• Liani 3: I Know What You Did Last Month

    Liani 3: I Know What You Did Last Month


    35 views

    Disclaimer:
    1.Cerita ini mengandung unsur pornografi yang tidak cocok buat anak di bawah umur atau orang-orang alim.
    2.Seluruh materi cerita ini adalah fiksi belaka. Seluruh kemiripan nama, tokoh, tempat, kejadian, dll adalah suatu kebetulan semata.
    3.Cerita ini tidak mengandung unsur SARA apalagi kebencian atau menyudutkan kelompok tertentu. Kalaupun ada keterangan mengenai ras / suku / warna kulit / ciri fisik, adalah semata-mata sebagai bumbu penyedap cerita untuk menambah unsur erotisme.
    4.Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suku, agama, ras, golongan, atau profesi tertentu. Apabila ada yang negatif, itu hanyalah oknum yang menyimpang dan tidak mewakili seluruh golongan.
    —@@@@@@@—–

    Cerita Maya | Setelah kejadian di gudang tua itu berakhir, Darsono pulang ke rumahnya dengan senyum licik mengembang di mulutnya selama di sepanjang jalan. Karena sore itu ia telah menemukan “gua kenikmatan” sekaligus “gua tambang emas” yang bisa menjadi alat pemuas nafsu seksnya sekaligus sumber penghasilan tetapnya. Memang ia adalah seorang bajingan sejati yang tak segan-segan menghancurkan hidup orang lain demi keuntungan pribadinya. Namun, sungguh nasib tak berpihak kepadanya. Di tengah jalan secara tak terduga-duga ia dicegat oleh geng musuhnya dan dipukuli rame-rame. Ia termasuk orang yang sangat dibenci oleh musuh-musuhnya karena ia tak segan-segan menggunakan taktik kotor dan menghalalkan segala cara. Pada saat seluruh anggota geng itu sibuk memukuli Dharsono, salah seorang anggota geng itu malah memecah kaca jendela mobil Darsono. Saat itulah dilihatnya handphone yang ditaruh di bangku depan. Segera dikantunginya handphone itu sebelum ia melanjutkan aksi pengrusakannya yang segera diikuti oleh teman-temannya yang lain setelah Darsono babak belur tak bisa bergerak lagi. Demikianlah aksi pengrusakan itu berlanjut, namun si penemu handphone itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Rohim, sama sekali tak memberitahu teman-temannya mengenai handphone itu. Sehingga kini hilanglah kesempatan Dharsono melakukan niat jahatnya. Handphone itu tak pernah kembali ke tangannya dan ia malah harus dirawat di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama. Setelah keluar dari rumah sakit ia malah menjadi agak linglung.

    —@@@@@@@—–

    Malam itu Rohim sibuk memencet-mencet handphone yang sore itu ditemukannya. Besok ia berniat menjual handphone itu sebagai tambahan uang saku. Oleh karena itu, sebelum dijualnya, ia memeriksa isi handphone itu untuk melihat apakah ada informasi yang penting sehubungan dengan permusuhan antar geng-nya itu. Namun apa yang ditemukannya membuatnya bagaikan disengat seratus kalajengking. Tak disangkanya disitu ada foto-foto dan video cewek putih dan cakep melakukan adegan seks dalam berbagai posisi. Cewek itu begitu nyata dan original dan semuanya baru diambil pada hari itu juga. Ia tak habis pikir bagaimana ceritanya sampai Darsono bisa mendapatkan foto dan video cewek itu. Ah, kalo sama cewek kayak gini, gua juga mau, pikirnya. Walaupun wajah cowok yang menyetubuhi cewek putih itu tak terlihat jelas, namun dari suaranya ia menduga itu adalah Dharsono bersama dengan satu orang temannya. Ia sungguh tak mempercayai apa yang dilihatnya saat itu. Kok bisa-bisanya cewek secakep dan sekelas ini mau dengan sukarela digilir oleh Darsono dan temannya? Padahal cewek ini seperti cewek baik-baik dan kelihatannya seperti anak orang kaya. Sementara Darsono adalah pentolan geng yang ugal-ugalan. Kalau mau tentu cewek ini bisa memilih cowok lain yang lebih cakep dan kaya atau setara dengannya untuk melakukan hal seperti ini. Ah, masa bodoh dengan itu, pikirnya. Kini otaknya memikirkan keuntungannya sendiri. Kalo gua bisa menemukan identitas cewek ini, gua pasti bisa menikmati cewek ini. Walaupun cewek ini kelihatannya cewek elit, tapi kalo digilir berdua oleh Darsono aja mau, kenapa nggak mau dengan gua, pikirnya. Apalagi videonya ada di tangan gua. Kapan lagi ada kesempatan sebagus ini, pikirnya. Kini ia memutuskan untuk menunda dulu menjual handphone itu sampai ia menemukan identitas cewek itu. Ia sengaja tak memberitahu anggota geng lain atau siapapun mengenai temuannya yang tak disangka-sangka itu. Cerita Maya

    Namun ia ingin menikmati dulu satu-satu foto dan video cewek itu. Harus diakui bahwa cewek ini sangat menggairahkan baginya. Tampangnya begitu polos tapi tak disangka bisa melakukan perbuatan seperti itu. Ditambah lagi kulitnya yang putih mulus dan tubuhnya yang sungguh sexy. Apalagi ia tak pernah bercinta dengan cewek yang kulitnya putih seperti dia. Hanya satu sayangnya, matanya tertutup sehingga ia tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Setelah itu ia berusaha mencari identitas cewek itu. Ia yakin nomor cewek itu pasti tersimpan di dalam handphone itu. Namun sayang, hal itu ternyata tak semudah seperti yang dikira sebelumnya. Telah berhari-hari ia mengutak-atik handphone itu. Ia mencatat semua nama cewek yang ada di Phonebook. Kemudian melalui telepon umum, ia menelpon mereka satu-satu dan memancing-mancing mengenai kejadian di gudang hari itu. Namun hasilnya: 100% negatif. Lalu ia mengobrak-abrik isi handphone itu, dari incoming call, outgoing call, missed call, notes, dll. Tapi hasil akhirnya tetap sama: Nol besar. Memang di handphone itu sama sekali tidak ada record nomor hp Liani. Dodo lah yang tahu no hp-nya. Dan Dodo belum sempat memberikannya ke Dharsono sampai keduanya mengalami nasib tragis pada hari itu. Telah lewat beberapa hari bahkan seminggu, usahanya tak membuahkan hasil juga. Namun, ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam tiba, tiba-tiba terkuak secuil harapan secara tak terduga-duga. Beberapa hari kemudian Pak Sarip pamannya memintanya untuk menggantikan tugasnya sebagai pesuruh sekolah di salah satu SMU favorit di kota itu. Karena ia dan istrinya ada keperluan di desanya dan harus pergi selama beberapa minggu. Sedangkan masa sekolah akan segera dimulai sehingga harus ada orang yang membersihkan kelas.

    Tiba-tiba lampu terang menyala di benaknya. Dilihat dari tampangnya, cewek itu kayaknya masih anak SMU. Nah, siapa tahu cewek itu juga bersekolah disana. Paling nggak, nggak ada salahnya dicoba. Toh dengan melakukan itu, ia mendapatkan gaji. Akhirnya disetujuilah permintaan pamannya. Sekolah itu sebenarnya bukan tempat asing baginya, karena beberapa tahun sebelumnya ia pernah sekolah disana. Tapi ia tak pernah bisa mengikuti “irama” sekolah itu, baik dari segi pergaulan maupun pendidikan. Dari segi pergaulan, karena murid-murid disana kebanyakan anak orang kaya atau paling nggak dari keluarga mampu. Sementara dirinya dari keluarga yang sungguh pas-pasan. Dari segi pendidikan, karena mutu sekolah itu cukup tinggi, sementara otaknya tak mencukupi. Dan memang sebenarnya ia bisa masuk sekolah itu gara-gara mendapat fasilitas khusus sebagai keponakan Pak Sarip, pesuruh sekolah yang telah mengabdi selama puluhan tahun. Akhirnya ia menjadi orang yang “terpinggirkan” di sekolah itu. Setelah tak naik kelas dua kali, akhirnya ia harus keluar dari sana. Sehingga ia sekolah di SMU yang ditempati sekarang. Rohim sendiri saat itu kelas 3 SMU, namun umurnya sudah 21 tahun. Karena ia beberapa kali tak naik kelas. Di sekolahnya yang baru itu ia jadi pentolan gerombolan anak-anak nakal yang disegani. Memang ia adalah anak jalanan yang liar dan jago berkelahi. Penampilannya pun sangar dan rambutnya dibiarkan gondrong. Tampangnya memang termasuk amburadul. Walau begitu ia sering gonta ganti cewek dan bahkan sampai melakukan hubungan intim dengan mereka. Selama Rohim membantu di sekolah itu ia diperbolehkan tinggal di rumah tempat tinggal Pak Sarip yang terletak di dalam kompleks sekolah. Tugas sehari-harinya adalah membersihkan ruang kelas.

    —@@@@@@@—–

    Sejak hari pertama ia bekerja di sekolah itu, ia langsung melakukan misi rahasianya yaitu melakukan “tugas penyelidikan” sekaligus cuci mata mengawasi murid-murid cewek di sekolah itu. Harus diakui, agak sulit baginya untuk menemukannya. Karena, pertama, siswi-siswi disana banyak yang cakep-cakep dan berkulit putih. Kedua, jumlah kelas dan murid yang sangat banyak. Ketiga, ia tak tahu nama cewek itu. Seandainya tahu tentu lebih mudah mencarinya. Keempat, ia tidak seharian terus menerus di sekolah itu. Karena ia masih harus sekolah juga. Kelima, ini yang paling susah, ia tidak tahu secara persis wajah cewek itu karena sebagian besar foto dan videonya dalam keadaan matanya tertutup. Hanya sedikit saja yang matanya terbuka, di bagian-bagian akhir. Namun sudut pengambilannya tidak begitu tepat dan kameranya bergoyang-goyang saat perekaman. Justru tubuhnya lebih jelas dibanding wajahnya, termasuk bagian-bagian rahasia dari seorang gadis yang seharusnya tertutup rapat. Yang seharusnya terlihat malah nggak kelihatan, yang seharusnya nggak boleh kelihatan malah terbuka jelas. Kadang di dunia ini memang terjadi hal-hal yang aneh. Dari segi kemupengan, hal itu memang menguntungkan. Tapi untuk proses penyelidikannya ini, hal itu tak membantu sama sekali. Karena tak mungkin ia membuka pakaian siswi-siswi disana untuk memeriksa paha atau dadanya dan mencocokkannya dengan yang ada di handphone, tanpa berurusan dengan pihak yang berwajib. Satu hal yang bisa dilakukannya adalah mengamati wajah, kulit tubuh, tinggi, gemuk kurusnya, serta ukuran payudaranya. Untuk yang terakhir ini ia hanya bisa mengira-ngira. Jadilah ia kini mengamati murid-murid cewek disana dengan tampang mupeng. Tanpa terasa seminggu lebih telah lewat namun ia masih bisa belum menemukan cewek misterius itu.

    Sementara itu, kerjaannya mengamati siswi-siswi disana selama ini, tak luput dari perhatian seseorang. Selain membuat risih sejumlah siswi disana karena merasa dipelototin payudaranya, perbuatannya itu tak lepas dari pengamatan Pak Rahman, guru olahraga di sekolah itu. Telah beberapa kali ia mendapati mata Rohim jelalatan ke arah murid-murid cewek, terutama yang cakep dan berkulit putih. Memang ia jadi mupeng sendiri melihat mereka. Seandainya ada satu saja diantara mereka yang bersedia melayani kebutuhan nafsunya, ia tak akan meneruskan usahanya menemukan cewek misterius tersebut yang sepertinya tidak akan membuahkan hasil. Pak Rahman adalah suami dari Bu Retno, kepala sekolah sekolah itu. Keduanya adalah orang Jawa. Umur Pak Rahman awal 40-an atau akhir 30-an. Namun karena ia rajin berolahraga, badannya cukup kekar dan masih gagah. Sebagai suami dari kepala sekolah dan sebagai seorang guru disana, ia berkepentingan untuk menjaga suasana di sekolah itu tetap aman dan kondusif dan tidak terjadi hal-hal yang tak menyenangkan. Dari sejak awal sebenarnya ia kurang suka dengan Rohim. Sehingga beberapa kali ia menyempatkan diri untuk mengawasi Rohim secara khusus. Pada suatu hari, setelah untuk kesekian kalinya ia mendapati mata Rohim jelalatan ke arah empat orang siswi yang berjalan bersama, ia mendatangi Rohim. Setelah menggiringnya ke pojok yang sepi, tanpa tedeng aling-aling ia langsung menegurnya,
    ” Hei! Kamu harus ingat, tugasmu disini adalah membantu. Jadi kamu jangan sampai bikin masalah disini!”
    “Apa maksud Bapak? Saya nggak bikin masalah kok.”
    “Kamu jangan pura-pura. Sudah beberapa kali saya lihat kamu selalu memelototin murid-murid cewek disini. Kalo kamu masih mau tetap disini, kamu harus menghentikan perbuatanmu itu.”
    “Saya cuma melihat aja kok.”
    “Itu bukan melihat tapi melotot. Begini, saya tak mau buang waktu lama-lama dengan kamu. Tapi ingat, kalo sampai ada siswi yang complain tentang kamu atau kamu berani berbuat kurang ajar terhadap mereka, maka kamu akan berhadapan dengan saya!” kata Pak Rahman dengan garang.

    “Mengerti kamu?”
    Meskipun ia sendiri jago berkelahi, namun berhadapan dengan Pak Rahman nyalinya ciut juga. Karena selain badannya yang kekar, ia tahu kalau Pak Rahman adalah jagoan karate. Juga ia kalah wibawa.
    “Me-mengerti Pak.”
    “Ok. Sekarang kamu boleh pergi. Tapi ingat kata-kata saya!”
    Setelah mendapat peringatan itu, Rohim masih melanjutkan pencariannya, namun kini ia makin berhati-hati. Tapi sungguh sial baginya. Beberapa hari kemudian ia kembali ketangkap basah oleh Pak Rahman saat matanya jelalatan seolah menggerayangi seluruh tubuh seorang murid cewek yang cakep. Membuat cewek itu jadi risih. Sementara ia adalah anak seorang penyandang dana yayasan sekolah itu. Kali ini Pak Rahman memberi peringatan terakhir kepadanya. Sejak saat itu Rohim jadi tak berani macam-macam. Kini Rohim telah mulai pesimis. Apalagi waktunya di sekolah itu hanya seminggu lagi. Akhirnya ia memutuskan kalau sampai seminggu ia tak dapat menemukan cewek itu juga, ia akan menjual handphone itu. Karena ia tak tahu bagaimana mencari satu orang di tengah jutaan manusia. Paling tidak ia bisa mendapat uang beberapa juta dari handphone itu.

    —@@@@@@@—–

    Dimanakah Liani berada?

    Liani

    Selesai kejadian hari itu, Liani pulang ke rumahnya dengan hati dan pikiran yang terpuruk. Tak disangkanya Dodo bisa mengkhianati dirinya seperti itu. Dan kini, ada Darsono yang memegang foto-foto dan video dirinya. Ia tak bisa membayangkan kalau dirinya sampai menjadi boneka yang diperlakukan semaunya oleh Darsono. Ia tak tahu harus berbuat apa. Apakah ia harus mengadu kepada Papinya? Tak bisa dibayangkan betapa marahnya dia. Ataukah ia harus menghubungi Dodo dan memohon kepadanya untuk membantunya? Ah, kalau memang ia bersedia membantu, ia tidak akan mendiamkan saja hal itu terjadi. Dan Dodolah orang yang menyebabkan ini semua terjadi. Lalu apa gunanya minta bantuan dia? Lagipula kini ia sangat membenci orang itu!! Ataukah ia harus memohon langsung kepada Darsono untuk menghancurkan foto dan video dirinya? Tak mungkin, Darsono adalah orang yang jahat yang justru mengambil keuntungan diatas penderitaan orang lain. Bisa-bisa nanti malah ia lebih
    dipermainkannya. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan sore dan malam itu ia menangis sesenggukan di dalam kamarnya sampai akhirnya tertidur sendiri. Beruntung baginya, saat itu adalah masa liburan sekolah. Sehingga ia tak harus pergi ke sekolah dengan kondisi yang terpuruk seperti itu. Keesokan harinya, seharian hatinya deg-degan mengantisipasi adanya telpon atau sms masuk dari Darsono atau Dodo. Ia sungguh takut membayangkan dirinya diperintah Darsono untuk melayaninya kapan pun ia mau, atau lebih parah lagi, kalau ia dijual untuk melayani orang yang tak dikenalnya sebagai pelacur! Seharian itu ia menunggu dan seharian itu ia tersiksa. Menurut perkiraannya, Darsono seharusnya pasti akan segera memanfaatkan dirinya, karena ia adalah orang yang amat jahat. Namun kenyataannya, ketakutan yang diantisipasi itu tidaklah datang, paling nggak untuk hari itu.

    Hari kedua juga tak terjadi apa-apa. Begitu pula hari ketiga, keempat, dst. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Apakah Dodo diam-diam telah membantunya? Ataukah Darsono langsung menyebar foto dan video dirinya itu ke Internet? Ia jadi bergidik memikirkan itu. Ah, tapi tak mungkin, pikirnya. Tidak ada untungnya bagi Darsono untuk melakukan hal itu saat ini. Karena justru itulah senjata andalannya untuk memerasnya. Hal itu baru akan dilakukannya apabila ia berani menolak permintaanya. Darsono adalah orang yang selalu mengambil langkah yang paling menguntungkan dirinya tanpa peduli akan orang lain. Oleh karena itu, adalah hal yang aneh kalau sampai sekarang tidak ada tindakan apa-apa darinya. Satu-satunya kemungkinan yang dipikirkannya adalah, Dodo yang membantu dirinya. Ya, mungkin pada akhirnya ia memilih melakukan perbuatan baik terhadap dirinya. Tapi kenapa ia tak menghubunginya? Setelah mula-mula ragu, akhirnya ia menelpon Dodo. Namun ia tak dapat menghubunginya. Karena orang yang menerimanya sama sekali tak kenal dengan orang bernama Dodo. Ia sungguh heran dengan semua ini. Hari demi hari berlalu tanpa kejadian apa-apa sampai liburan sekolah berakhir. Kini pikirannya mulai lebih tenang. Karena apa yang ditakutkan sampai sekarang tak terjadi. Kini ia mencoba melupakan hal itu dan kembali ceria seperti sebelumnya. Namun di dalam hatinya tetap saja ada rasa waswas kalau tiba-tiba ada telepon dari Darsono atau orang lain. Bagaimanapun ia tidak akan bisa hidup tenang kalau tidak mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya. Untuk itu ia berusaha mencari tahu apa yang terjadi dan yang lebih penting lagi, bagaimana caranya untuk mendapatkan handphone itu supaya foto-foto dirinya tak tersebar. Tapi bagaimana caranya? Sungguh suatu hal yang amat sulit dan tak tahu bagaimana memulainya. Tetapi ia tak putus asa, bukankah pepatah mengatakan, “Tak ada sesuatu yang mustahil apabila kita benar-benar percaya.”
    Dan ternyata, nasib berpihak kepadanya karena tak lama setelah itu terjadi peristiwa yang tak terduga-duga. Namun justru peristiwa itulah yang membuka jalan sehingga harapannya itu akhirnya tercapai.

    —@@@@@@@—–

    Sore itu Liani menyadari kalau buku catatan kimianya tak ada di tasnya. Ah, mungkin ketinggalan di kelas, pikirnya. Keesokan harinya ia mencari Pak Sarip di tempatnya. Namun disana ia melihat ada cowok berkulit hitam yang sedang membelakangi dirinya dan sibuk melakukan sesuatu.
    “Maaf Mas, Pak Saripnya ada?” tanya Liani ke cowok itu, yang tak lain adalah Rohim.
    Mendengar ada suara cewek di belakangnya, Rohim langsung terkesiap kaget.
    Suara itu!!!
    Suara itu sungguh familiar {“Aah, loe curang pindah-pindah tempat gitu”} {“Emang kalau “atau” gimana?”}.
    Lalu ia buru-buru membalikkan badannya, dan ia tertegun melihat cewek yang berdiri di depannya itu.
    “Ooh, maaf kalo ngagetin,” kata Liani sambil tersenyum manis.
    “Oh, nggak…. nggak apa-apa kok,” kata Rohim yang belum hilang rasa terkejutnya. Ia kelihatan terbengong-bengong. Ia seperti tersihir oleh kecantikan cewek ini yang sedang tersenyum manis kepadanya ini. Belum pernah ada cewek secantik ini tersenyum kepadanya. Namun juga pikirannya terpecah dengan menimbang-nimbang apakah betul cewek ini adalah cewek misterius yang dicarinya selama ini? Pada saat ia mulai melupakan pencariannya, tak disangka-sangka justru cewek itu yang menemukan dirinya!

    Liani hanya tersenyum menyaksikan sikap Rohim yang sepertinya salah tingkah itu, sepertinya ia memakluminya.
    “Pak Saripnya ada, Mas?” ulangnya lagi.
    “Ooh, Pak Sarip lagi pulang ke desa. Ada yang bisa saya bantu?” katanya sambil kini ia mulai bisa menguasai diri.
    “Saya mencari buku catatan kimia saya, bukunya ukuran segini dan warnanya merah muda dengan gambar Hello Kitty, mungkin tertinggal di kelas kemarin,” kata Liani menjelaskan.
    “Apakah ada ditemukan buku seperti itu?”
    “Setahu saya tidak ada. Tapi sebentar saya liat dulu,” kata Rohim sambil masuk ke dalam.
    Di dalam rumah, ia menimbang-nimbang apakah betul cewek yang menemuinya ini adalah cewek di dalam handphone itu. Dari tampangnya sungguh ia seperti cewek baik-baik yang tak mungkin melakukan hal seperti itu. Apalagi dengan orang seperti Dharsono. Tapi suara dan gaya bicaranya sama dengan suara cewek yang ada di handphone itu. Ia telah hafal dengan suara itu karena ia telah mendengarnya mungkin ratusan kali.
    Ah, kalo bener dia adalah cewek itu, hidup betul-betul sulit ditebak.
    Gua susah payah mencarinya tapi ga ketemu-ketemu. Sekarang malah orangnya datang sendiri. Gua susah payah mencari berdasarkan wajah dan bentuk fisik tubuhnya. Tapi ketemunya malah dari suaranya. Memang jalan hidup kadang misterius. Seketika terbayang tubuh putih mulus dan sexy itu dalam keadaan telanjang bulat. Ehh, tapi tunggu dulu! Gue harus 100% yakin dulu sebelum bertindak. Apalagi gue udah diancam sama Pak Rahman. Kalo sampe salah sasaran, bisa mampus gua. Dari wajah, gua nggak terlalu pasti apakah ini orangnya. Tapi dari suara gua hampir 100% yakin kalo dia orangnya. Ahh, ya, kenapa ga gua rekam aja suaranya trus gua bandingin?

    Lalu ia mengambil handphone itu dan mengaktifkannya untuk merekam suara setelah itu dibawanya keluar.
    “Eehh, maaf saya nggak liat buku seperti itu. Mungkin terselip di tempat lain. Saya cari dulu ya. Kamu anak kelas berapa dan nama kamu siapa? Nanti kalo ketemu saya antar kesana.”
    “Nama saya Liani. Saya kelas 3 IPA 1. Saya duduk di baris kedua meja ketiga,” kata Liani.
    Saat itu Liani melihat handphone yang dipegang Rohim itu. Ia tertegun beberapa saat. Ia tahu handphone itu modelnya sama persis dengan yang dipake Darsono waktu itu. Seketika muncul perasaan waswas dalam dirinya, kalau-kalau Darsono akan segera menghubunginya untuk memaksanya melakukan sesuatu yang tak diinginkannya. Rohim memandang Liani yang sedang dalam keadaan ‘hang’ sejenak itu. Liani rupanya tersadar kalau pesuruh sekolah yang menggantikan Pak Sarip itu memperhatikan dirinya yang melamun sejenak. Tiba-tiba ia balik menatap ke Rohim dan berkata,”
    “OK, nanti kalo sudah ketemu, tolong antarkan ke kelas ya,” kata Liani sambil melanjutkan,”Terima kasih,” lalu ia berbalik pergi.
    “Tunggu dulu, apa ada tanda-tanda khusus di buku kamu?” tanya Rohim sengaja untuk menambah “data” buat analisanya ntar.
    “Ada nama saya di halaman depannya,” kata Liani.
    “Ok, nanti saya cari dan kalo sudah ketemu saya antar.”
    “Terima kasih.”
    “Oh, terima kasih sama-sama,” kata Rohim seolah ia yang mendapat pertolongan.
    Lalu Liani membalikkan badan dan berjalan menjauhinya.

    Rohim memandang Liani yang berjalan menjauhinya. Baju seragamnya yang rapi di dalam roknya. Pinggangnya yang ramping. Pinggulnya nampak agak menonjol dibalik rok seragamnya yang rapi. Di balik baju seragam putihnya yang tipis dan agak tembus pandang, nampak tali bra warna coklat muda melintang di horizontal di punggungnya serta di bahunya. Rambutnya yang panjang diputar-putar dan diikat dengan karet rambut sehingga nampak pendek. Tampak jelas lehernya yang putih dan anak-anak rambut yang halus yang menempati diantara leher dan kepalanya. WoW! Begitu putih dan begitu sexy, batinnya. Seperginya Liani, pikirannya masih terbayang akan dua hal dari diri Liani yang dilihatnya dari pertemuan singkat barusan: Wajah Liani yang cantik dan polos yang sedang tersenyum manis serta dadanya yang menonjol di balik baju seragam dan bra coklat muda yang sempat diliriknya. Saat ia membayangkan keduanya digabung seketika penisnya langsung mengeras.

    Cut! Cut! Sekarang bukan waktunya mikirin gituan. Sekarang waktunya untuk bekerja!
    Kini ia larut dalam analisa penyelidikannya. Dibandingkannya suara rekaman yang baru dibuatnya dengan yang sudah ada dan diputarnya berulang-ulang sampai benar-benar yakin. Lalu dibayangkannya wajah Liani yang barusan dilihatnya dengan yang ada di handphone itu. Hasil analisanya, bentuk bibir, hidung, dan pipinya serta raut wajahnya tidak ada yang bertentangan dengan wajah cewek yang ada di handphone itu (saat matanya ditutup). Justru yang matanya terbuka malah susah untuk dibandingkan (karena sudut pengambilannya nggak pas, posisi kamera yang bergoyang-goyang, juga pada saat itu ekspresi wajah Liani tidak seperti biasanya karena berbagai macam pikiran dan emosi berkecamuk di dalam dirinya). Sementara tubuhnya yang di dalam handphone terlihat jelas telanjang bulat itu malah tak bisa dipakai sama sekali untuk alat perbandingan, karena data yang ada tidak mencukupi. Hmm, untuk yang ini harus melalui penyelidikan yang tuntas dan menyeluruh serta eksplorasi jengkal demi jengkal dan harus memakan waktu cukup lama, pikirnya. Biarlah sisakan yang ini untuk nanti saja. Namun secara garis besar, bentuk tubuh Liani sungguh masuk akal kalau disamakan dengan cewek yang di handphone itu.. Selain itu, ia juga memperhatikan reaksi Liani yang tiba-tiba melamun saat melihat handphone di tangannya itu, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu hatinya.

    Ia menulis di secarik kertas hasil kesimpulan analisanya.

    Hasil analisa:

    Suara : persis (probabilitas: 100%)
    Wajah : tidak ada yang menyimpang (probabilitas: 90%)

    Bentuk tubuh : sesuai (probabilitas: 80%)

    Catatan penting lainnya:
    1. Reaksi Liani saat melihat handphone sungguh aneh. Apakah ia teringat kalau itu adalah handphone yang digunakan untuk merekam dirinya?
    2. Liani sungguh cewek yang sexy dan menggairahkan!

    Kesimpulan: cewek di handphone itu adalah: Liani!

    Baru saat itu ia menyadari kalau pencariannya berdasarkan wajah dan tubuh, memang sukar untuk menemukan orangnya. Wajah dan tubuh itu baru bisa dipakai sebagai bukti pendukung untuk mencocokkan setelah orangnya ditemukan. Jadi selama ini ia mencari dengan cara yang salah, tak heran kalau ia tak bisa menemukannya. Namun satu hal yang masih membuatnya terheran-heran adalah, cewek itulah yang “menemukan” dirinya, bukan dirinya yang menemukan cewek itu. Kini setelah analisanya menunjukkan hasil positif, ia memikirkan cara yang aman namun ampuh untuk memancing Liani. Setelah mendapat ancaman dua kali, kini ia harus extra hati-hati. Akhirnya muncullah ide bagus yang diilhami oleh film yang pernah ditontonnya. Ia tersenyum puas dengan idenya itu. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, ia buru-buru menuju ke kelas Liani.. Namun, ia terlambat. Karena Liani tak ada disitu dan sebagian besar murid telah meninggalkan kelas. Ia terlalu lama dalam proses analisanya sehingga jam pulang sekolah telah lewat 5 menit. Ia mencoba mencarinya di halaman sekolah, namun tak terlihat adanya Liani disana. Memang saat itu Liani langsung pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya. Sungguh kecewa dirinya. Namun ia menepis keinginan untuk melihat tubuh telanjang di handphone itu. Gua nggak akan lihat itu lagi. Karena sekarang, I want to see the REAL THINGS! Apalagi sore itu ia mendapat informasi kalau cewek yang bernama Liani itu adalah cewek favorit dan siswi teladan di sekolah itu. Biarlah gua tunggu hari Senin aja, pikirnya. Malamnya, untuk menambah efek dramatis, ia pergi ke toko buku membeli buku yang mirip seperti yang dideskripsikan Liani tadi.

    —@@@@@@@—–

    Namun rupanya kadang untung bisa datang tanpa diduga-duga. Rohim tak perlu menunggu terlalu lama sampai hari Senin. Karena keesokan harinya, hari Sabtu pagi, ia melihat Liani datang ke sekolah dan segera bergabung dengan beberapa temannya. Rupanya hari itu ada kegiatan informal atau sekedar kumpul-kumpul karena semuanya berpakaian bebas. Seketika penis Rohim menegang saat melihat Liani. Bukan, bukan disebabkan karena pakaian Liani terlalu sexy. Malah sebaliknya pakaian yang dikenakannya hari itu termasuk konservatif atau paling tidak biasa saja untuk ukuran jaman sekarang. Liani memakai rok warna putih yang panjangnya beberapa senti diatas lutut. Sementara atasannya kaus berlengan yang bergaris-garis horizontal. Kausnya itu menempel di tubuhnya tapi tak terlalu ketat juga tak terlalu longgar. Bagian dadanya nampak menonjol dibalik bra warna biru tua (tak terlihat dari luar) dengan tali di kedua bahunya. Rambutnya digulung naik ke atas seperti hari sebelumnya, nampak seolah cewek itu berambut pendek. Ia menegang karena membayangkan meskipun cewek itu saat itu memakai pakaian yang tertutup dan sopan, namun ia mempunyai senjata untuk membuat cewek itu bersedia menanggalkan seluruh pakaiannya di hadapannya. Sungguh suatu hal yang luar biasa, melihat cewek baik-baik yang semula berpakaian tertutup dan sopan sampai akhirnya telanjang bulat tanpa mengenakan apa-apa. Apalagi mengingat perbedaan status diantara dirinya dan cewek itu. Cewek itu adalah cewek populer di sekolah itu karena memang cakep dan sexy dan dari keluarga kaya. Sementara ia adalah orang rendahan, cuma pengganti pesuruh sekolah. Tampangnya juga nggak bisa dibilang cakep. Sungguh kontras sekali perbedaan diantara keduanya. Namun ia memiliki kartu as yang bakal membuat cewek populer dan beberapa tingkat di atas kelasnya itu bakalan bertekuk lutut. Begitulah pikiran cowok. Semakin tinggi ia memandang seorang cewek, semakin puas hatinya kalau ia bisa menikmati tubuhnya.

    Dengan sabar Rohim menunggu kesempatan untuk bisa memberikan sesuatu kepada Liani. Ia menunggu saat yang pas dimana tak ada orang lain di dekatnya. Ia tak perlu waktu lama. Cukup beberapa menit saja. Karena itu ia juga tak perlu terburu-buru. Apalagi saat melihat Liani pagi ini, ia merasa yakin tidak lewat hari ini semua jerih payahnya akan berujung kepada hasil yang sangat manis. Sungguh nasib Rohim betul-betul beruntung pagi itu. Mungkin dewi fortuna berpihak kepadanya karena segala usaha yang telah ia lakukan selama ini. Karena tak lama kemudian, keluarlah Liani seorang diri menuju ke kamar kecil. Rohim sengaja membiarkan cewek itu masuk ke kamar kecil. Biarlah ia menyelesaikan urusannya dulu. Tak perlu terburu-buru. Buat apa terburu-buru kalau segala sesuatunya sudah pasti ada di tangan. Begitulah sikap orang yang percaya diri. Tak perlu terburu-buru! Apakah Rohim akan menyergap Liani begitu pintu kamar mandi dibuka lalu dikuncinya dari dalam supaya ia bisa memperkosanya? Tentu tidak! Pertama, ia bukan tipe pemerkosa yang suka menggunakan kekerasan. Kedua, ia memegang kartu as jadi buat apa menggunakan kekerasan kalau segala sesuatu bisa didapatkan dengan cara halus? Ketiga, sekalipun ia ingin memperkosa dengan cara seperti itu, kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Karena seseorang yang sedang terancam pasti akan melawan habis-habisan. Dan sekali cewek itu berteriak, habislah sudah. Lagipula, siapa tahu kalau saat ini ada orang yang diam-diam telah mengawasi tindak-tanduknya. Oleh karena itu, tak perlu terburu-buru. Toh semuanya juga sudah digariskan.

    Beberapa menit kemudian, keluarlah Liani dari kamar mandi itu. Saat itu terdengar suara yang datang dari samping memanggil namanya. Suara yang tak terlalu keras namun mantap.
    “Liani.”
    Liani menoleh ke samping, ternyata pesuruh sekolah pengganti Pak Sarip yang ditemui kemarin itu.
    “Ya, ada apa?” tanyanya heran, kenapa orang itu memanggil dirinya.
    “Saya mau mengembalikan ini, buku kamu,” kata Rohim.
    “Oh, itu bukan buku saya. Buku saya nggak seperti itu. Lagi pula buku itu sudah dikembalikan. Ternyata terbawa oleh teman saya,” kata Liani sambil berjalan meninggalkan Rohim.
    “Tapi coba tolong pastikan dulu. Paling tidak buka halaman pertama untuk memastikan kalau ini bukan buku kamu. Maaf, ini adalah bagian dari tugas saya,” kata Rohim.
    Liani sungguh yakin bahwa itu bukan bukunya. Karena bukunya secara tak sengaja terbawa oleh Cindy, teman sekelasnya, dan sudah dikembalikan. Namun kalau cuma sekedar melihat halaman pertama saja, ya nggak masalah, pikirnya.
    Secara sambil lalu diambilnya buku itu dan dibukanya.
    Saat dibuka, ternyata ada tulisan besar dengan spidol merah:

    I KNOW WHAT YOU DID LAST MONTH!…DI GUDANG TUA ITU!

    Ia tersentak kaget melihatnya. Mukanya seketika pucat pasi. “Lho, apa ini?” tanyanya dengan gemetar.
    “Ah, itu khan sekedar tulisan di dalam buku ini. Kalau bukan buku kamu, mungkin milik orang lain,” kata Rohim dengan tenang sambil mengambil buku itu.
    “Tunggu,” kata Liani, “Memang kamu ini siapa? Dan siapa yang menyuruh kamu?”
    “Saya adalah saya sendiri,” kata Rohim seperti sengaja ingin mempermainkan cewek itu,”Tidak ada yang menyuruh saya. Dalam hal ini saya bekerja sendiri.. Walau untuk pekerjaan lain saya biasa disuruh oleh Pak Suwanto. Karena, seperti yang kamu tahu, saya ini khan pesuruh sekolah.
    “Lalu apa mau kamu?” tanya Liani yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.
    “Hehehe, ada sih. Tapi nggak disini. Mending kamu ke tempat saya sekarang. Tahu khan tempatnya? Dan sebaiknya kamu datang sendirian. Kalau tidak, nanti bisa ada hal yang tak seharusnya diketahui orang jadi diketahui orang. Mengerti khan maksud saya?” kata Rohim.
    “Kamu juga sendirian?” tanya Liani, sepertinya ia masih trauma dengan kejadian waktu itu.
    “Tentu. Buat apa dibagi ke orang lain kalo semuanya bisa didapat sendiri,” kata Rohim tersenyum penuh arti.
    “Tapi kamu jangan kuatir. Handphone itu aman di tangan saya, hanya saja ada harga yang mesti dibayar untuk menebusnya. Dan saya juga tidak sejahat Dharsono,” kata Rohim.
    “OK, sebentar lagi saya kesana. Beri saya waktu paling lama 30 menit sampai pertemuan selesai,” kata Liani buru-buru sambil menoleh ke kiri kanan. Ia tak mau orang ini terlalu banyak bicara dan ada orang lain yang mendengarkan. Saat itu tidak ada orang lain di dekat mereka yang bisa mendengarnya.
    “OK, saya tunggu,” kata Rohim sambil berjalan ke arah belakang. Sementara Liani juga berjalan kembali ke tempat pertemuannya. Apalagi saat itu ia melihat kedua temannya, Henny dan Fanny, baru muncul dari belokan dan berjalan menuju ke arahnya.

    “Ada apa kok tadi gua liat lu ngobrol dengan pesuruh sekolah itu?” tanya Fanny.
    “Iya, dia balikin buku gua ini,” kata Liani.
    “Ooh, makanya gua heran, koq lu bisa-bisanya ngobrol sama orang itu,” kata Henny.
    “Iya, apalagi gua denger dia pernah ditegur sama Pak Rahman, gara-gara ketauan suka ngeliatin cewek-cewek disini,” kata Fanny.
    “Iiih, amit-amit dah,” kata Henny bergidik,” Tapi dia kaga ngapa-ngapain lu khan?”
    “Ya nggak lah. Cuman ngasih buku dan ngomong bentar untuk mastiin ini buku gua. Abis itu lu datang ini.”
    “Ya ok lah kalo gitu. Eh, anak-anak pada mau makan bareng trus nonton katanya. Lu bisa ikut khan?” kata Henny.
    “Wah sorry deh, hari ini gua nggak bisa deh. Ada urusan penting,” kata Liani,” Ntar gua bilang juga ke anak-anak deh.”
    “Idiih. Urusan penting nih yee. Jangan-jangan teman kita ini diam-diam sudah ada yang nemenin malem mingguan lagi,” kata Fanny menggodanya.
    “Ngaco ah lu. Gua mesti ke tempat saudara gua lagi,” kata Liani. Ia memang tak berbohong dalam hal ini. Tetapi itu adalah untuk malam hari, bukan sekarang.

    —@@@@@@@—–

    Kira-kira dua puluh menit kemudian, suasana di sekolah itu menjadi sepi. Karena murid-murid tadi telah meninggalkan sekolah. Sementara Liani memastikan semua temannya telah pergi dan tidak ada orang yang melihatnya, setelah itu ia berjalan ke belakang menuju ke rumah Pak Sarip. Hatinya berdebar-debar. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, pikirnya. Sesampai di depan pintu rumah kecil itu, tiba-tiba pintu itu terbuka. Rupanya Rohim telah siap menunggunya. Liani melihat sekeliling, memastikan tidak ada orang sama sekali. Bahkan Rohim pun juga melakukan hal yang sama, memastikan tidak ada orang sama sekali. Setelah itu masuklah Liani ke dalam rumah kecil itu. Rumah Pak Sarip memang kecil, hanya satu ruangan yang menyatu semuanya. Dan disitu terlihat sama sekali tak ada orang. Di dalam ruangan itu ada dua bangku sofa yang saling tegak lurus di depan meja kecil. Rupanya sofa itu ber-dwifungsi sebagai ranjang tempat tidur. Karena tak ada ranjang tempat tidur disitu. Mereka berdua duduk di dua bangku yang berbeda. Masing-masing duduk di bagian tengah bangku. Liani duduk sambil menyilangkan kaki kanannya diatas kaki kirinya dan menempelkan kaki kirinya di dudukan sofa. Dari sudut pandang Rohim, sebagian kecil pahanya terlihat karena roknya yang beberapa senti diatas lutut. Tak lepas juga dari perhatiannya, dadanya yang menonjol dan rambutnya yang ternyata digulung seperti yang dilihatnya kemarin. Rohim saat itu memakai kaus biasa dan celana jeans. Ia duduk dengan kedua kaki terbuka.
    “OK, langsung aja,” kata Liani, “Apa yang kamu tahu sebenarnya dan kamu mau apa?”
    “Sebelum kesana, perkenalkan dulu, nama gua Rohim. Gua keponakan Pak Sarip. Rasanya lu perlu tahu dulu nama gua sebelum melangkah lebih jauh ke hal yang lain,” kata Rohim seperti menyindir kejadian di gudang tua waktu itu.
    “OK,” kata Liani dengan suara tenang namun mukanya agak memerah,”Sekarang silakan diteruskan.”
    “Gua dapet ini,” kata Rohim mengeluarkan handphone itu dari saku celananya,”Ini handphone harganya cukup mahal tapi waktu diliat isinya, ternyata isinya jauh lebih berharga dibanding handphone-nya sendiri.”

    Gaya bicara Rohim kini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sekarang jadi lebih berani dan tanpa sungkan-sungkan. Mungkin dipikirnya, buat apa bicara sungkan-sungkan lagi, toh sebentar lagi bakalan intim. Muka Liani jadi berubah melihat handphone di tangan Rohim itu.
    “Gua bersedia menyerahkan isi dalamnya, tapi harus dengan harga yang pantas,” kata Rohim,” Dan Harga yang pantas menurut gua adalah..
    “Sebentar, sebelum kesana, bagaimana handphone ini bisa jatuh di tangan lu? Apakah lu kaki tangan Darsono?”
    “Bukan. Gua dapet ini karena gua rampas dari dia. Dia adalah musuh gua. Sekarang mungkin dia masih di rumah sakit.”
    “Kapan lu dapet handphone itu?”
    “Gua dapetnya tak lama setelah beberapa foto dan video dibikin didalamnya. Dia mengalami nasib sial bertemu dengan kita setelah sebelumnya sepertinya ia melakukan kegiatan yang sangat menguras tenaga,” kata Rohim menyindir lagi.
    Muka Liani jadi memerah mendengarnya.
    “Jadi lu langsung mengambilnya hari itu juga?”
    “Betul,” kata Rohim.
    “Lalu siapa aja yang pernah ngeliat isinya?” tanyanya dengan bergetar.
    “Dalam hal ini, lu betul-betul beruntung, karena nggak ada seorang pun yang tahu kalo gua punya handphone ini.”
    “Oh,” terdengar napas lega dari Liani. Sungguh ia merasa beruntung dengan semua hal ini. Sekarang ia telah siap membicarakan transaksi pokoknya.
    “Tadi lu bilang bersedia menyerahkan isinya dengan harga yang pantas. Memang apa harga yang pantas itu?” tanya Liani dengan tenang.

    “Gua langsung to the point aja. Sorry kalo nggak sopan. Gua akan serahin isi handphone ini ke lu sekarang asalkan lu ngasih uang 5 juta ke gua plus gua minta pelayanan khusus sama seperti yang ada di dalam sini,” kata Rohim mengangkat handphone itu. “Lu ngerti khan maksud gua,” kata Rohim sambil mengedipkan matanya,” Mengenai uang, gua yakin bagi lu itu hal kecil. Jadi kalo lu ga bawa uang segitu, lu bisa ngasih setelah ini. Tapi untuk yang “itu” gua minta pembayarannya” sekarang juga. Setelah itu baru gua kasih handphone-nya ke lu. Setelah itu, tak ada hutang piutang diantara kita. Gimana, fair khan?”
    “Hah?! Mengenai uang nggak ada masalah. Tapi keterlaluan kalo lu minta “itu”,” sergah Liani,”Gua kasih dobel deh uangnya.”
    “Wah, sorry, hehehehe. Ada hal-hal tertentu yang nggak bisa diukur dengan uang. Dan “itu” adalah satu contohnya,” kata Rohim.
    “Yah, tapi, tapi…, mana bisa begini. Lu khan pesuruh sekolah. Masa gua mesti “begituan” sama pesuruh sekolah?”
    “Memang pesuruh sekolah ga boleh pengin sama murid yang cakep kaya lu gini? Gua khan juga cowok normal, hehehe. Wajar dong kalo gua napsu sama lu yang putih bening gini,” kata Rohim sambil memajukan badannya supaya tangannya bisa menyentuh ke paha cewek itu.
    “Lagian kapan lagi gua dapat kesempatan bagus kayak gini, hehehe,” kata Rohim sambil mengusap-usap paha cewek itu.
    Namun bagaimana pun bagi Liani hal itu merupakan suatu penghinaan untuk melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolahan. Rohim sepertinya bisa membaca pikiran cewek itu. “Memang dalam satu peristiwa, ada yang merasa terhina, tapi ada yang merasa terhormat. Kalo disatuin, jadi impas khan? Hehehe. Lagian, lu mesti sadar dengan posisi lu sekarang.”

    Liani menggeser posisi duduknya menjauhi Rohim sehingga pahanya kini terlepas dari rabaan tangannya, namun hal itu malah mengundang Rohim untuk berdiri dan pindah duduk di sampingnya.
    “Iih, lu malu-malu deh, katanya sambil menjawil dagu Liani.
    “Eh, apa-apaan ini,” protesnya.
    “Sudahh, lu jangan pura-pura deh. Gua udah liat aksi-aksi lu yang hot itu. Gua juga minta lu melakukan hal yang sama sekarang. Dan gua jamin deh,” kata Rohim sambil cengengesan, “Gua nggak kalah jrengg sama si bangsat Dharsono itu. Lu bakalan suka deh. Sama-sama enak kenapa nggak mau. Yukk”
    “Ehh sebentar dulu,” kata Liani menghindar dari Rohim yang berusaha menciumnya.
    “Lu janji cuma sekali ini ya.”
    “Iya betul, cuma sekali ini. Plus uang 5 juta.”
    “OK, plus uang 5 juta. Trus abis itu lu kasih handphone itu ke gua?”
    “Ya betul.”
    “Lalu gimana gua tahu kalo lu benar-benar megang barang bukti yang gua mau?”
    “Lu ga percaya sama gua? OK, supaya lu ga penasaran, bentar gua tunjukin,” kata Rohim bangkit dari duduknya, mengambil handphone itu dari laci dan menyerahkannya ke Liani.
    “Lu boleh cek dulu kalo ga percaya.”
    Liani segera memegang handphone itu dan melihatnya sebentar. Wajahnya memerah, apalagi saat ia menjalankan video yang mengeluarkan suara desahannya. Ia buru-buru mengecilkan volumenya.

    “Jadi gimana sekarang? Sudah percaya?” tanya Rohim sambil tersenyum-senyum.
    Liani mengangguk, tapi lalu dia berkata,” Tapi bagaimana gua tahu kalo lu nggak bikin copy-nya?”
    Tiba-tiba Rohim berubah serius,” Dengar Non, walaupun gua orang rendahan, tapi gua bukan tipe pemeras. Gua ga mau nyusahin orang, karena itu gua jamin kalau yang ada disini cuma satu-satunya. Setelah semuanya selesai, ini gua kasih ke lu. Ehm, mungkin gua cuma minta sekali lagi deh, katanya jujur.
    “Jadi lu mintanya sekali atau dua kali?”
    “Ehmm, sekarang ini plus satu kali lagi deh,” katanya cengengesan,” Tapi nggak lebih. Gua janji itu.”
    “OK,” kata Liani sambil tersenyum sementara ia masih memegang dan memencet-mencet handphone itu. Ia percaya Rohim tak akan membuat copy-nya. Karena ia tahu Rohim bukan tipe pemeras seperti Dharsono. Ia mungkin mupeng abis dengannya tapi dia nggak akan sampai melakukan perbuatan yang bakal menghancurkan hidupnya seperti Dharsono. Selain itu, ia adalah tipe orang yang seandainya mencuri pun, masih ingat dengan takarannya. Diam-diam ia merasa beruntung bahwa handphone itu jatuh ke tangan Rohim. Kalau di tangan Dharsono atau orang lain, dirinya akan lebih susah. Tiba-tiba kini dirasakannya, melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolah ini sekali atau dua kali untuk menebus kebebasan dari pikiran khawatir seumur hidup sepertinya bukan sesuatu yang sangat berat. Apalagi, apalagi, apalagi…hmm, cowok ini kelihaannya “perkasa” juga.

    Namun bagaimana pun ia adalah seorang gadis, dan sudah dari “sononya” bagi cewek untuk mempertahankan kehormatannya. Sementara itu di dalam handphone itu terdapat foto dan video dirinya dalam keadaan bugil dan melakukan adegan seks. Tentu ia sangat berkepentingan untuk memusnahkan informasi itu. Ia sedang berpikir mencari cara untuk itu, apakah ia akan menghapus semuanya satu-satu? Ah, itu terlalu lama dan dia bisa curiga. Atau harus membanting handphone itu sampai hancur ataukah menerobos lari keluar dengan membawa handphone itu? Akan tetapi sepertinya Rohim dapat membaca pikirannya. Karena ia berkata,”Seandainya lu mencoba kabur dari sini, jangan dikira lu bisa keluar. Salah-salah malah lu gua perkosa nanti. Lagian, lu tadi nggak ngeh, begitu lu masuk, pintu keluar sudah gua gembok.”
    Liani menoleh ke pintu tadi dan seketika dirinya menjadi lemas melihat ternyata memang benar ada gembok kecil dalam posisi terkunci. Untuk membukanya perlu kuncinya dan hanya Rohim yang memegang kuncinya. Sehingga kini tak ada jalan keluar sama sekali bagi dirinya.
    “Hmmmm,” kata Liani menghela nafas.
    “Kayaknya memang gua nggak ada pilihan lagi sekarang,” kata Liani menyerah sambil meletakkan handphone itu di meja kecil.
    “Sepertinya memang begitu. I’m sorry for that,” kata Rohim dengan penuh simpatik. “
    “Kalau sudah gini, tunggu apa lagi…” kata Liani lemah dan pasrah.
    “Well, if you don’t mind…..” kata Rohim. Kadang kala Rohim juga tahu bagaimana bersikap sebagai seorang gentleman sejati di tengah aksinya sebagai seorang bajingan.

    Namun seorang bajingan tetaplah bajingan walaupun sesekali bersikap gentleman. Karena setelah itu, tanpa sungkan-sungkan lagi segera direngkuhnya cewek yang innocent namun sungguh merangsang itu, dan diciumnya bibirnya.
    “Mmmhhh.” Dilumatnya bibir cewek itu dengan penuh nafsu. Dijelajahinya seluruh bagian bibirnya.
    “Mmmmhhhh.”
    Sementara Liani hanya pasrah membiarkan bibirnya dilumat oleh Rohim, pengganti pesuruh sekolahnya itu namun juga bisa dikatakan penolongnya itu, tergantung dari sudut mana ngelihatnya. Matanya terpejam seolah tak ingin melihat cowok rendahan yang menciumi bibirnya itu atau mungkin agar bisa lebih menikmatinya? Entahlah. Lalu lidah Rohim dengan liar menari-nari di dalam mulut Liani dan saling beradu dengan lidah gadis itu. Sambil mereka berciuman, tangan Rohim segera meraba-raba tubuh Liani. Diraba-rabainya seluruh punggungnya yang masih tertutup rapat dan dirasakannya tali bra dibalik kausnya. Ah, sebentar lagi semua ini akan terlepas semua, batinnya. Kemudian tangannya mengalir ke kedua tangannya. Dirasakannya kulit tangan Liani yang putih mulus. Lalu ke pinggangnya, pahanya. Diraba-rabanya rok gadis itu, kemudian turun ke bawah menyentuh kulit tubuh gadis itu di bagian paha bawahnya. Sambil asyik menikmati seluruh jengkal bibir cewek itu, tangan Rohim asyik menggerayangi tubuh Liani. Tangannya yang kiri meraba-raba tubuh Liani, dari perut lalu naik ke atas sampai menyentuh payudaranya dan bergerak disekitar situ agak lama. Meraba-rabanya. Mengelus-elusnya. Yang kiri maupun yang kanan. Tangan kanannya menyusup masuk ke balik rok putihnya. Menyentuh kulit pahanya yang halus, meraba-rabainya, dari bagian bawah naik ke pangkalnya, dari bagian luar menuju ke bagian dalam. Sehingga kini tangan di balik rok itu mengelus-elus bagian dalam pangkal paha kiri dan kanan Liani. Merasakan betapa halus dan mulusnya paha itu….

    Posisi Liani yang sebelumnya sedang duduk tegak tak bersandar di sandaran sofa itu, kini jadi terdorong ke belakang oleh gerakan tubuh Rohim yang cukup bernafsu itu. Sehingga kepalanya kini bersandar di sandaran sofa itu. Namun saat itu tiba-tiba Liani melakukan gerakan maju ke depan. Entah tak menyadari atau tak peduli kalau tangan kanan Rohim waktu itu sedang menempel di pangkal pahanya. Akibatnya, saat ia melakukan itu, tangan Rohim jadi menyentuh bagian vitalnya!
    “Ahhhh” Liani jadi mengeluarkan seruan tertahan. Sungguh kebetulan bagi Rohim. Setelah itu, tentu tak disia-siakan olehnya. Tangan yang berada di dalam rok itu mulai menjelajahi sekitar vaginanya. Diraba-rabai celana dalam bagian bulu-bulu vaginanya. Lalu dipencet-pencetnya. Dirasakannya daerah disitu empuk-empuk. Pertanda bulu vaginanya cukup lebat. Sementara tangan yang satunya mulai meremas-remas payudaranya bergantian kiri dan kanan dengan lembut. Dari bulu vagina, tangannya berpindah ke bawah, tepat di tengah-tengah, persis di liang vaginanya!
    “Ohhhh. Ohhhhhh. Ohhhhhh.”
    Rohim kini berpindah menciumi leher Liani yang putih halus. Dirasakannya kulit lehernya yang halus dan mulus. Mmmmmh. Sungguh nikmat sekali menciumi leher putih itu. Apalagi rambutnya diikat keatas, sehingga nampak kelihatan rambut-rambut halus yang tumbuh di antara leher dan kepalanya itu. Liani yang semula pasif dan sepertinya agak tidak rela dirinya dinikmati oleh pesuruh sekolah itu, kini mulai bereaksi aktif. Mungkin menyadari tidak ada jalan keluar atau mungkin jadi terangsang akibat sentuhan-sentuhan Rohim. Dimajukan lagi tubuhnya ke depan. Rupanya ia ingin duduk di lantai. Kedua kakinya terbuka lebar. Lalu ia memeluk tubuh Rohim. Kemudian gilirannya menciumi bibir Rohim. Kedua tangannya memegang leher Rohim erat-erat. Sementara kedua tangan Rohim memeluk tubuh Liani erat-erat. Rohim pun membalas ciuman cewek itu. “Mmmmhh, mhhhhhhh, mmmhhhhh” mereka kini berciuman dengan hebat.

    “Lu benar-benar cowok jantan!” kata Liani menatap mata Rohim sambil mengalungkan kedua tangannya di leher cowok itu,” Gua benar-benar sukaaa banget deh,” katanya sambil tersipu malu. Mendengar itu, Rohim terasa bagaikan naik ke atas awang-awang! Cowok mana yang nggak besar hati disebut cowok jantan oleh cewek cakep. Apalagi yang mengatakan itu adalah siswi favorit sekolah sementara ia adalah pesuruh sekolah! Sungguh bukan main rasanya! Sehingga kini ia jadi ingin lebih menunjukkan kejantanannya kepada Liani! Segera direngkuhnya wajah Liani yang dalam keadaan terduduk di lantai itu. Kembali diciuminya wajah ayu itu, sementara Liani juga membalas ciuman Rohim. Kedua tangannya memeluk punggung Rohim. Sampai akhirnya, bibir bertemu bibir, saling memagut menjadi satu. Mereka berciuman dengan dahsyat, jauh lebih dahysat dari sebelumnya. Liani sesekali membiarkan Rohim mendominasi dirinya, namun kadang juga melayani kebuasannya. Bagaikan layang-layang yang tahu saat menarik dan mengulur. Membuat Rohim semakin terangsang. Sungguh nikmat sekali cewek satu ini! Tampangnya begitu polos, namun sungguh mampu membuat cowok jantan (dirinya) tergila-gila dibuatnya! Dan ini masih baru tahap pemanasan!! Pada saat cewek cakep memuji cowok setinggi langit, pada saat itu sang cowok merasa di atas awang-awang. Seolah-olah ia adalah manusia yang paling penting di dunia ini bagi cewek itu. Namun di saat itu jugalah biasanya sang cowok menjadi lengah. Apabila sang cewek ingin bertindak jahat atau melakukan tipu muslihat, saat itulah yang paling tepat. Demikian pula pada saat sang cowok sedang asyik menikmati cewek cakep apalagi cewek itu dianggapnya jauh lebih tinggi dibanding dirinya dan merupakan suatu kebanggaan besar kalau bisa menikmatinya, dan sang cewek menanggapinya sedemikian rupa sambil memeluk punggungnya sampai cowok itu lupa segalanya. Seharusnya cowok itu waspada terhadap cewek itu, karena ia tak tahu apa yang dilakukan kedua tangan halus di balik punggungnya. Apabila sang cewek ingin bertindak jahat atau melakukan tipu muslihat, saat itulah yang paling tepat.

    Baca Juga Cerita Seks Liani 2: Sex, Lies, and Handphone Camera

    Bahkan menurut desas desus, Genghis Khan, sang penakluk yang gagah perkasa dari bangsa Mongol itu, meninggal dunia gara-gara pendarahan hebat yang dialami saat menyetubuhi seorang putri raja, yang berhasil ditawan setelah kerajaannya berhasil dikalahkan dan dihancurkan. Kalau memang betul, sungguh akhir yang tragis dari seorang yang tak terkalahkan di medan perang. Demikian pula yang terjadi saat itu. Dikala Rohim dengan penuh nafsu menciumi dan mendekap tubuh Liani, apalagi mencium aroma tubuh cewek itu yang harum, ia tidak memperhatikan kalau kedua tangan Liani sedang asyik melakukan sesuatu di balik punggungnya. Dengan cekatan kedua tangan Liani melakukan itu namun ia tidak menyadarinya sebelum semuanya terlambat. Apa yang dilakukan Liani? Tentu Liani tidak akan membunuh atau melukai cowok itu. Ia bukan tipe cewek berdarah dingin seperti itu. Lagipula sungguh tidak ada untungnya ia melakukan itu. Karena bisa saja apa yang dikatakan kepada Rohim barusan sungguh betul adanya. Kalau memang betul, tidakkah ia juga ingin merasakan bagaimana kejantanan Rohim menembus ke dalam tubuhnya… sampai tetes-tetes penghabisan? Pada saat Rohim sedang nafsu-nafsunya menciumi Liani, tiba-tiba keasyikannya itu dihentikan oleh gerakan tiba-tiba Liani yang memberontak dan mendorong Rohim sehingga terlepas dari dirinya. Membuat Rohim terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Namun ia lebih terkejut lagi saat melihat apa yang ada di kedua tangan Liani. Dengan wajah polos, mata yang membesar memandang Rohim dan senyum manis di bibir yang baru saja dilumatnya habis itu, tangan kirinya memegang handphone yang sebelumnya ada di meja sementara tangan kanannya memegang memory card handphone itu, namun kini telah patah menjadi empat bagian!

    “Hey! Apa yang lu lakukan!” sergah Rohim sambil merebut handphone itu dari tangan kiri Liani.
    Namun tindakan itu sudah terlambat dan sungguh tak ada gunanya. Karena seluruh data foto dan video ada di dalam memory card itu! Ia sungguh marah dan kesal dengan kejadian itu. Tak disangkanya Liani yang kelihatannya penurut dan kooperatif ini ternyata diam-diam melakukan sesuatu yang merugikannya dibalik punggungnya tanpa diketahuinya. Apalagi ia menunjukkan perbuatannya itu sambil tersenyum manis kepadanya! Karena sebenarnya ia tak berniat memberikan handphone itu kepada cewek itu saat itu. Ia ingin menundanya sampai cewek itu betul-betul mau melayaninya dua kali atau mungkin tambah sekali lagi. Rohim bukannya ingin memeras Liani seperti Dharsono, namun hal itu dilakukan purely karena perasaan mupengnya kepada cewek itu. Berbeda dengan Dharsono, ia juga tidak akan memaksa Liani untuk melayaninya apabila cewek itu benar-benar tak mau. Akan tetapi selama handphone itu ada di tangannya, sedikit banyak Liani mau tak mau akan menurut kepadanya. Namun kini, ia tak bisa mengontrol Liani lagi kecuali saat sekarang itu aja. Sementara Liani sendiri bukan gadis bodoh tentu ia tak suka hidupnya dikendalikan orang lain. Selama handphone itu masih di tangan orang lain, seberapa baiknya orang itu, tetap saja ia masih tergantung olehnya. Ia tahu kalau Rohim tidak akan menyerahkan handphone itu dengan segampang itu. Sementara juga ia tidak bisa lari dari tempat itu. Oleh karena itu ia berusaha mencari jalan lain untuk menghancurkan bukti itu. Oleh karena itu tadi ia pura-pura pasrah dan menyerah supaya Rohim tidak curiga. Dan ternyata betul, Rohim sama sekali tak curiga sehingga ia tak terpikir untuk menyimpan handphone itu. Apalagi ia sudah kadung mupeng abis terhadap dirinya! Saat Rohim mulai menciuminya tadi, posisi duduknya agak jauh sehingga ia tak bisa meraih handphone itu. Oleh karena itu ia menunggu beberapa saat.

    Saat pertama kali badannya maju, ia lupa kalau satu tangan Rohim berada di pangkal pahanya. Akibatnya gerakannya tertahan oleh tangan Rohim itu. Namun justru itu
    membuat Rohim makin mupeng dan lupa diri. Sehingga pikiran Rohim betul-betul tercurah penuh terhadap dirinya dan sama sekali melupakan handphone di meja itu. Setelah itu ia sengaja duduk di lantai supaya tangannya bisa meraih handphone itu dengan leluasa, lalu melepas memory card-nya dan menghancurkannya di balik punggung Rohim. Sungguh suatu akal bulus yang bagus sekali. Kini terkabullah harapannya. Sekarang ia merasa bebas dari perasaan was-was yang mengganggunya selama ini. Namun sekarang ia masih harus menghadapi Rohim yang marah. Seorang yang kasar dan jujur seperti Rohim, apabila marah kadang bisa menakutkan. Demikian pula yang terjadi sekarang. Apalagi Rohim kini sadar kalau ia hanya punya kesempatan sekali ini saja untuk menikmati dirinya. Oleh karena itu tentu Rohim bertekad untuk menikmatinya sepuas mungkin. Kini Rohim bagaikan singa jantan kelaparan yang siap menerkam kijang muda yang tak bisa lari kemana-mana lagi. Dan kijang muda itu adalah dirinya! Sungguh suatu pertempuran yang tak seimbang, kalau tak boleh disebut sebagai pembantaian!
    “You’re bitch!” seru Rohim. Sungguh aneh, seorang pesuruh sekolah memaki seperti itu kepada siswi favorit satu sekolah. Padahal semua teman-teman cowoknya bahkan para guru di sekolah itu pada menghormatinya. Namun itu belum seberapa. Apa yang bakal dilakukan pesuruh sekolah itu setelah ini akan membuat mereka semua jadi iri hati, sakit hati, bahkan patah hati. Seandainya saja mereka tahu, sudah pasti pesuruh sekolah kurang ajar itu akan dihajarnya ramai-ramai. Tapi apa mau dikata, ceweknya sendiri mau kok.
    “Gua ngaku salah deh. Tapi gimana lagi, kalo lu nggak mau nyerahin ke gua, trus kalo nanti jatuh ke tangan Dharsono lagi gimana coba? Apa lu nggak kasihan dengan gua,” kata Liani.

    Sekali lagi, sungguh aneh, cewek favorit se-sekolahan ngaku salah ke pesuruh sekolah?!
    Dalam hati Rohim membenarkan juga argumen cewek itu. Ada kemungkinan untuk itu memang. Namun ia tak mau mengalah begitu saja di depan cewek ini.
    “Tapi ingat janji lu. Lu masih punya “hutang” sama gua.”
    “Oh, kalo itu sih, tergantung dengan hasil hari ini gimana. Kalo memuaskan, kenapa nggak? Bahkan sepuluh kali sekalipun juga siapa yang bisa menolak?”
    Sungguh sulit dipercaya, omongan seperti itu bisa keluar dari mulut cewek sepolos ini.
    “Hmm, kalo itu sih nggak usah kuatir,” kata Rohim,”Tapi lu jangan pura-pura bersikap manis terus berusaha menipu gua lagi ya!”
    “Memang gua mau menipu apa lagi?” Memang ia berkata jujur, setelah menghancurkan bukti dirinya itu, kini tidak ada lagi yang ingin didapat dari Rohim dengan cara menipu.
    “Boro-boro menipu, sekarang aja gua mau lari kemana pun juga nggak bisa,” tambahnya lagi. Memang betul sekali perkataannya itu, saat ini ia tidak bisa lari kemana pun. Namun seandainya bisa pun, mungkin juga ia tidak akan lari.
    “Memang betul, lu nggak bisa lari kemana-mana. Karena sekarang ini lu harus menerima hukuman atas perbuatan lu sebelumnya!”
    “Asal jangan terlalu berat aja hukumannya.”
    “Mengenai itu gua nggak bisa janji deh….”
    “AAAhhhhhhh,” teriak Liani karena Rohim langsung menerkamnya sampai tubuhnya terkapar di atas sofa.
    Kembali diciuminya gadis itu. Kali ini diciuminya dengan nafsu menggebu-gebu. Karena sebelumnya ia setengah tertipu olehnya, kini ia membalasnya dengan menciuminya penuh nafsu. Diciuminya seluruh bagian wajahnya. Sehingga kini wajah putih Liani yang cakep itu kini habis diciuminya.
    “AAhhhhhhhhhhhh,” teriak Liani sambil memukul-mukul tubuh Rohim. Namun apa daya. Tenaganya sungguh tak berarti untuk memukul tubuh kekar itu.
    “AHhhhhhh……Ehhmmmmmm,” kini suaranya berubah karena bibirnya dikunci oleh Rohim. Bibir Rohim yang hitam melumat habis bibir Liani yang kemerahan itu. Sampai-sampai terdengar suara kecapan-kecapannya.

