitif. Udara dingin saja membuat puting susunya mengacung tegang. Memar-memar menghiasi seluruh tubuhnya, mulai pinggang, dada dan pinggulnya. Larah merasakan sepasang tangan berusaha membuka belahan pantatnya dari belakang. Sesuatu yang dingin dan keras berusaha masuk ke liang anusnya. Larah menoleh ke belakang, dan ia melihat gelandangan tadi berlutut di belakangnya sedang memegang sebuah botol bir.

    “Jangan, ampun! Lepaskan saya pak! Saya sudah diperkosa dan dipukuli! Saya tidak tahan lagi.”]

    “Tapi Mbak, pantat Mbak kan belon.” gelandangan itu berkata tidak jelas.

    “Jangan!” Larah meronta, ketika penis gelandangan tadi mulai berusaha masuk ke anusnya. Setelah beberapa kali usaha, gelandangan tadi menyadari penisnya tidak bisa masuk ke dalam anus Larah. Lalu ia berlutut lagi, mengambil sebuah botol bir dari rak dan mulai mendorong dan memutar-mutarnya masuk ke liang anus Larah.

    Larah menjerit-jerit dan meronta-ronta ketika leher botol bir tadi mulai masuk dengan keadaan masih mempunyai tutup botol yang berpinggiran tajam. Liang anus Larah tersayat-sayat ketika gelandangan tadi memutar-mutar botol dengan harapan liang anus Larah bisa membesar.

    Setelah beberapa saat, gelandangan tadi mencabut botol tadi. Tutup botol bir itu sudah dilapisi darah dari dalam anus Larah, tapi ia tidak peduli. Gelandang itu kembali berusaha memasukan penisnya ke dalam anus Larah yang sekarang sudah membesar karena dimasuki botol bir. Gelandang tadi mulai bergerak kesenangan, sudah lama sekali ia tidak meniduri perempuan, ia bergerak cepat dan keras sehingga Larah merasa dirinya akan terlepar ke depan setiap gelandangan tadi bergerak maju. Larah terus menangis melihat dirinya disodomi oleh gelandangan yang mungkin membawa penyakit kelamin, tapi gelandangan tadi terus bergerak makin makin cepat, tangannya meremas buah dada Larah, membuat Larah menjerit karena puting susunya yang terluka ikut diremas dan dipilih-pilin. Akhirnya dengan satu erangan, gelandang tadi orgasme, dan Larah merakan cairan hangat mengalir dalam anusnya, sampai gelandangan tadi jatuh terduduk lemas di belakang Larah. Cerita Maya

    “Makasih ya Mbak! Saya puas sekali! Makasih.” gelandangan tadi melepaskan ikatan Larah. Kemudian ia mendorong Larah duduk dan kembali mengikat tangan Larah ke belakang, kemudian mengikat kaki Larah erat-erat. Kemudian tubuh Larah didorongnya ke bawah meja kasir hingga tidak terlihat dari luar.

    Sambi terus mengumam terima kasih gelandangan tadi berjalan sempoyongan sambil membawa beberapa botol bir keluar dari toko. Larah terus menangis, merintih merasakan sperma gelandangan tadi mengalir keluar dari anusnya. Lama kemudian Larah jatuh pingsan kelelahan dan shock. Ia baru tersadar ketika ditemukan oleh rekan kerjanya yang masuk pukul 6 pagi.

  • Wik Wik Dengan Operator Warnet

    Wik Wik Dengan Operator Warnet


    306 views

    Cerita Maya | Cerita pertama Saya tentang hubungan Saya dengan karyawan Operator warnet Saya yang bernama Wati. Dia masi kuliah di sebuah PTS, dan saat itu Ia sudah semester 7. Karena merasa kekurangan untuk mencukupi hidup sehari-hari Dia Sambil bekerja part-time di warnetku.

    Kami cukup dekat, dan tidak jarang kami melakukan hubungan badan. Meski begitu, Kami tidak menjalin hubungan khusus, karena Aku sudah memiliki Kekasih sendiri diluar kota. Hanya saja Wati yang sepertinya benar-benar cinta kepadaku, sedangkan Aku hanya butuh tubuhnya untuk pelampiasan nafsuku saja. Cerita Maya

    Wati berdarah campuran Jawa dan Tionghoa, Kulitnya agak coklat karena Ia sering beraktifitas diluar, tetapi bagian dalam tubuhnya masih sangat putih & mulus. Memiliki paras yang bisa dibilang cantik dan menarik, menggairahkan menurutku. Wati sebelum bekerja diwarnetku, Ia mengambil jalan pintas dengan melacurkan dirinya.

    Demi meringankan beban orangtuanya yang kurang mampu, Ia berusaha keras membiayai hidup dan kuliahnya sendiri. Karena masih memiliki hati nurani yang baik, Ia sadar dan memutuskan untuk bekerja yang halal. Tetapi pecun tetaplah pecun, meski telah bekerja diwarnetku, Ia sering berpakaian seronok dan menggodaku untuk memenuhi kebutuhannya. Hingga kami besetubuh dan Aku menanggung sebagian biaya hidupnya.

    Hari itu Aku sedang mengunjugi warnetku, saat itu jam 10 malam yang jaga OP bernama Goldwin. Ketika Aku sibuk menghitung pendapatan hari itu tiba-tiba ada telfon masuk.

    “Wati?? Ngapain jam segini telfon..” pikirku.

    “Halo Wati, da apa?” tanyaku, sambil melangkah keluar warnet

    “Mas Jefri..tolongin Wati, besok hari terakhir bayar SPP kuliah. Wati masih belum dapet uang juga ampe sekarang..” Wati menjawab menyerocos.

    “Yee..kan minggu kemaren kamu sudah aku kasi buat bayar kost. Uda ga ada uang lagi nih Wati.” Kataku.

    “Ga ada yang bisa minjemin lagi Mas. Tolonglah Mas Jefri..penting nih, tar Wati balikin deh kalo uda ada uang..” Wati terus merajuk.

    “Huu..gak percaya Aku, Kamu kapan pernah punya uang” Tolakku dengan sedikit menyindir.

    “Iiih…Mas Jefri jahat lho. Ya udah Mas Jefri mau minta apa?”

    “Mmm..apa yah..hehe, biasa Wati..maen kuda-kudaan..” Jawabku setengah berbisik.

    “Huu..dasar, itu mulu yang dipikir. Makanya buruan tu Mba’ Lola suruh pindah kesini aja. Ya udah, besok malam Mas Jef ke kost Wati yah. Tapi Aku lagi dapet Mas, jadi tar Wati oral aja yah..” Wati juga menjawab setengah berbisik.

    “Huu..pake dapet segala. Tapi ga apa-apa Ti, Anal ja yah? Kan belom pernah” Pintaku. Wati memiliki pantat yang cukup besar dan padat, terlihat menantang jika Wati mengenakan jeans ketat apalagi hot pants. Ditambah pinggulnya yang lebar dan montok..Aku sangat beruntung bisa menikmatinya.

    “Ga mau! Aku kan belum pernah disodomi Mas..tar anusku rusak” Wati mengiba.

    “Jadi mau bayar SPP ga nih?! Lagian siapa suruh pake dapet. Kalo belum pernah makanya dicoba. Lagian masak Kamu ngelacur ga pake pantat..” Aku jawab dengan sedikit tegas.

    “Gak kok Mas, Wati ga pernah maen anal sebelumnya. Cuman Mulut dan memek Aku aja kok yang dipake.” Wati membantah dengan lirih karena sedikit Aku bentak.

    “Dasar pecun, makanya lain kali dipake lah itu pantat Kamu punya lobang!! Memek doank yang disodok, pantesan udah longgar gitu..huhh” Makiku.

    “Mas, jangan ngomong gitu! Aku udah gak kek gitu lagi kok sekarang” Ujar Wati

    “Ya udah, jadi gak nih?!” Aku mulai kesal.

    “Iya..jangan marah dong Mas. Ya udah..besok malam yah maennya” Kata Wati dengan lirih.

    “Jangan malam Wati, Aku ada acara ma temen-temen. Besok aja, abis Kamu dari kampus, Kita maen di toilet warnet.” Aku jawab dengan antusias sekali.

    “Eh..macem-macem aja Mas Jefri ini, Tar ketauan gimana? ” Jawab Wati dengan sedikit cemas.

    “Gak lah Wati, tenang aja. Kita maen cepet kok. Yang penting Kamu Jangan ampe bersuara, oke?!”

    “Tapi ngocoknya pelan-pelan aja ya Mas, Wati denger disodomi tu sakit Mas”

    “Ngocok apaan?! Ngocok arisan..hehe” Jawabku sambil bercanda

    “Ya ngocok batangnya Mas Jefri lah di dubur Wati besok, jangan kasar-kasar biar ga lecet Mas” ujar Wati sedikit cemas.

    “Iya beres, tapi tar sebelum maen Aku foto Kamu bugil Dulu ya Wati?” Pintaku.

    “Tuu..kan nambah lagi! Aku ga mau foto telanjang Mas, kalo ampe kesebar bisa mati Aku dibunuh bapakku. Mas Jefri kan uda pernah liat Wati telanjang, Mas Jefri juga tau setiap bagian tubuhku, Ngapain lah pake difoto segala..” Tolak Wati.

    “Ga bakal kemana-mana fotonya Wati. Lagi pula aku ga pernah sembarangan biarin orang laen pake komputerku. Buat koleksi pribadi aja Wati,janji deh! Kamu sayang kan ma Aku Wati..” Ujarku dengan sedikit nada manja.

    “Iya, Aku sayang ma Kamu Mas. Kalo gak, masak Wati mau nyerahin tubuh Wati buat muasin Mas Jefri. Janji yah, foto-foto bugil Wati jangan ampe kesebar.” Akhirnya Wati setuju juga, meski pada awalnya juga Aku yakin Ia pasti mau.

    “Janji!!” jawabku tegas. “Hehe..Ga tau Dia, padahal Aku berencana menggunakan foto-foto bugilnya untuk menjadikan Dia budak Seks Aku. Sayang tubuhmu sudah ternoda Wati, kalo gak udah Aku jadikan pacar..hehe. Tapi tubuhnya yang montok luWennyn lah buat tempat pembuangan spermaku.” Aku berbicara sendiri didalam hati.

    “Heh..malah diem sih Mas “Haha..sorry terpana liat bintang di luar ni. Oiya besok pake pakaian sexy yah..biar Aku horny duluan, jadi tar ga kelamaan foreplaynya” Aku terkadang meminta Wati tuk berpakaian Sexy jika sedang jaga di warnet atau jika sedang jalan dengaku. Aku perlahan mengajari dia agar menajadi seorang eksibisionis. Aku sangat terangsang jika melihat Dia memamerkan lekuk tubuhnya yang montok.

    Aku masuk kembali ke dalam warnet, dan mencuci mukaku. kulihat Goldwin sedang asik chatting di mIRC. “Siapa Mas, lama bener” Tanya Goldwin.

    “Temen lama Win. Oke, Aku pulang duluan yah..” Ujarku sambil mengambil kunci mobil. Memang tadi Kami berbicara ditelfon cukup lama, ga terasa ada setengah jam lebih. Aku bergegas ke ATM dan mentransfer sejumlah uang ke rekening Wati.

    Jam menunjukkan pukul 11.25 siang. Tapi Wati belom datang juga, mana udah ngantuk banget. Disebelahku ada Wenny, yang jadi partner jaga Wati. Dia sedang asik maen game dari pagi tadi, jadi Aku pikir ga akan ganggu rencanaku. Beberapa menit kemudian akhirnya Wati datang dengan tergopoh-gopoh membawa stop map yang berisi kertas-kertas. Keringatnya bercucuran di dahinya.

    “Sori lama Mas, dosenku rapat. Ni Aku bawakan gorengan.” Wati menaruh sebungkus gorengan di meja, lalu Ia melepas jaketnya.

    “Asik..pas banged laper,hehe” Kata Wenny yang langsung menyerobot bungkusan gorengan.

    Dibalik jaketnya, Wati mengenakan kemeja putih lengan pendek dengan bagian kerah yang terbuka cukup lebar. Wati tidak mengancingkan bagian atasnya, sehingga buah dada bagian atasnya terlihat menyembul walau tidak terlalu terbuka sekali. Rupanya Wati sengaja memakai push-up Bra untuk mengangkat payudaranya. Rok hitam selutut yang Dia kenakan juga memiliki belahan samping kanan yang cukup tinggi, jika Wati duduk sambil menyilang kaki, pasti Paha Kanan Wati terekspos jelas. Aku memperhatikan belahan buah dadanya yang ranum menyembul, sambil sekali melihat wajahnya dan tersenyum puas. Wati pun melirikku sambil tersenyum.

    “Wati, seksi amat..” Kata Wenny sambil melotot.

    “Haha..tinggal ini pakaianku nih” Wati menjawab sekenanya.

    “Ehemm…” Aku pura-pura batuk sambil melirik Wati.

    Wati yang tau maksudku akhirnya bergegas menuju ke toilet warnet yang letaknya di Ujung belakang warnet. Kebetulan ada 2 toilet di warnet ini, jadi Aku juga bisa kebelakang setelah Wati.

    “Wen Aku ke toilet dulu ya, mules nih..” Kata Wati sambil berlalu.

    “Ya, jangan lupa disiram loh..” Wenny menjawab dengan diselingi canda.

    20 detik kemudian Aku juga berpamitan ke belakang

    “Duh..Aku juga mules nih..” Kataku sambil berlari kecil ke Toilet.

    “Loh..koq pada mules smua sih!!” Ujar Wenny sambil terus asik bermain game disambil melahap gorengannya.

    Sampai di toilet Aku mengetuk sekali pintu toilet wanita. Begitu terbuka, Aku langsung masuk. Di dalam, Wati sedang mencuci muka. Aku buru-buru melepas resleting celanaku juga celana dalamku dan memelorotkannya sampai kemata kaki.

    Wati juga mengangkat rok hitamnya ke atas sampai ke pinggangnya, dan memelorotkan celana dalamnya hingga turun ke mata kaki. Wati juga membuka kancing kemeja bagian atas hingga perut, kemudian mengeluarkan dua bongkahan buah dadanya dari Branya hingga kedua payudara Wati terangkat karena terjepit Branya dari bagian bawah.

    Baca Juga Cerita Seks Liani 6: Sexercise

    Puting susunya yang berwarna coklat kemerahan terlihat jelas, bentuknya cukup besar dan melebar karena Wati pernah hamil sebelumnya oleh Pak Edo  penjaga kostnya.

    Hal itu terjadi sewaktu Pak Edo meminta Wati melayaninya, padahal Wati saat itu dalam kondisi kelelahan karena seharian dikampus kemudian bekerja. Tapi mau gak mau Wati tetap melayani nafsu Mang Edo karna terus dipaksa, hingga akhirnya Wati pingsan dan Mang Edo mengeluarkan benih-benihnya didalam rahimnya tanpa sepengetahuan Wati.

    Wati baru sadar jika mengandung benih haram Mang Edo saat usia kandungan menginjak 3bulan, dan akhirnya Wati menggugurkan kandungannya. Sejak saat itu Wati nggak pernah mau lagi melayani nafsu penjaga kostnya itu. Kemudian Aku mengeluarkan HPku yang berkamera dan mulai mengabadikan bagian-bagian pribadi tubuh Wati. Raut muka Wati terlihat muram ketika aku memoto bagian wajahnya hingga dadanya yang terekspos jelas di depan kamera HP ku, seakan tidak rela bagian tubuhnya yang paling pribadi di abadikan olehku.

    “Mas jangan memek Aku..lagi dapet nih, jijk ah…” Wati mengiba sambil berusaha menutupi daerah kewanitaannya dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya berusaha menjauhkan HPku ketika aku akan mengambil foto kemaluannya.

    “Gapapa Wati, Aku malah pengen punya foto memek Kamu yang lagi ngeluarin darah gitu..hehe” Aku terus berusaha memotretnya.

    “Mas jefriii..gak mau Wati, pliss..besok kalo uda bersih baru Kamu foto. Ntar janji deh Aku buka memekku selebar-lebarnya tuk Kamu ambil fotonya..sebanyak yang Kamu mau Mas..” Wati terus memohon.

    “Ya deh..oke Wati. Sekarang Kamu balik badan, buka kaki lebar-lebar terus buka belahan pantat Kamu Wati pake kedua tangan mu, Aku mau ambil foto pantat ma anus Kamu yang masi rapet ini Wati sebelum Aku jebol..Hihihihi” Tawaku pelan.

    “Yee..apaan sih Mas, ya udah nih..” Wati kemudian melakukan seperti yang aku minta, kedua tangannya kebelakang meremas kedua bogkahan pantatnya dan menariknya ke arah berlawanan hingga terlihat anusnya dengan sangat jelas. Lalu Aku mulai mengabadikan bagian lubang pengeluaran Wati yang coklat kemerahan itu sampai puas.

    “Mas, Aku lupa bawa pelumas..” Kata Wati, yang harusnya Dia membawa body lotion untuk pelumas anal.

    “Isep dulu Wati..pake liur Kamu aja” Kataku sambil menarik kepala Wati ke penisku, hingga Wati terpaksa jongkok.

    “Hmhh..umm..eehhmm…” Hanya suara itu yang keluar dari mulut Wati ketika penisku yang sudah tegang dari tadi memenuhi rongga mulutnya. Tak lupa Aku segera merekam adegan Wati mengoral penisku dengan kamera HPku. Bibir merahnya yang tebal terasa sangat nikmat sekali menyelimuti penisku.

    Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Penisku rasanya basah sekali..terasa hangat didalam mulut Wati. Air liur Wati menetes-netes disela-sela bibir dan batang penisku, rupanya Wati ingin penisku sebasah mungkin agar mudah memasuki liang anusnya. Kepala Wati maju mundur mengocok batang kejantananku dengan bibirnya yang tebal, tangan kirinya memegangi batangku sedang tangan kanannya menelusup di balik kaosku memainkan puting susuku.

    “Ooh…enak Wati” Aku melenguh pelan.

    2 menit kemudian, Aku angkat kepala Tin dan kulumat sebentar bibirnya yang penuh liur itu, lalu kubalik tubuhnya hingga Ia menunduk berpegangan pada pinggir bak mandi. Aku elus-elus bongkahan pantat Wati yang putih montok itu, terasa mulus sekali.

    Sambil Aku keluar masukkan jari-jariku membukai anusnya yang sempit dan Aku ludahi beberapa kali. Aku remas-remas juga paha gempalnya yang tak kalah mulus terlihat putih menggairahkan. Kulit Wati memang agak coklat, tapi bagian dalam tubuhnya terlihat lebih putih.

    “Uuh..”Wati melenguh pelan saat Aku tempelkan ujung penisku di anusnya, sambil Aku gesek-gesek dan kudorong perlahan hingga memasuki pantatnya.

    “Egghhh..hmmphh..pelan Mas..” Kata Wati lirih sambil menahan sakit pada lobang pengeluarannya.

    “uugghhh…sempit banged Wati!” Bisikku ketika seluruh batang penisku tenggelam di dalam lobang pantat Wati.

    “Oo..oo..ohh…” Wati megap-megap seperti orang yang kesulitan bernafas. Bibirnya membentuk huruf ‘O’ dengan kepala menengadah ke atas.

    “Wati..duburmu enak banget…ooh..hangat Wati” Aku meracau sambil mulai mengeluar-masukkan penisku, kedua tanganku mantab mencengkeram pinggul Wati yang empuk. Gerakan pinggulku semakin cepat namun teratur, penisku dengan cepat keluar-masuk menjelajahi lorong anus Wati.

    “Shhh..ooh..sakitt Mas..udah ajaah..eghh..keluarin pliss..” Erang Wati

    “Bentar Tin, baru enak nih..” Ujarku sambil mempercepat kocokan penisku di duburnya.

    “Aaahhh…aaahhh…aaooww…aa hhh…” desahan Wati seirama bersamaan hentakan-hentakan liar pinggulku yang menghimpit tubuh Wati yang mengejang kesakitan. Tubuh Wati terguncang-guncang, naik turun, kepalanya mengeleng ke kiri-kanan sambil terus mengerang kesakitan menahan gempuran penisku terhadap saluran pengeluarannya.

    Rambutnya yang panjang itu kemudian kujambak sehingga ia mendongak ke atas sambil terus mengerang tertahan. Bunyi buah pantatnya yang beradu dengan pahaku semakin keras. Rambutnya semakin keras kutarik sehingga ia semakin mendongak dengan mulut menganga. Pantatnya melengkung ke atas dan buah dadanya yang besar itu berguncang-guncang, seirama dengan gerakan pantatku.

    “Ah..ahh..eeghh…sumpah Mas Aku ga kuat..perih banget!!!” Tubuh Wati mulai limbung, kakinya lemas seperti tidak bertenaga lagi. Kedua tanganku yang sebelumnya berpegangan pada pinggul Wati, kini menelusup masuk ke balik kemeja dan Branya mencengkeram erat kedua buah payudaranya untuk menahan tubuh Wati dan mulai meremas-remasnya.

    “Uhuu..hu..hu..sakiit Mas..hik..hiks..udaah..ampuun Mas” Wati mulai menangis, wajahnya memerah, matanya memandangku penuh iba, air matanya mengalir deras, air liurnya pun ikut menetes. Aku berpikir pasti Wati merasakan sakit yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya selama hidupnya.

    “Tahan ya Wati, bentar lagi keluar kok. Kamu sayang kan ma Aku..?” Aku berbisik di telinganya sambil mengecup punggungnya. Tanganku yang masih di buah dadanya mulai memilin-milin puting susu Wati.

    “Eeeghh..ii..iya..sayang lah…sshh..Mas Jefri sayang juga kan ma Wati kan?” Wati berkata dengan terisak lirih, dengan tubuh yang tergoncang-goncang akibat gempuran Penisku pada duburnya.

    “Uhh…ooh…” Aku mempercepat kocokan penisku tanpa menjawab pertanyaan Wati. Aku genjot pantatnya dengan kasar dan brutal. Rasanya nikmat sekali. Payudara Wati juga Aku remas dengan sekuat tenaga.

    “Arrrggh…arggghhhh….” Wati menjerit tertahan, Ia kembali menangis histeris. Penderitaan yang sangat hebat dirasakannya, Ia menahan rasa sakit yang luar biasa di bagian pantat dan payudaranya Juga berusaha menahan suaranya agar tidak keluar.

    Tapi suara erangan dan tangisan kesakitan Wati keluar juga, untung Wati masi bisa menjaga agar tidak terlalu keras. Lagipula Wenny menyetel musik dengan volume yang kencang.

    Setelah kurang lebih 10menit, Aku tak bisa menahan lagi. Kenikmatan yang kuperoleh dari pantat juga sudah sangat luar biasa hebatnya. Rongga dubur Wati makin lama makin terasa panas, jepitannya tetap erat mencengkeram batang penisku. Hingga akhirnya Aku mencapai orgasmeku…

    ” Aku keluar Wati..ohh..ooh..oooohhh….uuuuu ggghhh….uuuuggghh!!” Aku mengerang tertahan sambil kedua tanganku mencengkram erat buah dada Wati, kuhujamkan penisku sedalam mungkin di anusnya dan ku*kan air maniku sebanyak-banyaknya hingga memenuhi rongga duburnya Wati.

    “Eeeeghhh…hmppphh” Wati menjerit tertahan dengan mengigit bibir bawahnya.

    Ketika kucabut penisku lelehan sperma bercampur darah keluar dari lobang pengeluaran Wati, sepertinya dubur Wati menderita lecet-lecet. Kubasuh penisku yang juga belumuran darah dan sedikit kotoran dari dalam pantat Wati. Buru-buru Kukenakan celanaku. Cerita Maya

    Sedang Wati masi menangis terisak menahan rasa sakit dan perih yang masih mendera pantatnya. Seluruh tubuhnya menggigil, kakinya gemetaran seakan tidak kuat berdiri lagi.

    “Wati..thanks ya. Ayo buruan beresin,tar Wenny curiga” Sambil Kukecup bibirnya yang masi meneteskan liur, lalu Aku keluar mengendap dengan hati-hati agar tidak diketahui orang.

  • Liani 6: Sexercise

    Liani 6: Sexercise


    3007 views

    Disclaimer:
    1.Cerita ini mengandung unsur pornografi yang tidak cocok buat anak di bawah umur atau orang-orang alim.
    2.Seluruh materi cerita ini adalah fiksi belaka. Seluruh kemiripan nama, tokoh, tempat, kejadian, dll adalah suatu kebetulan semata.
    3.Cerita ini tidak mengandung unsur SARA apalagi kebencian atau menyudutkan kelompok tertentu. Kalaupun ada keterangan mengenai ras / suku / warna kulit / ciri fisik, adalah semata-mata sebagai bumbu penyedap cerita untuk menambah unsur erotisme.
    4.Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suku, agama, ras, golongan, atau profesi tertentu. Apabila ada yang negatif, itu hanyalah oknum yang menyimpang dan tidak mewakili seluruh golongan.
    —@@@@@@@—–

    Liani

    Cerita Maya | Liani duduk di kursi belakang mobil bersama Papinya. Sementara sopirnya mengendarai mobil itu. Mereka baru pulang dari acara resepsi pernikahan putra rekan bisnis Papinya. Pada saat itulah Liani berkata,” Aduh, kok kepalaku agak pusing dan perut mual ya.”

    “Apa mungkin karena pengaruh makanan tadi,” tanya Papinya.
    “Bisa jadi. Sebelumnya aku nggak apa-apa kok.”
    “Memang kamu demam?”
    “Nggak sih, aku nggak ngerasa demam. Cuman pusing dan mual aja.”
    “Mau mampir ke dokter dulu?”
    “Boleh deh.”
    Akhirnya mereka mampir ke dokter praktek yang sejalan dengan rumahnya. Sesampainya di tempat dokter, mereka harus menunggu di ruang tunggu kira-kira 15 menit. Saat itulah ada seorang bapak-bapak dan dua cowok muda yang sejak kehadiran Liani, jadi melirik-lirik ke arahnya. Tak perlu heran. Karena memang kehadiran Liani begitu mencolok disitu. Ibaratnya dunia ini hitam putih sebelum kehadirannya. Sejak kehadirannya, menjadi penuh warna. Karena memang cewek itu sungguh cakep dan menarik. Bentuk tubuhnya pun juga indah. Kulitnya putih. Ditambah lagi saat itu ia menggunakan parfum mahal dan berdandan penuh karena menghadiri pesta pernikahan. Wuaahh! Tentu saja ia langsung menarik perhatian orang-orang disana dan mereka yang punya pikiran kotor (seperti tiga orang tadi) seketika jadi langsung mupeng membayangkan wajahnya yang cakep dan tubuhnya yang sexy menggairahkan. Gaun pesta yang dikenakannya saat itu berwarna putih dari bahan kain yang cukup tebal dan sungguh pas dengan tubuhnya. Tidak kekecilan dan tidak kebesaran, betul-betul pas menempel di tubuhnya. Sehingga terlihat jelas keindahan bentuk tubuhnya. Pinggangnya yang ramping, pinggulnya yang menonjol, dan juga dadanya yang menonjol di balik gaun tebal yang membalut tubuh indah itu. Ditambah pula, belahan dada atas yang sedikit kelihatan. Maklumlah, namanya juga gaun pesta cewek. Biarpun tidak bisa dikatakan sangat terbuka, namun tetap saja menunjukkan ke-sexy-an pemakainya. Apalagi kalau pemakainya adalah Liani! Membuat orang sakit pun dibuat jadi mupeng dan lupa akan sakitnya, seperti tiga orang tadi. Cerita Maya

    Akhirnya dipanggillah nama Liani. Dan masuklah Liani kedalam ditemani oleh Papinya. Memang pantas kalau Papinya masuk mendampinginya. Anak gadis umur 18 tahun tentu tidak baik dibiarkan masuk sendirian ke dalam kamar tertutup berdua dengan dokter cowok yang usianya dalam masa puber kedua. Apalagi kalau anak gadisnya secantik dan se-sexy Liani. Lagipula hal itu bisa membuat orang mupeng yang sedang menunggu di ruang tunggu jadi melayang-layang pikirannya membayangkan kejadian yang nggak-nggak di dalam ruangan itu (betul nggak sih? hehehe). Dokter yang memeriksanya adalah dokter Suprapto. Usianya 40 tahun lebih. Wajahnya kebapakan dan tutur bahasanya sungguh sopan sepertinya ia berasal dari kalangan priyayi. Ia mendengarkan dengan penuh pengertian sambil memandang Liani dengan serius. Namun tampangnya sungguh sulit ditebak apakah ia mendengarkan serius keluhan Liani ataukah diam-diam juga mupeng dengan cewek itu? Setelah mendengar keluhan Liani, ia akan memeriksanya di ruang periksa.. Ruang periksa adalah ruangan kecil di dalam ruang konsultasi itu yang dibatasi oleh swinging door yang tak ada kuncinya. Liani masuk ke ruang periksa itu bersama dokter Suprapto tanpa diantar papinya. Mungkin papinya tak ikutan masuk karena ia tak ingin melihat saat Liani membuka bajunya. Lagipula situasinya cukup aman karena ruang periksa itu hanya dibatasi swinging door yang tak ada kuncinya. Hal itu juga dijelaskan oleh dokter Suprapto karena ia tidak ingin orang berpikiran yang bukan-bukan kalau ia punya niat jelek terhadap putrinya. Apalagi ia sadar kalau Liani itu adalah cewek muda yang luar biasa cakepnya dan sexy pula.

    Di dalam ruangan itu, seperti biasa dokter Suprapto akan memeriksa dengan alatnya. Untuk itu ia berkata dengan sopan,
    “Maaf dik, bajunya tolong dibuka sebentar ya.”
    “Wah, kalau begini saja apa nggak bisa, dok?”
    “Takutnya kurang jelas, tapi ok, saya coba dulu ya.”
    “Waduh, maaf, mungkin baju kamu ini terlalu tebal, jadi saya nggak bisa mendengar.”
    Tiba-tiba Liani menjadi kelihatan gelisah.
    “Waduh gimana ya…”
    “Cuman sebentar aja kok,” kata Dokter Suprapto dengan senyum pengertian seolah ia maklum akan keresahan gadis ini. Ia mengerti bahwa gadis muda seperti dia, tentulah risih kalau disuruh membuka bajunya di depan seorang pria berumur seperti dirinya. Biarpun kepada seorang dokter sekalipun.
    “Saya hanya ingin memeriksa bagian perut kamu yang mual itu. Nggak lama kok.. Paling juga beberapa menit.”
    “Apa nggak ada jalan lain, dok?”
    “Ya nggak ada. Kalo kamu mau sembuh ya mesti diperiksa,” katanya mulai tidak sabar. Ia merasa sedikit tersinggung karena dikiranya tentu gadis ini mengira ia punya pikiran yang bukan-bukan.
    “Ehmmm….ok deh,” kata Liani dengan ragu.
    Namun yang dilakukan Liani setelah itu sungguh aneh. Seharusnya ia membuka retsleting gaun di punggungnya. Namun yang dilakukan justru ia mengangkat rok gaunnya itu dan menaikkannya ke atas sampai ke pangkal pahanya. Baru kemudian disadarinya bahwa gaun itu bagian pinggangnya cukup ketat. Sehingga tak mungkin ia mengangkatnya terus sampai ke perutnya. Sehingga akhirnya gaunnya diturunkan kembali. Tapi ia terlanjur memamerkan pahanya yang putih mulus serta celana dalam warna coklat mudanya di depan dokter Suprapto.

    “Nggak perlu begitu dik,” kata dokter Suprapto rupanya ia heran juga dan mulai curiga jangan-jangan cewek ini cakep cakep tapi perkembangan otaknya agak nggak beres.
    “Saya cuman mau periksa perut kamu di bagian sini yang tadi kamu bilang agak sakit itu,” katanya sambil menunjuk bagian atas perutnya sendiri dengan harapan supaya Liani mengerti maksudnya tanpa perlu mengatakannya secara eksplisit.
    “OK,” kata Liani dengan lemah. Rupanya akhirnya Liani mengerti juga. Karena ia mulai membuka retsleting gaunnya di punggungnya. Kemudian setelah sempat ragu-ragu sejenak, diturunkannya gaun itu sampai sebatas perut.
    “Ahh!”
    Dokter Suprapto secara spontan berseru kaget dan matanya terbelalak. Karena kini bagian atas tubuh Liani telanjang tanpa ada penutup sehelai benang pun! Sehingga ia bisa melihat jelas payudara indah milik gadis muda yang menggairahkan terutama bagi pria seumur seperti dirinya itu. Sejak tadi ia sudah agak-agak mupeng dengan kecantikan dan ke-sexy-an cewek ini. Apalagi sekarang disuguhi pemandangan indah seperti itu dalam jarak begitu dekat! Payudara putih itu nampak padat berisi dan kencang dengan kedua puting mungilnya yang segar kemerahan menonjol ke depan. Apalagi ac ruangan yang agak dingin, membuat puting payudara Liani jadi makin perky dan menonjol. Dokter Suprapto sudah belasan tahun menjadi dokter dan ia sudah cukup sering memeriksa pasien perempuan. Namun saat itu jantungnya berdegup kencang juga melihat payudara indah dan segar terpampang jelas di depan matanya. Dan itu bukan dada seorang ibu-ibu setengah umur yang bodinya sudah nggak karuan, tapi itu dada milik gadis muda yang cakep!

    Gaun pesta Liani itu memang bukan gaun yang beli jadi melainkan gaun yang khusus dibuat untuk dirinya. Maka itu gaun itu begitu pas di tubuhnya. Apalagi Liani termasuk cewek yang sungguh perhatian dalam hal merawat tubuhnya sehingga ia tidak kegemukan semenjak gaun itu dibuat. Dan di bagian depan gaun itu telah ada semacam bra yang menempel menjadi satu dengan gaun itu. Sehingga pemakainya tak perlu memakai bra lagi. Tentu untuk membuat gaun seperti ini tidaklah gampang karena harus diukur betul-betul akurat supaya pas dipakai oleh si pemakai. Tak heran kalau gaun itu mahal harganya dan pembuatnya pun adalah seorang penjahit top (omong-omong, penjahitnya cewek bukan cowok). Itulah sebabnya kenapa sedari tadi Liani nampak ragu untuk menurunkan gaunnya. Karena untuk membuka bagian perut tentu harus melewati dada. Sementara ia tak memakai bra yang terpisah dari gaunnya itu. Dengan diturunkannya gaun itu tentu otomatis dadanya jadi terbuka bebas. Sebelumnya
    dikiranya dokter bisa memeriksa dirinya tanpa ia perlu membuka gaunnya. Kalau tahu begini, tentu ia tidak akan ke sini sebelum pulang ke rumah dan ganti pakaian dulu. Tapi karena sudah terlanjur sampai disini dan masuk ke ruang periksa dan takut dokter itu tersinggung, jadi ya apa boleh buat, terpaksa direlakan dadanya dilihat dokter itu. Toh itu demi kesehatan dirinya. Yang tak jelas adalah seruan kaget dokter Suprapto tadi adalah betul-betul kaget ataukah karena terkagum-kagum oleh payudara gadis muda ini?
    Namun dokter Suprapto rupanya tahu bagaimana cara bersikap secara profesional. Karena setelah sejenak kaget dan secara spontan menatap payudara indah itu, ia segera memalingkan wajahnya 30 derajat saat menempel-nempelkan alatnya itu di beberapa tempat di perut Liani. Tapi, sebenarnya, apalah artinya memalingkan wajah seperti itu, karena toh ia masih bisa melihat dengan jelas sekali dalam posisi seperti itu. Karena jaraknya memang begitu dekat. (Tapi memang kalau tidak bisa melihat sama sekali, justru lebih bahaya. Kalau salah tempat malah lebih gawat lagi.)

    Tak lama kemudian, ia berkata,” OK, sudah selesai,” sambil memandang wajah Liani. Tentu saat itu pun ia bisa melihat payudaranya dengan jelas sekali tanpa perlu menatapnya langsung. Namun setelah itu malah pandangan matanya melirik ke payudara telanjang itu, sebelum akhirnya ditutup kembali dengan gaun itu.
    Setelah dengan rapi Liani menutup gaunnya kembali, Dokter Suprapto berkata,” Seharusnya kalau tahu begitu tadi kamu nggak perlu diperiksa. Bisa langsung saya kasih obat saja.” (Sungguh aneh, kenapa ngomongnya baru sekarang ya??)
    Setelah itu kembalilah mereka ke ruang konsultasi itu.
    “Bagaimana dok?”
    “Ooh, nggak apa-apa kok. Bukan masalah serius. Mungkin karena salah makanan saja,” katanya sambil senyum-senyum. Entah apa maksud senyumannya itu.
    “Apalagi putri bapak badannya sungguh sehat dan masih begini muda. Sehingga sakit apa pun juga cepat sembuhnya. Oh ya, omong-omong, putrinya umur berapa?”
    Aneh juga dokter ini, ngapain nanya umur segala?
    “18 tahun.”
    “Ooh, masih muda sekali. Badan juga masih segar. Pasti cepat sembuh. OK, ini saya kasih resepnya.”
    “Terima kasih dok.”
    “Terima kasih dok.”
    “Sama-sama. Nanti kalo belum sembuh juga, jangan sungkan-sungkan mampir kesini lagi.”
    “Dan ingat,” tambahnya, “Kesehatan tubuh itu penting sekali.”

    —@@@@@@@—–

    Liani sedang mengendarai mobilnya menuju ke tempat fitness. Ia mulai rajin berolahraga karena ingin supaya badan tetap fit. Selain itu juga untuk menjaga supaya berat dan bentuk badan tetap bagus. Juga supaya otot-otot tubuh tetap kenceng. Terutama bagian payudaranya. Ia khawatir kalau payudaranya akan cepat mengendur atau sagging. Apalagi belakangan ini mulai sering diremas-remas dan juga terguncang-guncang akibat benda tumpul. Ia tidak ingin payudaranya jadi mengendur dan jelek setelah umur 30-an atau akhir 20-an. Oleh karena itu ia rajin berolahraga sejak dari sekarang. Sebelum semuanya terlambat. Walaupun masih muda, tapi ia cukup wise juga rupanya. Setelah memarkir mobilnya, tak lama kemudian masuklah ia ke tempat fitness itu. Disana cukup banyak orangnya. Ada yang tua maupun yang seumuran dia atau lebih tua sedikit. Baik cowok maupun cewek. Saat itu Liani memakai celana pendek putih yang cukup pendek. Sehingga nampak jelas pahanya yang putih mulus. Sementara atasannya ia memakai kaus tanktop cukup ketat tanpa lengan warna kuning. Nampak jelas dadanya yang menonjol di balik kaus tanktopnya itu. Dan nampak sedikit belahan bagian atas dadanya karena kaus yang dikenakan itu berleher rendah. Rambutnya digulung-gulung dan diikat. Supaya tidak mengganggu saat berolahraga. Ia saat itu bersiap mengikuti kelas aerobik. Di dalam ruangan itu ada beberapa cowok dan bapak-bapak yang sejak semula mencuri-curi pandang kearahnya. Tak lama kemudian, dimulailah latihan aerobiknya. Selama satu jam penuh Liani berkonsentrasi penuh dengan exercise-nya itu. Namun yang kasihan cowok-cowok dan para bapak disitu karena banyak yang terpecah konsentrasinya. Setelah selesai aerobik, tubuh Liani menjadi basah penuh dengan keringat dan napasnya terengah-engah. Kaus tanktop-nya kini jadi basah kuyup karena keringatnya. Sehingga jadi basah menempel di tubuhnya. Dan bra yang dikenakan di dalamnya jadi tercetak dengan jelas, terutama karena warnanya yang agak gelap. Ia tidak langsung mandi di shower tapi menunggu sampai dirinya cooling down dan tubuhnya kering terlebih dahulu. Ia melepas ikatan rambutnya sehingga kini rambutnya terurai bebas. Rambutnya pun jadi agak basah karena keringat di kepalanya.

    Saat itu ia berjalan menuju ke bagian lain, ke tempat latihan mengencangkan otot dengan menggunakan alat. Tidak banyak orang yang berolahraga disana saat itu. Saat itu ia melakukan sesuatu, yang apabila orang melihatnya, pasti dibuat mupeng abis oleh tindakannya itu. Karena tiba-tiba ia melepas kaus tanktop yang melekat basah di badannya itu. Yang melihatnya agak kecele karena di dalamnya bukan bra biasa yang tipis dan sexy tapi sport bra. (Sport bra adalah bra khusus digunakan untuk olahraga jadi bentuknya lebih besar dan kuat dibanding bra biasa. Fungsi utamanya selain menutupi dada juga untuk melindungi payudara dari guncangan saat melakukan olahraga yang sifatnya “high impact”, seperti aerobik barusan). Sebenarnya untuk sajam sekarang adalah hal yang cukup normal cewek hanya memakai atasan sport bra doang di tempat fitness. Tapi tetap saja ada yang mupeng dibuatnya karena bagaimana pun menyaksikan pemandangan cewek melepas bajunya, biarpun di dalamnya masih ada lapisan yang menutupi tubuhnya, tentu merupakan pemandangan yang sungguh merangsang bagi cowok. Apalagi kalau ceweknya cakep dan tubuhnya putih mulus dan sexy seperti Liani. Saat Liani sedang berjalan-jalan dan melihat-lihat orang yang berolahraga disitu, tiba-tiba ada suara yang memanggilnya. Suara yang tak asing baginya.
    “Liani?! Lho kok kamu ada disini?”
    Liani segera menoleh ke arah datangnya suara,
    “Eh, Pak Rahman. Lho, kok bapak juga ada disini?”
    “Saya khan part-time instructor disini. Kamu sudah lama fitness disini?”
    “Baru bulan lalu joinnya.”
    “Bagus sekali kamu ikut fitness disini. Karena olahraga itu penting sekali bagi kesehatan tubuh. Dan kesehatan tubuh itu penting sekali artinya,” kata Pak Rahman.
    “Setuju Pak. Oleh karena itu sekarang saya olahraga dengan teratur. Supaya badan tetap sehat,” kata Liani.
    Selanjutnya mereka berbincang-bincang sejenak.

    Pak Rahman adalah guru olahraga di sekolah Liani. Di usianya yang akhir 30-an atau awal 40-an itu, ia termasuk seorang dengan stamina yang cukup tinggi dan fisik yang kuat. Maklum, ia adalah orang yang rajin berolahraga berbagai macam. Badannya kekar. Kulitnya sawo matang. Rambutnya dipotong cepak dan berkumis, membuat tampangnya kelihatan garang. Pak Rahman adalah suami dari Bu Retno, kepala sekolah di sekolah itu. Meski badannya kekar, namun Pak Rahman tergolong sebagai suami takut istri. Mungkin karena Bu Retno adalah atasannya di sekolah. Atau mungkin karena Bu Retno lebih tinggi penghasilannya. Atau mungkin karena Bu Retno berasal dari keluarga cukup kaya. Atau mungkin karena Bu Retno orangnya sangat cerewet. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari Pak Rahman lebih banyak menurut dan tak berani melawan istrinya. Hanya satu saja Bu Retno selalu menurut dan takluk dengan suaminya, yaitu ketika di atas ranjang. Dalam hal ini, Bu Retno sungguh puas dengan “performance” suaminya itu. Sementara saat mereka berbincang-bincang itu, diam-diam penis Pak Rahman jadi mengeras juga. Biasanya ia melihat Liani di sekolah saat ia selalu memakai pakaian seragam yang rapi dan sopan. Ia tahu cewek ini selalu memakai pakaiannya dengan rapi. Bahkan melihatnya memakai pakaian olahraga sekolah pun juga jarang sekali atau mungkin malah tidak pernah. Karena ia adalah guru olahraga untuk murid cowok. Sedangkan guru olahraga untuk murid cewek adalah Bu Yuli. Dan olahraga untuk cowok dan cewek selalu dipisahkan. Namun kini Liani sungguh berbeda. Ia nampak begitu sexy dengan pakaian yang minim melekat di tubuhnya. Ia melihat Liani yang tubuhnya hanya dibalut sport bra dan celana pendek sport yang benar-benar pendek dan lumayan ketat. Sementara sebagian besar tubuhnya ter-ekspos dengan jelas.

    Dalam jarak begitu dekat ia bisa melihat dengan jelas daya tarik seksual anak didiknya itu yang begitu menggairahkan dan membangkitkan nafsu setiap lelaki normal, termasuk dirinya saat itu. Wajahnya yang cantik innocent. Tubuhnya yang basah mengkilap penuh dengan keringat. Rambutnya yang juga agak basah karena keringat, terurai dengan bebas. Kulitnya yang putih mulus. Dadanya yang menonjol dibalik sport branya. Belahan atas payudaranya yang terbuka seolah menggoda untuk membuat para cowok termasuk dirinya penasaran ingin tahu seperti apa bentuknya secara keseluruhan. Perut dan kedua tangannya yang telanjang. Pahanya yang putih mulus terlihat jelas sampai hampir pangkalnya. Pinggulnya yang menonjol dibalik celana sport yang pendek dan ketat itu. Sehingga Pak Rahman, yang di sekolah selalu bersikap sopan, kini jadi mupeng juga dengan Liani, cewek favorit sekolah itu. Setelah itu Pak Rahman membawa Liani berkeliling sambil menunjukkan beberapa alat olahraga. Tujuan baiknya tentu menjelaskan manfaat alat-alat itu ke anak didiknya. Namun ia juga punya tujuan tersembunyi, yaitu untuk cuci mata menikmati tubuh Liani yang sexy dan mulus itu. Mumpung ia dapat kesempatan sangat bagus hari itu. Belum tentu ia mendapat kesempatan seperti ini lagi.

    —@@@@@@@—–

    Liani memakai kaus olahraga tanpa lengan dengan celana pendek yang ketat. Kali ini ia berolahraga melatih otot tubuhnya terutama bagian tubuh depannya.. Saat itu ia sedang dibimbing oleh Pak Rahman. Rupanya ia sengaja mencari kesempatan supaya bisa “membimbing” Liani berolahraga secara benar. Dan hari itu akhirnya ia mendapat kesempatan yang diidam-idamkan itu. Saat itu Liani sedang duduk di alat fitness itu. Kedua tangannya bergerak membuka dan menutup sambil memegang bagian dari alat itu (nggak tahu apa nama alat ini. Tapi alat ini selalu ada di tempat fitness). Sementara Pak Rahman di sebelahnya memperhatikannya. Apa yang diperhatikannya? Memperhatikan exercise yang dilakukan Liani tentunya. Namun sungguh sulit dipercaya kalau sedari tadi ia tidak juga sambil memperhatikan paha Liani yang putih mulus itu. Juga dadanya yang menonjol di balik baju olahraganya. Apalagi saat Liani membuka tangannya, membuat dadanya nampak lebih terbuka dan membusung. Dan posisinya yang berdiri lebih tinggi dibanding Liani yang sedang duduk, membuatnya bisa melihat lebih banyak lagi gumpalan daging payudara Liani. Setelah itu Liani latihan sit up. Pak Rahman memotivasinya untuk sanggup melakukannya 40 kali. Sampai akhirnya Liani berhasil juga melakukannya 40 kali. Setiap kali Liani membungkuk ke depan dan mengangkat tubuhnya, Pak Rahman selalu berusaha mengintip gundukan payudara bagian atas cewek itu yang terlihat dari celah bajunya. Sehingga ia bisa melihatnya sebanyak 40 kali juga. Setelah itu Liani tiduran telungkup di atas matras yang agak tinggi. Sementara Kakinya dikaitkan ke alat fitness dengan diberi beban. Kemudian kakinya digoyangnya naik turun dan ditekuk untuk mengangkat beban itu.

    Pak Rahman mengawasinya sambil mengelilingi di samping, belakang, dan depan. Sehingga ia bisa memberi nasehat serta memotivasi anak didiknya itu. Sementara matanya tentu juga jelalatan memandangi tubuh sexy yang sedang telungkup itu. Apalagi ia bisa dengan bebas memelototinya tanpa resiko ketahuan terutama saat di samping dan dibelakang. Saat di samping: ia bisa memelototi dengan jelas pinggul Liani yang menonjol yang terbalut celana pendek yang ketat dan sexy itu. Juga bisa melihat punggung cewek yang sedang telungkup itu secara keseluruhan. Saat di belakang: ia bisa menatap pahanya yang putih mulus dan juga pinggul serta bagian vaginanya yang tertutup celana pendek itu. Saat di depan: ia bisa melihat gundukan payudara bagian atas yang terlihat dari belahan leher bajunya. Terakhir Liani latihan mengangkat tubuhnya. Kedua tangannya meraih dua ring di atas kepalanya. Kemudian berusaha mengangkat tubuhnya ke atas. Ini sangat berat sekali. Sehingga Pak Rahman membantu mengangkatnya ke atas dengan memegang pinggangnya dan juga kaki serta pahanya. Saat memegang pinggang, tentu ia tidak memegang bajunya tapi kulit pinggangnya. Karena memegang bajunya tentunya akan licin. Selain pinggang juga kadang ia membantu mengangkat tubuh Liani dengan memegang paha cewek itu. Bahkan sempat pula ia melingkarkan kedua tangannya di paha Liani sambil ia berdiri di belakangnya dengan jarak sangat dekat. Sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh pinggul gadis itu.
    “Bagaimana rasanya, Liani,” tanya Pak Rahman setelah sesi latihan itu selesai.
    “Wah, cape banget dan badan jadi pegal-pegal sih Pak. Tapi rasanya enak sekali. Apalagi nanti malem, bisa tidur enak deh,” kata Liani.
    “Memang olahraga itu penting bagi kesehatan tubuh,” kata Pak Rahman.
    Apalagi olahraga yang juga memberikan kepuasan batin, kata Pak Rahman dalam hatinya.

    Tak lama kemudian…
    Liani sedang telanjang bulat di dalam kamar mandi fitness itu. Ia menyiram sisa-sisa sabun di tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari shower. Pak Rahman juga telah berdiri telanjang bulat di dekatnya. Jarak antara keduanya paling sekitar 1/2 meter saja. Tentu saja penisnya pun juga telah ikutan “berdiri”. Tapi meski begitu keduanya tak bisa saling melihat. Karena seorang berada di ruangan khusus cewek dan yang lain lagi di ruangan khusus cowok yang pintu masuk keduanya berjauhan. Hanya saja kebetulan saat itu keduanya mengambil tempat di ujung. Sehingga kalau diukur dengan GPS, keduanya berdiri sangat berdekatan. Akan tetapi ada tembok pemisah yang tebal.

    Malamnya,
    Pak Rahman tampil luar biasa di atas ranjang, sampai-sampai Bu Retno istrinya yang biasanya cerewet saat itu jadi “jinak” dan begitu penurut kepadanya.. Dan demikianlah keadaan seterusnya. Pada hari-hari dimana Pak Rahman “membimbing” Liani berolahraga secara benar, malamnya ia selalu tampil dengan lebih perkasa.

    —@@@@@@@—–

    Matahari baru saja terbenam. Hari telah berubah menjadi gelap. Suasana sekolah itu tampak telah sunyi dan tak terlihat seorang pun. Apabila orang melihat dari luar, tentu mereka mengira bahwa di dalam kompleks sekolah yang besar itu tidak ada seorang manusia pun. Namun hal itu tidaklah benar. Karena ada rumah Pak Sarip yang terletak di bagian belakang sekolah yang dihuni oleh penghuninya, yaitu Pak Sarip dan Bu Sarip. Tapi di bagian depan kompleks sekolah, seharusnya sudah tidak ada orang sama sekali. Apalagi pintu gerbang yang menghubungkan bagian depan dan belakang sekolah telah dikunci dari depan. Sehingga Pak Sarip pun juga tak bisa masuk ke daerah ini. Seandainya ia ingin keluar kompleks, ia harus keluar lewat pintu belakang sekolah. Selain mereka, seharusnya tidak ada orang lain di dalam kompleks sekolah itu.. Tapi…ternyata nggak benar juga. Karena di dalam satu ruangan tertutup, tepatnya di dalam aula olahraga di bagian depan sekolah, sebagian lampu menyala dan terdengar suara-suara aneh di dalamnya. Hantukah itu??? Ternyata bukan hantu. Di dalam aula itu terdapat dua orang yang semuanya serba berlainan, yaitu berlainan jenis kelamin, berbeda generasi, perbedaan warna kulitnya kontras sekali, namun keduanya sedang asyik melakukan satu kegiatan olahraga secara bersama-sama. Dan olahraga yang dilakukan itu bukan olahraga biasa. Karena cewek muda dan putih itu nampak sedang mendesah-desah. Dirinya sedang ditindih oleh bapak berkulit sawo matang yang usianya sekitar 40 tahunan. Keduanya telanjang bulat. Penis bapak itu telah menyodok-nyodok ke dalam vagina cewek putih tadi. Ternyata cewek itu adalah Liani, siswi favorit sekolah itu. Dan bapak yang sedang menindihnya itu adalah Pak Rahman, guru olahraga sekolah itu.