    Setelah itu bibirnya beralih mengecupi lehernya yang putih mulus. Kali ini ia melakukannya dengan penuh nafsu dan menghisap kuat-kuat. Sehingga disana sini membekas kemerahan akibat kecupan-kecupan Rohim itu.
    “Ahhhh….Ahhhhhhh…..AHhhhhhh”, Liani mendesah-desah merasakan nikmatnya kulit lehernya yang sensitif itu dikecup-kecup dan di sedot-sedot oleh Rohim. Sementara itu, kedua tangan Rohim masuk ke dalam baju atas Liani yang bergaris-garis itu. Kini ia mulai merasakan halusnya kulit tubuhnya. Diraba-rabanya perutnya, iganya, makin lama makin ke atas, sampai menyentuh branya. Dipegangnya dan diremas-remasnya dengan lembut. Dirasakan kekenyalannya.
    “Ohhhhh, ohhhhhhhhh.”
    Namun tak lama, karena tujuannya setelah itu didudukkan Liani dengan menggunakan tangannya yang berada di dalam bajunya. Lalu digerakkannya tangannya keatas. Otomatis bajunya itu ikut terangkat naik. Sampai akhirnya mentok sampai di pundaknya. Lalu diloloskannya baju atasan itu melewati pundak, leher, kepala, dan kedua tangannya sampai terlepas dari tubuhnya. Nampak bra berwarna biru tua yang menutup payudara Liani. Lalu dibukanya retsleting roknya, kemudian dipelorotkannya rok itu sampai terlepas dari tubuh Liani. Setelah itu dilepaskan kedua kaus kaki merah muda Liani. Sehingga kini ia duduk di sofa itu hanya memakai pakaian dalam saja.. Bra biru tua yang dipakainya itu begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Nampak bagian atas belahan payudaranya yang tak tertutup oleh bra itu. Belahan itu nampak begitu sempurna membentuk celah lekukan yang sungguh menggairahkan. Celana dalamnya juga berwarna biru tua.

    Pahanya yang putih mulus sungguh menggelorakan hati. Sehingga kini Rohim meraba-raba dengan kedua tangannya. Sungguh halus dan mulus sekali! Dan warnanya nampak Kontras sekali. Tangannya yang hitam meraba-raba paha cewek berkulit putih mulus itu. Diciuminya bibirnya yang indah itu. Bibir yang tersenyum dengan manis saat ia menunjukkan akibat perbuatannya yang mematahkan memory card handphone itu, kini kembali dilumat habis oleh bibir Rohim yang hitam. Seakan ia hendak memberi pelajaran kepada cewek itu. Bahwa sebelumnya ia telah berbuat kesalahan. Oleh karena itu sekarang saatnya untuk dihukum! Setelah puas dengan itu, Rohim menghentikan ciumannya. Kini tangannya meraih tali pengait bra-nya yang ada di punggung. Rupanya ia sudah tidak sabar lagi untuk segera melihat sendiri keranuman dan keindahan payudara siswi favorit itu yang telah tumbuh dengan sempurna. Tentu bukan hal yang sulit baginya melakukan ini karena ia telah cukup berpengalaman dalam hal itu. Dengan kedua tangan bergerak bersamaan, lepaslah pengait bra itu. Segera diloloskannya bra itu dari bahunya. Dan, WOW! Begitu indah payudara yang menggantung dengan bebasnya itu. Sampai Rohim pun dibuat terkesima melihatnya. Belum pernah ia menyaksikan payudara seindah payudara Liani ini. Begitu segar dan ranum. Serta padat berisi. Ukurannya sungguh pas dengan tubuhnya. Tidak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Ukuran bra nya adalah 34C. Belahannya sungguh sempurna. Warna kulitnya yang putih membuat semakin indah. Begitu bersih. Begitu putih. Begitu mulus. Begitu menggairahkan. Namun yang
    paling indah adalah kedua putingnya. Kedua putingnya mencuat di tengah-tengah gundukan gunung kembar putih itu. Warnanya kemerahan sungguh nampak segar menggairahkan. Apalagi bagi Rohim, belum pernah sebelumnya ia melihat langsung sepasang gunung kembar putih dengan putingnya yang kemerahan. Sejenak ia memandangi pemandangan indah di hadapannya itu tanpa melakukan apa-apa.. Membuat Liani, yang payudaranya terbuka dan diliatin terus begitu, menjadi tersipu malu.

    Hal itu membuat Rohim semakin gemas. Namun ia tetap tak akan lupa untuk menghukum cewek ini! Namun sebelum itu, karena tanggung, segera tangannya beralih turun ke bawah, menuju ke celana dalam biru itu. Sementara Liani hanya pasrah saja, meski ia tahu sebentar lagi ia akan ditelanjangi bulat-bulat oleh pesuruh sekolah itu. Sementara mata Rohim masih jelalatan memandang ke dada Liani. Sungguh indah sekali, batinnya. Ia tak sabar ingin segera menikmatinya. Oleh karena itu ia buru-buru memelorotkan celana dalam biru itu ke bawah. Yang pertama kali terlihat tentu bulu vaginanya yang ternyata cukup lebat. Gila! Cewek ini betul-betul hebat body-nya, pikir Rohim. Ia memang paling suka cewek dengan bulu vagina lebat. Apalagi Liani yang tampangnya polos gini ternyata memiliki bulu yang lebat. Sungguh kontradiktif dan merangsang! Kemudian diloloskannya celana dalam biru tua itu. Sehingga kini Liani betul-betul tak menggunakan selembar kain pun untuk menutupi tubuhnya yang mulus dan sexy. Saat itu Rohim ingin membuka kedua kaki Liani lebar-lebar. Ia ingin melihat liang vaginanya dengan jelas sebelum menggarapnya. Namun sepertinya Liani masih malu-malu. Ia menolak membuka kakinya lebar-lebar. Malah kini ia menutup kedua kakinya dengan rapat. Membuat bulu vaginanya terkumpul di tengah-tengah. Ia tak ingin memaksa gadis itu, untuk saat ini. Kemudian ia melepas pakaiannya sendiri, baju kaus dan celana jins nya. Namun setelah itu ia meraih tangan Liani dan mendekatkannya ke celana dalamnya yang terlihat adanya tonjolan besar. Liani segera mengelus-elus tonjolan di celana dalam itu dengan kedua tangannya yang putih halus. Kemudian Rohim memberi isyarat untuk berdiri yang dipatuhinya. Kemudian kedua tangannya yang halus meraih celana dalam Rohim dan memelorotkannya ke bawah. Sehingga nampaklah penis Rohim warna hitam yang besar berdiri dengan tegak. kepala penisnya yang disunat nampak mencuat keatas.

    Saat Liani melakukan itu, ia membungkukkan badannya, sehingga payudaranya mendekat ke arah Rohim. Rohim tak kuasa menahan dirinya lagi. Segera direngkuhnya sepasang gunung kembar yang menggairahkan itu dengan kedua tangannya. Di saat tangan halus Liani mengelus-elus penis Rohim yang berdiri tegak dengan perkasanya, kedua tangan hitam itu menempel di kedua gunung kembar putih yang menggairahkan itu. Kini, setelah payudara putih Liani berada dalam genggaman tangannya, Rohim merasakan sendiri kekenyalan dan kehalusannya. Sungguh padat berisi. Ia menciumi leher Liani, menghisap-hisap kulitnya yang putih. Tangannya meremas sepasang gunung kembar yang indah itu. Dirasakannya kedua putingnya yang menonjol menyentuh telapak tangannya. Sementara kedua tangan Liani juga tak kalah sibuknya. Tangan kirinya mengelus-elus buah zakar Rohim dan tangan kanannya mengocok-ngocok batang penis yang hitam besar dan mengusap-usap kepalanya yang disunat dengan jari-jarinya. Penis hitam Rohim yang menegang dengan keras dan perkasa sepenuhnya berada dalam genggaman kedua tangan Liani yang putih dan lembut. Setelah itu mereka berpelukan sambil berdiri. Kedua tangan Rohim memeluk erat punggung Liani. Membuat tubuh gadis itu menempel erat ke tubuhnya. Kulit putih menempel dengan Kulit hitam. Payudara Liani yang putih dan montok menempel di dada Rohim yang hitam dan bidang. Perut menempel dengan perut. Paha menempel dengan paha. Penis Rohim yang mengaceng ke atas menempel di bulu vagina dan perut Liani. Bulu-bulu kemaluan keduanya saling bertemu. Dan kedua tangan Liani memeluk erat pinggang Rohim. Keduanya saling berciuman bibir dengan penuh nafsu. Terutama Rohim yang menciumi cewek itu dengan buas seolah ingin melampiaskan rasa marahnya sebelumnya dengan menghisap seluruh kenikmatan yang ada pada diri cewek itu semaksimal mungkin.

    Lidah bertemu dengan lidah. Perbedaan warna kulit keduanya nampak kontras sekali. Kedua tangan hitam Rohim menempel di punggung Liani yang putih mulus. Dan kedua tangan Liani yang putih halus menempel di punggung Rohim yang hitam. Setelah itu kedua tangan hitam Rohim memegang pinggul putih Liani yang menonjol itu dan meremas-remasnya. Inilah perpaduan sempurna antara yin dan yang, feminin dan maskulin, beauty and the beast, siswi teladan dan pesuruh sekolah! Kemudian Rohim melepaskan dekapannya. Penisnya menegang dengan keras. Lalu ia memegang kepala Liani dan mendorongnya ke bawah sampai Liani berlutut di depannya dan kepalanya sejajar dengan penisnya. Liani dengan wajah polosnya memandang ke Rohim. Tapi Rohim mendekatkan wajah Liani ke penisnya…Sehingga kini siswi teladan itu mau tak mau jadi menyepong penis Rohim. Dipegangnya pangkal penis itu dengan tangan kanannya. Sementara mulutnya dimaju-mundurkan mengemut penis Rohim. Rohim sungguh menikmati sepongan Liani pada batang kejantanannya itu. Hatinya puas sekali. Inilah salah satu hukumannya terhadap gadis yang telah berani menipunya itu! Apalagi sepongan Liani betul-betul nikmat rasanya. Bahkan Liani menggunakan ujung lidahnya untuk menyapu kepala penis itu yang berada di dalam mulutnya. Oleh karena terangsang, kini penis Rohim mengeluarkan lendir pre-cum-nya. Tentu saja mau tidak mau Liani harus merasakannya dan menelannya. Karena lidahnya telanjur menempel di ujung kepala penis Rohim. Sementara Rohim tak membiarkan cewek itu untuk berhenti menyepongnya sebelum dirinya betul-betul puas. Guru menghukum murid adalah hal yang biasa. Itupun, bentuk hukumannya biasanya adalah dengan menyuruhnya berdiri di depan kelas. Namun seorang pesuruh sekolah menghukum siswi favorit sekolah adalah hal yang luar biasa. Apalagi hukumannya dengan menyuruh siswi itu telanjang bulat dan berlutut untuk menyepong penisnya!

    Setelah puas “menghukum” Liani dengan cara itu, kini ia meneruskan dengan hukumannya yang lain. Setelah Liani berdiri kembali, didorongnya cewek itu ke belakang sehingga tertidur di atas sofa. Bagaikan binatang buas menerkam mangsa, ia menerkam cewek itu dan menindihnya.
    “AAHhhhhhhhhhh,” Liani berteriak.
    Kemudian terjadilah adegan pembantaian berikutnya. Ditindihnya Liani di atas sofa itu. Diciuminya bibir Liani dengan buas dan penuh nafsu. Diciumi leher yang putih mulus itu. Dikecup-kecupnya seluruh bagian leher dan bahu putih itu. Dirasakan bau harum semerbak aroma tubuh gadis yang telanjang bulat itu. Ciuman Rohim turun ke bawah lagi, kali ini yang menjadi sasaran apa lagi kalo bukan dada Liani yang putih montok menggairahkan itu. Diciuminya dada putih yang padat menggairahkan itu. Diciumi seluruh bagian dadanya. Lidahnya bergerak menjilat-jilat lembah diantara kedua gundukan daging itu. Lalu lidahnya bergerak mengelilingi lereng gunung sebelah kanan. Lalu bergerak melingkar naik makin ke atas dan makin ke tengah. Tangan kanannya meraih dada yang satunya lagi, meraba-rabanya, mengusap-usapnya, meremas-remasnya… Liani hanya merintih-rintih perlahan tanpa perlawanan sedikitpun. Karena memang ingin melawan pun juga ia tak akan mampu karena Rohim saat itu bagaikan orang kelaparan menikmati hidangan yang amat lezat. Tapi mungkin memang ia juga tidak ingin melawan.Akhirnya sampailah lidahnya di puncak gunung putih itu. Dijilatinya puting kemerahan yang segar dan sangat menggairahkannya itu. Ujung lidahnya melingkar-lingkar mengelilingi puting kemerahan yang mencuat menonjol itu.
    “Ahhhh, ahhhhhh,” Liani tak kuasa menahan dirinya karena itu memang adalah titik sensitif baginya apalagi saat lidah Rohim menerabas putingnya berkali-kali baik horizontal maupun vertikal dan menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya di bagian atas dari putingnya. Inilah titik paling sensitif dari payudaranya!

    “Ahhh, ahhhh, ahhhhh, ahhhh, ahhhh, ahhhhh…………”
    Sementara itu jari-jari tangannya yang memegang dada kiri juga tak tinggal diam untuk dimainkannya di putingnya. Jarinya menggerak-gerakkan puting yang sensitif itu. Sambil sesekali menempel-nempelkan ujung kelingkingnya di bagian atas putingnya.
    Liani mulai “naik” dibuatnya. Kini ia bersikap semakin pasrah saja membiarkan Rohim melakukan semaunya terhadap dirinya. Dan sekarang mulutnya mengemut dan menghisap-hisap puting kemerahan itu.
    “Ahhhhh, ahhhhh, ahhhhhh, ………”
    Liani tak tahan untuk tidak mendesah-desah saat putingnya yang sangat sensitif itu diemut oleh Rohim. Dirasakan kehangatannya saat payudaranya disedot-sedot di dalam mulut Rohim. Ditambah rasa geli-geli enak saat lidah Rohim dimainkan di putingnya. Apalagi saat putingnya digigit-gigit kecil!
    “Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhhhhh…….”
    Rohim sendiri juga menikmati saat melakukan itu. Baru kali ini ia bisa memainkan payudara sedemikian indah dan putih apalagi putingnya yang kemerahan sungguh menggairahkan. Oleh karena itu mulut dan lidahnya bermain-main agak lama di sana, lidahnya dengan buas menjilat-jilat dan menggerak-gerakkan puting yang sungguh menggelorakan hatinya itu. Apalagi saat mendengar Liani mulai mendesah-desah dan merasakan reaksi tubuh cewek itu yang menegang pertanda cewek itu juga terangsang oleh perbuatannya. Sungguh puas hatinya saat itu ia bisa menikmati payudara sedemikian indah milik gadis muda yang menjadi siswi favorit di sekolah itu dimana ia bekerja sebagai pesuruh sekolah..Setelah itu, diulangi lagi semua itu dengan berganti posisi. Kali ini mulut dan lidahnya mempermainkan dada sebelah kiri dan tangan serta jarinya menggarap dada kanan cewek itu.

    Setelah puas memainkan dan menikmati payudara, kini mulut Rohim bergeser ke bawah. Diciumi dan dikecupi bagian perut, pinggang, samping tubuh, paha, dan selangkangan cewek itu. Lalu tangannya digunakannya untuk meraba-raba dan mengusap-usap bulu-bulu vaginanya yang lebat. Jari-jarinya meraba-raba dan dibenam-benamkan di tengah-tengah bulu vaginanya yang empuk. Sungguh membanggakan hati bisa melihat langsung bulu-bulu vagina cewek cakep yang ternyata sungguh lebat itu. Apalagi kalau bisa meraba-rabanya! Lalu tangannya turun ke bawah mengelilingi bagian pribadinya itu. Digesek-gesekkan jarinya di pangkal paha Liani dan juga di liang vaginanya. Setelah itu dibentangkannya kedua kaki Liani lebar-lebar supaya ia bisa melihat dengan jelas bentuk vaginanya. Dan kali ini cewek itu tidak menolak sama sekali. Mula-mula dijilat-jilatnya bagian pangkal paha dan daerah sekeliling vaginanya. Ini saja sudah cukup membuat Liani mulai menggeliat kegelian. Lalu Rohim mulai menjilat-jilati mengelilingi vaginanya sambil sesekali menerabasnya kiri kanan dan menjilati secara bertikal mengikuti lipatan liang vaginanya.
    “Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
    Kini Rohim mulai merasakan adanya lendir pada lidahnya. Tak puas dengan itu, dibukanya lipatan liang vagina Liani dengan jari-jarinya. Bagian dalam vaginanya berwarna kemerahan. Lalu dimasukkan lidahnya disitu dan dijilat-jilatnya bagian yang super sensitif itu.
    “Ooohhhh, ooohhhhhhh, oohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
    Tak lama kemudian vaginanya menjadi basah berlendir.

    Dibentangkannya lipatan vagina bagian atasnya, sampai kelihatan klitorisnya yang seperti biji kacang berwarna merah. Dan dijilat-jilatnya…Tanpa dicegah lagi Liani langsung mendesah-desah sambil tubuhnya menggeliat-geliat.
    “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!”
    Tangannya memegang rambut Rohim, sementara kedua pahanya menjepit kepalanya.. Seolah tak ingin cowok itu menghentikan kegiatannya itu. Akibatnya sekarang jadi makin basah saja….Rupanya ia menyukai juga kebuasan Rohim menikmati dirinya. Mungkinkah ia tadi sengaja membuat Rohim marah supaya membuat cowok liar itu jadi semakin buas menggarap dirinya? Setelah merasa cukup merangsang cewek itu, dihentikannya aksinya itu. Kini giliran penisnya yang minta bagian, pingin memakan korban cewek putih cakep itu. Didekatkan penis hitamnya yang menegang keras itu di depan liang vagina cewek putih itu. Lalu dengan gerakan mendorong ke depan,
    “Shleeb” “Ahhhh!”
    “Shleeb” “Ahhhh!”
    Masuklah penis itu seluruhnya ke dalam vagina Liani. Lalu,
    “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb”
    Dimaju-mundurkan penisnya di dalam vagina Liani. Dirasakannya vaginanya yang sempit menjepit penisnya membuatnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Apalagi mengingat cewek yang disetubuhinya ini bukanlah cewek sembarangan.
    “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
    Wajah cakep Liani langsung mengeluarkan suara mendesah-desah begitu penis Rohim menghunjam-hunjam di dalam vaginanya. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang dibuatnya. Terutama payudaranya yang terguncang-guncang dan berputar-putar.

    Mendengar desahan Liani itu, Rohim makin bersemangat mengocok penisnya di dalam vagina cewek itu. Ia sungguh puas menyaksikan cewek yang tadi secara diam-diam berani menipunya itu kini tak berkutik dibuatnya. Malah kini jadi mendesah-desah tak karuan. Itulah akibat dari perbuatannya yang menipunya tadi. Kini ia harus menjalani hukuman dengan cara disetubuhi! Melihat payudara ranum yang bergerak-gerak itu seolah menantang dirinya, Rohim tak tahan untuk tidak merengkuh keduanya dengan tangannya. Begitu berada dalam genggamannya, payudara yang penuh dan hangat itu segera diremas-remasnya.
    “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
    Setelah itu dikeluarkannya penisnya. Posisi Liani sedikit diubahnya dengan dibentangkannya kaki kirinya dan dinaikkan di atas sandaran sofa, dan kemudian…kembali disodok-sodoknya vagina cewek itu dengan penisnya yang masih perkasa. Setelah itu dimiringkannya tubuh Liani yang tidur di atas sofa. Lalu ia tidur di sebelahnya menempel ke tubuh gadis itu. Diciuminya punggung yang putih mulus itu. Mulai dari leher, yang karena rambutnya digulung dan diikat ke atas, jadi nampak jelas kulitnya yang putih, lalu turun ke bahu, punggung, pinggang, dan pinggulnya. Dijelajahinya seluruh jengkal tubuh gadis itu seolah tak ada yang terlewat. Ditempelkannya penisnya yang hitam di antara kedua pinggul Liani yang putih. Lalu disusupkan tangannya yang hitam di tengah-tengah kedua paha Liani yang putih mulus. Kini tangannya kembali memainkan vagina Liani dan meraba-raba bulu-bulu vaginanya. Setelah itu, diangkatnya satu kakinya ke atas. Sehingga kini ada celah untuk masuk ke vaginanya. Kemudian disusupkan penisnya di antara kedua kakinya, dan…..
    “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
    Lagi-lagi disetubuhinya Liani dalam posisi miring begitu. Sementara satu tangannya memegang bagian depan tubuh Liani. Tentu bagian yang paling banyak diusapnya adalah payudaranya. Dimainkan dan diremas-remasnya payudara putih ranum milik gadis itu. Diciuminya dan dijilatinya tengkuk putih gadis itu dan bagian belakang telinganya! Dan diciumnya harum tubuh Liani yang aromanya semakin kuat itu. Rohim sungguh nggak mau rugi dalam menikmati diri Liani saat itu.
    Betul-betul dinikmatinya seluruh bagian tubuh gadis itu semaksimal mungkin.

    Liani sendiri nampak begitu menikmati disetubuhi dalam posisi begitu. Apalagi miring begitu, sensasinya sungguh berbeda. Sementara tangan hitam Rohim yang terus menerus merangsang payudaranya. Dan ciuman lidah Rohim yang menggelitik tengkuk dan bagian belakang telinganya! Apalagi tubuhnya menempel di tubuhnya sendiri mendekap dirinya. Membuat dirinya bisa mencium aroma kejantanan yang keluar dari tubuh Rohim. Apalagi dari tadi penisnya tak henti-hentinya menghantam-hantam di dalam tubuhnya. Betul-betul jantan dan perkasa! Kini, seiring dengan bersatunya kedua tubuh yang berlainan jenis itu, bercampur pula aroma tubuh maskulin Rohim dengan aroma tubuh feminin Liani. Pada saat itulah,
    “Ooooohhhhhhhhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhhhh”
    Sementara Rohim sibuk menghunjam-hunjam penisnya di dalam tubuh Liani untuk melampiaskan seluruh nafsunya terhadap cewek ini, saat itulah Liani mengalami orgasme. Akhirnya, setelah dihunjam-hunjam begini terus menerus, sampailah titik dimana ia tidak dapat menahan lagi. Dan pada saat itu, bagaikan air bah yang dahsyat menerjang, langsung bobollah tanggul itu dan airnya meluap hebat.
    “Aaaaahhhhhhhhhhhhh aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”
    Sungguh saat itu Liani merasakan kenikmatan yang luar biasa! Kali ini keperkasaan Rohim betul-betul membuatnya bertekuk lutut! Namun Rohim terus meneruskan aksinya karena ia masih jauh dari selesai. Ia masih belum puas menikmati gadis itu, yang sungguh menggairahkan dan merangsang sekaligus menggemaskan dirinya itu. Sengaja ia tidak cepat-cepat mengubah posisi, untuk membiarkan Liani menikmati orgasmenya dan menenangkan dirinya. (Memang seperti dikatakan diatas, kadang ia bisa bersikap sebagai gentleman sejati di tengah aksi bajingannya)..

    Setelah Liani mulai tenang, ia kembali melanjutkan aksinya. Mereka berganti posisi lagi. Kini Liani dalam posisi menungging. Dan Rohim menyodok vagina gadis itu dengan penisnya dari belakang. Posisi doggy style! Dalam posisi ini Rohim kembali menghunjam-hunjam penisnya di dalam tubuh Liani, menghentak-hentak tubuhnya dengan kuat. Posisi inilah yang paling kuat hentakannya terhadap tubuh Liani. Seluruh tubuhnya bergetar-getar. Payudaranya mengguncang-guncang dibuatnya. Sampai-sampai sofa itu juga ikut bergetar-getar. Kedua tangan Rohim dengan sigap menyangga payudara itu, menggoyang-goyang, meremas-remas, dan menepuk-nepuknya. Dan pada posisi inilah Rohim merasakan kebanggaan paling besar dimana kejantanannya mengoyak-ngoyak tubuh ramping Liani. Kini keduanya dalam posisi berdiri. Tubuh Rohim menempel di belakang tubuh Liani. Sementara ia menciumi tengkuk Liani, kedua tangannya meraba-raba payudara dan vagina Liani. Di tengah-tengah aksinya itu, Rohim membuka pengikat yang mengikat rambut Liani ke atas. Sehingga, tersibaklah rambut Liani terurai bebas ke bawah. Sehingga kini kepala Rohim berada di tengah-tengah rambut Liani yang terurai bebas. Hmm, betapa harum rambutnya. Segera diciuminya rambutnya. Kemudian ia membalik tubuh Liani. Kini nampak Liani dengan rambut panjangnya yang terurai bebas. Sebagian menutupi dadanya terutama bagian atasnya. Wajahnya sedikit berbeda dengan rambutnya yang terurai begini. Namun tak kalah cantik dan menggairahkan. Apalagi ia dalam keadaan telanjang bulat! Segera Rohim ingin mencicipi bagaiman rasa Liani yang berambut panjang ini. Untuk itu didekatkan penisnya di depan tubuh Liani. Dibentangkan sedikit salah satu kaki Liani. Dan, ooohhhh!, dimasukkannya penisnya ke dalam liang vagina Liani dalam keadaan berdiri begitu! Dan disodok-sodoknya!
    “Ooohhhh, oooohhhh, oooohhhhhhh.”
    Sungguh nikmat sekali rasanya baik bagi Rohim maupun Liani.

    Kembali mereka beraksi di sofa. Kali ini Rohim tiduran telentang di sofa itu. Sementara Liani duduk diatas tubuh Rohim. Tentu tak hanya sekedar duduk, namun dengan memasukkan penis Rohim yang menegang ke atas ke dalam vaginanya. Kini giliran Liani yang “berolahraga”. Cowgirl position! Kali ini Liani dengan aktif menaik turunkan tubuhnya. Seluruh tubuhnya bergerak-gerak. Rambutnya juga. Apalagi payudara yang tergantung bebas itu, juga bergerak naik turun seiring dengan irama gerakan tubuhnya.
    “Ooohhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh.”
    Kini ia mulai “menanjak” lagi, sehabis orgasme tadi. Sementara itu Rohim juga menikmati gerakan-gerakan tubuh Liani itu yang membuat penisnya terjepit di dalam vagina Liani dan dikocok-kocok. Sambil sesekali ia meremas-remas payudara ranum di depannya itu. Setelah itu ganti posisi lagi, Reverse Cowgirl! Kembali Liani menggoyang-goyang tubuhnya dalam posisi ini. Sungguh nikmat sekali baginya karena ia bisa mengatur irama goyangannya sesuai dengan yang diinginkannya. Sementara sensasinya berbeda dengan posisi sebelumnya. Kali ini giliran Liani kembali telentang di sofa itu. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Lalu, penis hitam besar itu kembali masuk menembus vaginanya yang terbuka bebas.

    “Shleeeb, shleeeb, shleeeb.”
    Kali ini Rohim menyodok-nyodok penisnya sambil memegangi kedua kaki Liani. Ia mengubah-ubah irama gerakan penisnya, kadang cepat, kadang lambat. Namun setelah itu ia melakukannya dengan irama konstan, sambil menjilati payudara Liani terutama bagian putingnya. Jadilah Rohim dari tadi sibuk “membolak balik” tubuh gadis ini dan menikmatinya dari berbagai sudut. Memang ia seolah ingin menghisap seluruh saripati kenikmatan yang ada pada diri gadis itu.

    Karena disodok-sodok terus begini dalam waktu cukup lama apalagi payudaranya juga ikut dirangsang oleh cowok itu, lama-lama Liani jadi nggak tahan juga. Akibatnya kini tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang akibat penis Rohim yang terus mengocok-ngocok vaginanya. Sampai akhirnya ia mendapatkan orgasmenya yang kedua. Tak lama setelah Liani mengalami orgasme kedua, Rohim juga sudah ingin segera melampiaskan seluruh nafsunya yang tertahan kepada gadis ini. Untuk itu, ia akan memberikan hukuman yang terakhir kepada Liani hari itu. Kini Rohim mencabut penisnya. Lalu ia berdiri. Sementara Liani yang telanjang bulat duduk di depannya. Kemudian Liani segera mengulum penis Rohim yang basah mengkilap itu. Disepongnya penis itu di dalam mulut cewek bertampang innocent itu. Kepalanya mengangguk-angguk saat menyepong penis hitam di dalam mulutnya itu. Sementara kedua tangan Rohim memegang di kiri kanan kepala Liani. Dan di dalam mulutnya, Liani menggunakan lidahnya untuk menjelajahi seluruh bagian kepala dan leher penis yang disunat itu. Bagian-bagian yang sangat peka rangsangan. Kemudian Rohim mengeluarkan penisnya dari mulut Liani dan kini tangan Liani yang mungil mengocok-ngocoknya di depan wajahnya! Sampai akhirnya, croot, croot, croottt! Muncratlah sperma dari penis Rohim dengan kuat ke wajah Liani. Sampai-sampai ada pula yang mendarat di rambutnya. Sehingga wajah yang cakep innocent itu jadi belepotan karena sperma. Sementara Liani malah mengulum penis Rohim, sepertinya ia sungsung-sungguh ingin menghisap seluruh cairan dari penisnya sampai tetesan terakhir. Setelah penis itu mengecil dan melemas, baru ia melepaskan dari mulutnya. Sperma yang sebelumnya mendarat di wajah dan rambutnya itu, kini mengalir turun ke dagu, leher, dan dada. Ada yang turun bagaikan sungai mengalir, ada pula yang langsung “loncat” dari dagu ke payudaranya. Ada pula yang masih “menggantung” di dagunya. Sehingga kini wajah, bagian atas tubuh, dan jari-jari tangan kanannya jadi belepotan oleh sperma Rohim. Rohim sungguh puas akhirnya bisa menikmati Liani secara total hari itu. Dan itulah hukuman dari seorang pesuruh sekolah terhadap siswi favorit.
    Bagi Liani, itulah tebusan yang harus dibayar untuk membebaskan dirinya. Sambil mendapatkan kenikmatan yang luar biasa.

    —@@@@@@@—–

    “Lu kalo mau membersihkan badan, bisa pake kamar mandi itu. Ada handuk juga disana,” kata Rohim.
    “OK,” kata Liani. Ya, memang saat itu ia perlu membersihkan diri. Wajahnya belepotan penuh sperma Rohim. Rambutnya pun juga tak luput dari semprotan sperma Rohim. Leher, dada, serta perutnya juga basah karena sperma di wajahnya sebagian mengalir ke bawah. Selain itu ia juga harus membersihkan bagian pribadinya. Saat itu ia berjalan ingin mengambil seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai. Namun Rohim berkata,”Lu kesana nggak usah bawa pakaian.”
    “Nggak apa-apa, gua bawa aja sekalian.”
    “Nggak usah.”
    “Memang kenapa sih nggak boleh?”
    “Soalnya tempatnya nggak cukup. Ntar pakaian lu jadi basah semua. Lagian, gua juga masih pengin lihat lu telanjang abis ini.”
    “Dasar lu.”
    Tak lama kemudian keluarlah Liani dengan badan bersih dan segar dengan handuk melilit di tubuhnya. Pakaiannya yang tadi berserakan telah dikumpulkan dan ditaruh di meja kecil.
    “Nah kalo gini khan asyik pemandangannya,” kata Rohim yang sedang tiduran santai di sofa matanya memandang ke arah Liani yang melepas handuk di tubuhnya itu.
    “Iih, sialan lu,” kata Liani mukanya memerah melihat cowok itu memandangi dengan serius tubuhnya yang telanjang bulat. Buru-buru ia memakai pakaiannya satu persatu. Tak lama kemudian gantian Rohim yang ke kamar mandi. Cerita Maya

    Setelah keduanya berpakaian rapi kembali,
    “Gimana, meski gua pesuruh sekolah, not bad juga khan buat siswi favorit,” kata Rohim.
    “Ah, sialan lu,” Liani mukanya memerah.
    “Omong-omong,” kata Rohim,” Gua masih nggak habis pikir. Gua susah payah nyari lu nggak bisa ketemu, eh malah akhirnya lu yang nyamperin gua.”
    “Iya ya. Padahal buku gua itu nggak ketinggalan di kelas seperti yang gua kira. Jadi seharusnya gua nggak perlu ketemu lu waktu itu.”
    “Mungkin karena motivasi gua lebih gede untuk menemukan handphone itu dibanding motivasi lu untuk menemukan gua,” kata Liani mengajukan pendapatnya.
    “Bukan gitu,” kata Rohim,” Tapi karena motivasi lu lebih gede untuk bercinta dengan gua.”
    “Iiih,” kata Liani sambil mencubit Rohim.
    “Jadi ini gua bawa ya,” kata Liani mengambil potongan-potongan memory card dan handphone itu. Ia tak mau mengambil resiko. Ia berniat membakar semuanya itu.
    “OK, nggak masalah,” kata Rohim. Handphone itu kini sama sekali tak berguna baginya. Bahkan seandainya memory-nya tidak rusak pun.
    “Jangan lupa janji lu ya. Lu masih ada utang satu sama gua.”
    “Kalo gua nggak ingat gimana,” kata Liani menggodanya.
    “Jadilah gua kena tipu cewek cakep. Tapi gua nggak takut soalnya nanti cewek cakepnya itu yang bakal nyari gua.”
    “Ih, enak aja. Siapa bilang.”
    Namun akhirnya Liani memberikan juga nomor handphone-nya kepada cowok itu, disamping menyerahkan 5 juta sebagai bagian dari transaksi mereka.

    Setelah itu Liani keluar dari sekolah yang sunyi senyap itu. Sesampainya di rumah, dibakarnya handphone itu di pekarangan belakang rumah. Sejak saat itu, legalah hatinya karena terlepas dari beban pikiran yang sebulan terakhir ini terus menghantuinya. Kejadian dengan Dharsono waktu itu adalah lembaran hitam di dalam hidupnya. Dengan dibakarnya handphone itu, maka ikut terbakarlah lembaran hitam itu. Sehingga kini ia benar-benar kembali menjadi Liani yang sebelumnya…plus pengalaman dan jam terbang yang bertambah tentunya. Sementara itu Liani dan Rohim masih melanjutkan pertemuannya. Rohim yang sebelumnya meminta cuma sekali, lalu diralatnya menjadi dua kali, pada akhirnya meminta berkali-kali. Sebagian besar permintaan itu diluluskan oleh Liani, kecuali kalau ia memang berhalangan atau betul-betul tidak mood. Sebenarnya saat itu Rohim sedang menjalin hubungan cukup serius dengan cewek sekelasnya yang bernama Ratih. Pada mulanya ia tidak ingin mengkhianati kekasihnya itu. Tapi godaan untuk menikmati diri Liani sungguh besar. Apalagi saat itu adalah kesempatan bagus untuk bisa bercinta dengan cewek sekelas Liani. Kapan lagi ia mendapat kesempatan sebagus ini. Memang janji setia cowok susah dipegang kalau udah berhubungan dengan nafsu birahi terhadap cewek lain. Setelah satu kali, ia tak dapat menahan diri untuk tidak melakukannya lagi, lagi, dan lagi. Sehingga kini meski ia tetap menjalin hubungan cintanya dengan Ratih namun sesekali ia juga melakukan hubungan “pertemanan plus plus plus” dengan Liani. Hal itu berlangsung terus sampai Liani lulus SMU. Karena setelah itu Liani melanjutkan kuliahnya di kota lain. Setelah itu pun kadang keduanya masih berhubungan lewat email melanjutkan pertemanannya (tentu tanpa plus plus plus). Setelah lulus SMU, Rohim melanjutkan sekolahnya dengan masuk ke akademi kepolisian. Setelah lulus, ia menjalin profesi sebagai detektif polisi khusus bagian penyelidikan masalah-masalah kriminal. Beberapa tahun kemudian, Rohim melangsungkan pernikahannya dengan Ratih.

    Lalu bagaimana dengan jalan kehidupan Liani selanjutnya? Hal itu akan diceritakan di episode-episode berikutnya.

    End of episode 3

  • Liani 2: Sex, Lies, and Handphone Camera

    Liani 2: Sex, Lies, and Handphone Camera


    70 views

    Disclaimer:

    1.Cerita ini mengandung unsur pornografi yang tidak cocok buat anak di bawah umur atau orang-orang alim.
    2.Seluruh materi cerita ini adalah fiksi belaka. Seluruh kemiripan nama, tokoh, tempat, kejadian, dll adalah suatu kebetulan semata.
    3.Cerita ini tidak mengandung unsur SARA apalagi kebencian atau menyudutkan kelompok tertentu. Kalaupun ada keterangan mengenai ras / suku / warna kulit / ciri fisik, adalah semata-mata sebagai bumbu penyedap cerita untuk menambah unsur erotisme.
    4.Tidak ada maksud untuk mendiskreditkan suku, agama, ras, golongan, atau profesi tertentu. Apabila ada yang negatif, itu hanyalah oknum yang menyimpang dan tidak mewakili seluruh golongan.

    ***************************************

    Liani

    Cerita Maya | Resepsi peresmian perusahaan itu berlangsung meriah. Banyak karangan bunga dipajang di sana yang dikirim oleh orang-orang penting. Semua tamu berpakaian rapi dan necis. Selain kerabat-kerabat, turut diundang pula sejumlah rekan bisnis, staf-staf penting, pejabat pemerintah setempat, dan tamu-tamu penting lainnya. Bahkan ada pula beberapa orang wartawan yang datang meliput. Kini tiba saatnya acara simbolis peresmian itu yaitu pemotongan pita. Saat itu seluruh pandangan mata tertuju ke arah seorang pria setengah baya yang tampan, rapi dan sukses yang sedang berbicara. Ia adalah pemilik perusahaan tersebut.

    Dengan wajah ceria ia berkata,”Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kehadiran bapak-bapak dan ibu-ibu disini. Untuk pemotongan pita ini, saya akan diwakili oleh putri saya yang cantik, yaitu Liani!”
    Di tengah-tengah tepuk tangan orang-orang itu, majulah seorang gadis muda dan cantik ke depan. Ia mengenakan gaun pesta warna merah jambu yang sungguh pas di tubuhnya. Dengan senyum mengembang di wajahnya, tangannya yang mungil menggerakkan gunting itu untuk memotong pita tersebut. Para juru foto tak melewatkan kesempatan itu untuk melakukan aksinya. Sekali lagi, terdengar tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Entah apa yang ada di benak para juru foto itu saat mereka sibuk memotret. Apakah mereka memotret melulu untuk upacara pemotongan pita itu, ataukah juga karena kecantikan gadis muda itu. Cerita Maya

    Ya, gadis itu adalah Liani. Ia menghadiri upacara pembukaan anak perusahaan milik Papinya. Penampilannya sangat menarik dengan gaun pesta merah jambu tanpa lengan itu. Selain karena wajahnya yang cakep dari sononya, apalagi dengan make up dan dandanannya malam itu, membuatnya tak kalah cantik dan menarik dibanding bintang film Hongkong. Juga kulitnya putih bersih. Usianya masih muda sekali,17 tahun lewat hampir 18 tahun, dan ia masih kelas 2 SMU. Bodi tubuhnya juga menarik kalau tak boleh dikatakan menggiurkan (terutama untuk para mupengers). Apalagi gaun pesta mahal dengan kualitas kain sangat bagus yang dikenakannya begitu pas menempel di tubuhnya. Nampak terlihat lekuk liku body curve yang nyaris sempurna di balik gaun mahal yang dikenakannya. Pinggangnya ramping, pinggulnya menonjol. Dadanya juga nampak menonjol dan berisi. Sementara potongan gaunnya berleher agak rendah yang memperlihatkan sebagian kecil belahan payudaranya. Membuat penasaran para lelaki yang ingin melihat lebih banyak lagi. Upacara peresmian malam itu berlangsung dengan sukses. Sementara kehadiran Liani malam itu berhasil mencuri perhatian banyak orang. Banyak yang mengaguminya, karena kecantikannya, penampilannya, kepercayaan dirinya, maupun juga prestasinya di sekolah, dan lain-lainnya. Banyak orang yang tahu bahwa ia adalah siswi berprestasi di sekolah favorit di kota itu. Banyak pula orang tua yang diam-diam iri karena anaknya kalah segalanya dari Liani. Ada pula beberapa rekan bisnis Papinya yang ingin menjodohkan anaknya dengan Liani.. Dan banyak pula cowok-cowok muda yang tertarik kepadanya. Namun juga diam-diam banyak lelaki – muda maupun tua – yang berpikiran kotor. Yah, namanya juga cowok. Dimana pun dan siapa pun sama saja kalo ngeliat cewek muda, cantik, dan sexy. Tapi tentu semua pikiran itu hanya disimpan di dalam hati masing-masing.

    —@@@@@@@—–
    Keesokan harinya…

    Liani sedang asyik menonton tv dengan masih memakai seragam SMU putih abu-abunya. Memang ia baru pulang dari sekolahnya. Begitu selesai makan siang, ia langsung duduk di sofa sambil menonton tv. Wajahnya tampak segar. Mungkin karena hari itu jam pelajaran sekolah cuma 3 jam. Oleh karena paginya ada rapat yang melibatkan semua guru, maka jadwal sekolah dimulai lebih siang dari biasanya. Liani, semenjak diperawani oleh Dodo waktu itu, telah beberapa kali melakukan hal yang sama lagi. Meski sadar bahwa itu adalah perbuatan terlarang, namun tetap saja dilakukannya karena ia juga menikmatinya. Apalagi melakukannya sambil sembunyi-sembunyi sehinga menambah ketegangan dan sebagai tambahan bumbu kenikmatan. Kini ia jadi semakin mahir dalam hal gituan, mungkin karena memang pada dasarnya “punya bakat tinggi” dalam hal ini ditambah lagi Dodo yang memang lebih berpengalaman mengajaknya melakukan berbagai macam variasi. Selain Dodo dan Liani sendiri, tidak ada orang lain yang tahu akan hal ini. Karena, ini hebatnya Liani, ia tetap saja masih bisa mempertahankan prestasinya di sekolah (malah ranking-nya tambah naik). Sehingga tak ada orang yang menyangka atau merasakan adanya perubahan dalam diri Liani. Sementara Dodo sendiri juga bisa menjaga rahasia. Mungkin bagi dia yang lebih penting adalah asalkan Liani mau melayaninya kapan pun ia mau. Untuk mencegah supaya tidak hamil, diam-diam Liani menyimpan pil anti hamil yang mujarab. Ia berhasil mendapatkan informasi tentang itu dengan memancing salah satu tantenya yang telah menikah. Tanpa curiga sama sekali, tantenya itu berhasil dipancingnya untuk memberitahu dan menjelaskannya secara lengkap dan detail.

    Saat itu tiba-tiba ada sms masuk dari Dodo yang bilang kalo sebentar lagi ia sampai kesana. Liani langsung kaget karena saat itu Papinya lagi di rumah.. (Papinya punya kantor sendiri untuk usaha bisnisnya. Namun selain itu, ada satu kamar di rumah itu yang khusus dipakai sebagai kantor kerjanya. Letaknya di bagian belakang rumah. Sebagai gambaran, memang rumah Liani ini cukup besar dan luas serta mempunyai beberapa kamar). Sehingga kadang Papinya kerja di rumah seperti hari ini. Karena takut ketahuan, ia langsung menelpon Dodo memberitahu agar jangan datang saat itu. Namun rupanya Dodo tak menggubrisnya karena tak lama kemudian ada sms masuk dari Dodo yang isinya,”Gua udah di depan pintu rumah loe!” Awalnya Liani berniat menyuruhnya pergi. Namun dipikirnya lagi, biasanya Papinya kalo lagi kerja gitu bisa sampe sore di dalam ruangnya. Saat itu Dodo tidak membawa motornya. Ia naik kendaraan umum. Akhirnya, tanpa sepengetahuan siapa pun, diajaknya Dodo masuk ke dalam dan mereka duduk di sofa di ruang tamu depan (yang jaraknya agak jauh dari ruang kerja Papinya). Begitu melihat Liani yang masih memakai seragam dengan rapi, seketika Dodo langsung terangsang. Terbayang-bayang tubuhnya yang putih mulus dan sexy yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya namun makin lama makin membuatnya ketagihan itu. Apalagi dengan memakai seragam SMU gini, Liani makin kelihatan seperti cewek baik-baik dan innocent. Tentu enak sekali rasanya kalau bisa menikmati cewek kayak gini. Membuat Dodo makin gemas dibuatnya. Begitu duduk berdua di sofa, Dodo segera memulai aksinya. Tangannya langsung menggerayangi tubuh Liani. Diraba-rabanya dada Liani dan disusupkannya tangannya di dalam rok abu-abunya. Lalu sejenak mereka berciuman bibir. Kemudian kedua tangannya mulai melucuti pakaian gadis itu.

    Tak perlu waktu lama, pakaian seragam Liani yang sebelumnya rapi jadi amburadul. Baju seragam dan branya masih menempel di tubuhnya, tapi sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya. seluruh kancing bajunya telah terlepas dan baju seragamnya terbuka lebar. Bra warna hijau muda yang harusnya berfungsi menutupi payudara gadis putih mulus itu malah telah terbuka kaitan depannya. Sehingga kini dadanya yang putih dan padat berisi terbuka telanjang di depan mata Dodo. Kedua putingnya yang kemerahan nampak menonjol dan menggairahkan. Rok abu-abunya tersingkap keatas. Nampak pahanya yang putih mulus. Hanya celana dalamnya saja, yang juga berwarna hijau muda, yang masih berada di posisi sebagaimana mestinya. Namun itu pun tak lama. Karena sesaat kemudian, Dodo meloloskan celana dalam itu dari tubuh cewek itu. Kini Liani dalam posisi duduk dengan sebagian besar pakaiannya masih menempel di ubuhnya, akan tetapi sudah tak berfungsi menutupi bagian-bagian tubuh seorang gadis yang seharusnya tidak diperlihatkan kepada cowok, apalagi cowok kelas rendahan seperti Dodo gini. Kini nampak jelas bUlu-bulu vaginanya yang lebat dan hitam, kontras banget dengan kulit tubuhnya yang putih. Tak heran kalau Dodo jadi bernapsu melihat Liani dalam keadaan seperti itu. Segera diciuminya cewek putih itu dengan penuh napsu. Kedua tangannya yang hitam merengkuh dan meraba-raba payudaranya yang terbuka bebas. Ketika ia sedang asyik meraba-raba payudara Liani dan memilin-milin kedua putingnya yang kemerahan itu dengan kedua jari telunjuknya, tiba-tiba:
    “Lianiii!,” terdengar suara Papinya memanggilnya.

    Bagi Liani, suara itu bagaikan guntur yang menggelegar.
    “Kamu dimana?” tanya Papinya dari kejauhan.
    “Anu, Liani di sofa ruang tamu depan, Pi,” kata Liani agak lega karena dari jarak suaranya ternyata Papinya masih di dekat ruang kerjanya (sehingga masih jauh dari dirinya).
    “Ngapain kamu disana?”
    “Eh, anu, aku lagi tiduran disini,” katanya agak gelagapan karena pada saat itu payudaranya yang telanjang berada dalam genggaman Dodo dan diremas-remasnya.
    “Memang kenapa Pi?”
    “Kamu mau sup jamur nggak? Papi mau nyuruh Bi Minah untuk manasin.”
    “Nggak deh Pi. A-aku masih kenyang koq.”
    “Beneran kamu nggak mau?”
    “Beneran Pi. Nanti kalo aku mau, aku langsung kesana deh. Sekarang Papi terusin aja kerjanya,” kata Liani sementara payudaranya masih terus diremas-remas Dodo.
    “OK deh kalo gitu,” katanya sambil masuk ke ruangannya.
    Setelah Papinya masuk ke ruang kerjanya kembali, mereka berdua jadi bebas merdeka. Kini Liani dalam posisi menungging. Dodo memasukkan kepalanya di dalam rok Liani. Didalamnya, mulutnya sedang asyik menjilati dan menghisap-hisap vagina Liani. Lidahnya menari-nari merangsang klitorisnya. Sementara kedua tangannya meraba-rabai sekujur tubuh Liani.
    “Ehhmm, ehmmmm, ehmmmm,” Liani mulai mendesah-desah. Tak lama kemudian vaginanya mulai basah.
    Kemudian ia melakukannya dengan berganti posisi. Liani dalam posisi berdiri.. Dodo berlutut di depannya. Kepalanya masuk di dalam rok abu-abunya. Dijilatinya bulu-bulu vagina serta vagina cewek itu dari depan. Vagina Liani dibuat basah kuyup karenanya.
    “Ooh…ohhh….ohhhhh,” Liani mendesah-desah lirih.

    Setelah itu gantian giliran Liani membuka retsleting celana panjang Dodo dan dibukanya celana berikut celana dalamnya. Batang penisnya yang hitam (lebih hitam dari kulitnya) menegang keras. Kepalanya besar telah basah karena cairan pre-cum yang keluar karena terangsang sejak ia menggrepe-grepe tubuh Liani. Dengan bersimpuh di depan Dodo yang sedang duduk, Liani mendekatkan mulutnya diantara kedua paha Dodo kemudian meng-oral penis hitam besar dan berurat milik Dodo itu. Bagaikan gadis manis yang patuh, disepongnya penis Dodo dengan konsentrasi penuh. Kini Liani sudah lebih pandai dalam melakukan hal ini. Dikulum dan diemut-emutnya penis hitam berurat itu. Di dalam mulutnya, dimainkannya lidahnya terutama di bagian kepala dan leher penis Dodo yang nampak Seperti jamur itu. Rambut Liani yang panjang agak keriting dan berwarna kecoklatan itu menyentuh dan menggelitik paha dan sebagian perut Dodo, membuatnya makin keasyikan. Dodo yang sedang duduk di sofa itu jadi keenakan menikmati penisnya disepong oleh Liani. Betapa kontras dan kontradiktif pemandangan itu. Cowok yang hitam jelek dari kalangan rendahan duduk santai di sofa mahal sementara di depan kakinya duduk bersimpuh anak cewek dari keluarga kaya yang putih cakep dan sexy yang dengan asyiknya mengulum penisnya yang hitam besar dan berurat itu. Liani, anak pengusaha kaya yang malam sebelumnya tampil mempesona seluruh tamu, kini dengan sukarela dan sepenuh hati melakukan pelayanan oral sex kepada Dodo, cowok kelas rendahan! Kondisi pakaiannya pun juga amburadul. Dan hebatnya lagi, semua itu dilakukan dibalik punggung bokapnya yang sedang berada di dalam rumah itu juga. Sungguh ini adalah peristiwa langka dan aneh! Beberapa saat kemudian Dodo menghentikan aksi Liani. Biarpun ia sangat menikmati kejadian kontradiktif itu, namun kalau begini terus-terusan nggak lama lagi bisa keluar spermanya. Rugi kalau belum menikmati tubuh cewek putih mulus itu. Setelah “cooling down” sejenak, segera diatur posisi tubuh Liani supaya vaginanya di atas penisnya sendiri. Supaya bisa, bleesss, masuklah penisnya yang hitam di dalam liang vagina Liani. Berat tubuh Liani membuat penis Dodo jadi masuk seluruhnya ke dalam vagina gadis putih itu (hukum gravitasi, man!). Meski begitu, vaginanya masih sempit dan seret. Setelah itu Liani menggerakkan dirinya naik turun, membuat penis Dodo yang keras dan hangat menembusi dan mengocok-ngocok vaginanya.

    Dodo menjilati dan menyedot-nyedot kedua putingnya. Ekspresi wajah Liani sungguh nampak kalau ia sangat menikmati itu. Apalagi ia juga mendesah-desah dengan erotis meski harus dengan menahan suaranya. Pada saat itu, terdengar suara pintu kamar kerja Papinya terbuka dan Papinya berkata,
    “Liani, sup jamurnya Papi taruh di meja makan. Nanti kalo kamu mau, langsung dimakan aja.”
    “Ehmm, ehmm, OK deh, Pi,” kata Liani sementara ia juga lagi asyik-asyiknya merasakan nikmatnya “jamur” Dodo mengocok vaginanya.
    “Buruan lho makannya, ntar keburu dingin nggak enak.”
    “Oh, oh, OK, OK, Pi,” kata Liani agak terengah-engah sambil tetap meneruskan irama naik turun tubuhnya di atas penis Dodo.
    Pada saat Liani berbicara itu, Dodo kembali menjilati dan menghisap-hisap puting payudara Liani. Matanya memandang ke wajah Liani yang mengekspresikan kenikmatan luar biasa saat ia menggoyang tubuhnya sendiri di atas penis Dodo, sambil sesekali menjawab pertanyaan Papinya.
    “Oh ya, abis ini Papi mau telpon sama client, jadi kamu jangan masuk ke kamar Papi ya,” kata Papinya.
    “Ok, OK,” katanya sambil tubuhnya terus bergoyang-goyang dan menatap Dodo.
    “Beneran lho. Papi nggak mau diskusi Papi diganggu.”
    “Iya, Iya. Pi. Aku udah ngerti ga perlu diulang-ulang gitu. Udah sekarang Papi kerja aja lagi. Aku juga ga bisa konsentrasi kalo diganggu gini terus,” kata Liani mulai kesal dengan terus menggoyang tubuhnya.
    “Ooh, kamu lagi belajar tho. Ya udah Papi masuk dulu. Kamu terusin aja belajarnya,” katanya sambil masuk ke dalam ruang kerjanya.

    Setelah itu mereka mengubah posisi ke doggy style, dimana penis Dodo menyodok-nyodok vagina Liani dari belakang. Sementara kedua tangannya menepuk-nepuk dan meremas-remas payudara Liani yang tergantung bebas diantara baju seragamnya yang terbuka. Setelah itu mereka berganti beberapa posisi. Meski sempat terganggu beberapa kali, akhirnya Liani bisa mendapatkan orgasme-nya saat Dodo menyetubuhinya dalam posisi ia tiduran dan kedua kakinya ditekuk keatas (nggak tahu apa nama posisi ini). Semuanya itu dilakukan dengan baju seragamnya masih melekat di tubuhnya. Ia sengaja tidak mau melepas baju seragamnya dari tubuhnya, supaya di saat emergency (apabila Papinya datang ke tempatnya), ia bisa langsung cepat membereskan pakaiannya. Sementara bagi Dodo, hal ini membuat diri Liani jadi semakin menggairahkan. Belum pernah sebelumnya ia menggarap cewek yang putih cakep dan sexy dengan masih memakai seragam sekolah. Sesaat setelah Liani orgasme, Dodo juga sudah ingin segera memuntahkan seluruh isi penisnya. Ia menidurkan Liani di sofa empuk itu, membuka kedua pahanya lebar-lebar, lalu ia segera akan memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani, ketika tiba-tiba,
    “Liani!”
    “Ada apa lagi sih, EHHH…Pi?” Pada saat Liani mengeluarkan suara “EHHH” itu adalah saat dimana Dodo dengan tak sabar lagi memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani.
    Liani sedang menatap Dodo yang mengocok penisnya di dalam vaginanya, ketika ia mendengar Papinya berkata,”Ada yang mau Papi omongin ke kamu. Papi kesitu bentar ya.”
    “Eh! Jangan Pi. EHHH. Aku aja yang ke tempat EHHH Papi. Tunggu bentar deh Pi EHHH,” kata Liani panik mendengar Papinya akan kesana sementara itu Dodo lagi asyiknya menggoyang tubuhnya.
    Liani memukul-mukul lengan Dodo, memberi isyarat supaya menghentikan aksinya, namun Dodo yang sudah hampir keluar ogah menghentikannya malah dengan cuek terus saja menggenjot dirinya.
    “Nggak apa-apa Papi aja yang kesana. Cuman mau ngomong sebentar aja kok,” katanya sambil berjalan ke depan menuju ke sofa.
    Liani mulai panik ketika ia mendengar langkah kaki Papinya mendekati dirinya.
    “Nanti aja, Pi.” (Cleeb, cleeeb, cleeeb, sementara penis Dodo terus mengocok vaginanya)
    Namun suara langkah kaki itu semakin mendekatinya…
    Ah, sudah terlambat, pikirnya pasrah. Sekarang sudah tak sempat lagi beresin pakaian. Apalagi posisi dirinya yang “dikunci” oleh Dodo seperti ini.
    Mati deh, gua.
    Udah deh pasrah nasib aja, batin Liani dengan lemas.
    Suara langkah Papinya semakin dekat aja…sementara penis Dodo masih berada di dalam vaginanya dan menggenjotnya.
    Persis pada saat Papinya hendak melangkah masuk ke ruang tamu itu dan Liani sudah bisa melihat bayangan Papinya dari lantai…
    Tiba-tiba,
    “Kriiiinngg, Kriiinnngg,” telepon Papinya di ruang kerjanya berbunyi.
    “Ah, itu pasti client Papi lagi. Sebentar ya Papi terima telpon dulu,” kata Papinya sambil setengah berlari berbalik ke ruang kerjanya.
    Aduuuh, leganya, batin Liani seolah terbebas dari himpitan beban puluhan ton. Sementara itu, Dodo terus mengocok penisnya di dalam tubuh Liani, sampai akhirnya memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina Liani. Entah ikutan tegang atau exciting, ia mengeluarkan sperma dalam jumlah yang amat banyak. Setelah mengeluarkan seluruhnya akhirnya melemaslah penis Dodo dan dikeluarkannya dari vagina Liani. Sementara itu Liani merasakan vaginanya berdenyut-denyut rasanya karena masih fresh baru dikocok oleh Dodo apalagi dikocok abis seperti itu.

    Ia mendengar Papinya telah selesai bicara di telepon dan kembali berjalan menuju ke arahnya. Kali ini, tak mau ketangkap basah, buru-buru ia merapikan pakaiannya. Dikaitkannya kembali branya, dikancingkan seluruh kancing bajunya. Sebelum Papinya sampai ke tempatnya, ia cepat-cepat mendahului keluar dari ruang tamu itu. Ia sudah tak sempat lagi memakai celana dalamnya yang saat itu tergeletak di atas meja kecil di dekat sofa (yang biasanya untuk menaruh minuman buat tamu). Biarin aja nggak usah pake celana dalam. Kalo mesti pake celana dalam lagi, salah-salah entar ga keburu. Toh gini juga Papi nggak akan tahu kalau sekarang aku nggak pake celana dalam, pikirnya.
    “Memang Papi mau ngomong aja sih ke Liani,” tanya Liani kepada Papinya yang seketika menghentikan langkahnya begitu melihat Liani muncul. Hati Liani deg-degan dan waswas kalau-kalau Papinya tahu apa yang baru dilakukannya. Tapi ia sok pede aja. Saat itu jarak diantara keduanya kira-kira 4 meter.
    “Papi ada urusan bisnis mendadak dan harus keluar kota besok pagi-pagi. Papi perlu pergi kira-kira seminggu. Karena itu Papi minta Tante Frida untuk nenemin kamu selama Papi nggak ada. Nggak baik anak cewek ditinggal lama-lama cuma dengan pembantu. Jadi nanti kamu mesti nurut sama omongan Tante Frida, ok?
    “OK, nggak masalah Pi,” kata Liani tanpa berpikir banyak.
    Sementara ia sedang berbicara itu, Liani merasa vaginanya masih berdenyut-denyut mungkin akibat baru selesai dikocok habis-habisan oleh Dodo. Oleh karena sperma yang dimuntahkan di dalam vaginanya cukup banyak, ia merasakan kalau vaginanya kini “dripping” yaitu mengeluarkan sebagian sperma di dalamnya seirama dengan denyutan-denyutan yang dirasakan di vaginanya itu. Apalagi dalam posisinya yang berdiri begini dan tidak memakai celana dalam. Ia merasakan ada lelehan sperma yang keluar dari vaginanya menetes turun ke bawah membentuk anak sungai mengalir ke bawah membasahi bagian dalam pahanya di balik rok abu-abunya, bahkan ada yang turun ke bawah sampai kakinya dan diresap oleh kaus kakinya.

    Karena takut Papinya memperhatikan adanya cairan yang mengalir dari selangkangannya itu, ia merapatkan kedua kakinya sehingga sperma yang selanjutnya keluar tertahan oleh pahanya. Ia menggunakan rok seragam abu-abunya untuk meresap cairan itu. Sehingga kini rok abu-abunya menjadi basah berlendir di bagian belakangnya. Namun rupanya Papinya tidak memperhatikan hal itu. Karena tak lama setelah itu, Papinya kembali masuk ke ruang kerjanya.
    “Sialan lu! Lu bikin gua ketakutan setengah mati tadi. Udah tahu mau jalan kesini, bukannya berhenti malah sengaja diterusin,” kata Liani sewot sambil memukul tubuh Dodo dengan tangannya.
    “Ya gimana ya, soalnya tanggung sih,” kata Dodo cengengesan, “Udah hampir keluar masak kok diputus di tengah jalan.”
    “Untung tadi ada telpon, kalo sampe ketauan Papi gimana?,” kata Liani masih sewot.
    “Ga bakalan lah. Buktinya barusan ga ketauan khan?” kata Dodo dengan enteng..
    “Kacau dah lu. Lain kali jangan gitu deh.”
    “Udaah, jangan marah terus. Khan sekarang udah aman. Lagian tadi gimana, enak khan?” kata Dodo sambil senyum-senyum.
    Liani masih cemberut, di dalam hati mengakui kalau pengalaman barusan sungguh menegangkan dan menakjubkan.
    “Jangan lupa, ini dipake lagi,” kata Dodo sambil menyodorkan celana dalam hijau muda ke arah cewek itu,”Nanti kasihan tamu bokap lu jadi kaget ngeliat ada cd lu tergeletak disini,” katanya cengengesan.
    “Gokil deh lu,” kata Liani sambil segera merebut celana dalam miliknya itu dari tangan cowok itu.
    Tak lama kemudian Dodo meninggalkan rumah itu. Sehingga tidak ada orang lain yang tahu selain mereka berdua kalau saat itu Dodo menyusup masuk ke dalam rumah itu (dan juga menyusup masuk ke dalam vagina anak cewek penghuni rumah itu).

    —@@@@@@@—–
    Beberapa hari kemudian

    Malam itu Liani sedang tiduran di atas ranjang. Ia memakai pakaian tidur warna merah muda. Baju tidurnya seperti hem tangan panjang yang tipis kainnya.. Ia tidak memakai rok atau celana bawahan. Bajunya cukup panjang untuk menutupi celana dalamnya, meski tak cukup panjang untuk menutupi pahanya yang putih mulus. Karena posisi tidurnya yang telungkup, sehingga lekukan pinggulnya tampak menonjol. Rambutnya yang panjang diikat dengan gelang rambut sehingga nampak jelas lehernya yang putih. Sebagian gundukan payudaranya terlihat di balik celah kerah bajunya dalam posisinya yang telungkup itu. Ia nampak asyik membaca majalah remaja dan membolak balik halamannya. Sesekali ia mengubah posisi tubuhnya dengan memiringkan tubuhnya sehingga sesekali nampak tonjolan putingnya di balik bajunya yang tipis. Karena ia memang tidak memakai bra. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan ke meja riasnya. Payudaranya ikut bergerak-gerak di balik bajunya seiring dengan langkahnya. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya. Payudaranya nampak lebih jelas lagi di saat ia berdiri seperti ini. Setelah selesai minum ia menatap refleksi dirinya dari kaca meja riasnya. Ia melihat apakah ada jerawat di mukanya. Namun tidak ada dan mukanya sama sekali mulus. Lalu ia merapikan rambutnya. Di usianya yang hampir 18 tahun, ia benar-benar seorang gadis muda dengan daya tarik seksual yang tinggi. Wajahnya cantik dan putih bersih. Tubuhnya juga sexy. Makin nampak sexy aja dengan baju tidur yang tipis begini. Kainnya yang tipis mengikuti lekuk liku dan tonjolan payudaranya. Kedua putingnya tercetak cukup jelas. Kedua pahanya putih mulus. Dan pinggulnya menonjol di balik bajunya. Ia nampak santai dan cuek dengan pakaian seadanya seperti itu. Karena memang tidak ada orang lain di dalam kamarnya itu.

    Pada saat ia sedang menatap dirinya di meja riasnya, tiba-tiba terdengar suara sms masuk. Segera ia mengambil handphone-nya dan melihat sms itu. Ternyata dari Dodo. Bunyi pesannya,”Gua pengin mampir kesana besok sore. Situasi aman?” Lalu ia membalas,”Jangan!!! Disini lagi ada nenek sihir.” Nenek sihir yang dimaksud Liani adalah Tante Frida, saudara sepupu Papinya. Ia adalah seorang perawan tua karena usianya sudah 45 tahun dan belum menikah. Tampangnya judes dan cara berbicaranya ketus. Ia selalu memakai kacamata berbingkai warna hitam. Ia tidak terlalu suka dengan tantenya ini karena orangnya kolot dan suka sok mengatur. Apalagi terhadap gadis muda seperti dirinya yang dianggapnya harus dikekang dan dimonitor terus. Ditambah lagi ia dianggapnya terlalu berani dalam hal cara berpakaian. Menurut tantenya, seorang wanita apalagi gadis muda seumur Liani tidak seharusnya berpakaian dengan menampilkan daya tarik seksualnya. Sungguh sial bagi Liani, kali ini ia harus tinggal bersama tantenya itu selama hampir seminggu. Papinya ada urusan bisnis yang mengharuskannya keluar kota selama seminggu. Oleh karena itu ia meminta Tante Frida untuk tinggal di rumah itu selama ia keluar kota. Supaya Liani ada temannya dan tidak sendirian di rumah hanya dengan pembantu. Namun hal itu malah menjadi siksaan bagi Liani. Karena tantenya itu selalu menasehatinya hal yang sama terus menerus. Dan tantenya ini selalu berkomentar negatif mengenai pakaian yang dipakainya. Bahkan baju seragamnya pun juga tak lepas dari kritik, menurutnya kain bajunya terlalu tipis dan roknya terlalu pendek. Namun apa daya, karena Papinya selalu mempercayai saudara sepupunya untuk mengawasinya. Mungkin karena Tante Frida adalah satu-satunya saudaranya yang single. Sehingga lebih mudah untuk diminta tinggal disana. Setelah membalas sms Dodo, ia balik lagi meneruskan bacaannya sambil tiduran.

    Beberapa saat kemudian, ia hendak mengambil sesuatu di luar. Ia tahu kalau tantenya melihatnya pasti pakaiannya dikomentarinya. Namun dilihatnya lampu di ruang tengah sudah gelap. Pertanda bahwa tantenya dan pembantunya telah masuk ke kamarnya. Lalu ia keluar dari kamarnya dengan cuek. Akan tetapi selagi ia sedang di ruang tengah, tiba-tiba tantenya keluar dan menyalakan lampu. Begitu melihat tantenya keluar, Liani menyapanya, “Eh, Tante belum tidur?”
    Namun tantenya malah menguliahinya,”Aduh Lianiii. Sudah berapa kali tante bilang. Pakaian kamu itu lho. Nggak siang nggak malam sama aja. Masa anak gadis kok pakaiannya seperti itu.”
    “Ya khan nggak apa-apa kalo di rumah sendiri, Tante.”
    “Biarpun di rumah sendiri tetap aja nggak pantas, Liani. Sebagai anak gadis kamu harus selalu berpakaian sopan dan tertutup biar pun didalam rumah sekalipun. Bukannya pamer paha pamer dada seperti sekarang ini. Kalo ada cowok yang ngintip gimana?”
    “Memang siapa yang ngintip, tante? Disini khan cuman ada tante dan Bi Minah..”
    “Ya bisa aja kacung di rumah sebelah ngintip dari atas tembok. Memang kamu mau diintip sama kacung atau sopir sebelah? Masa kamu nggak malu?”
    “Iih, kok tante ngomongnya begitu sih.”
    “Dan lagi kamu itu kalo Tante kasih nasihat selalu nggak digubris. Coba lihat pakaian kamu itu. Kayak hampir telanjang aja. Kalo nanti kepergok tukang sampah gimana? Apalagi kamu nggak pake bra gini. Senang ya kamu diliatin sama tukang sampah. Jangan-jangan kamu sekarang juga nggak pake celana dalam kali.”
    “Tante kok jadi ngomongnya gitu sih. Khan Liani memang juga sudah mau tidur.. Dan lagi juga nggak ada siapa-siapa disini selain tante dan Bi Minah. Kalo ada orang juga Liani nggak akan keluar kamar pake pakaian kayak gini doang. Liani juga ngerti tante.”
    “Kamu dari dulu bisanya selalu membantah aja kalo dinasehati orang tua. Jangan-jangan kamu memang suka ya dilihat telanjang sama cowok? Iya?! Kalo memang gitu, kenapa nggak sekalian aja lepasin baju kamu semua lalu keluar di jalanan! Biar jadi tontonan hansip dan kuli bangunan!! Atau sekalian kamu pengin digilir rame-rame?!”
    “Iiih. Tante kelewatan deh!” kata Liani dengan mata memerah.

    Demikianlah dua perempuan berbeda generasi itu bertengkar. Tak lama kemudian, masuklah tantenya ke dalam kamarnya dengan menutup pintunya dengan keras.. Liani pun juga mengikuti langkahnya dengan masuk ke dalam kamar sendiri dan menutup pintunya dengan tak kalah kerasnya. Demikianlah Liani dan tantenya yang tak pernah bisa akur dari sejak dulu dan terutama beberapa tahun terakhir ini. Sebenarnya tidak semua nasehat tantenya 100% salah. Namun Liani sukar menerimanya karena tantenya terlalu mendikte dan otoriter. Dan, diam-diam ada rasa iri di dalam diri tantenya terhadap Liani apalagi sejak Liani menginjak masa remaja. Karena Liani semakin tumbuh berkembang menjadi gadis yang cantik dan menarik, sementara ia sendiri semakin memasuki usia tua bagaikan bunga yang memasuki masa layu. Padahal ia masih single. Oleh karena itu, ia berusaha meredam daya tarik kewanitaan Liani. Ia tak suka kalau keponakannya itu menarik perhatian para cowok. Dan perasaan iri tantenya itu bisa dirasakan oleh Liani. Ia menganggap kalau tantenya itu pura-pura bermaksud baik menasehatinya padahal sebenarnya ingin membuatnya mengikuti jejaknya, yaitu menjadi perawan tua dengan sama sekali tak pernah berhubungan dengan pria. Selain itu juga ia nggak suka dengan kata-kata tantenya yang pedas dan kasar itu, seperti kalimatnya yang terakhir. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia mempunyai keinginan terpendam untuk menjadi bad girl, untuk melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang diajarkan keluarganya selama ini. Sejak kecil ia sering mendapat petuah-petuah maupun ajaran-ajaran dari orang tua maupun kerabat-kerabat dekat lainnya:
    “Kamu harus begini.”
    “Kamu tidak boleh begitu.”
    “Kamu harus kesana.”
    “Kamu tidak boleh kesitu.”
    “Anak baik tidak melakukan itu.”
    “Anak papi harus rajin belajar.”
    “Kamu harus patuh terhadap orang tua.”
    “Kalo kamu nggak berbuat begitu, Papi nggak sayang sama kamu.”
    “Kamu harus sekolah di sekolah X dan harus berprestasi.”
    dst, dst, dst.
    Sejak kecil ia tumbuh dan dibentuk sesuai dengan keinginan orang tua dan kerabat dekatnya supaya mereka bisa menggunakannya sebagai sarana untuk membanggakan diri kepada teman-temannya. Sementara hal itu mengorbankan dirinya karena ia sama sekali tidak mendapatkan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau berekspresi sesuai dengan keinginannya. Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya yang menyebabkan ia menjadi bad girl adalah…KEMUNAFIKAN! Kebanyakan keluarga dan kerabatnya sering memberi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang bagus-bagus. Namun mereka sendiri tidak menjalankannya, malah melanggar kata-katanya sendiri. Contohnya yang paling jelas adalah Papinya sendiri. Papinya sok moralis dalam hal memberi nasehat tapi ia sendiri malah diam-diam mempunyai istri simpanan, tidak hanya satu tapi beberapa. Dan banyak lagi contoh yang lain. Oleh karena hal seperti itu menumpuk terus menerus dari sejak kecil dan hanya bisa dipendam di dalam hatinya, akhirnya diam-diam timbul benih-benih pemberontakan di dalam dirinya. Itu sebabnya mengapa tak ada resistensi yang cukup berarti dari dirinya saat Dodo ingin melaksanakan kehendaknya untuk memerawaninya. Perbuatannya dengan Dodo itu sungguh merupakan cara pemberontakannya dengan skala yang hebat. Image-nya selama ini sebagai seorang gadis yang sopan, alim, cantik, pintar, menarik, dari keluarga terpandang, dll, dsb. Cara terhebat untuk memberontak dari citra yang sedemikian tinggi adalah dengan menyerahkan kegadisan dan kehormatannya kepada cowok ugal-ugalan, apalagi yang berbeda jauh dan kelasnya jauh lebih rendah di bawah standar keluarganya. Demikianlah, meskipun dari luarnya Liani nampak seperti memiliki segalanya, namun sebenarnya ia tidak mempunyai pegangan hidup. Kini jadilah ia sebagai seorang gadis dengan image begitu tinggi namun punya sisi lain kehidupan yang parahnya sungguh di luar batas imaginasi yang paling liar sekalipun. After all, ia hanya meng-copy kelakuan dan kemunafikan orang-orang dewasa di sekitarnya. Beruntunglah Dodo yang mengenal Liani disaat yang tepat sehingga ia menjadi cowok pertama yang beruntung bisa mencicipi kegadisannya dan selanjutnya menikmatinya lagi, lagi, dan lagi.

    —@@@@@@@—–

    Untuk mengurangi waktunya di rumah, Liani lebih banyak pergi dengan teman-teman cewek sekelasnyanya. Itupun juga tak lepas dari kritikan tantenya.
    “Aduuh Liani. Masa rok kamu sependek itu. Nanti kalo naik eskalator, celana dalam kamu bisa diliat orang.

    “Atau,
    “Baju kamu itu terlalu ketat dan sexy. Lehernya terlalu rendah. Lihat dadamu sampe keliatan gitu.
    dll, dll.
    Saat itu ia ikut-ikutan temannya memotong rambutnya sampai pendek. Sehingga kini rambutnya pendek seperti cowok. Namun hal itu tak mengurangi daya tarik dan kecantikannya. Selama hampir seminggu Liani tersiksa dengan kehadiran Tante Frida. Dan selama itu pula ia benar-benar melarang Dodo untuk datang meskipun beberapa kali ia memaksa ingin datang. Ia tidak mau mengambil resiko karena Tante Frida orangnya lebih teliti dan lebih suka ngurusin bahkan dibanding Papinya sekalipun. Namun, akhirnya kesampaian juga niatnya mengelabui tantenya. Pada hari terakhir tantenya tidak enak badan dan ia banyak tiduran di kamarnya. Melihat hal itu, Liani nekat memperbolehkan Dodo datang ke sana dan segera dimasukkan di dalam kamarnya. Bagi Dodo tentu kebetulan karena sudah lama juga ia tak menikmati diri Liani. Beruntunglah Liani, karena saat Dodo datang, tantenya masih tidur di dalam kamarnya. Diam-diam ia memasukkan Dodo ke dalam kamarnya. Sehingga tanpa diketahui orang lain termasuk tantenya yang jeli, mereka berdua “adu gulat” dan bersenang-senang di atas ranjangnya di dalam kamarnya. Apalagi Dodo, melihat Liani sekarang berambut pendek, menjadi tambah bernafsu. Ia ingin mencicipi “rasanya” Liani dengan rambut pendek dan membandingkannya dengan saat berambut panjang. Dan hasilnya ternyata nggak mengecewakan. Malah kini ia bisa melihat lebih jelas bagian-bagian tertentu tubuhnya (leher, bahu, dan dadanya) yang sebelumnya tertutup rambutnya. Dan Liani juga mendapatkan kepuasan tersendiri. Karena selain Dodo (yang lagi-lagi) mampu membuatnya orgasme, pada akhirnya ia berhasil mengelabui tantenya. Saat itu sempat tantenya mengetuk kamarnya dan mengajaknya berbicara dari luar, yang dijawabnya dari dalam kamar. Padahal saat berbicara dengan tantenya itu, tangannya sedang mengocok penis Dodo. Dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan payudaranya lagi diremas-remas oleh Dodo. Dan tantenya sama sekali tidak tahu hal itu sampai akhirnya Dodo meninggalkan rumahnya.

    —@@@@@@@—–

    Demikianlah, Liani yang sebelumnya adalah cewek yang benar-benar alim, sejak mengenal Dodo, kini menjadi cewek yang “alim”. Tanpa terasa beberapa bulan telah lewat dan mereka tetap berhubungan seperti itu. Sampai akhirnya terjadilah peristiwa menyakitkan yang menyebabkan mereka akhirnya berpisah. Awalnya dimulai dengan keinginan Dodo untuk berusaha “memamerkan” Liani kepada teman-teman geng-nya. Semenjak ia berhasil memerawani Liani dan terus menerus melanjutkan hubungan terlarangnya, beberapa kali ia membual kepada teman-temannya bahwa ia telah menikmati keperawanan dan menjalin hubungan dengan “cewek cakep yang digodain waktu itu”. Teman-temannya semuanya pada mentertawakannya dan menganggapnya membual. Untuk membuktikan kepada teman-temannya sekaligus untuk meningkatkan ego maskulinnya, ia berusaha mencari cara untuk bisa membuktikan kepada teman-temannya. Namun segala upayanya selama ini selalu kandas, karena Liani cukup berhati-hati dalam menjaga supaya rahasianya tidak diketahui orang. Liani memang selalu menuruti kemauan Dodo dalam masalah seks dan ia cenderung dalam posisi yang pasif dan “nrimo” aja. Namun dalam hal menjaga rahasianya dan reputasinya, ia betul-betul orang yang berbeda. Sehingga sukar bagi Dodo untuk bisa melaksanakan
    tujuannya. Apalagi dalam hal kepandaian dan kecerdikan, Liani jauh lebih pandai dan cerdik dibanding Dodo. Oleh karena gagal terus, akhirnya timbul perasaan kesal Dodo terhadap Liani. Kini ia mulai merasa bahwa selama ini dirinya dikendalikan dan dimanfaatkan oleh Liani.

    Baca Juga Cerita Seks Liani: The Sweet Innocent Girl

    Perasaan itu timbul semakin kuat setelah beberapa kali ia merasa diabaikan oleh Liani. Yang paling utama adalah saat Liani merayakan ulang tahunnya yang ke-18, ia mengharapkan Liani mengundangnya. Namun apa lacur, ternyata Liani sama sekali tak mengundangnya. Hal itu membuatnya sakit hati. Sementara bagi Liani, adalah sulit baginya untuk mengundang Dodo. Pertama, apa alasannya mengundang Dodo di tengah-tengah teman-teman dekat dan kerabat-kerabatnya? Tentu orang-orang akan heran kalau tahu ia berteman dengan orang seperti Dodo. Tidak mungkin ia mengatakan kepada mereka bahwa ia berteman akrab dengan Dodo. Dan, kedua, ia sengaja tidak mau mencampurkan Dodo dengan kenalan maupun kerabatnya karena ia tidak mau Dodo kelepasan bicara mengenai hubungan terlarangnya kepada mereka. Sementara bagi Dodo, ia membutuhkan pengakuan serta keinginan untuk membanggakan “prestasinya” sebagai bagian dari ego maskulinnya. Dan banyak lagi kejadian-kejadian yang seperti
    ini. Dengan adanya friksi-friksi itu mereka jadi sering saling tidak bicara. Dan hal itu terjadi semakin lama semakin sering. Namun di sela-sela pertengkaran mereka itu, ada pula saat-saat dimana mereka berbaikan kembali dan kembali melakukan hubungan seperti dulu. Pada suatu hari setelah mereka saling tidak berbicara, akhirnya mereka baikan lagi. Selanjutnya mereka janjian untuk ketemuan lagi. Pada waktu seharusnya mereka bertemu, tiba-tiba Liani membatalkannya. Karena ia mendadak harus menghadiri salah satu acara bisnis Papinya. Hal ini membuat Dodo menjadi kecewa dan merasa dilecehkan. Sampai akhirnya timbul perasaan marah, benci, dan dendam terhadap Liani. Diam-diam ia berniat membalas dendam terhadap cewek itu. Ia menyusun rencana untuk betul-betul bisa menghina dan merendahkan cewek itu. Sampai akhirnya muncullah ide bagus yang pelaksanaanya harus menunggu waktu dan situasi yang tepat…

    —@@@@@@@—–

    Pada suatu hari, Dodo menelpon Liani dan mengajaknya melakukan “sesuatu yang lain daripada yang lain.” Belakangan ini hubungan mereka lagi bagus-bagusnya. Karena memang Dodo sengaja berusaha menarik hati Liani. Sungguh beruntung bagi Dodo. Liani yang biasanya cukup hati-hati, pada hari itu sungguh lengah. Sehingga akhirnya ia menuruti kemauan Dodo dan berhasil dibawanya ke suatu tempat. Dengan mengendarai motornya, Dodo membawa Liani ke satu gudang tempat besi tua. Ternyata ia mengajak Liani untuk bermain seks di tempat yang kumuh itu.. Dikatakannya bahwa hal itu akan memberikan sensasi yang berbeda. Dan tempat itu aman karena hanya dijaga oleh pamannya yang saat itu lagi tidak bertugas. Memang keadaan disana sepi. Tidak ada orang lain selain mereka. Di salah satu ruang, ada tikar dan sofa yang bakal jadi tempat “bertempur” mereka. Saat itu Liani memakai celana jins dan jaket. Sesampainya disana, dilepaskannya jaketnya. Dan didalamnya ia memakai kaus tanktop ketat warna ungu dengan belahan dada cukup rendah. Dadanya nampak menonjol di balik kaus ketat dan tampak lupa belahan dada bagian atasnya. Tak perlu berlama-lama, Dodo segera memulai aksinya. Diraba-rabanya tubuh cewek putih yang dibalut kaus ketat itu. Sampai akhirnya dilucutinya pakaian gadis itu satu persatu sampai akhirnya ia telah bugil seluruhnya di dalam gudang tua itu. Sementara ia sendiri juga telah melepaskan seluruh pakaiannya sampai telanjang bulat. Nampak penisnya yang ngaceng berdiri dengan tegaknya menyaksikan Liani yang putih mulus dalam keadaan telanjang bulat juga itu. Pada saat itulah Dodo mengajaknya maen dengan mata ditutup.
    “lu belum pernah khan disetubuhi dengan mata tertutup. Cobain yuk.”
    “Emang apa enaknya.”
    “Kalo pengin tahu seperti apa rasanya, ya cobain aja. Khan lu suka hal-hal yang aneh-aneh dan nggak umum. Makanya lu gua ajak kesini.”
    Akhirnya Liani menuruti saran Dodo dan sehingga ia tak bisa melihat apa-apa karena matanya ditutup kain hitam.

    Kemudian di atas tikar di lantai itu, Dodo menggenjot Liani yang dalam keadaan mata tertutup. Kalau biasanya ia mengenjot-enjot cewek putih mulus ini di atas ranjang yang empuk, kini ia melakukannya di atas tikar yang keras. Namun hal ini tak mengurangi kenikmatannya. Sementara Liani sendiri juga nggak masalah ditindih tubuh Dodo yang hitam dan digoyang-goyang diatas tikar yang keras itu. Terbukti ia terus mendesah-desah dan mengerang-erang dengan erotis.

    “Tadi khan kita sudah maen di tikar, sekarang yuk kita maen di sofa ini. Tapi sebelumnya temukan dulu gua.” Kemudian Dodo menyalakan radio yang ada di ruangan itu supaya Liani tak bisa mendengar langkah kakinya.
    Liani yang matanya tertutup mencoba menggapai-gapai Dodo,” Eh, lu dimana sih”, tanyanya.
    “Gua ini di depan lu,” katanya sambil menjawil payudara Liani.
    Kemudian Liani maju ke depan dan mencoba mencari-cari Dodo lagi,”Dimana sih lu,” katanya sambil tangannya menggapai-gapai ke depan.
    “Gua disini lagi,” katanya di sebelah kanan Liani sementara payudaranya kena diremas. Liani berusaha menangkap tangan iseng itu, namun ia kalah cepat.
    “Aah, lu curang pindah-pindah tempat gitu,” kata Liani sambil merajuk. Selain matanya yang tertutup, seluruh badannya tidak ditutupi selembar benang pun. Ia berjalan kesana kemari dalam keadaan telanjang bulat.
    “Hehehehe. Kacian deh lu. Ayo coba cari dimana gua,” katanya dan tak lama kemudian ada lidah iseng yang menjilat putingnya yang kemerahan.
    “Iih, gokil deh lho.
    “Ayo lagi,” katanya sambil meraba punggung Liani yang putih mulus dan meremas pantatnya. Namun saat hendak menangkapnya, lagi-lagi Liani kalah cepat.

    “Ayo, gua di kiri lu sekarang,” katanya. Saat Liani menggapai-gapai ke arah kiri, ada tangan yang merogoh vaginanya dari belakang. Ia sempat menjepit tangan itu dengan kedua kakinya, namun tangan itu berhasil lepas dari jepitannya sebelum tangannya berhasil menangkap tangan jahil itu.
    “Aah, cape ah gini terus. lu nya curang,” kata Liani berhenti di tempat.
    “Ok deh, gua disini, say. Jangan ngambek gitu donk, kata Dodo. Ia berdiri persis di belakang Liani. Tubuhnya yang hitam menempel ke tubuh Liani yang putih mulus. Tangannya yang satu menggerayangi dadanya dan yang satunya lagi meraba-raba paha dan bulu vaginanya. Sementara kepalanya didekatkan di leher Liani yang putih itu dan menciuminya.
    “Oooh emmmhhh,” desah Liani.
    Kemudian Dodo membalikkan tubuh Liani dan menciumi bibirnya. Sambil berdiri mereka saling berpelukan erat. Tubuh keduanya melekat satu sama lain. Dada Dodo menempel di payudara Liani. Demikian pula dengan perut, paha, dan kaki. Warna kulit keduanya kontras banget. Setelah itu Dodo membimbingnya ke sofa dan mendudukkannya. Satu kakinya dinaikkan ke tempat sandaran sofa sehingga posisi kakinya terbuka lebar-lebar. Tak lama kemudian dirasakannya mulut Dodo yang menjilati vaginanya. Sementaranya tangannya meremas-remas payudaranya dan memainkan kedua putingnya dengan jari-jarinya.
    “Oooh, oooohh, oooohhh,” desah Liani merasakan nikmatnya. Apalagi ia merasakan teknik jilatannya berbeda dengan sebelum-sebelumnya membuat vaginanya jadi basah kuyup.
    Lalu bibir Dodo berpindah ke payudaranya. Dihisap-hisap dan dikenyot-kenyotnya payudara yang putih dan padat berisi itu bergantian. Ujung lidahnya dengan lincah menari-nari di sekitar puting Liani yang kemerahan.
    “OOOooooOhhhhhh, desah panjang Liani.

    Tak lama kemudian Dodo memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani yang memang sudah cukup terangsang untuk disetubuhi itu, dan mengocoknya dengan keras sampai payudaranya berputar-putar dan seluruh tubuhnya berputar-putar.
    “Oooh, ahhhhhh, ahhhhhhhh.”
    “emmmh, emmmhhh, emmmhhhhhh.”
    Kemudian ia mencabut penisnya dan mendekatkannya ke mulut Liani dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
    “Shleeb, shleeeb, shlleeeb.”
    Dengan mahir Liani mengemut-emut, menyedot-nyedot, dan mengulum penis yang ada di dalam mulutnya itu. Kemudian ia kembali menikmati tubuh Liani dengan menyetubuhinya dalam posisi doggy style diatas sofa itu. Setelah itu giliran Liani yang ada diatas. Dipangkunya Liani diatas sofa itu kemudian diatur supaya penisnya masuk menembus vaginanya kemudian terjadilah gerakan naik turun yang membuat sofa itu bergetar-getar, disertai dengan desahan-desahan erotis Liani. Kemudian berbalik badan. Kalau sebelumnya Liani menghadap dirinya, sekarang memunggungi dirinya. Namun intinya tetap sama, yaitu Liani menggerakkan tubuhnya naik turun menikmati keperkasaan penis hitam yang menembus di dalam vaginanya.
    “Ahhh, ahhhh, ahhhhhhh.”
    “Ooooh, DOdooo, ohhhhhh.”
    “Emhhhh, emhhhhhh, emmmmhhhhh.”
    Demikianlah Liani meracau terus dengan liar, seliar gerakan tubuhnya. Entah kenapa hari itu ia merasakan sensasi yang sungguh berbeda saat Dodo menyetubuhinya dalam berbagai posisi dengan mata tertutup seperti itu. Sepertinya penisnya bisa berselang-seling berubah bentuk! Mungkin karena pengaruh sensasi matanya yang tertutup yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dan tak perlu menunggu lama, akhirnya Liani nggak tahan lagi. Cewek yang di sekolahnya dikenal sebagai cewek innocent itu, kini mengalami orgasme hebat akibat penis yang membobol dan mengocok-ngocok di dalam vaginanya.

    “Aduuuh, Dodo. Enak banget rasanya. Kenapa lu ga ngajak begini dari dulu-dulu,” kata Liani dengan napas terengah-engah. Ia benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.
    Sementara Dodo masih belum puas karena ia masih belum ejakulasi. Sebagai intermezzo, ia menyuruh Liani memijiti dirinya dengan menggunakan payudaranya.. Sehingga kini payudara Liani yang putih dengan putingnya yang kemerahan menjelajahi seluruh tubuh Dodo yang coklat kehitaman. Sungguh nikmat sekali dipijat oleh payudara cewek putih bersih dan cakep ini. Apalagi cewek ini masih sangat muda, 18 tahun. Dan lagi, cewek ini adalah anak orang kaya! Namun bersedia melayani cowok rendahan seperti dirinya. Kemudian Dodo menyuruh Liani menungging lagi di sofa.

    Kali ini ia bertanya ke Liani,”Kepala atau ekor?”
    “Apa sih maksud lu?”tanya Liani.
    “Sudah pilih aja. Ga usah mikir.”
    “Kepala.” Kemudian Dodo berpindah tempat ke depan, mendekatkan dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani.
    “shleeb, shleeeb, shleeeb.” Mulut Liani mengenyot-kenyot penis di dalam mulutnya itu.
    Setelah mencabut penisnya, Dodo bertanya lagi,” Kepala atau ekor?”
    Dan dijawab,”Ekor”, yang mengakibatkan,”Ahhhh, Ahhhhhh, AHhhhhhhh” suara Liani yang mendesah-desah karena vaginanya dikocok-kocok oleh penis Dodo dari belakang.
    Lagi-lagi dicabut penisnya, dan bertanya, “Kepala atau ekor?”
    Tergantung jawaban Liani, ia berpindah tempat, either ke mulut atau vagina Liani. Hal ini dilakukan berulang-ulang, sampai:
    “Koq lu ga pernah minta “atau” sih? Habis ini ya,” kata Dodo.
    “Emang kalau “atau” gimana? tanya Liani penasaran.
    “Hehehe, makanya coba donk,” kata Dodo.
    “OK, sekarang, Kepala atau ekor?” tanya Dodo.
    “Atau!”
    Dodo berpindah tempat ke depan, dimasukkan penisnya ke dalam mulut Liani dan digerak-gerakkan penisnya di dalam mulut Liani.
    “shleeb, shleeeb, shleeeb,” Liani lagi-lagi menyepong penis yang ada di depannya itu.

    Namun ia menghentikan aksinya dan protes,”Memang apa bedanya dengan kepala?”
    “Ooh, beda donk. Ayo lu terusin deh emutan lu sebentar lagi lu bakal tahu bedanya,” kata Dodo sambil memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani lagi yang segera dipatuhinya.
    “Nah, sekarang lu sendiri yang minta dan pengin tahu bedanya khan? Nah bedanya ini nih….” kata Dodo
    …..
    …..
    …..
    Belum selesai Dodo bicara, tiba-tiba
    Bleesss, Bleeess, Bleeesssss.
    Ada penis yang dengan perkasa menembus vagina Liani dari belakang dan mengocok-kocoknya dengan keras membuat tubuh Liani jadi terdorong dan semakin keras emutannya ke penis Dodo.
    Lho?! Kok bisa ada dua penis yang masuk ke dalam dirinya?
    Oleh karena heran dan terkejut, Liani membuka penutup matanya, dan dilihatnya Dodo berdiri di depannya. Penisnya berada di dalam mulutnya. Lalu penis siapa yang menembus dan mengocok-ngocok vaginanya? Ia melepaskan penis Dodo dari mulutnya dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat ternyata ada cowok berkulit hitam lain dan berbadan kekar di belakangnya lagi asyik menikmati vaginanya dari belakang! Sehingga kini ia dinikmati oleh dua orang cowok sekaligus! Oleh karena cowok itu sedang asyik menggenjot-genjot dirinya, sehingga tubuhnya ikut terdorong maju mundur seiring dengan gerakan cowok itu.
    “Lho! Koq….koq….,” Liani keheranan dan tak tahu harus berkata apa.
    “Heheheheh, bingung ya? Tanya sama cowok lu tuh,” kata cowok di belakang itu dengan wajah sinis terkekeh-kekeh.
    “Ayuk, terusin dulu say emutannya, tanggung nih. Ngomongnya ntar aja ya,” kata Dodo sambil memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani lagi. Sementara sodokan penis cowok di elakangnya itu otomatis membuat mulut Liani ikut bergerak maju mundur mengemut penis Dodo.
    “Bagus. Ayo, dorong terus yang kenceng Mas, supaya yang di depan ikutan enak juga,” kata Dodo kepada cowok itu sambil tersenyum puas. Kedua tangannya memegang rambut Liani dan ikut mendorong-dorong kepalanya.
    “Beress. Wah, gila! Betul-betul mantap nih cewek. Putihnya itu lho, bikin kagak tahan. Apalagi memeknya masih sempit banget. Lu bisa dapet cewek kayak gini darimana, Do?” kata cowok di belakang. Kedua tangannya mulai merengkuh payudara Liani yang menggantung itu. Diremas-remasnya payudara putih dan kenyal di dalam genggamannya itu.
    “Gimana rasanya, enak ya disodok depan belakang.”
    “Jadi dobel dah enaknya.”
    “Hehehehehe.”
    “Hahahahahaa.”

    Sementara kedua cowok itu terkekeh-kekeh menikmati aksinya, Liani merasa marah dan sakit hati terhadap Dodo. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa saat itu karena ia telah terlanjur disetubuhi begitu. Apalagi posisinya yang terjepit diantara keduanya. Lagi pula tak mungkin ia dapat melawan dua orang cowok yang jauh lebih bertenaga dibanding dirinya. Sehingga ia hanya bisa pasrah saja.
    Tak lama kemudian,
    “Ehhhhmm, ahhhhhh, ahhhhhhhhhh,” Dodo bersuara ketika ia akhirnya ejakulasi dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Liani. Sungguh puas rasanya bisa menumpahkan seluruh spermanya di dalam mulut cewek itu sekaligus membalas dendam terhadap cewek itu. Setelah Dodo selesai mengeluarkan penisnya,
    “Nah, ayo, sekarang ganti posisi ya,” kata cowok asing itu sambil menidurkan Liani di sofa. Lalu penisnya yang besar kembali menerjang vagina Liani dan menyodok-nyodoknya. Sementara tangannya meremas-remas payudara Liani.
    “Wahh, muluuss dan bening lagi. Hahahaha. Kulit dan body-nya pun sangat terawat. Kamu pasti anak orang kaya ya,” kata cowok itu sambil “memompa” Liani..
    “Belum pernah gue nyicipin anak orang kaya. Rasanya beda nih. Apalagi tampang lu cakep. Gua suka deh. Hehehehehe.”
    “Ayo Do, jangan bengong aja, rekamannya diterusin lagi,” perintah cowok itu kepada Dodo.
    “Ok, deh Mas,” kata Dodo mengambil beberapa foto dan video pemandangan itu dengan handphone cowok itu.

    Liani sungguh tak menyangka kalau dirinya telah ditipu mentah-mentah dan dikhianati oleh Dodo. Ia baru mengerti sekarang kenapa matanya ditutup dan kenapa Dodo menyalakan radio keras-keras. Supaya ia tidak melihat atau mendengar adanya orang lain dan supaya ia tidak mendengar bunyi “klik” kamera handphone itu. Kini ia merasa dirinya terhina. Apalagi sampai dirinya bisa disetubuhi oleh cowok tak dikenal tanpa seijin dan sepengetahuannya. Kini ia baru menyadari kalau ia telah disetubuhi oleh kedua orang ini secara bergantian sejak saat matanya tertutup tadi. Oleh karena itu kenapa penis “Dodo” seperti selang-seling karena memang ia dan cowok asing itu bergiliran menggenjot dan menikmati dirinya. Matanya merah seperti menahan tangis namun ia tak dapat berbuat apa -apa. Ia hanya menatap ke arah Dodo sementara tubuhnya berguncang-guncang digenjot oleh cowok itu. Cowok yang tak dikenalnya, bahkan namanya pun ia tak tahu! Meski tak mengatakan apa-apa, pandangan matanya menunjukkan bermacam-macam perasaan yang sedang berkecamuk di dalam hatinya, ada rasa bingung (kenapa Dodo sampai tega melakukan itu), amarah, terhina, tak berdaya, sedih, takut, dll. Dodo awalnya merasa puas karena akhirnya kesampaian niatnya memperdayai dan membalas dendam terhadap Liani. Namun semenjak ia berejakulasi tadi, rasa puas karena berhasil membalas dendam itu seketika sirna. Kini pandangan mata Liani yang menatap lekat-lekat ke arahnya, membuat dirinya jadi terguncang. Kepuasan membalas dendam itu kini lenyap tak berbekas malah berubah menjadi rasa kasihan dan malu terhadap gadis itu. Kini ia menyadari kalau pembalasannya ini sungguh sangat keterlaluan. Seharusnya ia merasa bersyukur karena selama ini Liani telah bersedia melayani dirinya. Ia membayangkan Liani yang tadinya begitu happy dan excited namun kini dalam kondisi yang terpuruk. Sungguh kontras sekali perbedaannya. Dan semuanya itu akibat perbuatannya!

    Kemudian, timbul perasaan aneh yang menjalar ke tubuhnya. Ia merasa hatinya disayat-sayat saat melihat senior di geng-nya itu menyetubuhi Liani di depan matanya. Apalagi lagak serta cara dia menyetubuhi cewek itu seperti layaknya orang yang menghina seseorang yang lebih rendah daripada pembantu. Setelah perasaan dendamnya menguap habis, baru sekarang ia menyadari kalau sebenarnya ia telah mencintai cewek ini! Malah kini ia menduga-duga, mungkinkah Liani diam-diam juga mencintai dirinya? Ah, sungguh bego diriku! pikirnya.. Ia telah mengorbankan cewek yang dicintainya itu demi sebuah pembalasan dendam yang tanpa makna. Namun kini semuanya telah terlambat. Sekarang ia tidak punya keberanian untuk mencegah Darsono, senior di geng-nya itu untuk mempermainkan dan menghina Liani, cewek yang dicintainya itu.

    “Ayo terusin, ambil beberapa foto lagi,” kata Darsono yang adalah senior Dodo di geng-nya. Namun Dodo tak sanggup melakukannya lagi.
    Tak lama kemudian, cowok itu mengeluarkan penisnya dan mengocoknya diatas tubuh Liani. Spermanya muncrat cukup banyak membasahi leher, dada, dan perut Liani. Kemudian, seperti di film bokep, ia mengusap spermanya itu ke seluruh tubuh Liani sehingga basah dan mengkilap dibuatnya.
    “Gila benar-benar asyik nih cewek. Udah cakepnya kayak bintang film Mandarin. Putih mulus. Body-nya pun ok banget. Tapi begonya itu, hahahahaha. Nah, sekarang jadi mengkilap dah lu sekarang,” katanya dengan pandangan menghina dan tersenyum sinis.
    “Oh ya, omong-omong, kenalin, nama gua Darsono. Dodo adalah anak buah gua di geng kami,” kata cowok itu.
    “Lu benar-benar cewek gaul dah. Belum kenalan sudah boleh menggauli duluan,” kata Darsono sambil memencet-mencet payudara Liani.
    “Gimana, enak ya genjotan gua. Kapan-kapan gua pake lagi ya. Hahahahahaha.”

    “Sekarang lu boleh pake bajumu lagi dan pulang ke rumah. Kayaknya habis ini lu perlu mandi sampai bersih. Hehehehehehe.”
    “Nanti kalo gua pengin sama lu lagi, gua tinggal panggil lu lagi. Lu punya no telponnya khan, Do. Nanti jangan lupa sms ke gua,” perintahnya.
    “Dan luu harus menurut,” ancamnya kepada Liani lagi,”Ingat, foto-foto dan video lu ada disini dari sejak mata lu ditutup sampai sekarang,” katanya sambil mengangkat handphone-nya.
    “Kalo lu tidak patuh, jangan salahkan gua kalo foto-foto dan video body mulus lu sampai tersebar ke semua orang. Hahahahaha.”
    “Lain kali gua pengin bersenang-senang dengan lu di dalam rumah lu, di atas ranjang yang lu tidurin setiap malam.”
    Dodo mencoba membantu Liani berdiri, namun ditepisnya dengan keras.
    “Hahahahaha, kayaknya cewek lu ini lagi marah. Tapi jangan kuatir, kapan pun lu pengin sama dia, tinggal ngomong ke gua. Karena semua ada disini. Hahahahahaha,” kata Darsono memegang handphone-nya, “Sekalian nanti kita kenalin dia ke teman-teman yang lain. Supaya ada pemacu semangat buat mereka. Huahahahahahahaha!”
    Hati Dodo menjadi pilu mendengar hal itu. Namun apa daya, ia tidak berani menghadapi Darsono yang jauh lebih senior dan punya pengaruh besar di dalam geng-nya. Kalau sampai berani melawan, bisa-bisa ia yang hancur sendiri.

    —@@@@@@@—–

    Tak lama kemudian, berpisahlah mereka bertiga mengambil jalan sendiri-sendiri.

    Liani

    Liani yang sebelumnya datang kesini bersama Dodo, menolak untuk diantar pulang olehnya. Bahkan ia sama sekali tidak mau berbicara dengan Dodo yang mencoba meminta maaf kepadanya. Dengan mata yang merah menahan tangis, ia mencegat taxi di jalan dan pulang ke rumahnya. Hatinya sungguh hancur dan dirinya betul-betul terpuruk. Seumur hidup tak pernah ia dihina oleh orang sampai separah itu. Tak disangkanya Dodo bisa menipu dan mengkhianatinya sampai seperti itu. Kini, tak bisa dibayangkan kalau dirinya seumur hidup akan menjadi budak seks geng mereka dan setiap saat dibutuhkan, ia harus mematuhinya. Kalau sampai menolak, mereka akan membocorkan foto dan video telanjang dirinya serta adegan seks yang dilakukannya. Lalu apa kata orang-orang di sekitarnya kalau hal ini sampai di telinga mereka? Kondisi dirinya saat ini sungguh kontras dengan saat di awal cerita dimana ia menjadi pusat perhatian dan semua orang begitu mengagumi dirinya.

    Dharsono

    Berbeda jauh dengan Liani yang dalam kondisi memilukan, Darsono naik mobilnya dengan hati gembira. Sungguh puas ia hari itu karena bisa menikmati diri Liani yang sebelumnya adalah “out of touch” baginya untuk mencicipi cewek-cewek seperti tipikal Liani gini. Ditambah lagi, ia memegang kartu as yang akan menjamin cewek itu bersedia menuruti apa pun kemauannya kapan pun ia mau. Bahkan ia berpikir untuk menjadikan cewek itu sebagai sumber penghasilan dengan menjualnya kepada pria-pria yang ingin mencicipi cewek seperti Liani dan sanggup membayar mahal. Sungguh, cewek seperti itu tentu menarik banyak peminat. Ia tersenyum dan tertawa puas di dalam mobilnya.

    Namun, sungguh nasib orang susah diduga. Pada saat ia membayangkan keuntungan yang bakal didapat dari pikiran jahatnya itu, ia menjadi lengah. Dalam perjalanan pulang, ia berhenti di suatu tempat dan disana ia berhasil dicegat oleh beberapa anggota geng musuhnya. Oleh karena dikeroyok, ia kalah dan dipukuli sampai babak belur. Mobilnya pun dirusak. Kacanya dipecahin dan keempat bannya dikempesin. Barang-barang miliknya yang berharga dirampas sementara yang tidak berharga dibuang ke sampah. Akhirnya, boro-boro mendapatkan keuntungan, ia malah harus dirawat di rumah sakit dan kehilangan materi dalam jumlah cukup besar. Sementara handphone itu hilang entah kemana.

    Dodo

    Sementara Dodo sendiri bernasib lebih naas lagi. Oleh karena perasaan bersalahnya yang besar terhadap Liani dan perasaan tak berdaya menghadapi Darsono, ia menjadi frustasi. Sebagai pelampiasannya, ia mengendarai motornya dengan sangat kencang. Malang baginya, ia terlambat mengerem dan menabrak orang yang menyeberang sampai meninggal seketika. Oleh karena takut akan perbuatannya, ia berusaha melarikan diri. Namun ia berhasil ditangkap dan dipukuli rame-rame oleh orang-orang disekitar. Selain babak belur, ia masih harus meringkuk di penjara karena terbukti bersalah melakukan tabrak lari sampai orangnya meninggal. Total waktu yang harus dilalui di penjara adalah beberapa tahun, karena vonis pertamanya ditambah beberapa kali melakukan pelanggaran di dalam penjara ( mungkin karena rasa frustasinya dengan kehidupan barunya di dalam penjara). Cerita Maya

    Demikianlah nasib yang dialami ketiga orang tersebut hari itu, yang semuanya berakhir dengan tragis.

    —@@@@@@@—–

    Sementara itu…

    Cowok itu bagaikan disengat seratus kalajengking saat melihat isi handphone yang ada di tangannya itu. Tak disangkanya didalamnya ada foto-foto dan video bugil cewek putih dan cakep bahkan juga ada saat cewek itu sedang disetubuhi dalam berbagai posisi. Cewek itu begitu nyata dan original dan semuanya baru diambil pada hari itu juga. Ia tak habis pikir bagaimana ceritanya sampai foto dan video cewek ini bisa ada di dalam handphone Darsono.

    Siapakah cowok itu? Dia bernama Rohim!
    (Note: Bagi yang tidak tahu, ia adalah aktor utama di episode 4 yang telah di-release beberapa bulan lalu).

    Bagaimana cerita selanjutnya?
    Tunggu di episode 3: “I Know What You Did Last Month!”

    By: Aegu Ugea (ara456)

  • Liani: The Sweet Innocent Girl

    Liani: The Sweet Innocent Girl


    80 views

    Pada suatu hari sekitar pukul 3 sore di salah satu SMU swasta terkenal

    Cerita Maya | Siswi kelas 2 SMU itu segera bersiap-siap untuk pulang setelah praktikum berakhir. Tiba-tiba ada sms masuk. Ternyata dari papanya yang memberitahu kalau sore itu mendadak mobil harus masuk bengkel. Jadi, ia harus menunggu kira-kira 30 menit lagi sebelum mobil jemputan datang. Dengan agak kesal, ia menunggu di dalam kompleks sekolah sambil menonton murid sekolah siang yang sedang olahraga.Kira-kira 30 menit kemudian, ada sms masuk lagi. isinya,
    “Papi ada urusan mendadak. Kamu pulang naik taxi aja ya. Daripada nunggu nanti takutnya kemalaman.”
    Huh, lagi-lagi naik taxi, gerutunya. Kalo tahu gini, kenapa nggak bilang dari tadi, jadi ia bisa nebeng ikut temannya.
    Sebenarnya ia sama sekali tak keberatan naik taxi karena telah beberapa kali ia naik taxi sendirian. Karena taxi disini cukup aman, bahkan untuk gadis muda seperti dia yang naik sendirian. Namun yang tidak menyenangkannya adalah ia harus mencegat taxi di jalan besar yang berjarak beberapa ratus meter dari sekolahnya. Dan untuk kesana ia harus melewati STM yang jam segini suka bergerombol cowok-cowok murid STM yang suka iseng dengan cewek-cewek yang lewat, apalagi kalau ceweknya cakep. Mungkin karena mereka jarang bergaul dengan cewek. Dan telah beberapa kali ia jadi sasaran korban celotehan-celotehan dan pandangan-pandangan iseng mereka. Hal yang membuat risih dirinya. Dan ternyata perkiraannya benar. Saat ia melewati STM itu, ada beberapa cowok yang duduk bergerombol di depan, lagi asyik ngobrol dan tertawa-tawa. Saat ia lewat, seketika perhatian mereka semua langsung tertuju ke dirinya. Cerita Maya

    Cowok yang tampangnya paling jelek dari ketiganya memulai dengan godaannya.
    “Wah, ada cewek cakep lewat.”
    “Suitt suiittt.”
    “Mau pergi kemana Non?”
    “ayuk, aku aku bonceng naik motor, mau?”
    “Kayaknya mending dipangku di depan deh.”
    “Hahahahahaaaa.”
    Mereka semua tertawa-tawa sambil menggodanya. Semuanya memelototi wajah dan seluruh tubuh cewek itu. Memang ia adalah cewek yang cakep dan berpenampilan menarik. Baju seragamnya tertata rapi di dalam roknya. Kulitnya putih. Dan body-nya juga sexy. Pinggangnya ramping dan pantatnya cukup berisi. Tak heran kalau cowok-cowok liar itu jadi makin ganas menggoda cewek ini.
    “Suiit, suiiittt.”
    “aduuh, cantiknya.”
    “Putih lagi.”
    “Mulusnya ga ketulungan.”
    “Sexy.”
    “Kayak aktris Jepang.”
    “Wah, maen film apaan yah?”
    “ah, pura-pura kaga tau loe. Yang pasti gua mau dah jadi aktornya.”
    “Huahaahahahaaa”

    Memang cewek itu kulitnya putih dan wajahnya oriental. Cakepnya ga kalah dengan artis-artis Mandarin atau Jepang. Dan body-nya juga sexy. Namun, meskipun punya daya tarik seksual yang tinggi tapi cewek ini nampak seperti cewek baik-baik. Tampangnya cakep tapi innocent jadi bikin makin menggemaskan mereka. Dan ternyata, komentar mereka menjadi makin kurang ajar.
    “ayo mampir sini dulu, yuk. Kita main pangku-pangkuan yuk.”
    “Mending maen dokter-dokteran aja.”
    “Huuuuuuuuu.”
    “Yuk, kita mandi sama-sama.”
    “Huaaahahaha.”
    “eh, cewek ini body-nya sexy juga ya. Liat. Dadanya boleh juga tuh.”
    “Hahahaha.”
    Memang bagian dadanya nampak menonjol, tanda bahwa gadis belia ini telah mencapai usia dewasa. apalagi saat itu tas sekolahnya dicangklongkan di bahunya dan talinya diselempangkan secara diagonal dan menekan diantara belahan dadanya, sehingga tonjolan payudaranya nampak makin jelas saja.
    “Hehehehehe.”
    “eh, doi kayaknya masih polos tuh. Masih perawan ya? Hehehehe.”
    “ah, masa sih? Bukannya kemarin sudah gua dicicipin.”
    “Hahahahaha.”
    “Kalo masih perawan, bisa diperawanin dong.”
    “Hahahahaha”.
    “Mau perawan mau nggak, gue juga kagak nolak koq.”
    “Hahahahaha.”
    “Loe kaga nolak, tapi dianya yang nolak.”
    …..

    Mendengar komentar yang makin kurang ajar itu, langsung cewek ini jadi merah padam dan hampir menangis dibuatnya. Namun ia cuma bisa mendiamkan saja sambil cepat-cepat berjalan meninggalkan mereka. untunglah, meski menggodanya dengan kata-kata dan pandangan kurang ajar, mereka tidak sampai berbuat kurang ajar atau menyentuh secara fisik. Akhirnya sampailah ia di jalan besar dan tak lama kemudian ia memanggil taxi yang mengantarnya sampai di rumah dengan selamat. Siapakah cewek itu? Cewek cakep itu namanya Liani. usianya 17 tahun lewat beberapa bulan. ia anak kelas 2 IPA di SMU favorit di kotanya itu. ia adalah siswi terkenal di sekolah itu. Dan memang, boleh dikata ia adalah cewek yang memiliki segalanya. Selain cantik dan penampilannya yang menarik, ia termasuk salah satu siswi berprestasi di sekolahnya. Dua kelebihan yang jarang terjadi. Ditambah lagi ia berasal dari keluarga kaya. Bokapnya adalah pengusaha yang kaya dan sering muncul di koran-koran. apalagi ia adalah cewek yang pandai membawa diri karena memang sejak kecil orang tuanya cukup keras mendidiknya untuk berperilaku dengan baik dan sopan santun. oleh karena itu pula, ia termasuk cewek yang polos dan innocent. Tidak hanya wajahnya saja yang innocent, tapi kelakuannya juga tanpa cela sesuai dengan wajahnya. Tidak pernah ada gosip-gosip miring tentang dirinya. Bahkan sampai sekarang, ia belum pernah pacaran. Padahal banyak banget teman cowoknya yang suka kepadanya sejak SMP.

    ——————————————————————-
    Beberapa hari setelah itu, sekitar pukul 4.30 sore

    Liani

    Liani berjalan keluar dari sekolahnya. Hari itu lagi-lagi ia pulang dengan naik taxi. Saat itu langit nampak mendung gelap. Dan tak lama kemudian, turunlah hujan dengan lebatnya. untungnya ia selalu membawa payung kecil di dalam tasnya. Saat itu tidak ada anak STM yang suka menggodanya, mungkin karena hujan lebat. Namun ia menghadapi masalah lain. Telah beberapa saat lamanya ia menunggu di tepi jalan hendak mencegat taxi yang kosong. Namun entah karena hujan atau sebab lain, saat itu tidak ada taxi kosong yang lewat. Sementara kalau menunggu mobil jemputan, bisa-bisa hari sudah gelap baru mobilnya datang. Sedangkan kini dirinya telah mulai basah karena payung kecilnya tak mampu melindungi dari hujan yang disertai angin cukup kencang. Saat ia kebingungan, tiba-tiba, ada sepeda motor besar dan butut yang mendekat dan berhenti di depannya. Pengemudinya membuka helmnya.
    “Hai, hujan-hujan berdiri disini. Lagi tunggu jemputan ya?” tanyanya.
    Liani mengenal cowok itu. ia termasuk salah satu cowok STM yang suka menggodanya yang tampangnya paling jelek itu. oleh karena itu ia tidak menghiraukan cowok itu.
    “Mau aku antar pulang ga?”
    Liani tidak menghiraukan cowok itu.
    “Serius nih, mau ga? Mending aku antar pulang daripada kamu berdiri disini kehujanan kayak gini.”
    “Nggak usah deh. aku bisa naik taxi,” katanya singkat.
    “Hujan-hujan gini nggak gampang dapet taxi lho. Lagian sebentar lagi bakalan gelap. Kalo nggak dapat taxi sampai malam nanti gimana?”
    “Nggak mungkin. Sebentar lagi pasti ada taxi,” kata Liani namun dalam hati ia takut kalo apa yang dikatakan cowok itu bakalan terjadi.
    “Sudahlah, tidak perlu malu-malu. Mending aku antar kamu pulang aja.. Daripada nunggu disini kehujanan, apalagi kalo sudah gelap nggak aman buat cewek sendirian”.
    Kali ini Liani tak bisa menyangkal lagi, karena dalam hati ia juga mulai gelisah.
    “Nih, kamu boleh pake ini supaya nggak basah,” kata cowok itu sambil melepas jas hujannya dan memberikan ke cewek itu. Sehingga kini cowok itu jadi langsung basah kuyup kehujanan.

    Mula-mula Liani ragu, namun karena terdesak situasi dan cowok itu terus memaksa, akhirnya ia mau juga membonceng ke sepeda motor cowok itu. Daripada menunggu sampai gelap dan diganggu orang jahat atau jalan kaki di jalan dengan pakaian basah kuyup dan mengundang perhatian semua orang, mending diantar pulang rumah oleh cowok berandalan ini, pikirnya. Kalau pun cowok itu berniat jahat, ia bisa berteriak minta tolong di jalanan, pikirnya. Dan siapa tahu kalau cowok ini memang berniat tulus. Akhirnya ia mengenakan juga jas hujan itu untuk menutupi tubuhnya supaya ia tidak jadi perhatian orang-orang di jalanan karena baju seragam putihnya yang basah kuyup melekat di badannya. Kini melajulah sepeda motor butut itu melintasi kemacetan kota, dengan penumpangnya dua anak muda berlawanan jenis yang kontras sekali perbedaannya. Hati cowok itu tentu gembira bisa membawa cewek cakep murid SMU favorit yang sangat kontras dengan dirinya yang hitam jelek, hanya sekolah STM serta ugal-ugalan. Sengaja ia beberapa kali mengerem mendadak supaya bisa bersentuhan dengan tubuh cewek itu. Sesampainya di tujuan, langit telah mulai cerah dan hujan hanya turun rintik-rintik…
    “oh, jadi ini rumah kamu,” kata cowok itu dalam hati mengagumi kemegahan rumah cewek ini.
    “eeh, terima kasih ya,” kata Liani dengan perasaan tidak enak. ia melepas jas hujan itu dan memberikannya kepada pemiliknya. Dirinya kini benar-benar basah kuyup karena jas hujan itu ternyata tidak waterproof. Ya karena itu adalah jas hujan murahan.
    “ok, nggak masalah. omong2, sorry ya waktu itu gue ngegodain loe.”

    Liani hanya diam saja karena ia merasa tidak enak masalah itu disebut-sebut oleh cowok ini.
    “Tapi bukan gua yang sampe ngomong yang nggak-nggak itu, tapi teman-teman gua. Memang kadang mereka kelewatan. Beneran lho. Gua cuman yang mulai aja.”
    “Ya, sudahlah nggak usah diomongin lagi,” kata Liani tidak ingin membicarakan hal itu lagi.
    “oh ya, boleh tahu nama kamu? aku biasa dipanggil Dodo,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
    “Liani,” kata Liani sambil mau tak mau menyambut juga tangan Dodo.
    “Sorry, aku masuk dulu ya. Terima kasih sudah diantar. Sorry banget, kamu jadi basah kuyup,” kata Liani tak mau berlama-lama. Meski sudah diantar, tapi ia merasa risih juga terlalu lama bersama dengan cowok berandalan yang tak dikenalnya itu. apa kata tetangga kalau mereka melihatnya.. Berduaan dengan cowok ini aja sudah aneh. apalagi dalam keadaan sama-sama basah kuyup seperti ini. Kini baju seragam putihnya yang dari kain agak tipis telah menempel di tubuhnya yang putih, membuatnya nampak seperti setengah telanjang aja.
    “oh, nggak apa-apa. aku sudah terbiasa koq kena hujan seperti ini. Yang penting sekarang kamu selamat sampai di rumah.”
    Liani hanya diam saja. Dalam hati ia berpikir, meski tampangnya kayak berandalan gini, cowok ini ternyata cukup baik juga.
    “eh, Liani, kapan-kapan aku boleh mampir khan?”
    “ehm, boleh saja sih, tapi aku jarang di rumah,” kata Liani berusaha mengelak.
    “Hmm, ok, tak apa-apa,” kata Dodo dengan agak kecewa. Meski begitu, ia terkesima dengan pandangan yang ada di depan matanya itu. Rambut Liani yang basah kuyup dan wajahnya yang juga basah makin menambah kecantikannya. Tidak hanya cantik, tapi juga sexy! Karena Liani saat itu boleh dikata seperti setengah telanjang saja. Bagian tubuh atasnya tercetak dengan jelas. untung bra-nya cukup tebal sehingga mampu menutupi payudaranya yang indah. Namun lekuk liku dan tonjolan ‘body curve’ cewek itu nampak jelas sekali membuat Dodo bisa dengan mudah mengira-ngira besarnya ukuran payudara Liani. Sementara bra-nya berwarna biru tua nampak jelas sekali tercetak dan kontras dengan warna baju seragam dan kulitnya yang putih. Melihat itu, tanpa dicegah lagi penis Dodo langsung menegang. Sambil berbicara, beberapa kali ekor matanya mencuri-curi pandang ke arah dada Liani.

    “eh, Liani,” kata Dodo tiba-tiba.
    “ada apa lagi?” tanya Liani menoleh ke belakang sambil memiringkan tubuhnya sehingga dadanya nampak lebih menonjol.
    “Boleh minta no HP kamu?”
    “ehmmm, nomorku xxxxxxx15,” Liani mula-mula ragu, namun akhirnya ia memberikan nomornya juga kepada Dodo. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam rumah.
    Begitu masuk ke dalam rumah, ia segera masuk ke kamar mandi. Setelah sebelumnya kedinginan gara-gara kehujanan, kini ia ingin merendam seluruh tubuhnya di dalam bath tub jacuzzi yang besar dengan air hangat. Tak lama kemudian ia sedang asyik merendam tubuhnya yang telanjang bulat di dalam air hangat sambil merasakan semprotan air di bak jacuzzi yang mengenai beberapa bagian tubuhnya. Sambil ia membayangkan peristiwa yang barusan terjadi. itu adalah pengalaman baru baginya. Seumur-umur ia tak pernah naik motor besar dan butut seperti itu apalagi dengan membonceng cowok tak dikenal dan kelas rendahan yang mirip berandalan. Sementara ia dari kalangan keluarga kaya dan elit. ada mixed feeling di dalam dirinya. Di satu sisi ia merasa malu kalau sampai ketahuan orang, namun disisi lain ia merasa excited apalagi saat membayangkan reaksi papanya kalau tahu akan hal ini. Pasti papanya jadi sewot habis. Memang sejak dari kecil ia terlalu dituntut oleh orangtua maupun keluarga dekatnya untuk berprestasi dan untuk berperilaku dengan baik dan tepat. Sehingga diam-diam timbul semangat pemberontak di dalam hatinya, terutama sejak ia melewati masa puber. Namun hal itu hanya bisa dipendamnya di dalam hati. Membayangkan reaksi papanya, ia jadi makin excited, malah ia jadi membayangkan kalau seandainya tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka dan cowok itu masuk ke dalam dan melihat dirinya yang telanjang bulat di dalam air. ah, gila kamu ya! Kok jadi mikir yang nggak-nggak gini, pikirnya dengan malu.

    Sementara itu disaat Liani sedang asyik merendam tubuh mulusnya yang telanjang bulat di kolam air panas, pada saat yang sama, melajulah motor butut itu kembali melintasi kemacetan kota dengan pengendaranya seorang diri yang basah kuyup dan menggigil kedinginan. Memang kontras sekali perbedaan diantara keduanya….Sejak pertemuan itu, Dodo begitu gencar mencoba menjalin hubungan lebih dekat dengan Liani. Namun ia tak mendapat tanggapan berarti. Memang ia menyadari perbedaan yang sangat kontras antara Liani dan dirinya. Liani adalah tipe cewek kelas satu sedangkan dirinya dari kelas yang sama sekali nggak masuk hitungan. ia dari keluarga pas-pasan yang broken home. ia cuma sekolah di STM yang tak bermutu, itu pun beberapa kali ia tak naik kelas sehingga kini umurnya telah 20 tahun padahal ia masih kelas 3. Dan tampangnya juga termasuk jelek, kulitnya coklat kehitaman karena dari sononya ditambah lagi karena seringnya terbakar matahari. Rambutnya yang keriting dibiarkan gondrong awut-awutan. Penampilannya kayak berandalan karena memang ia cowok liar dan ugal-ugalan. urusan berantem, kebut-kebutan di jalan, atau mabuk-mabukan bukanlah hal asing baginya. Bahkan ia telah beberapa kali berhubungan intim dengan beberapa tetangganya yang kebetulan janda berumur 30-an. Mungkin janda-janda itu suka dengan dia karena merupakan daun muda yang liar dan gagah perkasa. Sementara janda-janda itu mengajarinya bermacam teknik bercinta yang membuatnya ketagihan. Dan sekarang, sejak ia mendapat kesempatan berdekatan dengan Liani, ia jadi bernafsu terhadapnya dan berpikir keras bagaimana caranya bisa membuat Liani mau bertekuk lutut sama seperti janda-janda yang sering ditidurinya itu. Bukan perkara yang mudah. Namun ia jadi makin terobsesi untuk mendapatkan Liani.

    Sementara Dodo terus menghubungi Liani, cewek itu terus berusaha menghindar.. Namun karena terus-menerus tak kenal menyerah dan lama-lama tak enak menolaknya terus-menerus, pada suatu hari akhirnya Liani memperbolehkan Dodo datang ke rumahnya. Sore itu Dodo sengaja memakai pakaian terbaik yang dimilikinya. Karena ia telah janjian untuk datang ke rumah Liani. Sesampainya di depan pintu pagar rumah Liani, ia segera menekan bel. Ding Dong..Tak lama kemudian, pintu segera terbuka, keluarlah seorang pria setengah baya. Tentu ini bokapnya si Liani, pikir Dodo.
    “Sore, oom. Saya….
    “Mau apa lagi? Khan uang iuran sampah bulan ini sudah dibayar.”
    (Sialan, masa gua dipikir tukang sampah, pikir Dodo!)
    Memang tak heran, karena ia memakai baju hem butut dengan warna norak serta celana jins belel dan sepertinya lama nggak dicuci. Sekilas, pakaiannyanya memang mirip dengan pakaian tukang sampah yang sering datang kesitu. Dan itu adalah baju terbaik yang dimilikinya!
    “oh, bukan begitu oom. Saya mau ketemu Liani.”
    “Mau apa kamu ketemu Liani?” tanyanya curiga kok orang dengan tampang begini mau ketemu dengan putrinya.
    “Saya temannya Liani oom. Kita sudah janji, saya mau pinjam buku catatannya..”
    “Kamu bisa kenal Liani dari mana?” katanya dengan nada penuh curiga.
    “anu oom, saya kenal karena sekolah saya dekat dengan sekolah Liani..”
    “ooh, begitu. Hmm. Tunggu sebentar yah,” jawabnya sambil masuk ke dalam.
    “Nik, di luar ada yang nyari kamu. Katanya temanmu tapi tampangnya kok kayak berandalan. Kok kamu bisa temenan sama orang kayak gitu sih?” tanya bokapnya Liani.
    “oh, itu temannya teman,” kata Liani berbohong. Tentu ia tak bisa menjelaskan kalau kenalnya karena sebelumnya pernah berboncengan naik motor dengan cowok itu.
    “Tampangnya kayak berandalan gitu kok ya kamu bolehin datang ke rumah sih.”
    “Hihi, iya ya Pi. Tampangnya kayak preman. Tapi dia bukan teman dekat Nonik sih, Pi. Cuman pernah ngobrol sekali aja,” kata Liani tanpa berbohong namun juga tak menceritakan keseluruhannya.

    “Lha trus, kenapa kok dibolehin datang. Dari penampilannya Papi sudah nggak suka.
    “Soalnya dia maksa terus, pengin pinjam catatan Nonik. Sudah beberapa kali ditolak, tapi dia maksa terus, jadinya nggak enak dong Pi.”
    “Hati-hati lho. Bisa-bisa dia suka sama kamu.”
    “Ya biarin aja Pi.”
    “Lho kok biarin gimana? Masa Papi biarin anak cewek Papi pacaran sama cowok kayak gitu. Jangankan pacaran, kamu temenan aja Papi sudah nggak suka.”
    “orang suka masa nggak boleh Pi? Yang penting khan Nonik nggak mau sama dia.. Memang Papi kirain aku mau sama dia?” kata Liani sambil merajuk.
    “Ya udah. asal kamu hati-hati aja. Lagian ingat, kamu harus hati-hati dalam berteman. Jangan bergaul dengan orang sembarangan. Nanti apa kata saudara-saudara dan teman-teman Papi, kalo mereka tahu anak Papi berteman dengan anak berandalan. Dan karena kamu anak cewek, kalo mesti bisa menjaga nama baik kamu. Jangan sampai nama kamu rusak gara-gara temenan sama orang yang nggak benar. Mengerti? “
    “iih, Papi mulai deh kuliahnya,” kata Liani merajuk.
    “Kamu dinasehati orang tua kok malah begitu jawabnya.”
    “Soalnya Papi selalu deh, ngebedain anak cowok dan cewek.”
    “Ya udah, cepat kamu temuin dia dan jangan lama-lama, kalo sudah selesai, segera suruh dia pulang.”
    “oK, boss,” kata Liani dengan agak kesal karena merasa Papinya mulai membedakan perlakuan dirinya dengan saudara cowoknya.

    Tak lama kemudian, muncullah pembantu yang membukakan pintu dan menyilahkan Dodo duduk di ruang tamu. Wah, enak bener nih sofanya, malah lebih empuk dibanding ranjang di rumahnya. Maklumlah, karena ia memang orang kampung yang tak pernah merasakan sofa senyaman itu. Setelah beberapa saat, muncullah Liani. ia memakai baju kaos berlengan warna putih tanpa krah dan celana selutut berwarna biru. Diam-diam Dodo mengamati ukuran payudara Liani yang nampak cukup menonjol di balik kaos putihnya. Serta tak lepas dari perhatiannya branya berwarna coklat tanpa tali di bahunya di balik kaosnya. Wah, gila nih cewek. Begitu muncul langsung bikin gue ngaceng abis dah, katanya dalam hati. Memang tak salah kalau bokapnya Liani nggak suka dengannya karena memang diam-diam ia memendam nafsu birahi terhadap putrinya yang masih polos dan perawan itu.
    “eh, sori ya, nunggu agak lama,” kata Liani.
    “oh, nggak apa-apa kok.”
    Mereka tak sempat ngobrol lama, karena beberapa kali bokap Liani memanggilnya untuk urusan ini itu sepertinya untuk mengingatkannya untuk segera menyuruh tamunya pergi. Tak lama kemudian akhirnya ia pamit pulang sambil membawa buku catatan itu. Namun ia sempat melihat bagian atas dada Liani dari balik kausnya yang sedikit terbuka saat ia sedang duduk dan membungkuk untuk menjelaskan catatannya. ah, lumayanlah, mampir beberapa menit bisa ngeliat gunung kembarnya, pikirnya.

    Sejak saat itu, makin lama mereka jadi sering ketemuan, meski awalnya Liani selalu mencoba mengelak. Dan tentu kebanyakan ketemuannya disaat sang bokap nggak ada. Malah Liani jadi sering curhat dengannya tentang Papinya yang sibuk dengan bisnisnya dan lebih mementingkan saudara cowoknya dibanding dirinya. Hmm, bagus, semakin dekat menuju sasaran, pikirnya. Sebenarnya Liani juga merasa kalau Dodo belakangan ini jadi makin sering mendekatinya. Meski tahu kalau Dodo tipe cowok berandalan dan adanya perbedaan yang besar diantara mereka, namun tak disangkal ia menyukai kepribadiannya yang macho dan apa adanya walau seringkali konyol. Sehingga dalam hal tertentu (misalnya curhat tentang Papinya atau keluarganya) ia merasa bisa ngobrol lebih terbuka dengan Dodo dibanding dengan teman dekatnya atau saudaranya. Karena terhadap mereka, ia harus menjaga citranya sebagai anak baik di keluarga. Sementara dengan Dodo ia bisa lebih bebas bicara atau bertindak semaunya. Lagipula, tidak ada yang mengenal Dodo. oleh karena itu, meskipun tahu kalau Dodo adalah dari kalangan rendahan, namun ia tetap mau berhubungan dengannya. Kalau bokap tahu aku sering ketemu sama dia, bisa sewot dia, pikirnya. Hihihi. Membayangkan dirinya melakukan hal yang dilarang bokapnya dengan sembunyi-sembunyi membuatnya excited. ah, biarin aja, pikir Liani, yang penting khan gua nggak ada apa-apa sama dia. Jadi sebenarnya gua nggak melanggar aturan, pikirnya. Dan memanglah betul. Meski keduanya makin sering bertemu, namun mereka tak berpacaran. Karena Dodo memang tak pernah mengungkapkan hal itu. Baginya hal itu bukan tujuan utamanya. Yang lebih penting adalah bagaimana caranya supaya bisa membuat Liani yang polos tapi sexy itu bertekuk lutut kepadanya. Dan semakin lama ia makin percaya diri bahwa ia semakin dekat dengan mangsanya.