    Untuk itu marilah flashback sebentar…

    Sore itu selesai praktikum, Liani tidak langsung pulang ke rumah. Ia bermain-main dengan beberapa temannya, bergantian melempar bola basket ke dalam ringnya. Di ujung satunya juga ada beberapa murid dari kelas lain melakukan hal yang sama. Selain itu ada pula beberapa murid yang sedang duduk-duduk sambil ngobrol dan bercanda. Sementara itu, di bagian lain ruangan, Pak Rahman sedang mengajar olahraga kepada murid kelas siang. Olahraga yang diajarkan saat itu adalah senam matras, seperti roll depan, roll belakang, dll. Setelah jam pelajaran olahraga selesai, Pak Rahman mendatangi anak-anak yang sedang bermain-main basket itu kemudian ia memberi contoh dan masukan-masukan kepada mereka. Setelah itu ia mengobrol dengan murid-murid yang sedang duduk-duduk itu. Tak lama kemudian Pak Rahman bersama tiga murid cowok berjalan ke arah matras yang sebelumnya dipakai buat olahraga itu dan berbicara mengenai olahraga matras disana. Tak lama kemudian Liani merasa cukup bermain-main. Ia hendak segera pulang. Setelah pamitan dengan teman-temannya ia berjalan ke arah pintu keluar aula itu. Namun saat itu ia melihat Pak Rahman dan beberapa murid itu yang sedang mengobrol seru. Karena ingin tahu, ia ikutan nimbrung, sampai agak lama.. Tentu tiga murid cowok tadi bagai kejatuhan rejeki nomplok, tiba-tiba bisa ngobrol bareng dengan Liani. Mereka ngobrol agak lama, sehingga akhirnya teman-teman mainnya yang tadi malah pulang duluan. Tak lama kemudian, tiga cowok yang sedang mengobrol bersamanya pamitan pulang juga. Karena mereka pulang, Liani ikut pamitan juga. Tapi sesaat kemudian Pak Rahman mengajaknya bicara tentang olahraga fitness. Karena pada dasarnya suka ngobrol, akhirnya ia asyik ngobrol dengan Pak Rahman. Saat itu ia tak terlalu kuatir karena diliriknya masih ada beberapa murid yang tak dikenalnya sedang melempar-lempar bola ke ring basket. Jadilah ia dan Pak Rahman keasyikan ngobrol macam-macam tentang olahraga. Malahan Pak Rahman memberi beberapa contoh tentang olahraga matras. Sementara Liani sibuk memperhatikannya dan bercakap-cakap dengan Pak Rahman.

    Tak terasa telah lewat setengah jam mereka mengobrol. Tiba-tiba Liani tersadar kalau saat itu ruangan aula telah sepi. Semua orang telah pergi. Hanya ia dan Pak Rahman saja yang masih tinggal di aula itu. Saat itu ia merasa agak risih berdua sendirian dengan Pak Rahman di dalam ruangan yang luas namun lengang itu. Lagipula saat itu ia berada dalam jarak cukup dekat dengan Pak Rahman. Sementara ia telah mendapati beberapa kali Pak Rahman memandangi dirinya seolah seperti menggerayangi tubuhnya saja. Ditambah lagi ia melihat adanya tonjolan cukup besar di balik celana training yang dikenakan Pak Rahman. Karena itu ia segera pamitan pulang,”Wah, sudah mau gelap nih. Saya mesti pulang dulu deh Pak.”
    Namun Pak Rahman malah berkata, “Wah, sekarang lagi hujan, Liani. Kalau kamu pulang sekarang, begitu keluar pagar depan juga pasti basah kuyup. Lagipula, satpam yang tugas jaga di depan hari ini adalah Pak Sudin. Dia orangnya suka nyebar gosip. Saya nggak mau dia ngelihat kita keluar berdua lalu nyebar gosip yang nggak-nggak ke anak-anak. Hal itu tidak baik buat saya tapi lebih tidak baik lagi buat kamu, anak gadis yang masih perawan. Bagaimana kalau kita tunggu dulu beberapa saat? Sepuluh / lima belas menit lagi sudah waktunya jam pulang baginya. Dan siapa tahu saat itu hujan telah reda,” katanya menasehati.
    “Dan kamu tak perlu khawatir, saya akan menunggu dan menjaga kamu disini sampai kamu pulang,” tambahnya lagi.
    Entah mungkin karena sifat bitchy dalam dirinya diam-diam mulai muncul, atau sekedar iseng ingin tahu apa yang akan dilakukan Pak Rahman selanjutnya, atau memang karena takut kehujanan dan digosipin, atau karena kena pengaruh wibawa Pak Rahman, saat itu Liani menuruti saja kata-kata gurunya itu. Sejenak ia nampak ragu, namun akhirnya ia berkata, “Ehmmm, baiklah kalo cuma sepuluh menit.”

    “OK, kalau begitu, untuk mengisi waktu, saya tunjukkan beberapa kegiatan olahraga yang berguna,” kata Pak Rahman.
    “Olahraga itu penting sekali untuk menjaga kesehatan tubuh, lho, Liani.”
    “Dan kesehatan tubuh itu penting sekali artinya dalam kehidupan kita,” demikian ceramah singkat Pak Rahman kepada Liani.
    Sambil berkata, ia berjalan ke dalam menjauhi pintu keluar. Liani mengikuti langkah kaki Pak Rahman itu. Namun saat Liani berjalan menuju ke tengah ruangan itu, sesaat kemudian malah Pak Rahman berbalik arah dan menutup pintu keluar itu serta menguncinya. Sehingga kini tak ada seorang pun yang tahu mereka berdua ada di dalam, dan tak ada seorang pun yang bisa membuka pintu itu dari luar kecuali yang memiliki kuncinya. Dan Bu Yuli, guru olahraga cewek yang juga memegang kunci telah pulang sejak tadi, begitu jam pelajaran olahraga selesai.
    “Sini, saya tunjukkan bagaimana kamu bisa menggunakan alat ini untuk kesehatan tubuh kamu,” kata Pak Rahman. Ia berjalan menuju ke pipa besi horizontal yang disangga oleh dua pipa besi vertikal di pinggirnya (yang biasa digunakan untuk senam di olimpiade). Lalu ia memberi contoh. Ia melompat meraih palang horizontal itu dengan kedua tangannya. Kemudian ia menarik tubuhnya keatas beberapa kali. Sungguh hebat sekali! Meski usia sudah atau hampir kepala empat, tapi ia sanggup melakukannya beberapa kali tanpa membuat napasnya ngos-ngosan.
    “Nah, sekarang giliran kamu mencoba.”
    “Wah, saya nggak bisa Pak. Itu berat sekali. Khan dulu sudah pernah coba di tempat fitness,” kata Liani.
    “Nggak apa-apa coba lagi. Siapa tahu malah bisa. Ayuk, mari saya bantu naik, maaf,” kata Pak Rahman. Meski mulutnya mengucapkan kata “maaf” namun ia tak memberi kesempatan cewek itu menolak. Karena saat itu ia langsung memegang pinggang cewek itu dan mengangkatnya. Sehingga kini mau tak mau Liani harus memegang palang besi itu dengan kedua tangannya kalau tidak mau dirinya dipegang terus oleh Pak Rahman.

    Setelah Liani meraih palang itu, baru Pak Rahman melepaskan pegangannya. Lalu ia berkata,
    “Nah, sekarang coba angkat badan kamu,” kata Pak Rahman.
    “Wah, saya nggak kuat Pak. Berat sekali,” kata Liani yang cuma bisa menggeser tubuhnya ke atas beberapa senti saja.
    “Kalau begitu, mari saya bantu,” kata Pak Rahman sambil ia berjongkok di depan cewek itu dan memegang pergelangan kakinya.
    “Huuahhh,” serunya saat mengangkat kedua kaki Liani keatas.
    “Kamu coba angkat tubuh kamu lebih tinggi lagi, sudah saya bantu nih,” kata Pak Rahman sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Sungguh ia adalah orang yang pandai memanfaatkan kesempatan. Padahal saat itu Liani mengenakan rok abu-abu yang panjangnya beberapa senti di atas lutut! Tentu saat itu Pak Rahman bisa melihat pemandangan indah di atas kepalanya itu. Paling tidak, paha putih mulus itu pasti kena dilihatnya. Semakin tinggi Liani mengangkat tubuhnya, semakin banyak pula yang dipihatnya. Bahkan mungkin celana dalam cewek itu juga berhasil diintipnya sekalian. Namun setelah itu malah lebih kurang ajar lagi.
    “Sebentar, tahan dulu ya……Nah sekarang saya bantu lagi.”
    Dan…dipegangnya pantat cewek itu yang nampak sedikit menonjol di balik rok abu-abunya itu.
    Liani merasa pantatnya dipegang gurunya itu, tentu jadi risih. Namun ia tak bisa berontak dalam posisi seperti itu. Akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah melepas pegangannya itu supaya bisa mendarat di lantai lagi. Saat ia melakukan itu tentu tubuhnya langsung turun ke bawah sampai kakinya menyentuh lantai lagi. Namun yang tak disangkanya, saat ia menjatuhkan dirinya itu, Pak Rahman tidak melepaskan pegangannya malah ia berusaha menangkap tubuhnya. Akibatnya…kini kedua tangan pak Rahman jadi menempel di tubuhnya, dan….kedua tangannya persis menempel di kedua buah dadanya! Tentu ini sungguh kejutan yang tak disangka-sangka bagi Pak Rahman. Ibarat pepatah, maksud hati memeluk gunung, apa daya tiba-tiba “gunungnya” sudah berada di dalam genggaman tangan duluan. Dirasakannya buah dada Liani yang empuk dan nyaman itu. Liani seketika memerah mukanya mengetahui kedua tangan Pak Rahman yang hitam dan berotot itu tepat mendarat di dadanya.

    “Kamu nggak apa-apa, Liani?” tanya Pak Rahman dengan kurang ajar karena kedua tangannya masih aja menempel, seakan enggan melepas gunung kembar milik cewek itu.
    “Oh nggak, sa-saya nggak apa-apa, Pak,” kata Liani masih belum hilang rasa terkejutnya itu. Ia memundurkan dirinya melepaskan dadanya dari tangan Pak Rahman. Namun tiba-tiba malah Pak Rahman mendekatkan diri ke dirinya dan…mmphhhh!…segera dicium dan dikuncinya bibir cewek itu dengan bibirnya, yang karena gerakan cepatnya, cewek itu tak sempat (atau tak mau??) menghindar. Bibirnya dicium begitu tentu Liani berusaha berontak. Namun Pak Rahman terlalu kuat untuk dilawannya. Atau mungkin karena ia melakukannya dengan setengah hati saja? Yang jelas kini malah dirinya jadi didekap erat-erat oleh Pak Rahman, membuat dirinya sama sekali tak bisa berkutik! Kini Pak Rahman dengan leluasa melumat habis bibir gadis itu. Ia nampak bernafsu sekali dengan Liani. Dijelajahi seluruh bibirnya. Dirasakannya bibir Liani yang sungguh segar dan nikmat itu. Sementara Liani yang tak bisa melawan di dalam dekapan itu berusaha meronta. Namun tak jelas apakah itu hanyalah rontaan tipu-tipuan saja ataukah memang betul-betul tak berkutik. Mungkin ia setengah meronta namun juga setengah menikmati. Setengah berontak tapi setengah pasrah. Saat itu Liani ibarat kucing malu-malu yang sepertinya ingin melepaskan diri, tapi sebenarnya ingin terus dibelai-belai. Yang jelas bagi Pak Rahman saat itu sungguh membuatnya terangsang hebat kepada kucing betina
    muda yang manja tapi malu-malu itu. Apalagi ia merasakan harum tubuh dan harum rambut Liani yang begitu jelas. Juga dirasakannya tubuhnya yang hangat yang menempel pada tubuhnya sendiri. Bahkan kedua dada cewek itu kini juga melekat ditubuhnya! Sementara cewek itu, meski berusaha meronta-ronta, namun sepertinya malah pasrah bibirnya diciumi oleh pak gurunya. Sungguh kontradiktif sekali! Betul-betul seperti kucing. Saat ingin didekati, berusaha kabur. Namun begitu kena di tangan, mau saja sekujur tubuhnya dibelai-belai.

    Lalu Pak Rahman membelakangi Liani. Dipegangnya kedua tangan cewek itu dari belakang. Dirasakannya kedua tangannya yang hangat. Diraba-rabanya. Kini ia sungguh menyadari betapa halus kulit tangan cewek itu. Sementara itu, hidungnya mencium rambut Liani, mencium bau harum semerbak. Diciuminya rambut itu. Kemudian ia mencium tengkuk leher gadis itu. Hmmm, begitu putih dan halus. Liani tergerak tubuhnya saat Pak Rahman menciumi tengkuknya. Kumis tipisnya menggelitik tengkuk lehernya yang putih halus. Membuat dirinya menggeliat kegelian.
    “Emhh” Liani mendesah perlahan.
    Hal itu membuat Pak Rahman makin berani. Terus diciuminya tengkuknya sambil bahunya dipegang. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah cewek itu. Mendekatkan pipinya dengan pipi cewek itu. Sementara kedua tangannya mulai menggerayangi tubuh cewek itu. Dirabanya seluruh tangan cewek itu dari lengan turun ke bawah. Dirabanya pinggangnya. Sementara diciumnya pipinya. Dirabanya perutnya dan kedua tangannya terus bergerak naik ke atas. Dan mulutnya bergeser mencium ujung bibir dan pipinya. Kini kedua tangannya memegang dadanya. Diciumnya bibir cewek itu. Karena Liani malah menoleh ke samping seakan membiarkan bibirnya diciumi oleh gurunya yang berumur 40 tahunan itu. Kini dadanya kembali berada dalam dekapan kedua tangan yang perkasa itu. Kedua tangan itu meraba-raba dadanya. Menggoyang-goyangnya. Meremas-remasnya…..Sambil Pak Rahman terus menciumi bibirnya. Kini Pak Rahman sudah tak memikirkan apa pun selain nafsu birahi yang memuncak. Untuk masalah kayak gini khan memang biasanya “sikat dulu, yang lain urusan belakangan”. Apalagi kalo cewek yang akan disikat sekaliber Liani gini.

    Baca Juga Cerita Seks Liani 5: Sex in the Mall

    Lalu dibalikkan tubuh Liani menghadap ke arahnya. Kemudian kedua tangannya meraih kancing baju seragam putih Liani yang paling atas. Namun Liani mencegah tangan gurunya itu membuka kancing seragamnya.
    “Jangan, Pak.”
    “Kenapa Liani? Udah kamu jangan malu-malu. Saya nggak akan bilang ke siapa pun. Biar ini jadi rahasia kita berdua.”
    “Tapi saya takut Pak,” kata Liani sambil menundukkan kepalanya.
    “Kenapa takut? Ooh, saya tahu. Kamu belum pernah melakukan ini ya?”
    Liani hanya mengangguk sambil tetap menundukkan kepalanya.
    “Justru karena kamu belum pernah itu maka saya ingin nyobain. Lagian enak kok. Kamu juga pasti suka. Saya jamin deh.”
    Liani tadi bukannya berbohong. Maksudnya mengangguk tadi, karena ia belum pernah melakukan dengan beast yang segarang Pak Rahman begini dan yang umurnya sudah kepala empat.
    Namun setelah itu ia diam saja saat Pak Rahman membuka kancing bajunya paling atas. Entah takut atau pasrah atau memang mau. Demikian pula saat dilepasnya kancing di bawahnya. Dan satu lagi. Lagi… Sampai akhirnya terbukalah baju seragam putih yang dikenakan Liani itu. Sehingga terlihatlah sebagian dada Liani yang putih yang sungguh menggairahkan itu. Setelah seluruh kancing bajunya terbuka, dikeluarkannya baju seragam putih itu dari rok abu-abunya.

    Kemudian disibakkan baju seragam itu dan diloloskannya baju itu dari kedua tangannya. Sehingga baju seragam putih itu jatuh ke lantai. Kini tubuh bagian atas Liani sebagian besar telah terbuka di depan Pak Rahman. Sementara bra yang dikenakannya itu berwarna ungu! Dan model bra yang tanpa tali di bahunya. Wow! Sungguh sexy sekali. Lekukan atas dadanya nampak kelihatan di balik bra ungu yang menutup payudara gadis muda itu. Sementara seluruh bahunya yang putih telah terbuka. Warna bra ungu itu sungguh sexy sekali dipakai oleh Liani yang berkulit putih. Setelah itu giliran rok abu-abu cewek itu yang dibuka kaitan dan retsletingnya dan dilepaskannya. Sehingga rontok jugalah rok abu-abu itu ke lantai. Kini nampak tubuh Liani yang hampir telanjang dibalut bra dan celana dalam doang. Sungguh anak smu yang putih cakep dan innocent itu kini nampak sexy sekali dengan bra dan celana dalam doang, yang keduanya berwarna ungu. Kini nampak jelas kemulusan tubuh Liani yang putih di depan mata Pak Rahman. Apalagi celana dalamnya yang dipakainya itu agak mini modelnya. Setelah itu Pak Rahman membimbing gadis itu untuk melepas kedua sepatunya. Lalu ia berlutut di dekat kakinya melepas kedua kaus kakinya. Pandangannya persis mengarah ke ujung bawah celana dalam cewek itu. Setelah itu ia berdiri, dan…kedua tangannya merengkuh ke belakang punggungnya. Tentu yang dituju adalah kaitan bra cewek itu. Segera dibukanya kaitan itu. Sehingga seketika bra itu menjadi longgar dan payudaranya jadi bergerak sedikit. Diloloskannya bra itu dari kedua tangannya dan dijatuhkannya bra itu ke lantai dengan tanpa melihatnya. Karena kini tentu pandangannya terfokus ke payudara cewek itu. Dan Pak Rahman nampak terpana melihatnya dengan penuh kekaguman sekaligus penuh kemupengan. Hatinya menggelora karena kini ia sedang menatap buah dada milik Liani, yang di sekolah itu terkenal sebagai The Innocent Girl itu. Buah dada yang telanjang. Buah dada yang padat berisi. Buah dada yang berdiri tegak dan kencang. Buah dada dengan putingnya yang kemerahan. Buah dada yang sungguh menggairahkan yang membuat nafsunya langsung naik ke ubun-ubun.

    Sementara Liani nampak tertunduk malu saat kedua mata Pak Rahman dengan lebar menatap dadanya yang telanjang itu. Apalagi mengingat saat itu ia telanjang di aula olahraga sekolah yang besar dan luas. Aula tempat biasa ia berolahraga di sekolah. Namun kini jadi tempat dimana dirinya ditelanjangi dan pakaian seragamnya dibelejeti satu-satu oleh Pak Rahman, guru olahraganya. Namun Pak Rahman tak puas hanya sampai disitu saja. Kini akan diloloskannya penutup tubuhnya yang terakhir. Dipegangnya ujung celana dalam itu dengan kedua tangannya. Namun Liani malah memegang bagian tengahnya dengan kedua tangannya. “Yang ini jangan deh Pak,” katanya lirih sambil tetap menunduk. Pak Rahman tidak meneruskan aksinya itu. Ia memaklumi gadis itu yang masih malu-malu. Kini ia memegang bahu telanjang Liani yang kedua tangannya masih memegang celana dalamnya sendiri, seakan masih ingin melindungi agar penutup bagian rahasia dirinya itu tidak dilepas. Lalu kembali diciumnya bibir Liani sebentar. Kemudian kedua tangannya tak tahan untuk tak merengkuh payudara yang terbuka lebar itu, masing-masing satu. Diraba-rabanya, dirasakan kekenyalannya. Diusap-usapnya kedua putingnya. Diremas-remasnya gunung kembar indah yang kenyal dan padat berisi itu. Pak Rahman membuka kaus training-nya. Sehingga kini telanjang dada. Dadanya sungguh tegap dan bidang dan berwarna hitam. Sungguh kontras berbeda dengan milik Liani yang ramping namun membusung dan putih. Lalu ia membuka tali pengikat celana trainingnya. Sehingga kini melorot ke bawah. Nampaklah kulit tubuh Pak Rahman yang coklat sawo matang. Sementara celana dalamnya dengan ketat menutup sebagian kecil tubuhnya itu. Membentuk tonjolan cukup besar di tengahnya. Sementara kepala penisnya sudah “mengintip” keluar seakan ingin ikutan menyaksikan tubuh mulus telanjang Liani. Lalu ia melepas sepatu dan kaus kakinya. Ia sengaja tidak membuka celana dalamnya itu sekarang. Ia takut membuat cewek itu kaget.

    Pak Rahman mendorong punggung cewek itu diajaknya menuju ke matras. Sambil ia mengagumi keindahan lekuk punggung telanjang Liani. Diraba-rabanya punggung telanjang yang putih mulus itu. Sampai di matras, ditidurkannya cewek itu di atas matras dengan telentang. Yang paling menarik perhatiannya tentu payudara indah menggairahkan itu. Namun diciumi dulu leher gadis itu. Diciumi dengan penuh nafsu. Leher kiri, leher kanan, maupun leher tengah. Lalu turun ke bawah. Ke bagian atas dadanya. Turun sedikit. Sampailah di tengah-tengah belahan dadanya. Dijilatnya belahan dada yang putih itu. Lidahnya menjulur-julur di antara belahan kedua gunung itu. Lalu lidahnya turun ke bagian bawah payudaranya. Dijilatinya bagian itu. Lalu bergerak ke tengah. Dan dijelajahinya seluruh bagian payudara putih itu dengan lidah dan jari-jarinya. Namun ia menyisakan bagian yang paling enak dan paling sensitif bagi Liani paling akhir. Kedua puting yang kemerahan itu! Bagian itu jadi santapan terakhirnya. Santapan yang paling lezat. Apalagi puting Liani berwarna segar kemerahan yang sungguh membuatnya makin gemas, mungkin karena berbeda dengan yang biasa dilihatnya tiap malam. Juga payudaranya secara keseluruhan yang masih kencang. Juga beda dengan yang biasa dilihatnya tiap malam. Demikian pula kulitnya yang putih mulus. Dan usia gadis itu yang masih belia, 18 tahun. Lagi-lagi beda dengan yang biasa dilihatnya tiap malam. Dengan penuh nafsu dijilati dan diemut-emutnya puting mungil yang menonjol itu. Ahh! Begitu nikmat rasanya! Puting yang segar! Puting yang indah. Dikenyot-kenyotnya terus puting itu. Puting yang kemerahan! Puting yang menggairahkan! Dimain-mainkan lidahnya di kedua puting Liani bergantian. Sehingga kini seluruh bagian payudara Liani The Innocent Girl itu telah habis dikenyot-kenyotnya. Tak ada yang tersisa. Tak ada bagian yang terlewat, tidak satu milimeter pun! Liani menggeliat-geliat dan mendesah-desah kecil saat payudaranya dijilat-jilat dan dikenyot-kenyot oleh Pak Rahman. Terutama saat kedua putingnya dimainin. Karena memang Pak Rahman sangat berpengalaman dan tahu bagaimana cara membangkitkan gairah cewek. Apalagi kumis tipisnya itu menempel dan menggelitik payudara Liani yang sensitif. Membuat Liani jadi makin kegelian. Sehingga ia telah lupa dengan rasa malunya.
    “Ahhh…ahhhhh….aduuuhhh…geli pak….ahhhhh…uuuhh…”
    “Ahhhh… ahhhhhh….ahhhhhh.”
    Liani mulai “naik”.
    Setelah itu Pak Rahman memainkan lidahnya di sekitar pahanya. Terutama pangkal pahanya. Frekuensi desahan Liani mulai meningkat saat kumis Pak Rahman menggelitik pangkal pahanya yang putih mulus. Ia semakin menjadi-jadi saat lidah Pak Rahman kini menari-nari di atas celana dalamnya, di wilayah sekitar vaginanya. Ia menjilat-jilat liang vagina cewek itu dari balik celana dalamnya. Sehingga kini mulai ada rembesan cairan yang membasahi celana dalam itu, yang makin lama makin melebar dan meluas. Pak Rahman tersenyum puas menyaksikan aksinya itu mengakibatkan cewek yang terkenal innocent itu kini jadi hilang rasa malunya dan berekspresi secara bebas dengan mendesah-desah. Setelah itu ia mencoba melepas celana dalam hijau muda itu. Kali ini cewek itu tidak menahannya. Sehingga dengan sekali tarik, bereslah sudah. Kini terbukalah semuanya. Liani, The Innocent Girl itu, kini terbuka sudah semuanya. Dan telentang telanjang bulat di depannya! Ia sungguh takjub menyaksikan betapa bulu-bulu vagina Liani ternyata lebat sekali. Kalau tak melihatnya sendiri sekarang ini, sungguh ia tak menyangka cewek bertampang polos ini bisa mempunyai bulu sedemikian lebat! Dan keindahan tubuhnya sungguh menakjubkan apalagi dalam keadaan telentang telanjang bulat begini. Betul-betul menggairahkan! Terutama bagi orang setengah baya seperti dirinya. Sungguh suatu kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin! Setelah akhirnya membuka celana dalam Liani, kini dibukanya kedua kaki cewek itu lebar-lebar. Sehingga liang vagina Liani terpampang lebar di hadapannya. Lalu, ia menjilati vagina muda dan segar itu. Liani merintih-rintih nikmat. Dibukanya lipatan liang vagina yang sempit itu. Dijilatinya liang itu terutama dinding bagian dalamnya. Lalu dibukanya vagina bagian atasnya. Sampai ditemukannya klitoris cewek itu. Kini, dijilat-jilatnya klitoris itu. Sampai membuat cewek itu menggelinjang-gelinjang dan mendesah-desah. Liani nampak sudah makin terangsang. Apalagi karena kumis tipis Pak Rahman yang makin menggelitik vaginanya. Sampai desahan-desahannya jadi makin liar. Dan vaginanya benar-benar jadi kuyup.

    Akhirnya dirasanya kini tibalah saatnya untuk menikmati gadis innocent itu. Kondisi gadis itu telah siap untuk menerima penisnya. Sehingga dibukanya celana dalamnya. Nampak penis hitam ukuran king size mengacung ke atas. Dan penis itu sungguh besar! Membuat Liani pun diam-diam jadi agak kaget dibuatnya. Apalagi kepala penisnya yang disunat itu nampak lebih besar lagi. Gila! Penis sebesar itu akan masuk ke dalam liang vagina sempit dirinya, pikirnya! (Catatan penting: Sebagian dari posisi-posisi seks berikut berpotensi menyebabkan cedera. Jadi mohon jangan ditiru tanpa pengalaman yang memadai atau konsultasi dengan Pak Rahman. Resiko cedera ditanggung pelaku!!!).
    Kembali dibukanya kedua kaki Liani. Dan didekatkannya penisnya ke liang vagina gadis itu. Dan, didorongnya…Ugh! Alangkah sempitnya. Pak Rahman merasakan bahwa penisnya itu belum masuk ke dalam vagina sempit Liani itu. Lalu dicobanya lagi,emmhhhhh, emhhhhhh, emmhhhhh, setelah beberapa kali didesak ke dalam dan dengan agak dipaksanya, akhirnya masuklah kepalanya ke dalam vagina Liani.
    “OH!! jerit Liani.
    “OOHH!!
    Dan, bleesss, akhirnya penis raksasa itu masuk juga seluruhnya ditelan di dalam vagina Liani.
    Dalam posisi terduduk itu, ia mengocok-ngocok penisnya di dalam vagina Liani sambil memegang kedua kaki Liani.
    “Ooohhh, ohhhhh, ohhhhhhh.”
    “Aaahhhhh…..ahhhhhhhh…..ahhhhhhh”
    Mula-mula saat penis itu pertama kali menembus vaginanya, ia merasa sakit dan perih. Namun setelah itu jadi perih-perih enak. Lama-kelamaan jadi tinggal enaknya doang. Karena setelah itu Liani mendesah-desah dan merintih-rintih.

    Setelah beberapa saat penis Pak Rahman menembus masuk, vaginanya jadi melentur. Kemudian disodok-sodoknya penisnya di dalam vagina sempit itu, menikmati tubuh muridnya. Benar-benar seret dan kuat cengkeramannya. Sungguh beda dengan yang dirasakannya selama ini. Saking seret dan sempitnya, sampai-sampai saat Pak Rahman mencabut penisnya, liang vagina Liani jadi agak menganga. Dan ia juga melihat ada darah yang menetes dari vagina Liani menodai kain matras itu! (Kadang memang ada cewek yang bisa mengeluarkan darah lebih dari satu kali. Dan Liani adalah salah satu cewek seperti itu. Mungkin saat pertama kali diperawani, masih ada sebagian selaput dara yang tidak robek. Sebaliknya, ada pula cewek yang masih perawan tapi tidak
    mengeluarkan darah saat disetubuhi pertama kali). Kini Pak Rahman menindih tubuh Liani diatas matras itu. Setelah itu Pak Rahman yang gagah kekar itu menindih tubuh Liani yang ramping dan putih itu. Kembali ia menyetubuhi gadis itu. Penisnya dimasukkan ke dalam vaginanya. Kali ini lebih mudah masuknya meski masih seret. Dan kembali dikocoknya penisnya itu maju mundur. Liani kembali mendesah-desah lagi karena kocokan itu. Kini desahannya itu terdengar cukup keras. Apalagi desahannya itu jadi menggema di dalam aula yang luas dan kosong itu. Sementara tubuhnya bagaikan berdentam-dentam dihantam benda tumpul besar bertubi-tubi. Namun kini ia lebih siap karena vaginanya telah beradaptasi. Kini penis Pak Rahman yang besar itu merangsang bagian-bagian dalam vaginanya yang peka terhadap rangsangan.. Pak Rahman dengan perkasa terus mengocok dirinya beberapa saat lamanya, sampai akhirnya ia tidak tahan lagi dan mencapai orgasme. Itu orgasmenya yang pertama.
    “oooohhhhh…..oooooohhhhhh…..ooooohhhhhhhhh…..ooooohhhhhhhhhhhhhhh.”

    Setelah Liani orgasme, Pak Rahman mencabut penisnya dari dalam tubuh cewek itu. Tubuh Liani dihadapkan ke bawah dalam posisi doggy style. Kemudian ia menjilati vagina Liani yang basah kuyup itu. Setelah itu Pak Rahman tidak menghajarnya dari belakang. Namun ia menyusup di bawah Liani untuk kemudian memainkan payudara Liani yang menggantung itu. Kedua tangannya menggoyang dan meremas-remas payudara yang kelihatan makin besar karena menggantung itu.. Sambil sesekali payudara itu ditepuk-tepuknya. Plok, plok, plok. Kedua tangannya yang hitam menempel di payudara putih Liani, digenggam dan diremas-remasnya. Kepalanya berada di bawah payudara Liani. Lalu dibenamkannya kepalanya di payudara Liani. Bagaikan bantal saja ibaratnya. Kepalanya digesek-gesekkan di payudara Liani. Dan dengan rakus ia menjilati payudara putih yang menggantung itu dengan bibir dan lidahnya. Setelah puas memainkan payudara, diarahkannya penisnya persis di dekat lubang vagina Liani, dan
    didorongnya penisnya masuk ke dalam vagina Liani. Setelah itu sambil pegangan kedua lengan Liani, tubuhnya digeser maju mundur dan naik turun untuk mengocok vagina cewek itu. Posisi ini perlu mengeluarkan tenaga karena harus menahan pantatnya agak naik ke atas. Apabila pantatnya menempel di matras, tentu penisnya terlepas dari vagina Liani. Namun Pak Rahman adalah orang yang sering berolahraga sehingga staminanya cukup kuat untuk melakukan ini. Bahkan saat ini pun ia bisa dikatakan berolahraga yaitu menahan berat tubuhnya sambil sekaligus menyetubuhi Liani. Inilah yang dinamakan sexercise, sex dan exercise jadi satu. Setelah itu Pak Rahman menyuruh Liani untuk menggerakkan tubuhnya 90 derajat sehingga kini tubuh Liani tegak vertikal. Lalu Pak Rahman menurunkan pantatnya bersamaan dengan Liani juga menurunkan pantatnya sehingga kini ia duduk di atas Pak Rahman. Sehingga posisi mereka kini berubah jadi Cowgirl Position. Kali ini tentu lebih mudah bagi Pak Rahman karena ia tinggal tiduran di matras. Namun perlu dicatat bahwa semua gerakan merubah posisi ini dilakukan dengan penis Pak Rahman tetap berada di dalam vagina Liani. Artinya tubuh mereka tetap menjadi satu walaupun posisi tubuh mereka berubah. Lalu Pak Rahman menyuruh Liani untuk menggerakkan tubuhnya naik turun, yang segera dipatuhinya. Dengan manis Liani “olahraga duduk di tempat” dengan menggerakkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ikut bergoyang-goyang seirama dengan gerakan tubuhnya itu.

    Lalu mereka sedikit mengubah posisi. Disaat penisnya masih di dalam vagina Liani, ditidurkannya tubuh Liani mendekat kepadanya. Sehingga kini mirip posisi missionaris tapi bedanya ceweknya ada di atas. Sehingga lagi-lagi Lianilah yang lebih banyak melakukan pergerakan. Kali ini ia bergerak maju mundur, mengocok penis hitam besar di dalam vaginanya. Atau mengocok vaginanya terhadap penis hitam besar yang stasioner itu. Tergantung dari sudut mana melihatnya. Namun yang jelas, hasilnya sama. Vagina Liani disodok-sodok oleh penis Pak Rahman yang perkasa dan Liani jadi mendesah-desah dibuatnya. Setelah itu tubuh Liani diangkat kembali ke posisi semula yang tegak vertikal dan Pak Rahman juga mengangkat tubuhnya sehingga kini tubuh keduanya kembali berdekatan namun dalam posisi tegak. Kembali tubuh Liani naik turun sementara Pak Rahman meremas-remas kedua payudara Liani. Kemudian Kedua kaki Liani yang sebelumnya ditekuk kini diluruskan. Sehingga kedua pahanya yang putih menempel di pinggul Pak Rahman yang sawo matang dan paha Pak Rahman yang sawo matang menempel di pinggulnya yang putih, dan penis Pak Rahman yang sawo matang kehitaman masih tetap di dalam vagina Liani. Sementara Liani terus menggerakkan tubuhnya turun naik sambil Pak Rahman menciumi dan menjilati payudara Liani. Nampak begitu kontras perbedaan warna kulit tubuh keduanya yang melekat menjadi satu itu. Dan berbeda pula tubuh mereka. Pak Rahman badannya gagah dan berotot. Sementara Liani badannya ramping namun sexy. Dada Pak Rahman sungguh bidang dan kekar. Sementara dada Liani, hmm, sungguh putih dan sexy. Tak heran kalau Pak Rahman dengan ganas menikmati payudara gadis itu, terutama menjilati dan menyedot-nyedot kedua putingnya yang kemerahan. Demikianlah mereka melakukan proses persetubuhan dalam lima posisi yang berbeda tanpa putus. Setelah itu urutan posisinya dibalik. Dari posisi lima, balik ke posisi 4, 3, 2, dan 1, juga secara berkesinambungan. Sehingga total mereka melakukan sepuluh posisi persetubuhan yang proses perubahannya dilakukan secara tanpa putus artinya penis Pak Rahman terus berada di dalam vagina Liani dari sejak posisi 1 sampai posisi 5 lalu balik ke posisi 1 lagi. Sehingga mereka berdua seperti melakukan senam saja. Namun tentu itu bukan senam biasa namun senam sexercise.

    Setelah itu barulah mereka memisahkan tubuh mereka. Kini mereka main pangku-pangkuan. Pak Rahman duduk di atas matras itu sambil ia memangku Liani yang membelakangi dirinya. Namun bukan sekedar pangkuan biasa karena penisnya dimasukkan ke dalam vagina Liani. Dan, lagi-lagi Liani kembali menaik turunkan tubuhnya sehingga penis di bawahnya itu menghunjam-hunjam masuk di dalam tubuhnya. Sementara Pak Rahman menciumi punggung Liani yang betul-betul putih mulus itu dan tangannya ke depan untuk meremas-remas payudara gadis itu. Oleh karena sejak tadi mereka kebanyakan main dalam posisi dimana ia harus aktif menggoyang tubuhnya, kini tubuh Liani mulai berkeringat. Sehingga kini ia juga termasuk melakukan sexercise, olahraga dan seks secara bersamaan. Yang memberikan rasa cape sekaligus nikmat. Apalagi tak lama kemudian di posisi itu ia kembali mendapatkan orgasme. Itulah orgasmenya yang kedua. Demikianlah Liani yang awalnya innocent dan malu-malu dan
    berhati-hati, kini sudah berubah menjadi cewek liar yang sejak tadi terus mendesah-desah dan merintih-rintih malah kini dirinya telah bobol dua kali karena tak tahan akan keperkasaan Pak Rahman. Skor 2-0 untuk Pak Rahman! Setelah itu mereka melakukan posisi yang lebih aneh lagi. Saat itu sepertinya Pak Rahman mengajar Liani melakukan posisi kayang. Karena ia menyuruh cewek itu melakukan kayang sambil diperhatikan dan dibantunya. Sampai akhirnya Liani berhasil juga mengangkat tubuhnya yang telanjang bulat dengan kedua kakinya terbuka lebar. Itulah posisi kayang yang sempurna. Saat itu nampak jelas liang vaginanya yang terbuka menganga diantara kedua paha mulusnya yang terbuka lebar. Bulu-bulu vaginanya yang lebat nampak menyembul keatas. Membuat Pak Rahman segera mengelus-ngelus bulu-bulu lebat yang menyembul ke atas itu. Siapa yang tidak mau mengelus-ngelus bulu kemaluan Liani, cewek innocent itu. Dan ternyata latihan kayang tadi bukan cuma olahraga doang. Karena Pak Rahman setelah itu menumpuk-numpuk sejumlah bantal di bawah tubuh Liani untuk menyangga tubuh cewek itu. Kemudian, dengan kedua tangannya yang memegang tubuh gadis itu, dimasukkannya penisnya ke dalam liang
    vagina Liani yang menganga lebar itu. Sehingga disetubuhinya gadis itu selagi ia sedang dalam posisi kayang sempurna itu.
    “Ohhh…ohhhhhhh.ohhhhhhhhh…..ohhhhhhhhh.”
    Sungguh mantap sekali! Benar-benar sensasi yang hebat. Cape berkeringat karena olahraga, namun juga nikmat dikocok-kocok!

    Setelah Pak Rahman membantu Liani keluar dari posisi kayangnya, ia bergerak menuju ke pipa besi yang digunakan untuk olahraga angkat tubuh tadi. Ia menyusun beberapa balok yang ditumpuk di bawah pipa besi itu. Kedua orang itu berdiri di atas tumpukan balok itu. Dalam posisi berdiri itu, Pak Rahman kembali menyetubuhi Liani dalam posisi berdiri. Saat ini, karena berdiri di atas balok, Liani dapat dengan mudah meraih pipa besi horizontal itu dengan kedua tangannya. Setelah itu Pak Rahman menyuruh Liani untuk berolahraga angkat tubuh lagi. Yaitu ia harus mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya.. Pada saat ia mengangkat tubuhnya tentu rasanya seperti penis Pak Rahman akan keluar dari vaginanya. Namun belum sampai keluar, ia kembali menurunkan tubuhnya yang rasanya seperti penis itu masuk kembali menghunjam ke dalam vaginanya. Jadi di saat Liani melakukan olahraga angkat tubuh itu, penis Pak Rahman seakan mengocok-ngocok tubuhnya, meski Pak Rahman sendiri berdiri stasioner tak bergerak. Sehingga Liani jadi makin giat mengangkat tubuhnya. Dan dalam hal ini ia mencapai kemajuan yang luar biasa yang sulit ditandingi bahkan oleh atlit kelas olimpiade sekalipun. Sebelumnya ia berhasil mengangkat tubuhnya cuma beberapa senti saja. Namun kini ia mencapai kemajuan hampir sepuluh kali lipat! Karena sekarang ia berhasil mengangkat tubuhnya sampai hampir dua puluh senti! Dan itu kira-kira sama dengan panjang penis Pak Rahman. Setelah cape tapi puas melakukan itu, Liani menghentikan exercise-nya itu. Kini tinggi balok itu diatur sedemikian rupa supaya mereka bisa bertukar posisi dengan pas. Liani berdiri di balok itu. Kali ini giliran Pak Rahman yang melakukan exercise. Ia harus mengangkat tubuhnya supaya penisnya bisa masuk ke dalam vagina Liani. Dan, Pak Rahman sungguh hebat! Ia sanggup melakukan itu sampai lebih dari 20 kali! Saat itu Pak Rahman adalah orang yang melakukan exercise, namun justru Liani yang sedang “menonton” persis di depannya yang menjerit dan mendesah-desah tiap kali Pak Rahman berhasil mengangkat tubuhnya. Sungguh ia adalah seorang suporter yang hebat, karena jeritan dan desahan itu jadi membuat Pak Rahman makin bersemangat. Hal ini membuktikan bahwa fungsi suporter sangatlah penting dalam suatu kegiatan olahraga.

    Sehabis itu malah lebih hebat lagi. Karena Liani sambil memeluk leher Pak Rahman, mengangkat kedua kakinya dan ditekuknya di bagian atas pinggul Pak Rahman. Sehingga kini Pak Rahman selain harus mengangkat tubuhnya juga harus mengangkat tubuh Liani! Sehingga Liani kini jadi lebih aktif menaik-turunkan tubuhnya sambil memeluk Pak Rahman. Jadi kedua orang itu kini sama-sama aktif melakukan sexercise. Namun yang hebat adalah Pak Rahman yang mampu mengangkat tubuhnya plus tubuh Liani yang menempel di tubuhnya. Dan penisnya yang sedari tadi mengoyak dan mengocok-ngocok vagina Liani dengan gagah perkasa, masih belum juga terlihat tanda-tanda ejakulasi. Betul-betul ia adalah seorang dengan otot kawat tulang besi penis perkasa!! Setelah puas olahraga angkat tubuh, mereka ganti posisi yang lebih “membumi”. Liani dalam posisi push-up. Namun ia tidak melakukan push up karena Pak Rahman mengangkat kedua kakinya dari belakang. Diangkatnya kedua kaki Liani dan ia maju terus mendekati tubuh gadis itu sampai berhasil dipegangnya pangkal pahanya. Sampai ia bisa mendekatkan penisnya ke vagina Liani, lalu dimasukkannya penisnya ke dalam tubuh mulus cewek itu dari belakang. Penisnya mengocok-ngocok menembus vaginanya dari belakang. Sodokan-sodokan Pak Rahman itu sungguh kuat, sehingga saat ia menyodok, saat itu pula badan Liani terdorong ke depan dan ia otomatis menggerakkan satu tangannya maju ke depan.. Sementara Pak Rahman tentu ingin terus menikmati vagina Liani yang sempit dengan terus memaju-mundurkan penisnya berulang-ulang. Hal itu dilakukannya terus menerus. Dan setiap kali Pak Rahman mendorong penisnya ke depan, saat itu pula Liani menggerakkan tangannya ke depan bergantian sehingga tubuhnya maju selangkah demi selangkah. Hal itu berlangsung terus menerus sampai akhirnya tanpa terasa mereka telah membuat satu putaran mengelilingi lapangan basket. Dan di sepanjang perjalanan Liani terus mendesah-desah pertanda nikmat dan Pak Rahman pun tentu juga puas hatinya. Memang begitulah olahraga seharusnya dilakukan, berkeringat dan mengeluarkan banyak tenaga namun waktu lewat dengan cepat tanpa terasa karena begitu enjoy dikala melakukannya.

    Setelah itu Pak Rahman menggendong Liani. Tubuh Liani yang putih mulus dan telanjang bulat itu digendong oleh gurunya yang kulitnya sawo matang. Namun, itu bukan sekedar gendong-gendongan biasa, karena saat Liani digendong itu, vaginanya tertembus oleh penis hitam Pak Rahman. Kemudian Pak Rahman menggerak-gerakkan tubuh Liani naik turun, dan Liani pun juga ikut menggerakkan tubuhnya naik turun di dalam gendongan Pak Rahman. Lagi-lagi Liani mendesah-desah dibuatnya. Setelah itu mereka melakukan itu dengan Pak Rahman berjalan dan berjalan sampai ke tengah-tengah aula itu. Setelah itu malah Pak Rahman berlari sambil menggendong Liani yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya! Sampai dua kali bolak balik. Sementara dada Liani kini jadi berguncang-guncang dengan hebat. Pertama karena gerakan lari, kedua karena disodok-sodok penis yang besar dan hitam itu. Tentu semua orang tahu pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Namun pepatah itu sudah kuno ketinggalan jaman. Karena sekarang ini jadi “guru dan murid barengan lari sambil orgasme”. Karena Liani jadi tak tahan lagi vaginanya disodok-sodok penis Pak Rahman sekaligus digendong sambil dibawa lari begitu, sehingga akhirnya ia, orgasme lagi. Itulah orgasmenya yang ketiga! Dan vaginanya jadi basah kuyup. Dan tak lama setelah itu, Pak Rahman pun juga akhirnya tak bisa menahan lebih lama lagi dan ia mengalami ejakulasi. Ditumpahkannya seluruh spermanya yang banyak sekali keluarnya di dalam vagina Liani. Namun setelah ejakulasi pun, penisnya masih mengeras. Karena itu, ditelentangkan Liani di matras, lalu ia kembali menusuk-nusuk vagina Liani. Sepertinya ia ingin menghisap dan menyerap sari madu gadis itu sampai betul-betul tak bisa diserap lagi. Sampai akhirnya penisnya melembek, baru ia menghentikan tusukan-tusukannya itu. Jadi skor akhir: 3-1 untuk Pak Rahman.

    Setelah itu, barulah Pak Rahman mencabut penisnya dari dalam tubuh Liani. Penis hitam perkasa yang tadi begitu keras itu pun kini mulai melembek. Setelah itu ia membantu cewek itu berdiri. “Kamu bisa berdiri, Liani?” tanyanya.. Gadis itu tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya. Dirasakannya vaginanya agak nyeri dan berdenyut-denyut. Pak Rahman melihat sebagian sperma yang sebelumnya ditumpahkan di dalam vagina cewek itu kini meleleh keluar, bagaikan anak sungai mengalir turun di pahanya yang putih. Ia sungguh puas hatinya bahwa Liani yang innocent, cakep, sexy, dan putih mulus itu akhirnya dibuatnya menjadi bukan perawan lagi. Karena ia menganggap dirinyalah yang telah memerawani Liani yang tentu sekarang nggak bisa disebut innocent lagi. Ia melihat adanya darah di vagina gadis itu saat penisnya pertama kali menembus vaginanya. Dan ia merasakan betapa sempitnya vaginanya. Ditambah lagi karena cewek ini belum pernah pacaran, jadi tentu dianggapnya masih perawan. Karena itu ia sungguh bangga bahwa penisnya yang perkasa akhirnya berhasil menembus dan mengoyak vagina siswi teladan itu untuk kali pertama. Selain berhasil memerawani cewek itu, ia juga merasa aman dengan kariernya serta hubungannya dengan istrinya. Karena ia yakin Liani tidak akan melaporkan kejadian itu, meski ia melakukan pelanggaran seksual terhadap diri siswi itu. Terutama setelah cewek itu juga mendapat orgasme tiga kali! Sehingga ia tidak dapat dikatakan telah memaksanya atau memperkosanya. Masa diperkosa kok malah orgasme tiga kali! Sementara ia sendiri juga tidak akan membocorkan hal itu, demi karier dan takut dengan istri karena istrinya lebih dominan. Setelah itu tanpa berkata sepatah pun keduanya mengenakan pakaian masing-masing. Kemudian mereka berjalan keluar kompleks sekolah itu tanpa ada satu orang pun. Saat itu Liani merasakan vaginanya agak nyeri sehingga ia harus berjalan sambil kedua kakinya agak dibuka melebar. Tak lama kemudian suasana sekolah itu jadi betul-betul sunyi senyap di tengah kegelapan malam. Namun apa yang dialami oleh para pelaku setelah itu tidaklah sesunyi seperti tempat kejadian itu.

    Tadi dikatakan untuk urusan ginian biasanya “sikat dulu, yang lain urusan belakangan”. Nah, “yang lain” ini muncul saat Pak Rahman tiba di rumahnya. Istrinya agak curiga dengan suaminya itu. Apalagi pulang telat sampai hari gelap. Ia curiga kalau suaminya baru “jajan” di luar. Apalagi suaminya langsung membasahi serta merendam celana dalamnya. Suatu hal yang tak biasa. Ia curiga, apakah itu untuk menghilangkan jejak sisa-sisa sperma sehabis pertempuran di luar? Untuk itu malamnya ia mengetest suaminya di ranjang. Dan hasilnya? Sungguh spektakuler! Karena istrinya itu dibuatnya berkejab-kejab sambil merem melek! Memang hebat Pak Rahman ini. Sorenya baru menghajar Liani sampai tiga kali, malamnya masih bisa membuat istrinya menggelepar-gelepar dan megap-megap kayak ikan mas kekurangan air. Namun bagaimana pun ia adalah manusia biasa yang tak bisa melawan proses alam. Ia tak bisa menipu istrinya yang jeli bagai anjik pelacak itu. Istrinya curiga karena volume sperma yang keluar jauh lebih sedikit dari biasanya. Untung istrinya tidak mendesaknya lebih lanjut. Seandainya ia terpaksa harus mengaku pun, ia bertekad tidak akan memberitahukan identitas sesungguhnya cewek yang disetubuhinya saat itu. Itu sudah menjadi komitmen pribadinya terhadap Liani. Istrinya hanya bisa curiga saja tapi ia tak punya bukti nyata. Namun semenjak itu hidup Pak Rahman jadi semakin menderita di bawah ketiak istrinya. Karena Bu Retno jadi semakin ketat mengontrol suaminya. Setelah hari itu, ia tak mendapat kesempatan untuk mengulangi hal yang sama lagi dengan Liani atau cewek mana pun, karena kontrol super ketat dari istrinya, termasuk pengecekan reguler isi botol dari pengosongan yang illegal. Yah, paling tidak aku sudah pernah menikmati Liani, cewek idaman satu sekolah, katanya menghibur diri. Tak lama setelah kejadian itu, Liani lulus SMU dan pindah ke kota lain untuk melanjutkan kuliahnya. Cerita Maya

    Sementara Liani malam itu sedang tiduran di kamarnya. Badannya pegal-pegal. Seperti sehabis melakukan exercise. Tapi juga puas. Karena itu bukan exercise biasa melainkan Sexercise. Belum pernah ia merasakan seperti yang barusan dialami. Pak Rahman memang hebat. Tiga kali ia dibuatnya orgasme! Sekarang vaginanya sudah tidak nyeri lagi. Tapi rasanya perlu waktu untuk istirahat paling tidak berhari-hari, setelah barusan dihajar bertubi-tubi dari berbagai posisi oleh penis raksasa Pak Rahman yang hitam perkasa itu. Kini memang saat untuk pemulihan otot-otot tubuh terutama otot vaginanya agar kembali ke posisi semula dan rapat kembali. Ada waktunya exercise (atau Sexercise), ada pula waktunya istirahat. Karena kesehatan tubuh memang penting. Olahraga penting bagi kesehatan tubuh. Apalagi olahraga yang memberikan kepuasan batin kayak gini, pikirnya. Sekarang waktunya tidur deh. Ia bangkit dari ranjangnya untuk mematikan lampu kamarnya. Tak lama kemudian ia tidur dengan nyenyak di dalam kamarnya yang gelap.

    Kesehatan tubuh itu penting.
    Olahraga itu penting bagi kesehatan tubuh.
    Apalagi olahraga yang juga memberikan kepuasan batin.

    – by Anonymous Mupenger

    End of episode 6.
    Untuk sementara ini, berilah kesempatan pada Liani untuk beristirahat dan recovery. Ia sangat memerlukan hal itu sekarang. Setelah itu, baru ia akan kembali tampil prima di episode berikutnya, episode 7.

  • Liani 5: Sex in the Mall

    Liani 5: Sex in the Mall


    2517 views

    Disclaimer:
    1.Cerita ini mengandung unsur pornografi yang tidak cocok buat anak di bawah umur atau orang-orang alim.
    2.Seluruh materi cerita ini adalah fiksi belaka. Seluruh kemiripan nama, tokoh, tempat, kejadian, dll adalah suatu kebetulan semata.
    3.Cerita ini tidak mengandung unsur SARA apalagi kebencian atau menyudutkan kelompok tertentu. Kalaupun ada keterangan mengenai ras / suku / warna kulit / ciri fisik, adalah semata-mata sebagai bumbu penyedap cerita untuk menambah unsur erotisme.
    4.Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suku, agama, ras, golongan, atau profesi tertentu. Apabila ada yang negatif, itu hanyalah oknum yang menyimpang dan tidak mewakili seluruh golongan.

    —@@@@@@@—–

    Berikut adalah dua cerita pendek tentang keisengan dan kebadungan Liani di dalam sebuah mal.

    Bagian 1 – Sex in the Toilet

    Liani

    Cerita Maya | Sore itu Liani sedang duduk ngobrol dengan tiga teman ceweknya di dalam sebuah mal. Mereka sedang asyik-asyiknya ngobrol dan saling bercanda sambil memesan minuman dan makanan ringan. Saat itu mereka semua masih memakai pakaian seragam tapi bukan seragam putih abu-abu biasa, namun seragam dengan corak seperti batik untuk bajunya.

    Memang sekolahnya ini punya dua jenis seragam, seragam biasa dan seragam ini.Di hari-hari tertentu seragam inilah yang digunakan. Saat mereka sedang seru-serunya bercandaan, ada seorang cowok yang sedang memandangi empat anak cewek yang cakep-cakep itu dengan tampang mupeng. Cowok ini adalah anak smu juga tapi beda sekolah dengan Liani. Cowok ini memang sering datang ke mal itu, kadang sendirian kadang bareng teman-temannya. Mereka adalah cowok-cowok berandalan yang datang ke mal dengan dua tujuan. Kalau nggak cuci mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu yang putih dan cakep-cakep itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang main game di dekat bioskop. Hari ini kebetulan ia lagi sendirian. Saat itu empat cewek itu tetap asyik ngobrol tanpa sadar ada cowok yang menatap mupeng ke arah mereka. Semuanya cakep-cakep dan putih-putih. Namun diantara keempatnya, cowok itu paling sering memandangi Liani. Karena memang Liani yang paling cakep diantara mereka berempat. Apalagi posisi Liani saat itu sungguh pas menghadap ke arahnya. Namun yang bikin cowok itu makin mupeng dengan Liani, saat itu posisi duduk cewek itu agak serampangan. Kedua kakinya agak terbuka dan roknya sedikit tertarik ke atas sehingga cowok itu bisa melihat paha putih Liani yang terbuka, apalagi posisi cowok itu sungguh strategis.

    Liani seperti tak menyadari sedari tadi ada cowok yang memperhatikan pahanya. Ia tetap tidak mengubah posisi duduknya itu. Sehingga cowok itu sungguh beruntung bisa memandangi paha Liani yang sungguh putih mulus itu selama beberapa saat lamanya. Matanya berpindah-pindah antara wajah yang polos tapi cantik itu dan pahanya yang terbuka. Namun itu masih belum apa-apa. Setelah itu, Liani becanda agak kelewatan dengan salah satu temannya. Sampai temannya itu ingin mencubit dirinya. Tentu ia tak ingin dicubit begitu saja dan berusaha menghindar. Saat ia berusaha menghindari cubitan itu, tanpa sadar ia membuka kakinya terlalu lebar sampai celana dalamnya kelihatan dari sudut pandang cowok itu. Apalagi cd yang dipakainya saat itu warna hitam, yang mana sungguh kontras dengan kulitnya yang putih. Tentu cowok itu jadi melongo dibuatnya saat mendapat rejeki nomplok itu. Mimpi apa semalam bisa ngeliat celana dalam cewek smu yang cakep dan putih itu. Dan itu terjadi nggak hanya sekali tapi ada tiga atau empat kali. Akibatnya cowok itu kini jadi mupeng abis dengan Liani! Beberapa saat kemudian, bubarlah mereka berempat dari kumpul-kumpul itu. Namun saat itu Liani tidak langsung pulang. Ia ingin melihat-lihat pakaian dulu. Saat itulah ia berjalan melewati cowok itu yang berdiri di dekatnya. Langsung saja mata cowok itu jelalatan menatap diri Liani dari atas ke bawah. Terutama dada cewek itu yang menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang. Namun tetap menarik untuk dilihat karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi. Saat itu Liani lagi dalam keadaan rasa isengnya muncul, sehingga dilabraknya cowok itu. Memang Liani adalah cewek yang agak aneh. Disaat cewek lain takut, ia malah berani. Cerita Maya
    “Hey! Ngapain lu liat-liat gua terus? Lagi mupeng ya?”
    Namun kini ia kena batunya, karena cowok itu malah menantang balik,
    “Kalo memang iya kenapa?”
    “Enak aja mupengin orang sembarangan. Terus sekarang maunya apa?”
    “Maunya apa? ML yuk!”
    Rupanya saat itu Liani lagi kambuh penyakit isengnya, sehingga omongan usil orang itu malah ditanggapi dengan tak kalah badungnya.
    “Sekarang berani nggak? Di toilet,” katanya.
    “Boleh. Ayo sekarang! Kebetulan gua udah mupeng abis sama elo.”
    “Ayo ikut gua kalo berani. Jangan cuman ngomong doang,” kata Liani meninggalkan cowok itu dan berjalan menuju ke toilet cewek.
    Dan cowok itu, entah karena sama gilanya atau sudah kadung mupeng abis dengan Liani, omongan cewek itu ditanggapi beneran. Ia berjalan mengikutinya. Sesampai di depan toilet cewek, Liani menoleh ke cowok itu dan berkata,” Ayo masuk.” Dan cowok itu nggak mikir panjang, ikutan masuk ke toilet cewek! Kebetulan toilet itu lagi kosong sehingga tak ada orang yang melihat cowok itu masuk ke toilet cewek. Dan saat Liani masuk ke salah satu kamar, cowok itu pun ikut masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Sehingga di dalam kamar toilet yang sempit itu, kini Liani dan cowok itu berduaan didalam! Begitu di dalam, segera cowok itu tak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu langsung menubruk tubuh Liani dan menciuminya. Kapan lagi ia bisa dapat kesempatan ML sama cewek smu yang cakep kayak gini. Apalagi dari seragam yang dikenakan, cewek ini dari sekolah favorit yang bagus di kota itu. Kapan lagi bisa beginian sama cewek kayak gini. Langsung diciuminya bibir Liani dan bagian lagi wajahnya. Liani bukannya protes malah mendiamkan saja. Mungkin ia tak mengira cowok ini bakal senekat itu, atau mungkin ia juga jadi ikutan pengin apalagi belum pernah ia berbuat segila ini di tempat umum. Cowok itu jadi tambah nafsu melihat Liani membiarkan saja. Kembali ia menciumi bibir Liani. Sementara Liani kini malah menanggapi aksi cowok itu. Bibirnya juga ikutan aktif mencium bibir cowok itu. Akhirnya keduanya saling berpagutan di dalam kamar toilet itu. Kedua lidah mereka saling bertemu dan “bersilat lidah”.

    Merasa diberi angin, cowok itu jadi makin liar aksinya. Kini dibukanya kancing baju seragam Liani satu persatu. Sudah sejak tadi ia penasaran ingin “mengecek” dada cewek itu. Sehingga terbukalah baju seragam Liani dan tampaklah kulit tubuhnya yang putih mulus. Dadanya terbungkus oleh bra warna hitam.. Dengan penuh nafsu dilepasnya bra itu. Tangan cowok itu merogoh ke punggung Liani mencari pengait branya untuk dibukanya. Setelah dibukanya, diangkatnya bra itu, sehingga nampaklah payudara yang putih mulus serta padat berisi itu. Seketika cowok itu jadi nafsu melihat dada yang putih menggiurkan itu. Segera dipegangnya kedua dada Liani dengan kedua tangannya. Diraba-rabanya dada yang berada dalam genggamannya itu, digoyang-goyangnya, dan diremas-remasnya. Kedua jari-jarinya memilin-milin puting payudara Liani yang segar kemerahan itu. Sementara toilet yang tadinya sepi tak ada orang sama sekali itu, tiba-tiba jadi banyak orang. Malah telah terjadi antrian sampai 5 orang yang menunggu. Apalagi barusan kedatangan serombongan ibu-ibu ke toilet itu, yang baru saja selesai makan dan ngobrol di food court (entah mereka disana lagi arisan atau sekedar kumpul-kumpul). Saat itu ada seorang ibu yang mengeluh ke temannya,
    “Aduuh, lama bener ya. Sudah nggak tahan nih.”
    “Iya nih, lama bener. Apalagi yang ini nih,” kata seorang ibu yang berdiri paling depan menunjuk ke kamar yang dipakai Liani,” Dari tadi nggak keluar-
    keluar.”
    “Iya. Kamar yang lain sudah ganti dua tiga orang, ini orang satu masih belum keluar juga,” kata ibu lainnya.
    “Mbak, mbak,” kata seorang ibu yang lain sambil mengetuk-ngetuk kamar Liani,” masih lama nggak ya? Kita semua sudah pada kebelet nih.”
    “Iya dari tadi lama bener, ngapain aja sih?”
    “Iya, iya, sebentar, sabar kenapa sih,” kata Liani dari dalam sementara saat itu payudaranya lagi diremas-remas cowok itu.
    “Soalnya situ di dalam sudah lama bener. Yang mau pake toilet bukan cuman situ doang.”
    “Pake kamar yang lain napa sih?” seru Liani sebelum bibirnya dikunci oleh cowok itu yang sambil terus meremas-remas dadanya.
    “Yaelah ini orang. Kamar yang lain juga penuh Bu. Pengertian sedikit kenapa sih.”
    “Situ lagi ngapain sih di dalam?”
    “Lagi beranak kali ya di dalam. Lama bener.”
    Namun ibu-ibu itu hanya bisa ngedumel saja sambil ngantri. Tak lama kemudian toilet jadi sepi kembali. Tiga kamar yang lain telah dipake banyak orang, tapi yang satu itu masih terus tertutup.

    Sementara di dalam, mereka lagi seru-serunya. Liani tak mau kalah dengan cowok itu, ia juga ikutan aktif. Dibukanya retsleting celana panjang cowok itu dan diturunkannya. Nampak tonjolan besar di celana dalamnya. Langsung dibukanya celana dalam itu dan diturunkannya. Nampak penis hitam yang disunat kepalanya. Ukurannya biasa saja namun telah menegak dengan keras. Segera penis cowok itu dipegang dan dipijit-pijit oleh tangannya yang halus. Sementara cowok itu makin bernafsu. Ia mendekat ke samping Liani, kedua tangannya terus meremas-remas payudara putih itu dan kini mulutnya mulai mengemut-ngemut puting payudara yang kemerahan itu. Dengan rakus diemut-emutnya puting merah yang segar itu. Sementara tangan halus Liani kini mengelus-ngelus kepala penis yang disunat itu. Namun tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt, keluarlah sperma cukup banyak dari penis cowok itu. Semprotan yang pertama meloncat cukup jauh sampai mendarat di tempat duduk kloset. Setelah itu makin lama makin berkurang tekanannya. Rupanya ia nggak bisa nahan lagi saat kepala penisnya dielus-elus oleh Liani. Apalagi ia terlalu bernafsu dengan payudara Liani yang putih dan montok apalagi dengan putingnya yang segar kemerahan.
    “Yah, cuman kayak gini doang.”
    Tangannya kini belepotan penuh dengan sperma cowok itu.
    “Badan gede, ngomongnya galak, tapi loyo,” ejek gadis itu sambil mengelap tangannya yang penuh dengan sperma ke baju cowok itu.
    Roknya bahkan masih sangat rapi belum tersentuh sama sekali!
    Sementara cowok itu kini menghentikan aksinya dan melepas pegangannya dari dada Liani. Mukanya merah padam.
    Liani segera mengaitkan bra-nya lagi dan mengancingkan bajunya.
    “Udah ah, gua pulang dulu,” katanya sambil membuka pintu kamar toilet itu dan setelah tidak ada orang segera meninggalkan toilet itu.

    Sementara cowok itu segera memakai celana dalam dan celana panjangnya. Setelah itu segera keluar dari toilet itu. Namun,
    “AAAHHHHHHHHHHHH! Toloooong. Ada cowok disini!” teriak seorang ibu setengah baya dengan histeris.
    Saat itu akan masuk seorang tante gendut dengan temannya.
    “Jangan masuk Bu, ada cowok di dalam!” teriak ibu tadi.
    “Kurang ajar kamu ya! Ngapain kamu kesini,” maki tante gendut tadi sambil memukul-mukulkankan tasnya ke kepala cowok itu.
    “Satpaaam! Mana satpam. Panggil satpam kemari! Satpaaam!!”
    Dan akhirnya, dengan baju masih basah dengan spermanya sendiri, digiringlah cowok itu oleh satpam mal yang berkumis sangar.
    Sungguh malu dua kali ia hari itu. Pertama karena dicokok satpam dan ditonton orang banyak. Kedua, malu dengan cewek cakep tadi.
    Dan oleh satpam, cowok itu dianggap bersalah karena masuk ke toilet cewek dan melakukan onani di dalam.
    Sementara Liani melihat itu dari kejauhan dengan tertawa-tawa terpingkal-pingkal.

    —@@@@@@@—–
    Bagian 2 – Sex in the Movie Theatre

    Liani baru saja memarkir mobilnya dan masuk ke dalam mal itu. Saat itu datang sms di handphone-nya. Bunyinya,”Sorry, tadi gua salah ketik. Ketemuannya bukan jam 2 tapi jam 4.” Sms itu datang dari Herlina teman sekolahnya. Mereka janjian untuk ngumpul dan makan bareng dengan beberapa temannya. Ah, sialan, gerutu Liani. Kenapa nggak bilang dari tadi-tadi? Tahu gitu gua pulang dulu ke rumah. Padahal saat itu pun masih kepagian untuk jam 2. Karena ia langsung jalan dari sekolah. Sekarang malah ternyata janjiannya dimundurin ke jam 4. Tapi kalo mau pulang rumah dulu, tanggung. Sedangkan kalo nunggu bengong sendirian 2 jam lebih juga bosan. Malah-malah nanti bisa digangguin cowok iseng kayak waktu itu. Akhirnya diputuskan mending nonton aja.. Meski sendirian tapi masih mendingan daripada bengong aja. Lalu ia naik ke tempat bioskop. Saat itu lagi sepi, karena memang bukan jam umum untuk nonton. Sementara ia melihat-lihat film yang ada dan yang pas jamnya, ada seorang cowok yang ngeliatin dia terus. Cowok ini adalah anak smu juga yang biasanya datang ke mal itu untuk dua tujuan. Kalau nggak cuci mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu yang cakep-cakep dan putih-putih itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang main game di dekat bioskop. Kebetulan cowok itu habis memalak anak SMP “gemuk” yaitu anak orang kaya yang dikasih duit jajan banyak. Setelah merasa penghasilannya hari itu cukup, kini ia ingin menikmati sisa hari itu dengan nonton. Dan saat itulah ia melihat Liani yang juga datang sendirian.

    Saat melihat cewek cakep apalagi sendirian, ia tak bisa menahan mulut usilnya itu.
    “Suitt, suitt,” siulnya dengan usil sambil matanya menggerayangi seluruh tubuh Liani,” Muluss.”
    Saat itu Liani memakai baju seragam batiknya. Sehingga ia bisa lolos dari satpam yang kadang tidak memperbolehkan anak-anak SMU berseragam putih abu-abu masuk. Ia jadi mupeng dengan Liani karena selain cakep dan kulitnya putih banget, body-nya pun ok. Pandangannya seketika mengarah ke dada Liani yang nampak menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang. Namun tetap menarik untuk dipelototi karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi.
    “Sendirian ya? Mau ditemenin ga?” tanya cowok itu cengengesan.
    Liani tidak menghiraukan cowok itu. Ia tidak merasa perlu menanggapi cowok-cowok semacam itu, yang kerjaannya cuman nggodain cewek kayak dirinya. Lagian, ditanggapi pun juga percuma. Kayak waktu itu. Ngomongnya aja kayak jagoan tapi belum apa-apa langsung keok. Setelah itu Liani mendatangi loket dan membeli satu tiket. Setelah cewek itu pergi, cowok itu juga mendatangi loket itu dan berkata ke penjual karcisnya,”Sebelahnya cewek tadi, Mbak.”
    Tak lama kemudian masuklah Liani ke dalam gedung bioskop. Ia membeli tiket tempat duduk di baris paling belakang di tengah-tengah. Gedung bioskop saat itu sangat sepi penonton. Tak lama kemudian masuklah cowok tadi dan nomor kursinya memang betul di sebelah Liani.

    “Hi,” sapa cowok itu.
    “Hi,” kata Liani.
    “Nonton sendirian ya?”
    “Iya.”
    “Sama dong. Gua juga sendirian. Aneh ya, kok kebetulan duduknya bisa sebelahan?”
    “Khan lu yang minta tadi sama Mbak-nya.”
    “Hah! Masa sih? Kok gua nggak inget?”
    “Udahlah lu ga usah pura-pura. Dikira gua nggak tahu.”
    “Hehehe, iya sih,” katanya cengengesan. “Oh ya, nama lu siapa? Nama gua Boy..”
    “Rika,” kata Liani asal-asalan.
    Dan cowok itu selanjutnya berusaha melakukan pendekatan ke arah kemupengan. Sementara Liani kini jadi timbul semangat badungnya. Sebelum cowok tadi masuk dan duduk di sebelahnya pun, ia telah membayangkan, situasi sepi-sepi gini, kayaknya jadi asyik deh kalo gituan. Gituan di dalam gedung bioskop! Oleh karena itu kini ia bersikap wait and see aja terhadap cowok yang ngaku namanya “Boy” ini. Ia sendiri ragu cowok kayak gini bisa punya nama sebagus itu. Tapi, masa bodolah. Yang penting bukan namanya keren apa nggak nya. Karena Liani tidak menolak, cowok itu jadi makin lama makin berani. Kini dipegangnya tangan Liani. Dan cewek itu diam saja. Lalu diraba-rabanya tangan yang halus itu. Kemudian ia memegang rambut Liani. Cewek itu diam saja. Kini dipeluknya cewek itu dan diciumnya pipi cewek itu. Masih diam saja. Kini cowok itu jadi tambah berani. Diciumnya bibir cewek itu. Liani awalnya mendiamkan saja. Namun kini dirasakan, ciuman cowok itu not bad juga. Jadi ia mulai menanggapinya. Ia mulai ikut mencium cowok itu. Tak lama kemudian mereka berdua berciuman saling berpagutan di dalam bioskop. Lidah mereka saling beradu di dalam mulut yang saling melekat itu. Tak jelas siapa mendominasi siapa. Karena keduanya sama-sama aktif.

    Baca Juga Cerita Seks Liani 4: The Sweet Young and Innocent Girl

    Lalu cowok itu mulai menggerayangi tubuh Liani. Diraba-rabanya dada cewek itu. Dirasakannya payudaranya yang lumayan berisi juga. Begitu dapat kesempatan memegang payudara, seketika nafsunya langsung naik. Kemudian cowok itu menciumi leher putih Liani. Dikecup-kecupnya leher yang putih halus itu. Dan dibukanya kancing baju seragam Liani satu satu. Samar-samar nampak kulit tubuhnya yang putih mulus. Hmmm, sungguh indah. Ia sudah lama sering membayangkan cewek yang putih kayak Liani gini. Tapi baru kali ini ia merasakannya. Samar-samar kelihatan gundukan dada bagian atas yang tak tertutup oleh bra cewek ini. Lalu dibukanya bra itu. Diulurkan tangannya ke punggung cewek itu. Namun ternyata kaitannya tak disitu. Sehingga tangannya berpindah ke depan. Dengan sekali tarik, dilepasnya kaitan di bagian depan branya itu. Kemudian dibukanya bra itu. Dan, ia sungguh terpana menyaksikan dada yang putih dan indah milik Liani. Meski samar-samar, namun sungguh menggairahkan! Segera direngkuhnya dada itu. Diraba-rabanya. Dan diusap-usapnya kedua putingnya yang menonjol dan sensitif itu dengan ibu jarinya. “Ooh” keluh Liani saat kedua putingnya diusap-usap cowok itu. Kemudian cowok itu meremas-remas dengan lembut payudara yang padat berisi dan kenyal itu. Oh, sungguh puas rasanya bisa memegang dan meremas-remas payudara telanjang cewek yang cakep dan putih kayak gini! Cewek ini betul-betul sexy sekali. Apalagi dengan dada yang telanjang gini. Apalagi dengan dadanya yang ada dalam genggaman tangannya gini! Cowok itu makin merapatkan dirinya ke cewek itu. Kini kepalanya turun ke dada cewek itu. Mulutnya segera mencium payudara cewek itu. Lalu menjilati. Dan menyedot-nyedot kedua putingnya kiri kanan bergantian. Oooh! Liani mulai “naik” dengan aksi cowok itu. Apalagi ia cukup jago dalam merangsang payudaranya. Termasuk saat menjilati dan menghisap putingnya. Ditambah lagi, tubuhnya yang sejak tadi agak kedinginan karena ac bioskop itu, kini “dihangatkan” oleh kecupan-kecupan cowok itu terutama di payudaranya. Dadanya terasa hangat saat cowok itu menghisap-hisap dan mengenyot-ngenyot putingnya.

    Liani juga ikutan beraksi. Tangannya menggerayangi tubuh cowok itu. Memegang dadanya yang bidang. Lalu tangannya turun ke bawah. Ke perut. Dan turun lebih bawah lagi. Tangannya merasakan ada benda keras di dalam celana cowok itu. Kini ia ingin menguji ketahanan cowok itu. Kalo nggak mampu, mending diketahui sekarang daripada tahunya belakangan. Ditaruhnya tangannya di selangkangan cowok itu. Ia memegang-megang bagian pangkal paha cowok itu. Sampai akhirnya disentuhnya batang yang mengeras di dalam celana itu. Sementara cowok itu jadi kaget dengan reaksi Liani ini. Tak disangka-sangkanya cewek yang cakep dan tampangnya sedemikian polos bisa melakukan ini. Tak disangkanya cewek ini rupanya sudah punya cukup pengalaman juga. Ia jadi makin senang. Dibiarkan cewek ini berbuat semaunya. Termasuk setelah itu dilepasnya sabuk celananya. Dibukanya retsleting celana panjangnya. Dan…tangan yang putih mungil itu menyusup masuk ke celana dalamnya. Memegang batangnya yang telah mengeras sejak tadi-tadi. Tak hanya sekedar memegang saja, tapi tangan mungil itu mengocok-ngocok batangnya dan jari-jarinya mengusap-usap kepala dan leher penisnya. Oooh! Hampir meloncat ia rasanya karena nikmatnya tak terbayangkan saat penisnya dikocok-kocok dan diusap-usap oleh cewek cakep di sebelahnya ini. Oleh karena itu, tentu ia tak mau kalah dengan cewek ini. Tindakan cewek itu dibalasnya dengan setimpal. Dibukanya rok seragam cewek itu. Samar-samar terlihat pahanya yang sungguh putih itu. Diraba-rabanya paha mulus itu terutama pangkalnya. Lalu tangannya dimainkan di atas celana dalam cewek itu. Jari-jemarinya menggelitik daerah sekitar vaginanya. Oooh, oohhhh. Cewek itu mulai mendesah-desah. Apalagi saat jarinya kini dimainkan di liang vaginanya. Bahkan jarinya itu ditekan-tekan ke dalam liang itu, sampai akhirnya masuk sedikit. OOHhhhhh! Liani secara spontan mendesah. Lalu tangannya ikut-ikutan dengan yang dilakukan cewek itu tadi, yaitu… disusupkannya di dalam celana dalam cewek itu.

    Ouw! Dirasakannya tangannya mengenai bulu-bulu di daerah tersembunyi itu. Sungguh lebat sekali bulu-bulunya! Lalu tangannya turun ke bawah dikit. Kini tangannya mencapai daerah terlarang dari cewek ini. Namun cewek ini diam saja saat tangannya mencapai daerah terlarangnya. Malah ia menikmatinya! Segera tangannya dimainkan di daerah vagina cewek itu. Cewek itu makin mendesah-desah. Apalagi saat tangannya menemukan dan merangsang klitoris cewek itu. Dilihatnya cewek itu merintih-rintih dan mendesah-desah serta tubuhnya menggelinjang-gelinjang. Hanya suara desahannya saja yang ditahannya. Sehingga ia mendengar desahan-desahan pelan cewek itu. Apalagi setelah mulutnya kini kembali mengenyot-ngenyot dada cewek itu. Dirasakannya vagina cewek itu basah berair. Demikianlah Liani yang tadinya agak memandang rendah cowok ini dan bermaksud “mengetest”nya kini ternyata tidak hanya cowok itu lulus ujian tapi juga mampu membuatnya lupa diri. Ia lupa dengan niatnya ingin mengetestnya karena sekarang malah ia jadi menggelinjang-gelinjang kenikmatan sudah lupa akan segalanya. Namun ternyata cowok itu tidak berhenti sampai disitu saja dalam hal “memanaskan” dirinya. Karena cowok itu kini berjongkok di depan Liani, membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dan….mulutnya menjilati vaginanya. Oooohhhh! Liani jadi makin tak tahan lagi untuk tidak menggeliat-geliatkan tubuhnya. Apalagi teknik jilatan cowok itu lumayan juga. Paling tidak cukup untuk membuatnya jadi basah kuyup. Oleh karena di dalam gedung bioskop yang ruang geraknya terbatas, mereka tak mau berlama-lama. Begitu tahu Liani telah siap, segera dilepaskannya celana dalam cewek itu. Ia harus melepas sepatu cewek itu dan meloloskan celana dalam itu dari tubuh cewek itu. Supaya lingkup geraknya lebih bebas. Kemudian ia menurunkan celananya berikut celana dalamnya. Dan, dengan menunggingkan tubuh Liani, bleesss! dimasukkannya penisnya ke dalam vagina cewek itu dalam posisi doggy style. Disodok-sodoknya vagina itu yang dirasakannya amat sempit itu. Kedua tangannya memegang payudara cewek itu. Ditepuk-tepuk dan diremas-remasnya. Akhirnya cewek itu berhasil disetubuhinya juga. Cewek yang di luar tadi mengacuhkan dia dan memandang rendah dirinya. Namun sekarang keadaannya sungguh berbeda. Kini dirinya berada di dalam tubuh cewek itu, dan menikmati cewek itu!

    Sementara Liani sungguh menikmati genjotan penis cowok itu di dalam tubuhnya. Ia dengan lirih mendesah-desah saat penis cowok itu menyodok-nyodok di dalam dirinya. Apalagi ditambah ketegangan bahwa kegiatan itu berlangsung di tempat umum, di dalam bioskop! Sementara cowok ini ternyata sungguh perkasa mengocok-ngocok vaginanya. Setelah itu mereka berganti posisi. Kini cowok itu duduk dibangku bioskop itu. Sementara Liani duduk di pangkuannya. Tapi sebelum itu, rupanya Liani ingin menelanjangi bagian bawah cowok itu, sama seperti cowok itu yang sebelumnya melepas celana dalamnya. Dilepasnya celana panjang dan celana dalam cowok itu dari tubuhnya sehingga kini bagian bawah cowok itu telanjang. Sementara, cowok itu menyingkap rok seragamnya yang dikenakannya itu, sehingga kini pantat dan bulu kemaluannya terbuka bebas. Seandainya gedung itu tidak gelap dan ada orang yang menoleh ke belakang, tentu orang itu bisa melihat kedua paha dan bulu kemaluannya dengan jelas! Kini Liani duduk dengan manis di pangkuan cowok itu. Namun tentu bukan sekedar pangkuan biasa. Tapi penis cowok itu masuk menembus ke dalam vaginanya. Setelah itu, giliran Liani yang menggoyang tubuhnya sendiri naik turun. Sementara kedua tangan cowok itu memainkan payudaranya.
    “Oooh….ohhhhh……ohhhhhh…….ohhhhhhh”
    Ia terus mendesah-desah. Dan ia terus menggoyang tubuhnya naik turun. Beberapa saat lamanya. Sampai akhirnya,
    “Uuuuuhhhhhhhhhhhhh…..uuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh….uuuuuuuhhhhhhhhhhhhh”
    ia melenguh-lenguh panjang, saat ia mengalami orgasme. Orgasme di dalam gedung bioskop karena disetubuhi oleh cowok tak dikenal! Oleh cowok yang awalnya dipandang rendah!

    Setelah Liani orgasme, ia melepaskan tubuhnya dari penis cowok yang masih mengeras itu. Kemudian cowok itu menyuruh Liani untuk mengulum penisnya.
    “Sekarang giliran lu yang isep dong say.”
    “OK, tapi jangan dikeluarin ya. Kalo mau keluar, bilang ya.”
    “Beres dah,” kata cowok itu.
    Segera Liani dengan patuh mengemut buah zakar cowok itu. Lidahnya menjilat-jilat buah zakar cowok itu. Lalu mulutnya mengulum dan menghisap-hisap batang penis itu.
    “Shleeb..shleeeb…shleeeb…”
    Seperti mengemut ice lolipop saja Liani saat itu. Cuman bedanya ini lebih besar.
    Lalu ujung lidahnya digunakan untuk menjilat batang penis itu dari pangkal dekat buah zakar, terus naik ke atas sampai ke ujung kepala penis yang disunat itu. Lidahnya menjilati leher penis itu, dan mengitarinya, sampai tiga kali. Lalu seluruh bagian kepala penis itu disapunya dengan ujung lidahnya.
    Setelah itu, balik lagi disepong-sepongnya batang penis itu. Seperti ice lolipop tadi.
    “Shleeb..shleeeb…shleeeb…”
    Kemudian Liani mengeluarkannya dari mulutnya. Ia takut kalau-kalau isinya akan segera keluar.
    Tapi saat itu tiba-tiba cowok itu mengocok penisnya, saat penis itu tepat berada di depan mukanya. Dan….
    tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt.
    Penis itu memuncratkan seluruh isinya, membasahi muka Liani! Membuat mukanya kini jadi belepotan penuh sperma cowok itu!
    Karena cowok itu menahan kepalanya dan tak memberinya kesempatan untuk menghindar. Ia memang sengaja ingin memuntahkan isi penisnya itu ke muka cewek ini!

    Yah, sudah dibilang, jangan dikeluarin kayak gini, batin Liani, sekarang jadi belepotan dah muka gua. Di dalam gedung bioskop lagi. Mana abis ini gua mau ketemu sama teman gua lagi.
    Sialan betul nih cowok, sudah dikasih enak malah ngerjain orang.
    Sementara cowok itu nampak puas menumpahkan isi penisnya ke wajah cakep Liani. Ia tersenyum cengengesan melihat wajah cewek itu sekarang jadi belepotan karena spermanya.
    Karena Liani tidak ingin sperma yang membasahi wajahnya itu turun ke bawah ke tubuhnya, segera ia mengambil apa yang ada di dekatnya untuk mengelap mukanya itu. Dan akhirnya digunakannya celana panjang cowok itu untuk mengelap mukanya.
    Sialan, dua kali main di dalam mal, momen “crott” nya nggak ada yang bener, gerutunya dalam hati.
    Cowok itu sebenarnya tidak ingin Liani menggunakan celana panjangnya untuk mengelap mukanya itu. Namun dalam hal ini ia kalah cepat dengan cewek itu. Karena saat itu ia terlena karena puas menyaksikan wajah cewek itu belepotan. Tak lama kemudian, Liani mengaitkan kembali branya dan mengancingkan baju seragamnya.
    “Gua ke toilet dulu ya,” kata Liani, karena ia ingin cuci muka. Saat ia ingin membawa celana dalamnya, cowok itu tidak memberikannya.
    “Lu pakenya disini aja. Nanti sehabis lu balik dari toilet,” kata cowok itu.. Karena setelah ini ia masih ingin menggrepe-grepe cewek ini.
    “Lu bawa ini aja. Ke toilet sekalian tolong bersihin ini,” kata cowok itu sambil menyodorkan celana panjangnya yang basah kena spermanya sendiri itu,” Tolong lu bilas dengan air supaya nggak bau.”
    Sialan cowok ini, pikir Liani. Habis mainin orang, sekarang malah main nyuruh aja. Emang pikirnya gua pembantunya. Enak aja suruh orang nyuci celananya. Namun Liani tidak membantah. Dibawanya celana panjang milik cowok itu ke dalam toilet. Cerita Maya

    Cowok itu lagi duduk dengan santai menonton film bioskop itu. Baru saat inilah ia menonton film di layar depan itu. Ia agak kecapean juga setelah barusan maen dengan cewek itu. Gila bener hari ini. Mimpi apa gua bisa maen sama cewek kayak dia itu. Cakepnya dan putihnya kayak gitu. Apalagi ternyata dia cukup jago juga maennya. Hatinya benar-benar puas! Tapi lama kelamaan kakinya terasa kedinginan juga. Makin lama ac bioskop itu rasanya makin dingin. Apalagi orang di dalam gedung itu hanya segelintir. Lama bener sih cewek itu nggak balik-balik, pikirnya. Lho! Saat itu ia baru sadar ternyata celana dalamnya nggak ada disitu. Rupanya terbawa waktu cewek itu membawa celana panjangnya. Ingin rasanya ia memburu cewek itu ke toilet memintanya untuk cepat-cepat kembali. Namun itu tidaklah mungkin karena saat ini ia tak bercelana. Biarlah gua tunggu cewek itu datang aja. Namun ternyata cewek itu nggak datang-datang juga. Sampai akhirnya filmnya berakhir dan lampu gedung dinyalakan.

    Sesaat kemudian…
    “Eh, lu tahu nggak,” kata Herlina kepada Liani,” Barusan ada cowok yang digiring satpam. Gara-garanya ia keluar dari gedung bioskop nggak pake baju. Bajunya digunakan untuk menutupi selangkangannya. Soalnya cowok itu nggak pake celana. Dan, tahu nggak, hihihi, ternyata cowok itu pake celana dalam cewek, warnanya merah muda lagi.”
    “Lu baru dateng sih, jadi nggak ngeliat. Orang-orang pada heboh. Cewek-cewek yang di deketnya pada teriak-teriak. Tapi abis itu pada ketawa semua. Kayaknya orang gila deh itu.”
    Liani hanya tersenyum geli membayangkan itu. Biar tahu rasa, cowok nggak tahu diri. Sudah dikasih enak malah ngelunjak. Saat cowok itu menyuruhnya membersihkan celana panjangnya, sekaligus diam-diam dicomotnya juga celana dalam cowok itu. Setelah ia membersihkan mukanya, ia langsung keluar kompleks bioskop itu. Tentunya dengan menyembunyikan celana itu di dalam tasnya. Supaya nggak ketahuan orang. Setelah itu ia beli celana dalam yang langsung dipakainya di dalam toilet. Dan celana cowok itu dibuangnya di tempat pembuangan sampah yang sepi dan agak jauh dari mal itu. Setelah itu, baru ia balik lagi ke mal itu.

    —@@@@@@@—–

    Itulah dua cerita pendek tentang pengalaman Liani di mal.
    Liani will be back in full story in episode 6.

  • Liani 4: The Sweet Young and Innocent Girl

    Liani 4: The Sweet Young and Innocent Girl


    2788 views

    Pada suatu hari di salah satu SMU swasta terkenal di kota S….
    Pukul 14.10…

    Cerita Maya | Saat itu kegiatan belajar mengajar murid siang sedang berlangsung. Sementara murid pagi telah pada meninggalkan sekolah.
    Namun ternyata ada seorang siswi pagi yang masih berada di lingkungan sekolah. Ia berjalan menuju ke bagian belakang sekolah. Ia sebenarnya mengenakan seragam putih abu-abu biasa. Namun apabila diperhatikan dengan jeli, baju seragam yang sekarang dipakainya nampak baru; tidak sama dengan yang dipakainya pagi tadi. Bahkan bra yang dikenakan dibalik baju seragamnya pun juga beda. Selain modelnya, warnanya pun juga beda. Pagi tadi ia mengenakan bra warna coklat, sekarang biru tua. Wajahnya segar seperti baru mandi kurang dari sejam yang lalu dan ujung rambutnya pun sebagian masih rada basah. Tak jelas apa keperluan cewek ini datang balik ke sekolah siang-siang gini. Padahal sebelumnya ia telah meninggalkan sekolah seusai pelajaran terakhir selesai pukul 12.30.

    Siswi itu berjalan menuju ke arah belakang sekolah. Bisa jadi ia balik ke sekolah dari rumahnya karena ada barangnya yang cukup berharga yang ketinggalan (handphone, misalnya). Dan sepertinya barangnya itu ketinggalan di kantin karena kini ia berjalan menuju kesana. Cerita Maya

    Saat siswi itu berjalan tak jauh dari kantin, muncullah seorang siswa yang juga memakai seragam SMU dari dalam kantin. Namun dari emblem di baju seragamnya serta penampilannya, ia bukanlah murid SMU itu. Cowok itu berambut keriting dan gondrong. Tampangnya liar. Dua kancing atas bajunya terbuka. Bajunya diluar celana panjangnya. Umurnya nampak terlalu dewasa untuk anak SMU, yang kelas 3 sekalipun. Seandainya tidak memakai seragam SMU, penampilannya lebih mirip anak berandalan atau preman. Kulitnya coklat kehitaman seperti terlalu sering berjemur di matahari.

    Saat melihatnya, cowok itu menatap lekat-lekat siswi itu dengan pandangan kurang ajar dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti seolah ingin menelanjanginya. Lalu ia bersuit-suit dengan matanya masih jelalatan ke arah siswi itu.
    “Suitt….Suiiitttt”

    Siswi itu menoleh ke arah cowok itu. Mungkin ia heran dengan tingkah laku cowok itu. Sepertinya ia tak sadar kalau ia mempunyai daya tarik seksual yang tinggi yang selalu menarik perhatian cowok. Karena memang cewek ini luar biasa cakep. Walau saat itu ia tidak memakai make-up. Dan cakepnya tipe innocent yang menunjukkan kalau ia adalah cewek baik-baik. Rambutnya panjangnya kira-kira di pertengahan antara bahu dan sikunya. Rambutnya agak berombak dan dicat agak kecoklatan. Kulitnya putih. Wajahnya oriental dan tak kalah menarik dibanding bintang film Korea atau Mandarin.

    Gayanya pun elegan. Kelihatan kalau ia berasal dari keluarga yang cukup berada. Memang ia mengendarai mobil sendiri ke sekolah.

    Bodi tubuhnya proporsional. Bentuk tubuhnya juga oke. Meski wajahnya innocent, namun sepertinya ia tahu bagaimana cara berdandan dan berpakaian untuk membuat mupeng cowok tua maupun muda. Bahkan disaat memakai seragam pun, ia mampu menampilkan daya tarik kewanitaannya. Baju seragam yang dipakainya sungguh pas dengan bentuk tubuhnya. Pinggangnya kelihatan ramping. Rok abu-abunya panjangnya beberapa senti di atas lutut. Roknya tak terlalu ketat namun cukup untuk memperlihatkan bentuk pantatnya yang cukup berisi. Baju seragam putihnya berada di dalam roknya dan tertata dengan rapi. Bahannya terbuat dari kain halus yang mengikuti bentuk tubuhnya sehingga bagian dadanya nampak menonjol. Baju seragam putihnya tak terlalu tipis, tapi cukup untuk membuat bra di baliknya terlihat terutama karena warnanya yang biru tua. Memang kadang ia suka memakai bra warna gelap yang begitu kontras dengan baju seragam dan kulitnya yang putih. Dan saat ini pun ia memakai model bra yang tanpa tali di bahunya sehingga membuatnya nampak semakin sexy.

    Tak heran kalau cowok liar itu menjadi nafsu melihat cewek ini. Apalagi ia sedang berjalan sendirian dan suasana sekolah saat itu sepi banget. Karena memang cewek ini adalah cewek favorit di sekolah itu. Nama cewek ini adalah Liani, seorang siswi kelas 3 IPA. Di usianya yang 18 tahun lewat beberapa bulan, ia telah menjadi gadis muda yang cakep dengan daya tarik yang tinggi buat kaum cowok. Tanpa disadarinya, ia sering membuat banyak murid cowok (dan juga para guru) jadi mupeng dibuatnya. Meski begitu, ia adalah cewek baik-baik dengan reputasi yang bersih. Tak pernah terdengar isyu-isyu yang negatif akan dirinya. Bahkan ia termasuk salah satu murid pandai yang selalu menduduki ranking 3 besar di kelasnya. Oleh karena itu ia dijuluki “The Sweet Young and Innocent Girl”.

    Liani

    Namun Liani sama sekali tak menanggapi cowok itu. Ia segera berjalan terus dan ternyata ia tidak masuk ke dalam kantin. Sementara cowok itu memandangi bagian belakang tubuh indah Liani yang berjalan menjauhinya.

    Siapakah sebenarnya cowok itu? Apakah ia betul-betul anak SMU ataukah orang yang menyusup ke dalam sekolah?

    Cowok itu adalah Rohim. Ia adalah keponakan Pak Sarip, pesuruh sekolah yang telah lama mengabdi di sekolah itu. Pekerjaan utamanya adalah membersihkan ruang kelas setelah proses belajar mengajar selesai. Karena telah puluhan tahun mengabdi disana, yayasan sekolah menyediakan rumah tinggal kecil buat dia dan istrinya di dalam kompleks sekolahan, tepatnya di ujung belakang. Saat itu ia dan istrinya lagi cuti pulang kampung beberapa minggu mengunjungi anak perempuannya. Sementara pulang kampung, Pak Sarip menyuruh Rohim menggantikan pekerjaannya yang telah digaji oleh pihak sekolah, sehabis ia pulang sekolah. Selama itu, pihak sekolah membolehkan Rohim untuk tinggal di tempat Pak Sarip.

    Rohim sendiri sebenarnya bukan murid sekolah itu. Dulunya memang iya karena yayasan sekolah memberi fasilitas khusus buatnya sebagai keponakan Pak Sarip. Namun dasar otaknya tidak mencukupi dan tidak ada kemauan untuk belajar, akhirnya ia tidak naik kelas dua kali sampai terpaksa harus keluar dari sekolah itu.

    Sekarang ia duduk di kelas 3 di SMU yang kualitasnya tidak jelas. Disana ia jadi pentolan gerombolan anak-anak nakal yang disegani. Memang ia adalah anak jalanan yang liar dan jago berkelahi. Ditambah lagi usianya yang termasuk senior untuk ukuran murid kelas 3 SMU, yaitu 21 tahun. Ia dua kali tidak naik kelas waktu SMU dan satu kali sewaktu SD. Meski orangnya dan juga tampangnya amburadul, namun ia cukup sering gonta ganti cewek dan sudah sering melakukan hubungan intim dengan beberapa teman ceweknya. Namun tentu cewek-cewek yang pernah dikencaninya berbeda jauh kelasnya dan bukan tipe seperti Liani ini. Jadi tak heran kalau ia jadi penasaran dan mupeng dengan Liani.

    Pukul 14.20…

    Beberapa saat setelah pertemuan singkat itu, suasana sekolah kini benar-benar sepi lengang. Selain kegiatan di dalam kelas, sepertinya sama sekali tidak ada aktifitas berarti lainnya di luar kelas.

    Benarkah sama sekali tidak ada aktivitas di luar kelas?
    Ternyata tidak benar!

    Karena di ujung belakang sekolah, tepatnya di dalam rumah Pak Sarip pesuruh sekolah, terdapat sepasang cowok dan cewek yang sedang asyik berciuman. Dua-duanya masih memakai seragam sekolah. Cowok itu berambut gondrong dan tampangnya liar. Kulitnya hitam. Ternyata ia adalah Rohim yang tadi. Rupanya ia memanfaatkan situasi dimana Pak Sarip dan istrinya lagi mudik, untuk membawa ceweknya masuk ke dalam rumah untuk bisa bebas berbuat apa saja.

    Namun yang aneh adalah, ternyata cewek yang bersamanya itu bukanlah pacarnya. Diah, ceweknya yang sekarang, berambut pendek dan berkulit sawo matang. Sementara cewek ini berambut panjang dan berkulit terang.

    Dan ternyata…cewek itu adalah Liani! Liani yang tadi juga, yang barusan berpapasan!!!

    Sungguh ini betul-betul kejutan yang tak disangka-sangka. Liani dan Rohim berduaan??! Sungguh setan pun tidak akan menduga. Karena mereka bagaikan Beauty and the Beast, dalam arti yang sebenar-benarnya!! Selain penampilan keduanya bagai bumi dan langit, juga kontras sekali perbedaan diantara mereka. Yang cewek berasal dari kelas elit orangnya kalem dan pandai, sementara yang cowok orangnya liar, berandalan dan hanyalah pesuruh sekolah.

    Bagi Rohim, tentu adalah hal yang lumrah kalau ia tertarik dengan Liani. Cowok mana yang nggak tertarik dengannya. Namun yang sulit dipercaya adalah kok bisa-bisanya Liani mau berduaan gini dengan Rohim. Malah kelakuan mereka seperti layaknya orang yang berpacaran saja. Padahal Liani biasanya tidak sembarangan bergaul terutama dengan cowok yang kelasnya jauh dibawahnya. Ditambah lagi reputasinya selama ini sebagai cewek baik-baik. Namun kenyataannya, sekarang mereka asyik berduaan dan kini lagi berciuman bibir dengan Rohim!

    Tak berapa lama kemudian, suasananya jadi makin heboh lagi. Kondisi pakaian mereka kini telah amburadul, yang membuat kejadian ciuman tadi (yang sebenarnya sudah cukup menghebohkan) jadi seperti hal kecil yang tak berarti.

    Saat itu keduanya sedang berdiri. Baju seragam putih Liani yang sebelumnya tertata rapih di dalam rok abu-abunya, sekarang telah berada di luar rok abu-abunya. Dan seluruh kancingnya telah terbuka! Bra biru tua yang tadi dikenakannya kini entah kemana, sudah tak melekat di badannya lagi!! Baju seragam putihnya terbuka lebar, tersibak dan tertahan di samping kiri dan kanan payudaranya. Sehingga payudaranya yang indah dan sering menjadi obyek fantasi banyak cowok itu kini telah terbuka dengan bebasnya. Tentu orang paling beruntung saat itu adalah Rohim yang dengan bebas merdeka bisa memandanginya dalam jarak dekat. Payudara Liani ternyata cukup berisi juga. Keduanya berdiri dengan tegak dan kencang dan tidak sagging ke bawah. Sementara kedua putingnya juga berdiri dengan kencang tegak lurus dengan payudaranya dan tidak turun ke bawah. Kedua payudaranya betul-betul simetri, bagai pinang dibelah dua. Ukuran bra-nya ditaksirnya 34C. Sementara kedua putingnya berwarna kemerahan nampak menonjol di tengah payudaranya yang putih. Keduanya nampak segar dan menggairahkan dan sepertinya adalah titik sensitif bagi cewek ini. Sementara itu rok abu-abunya masih melekat di tubuhnya namun celana dalamnya telah melorot sampai ke bawah kaki menyentuh sepatu dan kaus kakinya!

    Betul-betul gila! Liani, cewek yang innocent itu nurut aja ditelanjangin kayak gitu oleh Rohim??

    Sementara kondisi pakaian Rohim juga tak kalah amburadul. Celana seragam berikut celana dalamnya telah melorot ke bawah. Dua kancing baju atasnya terbuka (memang ia tidak pernah mengancingkan dua kancing baju atasnya). Nampak penisnya yang besar dan hitam berdiri dengan tegaknya menembus di antara potongan baju seragamnya.

    Setelah itu adegannya berlanjut dengan lebih gawat lagi. Karena Rohim tak menyia-nyiakan kesempatan emas di depan mata itu untuk memulai aksinya. Ia mengulum payudara telanjang cewek murid kelas 3 SMU yang cakep itu dibarengi dengan satu tangannya meraba-raba payudara yang satunya lagi, sementara tangannya yang lain berada di dalam rok Liani. Sementara Liani nampak dengan sukarela menikmatinya. Tidak hanya itu, malah kemudian ia “membalas budi” Rohim dengan tangannya yang putih dan halus memegang-megang dan mengocok penis Rohim.

    Demikianlah kenyataan yang sulit dipercaya. Liani, The Sweet Young and Innocent Girl dengan tak disangka-sangka ternyata bisa berbuat seperti ini. Dan melakukannya dengan Rohim pula. Dan ia sama sekali tak canggung melakukan itu. Sepertinya ini bukan kali pertama ia melakukan itu.

    Pagi harinya pukul 10.07…

    Tiba-tiba ada sms masuk ke HP Liani yang pesannya berikut, “Say, jam 1 nanti gue balik ke sekolah.” Ternyata pengirimnya adalah Rohim.
    Lalu ia membalasnya,” Lalu???”.
    “Loe datang ke tempat biasa donk. Gue pengin melakukan itu lagi dengan loe.”
    “Lihat nanti deh. Tapi gue nggak janji.”
    “Wah jangan gitu donk. Gue selalu terbayang-bayang sama loe yang sexy putih mulus dan menggairahkan itu.”
    Tak ada balasan dari Liani.
    “Ayo donk say, dijamin loe pasti bakalan puas deh.”
    Akhirnya Liani membalas, “Ya udah lihat nanti deh. Sudah jangan sms terus. Gue jadi nggak bisa konsen nih.”
    “OK ini terakhir. Tapi nanti siang gue tunggu ya.”
    Tak ada balasan dari Liani.

    Pukul 12.40…

    Ternyata setelah selesai jam belajar mengajar pukul 12.30, Liani malah pulang balik ke rumahnya. Namun setelah makan siang dan mandi, rupanya ia berubah pikiran. Ia balik lagi ke sekolah dengan mengenakan baju seragam yang baru.

    Pukul 14.05-14.16…

    Liani sampai di sekolah dan berjalan ke belakang sekolah menuju ke arah kantin yang juga searah dengan rumah Pak Sarip. Saat itu Rohim sedang di dalam kantin dan melihatnya datang. Segera ia keluar dan dengan iseng bersiul ke arah dirinya. Penis Rohim seketika menegang begitu ia melihat Liani. Ia langsung membayangkan diri Liani yang cakep dan sexy itu yang tak lama kemudian akan bisa segera dinikmatinya.

    Namun rupanya Liani tidak mau menanggapi keisengan Rohim apalagi di tempat terbuka seperti ini. Karena ia ingin jaga image dirinya dan tidak ingin ada orang yang mengetahui hubungan tak semestinya itu. Karena itu ia pura-pura tidak kenal dengan Rohim dan meninggalkannya begitu saja.

    Akan tetapi ia ternyata berjalan memutar sebelum akhirnya menuju ke arah tempat Pak Sarip / Rohim. Saat itu Rohim telah sampai duluan disana. Karena saat itu begitu sepi dan sama sekali tidak ada orang, maka buru-buru Liani segera masuk ke tempat Rohim.

    Pukul 14.17 dan seterusnya…

    Begitu Liani masuk, segera pintu depan dikunci. Tanpa menunda-nunda lagi, Rohim segera menciumi Liani dengan liar yang dibalas dengan tak kalah liarnya. Bibir bertemu bibir, membuat mereka saling berpagutan bagaikan dua ular cobra yang sedang marah. Rohim menciumi seluruh wajah cakep Liani, sementara Liani juga tak mau kalah. Segera ia menciumi wajah Rohim yang hitam itu. Sehingga wajah keduanya jadi basah karena alir liur di beberapa tempat.