    Naluri Dodo memanglah betul. Karena belakangan ini semakin sering Liani membayangkan kalau seandainya ia ingin melakukan hal gila-gilaan, ia akan melakukannya dengan Dodo. apalagi citranya sebagai cewek baik-baik yang kontras banget dengan Dodo yang cowok berandalan. Perbedaan yang kontras itu makin membuatnya excited. Tapi itu hanyalah berandai-andai saja. Karena ia masih sadar akan status dirinya sebagai seorang cewek baik-baik yang harus menjaga dirinya dan nama baiknya. Meskipun kadang timbul keinginan aneh untuk melakukan sesuatu yang ekstrem yang bertolak 180 derajat dengan citranya sebagai anak baik-baik sejak dari kecil dulu. Hal itu dipendamnya dalam-dalam di dalam hatinya. Tanpa disadarinya hal itu ibarat pegas yang tertekan semakin kuat seiring dengan waktu. Dalam keadaan normal, di permukaan kelihatan tenang-tenang saja. Namun apabila sampai terlepas dari penahannya, pegas itu akan melesat dengan kuat dan cepat tanpa ada yang mampu
    menahannya.

    —————————————————————————

    Sore itu kembali Dodo datang ke rumah Liani. Liani memakai kaus kuning tanpa lengan dan celana abu-abu selutut.
    “Kok nggak kedengeran suara bokap. apa dia masih di kantor?
    “Nggak. Sudah sejak 4 hari lalu ia pergi ke aussie menjenguk Ko andi (kakak Liani) yang sekolah disana.”
    “Wah jadi sendirian dong.”
    “iya. Cuman sama si Minah doang. Nyebelin deh.”
    Minah adalah pembantunya yang umurnya sekitar 50-an.
    Saat itu mereka duduk bersebelahan. Diam-diam Dodo memperhatikan dada Liani.. Karena belahan kausnya agak rendah dan karena dia lebih tinggi dari Liani, jadi ia dapat melihat belahan dadanya, terutama kalau lagi menunduk. Seketika ia jadi terangsang. apalagi tercium olehnya aroma tubuh Liani yang harum.
    “Ya udah, lupain aja. Khan sekarang ada gue,” kata Dodo,” Terus sekarang mau ngapain?”
    “Terusin aja belajarnya. Masih ada yang mau lu tanyain ga?” tanya Liani.
    Memang sejak belakangan, Liani jadi lebih sering menjelaskan matematika kepada Dodo.
    “oh, ya ada dong. Gua ada pertanyaan yang mau gua tanyain ke loe.”
    “apa itu?”
    “Kok hari ini loe tambah cakep dibanding biasanya?”
    “ah, ngaco loe! Jangan ngomong sembarangan ah,” kata Liani.

    Memang kadang ia suka bercanda yang aneh-aneh atau ngomong hal-hal yang nggak jelas juntrungannya dengan Dodo.
    “iya bener. Gua serius nih. Belum pernah gua liat loe secakep ini,” kata Dodo dengan muka serius.
    “iih, gombal dah loe. udah ah jangan ngomong kayak gini lagi,” kata Liani namun diam-diam ingin tahu apa kelanjutan yang bakal dilakukan Dodo.
    “Beneran! Ngapain gua bohong. Malah loe adalah cewek paling cakep yang pernah gua temuin,” kata Dodo dengan wajah makin serius.
    “Masa sih?”
    “Dan nggak cuman itu, loe juga cewek paling menarik yang pernah gua tahu. Lihat nih, kulit loe halus,” kata Dodo langsung memegang tangan Liani. Melihat Liani tak bereaksi apa-apa, ia jadi semakin berani.
    “Dan muka loe juga halus,” kata Dodo sambil mengelus pipinya,” Pasti semua cowok pada tertarik sama loe.”
    “omong2, loe tahu ga apa yang ada di pikiran gua sekarang?” kata Dodo.
    “iih loe ada-ada aja,” kata Liani, “udah ah jangan kayak gini,” kata Liani lagi sambil berusaha melepaskan dirinya dari Dodo.
    Namun Dodo tak menanggapi lagi ucapan Liani, malah tiba-tiba ia merengkuh Liani dan berusaha mencium bibirnya. Liani kaget dengan reaksi mendadak Dodo.. Karena gerakan Dodo yang tiba-tiba dan ia tak bisa melawannya, mau tak mau ia membiarkan bibirnya diciumi Dodo. ia berusaha berontak, namun malah Dodo semakin bernafsu dengan ciumannya. Sampai-sampai dengan berat tubuhnya ia mendorong Liani sehingga terbaring. Lalu dengan penuh nafsu Dodo menciumi leher Liani yang putih mulus. Setelah itu kembali ia mengunci dan melumat habis bibir Liani sampai-sampai Liani dibuatnya bernapas terengah-engah.

    Tiba-tiba dengan kekuatan yang tak disangka-sangka Liani mampu mendorong tubuh Dodo sehingga ia terlepas dari sergapan Dodo. Napas Liani masih terengah-engah dan ia masih setengah terbaring, ketika tiba-tiba, plakkkk, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dodo. Ketika Liani ingin menampar pipi Dodo yang satunya lagi…namun kali ini tangannya berhasil ditangkap Dodo.
    “Jangan sembarang main tampar Non, sakit. Mending kayak gini deh,” kata Dodo yang kemudian kembali mencium bibir Liani, sepertinya ia ingin membalas tamparannya yang keras tadi.
    Kali ini Liani berusaha mengelak namun karena kalah tenaga dan ia dalam posisi yang kalah (ia dalam posisi terbaring sementara Dodo duduk dan satu tangannya terpegang), lagi-lagi bibir Dodo berhasil menyentuh bibir Liani. Liani berusaha meronta-ronta, sesekali ia berhasil melepaskan diri dari ciuman Dodo, namun ia masih dalam posisi tertindih. akhirnya Dodo melepaskan tangan Liani dan kini kedua tangannya memegang kedua pipinya sehingga kini kepala Liani tak bisa bergerak lagi. Lalu dengan bebasnya kini ia bisa memagut bibir Liani sepuas hatinya. Bahkan bibirnya kini melumat habis bibir gadis yang ditindihnya itu. Mula-mula Liani berusaha memberontak, kedua tangannya memukul-mukul punggung Dodo. Namun apa daya, rupanya Dodo tak bergeming. Sepertinya pukulan-pukulan Liani malah merupakan pijitan di punggungnya. Makin lama pukulan Liani melemah, sampai akhirnya ia menghentikan sama sekali, entah karena menyadari kalau tidak ada hasilnya atau karena ia mulai merasakan nikmatnya ciuman bibir Dodo. Sampai akhirnya tubuh Liani melemas dan pasrah saja menikmati apa yang dilakukan Dodo terhadapnya. Merasakan bahwa Liani telah menghentikan perlawanannya, Dodo juga melepaskan kedua tangannya dari pipi Liani. Kini dengan bebasnya ia menciumi dan melumat habis seluruh bibir Liani. Sementara Liani kini ikut larut dalam irama permainan Dodo dan sesekali terdengar lenguhannya.

    Setelah puas menciumi Liani, Dodo melepaskan ciumannya. Liani mendapat kesempatan untuk duduk. Lalu ia berkata,” Yang loe lakukan tadi benar-benar brengsek! Loe benar-benar cowok brengsek!!”
    Namun tak diduga-duga, setelah selesai mengatakan itu, tiba-tiba Liani mencium bibir Dodo dan melumatnya. Hal yang tak disangka-sangka ini tentu membuat Dodo membalas lumatan Liani. Sehingga kini keduanya dengan liar saling berciuman dan berpagutan di atas sofa yang empuk itu. Bahkan kedua lidah mereka beberapa kali saling bersentuhan. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba Liani melepaskan dirinya dari Dodo. “Sebentar. Mending kita “belajar” di kamar gua aja yuk. Gua nggak mau ketahuan Minah,” kata Liani. (Sebenarnya ia tak perlu takut ketahuan Minah, karena Minah berada di dalam kamarnya terus dan sama sekali nggak tahu akan perbuatan nona majikannya itu. Malah ia tidak tahu ketika Dodo datang karena ia tertidur saat Dodo datang).
    Tapi yang jelas, memang lebih nikmat untuk melakukannya di dalam kamar. apalagi ranjang Liani yang empuk dan berukuran besar. Dan lagi, bercinta dengan Liani, anak gadis orang kaya di dalam kamarnya yang mewah, tentu merupakan sensasi tambahan bagi Dodo. Tentu hati Dodo jadi berbunga-bunga mendengar kata-kata indah itu. apalagi setelah mereka masuk, Liani langsung mengunci kamarnya. Tentu itu adalah suatu isyarat yang tak perlu dijelaskan lagi maknanya. Kini hanya mereka berdua saja di dalam kamar yang terkunci rapat. Tak ada yang bisa mencegah apa yang akan dilakukannya. ia benar-benar mengagumi isi kamar itu. Semuanya tertata rapi dan mewah. Sementara ranjangnya ukuran king size yang empuk. Namun, ia tak mau lama-lama menghabiskan waktu mengagumi kamar Liani, mending fokus ke penghuninya.

    Baca Juga Cerita Seks Alfi dan Bu Gurunya yang Cantik

    Kembali Dodo mencium bibir Liani. Liani kali ini tidak menolak malah ia membalas dengan ciuman yang tak kalah hangatnya. Sejenak mereka berpagutan sambil melakukan french kissing, bibir bertemu bibir, lidah bertemu lidah. Setelah puas, lalu Dodo menciumi leher Liani sambil mengecup-ngecup. Karena terlalu bernafsu, Dodo menekan tubuh Liani sampai akhirnya ia tertidur ke atas ranjangnya. Kini dengan leluasa Dodo menindihnya dan terus mengecup-ngecup leher Liani bergantian kiri dan kanan. Sampai di lehernya membekas kemerahan bekas kecupan Dodo. Setelah itu mulai tangan Dodo bergerilya meraba-raba seluruh bagian tubuh Liani, terutama paha dan dadanya. ia meraba dan meremas-remas dengan lembut kedua dadanya bergantian. Tak puas sebelum betul-betul meraba kulit tubuh Liani, tangan Dodo menuju ke pinggang, meraih sabuk yang dikenakan dan seketika melepaskannya. Segera ia membuka retsleting celana Liani dan meloloskannya sehingga nampaklah pahanya yang putih mulus dan celana dalamnya berwarna coklat muda menutupi bagian rahasianya. Tak puas dengan itu, ia membuka kaus kuning yang dikenakan Liani. Tanpa perlawanan sama sekali, ia berhasil melakukan itu. Kini nampaklah di depannya tubuh Liani yang putih mulus yang bagian-bagian terpentingnya masih tertutup. Bra-nya juga berwarna coklat muda yang coraknya sama dengan celana dalamnya. akan tetapi ini tak berlangsung lama. Karena sesaat kemudian ia membangunkan Liani dan tanpa basa basi lagi segera tangannya merengkuh punggung Liani untuk melepaskan kait bra-nya. Sekali lagi, tanpa perlawanan, ia berhasil melakukan itu dan dengan agak terburu-buru ia menjauhkan bra tersebut dari tubuh Liani, sehingga kini dengan bebasnya ia dapat melihat payudara Liani. Hmm, sungguh indah. ukurannya 34c. Bentuknya sempurna dan kencang berdiri dengan tegaknya. Wilayah areolanya tidak terlalu besar namun putingnya menonjol. Kulit dadanya yang putih mulus kontras dengan kedua putingnya yang merah muda. Sementara Liani dengan wajahnya yang innocent menatap dengan pasrah.

    Segera ia mencoba kekenyalan payudara Liani itu. Kedua tangannya merengkuh kedua payudaranya, meraba-rabanya, dan meremas-remasnya dengan lembut. Hmm, benar-benar kenyal dan padat. Benar-benar masih segar dan muda. Tubuh gadis usia belasan tahun sungguh berbeda dengan janda berumur 30-an tahun. apalagi gadis ini bukanlah gadis biasa namun dari keluarga berada yang rajin merawat tubuhnya dari sejak kecil. Ditambah pula belum pernah sebelumnya ia beginian dengan cewek yang sekelas Liani ataupun dengan cewek berwajah oriental dan berkulit putih seperti ini. Sungguh semuanya ini adalah sensasi yang sungguh nikmat bagi Dodo. Membuat hormon kejantanannya bereaksi dengan kuatnya dan membuatnya merasa lebih macho. Sementara itu, tindakan Dodo yang meraba-raba payudaranya ini juga membuat Liani terangsang. Bagaimana pun, ia adalah gadis normal yang tentunya menjadi terangsang dengan sentuhan-sentuhan erotis seperti itu dari seorang cowok. apalagi cowok macho seperti Dodo yang tak mengenal sopan santun. ia mulai mendesah-desah ketika Dodo meraba-raba dan meremas-remas payudaranya yang sungguh kencang, kenyal dan padat berisi. Dodo segera menyambutnya dengan ciumaan di bibirnya yang juga dibalas oleh Liani. Liani jadi makin terangsang, lebih-lebih lagi ketika jari-jari Dodo bergeser-geser diatas putingnya. Karena putingnya sangat sensitif dan payudaranya adalah titik nyala seksnya. Setelah beberapa saat Dodo melakukan ini, kini tanpa dapat dicegah vaginanya menjadi basah oleh cairan. Beberapa saat lamanya Dodo menikmati bibir dan payudara Liani. Sementara Liani juga menikmati sentuhan-sentuhan kurang ajar (tapi sungguh nikmat) dari Dodo terhadap dirinya. Setelah itu Dodo melepaskan tangannya dan menuju ke celana dalamnya. Sekali lagi, tanpa basa basi lagi, ia menurunkan celana dalam coklat tersebut menuruni paha, lutut, kaki bagian bawah, sampai telapak kaki, dan akhirnya ia melemparkan ke lantai. Hal itu dilakukan tanpa ada perlawanan sama sekali dari Liani. Sepertinya diam-diam ia juga mengharapkan Dodo melakukan hal itu..

    Seluruh baju yang semula dikenakan Liani kini nampak berserakan di lantai. Dari sabuk, baju atasan, celana luar, bra, dan juga cd-nya. Pandangan Dodo kini terfokus ke vagina Liani. Bulu-bulu kemaluannya termasuk lebat apalagi kalau diingat bahwa cewek itu masih muda, umurnya antara 17-18 tahun. Sungguh tak disangka-sangka bahwa Liani, cewek dengan tampang polos dan innocent itu ternyata mempunyai bulu kemaluan yang lebat. Vaginanya yang kemerahan nampak rapat. untuk dapat melihat vaginanya dengan lebih jelas, Dodo sengaja membuka kedua kaki Liani lebar-lebar. Nampak terlihat vaginanya yang masih tertutup rapat serta klitorisnya. Vaginanya berwarna kemerahan segar, dibawah bulu vaginanya yang lebat. Dan Liani membiarkan Dodo melihat vaginanya tanpa berusaha menutup kedua kakinya. Sepertinya kini Liani telah pasrah dan urat malunya telah putus dihadapan Dodo. ia membiarkan saja apa pun perlakuan Dodo terhadapnya. Setelah itu giliran Dodo membuka seluruh pakaiannya. Liani nampak kaget saat melihat penisnya. Karena selain ia tak pernah melihat penis cowok dewasa sebelumnya. Dan juga karena penis Dodo kini berdiri dengan tegaknya. Warnanya nampak lebih hitam dibanding kulit tubuhnya. ukurannya pun cukup besar dan nampak berurat berdiri tegak. Nampak lekukan di leher penisnya dan kepalanya yang disunat terlihat lebih besar dibanding dengan badannya. Dodo tak memberi kesempatan Liani lebih lama untuk melihat penisnya, karena ia telah terbungkus oleh nafsu birahi yang menggelora menyaksikan tubuh putih mulus Liani yang telanjang bulat. ia menindih tubuh Liani dan menciumi bibirnya. Bibirnya merasakan nikmatnya bibir Liani, dadanya yang hitam namun tegap menempel ke payudara Liani yang padat berisi dengan putingnya yang kemerahan. Sementara penisnya menempel di bulu-bulu vagina Liani yang lebat, seakan bagaikan bantal empuk yang menyangga penisnya yang menegang sangat keras itu. Dan sebagian buah pelirnya menempel ke lubang vagina Liani.

    Kedua tangan Liani yang putih memeluk punggung Dodo seolah tak ingin melepaskannya. Sejenak sepasang cowok dan cewek muda yang berbeda segalanya itu saling memagut, saling meraba dan merangsang bagian-bagian sensitif lawan jenisnya. Nampak kontras perbedaan fisik mereka. Liani yang putih halus ditindih Dodo yang hitam legam. Liani yang berambut lurus sementara Dodo berambut keriting. Liani yang cantik, Dodo yang jelek rupanya. Liani yang berwajah polos innocent, Dodo yang berwajah berandalan. Dodo kembali bergerilya ke tubuh Liani, kali ini dengan menggunakan mulutnya. ia mulai mengecupi leher dan kedua pundak Liani. Namun yang menjadi sasaran utamanya adalah payudaranya, karena ia ingin merasakan nikmatnya rasa payudara cewek putih mulus ini. Mula-mula dikecupinya bagian pangkal payudaranya, setelah itu bergerak makin ke atas sampai akhirnya sampai di putingnya. Kedua putingnya yang kemerahan membuat gemas dirinya. Segera dikecupinya, dikenyot-kenyot dan dijilat-jilat, awalnya lidahnya melingkar-lingkar di sekeliling putingnya, kemudian benar-benar kedua putingnya yang dijilat-jilat oleh gerakan lidah Dodo yang lincah itu sambil sesekali diselingi oleh kecupan-kecupan hangat. Kehangatan kecupan Dodo yang menyedot-nyedot putingnya dan kelincahan lidah Dodo yang memainkan kedua putingnya, menggerak-gerakkannya kesana kemari, membuat Liani menggelinjang kegelian. Membuatnya jadi makin terangsang. Tanpa sadar ia mengeluarkan suara mendesah-desah dengan cukup keras, “ohhh ahhhhh ahhhhhh”, yang membuat Dodo makin bernapsu memainkan payudaranya. Sementara vagina Liani jadi basah kuyup dibuatnya.
    “ahhhh, ahhhhhhh, emmhhhhhh”, desah Liani sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Dodo dan tanpa sadar membuka kakinya lebar-lebar dan mendesak-desakkan vaginanya ke badan Dodo.

    Dodo yang mengerti akan body language Liani segera memulai gerilyanya ke bawah. Mula-mula dikecupinya pahanya terutama bagian pangkalnya. Setelah itu tangannya bergerak ke tengah menuju ke antara kedua pahanya. Vaginanya diraba-raba, klitorisnya sengaja digesek-geseknya.
    “ohhhhh, Dodo, ohhhhhhhh, ohhhhhhhhh”
    Dodo merasakan tangannya yang jadi berlendir. Dalam hati ia tersenyum gembira. Rupanya cewek ini sudah terangsang hebar sehingga tidak mempedulikan hal-hal lainnya. Namun ia tidak langsung melakukannya. Toh tinggal masalah waktu saja, pikirnya. Lalu ia menjilati vaginanya, menyedot-nyedotnya, dan memainkan lidahnya di sekitarnya. Sampai lalu ia menjilati klitorisnya yang tentu saja membuat vagina Liani jadi makin basah kuyup. ia tidak selalu mau berbuat begini. Namun terhadap Liani yang putih bersih ini, ia sama sekali tak keberatan melakukan itu. apalagi ia punya dugaan kuat kalo Liani masih perawan. Sementara tangan Dodo tak mau ketinggalan segera merengkuh payudara Liani, meremas-remasnya dan kembali memainkan jari jemarinya ke kedua putingnya.
    “ahhhhh, ahhhhhhh, ohhhhhh, aaahhhhhhhhhhhhh.”
    Tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang kenikmatan. Akhirnya Dodo menghentikan aksinya. ia membuka kaki Liani lebar-lebar. Rupanya ia telah siap dengan hadiah utamanya. Kemudian ia memposisikan penisnya ke antara kedua paha Liani. Sementara Liani telah sangat terangsang sehingga ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan Dodo. ia telah pasrah total dengan apapun yang dilakukan Dodo. Melihat gayung bersambut, segera Dodo menempelkan penisnya ke mulut vagina Liani. Dan kemudian mendorong dirinya ke depan, memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani. uggh, sempitnya. Namun dengan dorongan yang kedua yang lebih kuat sebagian kepala penisnya berhasil masuk ke dalam. Dorong sekali lagi, kini seluruh kepala penisnya amblas ke dalam vagina Liani. Dan, Bleessh. Sekali dorong lagi memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina Liani. Setelah berhasil memerawani Liani, lalu, cleeb, cleeeb, cleeeb, dengan gaya missionaris segera ia memaju mundurkan penisnya, mengocoknya di dalam vagina Liani, merasakan jepitan vagina Liani yang sempit.

    Tubuh Liani yang putih mulus ditindih dan dikocok-kock oleh Dodo yang hitam dan kasar, sementara kedua tangan Liani yang putih memeluk punggung Dodo yang hitam. Payudaranya bergerak berputar-putar akibat kocokan Dodo. akhirnya Dodo merasa gemas juga untuk meremas-remasnya. Liani jadi meracau tak karuan ia sudah lupa segalanya. Sungguh ia menikmati penis Dodo yang menembus keperawanannya dan mengocok vaginanya . Dan, inilah kelakuan cewek yang terkenal “alim” itu yang masih kelas 2 SMU!! Setelah petting yang dilakukan sebelumnya, rupanya tak perlu waktu lama lagi buat Dodo untuk membuat Liani orgasme. Tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang. Sementara Dodo mengocoknya terus beberapa saat dengan irama yang tetap. Tubuh Liani berguncang-guncang. Payudaranya jadi bergerak berputar-putar mengikuti arah maju mundur hunusan penisnya. Sampai akhirnya tanpa dapat dicegah lagi,
    “oHhhhhhhh, aahhhhhhhh, ooohhhhh, yesssssss, ahhhhhhhhhhhh, Dodooo, ahhhhhhhhhhhhh”
    Liani mencapai orgasmenya. Sementara Dodo tetap terus mengocok penisnya, membiarkan Liani menikmati turunnya ritme setelah puncak orgasmenya sambil ia merasakan nikmatnya jepitan liang vagina Liani yang sempit. Setelah Liani jadi mulai tenang, segera Dodo menghentikannya dan menarik penisnya keluar. ia masih belum selesai dan belum cukup puas menikmati Liani yang baru saja diperawaninya dan dibuatnya orgasme itu. ia melihat adanya sedikit darah dari vagina Liani. Sungguh bangga hatinya karena berhasil menikmati keperawanan gadis cantik dengan tampang innocent itu. Setelah itu kembali ia “menghajar” tubuh mulus Liani dengan menyetubuhinya ala doggy style. Penisnya yang gagah menembus maju mundur liang vagina Liani. Membuat seluruh tubuh Liani terguncang keras dan payudaranya bergerak-gerak dengan lebih hebat lagi. Kini malah seluruh ranjang jadi ikut bergoyang-goyang.
    “ahhh, ahhhhhhhhhhhh, ahhhhhhhhhhhh,” Liani mendesah-desah.

    Lalu berganti posisi, ditelentangkan Liani di atas ranjang dan diangkatnya kedua kakinya ditaruh di pundaknya sendiri. Kemudian dimasukkan penisnya ke vagina Liani dan dikocok-kocoknya di dalamnya. Dodo ingin Liani memainkan penisnya. Digunakan tangan Liani yang mungil meraih batang penisnya Dodo, mulai dari buah zakarnya sampai ke ujung kepala penisnya. Rupanya cewek ini walaupun pemula namun cukup “berbakat” untuk hal kayak ginian. Terbukti tak lama kemudian jari-jemarinya bergerak sendiri dengan cekatan mengelus-elus dan memijit-mijit seluruh bagian penis Dodo. Sepertinya ia sangat menyayangi penis Dodo yang hitam besar yang sebelumnya telah memberikan kepuasan tiada tara kepadanya. Jari-jarinya yang halus dan mungil kini bergerak-gerak disekelilin leher penis Dodo, dilanjutkan dengan ibu jari dan telunjuknya yang meraba-raba kepala penis Dodo yang membesar dan tak disunat itu. Kemudian ia mengocok-ngocok dengan tangannya, meremas-remasnya, sampai-sampai membuat Dodo menahan supaya tidak keluar. Tak puas dengan itu rupanya Dodo ingin supaya Liani, yang beberapa saat sebelumnya masih perawan itu, untuk meng-oral penisnya. Namun sebelum itu, dijepitnya penisnya diantara payudara Liani. Digosok-gosok penisnya di tengah-tengah dada kenyal Liani. Digerakkan maju mundur di antara dua bukit itu. Setelah itu, didekatkannya penisnya yang basah ke dekat mulut Liani. Mula-mula Liani menolaknya. Namun Dodo tetap menyuruhnya untuk “mencobanya”, “anggap aja seperti jamur” katanya sambil mengelus-elus rambut Liani. akhirnya Liani mau juga mengulum “jamur yang hitam besar itu”. Dan rupanya, ia tak perlu terlalu lama diajari urusan kayak gini. Membuat Dodo merasakan kenikmatan luar biasa saat penisnya dikulum di dalam mulut gadis berwajah oriental itu. Lidahnya di dalam mulut dengan lincahnya bermain-main di sekitar leher penis Dodo. Tampangnya yang innocent dengan polosnya menatap Dodo, sementara mulutnya sedang asyik mengulum penis Dodo yang sebelumnya telah menembus vaginanya untuk pertama kali dan memberikan orgasme kepadanya. Sementara kedua tangan Dodo tak mau menganggur, segera meremas-remas buah dada Liani. Sehingga keduanya saling merangsang satu sama lain.

    Wajah Liani yang innocent dengan polosnya menatap Dodo ketika mulut dan lidahnya sibuk memainkan penisnya. Sungguh kontras sekali pemandangan itu! Sehingga menggemaskan hati Dodo. Sampai akhirnya ia tak bisa menahan lebih lama lagi. Dengan memberi isyarat kepada Liani untuk mengocok penisnya dengan tangannya di luar mulutnya, akhirnya tak lama kemudian:
    “Crrooot, crooottt, croooot…”
    Dengan perasaan penuh kepuasan, muncratlah sperma Dodo dalam jumlah yang banyak. Sebagian besar mengenai wajah Liani, sebagian lagi ke rambutnya yang dicat kepirangan. Sehingga wajah Liani kini jadi belepotan dibuatnya. Namun Liani dengan patuh terus mengocok penis Dodo sampai seluruh spermanya habis keluar. Sebagian spermanya mengalir ke bawah membasahi leher dan dada Liani. Sesaat setelah “pertempuran” itu, mereka berdua nampak berbaring dengan napas masih terengah-engah. Hati Dodo penuh rasa puas karena akhirnya berhasil memerawani Liani di dalam kamar tidurnya sendiri. Sementara Liani, meskipun tak menduga kalau bakal sampai terjadi sejauh ini, namun tak dapat disangkalnya bahwa malam itu ia mendapatkan kepuasan luar biasa dari Dodo. Pada saat itu Dodo sedang membelai-belai rambut Liani dan tangan yang satunya meraba-rabai payudara Liani. Tiba-tiba HP Liani berbunyi. Karena masih rada kecapean, awalnya Liani enggan mengangkatnya. Namun karena HP-nya berbunyi terus menerus, dengan terpaksa ia mengangkatnya.
    “Halo.”
    “Halo Nik, ini Papi. Papi pulang hari ini. Sekarang lagi mampir beli bihun goreng di restoran XXX (restoran di deket rumah mereka), kamu mau nitip apa?”
    “Lho! Kok Papi sudah pulang? Bukannya harusnya pulangnya hari Minggu?”
    “iya soalnya tadi pagi customer Papi telpon, meeting-nya diubah besok. eh, kok napas kamu ngos-ngosan sih Nik?”
    “i-iya Pi, lagi asyik treadmill nih, trus Papi telpon.”
    “ooh, makanya tadi nggak diangkat-angkat. Kirain lagi mandi tadi. Gimana, mau nitip makanan nggak?”
    “ehhm, boleh deh. Kwetiauw goreng deh Pi. Pake telor ya.”
    “oK deh. Papi beliin. Bentar lagi juga nyampe rumah kok.”
    “oK deh Pi. Byee.”
    “Bye.”

    “Wah, gawat. Papi sudah mau nyampe rumah. Yuk, kita mesti buruan beres-beres,” kata Liani sambil buru-buru mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan wajah serta dadanya masih dibasahi sperma Dodo.
    “Tunggu dulu. Kita mesti bicara dulu. Sorry ya atas perbuatan gua tadi. Gua bener-bener lupa daratan.”
    “ah, udahlah. Sudah kejadian kok, mau diapain lagi.”
    “Loe nggak marah sama gua?”
    “Kenapa mesti marah? Lagian..lagian, gua tadi juga mau kok,” kata Liani sambil mukanya memerah.
    “Jadi kalo gitu, ntar kapan-kapan mau lagi donk?”
    “iiih, elu malah ngelunjak ya,” kata Liani yang mukanya makin memerah.
    “eh, gua nggak nyangka lu bisa jadi cewek brengsek juga,” kata Dodo menirukan kata-kata Liani sebelumnya.
    “idiih, elu deh,” kata Liani sambil memerah mukanya, “ini semua gara-gara loe, tahu.” “awas, lu jangan bilang siapa-siapa ya.”
    “Siip deh, asal jangan lupa “iuran hariannya” aja.”
    “iiih, elu dech.., kata Liani kehilangan kata-kata.
    Namun tiba-tiba Liani tersadar kembali.
    “eh, yuk kita mesti cepat-cepat beres-beres dan keluar. entar keburu Papi datang. Kalo ketahuan Papi bisa gawat deh,” kata Liani sambil mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai satu persatu.
    “Loe kalo mau bersihin muka buruan deh. ayo cepat, kita mesti ke luar sebelum Papi datang,” kata Liani lagi.
    “oK.” Kata Dodo mengiyakan. ia juga tak mau tertimpa masalah kalau sampai bokap cewek yang baru diperawaninya itu tahu apa yang barusan dilakukan terhadap anak gadisnya. Bisa berabe ntar gue, pikirnya. ia lalu membersihkan dirinya dan buru-buru mengenakan pakaiannya sambil matanya tak lepas memandangi Liani yang buru-buru mengenakan pakaiannya lagi. Sepertinya matanya ingin menikmati keindahan tubuh Liani sampai saat-saat terakhir.

    ———————————————————————————–

    Tak lama kemudian, kedua orang itu telah keluar dari kamar dan Liani menyuruh Dodo duduk di ruang tamu sementara dia akan mandi dulu supaya tampangnya kembali segar.
    “Bi Minaaah!”
    Tak ada jawaban.
    “Bi Minaaaah!”
    tak ada jawaban.
    “Bi Minaaaaah!”
    “iya, iya Non. ada apa?”
    “Lama bener sih. Lagi tidur ya? Bi, ada tamu datang. Tolong suguhkan minuman. aku mau di kamar dan mandi dulu.”
    “Baik Non.”
    Nah, ini adalah strategi Liani. Mulanya ia ingin menyuruh Dodo langsung pulang, sebelum Papinya datang. Namun hal itu dibatalkannya, karena ia tidak tahu kapan saat Papinya datang. apalagi rumah makan yang didatanginya sudah dekat dengan rumahnya. Kalau sampai berpapasan dengan Dodo yang meninggalkan rumah itu, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Kemana lagi Dodo di daerah situ kalau nggak mampir ke rumahnya. Sejak kapan Dodo datang? Padahal sebelumnya ia bilang sedang treadmill. Lebih baik diatur seolah-olah ketika ia sedang treadmill, Dodo datang. Sementara Dodo menunggu di ruang tamu, ia mandi dulu sehabis threadmill. Habis itu baru ia menemui Dodo. Pada saat itu, sudah tidak menjadi masalah lagi apakah Papinya sudah datang ataupun belum. apalagi sekarang dia ada “saksi” Bi Minah yang menyuguhkan minuman kepada tamu yang “baru datang.” inilah akal bulus Liani. Tak salah kalau ia termasuk salah satu siswi cerdas di sekolahnya. Karena memang otaknya encer dan banyak akal bulusnya.

    Dan ternyata, persis seperti perkiraan Liani, tak lama setelah Liani masuk ke kamar mandi, Papinya datang. Mula-mula ia heran melihat motor butut di halaman depan, namun Bi Minah menerangkan kalau itu motor teman Liani yang baru datang. Sementara Liani sekarang sedang mandi saat ia menyuguhkan minuman buat tamunya yang baru datang. ia sebenarnya kurang senang melihat Dodo, namun tetap menyapanya sebagai basa-basi.
    “ooh, baru datang ya? ayo silakan diminum dulu.”
    “Makasih oom. oom baru datang juga ya?”
    “Saya baru sampai dari australia. Kamu sudah makan?”
    “Belum oom.”
    “Kamu tunggu disini dulu ya. Liani masih sibuk di dalam. Tapi dia sudah tahu kok kalo kamu datang. Nanti kalau urusannya sudah selesai, dia pasti keluar nemuin kamu. Sorry ya, oom sudah lapar, mau makan dulu.”
    Dalam hati ia membatin,”Rasain lu, ngapain malam-malam kesini. Sekarang siap-siap aja nunggu lama disini. Belum tahu kalo Liani itu mandinya lama banget. Biar kapok lu supaya jangan kesini lagi.”
    “oh, silakan oom. Nggak apa-apa saya tunggu disini. Lama juga nggak masalah..”
    Dalam hati Dodo membatin,”Lagi sibuk apaan sih? Hehehe, pasti lagi sibuk bersihin mukanya yang barusan gua semprot ama peju”.
    Tak lama kemudian, keluarlah Liani dengan wajahnya yang innocent dengan senyum manisnya. Rupanya ia barusan mandi dan keramas. ia memakai t-shirt berkerah warna biru tua dengan rok bawahan warna putih.
    “eh, Papi udah datang.”
    “iya. Makanannya ada di meja tuh. oh ya, ada temanmu tuh di depan. udah lama nunggunya.

    “Sorry ya, lama nunggunya.”
    “oh, nggak apa-apa kok,” kata Dodo sambil mengedipkan matanya. Melihat Liani dengan wajah segar dan baju baru dengan dadanya yang menonjol membuatnya jadi ngaceng kembali. Namun kini ia boleh berbangga diri karena barusan ia telah menjadi saksi hidup betapa indahnya payudara yang menonjol di balik t-shirt birunya. Dan betapa nikmatnya bercinta dengan cewek cakep dan sexy yang ada di depannya ini.
    “Nik, kamu mau makan jam berapa? Teman kamu apa mau dibeliin makanan juga?”
    Dodo membatin,” Sialan, mau ngusir secara halus, pake basa-basa segala. Kalo memang mau beliin makanan kenapa ga dari tadi-tadi? Tapi sialan, kenapa sih loe pulang cepat? Kalau nggak khan gua bisa dapet ronde kedua.”
    “Makasih deh. Nggak usah repot-repot oom. Saya sudah mau pulang. Badan saya agak cape, soalnya dari tadi “naik turun bukit dan menerobos gang sempit”.”
    “Soalnya rumah kamu jauh ya dan masuk gang pula. untung saja motor kamu nggak mogok.”
    “oh kalo itu pasti nggak deh oom. Soalnya gitu-gitu “motor” saya kuat lho oom.”
    Batin Dodo,” Sekarang loe kaga ngerti khan apa yang gue maksud. Heheheheheh.. Kalo pengin tau, tanya tuh sama anak cewek loe. Dia barusan udah ngerasaain kuatnya “motor” gue.”
    “Biiik, tolong bukain pintu. Tamunya Nonik sudah mau pulang.”
    Batinnya,” akhirnya pulang juga loe.”
    “Permisi oom, saya pulang dulu.”
    “Liani, yuk gua pulang dulu. Thank you banget ya”, katanya sambil mengedipkan matanya.

    Tak lama kemudian melajulah Dodo dengan motor bututnya di jalan, dengan naik turun bukit dan menerobos gang sempit. Kali ini dalam arti sebenarnya. Sementara itu Liani dan Papinya asyik menikmati makanannya. Kembali Papinya menguliahinya supaya tidak bergaul apalagi sampai pacaran dengan Dodo. Cerita Maya

    “Malam-malam kesini. Papi yakin dia ada maunya sama kamu, Nik. Jangan sampai anak Papi pacaran sama berandalan kayak gitu.”
    Dalam hati Liani membatin, “ah, sudahlah, jangan banyak kasih petuah. Memangnya aku nggak tahu kalo Papi punya simpanan di luar.”
    Namun ia tidak mengungkapkan hal itu. ia cuma berkata,”iya, iya, Pi.. Nonik sudah tahu. Papi nggak usah kuatir, nonik nggak bakalan mau pacaran sama dia.”
    Lalu Papinya melanjutkan lagi,”iya, Papi juga tahu itu. Tapi bagaimana pun, kamu mesti hati-hati lho, Nik. Kadang orang bisa berbuat nekat. Dan kalau sampai ada apa-apa, yang rugi juga kamu sendiri. Soalnya kamu khan cewek. Mending jangan temenan atau ketemu sama anak itu lagi. Mengerti?”
    “Yah, kalo itu sih udah telat, Pi. Tapi aku nggak merasa rugi kok,” kata Liani di dalam hati.

    ——————————————————————–
    Epilog

    Keesokan paginya…
    Pagi itu seperti biasanya, dengan wajah ceria Liani turun dari mobil dan masuk ke kompleks sekolahnya. Seperti biasa, beberapa murid cowok yang melihatnya segera menyapanya, yang tidak berani menegurnya hanya mencuri-curi pandang ke arahnya. Semuanya tertarik oleh daya tarik cewek yang berwajah cakep innocent itu. Namun ia tak bisa berlama-lama berbincang-bincang, karena ia harus mengebut meneyelesaikan PR matematika yang harus diserahkan hari itu. Beruntung baginya, matematika adalah jam pelajaran yang terakhir. Sehingga ia bisa mengerjakannya pagi itu sebelum kelas dimulai dan juga waktu jam istirahat. Seharusnya ia mengerjakan semuanya kemarin. Namun saat ia sedang mengerjakannya setengah jalan, tiba-tiba Dodo muncul yang setelah itu membuatnya “sibuk dengan hal yang lain”. Setelah semuanya itu berakhir dan Papinya mendadak pulang, ia jadi nggak konsen lagi buat mengerjakan PR. Hari itu tidak ada seorang pun di sekolahnya yang mengetahui adanya perbedaan di dalam diri Liani dibanding hari sebelumnya, yaitu bahwa ia sudah bukan perawan lagi. Tidak ada seorang pun yang mengira hal itu, bahkan di dalam fantasi mereka yang paling liar sekalipun. Bagi mereka, Liani adalah gadis yang cakep, innocent, cerdas, bla-bla-bla…. Hanya Liani sendiri dan Dodo – cowok yang memerawani dirinya – lah yang tahu, bahwa usia 17 tahun bagi Liani adalah usia dimana ia kehilangan keperawanannya. Buat Liani, Seventeen is the age of innocence, ehmmm…or maybe not, depending on who you ask.

    The end.

    Hope you enjoy it
    This is the end of “Seventeen, The age of (not so) innocence”.
    But Liani will be back in the next episode.

  • Alfi dan Bu Gurunya yang Cantik

    Alfi dan Bu Gurunya yang Cantik


    52 views
    Bu Niken

    Cerita Maya | Rok Niken terangkat sedikit di atas lutut ketika dia menyilangkan kakinya yang panjang semampai membentuk betis yang indah. Bu Niken, guru Bahasa Indonesia itu sibuk menerangkan pelajaran di depan kelas namun pikiran Alfi tak sedikitpun menyimak pelajaran. Matanya mengikuti kemanapun tubuh semampai itu bergerak. Alfi tidak punya otak yang pandai, modalnya hanyalah sperma yang terus berproduksi. Namun Alfi tidak juga dapat disalahkan, Niken memang luar biasa menarik, apa-apa yang dimilikinya sanggup membuat lelaki manapun bertekuk lutut. Ia memang primadona di sekolah itu. Tidak hanya murid laki-laki tapi para guru pun tak dapat melepas pandangannya saat melihat wanita itu. Niken berkulit putih, berwajah cantik dengan rambut hitam terurai sedada dan berumur 25 tahun. Seorang sarjana sasra lulusan dari perguruan tinggi terkemuka. Lajang yang dua bulan lagi dipersunting seorang pengusaha muda kaya. Satu jam pelajaran terasa singkat bagi Alfi.

    “Uuuu… sudah bel” gerutunya
    Beruntung bagi Alfi ia duduk di persis depan meja guru. Posisinya paling dekat. Matanya sesekali menatap tonjolan indah pada dada Niken. Meski menghayalkan tubuh indah sang ibu guru namun ia harus tetap berhati-hati mencuri pandang agar Niken tak curiga. Tapi penisnya terasa nyeri akibat mendesak celana seragam sempitnya. Itu memang celana pendek yang sesuai bagi anak seusia Alfi tapi tidak untuk anak itu. Benda itu tumbuh sedemikian besar setelah bertahun-tahun di pakai ngentot. Alfi juga ingat bagaimana telatennya Sriti dulu mengocok penisnya mempergunakan ramuan campuran air teh basi dan beberapa jamu-jamuan. Cerita Maya
    “Untuk apa campuran ini kak?” tanya anak itu bingung, ia sungguh tak menyukai aroma yang hinggap di hidungnya.
    “Biar punya kamu tambah gede dan kamu bakal menaklukan banyak wanita kelak Fii” ujar Sriti saat itu.
    Setiap pagi barangnya digodok dengan ramuan itu, Bertahun-tahun kemudian baru terlihat manfaatnya. Penisnya tidak hanya bertambah besar dan panjang, namun efek ramuan itu juga membuat otot-otot tetap kaku setelah berejakulasi.

    “Uh sakit” keluhnya
    Anak itu kesal, napsunya yang memuncak tak dapat ia salurkan sementara Sandra sedang ke kota G bersama suaminya Didiet. Nadine sudah dua hari ini terserang flu demam dan Dian sedang halangan. Masih terngiang ucapan Nadine pagi tadi sebelum ia berangkat ke sekolah
    “maaf ya Fi, kakak belum bisa ngasih kamu pagi ini, tubuh kakak masih lemas.” ujar Nadine berusaha memberi pengertian.
    “kalau kamu mau biar kakak oral, mau?” ujar Dian nampak iba
    “Ngga usah kak, biar Alfi tahan”
    Kedua wanita itu tersenyum geli melihat Alfi pergi ke sekolah dengan muka cemberut.
    Alfi memang memiliki libido tidak normal dan nyaris tak terkendalikan, spermanya terlalu cepat berproduksi hingga testisnya bagai tak dapat menampungnya. Sandra dan kedua sahabatnya nyaris kewalahan meski Alfi mengiliri mereka bertiga setiap malamnya. Ketika pelajaran usai, Alfi seperti enggan untuk cepat pulang ke rumah. Ia tahu ke dua bidadarinya belum bisa ia jamah. Ia duduk satu persatu para siswa pergi meninggalkan sekolah semakin lama semakin sepi hingga akhirnya tinggal ia sendiri duduk sambil merenungi perjalanan hidupnya yang beruntung. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sosok makhluk cantik yang selama ini di pujanya. Niken baru keluar dari kantor, sepertinya ia baru selesai mengkoreksi ulangan kelas Alfi tadi dan akan pulang. Saat melangkah pada sebuah anak tangga, wanita itu tiba-tiba terhuyung jatuh. Alfi secara reflek memburu ke sana untuk membantu. Niken terpleset dan pergelangan kakinya terkilir hingga ia tak mampu berdiri
    “Aduhh..duhh..” erangnya saat sakit menjalar pada bagian yang terkilir tadi.
    “Bu mari Alfi bantu” ujar anak itu iba melihat gurunya yang cantik itu merintih kesakitan.
    Beruntung ia belum jauh dari kantor. Alfi membantu wanita itu bangkit dan menuntunnya perlahan duduk di bangku.
    “ibu tunggu disini Alfi cari air hangat buat kompres”
    Belum sempat Niken mencegahnya Anak itu sudah lenyap ke balik pintu. Dua menit kemudia ia kembali dengan sebaskom air hangat dan balsam. Alfi lalu meletakan baskom berisi air hangat di lantai.
    “bu masukan kaki ibu ke air nanti Alfi urut yang terkilir tadi”
    Sebenarnya Niken agak jengah diperlakukan seperti itu. Namun ia menghargai usaha Alfi yang sudah bersusah payah mengobatinya. Lagian kakinya memang terasa sakit sekali.

    “pelan-pelan ya Fi…” ujarnya lirih
    Alfi mengurut lembut pergelangan kaki Niken. Tangannya gemetar saat bersentuhan dengan kulit halus wanita itu. Sekilas ia melirik lutut hingga ke ujung jari yang dekat sekali dengan wajahnya. Semuanya terlihat begitu indah bahkan tercium bau harum berasal dari tubuh wanita itu.
    “untung tidak parah, sepertinya ibu cuma terkilir tidak sampai retak atau patah”
    Pijatan Alfi membuatnya agak nyaman dan perlahan rasa sakitnya mulai reda.
    “Gimana ulangan yang ibu kasih tadi, kamu bisakan?” tanya wanita itu memecah kekakuan
    Anak itu hanya menggeleng
    “Soalnya susah banget bu. Alfi tadi cuma bisa jawab sedikit-sedikit”
    “Loh.. kamu ngga belajar semalam ya?”
    “Belajar kok bu, tapi kata temen-temen yang lain soal ulangan tadi memang susah sekali”
    “Uh Cape ibu ngajarin kalian, kalau begini terus ibu mau berhenti ngajar saja!”
    “kalau gitu Ibu jadi foto model atau bintang film saja, ibu kan cantik”
    “Idihh.. kamu kok ngomong ngelantur, kamu tahu bicaramu terdengaran ngegombal”
    “Tapi Alfi bicara apa adanya, ibu memang cantik.”
    “masa?”
    “semua orang di sekolah juga tahu ibu cantik”
    “begitu ya?”
    “Betul bu, bahkan banyak pak guru yang suka sama ibu”
    “Aduh.. kamu ternyata juga pintar bikin gossip. Awas loh nanti pada heboh dan ibu disalahkan!”
    “abisnya ibu Niken cantik banget!”
    “udah ah kamu tambah ngelantur…emmm sepertinya sakit kaki ibu sudah banyak berkurang Fii” ujar Niken sambil mengerak-gerakan pergelangan kakinya.
    Niken bangkit dan mencoba untuk berjalan dan tak ia rasakan sakit itu lagi

    “makasih ya Fii, pijatanmu manjur sekali”
    Alfi tersenyum malu. Pujian Niken merupakan sesuatu yang luar biasa baginya
    “he..he ,Iya bu Alfi juga senang sudah nolongin ibu”
    “eng… Buu!”
    “Ya, ada apa Fi?”
    “Engg…Besok boleh kan Alfi  ngebantu ngebawain buku-buku ibu?”
    Niken tersenyum geli, secara naluriah ia tahu anak ini tertarik padanya seperti yang lain. Namun ia pikir itu adalah hal yang wajar dikerenakan pada anak usia Alfi sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya.
    “Begitu ya… hi hi ..baiklah, sekarang ibu pulang dulu, sampai ketemu besok Alfi” Niken melambaikan tangan sambil tersenyum.
    “Uhhh manisssnya”, angan Alfi melambung jauh
    Alfi gembira karena hari ini ia berhasil lebih dekat dengan Niken. Pulang dari sekolah, setelah selesai mandi dan hendak berpakaian, ia menoleh ke arah tempat tidur di mana nampak Dian dan Nadine menunggu sambil tersenyum manis padanya. Keduanya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang yang melekat pada tubuh.
    “Fi..Kakak sudah selesai ‘itu’ nya dan kak Nadine juga udah baikan sore ini ” ujar Dian
    “Kamu ingin siapa dulu yang menjadi istri kamu malam ini, kak Dian apa kak Nadine?”
    “Dua-duanya aja… kali ini Alfi mau ngentot bertiga sama kakak berdua”
    “Kok pulangnya telat, kemana aja Fii? Kamu ngga keluyuran kan?” tanya Nadine
    “Alfi ikut eskul di sekolah sampai sore” jawab anak itu sekenanya
    Alfi menyusul naik ke ranjang. Dian menjadi sasaran pertamanya. Vagina wanita itu masih dalam keadaan kering langsung di jebolnya. Sehingga ia terpekik
    “Aduhhh Fiii!! pelan-pelan dong sayanggg..ughhh”
    Lima belas kocokan cepat Alfi menghantarkan keduanya ke puncak kenikmatan. Stok sperma selama dua hari segera ia setorkan ke rahim Dian seakan ingin ia buang tanpa sisa.
    “oww.. Kakakkkkk!!! Enakkkkkk!” jeritnya
    “Sisain buat kakak dong Fii” ujar Nadine ketika dilihatnya pinggul Alfi berkali-kali mengenjang
    Sesudah berejakulasi sekali Alfi baru bisa mengontrol dirinya. Dian baru dicumbuinya mesra. Alfi menggarap tubuh cantik Dian setengah jam lalu Nadine mendapat giliran disetubuhi kuda jantan kecil itu. Begitu secara bergiliran mereka mereguk nikmat hingga tiba waktu makan malam. Lalu setelah itu mereka lanjutkan lagi hingga larut malam.

    *******************

    Alfi

    Sejak kejadian tempo hari hubungan Alfi dan Niken semakin akrab. Anak itu pandai mengambil hati gurunya yang cantik itu. Tak hanya membawakan buku-buku saja, terkadang Alfi rela terlambat pulang menemani Niken menyelesaikan urusannya di sekolah. Namun sejauh ini Alfi selalu berlaku sopan. ia tak terpikir untuk berani berbuat macam-macam terhadap Niken. Niken begitu anggun bak putri dalam cerita novel yang harus diperjuangkan untuk mendapatkannya. Menjelang pernikahannya yang tak lama lagi. Masih  hal yang mengganggu pikiran Niken selama ini. Soal Perjodohannya dengan Doni telah diatur oleh kedua keluarga mereka sejak mereka kecil. Doni adalah seorang pemuda tampan, terpelajar dan memiliki masa depan yang baik. Para sahabatnya mengatakan kalau Niken beruntung mendapat suami yang sepadan seperti Doni. Niken menerima perjodohan itu. Namun kenyataan itu tak seindah apa yang tampak.
    Doni ternyata adalah seorang playboy. Tak hanya sering ‘jajan’ ia juga menjalin hubungan khusus dengan beberapa wanita cantik karyawan di perusahaannya, bahkan setelah mereka resmi tunangan sekalipun Donie tak kunjung merubah kebiasaan buruknya. Niken bukannya tidak tahu akan hal itu. Ia bahkan pernah tidak sengaja memergoki Doni sedang berjalan berdua dengan seorang wanita. Kasihan Niken, kondisi ibunya yang mengindap penyakit jantung membuatnya ia tak mempunyai pilihan lain kecuali meneruskan perjodohan itu. Ia tak ingin mengecewakan harapan keluarganya terutama sang ibunda. Wanita itu hanya pasrah menerima nasibnya Selama berpacaran, memang Ia dan Doni tidak pernah sekalipun melakukan kemesraan secara fisik. Niken selalu menjaga diri dan menolak jika Doni mulai terlihat ingin menjamahnya, ia hanya akan memberikan segalanya pada Doni setelah mereka resmi menikah kelak. Selama ini ia hanya berusaha menyibukan diri pada pekejaan mengajar di sekolah Alfi. Adanya Alfi paling tidak dapat menghibur hatinya. Tawa dan canda anak mampu membuatnya tertawa serta melupakan masalah tersebut sejenak. Suatu hari setelah bel pulang berbunyi, seperti biasa Alfi pergi ke kantor untuk menengok siapa tahu Niken masih di sana. Dan ternyata harapannya benar. Wanita itu terlihat sibuk di mejanya.

    “belum pulang bu?”
    “Oh Alfi, belum . mungkin setengah jam lagi. masih ada ulangan temanmu yang harus ibu koreksi”
    “Alfi temani ya bu?”
    “Apa orang tuamu ngga marah karena kamu sering pulang terlambat karena terus menerus nemani ibu?”
    “Ahh..ngga kok bu, yang penting Alfi kan ngga keluyuran ke mana-mana”
    Niken tersenyum, ada perasaan nyaman setiap kali anak itu menemaninya.
    “Sebentar lagi ibu selesai, kita makan sama-sama ya” Niken selalu mempersiapkan bekal dari rumah apabila ia terpaksa harus lembur seperti siang ini. Seperti hari sebelumnya ia selalu berbagi makanan siangnya dengan Alfi, ia kuatir anak itu malah masuk angin karena menemaninya.
    “Alfi cuci tangan dulu ya bu, ni Alfi titip Hp ke ibu”
    Alfi pergi ke arah kamar mandi
    “ZZZZZ!!!!” belum lama Alfi pergi, HP tersebut bergetar lembut.
    “Uhh..sebuah sms masuk” mungkin dari orang tua Alfi yang menghubungi pikir Niken.
    Niken melirik benda di atas mejanya dan … Sejenak ia terpaku menatap baris-baris kalimat pada layar kecil tersebut. Berulang-ulang ia membacanya seakan tak percaya
    Sebuah pesan muncul
    “jam 15:00, Fii temui kakak di Mal hbs tu kita, ke tpt pertama kali kamu perawani kakak. Love Sandra”
    Siapakah si Sandra ini? Tidak mungkin ini sms nyasar, wanita itu menyebut nama Alfi pada pesannya tadi. Niken cepat-cepat mengalihkan pandangannya saat didengarnya suara sepatu Alfi mendekat ke arah kantor. Ia berpura-pura sibuk dengan tugasnya meski pikirannya begitu penasaran.

    Saat makan diam-diam Niken melirik wajah muridnya itu. Dipandanginya wajah ABG itu, seperti tak ada perbedaan antara anak ini dengan temannya yang lain, masih begitu polos. Apa mungkin anak bau kencur seperti itu telah berbuat yang tidak-tidak? Anak ini masih kelas satu smp paling-paling juga usianya baru 12 tahunan . Entahlah semuanya masih tidak jelas.
    “Haruskah aku tanyakan langsung ke Alfi? Sebaiknya jangan sebab aku yakin ia tak akan mau menjelaskannya. Sebaiknya aku ikuti saja kemana ia pergi nanti.” itu yang tersirat di pikiran Niken.
    Selesai makan Alfi baru menyadari ada pesan pada HP-nya. Niken melihat perubahan pada wajah Alfi yang nampak sumeringah. Alfi sama sekali tak menduga jika Niken sudah mengetahui pesan rahasia tersebut.
    “Bu Alfi ikut ibu ya kalau ibu ngga keberatan, nanti Alfi turun di perempatan Mal GG”
    “Loh.. ngga langsung pulang? Kamu hendak kemana?” Niken pura-pura
    “Alfi mau nemui ibu asuh Alfi, kak Sandra. Ia baru pulang dari kota G. nanti kami ketemuan di Mal”
    “A..a..pa.. ja..diii” Niken terkejut bukan main, hampir saja kelepasan begitu terkejutnya mendengar kenyataan bahwa wanita yang bernama Sandra tersebut ternyata adalah ibu asuhnya anak itu.
    “Kenapa bu? Ngga pa pa kalau ibu buru-buru, nanti Alfi bisa pergi sendiri naik angkot”
    Alfi mengira Niken tak bisa mengantarkannya ke mal. Niken segera menguasai diri, ia tak mau rencananya gagal. Untung Alfi tak curiga akan ketololannya tadi.
    “eh..uh..bukaann begituu Fii, eng nanti ibu antar kamu ke sana, sekarang kita beresin dulu bekas kita makan barusan ya”
    Tak berapa lama mereka meluncur ke arah mal GG. Niken sengaja mengantar Alfi hingga di pintu depan Mal.
    “ma kasih ya bu” ujar anak itu sebelum menutup pintu mobil.
    “sampai ketemu besok di sekolah Fii”

    Niken memarkir mobilnya tak jauh dari tempat tersebut. Dengan sabar Ia menunggu … dan menunggu. Hingga akhirnya setelah satu jam ia melihat  Alfi keluar bersama seorang wanita dewasa seusia dengannya.
    “Hm.. cantik sekalii, wanita itukah yang bernama Sandra?” gumam Niken
    Mereka masuk kesebuah taxi lalu meninggalkan mal. Niken tak membuang waktu. Ia ikuti taxi  tersebut . Wanita  itu sengaja menjaga jarak mobilnya dengan taxi yang membawa Alfi. Arus kendaraan yang agak macet cukup membantu Niken untuk tidak kehilangan jejak. Perjalanan itu membawa mereka ke luar dari kota. Setelah lebih dari satu jam, Niken melihat Taxi itu berhenti di sebuah resort pantai. Nampak Alfi dan wanita yang diduga Niken adalah Sandra tersebut turun dari taxi lalu mereka berjalan kaki menelusuri pantai tersebut. Niken tak ingin Alfi mengenali mobilnya. Keadaan hari yang mulai gelap memudahkannya untuk tak dikenali. Niken melihat jam, ternyata sudah pukul 18:00. Suasana pantai yang sepi, hanya terdengar suara deburan ombak dan binatang malam yang mulai keluar. Pandangannya menangkap bayangan beberapa pasangan yang sedang asik berpelukan memadu kasih di antara pepohonan nyiur di sepanjang pantai itu. Ia sempat ragu untuk meneruskan pengintaian ini, namun ia ingin semuanya menjadi jelas apa yang terjadi pada anak itu. Maka ia terus mengikuti keduanya dari jauh. Mereka memasuki wilayah lain dari pantai itu. Ada banyak bagunan tersebar . Bangunan mirip rumah kecil berornamen khas dan sebagian besar terbuat dari bahan kayu.  antara satu bangunan dengan yang lainnya berjarak berjauhan. Niken tahu itu yang disebut Cottage. Setelah berjalan cukup jauh dari tempat mobilnya akhirnya Niken melihat keduanya memasuki salah satu Cottage yang agak jauh terpencil agak tepisah dengan cottage lainnya. Malam itu bulan tak muncul. Menunggu hingga keadaan semakin gelap lalu perlahan ia mendekat. Seberkas sinar nampak muncul dari sebuah ruangan. Cahayanya membias pada jendela kaca bertirai indah. Ada celah di antara kain tirai yang tersingkap memungkinkan ia untuk melihat ke dalam. Wanita itu nyaris terpekik menyaksikan apa yang terjadi di dalam sana. Alfi dalam keadaan telanjang bulat sedang menindih wanita cantik yang bersamanya tadi. Tubuh Sandra masih memakai lingerie hitam dan keduanya sedang menyatu dalam gairah.
    Anakkk itu… ia bersetubuhh dengan ibu asuhnya… Meski ia dari awal sudah menduga-duga tetap saja ia sulit mempercayai penglihatannya.

    Mendadak kedua lutut wanita itu menjadi lemas. Jantungnya berdetak keras sementara napasnya ikut memburu. Ia teringat isi sms di handphone Alfi, ia sungguh tak habis berpikir bagaimana wanita cantik seperti Sandra mau disetubuhi bahkan diperawani anak ingusan yang mempunyai bentuk fisik dan tampang jauh dari harapan para wanita itu. Adegan itu berlangsung cukup lama, semuanya kini sudah jelas bagi Niken. Entah mengapa ia belum mau pergi meninggalkan tempat itu malah terus terpaku di situ. Dari posisinya mengintip nampak jelas Kemaluan Alfi yang besar dan hitam sedang keluar masuk secara cepat di dalam vagina Sandra. Nikenpun terkejut setelah ia melihat ukuran kemaluan Alfi saat benda itu sempat tercabut keluar dari jepitan vagina Sandra.
    Arkk… Gila…..besarnya…jika tak melihat sendiri rasanya sulit mempercayai anak seusia itu memiliki kemaluan seukuran itu. Benda itu terlihat seperti seekor ulat besar. Begitu besarnya sampai-sampai vagina Sandra terlihat menganga lebar. Vagina Sandra bagai ikut tertarik keluar saat anak itu menarik penisnya demikian pula sebaliknya bibir vaginanya ikut terdorong masuk saat penis Alfi mendesak masuk.
    “Apakah ukuran kejantanan Alfi yang membuat Sandra tergila-gila?” pikir Niken
    Beberapa saat kemudian sayup-sayup ia mendengar pekikan kedua insan berlainan jenis yang sedang diamuk nafsu birahi itu.
    “Kak sandraa….Alfi keluarrrrr!!!”
    “Fiii kakakkk juga ouhhhh”
    Entah jijik atau bukan ia tak tahu namun di dapatinya celana dalamnya basah oleh cairan yang keluar deras dari kewanitaannya. Ada perasaan kecewa yang menghimpitnya. Ia bener-benar shock, Alfi murid yang dikenalnya selama ini ternyata tak berbeda dengan pria kebanyakan yang memandang wanita hanyalah sebagai ojek seks belaka. Bahkan ibu asuhnya sendiri ia zinahi. Niken langsung teringat akan perbuatan Doni yang selama ini selalu ‘bermain’ di belakangnya. Ketika segalanya berhenti dan keadaan kembali hening
    Ia lalu berusaha bangkit dan segera meninggalkan tempat itu.

    ***************************

    Hari-hari berikutnya telah terjadi perubahan sikap pada Niken. Niken selalu menghindari pertemuan dengan Alfi, Wanita itu selalu pulang lebih awal tak pernah lagi bisa ia temui setelah usai jam sekolah. Awalnya Alfi mengganggap Niken hanya sedang sibuk dengan tugasnya namun setelah berjalan lebih satu minggu Alfi menduga memang sedah ada yang berubah. Yang membuat hati Alfi menjadi sedih, gurunya itu bahkan tak pernah lagi ia melemparkan senyumnya pada Alfi. Untuk menanyakan langsung ia tak mempunyai cukup keberanian, terkadang ia menghayal saat-saat  kebersamaan mereka. Suatu hari ia sengaja keluar saat jam pelajaran berlangsung. Dicarinya guru cantiknya itu. Beruntung baginya Niken sedang berada di ruang guru sendirian. Matanya celingukan melihat situasi yang memang sepi tak ada orang lain di ruangan itu. Lalu meski agak takut-takut Ia putuskan juga untuk menemuinya.
    “Bu..”
    Niken mengangkat wajahnya saat melihat Alfi ia kembali pada kertas dan penanya
    “Ya ada apa?” Alfi tak pernah mendengar Niken berbicara setegas ini, ada perasaan takut menjalari hatinya.
    “Apa salah Alfi bu, kenapa ibu tidak mau Alfi temani lagi”
    Niken diam tak menjawab. Alfi lemas sepertinya ia menduga apa yang menjadi penyebab perubahan sikap Niken.
    “ibu …sudah tahu hubungan Alfi sama Kak Sandra?”
    “Aku melihat apa yang kalian lakukan di tempat itu! Aku sungguh tak menyangka kalau dirimu mampu melakukan hal yang tabu tersebut!”
    “Tapi kenapa bu? Kak Sandra dan Alfi melakukan itu karena saling suka”
    “Tapi kamu belum cukup umur!” suara Niken meninggi “dan jika sampai ketahuan suami Sandra pastilah rumah tangganya akan hancur dan apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan suaminya!”
    “Baiklah mumpung ngga ada orang biar Alfi ceritain semuanya agar ibu ngga bingung”

    Alfi memutuskan untuk menceritakan segalanya, tak ada yang ia tutupi. Ia percaya dan yakin Niken bukanlah type wanita yang mau membeberkan aib orang lain. Niken tercengang mendengar penuturannya. Ia tak menduga ABGl di hadapannya ini sudah banyak mengalami peristiwa dasyat dalam hidupnya. Ada keibaan timbul dalam hatinya. Sungguh Alfi tak juga dapat disalahkan dalam hal ini.
    “Ibu sudah tahu semua tentang Alfi kan” ujar Alfi setelah selasai bertutur.
    Niken masih bingung harus berkata apa, rasanya sulit dicerna akal sehat bagaimana mungkin seorang suami membiarkan calon istrinya yang cantik diperawani anak seusia Alfi. Bahkan tidak hanya Sandra masih ada dua orang wanita yang sampai sekarang bergaul intim dengan Alfi
    “Ada lagi yang perlu ibu ketahui”
    “Apa itu Fi?”
    “Sebenarnya Alfi… cinta pada bu Niken dan Alfi ingin…intimi ibu ”
    “Ohh!! A..paa!!” Niken tersentak atas pengakuan jujur anak itu, ia tak menyangka kalau selama ini Alfi kecil memendam hasrat untuk melakukan hal-hal yang tabu pada dirinya.
    “Plaakkk!!!!” sebuah tamparan keras mendarat di wajah Alfi. Niken baru tersadar saat dilihatnya hidung Alfi mengeluarkan darah segar.
    “Ohh..Ma..afkan ibu Fii, Ibu tidak bermaksud..”
    Alfi menepiskan tangan Niken yang hendak menggapainya. Wanita itu menjadi serba salah.
    “Baiklah jika ibu tak sudi lagi melihat Alfi”
    Alfi berlari pergi meninggalkan Niken
    “Fii tunggu! biar ibu obati dulu hidungmu…”
    Alfi terus berlari tanpa menoleh lagi ke belakang. Hatinya hancur karena gagal mendapatkan hati wanita pujaannya itu.