    Lalu Rohim mengunci bibir Liani dengan bibirnya. Sejenak mereka berciuman bibir, merasakan kehangatan bibir pasangan masing-masing. Yang segera dilanjutkan Liani dengan melakukan frenching ke dalam mulut Rohim yang juga dibalas hal serupa. Aksi keduanya begitu liar. Terutama Liani yang mengingatkan akan aksi Zhang Zhiyi dalam film Crouching Tiger, Hidden Dragon yang langsung menjadi liar saat bertemu dengan pacar gelapnya. Rupanya tanpa sepengetahuan siapa pun, Liani diam-diam menjalin hubungan terlarang yang tanpa batas dengan Rohim. Tentu saja Rohim sama sekali tidak berkeberatan dengan rejeki nomplok ini.

    Setelah puas berciuman, Rohim melanjutkan inisiatif dengan melepaskan diri dari Liani. Lalu kedua tangannya mulai membukai kancing baju seragam Liani. Nampak terlihat dua gundukan dadanya yang terbalut bra warna biru tua. Nampak kontras sekali dengan kulit tubuhnya yang putih. Nampak terlihat belahan dada bagian atasnya yang putih dan sexy serta bahunya yang putih mulus terbuka bebas karena bra-nya tanpa tali di bahu. Rohim melanjutkan aksinya dengan mengeluarkan baju seragam putih Liani dari dalam rok abu-abunya. Dalam hati ia gembira dengan pilihan bra yang dikenakan cewek ini karena dapat segera dibukanya dengan mudah. Segera kedua tangannya menggapai pengait bra di punggung Liani. Ooops. Ternyata tak ada disana. Segera kedua tangannya merengkuh bagian tengah depan branya. Dan dengan sekali goyang, terbukalah pengait bra biru tua itu. Diloloskannya cup sebelah kanan payudara Liani dan didorongnya ke belakang. Sementara tangan satunya menariknya dari sisi yang lain. Dengan mudah segera terlepaslah bra biru tua itu dari tubuh Liani. Segera dilemparnya bra itu ke lantai. Lalu ia sengaja menyibakkan baju seragam putih Liani lebar-lebar sehingga tertahan di sisi kanan kiri payudaranya. Sehingga kini kedua payudara Liani terbuka lebar-lebar dan ia bisa melihatnya dengan bebasnya.

    Memang payudara Liani betul-betul berkualitas tinggi dan indah menggoda. Keduanya begitu menantang untuk diraba-raba dan diremas-remas. Sementara kedua putingnya berwarna kemerahan nampak segar menantang untuk dikulum. Sejenak ia memandangi diri Liani, wajah cantiknya yang innocent namun dengan dadanya yang terbuka bebas, sungguh suatu pemandangan yang kontradiktif! Dan cewek ini bukan sembarangan cewek, tapi adalah siswi SMU kelas 3 IPA yang jadi idaman seluruh cowok di sekolah itu dan anak orang kaya pula! Sementara ia hanyalah dari golongan rendahan yang menjadi pengganti pesuruh sekolah disitu. Dan tampangnya sendiri jauh dari cakep, sementara cewek ini luar biasa cakepnya. Hatinya sungguh bergelora memikirkan ini semua.

    Namun rupanya Liani tak mau membiarkan dirinya dipandangi begitu saja. Karena ia segera mengambil inisiatif. Kembali diciuminya bibir Rohim dan mereka berdua melakukan frenching, lidah bertemu lidah dan saling bertautan. Keduanya saling merasakan hangatnya lidah pasangannya.

    Baca Juga Cerita Seks Liani 3: I Know What You Did Last Month

    Setelah puas, Rohim kembali mengambil inisiatif dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam rok abu-abu Liani dan meraba-raba dalamnya. Tentu paha Liani yang putih mulus itu habis diraba-rabainya. Serta jari-jemarinya menggesek-gesekkan vagina cewek putih itu yang masih tertutup oleh cd-nya.

    Lalu ia segera menyingkap rok Liani, sehingga terbukalah paha Liani yang putih mulus dan sexy itu. Namun fokusnya tidak ke pahanya, tapi ke cd biru tua itu. Segera kedua tangannya merengkuh cd itu dan dengan bersamaan kedua tangannya menariknya ke bawah. Sehingga kini terlepaslah cd itu sampai kaki bawah Liani yang tertahan oleh sepatu yang ada di kakinya.

    “Gila. Brutal banget sih loe”, kata Liani, namun ia sama sekali tak protes.

    Malah aksi liar Rohim itu dibalas dengan aksi yang tak kalah liarnya. Yang sungguh tak cocok dengan citranya sebagai cewek innocent selama ini. Karena ia sekarang melucuti celana Rohim. Pertama dilepaskannya sabuk di pinggang Rohim. Lalu tanpa canggung-canggung lagi, dibukanya retsleting celana panjangnya, kemudian diturunkan celana panjangnya berikut celana dalamnya sekalian.

    Sehingga kini kelihatan penis Rohim yang besar telah berdiri tegak menembus diantara belahan baju seragamnya. Kulit tubuhnya coklat kehitaman. Namun penisnya lebih hitam lagi dibanding bagian tubuh lainnya.

    Sementara Liani menelanjangi tubuh bagian bawah Rohim, baju seragamnya yang tadi tersingkap ke samping jadi kembali ke posisi normal dan sebagian rambutnya kini ada di depan dadanya. Sehingga ini menutupi pandangan Rohim ke payudaranya. Segera Rohim menyibakkan seluruh rambut Liani ke belakang dan “membetulkan” posisi baju itu dengan menyingkapkannya lagi ke samping.
    “Nah, gini baru lebih pas. Pas susunya,” katanya cengengesan.
    “Sialan loe. Nggak mau rugi banget,” komentar Liani namun ia membiarkan Rohim melakukan itu. Karena ia segera sibuk memegang-megang penis itu dengan tangannya yang putih dan halus. Ia sama sekali tidak canggung ataupun jijik dengan penis hitam dan besar milik Rohim. Malah dengan cekatan tangannya yang putih halus memijit-mijit dan mengocok penis Rohim. Dan inilah rupanya kegiatan ‘ekstrakurikuler’ dari siswi cakep yang ‘innocent’ itu.

    Sementara kedua tangan Rohim kini mulai meraba-raba kedua payudara Liani. Payudara Liani yang kencang dan lumayan besar itu kini keduanya berada dalam genggaman kedua tangan Rohim. Diremas-remasnya keduanya dengan tangannya yang hitam itu. Dirasanya kulit gadis itu begitu halus namun payudaranya cukup kenyal. Dipencet-pencet dan digoyang-goyangnya kedua puting berwarna kemerahan itu dengan jari-jarinya. Dan ternyata terbukti benar bahwa payudaranya terutama putingnya adalah titik-titik sensitif Liani. Karena kini ia mulai mengeluarkan desahan-desahan erotis dari mulutnya.
    “Ohhh, ooohhhh, ooohhhhh.”

    Rohim melanjutkan aksinya memainkan payudara milik gadis idaman sekolah itu dengan mulutnya. Mula-mula dijilatinya seluruh bagian payudaranya, dari bagian luar melingkar makin ke tengah. Sampai akhirnya dijilati salah satu puting Liani dengan lidahnya, sementara tangannya meremas-remas payudara yang satunya lagi dan menggoyang-goyangkan putingnya dengan jari-jarinya. Tangannya yang satu lagi mulai bergerilya ke bawah, masuk ke dalam rok seragam abu-abu Liani. Tangannya itu meraba-rabai rambut kemaluan Liani dan dilanjutkan dengan jarinya menggesek-gesekkan vagina Liani.

    Sementara Liani makin mengeluarkan desahan-desahan nikmat. Namun tangannya juga terus bekerja dengan mengocok-ngocok batang penis Rohim. Terutama bagian kepalanya yang besar dan disunat itu diraba-rabainya dengan jari-jari tangannya yang halus.
    “Wah, gede banget sih, Him, punya loe. Dan item banget lagi.”
    “Justru itu yang enak, Lian. Loe sukanya sama yang gede dan item gini khan. Kalo gua sukanya yang putih mulus dan kemerah-merahan gini,” kata Rohim menatap wajah Liani sambil tangannya meremas payudara Liani serta memainkan putingnya yang kemerahan,”Dan juga yang dibawah ini,” katanya sambil tangannya menggesek-gesekkan dinding vagina Liani,” “Trus juga yang ini enak diisep-isep juga,” katanya sambil menghisap puting Liani yang satunya lagi. Kali ini dihisap dan dikenyot-kenyotnya lalu mulutnya berpindah ke payudara yang satunya. Diemut-emutnya. Lidahnya bergerak melingkari puting yang sensitif akan rangsangan itu.
    “Oooh. Oohhhh. Gila Loe, Him. Aduuuh. Enaaakk.”
    “Lebih enak lagi kalo ntar barang gue yang kata loe gede dan item ini masuk ke tubuh loe yang putih mulus.”
    “Oooh. OOOOhhhhh. AAHhhhhh.”
    Liani tak menjawab perkataan Rohim karena ia sibuk mendesah-desah merasakan nikmatnya Rohim menyentuh ketiga titik paling sensitifnya.
    Sementara Liani makin mendesah-desah kenikmatan. Vaginanya telah mulai basah tak tahan oleh rangsangan Rohim. Sementara tangannya sendiri masih terus memainkan penis Rohim.

    Namun rupanya Rohim tak mau membiarkan cewek itu memainkan penisnya terlalu lama. Mungkin karena ia tak mau “habis” duluan. Rugi kalo ia “habis” duluan dan nggak sempat menggoyang tubuh cewek putih mulus ini, yang cakepnya nggak kalah dengan bintang film Mandarin.

    Segera ia melepaskan dirinya dari Liani. Kini gilirannya memainkan vagina Liani, bukan dengan tangannya tapi dengan lidahnya! Untuk itu dicopotnya kedua sepatu putih Liani berikut kaus kaki warna putih dan pink itu. Kemudian dikeluarkannya cd-nya yang terkait di kaki bawahnya.
    “Nah, gini nih biar bebas gerakan loe.”

    Lalu ia berlutut di depan Liani, kepalanya dimasukkan ke dalam rok cewek ini, kemudian dijulurkan lidahnya untuk menjilati memek cewek “innocent” ini dengan lidahnya.
    “Ooooh. OOHHHHH. Aduuhh. Enaak gilaa!”
    Liani, anak kelas 3 SMU yang cakep dan innocent itu yang jadi idaman seluruh cowok di sekolah itu, kini dibuat jadi tak berkutik dan mendesah-desah makin tak keruan oleh cowok pesuruh sekolahan itu.
    Apalagi sekarang kedua tangan Rohim meraih keatas menggenggam dan meremas-remas masing-masing satu payudara Liani.
    “Oooh. AAAHHHHHH. AAAAHHHHHHHH. AAAAAHHHHHHHHH.”

    Jilatan Rohim itu benar-benar ampuh. Sampai-sampai membuat Liani, cewek dengan reputasi tanpa cela itu, sekarang jadi basah kuyup vaginanya dibuatnya. Wajah Rohim pun jadi ikutan basah pula kena tetesan cairan dari vaginanya. Namun dengan liar ia terus menjilati vagina basah Liani sehingga jadi makin kuyup aja.

    Demikianlah permainan antara Rohim dan Liani. Awalnya keduanya sama-sama agresif dan saling mengimbangi. Namun makin lama Rohim semakin memegang kendali permainan sampai akhirnya kini Liani benar-benar pasrah dan mengikuti saja seluruh permainan Rohim. Hal ini menunjukkan bahwa Rohim jauh lebih berpengalaman dibanding Liani.

    Kini Rohim mengeluarkan kepalanya dari dalam rok SMU Liani. Dilepaskannya baju seragam putih SMU Liani dari tubuhnya. Kini ia menyaksikan Liani dengan tubuh bagian atas yang sama sekali bugil namun masih mengenakan rok abu-abu meski tanpa cd di dalamnya. Wajahnya yang cakep dan innocent dengan payudaranya terbuka bebas, sungguh kontradiktif dan menggairahkan. Ditambah lagi ia tahu betul cewek ini adalah cewek elit dan cewek idaman se-sekolahan.

    “Ayuk, sekarang loe duduk ya,” kata Rohim sambil menyuruh Liani duduk setengah tiduran di kursi sofa. Sementara ia melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Hingga sekarang Rohim telanjang bulat.
    Lalu disingkapnya rak abu-abu Liani ke atas dan kedua pahanya dibentangkan lebar-lebar. Sehingga kini Liani dalam kondisi duduk setengah tiduran dengan dadanya yang telanjang. Sementara rok abu-abunya tersingkap ke atas dan kedua kakinya terbuka lebar sehingga nampak jelas rambut kemaluannya dan liang vaginanya. Rambut kemaluannya ternyata cukup lebat juga diantara kedua pahanya yang halus dan putih mulus itu. Rohim segera meraba-raba paha putih mulus itu. Ia merasakan halusnya kulit tubuh Liani yang putih bersih itu.

    Lalu ia kembali menjilati vagina Liani dalam posisi terduduk setengah tiduran begitu. Sehingga kini Liani merasakan sensasi yang berbeda.
    “AAAHHHHHHHH. Aduuuhhhh. Ahhhhhhhh. Enakkkk. Ehhhmmmmm.

    “Nah sekarang tiba saatnya barang hitam gue menembus ke dalam tubuh loe yang putih mulus.”

    Bersamaan dengan itu didekatkan ujung penisnya ke liang vagina Liani yang kemerahan. Kepala penisnya nampak begitu besar sementara liang vagina itu begitu sempit. Namun sekali sodok, cleeep, kepalanya berhasil masuk sebagian ke vagina Liani. Lalu didorongnya sekali lagi dengan lebih kuat
    “Oooooooooooh,” desah panjang Liani.
    Dan blesss, hampir seluruh penis Rohim masuk ke dalam memek Liani. Dan sekali lagi, sleeeep, masuklah seluruh penis hitamnya ke dalam tubuh Liani.

    Begitu di dalam vagina Liani, segera dikocoknya penisnya yang hitam besar itu.
    “Aaaahhh. Aahhhhhh. Aaaahhhhh.”
    “Oooohhh. Ohhhhhh. Ohhhhhhhh.”
    Seluruh tubuh Liani jadi berguncang-guncang dibuatnya. Kedua payudaranya jadi berputar-putar mengikuti gerakan sodokan Rohim.
    Liani yang sebelumnya telah basah kuyup, rupanya tak bertahan lama. Hanya kurang dari satu menit disetubuhi oleh Rohim, ia akhirnya mengalami orgasme dengan teriakan-teriakan panjangnya yang erotis. Membuat Rohim semakin bersemangat untuk terus mengocoknya.
    “OHHHHHHHH. EHHHHHHHHH. EHHHHHHHHHH. OHHHHHH. YEEESSSS. AHHHHHHHH.”

    Dan Rohim memang masih jauh dari selesai. Karena memang ia ingin menikmati tubuh gadis dengan wajah oriental ini semaksimal mungkin. Untuk itu ia terus memompa penisnya di dalam tubuh Liani, membuat tubuh cewek cakep itu jadi berguncang-guncang.

    Akhirnya dilepaskannya rok abu-abu seragam Liani. Kini keduanya betul-betul telanjang bulat. Lalu di bangku sofa itu kembali kontolnya merasakan nikmatnya jepitan vagina Liani yang sempit. Kali ini dalam posisi doggy style. Kedua tangannya memegang pinggang Liani supaya ia bisa dengan leluasa mengenjot-enjot tubuh cewek ini. Payudara Liani yang menggantung ke bawah jadi berguncang-guncang dibuatnya.

    Kini mereka berubah posisi. Sekarang giliran Rohim yang duduk di atas kursi sofa itu. Penisnya mengacung ke atas dengan tegaknya. Lalu ia membimbing Liani untuk memangkunya di atas kedua kakinya dengan menghadap ke arahnya. Setelah mengatur posisi, akhirnya penis Rohim masuk ke dalam tubuh Liani. Kini gantian Liani yang menggoyang tubuhnya naik turun. Mengocok penis Rohim di dalam vaginanya. Kedua tangan Rohim meraba-raba payudara Liani.

    Sungguh hebat sekali pemandangan itu. Betul-betul kontras sekali perbedaannya. Yang satu cewek cakep dengan kulit putih dan tampang innocent, sementara yang cowok tampangnya jelek, kulitnya hitam, dan tampangnya liar kayak preman. Namun cewek innocent itulah yang justu aktif menggerakkan tubuhnya naik turun, membiarkan vaginanya ditembusi oleh penis besar cowok liar itu.
    “Ooohhhh, ooohhhhhh, ooohhhhhhhhh.”

    Setelah berganti posisi, kini Rohim membuat Liani telentang. Kakinya dibentangkan lebar-lebar, dengan salah satu kakinya ditaruh diatas sandaran sofa itu. Sehingga vaginanya kini terbuka bebas. Dalam posisi satu kaki terangkat begitu, Rohim memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani dan kembali mengocoknya. Liani dengan pasrah menikmati kocokan penis Rohim di dalam vaginanya yang mengguncang-guncang seluruh tubuhnya. Tubuhnya jadi ikut menggelinjang-gelinjang dibuatnya, seirama dengan rintihan-rintihan dan desahan-desahannya yang terdengar sangat erotis. Ternyata cewek cakep yang tampangnya innocent ini diam-diam doyan juga dengan penis cowok. Padahal bisa dipastikan hampir seluruh orang mengira cewek ini masih polos dan perawan.

    Rohim terus mengocok penisnya di dalam tubuh Liani. Jepitan vagina Liani sungguh nikmat rasanya. Sambil menikmati pemandangan indah tubuh Liani yang putih mulus berguncang-guncang serta payudara Liani yang bouncing gara-gara ulahnya itu. Sungguh puas rasanya menyetubuhi cewek yang cakepnya seperti Liani gini. Membuatnya serasa melayang di awang-awang. Sungguh puas hatinya menyaksikan ekspresi wajah cantik Liani saat itu. Ditambah lagi wajahnya yang innocent kini mengeluarkan “musik” desahan-desahan erotis yang menggelorakan hati itu. Apalagi kalau mengingat bahwa cewek yang sekarang sedang dinikmati itu adalah cewek yang kelasnya jauh diatasnya dan menjadi incaran para cowok. Namun sekarang justru dialah cowok beruntung yang sedang menikmati cewek idaman ini secara mutlak.

    Tak lama kemudian Liani mendapatkan orgasme yang keduanya, dalam posisi satu kaki terangkat begitu. Setelah itu Rohim menghentikan kocokannya di dalam vagina Liani. Kini ia pun juga sudah mau keluar. Setelah puas menikmati tubuh Liani dan membuatnya orgasme dua kali, kini giliran ia melampiaskan seluruhnya. Namun ia tidak akan mengeluarkannya di dalam vagina Liani. Kini giliran ia menagih “imbalan” dari cewek itu.

    Penisnya yang hitam besar kini mengkilap karena cairan pre-cum nya bercampur dengan cairan vagina Liani. Didekatkannya penisnya ke wajah Liani yang masih tiduran di bangku sofa itu dengan napas terengah-engah. Liani menjilati kedua pelirnya dan batang kontolnya sampai ke kepala penisnya juga. Kemudian dikulumnya kepala penis yang besar itu. Dan didalam mulutnya lidahnya saling beradu kontak dengan kepala penis Rohim itu. Seluruh bagian kepala penis Rohim habis dijilatinya, termasuk lehernya yang sangat sensitif itu.

    Sampai akhirnya membuat Rohim tak tahan lagi. Sesaat sebelum ejakulasi, dikeluarkannya penisnya dari dalam mulut Liani. Dan akhirnya ia mengalami ejakulasi dengan memuntahkan sperma yang cukup banyak, yang mendarat di beberapa tempat di wajah Liani. Ada pula yang sampai ke rambutnya. Setelah itu spermanya mengalir ke bawah membasahi leher dan dadanya. Kedua tangan Rohim mengusap-usap seluruh payudara Liani, sehingga spermanya kini tersebar di seluruh bagian payudara Liani. Tubuh Liani terutama dadanya jadi basah dan mengkilap karena sperma Rohim yang bercampur dengan keringatnya sendiri. Cerita Maya

    “Wah, gila. Benar-benar mantap deh loe. Memang beda deh. Rasanya kayak menikmati bintang film Mandarin. Betul-betul gua cowok beruntung bisa ngerasain cewek secakep loe. Pokoknya loe the best dah.”
    “Awas, loe jangan bilang-bilang ke siapa-siapa ya.”
    “Berees. Asal jangan lupa ‘iurannya’ aja. Lagian, loe juga suka khan meskipun gua cuman pesuruh sekolah.”
    “Aah, sialan loe.”
    Dan selesailah sudah “pertempuran” antara Rohim, cowok liar pesuruh sekolah dengan Liani, cewek top yang jadi favorit seluruh cowok di sekolah itu.

    Pukul 16.08…

    Liani dengan baju seragamnya yang tampak rapi di tubuhnya berjalan keluar menuju pintu depan sekolah. Saat itu para murid siang baru selesai istirahat dan mereka telah kembali ke kelas masing-masing. Sehingga suasana sekolah menjadi sepi.

    Tak lama kemudian ia masuk ke mobilnya dan men-staternya. Dan meluncurlah mobil itu meninggalkan sekolah menuju ke rumahnya.

    Demikianlah cerita tentang Liani, siswi kelas 3 IPA dengan reputasi yang bersih, gadis berumur 18 tahun yang cantik dan innocent, anak pengusaha kaya yang pandai.
    Liani, “The Sweet Young and Innocent Girl” yang ternyata “not so innocent” itu.

    Bagaimana awalnya kok bisa-bisanya ia menjalin hubungan dengan Rohim, sampai jauh melampaui batas suami istri itu?
    Bagaimana cerita Liani selanjutnya?
    Nantikan kisah-kisah selanjutnya, baik prequel-nya maupun sequel-nya.

  • Liani 3: I Know What You Did Last Month

    Liani 3: I Know What You Did Last Month


    2691 views

    Disclaimer:
    1.Cerita ini mengandung unsur pornografi yang tidak cocok buat anak di bawah umur atau orang-orang alim.
    2.Seluruh materi cerita ini adalah fiksi belaka. Seluruh kemiripan nama, tokoh, tempat, kejadian, dll adalah suatu kebetulan semata.
    3.Cerita ini tidak mengandung unsur SARA apalagi kebencian atau menyudutkan kelompok tertentu. Kalaupun ada keterangan mengenai ras / suku / warna kulit / ciri fisik, adalah semata-mata sebagai bumbu penyedap cerita untuk menambah unsur erotisme.
    4.Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suku, agama, ras, golongan, atau profesi tertentu. Apabila ada yang negatif, itu hanyalah oknum yang menyimpang dan tidak mewakili seluruh golongan.
    —@@@@@@@—–

    Cerita Maya | Setelah kejadian di gudang tua itu berakhir, Darsono pulang ke rumahnya dengan senyum licik mengembang di mulutnya selama di sepanjang jalan. Karena sore itu ia telah menemukan “gua kenikmatan” sekaligus “gua tambang emas” yang bisa menjadi alat pemuas nafsu seksnya sekaligus sumber penghasilan tetapnya. Memang ia adalah seorang bajingan sejati yang tak segan-segan menghancurkan hidup orang lain demi keuntungan pribadinya. Namun, sungguh nasib tak berpihak kepadanya. Di tengah jalan secara tak terduga-duga ia dicegat oleh geng musuhnya dan dipukuli rame-rame. Ia termasuk orang yang sangat dibenci oleh musuh-musuhnya karena ia tak segan-segan menggunakan taktik kotor dan menghalalkan segala cara. Pada saat seluruh anggota geng itu sibuk memukuli Dharsono, salah seorang anggota geng itu malah memecah kaca jendela mobil Darsono. Saat itulah dilihatnya handphone yang ditaruh di bangku depan. Segera dikantunginya handphone itu sebelum ia melanjutkan aksi pengrusakannya yang segera diikuti oleh teman-temannya yang lain setelah Darsono babak belur tak bisa bergerak lagi. Demikianlah aksi pengrusakan itu berlanjut, namun si penemu handphone itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Rohim, sama sekali tak memberitahu teman-temannya mengenai handphone itu. Sehingga kini hilanglah kesempatan Dharsono melakukan niat jahatnya. Handphone itu tak pernah kembali ke tangannya dan ia malah harus dirawat di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama. Setelah keluar dari rumah sakit ia malah menjadi agak linglung.

    —@@@@@@@—–

    Malam itu Rohim sibuk memencet-mencet handphone yang sore itu ditemukannya. Besok ia berniat menjual handphone itu sebagai tambahan uang saku. Oleh karena itu, sebelum dijualnya, ia memeriksa isi handphone itu untuk melihat apakah ada informasi yang penting sehubungan dengan permusuhan antar geng-nya itu. Namun apa yang ditemukannya membuatnya bagaikan disengat seratus kalajengking. Tak disangkanya disitu ada foto-foto dan video cewek putih dan cakep melakukan adegan seks dalam berbagai posisi. Cewek itu begitu nyata dan original dan semuanya baru diambil pada hari itu juga. Ia tak habis pikir bagaimana ceritanya sampai Darsono bisa mendapatkan foto dan video cewek itu. Ah, kalo sama cewek kayak gini, gua juga mau, pikirnya. Walaupun wajah cowok yang menyetubuhi cewek putih itu tak terlihat jelas, namun dari suaranya ia menduga itu adalah Dharsono bersama dengan satu orang temannya. Ia sungguh tak mempercayai apa yang dilihatnya saat itu. Kok bisa-bisanya cewek secakep dan sekelas ini mau dengan sukarela digilir oleh Darsono dan temannya? Padahal cewek ini seperti cewek baik-baik dan kelihatannya seperti anak orang kaya. Sementara Darsono adalah pentolan geng yang ugal-ugalan. Kalau mau tentu cewek ini bisa memilih cowok lain yang lebih cakep dan kaya atau setara dengannya untuk melakukan hal seperti ini. Ah, masa bodoh dengan itu, pikirnya. Kini otaknya memikirkan keuntungannya sendiri. Kalo gua bisa menemukan identitas cewek ini, gua pasti bisa menikmati cewek ini. Walaupun cewek ini kelihatannya cewek elit, tapi kalo digilir berdua oleh Darsono aja mau, kenapa nggak mau dengan gua, pikirnya. Apalagi videonya ada di tangan gua. Kapan lagi ada kesempatan sebagus ini, pikirnya. Kini ia memutuskan untuk menunda dulu menjual handphone itu sampai ia menemukan identitas cewek itu. Ia sengaja tak memberitahu anggota geng lain atau siapapun mengenai temuannya yang tak disangka-sangka itu. Cerita Maya

    Namun ia ingin menikmati dulu satu-satu foto dan video cewek itu. Harus diakui bahwa cewek ini sangat menggairahkan baginya. Tampangnya begitu polos tapi tak disangka bisa melakukan perbuatan seperti itu. Ditambah lagi kulitnya yang putih mulus dan tubuhnya yang sungguh sexy. Apalagi ia tak pernah bercinta dengan cewek yang kulitnya putih seperti dia. Hanya satu sayangnya, matanya tertutup sehingga ia tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Setelah itu ia berusaha mencari identitas cewek itu. Ia yakin nomor cewek itu pasti tersimpan di dalam handphone itu. Namun sayang, hal itu ternyata tak semudah seperti yang dikira sebelumnya. Telah berhari-hari ia mengutak-atik handphone itu. Ia mencatat semua nama cewek yang ada di Phonebook. Kemudian melalui telepon umum, ia menelpon mereka satu-satu dan memancing-mancing mengenai kejadian di gudang hari itu. Namun hasilnya: 100% negatif. Lalu ia mengobrak-abrik isi handphone itu, dari incoming call, outgoing call, missed call, notes, dll. Tapi hasil akhirnya tetap sama: Nol besar. Memang di handphone itu sama sekali tidak ada record nomor hp Liani. Dodo lah yang tahu no hp-nya. Dan Dodo belum sempat memberikannya ke Dharsono sampai keduanya mengalami nasib tragis pada hari itu. Telah lewat beberapa hari bahkan seminggu, usahanya tak membuahkan hasil juga. Namun, ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam tiba, tiba-tiba terkuak secuil harapan secara tak terduga-duga. Beberapa hari kemudian Pak Sarip pamannya memintanya untuk menggantikan tugasnya sebagai pesuruh sekolah di salah satu SMU favorit di kota itu. Karena ia dan istrinya ada keperluan di desanya dan harus pergi selama beberapa minggu. Sedangkan masa sekolah akan segera dimulai sehingga harus ada orang yang membersihkan kelas.

    Tiba-tiba lampu terang menyala di benaknya. Dilihat dari tampangnya, cewek itu kayaknya masih anak SMU. Nah, siapa tahu cewek itu juga bersekolah disana. Paling nggak, nggak ada salahnya dicoba. Toh dengan melakukan itu, ia mendapatkan gaji. Akhirnya disetujuilah permintaan pamannya. Sekolah itu sebenarnya bukan tempat asing baginya, karena beberapa tahun sebelumnya ia pernah sekolah disana. Tapi ia tak pernah bisa mengikuti “irama” sekolah itu, baik dari segi pergaulan maupun pendidikan. Dari segi pergaulan, karena murid-murid disana kebanyakan anak orang kaya atau paling nggak dari keluarga mampu. Sementara dirinya dari keluarga yang sungguh pas-pasan. Dari segi pendidikan, karena mutu sekolah itu cukup tinggi, sementara otaknya tak mencukupi. Dan memang sebenarnya ia bisa masuk sekolah itu gara-gara mendapat fasilitas khusus sebagai keponakan Pak Sarip, pesuruh sekolah yang telah mengabdi selama puluhan tahun. Akhirnya ia menjadi orang yang “terpinggirkan” di sekolah itu. Setelah tak naik kelas dua kali, akhirnya ia harus keluar dari sana. Sehingga ia sekolah di SMU yang ditempati sekarang. Rohim sendiri saat itu kelas 3 SMU, namun umurnya sudah 21 tahun. Karena ia beberapa kali tak naik kelas. Di sekolahnya yang baru itu ia jadi pentolan gerombolan anak-anak nakal yang disegani. Memang ia adalah anak jalanan yang liar dan jago berkelahi. Penampilannya pun sangar dan rambutnya dibiarkan gondrong. Tampangnya memang termasuk amburadul. Walau begitu ia sering gonta ganti cewek dan bahkan sampai melakukan hubungan intim dengan mereka. Selama Rohim membantu di sekolah itu ia diperbolehkan tinggal di rumah tempat tinggal Pak Sarip yang terletak di dalam kompleks sekolah. Tugas sehari-harinya adalah membersihkan ruang kelas.

    —@@@@@@@—–

    Sejak hari pertama ia bekerja di sekolah itu, ia langsung melakukan misi rahasianya yaitu melakukan “tugas penyelidikan” sekaligus cuci mata mengawasi murid-murid cewek di sekolah itu. Harus diakui, agak sulit baginya untuk menemukannya. Karena, pertama, siswi-siswi disana banyak yang cakep-cakep dan berkulit putih. Kedua, jumlah kelas dan murid yang sangat banyak. Ketiga, ia tak tahu nama cewek itu. Seandainya tahu tentu lebih mudah mencarinya. Keempat, ia tidak seharian terus menerus di sekolah itu. Karena ia masih harus sekolah juga. Kelima, ini yang paling susah, ia tidak tahu secara persis wajah cewek itu karena sebagian besar foto dan videonya dalam keadaan matanya tertutup. Hanya sedikit saja yang matanya terbuka, di bagian-bagian akhir. Namun sudut pengambilannya tidak begitu tepat dan kameranya bergoyang-goyang saat perekaman. Justru tubuhnya lebih jelas dibanding wajahnya, termasuk bagian-bagian rahasia dari seorang gadis yang seharusnya tertutup rapat. Yang seharusnya terlihat malah nggak kelihatan, yang seharusnya nggak boleh kelihatan malah terbuka jelas. Kadang di dunia ini memang terjadi hal-hal yang aneh. Dari segi kemupengan, hal itu memang menguntungkan. Tapi untuk proses penyelidikannya ini, hal itu tak membantu sama sekali. Karena tak mungkin ia membuka pakaian siswi-siswi disana untuk memeriksa paha atau dadanya dan mencocokkannya dengan yang ada di handphone, tanpa berurusan dengan pihak yang berwajib. Satu hal yang bisa dilakukannya adalah mengamati wajah, kulit tubuh, tinggi, gemuk kurusnya, serta ukuran payudaranya. Untuk yang terakhir ini ia hanya bisa mengira-ngira. Jadilah ia kini mengamati murid-murid cewek disana dengan tampang mupeng. Tanpa terasa seminggu lebih telah lewat namun ia masih bisa belum menemukan cewek misterius itu.

    Sementara itu, kerjaannya mengamati siswi-siswi disana selama ini, tak luput dari perhatian seseorang. Selain membuat risih sejumlah siswi disana karena merasa dipelototin payudaranya, perbuatannya itu tak lepas dari pengamatan Pak Rahman, guru olahraga di sekolah itu. Telah beberapa kali ia mendapati mata Rohim jelalatan ke arah murid-murid cewek, terutama yang cakep dan berkulit putih. Memang ia jadi mupeng sendiri melihat mereka. Seandainya ada satu saja diantara mereka yang bersedia melayani kebutuhan nafsunya, ia tak akan meneruskan usahanya menemukan cewek misterius tersebut yang sepertinya tidak akan membuahkan hasil. Pak Rahman adalah suami dari Bu Retno, kepala sekolah sekolah itu. Keduanya adalah orang Jawa. Umur Pak Rahman awal 40-an atau akhir 30-an. Namun karena ia rajin berolahraga, badannya cukup kekar dan masih gagah. Sebagai suami dari kepala sekolah dan sebagai seorang guru disana, ia berkepentingan untuk menjaga suasana di sekolah itu tetap aman dan kondusif dan tidak terjadi hal-hal yang tak menyenangkan. Dari sejak awal sebenarnya ia kurang suka dengan Rohim. Sehingga beberapa kali ia menyempatkan diri untuk mengawasi Rohim secara khusus. Pada suatu hari, setelah untuk kesekian kalinya ia mendapati mata Rohim jelalatan ke arah empat orang siswi yang berjalan bersama, ia mendatangi Rohim. Setelah menggiringnya ke pojok yang sepi, tanpa tedeng aling-aling ia langsung menegurnya,
    ” Hei! Kamu harus ingat, tugasmu disini adalah membantu. Jadi kamu jangan sampai bikin masalah disini!”
    “Apa maksud Bapak? Saya nggak bikin masalah kok.”
    “Kamu jangan pura-pura. Sudah beberapa kali saya lihat kamu selalu memelototin murid-murid cewek disini. Kalo kamu masih mau tetap disini, kamu harus menghentikan perbuatanmu itu.”
    “Saya cuma melihat aja kok.”
    “Itu bukan melihat tapi melotot. Begini, saya tak mau buang waktu lama-lama dengan kamu. Tapi ingat, kalo sampai ada siswi yang complain tentang kamu atau kamu berani berbuat kurang ajar terhadap mereka, maka kamu akan berhadapan dengan saya!” kata Pak Rahman dengan garang.

    “Mengerti kamu?”
    Meskipun ia sendiri jago berkelahi, namun berhadapan dengan Pak Rahman nyalinya ciut juga. Karena selain badannya yang kekar, ia tahu kalau Pak Rahman adalah jagoan karate. Juga ia kalah wibawa.
    “Me-mengerti Pak.”
    “Ok. Sekarang kamu boleh pergi. Tapi ingat kata-kata saya!”
    Setelah mendapat peringatan itu, Rohim masih melanjutkan pencariannya, namun kini ia makin berhati-hati. Tapi sungguh sial baginya. Beberapa hari kemudian ia kembali ketangkap basah oleh Pak Rahman saat matanya jelalatan seolah menggerayangi seluruh tubuh seorang murid cewek yang cakep. Membuat cewek itu jadi risih. Sementara ia adalah anak seorang penyandang dana yayasan sekolah itu. Kali ini Pak Rahman memberi peringatan terakhir kepadanya. Sejak saat itu Rohim jadi tak berani macam-macam. Kini Rohim telah mulai pesimis. Apalagi waktunya di sekolah itu hanya seminggu lagi. Akhirnya ia memutuskan kalau sampai seminggu ia tak dapat menemukan cewek itu juga, ia akan menjual handphone itu. Karena ia tak tahu bagaimana mencari satu orang di tengah jutaan manusia. Paling tidak ia bisa mendapat uang beberapa juta dari handphone itu.

    —@@@@@@@—–

    Dimanakah Liani berada?

    Liani

    Selesai kejadian hari itu, Liani pulang ke rumahnya dengan hati dan pikiran yang terpuruk. Tak disangkanya Dodo bisa mengkhianati dirinya seperti itu. Dan kini, ada Darsono yang memegang foto-foto dan video dirinya. Ia tak bisa membayangkan kalau dirinya sampai menjadi boneka yang diperlakukan semaunya oleh Darsono. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus mengadu kepada Papinya? Tak bisa dibayangkan betapa marahnya dia. Ataukah ia harus menghubungi Dodo dan memohon kepadanya untuk membantunya? Ah, kalau memang ia bersedia membantu, ia tidak akan mendiamkan saja hal itu terjadi. Dan Dodolah orang yang menyebabkan ini semua terjadi. Lalu apa gunanya minta bantuan dia? Lagipula kini ia sangat membenci orang itu!! Ataukah ia harus memohon langsung kepada Darsono untuk menghancurkan foto dan video dirinya? Tak mungkin, Darsono adalah orang yang jahat yang justru mengambil keuntungan diatas penderitaan orang lain. Bisa-bisa nanti malah ia lebih
    dipermainkannya. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan sore dan malam itu ia menangis sesenggukan di dalam kamarnya sampai akhirnya tertidur sendiri. Beruntung baginya, saat itu adalah masa liburan sekolah. Sehingga ia tak harus pergi ke sekolah dengan kondisi yang terpuruk seperti itu. Keesokan harinya, seharian hatinya deg-degan mengantisipasi adanya telpon atau sms masuk dari Darsono atau Dodo. Ia sungguh takut membayangkan dirinya diperintah Darsono untuk melayaninya kapan pun ia mau, atau lebih parah lagi, kalau ia dijual untuk melayani orang yang tak dikenalnya sebagai pelacur! Seharian itu ia menunggu dan seharian itu ia tersiksa. Menurut perkiraannya, Darsono seharusnya pasti akan segera memanfaatkan dirinya, karena ia adalah orang yang amat jahat. Namun kenyataannya, ketakutan yang diantisipasi itu tidaklah datang, paling nggak untuk hari itu.

    Hari kedua juga tak terjadi apa-apa. Begitu pula hari ketiga, keempat, dst. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Apakah Dodo diam-diam telah membantunya? Ataukah Darsono langsung menyebar foto dan video dirinya itu ke Internet? Ia jadi bergidik memikirkan itu. Ah, tapi tak mungkin, pikirnya. Tidak ada untungnya bagi Darsono untuk melakukan hal itu saat ini. Karena justru itulah senjata andalannya untuk memerasnya. Hal itu baru akan dilakukannya apabila ia berani menolak permintaanya. Darsono adalah orang yang selalu mengambil langkah yang paling menguntungkan dirinya tanpa peduli akan orang lain. Oleh karena itu, adalah hal yang aneh kalau sampai sekarang tidak ada tindakan apa-apa darinya. Satu-satunya kemungkinan yang dipikirkannya adalah, Dodo yang membantu dirinya. Ya, mungkin pada akhirnya ia memilih melakukan perbuatan baik terhadap dirinya. Tapi kenapa ia tak menghubunginya? Setelah mula-mula ragu, akhirnya ia menelpon Dodo. Namun ia tak dapat menghubunginya. Karena orang yang menerimanya sama sekali tak kenal dengan orang bernama Dodo. Ia sungguh heran dengan semua ini. Hari demi hari berlalu tanpa kejadian apa-apa sampai liburan sekolah berakhir. Kini pikirannya mulai lebih tenang. Karena apa yang ditakutkan sampai sekarang tak terjadi. Kini ia mencoba melupakan hal itu dan kembali ceria seperti sebelumnya. Namun di dalam hatinya tetap saja ada rasa waswas kalau tiba-tiba ada telepon dari Darsono atau orang lain. Bagaimanapun ia tidak akan bisa hidup tenang kalau tidak mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya. Untuk itu ia berusaha mencari tahu apa yang terjadi dan yang lebih penting lagi, bagaimana caranya untuk mendapatkan handphone itu supaya foto-foto dirinya tak tersebar. Tapi bagaimana caranya? Sungguh suatu hal yang amat sulit dan tak tahu bagaimana memulainya. Tetapi ia tak putus asa, bukankah pepatah mengatakan, “Tak ada sesuatu yang mustahil apabila kita benar-benar percaya.”
    Dan ternyata, nasib berpihak kepadanya karena tak lama setelah itu terjadi peristiwa yang tak terduga-duga. Namun justru peristiwa itulah yang membuka jalan sehingga harapannya itu akhirnya tercapai.

    —@@@@@@@—–

    Sore itu Liani menyadari kalau buku catatan kimianya tak ada di tasnya. Ah, mungkin ketinggalan di kelas, pikirnya. Keesokan harinya ia mencari Pak Sarip di tempatnya. Namun disana ia melihat ada cowok berkulit hitam yang sedang membelakangi dirinya dan sibuk melakukan sesuatu.
    “Maaf Mas, Pak Saripnya ada?” tanya Liani ke cowok itu, yang tak lain adalah Rohim.
    Mendengar ada suara cewek di belakangnya, Rohim langsung terkesiap kaget.
    Suara itu!!!
    Suara itu sungguh familiar {“Aah, loe curang pindah-pindah tempat gitu”} {“Emang kalau “atau” gimana?”}.
    Lalu ia buru-buru membalikkan badannya, dan ia tertegun melihat cewek yang berdiri di depannya itu.
    “Ooh, maaf kalo ngagetin,” kata Liani sambil tersenyum manis.
    “Oh, nggak…. nggak apa-apa kok,” kata Rohim yang belum hilang rasa terkejutnya. Ia kelihatan terbengong-bengong. Ia seperti tersihir oleh kecantikan cewek ini yang sedang tersenyum manis kepadanya ini. Belum pernah ada cewek secantik ini tersenyum kepadanya. Namun juga pikirannya terpecah dengan menimbang-nimbang apakah betul cewek ini adalah cewek misterius yang dicarinya selama ini? Pada saat ia mulai melupakan pencariannya, tak disangka-sangka justru cewek itu yang menemukan dirinya!

    Liani hanya tersenyum menyaksikan sikap Rohim yang sepertinya salah tingkah itu, sepertinya ia memakluminya.
    “Pak Saripnya ada, Mas?” ulangnya lagi.
    “Ooh, Pak Sarip lagi pulang ke desa. Ada yang bisa saya bantu?” katanya sambil kini ia mulai bisa menguasai diri.
    “Saya mencari buku catatan kimia saya, bukunya ukuran segini dan warnanya merah muda dengan gambar Hello Kitty, mungkin tertinggal di kelas kemarin,” kata Liani menjelaskan.
    “Apakah ada ditemukan buku seperti itu?”
    “Setahu saya tidak ada. Tapi sebentar saya liat dulu,” kata Rohim sambil masuk ke dalam.
    Di dalam rumah, ia menimbang-nimbang apakah betul cewek yang menemuinya ini adalah cewek di dalam handphone itu. Dari tampangnya sungguh ia seperti cewek baik-baik yang tak mungkin melakukan hal seperti itu. Apalagi dengan orang seperti Dharsono. Tapi suara dan gaya bicaranya sama dengan suara cewek yang ada di handphone itu. Ia telah hafal dengan suara itu karena ia telah mendengarnya mungkin ratusan kali.
    Ah, kalo bener dia adalah cewek itu, hidup betul-betul sulit ditebak.
    Gua susah payah mencarinya tapi ga ketemu-ketemu. Sekarang malah orangnya datang sendiri. Gua susah payah mencari berdasarkan wajah dan bentuk fisik tubuhnya. Tapi ketemunya malah dari suaranya. Memang jalan hidup kadang misterius. Seketika terbayang tubuh putih mulus dan sexy itu dalam keadaan telanjang bulat. Ehh, tapi tunggu dulu! Gue harus 100% yakin dulu sebelum bertindak. Apalagi gue udah diancam sama Pak Rahman. Kalo sampe salah sasaran, bisa mampus gua. Dari wajah, gua nggak terlalu pasti apakah ini orangnya. Tapi dari suara gua hampir 100% yakin kalo dia orangnya. Ahh, ya, kenapa ga gua rekam aja suaranya trus gua bandingin?

    Lalu ia mengambil handphone itu dan mengaktifkannya untuk merekam suara setelah itu dibawanya keluar.
    “Eehh, maaf saya nggak liat buku seperti itu. Mungkin terselip di tempat lain. Saya cari dulu ya. Kamu anak kelas berapa dan nama kamu siapa? Nanti kalo ketemu saya antar kesana.”
    “Nama saya Liani. Saya kelas 3 IPA 1. Saya duduk di baris kedua meja ketiga,” kata Liani.
    Saat itu Liani melihat handphone yang dipegang Rohim itu. Ia tertegun beberapa saat. Ia tahu handphone itu modelnya sama persis dengan yang dipake Darsono waktu itu. Seketika muncul perasaan waswas dalam dirinya, kalau-kalau Darsono akan segera menghubunginya untuk memaksanya melakukan sesuatu yang tak diinginkannya. Rohim memandang Liani yang sedang dalam keadaan ‘hang’ sejenak itu. Liani rupanya tersadar kalau pesuruh sekolah yang menggantikan Pak Sarip itu memperhatikan dirinya yang melamun sejenak. Tiba-tiba ia balik menatap ke Rohim dan berkata,”
    “OK, nanti kalo sudah ketemu, tolong antarkan ke kelas ya,” kata Liani sambil melanjutkan,”Terima kasih,” lalu ia berbalik pergi.
    “Tunggu dulu, apa ada tanda-tanda khusus di buku kamu?” tanya Rohim sengaja untuk menambah “data” buat analisanya ntar.
    “Ada nama saya di halaman depannya,” kata Liani.
    “Ok, nanti saya cari dan kalo sudah ketemu saya antar.”
    “Terima kasih.”
    “Oh, terima kasih sama-sama,” kata Rohim seolah ia yang mendapat pertolongan.
    Lalu Liani membalikkan badan dan berjalan menjauhinya.

    Rohim memandang Liani yang berjalan menjauhinya. Baju seragamnya yang rapi di dalam roknya. Pinggangnya yang ramping. Pinggulnya nampak agak menonjol dibalik rok seragamnya yang rapi. Di balik baju seragam putihnya yang tipis dan agak tembus pandang, nampak tali bra warna coklat muda melintang di horizontal di punggungnya serta di bahunya. Rambutnya yang panjang diputar-putar dan diikat dengan karet rambut sehingga nampak pendek. Tampak jelas lehernya yang putih dan anak-anak rambut yang halus yang menempati diantara leher dan kepalanya. WoW! Begitu putih dan begitu sexy, batinnya. Seperginya Liani, pikirannya masih terbayang akan dua hal dari diri Liani yang dilihatnya dari pertemuan singkat barusan: Wajah Liani yang cantik dan polos yang sedang tersenyum manis serta dadanya yang menonjol di balik baju seragam dan bra coklat muda yang sempat diliriknya. Saat ia membayangkan keduanya digabung seketika penisnya langsung mengeras.

    Cut! Cut! Sekarang bukan waktunya mikirin gituan. Sekarang waktunya untuk bekerja!
    Kini ia larut dalam analisa penyelidikannya. Dibandingkannya suara rekaman yang baru dibuatnya dengan yang sudah ada dan diputarnya berulang-ulang sampai benar-benar yakin. Lalu dibayangkannya wajah Liani yang barusan dilihatnya dengan yang ada di handphone itu. Hasil analisanya, bentuk bibir, hidung, dan pipinya serta raut wajahnya tidak ada yang bertentangan dengan wajah cewek yang ada di handphone itu (saat matanya ditutup). Justru yang matanya terbuka malah susah untuk dibandingkan (karena sudut pengambilannya nggak pas, posisi kamera yang bergoyang-goyang, juga pada saat itu ekspresi wajah Liani tidak seperti biasanya karena berbagai macam pikiran dan emosi berkecamuk di dalam dirinya). Sementara tubuhnya yang di dalam handphone terlihat jelas telanjang bulat itu malah tak bisa dipakai sama sekali untuk alat perbandingan, karena data yang ada tidak mencukupi. Hmm, untuk yang ini harus melalui penyelidikan yang tuntas dan menyeluruh serta eksplorasi jengkal demi jengkal dan harus memakan waktu cukup lama, pikirnya. Biarlah sisakan yang ini untuk nanti saja. Namun secara garis besar, bentuk tubuh Liani sungguh masuk akal kalau disamakan dengan cewek yang di handphone itu.. Selain itu, ia juga memperhatikan reaksi Liani yang tiba-tiba melamun saat melihat handphone di tangannya itu, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu hatinya.

    Ia menulis di secarik kertas hasil kesimpulan analisanya.

    Hasil analisa:

    Suara : persis (probabilitas: 100%)
    Wajah : tidak ada yang menyimpang (probabilitas: 90%)

    Bentuk tubuh : sesuai (probabilitas: 80%)

    Catatan penting lainnya:
    1. Reaksi Liani saat melihat handphone sungguh aneh. Apakah ia teringat kalau itu adalah handphone yang digunakan untuk merekam dirinya?
    2. Liani sungguh cewek yang sexy dan menggairahkan!

    Kesimpulan: cewek di handphone itu adalah: Liani!

    Baru saat itu ia menyadari kalau pencariannya berdasarkan wajah dan tubuh, memang sukar untuk menemukan orangnya. Wajah dan tubuh itu baru bisa dipakai sebagai bukti pendukung untuk mencocokkan setelah orangnya ditemukan. Jadi selama ini ia mencari dengan cara yang salah, tak heran kalau ia tak bisa menemukannya. Namun satu hal yang masih membuatnya terheran-heran adalah, cewek itulah yang “menemukan” dirinya, bukan dirinya yang menemukan cewek itu. Kini setelah analisanya menunjukkan hasil positif, ia memikirkan cara yang aman namun ampuh untuk memancing Liani. Setelah mendapat ancaman dua kali, kini ia harus extra hati-hati. Akhirnya muncullah ide bagus yang diilhami oleh film yang pernah ditontonnya. Ia tersenyum puas dengan idenya itu. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, ia buru-buru menuju ke kelas Liani.. Namun, ia terlambat. Karena Liani tak ada disitu dan sebagian besar murid telah meninggalkan kelas. Ia terlalu lama dalam proses analisanya sehingga jam pulang sekolah telah lewat 5 menit. Ia mencoba mencarinya di halaman sekolah, namun tak terlihat adanya Liani disana. Memang saat itu Liani langsung pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya. Sungguh kecewa dirinya. Namun ia menepis keinginan untuk melihat tubuh telanjang di handphone itu. Gua nggak akan lihat itu lagi. Karena sekarang, I want to see the REAL THINGS! Apalagi sore itu ia mendapat informasi kalau cewek yang bernama Liani itu adalah cewek favorit dan siswi teladan di sekolah itu. Biarlah gua tunggu hari Senin aja, pikirnya. Malamnya, untuk menambah efek dramatis, ia pergi ke toko buku membeli buku yang mirip seperti yang dideskripsikan Liani tadi.