    **************************

    Sudah tiga hari Alfi tak ke sekolah. Guru wali kelas Alfi memberitahu hal itu pada Niken
    “Tak ada berita, mungkin bu Niken tahu keadaan Alfi sebab saya lihat dia akrab dengan bu Niken”
    “Emm Saya juga tidak tahu. mungkin ia sedang sakit bu”
    “Ya.. baiklah kalau begitu”
    Setelah seminggu Alfi tak juga kunjung masuk.  Niken jadi betul-betul prihatin dan merasa bersalah. Ia menduga pasti penyebab keabsenan Alfi adalah akibat perlakuan kasarnya saat itu. Sungguh ia pun sudah keterlaluan.  Jika dipikir-pikir memang tak ada seorangpun yang dirugikan oleh perbuatan Alfi. Wanita itu  merasakan ada yang sesuatu hilang. Tiada lagi tawa canda Alfi yang selalu menemaninya saat ia memerlukan teman berbagi. Akhirnya Niken mencoba mendatangi rumah Sandra. Ternyata wanita itu sudah berangkat lagi ke kota G. Saat itu hanya bik Nah yang ada.
    “Alfi belum pulang non udah seminggu yang lalu dia pamit sama non Dian dan Nadine, katanya ada kemping dadakan dari sekolah” ujar bik Nah menjelaskan.
    “kemping bik?”
    “iya non emangnya ada apa non?”
    “Oh ngga ada apa apa bik. Oh ya apa dia pernah telpon-telpon kemari”
    “Wah selama bibik disini dia ndak pernah telpon selebihnya ndak tahu ya non soalnya bibik cuma kerja dari jam 9 sampai 12 menunggu sampai non Dian dan non Nadine pada pulang”
    Niken tercenung, rasanya ia tak harus memberitahu kedua wanita Alfi tersebut. Ia akan berusaha mencarinya dulu.
    “Yah sudah bik saya permisi dulu”
    Tak tahu harus kemana Niken kembali ke sekolah. Namun ia belum menginformasikan keadaan Alfi ke pihak sekolah. Ia masih ingin berusaha mencari tahu keberadaan anak itu.
    Seusai bel sekolah. Ia mulai melaksanakan rencananya. Niken adalah wanita yang cerdas,
    Ia tahu dimana bisa menemukan Alfi, dipacunya mobilnya menuju ke sebuah tempat yang ia yakini bisa menemukan anak itu.

    Hari menjelang sore ketika ia sampai di Cottage xxxxx, tempat yang menyimpan sejarah indah bagi si Alfi. Ternyata benar dugaannya. Si resepsionis menjelaskan bahwa memang ada seorang anak sedang menginap sendirian. Kebetulan tempat itu masih disewa selama satu tahun oleh orang tua anak itu. Niken mengaku sebagai tante Alfi agar orang itu mau memberinya kunci serep. Setelah memperoleh apa yang dibutuhkannya, Niken bergegas menuju tempat itu. Niken berhasil masuk, namun lampu cottage semua dalam keadaan mati, dengan hati-hati ia melangkah kuatir tersandung sesuatu dalam kegelapan kamar itu
    “Fii …apakah kamu di sana?..” Niken mencoba menyapa anak itu.
    Ia berusaha mencari stop kontak lampu namun terdengar suara anak itu
    “bu jangan hidupkan lampunya, Alfi mohon..”.
    Niken mengurungkan niatnya dan bukan main gembiranya Niken mendengar suara Alfi karena usahanya tidaklah sia-sia. Tadinya ia takut sekali anak itu sudah berbuat nekat
    “Fii! Di mana kamu?”
    Setelah beberapa detik matanya mulai terbiasa melihat dalam gelap. Barulah ia dapat menangkap bayangan anak itu. Alfi nampak sedang duduk di pinggir tempat tidur di dalam kamar besar. Tubuhnya tertutup oleh selimut tebal, seperti orang kedinginan. Dan memang kondisi kamar itu sangatlah dingin mungkin karena AC-nya dihidupkan selama berhari-hari. Niken mendekat, lalu ia duduk di kasur namun agak berjauhan dari Alfi
    “Fii .. sukurlah ibu bisa menemukan kamu, ibu seharian mencari kamu..kenapa kamu tidak pulang-pulang dan tidak ke sekolah?”
    “Kenapa ibu mencari Alfi?”
    Niken merasa serba salah,
    “ibu mau minta maaf atas kejadian tempo hari Fi, ibu khilap” ujar wanita itu lirih,
    namun Alfi diam tak berkomentar.
    “I..bu ingin mengajak kamu pulang, ibu ingin kamu kembali menjalani hari-hari kamu seperti sebelumnya”
    “aiii…..” terdengar Alfi menghelah napas “Alfi ngga mau bu..”

    “Loh kenapa apa mau membuat orang tuamu kuatir atau kamu masih marah sama ibu?”
    “Alfi ngga pernah marah sama ibu malah Alfi kesal sama keadaan Alfi sendiri, seharusnya Alfi ngga ikut tinggal dengan kak Sandra menjalani hidup normal ditengah-tengah masyarakat, biarlah Alfi besar di tempat Alfi dulu dimana orang-orang tidak pernah mempermasalahkan hal tabu dan tidak tabu, Alfi malu terutama sama ibu…”
    “Tidak Fii kamu jangan kembali ke tempat itu lagi, kamu juga ngga usah malu ibu sadar kamu tidak salah, ibu juga minta maaf sebab ibu telah lancang mencampuri kehidupan pribadimu”
    “Pulang sama ibu ya Fi”
    Niken berusaha mencairkan kekerasan hati anak itu, namun Alfi bersikukuh tidak mau diajak pulang. Tiba-tiba terdengar langkah menuju ke arah pintu kamar diiringi suara tawa cekikikan. Dua orang wanita cantik berbusana minim tahu-tahu menerobos masuk. Seorang berambut berwarna merah sedangkan temannya hijau. Niken dibuat terperanjat oleh kedatangan dua tamu tak diundang tersebut.
    “Hi  jantan, gimana pestanya malam ini jadi ngga? Hi..hi..hi” salah seorang menyapa Alfi dengan gaya nakal tanpa menghiraukan Niken di situ.
    “s..siapaa kalian masuk tanpa permisi?!” Niken terkejut melihat penampilan mereka yang tidak senonoh.
    “Wow. wow… rupanya sudah ada yang lebih dulu memacu kuda tunggangan kita” ujar si rambut hijau
    “ngga papa kan kita kan bisa main berempat” ujar temannya menimpali.
    Niken sudah dapat menduga-duga siapa adanya kedua perempuan itu. Sehingga timbul kemarahannya
    “Pergi kalian atau aku panggil satpam buat ngusir kalian!!!” bentaknya
    “Loh loh di ajak enak kok malah marah-marah, ….ya udah kalau ngga mau”
    “Yuk  kita pergi cari kuda jantan lain saja”
    “ya cari yang ngga bawa pengasuh” Ujar si rambut merah  bernada mengejek sambil ngelonyor pergi diikuti oleh temannya.
    “Awas kalian!!” kata Niken geram bukan main

    Setelah kedua perempuan itu berlalu Ia bergegas mengunci pintu depan agar kejadian barusan tidak terulang lagi. Niken menatap Alfi kesal kedua tangan wanita itu berkacak di pinggang. Niken adalah wanita berperangai halus sungguh mengherankan jika emosinya begitu gampang meledak. Ada perasaan yang aneh muncul dengan sendirinya, Ia tidak suka melihat kedua perempuan tadi menyapa Alfi, mungkinkah ia dibakar api cemburu… tidak mungkin…mungkin ia hanya prihatin terhadap perjalanan nasib anak itu, begitu banyak pertanyaan yang timbul dalam benaknya namun Niken masih tak menemukan jawaban. Tanpa Niken sadari rasa simpatinya terhadap Alfi selama ini berubah menjadi kasih sayang. Secara visual Alfi tidak memiliki daya tarik fisik bagi kaum perempuan, wajah tidak bisa dikatakan tampan, tubuh kurus kering, kulit hitam, pakaian selalu lusuh namun di balik itu bola mata yang yang bening masih begitu polos penuh kejujuran. Ia mau mengakui semua perbuatannya. Sedangkan Alfi meski ia masih di bawah umur ia begitu menunjukan perhatian serta kejujuran nya pada Niken. Bahkan terkadang ia seolah ingin melindunginya. Caranya yang polos saat ia menunjukan kasih sayangnya pada Niken. Hal-hal seperti itu tak Niken temukan pada sosok Donie tunangannya. Kembali pada keadaan di kamar cottage, wajah Niken cemberut menunggu jawaban penjelasan Alfi.
    “Alfi ngga pernah mengundang mereka bu, mungkin tamu lain yang salah masuk kamar soalnya Alfi lihat keduanya lagi teler” ujar anak itu.
    “Betul kamu ngga pernah boking cewek selama kamu di sini?”
    Alfi mengangguk
    “Alfi sudah janji sama kak Sandra, kak Dian dan kak Nadin, Alfi ngga bakalan ‘jajan’, Alfi ngga mau tertular penyakit” ujarnya polos
    Niken lega ia yakin Alfi tidak berbohong padanya.
    “Ya sudah Fii, baiknya kita pulang sekarang..”  ujar Niken.
    Ia harus bergegas membawa Alfi pulang agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat mereka hanya berdua dan berada jauh dari orang lain. Siapa tahu ada orang jahat mengincar mereka.

    “ibu ngga usah takut . Di sini aman kok yang tadi itu cuma kebetulan dan mereka bukan orang jahat”
    “Tapi kita ngapain lama-lama di sini Fi? Ayo dong ikut ibu”
    “satu minggu Alfi menunggu dan berharap ibu akan datang menemui Alfi, ternyata harapan itu sudah menjadi kenyataan, kini Alfi tak mau berpisah lagi dari ibu….Alfi sayang…..cinta sama ibu dan Alfi belum mau pulang sebelum……”
    “Sebelum aapa Fii?…”
    Sebelum Alfi  .. intimi ibu sama seperti Alfi mengintimi kak Sandra dulu di ranjang ini ”ujarnya sambil menatap mata Niken dalam-dalam.
    Alfi mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia tak kuatir Niken  akan menamparnya lagi seperti tempo hari.
    Deg… Anak ini…rupanya masih tak mau menyerah untuk mendapatkanku pikir Niken. Niken kaget mendengar pengakuan Alfi yang blak-blakan. Bahkan di saat-saat seperti ini anak itu masih sempat-sempatnya merayu. Tak cukupkah kehadiran Sandra dan wanita lain bagi anak itu?. bahkan Ia masih menginginkan dirinya. Ada perasaan aneh menjalarinya ketika teringat persetubuhan Alfi dan Sandra tempo hari. Dan kembali celana dalamnya membasah.
    “Ng..ga bolehh Fi, iibu masih.. suci. Lagian ibu sudah resmi bertunangan. Ibu sudah berjanji padanya untuk memberikan milik ibu kepadanya, itupun setelah kami resmi menikah, kamu mau mengerti posisi ibu kan?” ujar Niken setengah berbisik.
    Ia berusaha menghindar meski ada bagian dari dirinya yang memberontak pada keimanan dan akal sehatnya. Kegelisahannya tentu saja terbaca oleh insting Alfi.
    “Kalau begitu boleh kan Alfi minta yang lainnya  bu?”
    “y..yangg lainnn A..paa?”
    “Semuanya kecuali ‘satu itu’ boleh kan Bu?”
    Belum sempat Niken menjawab, Anak itu menekan tombol lampu kap di sampingnya sehingga menerangi kamar itu. Dan saat itu Alfi membuang selimut yang menutupi tubuhnya ke lantai.
    “Ohhh!!!” Niken terkejut melihat kondisi Alfi yang ternyata sudah tak dilekati sehelai benangpun.
    Semua lekuk tubuh telanjangnya jelas terlihat tersorot oleh sinar lampu. Ternyata Alfi sudah bugil sejak pertama ia datang tadi. Hanya saja ia menutupinya dengan selimut ditambah dengan kondisi kamar yang begitu gelap membuat Niken tak menyadarinya.
    Niken segera memalingkan wajahnyanya, tiba-tiba ia merasa jengah melihat tubuh Alfi yang telanjang. Meski Alfi masih tergolong ABG namun apa-apa yang dimilikinya sudah tumbuh sempurna. Sekejap Niken masih sempat melihat kejantanan anak itu yang besar dan hitam.

    Secara fisik ia terlihat tak berbeda dengan anak lain seusianya, namun tidak demikian pada bagian vitalnya. Benda itu membesar dua kali lipat ukuran normal. Bertahun-tahun dalam pengaruh lingkungan yang buruk telah membuat ia terpaksa menjadi lelaki dewasa secara instant. Pada tubuh kecilnya itu tersimpan energi untuk menaklukan para wanita di atas ranjang. Tak terhitung berapa pelacur ia tiduri sejak umur 7 tahun hingga saat ini, bahkan saat ini ia  tidur dan tinggal satu atap dengan tiga orang wanita yang cantik bak bidadari Sandra, Dian dan Nadine. Semua wanita yang pernah bercinta dengannya berhasil di buatnya tergila-gila akan kejantanannya. Belum hilang rasa terkejutnya tahu-tahu anak itu sudah begitu dekat di hadapannya.
    “Ibu cantik sekali..” ucap anak itu singkat.
    “fii kamuu…ngga bolehhh…” hanya itu yang terucap
    Alfi mengamati wajah cantik di hadapannya. Niken hanya diam saat Alfi menyentuh pipinya dengan jari-jemarinya. Namun ketika jemari itu bergerak menyentuh telinganya tubuhnya menggigil.
    “Ahh Fiii…” Niken mendesah pelan ada perasaan yang aneh merayapi dirinya.
    Kemudian Alfi menyentuh bibirnya. Tiba-tiba anak itu mencubit sedikit bagian tengah bibirnya. Saat Niken terkejut, Alfi menarik tubuhnya kedalam pelukan, sesaat kemudian bibirnya telah penuhi dengan ciuman dari anak itu. Niken berusaha menolak tubuh Alfi namun bibir anak itu melekat dengan bibirnya seakan sebuah magnet. tak ada celah yang memungkinkan udara keluar dari mulut keduanya. Lumatan bibir Alfi membawanya pada kenikmatan berciuman yang sempurna. Percuma saja mati matian ia menahan gairahnya yang menggelegak. Gairah itu kini menjalari tubuhnya dengan cepat mengatifkan seluruh syaraf-syaraf kewanitaannya. sementara insting telah mengambil alih kendali pikiran dan  mengalahkan akal sehat dan imannya. Pertahanan Niken akhirnya runtuh. Wanita memejamkan matanya menikmati itu semua, bibirnya terbuka perlahan menerima lidah Alfi yang mulai menyusup dan menjelajahi rongga mulutnya, jiwanya semakin melayang saat lidah miliknya bertemu dengan lidah Alfi dan saling membelit satu sama lain.
    tak ada yang bisa  ia lakukan selain merintih mesra. Entah kenapa ia malah mau meladeni perbuatan Alfi padanya. Awalnya ia hanya pasif menerima perlakuan Alfi namun lama kelamaan gairahnya naik dan ia mulai membalas setiap hisapan anak itu.

    Saat Niken sudah mulai tergoda untuk melanjutkan pada kemesraan yang lebih dalam,
    selanjutnya Alfi membiarkan wanita itu mengambil alih kendali ketika gairah wanita itu mulai terpancing naik. Terkadang ia malah menggoda Niken dengan melakukan gerakan lidah rotasi atau memutar. Tekadang gerakkan lidahnya ke kiri, ke kanan, ke atas dan bawah. Sehingga Niken penasaran mengejar lidahnya. Nafas keduanya memburu. Dua menit ciuman panas itu baru terlepas napas Niken terengah-engah. Namun bibir Alfi menjelajah pada sasaran lain. Lidahnya menyapu cuping telinga wanita itu. Sesekali ia lakukan gigitan-gigitan kecil membuat Niken terpekik geli.
    “Fii..kamu anak nakal!!” Wajah wanita itu merona merah. Ia tak menyangka ia meladeni ciuman Alfi barusan
    Niken sadar anak itu sudah sedemikian ahli dalam soal bercumbu. Ia jadi teringat adengan Sandra dan Alfi malam itu lalu juga kisah perjalanan asmara Alfi. Semuanya membangunkan gairah wanita dewasa itu. Ini pertama kali baginya melakukan hubungan yang demikian intim dengan lawan jenisnya. Ciuman Alfi telah  kembali ke bibirnya. Pada ciuman kedua ini Niken langsung membalas pagutan Alfi seakan ia betah berlama-lama seperti itu. Ia mulailah perlahan menuju bagian tubuh sensitif lainnya. Leher jenjang Niken dikecupi. Lalu perlahan makin turun hingga pada belahan dada putih wanita itu. Niken makin melayang, antara sadar dan tidak sadar ia membiarkan Alfi melepas satu persatu kancing bajunya. Saat itu ia memakai baju terusan, dengan mudah baju itu meluncur jatuh kelantai saat semua kancingnya terlepas. Kini nampak payudara Niken yang masih terbungkus indah oleh sebuah bra berenda-renda hitam. Warna yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Namun anak itu tak mau benda itu menghalangi hasratnya, ia tahu segera melepas pengaitnya. Alfi menggigil saat ke dua daging kembar itu menyembul dari balik pembungkusnya. Kedua benda itu mengantung indah dan sempurna, kedua puting susunya bersemu kemerahan. Alfi tak mengira betapa keberuntunganya ia malam ini. Milik Niken yang selalu diidamkan setiap pria di sekolahnya kini terpampang di hadapannya. Payudara Niken belum terjamah oleh siapapun kecuali dirinya.

    Niken sendiri sudah terperangkap dalam hasrat birahinya sendiri, ia tak hanya tak kuasa menolak perlakuan Alfi. Malah kini cenderung memberi peluang anak itu bertindak lebih jauh. Ia menikmati  setiap jamahan Alfi pada  tubuhnya. Matanya terpejam hanya rasa malu yang masih tersisa, selama ini belum pernah ada laki laki yang berani menjamahnya termasuk Doni tunangannya. Mereka berdua telah berkomitmen untuk tidak melakukan kemesraan dalam bentuk apapun hingga mereka menikah. Namun saat ini yang terjadi adalah ia  tak berdaya menolak seorang bocah dibawah umur tengah berusaha mencumbuinya. Perlahan cumbuan Alfi  berpindah ke dadanya yang kenyal, Alfi membuka mulutnya lebar-lebar, lalu perlahan dibenamkannya ke salah satu puting susu wanita itu lalu menghisapnya kuat. Alfi biasa mengemut dalam waktu yang lama bagai seorang bayi kehausan. Setelah puas menyusu, lidahnya menjilat ke seluruh permukaan bukit kembar itu seolah menjilat ice-cream. Kedua puting susu itu dihajar secara bergantian hingga mengacung tegak kedua-duanya.
    “Oohh… oohhhh… ooohhhhhh Fiiii geliiiiiii” suara rintihan Niken tak lagi tertahan. Tubuhnya mengelinjang gelinjang karena nikmat akibat perbuatan nakal bocah itu.
    Putingnya yang di’perawani’ Alfi menjadi sangat sensitif, anak ini benar-benar berpengalaman melakukannya. Alfi baru mendapatkan sebagian impiannya, ia selalu tak pernah gagal mendapatkan sisanya apabila sudah di tahap ini. Alfi kembali menetek sejak usia tujuh tahun pada banyak wanita, ia sudah tahu benar bagaimana menyenangkan seorang wanita melalui benda itu. Niken tak berbeda dengan ketiga ‘istri semu-nya’. Begitu menyukai putingnya dikerjai lama-lama. Alfi ingin meninggalkan kesan yang mendalam bagi wanita itu. Niken tak menyadari tubuhnya kini sudah terbaring diatas kasur, dadanya terlihat naik turun mengiringi nafasnya yang mulai tak beraturan. Sejak tadi celana wanita itu sudah terasa sangat basah oleh cairan bening yang terus menerus mengalir keluar dari kemaluannya. Sambil terus menyusu tangan Alfi mulai mengelus-elus permukaan perut Niken yang rata. Jemarinya bermain disekitar pusar wanita itu. lambat laun bergerak menjelajah  semakin ke bawah meraba bagian dalam paha.
    perlahan menelusup ke pangkal paha, dan mulai mengelus gundukan bukit kemaluan Niken yang masih tertutup celana dalam renda-renda hitam. Lalu jemarinya menemukan gundukan itu sudah basah dengan sebuah garis membelah tercetak pada permukaan kain itu

    Tangan Alfi meremas lembut gundukan itu dan menggunakan jari tengahnya mengusap belahan tipis tersebut, perlahan ke atas dan kebawah. Niken menggigil rangsangan yang tiada henti silih berganti. Hingga akhirnya jemari alfi bergerak ke samping. Jemari Niken berusaha mempertahankan penutup tubuhnya yang terakhir ketika ia rasakan Alfi perlahan berusaha  menariknya ke bawah.
    “Ohhh!! Fiii.. jangannn yang ituuu … …” ujar wanita itu lirih
    Alfi melepaskan cumbuannya pada dada Niken, berangsur kecupan-kecupannya turun semakin ke bawah. Lalu ia sampai pada tempat yang paling diinginkannya. Percuma saja ia berusaha merapatkan kedua kakinya. Kepala Alfi sudah terlebih dulu masuk di antaranya. Alfi berhasil membenamkan wajahnya pada selangkangannya. Walau masih tertutup oleh celana dalam, lidahnya menjilati seluruh permukaan kain lembut itu.  Gundukan itu semakin basah oleh air liur Alfi  terutama pada belahannya. Jemarinya tak kuasa lagi mempertahankan celana dalamnya ketika untuk kedua kalinya Alfi menariknya.
    benda itu akhirnya menyusul lepas sehingga kini tubuhnya yang indah sudah tak tertutup selembar benangpun. Meski sudah sering menggauli wanita cantik, Alfi tetap saja terpana oleh kemolekan tubuh Niken, gurunya yang cantik yang selama ini selalu ia dambakan termasuk setiap lelaki di sekolahnya. Alfi menyimpan perasaan yang berbeda terhadap Niken. Cinta telah berangsur tumbuh dalam hati bocah cilik ini lebih dari dalam dari cintanya pada wanita-wanita lain yang pernah ia kencani sebelumnya.
    “B..buuu…ibuuu..cantikkk sekalii….” Bisiknya lirih namun terdengar oleh Niken
    “Fiii..kamu liat apaaa?…..aaa”
    Dengan ke dua telapak tangannya Niken secara spontan menutup selangkangannya karena malu. Wajah anak itu hanya beberapa mili dari miliknya yang paling pribadi. Alfi mengecupi kedua paha berkulit halus terawat pelan-pelan hingga ke sekitar selangkangan termasuk jemari lentik Niken. Tak ada bagian tubuh wanita itu yang tidak indah, semuanya sempurna. Lama Alfi bermain di situ, perlahan jemarinya membuka dengan sendirinya. Niken hanya terlentang pasrah. Semuanya sudah terlanjur sulit untuk dihentikan lagi. Kini tak ada penghalang lagi bagi mulut dan lidah Alfi untuk mengeksplorasi bagian paling intim milik gurunya yang cantik itu. Harum khas bagian itu menggelitik seluruh syaraf kejantannya.

    Baca Juga Cerita Seks Alfi dan Lila, Si Dokter Cantik

    “Ohhh…” desah Niken saat Alfi mengecup lembut belahan bibir kewanitaannya.
    Alfi mengecup lagi.. dua kali…tiga kali..lidahnya disapukan dari dari bawah hingga ke atas. Crass..crasss..cairan memancar meleleh keluar dari belahan cantik itu. Dengan penuh ketelatenan dia melahap dan menghisap tiap mili vagina Niken yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan sesekali sapuannya menyentuh klitoris. Bocah itu mengerahkan seluruh kepandaian yang ia punyai, ia ingin memberikan yang terbaik bagi pujaan hatinya itu. Alfi tahu klitoris adalah bagian genitalia wanita yang paling sensitif, melebihi vagina. Berkat pengalaman lidahnya segera menemukan letak benda mungil tersebut. Jilatan lidahnya segera ia pusatkan ke situ, ia memulai menjilat dengan lembut. Secara perlahan-lahan sekali, lalu gerakan lidahnya  dipercepat dan tekanannya makin kuat. Kelincahan lidahnya bergerak memberikan sensasi luar biasa bagi Niken. Sesekali Alfi menggunakan bibirnya untuk menghisap benda mungil itu  seakan-akan ia berciuman dengan vagina Niken. dan secara bersamaan lidahnya menggelitik klitorisnya yang berada di tengah dengan gerakan lidah. Perlahan, kuluman dan jilatan pada benda mungil nan cantik itu membuatnya mengeras bak sebuah kacang. Niken terpekik pekik-pekik kecil dibuatnya. Rasa geli dan sengatan birahi membuat Niken semakin tak mampu menahan laju gairah Alfi. Kedua paha mulusnya mengepit kepala Alfi. Anak ini benar benar sudah sangat berpengalaman. Perlakuannya sungguh membuat Niken serasa terbang, tubuhnya menggelinjang-gelinjang geli diiringi erangan nikmat. Sampai akhirnya sebuah orgasme  datang menyapanya untuk pertama kali dalam kehidupan wanita itu.
    “Auuuwwwwwww!!!!…Fiiiiiiiiii!!!!!!!!” Wanita cantik itu terpekik tak kuasa menahan rasa geli dan nikmat
    Otot-otot vaginanya mengejang dahsyat, berkontraksi kuat dan berirama, cairan cintanya memancar lebih banyak lagi hingga tumpah di sprey putih.
    “Inikah yang disebut orgasme? Begitu dasyat kenikmatan yang kurasakan. Tapi aku memperoleh orgasme pertamaku dari jilatan-jilatan lidah seorang anak kecil di bawah umur …muridku sendiri” pikir Niken.

    Niken rasakan sekujur tubuhnya menggigil. Kesadaran wanita itu sejenak hilang, pandangannya nanar, serasa jiwanya melayang tinggi, raganya serasa terendam ke dalam samudera kenikmatan ragawi yang tak bertepi. Secercah cahaya putih yang berpendar di matanya lalu menjadi kabur. Entah berapa lama ia tak sadar. Lalu perlahan-lahan bisa ia rasakan kesadarannya berangsur pulih. Masih ia rasakan lidah anak itu menyapu  dan menjalari seluruh relung vaginanya, menghisap habis tiap tetes cairan cintanya tanpa sisa. Sesaat kemudian Niken baru menyadari bahwa Alfi telah mengambil posisi menindihnya, dan tubuh anak itu di antara kedua kakinya. Kedua paha putihnya masih terpentang lebar telah memberi jalan bagi Alfi.
    “Alfi… kamu mau apaaa?..”
    “Ibu pernah petting ngga?” bisik Alfi
    Niken menggeleng, ia sungguh tak mengenal istilah tersebut meski ia seorang guru bahasa Indonesia.
    “Kita cobain yuk”
    Niken terkejut saat Alfi mengarahkan penisnya ke arah vaginanya.
    “Fii..jangan….ibu ngga mauu”
    “ngga pa pa… Alfi cuma mau masukin kepalanya aja trus Alfi cabut lagi” Alfi mengosokan ujung penis ke atas dan kebawah pada bibir vagina Niken
    “ja..ngannn Fiiiii ..ohhhhh”
    Alfi dalam posisi yang tepat sehingga Niken tak kuasa mencegahnya.
    Leppp!!! Ujung kulup Alfi yang mbdol besar itu lenyap juga membelah dan masuk ke belahan liang cinta Niken.
    “Auuhhh..sakiittt!!” wanita itu terpekik oleh rasa nyeri yang menjalar saat ‘liang kewanitaan’nya dikunjungi penis Alfi
    Niken segera mendorong perut anak itu hingga titit Alfi melenjit keluar lagi, ia silangkan kedua pahanya untuk menutup jalan Alfi. Ada perasaan takut akan kehilangan kewanitaannya. Niken menatap selangkangan anak itu. Benda dahsyat itu teranguk-angguk. Ujungnya bulat mirip cendawan dan  basah berlumuran lendir.
    “Uh..pantas agak nyeri pikirnya. Ternyata besar sekalii…. Nyaris melebihi bola pingpong.”
    Ia heran, Bagaimana mungkin anak ini mempunyai kemaluan sedemikian besar. Meski demikian Niken tak memungkiri  penyatuan yang hanya berlangsung satu setengah detik tadi sempat menimbulkan nikmat yang luar biasa.

    “ngga sakit lagi kan bu? Alfi masukin lagi ya bu seperti tadi?”
    “ngga mau ah”
    “kenapaa buuu?”
    “punya kamu besar banget. Nanti perawan ibu robek!”
    “Buuu..tadi itu enak sekalii…Alfi boleh dong minta lagiii..” ujar Alfi memelas ia takut Niken mengakhiri permainan ini
    “Alfi janji ngga sampe mecahin selaput dara ibuu, boleh ya buu..?
    Niken jatuh iba melihat anak itu merengek-rengek, meski ia ragu dan takut untuk melangkah lebih jauh akhirnya ia putuskan memberi jalan Alfi memasukinya.
    “Betul..ya Fiiii jangan sampai kena selaput ibu”
    “He e , Alfi janji ngga dalem-dalem”
    Alfi membuka kedua paha mulus wanita itu, lalu ujung penisnya kembali membelah garis tipis kewanitaan Niken. Leppp!!! kepala penis berkulup itu masuk untuk kedua kalinya
    “Aduhhh……Fiiiii”
    Niken mengeliat saat benda itu kembali bersarang di kewanitaannya, nyeri menyapanya namun diiringi geli dan nikmatnya bukan kepalang. Setelah masuk Alfi menahannya lebih lama dari tadi. Pinggul Alfi mulai bergerak mundur maju mengocok lembut vagina wanita itu. Ia  tarik mundur sedikit namun tak sampai penisnya lepas tercabut lalu kembali melesak masuk lagi sedalam tadi. Memang tak banyak gerakan yang dibuat Alfi, namun itu cukup untuk membuat Niken menggelinjang nikmat. Pompaan kecil itu berlangsung lima menit hingga Alfi menjerit tertahan.
    “Buuu Nikennn sayangggg!! Alfi sampeee…. Arrgggg!!!”
    Alfi berupaya menahan laju spermanya keluar. Namun sia-sia, semakin ia tahan, gatal dan nikmat itu semakin tak tertahankan. Saat cairan itu menjalar perlahan dan tertahan pada lubang kencingnya. Mata Alfi mendelik hingga tinggal bagian putihnya. Niken bingung harus berbuat apa saat menatap ekpresi wajah Alfi yang bagai kesakitan.
    Tapi ia tahu anak itu sedang merasakan nikmat luar biasa
    “ohh..Fiiii… jangan di..cabutt..keluarinnn di dalam punya ibuu…” bisik wanita itu tersengal-sengal karena nafsupun mengukung dirinya.
    Alfi betul-betul tak menyangka Niken membiarkannya untuk berejakulasi di dalam vaginanya.

    Ucapan Niken berdampak besar bagi bocah itu. Gairah dan gejolak seksual semakin lepas kendali. Perasaan sayangnya yang menggebu terhadap Niken membuatnya mengalami kegagalan kali ini. Biasanya ia masih bisa mengulur-ulur waktu. Namun kali ini ia sudah tak mampu menahannya lagi. Saat itu juga Alfi memekik kuat sambil melepas orgasmenya
    “Yaarrrggggghhh…”
    Crettt..crettt..crotttt!!
    “Ouhh..Fii..Fiii..Fiii” desah Niken lirih ketika benih cinta Alfi memancar dari lubang kencingnya menyirami relung-relung kewanitaannya.
    Dirasakannya penis anak itu berdenyut-denyut keras masih memancarkan cairan kental dan hangat dalam kewanitaannya. Begitu dasyat kenikmatan diterima Alfi. Niken adalah wanita pertama yang mampu membuatnya berejakulasi lebih dulu. Vagina wanita itu seakan betul-betul tercipta untuk menaklukan keperkasaannya. Alfi ambruk di dada Niken. Setengah menit Alfi berusaha menarik nafas sementara wanita itu membelai-belai rambutnya.
    “Ma kasih Bu.. Alfi jadi tambah sayang sama ibu” bisiknya Alfi masih penasaran
    “Dasar anak nakal, pintar ngombal”
    “Cuma ibu yang bisa bikin Alfi muncrat duluan…”
    “Betulkah?”
    “He e… Alfi kalah sama ibu, punya ibu enak sekali..”.
    Niken tersenyum ada rasa bangga dalam hatinya dapat menaklukan jantan kecil ini.
    ia berharap Alfi cukup puas tanpa harus merengut keperawanannya. Niken perlahan mendorong perut Alfi. Air mani Alfi  meleleh tumpah di sprey. Namun wanita itu terkejut saat mendapati kenyataan, begitu cepat penis anak ini menegang lagi. Seharusnya seorang lelaki butuh istirahat untuk memulihkan tenaga kembali telah membuang spermanya begitu banyak. Tetapi tidak bagi Alfi
    “Ohh Fii.. itumuu ..be..besar…lagii”

    Alfi memberi waktu buat Niken itu mengamati barang miliknya yang berangsur membesar kaku. Bagi Niken benda itu terlihat aneh kepalanya jauh lebih besar dari batangnya. Benda yang tadi sempat masuk ke dalam miliknya. Alfi tak mau berlama-lama ia takut gairah Niken menurun bahkan hilang. ia gosokan penisnya ke atas dan ke bawah belahan vagina gurunya menyentuh klitoris lalu lalu perlahan bulatan kepala  masuk hingga membentur selaput dara Niken.
    “uhh.. dia masuk lagiii” gumamnya lirih.
    Kali ini Alfi tak ingin kalah lagi. meski Niken memiliki jepitan mulut vagina sangat istimewa nikmat. Namun Alfi sesudah orgasme satu kali penisnya sudah jauh lebih tahan.
    “ougggggh…Fiiiiii”
    Alfi mengocok dengan cepat. Niken terbuai dan larut dalam goyangan birahi Alfi.
    Matanya  terpejam menikmati persetubuhan ini. Ia masih sulit percaya  membayangkan yang sedang dicumbui oleh seorang ABG berumur 16 tahun. Penis anak itu meluncur mulus sampai menyentuh selaput daranya. Niken mengerang setiap kali Alfi menyodokkan penisnya. sesekali penis Alfi terlepas. Alfi mulai percaya diri,
    “Oughhh Fiiii.” desah wanita itu.
    Alfi tahu gesekan dan sodokannya akan berhasil membawa wanitanya menuju ke puncak kenikmatan. Semakin cepat..cepat..dan..
    “Arrrrgggg……….Fiiiiiiiiiiiii !!!!!!!” Wanita itu menjerit mendapatkan orgasmenya.
    Tiba-tiba vagina Niken mencengkram hebat penisnya jauh lebih keras dari sebelumnya.
    Alfi terpekik tertahan tak menduga vagina wanita itu menjadi begitu nikmat. Alfi tahu satu dua kocokan lagi ia pasti sudah muncrat lagi. Namun ia berusaha bertahan sedikit lagi. Dalam hitungan detik setelah ia yakin Niken telah mendapatkan kenikmatannya
    bocah itu kembali melepas benih cintanya di sertai pekik kenikmatan.
    “ohhh buuuu.. Alfi keluarrr laagiii!!!!!!”
    Alfi memeluk gurunya itu dengan erat. Membenamkan kepala kecilnya pada dada Niken yang empuk.
    “Buuu Alfi sayang ibu…”bisiknya.
    “Ibu juga sayang kamu fi…”
    “benarkah?” Alfi mengangkat wajahnya untuk memandang wajah Niken seolah tak percaya dengan ucapan ibu gurunya yang cantik itu.

    Niken tersenyum dan mengangguk. Di tekannya kepala Alfi kembali ke belahan dadanya.
    Dan dibelainya. Ia tak tahu tiba-tiba ia merasakan benih-benih kasih sayang timbul dan menguat terhadap Alfi. Apakah perasaan ini yang muncul pada Wanita-wanita Alfi sebelumnya? Sehingga mereka rela menyerahkan milik mereka yang paling berharga…keperawan. Napas Alfi masih agak tersengal-sengal. Menaklukan wanita yang satu ini sungguh telah menguras tenaganya. Penisnya perlahan kembali keukuran semula dan terlepas dari vagina Niken. Mereka berdua akhirnya jatuh tertidur. Entah berapa lama Niken tertidur, saat ia terbangun Alfi masih dalam posisi menindih tubuhnya. Alfi sudah duluan terjaga dan kini sedang menetek padanya.
    “Ahh.. ia ereksi lagi” desah Niken sambil menarik napas panjang
    Ia merasakan benda itu kembali ‘bangun’ di atas bukit kewanitaanya padahal baru satu jam yang lalu ia dan Alfi bergumul. Kini anak itu menginginkannya lagi Niken tak tahu ia harus kuatir atau senang. Petting barusan nyaris merusak selaput daranya. Karena penis Alfi menerobos terlalu dalam. Beberapa jam ini ia cukup kelabakan menangani napsu anak ini yang tak kunjung reda. Dua kali ejakulasi tak cukup bagi Alfi, anak itu telah mengenalkannya pada dunia yang tadinya dianggapnya tabu mulai dari nikmatnya saling melumat bibir hingga petting. Niken merasa ia harus berusaha menghindari Alfi, ia takut makin terhanyut oleh permainan anak itu hingga akhirnya harus menyerahkan miliknya yang paling berharga. namun selalu seperti sebelumnya, ia tak bisa. Ia tak sanggup menolak. Naluri kewanitaannya juga menginginkan belaian-belaian dari bocah itu.
    Kenikmatan itu begitu memabukkan, membuatnya ketagihan
    Ughh…penis anak itu kembali menancap menyumbat jalan di mana bayi-bayi Niken akan lahir kelak. Gatal nikmat menjalar cepat menyengat selangkangannya akibat ujung sengat Alfi yang masih berkulup penuh.
    “Bu….”
    “Egg?”
    “boleh ya bu, kali ini … Alfi masukan semua titit Alfi kepunya ibu?”
    Niken telah menduga sejak awal kalau akhirnya anak ini akan meminta hal itu juga.
    “Jangan fii …, Alfi kan sudah janji . tidak akan melakukan lebih dari hanya sebatas petting..”
    Dengan akal sehatnya Niken masih berusaha mengendalikan hasrat pada dirinya yang juga menggelora. Niken bukan tidak tahu resiko permainan apinya dengan Alfi .

    Hanya tinggal satu langkah lagi ia dan Alfi akan melakukan apa yang hanya boleh ia lakukan dengan Donie sebagai suaminya yang sah kelak. Apabila ini terjadi ia tak bisa mundur lagi ke belakang menjelang pernikahan dengan tunangannya dua bulan lagi.
    Bagaimana jadinya kalau Donie mempermasalahkan keperawanannya di malam pertama mereka nantinya. Tidak semua laki-laki seperti Didit yang mau menerima wanita yang sudah tidak suci lagi sebagai istrinya
    “Alfi ngga mau ingkar janji sama ibu, tapi…kalau ibu ijinkan meski hanya sekali ini saja Alfi ingin menjadi laki-laki pertama yang ngentot sama ibu, dibunuh sama pak Donie pun Alfi rela demi cinta Alfi sama ibu”
    Niken nyaris tertawa mendengar celoteh dan rayuan anak itu. Rengekan seorang bocah polos. Mekipun dalam hatinya ia mengakui kejantanan Alfi. Namun ada beberapa hal yang membuat dirinya tidak dapat mengabulkan keinginan Alfi. Baginya Petting sudah merupakan tahap terakhir yang dapat ia berikan untuk anak itu. Alfi merasa kecewa ia tahu ia tak mungkin memaksa Niken. Ia maklum Niken pasti tidak mau menyerahkan keperawanannya. Namun Ia sudah bersukur Niken mau meladeninya hingga pada tahap ini. Alfi masih menindih tubuh sintal guru cantiknya itu  Ia terus menerus memberikan rangsangan terhadap tubuh Niken, mulutnya menghisap kuat  puting sebelah kiri payudara putih Niken karena  ia tahu yang kirilah yang paling sensitif. Sementara kepala penisnya tetap bergerak keluar masuk dalam kelopak vagina wanita itu, ini adalah posisi paling di sukai Sandra dan kedua temannya, demikian pula dengan Niken. Ia merasakan kenikmatan ganda. Hanya Alfi yang bisa melakukan persetubuhan sambil menetek berbarengan secara sempurna. Karena usianya masih di bawah umur sehingga tubuhnya yang jauh lebih pendek dari wanita dewasa bertubuh setinggi Niken. Hal itu memungkinkan ia mendapat posisi yang ideal. Hampir satu jam lamanya ia melakukannya. Entah kenapa Alfi tak kunjung ejakulasi padahal Niken sudah empat kali memperoleh orgasme. Semakin lama vaginanya semakin sensitif terhadap rangsangan. Bahkan orgasme yang terakhir barusan nyaris membuat air kecingnya ikut memancar keluar bersama cairan cintanya. Rasanya ia tak mampu terus menerus melawan kemesraan yang diberikan Alfi padanya

    “fiii……masuk..kan…semuaaa, ibuuu tak tahann lagiii ohhhh…” akhirnya Niken berbisik demikian ke telinga Alfi
    Alfi bukan main terkejut namun gembira mendengar penyerahan terakhir wanitanya itu, sungguh ia tak menyangka akhirnya gurunya mengijinkannya melakukan  penetrasi penuh ke liang senggamanya yang masih perawan.
    “ughhh buuu.… Alfi entot ibu sekarang ya?” ujar bocah itu lirih
    “Iya fii..iya.. milikii ibuu sayangg!!!! Ohhh!!” rintih wanita itu. Tak ada rasa malu yang tersisa
    Niken sudah tak peduli lagi terhadap statusnya sebagai seorang pendidik atau sebagai calon istri Donie ….bahkan… pada kehormatannya yang bakal terengut. Birahinya sudah sampai pada titik puncak Kini ia hanya butuh penuntasan dari sang murid yang sedang menggumulinya. Tak membuang waktu Alfi mendekap tubuh sintal sang ibu guru yang cantik itu. Mulutnya menyergap kembali putting sebelah kiri Niken. Melumatnya untuk meningkatkan rasa nikmat bagi wanitanya sebelum penyatuan itu terlaksana. Petting yang mereka lakukan sejak tadi sebenarnya sudah nyaris merobek selaput dara wanita itu.
    Hingga tak terlalu sukar bagi penis Alfi melakukan penetrasi total. Alfi menurunkan pinggulnya dan dengan satu hentakan lembut kewanitaan Niken merengang dan terkoyak
    “Awww.. Fiiiii….Sakiiiiiiiit!!!” pekik Niken lirih perih saat selaput daranya robek, jemarinya mencengram pinggul Alfi.
    Penis bocah itu terus mendesak masuk perlahan menjamahi semua keindahan yang sudah sekian lama didambakannya di dalam sana hingga akhirnya berhenti setelah ujungnya yang berkulup menyentuh dasar liang cinta itu. Untuk kesekian kalinya bocah ini berhasil merengut keperawanan seorang wanita dewasa yang juga cantik dan menggiurkan tak kalah dari wanita-wanita sebelumnya. Darah keperawanan wanita itu meleleh membasahi serey putih di bawahnya. Penantian Alfi selama ini telah menjadi kenyataan, kini sang ibu guru yang cantik sudah menyerah secara utuh dalam dekapan eratnya.

    Kulit Niken yang halus lembut bersentuhan tanpa penghalang dan batas apapun dengan tubuh kasar Alfi. Kemaluan mereka bertaut erat menyatu dengan sempurna seakan penis Alfi memang tercipta bagi vagina Niken begitupun sebaliknya. Alfi merasakan nikmat dalam liang perawan ketat yang itu berdenyut melumat seluruh batang penisnya
    “Ougghhh..Fiii…pelann pelannn…”
    Niken mulai merasakan sengatan nikmat melanda selangkangannya meski sakit masih ia rasakan. Tak ingin wanitanya mengeluh, Alfi mengocok lembut daging kejantanannya.
    Ditariknya  sedikit sejauh satu senti menghujam lagi perlahan hingga menyentuh dasar rahim lalu dua detik ditahannya di sana. Berulang-ulang ia ulangi gerakan itu
    “Ouhh…uuu..Fiii”
    Niken mengangkat pinggulnya bila titit Alfi ditarik keluar, begitupun bila penis Alfi menekan masuk, ia mengikuti arah gerakannya. Vaginanya begitu penuh sesak oleh daging cinta hitam milik Alfi. Gatal dan nikmat makin tak tertahankan. Ketika orgasmenya datang Niken pun terpekik
    “Fiiiiiiiiii!!!!!!!!……Oughhhhh……”
    Wanita itu mempererat dekapannya. Kedua kakinya melingkar dipinggul Alfi dan menekannya. Ini orgasme Niken yang pertama hasil persetubuhan secara penuh dengan Alfi. Bola mata Niken lenyap hanya tinggal putihnya. Cairan cintanya memancar deras, sungguh tak terkira nikmatnya, jauh lebih nikmat dari sebelumnya, bahkan berjuta kali jauh lebih nikmat dari petting barusan. Alfi tahu apa yang harus ia lakukan saat itu,
    Ia berusaha menambah sensasi kenikmatan orgasme bagi Niken. Sambil bertahan ketika vagina Niken berkontaksi melumat penisnya, ditekannya benda itu sedalam dan selama mungkin pada kemaluan wanita itu. Lalu dikerahkannya kekuatan otot  kemaluannya untuk membuat denyutan-denyutan berirama dan keras, nampaknya ia berhasil. Vagina Niken masih terus menghisap penisnya hingga satu menit.
    “Buuu….Nikennn…enaakkkkkk!!”Alfipun terpekik dalam sensasi nikmat.
    Alfi menggigil menahan nikmat namun ia tak mau berakhir secepat itu. Spermanya seakan ingin meledakan di ujung penisnya namun masih dapat ia pertahankan sekuat tenaga.

    Alfi tetap mengocok penisnya kali ini secara cepat. Niken terkejut gerakan Alfi kali ini membuatnya begitu cepat melambung
    “Ohh.. Alfiiii… kamu kuat sekaliiiii”
    Nampaknya sesi kali ini tidak berlangsung lama, baik Alfi maupun Niken tak mampu lagi bertahan.
    “Bu Niken sayaaang…Alfiii sudah mau keluaarrr!!”
    Niken mengeratkan jepitan kakinya pada pinggul Alfi mencegah anak itu untuk mencabut penisnya. Segera hanya hitungan detik, orgasme dasyat melanda keduanya. Seketika itu juga Alfi menekan tititnya secara penuh dan membentur mulut rahim Niken
    “arrrggghhhhh…Fiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” jerit Niken
    Vagina indah Niken berkontraksi hebat melumat tiap senti daging penis Alfi, menghisapnya dengan segenap cinta dan kepasrahan. Alfi pun mendekap erat pujaannya.
    “Ouggghhhhh..Buuuuu!!!!!!..Alfi keluarrrrrr!!!!” pekiknya merasakan kenikmatan yang datang jauh lebih dasyat dari pada sebelumnya.
    Nampaknya kali ini Alfi tak mampu bertahan lagi. Pertahannya runtuh oleh nikmatnya lumatan dasyat vagina Niken sungguh membuat kejantannya tak berdaya. Penis anak itu berdenyut denyut kencang, air mani yang tersimpan dalam testisnya selama hampir satu jam ini tak tertahankan meletup dari ujung kepundannya dan memancar deras  pada tiap denyutannya. Denyutan yang menghentak berulang-ulang jauh lebih dering dan keras dari biasanya, Alfi seakan-akan ingin mengosongkan seluruh isi testisnya ke dalam rahim pujaan hatinya itu. Orgasme dasyat itu berlangsung sekitar satu setengah menit namun bagi Niken dan Alfi bagaikan satu abad lamanya. Setelah orgasme Niken mereda dan kesadaran kembali pulih, ia berusaha mengatur napasnya. Penis Alfi pun masih menancap ketat.
    “Uhh..Fiii…cabut duluu sayanggg” pinta Niken lirih ketika ia rasakan kewanitaanya agak ngilu.

    Alfi mencabut perlahan meski ia masih ingin berlama-lama di dalam situ.
    “Plokk…” saat benda itu terlepas sebagian sperma Alfi tumpah ke seprey. Niken memperhatikan bercak-bercak darah yang bercampur lendir putih menempel pada penis Alfi. Secara naluriah ia tahu kewanitaannya pasti telah robek direngut oleh bocah itu.
    Di kamar dan di tempat tidur ini dulu Sandra menyerahkan kesuciannya pada Alfi dan kini iapun mengalami hal yang sama. Anak itu telah mengambil apa yang menjadi hak Donie calon suaminya. Alfi mengecup pipi Niken, anak itu tak dapat menyembunyikan kebahagianya, apa yang diidamkannya menjadi kenyataan sudah.
    “Ma kasih ya bu, sudah ngebolehin Alfi begituan sama ibu. Alfi sayang banget sama ibu…Alfi cinta ibu….”
    “Kamu bocah nakal… kamu tahu kamu telah menodai ibu gurumu sendiri”
    “Alfi ngga peduli , Alfi mencintai ibu walau Ibu telah menikahi pak Donie nantinya”
    “Setelah apa yang engkau lakukan apakah kamu masih memanggilku ibu?”
    “biarlah Alfi tetap memanggil ibu”
    “Bu..tadi Alfi muncratnya banyak, punya ibu enak sekali”
    Sesaat Niken merasakan batang kemaluan Alfi kembali mengeras pada mulut vaginanya
    “Anak nakal … kamu belum puas juga”
    “Alfi pingin lagi bu.. alfi pingin ngentot ibu lagi”
    Niken merasakan kasih sayang tak terbatas tercurah dari bocah itu. Tenaga Alfi bagai tak ada habisnya. Entah ia tak tahu apakah ia telah jatuh cinta pada anak itu atau tidak. Alfi telah mempersembahkan keindahan ragawi padanya dan membuat dirinya merasa nyaman dalam dekapan gurunya yang cantik.

    ********************************

    Selama dua hari Alfi dan Niken tidak datang ke sekolah, persetubuhan terjadi berulang-ulang. Niken yang lembut dan sopan kini sudah ketagihan akan seks, ia tak peduli akan statusnya seorang guru bagi Alfi. Yang jelas baginya justru Alfi adalah guru yang mahir baginya dalam urusan ranjang. Ia bahkan tak menolak Alfi memintanya melakukan oral.
    Tak ada rasa jijik mengemuti penis bocah itu dengan mulutnya. Bahkan ia sangat menikmati dan menyukainya. Hingga pada esok sorenya  ketika mereka baru menyelesaikan persetubuhan selama 3 jam. Saat jeda istirahat itu itu Alfi masih dalam keadaan memeluk dan menindih tubuh cantik wanitanya sambil sesekali mencucupi putting-putting payudaranya. Tiba-tiba Alfi bertanya
    “Bu.. Ibu maukan punya bayi dari Alfi?”
    “A..paa..Fiii?” Niken terkejut atas pertanyaan Alfi yang aneh.
    “ibu kan sudah dapet benihnya Alfi, pastikan nanti Alfi punya bayi dari ibu”
    “Ngga mungkin fii, ibu kan akan menjadi istrinya pak Doni dua bulan lagi”
    “iya deh Alfi ngalah sama pak Doni…”
    Meski pembicaran singkat itu tak dianggap serius bagi Alfi namun Niken seakan baru tersadar akan apa yang telah terjadi. Niken tercenung mendengar ucapan Alfi barusan. Selama dua hari ini Ia dan Alfi melakukan hubungan suami istri dan ia telah membiarkan Alfi berejakulasi berkali-kali di dalam vaginanya. Kegundahan melanda hatinya. Bagaimana jika terjadi kehamilan? Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Donie?
    Mungkinkah Donie masih mau menerimanya dalam keadaan ternoda oleh anak ini? Rasanya tidak mungkin. Meski Donie tukang jajan namun ia tetap menginginkan istrinya masih perawan.
    “Bu.. ibu melamun?” lamunannya buyar saat Alfi memanggil namanya.
    “I..iyaaa”
    “Ibu takut hamil, ya?”
    Niken tak menyangka anak ini dapat mengetahui isi hatinya yang gundah. Meskipun demikian ia belum cukup umur untuk mencerna persoalan orang dewasa.

    Niken menghela napas lalu mengangguk lemah
    “Ibu juga takut soal perawan ibu kan?”Tanya Alfi lagi
    “Iya, Kok kamu tahu Fii?”
    “Kak Dian juga seperti ibu dulu, sudah gituan sama Alfi lantas wajahnya sedih”
    “Ohh begitu ya”
    “Gimana kita cari dokter aja kak, biar kakak disembuhin perawannya”
    Mendengar ucapan Alfi Niken bangkit dan duduk, lalu ditatapnya bola matanya polos anak itu. Niken jadi teringat akan sahabat karibnya semasa smu dulu Lila yang kini telah menjadi seorang dokter spesialis kandungan. Tak ingin berlarut-larut dalam kebimbangan, ia memutuskan untuk menemui dan meminta bantuan dr.Lila sahabatnya itu.
    “kamu anak pintar fii, besok kamu harus temani ibu ke Dokter ya?”
    “He e…Alfi temani ibu besok …tapi sekarang Alfi mau itu lagi sama ibu” kata anak itu
    “Kamu tidak bosan melakukan itu sama ibu?”
    “Alfi ngga bosen… biar Alfi jadi suami selingkuhan ibu nantinya”
    “Hi..hii..hiii, kamu memang anak nakalll” ujar Niken geli.
    Alfi merebahkan tubuh Niken kembali ke kasur. Niken menurut saat Alfi kembali mengumulinya. Tubuh sintal indah itu kembali menyatu dengan tubuh kecil dan kurus bocah itu. Seakan tiada bosan-bosannya mereka melakukan hal itu berulang-ulang. Pantat Alfi bergerak naik turun dengan cepat, penisnya yang  besar sudah berjam-jam bahkan berhari-hari memadati liang senggama Niken. Biarlah urusan itu diselesaikan besok, Malam ini adalah urusan dewa dan dewi cinta pikir Niken dalam hati.

    *************************

    Keesokan sorenya Niken dengan mobilnya ia berangkat ke tempat praktek dr.Lila sahabatnya. Alfi dia ajak, kalau ditinggal di rumah ia kuatir mendadak Donie muncul memergoki Alfi di kamar tidur tanpa busana. Mereka sampai namun belum ada seorangpun di sana. Mereka duduk di sebuah ruang tunggu yang bersih dan nyaman namun agak tersembunyi.
    “Fiii…jangan…nanti ada yang liat, ouhhh” Niken mendesah saat tangan nakal Alfi meremas dadanya lembut.
    Tubuh wanita itu sudah demikian sensitif terhadap setiap sentuhan Alfi. Tubuhnya menggeliat. Niken sudah kuatir saat Kepala Alfi sudah mengarah ke dadanya. Namun tiba-tiba terdengar suara sepatu melangkah ke arah mereka dan Alfi segera menghentikan kenakalannya.
    “Nien… kamu udah lama nunggu aku?” Lila memanggil nama sahabat karibnya dengan nama panggilan.
    Mereka berpelukan hangat.
    “Loh Alfi..kamu ngapain disini” ujar dr.Lila
    “Kalian sudah saling kenal La?”
    “Umm..ya ibu nya Alfi adalah pasienku juga” ujar dr.Lila tergagap berusaha menyembunyikan sesuatu.
    “Alfi muridku di SMA tempatku mengajar La. Ia sengaja kuminta menemaniku untuk menemuimu”
    “Oh begitu mana Donie Nien? Bukan dia yang mengantar kamu?”
    “Donie masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum cuti”
    “O ya aku hampir lupa kalian kan akan menikah dua minggu lagi, ayo masuk mumpung pasienku yang lain belum datang”
    “Fii.. kamu tunggu di sini ya, ibu masuk dulu”

    Lila memeriksa Niken khususnya pada wilayah kewanitaannya. Sesekali ia tersenyum melihat beberapa bekas merah pada dada Niken. Lila sudah sering melihat hal seperti itu pada pasiennya. Pasiennya tidak terbatas pada istri-istri orang berkantong tebal namun juga hampir seluruh pelacur pada lokalisasi X tempat ibunya Alfi bekerja dulu.
    Dua puluh menitan Lila memeriksa Niken. Setelah selesai….
    “Bagaimana La?” tanya Niken saat itu jantungnya berdetak lebih cepat menunggu jawaban Lila.
    Dr.Lila tersenyum-senyum sambil membaca catatan hasil pemeriksaannya.
    “Kurasa  ngga ada yang perlu dikuatirkan . secara lahiriah kamu sehat Nien dan siap menjalankan pernikahan. Donie tentu sangat berbahagia mempunyai calon istri bertubuh cantik dan sehat sepertimu”
    “Hanya itu La?” ujar Niken kurang puas, ia sepertinya tahu ada hal lain yang belum disampaikan Lila kepadanya.
    “Baiklah. Sesuai dengan profesiku aku memang dapat mengetahui kondisimu sekarang namun ada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kusampaikan disini mungkin menyangkut hal yang sangat pribadi bagimu”
    “La aku ke sini justru ingin tahu darimu tentang kondisiku saat ini?”
    “Oke manis, kamu dengar baik-baik ya. Kusimpulkan dalam beberapa hari belakangan ini kamu telah melakukan hubungan seks, bekas-bekasnya terlihat jelas pada dinding vagina yang lecet-lecet dan memar di mulut rahimmu. Bahkan selaput daramu baru robek berarti ini yang pertama. Akhirnya kalian lakukan juga sebelum hari itu datang ya kan? Hanya saja kunilai kalian sudah keterlaluan melakukannya. Aku sarankan beberapa hari ini kalian ‘puasa’ dulu. Beri waktu dirimu recovery. Bagaimana apakah nona puas dengan penjelasanku?”
    Deg..Niken tak menjawab, hatinya sungguh gundah mendengar penjelasan dari dr.Lila.

    “La, apakah kamu yakin…betul-betul sudah robek?”
    “Maksudmu selaput daramu?”
    Niken mengangguk
    “Ya. Biasanya hubungan intim pertama hanya menyobek satu atau dua sisi selaput dara,
    Namun  Ini malah robek di tujuh tempat. Kupikir luar biasa juga Donie”
    Niken menjadi pucat pasi, kekhawatiran nampak membias jelas pada wajah Niken.
    Hal itu terbaca Lila
    “Loh kenapa, Tapi bukankah tak ada masalah robek sekarang atau nanti kan? Toh  Donie juga yang melakukan.”
    “Itu…masalahnya La…”
    Lila baru mengerti mengapa sejak datang tak terlihat senyum sedikitpun dari wajah sohibnya ini.
    “Maksudmu kamu melakukannya bukan dengan Donie, nien? Loh lantas siapa yang ….?”
    Belum selesai pertanyaan dr.Lila, tiba-tiba…
    “Udah selesai buuu..?” Alfi masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung duduk di samping Niken.
    “Alfi tunggu diluar ya. Ibu masih ingin bicara dengan bu dokter”
    Alfi berdiri sebelum menghilang ke balik pintu ia sempat mengecup lembut pipi Niken.
    Niken agak jengah, matanya melirik ke arah Lila yang masih bengong.
    “Lelaki ituu….” dr.Lila tak ingin menyelesaikan kata-katanya. Ia takut salah omong.
    Suasana jadi hening sejenak. Niken berusaha menguasai perasaannya. Sambil menghela napas panjang ia berkata
    “Dugaanmu benar La. si Alfi orangnya”
    Kembali hening, Lila membuka pembicaraan.
    “jika aku boleh tahu apakah anak itu  menggunakan pengaman seperti kondom saat kalian melakukannya?”
    “Ti..ti..dak, masa bisa hamil? Alfi kan masih anak-anak… la”
    “Dalam beberapa kasus beberapa anak spermanya lebih cepat mencapai kesuburan, bahkan di Amerika seorang anak laki-laki berumur 9 tahun kedapatan menghamili teman sepermainannya. Apa kamu dalam masa subur, Nien?”

    “y..ya”
    “berapa kali ia ber-ejakulasi internal padamu?”
    “A..aku tak tahu pasti …mungkin… lebih.. 20 sampai 30 kali-an”
    Lila menggeleng-gelengkan kepala, dalam hatinya ia sudah tahu dan mengenal lama anak itu. Lila juga yang memeriksa kesuburan Alfi setahun yang lalu. Saat itu ibunya meminta Lila mengadakan test pada Alfi setelah ada seorang pelacur di lokalisasi X yang sempat dicurigai hamil oleh ulah anak itu.
    “apakah aku sudah hamil La?” ujar niken panic
    “Belum bisa dipastikan apakan benih Alfi membuahi dirimu karena baru berjalan dua hari yang lalu, kita tunggu hingga masa kamu datang bulan nanti, namun kehamilan mungkin saja terjadi bila pada masa suburmu sperma Alfi bertemu dengan sel telurmu. setetes cairan bening atau cairan pre-cum pun sudah mengandung sperma dalam jumlah kecil dan perlu kamu ketahui ada jutaan sperma dalam satu sendok kecil saja ….. apalagi Alfi sampai  ejakulasi berkali-kali.”
    “Ohh..Laa..tolong aku harus bagaimana sekarang?” ujar Niken  panik, sudut matanya mulai berair.
    Lila berusaha mencairkan suasana yang tegang dan membuat Niken tenang, ia sungguh tak ingin perbuatannya menjadi aib yang memalukan bagi keluarganya.
    “Oke.. nampaknya kamu sungguh butuh bantuanku”
    Lila diam sejenak nampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.
    “Baiklah, kita hanya perlu lakukan operasi kecil pada selaput daramu. kemungkin hanya akan memakan waktu kurang lebih 1 jam.” jelas Lila
    “Ma..maksudmu aku bisaa…utuh lagi?”
    “Tidak begitu, aku hanya perlu menarik sisa yang ditinggalkan Alfi lalu menjahitnya. Aku usahakan agar saat robek di malam pengantinmu masih mengeluarkan darah.”
    “Lan..tas bagaimana dengan kehamilanku?”
    “Kupikir kamu belum tentu hamil, seperti kataku tadi kita harus menunggu datang bulanmu. toh baru dua bulan lagi kamu akan menikah dengan Donie. Aku pikir kita masih punya banyak waktu dan bisa mengatur hal itu nantinya.”

    Tangis Niken meledak setelah mendengar penjelasan Lila, perasaannya lega. Tadi ia sudah benar-benar ketakutan akan akibat dari perbuatannya dan Alfi sekaligus ia pun sungguh tak ingin mengecewakan Donie meskipun lelaki itu brengsek. Lila memeluk sahabatnya itu. Beberapa saat setelah Niken tenang, Dr.Lila berbicara agak serius
    “Ok sekarang dengarkan aku. Melihat kondisi selaput daramu yang robek total aku mungkin hanya dapat melakukan operasi satu kali. Untuk itu aku mau kerja samamu. Setelah operasi ini kamu tak dapat lagi berhubungan intim dengan Alfi hingga malam pernikahanmu.”
    Niken merenung. Ia sadar ini sungguh tak adil bagi Alfi, namun ia sudah tak punya pilihan lagi. Ia tak ingin pernikahannya dengan Donie gagal.
    “Jika demikian aku minta waktu beberapa hari..soalnya aku tak mau Alfi …kecewa”
    Lila tersenyum.
    “Baiklah aku mengerti. Aku akan menunggu kesiapan dirimu untuk melakukan operasi tersebut.”
    “Ma kasih ya La, kamu telah memberiku solusi dari masalahku”
    “Tak masalah Nien, aku kan sahabat terbaikmu sejak dulu”
    “La..satu lagi pintaku”
    “Apa itu?”
    “Hanya kamu yang tahu tentang hubunganku dengan Alfi,”
    “Tak usah kuatir akan hal itu manis, aku akan menjaganya..hi hi.”
    Niken memeluk dan mencium pipi Lila sebelum pergi.

    ***********************

    Saat di dalam mobil Niken perlahan menyampaikan semua penjelasan dr.Lila tadi. Alfi menunduk sedih
    “Fii kamu ngga usah sedih, Ibu akan tetap menemui kamu setelah ibu resmi menjadi istri pak Doni” ujar Niken. “Yang penting sekarang kita masih punya waktu satu minggu sebelum ibu di ‘perbaiki’ dr.Lila”
    “Benar ya bu..”ujar anak itu matanya berbinar-binar gembira.
    Niken mengangguk. Lega rasanya semua permasalahannya sudah teratasi kini. Sesampai di rumah. Niken sudah tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Ya.. ia tak dapat menolak Alfi menuntunnya ke kamar dan melucuti semua kain yang melekat ditubuh mereka berdua. Alfi begitu tergesa-gesa saat memasukan penisnya.
    “Ssstt..perlahan sayang..ibu tak akan kemana-kemana kok…” bisik wanita itu.
    Wanita itu mengerti jika saat ini Alfi takut sekali kehilangan dirinya, mengingat beberapa hari lagi mereka akan segera berpisah. Tak ada penyesalan dalam hatinya segalanya kini telah ia serahkan bagi Alfi termasuk hatinya. Dua menit berselang wanita itu sudah dalam genjotan ganas bocah lalu memekik nikmat ketika orgasme melanda dirinya berulang-ulang. Mereka melakukannya berulang-ulang hingga tengah malam. Beruntung bagi mereka tadi Doni sempat menelpon bahwa ia harus berangkat ke luar kota. Cerita Maya

    *****************************
    Dua bulan kemudian, pagi hari setelah malam resepsi pernikahan.

    Di dalam kamar pengantin, lagu ‘malaikat juga tau’ sedang mengalun lembut. Donie terbaring dalam kepuasan, sesekali mengecup kening pengantinnya yang cantik yang tertidur bak seorang putri.
    “terima kasih manis kamu telah mempersembahkan yang terbaik padaku”
    tak sia-sia semalam ia berjuang satu jam-an untuk menembus selaput dara Niken. Pekik kesakitan istrinya semalam dan noda darah di sprey sungguh membuatnya bangga. Meski ia hanya mampu bertahan kurang dari satu menitan di dalam kuluman vagina istrinya tanpa sekalipun memberi orgasme. Saat syair lagu telah sampai pada….’malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya…’ Sementara itu Niken dalam tidurnya tersenyum dan berbisik lirih “Al..fiii…….”

    (pertualangan Alfi baru saja memulai babak baru)
    Semua tokoh utama dalam kisah ini telah kuperkenalkan. Pada chapter-chapter berikutnya akan lebih kuceritakan secara mendetail bagian-bagian yang selama ini terlewat.