    —@@@@@@@—–

    Namun rupanya kadang untung bisa datang tanpa diduga-duga. Rohim tak perlu menunggu terlalu lama sampai hari Senin. Karena keesokan harinya, hari Sabtu pagi, ia melihat Liani datang ke sekolah dan segera bergabung dengan beberapa temannya. Rupanya hari itu ada kegiatan informal atau sekedar kumpul-kumpul karena semuanya berpakaian bebas. Seketika penis Rohim menegang saat melihat Liani. Bukan, bukan disebabkan karena pakaian Liani terlalu sexy. Malah sebaliknya pakaian yang dikenakannya hari itu termasuk konservatif atau paling tidak biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Liani memakai rok warna putih yang panjangnya beberapa senti diatas lutut. Sementara atasannya kaus berlengan yang bergaris-garis horizontal. Kausnya itu menempel di tubuhnya tapi tak terlalu ketat juga tak terlalu longgar. Bagian dadanya nampak menonjol dibalik bra warna biru tua (tak terlihat dari luar) dengan tali di kedua bahunya. Rambutnya digulung naik ke atas seperti hari sebelumnya, nampak seolah cewek itu berambut pendek. Ia menegang karena membayangkan meskipun cewek itu saat itu memakai pakaian yang tertutup dan sopan, namun ia mempunyai senjata untuk membuat cewek itu bersedia menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapannya. Sungguh suatu hal yang luar biasa, melihat cewek baik-baik yang semula berpakaian tertutup dan sopan sampai akhirnya telanjang bulat tanpa mengenakan apa-apa. Apalagi mengingat perbedaan status diantara dirinya dan cewek itu. Cewek itu adalah cewek populer di sekolah itu karena memang cakep dan sexy dan dari keluarga kaya. Sementara ia adalah orang rendahan, cuma pengganti pesuruh sekolah. Tampangnya juga nggak bisa dibilang cakep. Sungguh kontras sekali perbedaan diantara keduanya. Namun ia memiliki kartu as yang bakal membuat cewek populer dan beberapa tingkat di atas kelasnya itu bakalan bertekuk lutut. Begitulah pikiran cowok. Semakin tinggi ia memandang seorang cewek, semakin puas hatinya kalau ia bisa menikmati tubuhnya.

    Dengan sabar Rohim menunggu kesempatan untuk bisa memberikan sesuatu kepada Liani. Ia menunggu saat yang pas dimana tak ada orang lain di dekatnya. Ia tak perlu waktu lama. Cukup beberapa menit saja. Karena itu ia juga tak perlu terburu-buru. Apalagi saat melihat Liani pagi ini, ia merasa yakin tidak lewat hari ini semua jerih payahnya akan berujung kepada hasil yang sangat manis. Sungguh nasib Rohim betul-betul beruntung pagi itu. Mungkin dewi fortuna berpihak kepadanya karena segala usaha yang telah ia lakukan selama ini. Karena tak lama kemudian, keluarlah Liani seorang diri menuju ke kamar kecil. Rohim sengaja membiarkan cewek itu masuk ke kamar kecil. Biarlah ia menyelesaikan urusannya dulu. Tak perlu terburu-buru. Buat apa terburu-buru kalau segala sesuatunya sudah pasti ada di tangan. Begitulah sikap orang yang percaya diri. Tak perlu terburu-buru! Apakah Rohim akan menyergap Liani begitu pintu kamar mandi dibuka lalu dikuncinya dari dalam supaya ia bisa memperkosanya? Tentu tidak! Pertama, ia bukan tipe pemerkosa yang suka menggunakan kekerasan. Kedua, ia memegang kartu as jadi buat apa menggunakan kekerasan kalau segala sesuatu bisa didapatkan dengan cara halus? Ketiga, sekalipun ia ingin memperkosa dengan cara seperti itu, kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Karena seseorang yang sedang terancam pasti akan melawan habis-habisan. Dan sekali cewek itu berteriak, habislah sudah. Lagipula, siapa tahu kalau saat ini ada orang yang diam-diam telah mengawasi tindak-tanduknya. Oleh karena itu, tak perlu terburu-buru. Toh semuanya juga sudah digariskan.

    Beberapa menit kemudian, keluarlah Liani dari kamar mandi itu. Saat itu terdengar suara yang datang dari samping memanggil namanya. Suara yang tak terlalu keras namun mantap.
    “Liani.”
    Liani menoleh ke samping, ternyata pesuruh sekolah pengganti Pak Sarip yang ditemui kemarin itu.
    “Ya, ada apa?” tanyanya heran, kenapa orang itu memanggil dirinya.
    “Saya mau mengembalikan ini, buku kamu,” kata Rohim.
    “Oh, itu bukan buku saya. Buku saya nggak seperti itu. Lagi pula buku itu sudah dikembalikan. Ternyata terbawa oleh teman saya,” kata Liani sambil berjalan meninggalkan Rohim.
    “Tapi coba tolong pastikan dulu. Paling tidak buka halaman pertama untuk memastikan kalau ini bukan buku kamu. Maaf, ini adalah bagian dari tugas saya,” kata Rohim.
    Liani sungguh yakin bahwa itu bukan bukunya. Karena bukunya secara tak sengaja terbawa oleh Cindy, teman sekelasnya, dan sudah dikembalikan. Namun kalau cuma sekedar melihat halaman pertama saja, ya nggak masalah, pikirnya.
    Secara sambil lalu diambilnya buku itu dan dibukanya.
    Saat dibuka, ternyata ada tulisan besar dengan spidol merah:

    I KNOW WHAT YOU DID LAST MONTH!…DI GUDANG TUA ITU!

    Ia tersentak kaget melihatnya. Mukanya seketika pucat pasi. “Lho, apa ini?” tanyanya dengan gemetar.
    “Ah, itu khan sekedar tulisan di dalam buku ini. Kalau bukan buku kamu, mungkin milik orang lain,” kata Rohim dengan tenang sambil mengambil buku itu.
    “Tunggu,” kata Liani, “Memang kamu ini siapa? Dan siapa yang menyuruh kamu?”
    “Saya adalah saya sendiri,” kata Rohim seperti sengaja ingin mempermainkan cewek itu,”Tidak ada yang menyuruh saya. Dalam hal ini saya bekerja sendiri.. Walau untuk pekerjaan lain saya biasa disuruh oleh Pak Suwanto. Karena, seperti yang kamu tahu, saya ini khan pesuruh sekolah.
    “Lalu apa mau kamu?” tanya Liani yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.
    “Hehehe, ada sih. Tapi nggak disini. Mending kamu ke tempat saya sekarang. Tahu khan tempatnya? Dan sebaiknya kamu datang sendirian. Kalau tidak, nanti bisa ada hal yang tak seharusnya diketahui orang jadi diketahui orang. Mengerti khan maksud saya?” kata Rohim.
    “Kamu juga sendirian?” tanya Liani, sepertinya ia masih trauma dengan kejadian waktu itu.
    “Tentu. Buat apa dibagi ke orang lain kalo semuanya bisa didapat sendiri,” kata Rohim tersenyum penuh arti.
    “Tapi kamu jangan kuatir. Handphone itu aman di tangan saya, hanya saja ada harga yang mesti dibayar untuk menebusnya. Dan saya juga tidak sejahat Dharsono,” kata Rohim.
    “OK, sebentar lagi saya kesana. Beri saya waktu paling lama 30 menit sampai pertemuan selesai,” kata Liani buru-buru sambil menoleh ke kiri kanan. Ia tak mau orang ini terlalu banyak bicara dan ada orang lain yang mendengarkan. Saat itu tidak ada orang lain di dekat mereka yang bisa mendengarnya.
    “OK, saya tunggu,” kata Rohim sambil berjalan ke arah belakang. Sementara Liani juga berjalan kembali ke tempat pertemuannya. Apalagi saat itu ia melihat kedua temannya, Henny dan Fanny, baru muncul dari belokan dan berjalan menuju ke arahnya.

    “Ada apa kok tadi gua liat lu ngobrol dengan pesuruh sekolah itu?” tanya Fanny.
    “Iya, dia balikin buku gua ini,” kata Liani.
    “Ooh, makanya gua heran, koq lu bisa-bisanya ngobrol sama orang itu,” kata Henny.
    “Iya, apalagi gua denger dia pernah ditegur sama Pak Rahman, gara-gara ketauan suka ngeliatin cewek-cewek disini,” kata Fanny.
    “Iiih, amit-amit dah,” kata Henny bergidik,” Tapi dia kaga ngapa-ngapain lu khan?”
    “Ya nggak lah. Cuman ngasih buku dan ngomong bentar untuk mastiin ini buku gua. Abis itu lu datang ini.”
    “Ya ok lah kalo gitu. Eh, anak-anak pada mau makan bareng trus nonton katanya. Lu bisa ikut khan?” kata Henny.
    “Wah sorry deh, hari ini gua nggak bisa deh. Ada urusan penting,” kata Liani,” Ntar gua bilang juga ke anak-anak deh.”
    “Idiih. Urusan penting nih yee. Jangan-jangan teman kita ini diam-diam sudah ada yang nemenin malem mingguan lagi,” kata Fanny menggodanya.
    “Ngaco ah lu. Gua mesti ke tempat saudara gua lagi,” kata Liani. Ia memang tak berbohong dalam hal ini. Tetapi itu adalah untuk malam hari, bukan sekarang.

    —@@@@@@@—–

    Kira-kira dua puluh menit kemudian, suasana di sekolah itu menjadi sepi. Karena murid-murid tadi telah meninggalkan sekolah. Sementara Liani memastikan semua temannya telah pergi dan tidak ada orang yang melihatnya, setelah itu ia berjalan ke belakang menuju ke rumah Pak Sarip. Hatinya berdebar-debar. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, pikirnya. Sesampai di depan pintu rumah kecil itu, tiba-tiba pintu itu terbuka. Rupanya Rohim telah siap menunggunya. Liani melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang sama sekali. Bahkan Rohim pun juga melakukan hal yang sama, memastikan tidak ada orang sama sekali. Setelah itu masuklah Liani ke dalam rumah kecil itu. Rumah Pak Sarip memang kecil, hanya satu ruangan yang menyatu semuanya. Dan disitu terlihat sama sekali tak ada orang. Di dalam ruangan itu ada dua bangku sofa yang saling tegak lurus di depan meja kecil. Rupanya sofa itu ber-dwifungsi sebagai ranjang tempat tidur. Karena tak ada ranjang tempat tidur disitu. Mereka berdua duduk di dua bangku yang berbeda. Masing-masing duduk di bagian tengah bangku. Liani duduk sambil menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya dan menempelkan kaki kirinya di dudukan sofa. Dari sudut pandang Rohim, sebagian kecil pahanya terlihat karena roknya yang beberapa senti diatas lutut. Tak lepas juga dari perhatiannya, dadanya yang menonjol dan rambutnya yang ternyata digulung seperti yang dilihatnya kemarin. Rohim saat itu memakai kaus biasa dan celana jeans. Ia duduk dengan kedua kaki terbuka.
    “OK, langsung aja,” kata Liani, “Apa yang kamu tahu sebenarnya dan kamu mau apa?”
    “Sebelum kesana, perkenalkan dulu, nama gua Rohim. Gua keponakan Pak Sarip. Rasanya lu perlu tahu dulu nama gua sebelum melangkah lebih jauh ke hal yang lain,” kata Rohim seperti menyindir kejadian di gudang tua waktu itu.
    “OK,” kata Liani dengan suara tenang namun mukanya agak memerah,”Sekarang silakan diteruskan.”
    “Gua dapet ini,” kata Rohim mengeluarkan handphone itu dari saku celananya,”Ini handphone harganya cukup mahal tapi waktu diliat isinya, ternyata isinya jauh lebih berharga dibanding handphone-nya sendiri.”

    Gaya bicara Rohim kini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sekarang jadi lebih berani dan tanpa sungkan-sungkan. Mungkin dipikirnya, buat apa bicara sungkan-sungkan lagi, toh sebentar lagi bakalan intim. Muka Liani jadi berubah melihat handphone di tangan Rohim itu.
    “Gua bersedia menyerahkan isi dalamnya, tapi harus dengan harga yang pantas,” kata Rohim,” Dan Harga yang pantas menurut gua adalah..
    “Sebentar, sebelum kesana, bagaimana handphone ini bisa jatuh di tangan lu? Apakah lu kaki tangan Darsono?”
    “Bukan. Gua dapet ini karena gua rampas dari dia. Dia adalah musuh gua. Sekarang mungkin dia masih di rumah sakit.”
    “Kapan lu dapet handphone itu?”
    “Gua dapetnya tak lama setelah beberapa foto dan video dibikin didalamnya. Dia mengalami nasib sial bertemu dengan kita setelah sebelumnya sepertinya ia melakukan kegiatan yang sangat menguras tenaga,” kata Rohim menyindir lagi.
    Muka Liani jadi memerah mendengarnya.
    “Jadi lu langsung mengambilnya hari itu juga?”
    “Betul,” kata Rohim.
    “Lalu siapa aja yang pernah ngeliat isinya?” tanyanya dengan bergetar.
    “Dalam hal ini, lu betul-betul beruntung, karena nggak ada seorang pun yang tahu kalo gua punya handphone ini.”
    “Oh,” terdengar napas lega dari Liani. Sungguh ia merasa beruntung dengan semua hal ini. Sekarang ia telah siap membicarakan transaksi pokoknya.
    “Tadi lu bilang bersedia menyerahkan isinya dengan harga yang pantas. Memang apa harga yang pantas itu?” tanya Liani dengan tenang.

    “Gua langsung to the point aja. Sorry kalo nggak sopan. Gua akan serahin isi handphone ini ke lu sekarang asalkan lu ngasih uang 5 juta ke gua plus gua minta pelayanan khusus sama seperti yang ada di dalam sini,” kata Rohim mengangkat handphone itu. “Lu ngerti khan maksud gua,” kata Rohim sambil mengedipkan matanya,” Mengenai uang, gua yakin bagi lu itu hal kecil. Jadi kalo lu ga bawa uang segitu, lu bisa ngasih setelah ini. Tapi untuk yang “itu” gua minta pembayarannya” sekarang juga. Setelah itu baru gua kasih handphone-nya ke lu. Setelah itu, tak ada hutang piutang diantara kita. Gimana, fair khan?”
    “Hah?! Mengenai uang nggak ada masalah. Tapi keterlaluan kalo lu minta “itu”,” sergah Liani,”Gua kasih dobel deh uangnya.”
    “Wah, sorry, hehehehe. Ada hal-hal tertentu yang nggak bisa diukur dengan uang. Dan “itu” adalah satu contohnya,” kata Rohim.
    “Yah, tapi, tapi…, mana bisa begini. Lu khan pesuruh sekolah. Masa gua mesti “begituan” sama pesuruh sekolah?”
    “Memang pesuruh sekolah ga boleh pengin sama murid yang cakep kaya lu gini? Gua khan juga cowok normal, hehehe. Wajar dong kalo gua napsu sama lu yang putih bening gini,” kata Rohim sambil memajukan badannya supaya tangannya bisa menyentuh ke paha cewek itu.
    “Lagian kapan lagi gua dapat kesempatan bagus kayak gini, hehehe,” kata Rohim sambil mengusap-usap paha cewek itu.
    Namun bagaimana pun bagi Liani hal itu merupakan suatu penghinaan untuk melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolahan. Rohim sepertinya bisa membaca pikiran cewek itu. “Memang dalam satu peristiwa, ada yang merasa terhina, tapi ada yang merasa terhormat. Kalo disatuin, jadi impas khan? Hehehe. Lagian, lu mesti sadar dengan posisi lu sekarang.”

    Liani menggeser posisi duduknya menjauhi Rohim sehingga pahanya kini terlepas dari rabaan tangannya, namun hal itu malah mengundang Rohim untuk berdiri dan pindah duduk di sampingnya.
    “Iih, lu malu-malu deh, katanya sambil menjawil dagu Liani.
    “Eh, apa-apaan ini,” protesnya.
    “Sudahh, lu jangan pura-pura deh. Gua udah liat aksi-aksi lu yang hot itu. Gua juga minta lu melakukan hal yang sama sekarang. Dan gua jamin deh,” kata Rohim sambil cengengesan, “Gua nggak kalah jrengg sama si bangsat Dharsono itu. Lu bakalan suka deh. Sama-sama enak kenapa nggak mau. Yukk”
    “Ehh sebentar dulu,” kata Liani menghindar dari Rohim yang berusaha menciumnya.
    “Lu janji cuma sekali ini ya.”
    “Iya betul, cuma sekali ini. Plus uang 5 juta.”
    “OK, plus uang 5 juta. Trus abis itu lu kasih handphone itu ke gua?”
    “Ya betul.”
    “Lalu gimana gua tahu kalo lu benar-benar megang barang bukti yang gua mau?”
    “Lu ga percaya sama gua? OK, supaya lu ga penasaran, bentar gua tunjukin,” kata Rohim bangkit dari duduknya, mengambil handphone itu dari laci dan menyerahkannya ke Liani.
    “Lu boleh cek dulu kalo ga percaya.”
    Liani segera memegang handphone itu dan melihatnya sebentar. Wajahnya memerah, apalagi saat ia menjalankan video yang mengeluarkan suara desahannya. Ia buru-buru mengecilkan volumenya.

    “Jadi gimana sekarang? Sudah percaya?” tanya Rohim sambil tersenyum-senyum.
    Liani mengangguk, tapi lalu dia berkata,” Tapi bagaimana gua tahu kalo lu nggak bikin copy-nya?”
    Tiba-tiba Rohim berubah serius,” Dengar Non, walaupun gua orang rendahan, tapi gua bukan tipe pemeras. Gua ga mau nyusahin orang, karena itu gua jamin kalau yang ada disini cuma satu-satunya. Setelah semuanya selesai, ini gua kasih ke lu. Ehm, mungkin gua cuma minta sekali lagi deh, katanya jujur.
    “Jadi lu mintanya sekali atau dua kali?”
    “Ehmm, sekarang ini plus satu kali lagi deh,” katanya cengengesan,” Tapi nggak lebih. Gua janji itu.”
    “OK,” kata Liani sambil tersenyum sementara ia masih memegang dan memencet-mencet handphone itu. Ia percaya Rohim tak akan membuat copy-nya. Karena ia tahu Rohim bukan tipe pemeras seperti Dharsono. Ia mungkin mupeng abis dengannya tapi dia nggak akan sampai melakukan perbuatan yang bakal menghancurkan hidupnya seperti Dharsono. Selain itu, ia adalah tipe orang yang seandainya mencuri pun, masih ingat dengan takarannya. Diam-diam ia merasa beruntung bahwa handphone itu jatuh ke tangan Rohim. Kalau di tangan Dharsono atau orang lain, dirinya akan lebih susah. Tiba-tiba kini dirasakannya, melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolah ini sekali atau dua kali untuk menebus kebebasan dari pikiran khawatir seumur hidup sepertinya bukan sesuatu yang sangat berat. Apalagi, apalagi, apalagi…hmm, cowok ini kelihaannya “perkasa” juga.

    Namun bagaimana pun ia adalah seorang gadis, dan sudah dari “sononya” bagi cewek untuk mempertahankan kehormatannya. Sementara itu di dalam handphone itu terdapat foto dan video dirinya dalam keadaan bugil dan melakukan adegan seks. Tentu ia sangat berkepentingan untuk memusnahkan informasi itu. Ia sedang berpikir mencari cara untuk itu, apakah ia akan menghapus semuanya satu-satu? Ah, itu terlalu lama dan dia bisa curiga. Atau harus membanting handphone itu sampai hancur ataukah menerobos lari keluar dengan membawa handphone itu? Akan tetapi sepertinya Rohim dapat membaca pikirannya. Karena ia berkata,”Seandainya lu mencoba kabur dari sini, jangan dikira lu bisa keluar. Salah-salah malah lu gua perkosa nanti. Lagian, lu tadi nggak ngeh, begitu lu masuk, pintu keluar sudah gua gembok.”
    Liani menoleh ke pintu tadi dan seketika dirinya menjadi lemas melihat ternyata memang benar ada gembok kecil dalam posisi terkunci. Untuk membukanya perlu kuncinya dan hanya Rohim yang memegang kuncinya. Sehingga kini tak ada jalan keluar sama sekali bagi dirinya.
    “Hmmmm,” kata Liani menghela nafas.
    “Kayaknya memang gua nggak ada pilihan lagi sekarang,” kata Liani menyerah sambil meletakkan handphone itu di meja kecil.
    “Sepertinya memang begitu. I’m sorry for that,” kata Rohim dengan penuh simpatik. “
    “Kalau sudah gini, tunggu apa lagi…” kata Liani lemah dan pasrah.
    “Well, if you don’t mind…..” kata Rohim. Kadang kala Rohim juga tahu bagaimana bersikap sebagai seorang gentleman sejati di tengah aksinya sebagai seorang bajingan.

    Namun seorang bajingan tetaplah bajingan walaupun sesekali bersikap gentleman. Karena setelah itu, tanpa sungkan-sungkan lagi segera direngkuhnya cewek yang innocent namun sungguh merangsang itu, dan diciumnya bibirnya.
    “Mmmhhh.” Dilumatnya bibir cewek itu dengan penuh nafsu. Dijelajahinya seluruh bagian bibirnya.
    “Mmmmhhhh.”
    Sementara Liani hanya pasrah membiarkan bibirnya dilumat oleh Rohim, pengganti pesuruh sekolahnya itu namun juga bisa dikatakan penolongnya itu, tergantung dari sudut mana ngelihatnya. Matanya terpejam seolah tak ingin melihat cowok rendahan yang menciumi bibirnya itu atau mungkin agar bisa lebih menikmatinya? Entahlah. Lalu lidah Rohim dengan liar menari-nari di dalam mulut Liani dan saling beradu dengan lidah gadis itu. Sambil mereka berciuman, tangan Rohim segera meraba-raba tubuh Liani. Diraba-rabainya seluruh punggungnya yang masih tertutup rapat dan dirasakannya tali bra dibalik kausnya. Ah, sebentar lagi semua ini akan terlepas semua, batinnya. Kemudian tangannya mengalir ke kedua tangannya. Dirasakannya kulit tangan Liani yang putih mulus. Lalu ke pinggangnya, pahanya. Diraba-rabanya rok gadis itu, kemudian turun ke bawah menyentuh kulit tubuh gadis itu di bagian paha bawahnya. Sambil asyik menikmati seluruh jengkal bibir cewek itu, tangan Rohim asyik menggerayangi tubuh Liani. Tangannya yang kiri meraba-raba tubuh Liani, dari perut lalu naik ke atas sampai menyentuh payudaranya dan bergerak disekitar situ agak lama. Meraba-rabanya. Mengelus-elusnya. Yang kiri maupun yang kanan. Tangan kanannya menyusup masuk ke balik rok putihnya. Menyentuh kulit pahanya yang halus, meraba-rabainya, dari bagian bawah naik ke pangkalnya, dari bagian luar menuju ke bagian dalam. Sehingga kini tangan di balik rok itu mengelus-elus bagian dalam pangkal paha kiri dan kanan Liani. Merasakan betapa halus dan mulusnya paha itu….

    Posisi Liani yang sebelumnya sedang duduk tegak tak bersandar di sandaran sofa itu, kini jadi terdorong ke belakang oleh gerakan tubuh Rohim yang cukup bernafsu itu. Sehingga kepalanya kini bersandar di sandaran sofa itu. Namun saat itu tiba-tiba Liani melakukan gerakan maju ke depan. Entah tak menyadari atau tak peduli kalau tangan kanan Rohim waktu itu sedang menempel di pangkal pahanya. Akibatnya, saat ia melakukan itu, tangan Rohim jadi menyentuh bagian vitalnya!
    “Ahhhh” Liani jadi mengeluarkan seruan tertahan. Sungguh kebetulan bagi Rohim. Setelah itu, tentu tak disia-siakan olehnya. Tangan yang berada di dalam rok itu mulai menjelajahi sekitar vaginanya. Diraba-rabai celana dalam bagian bulu-bulu vaginanya. Lalu dipencet-pencetnya. Dirasakannya daerah disitu empuk-empuk. Pertanda bulu vaginanya cukup lebat. Sementara tangan yang satunya mulai meremas-remas payudaranya bergantian kiri dan kanan dengan lembut. Dari bulu vagina, tangannya berpindah ke bawah, tepat di tengah-tengah, persis di liang vaginanya!
    “Ohhhh. Ohhhhhh. Ohhhhhh.”
    Rohim kini berpindah menciumi leher Liani yang putih halus. Dirasakannya kulit lehernya yang halus dan mulus. Mmmmmh. Sungguh nikmat sekali menciumi leher putih itu. Apalagi rambutnya diikat keatas, sehingga nampak kelihatan rambut-rambut halus yang tumbuh di antara leher dan kepalanya itu. Liani yang semula pasif dan sepertinya agak tidak rela dirinya dinikmati oleh pesuruh sekolah itu, kini mulai bereaksi aktif. Mungkin menyadari tidak ada jalan keluar atau mungkin jadi terangsang akibat sentuhan-sentuhan Rohim. Dimajukan lagi tubuhnya ke depan. Rupanya ia ingin duduk di lantai. Kedua kakinya terbuka lebar. Lalu ia memeluk tubuh Rohim. Kemudian gilirannya menciumi bibir Rohim. Kedua tangannya memegang leher Rohim erat-erat. Sementara kedua tangan Rohim memeluk tubuh Liani erat-erat. Rohim pun membalas ciuman cewek itu. “Mmmmhh, mhhhhhhh, mmmhhhhh” mereka kini berciuman dengan hebat.

    “Lu benar-benar cowok jantan!” kata Liani menatap mata Rohim sambil mengalungkan kedua tangannya di leher cowok itu,” Gua benar-benar sukaaa banget deh,” katanya sambil tersipu malu. Mendengar itu, Rohim terasa bagaikan naik ke atas awang-awang! Cowok mana yang nggak besar hati disebut cowok jantan oleh cewek cakep. Apalagi yang mengatakan itu adalah siswi favorit sekolah sementara ia adalah pesuruh sekolah! Sungguh bukan main rasanya! Sehingga kini ia jadi ingin lebih menunjukkan kejantanannya kepada Liani! Segera direngkuhnya wajah Liani yang dalam keadaan terduduk di lantai itu. Kembali diciuminya wajah ayu itu, sementara Liani juga membalas ciuman Rohim. Kedua tangannya memeluk punggung Rohim. Sampai akhirnya, bibir bertemu bibir, saling memagut menjadi satu. Mereka berciuman dengan dahsyat, jauh lebih dahysat dari sebelumnya. Liani sesekali membiarkan Rohim mendominasi dirinya, namun kadang juga melayani kebuasannya. Bagaikan layang-layang yang tahu saat menarik dan mengulur. Membuat Rohim semakin terangsang. Sungguh nikmat sekali cewek satu ini! Tampangnya begitu polos, namun sungguh mampu membuat cowok jantan (dirinya) tergila-gila dibuatnya! Dan ini masih baru tahap pemanasan!! Pada saat cewek cakep memuji cowok setinggi langit, pada saat itu sang cowok merasa di atas awang-awang. Seolah-olah ia adalah manusia yang paling penting di dunia ini bagi cewek itu. Namun di saat itu jugalah biasanya sang cowok menjadi lengah. Apabila sang cewek ingin bertindak jahat atau melakukan tipu muslihat, saat itulah yang paling tepat. Demikian pula pada saat sang cowok sedang asyik menikmati cewek cakep apalagi cewek itu dianggapnya jauh lebih tinggi dibanding dirinya dan merupakan suatu kebanggaan besar kalau bisa menikmatinya, dan sang cewek menanggapinya sedemikian rupa sambil memeluk punggungnya sampai cowok itu lupa segalanya. Seharusnya cowok itu waspada terhadap cewek itu, karena ia tak tahu apa yang dilakukan kedua tangan halus di balik punggungnya. Apabila sang cewek ingin bertindak jahat atau melakukan tipu muslihat, saat itulah yang paling tepat.

    Baca Juga Cerita Seks Liani 2: Sex, Lies, and Handphone Camera

    Bahkan menurut desas desus, Genghis Khan, sang penakluk yang gagah perkasa dari bangsa Mongol itu, meninggal dunia gara-gara pendarahan hebat yang dialami saat menyetubuhi seorang putri raja, yang berhasil ditawan setelah kerajaannya berhasil dikalahkan dan dihancurkan. Kalau memang betul, sungguh akhir yang tragis dari seorang yang tak terkalahkan di medan perang. Demikian pula yang terjadi saat itu. Dikala Rohim dengan penuh nafsu menciumi dan mendekap tubuh Liani, apalagi mencium aroma tubuh cewek itu yang harum, ia tidak memperhatikan kalau kedua tangan Liani sedang asyik melakukan sesuatu di balik punggungnya. Dengan cekatan kedua tangan Liani melakukan itu namun ia tidak menyadarinya sebelum semuanya terlambat. Apa yang dilakukan Liani? Tentu Liani tidak akan membunuh atau melukai cowok itu. Ia bukan tipe cewek berdarah dingin seperti itu. Lagipula sungguh tidak ada untungnya ia melakukan itu. Karena bisa saja apa yang dikatakan kepada Rohim barusan sungguh betul adanya. Kalau memang betul, tidakkah ia juga ingin merasakan bagaimana kejantanan Rohim menembus ke dalam tubuhnya… sampai tetes-tetes penghabisan? Pada saat Rohim sedang nafsu-nafsunya menciumi Liani, tiba-tiba keasyikannya itu dihentikan oleh gerakan tiba-tiba Liani yang memberontak dan mendorong Rohim sehingga terlepas dari dirinya. Membuat Rohim terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Namun ia lebih terkejut lagi saat melihat apa yang ada di kedua tangan Liani. Dengan wajah polos, mata yang membesar memandang Rohim dan senyum manis di bibir yang baru saja dilumatnya habis itu, tangan kirinya memegang handphone yang sebelumnya ada di meja sementara tangan kanannya memegang memory card handphone itu, namun kini telah patah menjadi empat bagian!

    “Hey! Apa yang lu lakukan!” sergah Rohim sambil merebut handphone itu dari tangan kiri Liani.
    Namun tindakan itu sudah terlambat dan sungguh tak ada gunanya. Karena seluruh data foto dan video ada di dalam memory card itu! Ia sungguh marah dan kesal dengan kejadian itu. Tak disangkanya Liani yang kelihatannya penurut dan kooperatif ini ternyata diam-diam melakukan sesuatu yang merugikannya dibalik punggungnya tanpa diketahuinya. Apalagi ia menunjukkan perbuatannya itu sambil tersenyum manis kepadanya! Karena sebenarnya ia tak berniat memberikan handphone itu kepada cewek itu saat itu. Ia ingin menundanya sampai cewek itu betul-betul mau melayaninya dua kali atau mungkin tambah sekali lagi. Rohim bukannya ingin memeras Liani seperti Dharsono, namun hal itu dilakukan purely karena perasaan mupengnya kepada cewek itu. Berbeda dengan Dharsono, ia juga tidak akan memaksa Liani untuk melayaninya apabila cewek itu benar-benar tak mau. Akan tetapi selama handphone itu ada di tangannya, sedikit banyak Liani mau tak mau akan menurut kepadanya. Namun kini, ia tak bisa mengontrol Liani lagi kecuali saat sekarang itu aja. Sementara Liani sendiri bukan gadis bodoh tentu ia tak suka hidupnya dikendalikan orang lain. Selama handphone itu masih di tangan orang lain, seberapa baiknya orang itu, tetap saja ia masih tergantung olehnya. Ia tahu kalau Rohim tidak akan menyerahkan handphone itu dengan segampang itu. Sementara juga ia tidak bisa lari dari tempat itu. Oleh karena itu ia berusaha mencari jalan lain untuk menghancurkan bukti itu. Oleh karena itu tadi ia pura-pura pasrah dan menyerah supaya Rohim tidak curiga. Dan ternyata betul, Rohim sama sekali tak curiga sehingga ia tak terpikir untuk menyimpan handphone itu. Apalagi ia sudah kadung mupeng abis terhadap dirinya! Saat Rohim mulai menciuminya tadi, posisi duduknya agak jauh sehingga ia tak bisa meraih handphone itu. Oleh karena itu ia menunggu beberapa saat.

    Saat pertama kali badannya maju, ia lupa kalau satu tangan Rohim berada di pangkal pahanya. Akibatnya gerakannya tertahan oleh tangan Rohim itu. Namun justru itu
    membuat Rohim makin mupeng dan lupa diri. Sehingga pikiran Rohim betul-betul tercurah penuh terhadap dirinya dan sama sekali melupakan handphone di meja itu. Setelah itu ia sengaja duduk di lantai supaya tangannya bisa meraih handphone itu dengan leluasa, lalu melepas memory card-nya dan menghancurkannya di balik punggung Rohim. Sungguh suatu akal bulus yang bagus sekali. Kini terkabullah harapannya. Sekarang ia merasa bebas dari perasaan was-was yang mengganggunya selama ini. Namun sekarang ia masih harus menghadapi Rohim yang marah. Seorang yang kasar dan jujur seperti Rohim, apabila marah kadang bisa menakutkan. Demikian pula yang terjadi sekarang. Apalagi Rohim kini sadar kalau ia hanya punya kesempatan sekali ini saja untuk menikmati dirinya. Oleh karena itu tentu Rohim bertekad untuk menikmatinya sepuas mungkin. Kini Rohim bagaikan singa jantan kelaparan yang siap menerkam kijang muda yang tak bisa lari kemana-mana lagi. Dan kijang muda itu adalah dirinya! Sungguh suatu pertempuran yang tak seimbang, kalau tak boleh disebut sebagai pembantaian!
    “You’re bitch!” seru Rohim. Sungguh aneh, seorang pesuruh sekolah memaki seperti itu kepada siswi favorit satu sekolah. Padahal semua teman-teman cowoknya bahkan para guru di sekolah itu pada menghormatinya. Namun itu belum seberapa. Apa yang bakal dilakukan pesuruh sekolah itu setelah ini akan membuat mereka semua jadi iri hati, sakit hati, bahkan patah hati. Seandainya saja mereka tahu, sudah pasti pesuruh sekolah kurang ajar itu akan dihajarnya ramai-ramai. Tapi apa mau dikata, ceweknya sendiri mau kok.
    “Gua ngaku salah deh. Tapi gimana lagi, kalo lu nggak mau nyerahin ke gua, trus kalo nanti jatuh ke tangan Dharsono lagi gimana coba? Apa lu nggak kasihan dengan gua,” kata Liani.

    Sekali lagi, sungguh aneh, cewek favorit se-sekolahan ngaku salah ke pesuruh sekolah?!
    Dalam hati Rohim membenarkan juga argumen cewek itu. Ada kemungkinan untuk itu memang. Namun ia tak mau mengalah begitu saja di depan cewek ini.
    “Tapi ingat janji lu. Lu masih punya “hutang” sama gua.”
    “Oh, kalo itu sih, tergantung dengan hasil hari ini gimana. Kalo memuaskan, kenapa nggak? Bahkan sepuluh kali sekalipun juga siapa yang bisa menolak?”
    Sungguh sulit dipercaya, omongan seperti itu bisa keluar dari mulut cewek sepolos ini.
    “Hmm, kalo itu sih nggak usah kuatir,” kata Rohim,”Tapi lu jangan pura-pura bersikap manis terus berusaha menipu gua lagi ya!”
    “Memang gua mau menipu apa lagi?” Memang ia berkata jujur, setelah menghancurkan bukti dirinya itu, kini tidak ada lagi yang ingin didapat dari Rohim dengan cara menipu.
    “Boro-boro menipu, sekarang aja gua mau lari kemana pun juga nggak bisa,” tambahnya lagi. Memang betul sekali perkataannya itu, saat ini ia tidak bisa lari kemana pun. Namun seandainya bisa pun, mungkin juga ia tidak akan lari.
    “Memang betul, lu nggak bisa lari kemana-mana. Karena sekarang ini lu harus menerima hukuman atas perbuatan lu sebelumnya!”
    “Asal jangan terlalu berat aja hukumannya.”
    “Mengenai itu gua nggak bisa janji deh….”
    “AAAhhhhhhh,” teriak Liani karena Rohim langsung menerkamnya sampai tubuhnya terkapar di atas sofa.
    Kembali diciuminya gadis itu. Kali ini diciuminya dengan nafsu menggebu-gebu. Karena sebelumnya ia setengah tertipu olehnya, kini ia membalasnya dengan menciuminya penuh nafsu. Diciuminya seluruh bagian wajahnya. Sehingga kini wajah putih Liani yang cakep itu kini habis diciuminya.
    “AAhhhhhhhhhhhh,” teriak Liani sambil memukul-mukul tubuh Rohim. Namun apa daya. Tenaganya sungguh tak berarti untuk memukul tubuh kekar itu.
    “AHhhhhhh……Ehhmmmmmm,” kini suaranya berubah karena bibirnya dikunci oleh Rohim. Bibir Rohim yang hitam melumat habis bibir Liani yang kemerahan itu. Sampai-sampai terdengar suara kecapan-kecapannya.

    Setelah itu bibirnya beralih mengecupi lehernya yang putih mulus. Kali ini ia melakukannya dengan penuh nafsu dan menghisap kuat-kuat. Sehingga disana sini membekas kemerahan akibat kecupan-kecupan Rohim itu.
    “Ahhhh….Ahhhhhhh…..AHhhhhhh”, Liani mendesah-desah merasakan nikmatnya kulit lehernya yang sensitif itu dikecup-kecup dan di sedot-sedot oleh Rohim. Sementara itu, kedua tangan Rohim masuk ke dalam baju atas Liani yang bergaris-garis itu. Kini ia mulai merasakan halusnya kulit tubuhnya. Diraba-rabanya perutnya, iganya, makin lama makin ke atas, sampai menyentuh branya. Dipegangnya dan diremas-remasnya dengan lembut. Dirasakan kekenyalannya.
    “Ohhhhh, ohhhhhhhhh.”
    Namun tak lama, karena tujuannya setelah itu didudukkan Liani dengan menggunakan tangannya yang berada di dalam bajunya. Lalu digerakkannya tangannya keatas. Otomatis bajunya itu ikut terangkat naik. Sampai akhirnya mentok sampai di pundaknya. Lalu diloloskannya baju atasan itu melewati pundak, leher, kepala, dan kedua tangannya sampai terlepas dari tubuhnya. Nampak bra berwarna biru tua yang menutup payudara Liani. Lalu dibukanya retsleting roknya, kemudian dipelorotkannya rok itu sampai terlepas dari tubuh Liani. Setelah itu dilepaskan kedua kaus kaki merah muda Liani. Sehingga kini ia duduk di sofa itu hanya memakai pakaian dalam saja.. Bra biru tua yang dipakainya itu begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Nampak bagian atas belahan payudaranya yang tak tertutup oleh bra itu. Belahan itu nampak begitu sempurna membentuk celah lekukan yang sungguh menggairahkan. Celana dalamnya juga berwarna biru tua.

    Pahanya yang putih mulus sungguh menggelorakan hati. Sehingga kini Rohim meraba-raba dengan kedua tangannya. Sungguh halus dan mulus sekali! Dan warnanya nampak Kontras sekali. Tangannya yang hitam meraba-raba paha cewek berkulit putih mulus itu. Diciuminya bibirnya yang indah itu. Bibir yang tersenyum dengan manis saat ia menunjukkan akibat perbuatannya yang mematahkan memory card handphone itu, kini kembali dilumat habis oleh bibir Rohim yang hitam. Seakan ia hendak memberi pelajaran kepada cewek itu. Bahwa sebelumnya ia telah berbuat kesalahan. Oleh karena itu sekarang saatnya untuk dihukum! Setelah puas dengan itu, Rohim menghentikan ciumannya. Kini tangannya meraih tali pengait bra-nya yang ada di punggung. Rupanya ia sudah tidak sabar lagi untuk segera melihat sendiri keranuman dan keindahan payudara siswi favorit itu yang telah tumbuh dengan sempurna. Tentu bukan hal yang sulit baginya melakukan ini karena ia telah cukup berpengalaman dalam hal itu. Dengan kedua tangan bergerak bersamaan, lepaslah pengait bra itu. Segera diloloskannya bra itu dari bahunya. Dan, WOW! Begitu indah payudara yang menggantung dengan bebasnya itu. Sampai Rohim pun dibuat terkesima melihatnya. Belum pernah ia menyaksikan payudara seindah payudara Liani ini. Begitu segar dan ranum. Serta padat berisi. Ukurannya sungguh pas dengan tubuhnya. Tidak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Ukuran bra nya adalah 34C. Belahannya sungguh sempurna. Warna kulitnya yang putih membuat semakin indah. Begitu bersih. Begitu putih. Begitu mulus. Begitu menggairahkan. Namun yang
    paling indah adalah kedua putingnya. Kedua putingnya mencuat di tengah-tengah gundukan gunung kembar putih itu. Warnanya kemerahan sungguh nampak segar menggairahkan. Apalagi bagi Rohim, belum pernah sebelumnya ia melihat langsung sepasang gunung kembar putih dengan putingnya yang kemerahan. Sejenak ia memandangi pemandangan indah di hadapannya itu tanpa melakukan apa-apa.. Membuat Liani, yang payudaranya terbuka dan diliatin terus begitu, menjadi tersipu malu.

    Hal itu membuat Rohim semakin gemas. Namun ia tetap tak akan lupa untuk menghukum cewek ini! Namun sebelum itu, karena tanggung, segera tangannya beralih turun ke bawah, menuju ke celana dalam biru itu. Sementara Liani hanya pasrah saja, meski ia tahu sebentar lagi ia akan ditelanjangi bulat-bulat oleh pesuruh sekolah itu. Sementara mata Rohim masih jelalatan memandang ke dada Liani. Sungguh indah sekali, batinnya. Ia tak sabar ingin segera menikmatinya. Oleh karena itu ia buru-buru memelorotkan celana dalam biru itu ke bawah. Yang pertama kali terlihat tentu bulu vaginanya yang ternyata cukup lebat. Gila! Cewek ini betul-betul hebat body-nya, pikir Rohim. Ia memang paling suka cewek dengan bulu vagina lebat. Apalagi Liani yang tampangnya polos gini ternyata memiliki bulu yang lebat. Sungguh kontradiktif dan merangsang! Kemudian diloloskannya celana dalam biru tua itu. Sehingga kini Liani betul-betul tak menggunakan selembar kain pun untuk menutupi tubuhnya yang mulus dan sexy. Saat itu Rohim ingin membuka kedua kaki Liani lebar-lebar. Ia ingin melihat liang vaginanya dengan jelas sebelum menggarapnya. Namun sepertinya Liani masih malu-malu. Ia menolak membuka kakinya lebar-lebar. Malah kini ia menutup kedua kakinya dengan rapat. Membuat bulu vaginanya terkumpul di tengah-tengah. Ia tak ingin memaksa gadis itu, untuk saat ini. Kemudian ia melepas pakaiannya sendiri, baju kaus dan celana jins nya. Namun setelah itu ia meraih tangan Liani dan mendekatkannya ke celana dalamnya yang terlihat adanya tonjolan besar. Liani segera mengelus-elus tonjolan di celana dalam itu dengan kedua tangannya yang putih halus. Kemudian Rohim memberi isyarat untuk berdiri yang dipatuhinya. Kemudian kedua tangannya yang halus meraih celana dalam Rohim dan memelorotkannya ke bawah. Sehingga nampaklah penis Rohim warna hitam yang besar berdiri dengan tegak. kepala penisnya yang disunat nampak mencuat keatas.

    Saat Liani melakukan itu, ia membungkukkan badannya, sehingga payudaranya mendekat ke arah Rohim. Rohim tak kuasa menahan dirinya lagi. Segera direngkuhnya sepasang gunung kembar yang menggairahkan itu dengan kedua tangannya. Di saat tangan halus Liani mengelus-elus penis Rohim yang berdiri tegak dengan perkasanya, kedua tangan hitam itu menempel di kedua gunung kembar putih yang menggairahkan itu. Kini, setelah payudara putih Liani berada dalam genggaman tangannya, Rohim merasakan sendiri kekenyalan dan kehalusannya. Sungguh padat berisi. Ia menciumi leher Liani, menghisap-hisap kulitnya yang putih. Tangannya meremas sepasang gunung kembar yang indah itu. Dirasakannya kedua putingnya yang menonjol menyentuh telapak tangannya. Sementara kedua tangan Liani juga tak kalah sibuknya. Tangan kirinya mengelus-elus buah zakar Rohim dan tangan kanannya mengocok-ngocok batang penis yang hitam besar dan mengusap-usap kepalanya yang disunat dengan jari-jarinya. Penis hitam Rohim yang menegang dengan keras dan perkasa sepenuhnya berada dalam genggaman kedua tangan Liani yang putih dan lembut. Setelah itu mereka berpelukan sambil berdiri. Kedua tangan Rohim memeluk erat punggung Liani. Membuat tubuh gadis itu menempel erat ke tubuhnya. Kulit putih menempel dengan Kulit hitam. Payudara Liani yang putih dan montok menempel di dada Rohim yang hitam dan bidang. Perut menempel dengan perut. Paha menempel dengan paha. Penis Rohim yang mengaceng ke atas menempel di bulu vagina dan perut Liani. Bulu-bulu kemaluan keduanya saling bertemu. Dan kedua tangan Liani memeluk erat pinggang Rohim. Keduanya saling berciuman bibir dengan penuh nafsu. Terutama Rohim yang menciumi cewek itu dengan buas seolah ingin melampiaskan rasa marahnya sebelumnya dengan menghisap seluruh kenikmatan yang ada pada diri cewek itu semaksimal mungkin.

    Lidah bertemu dengan lidah. Perbedaan warna kulit keduanya nampak kontras sekali. Kedua tangan hitam Rohim menempel di punggung Liani yang putih mulus. Dan kedua tangan Liani yang putih halus menempel di punggung Rohim yang hitam. Setelah itu kedua tangan hitam Rohim memegang pinggul putih Liani yang menonjol itu dan meremas-remasnya. Inilah perpaduan sempurna antara yin dan yang, feminin dan maskulin, beauty and the beast, siswi teladan dan pesuruh sekolah! Kemudian Rohim melepaskan dekapannya. Penisnya menegang dengan keras. Lalu ia memegang kepala Liani dan mendorongnya ke bawah sampai Liani berlutut di depannya dan kepalanya sejajar dengan penisnya. Liani dengan wajah polosnya memandang ke Rohim. Tapi Rohim mendekatkan wajah Liani ke penisnya…Sehingga kini siswi teladan itu mau tak mau jadi menyepong penis Rohim. Dipegangnya pangkal penis itu dengan tangan kanannya. Sementara mulutnya dimaju-mundurkan mengemut penis Rohim. Rohim sungguh menikmati sepongan Liani pada batang kejantanannya itu. Hatinya puas sekali. Inilah salah satu hukumannya terhadap gadis yang telah berani menipunya itu! Apalagi sepongan Liani betul-betul nikmat rasanya. Bahkan Liani menggunakan ujung lidahnya untuk menyapu kepala penis itu yang berada di dalam mulutnya. Oleh karena terangsang, kini penis Rohim mengeluarkan lendir pre-cum-nya. Tentu saja mau tidak mau Liani harus merasakannya dan menelannya. Karena lidahnya telanjur menempel di ujung kepala penis Rohim. Sementara Rohim tak membiarkan cewek itu untuk berhenti menyepongnya sebelum dirinya betul-betul puas. Guru menghukum murid adalah hal yang biasa. Itupun, bentuk hukumannya biasanya adalah dengan menyuruhnya berdiri di depan kelas. Namun seorang pesuruh sekolah menghukum siswi favorit sekolah adalah hal yang luar biasa. Apalagi hukumannya dengan menyuruh siswi itu telanjang bulat dan berlutut untuk menyepong penisnya!

    Setelah puas “menghukum” Liani dengan cara itu, kini ia meneruskan dengan hukumannya yang lain. Setelah Liani berdiri kembali, didorongnya cewek itu ke belakang sehingga tertidur di atas sofa. Bagaikan binatang buas menerkam mangsa, ia menerkam cewek itu dan menindihnya.
    “AAHhhhhhhhhhh,” Liani berteriak.
    Kemudian terjadilah adegan pembantaian berikutnya. Ditindihnya Liani di atas sofa itu. Diciuminya bibir Liani dengan buas dan penuh nafsu. Diciumi leher yang putih mulus itu. Dikecup-kecupnya seluruh bagian leher dan bahu putih itu. Dirasakan bau harum semerbak aroma tubuh gadis yang telanjang bulat itu. Ciuman Rohim turun ke bawah lagi, kali ini yang menjadi sasaran apa lagi kalo bukan dada Liani yang putih montok menggairahkan itu. Diciuminya dada putih yang padat menggairahkan itu. Diciumi seluruh bagian dadanya. Lidahnya bergerak menjilat-jilat lembah diantara kedua gundukan daging itu. Lalu lidahnya bergerak mengelilingi lereng gunung sebelah kanan. Lalu bergerak melingkar naik makin ke atas dan makin ke tengah. Tangan kanannya meraih dada yang satunya lagi, meraba-rabanya, mengusap-usapnya, meremas-remasnya… Liani hanya merintih-rintih perlahan tanpa perlawanan sedikitpun. Karena memang ingin melawan pun juga ia tak akan mampu karena Rohim saat itu bagaikan orang kelaparan menikmati hidangan yang amat lezat. Tapi mungkin memang ia juga tidak ingin melawan.Akhirnya sampailah lidahnya di puncak gunung putih itu. Dijilatinya puting kemerahan yang segar dan sangat menggairahkannya itu. Ujung lidahnya melingkar-lingkar mengelilingi puting kemerahan yang mencuat menonjol itu.
    “Ahhhh, ahhhhhh,” Liani tak kuasa menahan dirinya karena itu memang adalah titik sensitif baginya apalagi saat lidah Rohim menerabas putingnya berkali-kali baik horizontal maupun vertikal dan menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya di bagian atas dari putingnya. Inilah titik paling sensitif dari payudaranya!

    “Ahhh, ahhhh, ahhhhh, ahhhh, ahhhh, ahhhhh…………”
    Sementara itu jari-jari tangannya yang memegang dada kiri juga tak tinggal diam untuk dimainkannya di putingnya. Jarinya menggerak-gerakkan puting yang sensitif itu. Sambil sesekali menempel-nempelkan ujung kelingkingnya di bagian atas putingnya.
    Liani mulai “naik” dibuatnya. Kini ia bersikap semakin pasrah saja membiarkan Rohim melakukan semaunya terhadap dirinya. Dan sekarang mulutnya mengemut dan menghisap-hisap puting kemerahan itu.
    “Ahhhhh, ahhhhh, ahhhhhh, ………”
    Liani tak tahan untuk tidak mendesah-desah saat putingnya yang sangat sensitif itu diemut oleh Rohim. Dirasakan kehangatannya saat payudaranya disedot-sedot di dalam mulut Rohim. Ditambah rasa geli-geli enak saat lidah Rohim dimainkan di putingnya. Apalagi saat putingnya digigit-gigit kecil!
    “Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhhhhh…….”
    Rohim sendiri juga menikmati saat melakukan itu. Baru kali ini ia bisa memainkan payudara sedemikian indah dan putih apalagi putingnya yang kemerahan sungguh menggairahkan. Oleh karena itu mulut dan lidahnya bermain-main agak lama di sana, lidahnya dengan buas menjilat-jilat dan menggerak-gerakkan puting yang sungguh menggelorakan hatinya itu. Apalagi saat mendengar Liani mulai mendesah-desah dan merasakan reaksi tubuh cewek itu yang menegang pertanda cewek itu juga terangsang oleh perbuatannya. Sungguh puas hatinya saat itu ia bisa menikmati payudara sedemikian indah milik gadis muda yang menjadi siswi favorit di sekolah itu dimana ia bekerja sebagai pesuruh sekolah..Setelah itu, diulangi lagi semua itu dengan berganti posisi. Kali ini mulut dan lidahnya mempermainkan dada sebelah kiri dan tangan serta jarinya menggarap dada kanan cewek itu.