  • Alfi dan Lila, Si Dokter Cantik

    Alfi dan Lila, Si Dokter Cantik


    50 views
    Suatu sore di tempat praktek Dr. Lila

    Dr. Lila

    Cerita Maya | “Tak ada yang perlu engkau kuatirkan, janinmu dalam keadaan sehat” ujar Lila pada Niken.
    “Ada baiknya memasuki trismester pertama ini kalian jangan terlalu banyak berhubungan intim dulu agar tak membahayakan janin di dalam kandunganmu ”tambahnya lagi.
    Bagi Lila, pasangan Niken dan Donnie adalah merupakan pasangan yang aneh, seperti halnya  Didiet dan Sandra. Mereka semua menjalani kehidupan kamar tidurnya dengan cara yang aneh. Mungkin orang lain menganggap prilaku mereka ‘menyimpang’  ‘abnormal’ atau ‘sakit’. Bahkan Lila juga mengetahui bahwa bayi yang dikandung Niken bukanlah berasal dari Donnie dan siapa bapak biologis sesungguhnya meski terlihat keduanya sangat berbahagia. Namun Lila tetap bersikap profesional dengan menjaga kerahasiaan masalah pasiennya apalagi Niken merupakan sahabat akrabnya sejak SMU dulu.

    “La, kapan kamu menyusul aku?” Tanya Niken disaat Lila sedang memeriksa perutnya yang mulai membuncit
    “Eng..a.pa?”
    “Ah engkau ini.. tentu saja maksudku menikah!”
    “me.nikaah?”
    “Iya menikah…dan punya anak”
    “a..ku..belum memikirkannya Nien”
    Lila merasa aneh karena baru pagi tadi ibunya menelpon dirinya juga menanyakan hal sama padanya.
    “Kok bengong La?”
    “Eh..a…ya” Lila baru tersadar saat Niken menegurnya.
    “Kamu melamun memikirkan omonganku tadi ya?”
    “He e…tadi ibu memintaku pulang ke kota H beberapa hari. Aku tahu ia pasti ingin membicarakan masalah yang kau katakan barusan”
    “Bukankah itu merupakan sebuah niat yang baik kan? Lantas kenapa kamu terlihat murung La? Apakah kau masih juga memikirkan kegagalan hubunganmu dengan Erik dulu?”

    Lila menghela napas, tatapannya menerawang ke arah jendela. Kejadian di masa-masa SMU sepuluh tahun yang lalu seolah kembali muncul membayang di kepalanya bagaikan adegan-adegan slide. Erik pemuda tampan, anak seorang pejabat tinggi kota H yang saat itu menjadi tambatan hati Lila. Cinta Lila bersemi layaknya gadis remaja lainnya.
    Hingga pada suatu hari Lila tak sengaja memeregoki Erik sedang bercumbu mesra dengan seorang gadis lain di dalam ruang UKS. Gadis itu tak lain adalah Elena juga merupakan seorang gadis yang popular di sekolahnya. Jika dibandingkan dengan Lila jelas Elena unggul dari segi penampilan fisik. Elena seorang anak yang modis dan menonjolkan keindahan tubuhnya buat menarik perhatian kaum lelaki. Dengan rok mininya ia selalu membuat jakun para siswa lelaki naik turun karena berulang-ulang meneguk air liur. Sedangkan Lila lebih mengandalkan kecerdasan otaknya di sekolah.  Sebenarnya Lila lebih cantik dan memiliki bentuk fisik yang lebih baik dari pada Elena namun ia bukanlah type gadis pesolek. Ia adalah  seorang kutu buku yang betah bergelut di laboratorium biologi dan perpustakaan selama berjam-jam, rambut kepang dan kaca mata tebalnya itu menutupi semua kecantikannya. Kepergok berselingkuh bukannya meminta maaf, Erik malah meninggalkan Lila dan lebih memilih Elena yang ‘panas membara’ itu sebagai pacarnya. Betapa hancurnya hati Lila saat itu. Kekecewaan dalam cinta pertamanya terasa begitu menyiksanya. Satu-satunya sahabatnya yang ia percayai sebagai tempat mencurahkan isi hatinya hanyalah Niken. Sejak peristiwa tersebut Lila-pun tak pernah lagi menerima cinta pria lain di hatinya. Ia telah memutuskan telah menutup pintu hatinya rapat-rapat bagi setiap cinta yang datang. Cerita Maya
    “Entahlah Nien… hatiku masih terasa sakit bila teringat lagi akan peristiwa itu”
    “Selama ini kamu terus sibuk meniti kariermu dan kejadian itu sudah lama berlalu. Tak ada salahnya jika sekarang kau berusaha membuka hatimu lagi bagi seorang lelaki, La”
    “Aiihhh…Kita lihat saja nanti…yang jelas aku harus memiliki jawaban yang tepat saat bertemu ibu besok”
    “O ya La, Kebetulan Alfi juga berada di kota H sejak seminggu yang lalu. Kasihan dia, Ibunya baru meninggal dunia. Mungkin kamu bisa mengajaknya pulang bersamamu ke sini bila urusanmu telah selesai”. Ujar Niken

    “Ngga masalah Nien, aku akan menghubunginya setibaku di sana”

    **************************
    Kota H,

    Wanita tua itu terlihat begitu bahagia saat melihat kedatangan putri sulungnya itu. Lila memang seorang putri yang sangat membanggakan buatnya. Cantik, cerdas dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga. Namun yang menjadi kekhawatiran ibu Lila karena sampai dengan saat ini tak terlihat tanda-tanda anak gadisnya itu akan menikah meski usianya merambat ke kepala tiga bahkan setelah adiknya Lidya menyelesaikan kuliahnya dan sudah memperoleh pekerjaan sekalipun. Jangankan memikirkan untuk menikah pacarpun ia tak punya. Lila bukanlah seorang gadis yang tak laku-laku. Penampilan fisik yang indah sempurna serta karier yang baik menjadikan Lila sebagai figure seorang  istri yang sangat diidamkan oleh banyak pria. Sayangnya kegagalan percintaannya dengan Erik menjadikan hatinya dingin bagaikan gunung es. Ketika hendak masuk ke dalam rumah seorang dara yang tak kalah cantik dengannya setengah berlari menyongsongnya. Lidya adiknya memeluk seraya mencium pipinya.
    “Cup…Kakak lama sekali tak pulang kami berdua sudah kangen” ujar Lidya.
    “Aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Setiap kali berencana buat weekend kemari selalu tertunda karena ada saja pasien yang  harus dibantu melahirkan. Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Lila kemudian.
    “Baik kak. Aku menyukainya.” Lidya bekerja di sebuah Bank di kota ini.
    “Syukurlah kalau begitu. Mana ibu?”
    “Tuh baru keluar, sejak kemarin ia gelisah memikirkan kakak”
    Lila menoleh ke arah pintu di mana seorang wanita tua menatap kedatangannya dengan senyum mengembang. Lila mencium tangan ibunya dan juga pipinya yang sudah berkeriput.
    “Istirahatlah dulu nak. Lidya sudah membersihkan kamarmu” ucapnya.

    Memang sebenarnya Lila sangat membutuhkan istirahat bukan hanya karena ia baru menyetir sendiri kendaraannya selama tiga jam nonstop dari kota S ke kota H, namun juga istirahat dari kesibukannya sebagai seorang dokter. Tiga bulan belakangan ini dirinya nyaris tak punya waktu buat dirinya sendiri. Paginya ia sudah harus praktek di dua klinik berbeda hingga hampir larut malam di setiap harinya. Paling-paling ia punya waktu istirahat di sela-sela jam makan siangnya. Belum lagi jika harus menolong pasien yang mau melahirkan yang sudah barang tentu tak punya jadwal tetap. Semua itu begitu menguras tenaga dan pikirannya. Ia berharap kesejukan dan ketenangan kota kelahirannya ini paling tidak bisa memberinya suasana yang fresh selama beberapa hari sebelum kembali bergelut dengan pekerjaan rutinnya.
    “La , ibu mungkin telah mengganggu aktivitasmu, namun ada yang harus ibu bicarakan denganmu dan tidak bisa melalui telepon.” ujar ibu Lila saat mereka duduk berdua di beranda rumah sambil minum teh menjelang sore.
    “Ngga papa kok bu, di klinik ada seorang dokter lain yang biasa menggantikanku.” ujar Lila sambil menghirup tehnya.
    “La “ sang bunga nampaknya langsung menuju ke pokok pembicaraan
    “Ya bu, ” Lila meletakan cangkir tehnya. Lila merasa ia mulai masuk ke bagian yang tidak ia sukai selama ini namun ia tak ingin terlihat gusar dan gelisah di depan ibunya.
    “Barangkali kau sudah maklum apa yang ingin ibu bicarakan padamu? Ibu hanya ingin menanyakan tentang hubunganmu dengan Robert”
    Robert adalah seorang dokter muda seperti halnya Lila ia juga memiliki karier yang cukup cemerlang. Dua bulan yang lalu ibu Lila berniat menjodohkan Lila dengan pemuda  yang merupakan putra temannya itu.
    “Kami memutuskan untuk ber..teman bu”
    “Hanya sekedar teman nak? Kenapa? Ada yang salah dengannya? Ibu lihat ia seorang pemuda sopan, sukses dan bahkan…sangat tampan” tanya ibunya. Ia  bingung type pria macam apa  yang mampu menggetarkan hati putrinya ini. Berkali-kali ia berusaha menjodohkan Lila pada seorang pemuda. Namun ada saja alasan Lila untuk menghindar dan menolak.

    “Entahlah…Lila hanya tak merasa tertarik padanya” jawab Lila sekenanya.
    “Haihhhh….ibu sudah tak tahu harus berbuat apa agar kau cepat bertemu jodohmu nak” ujar ibu Lila sambil menghela napas.
    “Bu, bukannya Lila tak memikirkan hal tersebut namun Lila masih ingin sendiri dan fokus pada pekerjaan dan karier dulu saat ini.. Lila mau cari uang yang banyak buat membahagiakan ibu”
    Memang semenjak ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu. Ibu Lila terpaksa membating tulang dengan menerima upah jahitan demi menghidupi dirinya dan  kedua putrinya saat itu. Terutama Lila yang tengah kuliah di Fakultas Kedokteran sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Setelah berhasil menamatkan kuliahnya dengan waktu yang cepat dan dengan nilai yang sangat baik. Lila sempat membuka praktek lalu melanjutkan program spesialisnya. Dan Sekarang setelah menyelesaikannya Lila-pun mengambil alih tugas ibunya sebagai tulang punggung keluarga. Beberapa bulan menjadi dokter pengganti bagi seorang dokter yang lebih senior pun di jalaninya. Perlahan semakin banyak pasien yang merasa cocok berobat padanya. Hingga akhirnya ia diminta oleh klinik tempatnya bekerja menjadi dokter utama di sana menggantikan seniornya yang memasuki usia pensiun.
    “Sayangku …selama ini Ibu sudah cukup bahagia melihat kalian anak-anak ibu tumbuh dewasa dan berhasil dalam hidupnya namun rasanya kebahagian ibu belumlah lengkap ibu sudah semakin tua, sebelum ibu pergi ibu mau melihatmu menemukan seorang suami yang baik dan memberi ibu seorang cucu yang lucu. sekian lama ibu menanti namun hal tersebut tak kunjung datang. Sebenarnya apa lagi yang kamu tunggu, nak?.Bukankah saat ini kamu sudah memiliki semuanya, materi berlimpah,.karier yang baik…”
    “Lila hanya belum menemukan lelaki yang cocok bu”
    “Apakah ini karena…Erik” tanya ibunya. Lila diam tak menjawab pertanyaan yang satu itu.
    “Ibu mengerti perasaanmu nak. Namun tidak semua pria itu berkelakuan buruk, contohnya ayahmu. Ia seorang suami dan ayah yang baik, pengertian dan penuh kasih sayang terhadap keluarga. Tak baik berlarut-larut membiarkan satu kegagalan menghalangi hidup dan kebahagianmu. Ada banyak pangeran tampan dan baik hati di luar sana yang menantimu” ujar ibunya.

    Lila tahu banyak sekali kebenaran di dalam kata-kata sang bunda barusan. Selama ini jauh di dasar jiwanya ia selalu dilanda kegelisahan yang ia sendiri tak tahu penyebabnya. Tabiatnya yang keras kepala dan ingin mempertahankan prinsip hidupnya bukannya mendatangkan ketenangan bagi hatinya. Tak dapat dipungkiri jika jiwanya yang gersang itu sebetulnya sangat membutuhkan hangatnya cinta dari lawan jenisnya. Namun di sisi lain ia kapok buat dikhianati.
    “Mungkin Lila akan pikirkan hal itu nanti bu, namun untuk Lila harus menunda dulu hal itu mumpung karierku sedang baik saat ini. aku kuatir setelah menikah belum tentu suamiku mengijinkan aku bekerja bu” jawabnya masih bersikukuh mempertahankan prinsipnya.
    “Tapi nak kau tak mungkin terus-terusan melajang tetap saja pada akhirnya kita harus mengikuti kodrat kita sebagai wanita… menikah… .melahir anak”
    “Bagaimana dengan Lidya bu, aku tak keberatan bila Lidya telah bertemu jodohnya lebih dulu dari aku bu” Lila sudah kehabisan kata untuk menghindari kejaran ibunya.
    Wanita tua itu akhirnya terhenyak lemah. Ia sadar sulit sekali membujuk Lila buat menikah.
    “Nak…Lidya adikmu tak mungkin melakukan hal itu nak, ia sangat menghargaimu sebagai yang lebih tua.”
    Lila membisu.
    “Baiklah … ibu tak ingin memaksakan kehendak ibu padamu …” ujar ibu Lila dengan suara bergetar sementara mata tuanya itu mulai meneteskan air mata.
    Lila kaget.  Ia tak menyangka pembicaraan mereka kali ini telah membuat ibunya sedemikian kecewanya. Ia buru-buru memegang jemari tua ibu dan menciumnya. Tapi tangis penuh kesedihan ibunya sudah tak terbendung lagi.
    “Bu..ibuu.”
    “mungkin… sudah menjadi suratan buat ibu bila bakal melihat putri-putri ibu tak menikah sampai tiba waktunya ibu harus pergi” ujarnya lagi diantara isaknya.
    “Buuu jangan berkata begituu…Lilaa tak bermaksud menyusahkan ibuu…Lila akann menuruti mauu ibu asalkan ibu tak sedih lagi ya bu” bujuknya sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang bunda. Air matanya pun meleleh tumpah. Ia begitu menyayangi ibunya. Ia takut sekali bila membuat ibunya sedih apalagi sampai menangis karenanya.
    Wanita tuapun itu membelai rambutnya lembut.


    Sementara itu di sebuah rumah kontrakan.

    Sriti

    Pagi itu Alfi terlihat sedang dalam mengumuli seorang wanita cantik. Pantat bulatnya berayun cepat penuh dengan gairah membara. Wanita itu tak lain adalah Sriti, seorang mantan PSK tercantik dari lokalisasi X teman sekamar dan sejawat ibunya Alfi dulu. Tubuhnya yang sintal ditambah wajah yang manis menjadikannya rebutan para pelanggan tempat tersebut selama beberapa tahun. Meski kulit tubuh gadis itu tak seputih kulit Sandra maupun Niken namun wanita itu terlihat sangat ayu dengan kulit kuning langsat. Sejak berada di kota H, Alfi seakan menemukan lagi cinta pertamanya. Ia merengek-rengek minta persetubuhan pada wanita yang bertahun-tahun ia rindukan ini. Walau pada awalnya sempat menolak namun akhirnya Sriti mau menuruti keinginan anak itu. Sriti juga tak dapat mengingkari jika ia sebenarnya rindu akan belaian seorang lelaki. Sekian lama Ia memang  tak pernah lagi merasakan sebuah persetubuhan semenjak ia meninggalkan dunia hitam dua tahun yang lalu. Tak tanggung-tanggung hari ini ia mendapatkan penis Alfi yang sudah tumbuh sedemikian besarnya. Belum pernah ia melayani pelanggan yang memiliki alat vital sebesar milik anak ini. Mulanya Sriti agak kaget melihat pertumbuhan kemaluan Alfi yang sangat pesat tersebut. Pastilah sangat menyakitkan buat Sandra dan yang lain saat mereka di perawani oleh anak ini dulu pikir Sriti. Ia sungguh tak menyangka akibat  perbuatannya dulu itu telah menjadikan  Alfi seorang kuda jantan kecil. Clek..clek…clek..clek.. suara itu mencul akibat kocokan-kocokan Alfi pada vagina Sriti.
    “Ouhhh…Fiiiiiii” rintih Sriti.
    Ia tak tahu entah sampai kapan Alfi akan menyetubuhinya. Meski sudah tiga jam-an melakukan itu namun bocah itu tak kunjung merasa puas. Alfi berusaha keras bertahan agar tak berejakulasi di vagina wanita yang dulu mengenalkannya pada seks buat pertama kali dan sekaligus merengut keperjakaannya itu. Ia tak ingin membuat Sriti hamil. Ia sadar bila ia hanya akan menambah kesusahan bagi kehidupan Sriti. Lima menit berselang Alfi merasakan penisnya diremas kuat-kuat oleh otot-otot kemaluan gadisnya itu. Ia tahu Sriti telah kembali memperoleh orgasmenya. Entah ia tak mengitung berapa kali Sriti mengalaminya. Yang jelas ia harus bertahan dalam hisapan dahsyat itu setidaknya setengah menitan bila tak ingin kebobolan.

    “Sayanggggg….kakak dapettt lagiiii!” pekik Sriti lirih.
    Ploppp! Akhirnya penis Alfi terlepas dari vagina Sriti tanpa berejakulasi.
    “Kurang enak ya Fi? Memek kakak ngga seenak punya kak Sandra-mu ya?” tanyanya merajuk melihat Alfi belum juga berejakulasi.
    “Siapa bilang. Punya kakak legit banget, peret dan ngisep kuat kok”
    “Tuh buktinya kamu ngga keluar-keluar”
    “Kakak sayang, Alfi ngga mau kakak hamil. Biar Alfi muncrat di mulut kakak saja”
    Sriti mengambil posisi berbaring menyamping sehingga penis Alfi menghadap ke wajahnya.
    “Ihhh…Besar banget sih!…” gumam Sriti gemas pada benda berkulup itu.
    “Ohh..kakaaakkk” desah Alfi setelah dalam sekejap seluruh batang kemaluannya sudah lenyap dilumat oleh mulut kekasihnya itu. Sriti menghisap, mencucup, dan melakukan semua gerakan yang ia ketahui semasa ia menjadi pelacur dulu.Hanya dalam hitungan detik Alfi pasti bakal muncrat dibuatnya. Dan benar saja…
    “Arckkkkk…. Ka.kaaakkkk!!!” pekik Alfi, bola matanya terbalik ke atas, penisnya berdenyut-denyut keras dan dari ujung lubang pipisnya melejit lendir-lendir kental menghantam kerongkongan Sriti. Sriti menelan semuanya tanpa sisa hingga pada tetes terakhir.
    “Apa? mau Lagi?” Tanya Sriti pada Alfi ketika anak itu sudah akan menindihnya lagi.
    “He e kak lagi”
    “Sudahan dulu ah, punya kakak nyeri. Lagian bukankah hari ini kamu ada janji buat ketemu dengan dokter Lila?”
    “Iya kak tapi jam sebelasan kan masih lama. Alfi  masih pingiiiin bangettt..”ujar Alfi sambil menunci posisi pinggul Sriti yang montok.
    Sriti berusaha mengerakan pinggulnya namun tetap gagal menghindari agar hujaman Alfi. Penis besar anak itu seakan bermata dan tak pernah meleset menemukan sasarannya dan kembali bersarang di dalam bekapan vaginanya yang legit.
    “Ouhhh….Fiiii….Dasar kamu ngga ada puas-puasnya”

    ********************************
    Siang harinya Alfi janjian bertemu dengan Lila di sebuah mal. Alfi nyaris tak mengenali Lila jika tak disapa duluan oleh gadis itu. Alfi terperangah tak menyangka Lila sedemikian cantiknya bila sedang tak memakai atribut dokternya. Tak ada kaca mata tebal yang selalu nangkring di hidungnya, Rambutnya tergerai indah, dan bentuk tubuh gadis itupun begitu indah terbalut oleh sebuah gaun hitam ketat yang menonjolkan semua sisi kefemininnya. Selama ini Alfi hanya bertemu dengan Lila di ruang praktek.
    “Fi, aku berencana pulang ke kota S beberapa hari lagi. Niken berpesan padaku buat mengajakmu pulang bersama.. Mereka ingin kamu ada di sana saat Nadine melahirkan minggu-minggu depan. Kuharap masa berkabungmupun sudah selesai”
    “Iya kak…Alfi nurut apa kata mereka, Lagian Alfi juga sudah satu minggu tak sekolah”
    “Di mana kamu tinggal Fi?”
    “Alfi numpang menginap di rumah kontrakannya kak Sriti”
    “O..Sriti juga tinggal di kota ini?”  Lila teringat pada mantan primadona lokalisasi X di kota S temannya ibu Alfi.
    “Iya kak, Sejak dua tahun lalu ibu bersama dengan Kak Sriti memutuskan untuk  pindah ke sini buat memulai kehidupan baru yang lebih bersih. Ibu dan Kak Sriti bekerja di sebuah motel namun hanya sebagai receptionist mereka tak mau lagi melakukan pekerjaan mereka dulu. Kasihan ibu ia tak mempunyai keahlian apapun sehingga hanya mampu bekerja seperti itu. Dan yang paling Alfi sesali karena ibu sudah pergi sebelum Alfi jadi orang dan bisa memberikan apa-apa baginya”
    Lila melihat Alfi begitu tegar menghadapi musibah yang menimpanya. Anak ini telah tumbuh menjadi pribadi yang tegar dan mandiri seiring kedewasaannya. Lila sangat menghargai orang-orang yang melawan kesulitan hidup ini dengan kerja keras, mereka yang membangun hidup dalam kepahitan nasif seperti halnya Alfi beserta ibunya dan juga Sriti. Betapapun ini juga mengingatkan ia akan perjuangan ibunya sendiri dalam menghidupi ia dan adiknya.

    “Kakak turut prihatin atas musibah yang menimpa dirimu Fi, yang penting sekarang kamu harus rajin belajar dan bertekat untuk menjadi orang yang berhasil kelak”
    “Makasih ya kak”
    “Fi, kamu pasti belum makan siang kan?”
    “Eng..Iya kak”
    “Bagus kalau begitu kita makan di resto itu ya?”
    “Eng.. terima kasih kak tapi biar Alfi makan di rumah saja”
    “Loh..kenapa Fi, aku masih pingin ngobrol sama kamu sambil makan siang bersama”
    “baiklah jika demikian”
    Saat makan siang bersama, Alfi  dengan sabar meladeni Lila ngobrol. Perbedaan umur dan tingkat intelejensi yang jauh tak membuat pembicaraan mereka jadi tidak nyambung karena Alfi berbicara apa adanya. Anak itu begitu polos, jujur dan apa adanya juga dalam menuturkan kisah hidupnya. Tapi omonganya tak pernah menyerempet ke hal-hal yang tabu.. Lila-pun dengan perhatian mendengarkannya. Terkadang secara tidak sengaja cerita Alfi berakhir dengan kelucuan-kelucuan dan membuat Lila tertawa geli. Entah kapan terakhir ia makan siang atau malam bersama seorang lelaki. Mungkin lima atau enam bulan yang lalu. Iapun tak ingat pasti. Kala itu ia sempat makan malam bersama seorang lelaki. Acara makan malam yang kaku itu berakhir begitu saja tanpa ada kelanjutannya. Hal sama selalu terjadi pada setiap pria lain yang di sodorkan ibunya sebagai calon suaminya. Bahkan Robert pemuda terakhir itu hanya sempat datang bertamu dua kali tanpa di suguhi Lila air minum. Entah apakah karena sang dewa asmara yang sudah putus asa menarik busur buat membidikan panah asmara ke hati Lila ataukah memang karena memang hati gadis itu sangat keras dan dingin bagaikan sebuah bukit es. Yang jelas satu persatu para lelaki yang coba mendekatinya mundur dengan sendirinya karena gagal mencairkan kebekuan di hati Lila. Namun tidak dengan makan siang kali ini. Bersama Alfi, Lila merasakan kenyamanan dan  kegembiraan. Paling tidak ia bisa melupakan sejenak kegundahan hatinya terhadap permintaan sang bunda padanya kemarin sore. Obrolannya dengan Alfi seakan mampu melepaskan sedikit beban hatinya selama ini.

    “Sudah lama kamu tak datang ke klinik Fi, sebaiknya kamu rajin memeriksakan kesehatanmu” ujar Lila.
    “Ke..napa Alfi harus sering diperiksa kak. Alfi kan tidak sakit?” ujar Alfi kecut jika harus datang ke sana.
    Dari dulu Alfi memang takut sekali dengan jarum suntik, apalagi setiap kali bertemu Lila selalu memberinya suntikan.Selain itu ia juga tetap merasa malu bila terpaksa harus menunjukan batang kemaluannya buat diperiksa oleh Lila, walaupun benda miliknya itu sering di pegang-pegang dan diemut oleh banyak wanita.
    “Bukankah tadi kamu mengatakan jika selama tiga hari dalam tiap minggunya kamu tinggal bersama Kak Niken-mu, lalu empat hari sisanya bersama Kak Sandramu kan?”
    “I..ya kak”
    “Nah. mengingat aktivitas seksu..eng…. itu yang sangat sering itu, paling tidak setiap bulan kamu harus memeriksakan diri”
    “Ya kak tapi… bolehkan jika sekarang kita ngga ngomongin soal itu kak?”
    “Hi..hi..memangnya  kamu takut ya Fi?” Tanya Lila.
    “Iyalah, habismya kakak selalu nyuntik kalau ketemu, kan sakit!”
    Lila tertawa geli mendengar ketakutan Alfi. Lila sudah mengenal Alfi sejak dua tahun yang lalu. Meski secara fisik Alfi terlihat tak berbeda dengan  anak lain seusianya namun anak ini telah banyak mengalami peristiwa yang dasyat dalam hidupnya. Hubungan mereka sebagai dokter dan pasien membuat Lila mengikuti pertumbuhan Alfi menuju kedewasaannya. Selama ini Lila tak pernah menerima pasien pria. Itu hanya karena mendiang ibu Alfi adalah salah satu pasiennya. Terkadang wanita malang itu terpaksa mengajak serta Alfi buat di periksa kesehatan terutama bagian alat kelaminnya. Ibunya tak dapat menjaga pergaulan Alfi di dalam lingkungan kotor seperti di lokalisasi X sehingga telah ikut menyeret putra satu-satunya ke dalam jurang kenistaan di usia yang masih sangat muda. Ketika Alfi diadopsi oleh pasangan Sandra dan Diditpun, Lila-pun dapat mengetahui semua kejanggalan yang terjadi dalam hubungan suami istri itu meski mereka tak pernah secara langsung mengatakannya padanya. Hingga akhirnya Niken sahabat terbaiknya pun ikut masuk dalam kehidupan Alfi.

    Bagi Alfi sendiri, Lila merupakan figure yang patut dikagumi. Betapa tidak selama ini Alfi hanya mengenal para wanita di lokalisasi X yang hanya menjadi alat pemuas nafsu bagi kaum lelaki saja. Setelah bertemu Lila, barulah ia tahu ternyata ada juga wanita yang demikian pandai dan hebat melebihi kemampuan kebanyakan  kaum lelaki. Ia merasa sangat segan terhadap wanita satu ini. Lila tak seperti wanita lain kebanyakan yang ia kenal. Gadis itu sangat tegas dan sangat….dingin. Tapi hari ini Alfi melihat sisi yang berbeda pada Lila. Entah mengapa hatinya bergetar aneh seperti saat ia bertemu dengan Niken dulu. Meski demikian Alfi tak ingin berpikiran macam-macam terhadap Lila.
    “Lila! Kamu? “ sapa seseorang tiba-tiba di tengah-tengah kegembiraan itu
    “E..rik?” desis Lila ketika mengenali siapa yang menyapanya itu. Lila masih bengong dari duduknya.
    Entah mengapa ada rasa perih di hatinya memandang pemuda itu. Apalagi saat itu Erik datang bersama seorang wanita dengan dandanan mencolok. Blouse ketat, rok mini, dan make up menor ala artis sinetron. Erik tak menyangka ia bakal bertemu lagi dengan  Lila, gadis yang pernah ia sakiti hatinya dahulu. ia bahkan terperangah melihat penampilan Lila sekarang. Tak pernah terbayangkan olehnya gadis itu menjadi sangat mengoda.. Paras yang sangat cantik dan mempunyai postur tubuh yang indah ukuran 34-27-34 ditunjang  tinggi tubuh yang 170 sentimeter membuatnya lebih nampak bagai seorang model ketimbang dokter. Berkali-kali ia meneguk ludah sambil mengamati tubuh Lila. Lila bukannya senang berjumpa dengan pemuda itu. Ia bertambah muak melihat sikap buaya Erik. Erik yang baru menyadari kebodohannya segera buru-buru memperbaiki sikapnya.
    “Ehh…lama tak bertemu, Apa kabarmu La?”
    “Baik, bagaimana denganmu Rik?”
    “Juga baik, Lalu angin  apa yang membawamu kembali ke kota ini?”
    “Aku hanya mampir sebentar menengok ibu dan Lidya”
    “Kau pasti sangat sibuk sekali ya, kudengar dari teman-teman kita dulu kau telah menjadi seorang dokter ahli kandungan yang terkenal di kota S. O ya siapa ini? kacungmu kah?” ujar Erik dengan nada agak mengejek.

    Lila bertambah tidak senang melihat tingkah laku Erik yang seakan memandang rendah orang lain.
    “Hmm.. kenalkan ini Alfi sahabatku, dia orangnya sangat baik padaku tak seperti kebanyakan lelaki yang kukenal selama ini” sindir Lila
    “Kau masih seperti dulu La, tak berubah” ujar Erik. Ia tahu Lila tak begitu senang bertemu dengannya.
    “Kamu juga masih seperti dulu, terutama seleramu” ujar Lila. Sambil melirik ke arah wanita di samping Erik.
    “Oya ini Monica, Mon kenalkan ini Lila mantanku dulu” ujar Erik semakin tak mengenal sopan santun.
    Wajah Lila merah padam. Ingin rasanya ia menanggapi perkataan Erik dengan pedas namun ia cepat-cepat mengendalikan perasaannya. Sungguh rugi meladeni orang semacam Erik. Lebih baik ia lekas pergi dari situ karena pembicaraan mereka  menjadi semakin tidak sehat.
    “Kupikir kalian perlu meja, kebetulan kami sudah selesai, silakan dipakai saja”
    “Kenapa buru-buru kita bisa ngobrol bareng di sini” ujar Erik terkejut ketika Lila beranjak meninggalkan tempat itu diiringi si Alfi. Nampaknya dia agak menyesal juga dengan ulahnya tadi.
    “Mungkin kapan-kapan Rik soalnya kami ada urusan lain, sampai ketemu” ujar Lila berlalu dari sana tanpa menoleh kebelakang lagi. Alfi terkejut saat Lila mengamit tangannya agar berjalan lebih cepat meninggalkan tempat itu
    “Siapa pemuda tadi kak?” tanyanya setelah mereka jauh
    “Teman kakak sewaktu si SMU dulu” Jawab Lila.
    “Ganteng ya kak”
    “Buat apa punya tampang tampan tapi tak punya kesetiaan” ujar Lila ketus.
    “Iya juga sih”Alfi buru-buru tak meneruskan bicara mengenai topic tersebut  lagi sadar ia jika Lila tak senang mengupasnya lebih lanjut. Dalam hatinya ia dapat menduga pasti ada telah terjadi sesuatu pada hubungan mereka dulu.
    “Kak, kita beli es krim di sana yok, kali ini biar Alfi yang traktir” ujarnya berusaha mencairkan suasana hati Lila.
    Sepertinya usahanya berhasil. Nampak sunggingan senyum di bibir indah Lila.

    ***************************
    Sore harinya, Lila dikejutkan oleh kedatangan Erik di rumahnya. Saat itu ibunya yang menyambut pemuda itu. Ibu Lila menganggap putusnya jalinan asmara antara putrinya dan Erik merupakan hal yang biasa dikalangan remaja. Oleh karenanya ia tetap menyambut baik kedatangan pemuda itu. Mereka sempat berbincang berdua sebelum ibu Lila masuk ke kamar putrinya. Di dalam kamar Lila terlihat sedang menatap kaca meja rias dengan malas, tak ada lipstick dan polesan bedak buat tamunya yang satu ini.
    “Anak perempuan kok tidak dandan padahal kedatangan tamu istimewa”
    Lila tetap diam, namun ibunya tahu kegundahan hati putrinya itu.
    “Suka atau tidak suka kamu tetap harus menemuinya, tak sopan membiarkan seorang tamu lama-lama  menunggu nak.” kata ibunya lembut
    Lila mengangguk lalu keluar dari kamarnya.
    “Eng..saya sebenarnya mau mengajak Lila makan malam bu” Erik berusaha berlaku bagai seorang gentleman di hadapan ibu Lila.
    “Oh..bagi ibu tak masalah,  semua itu terserah pada Lila, nak”
    Sebetulnya Lila enggan meladeni Erik apalagi sampai menjalin hubungan kasih kembali dengan pemuda itu setelah apa yang pernah Erik lakukan di masa pacaran mereka dulu.
    Tapi ia tak ingin terlihat berlaku kasar di hadapan ibunya. Apalagi setelah pembicaraan mereka berdua kemarin. Ia akhirnya setuju untuk pergi makan malam bersama Erik hanya buat menyenangkan hati ibunya saja.

    *******************************

    Sore itu pula nampak Alfi ditemani Sriti jalan-jalan di Mal. Sriti membiarkan Alfi menggandeng tangannya layaknya sepasang kekasih. Ia tak merasa malu pada pengunjung lain. Lusanya Alfi berencana pulang dulu ke kota S jadi sisa hari itu mereka manfaatkan buat bergembira bersama menikmati hingar bingarnya kota H.
    “Fii, bukankah itu dr Lila?” Tanya Sriti. Alfi melihat  ke arah  yang ditunjuk oleh Sriti. Memang betul nampak Lila sedang duduk di sebuah cafe sambil menikmati makan malamnya bersama Erik.
    “Ya betul kak, ayo kita kesana” ajak Alfi. Namun sebelum ia melangkah Sriti mencegahnya.
    “Jangan Fi..sebaiknya kita tak mengganggu mereka”
    “Kenapa kak? Kakak malu ketemu kak Lila ya? Ayolah …siapa tahu kita malah ditraktir makan malam oleh mereka”
    “Bukan karena masalah itu…”
    “Lantas kenapa kak?”
    “Lelaki yang bersamanya itu…dia…”
    “O itu kak Erik mantan pacarnya kak Lila sewaktu di SMU dulu, orangnya baik kok, sepertinya mereka mau kembali pacaran. Emang ada apa dengannya kak?”
    “Dia itu…sering datang ‘ngamar’ di motel tempat kakak bekerja”
    “HAaa… kakak yakinn?” ujar Alfi terkejut.
    “Fi, Kamu tidak mengenal Erik,  dia itu adalah seorang buaya perempuan, Ia hanya ingin memuaskan napsu semata lalu pergi begitu saja  setelah mendapatkan apa yang ia mau, tak jarang ia berlaku kasar pada wanita yang ia kencani dan mereka di tinggal begitu saja si kamar motel setelah ia kerjai, tidak hanya itu ia bahkan pernah mencoba memaksaku melayaninya”
    Alfi termagu setelah mendengar keterangan Sriti barusan. Apakah Lila tak tahu akan semua itu. Namun ia pikir hal itu sangat wajar. Sekian lama  Lila meninggalkan kota H ini sehingga ia tak tahu banyak tentang mantannya itu.
    “Sungguh tak disangka ternyata kak Erik seperti itu, kalau begitu Alfi harus segera memperingatkan kak Lila”
    “Memang seharusnya demikian namun kita tak bisa begitu saja mengatakannya. bisa-bisa Lila malah marah pada kita, Sebaiknya kau awasi saja sambil menunggu waktu yang tepat buat menjelaskannya”
    “Alfi ngga rela wanita sebaik dan  secantik kak Lila jatuh ke tangan lelaki seperti itu kak”
    “Hi hi bisa saja bicaramu Fi, emang kamu pinginnya kalau dr. Lila buatmu ya?”
    “Akh  kakak, mana berani Alfi macam-macam sama kak Lila. Dia kan orang yang sangat terpelajar kak”
    “Loh apa bedanya Lila dengan Sandra dan yang lain, Mereka sama-sama wanita dari keluarga baik-baik, berpendidikan bahkan bersuami, tapi tetap saja mau kamu gituin”
    “Dia beda kak. Entahlah yang jelas Alfi sangat segan padanya”
    “Ya sudah, baiknya kita segera pergi ke tempat lain biar tidak terlihat oleh mereka” ajak Sriti.
    Alfi yakin Lila pasti mampu menjaga diri. Gadis itu tak bakal tergoda oleh rayuan gombal lelaki semacam Erik.

    ***************************

    Sementara itu di dalam café, terlihat Lila dan Erik duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Sambil menunggu pesanannya datang, Erik berusaha membuka percakapan. Ia mulai bercerita kesana kemari mengenai bisnisnya yang sukses, perjalannannya ke segala belahan dunia, tentang mobilnya, sampai soal binatang peliharaannya. Lila yang lebih banyak diam  hanya menanggapi omongan Erik dengan dingin. Setelah kehabisan bahan omongan yang semuanya berbau narsis, akhirnya ia mulai terlihat ngegombal.
    “Sebetulnya aku mau minta maaf atas semua perkataanku siang tadi La”
    “Tak mengapa, aku tak pernah memasukannya di dalam hati”
    “Syukurlah jika demikian. Tak hanya itu aku juga ingin meminta maaf atas rusaknya hubungan kita dulu, aku memang bersalah, a..ku ingin kita kembali seperti dulu lagi”
    “Apa?..Maaf? Kau baru bisa mengatakan maaf setelah sepuluh tahun aku terpuruk oleh penghianatanmu? Kau benar-benar tak berperasaan Rik!. Jika kamu bermaksud agar hubungan kita kembali seperti dulu, maka jawabanku adalah Tidak!”
    “Tapi La paling tidak beri aku kesempatan sekali ini saja, aku ingin membuktikan jika aku serius untuk membina hidup bersama denganmu…aku masih menc..”
    Belum selesai ia menggombal Lila telah memotong kalimatnya.
    “Maaf Rik! Sekali lagi aku tegaskan bahwa aku tak tertarik membina hubungan asmara denganmu dan aku tak ingin membicarakan soal ini lagi, kita memang tak berjodoh Titik!”
    Erik menatap Lila tajam, ia merasa terhina telah ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Pikiran kejinya muncul. Ia tak mungkin melepaskan makluk molek ini begitu saja. Bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan Lila. Mungkin mustahil mendapatkan cintanya namun tidak sukar buat mendapatkan tubuhnya.
    Erik akhirnya mendapatkan kesempatannya saat Lila pergi ke kamar kecil. Dari saku celananya ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan putih bening. Lalu ia tuangkan sedikit ke dalam minuman Lila. Ini adalah obat perangsang dosis tinggi. kemudian ia menambahkan juga bubuk putih yang tak lain adalah obat tidur. Kedua obat tersebut dengan cepat bercampur dengan minuman Lila. Cara ini yang sering Erik lakukan buat menjerat para korbannya apabila perempuan tersebut menolak di ajaknya tidur.
    “Ayolah kita makan dulu lalu kuantar kamu pulang” ujarnya berusaha berlaku wajar saat Lila kembali ke kursinya.
    Saat dalam perjalanan pulang, Lila mendadak merasakan kepalanya begitu berat. Gadis itu memijit-mijit kepalanya. Namun semakin lama pandangannya semakin kabur hingga akhirnya kepalanya terkulai di sandaran kursi mobil Erik.
    “Kau akan tahu akibatnya bila berani menolak keinginanku La” ujar Erik tersenyum menyeringai

    *****************************
    Motel XX

    Nampak Sriti duduk di meja Receptionist, Ia sedang menjalani Sift malam. Alfi baru saja pulang ke rumah kontrakannya setelah mengantarnya kemari. Terdengar deru kendaraan memasuki area parkir. Sriti terkejut melihat siapa tamu yang datang itu. Hatinya jadi was-was ketika mengenali pemilik kendaraan tersebut. Orang itu turun dan menuju ke arahnya.
    “Ada kamar kosong, Say?” tanya Erik sambil mengedipkan mata genit.
    “A..da mas,…eng…di nomor …dua belas”
    Erik lalu kebali ke dalam kendaraan. Benar saja dugaannya Ia melihat Erik keluar dari mobil sambil memapah seorang wanita yang tak lain adalah Lila.
    Melihat kondisi Lila yang dipapah berjalan, Sriti yakin Lila dalam keadaan setengah sadar. Erik pasti sudah membiusnya terlebih dahulu seperti korban-korban kebinatangannya  sebelum ini.
    Ini gawat aku harus menghubungi Alfi segera, pikir Sriti.
    “Fi!..kamu ada dimana saat ini?” tanyanya melalui telepon ke handphone-nya Alfi
    “Alfi masih di jalan pulang menuju ke rumah kakak. Ada apa kak kok bicaranya grasa-grusu begitu”
    “Kamu harus secepatnya kembali lagi kemari Fi!”
    “A..da apa sebenarnya kak?”
    “Kak Lila-mu Fi! Dia dibawa si Erik kemari dalam keadaan tak sadar”
    “Apaaa?! Aduh gawat kak. Tapi  Alfi butuh waktu beberapa menit buat sampai di sana”
    “Ya lekas!..kakak akan berusaha mengulur-ulur waktu hingga kamu tiba di sini”
    Alfi tak membuang-buang tempo, ia tak melihat ada ojek atau kendaraan umum lain yang sedang melintas di sekitar situ. Maka ia memutuskan untuk berlari menuju ke motel XX. Jarak yang hanya tinggal dua kilometer itu bukanlah suatu masalah bagi dirinya. Sementara itu di motel XX, Di saat Erik masih berusaha memapah Lila dari tempat parkir ke kamar yang di tawarkannya padanya tadi. Sriti dengan tergesah-gesah menuju ke sebuah kamar lain yang kosong sambil membawa gelas kopinya. Lalu cepat-cepat  ia menumpahkan semua isi gelas itu ke atas kasur. Lalu setelah itu  ia berlari menghampiri Erik yang sudah sampai di depan pintu kamar nomor dua belas.

    “Engg…mas Erik…maaf saya tadi salah, ternyata kamar nomor dua belas sudah ada yang ngisi, sebaiknya mas pakai kamar nomor tiga puluh saja”
    “Haa? Gimana sih!?! Lain kali yang teliti dong! kan capek dibikin mondar-mandir seperti ini!” ujar Erik kesal.
    “I..yaa..mas sekali lagi saya minta maaf. A..nu..baiknya biar saya yang bantuin nolonginnya teman mas” ujar Sriti berusaha mengambil alih memapah.tubuh Lila.
    Jarak kamar nomor dua belas  lumayan jauh dari nomor tiga puluh. Sriti berharap usahanya mengulur-ulur waktu berhasil hingga Alfi tiba di sana.
    “Ayo yang cepetan!”
    “I..ya mas…maaf  soalnya temen mas badannya lebih gede dari saya..hosh..hosh” ujar Sriti terengah-engah.
    Lalu mereka menuju ke dalam kamar. Saat lampu kamar di hidupkan,
    “Loh kok kasurnya masih kotor begini! Wah ini sudah keterlaluan! Managemen tempat ini benar-benar sudah bobrok masa tamu langganan seperti gue di kasih kamar bekas ngentot gini! Kalau begini mendingan gue pindah ke motel lain saja dan jangan harap gue  bakalan mau lagi datang kemari!” ancam Erik. Wajahnya merah padam karena marah dan kesal.
    “Aduhhh sekali lagi maaf mas Erik dan jangan pergi dulu …sebentar akan saya ganti sepreynya ya. Ini semua gara-gara si cleaning servicenya pada mudik, Jadinya saya yang kerjai semua” Sriti meletakkan tubuh Lila di sofa, lalu mengambil seprey baru yang bersih dari kantor meninggalkan Erik yang masih menggerutu.
    Lima menit kemudian Sriti kembali lalu dengan sigap mengganti seprey tempat tidur tersebut.
    “Sudah selesai mas”
    “Ini buat kamu…tapi ingat lain hari aku minta ganti rugi waktuku yang terbuang dengan tubuhmu” ujar Erik sambil menyelipkan uang pecahan limapuluh ribuan ke dada Sriti sambil meremas bukit kembar itu.

    Baca Juga Cerita Seks Nightmare Sexploitation 2

    Sriti kesal atas perlakuan Erik yang tak sopan kepadanya namun ia terpaksa berpura-pura senang sambil tersenyum nakal.
    “Selamat malam mas” ujarnya lalu menutup pintu kamar dari luar.
    Nampak Alfi tengah berlari ke arahnya. Sriti memberi isyarat kepada anak itu agar tak berisik, lalu mereka berdua menuju ke gudang yang tak jauh dari kamar itu.
    “Host….host…host..ba..gai..mana kak? Di..mana.. kak ..Lila?” ujar Alfi terengah-engah. Karena napasnya nyaris putus karena berlari tanpa henti.
    “Kau datang tepat pada waktunya, dia ada di kamar bersama Erik. Nah sebelum kita bertindak sekarang kau dengarkan dulu rencana kakak”
    Sementara Sriti menjelaskan rencananya pada Alfi. Di dalam kamar nampak Erik tersenyum-senyum menjijikan bagaikan seekor hyena yang siap merencah-rencah  korbannya. Selama ini Erik tak pernah gagal memperdaya korban-korbannya apalagi hingga pada tahap ini. Ia menuangkan air putih dari teko yang di sediakan oleh pihak motel ke dalam sebuah gelas lalu ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan obat perangsang yang telah dipakainya sedikit di café tadi. Sisa cairan di dalam botol itu ia tuangkan semua ke dalam gelas. Erik benar-benar memperhitungkan waktu. Ia berniat menggarap tubuh Lila habis-habisan malam ini. Untuk itu ia mempersiapkan obat perangsang tambahan yang akan di berikannya pada Lila ditengah-tengah persetubuhan nanti agar Lila benar-benar takluk padanya hingga pagi hari. Tubuh Lila dipindahkannya dari sofa ke atas kasur. Lalu perlahan ia membuka reutsleting dibagian belakang gadis itu. Lila hanya mampu mengeliat-geliat. Ia sungguh tak berdaya. Obat tidur dari Erik hanya menyisahkan sepuluh persen kesadarannya. Berhasil menarik resleting gaun Lila hingga ujung. Erik terbelalak memandangi keindahan di hadapannya saat itu. Kedua payudara gadis itu seakan mau tumpah dari BH-nya karena begitu montoknya. Jemari Erik gemetaran saat melepas kaitan bra tersebut dari balik tubuh Lila. Bra itu-pun berhasil ia rengut lepas. Dan nampaklah ke dua buah daging putih bersih itu dengan putingnya yang berwarna merah muda. Benda indah ini dahulu yang sempat ia sia-siakan. Dan kini ia beruntung mendapatkannya kembali sebelum ada seorangpun yang menyentuhnya.

    Namun baru saja jemarinya hendak menggapai ke dua benda itu, tiba-tiba pesawat telepon di samping tempat tidur berdering.
    Riiingggg!!!!
    “Haess!! Apa lagi sih!” meski kesal namun ia tetap mengangkat telepon tersebut.“Ya ada apa!”bentaknya. Terdengar suara Sriti di seberang telepon agak gugup.
    “A..nu  maaf mengganggu mas…soalnya penting sekali”
    “Cepat katakan saja  ada apa!”
    “Eng…menurut informasi sebentar lagi ada tim aparat bakal datang melakukan razia kemari mas”
    “Apaaa!…”
    “Betul mas.. katanya sekitar lima menitan mereka bakal tiba di sini, sudah dulu ya mas saya mau ngasih tahu tamu yang lainnya” ujar Sriti memutus pembicaraan.
    “SIALLL!!!…Keparatttt !!!” pekik Erik berang, Mengapa ia begitu sial hari ini. Dengan susah payah ia menjebak Lila sejak tadi sore dan ia hanya tinggal menyetubuhinya saja tapi semuanya menjadi kacau balau. Erik tak mau mengambil resiko berlama-lama. Secepat mungkin ia harus kabur dari tempat itu sebelum aparat datang . Untung saja ia belum melepas pakaiannya. Rasanya ia tak punya waktu buat membawa serta Lila bersamanya. Akhirnya ia putuskan untuk meninggalkan gadis itu begitu saja.Lalu bergegas lari keluar dari kamar. Sriti dan Alfi memandangi mobil Erik yang berlalu dari motel dengan meninggalkan kepulan debu.
    “Berhasil Fi! Kamu panggil dulu Taxi di depan sementara aku akan merapikan dr Lila terlebih dahulu”.
    Sriti dengan sigap memasang kembali gaun Lila yang terbuka sebagian. Namun ia tak sempat memakaikan bra Lila hanya gaunnya yang ia rapikan.
    “Kak, taxinya sudah datang, loh ada apa dengan kak Lila?” Alfi melihat kondisi Lila dalam keadaan setengah sadar dalam pegangan Sriti.
    “Ia tadi pasti dicekokin obat tidur sama Erik, sebaiknya kasih dulu dia minum air putih biar dia agak segaran sedikit”ujar Sriti.
    Alfi melihat sebuah gelas sudah terisi penuh air di atas meja. Kebetulan pikirnya. Namun ia tak sadar kalau itu adalah air yang sudah di campuri oleh Erik dengan obat perangsang.
    Alfi lalu meminumkan isi gelas itu ke Lila. Lila-pun meminumnya hingga habis setengah gelas.
    “Ayo cepat kau bawa dia kabur dari sini aku kuatir Erik kembali lagi ke mari, kamu bawa kak Lila-mu pulang dan ini uang buat bayar taxinya”
    “Sebentar kak, Alfi haus sekali karena tadi harus berlari kemari” Lalu Alfi meminum sisa air di gelas tadi sampai habis tandas.
    Kemudian mereka memapah tubuh Lila ke dalam Taxi. Lalu pergi meninggalkan motel tersebut.

    *********************************
    Sesampainya di rumah Lila, Alfi dengan susah payah memapah Lila  hingga sampai di teras rumah. Jelas tidak mudah membantu orang yang memang lebih tinggi dan lebih berat dari dirinya itu sendirian. Tubuh Lila sementara di baringkannya di atas kursi lalu ia menuju ke arah pintu utama. Berulang-ulang ia mengetuk pintu namun tak ada seorangpun yang datang membukakannya. Hingga sepuluh menit berlalu tetap tak ada yang keluar. Tanpa bermaksud lancang ia  lalu memutuskan membuka tas Lila. Satu persatu isinya ia keluarkan dari dalam tas, Dompet, kosmetik, Alfi juga melihat segerombolan anak kunci yang di ikat menjadi satu. Hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari yaitu  HP gadis itu. ia berharap siapa tahu ia bisa menelpon seseorang buat dimintai bantuan. Namun ia melihat sebuah pesan pendek pada Hp tersebut.
    “La kamu tinggal sendiri dulu di rumah, malam ini ibu dan Lidya menginap selama dua hari di tempat bu De mu yang sedang sakit”
    Alfi baru mengerti bahwa ia harus berusaha masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci milik Lila. Lama juga ia mencocok-cocokan tiap anak kunci ke lubang pintu depan. Hingga akhirnya ia berhasil. Lalu ia kembali membantu Lila berdiri dan memapahnya masuk ke dalam rumah hingga di sebuah kamar tidur. ia baringkan tubuh Lila di atas kasur. Setelah itu ia bergegas kembali ke arah depan buat mengunci pagar dan pintu ruang tamu. Setelah semuanya beres ia justru bingung harus mengerjakan apa lagi. Yang jelas Ia tak mungkin meninggalkan Lila sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri seperti ini. Ia justru kuatir jika Erik tiba-tiba datang kemari dan pasti membuat keadaannya kembali menjadi runyam seperti tadi. Alfipun akhirnya memutuskan untuk tetap di sana menunggu  sampai  Lila bangun. Rasa letih membuat ia menyandarkan dirinya di kaki tempat tidur di samping tubuh Lila. Berkali-kali ia menoleh ke arah Lila yang terbaring di sebelahnya. Wajah gadis itu  terlihat begitu cantik dan menawan. Lekuk-lekuk tubuh yang sintal itu menonjolkan segala sisi kewanitaannya yang dapat mengguncang iman setiap pria yang menatapnya.
    Alfi merasakan ada perasaan aneh bergejolak sejak di dalam taxi tadi. Entah kenapa birahinya tiba-tiba naik begitu cepat apalagi ketika tadi ia memapah dan bersentuhan dengan tubuh gadis itu. padahal selama ini ia tak pernah berani berpikir untuk berbuat macam-macam terhadap Lila.

    Alfi

    Aarggg.. Alfi binggung ada apa dengan dirinya? Mengapa gairahnya mendadak menjadi beberapa kali lipat lebih tinggi dari biasanya? Sebesar-besarnya hasratnya untuk berhubungan intim tak pernah membuat dirinya sampai tak terkendali seperti sekarang ini. Di saat kegelisahan tengah melanda hatinya, tiba-tiba sebuah tangan halus merangkul lehernya dari belakang. Ternyata Lila dalam tidurnya juga sedang merasakan kegelisahan dan secara tak sengaja meraih leher Alfi. Alfi menoleh perlahan. Wajah Lila begitu dekat dengan wajahnya hingga hangat napas Lila dapat ia rasakan di pipinya. Bibir Gadis itu begitu merekah nampak terbuka sedikit seakan-akan  meminta untuk di kecup.
    Harum tubuh dan kehalusan kulit Lila membuat dadanya semakin berdebar-debar kencang dan peluhpun mengucur deras keluar dari pori-porinya seiring napasnya yang memburu. Dan semakin lama hasrat itu semakin menyesakan dadanya.
    “Tidakk! Aku tak boleh melakukan hal itu! Aku tak ada bedanya dengan Erik jika sampai menodai kak Lila!” Jerit Alfi dalam hati.
    Dulu ia telah menodai Dian dalam situasi nyaris sama dengan saat ini. Dimana saat itu Dian sedang terlelap dan ia sendiri dalam kondisi terangsang hebat. Ia bertekat tak akan pernah mengulangi kesalahan itu lagi. Namun obat perangsang dosis tinggi milik Erik yang tak sengaja terminum olehnya itu sudah terlanjur bereaksi dan menjalar dengan cepat keseluruh syaraf-syaraf  kelaki-lakiannya. Jelas sia-sia saja ia berusaha melawan rasa itu. Tahu-tahu  ia menemukan fakta kalau tititnya sudah dalam keadaan mengejang kaku. Alfi jelas tak kuasa mengendalikan dirinya lagi. Wajahnya perlahan semakin mendekat ke wajah Lila hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir lembut gadis itu. Lalu ia pun melumatnya. Bak tersengat oleh aliran listrik tegangan tinggi Lila membuka matanya. Pada saat itu tubuhnya tengah dipenuhi oleh gairah tinggi akibat pengaruh dari obat perangsang berdosis tinggi telah membuat nalurinya mengambil alih seluruh kesadarannya. Sesaat kemudian matanya terkatup lagi. Menit demi menit lumatan bibir mereka seakan tak pernah terlepas lagi. Lila membuka mulutnya lebih lebar membiarkan lidah Alfi masuk menjelajahi rongga mulutnya. Mulanya ia hanya merintih-rintih membiarkan lidah Alfi menari-nari kesana kemari namun tak membutuhkan waktu lama buat ia bisa memahami seni bercumbu itu dan akhirnya iapun mulai mampu  membalas lumatan bibir dan permainan panas lidah Alfi sehingga menjadikan ciuman itu menjadi sangat bergairah dan menyenangkan. Entah bagaimana ia bisa begitu pandai berciuman padahal ia belum pernah sekalipun melakukan hal itu sebelumnya. Meski dengan napas tersengal-sengal keduanya tetap saling melumat satu sama lain.

    Lengan Lila merangkul dan mendekap tubuh Alfi semakin erat. Gadis itu seakan tak mau melepaskan lagi pelukannya. Sambil melakukan ciuman dan cumbuan pada Lila. Jemari tangan Alfi juga tak tinggal diam, meraba dan menjelajah ke sana kemari ke seluruh bagian sensitive tubuh Lila. Ini pertama kalinya bagi Lila membiarkan tubuhnya dijamah oleh seorang lelaki. Dulu semasa pacaran, Erik masih terlalu hijau dan tak pernah berani melakukannya. Alam kesadaraannya yang tersisa sedikit itu telah dikuasai secara penuh oleh gairah aneh yang menjalar ke setiap syaraf-syaraf di seluruh tubuhnya. Pengaruh obat perangsang itu menjadikan tubuhnya begitu sensitive terhadap setiap sentuhan Alfi.
    “Fiiihh……Ohhh” Lila merintih lemah ketika jemari Alfi mengapai dan berusaha menarik reustleting gaunnya.
    Ingin rasanya ia mengatakan kata ‘jangan’ namun tak mampu ia ucapkan. Ia sadar apa yang hendak anak itu lakukan pada dirinya saat itu namun demikian ia tak mampu menolak semua perlakuan dari Alfi untuk menggaulinya. Obat perangsang Erik yang memang mempunyai daya rangsang sangat tinggi itu benar-benar telah menguasai akal dan pikiran sehatnya. Bahkan kepandaian dan kekerasan hatinyapun selama ini telah sirna entah kemana untuk saat ini. Tinggalah yang tersisa hanyalah nalurinya sebagai makhluk hidup yang dipenuhi oleh napsu birahi dan gairah buat bercinta. Lalu perlahan-lahan gaunnya tertanggal dari tubuhnya hingga hanya tersisa satu carik kain yang masih melekat di tubuh Lila, yaitu sebuah celana dalam berenda-renda berwarna putih. Benda itu ketat membukus gundukan bukit kecil pada selangkangannya dengan bulu-bulu hitam yang membayang di situ. Dulu Alfi sempat penasaran membayangkan bagaimana bentuk tubuh Lila bila tak ditutupi oleh pakaian putih dokternya. Dan kini ia dapat dengan jelas melihat segala keindahan milik gadis itu. Sungguh tak pernah ia sadari selama ini jika wanita yang sering kali ia temui saat mengantar para wanita-wanitanya ternyata semolek ini. Meski Alfi telah sering melihat berupa-rupa tubuh indah dari para wanitanya, namun hatinya tetap bergetar menatap tubuh seorang gadis dewasa yang telah mengembang dengan sempurna di hadapannya itu. Kulitnya begitu putih bersih terawat dan tak nampak ada noda sedikitpun. Perut yang ramping serta pinggul yang bulat merupakan idaman setiap lelaki tak terkecuali dirinya. Dan yang paling mengagumkan adalah dua buah payudara Lila yang montok namun kencang dan indah dihiasi oleh puting berwarna merah muda di bagian puncaknya.

    Setiap pria pasti tahu secara naluri bagaimana bermain dengan bagian tubuh yang ini tapi tidak banyak yang tahu bagaimana semestinya memperlakukan payudara seorang perempuan. Tidak demikian halnya dengan Alfi, ia begitu mengerti jika payudara adalah bagian yang sangat peka terhadap rangsangan dan tahu bagaimana menyenangkan setiap pasangan wanitanya lewat benda ini. Setiap wanita yang tidur dengannya memiliki bentuk tubuh dan payudara berbeda tapi mereka semua paling suka bila Alfi mengakhiri permainan di bagian itu dengan menyusu bagai seorang bayi pada payudara kirinya. Alfi mulai membelai-belai payudara indah itu Lalu melakukan gerakan melingkar dengan tangan di payudara dengan lembut dari bagian ujung payudara hingga dasar payudara. Kemudian kembali dari lingkaran besar hingga mengecil terus ke arah puting tanpa menyentuh putingnya. Ia sengaja tak menyentuh bagian itu untuk meningkatkan rasa penasaran dan nafsu Lila, lalu dengan keseluruhan jemarinya Alfi yang meraup bukit kembar itu. Dan Kemudian meremas-remasnya secara lembut.
    “Oughhhhh….engggggg…”Lila mendesah dan merintih sementara tubuhnya meliuk-liuk dan mengelinjang keenakan hingga seprey di bawah tindihan tubuhnya menjadi kusut tak karuan. Pada saat itu Lila sudah tidak bisa lagi menahan remasan dan kenakalan jemari Alfi.
    Alfi melihat puting payudara Lila berdiri, lalu menghentikan remasannya ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya…dan.
    Hap…. bibirnya  menangkap putting susu sebelah kanan Lila lalu mengisapnya lembut.
    “Argggg…Fiiiiiiiih” Lila terpekik tersengat oleh kenikmatan yang baru pertama kali ini ia rasakan. Matanya sempat terbeliak sebelum kembali terkatup. Garis-garis di keningnya berkrenyit  menahan rasa  nikmat itu.
    Puas mengulum putting susu sebelah kanan bibir Alfi lalu berpindah ke putting sebelah kiri. Mulanya bibirnya menghisap dengan lembut sambil sesekali memutar-mutar lidahnya lalu semakin kuat seakan ingin memerah keluar air susu dari benda itu. Lalu semakin lama semakin kuat sehingga putting payudara Lila semakin keras mengacung.

    “Eeenggggggg……” gadis itu terus merintih-rintih.
    Ia semakin terbakar  oleh gairahnya yang meledak-ladak Dan ketika Alfi tak lagi melepaskan hisapannya pada puting payudara kirinya. Kedua tangan Lila menekan wajah anak itu hingga makin terbenam di bungkahan lembut dadanya dan berharap Alfi tak segera menyudahinya. Alfi tergesah-gesah melepas satu persatu pakaiannya hingga dirinya benar-benar bugil. Tititnya yang sangat besar dan panjang itu sudah dalam keadaan ereksi. Benda itu terlihat begitu mencolok karena ukurannya tak seimbang dengan tubuh kerempeng Alfi. Tanpa banyak kesulitan dengan ke dua tangannya Alfi perlahan menurunkan celana dalam Lila yang sudah sangat basah hingga benar-benar terlepas dari pergelangan kaki. Alfi melepaskan hisapannya pada puting payudara Lila dan menggeser posisi tubuhnya ke arah bawah sambil membuka lebar kedua paha Lila. Lila terkejut dan berusaha merapatkan kedua pahanya yang mulus. Namun terlambat  Alfi telah lebih dulu menyusupkan kepalanya masuk diantar kedua kaki jenjang dan mulusnya itu hingga wajah anak itu berada tepat di depan vaginanya. Di hadapannya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya kini sudah terbentang sebuah taman surgawi dunia. Sosok indah vagina seorang gadis cantik. Bukit  kemaluan yang penuh ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menyebar hingga ke bawah bagian pusarnya. Bau harum yang terhirup oleh penciumannya yang menandakan jika Lila  selalu merawat dan menjaga kebersihan organ kewanitaannya itu. Liangnya nampak telah membasah oleh cairan bening yang merembes keluar karena gairah pemiliknya yang sudah tak terbendung. Alfi menjulurkan lidahnya dan perlahan mendekat pada belahan vagina Lila. Dan ketika ujung lidahnya yang runcing bersentuhan dengan benda cantik itu, Lila kembali tersentak.
    “Oghhhhhh…. …”rintihnya dikala ia merasakan rasa nikmat yang begitu menyengat mengiringi rasa geli dan gatal pada organ intimnya.
    Sebuah kenikmatan yang baru pertama kali ini ia alami dan membuatnya hanya mampu merintih-rintih. ia merasa sudah tak lagi mampu menahan desakan birahinya sendiri ketika lidah Alfi tak hanya menjilati bagian permukaan saja namun menyelinap masuk ke dalam vaginanya.

    Jemari-jemarinya meraih seprey dan meremasnya seiring nikmat yang di rasakannya melanda organ intimnya.  Semua yang terjadi ini adalah pengalaman yang pertama bagi Lila. Tak ada seorang lelakipun yang pernah melakukan hal itu padanya karena selama ini ia selalu berhasil menjaga dirinya dari jamahan setiap lelaki.
    Clek..clek…clekk..clek, tiba-tiba Alfi menghentikan jilatannya sejenak. Ketika Ia memandangi belahan cantik di hadapannya itu timbul rasa penasarannya, ia ingin tahu apakah Lila masih perawan atau tidak. Lalu dengan jemarinya ia bibir membuka bibir vagina Lila sehingga Ia dapat melihat sebuah selaput tipis yang menutupi bagian dalam vagina gadis itu.  Benda yang sangat di agungkan oleh seorang wanita sebagai lambang kesuciannya itu ternyata masih utuh memagari liang vagina Lila.
    “Uhh ternyata kak.Lila memang masih perawan ting ting”, ujar Alfi dalam hati.
    Baru kali ini ia melihat bagaimana sesungguhnya bentuk dan posisi keperawanan seorang gadis. Hanya sekitar tiga atau empat senti dari permukaan bibir kemaluannya. Setelah puas terhadap apa yang ingin ia ketahui. Alfi  kembali melakukan jilatan pada kewanitaan Lila. Gerakan lidahnya kali ini semakin jauh menjelajah ke dalam sehingga liang sempit itupun bereaksi berkedut-kedut seakan menghisap lidahnya. Hingga akhirnya lidahnya berhasil menemukan klitoris Lila. Lalu ia menghisap benda mungil yang sangat sensitif dan dipenuhi dengan ujung-ujung syaraf kenikmatan itu dengan penuh kelembutan. Cairan bening semakin banyak memancar dari dalam vagina Lila sehingga mulut Alfi belepotan.. Nampaknya Lila telah  sampai dipuncak kegairahannya. Sebagai seorang gadis suci yang belum pernah merasakan kenikmatan dalam berhubungan intim, jelas ia tak mampu berlama-lama dirangsang sedemikian rupa. Kenikmatan itu sudah tak lagi tertahankan. Diiringi lengking pekikan, Lila pun akhirnya mencapai orgasme untuk yang pertama kalinya seumur hidupnya.