    Setelah puas memainkan dan menikmati payudara, kini mulut Rohim bergeser ke bawah. Diciumi dan dikecupi bagian perut, pinggang, samping tubuh, paha, dan selangkangan cewek itu. Lalu tangannya digunakannya untuk meraba-raba dan mengusap-usap bulu-bulu vaginanya yang lebat. Jari-jarinya meraba-raba dan dibenam-benamkan di tengah-tengah bulu vaginanya yang empuk. Sungguh membanggakan hati bisa melihat langsung bulu-bulu vagina cewek cakep yang ternyata sungguh lebat itu. Apalagi kalau bisa meraba-rabanya! Lalu tangannya turun ke bawah mengelilingi bagian pribadinya itu. Digesek-gesekkan jarinya di pangkal paha Liani dan juga di liang vaginanya. Setelah itu dibentangkannya kedua kaki Liani lebar-lebar supaya ia bisa melihat dengan jelas bentuk vaginanya. Dan kali ini cewek itu tidak menolak sama sekali. Mula-mula dijilat-jilatnya bagian pangkal paha dan daerah sekeliling vaginanya. Ini saja sudah cukup membuat Liani mulai menggeliat kegelian. Lalu Rohim mulai menjilat-jilati mengelilingi vaginanya sambil sesekali menerabasnya kiri kanan dan menjilati secara bertikal mengikuti lipatan liang vaginanya.
    “Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
    Kini Rohim mulai merasakan adanya lendir pada lidahnya. Tak puas dengan itu, dibukanya lipatan liang vagina Liani dengan jari-jarinya. Bagian dalam vaginanya berwarna kemerahan. Lalu dimasukkan lidahnya disitu dan dijilat-jilatnya bagian yang super sensitif itu.
    “Ooohhhh, ooohhhhhhh, oohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
    Tak lama kemudian vaginanya menjadi basah berlendir.

    Dibentangkannya lipatan vagina bagian atasnya, sampai kelihatan klitorisnya yang seperti biji kacang berwarna merah. Dan dijilat-jilatnya…Tanpa dicegah lagi Liani langsung mendesah-desah sambil tubuhnya menggeliat-geliat.
    “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!”
    Tangannya memegang rambut Rohim, sementara kedua pahanya menjepit kepalanya.. Seolah tak ingin cowok itu menghentikan kegiatannya itu. Akibatnya sekarang jadi makin basah saja….Rupanya ia menyukai juga kebuasan Rohim menikmati dirinya. Mungkinkah ia tadi sengaja membuat Rohim marah supaya membuat cowok liar itu jadi semakin buas menggarap dirinya? Setelah merasa cukup merangsang cewek itu, dihentikannya aksinya itu. Kini giliran penisnya yang minta bagian, pingin memakan korban cewek putih cakep itu. Didekatkan penis hitamnya yang menegang keras itu di depan liang vagina cewek putih itu. Lalu dengan gerakan mendorong ke depan,
    “Shleeb” “Ahhhh!”
    “Shleeb” “Ahhhh!”
    Masuklah penis itu seluruhnya ke dalam vagina Liani. Lalu,
    “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb”
    Dimaju-mundurkan penisnya di dalam vagina Liani. Dirasakannya vaginanya yang sempit menjepit penisnya membuatnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Apalagi mengingat cewek yang disetubuhinya ini bukanlah cewek sembarangan.
    “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
    Wajah cakep Liani langsung mengeluarkan suara mendesah-desah begitu penis Rohim menghunjam-hunjam di dalam vaginanya. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang dibuatnya. Terutama payudaranya yang terguncang-guncang dan berputar-putar.

    Mendengar desahan Liani itu, Rohim makin bersemangat mengocok penisnya di dalam vagina cewek itu. Ia sungguh puas menyaksikan cewek yang tadi secara diam-diam berani menipunya itu kini tak berkutik dibuatnya. Malah kini jadi mendesah-desah tak karuan. Itulah akibat dari perbuatannya yang menipunya tadi. Kini ia harus menjalani hukuman dengan cara disetubuhi! Melihat payudara ranum yang bergerak-gerak itu seolah menantang dirinya, Rohim tak tahan untuk tidak merengkuh keduanya dengan tangannya. Begitu berada dalam genggamannya, payudara yang penuh dan hangat itu segera diremas-remasnya.
    “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
    Setelah itu dikeluarkannya penisnya. Posisi Liani sedikit diubahnya dengan dibentangkannya kaki kirinya dan dinaikkan di atas sandaran sofa, dan kemudian…kembali disodok-sodoknya vagina cewek itu dengan penisnya yang masih perkasa. Setelah itu dimiringkannya tubuh Liani yang tidur di atas sofa. Lalu ia tidur di sebelahnya menempel ke tubuh gadis itu. Diciuminya punggung yang putih mulus itu. Mulai dari leher, yang karena rambutnya digulung dan diikat ke atas, jadi nampak jelas kulitnya yang putih, lalu turun ke bahu, punggung, pinggang, dan pinggulnya. Dijelajahinya seluruh jengkal tubuh gadis itu seolah tak ada yang terlewat. Ditempelkannya penisnya yang hitam di antara kedua pinggul Liani yang putih. Lalu disusupkan tangannya yang hitam di tengah-tengah kedua paha Liani yang putih mulus. Kini tangannya kembali memainkan vagina Liani dan meraba-raba bulu-bulu vaginanya. Setelah itu, diangkatnya satu kakinya ke atas. Sehingga kini ada celah untuk masuk ke vaginanya. Kemudian disusupkan penisnya di antara kedua kakinya, dan…..
    “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
    Lagi-lagi disetubuhinya Liani dalam posisi miring begitu. Sementara satu tangannya memegang bagian depan tubuh Liani. Tentu bagian yang paling banyak diusapnya adalah payudaranya. Dimainkan dan diremas-remasnya payudara putih ranum milik gadis itu. Diciuminya dan dijilatinya tengkuk putih gadis itu dan bagian belakang telinganya! Dan diciumnya harum tubuh Liani yang aromanya semakin kuat itu. Rohim sungguh nggak mau rugi dalam menikmati diri Liani saat itu.
    Betul-betul dinikmatinya seluruh bagian tubuh gadis itu semaksimal mungkin.

    Liani sendiri nampak begitu menikmati disetubuhi dalam posisi begitu. Apalagi miring begitu, sensasinya sungguh berbeda. Sementara tangan hitam Rohim yang terus menerus merangsang payudaranya. Dan ciuman lidah Rohim yang menggelitik tengkuk dan bagian belakang telinganya! Apalagi tubuhnya menempel di tubuhnya sendiri mendekap dirinya. Membuat dirinya bisa mencium aroma kejantanan yang keluar dari tubuh Rohim. Apalagi dari tadi penisnya tak henti-hentinya menghantam-hantam di dalam tubuhnya. Betul-betul jantan dan perkasa! Kini, seiring dengan bersatunya kedua tubuh yang berlainan jenis itu, bercampur pula aroma tubuh maskulin Rohim dengan aroma tubuh feminin Liani. Pada saat itulah,
    “Ooooohhhhhhhhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhhhh”
    Sementara Rohim sibuk menghunjam-hunjam penisnya di dalam tubuh Liani untuk melampiaskan seluruh nafsunya terhadap cewek ini, saat itulah Liani mengalami orgasme. Akhirnya, setelah dihunjam-hunjam begini terus menerus, sampailah titik dimana ia tidak dapat menahan lagi. Dan pada saat itu, bagaikan air bah yang dahsyat menerjang, langsung bobollah tanggul itu dan airnya meluap hebat.
    “Aaaaahhhhhhhhhhhhh aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”
    Sungguh saat itu Liani merasakan kenikmatan yang luar biasa! Kali ini keperkasaan Rohim betul-betul membuatnya bertekuk lutut! Namun Rohim terus meneruskan aksinya karena ia masih jauh dari selesai. Ia masih belum puas menikmati gadis itu, yang sungguh menggairahkan dan merangsang sekaligus menggemaskan dirinya itu. Sengaja ia tidak cepat-cepat mengubah posisi, untuk membiarkan Liani menikmati orgasmenya dan menenangkan dirinya. (Memang seperti dikatakan diatas, kadang ia bisa bersikap sebagai gentleman sejati di tengah aksi bajingannya)..

    Setelah Liani mulai tenang, ia kembali melanjutkan aksinya. Mereka berganti posisi lagi. Kini Liani dalam posisi menungging. Dan Rohim menyodok vagina gadis itu dengan penisnya dari belakang. Posisi doggy style! Dalam posisi ini Rohim kembali menghunjam-hunjam penisnya di dalam tubuh Liani, menghentak-hentak tubuhnya dengan kuat. Posisi inilah yang paling kuat hentakannya terhadap tubuh Liani. Seluruh tubuhnya bergetar-getar. Payudaranya mengguncang-guncang dibuatnya. Sampai-sampai sofa itu juga ikut bergetar-getar. Kedua tangan Rohim dengan sigap menyangga payudara itu, menggoyang-goyang, meremas-remas, dan menepuk-nepuknya. Dan pada posisi inilah Rohim merasakan kebanggaan paling besar dimana kejantanannya mengoyak-ngoyak tubuh ramping Liani. Kini keduanya dalam posisi berdiri. Tubuh Rohim menempel di belakang tubuh Liani. Sementara ia menciumi tengkuk Liani, kedua tangannya meraba-raba payudara dan vagina Liani. Di tengah-tengah aksinya itu, Rohim membuka pengikat yang mengikat rambut Liani ke atas. Sehingga, tersibaklah rambut Liani terurai bebas ke bawah. Sehingga kini kepala Rohim berada di tengah-tengah rambut Liani yang terurai bebas. Hmm, betapa harum rambutnya. Segera diciuminya rambutnya. Kemudian ia membalik tubuh Liani. Kini nampak Liani dengan rambut panjangnya yang terurai bebas. Sebagian menutupi dadanya terutama bagian atasnya. Wajahnya sedikit berbeda dengan rambutnya yang terurai begini. Namun tak kalah cantik dan menggairahkan. Apalagi ia dalam keadaan telanjang bulat! Segera Rohim ingin mencicipi bagaiman rasa Liani yang berambut panjang ini. Untuk itu didekatkan penisnya di depan tubuh Liani. Dibentangkan sedikit salah satu kaki Liani. Dan, ooohhhh!, dimasukkannya penisnya ke dalam liang vagina Liani dalam keadaan berdiri begitu! Dan disodok-sodoknya!
    “Ooohhhh, oooohhhh, oooohhhhhhh.”
    Sungguh nikmat sekali rasanya baik bagi Rohim maupun Liani.

    Kembali mereka beraksi di sofa. Kali ini Rohim tiduran telentang di sofa itu. Sementara Liani duduk diatas tubuh Rohim. Tentu tak hanya sekedar duduk, namun dengan memasukkan penis Rohim yang menegang ke atas ke dalam vaginanya. Kini giliran Liani yang “berolahraga”. Cowgirl position! Kali ini Liani dengan aktif menaik turunkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya bergerak-gerak. Rambutnya juga. Apalagi payudara yang tergantung bebas itu, juga bergerak naik turun seiring dengan irama gerakan tubuhnya.
    “Ooohhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh.”
    Kini ia mulai “menanjak” lagi, sehabis orgasme tadi. Sementara itu Rohim juga menikmati gerakan-gerakan tubuh Liani itu yang membuat penisnya terjepit di dalam vagina Liani dan dikocok-kocok. Sambil sesekali ia meremas-remas payudara ranum di depannya itu. Setelah itu ganti posisi lagi, Reverse Cowgirl! Kembali Liani menggoyang-goyang tubuhnya dalam posisi ini. Sungguh nikmat sekali baginya karena ia bisa mengatur irama goyangannya sesuai dengan yang diinginkannya. Sementara sensasinya berbeda dengan posisi sebelumnya. Kali ini giliran Liani kembali telentang di sofa itu. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Lalu, penis hitam besar itu kembali masuk menembus vaginanya yang terbuka bebas.

    “Shleeeb, shleeeb, shleeeb.”
    Kali ini Rohim menyodok-nyodok penisnya sambil memegangi kedua kaki Liani. Ia mengubah-ubah irama gerakan penisnya, kadang cepat, kadang lambat. Namun setelah itu ia melakukannya dengan irama konstan, sambil menjilati payudara Liani terutama bagian putingnya. Jadilah Rohim dari tadi sibuk “membolak balik” tubuh gadis ini dan menikmatinya dari berbagai sudut. Memang ia seolah ingin menghisap seluruh saripati kenikmatan yang ada pada diri gadis itu.

    Karena disodok-sodok terus begini dalam waktu cukup lama apalagi payudaranya juga ikut dirangsang oleh cowok itu, lama-lama Liani jadi nggak tahan juga. Akibatnya kini tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang akibat penis Rohim yang terus mengocok-ngocok vaginanya. Sampai akhirnya ia mendapatkan orgasmenya yang kedua. Tak lama setelah Liani mengalami orgasme kedua, Rohim juga sudah ingin segera melampiaskan seluruh nafsunya yang tertahan kepada gadis ini. Untuk itu, ia akan memberikan hukuman yang terakhir kepada Liani hari itu. Kini Rohim mencabut penisnya. Lalu ia berdiri. Sementara Liani yang telanjang bulat duduk di depannya. Kemudian Liani segera mengulum penis Rohim yang basah mengkilap itu. Disepongnya penis itu di dalam mulut cewek bertampang innocent itu. Kepalanya mengangguk-angguk saat menyepong penis hitam di dalam mulutnya itu. Sementara kedua tangan Rohim memegang di kiri kanan kepala Liani. Dan di dalam mulutnya, Liani menggunakan lidahnya untuk menjelajahi seluruh bagian kepala dan leher penis yang disunat itu. Bagian-bagian yang sangat peka rangsangan. Kemudian Rohim mengeluarkan penisnya dari mulut Liani dan kini tangan Liani yang mungil mengocok-ngocoknya di depan wajahnya! Sampai akhirnya, croot, croot, croottt! Muncratlah sperma dari penis Rohim dengan kuat ke wajah Liani. Sampai-sampai ada pula yang mendarat di rambutnya. Sehingga wajah yang cakep innocent itu jadi belepotan karena sperma. Sementara Liani malah mengulum penis Rohim, sepertinya ia sungsung-sungguh ingin menghisap seluruh cairan dari penisnya sampai tetesan terakhir. Setelah penis itu mengecil dan melemas, baru ia melepaskan dari mulutnya. Sperma yang sebelumnya mendarat di wajah dan rambutnya itu, kini mengalir turun ke dagu, leher, dan dada. Ada yang turun bagaikan sungai mengalir, ada pula yang langsung “loncat” dari dagu ke payudaranya. Ada pula yang masih “menggantung” di dagunya. Sehingga kini wajah, bagian atas tubuh, dan jari-jari tangan kanannya jadi belepotan oleh sperma Rohim. Rohim sungguh puas akhirnya bisa menikmati Liani secara total hari itu. Dan itulah hukuman dari seorang pesuruh sekolah terhadap siswi favorit.
    Bagi Liani, itulah tebusan yang harus dibayar untuk membebaskan dirinya. Sambil mendapatkan kenikmatan yang luar biasa.

    —@@@@@@@—–

    “Lu kalo mau membersihkan badan, bisa pake kamar mandi itu. Ada handuk juga disana,” kata Rohim.
    “OK,” kata Liani. Ya, memang saat itu ia perlu membersihkan diri. Wajahnya belepotan penuh sperma Rohim. Rambutnya pun juga tak luput dari semprotan sperma Rohim. Leher, dada, serta perutnya juga basah karena sperma di wajahnya sebagian mengalir ke bawah. Selain itu ia juga harus membersihkan bagian pribadinya. Saat itu ia berjalan ingin mengambil seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai. Namun Rohim berkata,”Lu kesana nggak usah bawa pakaian.”
    “Nggak apa-apa, gua bawa aja sekalian.”
    “Nggak usah.”
    “Memang kenapa sih nggak boleh?”
    “Soalnya tempatnya nggak cukup. Ntar pakaian lu jadi basah semua. Lagian, gua juga masih pengin lihat lu telanjang abis ini.”
    “Dasar lu.”
    Tak lama kemudian keluarlah Liani dengan badan bersih dan segar dengan handuk melilit di tubuhnya. Pakaiannya yang tadi berserakan telah dikumpulkan dan ditaruh di meja kecil.
    “Nah kalo gini khan asyik pemandangannya,” kata Rohim yang sedang tiduran santai di sofa matanya memandang ke arah Liani yang melepas handuk di tubuhnya itu.
    “Iih, sialan lu,” kata Liani mukanya memerah melihat cowok itu memandangi dengan serius tubuhnya yang telanjang bulat. Buru-buru ia memakai pakaiannya satu persatu. Tak lama kemudian gantian Rohim yang ke kamar mandi. Cerita Maya

    Setelah keduanya berpakaian rapi kembali,
    “Gimana, meski gua pesuruh sekolah, not bad juga khan buat siswi favorit,” kata Rohim.
    “Ah, sialan lu,” Liani mukanya memerah.
    “Omong-omong,” kata Rohim,” Gua masih nggak habis pikir. Gua susah payah nyari lu nggak bisa ketemu, eh malah akhirnya lu yang nyamperin gua.”
    “Iya ya. Padahal buku gua itu nggak ketinggalan di kelas seperti yang gua kira. Jadi seharusnya gua nggak perlu ketemu lu waktu itu.”
    “Mungkin karena motivasi gua lebih gede untuk menemukan handphone itu dibanding motivasi lu untuk menemukan gua,” kata Liani mengajukan pendapatnya.
    “Bukan gitu,” kata Rohim,” Tapi karena motivasi lu lebih gede untuk bercinta dengan gua.”
    “Iiih,” kata Liani sambil mencubit Rohim.
    “Jadi ini gua bawa ya,” kata Liani mengambil potongan-potongan memory card dan handphone itu. Ia tak mau mengambil resiko. Ia berniat membakar semuanya itu.
    “OK, nggak masalah,” kata Rohim. Handphone itu kini sama sekali tak berguna baginya. Bahkan seandainya memory-nya tidak rusak pun.
    “Jangan lupa janji lu ya. Lu masih ada utang satu sama gua.”
    “Kalo gua nggak ingat gimana,” kata Liani menggodanya.
    “Jadilah gua kena tipu cewek cakep. Tapi gua nggak takut soalnya nanti cewek cakepnya itu yang bakal nyari gua.”
    “Ih, enak aja. Siapa bilang.”
    Namun akhirnya Liani memberikan juga nomor handphone-nya kepada cowok itu, disamping menyerahkan 5 juta sebagai bagian dari transaksi mereka.

    Setelah itu Liani keluar dari sekolah yang sunyi senyap itu. Sesampainya di rumah, dibakarnya handphone itu di pekarangan belakang rumah. Sejak saat itu, legalah hatinya karena terlepas dari beban pikiran yang sebulan terakhir ini terus menghantuinya. Kejadian dengan Dharsono waktu itu adalah lembaran hitam di dalam hidupnya. Dengan dibakarnya handphone itu, maka ikut terbakarlah lembaran hitam itu. Sehingga kini ia benar-benar kembali menjadi Liani yang sebelumnya…plus pengalaman dan jam terbang yang bertambah tentunya. Sementara itu Liani dan Rohim masih melanjutkan pertemuannya. Rohim yang sebelumnya meminta cuma sekali, lalu diralatnya menjadi dua kali, pada akhirnya meminta berkali-kali. Sebagian besar permintaan itu diluluskan oleh Liani, kecuali kalau ia memang berhalangan atau betul-betul tidak mood. Sebenarnya saat itu Rohim sedang menjalin hubungan cukup serius dengan cewek sekelasnya yang bernama Ratih. Pada mulanya ia tidak ingin mengkhianati kekasihnya itu. Tapi godaan untuk menikmati diri Liani sungguh besar. Apalagi saat itu adalah kesempatan bagus untuk bisa bercinta dengan cewek sekelas Liani. Kapan lagi ia mendapat kesempatan sebagus ini. Memang janji setia cowok susah dipegang kalau udah berhubungan dengan nafsu birahi terhadap cewek lain. Setelah satu kali, ia tak dapat menahan diri untuk tidak melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Sehingga kini meski ia tetap menjalin hubungan cintanya dengan Ratih namun sesekali ia juga melakukan hubungan “pertemanan plus plus plus” dengan Liani. Hal itu berlangsung terus sampai Liani lulus SMU. Karena setelah itu Liani melanjutkan kuliahnya di kota lain. Setelah itu pun kadang keduanya masih berhubungan lewat email melanjutkan pertemanannya (tentu tanpa plus plus plus). Setelah lulus SMU, Rohim melanjutkan sekolahnya dengan masuk ke akademi kepolisian. Setelah lulus, ia menjalin profesi sebagai detektif polisi khusus bagian penyelidikan masalah-masalah kriminal. Beberapa tahun kemudian, Rohim melangsungkan pernikahannya dengan Ratih.

    Lalu bagaimana dengan jalan kehidupan Liani selanjutnya? Hal itu akan diceritakan di episode-episode berikutnya.

    End of episode 3

  • Liani 2: Sex, Lies, and Handphone Camera

    Liani 2: Sex, Lies, and Handphone Camera


    2440 views

    Disclaimer:

    1.Cerita ini mengandung unsur pornografi yang tidak cocok buat anak di bawah umur atau orang-orang alim.
    2.Seluruh materi cerita ini adalah fiksi belaka. Seluruh kemiripan nama, tokoh, tempat, kejadian, dll adalah suatu kebetulan semata.
    3.Cerita ini tidak mengandung unsur SARA apalagi kebencian atau menyudutkan kelompok tertentu. Kalaupun ada keterangan mengenai ras / suku / warna kulit / ciri fisik, adalah semata-mata sebagai bumbu penyedap cerita untuk menambah unsur erotisme.
    4.Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suku, agama, ras, golongan, atau profesi tertentu. Apabila ada yang negatif, itu hanyalah oknum yang menyimpang dan tidak mewakili seluruh golongan.

    ***************************************

    Liani

    Cerita Maya | Resepsi peresmian perusahaan itu berlangsung meriah. Banyak karangan bunga dipajang di sana yang dikirim oleh orang-orang penting. Semua tamu berpakaian rapi dan necis. Selain kerabat-kerabat, turut diundang pula sejumlah rekan bisnis, staf-staf penting, pejabat pemerintah setempat, dan tamu-tamu penting lainnya. Bahkan ada pula beberapa orang wartawan yang datang meliput. Kini tiba saatnya acara simbolis peresmian itu yaitu pemotongan pita. Saat itu seluruh pandangan mata tertuju ke arah seorang pria setengah baya yang tampan, rapi dan sukses yang sedang berbicara. Ia adalah pemilik perusahaan tersebut.

    Dengan wajah ceria ia berkata,”Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran bapak-bapak dan ibu-ibu disini. Untuk pemotongan pita ini, saya akan diwakili oleh putri saya yang cantik, yaitu Liani!”
    Di tengah-tengah tepuk tangan orang-orang itu, majulah seorang gadis muda dan cantik ke depan. Ia mengenakan gaun pesta warna merah jambu yang sungguh pas di tubuhnya. Dengan senyum mengembang di wajahnya, tangannya yang mungil menggerakkan gunting itu untuk memotong pita tersebut. Para juru foto tak melewatkan kesempatan itu untuk melakukan aksinya. Sekali lagi, terdengar tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Entah apa yang ada di benak para juru foto itu saat mereka sibuk memotret. Apakah mereka memotret melulu untuk upacara pemotongan pita itu, ataukah juga karena kecantikan gadis muda itu. Cerita Maya

    Ya, gadis itu adalah Liani. Ia menghadiri upacara pembukaan anak perusahaan milik Papinya. Penampilannya sangat menarik dengan gaun pesta merah jambu tanpa lengan itu. Selain karena wajahnya yang cakep dari sononya, apalagi dengan make up dan dandanannya malam itu, membuatnya tak kalah cantik dan menarik dibanding bintang film Hongkong. Juga kulitnya putih bersih. Usianya masih muda sekali,17 tahun lewat hampir 18 tahun, dan ia masih kelas 2 SMU. Bodi tubuhnya juga menarik kalau tak boleh dikatakan menggiurkan (terutama untuk para mupengers). Apalagi gaun pesta mahal dengan kualitas kain sangat bagus yang dikenakannya begitu pas menempel di tubuhnya. Nampak terlihat lekuk liku body curve yang nyaris sempurna di balik gaun mahal yang dikenakannya. Pinggangnya ramping, pinggulnya menonjol. Dadanya juga nampak menonjol dan berisi. Sementara potongan gaunnya berleher agak rendah yang memperlihatkan sebagian kecil belahan payudaranya. Membuat penasaran para lelaki yang ingin melihat lebih banyak lagi. Upacara peresmian malam itu berlangsung dengan sukses. Sementara kehadiran Liani malam itu berhasil mencuri perhatian banyak orang. Banyak yang mengaguminya, karena kecantikannya, penampilannya, kepercayaan dirinya, maupun juga prestasinya di sekolah, dan lain-lainnya. Banyak orang yang tahu bahwa ia adalah siswi berprestasi di sekolah favorit di kota itu. Banyak pula orang tua yang diam-diam iri karena anaknya kalah segalanya dari Liani. Ada pula beberapa rekan bisnis Papinya yang ingin menjodohkan anaknya dengan Liani.. Dan banyak pula cowok-cowok muda yang tertarik kepadanya. Namun juga diam-diam banyak lelaki – muda maupun tua – yang berpikiran kotor. Yah, namanya juga cowok. Dimana pun dan siapa pun sama saja kalo ngeliat cewek muda, cantik, dan sexy. Tapi tentu semua pikiran itu hanya disimpan di dalam hati masing-masing.

    —@@@@@@@—–
    Keesokan harinya…

    Liani sedang asyik menonton tv dengan masih memakai seragam SMU putih abu-abunya. Memang ia baru pulang dari sekolahnya. Begitu selesai makan siang, ia langsung duduk di sofa sambil menonton tv. Wajahnya tampak segar. Mungkin karena hari itu jam pelajaran sekolah cuma 3 jam. Oleh karena paginya ada rapat yang melibatkan semua guru, maka jadwal sekolah dimulai lebih siang dari biasanya. Liani, semenjak diperawani oleh Dodo waktu itu, telah beberapa kali melakukan hal yang sama lagi. Meski sadar bahwa itu adalah perbuatan terlarang, namun tetap saja dilakukannya karena ia juga menikmatinya. Apalagi melakukannya sambil sembunyi-sembunyi sehinga menambah ketegangan dan sebagai tambahan bumbu kenikmatan. Kini ia jadi semakin mahir dalam hal gituan, mungkin karena memang pada dasarnya “punya bakat tinggi” dalam hal ini ditambah lagi Dodo yang memang lebih berpengalaman mengajaknya melakukan berbagai macam variasi. Selain Dodo dan Liani sendiri, tidak ada orang lain yang tahu akan hal ini. Karena, ini hebatnya Liani, ia tetap saja masih bisa mempertahankan prestasinya di sekolah (malah ranking-nya tambah naik). Sehingga tak ada orang yang menyangka atau merasakan adanya perubahan dalam diri Liani. Sementara Dodo sendiri juga bisa menjaga rahasia. Mungkin bagi dia yang lebih penting adalah asalkan Liani mau melayaninya kapan pun ia mau. Untuk mencegah supaya tidak hamil, diam-diam Liani menyimpan pil anti hamil yang mujarab. Ia berhasil mendapatkan informasi tentang itu dengan memancing salah satu tantenya yang telah menikah. Tanpa curiga sama sekali, tantenya itu berhasil dipancingnya untuk memberitahu dan menjelaskannya secara lengkap dan detail.

    Saat itu tiba-tiba ada sms masuk dari Dodo yang bilang kalo sebentar lagi ia sampai kesana. Liani langsung kaget karena saat itu Papinya lagi di rumah.. (Papinya punya kantor sendiri untuk usaha bisnisnya. Namun selain itu, ada satu kamar di rumah itu yang khusus dipakai sebagai kantor kerjanya. Letaknya di bagian belakang rumah. Sebagai gambaran, memang rumah Liani ini cukup besar dan luas serta mempunyai beberapa kamar). Sehingga kadang Papinya kerja di rumah seperti hari ini. Karena takut ketahuan, ia langsung menelpon Dodo memberitahu agar jangan datang saat itu. Namun rupanya Dodo tak menggubrisnya karena tak lama kemudian ada sms masuk dari Dodo yang isinya,”Gua udah di depan pintu rumah loe!” Awalnya Liani berniat menyuruhnya pergi. Namun dipikirnya lagi, biasanya Papinya kalo lagi kerja gitu bisa sampe sore di dalam ruangnya. Saat itu Dodo tidak membawa motornya. Ia naik kendaraan umum. Akhirnya, tanpa sepengetahuan siapa pun, diajaknya Dodo masuk ke dalam dan mereka duduk di sofa di ruang tamu depan (yang jaraknya agak jauh dari ruang kerja Papinya). Begitu melihat Liani yang masih memakai seragam dengan rapi, seketika Dodo langsung terangsang. Terbayang-bayang tubuhnya yang putih mulus dan sexy yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya namun makin lama makin membuatnya ketagihan itu. Apalagi dengan memakai seragam SMU gini, Liani makin kelihatan seperti cewek baik-baik dan innocent. Tentu enak sekali rasanya kalau bisa menikmati cewek kayak gini. Membuat Dodo makin gemas dibuatnya. Begitu duduk berdua di sofa, Dodo segera memulai aksinya. Tangannya langsung menggerayangi tubuh Liani. Diraba-rabanya dada Liani dan disusupkannya tangannya di dalam rok abu-abunya. Lalu sejenak mereka berciuman bibir. Kemudian kedua tangannya mulai melucuti pakaian gadis itu.

    Tak perlu waktu lama, pakaian seragam Liani yang sebelumnya rapi jadi amburadul. Baju seragam dan branya masih menempel di tubuhnya, tapi sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya. seluruh kancing bajunya telah terlepas dan baju seragamnya terbuka lebar. Bra warna hijau muda yang harusnya berfungsi menutupi payudara gadis putih mulus itu malah telah terbuka kaitan depannya. Sehingga kini dadanya yang putih dan padat berisi terbuka telanjang di depan mata Dodo. Kedua putingnya yang kemerahan nampak menonjol dan menggairahkan. Rok abu-abunya tersingkap keatas. Nampak pahanya yang putih mulus. Hanya celana dalamnya saja, yang juga berwarna hijau muda, yang masih berada di posisi sebagaimana mestinya. Namun itu pun tak lama. Karena sesaat kemudian, Dodo meloloskan celana dalam itu dari tubuh cewek itu. Kini Liani dalam posisi duduk dengan sebagian besar pakaiannya masih menempel di ubuhnya, akan tetapi sudah tak berfungsi menutupi bagian-bagian tubuh seorang gadis yang seharusnya tidak diperlihatkan kepada cowok, apalagi cowok kelas rendahan seperti Dodo gini. Kini nampak jelas bUlu-bulu vaginanya yang lebat dan hitam, kontras banget dengan kulit tubuhnya yang putih. Tak heran kalau Dodo jadi bernapsu melihat Liani dalam keadaan seperti itu. Segera diciuminya cewek putih itu dengan penuh napsu. Kedua tangannya yang hitam merengkuh dan meraba-raba payudaranya yang terbuka bebas. Ketika ia sedang asyik meraba-raba payudara Liani dan memilin-milin kedua putingnya yang kemerahan itu dengan kedua jari telunjuknya, tiba-tiba:
    “Lianiii!,” terdengar suara Papinya memanggilnya.

    Bagi Liani, suara itu bagaikan guntur yang menggelegar.
    “Kamu dimana?” tanya Papinya dari kejauhan.
    “Anu, Liani di sofa ruang tamu depan, Pi,” kata Liani agak lega karena dari jarak suaranya ternyata Papinya masih di dekat ruang kerjanya (sehingga masih jauh dari dirinya).
    “Ngapain kamu disana?”
    “Eh, anu, aku lagi tiduran disini,” katanya agak gelagapan karena pada saat itu payudaranya yang telanjang berada dalam genggaman Dodo dan diremas-remasnya.
    “Memang kenapa Pi?”
    “Kamu mau sup jamur nggak? Papi mau nyuruh Bi Minah untuk manasin.”
    “Nggak deh Pi. A-aku masih kenyang koq.”
    “Beneran kamu nggak mau?”
    “Beneran Pi. Nanti kalo aku mau, aku langsung kesana deh. Sekarang Papi terusin aja kerjanya,” kata Liani sementara payudaranya masih terus diremas-remas Dodo.
    “OK deh kalo gitu,” katanya sambil masuk ke ruangannya.
    Setelah Papinya masuk ke ruang kerjanya kembali, mereka berdua jadi bebas merdeka. Kini Liani dalam posisi menungging. Dodo memasukkan kepalanya di dalam rok Liani. Didalamnya, mulutnya sedang asyik menjilati dan menghisap-hisap vagina Liani. Lidahnya menari-nari merangsang klitorisnya. Sementara kedua tangannya meraba-rabai sekujur tubuh Liani.
    “Ehhmm, ehmmmm, ehmmmm,” Liani mulai mendesah-desah. Tak lama kemudian vaginanya mulai basah.
    Kemudian ia melakukannya dengan berganti posisi. Liani dalam posisi berdiri.. Dodo berlutut di depannya. Kepalanya masuk di dalam rok abu-abunya. Dijilatinya bulu-bulu vagina serta vagina cewek itu dari depan. Vagina Liani dibuat basah kuyup karenanya.
    “Ooh…ohhh….ohhhhh,” Liani mendesah-desah lirih.

    Setelah itu gantian giliran Liani membuka retsleting celana panjang Dodo dan dibukanya celana berikut celana dalamnya. Batang penisnya yang hitam (lebih hitam dari kulitnya) menegang keras. Kepalanya besar telah basah karena cairan pre-cum yang keluar karena terangsang sejak ia menggrepe-grepe tubuh Liani. Dengan bersimpuh di depan Dodo yang sedang duduk, Liani mendekatkan mulutnya diantara kedua paha Dodo kemudian meng-oral penis hitam besar dan berurat milik Dodo itu. Bagaikan gadis manis yang patuh, disepongnya penis Dodo dengan konsentrasi penuh. Kini Liani sudah lebih pandai dalam melakukan hal ini. Dikulum dan diemut-emutnya penis hitam berurat itu. Di dalam mulutnya, dimainkannya lidahnya terutama di bagian kepala dan leher penis Dodo yang nampak Seperti jamur itu. Rambut Liani yang panjang agak keriting dan berwarna kecoklatan itu menyentuh dan menggelitik paha dan sebagian perut Dodo, membuatnya makin keasyikan. Dodo yang sedang duduk di sofa itu jadi keenakan menikmati penisnya disepong oleh Liani. Betapa kontras dan kontradiktif pemandangan itu. Cowok yang hitam jelek dari kalangan rendahan duduk santai di sofa mahal sementara di depan kakinya duduk bersimpuh anak cewek dari keluarga kaya yang putih cakep dan sexy yang dengan asyiknya mengulum penisnya yang hitam besar dan berurat itu. Liani, anak pengusaha kaya yang malam sebelumnya tampil mempesona seluruh tamu, kini dengan sukarela dan sepenuh hati melakukan pelayanan oral sex kepada Dodo, cowok kelas rendahan! Kondisi pakaiannya pun juga amburadul. Dan hebatnya lagi, semua itu dilakukan dibalik punggung bokapnya yang sedang berada di dalam rumah itu juga. Sungguh ini adalah peristiwa langka dan aneh! Beberapa saat kemudian Dodo menghentikan aksi Liani. Biarpun ia sangat menikmati kejadian kontradiktif itu, namun kalau begini terus-terusan nggak lama lagi bisa keluar spermanya. Rugi kalau belum menikmati tubuh cewek putih mulus itu. Setelah “cooling down” sejenak, segera diatur posisi tubuh Liani supaya vaginanya di atas penisnya sendiri. Supaya bisa, bleesss, masuklah penisnya yang hitam di dalam liang vagina Liani. Berat tubuh Liani membuat penis Dodo jadi masuk seluruhnya ke dalam vagina gadis putih itu (hukum gravitasi, man!). Meski begitu, vaginanya masih sempit dan seret. Setelah itu Liani menggerakkan dirinya naik turun, membuat penis Dodo yang keras dan hangat menembusi dan mengocok-ngocok vaginanya.

    Dodo menjilati dan menyedot-nyedot kedua putingnya. Ekspresi wajah Liani sungguh nampak kalau ia sangat menikmati itu. Apalagi ia juga mendesah-desah dengan erotis meski harus dengan menahan suaranya. Pada saat itu, terdengar suara pintu kamar kerja Papinya terbuka dan Papinya berkata,
    “Liani, sup jamurnya Papi taruh di meja makan. Nanti kalo kamu mau, langsung dimakan aja.”
    “Ehmm, ehmm, OK deh, Pi,” kata Liani sementara ia juga lagi asyik-asyiknya merasakan nikmatnya “jamur” Dodo mengocok vaginanya.
    “Buruan lho makannya, ntar keburu dingin nggak enak.”
    “Oh, oh, OK, OK, Pi,” kata Liani agak terengah-engah sambil tetap meneruskan irama naik turun tubuhnya di atas penis Dodo.
    Pada saat Liani berbicara itu, Dodo kembali menjilati dan menghisap-hisap puting payudara Liani. Matanya memandang ke wajah Liani yang mengekspresikan kenikmatan luar biasa saat ia menggoyang tubuhnya sendiri di atas penis Dodo, sambil sesekali menjawab pertanyaan Papinya.
    “Oh ya, abis ini Papi mau telpon sama client, jadi kamu jangan masuk ke kamar Papi ya,” kata Papinya.
    “Ok, OK,” katanya sambil tubuhnya terus bergoyang-goyang dan menatap Dodo.
    “Beneran lho. Papi nggak mau diskusi Papi diganggu.”
    “Iya, Iya. Pi. Aku udah ngerti ga perlu diulang-ulang gitu. Udah sekarang Papi kerja aja lagi. Aku juga ga bisa konsentrasi kalo diganggu gini terus,” kata Liani mulai kesal dengan terus menggoyang tubuhnya.
    “Ooh, kamu lagi belajar tho. Ya udah Papi masuk dulu. Kamu terusin aja belajarnya,” katanya sambil masuk ke dalam ruang kerjanya.

    Setelah itu mereka mengubah posisi ke doggy style, dimana penis Dodo menyodok-nyodok vagina Liani dari belakang. Sementara kedua tangannya menepuk-nepuk dan meremas-remas payudara Liani yang tergantung bebas diantara baju seragamnya yang terbuka. Setelah itu mereka berganti beberapa posisi. Meski sempat terganggu beberapa kali, akhirnya Liani bisa mendapatkan orgasme-nya saat Dodo menyetubuhinya dalam posisi ia tiduran dan kedua kakinya ditekuk keatas (nggak tahu apa nama posisi ini). Semuanya itu dilakukan dengan baju seragamnya masih melekat di tubuhnya. Ia sengaja tidak mau melepas baju seragamnya dari tubuhnya, supaya di saat emergency (apabila Papinya datang ke tempatnya), ia bisa langsung cepat membereskan pakaiannya. Sementara bagi Dodo, hal ini membuat diri Liani jadi semakin menggairahkan. Belum pernah sebelumnya ia menggarap cewek yang putih cakep dan sexy dengan masih memakai seragam sekolah. Sesaat setelah Liani orgasme, Dodo juga sudah ingin segera memuntahkan seluruh isi penisnya. Ia menidurkan Liani di sofa empuk itu, membuka kedua pahanya lebar-lebar, lalu ia segera akan memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani, ketika tiba-tiba,
    “Liani!”
    “Ada apa lagi sih, EHHH…Pi?” Pada saat Liani mengeluarkan suara “EHHH” itu adalah saat dimana Dodo dengan tak sabar lagi memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani.
    Liani sedang menatap Dodo yang mengocok penisnya di dalam vaginanya, ketika ia mendengar Papinya berkata,”Ada yang mau Papi omongin ke kamu. Papi kesitu bentar ya.”
    “Eh! Jangan Pi. EHHH. Aku aja yang ke tempat EHHH Papi. Tunggu bentar deh Pi EHHH,” kata Liani panik mendengar Papinya akan kesana sementara itu Dodo lagi asyiknya menggoyang tubuhnya.
    Liani memukul-mukul lengan Dodo, memberi isyarat supaya menghentikan aksinya, namun Dodo yang sudah hampir keluar ogah menghentikannya malah dengan cuek terus saja menggenjot dirinya.
    “Nggak apa-apa Papi aja yang kesana. Cuman mau ngomong sebentar aja kok,” katanya sambil berjalan ke depan menuju ke sofa.
    Liani mulai panik ketika ia mendengar langkah kaki Papinya mendekati dirinya.
    “Nanti aja, Pi.” (Cleeb, cleeeb, cleeeb, sementara penis Dodo terus mengocok vaginanya)
    Namun suara langkah kaki itu semakin mendekatinya…
    Ah, sudah terlambat, pikirnya pasrah. Sekarang sudah tak sempat lagi beresin pakaian. Apalagi posisi dirinya yang “dikunci” oleh Dodo seperti ini.
    Mati deh, gua.
    Udah deh pasrah nasib aja, batin Liani dengan lemas.
    Suara langkah Papinya semakin dekat aja…sementara penis Dodo masih berada di dalam vaginanya dan menggenjotnya.
    Persis pada saat Papinya hendak melangkah masuk ke ruang tamu itu dan Liani sudah bisa melihat bayangan Papinya dari lantai…
    Tiba-tiba,
    “Kriiiinngg, Kriiinnngg,” telepon Papinya di ruang kerjanya berbunyi.
    “Ah, itu pasti client Papi lagi. Sebentar ya Papi terima telpon dulu,” kata Papinya sambil setengah berlari berbalik ke ruang kerjanya.
    Aduuuh, leganya, batin Liani seolah terbebas dari himpitan beban puluhan ton. Sementara itu, Dodo terus mengocok penisnya di dalam tubuh Liani, sampai akhirnya memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina Liani. Entah ikutan tegang atau exciting, ia mengeluarkan sperma dalam jumlah yang amat banyak. Setelah mengeluarkan seluruhnya akhirnya melemaslah penis Dodo dan dikeluarkannya dari vagina Liani. Sementara itu Liani merasakan vaginanya berdenyut-denyut rasanya karena masih fresh baru dikocok oleh Dodo apalagi dikocok abis seperti itu.

    Ia mendengar Papinya telah selesai bicara di telepon dan kembali berjalan menuju ke arahnya. Kali ini, tak mau ketangkap basah, buru-buru ia merapikan pakaiannya. Dikaitkannya kembali branya, dikancingkan seluruh kancing bajunya. Sebelum Papinya sampai ke tempatnya, ia cepat-cepat mendahului keluar dari ruang tamu itu. Ia sudah tak sempat lagi memakai celana dalamnya yang saat itu tergeletak di atas meja kecil di dekat sofa (yang biasanya untuk menaruh minuman buat tamu). Biarin aja nggak usah pake celana dalam. Kalo mesti pake celana dalam lagi, salah-salah entar ga keburu. Toh gini juga Papi nggak akan tahu kalau sekarang aku nggak pake celana dalam, pikirnya.
    “Memang Papi mau ngomong aja sih ke Liani,” tanya Liani kepada Papinya yang seketika menghentikan langkahnya begitu melihat Liani muncul. Hati Liani deg-degan dan waswas kalau-kalau Papinya tahu apa yang baru dilakukannya. Tapi ia sok pede aja. Saat itu jarak diantara keduanya kira-kira 4 meter.
    “Papi ada urusan bisnis mendadak dan harus keluar kota besok pagi-pagi. Papi perlu pergi kira-kira seminggu. Karena itu Papi minta Tante Frida untuk nenemin kamu selama Papi nggak ada. Nggak baik anak cewek ditinggal lama-lama cuma dengan pembantu. Jadi nanti kamu mesti nurut sama omongan Tante Frida, ok?
    “OK, nggak masalah Pi,” kata Liani tanpa berpikir banyak.
    Sementara ia sedang berbicara itu, Liani merasa vaginanya masih berdenyut-denyut mungkin akibat baru selesai dikocok habis-habisan oleh Dodo. Oleh karena sperma yang dimuntahkan di dalam vaginanya cukup banyak, ia merasakan kalau vaginanya kini “dripping” yaitu mengeluarkan sebagian sperma di dalamnya seirama dengan denyutan-denyutan yang dirasakan di vaginanya itu. Apalagi dalam posisinya yang berdiri begini dan tidak memakai celana dalam. Ia merasakan ada lelehan sperma yang keluar dari vaginanya menetes turun ke bawah membentuk anak sungai mengalir ke bawah membasahi bagian dalam pahanya di balik rok abu-abunya, bahkan ada yang turun ke bawah sampai kakinya dan diresap oleh kaus kakinya.

    Karena takut Papinya memperhatikan adanya cairan yang mengalir dari selangkangannya itu, ia merapatkan kedua kakinya sehingga sperma yang selanjutnya keluar tertahan oleh pahanya. Ia menggunakan rok seragam abu-abunya untuk meresap cairan itu. Sehingga kini rok abu-abunya menjadi basah berlendir di bagian belakangnya. Namun rupanya Papinya tidak memperhatikan hal itu. Karena tak lama setelah itu, Papinya kembali masuk ke ruang kerjanya.
    “Sialan lu! Lu bikin gua ketakutan setengah mati tadi. Udah tahu mau jalan kesini, bukannya berhenti malah sengaja diterusin,” kata Liani sewot sambil memukul tubuh Dodo dengan tangannya.
    “Ya gimana ya, soalnya tanggung sih,” kata Dodo cengengesan, “Udah hampir keluar masak kok diputus di tengah jalan.”
    “Untung tadi ada telpon, kalo sampe ketauan Papi gimana?,” kata Liani masih sewot.
    “Ga bakalan lah. Buktinya barusan ga ketauan khan?” kata Dodo dengan enteng..
    “Kacau dah lu. Lain kali jangan gitu deh.”
    “Udaah, jangan marah terus. Khan sekarang udah aman. Lagian tadi gimana, enak khan?” kata Dodo sambil senyum-senyum.
    Liani masih cemberut, di dalam hati mengakui kalau pengalaman barusan sungguh menegangkan dan menakjubkan.
    “Jangan lupa, ini dipake lagi,” kata Dodo sambil menyodorkan celana dalam hijau muda ke arah cewek itu,”Nanti kasihan tamu bokap lu jadi kaget ngeliat ada cd lu tergeletak disini,” katanya cengengesan.
    “Gokil deh lu,” kata Liani sambil segera merebut celana dalam miliknya itu dari tangan cowok itu.
    Tak lama kemudian Dodo meninggalkan rumah itu. Sehingga tidak ada orang lain yang tahu selain mereka berdua kalau saat itu Dodo menyusup masuk ke dalam rumah itu (dan juga menyusup masuk ke dalam vagina anak cewek penghuni rumah itu).

    —@@@@@@@—–
    Beberapa hari kemudian

    Malam itu Liani sedang tiduran di atas ranjang. Ia memakai pakaian tidur warna merah muda. Baju tidurnya seperti hem tangan panjang yang tipis kainnya.. Ia tidak memakai rok atau celana bawahan. Bajunya cukup panjang untuk menutupi celana dalamnya, meski tak cukup panjang untuk menutupi pahanya yang putih mulus. Karena posisi tidurnya yang telungkup, sehingga lekukan pinggulnya tampak menonjol. Rambutnya yang panjang diikat dengan gelang rambut sehingga nampak jelas lehernya yang putih. Sebagian gundukan payudaranya terlihat di balik celah kerah bajunya dalam posisinya yang telungkup itu. Ia nampak asyik membaca majalah remaja dan membolak balik halamannya. Sesekali ia mengubah posisi tubuhnya dengan memiringkan tubuhnya sehingga sesekali nampak tonjolan putingnya di balik bajunya yang tipis. Karena ia memang tidak memakai bra. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan ke meja riasnya. Payudaranya ikut bergerak-gerak di balik bajunya seiring dengan langkahnya. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya. Payudaranya nampak lebih jelas lagi di saat ia berdiri seperti ini. Setelah selesai minum ia menatap refleksi dirinya dari kaca meja riasnya. Ia melihat apakah ada jerawat di mukanya. Namun tidak ada dan mukanya sama sekali mulus. Lalu ia merapikan rambutnya. Di usianya yang hampir 18 tahun, ia benar-benar seorang gadis muda dengan daya tarik seksual yang tinggi. Wajahnya cantik dan putih bersih. Tubuhnya juga sexy. Makin nampak sexy aja dengan baju tidur yang tipis begini. Kainnya yang tipis mengikuti lekuk liku dan tonjolan payudaranya. Kedua putingnya tercetak cukup jelas. Kedua pahanya putih mulus. Dan pinggulnya menonjol di balik bajunya. Ia nampak santai dan cuek dengan pakaian seadanya seperti itu. Karena memang tidak ada orang lain di dalam kamarnya itu.

    Pada saat ia sedang menatap dirinya di meja riasnya, tiba-tiba terdengar suara sms masuk. Segera ia mengambil handphone-nya dan melihat sms itu. Ternyata dari Dodo. Bunyi pesannya,”Gua pengin mampir kesana besok sore. Situasi aman?” Lalu ia membalas,”Jangan!!! Disini lagi ada nenek sihir.” Nenek sihir yang dimaksud Liani adalah Tante Frida, saudara sepupu Papinya. Ia adalah seorang perawan tua karena usianya sudah 45 tahun dan belum menikah. Tampangnya judes dan cara berbicaranya ketus. Ia selalu memakai kacamata berbingkai warna hitam. Ia tidak terlalu suka dengan tantenya ini karena orangnya kolot dan suka sok mengatur. Apalagi terhadap gadis muda seperti dirinya yang dianggapnya harus dikekang dan dimonitor terus. Ditambah lagi ia dianggapnya terlalu berani dalam hal cara berpakaian. Menurut tantenya, seorang wanita apalagi gadis muda seumur Liani tidak seharusnya berpakaian dengan menampilkan daya tarik seksualnya. Sungguh sial bagi Liani, kali ini ia harus tinggal bersama tantenya itu selama hampir seminggu. Papinya ada urusan bisnis yang mengharuskannya keluar kota selama seminggu. Oleh karena itu ia meminta Tante Frida untuk tinggal di rumah itu selama ia keluar kota. Supaya Liani ada temannya dan tidak sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Namun hal itu malah menjadi siksaan bagi Liani. Karena tantenya itu selalu menasehatinya hal yang sama terus menerus. Dan tantenya ini selalu berkomentar negatif mengenai pakaian yang dipakainya. Bahkan baju seragamnya pun juga tak lepas dari kritik, menurutnya kain bajunya terlalu tipis dan roknya terlalu pendek. Namun apa daya, karena Papinya selalu mempercayai saudara sepupunya untuk mengawasinya. Mungkin karena Tante Frida adalah satu-satunya saudaranya yang single. Sehingga lebih mudah untuk diminta tinggal disana. Setelah membalas sms Dodo, ia balik lagi meneruskan bacaannya sambil tiduran.

    Beberapa saat kemudian, ia hendak mengambil sesuatu di luar. Ia tahu kalau tantenya melihatnya pasti pakaiannya dikomentarinya. Namun dilihatnya lampu di ruang tengah sudah gelap. Pertanda bahwa tantenya dan pembantunya telah masuk ke kamarnya. Lalu ia keluar dari kamarnya dengan cuek. Akan tetapi selagi ia sedang di ruang tengah, tiba-tiba tantenya keluar dan menyalakan lampu. Begitu melihat tantenya keluar, Liani menyapanya, “Eh, Tante belum tidur?”
    Namun tantenya malah menguliahinya,”Aduh Lianiii. Sudah berapa kali tante bilang. Pakaian kamu itu lho. Nggak siang nggak malam sama aja. Masa anak gadis kok pakaiannya seperti itu.”
    “Ya khan nggak apa-apa kalo di rumah sendiri, Tante.”
    “Biarpun di rumah sendiri tetap aja nggak pantas, Liani. Sebagai anak gadis kamu harus selalu berpakaian sopan dan tertutup biar pun didalam rumah sekalipun. Bukannya pamer paha pamer dada seperti sekarang ini. Kalo ada cowok yang ngintip gimana?”
    “Memang siapa yang ngintip, tante? Disini khan cuman ada tante dan Bi Minah..”
    “Ya bisa aja kacung di rumah sebelah ngintip dari atas tembok. Memang kamu mau diintip sama kacung atau sopir sebelah? Masa kamu nggak malu?”
    “Iih, kok tante ngomongnya begitu sih.”
    “Dan lagi kamu itu kalo Tante kasih nasihat selalu nggak digubris. Coba lihat pakaian kamu itu. Kayak hampir telanjang aja. Kalo nanti kepergok tukang sampah gimana? Apalagi kamu nggak pake bra gini. Senang ya kamu diliatin sama tukang sampah. Jangan-jangan kamu sekarang juga nggak pake celana dalam kali.”
    “Tante kok jadi ngomongnya gitu sih. Khan Liani memang juga sudah mau tidur.. Dan lagi juga nggak ada siapa-siapa disini selain tante dan Bi Minah. Kalo ada orang juga Liani nggak akan keluar kamar pake pakaian kayak gini doang. Liani juga ngerti tante.”
    “Kamu dari dulu bisanya selalu membantah aja kalo dinasehati orang tua. Jangan-jangan kamu memang suka ya dilihat telanjang sama cowok? Iya?! Kalo memang gitu, kenapa nggak sekalian aja lepasin baju kamu semua lalu keluar di jalanan! Biar jadi tontonan hansip dan kuli bangunan!! Atau sekalian kamu pengin digilir rame-rame?!”
    “Iiih. Tante kelewatan deh!” kata Liani dengan mata memerah.