    “Aarggghhhhhhhhhhh !!!!!!”  saat itu terjadi Lila mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya seakan ia ingin lidah Alfi terbenam ke dalam liang senggamanya jauh lebih dalam lagi. Seluruh organ tubuhnya mengalami kekejangan terutama pada organ intimnya. Nikmat itu meletup-letup  diiringi dengan keluarnya cairan bening secara alami dari dalam liang senggamanya. Selama ini ia hanya tahu kata orgasme itu secara teoritis dari buku buku kesehatan yang ia baca selama di bangku kuliah dulu. Kini ia telah merasakan sendiri orgasme yang sesungguhnya. Ia terkesima mendapati rasa nikmat itu sangat luar biasa dan sungguh tak terlukiskan. Setelah lewat satu menitan pinggul Lila kembali terhempas ke kasur. Tampak napas Lila masih tersengal-sengal. Sekujur tubuhnyapun telah basah oleh keringat. Kedua matanya terpejam meresapi sisa-sisa  kenikmatan yang baru saja melandanya. Sebuah pertanyaan melintas di benaknya, akan ia membiarkan anak ini melakukan hal yang lebih jauh lagi dari ini? meski merasa hal itu sungguh tabu dan tidak bermoral, tetapi daya tarik buat melakukan asmara terlarang itu begitu menggoda dan tak terbantahkan. Tanpa disadari tubuhnya mengharapkan Alfi terus menjamahnya untuk membawanya pada sebuah titik akhir puncak kenikmatan. Hanya satu langkah lagi buat Alfi menuntaskan permainan cinta ini. Wajahnya meninggalkan vagina Lila dalam keadaan basah. Lalu tubuhnya naik ke atas tubuh sintal gadis itu dan menindihnya. Lila sudah terbaring pasrah dengan kedua pahanya yang membuka lebar memperlihatkan vaginanya yang memerah dan sedikit terangkat pertanda rangsangan yang ia rasakan sudah memuncak. Ini merupakan tanda bagi Alfi harus segera “memasuki” nya. Namun Alfi tak kunjung melakukan penetrasi. Titit besarnya hanya ia letakan di atas permukaan vagina Lila. Sejenak ia masih diliputi kebimbangan bahkan terpikir untuk mengurungkan niatnya meniduri Lila. Tetapi belaian lembut tangan Lila pada dadanya menepis segala keraguannya itu. ia sungguh tak mampu melawan hasrat dan gairahnya. Tak ada hal lain di dunia ini yang ia lebih diinginkan dari persetubuhan ini. Ia pun merasakan jika Lila juga sangat menginginkan hal ini terjadi. Alfi berpikir ia mungkin bisa ia bercinta tanpa harus merusak kegadisan Lila dengan hanya memasukan kepala tititnya saja ke dalam liang senggama Lila layaknya melakukan petting bersama Niken dulu.

    Lalu ia genggam batang penisnya yang sudah menegang penuh dan diarahkan tepat di bibir vagina Lila. Ia terlebih dahulu menyapu kepala penisnya ke atas dan bawah di sepanjang bibir cantik itu. Setelah  terlihat cairan yang merembes semakin banyak keluar dari celah vagina Lila, barulah ia menekan batang kemaluannya masuk.
    Srtttt  …..Lepp…bibir vagina Lila terbelah dan kepala penis Alfi mulai menghilang ke balik bibir vagina itu.
    “Aawwwwwww fiiiii….saa..kittt” rintih Lila kesakitan. Jemari nya turun dari dada ke perut Alfi berusaha mencegah anak itu memasukinya lebih jauh.
    “Kak..oh… Ugghh..”vagina gadis ini rapat sekali batin Alfi.
    Kulit kulup yang membungkus ujung penisnya tertarik kebelakang dan membuat kepala bulat penisnya bersentuhan langsung dengan kelembutan vagina gadis itu  Sehingga menimbulkan rasa nikmat yang lebih kuat ketimbang saat bagian itu tertutup kulup. Ia memang harus bersikap sabar untuk melakukan penetrasi lebih dalam ke vagina Lila walau kondisinya yang sudah sangat terangsang dan menginginkan tititnya di balut secara penuh oleh daging cinta gadis itu. Beberapa saat kemudian ketika otot-otot vaginanya mulai rileks. Lila merasakan kenikmatan sedikit demi sedikit perlahan muncul dan menindih rasa sakit tadi. Menyadari akan hal itu, Alfipun mulai lagi menekan tititnya agar masuk lebih dalam. Ia lakukan hal itu dengan selembut mungkin agar tak  terlalu menyakiti gadisnya itu.  Lila pun tak tinggal diam, secara naluriah ia membuka pahanya lebih lebar untuk memberi ruang bagi Alfi memasuki dirinya. Ia merasakan nikmat yang perlahan menjalar di mulut vaginanya Kenikmatan yang begitu mempersona. Srttttt…batang penisnya yang hitam besar itu melesak lagi sedikit dan kali ini ujung penis Alfi membentur sebuah dinding tipis dan menahan laju kepala penisnya untuk masuk lebih dalam. Alfi tahu ia telah sampai pada dinding kesucian Lila.
    “Ougghhhhh…k..kkkaak…” desis Alfi merasakan tititnya dicengram kuat oleh  otot-otot vagina Lila. Nikmatnya jangan ditanya. Kuluman vagina sempit si cantik itu membuat ia harus berjuang keras menahan rasa ingin berejakulasi.

    Perlahan ia menarik tititnya lalu didorongnya lagi masuk sedalam tadi. Saat melakukan itu, Ia berusaha agar tautan kemaluan mereka yang cuma sedikit itu tak sampai terlepas. Nyaris tak ada ruang buatnya melakukan gerakan ngentot secara nyaman. Alfi hanya berhasil membuat beberapa kali gerakan mundur dan maju itupun tak berjalan dengan lancar karena mulut vagina Lila masih terlalu sempit. Bahkan kocokan itu sempat terhenti  ketika tititnya tiba-tiba terlepas dari vagina Lila. Lepp…penis Alfi kembali menancap.
    “Oughhhh….Fiiihh” rintihan nikmat Lila-pun  kembali terdengar.
    Meskipun percintaan itu berlangsung demikian, namun  itu sudah cukup menyenangkan bagi Lila. Kedua kaki jenjangnya melingkar pada pinggul Alfi dan menekan pantat anak itu ke arah tubuhnya. Sambil mengayunkan pinggulnya, Alfi membenamkan kembali bibirnya ke bibir Lila melanjutkan ciuman mereka tadi. Lilapun membuka mulutnya lebar-lebar lalu membalas setiap hisapan bibir Alfi. Tapi Alfi telah keliru jika berpikir ia mampu melakukan peting dalam hingga persetubuhan itu berakhir. Kondisi dirinya yang tengah dipengaruhi obat perangsang sungguh sangat berbeda saat di kala ia dan Niken dulu pertama kali bercinta. Lambat laun bocah itu semakin tak terkendali. Kocokannyapun semakin cepat dan tak teratur sehingga lebih sering penisnya terlepas ketimbang di dalam vagina Lila. Hal itu semakin membuatnya tak sabaran dan tak terkendali. Keadaan itu diperburuk pula oleh perlakuan dari Lila yang merespon setiap sentuhan Alfi dengan tak kalah panasnya karena ia justru meminum obat perangsang dalam dosis yang jauh lebih banyak dari Alfi. Gadis itu mengoyang pinggulnya di saat penis Alfi terdorong masuk lalu menghentakannya ke arah yang berlawanan saat Alfi menarik penisnya. Nikmat yang ditimbulkannya sungguh sangat memabukan Alfi.
    “Awww..kakkk enakkk ” Alfi terpekik tertahan. Ia tak menduga Lila merespon setiap gerakannya secara dasyat.
    Alfi kini telah sampai pada batas kemampuannya buat bertahan. Nalurinya mengatakan ia harus menjebol keperawanan gadis itu sekarang. Ia tak tahan lagi buat merasakan kuluman vagina Lila secara utuh pada tititnya bukannya lagi peting yang menyebalkan seperti ini. Ia bisa gila bila tak ngentot saat ini juga.

    “Kak Lila maafkann Alfii” bisiknya lirih sambil menghujamkan tititnya kuat-kuat. Sekali sentak seluruh batang penisnya yang gemuk itu masuk menerobos ke dalam vagina Lila dan  akhirnya terbenam seluruhnya hingga ujungnya menyentuh mulut rahim gadis itu.
    “Aaawwww!!… …Saakkiiiittt !!…sakittt” Lila tersentak sambil menjerit kesakitan saat merasakan selaput daranya dipaksa merenggang sampai batas maksimal hingga akhirnya terkoyak disertai rasa sakit dan linu amat sangat.
    Darah pun terlihat meleleh keluar dari belahan vaginanya membasahi seprey putih di bawah pantatnya. Rasa sakit membuat vagina Lila secara spontan mencengram kemaluan Alfi yang baru masuk itu.
    “Oughhhh….sempiiiit bangeeet” desah Alfi sambil menggigit bibirnya sendiri. Nikmatnya sungguh tak terkira. Semua syaraf-syaraf yang berada di kepala penisnya merasakan gatal geli tak tertahankan sehingga ia tak dapat mengendalikan desakan kuat buat berejakulasi. Kedua tangannya menyusup ke belakang punggung Lila dan memeluk pinggang gadis itu erat-erat. Sementara pantatnya bergerak naik turun beberapa kali mengocok kontol besarnya dengan cepat dan kuat ke liang perawan itu. Alfi benar-benar sudah tak terkendali. Saat itu ia sudah tak perduli pada Lila yang sangat kesakitan akibat ulahnya. Jelas vagina gadis itu masih sedemikian sempitnya buat ia hajar seperti itu.
    “Awwwww…ee..nakkkkk” Alfi terpekik ketika kontolnya berdenyut-denyut keras memuncratkan air maninya keluar menghantam deras rahim Lila.
    Crooottt…Croottt..crottt…Crroootttttt! Sebagian besar cairan kental yang syarat dengan benih-benih subur itu meluncur masuk ke rahim Lila. Sebuah rahim seorang wanita dewasa yang sehat, subur dan siap buat dibuahi oleh benih-benih cinta Alfi. Lima belas pancutan dasyat diiringi nikmat tiada taranya akhirnya mampu sedikit meredakan amukan birahi Alfi. Ia baru tersadar akan kekasarannya barusan ketika melihat Lila  terisak-isak karena kesakitan. Batang kemaluannya memang kebesaran buat dijejalkan penuh sekaligus ke liang perawan yang sempit itu.

    Bingung harus melalukan apa buat mengurangi sakit gadisnya ini Alfi lalu mengecupi jentik-jentik keringat di kening gadis itu. Ia lakukan  dengan penuh kelembutan. Kecupannya  beralih ke mata basah gadis itu hingga ke cuping telinga yang menimbuklan rasa geli bagi Lila, Lalu pindah  ke seputar leher hingga akhirnya kembali menyusu pada payudara kiri Lila.Lila-pun merasa agak nyaman oleh perlakuan mesrah anak itu. Rasa sakitnya berangsur-angsur berkurang dan menjelma menjadi rasa nikmat yang aneh. Setelah beberapa menit Alfi memesrai Lila tanpa melakukan gerakan kocokan sedikitpun, barulah ia mengerakan penisnya selembut  mungkin berusaha agar organ cinta Lila perlahan-lahan lebih meregang sedikit demi sedikit menyesuaikan diri dengan ukuran penisnya yang besar itu. Kini tubuh kecil dan kurus Alfi sudah dalam keadaan melekat erat dengan sempurna dengan tubuh sintal Lila. Tangan bocah itu menyusup kebelakang punggung sementara jemarinya meremas bongkahan padat pantat Lila. Sedangkan Lila mendekap leher Alfi dengan kedua tangannya sedangkan kaki indahnya yang panjang melingkar pada pinggul anak itu lalu menekan ke arahnya. Bibir mereka-pun bertaut saling mengecup menghisap silih berganti menambah panasnya hubungan intim itu. butir-butir keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Bahkan terlihat Alfi tak lagi ragu menghentakan penisnya yang besar itu dengan cepat. Semakin lama semakin cepat.
    “Awwww!!…Fiiii” rintih Lila yang masih tetap merasakan kesakitan pada selangkangannya.
    Namun sedikit demi sedikit perih itu semakin lenyap tertindih oleh rasa kenikmatan yang semakin menjadi-jadi. Napasnya sampai  tersengal-sengal Ia tak menyangka jika nikmatnya yang ditimbulkan oleh titit besar Alfi akan sedasyat itu. Semua syaraf-syaraf lembut di dalam vaginanya merespon daging asing yang memasukinya itu dengan cengraman yang kuat. Sepuluh menit kemudian Alfi merasakan pelukan Lila semakin mendekap dan pinggul nya bergerak dengan liar. Ia tahu gadis itu bakal mendapat kembali orgasmenya. Lalu ia semakin mempercepat ayunan pinggulnya dan menghujamkan tititnya sedalam mungkin ia dapat masuk.

    Ctap!!..ctapp!!..ctap!!..ctap!!, terdengar bunyi benturan kemaluan mereka
    “Fiiiiiiii…. oughhhhhhhhh!!!!!!!…Fiiiiiii!!!” Lila tak dapat menahan pekiknya ketika orgasme itu meletup dari tubuhnya.
    Semua otot-otot kewanitaannya berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti  bagian panggul dan rahim. Lalu diakhiri dengan rasa kenikmatan yang dasyat. Ini adalah orgasme kedua yang dialami Lila. Namun jauh berlipat kali lebih nikmat dari yang pertama tadi . Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Pantas saja orang selalu ingin melakukannya lagi dan….. lagi pikir Lila. Pada saat yang sama Alfipun sudah tak dapat menahan ejakulasinya. Liang perawan itu tiba-tiba melumat seluruh organ kelaki-lakiannya dan mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa hingga saat itu juga aliran sperma pada saluran didalam penisnya melaju dengan cepat menerobos hingga keluar melalui lubang kencingnya tanpa bisa dibendung lagi.
    Creeett…crooot..croooot…..croooot…
    “Aaaaoooooo…kakkk enaaakkkkk!!!”Alfi melolong ketika air maninya bermuncratan untuk kedua kalinya.
    Daging kejantannya mengembang mengempis dan menghentak- hentak sambil terus menerus menyemburkan spermanya di dalam vagina gadis itu seakan-akan ia ingin mengosongkan seluruh isi testisnya. Orgasme yang begitu kuat membuyarkan kesadaran Lila untuk beberapa saat. Ia bagai melayang tanpa batas di atas gumpalan awan dan memberikannya  rasa yang nyaman dalam pelukan erat Alfi. Meski sama-sama baru saja mengalami orgasme baik Alfi maupun Lila tetap saling mendekap satu sama lain. Pengaruh dasyat obat perangsang itu tak juga kunjung pudar mengukung keduanya. Alfi semakin liar mengumuli gadis itu seakan tak ingin menyudahi kenikmatan itu. Begitupun Lila yang baru kali itu merasakan nikmatnya persetubuhan Kenikmatan itu begitu memabukan bagai candu membuatnya  rela terus menerus dicabuli oleh anak itu.
    Persetubuhan itu berlangsung lagi bagai tiada akhir hingga jam tiga dini hari. Keduanya baru berhenti setelah mengalami orgasme demi orgasme dan titit perkasa Alfi-pun tak dapat lagi memancarkan air mani. Akhirnya keduanya jatuh terlelap dalam keletihan dan kepuasan. Di malam sunyi dan dingin itu, di atas tempat tidurnya sendiri, Lila telah kehilangan kesuciannya.

    ********************************
    Kesokan harinya

    Menjelang tengah hari, Lila baru menggeliat bangun dari tidur lelapnya. Namun alangkah  kagetnya ia mendapati sosok tubuh lelaki yang tak lain adalah Alfi sedang terlentang di sebelahnya di atas tempat tidurnya tanpa mengunakan busana sama sekali. Ia bertambah panic saat melihat tubuhnya sendiripun dalam keadaan telanjang bulat seperti halnya anak itu. Gadis itu berusaha menutupi ketelanjangannya itu dengan selimut dan mencoba bangkit dari tempat tidur namun keletihan masih mendera semua otot dan persendian nya sehingga ia tak mampu buat berdiri. Ketika kesadarannya berangsur-angsur pulih dan Ia-pun dapat mengingat-ingat semua kejadian semalam. Ia yakin apa yang menimpa dirinya bukanlah sebuah mimpi. Rasa sakit pada selangkangannya juga sangatlah nyata. Dan noda darah di atas seprey juga menjadi bukti bahwa hal itu benar-benar telah terjadi dan Ia kini memang telah ternoda!
    “Ohh tidak ….mengapa hal ini terjadi menimpa diriku? Huu..huu.hu” tangisnya meledak tak terbendung lagi.
    Apa yang dipertahankannya selama ini telah terengut  paksa oleh seorang bocah lelaki yang belum cukup umur itu. Tak hanya itu Alfi bahkan berejakulasi berkali-kali di dalam vaginanya tanpa pengaman. Membuatnya bakal menghadapi situasi yang sama dengan Niken tempo hari. Alfi yang juga baru terjaga  menemukan kondisinya dalam keadaan telanjang bulat bersama Lila di atas ranjang gadis itu. Ingatan serta kesadarannya berangsur pulih sehingga ia dapat mengingat dengan jelas kejadian semalam.Cerita Maya
    “K..kakk?” ucap Alfi bingung melihat Lila menangis.
    Tiba-tiba Lila mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian pada matanya yang basah oleh air mata.
    “Kkkau!! Sungguh tega melakukan perbuatan nista itu pada diriku!” ujar Lila  bercampur dengan  isak tangisnya.
    “Kakakkk..maa..afkan Alfi…Alfi tak sengajaa..” ujar Alfi lirih bingung akan sikap Lila bukankah tadi malam Lila cenderung  membiarkan ia melakukan hal itu bahkan gadis itu sangat menikmati persetubuhan itu tetapi mengapa pagi ini ia terlihat begitu marah.

    “Anak Jahanamm!! Kau masih berdalih setelah apa yang kau lakukan padaku. Ka..liann lelaki semuanya sama sajaa!.hu.hu.huu..” ujar Lila dengan suara meninggi lalu mendekap wajahnya dengan kedua telapak tangannya menumpahkan seluruh tangisnya di situ.
    Alfi agak ketakutan melihat reaksi keras jelas-jelas Lila yang tak menerima perbuatannya itu. Ia berusaha mendekat untuk meredakan tangis gadis itu.
    Jemarinya menyentuh dan mengelus-elus lengan Lila yang berkulit halus. Srrrttt..Lila merasakan dorongan aliran aneh seperti yang ia rasakan tadi malam kembali merasukinya melalui sentuhan bocah itu. Namun akal sehatnya lebih unggul dan memenangkan pertarungan kali ini.
    “Jangan mendekat!!!Pergiii!!!! Pergiii!!!!” pekik Lila histeris sambil melemparkan barang-barang yang berada di dekatnya seperti jam weaker dan gantungan kunci ke arah Alfi. Alfi belingsatan namun ia tak berusaha menghindar ataupun melindungi wajahnya. Beberapa benda keras sempat mampir ke wajahnya namun Ia rela menerima kemarahan Lila saat itu padanya. Dengan rasa sedih anak itu memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai. Ia masih sempat menoleh ke arah Lila saat berada di depan pintu.
    “Kakk…Alfi sungguh menyesal hal ini terjadi..” ucapnya lirih diliputi perasaan sesal yang mendalam. Hatinya begitu gundah sehingga tak tahu harus berkata apa lagi.
    “Pergiiiiiiiii!!!!!.huu…huu” pekik Lila dalam tangisnya yang sungguh mengundang keibaan.
    Alfi tahu Lila tak akan menghiraukan semua penjelasannya. Setelah berpakaian, perlahan ia pergi meninggalkan rumah Lila.

    Bersambung ke eps- 2

  • Nightmare Sexploitation 2

    Nightmare Sexploitation 2


    85 views

    SCENE 4 : Changing Plan

    Hari Kedua.

    Bandara. Pukul : 09.45

    Fanny

    Cerita Maya | Luar Biasa! Dengan basic model, rupanya Fanny memang sudah sangat ahli merias dirinya. kini tak terlihat lagi Fanny yang acak-acakan seperti beberapa menit yang lalu. Di depan kaca kamar mandi sebuah restoran cepat saji dalam bandara ini kini berdiri seorang wanita yang cantik dan cerah memukau. Apalagi dibalut blazer dan rok span diatas lutut membuat Fanny menjelma menjadi seorang wanita feminim, anggun dan dewasa. Jika ada mahasiswa di kampusnya yang sebelumnya tidak mengenal Fanny sebagai mahasiswa, mungkin mereka akan menyangka ia adalah dosen baru di kampus tersebut. Fanny tersenyum puas. Kecantikan lahiriah yang begitu sempurna, yang kadang ia syukuri sebagai berkah, namun kadang disisi lain ia anggap sebagai musibah. Berkah karena ia bisa memperoleh kemudahan dan penghasilan yang cukup besar kecantikannya ini. Musibah karena kecantikannya ini membuat ia sama sekali tidak pernah memperoleh sebuah cinta sejati, karena semua laki-laki yang pernah ia cintai hanya melihat dirinya bak pakaian indah untuk diperlihatkan, dipakai dan setelah bosan bisa dicampakkan begitu saja. Karena itulah kini cara pandang Fanny terhadap laki-laki telah berubah. Tak ada lagi cinta bagi Fanny, paling tidak sampai saat ini. Fanny keluar dari kamar mandi. Sepanjang perjalannya menuju meja dimana Pak Dahlan duduk menunggunya, hampir semua mata tertuju padanya. Tak hanya mata laki-laki, namun mata para wanita pun memandang sirik ke arahnya. Beberapa siulan dan godaan usil keluar dari mulut beberapa laki-laki yang dilewatinya. Walau hanya beberapa meter, namun jalan ini bagaikan cat walk yang panjang bagi Fanny, dimana ia adalah sebagai model utamanya. Di tempat duduk Pak Dahlan tersenyum kearahnya. Seakan bangga kalau wanita cantik ini yang mendapat sorotan semua mata ini adalah pendampingnya hari ini. Ia patut bangga karena mungkin saja beberapa diantara mata-mata yang memandangi Fanny sangat ingin berada pada posisinya saat ini. Beberapa meter sebelum mahasiswi favoritnya ini sampai di meja, nada ponsel Pak Dahlan berbunyi menandakan sebuah pesan masuk. Pak Dahlan mengeluarkan ponselnya dari dalam poket sabuknya. Di layar tertera nama “Sugeng”, dibukanya pesan itu dan muncul sebuah kalimat, “Sya sdah trun pswat, bpk dimna?”. Pak Dahlan dengan cepat membalas pesan tersebut, “Sya sdah d bandra, Sya sgra kesna”. Selesai mengetik pesan singkat, dilihatnya Fanny sudah duduk didepannya.

    “Sudah selesai Fan? Ayo kita ke penjemputan domestik, yang kita tunggu sudah landing”.

    Setelah membayar mereka beranjak dari meja tersebut, dan Fanny pun mengikuti Pak Dahlan keluar dari stand makanan cepat saji tersebut.

    ******

    Kini mereka berdua sudah berada diantara penjemput-penjemput penumpang lainnya. Beberapa penjemput nampaknya beberapa sudah menemukan penumpang pesawat yang mereka cari. Sedangkan Pak Dahlan nampaknya masih belum menemukan rombongan yang hendak mereka jemput. Fanny sendiri sebenarnya dari pagi tadi sedikit penasaran dengan pria yang bernama Sugeng, yang harus ia “temani” selama dua malam. Ia hanya berharap paling tidak pria ini tidak akan jelek-jelek amat, karena sejam atau dua jam di atas ranjang bukanlah waktu yang singkat. Cerita Maya

    “Kamu sudah mengerti kan yang tadi Bapak jelaskan waktu makan?”, Pak Dahlan seolah ingin mempertegas lagi hasil breafing yang tadi pagi mereka bicarakan.

    Fanny mengangguk pelan.

    “Pokoknya kamu ikuti saja kata-kata Bapak, dan coba untuk ikut berbaur bersama mereka”.

    Kembali ia mengangguk.

    “Nah… itu mereka!”, Pak Dahlan mengajak Fanny mendekati lima orang yang berjalan bersama,dan mungkin ini adalah rombongan yang terakhir.

    “Selamat datang Pak Sugeng”, Pak Dahlan menyalami seorang lelaki paruh baya mungkin sekitar diatas limapuluhan, karena ia tampak lebih tua dari Pak Dahlan.

    “Oh, ini dia yang bernama Pak Sugeng”, pikir Fanny dalam hati. Berbeda dengan dosennya yang bertubuh tambun dan berkulit sawo matang, rambutnya agak bergelombang dengan kumis di atas bibir tebalnya. Pak Sugeng bertubuh pendek, kurus dengan rambut lurus yang sudah mulai memutih dibeberapa bagian dan berkaca mata. “Dasar! Udah bau tanah masih juga minta layanan ekstra”, pikir Fanny lagi. Tapi melihat perawakan calon “costumer”-nya paling tidak ia bisa bernafas lega, karena paling tidak kelihatannya ia tidak akan bekerja terlalu keras.

    “Hallo Ibu, hallo Bapak…”, Pak Dahlan menyapa ramah kepada keempat anggota rombongan lainnya.

    “Kenalin Pak, ini dari yang paling subur Bapak Deni, Pak Cokro, Bu Yanti dan yang paling kanan Bu Citra, sekretaris saya”, Pak Sugeng memperkenalkan satu per satu anggota rombongan.

    Pak Deni yang dikatakan paling subur memang memiliki tubuh agak gemuk dan bongsor, sehingga Pak Cokro begitu terlihat kecil berada disampingnya selain memang tinggi tubuhnya jauh lebih pendek diantara yang lain. Sedangkan Ibu Yanti terlihat begitu dewasa dengan beberapa uban nampak di rambutnya, nampaknya Ibu Yanti lebih senior ketimbang Ibu Citra. Dilihat dari perawakannya sendiri, wanita yang bernama Citra ini jelas tidak menampakkan image seorang ibu-ibu. Malahan dari segi postur tubuh dan wajah Citra bisa dikatakan masih sangat muda dan cantik, tidak berbeda jauh dengan Fanny. Mungkin ibu yang satu ini adalah pengantin baru. Dengan potongan rambut yang dicat coklat mirip dengan cat rambut Fanny, wanita cantik ini terlihat begitu fresh. Hal ini jelas menggoda mata Pak Dahlan yang memang doyan gadis-gadis cantik. Sambil berbicara sesekali ekor mata Pak Dahlan melirik ke arah Citra yang hari itu terbalut kemeja biru dan rok span pendek berwarna hitam.

    “Oh, iya ini Fanny, asisten saya di kampus”, Pak Dahlan kemudian memperkenalkan Fanny kepada mereka semua.

    Fanny kemudian juga bersalaman dengan mereka semua satu persatu. Sewaktu bersalaman dengan Pak Sugeng, Fanny merasakan tatapan nanar dari pria tua itu dan juga dari rekan-rekan laki-lakinya yang lain. Tatapan seekor harimau saat melihat mangsanya. Fanny berusaha tidak memperhatikan hal itu dan mencoba seramah mungkin dihadapan tamu-tamu Pak Dahlan ini. Paling tidak, sampai saatnya tiba Pak Sugeng tidak akan dapat melakukan apa-apa terhadap dirinya.

    “Mari Bapak, Ibu sekarang saya antar ke hotel untuk beristirahat”.

    “Pak Dahlan… apa bisa kita langsung ke kampus saja dulu buat inspeksi pertama, setelah itu baru kita ke hotel untuk beristirahat, supaya di hotel kami tahu bayangan kegiatan besok seperti apa”, Pak Sugeng sebagai pimpinan nampak mencoba mengusulkan perubahan acara.

    “Oh, kalau memang begitu baiklah saya antar Bapak Ibu ke kampus terlebih dahulu”.

    Dan mereka pun berjalan bersama menuju areal parkir bandara.

    ******

    Kegiatan pemeriksaan permulaan ini ternyata berjalan cukup lama. Bahkan waktu makan siang sampai terlewati karena anggota tim pemeriksa silih berganti mengajukan pertanyaan terkait kegiatan-kegiatan kampus. Dari mulai administrasi kampus, kegiatan belajar mengajar, kegiatan ekstra kampus, sampai aktifitas organisasi kemahasiswaan. Suasana terasa begitu serius, sehingga praktis Fanny dalam hal ini sama sekali belum berperan. Ia hanya sesekali menemani anggota tim wanita berbicara, atau mengantarkan mereka berkeliling melihat-lihat suasana kampus seperti instruksi Pak Dahlan. Saking tak terasanya waktu, akhirnya mereka semua baru melaksanakan makan siang sekitar pukul setengah satu, itupun dilakukan di restoran hotel tempat mereka menginap sebelum check in. Di meja makan, Fanny juga masih belum memiliki peran. Obrolan mereka sangat jauh dari daya tangkap Fanny yang terbiasa cuek dengan segala hal yang rumit. Sampai saat ini peran Fanny tak lebih seperti sebuah vas bunga di atas meja yang berfungsi sebagai penyejuk mata. Beberapa kali Fanny memergoki ketiga laki-laki anggota rombongan tersebut menatap ke arah dada, paha dan ujung roknya. Pakaian yang diberikan Pak Dahlan kepadanya bukannya melindungi dirinya dari tatapan-tatapan nakal itu, namun justru memberikan akses lebih kepada mereka. Potongan blazer yang begitu rendah di bagian dada, serta ujung rok yang terlalu pendek membuat Fanny cukup bekerja keras untuk menutupi bagian-bagian tubuhnya yang sensitif, sambil tetap harus berusaha tersenyum dan bersikap ramah. Sedangkan di lain pihak Pak Dahlan juga musti harus membagi konsentrasi antara berbicara dengan tamu-tamunya dengan dorongan birahinya akibat menatap sosok Citra. Sosok yang sangat indah dan menggairahkan. Make up minimalis yang menghiasi wajah cantik itu justru menambah kesan alamiah seorang wanita dewasa. Andai saja saat ini hanya ada mereka di tempat ini, mungkin laki-laki mesum ini akan mulai melancarkan rayuan-rayuan mautnya mencoba mencari simpati wanita tersebut. Sebenarnya jika diperhatikan, Citra bukannya tidak sadar sedang diperhatikan oleh Pak Dahlan. Wanita cantik itu sepertinya benar-benar sadar, malahan justru terkesan sedikit memancing dengan gerak-geriknya. Namun sampai saat ini masing-masing pihak terlihat masih menjaga diri karena saat ini adalah waktunya untuk bekerja.

    Lama-lama akhirnya Fanny mulai bosan harus berpura-pura memperhatikan pembicarakan yang sedang berlangsung saat ini. Memang sampai saat ini ia masih mencoba untuk mengimbangi apabila ada yang bertanya kepadanya, namun tetap saja semuanya terasa membosankan. Sedangkan Pak Dahlan nampak seru berbicara sambil sesekali ditanggapi dengan tawa oleh tamu-tamunya. Ditengah-tengah pembicaraan, ponsel Fanny berbunyi. Dalam hati Fanny bersyukur ponselnya berbunyi, paling tidak ia ada alasan untuk meninggalkan meja. Rasa syukur Fanny mendadak hilang ketika melihat layar ponselnya yang tertera sebuah nama “Si Mesum”. Nama itu ia berikan untuk menyimpan nomor Imron dalam ponselnya. Namun tetap saja baginya paling tidak kini ia ada alasan untuk beranjak dari meja tersebut. Setelah meminta ijin kepada semua anggota rombongan untuk menerima ponselnya, Fanny segera beranjak dari kursinya.

    “Kenapa Pak?”.

    “Hehehe… nggak apa-apa Non, cuma lagi kangen aja nih pengen ngentotin Non”.

    Kurang ajar sekali laki-laki ini pikir Fanny dalam hati. Ia pikir dirinya wanita seperti apa sehingga ia bisa seenaknya menggunakan kata-kata tidak senonoh seperti itu.

    “Sekarang saya lagi sibuk Pak, saya ada urusan penting dengan Pak Dahlan”.

    “Oh.. Non bareng Pak Dahlan ya? Pantes saya cari-cari di kampus Non nggak ada. Kalau boleh tahu urusan penting apaan sih Non? Hehe…”.

    “Bukan urusan Bapak… sudah ya saya tidak bisa lama-lama nih”.

    “Ya sudah, saya cari memek lain aja, memek Non nanti-nantian saja saya genjotnya hehehe…”.

    Imron langsung mematikan teleponnya. Fanny menggerutu dalam hati. Ia sebenarnya tak perlu bersikap kesal seperti ini, karena ia tahu betul gaya Imron memang ceplas-ceplos seperti itu. Namun tetap saja kata-kata Imron tidak layak untuk dikatakan kepada seorang wanita bermartabat seperti dirinya. Fanny malas untuk kembali bergabung dengan tamu-tamunya di meja makan, sehingga ia memutuskan untuk pergi ke toilet dan merapikan dirinya. belum beberapa langkah ia melangkahkan kakinya kembali terdengar suara ponselnya dari dalam tas.

    “Uuh… mau apa lagi sih si mesum ini”, gerutu Fanny. Begitu ia mengeluarkan ponselnya ternyata telepon itu bukan dari Imron lagi.

    “Hallo Om…”, kali ini nada bicara Fanny jauh dari nada bicaranya barusan. Kini suara Fanny terdengar begitu manja.

    “Hai sayang, nanti malam ada waktu nggak say? Om baru sampai nih dari bandara, ada pelatihan disini selama seminggu, jadi mumpung disini Om pengen ngelepas kangen nih”.

    Fanny sebenarnya ingin sekali mengatakan malam ini tidak ada acara, namun ia tahu itu tidak mungkin karena ia harus melakukan “tugas dinas”nya malam ini. Di ujung telepon adalah Om Hendra, seorang pengusaha eksport import yang sudah lama menjadi langganan Fanny. Fanny sangat menyukai langganannya yang satu ini. Walaupun dari segi permainan ranjang Om Hendra bisa dikatakan biasa aja, namun Fanny sangat menyukai laki-laki ini karena ia selalu memanjakannya dan memberikan bayaran, tips dan traktiran-traktiran yang jumlahnya berjuta-juta. Setiap datang ke kotanya Om Hendra pasti menyempatkan waktu membooking Fanny, karena ia selalu mengatakan kalau Fanny adalah salah satu wanita favoritnya. Inilah yang membuat ia begitu royal kepada Fanny.

    “Aduh Om, kok bilanginnya mendadak sih? Fanny dua hari ini sudah full booking nih”.

    “Oh gitu ya? Nggak bisa kamu chancel aja?”.

    “Nggak bisa Om, Om kan tahu kalau Fanny tuh nggak pernah ngebatalin jadwal, kecuali memang dibatalin sama pelanggan yang booking”.

    “Iya Om tahu kamu tuh profesional, karena itulah Om suka banget sama kamu. Ya udah Om juga bakal seminggu disini, so kamu telepon Om kalau urusan kamu sudah selesai, OK Sweety?

    “OK, pasti Om …”.

    “Uh…!”, Fanny menghembuskan nafas setelah percakapannya terputus. Seandainya saja ia kosong hari ini, pasti saat ini juga ia akan bergegas menuju ke hotel tempat Om Hendra menginap. Ia sudah bisa membayangkan apa saja yang ia akan minta kepada laki-laki itu. Diantara daftar keinginannya, ponsel berada di posisi teratas. Ia ingin mengganti ponsel blackberry-nya ini dengan keluaran terbaru. Fanny tahu uang sebesar itu bukan hal yang luar biasa bagi Om hendra. Dengan pelayanan ranjang terbaiknya, pasti ponsel impiannya itu dengan segera berada ditangannya. Namun ia harus menunda dulu semua keinginannya itu, karena ada “tugas” penting yang menantinya.

    Fanny kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet dalam restoran tersebut. Di dalam toilet Fanny buang air kecil, serta merapikan riasan dan rambutnya. Ia sebenarnya bosan terperangkap dalam keadaan seperti ini, namun ia mencoba untuk bersikap seperti air yang bisa mengalir mengikuti situasi. Ia harus bertahan, agar nantinya ia juga bisa cepat-cepat meninggalkan kampus dan tentunya juga meninggalkan dunia yang penuh dengan sekelompok laki-laki mesum di dalamnya. Selesai merapikan diri Fanny pun keluar dari toilet. Dan betapa terkejutnya ia, ketika di luar toilet ternyata berdiri Pak Sugeng menyambut dirinya.

    “Eh Bapak…”, Fanny menunduk hormat sambil memberi senyuman.

    “Iya Dik Fanny, saya sudah lama lo menunggu Dik Fanny disini”, sebuah senyuman tersungging dari bibir pria tua ini. Berdasarkan naluri kewanitaannya Fanny tahu ada sesuatu dibalik senyuman itu.

    “Oh, menunggu saya? Memang ada apa ya Pak?”, Fanny mencoba mengatur nada suaranya agar tetap sopan.

    “Pak Dahlan sudah menerangkan pada saya semuanya…”.

    Jutaan listrik terasa menyengat tubuh Fanny ketika mendengar kata-kata Pak Sugeng tadi. Ia sendiri sudah tahu kalau saat ini pasti akan datang cepat atau lambat, dan rasanya inilah saatnya baginya untuk melaksanakan “tugas dinas”nya.

    “Rekan-rekan saya semua sudah check in. Sekarang Dik Fanny pulang dulu ke rumah untuk mengambil pakaian karena saya minta Dik Fanny ikut menginap di hotel ini, saya sudah menyuruh Pak Dahlan untuk memesankan 1 kamar tambahan tepat di samping kamar saya”.

    Fanny menelan ludah. Selama ini ia pikir ia hanya akan melaksanakan “tugas dinas”nya barang satu atau dua ronde setelah itu ia bisa pulang, paling tidak itu yang dijanjikan oleh Pak Dahlan kepadanya. Fanny sama sekali tidak pernah berpikir kalau dirinya sampai harus ikut menginap di hotlel ini. Kalau mendengar perkataan Pak Sugeng tadi berarti ia harus bertugas all night atau mungkin bisa lembur until dawn, karena dengan kamar bersebelahan maka Pak Sugeng bisa dengan mudah meminta jatah syahwat kapan saja. Tubuh Fanny terasa lemas, ia bisa membayangkan betapa beratnya tugas yang akan ia lakukan untuk dua hari mendatang ini.

    “Kok diam? Dik Fanny keberatan?”

    “Oh.. ti… tidak, sama sekali tidak…”, Fanny berbohong.

    “Baiklah, kalau begitu sekarang Dik Fanny bisa pulang sekarang dan saya harap Dik Fanny bisa balik secepatnya, terus terang saya sudah tidak tahan untuk menghabiskan waktu bersama Dik Fanny hahaha…”.

    Suara tawa laki-laki tua dihadapannya ini, terdengar seperti tawa iblis di telinga Fanny. Fanny hanya menggangguk, kemudian mencoba menyunggingkan sebuah senyuman. Ia pun berjalan meninggalkan Pak Sugeng. Di restoran ternyata meja tempat mereka kumpul tadi sudah sepi. Sebenarnya kalau Pak Dahlan ada disana ingin rasanya Fanny mendamprat dosennya itu karena merubah rencana tanpa seijinnya. Fanny lalu mengambil ponselnya, dan menghubungi nomor Pak Dahlan.

    “Pak! Apaan sih maksudnya saya sampai harus menginap juga di hotel ini?!”, Fanny langsung melabrak begitu terdengar suara dosennya di ujung telpon.

    “Sabar Fan… sabar dulu dong…”, Pak Dahlan terdengar berbisik di ujung telpon. Rupanya sekarang ia berada di lantai 3 mengantar tamu-tamunya menuju kamar.

    “Bapak jangan merubah rencana seenaknya dong! Saya kan jadi repot nih!”.

    “Ini permintaan langsung dari Pak Sugeng, pokoknya kamu ikutin saja dulu nanti kita bicarakan lagi ya. Nggak enak sama tamu-tamu yang lain”.

    “Nggak bisa gitu dong! Ini harus diselesaikan saat ini juga…”.

    Please Fan, kamu lakukan saja apa yang diminta ya, nanti Bapak bicarakan lagi dengan Pak Sugeng tentang masalah ini”.

    Fanny sebenarnya masih kesal. Ingin rasanya ia mencaci maki bandot tua ini lebih lama, namun ia akhirnya memilih untuk ponselnya setelah Pak Dahlan terus memohon beberapa kali. Setelah itu ia pun keluar dari hotel. Syukur tadi pagi ia membawa mobilnya sendiri, jika tidak tentunya ia akan bertambah kesal karena harus pulang menggunakan taxi.

    *************************

    SCENE 5 : Working Overtime

    Hari Kedua.

    Ruang Rapat Fakultas Teknik. Pukul : 14.35

    Pak Dahlan nampak berjalan di koridor kampus. Masih dengan pakaian yang dikenakannya tadi pagi, ia nampak berjalan tergesa-gesa sambil sesekali melihat jam tangannya. Rupanya ia baru saja kembali dari hotel tempat tamu-tamu “istimewa”nya menginap. Dari langkah kakinya terlihat Pak Dahlan berjalan menuju ruang rapat di Fakultas Teknik. Sesampainya di depan pintu ruangan, Laki-laki bertubuh tambun itu sempat sekilas melihat melalui jendela ruangan tersebut. Di dalam terlihat dosen-dosen undangan sudah pada hadir dan nampak bercakap-cakap antara satu dengan lainnya.

    “Selamat sore Bapak-bapak, Ibu-ibu, maaf lama membuat anda semua menunggu lama. Tadi saya baru dari hotel mengantar rombongan tim pemeriksa yang besok akan menilai kampus kita”.

    “Tidak apa-apa Pak Dahlan, beberapa dari kita yang mengajar sore juga baru datang kok”, Pak Gunawan, Ketua Jurusan Teknik Mesin menanggapi permohonan maaf Pak Dahlan.

    “Apa ada yang belum hadir Pak?”.

    “Sepertinya sih sudah lengkap”, Pak Gunawan menandangi satu persatu mereka yang ada di dalam ruangan rapat tersebut. “Iya sudah lengkap Pak”.

    “Baiklah, kalau begitu untuk mempersingkat waktu kita mulai saja rapatnya”.

    Rapat persiapan pun berjalan dengan lancar, sambil diselilingi beberapa perdebatan diantara peserta yang hadir. Setelah hampir dua jam kesemua peserta rapat memberikan pendapatnya, akhirnya rapat persiapan pun berakhir dengan beberapa buah poin-poin kesepakatan.

    “Baiklah, Bapak-bapak dan Ibu-ibu seperti telah disepakati bersama tadi bahwa akan dibentuk kelompok kecil yang akan mempersiapkan bahan-bahan laporan untuk dipresentasikan besok pagi di depan anggota tim pemeriksa”, Pak Dahlan nampak duduk di depan peserta rapat dan membacakan hasil kesimpulan rapat hari ini. “Adapun keanggotaan dari kelompok kecil ini adalah Pak Gunawan sebagai ketua, Ibu Marina sebagai sekretaris serta Pak Deddy dan Ibu Sherly sebagai anggota. Ibu-ibu dan Bapak-bapak dapat bekerja mulai sore ini sehingga besok kita semua bisa mempresentasikan hasilnya pada Rapat Evaluasi Akhir di depan Tim Pemeriksa”.

    Pak Dahlan lalu mengambil sebuah map besar dan sebuah amplop coklat besar yang di dalamnya terdapat beberapa berkas. Ia lalu beranjak mendekati Pak Gunawan.

    “Dengan ini saya serahkan berkas-berkas administrasi dan keuangan kampus kita secara simbolis kepada Pak Gunawan sebagai ketua kelompok kecil, sehingga nantinya setelah ini dapat langsung bekerja bersama anggota kelompok lainnya”.

    Laki-laki tambun itu pun menyerahkan map besar dan amplop coklat tersebut kepada Pak Gunawan. Setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.

    “Sebelum rapat ini saya tutup, apa ada tambahan pertanyaan dari para peserta rapat?”.

    Tak ada tanggapan dari peserta rapat. Beberapa dari mereka hanya nampak berbisik-bisik dengan rekan di sebelahnya, sedangkan beberapa lainnya terlihat hanya terdiam.

    “Baiklah, karena tidak ada pertanyaan dan keanggotaan kelompok kecil sudah terbentuk maka hari ini rapat saya tutup dan Bapak-bapak dan Ibu-ibu selain anggota kelompok kecil dapat meninggalkan ruangan ruangan untuk kembali melaksanakan aktifitasnya masing-masing”.

    Para peserta rapat pun satu per satu keluar dari ruangan, sampai akhirnya hanya ada lima orang di dalam ruangannya tersebut yaitu anggota kelompok kecil ditambah Pak Dahlan sebagai ketua tim persiapan evaluasi kampus.

    “Kami akan bekerja di ruangan multimedia saja Pak, soalnya disana selain tersedia komputer juga ada printer serta lengkap dengan jaringan internet seandainya kita perlu meng-download beberapa data terkait”, Pak Gunawan berkata kepada Pak Dahlan.

    “Oh tidak masalah Pak Gunawan, asal Bapak-bapak dan Ibu-ibu merasa nyaman saja”.

    “Baiklah, kalau begitu Bapak-Bapak Ibu-ibu kita pergi ke ruang multimedia sekarang”, kemudian Pak Gunawan mengajak anggota kelompoknya keluar dari ruangan tersebut.

    Ketika mereka semua akan beranjak keluar, tiba-tiba Pak Dahlan menyeletuk.

    “Tapi maaf sebelumnya Pak Gunawan, saya tidak bisa mendampingi Bapak-Bapak dan Ibu-ibu sekalian soalnya saya masih ada beberapa masalah yang harus saya urus di luar kampus, terkait tamu-tamu khusus kita yang sedang menginap di hotel”.

    “Tidak apa-apa Pak Dahlan, setelah semuanya selesai nanti saya akan menghubungi Bapak”.

    OK, semoga pekerjaan Bapak dan Ibu bisa selesai tepat waktu”.

    Keempat orang anggota kelompok kecil pun beranjak ke luar ruangan, meninggalkan Pak Dahlan seorang diri di dalam ruangan tersebut. Sepeninggal keempat orang tersebut, Pak Dahlan nampak mengeluarkan ponselnya dan kemudian terlihat asyik bercakap-cakap dengan seseorang di ujung di telepon. Sesekali laki-laki paruh baya tersebut terlihat tertawa, memperlihatkan kalau seseorang yang diajaknya berbicara adalah seseorang yang sangat menyenangkan. Cukup lama Pak Dahlan menghabiskan waktu untuk bercakap-cakap sebelum akhirnya ia mematikan ponsel dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.

    ******

    Di dalam ruangan multimedia.

    Marina

    “Bagaimana Bu Marina sudah selesai disusun?”.

    “Sedikit lagi Pak, tinggal men-transfer ke dalam bentuk power point”.

    Marina masih terlihat sibuk di depan komputer. Di sampingnya duduk Sherly yang bertugas membacakan angka-angka yang tertulis untuk kemudian di ketik oleh Marina. Baik Marina maupun Sherly adalah merupakan dosen muda di Universitas ini. Marina berumur 25 tahun sedangkan Sherly satu tahun lebih tua, namun keduanya masuk menjadi dosen di tahun yang sama. Marina menjadi dosen di Fakultas Sastra Inggris, sedangkan Sherly adalah merupakan dosen di Fakultas Kedokteran. Keduanya selain muda, juga sama-sama dikaruniai wajah cantik dan fisik menawan. Yang membedakan keduanya adalah dari faktor nasib. Marina di tahun keduanya sebagai dosen sudah harus terjerembab ke dalam lembah nista dan terjerumus menjadi budak seks Imron, si penjaga kampus (baca Nightmare Campus 13The Ungrateful), sedangkan Sherly lebih beruntung karena sampai saat ini tidak harus mengalami nasib yang sama.

    “Syukur semuanya berjalan lancar sehingga besok pagi sebelum rapat dimulai kita hanya tinggal melakukan finishing dan sedikit melakukan cross cek data dengan data yang ada di Universitas”, Pak Gunawan merenggangkan kedua tangannya keatas mencoba mengusir pegal di tubuhnya. Pria berambut keriting pendek dan berkaca mata itu termasuk dosen senior di Fakultas Teknik. Tak lama kemudian Pak Gunawan kemudian terlihat berjalan mengelilingi ruangan ber-AC tersebut, mungkin mencoba mengurangi penat akibat sedari tadi bergelut dengan data dan angka.

    “Artinya besok kita masih harus melihat data Universitas ya Pak?”, tanya Sherly.

    “Paling tidak kita perlu melakukan cross cek walau data ini sumbernya juga dari pihak Universitas, ya anggap saja untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan”.

    “Semoga saja tidak ada masalah lagi karena hari ini sudah terasa sangat melelahkan”, Pak Deddy menimpali. Pak Deddy juga merupakan salah satu dosen senior. Pria bertubuh jangkung dan berkumis lebat itu adalah merupakan dosen di Fakultas Hukum.

    “Ya semoga saja semuanya berjalan lancar Pak Deddy”.

    Mereka pun kemudian kembali berkutat dengan kesibukan mereka masing-masing. Marina dan Sherly kembali memasukkan data-data ke dalam komputer, sedangkan Pak Deddy dan Pak Gunawan bertugas mengedit data-data yang masuk dari masing-masing Fakultas dalam bentuk hard copy.

    “Maaf Sher, kamu gantiin aku dulu sebentar ya, aku mau ke toilet sebentar”.

    OK Rin”.

    Marina pun beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tas jinjingnya diatas meja. Sedangkan Sherly berganti posisi dengan Marina untuk kemudian duduk di depan layar komputer. Kegiatan memasukkan data pun kini dilakukan oleh wanita cantik berambut panjang bergelombang tersebut.

    “Permisi Bapak-bapak, saya permisi keluar sebentar”.

    Pak Deddy dan Pak Gunawan mengangguk hampir berbarengan. Marina kini berjalan menyusuri lorong kampus di tengah kegelapan. Sebenarnya dalam hatinya cukup terbersit ketakutan untuk berjalan sendirian di tengah kegelapan malam seperti ini, namun dorongan untuk membuang air kecil sudah tidak bisa ia tahan lagi. Ia juga tidak enak untuk meminta Sherly mengantar dirinya, sehingga gadis cantik itu pun memberanikan diri untuk berjalan menuju toilet di seberang kampus. Sambil berjalan pelan Marina terlihat menggenggam erat tas jinjingnya di depan dada. Toilet yang akan ditujunya memang berada cukup jauh dari ruangan multimedia karena toilet yang ada di dekat sana mengalami kerusakan akibat saluran airnya yang macet. Sambil berjalan berlahan Marina menajamkan matanya dan sesekali memandang sekelilingnya meyakinkan kalau di tempat itu tidak ada orang lain. Akhirnya ia pun sampai di toilet yang ditujunya. Ia pun segera masuk ke dalam bilik khusus wanita. Setelah menutup pintu, Marina lalu mengangkat rok spannya dan meloloskan celana dalam yang dikenakannya dari balik rok tersebut. Ia pun kemudian berjongkok guna melepaskan hajatnya. Akibat telalu lama menahan hajat membuang air kecil, Marina pun memerlukan waktu cukup lama untuk menyelesaikan aktifitasnya ini. Begitu selesai, wanita cantik itu kemudian membasuh vagina montoknya dan mengenakan kembali celana dalamnya.

    Setelah merapikan kembali rok span dan kemejanya, ia pun beranjak keluar dari dalam bilik. Belum beberapa langkah keluar dari bilik tiba-tiba saja sebuah tangan menyergap tubuhnya dari belakang dan langsung membekap mulutnya. Marina pun langsung meronta berusaha melepaskan diri dari dekapan tersebut. Tas jinjing yang dibawanya sudah terlihat terjatuh ke lantai. Beruntung sebelumnya ia sudah menutup resleting tas tersebut sehingga benda-benda yang ada di dalamnya tidak berhamburan keluar. Selain meronta Marina juga berusaha berteriak, namun eratnya dekapan dan bekapan tersebut membuat semua usahanya meronta menjadi sia-sia.

    “Tenang Bu, ini saya Imron”.

    Mendengar suara itu Marina pun menghentikan rontaannya. Laki-laki yang membekapnya itu memang tak lain dan tak bukan adalah Imron. melihat wanita cantik itu mulai tenang, Imron pun kemudian berlahan mengendurkan dekapannya untuk kemudian melepaskan wanita cantik tersebut. Marina pun langsung membalikkan tubuhnya dan mengumpat kencang,

    “Pak Imron… Jangan pernah melakukan itu lagi! Saya kaget setengah mati, tahu tidak?”.

    Mendengar umpatan Marina, Imron justru hanya terlihat cengeesan sambil menggaruk-garuk kepalanya, “Maaf Bu, habis tadi saya lihat ada orang berjalan di tengah kegelapan, jadi saya ikutin saja takutnya maling eh taunya Ibu Marina hehe…”.

    Marina berusaha mengatur nafasnya yang nampak memburu. Wajah cantik Marina terlihat begitu pucat memperlihatkan bagaimana takutnya ia akibat peristiwa yang baru saja terjadi.

    “Lembur ya Bu?”.

    “Iya Pak”, Marina masih berusaha mengatur nafasnya.

    “Sendirian?”.

    “Nggak Pak, sama teman-teman dosen yang lain”, Marina mengambil tas jinjingnya yang tergeletak di lantai toilet.

    “Oh, saya kira sendirian hehe…”.

    “Memang kalau saya sendirian kenapa?”.

    “Nggak apa-apa sih Bu, cuman kalau Ibu sendirian kan saya bisa minta “jatah”, habis malem ini dingin banget Bu hehehe…”.

    “Apaan sih Pak!”, kembali Marina berkata sewot. “Udah ah saya mau balik dulu”.

    Marina kemudian membalik tubuhnya dan hendak beranjak pergi.

    “Tunggu Bu!”, Imron memegang lengan Marina dan menariknya. Akibat tarikan Imron, tubuh Marina terhempas dalam dekapan Imron. Kemudian tiba-tiba saja Imron mencium bibir Marina dan memagutnya dengan kasar. Marina sendiri nampak gelagapan menerima pagutan bibir Imron sehingga mengakibatkan ia tidak bisa mengatur nafasnya sendiri. Imron semakin mengeratkan dekapan tangannya di pinggang Marina dan semakin ganas menciumi bibir ranum tersebut. Cukup lama Imron memagut bibir Marina. Ketika tangan kiri Imron mulai meremasi payudaranya dari balik kemeja, Marina bisa merasakan kalau dekapan Imron menjadi mengendur. Ia pun mengambil kesempatan ini untuk mendorong tubuh Imron menjauh dari tubuhnya.

    “Udah dong Pak, saya kan ada urusan penting nih!”.

    “Hehehe… maaf Bu, habis Ibu Marina ini benar-benar bikin saya pengen sih”.

    Marina melengos dan kembali membalikkan tubuhnya. Namun dengan cepat kembali Imron memegang lengan kirinya dan menahan kepergiannya.

    “Apalagi sih Pak!”, Marina membentak.

    “Ayo dong Bu, sebentar aja”.

    “Nggak bisa Pak, nanti teman-teman curiga kalau saya perginya kelamaan”.

    “Saya janji sebentar aja Bu”.

    Imron lalu menarik tubuh Marina mendekati tubuhnya. Laki-laki mesum itu kembali berusaha menciumi bibir Marina. Kali ini Marina berusaha menghindar terjangan bibir Imron dengan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak lama Marin pun kembali bisa mendorong tubuh Imron menjauhi tubuhnya.

    “Pak, saya mohon saya sedang ditunggu, saya nggak bisa melakukan semua ini sekarang”.

    “Baiklah kalau begitu saya mengalah, tapi setelah semua tugas-tugas Ibu dan teman-teman Ibu selesai, saya mau Ibu menyerahkan diri untuk saya entot, kalau tidak Ibu tanggung sendiri akibatnya”.

    “Terserah Bapak saja”.

    “Baiklah, kalau begitu setelah tugas-tugas Ibu selesai saya tunggu Ibu di kolam renang kampus”.

    “Kolam renang? Kenapa harus disana?”, tanya Marina heran.

    “Sudah Ibu datang saja”.

    Marina tidak lagi menjawab. Wanita cantik itu kemudian membalikkan tubuhnya dan hendak beranjak pergi. Namun kembali untuk kesekian kalinya Imron mencegahnya dengan cara memegang lengannya.

    “Pak, saya harus pergi!”.

    “Tunggu dulu dong Bu, saya kan harus meyakinkan dulu kalau Ibu pasti datang menemui saya supaya saya tidak rugi menunggu Ibu”.

    “Memang Bapak mau apa?”.

    Imron lalu menyambar tas jinjing dalam genggaman Marina. “Tas ini saya sita sebentar sebagai jaminan kalau Ibu pasti datang menemui saya”.

    “Jangan tas saya dong Pak! Kan HP juga kunci mobil saya ada di dalamnya”.

    “Justru itu Bu, tas ini jadi jaminan yang sangat kuat hehehe…”.

    “Ya sudah!”, ucap Marina kesal.

    Marina menggigit bibirnya menahan kesal. Kelakuan laki-laki mesum di depannya ini semakin hari memang semakin tidak masuk akal sejak saat pertama kali ia menyerahkan tubuhnya. Marina yang sehari-hari terlihat anggun dan begitu sabar, mau tidak mau terpancing juga emosinya akibat perlakuan Imron. Setiap kali mengingat kejadian hari itu, Marina selalu akan teringat bekas pacarnya yang begitu pengecut menginggalkan begitu saja setelah segala pengorbanan yang ia berikan. Pengorbanan yang begitu besar, pengorbanan yang sangat tidak ternilai harganya, yaitu keperawanannya. Memang Imron-lah yang pertama kali mengambil keperawanannya dan menyeretnya ke dalam lembah nista. Bahkan laki-laki mesum ini pun kemudian tanpa belas kasihan menggilirnya bersama teman-teman mesumnya yang lain. Bayang-bayang kejadian itu akan selalu menjadi mimpi buruk untuk ia kenang.

    “Dan satu lagi…”.

    “Apa lagi?”.

    Imron kembali mendekati Marina. Kini dengan lembut laki-laki mesum itu memeluk tubuh Marina. Kemudian berlahan kedua tangannya menjelajahi permukaan pantat Marina. Marina sendiri nampak sama sekali tidak melawan dan membiarkan tangan Imron menyentuh tubuhnya. Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dilakukan Imron. Wanita cantik itu bisa merasakan tangan Imron terus menjelajahi permukaan pantatnya, kemudian terus turun menuju pahanya dan tangan nakal itu pun terus bergerilya sampai akhirnya berhasil masuk ke dalam roknya. Selain aksi nakal tangan tersebut, Marina juga bisa merasakan desah nafas Imron di permukaan lehernya karena saat ini kepala mereka memang menempel. Marina bisa merasakan tangan Imron meremas-remas bongkahan pantatnya dan sesekali menyentuh permukaan vaginanya dari balik celana dalam.

    “Aah…”, Marina hanya bisa mendesah pelan ketika tangan Imron semakin intens merabai selangkangannya.

    Ketika Marina semakin terbuai dengan aksi nakal Imron, tiba-tiba ia merasa Imron memegang karet celana dalamnya dan dengan segera menarik turun kain penutup daerah kewanitaannya tersebut.

    “Pak Imron mau apa?”, Marina tersentak dan tersadar dari buaian nafsunya. Kemudian dengan refleks ia menahan tangan Imron sehingga celana dalam tersebut tidak semakin melorot turun dari pahanya.

    Imron tidak menjawab, dia hanya terus berusaha menurunkan kain mungil berwarna krem tersebut walaupun si pemilik terus berusaha untuk menahan perbuatannya.

    “Pak, apa Bapak sudah gila? Hentikan ini!”, keduanya masih saling ngotot. “Pak hentikan!”, Marina terus berusaha menghentikan perbuatan Imron, namun laki-laki mesum itu tetap ngotot berusaha menarik turun celana dalam tersebut.

    Setelah cukup lama saling bertahan, akhirnya Marina mengalah dan membiarkan celana dalamnya lolos melewati betis dan kakinya yang jenjang. Wanita cantik itu tahu kalau ia terus bertahan maka kain tipis berukuran mungil itu akan robek dan itu hanya akan memperburuk keadaan.

    “Hehehe… Ini juga buat jaminan Bu”.

    “Bapak gila ya? Masa saya harus balik ke teman-teman tanpa celana dalam?”.

    “Memang kenapa Bu? Toh mereka tidak akan tahu? Kecuali kalau Ibu memang berniat untuk memberitahukannya hehehe…”.

    “Kembalikan Pak!”.

    Bukannya mendengarkan kata-kata Marina, justru Imron hanya cengengesan lalu membuka resleting tas jinjing Marina dan memasukkan sepotong pakaian dalam itu ke dalamnya.

    “Sekarang serahkan bra Ibu! Hehehe…”.

    “Apa!”.

    Marina seperti terserang petir mendengar kata-kata Imron barusan. Baru saja ia merampas celana dalamnya dengan paksa, kini dengan tenangnya laki-laki mesum itu memintanya menyerahkan bra juga. Sungguh suatu permintaan yang tidak pantas bagi seorang wanita terhormat seperti Marina.

    “Ibu mendengar kan kata-kata saya tadi? Saya mau Ibu menyerahkan bra itu”.

    “Saya tidak mau!”, Marina menutup dadanya dengan kedua tangannya.

    “Terserah Ibu, kalau begitu saya akan mengambilnya juga dengan paksa”.

    Imron lalu mendekati Marina dan kemudian dengan kasar berusaha menepis kedua tangan yang menutupi pada daerah dadanya tersebut.

    “Hentikan Pak!”.

    “Saya tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang saya mau”.

    Sesaat Marina memang terus berusaha untuk bertahan, namun karena Imron yang terus menyerang dirinya dengan kasar akhirnya ia pun kembali harus menyerah.

    “Iya… iya saya akan serahkan!”.

    Imron pun menghentikan serangannya. Kemudian ia menatap mesum kearah Marina yang kini terlihat mulai membuka satu per satu kancing kemejanya. Ketika mencapai kancingnya yang keempat terpampanglah belahan payudara indah Marina dari balik bra berwarna krem yang dikenakannya. Walaupun sebenarnya Marina sudah sering melihat tatapan mesum Imron, namun tetap saja ada perasaan tidak enak setiap kali ia melihat tatapan tersebut. Kemudian dengan cekatan Marina melepaskan kaitan belakang branya dan melepas pakaian dalam tersebut. Setelah itu segera ia menyerahkan bra tersebut kepada Imron dan bergegas mengancingkan kembali kemejanya.

    “Hehehe… dari tadi kek Bu, kan kita tidak perlu tarik-tarikan segala”, Imron pun memasukkan bra Marina ke dalam tas jinjing yang dipegangnya. “Nah, kalau begini saya yakin Ibu pasti akan datang hehehe…”.

    Marina hanya bisa berdiri kesal mendengar kata-kata Imron.

    Setelah itu Imron kemudian dengan santainya beranjak menuju pintu keluar. Laki-laki mesum itu lalu menoleh dan tersenyum. “Ingat Bu, saya tunggu di kolam renang kampus hehehe…”. Setelah itu Imron pun kembali melangkah sambil menandungkan lagu dengan suaranya yang jelas tidak layak untuk didengar.

    Marina sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa terhadap segala perbuatan Imron tadi. Kini ia hanya bisa melihat sosok Imron yang menghilang di kegelapan. Tas jinjingnya telah raib dan parahnya lagi begitu pula dengan pakaian dalamnya. Kini tak ada lagi yang bisa wanita cantik itu lakukan selain kembali ke ruangan multimedia, segera menyelesaikan tugas-tugasnya dan setelah itu menemui kembali laki-laki mesum tersebut untuk meminta barang-barangnya kembali. Ia pun dengan gontai melangkah meninggalkan toilet tersebut.

    ******

    “Saya rasa untuk malam ini kita cukupkan dulu sampai disini, besok pagi saja kita lanjutkan apabila memang dirasa masih ada kekurangan”, Pak Gunawan membuka suara.

    Memang jam di dinding telah menunjukkan pukul setengah 9 malam lebih beberapa menit. Sudah cukup malam untuk melakukan aktifitas kampus. Di luar ruangan sendiri sudah terlihat sepi, hanya beberapa mahasiswa aktifis kampus yang masih terlihat berkumpul di sekretariat kemahasiswaan serta beberapa mahasiswa yang terlihat bercakap-cakap sambil menunggu jemputan. Marina dan Sherly merapikan berkas-berkas yang berserakan di meja komputer sekaligus mematikan komputer di depan mereka. Sedangkan Pak Deddy dan Pak Gunawan sendiri telah terlebih dahulu merapikan berkas-berkas yang tadi mereka kerjakan. Setelah semua beres, mereka pun mulai membereskan barang-barang bawaan mereka masing-masing.

    “Ibu Rina, tas Ibu kemana?”.

    “Hhhmm… tadi saya sudah taruh barang-barang saya di mobil Bu”, Marina berbohong ketika Sherly menanyakan keberadaan tas jinjingnya. Dalam hati Marina sejak tadi sebenarnya terus menerus mengumpat dan mencaci maki Imron yang membuatnya berada dalam situasi tidak nyaman seperti sekarang. Bagaimana tidak, dinginnya AC ruangan tidak hanya menusuk kulit tubuhnya namun juga begitu terasa menusuk daerah dada dan selangkangannya. Sedari tadi Marina harus berada dalam satu ruangan dengan 2 laki-laki dalam keadaan tanpa penutup apa-apa dibalik pakaian yang dikenakannya saat ini. Walaupun benar kata Imron kalau mereka tidak akan mengetahuinya karena kemaja dan rok yang dikenakannya berwarna gelap, namun tetap saja perasaan risih tersebut tidak bisa diusirnya.

    “Oh begitu, saya cuma takut nanti Ibu kelupaan”.

    “Terima kasih Bu Sherly”.

    “Ibu-ibu mau langsung pulang nih?, Pak Deddy kemudian menyeletuk.

    “Sepertinya begitu Pak, memang kenapa?”, Sherly menyahut.

    “Tidak apa-apa sih Bu, ya siapa tahu kalau Ibu-ibu tidak berniat langsung pulang mungkin kita bisa pergi minum dulu hehe…”.