    Demikianlah dua perempuan berbeda generasi itu bertengkar. Tak lama kemudian, masuklah tantenya ke dalam kamarnya dengan menutup pintunya dengan keras.. Liani pun juga mengikuti langkahnya dengan masuk ke dalam kamar sendiri dan menutup pintunya dengan tak kalah kerasnya. Demikianlah Liani dan tantenya yang tak pernah bisa akur dari sejak dulu dan terutama beberapa tahun terakhir ini. Sebenarnya tidak semua nasehat tantenya 100% salah. Namun Liani sukar menerimanya karena tantenya terlalu mendikte dan otoriter. Dan, diam-diam ada rasa iri di dalam diri tantenya terhadap Liani apalagi sejak Liani menginjak masa remaja. Karena Liani semakin tumbuh berkembang menjadi gadis yang cantik dan menarik, sementara ia sendiri semakin memasuki usia tua bagaikan bunga yang memasuki masa layu. Padahal ia masih single. Oleh karena itu, ia berusaha meredam daya tarik kewanitaan Liani. Ia tak suka kalau keponakannya itu menarik perhatian para cowok. Dan perasaan iri tantenya itu bisa dirasakan oleh Liani. Ia menganggap kalau tantenya itu pura-pura bermaksud baik menasehatinya padahal sebenarnya ingin membuatnya mengikuti jejaknya, yaitu menjadi perawan tua dengan sama sekali tak pernah berhubungan dengan pria. Selain itu juga ia nggak suka dengan kata-kata tantenya yang pedas dan kasar itu, seperti kalimatnya yang terakhir. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia mempunyai keinginan terpendam untuk menjadi bad girl, untuk melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang diajarkan keluarganya selama ini. Sejak kecil ia sering mendapat petuah-petuah maupun ajaran-ajaran dari orang tua maupun kerabat-kerabat dekat lainnya:
    “Kamu harus begini.”
    “Kamu tidak boleh begitu.”
    “Kamu harus kesana.”
    “Kamu tidak boleh kesitu.”
    “Anak baik tidak melakukan itu.”
    “Anak papi harus rajin belajar.”
    “Kamu harus patuh terhadap orang tua.”
    “Kalo kamu nggak berbuat begitu, Papi nggak sayang sama kamu.”
    “Kamu harus sekolah di sekolah X dan harus berprestasi.”
    dst, dst, dst.
    Sejak kecil ia tumbuh dan dibentuk sesuai dengan keinginan orang tua dan kerabat dekatnya supaya mereka bisa menggunakannya sebagai sarana untuk membanggakan diri kepada teman-temannya. Sementara hal itu mengorbankan dirinya karena ia sama sekali tidak mendapatkan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau berekspresi sesuai dengan keinginannya. Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya yang menyebabkan ia menjadi bad girl adalah…KEMUNAFIKAN! Kebanyakan keluarga dan kerabatnya sering memberi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang bagus-bagus. Namun mereka sendiri tidak menjalankannya, malah melanggar kata-katanya sendiri. Contohnya yang paling jelas adalah Papinya sendiri. Papinya sok moralis dalam hal memberi nasehat tapi ia sendiri malah diam-diam mempunyai istri simpanan, tidak hanya satu tapi beberapa. Dan banyak lagi contoh yang lain. Oleh karena hal seperti itu menumpuk terus menerus dari sejak kecil dan hanya bisa dipendam di dalam hatinya, akhirnya diam-diam timbul benih-benih pemberontakan di dalam dirinya. Itu sebabnya mengapa tak ada resistensi yang cukup berarti dari dirinya saat Dodo ingin melaksanakan kehendaknya untuk memerawaninya. Perbuatannya dengan Dodo itu sungguh merupakan cara pemberontakannya dengan skala yang hebat. Image-nya selama ini sebagai seorang gadis yang sopan, alim, cantik, pintar, menarik, dari keluarga terpandang, dll, dsb. Cara terhebat untuk memberontak dari citra yang sedemikian tinggi adalah dengan menyerahkan kegadisan dan kehormatannya kepada cowok ugal-ugalan, apalagi yang berbeda jauh dan kelasnya jauh lebih rendah di bawah standar keluarganya. Demikianlah, meskipun dari luarnya Liani nampak seperti memiliki segalanya, namun sebenarnya ia tidak mempunyai pegangan hidup. Kini jadilah ia sebagai seorang gadis dengan image begitu tinggi namun punya sisi lain kehidupan yang parahnya sungguh di luar batas imaginasi yang paling liar sekalipun. After all, ia hanya meng-copy kelakuan dan kemunafikan orang-orang dewasa di sekitarnya. Beruntunglah Dodo yang mengenal Liani disaat yang tepat sehingga ia menjadi cowok pertama yang beruntung bisa mencicipi kegadisannya dan selanjutnya menikmatinya lagi, lagi, dan lagi.

    —@@@@@@@—–

    Untuk mengurangi waktunya di rumah, Liani lebih banyak pergi dengan teman-teman cewek sekelasnyanya. Itupun juga tak lepas dari kritikan tantenya.
    “Aduuh Liani. Masa rok kamu sependek itu. Nanti kalo naik eskalator, celana dalam kamu bisa diliat orang.

    “Atau,
    “Baju kamu itu terlalu ketat dan sexy. Lehernya terlalu rendah. Lihat dadamu sampe keliatan gitu.
    dll, dll.
    Saat itu ia ikut-ikutan temannya memotong rambutnya sampai pendek. Sehingga kini rambutnya pendek seperti cowok. Namun hal itu tak mengurangi daya tarik dan kecantikannya. Selama hampir seminggu Liani tersiksa dengan kehadiran Tante Frida. Dan selama itu pula ia benar-benar melarang Dodo untuk datang meskipun beberapa kali ia memaksa ingin datang. Ia tidak mau mengambil resiko karena Tante Frida orangnya lebih teliti dan lebih suka ngurusin bahkan dibanding Papinya sekalipun. Namun, akhirnya kesampaian juga niatnya mengelabui tantenya. Pada hari terakhir tantenya tidak enak badan dan ia banyak tiduran di kamarnya. Melihat hal itu, Liani nekat memperbolehkan Dodo datang ke sana dan segera dimasukkan di dalam kamarnya. Bagi Dodo tentu kebetulan karena sudah lama juga ia tak menikmati diri Liani. Beruntunglah Liani, karena saat Dodo datang, tantenya masih tidur di dalam kamarnya. Diam-diam ia memasukkan Dodo ke dalam kamarnya. Sehingga tanpa diketahui orang lain termasuk tantenya yang jeli, mereka berdua “adu gulat” dan bersenang-senang di atas ranjangnya di dalam kamarnya. Apalagi Dodo, melihat Liani sekarang berambut pendek, menjadi tambah bernafsu. Ia ingin mencicipi “rasanya” Liani dengan rambut pendek dan membandingkannya dengan saat berambut panjang. Dan hasilnya ternyata nggak mengecewakan. Malah kini ia bisa melihat lebih jelas bagian-bagian tertentu tubuhnya (leher, bahu, dan dadanya) yang sebelumnya tertutup rambutnya. Dan Liani juga mendapatkan kepuasan tersendiri. Karena selain Dodo (yang lagi-lagi) mampu membuatnya orgasme, pada akhirnya ia berhasil mengelabui tantenya. Saat itu sempat tantenya mengetuk kamarnya dan mengajaknya berbicara dari luar, yang dijawabnya dari dalam kamar. Padahal saat berbicara dengan tantenya itu, tangannya sedang mengocok penis Dodo. Dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan payudaranya lagi diremas-remas oleh Dodo. Dan tantenya sama sekali tidak tahu hal itu sampai akhirnya Dodo meninggalkan rumahnya.

    —@@@@@@@—–

    Demikianlah, Liani yang sebelumnya adalah cewek yang benar-benar alim, sejak mengenal Dodo, kini menjadi cewek yang “alim”. Tanpa terasa beberapa bulan telah lewat dan mereka tetap berhubungan seperti itu. Sampai akhirnya terjadilah peristiwa menyakitkan yang menyebabkan mereka akhirnya berpisah. Awalnya dimulai dengan keinginan Dodo untuk berusaha “memamerkan” Liani kepada teman-teman geng-nya. Semenjak ia berhasil memerawani Liani dan terus menerus melanjutkan hubungan terlarangnya, beberapa kali ia membual kepada teman-temannya bahwa ia telah menikmati keperawanan dan menjalin hubungan dengan “cewek cakep yang digodain waktu itu”. Teman-temannya semuanya pada mentertawakannya dan menganggapnya membual. Untuk membuktikan kepada teman-temannya sekaligus untuk meningkatkan ego maskulinnya, ia berusaha mencari cara untuk bisa membuktikan kepada teman-temannya. Namun segala upayanya selama ini selalu kandas, karena Liani cukup berhati-hati dalam menjaga supaya rahasianya tidak diketahui orang. Liani memang selalu menuruti kemauan Dodo dalam masalah seks dan ia cenderung dalam posisi yang pasif dan “nrimo” aja. Namun dalam hal menjaga rahasianya dan reputasinya, ia betul-betul orang yang berbeda. Sehingga sukar bagi Dodo untuk bisa melaksanakan
    tujuannya. Apalagi dalam hal kepandaian dan kecerdikan, Liani jauh lebih pandai dan cerdik dibanding Dodo. Oleh karena gagal terus, akhirnya timbul perasaan kesal Dodo terhadap Liani. Kini ia mulai merasa bahwa selama ini dirinya dikendalikan dan dimanfaatkan oleh Liani.

    Baca Juga Cerita Seks Liani: The Sweet Innocent Girl

    Perasaan itu timbul semakin kuat setelah beberapa kali ia merasa diabaikan oleh Liani. Yang paling utama adalah saat Liani merayakan ulang tahunnya yang ke-18, ia mengharapkan Liani mengundangnya. Namun apa lacur, ternyata Liani sama sekali tak mengundangnya. Hal itu membuatnya sakit hati. Sementara bagi Liani, adalah sulit baginya untuk mengundang Dodo. Pertama, apa alasannya mengundang Dodo di tengah-tengah teman-teman dekat dan kerabat-kerabatnya? Tentu orang-orang akan heran kalau tahu ia berteman dengan orang seperti Dodo. Tidak mungkin ia mengatakan kepada mereka bahwa ia berteman akrab dengan Dodo. Dan, kedua, ia sengaja tidak mau mencampurkan Dodo dengan kenalan maupun kerabatnya karena ia tidak mau Dodo kelepasan bicara mengenai hubungan terlarangnya kepada mereka. Sementara bagi Dodo, ia membutuhkan pengakuan serta keinginan untuk membanggakan “prestasinya” sebagai bagian dari ego maskulinnya. Dan banyak lagi kejadian-kejadian yang seperti
    ini. Dengan adanya friksi-friksi itu mereka jadi sering saling tidak bicara. Dan hal itu terjadi semakin lama semakin sering. Namun di sela-sela pertengkaran mereka itu, ada pula saat-saat dimana mereka berbaikan kembali dan kembali melakukan hubungan seperti dulu. Pada suatu hari setelah mereka saling tidak berbicara, akhirnya mereka baikan lagi. Selanjutnya mereka janjian untuk ketemuan lagi. Pada waktu seharusnya mereka bertemu, tiba-tiba Liani membatalkannya. Karena ia mendadak harus menghadiri salah satu acara bisnis Papinya. Hal ini membuat Dodo menjadi kecewa dan merasa dilecehkan. Sampai akhirnya timbul perasaan marah, benci, dan dendam terhadap Liani. Diam-diam ia berniat membalas dendam terhadap cewek itu. Ia menyusun rencana untuk betul-betul bisa menghina dan merendahkan cewek itu. Sampai akhirnya muncullah ide bagus yang pelaksanaanya harus menunggu waktu dan situasi yang tepat…

    —@@@@@@@—–

    Pada suatu hari, Dodo menelpon Liani dan mengajaknya melakukan “sesuatu yang lain daripada yang lain.” Belakangan ini hubungan mereka lagi bagus-bagusnya. Karena memang Dodo sengaja berusaha menarik hati Liani. Sungguh beruntung bagi Dodo. Liani yang biasanya cukup hati-hati, pada hari itu sungguh lengah. Sehingga akhirnya ia menuruti kemauan Dodo dan berhasil dibawanya ke suatu tempat. Dengan mengendarai motornya, Dodo membawa Liani ke satu gudang tempat besi tua. Ternyata ia mengajak Liani untuk bermain seks di tempat yang kumuh itu.. Dikatakannya bahwa hal itu akan memberikan sensasi yang berbeda. Dan tempat itu aman karena hanya dijaga oleh pamannya yang saat itu lagi tidak bertugas. Memang keadaan disana sepi. Tidak ada orang lain selain mereka. Di salah satu ruang, ada tikar dan sofa yang bakal jadi tempat “bertempur” mereka. Saat itu Liani memakai celana jins dan jaket. Sesampainya disana, dilepaskannya jaketnya. Dan didalamnya ia memakai kaus tanktop ketat warna ungu dengan belahan dada cukup rendah. Dadanya nampak menonjol di balik kaus ketat dan tampak lupa belahan dada bagian atasnya. Tak perlu berlama-lama, Dodo segera memulai aksinya. Diraba-rabanya tubuh cewek putih yang dibalut kaus ketat itu. Sampai akhirnya dilucutinya pakaian gadis itu satu persatu sampai akhirnya ia telah bugil seluruhnya di dalam gudang tua itu. Sementara ia sendiri juga telah melepaskan seluruh pakaiannya sampai telanjang bulat. Nampak penisnya yang ngaceng berdiri dengan tegaknya menyaksikan Liani yang putih mulus dalam keadaan telanjang bulat juga itu. Pada saat itulah Dodo mengajaknya maen dengan mata ditutup.
    “lu belum pernah khan disetubuhi dengan mata tertutup. Cobain yuk.”
    “Emang apa enaknya.”
    “Kalo pengin tahu seperti apa rasanya, ya cobain aja. Khan lu suka hal-hal yang aneh-aneh dan nggak umum. Makanya lu gua ajak kesini.”
    Akhirnya Liani menuruti saran Dodo dan sehingga ia tak bisa melihat apa-apa karena matanya ditutup kain hitam.

    Kemudian di atas tikar di lantai itu, Dodo menggenjot Liani yang dalam keadaan mata tertutup. Kalau biasanya ia mengenjot-enjot cewek putih mulus ini di atas ranjang yang empuk, kini ia melakukannya di atas tikar yang keras. Namun hal ini tak mengurangi kenikmatannya. Sementara Liani sendiri juga nggak masalah ditindih tubuh Dodo yang hitam dan digoyang-goyang diatas tikar yang keras itu. Terbukti ia terus mendesah-desah dan mengerang-erang dengan erotis.

    “Tadi khan kita sudah maen di tikar, sekarang yuk kita maen di sofa ini. Tapi sebelumnya temukan dulu gua.” Kemudian Dodo menyalakan radio yang ada di ruangan itu supaya Liani tak bisa mendengar langkah kakinya.
    Liani yang matanya tertutup mencoba menggapai-gapai Dodo,” Eh, lu dimana sih”, tanyanya.
    “Gua ini di depan lu,” katanya sambil menjawil payudara Liani.
    Kemudian Liani maju ke depan dan mencoba mencari-cari Dodo lagi,”Dimana sih lu,” katanya sambil tangannya menggapai-gapai ke depan.
    “Gua disini lagi,” katanya di sebelah kanan Liani sementara payudaranya kena diremas. Liani berusaha menangkap tangan iseng itu, namun ia kalah cepat.
    “Aah, lu curang pindah-pindah tempat gitu,” kata Liani sambil merajuk. Selain matanya yang tertutup, seluruh badannya tidak ditutupi selembar benang pun. Ia berjalan kesana kemari dalam keadaan telanjang bulat.
    “Hehehehe. Kacian deh lu. Ayo coba cari dimana gua,” katanya dan tak lama kemudian ada lidah iseng yang menjilat putingnya yang kemerahan.
    “Iih, gokil deh lho.
    “Ayo lagi,” katanya sambil meraba punggung Liani yang putih mulus dan meremas pantatnya. Namun saat hendak menangkapnya, lagi-lagi Liani kalah cepat.

    “Ayo, gua di kiri lu sekarang,” katanya. Saat Liani menggapai-gapai ke arah kiri, ada tangan yang merogoh vaginanya dari belakang. Ia sempat menjepit tangan itu dengan kedua kakinya, namun tangan itu berhasil lepas dari jepitannya sebelum tangannya berhasil menangkap tangan jahil itu.
    “Aah, cape ah gini terus. lu nya curang,” kata Liani berhenti di tempat.
    “Ok deh, gua disini, say. Jangan ngambek gitu donk, kata Dodo. Ia berdiri persis di belakang Liani. Tubuhnya yang hitam menempel ke tubuh Liani yang putih mulus. Tangannya yang satu menggerayangi dadanya dan yang satunya lagi meraba-raba paha dan bulu vaginanya. Sementara kepalanya didekatkan di leher Liani yang putih itu dan menciuminya.
    “Oooh emmmhhh,” desah Liani.
    Kemudian Dodo membalikkan tubuh Liani dan menciumi bibirnya. Sambil berdiri mereka saling berpelukan erat. Tubuh keduanya melekat satu sama lain. Dada Dodo menempel di payudara Liani. Demikian pula dengan perut, paha, dan kaki. Warna kulit keduanya kontras banget. Setelah itu Dodo membimbingnya ke sofa dan mendudukkannya. Satu kakinya dinaikkan ke tempat sandaran sofa sehingga posisi kakinya terbuka lebar-lebar. Tak lama kemudian dirasakannya mulut Dodo yang menjilati vaginanya. Sementaranya tangannya meremas-remas payudaranya dan memainkan kedua putingnya dengan jari-jarinya.
    “Oooh, oooohh, oooohhh,” desah Liani merasakan nikmatnya. Apalagi ia merasakan teknik jilatannya berbeda dengan sebelum-sebelumnya membuat vaginanya jadi basah kuyup.
    Lalu bibir Dodo berpindah ke payudaranya. Dihisap-hisap dan dikenyot-kenyotnya payudara yang putih dan padat berisi itu bergantian. Ujung lidahnya dengan lincah menari-nari di sekitar puting Liani yang kemerahan.
    “OOOooooOhhhhhh, desah panjang Liani.

    Tak lama kemudian Dodo memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani yang memang sudah cukup terangsang untuk disetubuhi itu, dan mengocoknya dengan keras sampai payudaranya berputar-putar dan seluruh tubuhnya berputar-putar.
    “Oooh, ahhhhhh, ahhhhhhhh.”
    “emmmh, emmmhhh, emmmhhhhhh.”
    Kemudian ia mencabut penisnya dan mendekatkannya ke mulut Liani dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
    “Shleeb, shleeeb, shlleeeb.”
    Dengan mahir Liani mengemut-emut, menyedot-nyedot, dan mengulum penis yang ada di dalam mulutnya itu. Kemudian ia kembali menikmati tubuh Liani dengan menyetubuhinya dalam posisi doggy style diatas sofa itu. Setelah itu giliran Liani yang ada diatas. Dipangkunya Liani diatas sofa itu kemudian diatur supaya penisnya masuk menembus vaginanya kemudian terjadilah gerakan naik turun yang membuat sofa itu bergetar-getar, disertai dengan desahan-desahan erotis Liani. Kemudian berbalik badan. Kalau sebelumnya Liani menghadap dirinya, sekarang memunggungi dirinya. Namun intinya tetap sama, yaitu Liani menggerakkan tubuhnya naik turun menikmati keperkasaan penis hitam yang menembus di dalam vaginanya.
    “Ahhh, ahhhh, ahhhhhhh.”
    “Ooooh, DOdooo, ohhhhhh.”
    “Emhhhh, emhhhhhh, emmmmhhhhh.”
    Demikianlah Liani meracau terus dengan liar, seliar gerakan tubuhnya. Entah kenapa hari itu ia merasakan sensasi yang sungguh berbeda saat Dodo menyetubuhinya dalam berbagai posisi dengan mata tertutup seperti itu. Sepertinya penisnya bisa berselang-seling berubah bentuk! Mungkin karena pengaruh sensasi matanya yang tertutup yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dan tak perlu menunggu lama, akhirnya Liani nggak tahan lagi. Cewek yang di sekolahnya dikenal sebagai cewek innocent itu, kini mengalami orgasme hebat akibat penis yang membobol dan mengocok-ngocok di dalam vaginanya.

    “Aduuuh, Dodo. Enak banget rasanya. Kenapa lu ga ngajak begini dari dulu-dulu,” kata Liani dengan napas terengah-engah. Ia benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.
    Sementara Dodo masih belum puas karena ia masih belum ejakulasi. Sebagai intermezzo, ia menyuruh Liani memijiti dirinya dengan menggunakan payudaranya.. Sehingga kini payudara Liani yang putih dengan putingnya yang kemerahan menjelajahi seluruh tubuh Dodo yang coklat kehitaman. Sungguh nikmat sekali dipijat oleh payudara cewek putih bersih dan cakep ini. Apalagi cewek ini masih sangat muda, 18 tahun. Dan lagi, cewek ini adalah anak orang kaya! Namun bersedia melayani cowok rendahan seperti dirinya. Kemudian Dodo menyuruh Liani menungging lagi di sofa.

    Kali ini ia bertanya ke Liani,”Kepala atau ekor?”
    “Apa sih maksud lu?”tanya Liani.
    “Sudah pilih aja. Ga usah mikir.”
    “Kepala.” Kemudian Dodo berpindah tempat ke depan, mendekatkan dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani.
    “shleeb, shleeeb, shleeeb.” Mulut Liani mengenyot-kenyot penis di dalam mulutnya itu.
    Setelah mencabut penisnya, Dodo bertanya lagi,” Kepala atau ekor?”
    Dan dijawab,”Ekor”, yang mengakibatkan,”Ahhhh, Ahhhhhh, AHhhhhhhh” suara Liani yang mendesah-desah karena vaginanya dikocok-kocok oleh penis Dodo dari belakang.
    Lagi-lagi dicabut penisnya, dan bertanya, “Kepala atau ekor?”
    Tergantung jawaban Liani, ia berpindah tempat, either ke mulut atau vagina Liani. Hal ini dilakukan berulang-ulang, sampai:
    “Koq lu ga pernah minta “atau” sih? Habis ini ya,” kata Dodo.
    “Emang kalau “atau” gimana? tanya Liani penasaran.
    “Hehehe, makanya coba donk,” kata Dodo.
    “OK, sekarang, Kepala atau ekor?” tanya Dodo.
    “Atau!”
    Dodo berpindah tempat ke depan, dimasukkan penisnya ke dalam mulut Liani dan digerak-gerakkan penisnya di dalam mulut Liani.
    “shleeb, shleeeb, shleeeb,” Liani lagi-lagi menyepong penis yang ada di depannya itu.

    Namun ia menghentikan aksinya dan protes,”Memang apa bedanya dengan kepala?”
    “Ooh, beda donk. Ayo lu terusin deh emutan lu sebentar lagi lu bakal tahu bedanya,” kata Dodo sambil memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani lagi yang segera dipatuhinya.
    “Nah, sekarang lu sendiri yang minta dan pengin tahu bedanya khan? Nah bedanya ini nih….” kata Dodo
    …..
    …..
    …..
    Belum selesai Dodo bicara, tiba-tiba
    Bleesss, Bleeess, Bleeesssss.
    Ada penis yang dengan perkasa menembus vagina Liani dari belakang dan mengocok-kocoknya dengan keras membuat tubuh Liani jadi terdorong dan semakin keras emutannya ke penis Dodo.
    Lho?! Kok bisa ada dua penis yang masuk ke dalam dirinya?
    Oleh karena heran dan terkejut, Liani membuka penutup matanya, dan dilihatnya Dodo berdiri di depannya. Penisnya berada di dalam mulutnya. Lalu penis siapa yang menembus dan mengocok-ngocok vaginanya? Ia melepaskan penis Dodo dari mulutnya dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat ternyata ada cowok berkulit hitam lain dan berbadan kekar di belakangnya lagi asyik menikmati vaginanya dari belakang! Sehingga kini ia dinikmati oleh dua orang cowok sekaligus! Oleh karena cowok itu sedang asyik menggenjot-genjot dirinya, sehingga tubuhnya ikut terdorong maju mundur seiring dengan gerakan cowok itu.
    “Lho! Koq….koq….,” Liani keheranan dan tak tahu harus berkata apa.
    “Heheheheh, bingung ya? Tanya sama cowok lu tuh,” kata cowok di belakang itu dengan wajah sinis terkekeh-kekeh.
    “Ayuk, terusin dulu say emutannya, tanggung nih. Ngomongnya ntar aja ya,” kata Dodo sambil memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani lagi. Sementara sodokan penis cowok di elakangnya itu otomatis membuat mulut Liani ikut bergerak maju mundur mengemut penis Dodo.
    “Bagus. Ayo, dorong terus yang kenceng Mas, supaya yang di depan ikutan enak juga,” kata Dodo kepada cowok itu sambil tersenyum puas. Kedua tangannya memegang rambut Liani dan ikut mendorong-dorong kepalanya.
    “Beress. Wah, gila! Betul-betul mantap nih cewek. Putihnya itu lho, bikin kagak tahan. Apalagi memeknya masih sempit banget. Lu bisa dapet cewek kayak gini darimana, Do?” kata cowok di belakang. Kedua tangannya mulai merengkuh payudara Liani yang menggantung itu. Diremas-remasnya payudara putih dan kenyal di dalam genggamannya itu.
    “Gimana rasanya, enak ya disodok depan belakang.”
    “Jadi dobel dah enaknya.”
    “Hehehehehe.”
    “Hahahahahaa.”

    Sementara kedua cowok itu terkekeh-kekeh menikmati aksinya, Liani merasa marah dan sakit hati terhadap Dodo. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa saat itu karena ia telah terlanjur disetubuhi begitu. Apalagi posisinya yang terjepit diantara keduanya. Lagi pula tak mungkin ia dapat melawan dua orang cowok yang jauh lebih bertenaga dibanding dirinya. Sehingga ia hanya bisa pasrah saja.
    Tak lama kemudian,
    “Ehhhhmm, ahhhhhh, ahhhhhhhhhh,” Dodo bersuara ketika ia akhirnya ejakulasi dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Liani. Sungguh puas rasanya bisa menumpahkan seluruh spermanya di dalam mulut cewek itu sekaligus membalas dendam terhadap cewek itu. Setelah Dodo selesai mengeluarkan penisnya,
    “Nah, ayo, sekarang ganti posisi ya,” kata cowok asing itu sambil menidurkan Liani di sofa. Lalu penisnya yang besar kembali menerjang vagina Liani dan menyodok-nyodoknya. Sementara tangannya meremas-remas payudara Liani.
    “Wahh, muluuss dan bening lagi. Hahahaha. Kulit dan body-nya pun sangat terawat. Kamu pasti anak orang kaya ya,” kata cowok itu sambil “memompa” Liani..
    “Belum pernah gue nyicipin anak orang kaya. Rasanya beda nih. Apalagi tampang lu cakep. Gua suka deh. Hehehehehe.”
    “Ayo Do, jangan bengong aja, rekamannya diterusin lagi,” perintah cowok itu kepada Dodo.
    “Ok, deh Mas,” kata Dodo mengambil beberapa foto dan video pemandangan itu dengan handphone cowok itu.

    Liani sungguh tak menyangka kalau dirinya telah ditipu mentah-mentah dan dikhianati oleh Dodo. Ia baru mengerti sekarang kenapa matanya ditutup dan kenapa Dodo menyalakan radio keras-keras. Supaya ia tidak melihat atau mendengar adanya orang lain dan supaya ia tidak mendengar bunyi “klik” kamera handphone itu. Kini ia merasa dirinya terhina. Apalagi sampai dirinya bisa disetubuhi oleh cowok tak dikenal tanpa seijin dan sepengetahuannya. Kini ia baru menyadari kalau ia telah disetubuhi oleh kedua orang ini secara bergantian sejak saat matanya tertutup tadi. Oleh karena itu kenapa penis “Dodo” seperti selang-seling karena memang ia dan cowok asing itu bergiliran menggenjot dan menikmati dirinya. Matanya merah seperti menahan tangis namun ia tak dapat berbuat apa -apa. Ia hanya menatap ke arah Dodo sementara tubuhnya berguncang-guncang digenjot oleh cowok itu. Cowok yang tak dikenalnya, bahkan namanya pun ia tak tahu! Meski tak mengatakan apa-apa, pandangan matanya menunjukkan bermacam-macam perasaan yang sedang berkecamuk di dalam hatinya, ada rasa bingung (kenapa Dodo sampai tega melakukan itu), amarah, terhina, tak berdaya, sedih, takut, dll. Dodo awalnya merasa puas karena akhirnya kesampaian niatnya memperdayai dan membalas dendam terhadap Liani. Namun semenjak ia berejakulasi tadi, rasa puas karena berhasil membalas dendam itu seketika sirna. Kini pandangan mata Liani yang menatap lekat-lekat ke arahnya, membuat dirinya jadi terguncang. Kepuasan membalas dendam itu kini lenyap tak berbekas malah berubah menjadi rasa kasihan dan malu terhadap gadis itu. Kini ia menyadari kalau pembalasannya ini sungguh sangat keterlaluan. Seharusnya ia merasa bersyukur karena selama ini Liani telah bersedia melayani dirinya. Ia membayangkan Liani yang tadinya begitu happy dan excited namun kini dalam kondisi yang terpuruk. Sungguh kontras sekali perbedaannya. Dan semuanya itu akibat perbuatannya!

    Kemudian, timbul perasaan aneh yang menjalar ke tubuhnya. Ia merasa hatinya disayat-sayat saat melihat senior di geng-nya itu menyetubuhi Liani di depan matanya. Apalagi lagak serta cara dia menyetubuhi cewek itu seperti layaknya orang yang menghina seseorang yang lebih rendah daripada pembantu. Setelah perasaan dendamnya menguap habis, baru sekarang ia menyadari kalau sebenarnya ia telah mencintai cewek ini! Malah kini ia menduga-duga, mungkinkah Liani diam-diam juga mencintai dirinya? Ah, sungguh bego diriku! pikirnya.. Ia telah mengorbankan cewek yang dicintainya itu demi sebuah pembalasan dendam yang tanpa makna. Namun kini semuanya telah terlambat. Sekarang ia tidak punya keberanian untuk mencegah Darsono, senior di geng-nya itu untuk mempermainkan dan menghina Liani, cewek yang dicintainya itu.

    “Ayo terusin, ambil beberapa foto lagi,” kata Darsono yang adalah senior Dodo di geng-nya. Namun Dodo tak sanggup melakukannya lagi.
    Tak lama kemudian, cowok itu mengeluarkan penisnya dan mengocoknya diatas tubuh Liani. Spermanya muncrat cukup banyak membasahi leher, dada, dan perut Liani. Kemudian, seperti di film bokep, ia mengusap spermanya itu ke seluruh tubuh Liani sehingga basah dan mengkilap dibuatnya.
    “Gila benar-benar asyik nih cewek. Udah cakepnya kayak bintang film Mandarin. Putih mulus. Body-nya pun ok banget. Tapi begonya itu, hahahahaha. Nah, sekarang jadi mengkilap dah lu sekarang,” katanya dengan pandangan menghina dan tersenyum sinis.
    “Oh ya, omong-omong, kenalin, nama gua Darsono. Dodo adalah anak buah gua di geng kami,” kata cowok itu.
    “Lu benar-benar cewek gaul dah. Belum kenalan sudah boleh menggauli duluan,” kata Darsono sambil memencet-mencet payudara Liani.
    “Gimana, enak ya genjotan gua. Kapan-kapan gua pake lagi ya. Hahahahahaha.”

    “Sekarang lu boleh pake bajumu lagi dan pulang ke rumah. Kayaknya habis ini lu perlu mandi sampai bersih. Hehehehehehe.”
    “Nanti kalo gua pengin sama lu lagi, gua tinggal panggil lu lagi. Lu punya no telponnya khan, Do. Nanti jangan lupa sms ke gua,” perintahnya.
    “Dan luu harus menurut,” ancamnya kepada Liani lagi,”Ingat, foto-foto dan video lu ada disini dari sejak mata lu ditutup sampai sekarang,” katanya sambil mengangkat handphone-nya.
    “Kalo lu tidak patuh, jangan salahkan gua kalo foto-foto dan video body mulus lu sampai tersebar ke semua orang. Hahahahaha.”
    “Lain kali gua pengin bersenang-senang dengan lu di dalam rumah lu, di atas ranjang yang lu tidurin setiap malam.”
    Dodo mencoba membantu Liani berdiri, namun ditepisnya dengan keras.
    “Hahahahaha, kayaknya cewek lu ini lagi marah. Tapi jangan kuatir, kapan pun lu pengin sama dia, tinggal ngomong ke gua. Karena semua ada disini. Hahahahahaha,” kata Darsono memegang handphone-nya, “Sekalian nanti kita kenalin dia ke teman-teman yang lain. Supaya ada pemacu semangat buat mereka. Huahahahahahahaha!”
    Hati Dodo menjadi pilu mendengar hal itu. Namun apa daya, ia tidak berani menghadapi Darsono yang jauh lebih senior dan punya pengaruh besar di dalam geng-nya. Kalau sampai berani melawan, bisa-bisa ia yang hancur sendiri.

    —@@@@@@@—–

    Tak lama kemudian, berpisahlah mereka bertiga mengambil jalan sendiri-sendiri.

    Liani

    Liani yang sebelumnya datang kesini bersama Dodo, menolak untuk diantar pulang olehnya. Bahkan ia sama sekali tidak mau berbicara dengan Dodo yang mencoba meminta maaf kepadanya. Dengan mata yang merah menahan tangis, ia mencegat taxi di jalan dan pulang ke rumahnya. Hatinya sungguh hancur dan dirinya betul-betul terpuruk. Seumur hidup tak pernah ia dihina oleh orang sampai separah itu. Tak disangkanya Dodo bisa menipu dan mengkhianatinya sampai seperti itu. Kini, tak bisa dibayangkan kalau dirinya seumur hidup akan menjadi budak seks geng mereka dan setiap saat dibutuhkan, ia harus mematuhinya. Kalau sampai menolak, mereka akan membocorkan foto dan video telanjang dirinya serta adegan seks yang dilakukannya. Lalu apa kata orang-orang di sekitarnya kalau hal ini sampai di telinga mereka? Kondisi dirinya saat ini sungguh kontras dengan saat di awal cerita dimana ia menjadi pusat perhatian dan semua orang begitu mengagumi dirinya.

    Dharsono

    Berbeda jauh dengan Liani yang dalam kondisi memilukan, Darsono naik mobilnya dengan hati gembira. Sungguh puas ia hari itu karena bisa menikmati diri Liani yang sebelumnya adalah “out of touch” baginya untuk mencicipi cewek-cewek seperti tipikal Liani gini. Ditambah lagi, ia memegang kartu as yang akan menjamin cewek itu bersedia menuruti apa pun kemauannya kapan pun ia mau. Bahkan ia berpikir untuk menjadikan cewek itu sebagai sumber penghasilan dengan menjualnya kepada pria-pria yang ingin mencicipi cewek seperti Liani dan sanggup membayar mahal. Sungguh, cewek seperti itu tentu menarik banyak peminat. Ia tersenyum dan tertawa puas di dalam mobilnya.

    Namun, sungguh nasib orang susah diduga. Pada saat ia membayangkan keuntungan yang bakal didapat dari pikiran jahatnya itu, ia menjadi lengah. Dalam perjalanan pulang, ia berhenti di suatu tempat dan disana ia berhasil dicegat oleh beberapa anggota geng musuhnya. Oleh karena dikeroyok, ia kalah dan dipukuli sampai babak belur. Mobilnya pun dirusak. Kacanya dipecahin dan keempat bannya dikempesin. Barang-barang miliknya yang berharga dirampas sementara yang tidak berharga dibuang ke sampah. Akhirnya, boro-boro mendapatkan keuntungan, ia malah harus dirawat di rumah sakit dan kehilangan materi dalam jumlah cukup besar. Sementara handphone itu hilang entah kemana.

    Dodo

    Sementara Dodo sendiri bernasib lebih naas lagi. Oleh karena perasaan bersalahnya yang besar terhadap Liani dan perasaan tak berdaya menghadapi Darsono, ia menjadi frustasi. Sebagai pelampiasannya, ia mengendarai motornya dengan sangat kencang. Malang baginya, ia terlambat mengerem dan menabrak orang yang menyeberang sampai meninggal seketika. Oleh karena takut akan perbuatannya, ia berusaha melarikan diri. Namun ia berhasil ditangkap dan dipukuli rame-rame oleh orang-orang disekitar. Selain babak belur, ia masih harus meringkuk di penjara karena terbukti bersalah melakukan tabrak lari sampai orangnya meninggal. Total waktu yang harus dilalui di penjara adalah beberapa tahun, karena vonis pertamanya ditambah beberapa kali melakukan pelanggaran di dalam penjara ( mungkin karena rasa frustasinya dengan kehidupan barunya di dalam penjara). Cerita Maya

    Demikianlah nasib yang dialami ketiga orang tersebut hari itu, yang semuanya berakhir dengan tragis.

    —@@@@@@@—–

    Sementara itu…

    Cowok itu bagaikan disengat seratus kalajengking saat melihat isi handphone yang ada di tangannya itu. Tak disangkanya didalamnya ada foto-foto dan video bugil cewek putih dan cakep bahkan juga ada saat cewek itu sedang disetubuhi dalam berbagai posisi. Cewek itu begitu nyata dan original dan semuanya baru diambil pada hari itu juga. Ia tak habis pikir bagaimana ceritanya sampai foto dan video cewek ini bisa ada di dalam handphone Darsono.

    Siapakah cowok itu? Dia bernama Rohim!
    (Note: Bagi yang tidak tahu, ia adalah aktor utama di episode 4 yang telah di-release beberapa bulan lalu).

    Bagaimana cerita selanjutnya?
    Tunggu di episode 3: “I Know What You Did Last Month!”

    By: Aegu Ugea (ara456)

  • Liani: The Sweet Innocent Girl

    Liani: The Sweet Innocent Girl


    3099 views

    Pada suatu hari sekitar pukul 3 sore di salah satu SMU swasta terkenal

    Cerita Maya | Siswi kelas 2 SMU itu segera bersiap-siap untuk pulang setelah praktikum berakhir. Tiba-tiba ada sms masuk. Ternyata dari papanya yang memberitahu kalau sore itu mendadak mobil harus masuk bengkel. Jadi, ia harus menunggu kira-kira 30 menit lagi sebelum mobil jemputan datang. Dengan agak kesal, ia menunggu di dalam kompleks sekolah sambil menonton murid sekolah siang yang sedang olahraga.Kira-kira 30 menit kemudian, ada sms masuk lagi. isinya,
    “Papi ada urusan mendadak. Kamu pulang naik taxi aja ya. Daripada nunggu nanti takutnya kemalaman.”
    Huh, lagi-lagi naik taxi, gerutunya. Kalo tahu gini, kenapa nggak bilang dari tadi, jadi ia bisa nebeng ikut temannya.
    Sebenarnya ia sama sekali tak keberatan naik taxi karena telah beberapa kali ia naik taxi sendirian. Karena taxi disini cukup aman, bahkan untuk gadis muda seperti dia yang naik sendirian. Namun yang tidak menyenangkannya adalah ia harus mencegat taxi di jalan besar yang berjarak beberapa ratus meter dari sekolahnya. Dan untuk kesana ia harus melewati STM yang jam segini suka bergerombol cowok-cowok murid STM yang suka iseng dengan cewek-cewek yang lewat, apalagi kalau ceweknya cakep. Mungkin karena mereka jarang bergaul dengan cewek. Dan telah beberapa kali ia jadi sasaran korban celotehan-celotehan dan pandangan-pandangan iseng mereka. Hal yang membuat risih dirinya. Dan ternyata perkiraannya benar. Saat ia melewati STM itu, ada beberapa cowok yang duduk bergerombol di depan, lagi asyik ngobrol dan tertawa-tawa. Saat ia lewat, seketika perhatian mereka semua langsung tertuju ke dirinya. Cerita Maya

    Cowok yang tampangnya paling jelek dari ketiganya memulai dengan godaannya.
    “Wah, ada cewek cakep lewat.”
    “Suitt suiittt.”
    “Mau pergi kemana Non?”
    “ayuk, aku aku bonceng naik motor, mau?”
    “Kayaknya mending dipangku di depan deh.”
    “Hahahahahaaaa.”
    Mereka semua tertawa-tawa sambil menggodanya. Semuanya memelototi wajah dan seluruh tubuh cewek itu. Memang ia adalah cewek yang cakep dan berpenampilan menarik. Baju seragamnya tertata rapi di dalam roknya. Kulitnya putih. Dan body-nya juga sexy. Pinggangnya ramping dan pantatnya cukup berisi. Tak heran kalau cowok-cowok liar itu jadi makin ganas menggoda cewek ini.
    “Suiit, suiiittt.”
    “aduuh, cantiknya.”
    “Putih lagi.”
    “Mulusnya ga ketulungan.”
    “Sexy.”
    “Kayak aktris Jepang.”
    “Wah, maen film apaan yah?”
    “ah, pura-pura kaga tau loe. Yang pasti gua mau dah jadi aktornya.”
    “Huahaahahahaaa”

    Memang cewek itu kulitnya putih dan wajahnya oriental. Cakepnya ga kalah dengan artis-artis Mandarin atau Jepang. Dan body-nya juga sexy. Namun, meskipun punya daya tarik seksual yang tinggi tapi cewek ini nampak seperti cewek baik-baik. Tampangnya cakep tapi innocent jadi bikin makin menggemaskan mereka. Dan ternyata, komentar mereka menjadi makin kurang ajar.
    “ayo mampir sini dulu, yuk. Kita main pangku-pangkuan yuk.”
    “Mending maen dokter-dokteran aja.”
    “Huuuuuuuuu.”
    “Yuk, kita mandi sama-sama.”
    “Huaaahahaha.”
    “eh, cewek ini body-nya sexy juga ya. Liat. Dadanya boleh juga tuh.”
    “Hahahaha.”
    Memang bagian dadanya nampak menonjol, tanda bahwa gadis belia ini telah mencapai usia dewasa. apalagi saat itu tas sekolahnya dicangklongkan di bahunya dan talinya diselempangkan secara diagonal dan menekan diantara belahan dadanya, sehingga tonjolan payudaranya nampak makin jelas saja.
    “Hehehehehe.”
    “eh, doi kayaknya masih polos tuh. Masih perawan ya? Hehehehe.”
    “ah, masa sih? Bukannya kemarin sudah gua dicicipin.”
    “Hahahahaha.”
    “Kalo masih perawan, bisa diperawanin dong.”
    “Hahahahaha”.
    “Mau perawan mau nggak, gue juga kagak nolak koq.”
    “Hahahahaha.”
    “Loe kaga nolak, tapi dianya yang nolak.”
    …..

    Mendengar komentar yang makin kurang ajar itu, langsung cewek ini jadi merah padam dan hampir menangis dibuatnya. Namun ia cuma bisa mendiamkan saja sambil cepat-cepat berjalan meninggalkan mereka. untunglah, meski menggodanya dengan kata-kata dan pandangan kurang ajar, mereka tidak sampai berbuat kurang ajar atau menyentuh secara fisik. Akhirnya sampailah ia di jalan besar dan tak lama kemudian ia memanggil taxi yang mengantarnya sampai di rumah dengan selamat. Siapakah cewek itu? Cewek cakep itu namanya Liani. usianya 17 tahun lewat beberapa bulan. ia anak kelas 2 IPA di SMU favorit di kotanya itu. ia adalah siswi terkenal di sekolah itu. Dan memang, boleh dikata ia adalah cewek yang memiliki segalanya. Selain cantik dan penampilannya yang menarik, ia termasuk salah satu siswi berprestasi di sekolahnya. Dua kelebihan yang jarang terjadi. Ditambah lagi ia berasal dari keluarga kaya. Bokapnya adalah pengusaha yang kaya dan sering muncul di koran-koran. apalagi ia adalah cewek yang pandai membawa diri karena memang sejak kecil orang tuanya cukup keras mendidiknya untuk berperilaku dengan baik dan sopan santun. oleh karena itu pula, ia termasuk cewek yang polos dan innocent. Tidak hanya wajahnya saja yang innocent, tapi kelakuannya juga tanpa cela sesuai dengan wajahnya. Tidak pernah ada gosip-gosip miring tentang dirinya. Bahkan sampai sekarang, ia belum pernah pacaran. Padahal banyak banget teman cowoknya yang suka kepadanya sejak SMP.

    ——————————————————————-
    Beberapa hari setelah itu, sekitar pukul 4.30 sore

    Liani

    Liani berjalan keluar dari sekolahnya. Hari itu lagi-lagi ia pulang dengan naik taxi. Saat itu langit nampak mendung gelap. Dan tak lama kemudian, turunlah hujan dengan lebatnya. untungnya ia selalu membawa payung kecil di dalam tasnya. Saat itu tidak ada anak STM yang suka menggodanya, mungkin karena hujan lebat. Namun ia menghadapi masalah lain. Telah beberapa saat lamanya ia menunggu di tepi jalan hendak mencegat taxi yang kosong. Namun entah karena hujan atau sebab lain, saat itu tidak ada taxi kosong yang lewat. Sementara kalau menunggu mobil jemputan, bisa-bisa hari sudah gelap baru mobilnya datang. Sedangkan kini dirinya telah mulai basah karena payung kecilnya tak mampu melindungi dari hujan yang disertai angin cukup kencang. Saat ia kebingungan, tiba-tiba, ada sepeda motor besar dan butut yang mendekat dan berhenti di depannya. Pengemudinya membuka helmnya.
    “Hai, hujan-hujan berdiri disini. Lagi tunggu jemputan ya?” tanyanya.
    Liani mengenal cowok itu. ia termasuk salah satu cowok STM yang suka menggodanya yang tampangnya paling jelek itu. oleh karena itu ia tidak menghiraukan cowok itu.
    “Mau aku antar pulang ga?”
    Liani tidak menghiraukan cowok itu.
    “Serius nih, mau ga? Mending aku antar pulang daripada kamu berdiri disini kehujanan kayak gini.”
    “Nggak usah deh. aku bisa naik taxi,” katanya singkat.
    “Hujan-hujan gini nggak gampang dapet taxi lho. Lagian sebentar lagi bakalan gelap. Kalo nggak dapat taxi sampai malam nanti gimana?”
    “Nggak mungkin. Sebentar lagi pasti ada taxi,” kata Liani namun dalam hati ia takut kalo apa yang dikatakan cowok itu bakalan terjadi.
    “Sudahlah, tidak perlu malu-malu. Mending aku antar kamu pulang aja.. Daripada nunggu disini kehujanan, apalagi kalo sudah gelap nggak aman buat cewek sendirian”.
    Kali ini Liani tak bisa menyangkal lagi, karena dalam hati ia juga mulai gelisah.
    “Nih, kamu boleh pake ini supaya nggak basah,” kata cowok itu sambil melepas jas hujannya dan memberikan ke cewek itu. Sehingga kini cowok itu jadi langsung basah kuyup kehujanan.

    Mula-mula Liani ragu, namun karena terdesak situasi dan cowok itu terus memaksa, akhirnya ia mau juga membonceng ke sepeda motor cowok itu. Daripada menunggu sampai gelap dan diganggu orang jahat atau jalan kaki di jalan dengan pakaian basah kuyup dan mengundang perhatian semua orang, mending diantar pulang rumah oleh cowok berandalan ini, pikirnya. Kalau pun cowok itu berniat jahat, ia bisa berteriak minta tolong di jalanan, pikirnya. Dan siapa tahu kalau cowok ini memang berniat tulus. Akhirnya ia mengenakan juga jas hujan itu untuk menutupi tubuhnya supaya ia tidak jadi perhatian orang-orang di jalanan karena baju seragam putihnya yang basah kuyup melekat di badannya. Kini melajulah sepeda motor butut itu melintasi kemacetan kota, dengan penumpangnya dua anak muda berlawanan jenis yang kontras sekali perbedaannya. Hati cowok itu tentu gembira bisa membawa cewek cakep murid SMU favorit yang sangat kontras dengan dirinya yang hitam jelek, hanya sekolah STM serta ugal-ugalan. Sengaja ia beberapa kali mengerem mendadak supaya bisa bersentuhan dengan tubuh cewek itu. Sesampainya di tujuan, langit telah mulai cerah dan hujan hanya turun rintik-rintik…
    “oh, jadi ini rumah kamu,” kata cowok itu dalam hati mengagumi kemegahan rumah cewek ini.
    “eeh, terima kasih ya,” kata Liani dengan perasaan tidak enak. ia melepas jas hujan itu dan memberikannya kepada pemiliknya. Dirinya kini benar-benar basah kuyup karena jas hujan itu ternyata tidak waterproof. Ya karena itu adalah jas hujan murahan.
    “ok, nggak masalah. omong2, sorry ya waktu itu gue ngegodain loe.”

    Liani hanya diam saja karena ia merasa tidak enak masalah itu disebut-sebut oleh cowok ini.
    “Tapi bukan gua yang sampe ngomong yang nggak-nggak itu, tapi teman-teman gua. Memang kadang mereka kelewatan. Beneran lho. Gua cuman yang mulai aja.”
    “Ya, sudahlah nggak usah diomongin lagi,” kata Liani tidak ingin membicarakan hal itu lagi.
    “oh ya, boleh tahu nama kamu? aku biasa dipanggil Dodo,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
    “Liani,” kata Liani sambil mau tak mau menyambut juga tangan Dodo.
    “Sorry, aku masuk dulu ya. Terima kasih sudah diantar. Sorry banget, kamu jadi basah kuyup,” kata Liani tak mau berlama-lama. Meski sudah diantar, tapi ia merasa risih juga terlalu lama bersama dengan cowok berandalan yang tak dikenalnya itu. apa kata tetangga kalau mereka melihatnya.. Berduaan dengan cowok ini aja sudah aneh. apalagi dalam keadaan sama-sama basah kuyup seperti ini. Kini baju seragam putihnya yang dari kain agak tipis telah menempel di tubuhnya yang putih, membuatnya nampak seperti setengah telanjang aja.
    “oh, nggak apa-apa. aku sudah terbiasa koq kena hujan seperti ini. Yang penting sekarang kamu selamat sampai di rumah.”
    Liani hanya diam saja. Dalam hati ia berpikir, meski tampangnya kayak berandalan gini, cowok ini ternyata cukup baik juga.
    “eh, Liani, kapan-kapan aku boleh mampir khan?”
    “ehm, boleh saja sih, tapi aku jarang di rumah,” kata Liani berusaha mengelak.
    “Hmm, ok, tak apa-apa,” kata Dodo dengan agak kecewa. Meski begitu, ia terkesima dengan pandangan yang ada di depan matanya itu. Rambut Liani yang basah kuyup dan wajahnya yang juga basah makin menambah kecantikannya. Tidak hanya cantik, tapi juga sexy! Karena Liani saat itu boleh dikata seperti setengah telanjang saja. Bagian tubuh atasnya tercetak dengan jelas. untung bra-nya cukup tebal sehingga mampu menutupi payudaranya yang indah. Namun lekuk liku dan tonjolan ‘body curve’ cewek itu nampak jelas sekali membuat Dodo bisa dengan mudah mengira-ngira besarnya ukuran payudara Liani. Sementara bra-nya berwarna biru tua nampak jelas sekali tercetak dan kontras dengan warna baju seragam dan kulitnya yang putih. Melihat itu, tanpa dicegah lagi penis Dodo langsung menegang. Sambil berbicara, beberapa kali ekor matanya mencuri-curi pandang ke arah dada Liani.

    “eh, Liani,” kata Dodo tiba-tiba.
    “ada apa lagi?” tanya Liani menoleh ke belakang sambil memiringkan tubuhnya sehingga dadanya nampak lebih menonjol.
    “Boleh minta no HP kamu?”
    “ehmmm, nomorku xxxxxxx15,” Liani mula-mula ragu, namun akhirnya ia memberikan nomornya juga kepada Dodo. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam rumah.
    Begitu masuk ke dalam rumah, ia segera masuk ke kamar mandi. Setelah sebelumnya kedinginan gara-gara kehujanan, kini ia ingin merendam seluruh tubuhnya di dalam bath tub jacuzzi yang besar dengan air hangat. Tak lama kemudian ia sedang asyik merendam tubuhnya yang telanjang bulat di dalam air hangat sambil merasakan semprotan air di bak jacuzzi yang mengenai beberapa bagian tubuhnya. Sambil ia membayangkan peristiwa yang barusan terjadi. itu adalah pengalaman baru baginya. Seumur-umur ia tak pernah naik motor besar dan butut seperti itu apalagi dengan membonceng cowok tak dikenal dan kelas rendahan yang mirip berandalan. Sementara ia dari kalangan keluarga kaya dan elit. ada mixed feeling di dalam dirinya. Di satu sisi ia merasa malu kalau sampai ketahuan orang, namun disisi lain ia merasa excited apalagi saat membayangkan reaksi papanya kalau tahu akan hal ini. Pasti papanya jadi sewot habis. Memang sejak dari kecil ia terlalu dituntut oleh orangtua maupun keluarga dekatnya untuk berprestasi dan untuk berperilaku dengan baik dan tepat. Sehingga diam-diam timbul semangat pemberontak di dalam hatinya, terutama sejak ia melewati masa puber. Namun hal itu hanya bisa dipendamnya di dalam hati. Membayangkan reaksi papanya, ia jadi makin excited, malah ia jadi membayangkan kalau seandainya tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka dan cowok itu masuk ke dalam dan melihat dirinya yang telanjang bulat di dalam air. ah, gila kamu ya! Kok jadi mikir yang nggak-nggak gini, pikirnya dengan malu.

    Sementara itu disaat Liani sedang asyik merendam tubuh mulusnya yang telanjang bulat di kolam air panas, pada saat yang sama, melajulah motor butut itu kembali melintasi kemacetan kota dengan pengendaranya seorang diri yang basah kuyup dan menggigil kedinginan. Memang kontras sekali perbedaan diantara keduanya….Sejak pertemuan itu, Dodo begitu gencar mencoba menjalin hubungan lebih dekat dengan Liani. Namun ia tak mendapat tanggapan berarti. Memang ia menyadari perbedaan yang sangat kontras antara Liani dan dirinya. Liani adalah tipe cewek kelas satu sedangkan dirinya dari kelas yang sama sekali nggak masuk hitungan. ia dari keluarga pas-pasan yang broken home. ia cuma sekolah di STM yang tak bermutu, itu pun beberapa kali ia tak naik kelas sehingga kini umurnya telah 20 tahun padahal ia masih kelas 3. Dan tampangnya juga termasuk jelek, kulitnya coklat kehitaman karena dari sononya ditambah lagi karena seringnya terbakar matahari. Rambutnya yang keriting dibiarkan gondrong awut-awutan. Penampilannya kayak berandalan karena memang ia cowok liar dan ugal-ugalan. urusan berantem, kebut-kebutan di jalan, atau mabuk-mabukan bukanlah hal asing baginya. Bahkan ia telah beberapa kali berhubungan intim dengan beberapa tetangganya yang kebetulan janda berumur 30-an. Mungkin janda-janda itu suka dengan dia karena merupakan daun muda yang liar dan gagah perkasa. Sementara janda-janda itu mengajarinya bermacam teknik bercinta yang membuatnya ketagihan. Dan sekarang, sejak ia mendapat kesempatan berdekatan dengan Liani, ia jadi bernafsu terhadapnya dan berpikir keras bagaimana caranya bisa membuat Liani mau bertekuk lutut sama seperti janda-janda yang sering ditidurinya itu. Bukan perkara yang mudah. Namun ia jadi makin terobsesi untuk mendapatkan Liani.

    Sementara Dodo terus menghubungi Liani, cewek itu terus berusaha menghindar.. Namun karena terus-menerus tak kenal menyerah dan lama-lama tak enak menolaknya terus-menerus, pada suatu hari akhirnya Liani memperbolehkan Dodo datang ke rumahnya. Sore itu Dodo sengaja memakai pakaian terbaik yang dimilikinya. Karena ia telah janjian untuk datang ke rumah Liani. Sesampainya di depan pintu pagar rumah Liani, ia segera menekan bel. Ding Dong..Tak lama kemudian, pintu segera terbuka, keluarlah seorang pria setengah baya. Tentu ini bokapnya si Liani, pikir Dodo.
    “Sore, oom. Saya….
    “Mau apa lagi? Khan uang iuran sampah bulan ini sudah dibayar.”
    (Sialan, masa gua dipikir tukang sampah, pikir Dodo!)
    Memang tak heran, karena ia memakai baju hem butut dengan warna norak serta celana jins belel dan sepertinya lama nggak dicuci. Sekilas, pakaiannyanya memang mirip dengan pakaian tukang sampah yang sering datang kesitu. Dan itu adalah baju terbaik yang dimilikinya!
    “oh, bukan begitu oom. Saya mau ketemu Liani.”
    “Mau apa kamu ketemu Liani?” tanyanya curiga kok orang dengan tampang begini mau ketemu dengan putrinya.
    “Saya temannya Liani oom. Kita sudah janji, saya mau pinjam buku catatannya..”
    “Kamu bisa kenal Liani dari mana?” katanya dengan nada penuh curiga.
    “anu oom, saya kenal karena sekolah saya dekat dengan sekolah Liani..”
    “ooh, begitu. Hmm. Tunggu sebentar yah,” jawabnya sambil masuk ke dalam.
    “Nik, di luar ada yang nyari kamu. Katanya temanmu tapi tampangnya kok kayak berandalan. Kok kamu bisa temenan sama orang kayak gitu sih?” tanya bokapnya Liani.
    “oh, itu temannya teman,” kata Liani berbohong. Tentu ia tak bisa menjelaskan kalau kenalnya karena sebelumnya pernah berboncengan naik motor dengan cowok itu.
    “Tampangnya kayak berandalan gitu kok ya kamu bolehin datang ke rumah sih.”
    “Hihi, iya ya Pi. Tampangnya kayak preman. Tapi dia bukan teman dekat Nonik sih, Pi. Cuman pernah ngobrol sekali aja,” kata Liani tanpa berbohong namun juga tak menceritakan keseluruhannya.

    “Lha trus, kenapa kok dibolehin datang. Dari penampilannya Papi sudah nggak suka.
    “Soalnya dia maksa terus, pengin pinjam catatan Nonik. Sudah beberapa kali ditolak, tapi dia maksa terus, jadinya nggak enak dong Pi.”
    “Hati-hati lho. Bisa-bisa dia suka sama kamu.”
    “Ya biarin aja Pi.”
    “Lho kok biarin gimana? Masa Papi biarin anak cewek Papi pacaran sama cowok kayak gitu. Jangankan pacaran, kamu temenan aja Papi sudah nggak suka.”
    “orang suka masa nggak boleh Pi? Yang penting khan Nonik nggak mau sama dia.. Memang Papi kirain aku mau sama dia?” kata Liani sambil merajuk.
    “Ya udah. asal kamu hati-hati aja. Lagian ingat, kamu harus hati-hati dalam berteman. Jangan bergaul dengan orang sembarangan. Nanti apa kata saudara-saudara dan teman-teman Papi, kalo mereka tahu anak Papi berteman dengan anak berandalan. Dan karena kamu anak cewek, kalo mesti bisa menjaga nama baik kamu. Jangan sampai nama kamu rusak gara-gara temenan sama orang yang nggak benar. Mengerti? “
    “iih, Papi mulai deh kuliahnya,” kata Liani merajuk.
    “Kamu dinasehati orang tua kok malah begitu jawabnya.”
    “Soalnya Papi selalu deh, ngebedain anak cowok dan cewek.”
    “Ya udah, cepat kamu temuin dia dan jangan lama-lama, kalo sudah selesai, segera suruh dia pulang.”
    “oK, boss,” kata Liani dengan agak kesal karena merasa Papinya mulai membedakan perlakuan dirinya dengan saudara cowoknya.

    Tak lama kemudian, muncullah pembantu yang membukakan pintu dan menyilahkan Dodo duduk di ruang tamu. Wah, enak bener nih sofanya, malah lebih empuk dibanding ranjang di rumahnya. Maklumlah, karena ia memang orang kampung yang tak pernah merasakan sofa senyaman itu. Setelah beberapa saat, muncullah Liani. ia memakai baju kaos berlengan warna putih tanpa krah dan celana selutut berwarna biru. Diam-diam Dodo mengamati ukuran payudara Liani yang nampak cukup menonjol di balik kaos putihnya. Serta tak lepas dari perhatiannya branya berwarna coklat tanpa tali di bahunya di balik kaosnya. Wah, gila nih cewek. Begitu muncul langsung bikin gue ngaceng abis dah, katanya dalam hati. Memang tak salah kalau bokapnya Liani nggak suka dengannya karena memang diam-diam ia memendam nafsu birahi terhadap putrinya yang masih polos dan perawan itu.
    “eh, sori ya, nunggu agak lama,” kata Liani.
    “oh, nggak apa-apa kok.”
    Mereka tak sempat ngobrol lama, karena beberapa kali bokap Liani memanggilnya untuk urusan ini itu sepertinya untuk mengingatkannya untuk segera menyuruh tamunya pergi. Tak lama kemudian akhirnya ia pamit pulang sambil membawa buku catatan itu. Namun ia sempat melihat bagian atas dada Liani dari balik kausnya yang sedikit terbuka saat ia sedang duduk dan membungkuk untuk menjelaskan catatannya. ah, lumayanlah, mampir beberapa menit bisa ngeliat gunung kembarnya, pikirnya.

    Sejak saat itu, makin lama mereka jadi sering ketemuan, meski awalnya Liani selalu mencoba mengelak. Dan tentu kebanyakan ketemuannya disaat sang bokap nggak ada. Malah Liani jadi sering curhat dengannya tentang Papinya yang sibuk dengan bisnisnya dan lebih mementingkan saudara cowoknya dibanding dirinya. Hmm, bagus, semakin dekat menuju sasaran, pikirnya. Sebenarnya Liani juga merasa kalau Dodo belakangan ini jadi makin sering mendekatinya. Meski tahu kalau Dodo tipe cowok berandalan dan adanya perbedaan yang besar diantara mereka, namun tak disangkal ia menyukai kepribadiannya yang macho dan apa adanya walau seringkali konyol. Sehingga dalam hal tertentu (misalnya curhat tentang Papinya atau keluarganya) ia merasa bisa ngobrol lebih terbuka dengan Dodo dibanding dengan teman dekatnya atau saudaranya. Karena terhadap mereka, ia harus menjaga citranya sebagai anak baik di keluarga. Sementara dengan Dodo ia bisa lebih bebas bicara atau bertindak semaunya. Lagipula, tidak ada yang mengenal Dodo. oleh karena itu, meskipun tahu kalau Dodo adalah dari kalangan rendahan, namun ia tetap mau berhubungan dengannya. Kalau bokap tahu aku sering ketemu sama dia, bisa sewot dia, pikirnya. Hihihi. Membayangkan dirinya melakukan hal yang dilarang bokapnya dengan sembunyi-sembunyi membuatnya excited. ah, biarin aja, pikir Liani, yang penting khan gua nggak ada apa-apa sama dia. Jadi sebenarnya gua nggak melanggar aturan, pikirnya. Dan memanglah betul. Meski keduanya makin sering bertemu, namun mereka tak berpacaran. Karena Dodo memang tak pernah mengungkapkan hal itu. Baginya hal itu bukan tujuan utamanya. Yang lebih penting adalah bagaimana caranya supaya bisa membuat Liani yang polos tapi sexy itu bertekuk lutut kepadanya. Dan semakin lama ia makin percaya diri bahwa ia semakin dekat dengan mangsanya.

    Naluri Dodo memanglah betul. Karena belakangan ini semakin sering Liani membayangkan kalau seandainya ia ingin melakukan hal gila-gilaan, ia akan melakukannya dengan Dodo. apalagi citranya sebagai cewek baik-baik yang kontras banget dengan Dodo yang cowok berandalan. Perbedaan yang kontras itu makin membuatnya excited. Tapi itu hanyalah berandai-andai saja. Karena ia masih sadar akan status dirinya sebagai seorang cewek baik-baik yang harus menjaga dirinya dan nama baiknya. Meskipun kadang timbul keinginan aneh untuk melakukan sesuatu yang ekstrem yang bertolak 180 derajat dengan citranya sebagai anak baik-baik sejak dari kecil dulu. Hal itu dipendamnya dalam-dalam di dalam hatinya. Tanpa disadarinya hal itu ibarat pegas yang tertekan semakin kuat seiring dengan waktu. Dalam keadaan normal, di permukaan kelihatan tenang-tenang saja. Namun apabila sampai terlepas dari penahannya, pegas itu akan melesat dengan kuat dan cepat tanpa ada yang mampu
    menahannya.

    —————————————————————————

    Sore itu kembali Dodo datang ke rumah Liani. Liani memakai kaus kuning tanpa lengan dan celana abu-abu selutut.
    “Kok nggak kedengeran suara bokap. apa dia masih di kantor?
    “Nggak. Sudah sejak 4 hari lalu ia pergi ke aussie menjenguk Ko andi (kakak Liani) yang sekolah disana.”
    “Wah jadi sendirian dong.”
    “iya. Cuman sama si Minah doang. Nyebelin deh.”
    Minah adalah pembantunya yang umurnya sekitar 50-an.
    Saat itu mereka duduk bersebelahan. Diam-diam Dodo memperhatikan dada Liani.. Karena belahan kausnya agak rendah dan karena dia lebih tinggi dari Liani, jadi ia dapat melihat belahan dadanya, terutama kalau lagi menunduk. Seketika ia jadi terangsang. apalagi tercium olehnya aroma tubuh Liani yang harum.
    “Ya udah, lupain aja. Khan sekarang ada gue,” kata Dodo,” Terus sekarang mau ngapain?”
    “Terusin aja belajarnya. Masih ada yang mau lu tanyain ga?” tanya Liani.
    Memang sejak belakangan, Liani jadi lebih sering menjelaskan matematika kepada Dodo.
    “oh, ya ada dong. Gua ada pertanyaan yang mau gua tanyain ke loe.”
    “apa itu?”
    “Kok hari ini loe tambah cakep dibanding biasanya?”
    “ah, ngaco loe! Jangan ngomong sembarangan ah,” kata Liani.

    Memang kadang ia suka bercanda yang aneh-aneh atau ngomong hal-hal yang nggak jelas juntrungannya dengan Dodo.
    “iya bener. Gua serius nih. Belum pernah gua liat loe secakep ini,” kata Dodo dengan muka serius.
    “iih, gombal dah loe. udah ah jangan ngomong kayak gini lagi,” kata Liani namun diam-diam ingin tahu apa kelanjutan yang bakal dilakukan Dodo.
    “Beneran! Ngapain gua bohong. Malah loe adalah cewek paling cakep yang pernah gua temuin,” kata Dodo dengan wajah makin serius.
    “Masa sih?”
    “Dan nggak cuman itu, loe juga cewek paling menarik yang pernah gua tahu. Lihat nih, kulit loe halus,” kata Dodo langsung memegang tangan Liani. Melihat Liani tak bereaksi apa-apa, ia jadi semakin berani.
    “Dan muka loe juga halus,” kata Dodo sambil mengelus pipinya,” Pasti semua cowok pada tertarik sama loe.”
    “omong2, loe tahu ga apa yang ada di pikiran gua sekarang?” kata Dodo.
    “iih loe ada-ada aja,” kata Liani, “udah ah jangan kayak gini,” kata Liani lagi sambil berusaha melepaskan dirinya dari Dodo.
    Namun Dodo tak menanggapi lagi ucapan Liani, malah tiba-tiba ia merengkuh Liani dan berusaha mencium bibirnya. Liani kaget dengan reaksi mendadak Dodo.. Karena gerakan Dodo yang tiba-tiba dan ia tak bisa melawannya, mau tak mau ia membiarkan bibirnya diciumi Dodo. ia berusaha berontak, namun malah Dodo semakin bernafsu dengan ciumannya. Sampai-sampai dengan berat tubuhnya ia mendorong Liani sehingga terbaring. Lalu dengan penuh nafsu Dodo menciumi leher Liani yang putih mulus. Setelah itu kembali ia mengunci dan melumat habis bibir Liani sampai-sampai Liani dibuatnya bernapas terengah-engah.

    Tiba-tiba dengan kekuatan yang tak disangka-sangka Liani mampu mendorong tubuh Dodo sehingga ia terlepas dari sergapan Dodo. Napas Liani masih terengah-engah dan ia masih setengah terbaring, ketika tiba-tiba, plakkkk, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dodo. Ketika Liani ingin menampar pipi Dodo yang satunya lagi…namun kali ini tangannya berhasil ditangkap Dodo.
    “Jangan sembarang main tampar Non, sakit. Mending kayak gini deh,” kata Dodo yang kemudian kembali mencium bibir Liani, sepertinya ia ingin membalas tamparannya yang keras tadi.
    Kali ini Liani berusaha mengelak namun karena kalah tenaga dan ia dalam posisi yang kalah (ia dalam posisi terbaring sementara Dodo duduk dan satu tangannya terpegang), lagi-lagi bibir Dodo berhasil menyentuh bibir Liani. Liani berusaha meronta-ronta, sesekali ia berhasil melepaskan diri dari ciuman Dodo, namun ia masih dalam posisi tertindih. akhirnya Dodo melepaskan tangan Liani dan kini kedua tangannya memegang kedua pipinya sehingga kini kepala Liani tak bisa bergerak lagi. Lalu dengan bebasnya kini ia bisa memagut bibir Liani sepuas hatinya. Bahkan bibirnya kini melumat habis bibir gadis yang ditindihnya itu. Mula-mula Liani berusaha memberontak, kedua tangannya memukul-mukul punggung Dodo. Namun apa daya, rupanya Dodo tak bergeming. Sepertinya pukulan-pukulan Liani malah merupakan pijitan di punggungnya. Makin lama pukulan Liani melemah, sampai akhirnya ia menghentikan sama sekali, entah karena menyadari kalau tidak ada hasilnya atau karena ia mulai merasakan nikmatnya ciuman bibir Dodo. Sampai akhirnya tubuh Liani melemas dan pasrah saja menikmati apa yang dilakukan Dodo terhadapnya. Merasakan bahwa Liani telah menghentikan perlawanannya, Dodo juga melepaskan kedua tangannya dari pipi Liani. Kini dengan bebasnya ia menciumi dan melumat habis seluruh bibir Liani. Sementara Liani kini ikut larut dalam irama permainan Dodo dan sesekali terdengar lenguhannya.

    Setelah puas menciumi Liani, Dodo melepaskan ciumannya. Liani mendapat kesempatan untuk duduk. Lalu ia berkata,” Yang loe lakukan tadi benar-benar brengsek! Loe benar-benar cowok brengsek!!”
    Namun tak diduga-duga, setelah selesai mengatakan itu, tiba-tiba Liani mencium bibir Dodo dan melumatnya. Hal yang tak disangka-sangka ini tentu membuat Dodo membalas lumatan Liani. Sehingga kini keduanya dengan liar saling berciuman dan berpagutan di atas sofa yang empuk itu. Bahkan kedua lidah mereka beberapa kali saling bersentuhan. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba Liani melepaskan dirinya dari Dodo. “Sebentar. Mending kita “belajar” di kamar gua aja yuk. Gua nggak mau ketahuan Minah,” kata Liani. (Sebenarnya ia tak perlu takut ketahuan Minah, karena Minah berada di dalam kamarnya terus dan sama sekali nggak tahu akan perbuatan nona majikannya itu. Malah ia tidak tahu ketika Dodo datang karena ia tertidur saat Dodo datang).
    Tapi yang jelas, memang lebih nikmat untuk melakukannya di dalam kamar. apalagi ranjang Liani yang empuk dan berukuran besar. Dan lagi, bercinta dengan Liani, anak gadis orang kaya di dalam kamarnya yang mewah, tentu merupakan sensasi tambahan bagi Dodo. Tentu hati Dodo jadi berbunga-bunga mendengar kata-kata indah itu. apalagi setelah mereka masuk, Liani langsung mengunci kamarnya. Tentu itu adalah suatu isyarat yang tak perlu dijelaskan lagi maknanya. Kini hanya mereka berdua saja di dalam kamar yang terkunci rapat. Tak ada yang bisa mencegah apa yang akan dilakukannya. ia benar-benar mengagumi isi kamar itu. Semuanya tertata rapi dan mewah. Sementara ranjangnya ukuran king size yang empuk. Namun, ia tak mau lama-lama menghabiskan waktu mengagumi kamar Liani, mending fokus ke penghuninya.

    Baca Juga Cerita Seks Alfi dan Bu Gurunya yang Cantik

    Kembali Dodo mencium bibir Liani. Liani kali ini tidak menolak malah ia membalas dengan ciuman yang tak kalah hangatnya. Sejenak mereka berpagutan sambil melakukan french kissing, bibir bertemu bibir, lidah bertemu lidah. Setelah puas, lalu Dodo menciumi leher Liani sambil mengecup-ngecup. Karena terlalu bernafsu, Dodo menekan tubuh Liani sampai akhirnya ia tertidur ke atas ranjangnya. Kini dengan leluasa Dodo menindihnya dan terus mengecup-ngecup leher Liani bergantian kiri dan kanan. Sampai di lehernya membekas kemerahan bekas kecupan Dodo. Setelah itu mulai tangan Dodo bergerilya meraba-raba seluruh bagian tubuh Liani, terutama paha dan dadanya. ia meraba dan meremas-remas dengan lembut kedua dadanya bergantian. Tak puas sebelum betul-betul meraba kulit tubuh Liani, tangan Dodo menuju ke pinggang, meraih sabuk yang dikenakan dan seketika melepaskannya. Segera ia membuka retsleting celana Liani dan meloloskannya sehingga nampaklah pahanya yang putih mulus dan celana dalamnya berwarna coklat muda menutupi bagian rahasianya. Tak puas dengan itu, ia membuka kaus kuning yang dikenakan Liani. Tanpa perlawanan sama sekali, ia berhasil melakukan itu. Kini nampaklah di depannya tubuh Liani yang putih mulus yang bagian-bagian terpentingnya masih tertutup. Bra-nya juga berwarna coklat muda yang coraknya sama dengan celana dalamnya. akan tetapi ini tak berlangsung lama. Karena sesaat kemudian ia membangunkan Liani dan tanpa basa basi lagi segera tangannya merengkuh punggung Liani untuk melepaskan kait bra-nya. Sekali lagi, tanpa perlawanan, ia berhasil melakukan itu dan dengan agak terburu-buru ia menjauhkan bra tersebut dari tubuh Liani, sehingga kini dengan bebasnya ia dapat melihat payudara Liani. Hmm, sungguh indah. ukurannya 34c. Bentuknya sempurna dan kencang berdiri dengan tegaknya. Wilayah areolanya tidak terlalu besar namun putingnya menonjol. Kulit dadanya yang putih mulus kontras dengan kedua putingnya yang merah muda. Sementara Liani dengan wajahnya yang innocent menatap dengan pasrah.

    Segera ia mencoba kekenyalan payudara Liani itu. Kedua tangannya merengkuh kedua payudaranya, meraba-rabanya, dan meremas-remasnya dengan lembut. Hmm, benar-benar kenyal dan padat. Benar-benar masih segar dan muda. Tubuh gadis usia belasan tahun sungguh berbeda dengan janda berumur 30-an tahun. apalagi gadis ini bukanlah gadis biasa namun dari keluarga berada yang rajin merawat tubuhnya dari sejak kecil. Ditambah pula belum pernah sebelumnya ia beginian dengan cewek yang sekelas Liani ataupun dengan cewek berwajah oriental dan berkulit putih seperti ini. Sungguh semuanya ini adalah sensasi yang sungguh nikmat bagi Dodo. Membuat hormon kejantanannya bereaksi dengan kuatnya dan membuatnya merasa lebih macho. Sementara itu, tindakan Dodo yang meraba-raba payudaranya ini juga membuat Liani terangsang. Bagaimana pun, ia adalah gadis normal yang tentunya menjadi terangsang dengan sentuhan-sentuhan erotis seperti itu dari seorang cowok. apalagi cowok macho seperti Dodo yang tak mengenal sopan santun. ia mulai mendesah-desah ketika Dodo meraba-raba dan meremas-remas payudaranya yang sungguh kencang, kenyal dan padat berisi. Dodo segera menyambutnya dengan ciumaan di bibirnya yang juga dibalas oleh Liani. Liani jadi makin terangsang, lebih-lebih lagi ketika jari-jari Dodo bergeser-geser diatas putingnya. Karena putingnya sangat sensitif dan payudaranya adalah titik nyala seksnya. Setelah beberapa saat Dodo melakukan ini, kini tanpa dapat dicegah vaginanya menjadi basah oleh cairan. Beberapa saat lamanya Dodo menikmati bibir dan payudara Liani. Sementara Liani juga menikmati sentuhan-sentuhan kurang ajar (tapi sungguh nikmat) dari Dodo terhadap dirinya. Setelah itu Dodo melepaskan tangannya dan menuju ke celana dalamnya. Sekali lagi, tanpa basa basi lagi, ia menurunkan celana dalam coklat tersebut menuruni paha, lutut, kaki bagian bawah, sampai telapak kaki, dan akhirnya ia melemparkan ke lantai. Hal itu dilakukan tanpa ada perlawanan sama sekali dari Liani. Sepertinya diam-diam ia juga mengharapkan Dodo melakukan hal itu..

    Seluruh baju yang semula dikenakan Liani kini nampak berserakan di lantai. Dari sabuk, baju atasan, celana luar, bra, dan juga cd-nya. Pandangan Dodo kini terfokus ke vagina Liani. Bulu-bulu kemaluannya termasuk lebat apalagi kalau diingat bahwa cewek itu masih muda, umurnya antara 17-18 tahun. Sungguh tak disangka-sangka bahwa Liani, cewek dengan tampang polos dan innocent itu ternyata mempunyai bulu kemaluan yang lebat. Vaginanya yang kemerahan nampak rapat. untuk dapat melihat vaginanya dengan lebih jelas, Dodo sengaja membuka kedua kaki Liani lebar-lebar. Nampak terlihat vaginanya yang masih tertutup rapat serta klitorisnya. Vaginanya berwarna kemerahan segar, dibawah bulu vaginanya yang lebat. Dan Liani membiarkan Dodo melihat vaginanya tanpa berusaha menutup kedua kakinya. Sepertinya kini Liani telah pasrah dan urat malunya telah putus dihadapan Dodo. ia membiarkan saja apa pun perlakuan Dodo terhadapnya. Setelah itu giliran Dodo membuka seluruh pakaiannya. Liani nampak kaget saat melihat penisnya. Karena selain ia tak pernah melihat penis cowok dewasa sebelumnya. Dan juga karena penis Dodo kini berdiri dengan tegaknya. Warnanya nampak lebih hitam dibanding kulit tubuhnya. ukurannya pun cukup besar dan nampak berurat berdiri tegak. Nampak lekukan di leher penisnya dan kepalanya yang disunat terlihat lebih besar dibanding dengan badannya. Dodo tak memberi kesempatan Liani lebih lama untuk melihat penisnya, karena ia telah terbungkus oleh nafsu birahi yang menggelora menyaksikan tubuh putih mulus Liani yang telanjang bulat. ia menindih tubuh Liani dan menciumi bibirnya. Bibirnya merasakan nikmatnya bibir Liani, dadanya yang hitam namun tegap menempel ke payudara Liani yang padat berisi dengan putingnya yang kemerahan. Sementara penisnya menempel di bulu-bulu vagina Liani yang lebat, seakan bagaikan bantal empuk yang menyangga penisnya yang menegang sangat keras itu. Dan sebagian buah pelirnya menempel ke lubang vagina Liani.

    Kedua tangan Liani yang putih memeluk punggung Dodo seolah tak ingin melepaskannya. Sejenak sepasang cowok dan cewek muda yang berbeda segalanya itu saling memagut, saling meraba dan merangsang bagian-bagian sensitif lawan jenisnya. Nampak kontras perbedaan fisik mereka. Liani yang putih halus ditindih Dodo yang hitam legam. Liani yang berambut lurus sementara Dodo berambut keriting. Liani yang cantik, Dodo yang jelek rupanya. Liani yang berwajah polos innocent, Dodo yang berwajah berandalan. Dodo kembali bergerilya ke tubuh Liani, kali ini dengan menggunakan mulutnya. ia mulai mengecupi leher dan kedua pundak Liani. Namun yang menjadi sasaran utamanya adalah payudaranya, karena ia ingin merasakan nikmatnya rasa payudara cewek putih mulus ini. Mula-mula dikecupinya bagian pangkal payudaranya, setelah itu bergerak makin ke atas sampai akhirnya sampai di putingnya. Kedua putingnya yang kemerahan membuat gemas dirinya. Segera dikecupinya, dikenyot-kenyot dan dijilat-jilat, awalnya lidahnya melingkar-lingkar di sekeliling putingnya, kemudian benar-benar kedua putingnya yang dijilat-jilat oleh gerakan lidah Dodo yang lincah itu sambil sesekali diselingi oleh kecupan-kecupan hangat. Kehangatan kecupan Dodo yang menyedot-nyedot putingnya dan kelincahan lidah Dodo yang memainkan kedua putingnya, menggerak-gerakkannya kesana kemari, membuat Liani menggelinjang kegelian. Membuatnya jadi makin terangsang. Tanpa sadar ia mengeluarkan suara mendesah-desah dengan cukup keras, “ohhh ahhhhh ahhhhhh”, yang membuat Dodo makin bernapsu memainkan payudaranya. Sementara vagina Liani jadi basah kuyup dibuatnya.
    “ahhhh, ahhhhhhh, emmhhhhhh”, desah Liani sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Dodo dan tanpa sadar membuka kakinya lebar-lebar dan mendesak-desakkan vaginanya ke badan Dodo.

    Dodo yang mengerti akan body language Liani segera memulai gerilyanya ke bawah. Mula-mula dikecupinya pahanya terutama bagian pangkalnya. Setelah itu tangannya bergerak ke tengah menuju ke antara kedua pahanya. Vaginanya diraba-raba, klitorisnya sengaja digesek-geseknya.
    “ohhhhh, Dodo, ohhhhhhhh, ohhhhhhhhh”
    Dodo merasakan tangannya yang jadi berlendir. Dalam hati ia tersenyum gembira. Rupanya cewek ini sudah terangsang hebar sehingga tidak mempedulikan hal-hal lainnya. Namun ia tidak langsung melakukannya. Toh tinggal masalah waktu saja, pikirnya. Lalu ia menjilati vaginanya, menyedot-nyedotnya, dan memainkan lidahnya di sekitarnya. Sampai lalu ia menjilati klitorisnya yang tentu saja membuat vagina Liani jadi makin basah kuyup. ia tidak selalu mau berbuat begini. Namun terhadap Liani yang putih bersih ini, ia sama sekali tak keberatan melakukan itu. apalagi ia punya dugaan kuat kalo Liani masih perawan. Sementara tangan Dodo tak mau ketinggalan segera merengkuh payudara Liani, meremas-remasnya dan kembali memainkan jari jemarinya ke kedua putingnya.
    “ahhhhh, ahhhhhhh, ohhhhhh, aaahhhhhhhhhhhhh.”
    Tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang kenikmatan. Akhirnya Dodo menghentikan aksinya. ia membuka kaki Liani lebar-lebar. Rupanya ia telah siap dengan hadiah utamanya. Kemudian ia memposisikan penisnya ke antara kedua paha Liani. Sementara Liani telah sangat terangsang sehingga ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan Dodo. ia telah pasrah total dengan apapun yang dilakukan Dodo. Melihat gayung bersambut, segera Dodo menempelkan penisnya ke mulut vagina Liani. Dan kemudian mendorong dirinya ke depan, memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani. uggh, sempitnya. Namun dengan dorongan yang kedua yang lebih kuat sebagian kepala penisnya berhasil masuk ke dalam. Dorong sekali lagi, kini seluruh kepala penisnya amblas ke dalam vagina Liani. Dan, Bleessh. Sekali dorong lagi memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina Liani. Setelah berhasil memerawani Liani, lalu, cleeb, cleeeb, cleeeb, dengan gaya missionaris segera ia memaju mundurkan penisnya, mengocoknya di dalam vagina Liani, merasakan jepitan vagina Liani yang sempit.

    Tubuh Liani yang putih mulus ditindih dan dikocok-kock oleh Dodo yang hitam dan kasar, sementara kedua tangan Liani yang putih memeluk punggung Dodo yang hitam. Payudaranya bergerak berputar-putar akibat kocokan Dodo. akhirnya Dodo merasa gemas juga untuk meremas-remasnya. Liani jadi meracau tak karuan ia sudah lupa segalanya. Sungguh ia menikmati penis Dodo yang menembus keperawanannya dan mengocok vaginanya . Dan, inilah kelakuan cewek yang terkenal “alim” itu yang masih kelas 2 SMU!! Setelah petting yang dilakukan sebelumnya, rupanya tak perlu waktu lama lagi buat Dodo untuk membuat Liani orgasme. Tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang. Sementara Dodo mengocoknya terus beberapa saat dengan irama yang tetap. Tubuh Liani berguncang-guncang. Payudaranya jadi bergerak berputar-putar mengikuti arah maju mundur hunusan penisnya. Sampai akhirnya tanpa dapat dicegah lagi,
    “oHhhhhhhh, aahhhhhhhh, ooohhhhh, yesssssss, ahhhhhhhhhhhh, Dodooo, ahhhhhhhhhhhhh”
    Liani mencapai orgasmenya. Sementara Dodo tetap terus mengocok penisnya, membiarkan Liani menikmati turunnya ritme setelah puncak orgasmenya sambil ia merasakan nikmatnya jepitan liang vagina Liani yang sempit. Setelah Liani jadi mulai tenang, segera Dodo menghentikannya dan menarik penisnya keluar. ia masih belum selesai dan belum cukup puas menikmati Liani yang baru saja diperawaninya dan dibuatnya orgasme itu. ia melihat adanya sedikit darah dari vagina Liani. Sungguh bangga hatinya karena berhasil menikmati keperawanan gadis cantik dengan tampang innocent itu. Setelah itu kembali ia “menghajar” tubuh mulus Liani dengan menyetubuhinya ala doggy style. Penisnya yang gagah menembus maju mundur liang vagina Liani. Membuat seluruh tubuh Liani terguncang keras dan payudaranya bergerak-gerak dengan lebih hebat lagi. Kini malah seluruh ranjang jadi ikut bergoyang-goyang.
    “ahhh, ahhhhhhhhhhhh, ahhhhhhhhhhhh,” Liani mendesah-desah.

    Lalu berganti posisi, ditelentangkan Liani di atas ranjang dan diangkatnya kedua kakinya ditaruh di pundaknya sendiri. Kemudian dimasukkan penisnya ke vagina Liani dan dikocok-kocoknya di dalamnya. Dodo ingin Liani memainkan penisnya. Digunakan tangan Liani yang mungil meraih batang penisnya Dodo, mulai dari buah zakarnya sampai ke ujung kepala penisnya. Rupanya cewek ini walaupun pemula namun cukup “berbakat” untuk hal kayak ginian. Terbukti tak lama kemudian jari-jemarinya bergerak sendiri dengan cekatan mengelus-elus dan memijit-mijit seluruh bagian penis Dodo. Sepertinya ia sangat menyayangi penis Dodo yang hitam besar yang sebelumnya telah memberikan kepuasan tiada tara kepadanya. Jari-jarinya yang halus dan mungil kini bergerak-gerak disekelilin leher penis Dodo, dilanjutkan dengan ibu jari dan telunjuknya yang meraba-raba kepala penis Dodo yang membesar dan tak disunat itu. Kemudian ia mengocok-ngocok dengan tangannya, meremas-remasnya, sampai-sampai membuat Dodo menahan supaya tidak keluar. Tak puas dengan itu rupanya Dodo ingin supaya Liani, yang beberapa saat sebelumnya masih perawan itu, untuk meng-oral penisnya. Namun sebelum itu, dijepitnya penisnya diantara payudara Liani. Digosok-gosok penisnya di tengah-tengah dada kenyal Liani. Digerakkan maju mundur di antara dua bukit itu. Setelah itu, didekatkannya penisnya yang basah ke dekat mulut Liani. Mula-mula Liani menolaknya. Namun Dodo tetap menyuruhnya untuk “mencobanya”, “anggap aja seperti jamur” katanya sambil mengelus-elus rambut Liani. akhirnya Liani mau juga mengulum “jamur yang hitam besar itu”. Dan rupanya, ia tak perlu terlalu lama diajari urusan kayak gini. Membuat Dodo merasakan kenikmatan luar biasa saat penisnya dikulum di dalam mulut gadis berwajah oriental itu. Lidahnya di dalam mulut dengan lincahnya bermain-main di sekitar leher penis Dodo. Tampangnya yang innocent dengan polosnya menatap Dodo, sementara mulutnya sedang asyik mengulum penis Dodo yang sebelumnya telah menembus vaginanya untuk pertama kali dan memberikan orgasme kepadanya. Sementara kedua tangan Dodo tak mau menganggur, segera meremas-remas buah dada Liani. Sehingga keduanya saling merangsang satu sama lain.

    Wajah Liani yang innocent dengan polosnya menatap Dodo ketika mulut dan lidahnya sibuk memainkan penisnya. Sungguh kontras sekali pemandangan itu! Sehingga menggemaskan hati Dodo. Sampai akhirnya ia tak bisa menahan lebih lama lagi. Dengan memberi isyarat kepada Liani untuk mengocok penisnya dengan tangannya di luar mulutnya, akhirnya tak lama kemudian:
    “Crrooot, crooottt, croooot…”
    Dengan perasaan penuh kepuasan, muncratlah sperma Dodo dalam jumlah yang banyak. Sebagian besar mengenai wajah Liani, sebagian lagi ke rambutnya yang dicat kepirangan. Sehingga wajah Liani kini jadi belepotan dibuatnya. Namun Liani dengan patuh terus mengocok penis Dodo sampai seluruh spermanya habis keluar. Sebagian spermanya mengalir ke bawah membasahi leher dan dada Liani. Sesaat setelah “pertempuran” itu, mereka berdua nampak berbaring dengan napas masih terengah-engah. Hati Dodo penuh rasa puas karena akhirnya berhasil memerawani Liani di dalam kamar tidurnya sendiri. Sementara Liani, meskipun tak menduga kalau bakal sampai terjadi sejauh ini, namun tak dapat disangkalnya bahwa malam itu ia mendapatkan kepuasan luar biasa dari Dodo. Pada saat itu Dodo sedang membelai-belai rambut Liani dan tangan yang satunya meraba-rabai payudara Liani. Tiba-tiba HP Liani berbunyi. Karena masih rada kecapean, awalnya Liani enggan mengangkatnya. Namun karena HP-nya berbunyi terus menerus, dengan terpaksa ia mengangkatnya.
    “Halo.”
    “Halo Nik, ini Papi. Papi pulang hari ini. Sekarang lagi mampir beli bihun goreng di restoran XXX (restoran di deket rumah mereka), kamu mau nitip apa?”
    “Lho! Kok Papi sudah pulang? Bukannya harusnya pulangnya hari Minggu?”
    “iya soalnya tadi pagi customer Papi telpon, meeting-nya diubah besok. eh, kok napas kamu ngos-ngosan sih Nik?”
    “i-iya Pi, lagi asyik treadmill nih, trus Papi telpon.”
    “ooh, makanya tadi nggak diangkat-angkat. Kirain lagi mandi tadi. Gimana, mau nitip makanan nggak?”
    “ehhm, boleh deh. Kwetiauw goreng deh Pi. Pake telor ya.”
    “oK deh. Papi beliin. Bentar lagi juga nyampe rumah kok.”
    “oK deh Pi. Byee.”
    “Bye.”

    “Wah, gawat. Papi sudah mau nyampe rumah. Yuk, kita mesti buruan beres-beres,” kata Liani sambil buru-buru mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan wajah serta dadanya masih dibasahi sperma Dodo.
    “Tunggu dulu. Kita mesti bicara dulu. Sorry ya atas perbuatan gua tadi. Gua bener-bener lupa daratan.”
    “ah, udahlah. Sudah kejadian kok, mau diapain lagi.”
    “Loe nggak marah sama gua?”
    “Kenapa mesti marah? Lagian..lagian, gua tadi juga mau kok,” kata Liani sambil mukanya memerah.
    “Jadi kalo gitu, ntar kapan-kapan mau lagi donk?”
    “iiih, elu malah ngelunjak ya,” kata Liani yang mukanya makin memerah.
    “eh, gua nggak nyangka lu bisa jadi cewek brengsek juga,” kata Dodo menirukan kata-kata Liani sebelumnya.
    “idiih, elu deh,” kata Liani sambil memerah mukanya, “ini semua gara-gara loe, tahu.” “awas, lu jangan bilang siapa-siapa ya.”
    “Siip deh, asal jangan lupa “iuran hariannya” aja.”
    “iiih, elu dech.., kata Liani kehilangan kata-kata.
    Namun tiba-tiba Liani tersadar kembali.
    “eh, yuk kita mesti cepat-cepat beres-beres dan keluar. entar keburu Papi datang. Kalo ketahuan Papi bisa gawat deh,” kata Liani sambil mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai satu persatu.
    “Loe kalo mau bersihin muka buruan deh. ayo cepat, kita mesti ke luar sebelum Papi datang,” kata Liani lagi.
    “oK.” Kata Dodo mengiyakan. ia juga tak mau tertimpa masalah kalau sampai bokap cewek yang baru diperawaninya itu tahu apa yang barusan dilakukan terhadap anak gadisnya. Bisa berabe ntar gue, pikirnya. ia lalu membersihkan dirinya dan buru-buru mengenakan pakaiannya sambil matanya tak lepas memandangi Liani yang buru-buru mengenakan pakaiannya lagi. Sepertinya matanya ingin menikmati keindahan tubuh Liani sampai saat-saat terakhir.

    ———————————————————————————–

    Tak lama kemudian, kedua orang itu telah keluar dari kamar dan Liani menyuruh Dodo duduk di ruang tamu sementara dia akan mandi dulu supaya tampangnya kembali segar.
    “Bi Minaaah!”
    Tak ada jawaban.
    “Bi Minaaaah!”
    tak ada jawaban.
    “Bi Minaaaaah!”
    “iya, iya Non. ada apa?”
    “Lama bener sih. Lagi tidur ya? Bi, ada tamu datang. Tolong suguhkan minuman. aku mau di kamar dan mandi dulu.”
    “Baik Non.”
    Nah, ini adalah strategi Liani. Mulanya ia ingin menyuruh Dodo langsung pulang, sebelum Papinya datang. Namun hal itu dibatalkannya, karena ia tidak tahu kapan saat Papinya datang. apalagi rumah makan yang didatanginya sudah dekat dengan rumahnya. Kalau sampai berpapasan dengan Dodo yang meninggalkan rumah itu, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Kemana lagi Dodo di daerah situ kalau nggak mampir ke rumahnya. Sejak kapan Dodo datang? Padahal sebelumnya ia bilang sedang treadmill. Lebih baik diatur seolah-olah ketika ia sedang treadmill, Dodo datang. Sementara Dodo menunggu di ruang tamu, ia mandi dulu sehabis threadmill. Habis itu baru ia menemui Dodo. Pada saat itu, sudah tidak menjadi masalah lagi apakah Papinya sudah datang ataupun belum. apalagi sekarang dia ada “saksi” Bi Minah yang menyuguhkan minuman kepada tamu yang “baru datang.” inilah akal bulus Liani. Tak salah kalau ia termasuk salah satu siswi cerdas di sekolahnya. Karena memang otaknya encer dan banyak akal bulusnya.

    Dan ternyata, persis seperti perkiraan Liani, tak lama setelah Liani masuk ke kamar mandi, Papinya datang. Mula-mula ia heran melihat motor butut di halaman depan, namun Bi Minah menerangkan kalau itu motor teman Liani yang baru datang. Sementara Liani sekarang sedang mandi saat ia menyuguhkan minuman buat tamunya yang baru datang. ia sebenarnya kurang senang melihat Dodo, namun tetap menyapanya sebagai basa-basi.
    “ooh, baru datang ya? ayo silakan diminum dulu.”
    “Makasih oom. oom baru datang juga ya?”
    “Saya baru sampai dari australia. Kamu sudah makan?”
    “Belum oom.”
    “Kamu tunggu disini dulu ya. Liani masih sibuk di dalam. Tapi dia sudah tahu kok kalo kamu datang. Nanti kalau urusannya sudah selesai, dia pasti keluar nemuin kamu. Sorry ya, oom sudah lapar, mau makan dulu.”
    Dalam hati ia membatin,”Rasain lu, ngapain malam-malam kesini. Sekarang siap-siap aja nunggu lama disini. Belum tahu kalo Liani itu mandinya lama banget. Biar kapok lu supaya jangan kesini lagi.”
    “oh, silakan oom. Nggak apa-apa saya tunggu disini. Lama juga nggak masalah..”
    Dalam hati Dodo membatin,”Lagi sibuk apaan sih? Hehehe, pasti lagi sibuk bersihin mukanya yang barusan gua semprot ama peju”.
    Tak lama kemudian, keluarlah Liani dengan wajahnya yang innocent dengan senyum manisnya. Rupanya ia barusan mandi dan keramas. ia memakai t-shirt berkerah warna biru tua dengan rok bawahan warna putih.
    “eh, Papi udah datang.”
    “iya. Makanannya ada di meja tuh. oh ya, ada temanmu tuh di depan. udah lama nunggunya.

    “Sorry ya, lama nunggunya.”
    “oh, nggak apa-apa kok,” kata Dodo sambil mengedipkan matanya. Melihat Liani dengan wajah segar dan baju baru dengan dadanya yang menonjol membuatnya jadi ngaceng kembali. Namun kini ia boleh berbangga diri karena barusan ia telah menjadi saksi hidup betapa indahnya payudara yang menonjol di balik t-shirt birunya. Dan betapa nikmatnya bercinta dengan cewek cakep dan sexy yang ada di depannya ini.
    “Nik, kamu mau makan jam berapa? Teman kamu apa mau dibeliin makanan juga?”
    Dodo membatin,” Sialan, mau ngusir secara halus, pake basa-basa segala. Kalo memang mau beliin makanan kenapa ga dari tadi-tadi? Tapi sialan, kenapa sih loe pulang cepat? Kalau nggak khan gua bisa dapet ronde kedua.”
    “Makasih deh. Nggak usah repot-repot oom. Saya sudah mau pulang. Badan saya agak cape, soalnya dari tadi “naik turun bukit dan menerobos gang sempit”.”
    “Soalnya rumah kamu jauh ya dan masuk gang pula. untung saja motor kamu nggak mogok.”
    “oh kalo itu pasti nggak deh oom. Soalnya gitu-gitu “motor” saya kuat lho oom.”
    Batin Dodo,” Sekarang loe kaga ngerti khan apa yang gue maksud. Heheheheheh.. Kalo pengin tau, tanya tuh sama anak cewek loe. Dia barusan udah ngerasaain kuatnya “motor” gue.”
    “Biiik, tolong bukain pintu. Tamunya Nonik sudah mau pulang.”
    Batinnya,” akhirnya pulang juga loe.”
    “Permisi oom, saya pulang dulu.”
    “Liani, yuk gua pulang dulu. Thank you banget ya”, katanya sambil mengedipkan matanya.

    Tak lama kemudian melajulah Dodo dengan motor bututnya di jalan, dengan naik turun bukit dan menerobos gang sempit. Kali ini dalam arti sebenarnya. Sementara itu Liani dan Papinya asyik menikmati makanannya. Kembali Papinya menguliahinya supaya tidak bergaul apalagi sampai pacaran dengan Dodo. Cerita Maya

    “Malam-malam kesini. Papi yakin dia ada maunya sama kamu, Nik. Jangan sampai anak Papi pacaran sama berandalan kayak gitu.”
    Dalam hati Liani membatin, “ah, sudahlah, jangan banyak kasih petuah. Memangnya aku nggak tahu kalo Papi punya simpanan di luar.”
    Namun ia tidak mengungkapkan hal itu. ia cuma berkata,”iya, iya, Pi.. Nonik sudah tahu. Papi nggak usah kuatir, nonik nggak bakalan mau pacaran sama dia.”
    Lalu Papinya melanjutkan lagi,”iya, Papi juga tahu itu. Tapi bagaimana pun, kamu mesti hati-hati lho, Nik. Kadang orang bisa berbuat nekat. Dan kalau sampai ada apa-apa, yang rugi juga kamu sendiri. Soalnya kamu khan cewek. Mending jangan temenan atau ketemu sama anak itu lagi. Mengerti?”
    “Yah, kalo itu sih udah telat, Pi. Tapi aku nggak merasa rugi kok,” kata Liani di dalam hati.

    ——————————————————————–
    Epilog

    Keesokan paginya…
    Pagi itu seperti biasanya, dengan wajah ceria Liani turun dari mobil dan masuk ke kompleks sekolahnya. Seperti biasa, beberapa murid cowok yang melihatnya segera menyapanya, yang tidak berani menegurnya hanya mencuri-curi pandang ke arahnya. Semuanya tertarik oleh daya tarik cewek yang berwajah cakep innocent itu. Namun ia tak bisa berlama-lama berbincang-bincang, karena ia harus mengebut meneyelesaikan PR matematika yang harus diserahkan hari itu. Beruntung baginya, matematika adalah jam pelajaran yang terakhir. Sehingga ia bisa mengerjakannya pagi itu sebelum kelas dimulai dan juga waktu jam istirahat. Seharusnya ia mengerjakan semuanya kemarin. Namun saat ia sedang mengerjakannya setengah jalan, tiba-tiba Dodo muncul yang setelah itu membuatnya “sibuk dengan hal yang lain”. Setelah semuanya itu berakhir dan Papinya mendadak pulang, ia jadi nggak konsen lagi buat mengerjakan PR. Hari itu tidak ada seorang pun di sekolahnya yang mengetahui adanya perbedaan di dalam diri Liani dibanding hari sebelumnya, yaitu bahwa ia sudah bukan perawan lagi. Tidak ada seorang pun yang mengira hal itu, bahkan di dalam fantasi mereka yang paling liar sekalipun. Bagi mereka, Liani adalah gadis yang cakep, innocent, cerdas, bla-bla-bla…. Hanya Liani sendiri dan Dodo – cowok yang memerawani dirinya – lah yang tahu, bahwa usia 17 tahun bagi Liani adalah usia dimana ia kehilangan keperawanannya. Buat Liani, Seventeen is the age of innocence, ehmmm…or maybe not, depending on who you ask.

    The end.

    Hope you enjoy it
    This is the end of “Seventeen, The age of (not so) innocence”.
    But Liani will be back in the next episode.