    Sebagai primadona kampus dari kalangan dosen, baik Marina maupun Sherly memang kerap kali menerima ajakan-ajakan iseng seperti ini. Sebagai seorang wanita tentunya Marina dan Sherly tahu benar kemana arah sebenarnya dari ajakan ini. Apabila laki-laki yang mengajak belum memiliki istri atau pasangan mungkin mereka akan berpikir untuk menerimanya, namun mereka tentu tahu kalau Pak Deddy maupun Pak Gunawan sama-sama telah beristri.

    “Aduh maaf Pak, hari ini saya capek banget nih, mungkin Ibu Marina bersedia”.

    “Saya juga ada acara sehabis ini Pak, jadi maaf saya juga tidak bisa”.

    “Oh tidak apa-apa kok, kan ini cuma iseng aja siapa tahu Ibu-ibu bersedia”, Pak Deddy berusaha tetap menjaga image dengan tidak memperlihatkan ekspresi kekecewaannya.

    Setelah mematikan lampu ruangan, mereka berempat pun beranjak keluar dari ruangan tersebut. “Kalau begitu sampai besok semuanya”, Pak Deddy terlebih dahulu meninggal mereka karena ia memang memarkir mobilnya terpisah dari mereka bertiga. Mereka bertiga hanya mengangguk.

    “Mau ke parkiran bareng nih? Lumayan tidak aman kalau wanita berjalan sendirian malam-malam gini”, Pak Gunawan berkata kepada kedua wanita di depannya.

    “OK deh Pak, yuk Rin”, Sherly mengajak Marina ikut bersama mereka.

    “Oh, saya mau ke ruangan dosen sebentar Bu, ada buku saya yang tertinggal”, Marina mencari alasan agar bisa tetap tinggal, karena kita tahu bersama kalau sebenarnya ia harus menemui jagoan kita Imron.

    “Ya udah kalau gitu kita duluan ya”, Sherly pun beranjak pergi bersama Pak Gunawan.

    Setelah Sherly dan Pak Gunawan menghilang di balik kegelapan lorong kampus, Marina pun beranjak menuju kolam kampus untuk mengambil barang-barangnya yang disita si penjaga kampus mesum. Marina lumayan bergidik untuk pergi ke kolam kampus malam-malam begini. Gedung dimana kolam kampus memang terpisah dengan gedung kampus utama dan merupakan gedung yang berdiri sendiri. Marina memang harus terlebih dahulu keluar dari gedung kampus untuk menuju ke kolam tersebut. Malam-malam begini suasana kampus terasa lebih menyeramkan dibandingkan di dalam kampus. Tak nampak lagi deretan mobil dan motor yang biasa terparkir rapi. Hanya ada satu atau dua mobil dan motor di pelataran parkir. Mungkin pemiliknya masih memiliki urusan sehingga masih harus berada di kampus sampai selarut ini. Marina kian mempercepat langkahnya, sehingga dapat segera sampai di depan gedung dimana kolam kampus berada. Beberapa menit kemudian, Marina sudah terlihat berdiri di depan gedung. Biasanya selarut ini kolam kampus memang sudah terkunci. Marina membuka pintu gedung tersebut, dan rupanya pintu tersebut tidak terkunci. Rupanya Imron memang telah benar-benar mempersiapkan untuk menggiring dirinya ke tempat ini. Berlahan dengan hati-hati Marina masuk ke dalam ruangan. Ruangan tersebut nampak remang-remang karena memang hanya lampu-lampu di pinggir kolam yang menyala, sedangkan lampu utama sudah padam.

    “Hai… ada orang!”, teriak Marina yang kini sudah berada beberapa meter dari kolam. Tak ada jawaban, yang terdengar hanya feed back suaranya sendiri yang menggema. “Pak Imron…!”, kembali Marina berteriak. Kembali tak terdengar jawaban.

    Marina menyapu pandangannya sekeliling ruangan tersebut. Kini matanya mulai beradaptasi dengan kegelapan ruangan, namun sama sekali tidak terlihat sosok penjaga kampus mesum yang dicarinya. Tiba-tiba saja sebuah tepukan mendarat di pundak Marina.

    “Aaaa…”, kontan Marina berteriak karena terkejut.

    “Hehehe… kaget ya Bu? Ini saya kok”.

    Marina langsung membalik tubuhnya setelah mendengar suara laki-laki yang sangat dikenalnya, sekaligus sangat dibencinya. “Tadi kan saya sudah bilang Pak, jangan bikin saya kaget kayak gitu lagi, saya bisa jantungan!”, omel Marina.

    “Maaf Bu, saya kan cuma pengen mainin Ibu saja hehehe…”.

    Marina nampak mengelus-elus dadanya yang terlihat naik turun tidak teratur akibat dikejutkan oleh Imron tadi.

    “Mana barang-barang saya?”.

    “Ntar dulu dong Bu, kita kan belum ngapa-ngapain”.

    “Maksud Bapak?”.

    “Kan kita belum ngentot Bu hehehe…”.

    Marina benar-benar merasa terhina dengan kata-kata Imron tadi. Kata-kata itu benar-benar melecehkan dirinya sebagai wanita terhormat dan terpelajar. Laki-laki mesum itu berkata seolah-olah dirinya tak ada bedanya seperti pakaian yang bisa ia pakai dan setelah bosan dapat dicampakkan begitu saja.

    “Jangan kasar gitu dong ngomongnya Pak”.

    “Kasaran mana saya sama Ryan, pacar Ibu yang pengecut itu?”.

    Ekspresi wajah Marina langsung berubah kecut mendengar sebuah nama yang disebutkan Imron tadi. Entah kenapa setiap kali mendengar nama itu gejolak emosi dan amarah Marina selalu bangkit. Nama yang begitu ingin ia buang jauh-jauh dari dalam otaknya. Nama seorang laki-laki yang tidak tahu terima kasih. Laki-laki yang tidak tahu diri yang seenaknya saja meninggalkan dirinya setelah segala pengorbanan yang ia berikan. Pengorbanan yang sangat tidak ternilai, yaitu keperawanannya. Pengorbanan yang akan sangat ia sesali seumur hidupnya.

    Imron benar-benar tahu kelemahan wanita cantik ini. Begitu emosi dan amarah itu mulai bergejolak, maka akan mudah pula untuk menggiring birahi wanita cantik tersebut untuk ikut bergejolak. Imron tersenyum kecil melihat tubuh Marina yang mulai terlihat bergetar menahan amarah.

    Imron pun melanjutkan kata-katanya. “Sangat tidak adil bukan ketika saat ini Ibu begitu menjaga kehormatan dan harga diri Ibu, sementara mantan pacar Ibu yang tidak tahu diri itu mungkin saja saat ini sedang bercumbu mesra dengan pacarnya yang baru”, Imron berbicara sambil berjalan memutari wanita cantik itu dengan berlahan. “Tidak adil kan Bu? Lalu apa salahnya kalau Ibu juga melakukan hal yang sama? Apa salahnya kalau Ibu juga membuang jauh-jauh kehormatan dan harga diri yang selalu Ibu junjung tinggi itu?”.

    Baca Juga Cerita Seks Nightmare Sidestory: Home Alone

    Kata-kata Imron benar-benar menghipnotis alam bawah sadar Marina. Rasa bencinya terhadap Ryan berlahan-lahan mulai meracuni akal sehat wanita cantik tersebut. Bahkan rasa benci dan dendam tersebut membuat Marina sama sekali tidak menolak ketika dari belakang Imron mulai memeluk tubuhnya dan merabai sekujur tubuhnya. Wanita cantik itu merasa kata-kata Imron tadi ada benarnya. Mungkin saja saat ini mantan kekasihnya itu sedang bercumbu dengan wanita lain, lalu kenapa ia tidak boleh melakukan hal yang sama? Akhirnya ketika amarah kian menguasai dirinya, Marina pun tidak kuasa untuk membalas pagutan Imron yang berdiri di belakangnya. Marina membalikkan tubuhnya agar memudahkan mereka untuk berciuman bibir sambil berpelukan. Imron mendorong pelan tubuh Marina sehingga tubuh sintal tersebut bersandar di tembok ruangan. Pagutan bibir pun kini terlihat semakin liar terjadi antara keduanya. Sebenarnya Imron bisa saja menaklukkan Marina ketika berada di toilet tadi, namun bukan Imron namanya jika ia melakukan hal seperti itu. Selalu menjadi ciri khas Imron untuk selalu memainkan psikologis korban-korbannya terlebih dahulu sebelum melakukan eksekusi. Menikmati kehangatan tubuh seorang wanita yang telah terganggu psikologisnya terasa begitu nikmat baginya, karena umumnya sisi liar sang wanita terkuak dan permainan pun akan semakin mengasyikkan. sebagaimana Marina saat ini. Bagaimana seorang wanita alim, anggun dan cantik bisa terlihat begitu liar dan ganas menciumi bibir Imron bak seorang wanita haus belaian. Ini adalah akibat rasa amaran yang terkulminasi menjadi gelora birahi yang begitu menggila.

    “Aaah…tubuh Ibu masih saja wangi seperti terakhir kita ngentot”, Imron berbisik di telinga Marina setelah beberapa saat lalu menelusuri leher dan pundaknya.

    “Oohh..”, Marina hanya melenguh pelan karena desahan Imron terasa geli dan nikmat di sekujur tubuhnya.

    Mereka pun kembali berciuman. Marina memejamkan matanya dan ekspresi wajahnya memancarkan kenikmatan dan kepasrahan yang luar biasa. Mau tidak mau, suka tidak suka, tubuh Marina memang merindukan sentuhan laki-laki karena sejak putus dengan mantan kekasihnya ia memang belum sama sekali tertarik untuk menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Rupanya sakit hati akibat percintaan cukup membekas di hati wanita cantik tersebut.

    “Ooohh… oohh…”, tangan Imron terus membelai sekujur tubuh wanita cantik tersebut. Sambil berciuman tangan Imron mulai bergerilya melepasi satu per satu kancing kemeja yang dikenakan Marina. Marina yang kini mulai terbakar birahi membiarkan Imron melakukan aksinya sampai akhirnya kancing terakhir terbuka. Tangan Imron pun kini dapat menggenggam kembali payudara padat dosen cantik tersebut.

    “Masih tetap kenyal dan padat!”, Imron berkomentar ketika tangannya semakin gencar meremasi bongkahan daging montok Marina.

    “Aaaoo…!”, Marina mendesah lirih ketika Imron memilin puting kanannya.

    “Pernah ada lagi selama ini yang mengenyot toket Ibu selain saya?”.

    Marina hanya menggeleng pelan. Imron lalu mengulum dan menjilati payudara kiri Marina, sementara kedua tangannya melepaskan kemeja wanita cantik tersebut. Kini tubuh atas Marina pun terekspos dengan bebasnya, karena sebelumnya branya telah direnggut paksa oleh Imron.

    “Aaah… aaahhh…”, Marina semakin terbuai oleh permainan lidah dan mulut Imron di kedua payudaranya secara bergantian.

    Puas bermain dengan kedua payudara dosen cantik tersebut, Imron kembali mengincar bibir lembut Marina. Kini kembali keduanya saling pagut dan saling mengadu lidah.

    “Kalau memek ini pernah ada yang memakainya?”, bisik Imron setelah tadi ia menjilati leher dan telinga Marina.

    “Nggak… nggak ada”.

    “Artinya semuanya masih tetap sama seperti terakhir saya ngentotin Ibu?”.

    “I… iya”, Marina berusaha membagi konsentrasi antara menjawab pertanyaan Imron dengan rasa nikmat ketika penjaga kampus mesum itu mengobok-obok vaginanya.

    Tangan kanan Imron memang saat ini sudah masuk ke dalam rok span Marina. Sambil tetap berpagutan bibir, laki-laki itu dengan leluasa dapat memainkan jari-jari tangannya di permukaan vagina Marina. Hal ini karena sebelumnya Imron memang telah “mengamankan” celana dalam dosen cantik tersebut. Imron bisa merasakan bulu-bulu di permukaan vagina tersebut terasa bsah dan lembab. Entah dari kapan cairan kewanitaan Marina mulai mengalir keluar, yang jelas Imron merasa saat ini wanita cantik tersebut sudah sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Tangan-tangan nakal Imron pun kini mulai melepaskan kaitan rok span yang dikenakan Marina. Sedetik kemudian rok span pendek itu pun meluncur turun ke lantai. Kini Marina sudah sepenuhnya telanjang, sedangkan Imron sendiri masih berpakaian lengkap. Tiba-tiba ketika mereka berdua sedang asyik bercumbu terdengar suara laki-laki dari belakang Marina.

    “Ron, gue udah nggak tahan sembunyi terus nih, gue udah nganceng banget ngeliatin body si Ibu dosen ini”.

    “Aaaakkhh…!”, Marina berteriak setelah menyadari kalau di ruangan ini ternyata ada laki-laki lain selain Imron. Marina pun dengan refleks melepaskan dekapan Imron dan segera bersembunyi di belakang tubuh Imron. sebagai wanita normal tentunya Marina merasa perlu menutupi tubuh telanjangnya dari mata laki-laki yang tidak ia berikan hak untuk itu.

    Dari balik tubuh Imron wanita cantik itu bisa melihat seorang laki-laki berwajah sangar sedang berdiri di hadapan Imron dan dirinya. Tubuh Marina bergetar hebat karena melihat perawakan laki-laki tersebut yang benar-benar buruk rupa dan bengis. Dan yang paling membuatnya ketakutan adalah ketika melihat laki-laki itu hanya mengenakan kaos kusam lusuh, tanpa mengenakan pakaian tambahan apa-apa lagi. Di bawah sana mengacung sebuah batang tegang yang berukuran jumbo. Tubuh Marina pun bergetar melihat pemandangan tersebut. Imron bisa merasakan getaran tangan Marina yang memegang pundaknya. Penjaga kampus itu pun hanya tersenyum kecil.

    “Tenang Bu, itu Abdul, dia penjaga kolam ini, dia juga mau gabung ama kita-kita kok”.

    “Mak… maksud Bapak?”, suara Marina terdengar bergetar.

    “Maksud saya, kita akan main keroyokan Bu, seperti yang terakhir kali kita lakukan itu lo, Ibu pasti masih ingat hehehe…”.

    Marina bergidik mendengar kata-kata Imron tadi. Pikiran dosen cantik itu pun mengalami flash back ketika ia mengalami pelecehan untuk pertama kalinya. Saat ini Kahar dan Encep si satpam kampus, Gufron si penambal ban, serta Imron telah memperkosanya. Hari itu juga Marina tidak hanya kehilangan keperawanannya, namun juga kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita terhormat. Kehidupannya sebagai warga kampus normal pun berubah 180 derajat, dari seorang dosen terpelajar menjadi seorang budak seks pemuas birahi. Memang sejak hari itu Marina telah “resmi” menjadi budak seks Imron cs. Sungguh pengalaman yang menakutkan sekaligus tak terlupakan. Menakutkan karena merasakan sakitnya diperawani sekaligus diperkosa di waktu yang sama, namun juga tak terlupakan karena sensasi yang di alami oleh Marina waktu itu sungguh luar biasa (baca Nightmare Campus 13The Ungrateful).

    “Jangan Pak, saya mohon jangan lakukan itu lagi”.

    “Kenapa Bu? Bukankah waktu terakhir Ibu di gangbang Ibu terlihat begitu menikmatinya? Hehehe…”.

    “Nggak Pak!”.

    Imron membalikkan tubuhnya. Mereka pun kini berhadapan dan Imron mengangkat dagu Marina.

    “Mulut Ibu mungkin bisa terus berkata tidak, tapi saat itu tubuh Ibu sama sekali tidak bisa berbohong”.

    “Jangan Pak, jangan…”, Marina berkata lirih sambil menggeleng pelan.

    “Ibu saat ini tidak dalam posisi bisa memilih, Ibu saat ini berada pada posisi harus menuruti kata-kata saya”.

    “Pak, saya mohon jangan…”.

    Imron terlihat sama sekali tidak memperhatikan permohonan Marina. “Sekarang Ibu dekati Abdul dan serahkan tubuh Ibu sepenuhnya untuk dia”.

    Marina benar-benar tersentak mendengar kata-kata Imron tadi. Mata indah Marina nampak mulai berkaca-kaca. Mendengar kata-kata Imron dirinyabenar-benar merasa telah begitu direndahkan, bahkan lebih rendah dari seorang pelacur sekalipun. Bagaimana mungkin penjaga kampus ini seenaknya meminta dirinya untuk bersetubuh dengan seorang laki-laki yang saat ini baru ia temui untuk pertama kalinya? Ini jelas adalah sesuatu yang gila dan di luar akal sehat. Bagaimana pun dirinya ini adalah seorang dosen, bukanlah seorang pelacur.

    Melihat Marina yang masih berdiri di posisinya, Imron terlihat mulai gusar.

    “Jadi Ibu menolak? Apa Ibu ingin merasakan apa yang bisa saya perbuat kepada Ibu di kampus ini? Ibu tentu masih ingat dengan kejadian di hari itu, saat pertama kali kita ngentot? Saya bisa membawa teman-teman saya lebih banyak lagi dibandingkan hari tersebut untuk mengeroyok Ibu? Jadi tolong jangan menguji kesabaran saya”, kata-kata Imron terdengar serius.

    Marina yang mulai sedikit terisak, benar-benar takut mendengar ancaman Imron. Pikiran dosen cantik ini kembali melayang ke hari dimana semua mimpi buruk ini bermula. Saat itu ada empat laki-laki sangar dan berwajah tak sedap dipandang yang menyetubuhinya secara brutal. Jika ancaman Imron tadi benar adanya, maka ini berarti ia akan membawa teman-temannya lebih dari empat orang untuk menggarapnya. Melayani empat orang sekaligus saja, tenaganya seperti tersedot bagaimana ia harus melayani lebih dari itu? Jika dipikirkannya kembali, tentunya saat ini keadaannya jauh lebih baik karena ia hanya harus melayani dua laki-laki saja. Namun walau demikian tetap saja, satu laki-laki sama sekali tidak ia kenal dan ini berarti satu lagi penis laki-laki asing akan terbenam ke dalam lubang vaginanya.

    “Bagaimana Bu? Masih mau menolak?”.

    Marina pun menggeleng.

    “Hahaha… bagus! Kalau begitu sekarang segera Ibu melayani Abdul dan juga saya dengan pelayanan terbaik Ibu”. Imron tersenyum penuh kemenangan. “Sekarang lupakan kalau Ibu adalah seorang dosen, saat ini Ibu adalah seorang perek yang akan bertugas melayani langganannya. Ibu mengerti?”.

    “I… iya”, Marina menjawab singkat.

    “Sekarang ulangi kata-kata ini, saya adalah seorang pelacur!”.

    Setetes air mata mengalir dari ujung mata indah Marina. “Sa… saya adalah seorang pelacur”.

    “Pelacur yang doyan ngentot!”.

    “Pe… pelacur yang… yang doyan ngen… ngentot”, ucap wanita cantik tersebut terbata.

    “Malam ini saya bertugas memuaskan tuan berdua”.

    “Ma… malam ini saya bertugas me… memuaskan tuan ber… berdua”.

    “Hahaha… bagus! Benar-benar perek yang penurut, sekarang laksanakan tugas lu sebagai seorang perek!”, kini Imron mulai bertingkah seperti seorang majikan yang sedang memerintah kepada budaknya.

    Ketika Marina hendak berjalan menuju Abdul tiba-tiba Imron berteriak, “Eh… mau kemana lu? Setiap gue memerintah, lu harus selalu nyaut “baik tuan!”, ngerti lu?”.

    Kini Marina sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Ia pun akhirnya terisak. Saat ini dirinya benar-benar merasa terhina lahir dan batin.

    “Eh, malah nangis! Lu ngerti nggak ama yang tadi gue bilang?”.

    “I… iya”.

    “Iya apa?”, bentak Imron.

    “I… iya tuan!”.

    “Bagus… sekarang laksanakan tugas lu!”, perintah Imron baik seorang mandor yang sedang memerintahkan pekerjanya.

    “Ba… baik tuan!”.

    Marina pun kini tidak malu-malu lagi dengan ketelanjangannya. Kini ia sadar sepenuhnya kalau dirinya hanyalah seorang budak di kampus ini. Daripada harus mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan, akan terasa lebih baik apabila ia menuruti saja kata-kata penjaga kampus mesum di hadapannya. Wanita cantik itu kini terlihat berjalan pelan mendekati Abdul. Melihat Marina yang berjalan dalam keadaan telanjang membuat mata Abdul terbelalak lebar. Di matanya kini tergambar seorang bidadari yang turun dari khayangan dan khusus diturunkan untuk melayaninya. Sungguh sebuah tubuh yang begitu sempurna tanpa cela. Sedangkan di belakang wanita cantik tersebut Imron berjalan mengikutinya.

    Begitu berada di depan laki-laki paruh baya itu, kembali Imron memberi perintah. “Sekarang lu ambil tangan Abdul terus lu memohon ama dia untuk meremas-remas toket lu!”.

    Ingin sekali Marina menampar Imron atas perlakuannya ini, namun wanita cantik itu tahu ia tidak bisa melakukan hal tersebut. Marina pun akhirnya menurut dan mengambil kedua tangan Abdul kemudian meletakkannya pada kedua payudaranya. “Tolong remesin toket saya tuan!”.

    Abdul yang memang sejak tadi telah terbakar birahi dengan semangat memenuhi “permintaan” Marina. Kedua tangan kasar itu pun dengan geregetan meremas-remas kedua bulatan gading kenyal tersebut. Marina hanya sesekali terlihat meringis ketika Abdul terlalu keras melakukan remasan.

    “Toket lu bener-bener mantap! Hehehe…”, Abdul yang memang tidak berpendidikan tidak segan mengeluarkan kata-kata kasar di hadapan Marina, padahal ia tahu benar kalau yang berada di hadapannya ini adalah seorang dosen.

    “Aaahh…”, desah Marina pelan ketika Abdul mulai memilin-milin puting payudaranya.

    Wanita cantik itu benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi selain memasrahkan diri. Ia hanya bisa membiarkan tangan-tangan kasar Abdul memainkan bukit kembarnya. Marina juga tidak bisa melakukan apa-apa ketika dari belakang tangan Imron juga ikut meremas-remas bongkahan pantat sekalnya. Ia pun hanya bisa menahan rasa geli yang mulai menjalari tubuhnya. Imron lalu membalikkan wajah Marina dan kembali menciumi bibir lembut wanita tersebut. Ketika mereka berdua berciuman dibawah sana Abdul sedang berjongkok dan memandang nanar ke arah vagina Marina yang tertutupi oleh bulu-bulu hitam. Laki-laki paruh baya itu dengan nakal meraba-raba lubang kenikmatan tersebut. Jari-jarinya terasa basah dan lembab akibat cairan yang mulai keluar dari dalamnya. Abdul benar-benar mengagumi vagina Marina yang sama indahnya dengan vagina Devi yang pernah beruntung ia cicipi (baca Nightmare Campus 10The Pool). Namun kali ini sensasi yang muncul sedikit berbeda, karena Devi adalah seorang mahasiswi sedangkan Marina adalah seorang dosen. Ya, dosen! Deam… Abdul pun merasa kalau saat ini ia adalah the luckies man a live in this campus. Celana Abdul pun terasa semakin sesak saat ini

    “Hhhhmmm…!”, Marina berteriak tertahan ketika Abdul memasukkan dua jarinya ke dalam lubang vaginanya. Suara teriakan dosen cantik itu tidak bisa keluar karena di dalam mulutnya kini menari-nari lidah Imron.

    Marina tidak bisa berkonsentrasi menerima lumatan bibir dan remasan tangan Imron di payudaranya, karena lesakan jari-jari tangan Abdul di vaginanya lebih menimbulkan kenikmatan. Jari-jari laki-laki berwajah sangar itu terasa begitu kasar mengocok-ngocok vaginanya, namun Marina justru menyukainya. Hal ini mungkin karena jangka waktu persetubuhannya terakhir dengan Imron memang sudah cukup lama, sehingga vaginanya kini sudah terlihat begitu merindukan sensasi nikmatnya kocokan batang penis.

    “Ron, ni cewek memeknya udah basah banget, gue udah sange nih buat ngentotin ni memek”, ucap Abdul seenaknya sambil masih mengocok vagina Marina.

    “OK deh lu ngentot duluan deh”, sahut Imron setelah melepas pagutan bibirnya. “Sekarang lu layani Tuan Abdul duluan, nanti baru lu melayanin gue”, bisik Imron di telinga Marina.

    Marina pun menurut. Ia kemudian mendekati Abdul yang telah selesai melepaskan kaosnya dan kini hendak melepaskan celana pendek yang dikenakannya. Tiba-tiba Imron memegang lengan Marina sebelum wanita cantik itu sempat melangkah. “Eh, ingat! Berikan pelayanan terbaik lu dan buat kita-kita puas, lu harus ingat kalau sekarang lu adalah perek kita!”.

    Marina tidak menjawab, ia hanya melanjutkan langkahnya. Dosen cantik itu kini bisa melihat Abdul telah berdiri dalam keadaan telanjang bulat. Tubuh laki-laki paruh baya itu terlihat agak bungkuk. Wajahnya yang sangar membuat Marina merinding. Namun yang paling membuat Marina merinding adalah batang penis yang mengacung tegang di selangkangan laki-laki tersebut. Batang penis itu begitu besar dan kokoh. Marina pun terpaksa meringis kecil membayangkan apa yang mungkin sebentar lagi mendera vaginanya.

    “Tuan mau ngentot sekarang?”, ucap Marina pelan. Ingin sekali ia mengutuk dirinya sendiri karena dari mulutnya keluar kata-kata sehina itu.

    Abdul mengangguk yakin. Tiba-tiba saja setelah itu Abdul langsung mendekap Marina dan menyerang bibir wanita cantik tersebut dengan ciuman ganas. Marina yang terkejut dibuat gelagapan. Belum lagi bau mulut Abdul yang menyengat kian menyulitkan Marina untuk bernafas. Beruntung semua itu tidak berlangsung lama karena kemudian Abdul mengalihkan serangannya ke kedua payudara montok dosen cantik tersebut.

    “Aduh!”, Marina mengerang akibat Abdul yang terlalu kencang menggigit puting kanannya. “Aaakkh…!”, kembali Marina harus meringis akibat sedotan Abdul yang kasar.

    “Pelan-pelan dong Dul, jangan grasa-grusu, perek kita ini nggak sedeng buru-buru kok, betul nggak? Hehehe…”, Imron nampak cengengesan sambil menepuk pundak Abdul.

    Sory Ron, abis tumben-tumbenan nih gue bisa ngentotin dosen hehehe…”.

    Imron lalu merabai selangkangan Marina. Terasa sekali lubang yang ada di daerah itu semakin basah dan banjir oleh cairan kewanitaan.

    “Wah udah basah banget nih! Sekarang mending lu cepet-cepet isep kontol si Abdul, biar lu juga cepet-cepet bisa dipuasin ama dia”.

    Wajah Marina langsung memerah mendengar kata-kata Imron. dadanya terasa begitu sesak akibat tidak kuat menahan hinaan demi hinaan yang terus merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Namun Marina tidak melawan balik. Ia hanya langsung berjongkok di depan selangkangan Abdul.

    “Eh perek! Minta ijin dulu kalo mau nyepong kontol orang!”, bentak Imron yang melihat Marina hendak memasukkan batang penis Abdul ke dalam mulutnya.

    Ingin sekali Marina mendengar perkataan tersebut.

    “Sa… saya isep kontolnya ya tuan?”.

    “Nah gitu dong! Hehehe…”, Imron tertawa puas.

    “Boleh… boleh… boleh…”, sahut Abdul sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

    Batang penis Abdul pun kini sudah terlihat terkocok di dalam mulut Marina. Dengan cekatan dosen cantik itu memberikan pelayanan oral kepada di penjaga kolam. Sesekali tangan Marina mengocok-ngocok batang penis tersebut ketika ia memainkan lidahnya pada zakar Abdul. Mau tidak mau Marina harus mengakui kebenaran kata-kata Imron kalau saat ini vagina sudah begitu basah dan gatal merindukan hujaman penis. Apalagi penis yang kini sedang ia service ukurannya benar-benar jumbo, tidak kalah dengan milik Imron. Tentu akan terasa nikmat jika penis ini mengaduk-aduk vaginanya, pikir sisi liar Marina. Walaupun dalam keadaan terisak, namun Marina justru terlihat begitu “semangat” mengulum dan menjilati batang penis di genggamannya. Imron tersenyum mesum melihat Abdul merem melek akibat pelayanan Marina. Laki-laki mesum itu pun melepaskan satu per satu pakaiannya. Agaknya di dalam pikiran Imron ini adalah saat yang tepat untuk menikmati tubuh indah sang dosen cantik.

    “Perek! Sekarang giliran kontol gue yang lu isep!”.

    Marina pun melepaskan batang penis Abdul dari dalam mulutnya. Ia pun berbalik untuk memberikan pelayanan bagi Imron. Batang penis yang tak kalah besarnya pun kembali mengisi mulut Marina. Berbeda dengan Abdul yang terkesan pasif, Imron terlihat aktif mengocok-ngocokkan batang penisnya ke dalam mulut Marina. Wanita cantik itu pun berusaha bertahan agar tidak tersedak karena beberapa kali ujung penis Imron terasa menyentuh kerongkongannya.

    “Hhm… hhmm… hhmm…”, desahan Marina terdengar tertahan kocokan penis Imron di mulutnya. Apalagi kini laki-laki mesum itu memegang kepalanya sehingga Marina sama sekali tidak bisa menggerakkan kepalanya. Akibatnya wanita cantik itu pun dibuat megap-megap sewaktu menarik nafasnya.

    “Hhm… hhmm… hhmm…”, desahan Marina terdengar semakin menjadi ketika ia merasakan sapuan lidah di permukaan vaginanya. Apalagi ketika lidah itu dengan nakal menusuk-nusuk lubang vaginanya, Marina pun dibuat semakin kebingungan membagi konsentrasi.

    Diserang dari dua tempat seperti ini membuat gairah Marina naik semakin tinggi. Ia sudah tidak tahan lagi untuk bisa di setubuhi. Ia ingin sekali digenjot penis saat ini juga.

    “Dul, jangan diisep aja tuh memek, buruan lu kocok tu memek!”.

    Entah saat ini pikiran Marina sudah hilang kesadaran atau memang dirinya sudah gila akibat birahi, namun yang jelas kata-kata Imron tadi terdengar begitu indah di telinganya. “Iya kocok memekku, kocok yang kenceng, masukin yang dalem”, teriak Marina di dalam hatinya. Nafsu telah benar-benar menguasai dirinya saat ini.

    Abdul yang memang sejak tadi ingin merasakan bagaimana nikmatnya vagina ranum Marina, langsung saja berdiri dan mengacungkan batang penisnya. Ujung batang penis tegang, kokoh dan panjang itu kini mengusap-usap permukaan vagina wanita cantik tersebut. Marina pun kian tak tahan menanti saat-saat Abdul akan menghujamkan penisnya.

    “Hhhhmmm…!”, Marina mengerang panjang. Batang penis Abdul melesak masuk ke dalam lubang kenikmatannya.

    Kini Marina harus melayani dua penis sekaligus. Satu mengocok mulutnya dan satu lagi menghujam kencang ke dalam vaginanya.

    “Aaah… gile Ron, memek ni cewek mantap banget jepitannya, kayak perawan aja!”.

    “Hahaha… iya dong, pinter kan gue nyari mangsa?”.

    “Lu emang top Ron, salut gue ama lu aahh…”.

    “Udah entot aja tu memek ampe lu puas hahaha…”.

    “Legit banget Ron, sama ama memek cewek yang lu ajak kemari terakhir”.

    “Oh, Devi? Iya tuh, kalo udah urusan ngentot emang nggak ada bedanya tuh antara dosen ama mahasiswa hahaha…”.

    “Aaahh… sering-sering dong lu bawa cewek kesini Ron”.

    “Tenang aja Dul, kapan-kapan gue bawain lu cewek lagi”.

    Dua penjahat kelamin itu saling bercakap-cakap sambil terus menghujam-hujam penis mereka masing-masing. Untungnya Marina tidak berkonsentrasi mendengarkan percakapan tersebut. Jika ia mendengarnya tentunya ia akan kembali merasa kalau harga dirinya kembali terinjak-injak. Marina saat ini terlalu sibuk merasakan kenikmatan genjotan penis Abdul di vaginanya. Penis besar itu terasa begitu sesak membuka dinding vaginanya. Gesekan demi gesekan penis itu pun semakin membawa dosen cantik itu terbang terbuai ke dalam gelora nafsu birahi.

    “Ooohh… nikmat bener!”, rancau Abdul sambil terus menggenjoti vagina Marina.

    Imron sendiri kini telah melepaskan batang penisnya dari dalam mulut dosen cantik tersebut. Marina pun kini dapat leluasa menarik nafas, walaupun masih nampak terengah-engah karena genjotan kencang penis Abdul di

    “Aaakkh… oohh…”, kini Marina dapat dengan bebas berteriak dan mengekpresikan kenikmatan yang ia peroleh dari Abdul. Marina seakan tidak peduli kalau teriakannya tersebut menggema di seluruh ruangan, toh hari sudah larut malam sehingga tidak perlu takut ada yang mendengar teriakan penuh nafsunya.

    “Gimana perek? Lu suka genjotan si Abdul?”, Imron menengadahkan kepala Marina sehingga mata mereka saling memandang.

    Marina hanya mengangguk pelan. Pandangan matanya terlihat begitu sayu.

    “Udah mulai doyan kontol nih perek kita satu ini Dul! Hahaha…”.

    Imron meremas-remas kedua payudara Marina yang nampak menggantung.

    “Hehehe… iya Ron, pantatnya ikut goyang waktu gue sodokin”, ucap Abdul sambil meremas-remas pantat sekal Marina.

    “Aaakkh… oohh… aaaah…”, Marina seakan tidak peduli dengan kata-kata dua laki-laki cabul yang kini sedang menikmati kehangatan tubuhnya ini.

    Walaupun keduanya kini sedang merendahkan dirinya, namun yang ada di benaknya kini hanyalah mencapai klimaks yang sudah sangat lama tidak dirasakannya lagi. Abdul membalikkan tubuh Marina, sehingga kini wanita cantik itu terbaring di atas lantai ruangan. Sejenak Marina merasakan dinginnya lantai menusuk pundaknya. Namun itu hanya sekejap karena setelah Abdul kembali menghujamkan penisnya rasa dingin tersebut pun sirna. Di tengah genjotan Abdul, Imron mengambil tangan Marina dan membuat jari-jari lentiknya menggenggam batang penisnya. Imron pun lalu membuat tangan Marina mengocok-ngocok batang penisnya. Kembali kini dosen cantik itu harus membagi konsentrasinya.

    “Aaahh… gue mau ngencret nih!”.

    “Tahan dulu Dul, ni perek juga kayaknya udah mau nyampe juga, liat nih mukanya udah merah banget hahaha…”.

    Memang saat ini Marina merasakan adanya sesuatu yang akan meledak di dalam dirinya. Sesuatu yang hebat yaitu pencapaian klimaks. Tubuh sintalnya mulai nampak menegang, kepalanya mendongak keatas, sementara kedua matanya terpejam dan mulutnya membuka lebar. Melihat ciri-ciri tersebut Imron pun melepaskan genggaman tangan Marina di penisnya.

    “Dikit lagi Dul, dikit lagi nih!”.

    Abdul pun kian mengencangkan genjotan penisnya, sambil menahan gelombang dasyat yang kini menggantung di ujung penisnya.

    “Aaaakkhh….!”, Marina pun berteriak kencang. Ia mencapai klimaks!

    Beberapa detik kemudian giliran Abdul yang berteriak, “Ooohhh…!”.

    “Crooot… croot…”, dua kali semburan sperma sempat masuk ke dalam vagina Marina sebelum Abdul sempat menarik batang penisnya. Semprotan sisa pun mendarat di perut dan payudara serta sedikit mengenai wajah cantik Marina.

    Abdul terduduk lemas di samping Marina, sedangkan dosen cantik itu terlihat masih terbaring di lantai dengan nafas ngos-ngosan. Marina terlihat menikmati betul sensasi klimaks yang baru saja ia rasakan. Imron mengelus-elus rambut Marina yang telah basah oleh keringat. Sebersit senyum mesum tersungging di wajah buruk rupanya. Dulu kita pertama kali bertemu dengan Marina, ia adalah seorang dosen yang cantik, anggun, feminim dan ramah. Kini berlahan tapi pasti Imron berhasil merubah Marina menjadi seorang budak yang penuh nafsu dan selalu haus akan seks. Kini dosen cantik itu pun seakan-akan hidup dalam dua kepribadian yang berbeda. Imron lalu membuka kedua kaki Marina lebar-lebar. Terlihat masih ada sperma Abdul mengalir keluar dari dalam lubang kewanitaannya.

    “Gile lu Dul, memek ni perek jadi belepotan gini! Trus gue gimana makenya nih?”.

    “Sorry Ron, gue nggak kuat nahan waktu terakhir, abis ni cewek memeknya kenceng banget jepitannya kayak memek ABG”.

    “Dasar lu, nggak pernah make barang bagus sih”.

    Imron lalu berdiri kemudian mengangkat tubuh Marina dalam gendongannya. Marina yang masih terbuai dalam puncak permainan nampak hanya pasrah tubuh telanjangnya digendong oleh Imron. Sambil menggendong tubuh Marina penjaga kampus mesum itu lalu berjalan menuju kolam dangkal. Di sana ia lalu berlahan-lahan menurunkan tubuh Marina ke dalam kolam.

    “Sssshhh…”, keluar suara desisan dari mulut Marina karena malam itu air kolam memang terasa cukup dingin.

    Dengan menggunakan air kolam Imron membersihkan wajah, payudara dan perut Marina yang tadi belepotan sperma Abdul. Marina sendiri sudah mulai membuka matanya walaupun belum sepenuhnya.

    “Aaahh…”, kembali Marina mendesah pelan ketika Imron merabai permukaan vaginanya. laki-laki itu mencoba membersihkan sisa-sisa lelehan sprema yang masih tersisa disana. Setelah tubuh berikut selangkangan dosen cantik itu bersih, kini Imron kembali membuka lebar kedua kaki Marina.

    “Sekarang lu rasain nih barang gue hehehe…”.

    Tak lama setelah selesai berbicara, tanpa bertanya apakah Marina siap atau tidak Imron langsung melesakkan batang penisnya ke dalam lubang vagina wanita cantik tersebut.

    “Aaakkkhh…!”, Marina berteriak kencang. Dirinya yang belum sepenuhnya siap menerima serangan Imron merasakan batang penis besar milik laki-laki tersebut membuka paksa dinding vaginanya.

    Namun ketika Imron mulai menggenjot penisnya, rasa sakit tersebut berlahan berganti menjadi rasa nikmat yang teramat sangat. Marina pun hanya bisa memeluk Imron sementara laki-laki itu dengan perkasa menghujam-hujamkan lubang kenikmatannya. Walaupun baru saja mencapai klimaks namun Marina masih terlihat mampu melayani permainan Imron. Rupanya dibalik perawakannya yang lembut dan polos, tersimpan sisi gelap Marina yang memiliki stamina luar biasa dalam bercinta.

    “Lu masih kuat ngentot kan?”.

    “I… iya”.

    “Lu masih pengen kontol kan?”, Imron masih terus memainkan psikologis Marina dan membuatnya percaya kalau saat ini dirinya adalah seorang pelacur yang dilanda birahi.

    “I… iya”, tubuhnya yang berguncang membuat suara Marina terdengar bergetar.

    “Gimana lu suka kontol gue?”.

    “Su… suka!”.

    “Bilang kalo lu suka kontol gue, bilang kalo lu mau gue entot kapan aja!”.

    “Sa… saya suka kon.. kontol tuan aakkhh…!”, Marina kembali berteriak saat Imron dengan kasar menghujamkan penisnya.

    “Apa lagi?”.

    “Aaakkh…. sa… saya mau di… dientot trus-trusan!’.

    “Hahaha… lu emang perek gue yang paling penurut”.

    Abdul yang sejak tadi hanya melihat adegan persetubuhan antara Imron dan Marina, kini kembali terpancing birahinya melihat tubuh molek Marina. Penisnya yang semula menciut kini mulai nampak menegang melihat kedua payudara Marina yang terguncang hebat. Perlahan laki-laki buruk rupa itu pun mendekati kolam.

    “Ron, gue ikutan lagi ya?”.

    Imron yang tadinya berkonsentasi merasakan nikmatnya jepitan vagina Marina, menoleh ke arah Abdul yang telah berdiri di pinggir kolam.

    “Emang lu masih kuat Dul?”.

    “Masih lah Ron, ngeliat bodi ni cewek kontol gue tegang lagi nih”.

    “Dasar lu, muka kontol banget! Hahaha…”, Imron sejenak menghentikan genjotannya. “Ya udah kita garap bareng aja ni perek”.

    Imron kemudian membalikkan tubuh Marina dan membuat posisi wanita itu menungging. Marina langsung terbelalak karena di depannya kini sudah menunggu batang penis Abdul yang sudah nampak kembali menegang kencang.

    “Ayo cewek, sepong kontol gue dong!”.

    Belum sempat menolak, Abdul langsung memegang kepala Marina dan memaksa memasukkan penisnya ke dalam mulut dosen cantik tersebut.

    “Hhhhmm..!”, usaha Abdul berhasil. Batang penisnya kini telah menyumpal mulut Marina. Langsung saja setelah itu si penjaga kolam mengocok mulut wanita cantik tersebut.

    Di belakang Imron terkekeh melihat Abdul nampak kesetanan mengocok mulut Marina. Ia sendiri lalu meremas-remas pantat sekal Marina. Bongkahan pantat mulus itu terasa begitu kenyal dan padat. Imron pun mempersiapkan kembali batang penisnya dan mengarahkannya ke pantat Marina. Ya memang saat ini, Imron sedang berusaha memasukkan batang penisnya ke dalam anus dosen cantik tersebut.

    “Hhhhhmmmm…!!!”, Marinaberteriak tertahan dengan kencang.

    Dosen cantik itu merasakan sakit yang teramat sangat ketika merasakan penis Imron menyeruak masuk ke dalam anusnya. Memang ini bukan pertama kali anusnya dimasuki penis, namun karena dirinya sama sekali tidak siap hujaman penis Imron benar-benar terasa di sekujur saraf tubuhnya. Marina sampai harus memejamkan mata dan memegang erat kaki Abdul, untuk mengalihkan rasa sakit yang menderanya.

    “Hhhhmmm… hhhmm… hhhmmm…”, teriakan demi teriakan tertahan Marina semakin sering terdengar seiring genjotan yang semakin kencang pada anusnya. Abdul pun nampak tidak tega melihatnya dan akhirnya memutuskan melepaskan batang penisnya dari dalam mulut dosen cantik tersebut.

    “Aaaakkhhh…!!”, teriakan lantang langsung terdengar dari mulut Marina.

    “Aaakkhhh… akkhh… aaakhh…”, tubuh Marina semakin berguncang hebat.

    Namun setelah beberapa lama teriakan Marina mulai terdengar menurun. Agaknya anus wanita cantik tersebut sudah mulai bisa menyesuaikan diri terhadap lesakan penis Imron. Kini ia pun sudah mulai nampak bisa menikmati penetrasi penis Imron di anusnya. Melihat hal tersebut Abdul kembali mendekati Marina, kali ini dari samping. Tangannya mulai nakal merabai puting dan payudara montok Marina. Dosen cantik itu terlihat membiarkan saja aksi Abdul.

    “Ron, gue juga mau dong ngerasain pantat cewek ni”, ucap Abdul sambil tetap memilin-milin puting Marina.

    “Ntar dulu dong Dul, masih asyik nih”.

    “Peret ya Ron?”, di wajah Abdul tergambar sekali ekspresi kemupengan.

    “Iyalah, ni pantat kan jarang dipake”, Imron nampak memincingkan matanya. Mungkin ini akibat jepitan dubur Marina yang masih terasa sedemikian sempit.

    “Tukeran dong Ron”, rengek Abdul lagi setelah beberapa menit.

    “Ya udah lu pantatnya, gue memeknya deh”.

    Imron pun menarik penisnya dari dalam anus Marina. Ia lalu kembali menggendong tubuh wanita cantik tersebut dari dalam kolam. Kemudian penjaga kampus mesum itu membaringkan tubuh Marina yang masih terlihat basah di lantai. Marina kembali hanya terlihat pasrah. Entah hal ini karena tenaganya yang telah terkuras atau karena belitan nafsu yang kini menderanya.

    “Eh perek, sekarang lu goyang di atas gue”.

    Marina yang sebelumnya tergolek di lantai dengan masih dalam keadaan lemas menuruti perkataan Imron. Laki-laki itu sendiri kini terlihat membaringkan tubuhnya di lantai ruangan. Marina kemudian berdiri mengangkang di atas tubuh Imron. Lalu wanita cantik itu mengambil batang penis Imron dan mengarahkannya ke dalam vaginanya. “Bless!”, batang tegang besar itu pun amblas ke dalam vaginanya. Marina hanya nampak sedikit meringis, setelah itu ia pun mulai menggoyangkan pinggulnya. Imron yang terbaring di lantai memejamkan matanya seolah-olah ingin meresapi benar kenikmatan yang ditimbulkan ketika Marina mulai menggoyangkan pinggulnya.

    “Ooohh… goyang terus!”.

    Marina pun semakin mengencangkan intensitas goyangannya.

    “Eh cewek, nungging dikit, gue pengen ngocok pantat lu nih”.

    Dosen cantik itu mengerutkan keningnya. Seenaknya saja laki-laki rendahan seperti dirinya memerintah wanita terhormat seperti dirinya. Jika saja saat ini ia memiliki kekuasaan maka sudah ditamparnya mulut si Abdul. Namun Marina tahu benar saat ini ia tidak bisa menolak, karena Imron masih ada disini. Maka wanita cantik itu pun menurutdan merundukkan tubuhnya sampai kedua payudaranya menempel di dada Imron.

    “Aaakkh… kembali Marina harus merasakan kelasakan penis di dalam anusnya. Kali ini ia hanya mendesah karena sebelumnya ia telah siap menerima serangan Abdul tersebut.

    Kini Marina pun harus merasakan dua batang penis mengocok kedua lubang kenikmatan di tubuhnya ini secara bersamaan. Dari bawah Imron mengocok vaginanya, sedangkan dari atas Abdul dengan ganas mengocok anusnya. Hal ini membawa sensasi tersendiri bagi Marina, sehingga birahinya semakin terpacu untuk naik dengan cepat.

    “Aaakkh…”.

    “Ooohh… aaahh…. oooohhh..”.

    “Uuh… aakhhh…”.

    Suara desahan, lenguhan dan teriakan dari ketiganya terdengar menggema memenuhi seluruh ruangan kolam tersebut. Ketiganya semakin didera nafsu karena masing-masing menikmati kenikmatan atas apa yang terjadi. Abdul merasakan sensasi baru jepitan anus seorang dosen cantik, Imron merasakan kembali jepitan vagina Marina yang sudah lama tidak ia rasakan, sedangkan Marina sendiri merasakan sensasi luar biasa ketika digenjoti oleh dua laki-laki secara bersamaan. Sehingga hanya dalam beberapa menit kemudian, ketiganya merasakan kalau di dalam diri mereka masing-masing akan mencapai klimaks permainan.

    “Aaaakkh….!!!”, diawali dari Marina yang terlebih dahulu berteriak panjang, menandakan pencapaian klimaksnya yang kedua.

    Kemudian disusul oleh Abdul yang juga mencapai klimaksnya yang kedua, “Oooohh…!!!”.

    “Aaakkh…!!!”, dan beberapa saat kemudian giliran Imron yang merasakan sensasi puncak permainan yang sama.

    “Crooot… crooot… crooot…”, semburan demi semburan cairan sperma menyemprot kencang ke dalam vagina dan anus Marina.

    Marina sendiri mungkin belum sadar akan hal itu akibat deraan sensasi klimaks keduanya. Namun yang jelas kini cairan putih kental kini nampak meleleh pada vagina dan anusnya seiring mengecilnya batang-batang penis yang mengganjal di dalamnya. Ketiganya pun kemudian terbaring dengan nafas memburu di lantai ruangan. Beberapa menit setelah pencapaian klimaks berbarengan tersebut, Imron yang paling dahulu terlihat berdiri dan mulai bisa mengatur detak nafasnya. Imron melihat Marina dan Abdul masih tergolek di lantai walaupun keduanya kini tidak lagi nampak ngos-ngosan. Tak lama Abdul menyusul untuk bangkit dari lantai dan mengambil posisi duduk. Imron kemudian mendekati Marina dan berjongkok di sampingnya. Ia lalu membantu dosen cantik itu untuk bangkit dari lantai. Cerita Maya

    “Gimana Bu? Enak kan main keroyokan lagi? Hehehe…”, kini Imron kembali memanggil Marina dengan sebutan Ibu, tidak lagi “perek” sebagaimana saat mereka sedang bersetubuh tadi.

    Wajah Marina terlihat memerah dan ia hanya mengangguk pelan.

    “Hehehe… kalau gitu kapan-kapan kita main keroyokan lagi deh, abis Ibu keliatannya doyan banget digenjot banyak kontol”.

    “Apaan sih Pak!”, rupanya kesadaran Marina sudah pulih untuk meyadari kalau kata-kata Imron tadi sama sekali tidak enak untuk didengar.

    Marina pun lalu segera berdiri dan bergegas mengumpulkan satu per satu pakaiannya yang tergeletak di lantai ruangan. Sedangkan Imron terlihat cengengesan sambil beranjak berdiri.

    “Kok buru-buru amat sih Bu? Emang nggak mau nambah? Kita-kita masih kuat kok hahaha…”, ucap Imron lagi.

    Marina yang sedang mengambil tas jinjingnya merasa benar-benar terlecehkan, walaupun jauh di dalam hatinya ia harus mengakui kalau dirinya menikmati apa yang baru saja ia alami tadi.

    “Ini sudah malam!”, bentak Marina. Wanita cantik itu lalu mendekati Imron, “Sekarang tolong kembalikan pakaian dalam saya!”.

    “Bukan saya yang bawa, Abdul tuh!”.

    Marina pun melengos memalingkan wajahnya dari Imron dan berjalan mendekati Abdul yang masih terduduk di lantai dalam keadaan telanjang.

    “Mana pakaian dalam saya?”.

    Abdul pun berdiri kemudian berjalan menuju tumpukan pakaiannya. Marina berjalan mengikutinya. Laki-laki penjaga kolam itu kemudian berjongkok dan mengambil celana pendeknya. Dari dalam kantong celana pendeknya tersebut, ia kemudian mengeluarkan sebuah bra dan celana dalam berwarna krem yang adalah merupakan milik Marina. Laki-laki berwajah sangar itu pun menyerahkan kedua potong pakaian dalam tersebut kepada pemiliknya.

    “Iiihh… kok basah gini sih Pak?”.

    “Hehehe… iya maaf Bu, tadi sambil nunggu Ibu disini bra ama celana dalamnya saya pake coli”, ucap Abdul polos sambil menggaruk-garuk kepalanya.

    “Jorok banget sih!”, bentak Marina.

    “Udah Bu, di bawa pulang aja, itung-itung bonus pejuhnya Abdul hahaha…”.

    Marina kesal sekali melihat pakaian dalamnya yang dipegangnya ini ternyata basah oleh sperma laki-laki. Dosen itu kemudian mengambil sebuah plastik kecil dari dalam tas jinjingnya dan memasukkan pakaian dalamnya. Ingin sebenarnya ia membuang bra dan celana dalamnya tersebut yang telah “terkontaminasi” oleh cairan sperma, namun ia membatalkannya karena bagaimanapun kedua pakaian dalam itu ia beli dengan harga yang relatif mahal. Kemudian Marina pun mengenakan kembali rok span dan kemejanya kembali minus pakaian dalamnya. Selama proses mengenakan pakaiannya tersebut Marina cukup risih karena melihat tatapan nanar kedua laki-laki mesum yang berdiri di dekatnya. Namun ia cuek saja toh bukankah kedua laki-laki itu tidak hanya melihat sudah melihat seluruh tubuhnya, tapi juga merasakan kehangatannya. Selesai memakai pakaiannya Marina langsung berjalan dengan cepat, seakan berusaha secepat mungkin meninggal ruangan tempatnya merengkuh kenikmatan tersebut. Dosen cantik itu pergi tanpa mengatakan apapun kepada Imron dan Abdul, karena selain tidak penting, ia juga tidak ingin membuat kedua laki-laki mesum itu besar kepala. Tak lama Marina pun hilang dari balik pintu ruangan kolam kampus tersebut. Sedangkan Imron dan Abdul hanya saling memandang dan saling melemparkan senyuman mesum. Keduanya pun kembali mengenakan pakaiannya masing-masing kemudian keluar dari dalam ruangan tersebut dengan penuh kepuasan.

    To be continued…

    By: Pendekar Maboek

  • Nightmare Sidestory: Home Alone

    Nightmare Sidestory: Home Alone


    110 views
    Sherin

    Cerita Maya | Kisah ini terjadi sekitar tiga bulan setelah Sherin mengalami mimpi buruknya dengan Imron, si penjaga kampus bejat itu. Saat itu adalah lima hari menjelang Lebaran, Sherin sudah tiga hari di rumah tanpa orang tuanya karena keduanya sedang ke luar kota menghadiri pernikahan famili. Tinggallah dia di rumah yang besar itu dengan dua orang pembantunya Mbak Jum dan Mbak Narti serta seorang tukang kebun tua, Pak Udin. Sebenarnya ada seorang pembantu lagi, Mbak Milah tapi dia sudah minta ijin mudik sehari sebelum kedua orang tuanya berangkat. Hari itu jam sepuluh pagi, Mbak Jum dan Narti pun berpamitan pada Sherin untuk mudik, Sherin sebelumnya memang sudah diberitahu hal ini oleh mamanya dan dititipi sejumlah uang untuk mereka. Maka Sherin pun menyerahkan kedua amplop berisi uang itu kepada mereka sebelum mereka meninggalkannya.

    “Cepetan balik yah Mbak, saya sendirian nih jadinya !” pesan Sherin.
    “Non nggak usah takut kan disini masih ada Pak Udin, oh iya makanan buat siang nanti Mbak udah siapkan di meja, kalau dingin masukin oven aja yah” kata Mbak Narti.
    Akhirya kedua wanita itupun berangkat. Sherin sebenarnya agak risih di rumah hanya berdua dengan Pak Udin, apalagi masih belum hilang dari ingatannya kenangan pahit diperkosa mantan sopirnya, Nurdin dulu.

    Dia ingin memanggil pacarnya Frans untuk menemaninya, namun sayang pemuda itu baru berangkat bersama keluarganya ke Singapura kemarin. Namun dia agak lega karena menurutnya Pak Udin bukanlah pria berbahaya seperti mantan sopirnya itu, dia adalah pria berusia lanjut, 67 tahun dan orangnya cukup sopan, kalau berpapasan selalu menyapanya walaupun seringkali Sherin cuek karena sedang buru-buru atau tidak terlalu memperhatikan. Ia baru bekerja di rumah mewah itu sebulan yang lalu menggantikan tukang kebun sebelumnya, Pak Maman yang mengundurkan diri setelah istrinya di kampung meninggal. Setelah mengantarkan kedua pembantunya hingga ke pagar, Sherin kembali ke dalam dan masuk ke kamarnya. Di sana dia mengganti bajunya dengan baju fitness yang seksi, atasannya berupa kaos hitam tanpa lengan yang menggantung ketat hingga bawah dada sehingga memperlihatkan perutnya yang seksi, belum lagi keketatannya menonjolkan bentuk dadanya yang membusung indah, sementara bawahannya berupa celana pendek yang membungkus paha hingga sepuluh centi diatas lutut. Setelah mengikat rambutnya ke belakang, dia segera turun ke bawah menuju ruang fitness di belakang rumah. Ruang itu berukuran sedang dengan dilapisi karpet kelabu, beberapa peralatan fitness tersedia disana seperti treadmill, training bike, perangkat multi gym, hingga yang kecil-kecil seperti abdomenizer dan barbel. Ruang fitness keluarga ini memang cukup lengkap, disinilah Sherin sering berolahraga menjaga kebugaran dan bentuk tubuhnya. Cerita Maya

    Sebelum mulai berolah raga Sherin menyalakan CD playernya dan terdengarlah musik R&B mengalun dari speaker yang terpasang pada dua sudut ruangan itu. Sherin memulai latihan hari itu dengan treadmill, kira-kira dua puluh menit lamanya dia berjalan di atas papan treadmill itu lalu dia berpindah ke perangkat multi gym. Disetelnya alat itu menjadi mode sit up dan mulailah dia mengangkat-angkat badannya melatih perut sehingga tidak heran jika dia memiliki perut yang demikian rata dan mulus. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh gadis itu, dari kening dan pelipisnya keringatnya menetes-netes. Tiba-tiba Sherin merasa dirinya ada yang sedang mengawasi, dia melayangkan pandangannya ke arah pintu geser yang setengah terbuka dimana dilihatnya Pak Udin, si tukang kebun itu sedang berdiri memandangi dirinya.
    “Heh…ngapain Bapak disitu !?” hardik Sherin yang marah atas kelancangan Pak Udin yang masuk diam-diam itu.
    “Nggak Non, abis nyiram tanaman aja kebetulan lewat sini ngeliat Non lagi olahraga” jawab pria itu.
    “Ga sopan banget sih, masuk diem-diem gitu, keluar !!” bentak Sherin sambil menundingnya.
    Sherin mulai merasa tidak enak dan takut ketika melihat pria tua itu bukannya pergi malah diam saja menatap padanya lalu mengembangkan senyum. Tidak, peristiwa seperti dulu tidak boleh terjadi lagi demikian pikir Sherin, lagipula dia hanya seorang pria tua, bisa apa dia terhadapnya, seburuk-buruknya kemungkinan pun paling melarikan diri dan si tua itu tidak mungkin tenaganya cukup untuk mengejar.

    “Bapak mulai kurang ajar yah” Sherin marah dan berdiri menghampirinya, “denger gak tadi saya bilang keluar !?”
    “Keluar ya keluar Non, tapi ngomongnya baik-baik dikit dong, dasar lonte” kata Pak Udin.
    Kedua kata umpatan terakhir itu memang diucapkan Pak Udin dengan suara kecil, namun Sherin dapat mendengarnya sehingga kontan darahnya pun semakin naik.
    “Hei…omong apa tadi ?! Keluar sana, cepat beresin barang Bapak, Bapak saya pecat sekarang juga, dasar orang tua ga tau diri !” Sherin membentaknya dengan sangat marah.
    Pak Udin tentu saja kaget karena umpatannya terdengar sehingga memancing kemarahan nona majikannya itu, tapi sebentar saja senyumnya mengembang kembali.
    “Lho kenapa emangnya Non, emang bener kan kata saya tadi, sama penjaga kampus dan sopir aja Non mau kan ?” ujarnya enteng.
    Mendengar itu Sherin langsung merasa seperti ada belati dilempar tepat mengenai dadanya, dia langsung mati kutu dan terdiam selama beberapa detik, rasa takut pun mulai melingkupi dirinya.
    “Jangan ngomong sembarangan yah, saya telepon papa atau polisi kalau perlu kalau Bapak macam-macam !” gertaknya sambil menutupi kegugupan.
    “Ya silakan Non, telepon aja, ntar juga saya laporin Non pernah ada main sama si Nurdin dulu, terus sama penjaga kampus Non juga”
    Kemudian pria tua itu mulai menjelaskan bagaimana dia mengetahui skandal-skandal seks gadis itu yang ternyata didapatnya dari Nurdin, mantan sopirnya, yang juga tidak lain adalah keponakan pria itu.

    Sherin diam seribu bahasa, rasanya lemas sekali membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pak Udin lalu mendekati Sherin yang berdiri terpaku, tangan keriputnya memegang kedua lengannya yang mulus. Sherin tidak bereaksi, batinnya mengalami konflik, dia sama sekali tidak ingin melayani nafsu pria seusia kakeknya ini, namun apa daya karena pria ini telah mengetahui aibnya yang dipakainya sebagai alat mengintimidasinya. Tangan pria itu mulai membelai lengannya sehingga menyebabkan bulu kuduk gadis itu serentak berdiri merasa geli dan jijik. Tangan kanannya naik membelai pipinya lalu ke belakang kepalanya menarik ikat rambutnya sehingga tergerailah rambut indahnya yang seminggu lalu baru diluruskan dan dihighlight kemerahan.
    “Cantik, bener-bener cantik !” gumam Pak Udin mengagumi kecantikan Sherin, “Cuma sayang sifatnya jelek !” sambungnya sambil mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh tersungkur di lantai berkarpet.
    “Aaaww !” jerit Sherin, namun sebelum dia sempat bangkit pria itu telah lebih dulu meraih kedua lengannya, mengangkatnya ke atas kepala dan mengunci kedua pergelangannya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menyibak kaos fitnessnya sehingga payudaranya yang putih montok berputing kemerahan itu terekspos. Mata Pak Udin melotot seperti mau copot melihat keindahan kedua gunung itu. Tatapan mata itu membuat Sherin bergidik melihatnya.

    “Dasar anak jaman sekarang, udah jadi lonte aja masih suka belagu !” kata Pak Udin sambil meremas payudara kirinya dengan gemas. “Tau gak, Bapak sebenernya kasian ngedenger si Nurdin cerita tentang Non itu, saya sempat tegur dia, terus saya pikir Non juga udah bertobat, tapi selama saya kerja disini ternyata masih gitu-gitu aja. Non tetap sombong dan suka marah-marah ke pembantu seperti kita, emang Non pikir kita ini apa sih !?” pria itu dengan keras memarahinya.
    “Jangan Pak, jangan begitu !” kata Sherin dengan suara bergetar.
    Sementara Pak Udin terus mengagumi kedua payudara Sherin yang menggemaskan itu, tangan kanannya terus berpindah-pindah meremasi kedua payudara itu. Sherin sendiri menggeliat-geliat dan meronta tapi kuncian Pak Udin pada pergelangan tangannya cukup kuat. Sentuhan tangan keriput itu pada payudaranya mulai menimbulkan sensasi aneh, darahnya bergolak dan nafasnya mulai tidak teratur.
    “Cewek kaya Non gini emang harus dikasih pelajaran biar tau diri dikit, sekalian Bapak juga mau ngerasain cewek cantik mumpung masih hidup hehehe !” katanya terkekeh-kekeh.
    “Aahh…sshhh….nngghh !” desah Sherin saat mulut Pak Udin melumat payudaranya, lidahnya yang panas itu langsung mempermainkan putingnya yang sudah mengeras.
    Sherin benar-benar tidak berdaya saat itu karena nikmatnya, dia sudah terbiasa mengalami pelecehan sejak menjadi budak seks Imron sehingga nafsunya dengan cepat naik walau bercampur perasan benci pada orang-orang yang mengerjainya.

    Sambil masih mengunci pergelangan dan menciumi payudara nona majikannya, pria tua itu menyusupkan tangan satunya ke celana pendek itu. Telapak tangannya menyentuh vagina gadis itu yang ditumbuhi rambut-rambut lebat. Tubuh Sherin berkelejotan dan mulutnya mengeluarkan desahan ketika jari-jari pria itu menyentuh bibir vaginanya dan mulai mengorek-ngorek liangnya, Sherin merasakan daerah itu semakin basah saja. Pak Udin tersenyum puas melihat wajah terangsang Sherin yang bersemu merah. Merasa Sherin sudah takluk dan tidak memberontak lagi, pria itu mulai melepaskan kunciannya pada pergelangan gadis itu. Setelah melepas kunciannya tangannya langsung menarik lepas kaos fitness yang tersingkap itu sehingga membuat gadis itu topless. Keringat bagaikan embun membasahi tubuh bagian atasnya hasil dari fitness barusan. Sherin hanya bisa pasrah, matanya nerawang menatap langit-langit sambil sesekali merem-melek menahan nikmat. Mulut Pak Udin kini merambat naik ke lehernya sementara kedua tangannya tetap bekerja meremas payudaranya dan mengobok-obok di balik celananya. Sherin membuang muka ketika pria itu mencoba mencium bibirnya, terus terang dia enggan dicium oleh tua bangka ini, melihat giginya yang mulai ompong dan hitam-hitam saja jijik apalagi dicium. Dua kali dia membuang muka ke kiri dan kanan sampai akhirnya Pak Udin berhasil memagut bibirnya yang indah itu.

    Dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha lepas, tapi saat itu pria itu menekankan jari tengahnya pada klitoris yang telah berhasil ditemukannya sehingga otomatis pemiliknya mendesah dan mulutnya membuka. Saat itulah lidah Pak Udin menyeruak masuk dan langsung menyapukan lidahnya di dalam mulut. Ketika Pak Udin melumat bibirnya, Sherin memejamkan mata menahan jijik, betapa tidak bibir Pak Udin yang sudah berkerut itu sedang beradu dengan bibirnya yang mungil dan tipis. Semula dia menanggapi ciuman tukang kebunnya itu dengan pasif, tapi karena serangan-serangan pria itu pada daerah lainnya cukup gencar dan membuat birahinya semakin bergolak, lidah Sherin mulai ikut bergerak beradu dengan lidah kasar tukang kebunnya itu. Selama tiga menit lamanya Pak Udin menindih tubuh anak majikannya itu sambil menciumi dan menggerayangi tubuhnya. Pria itu merasakan jari-jarinya makin basah oleh lendir dari kemaluan gadis itu. Kemudian Pak Udin melepas ciumannya, air ludah mereka nampak saling menjuntai ketika bibir keduanya berpisah. Berikutnya dia menarik lepas celana pendek Sherin beserta celana dalamnya. Dia bangkit berdiri tanpa melepaskan pandangan matanya yang penuh nafsu itu dari tubuh telanjang nona majikannya. Dia mulai melepaskan kemeja lusuhnya memperlihatkan tubuhnya yang hitam kerempeng lalu dia buka celananya sehingga terlihatlah penisnya yang sudah tegang, bentuknya lumayan panjang, pangkalnya ditumbuhi bulu-bulu yang setengah memutih.

    Pak Udin memapah Sherin lalu membaringkannya di alat sit up, sebuah platform yang berdiri membentuk sudut 45 derajat dengan lantai. Pria itu berjongkok di depannya dan membuka kaki gadis itu. Wajahnya mendekat hingga berjarak hanya sepuluh centi dari vagina gadis itu, matanya menatap nanar kemaluan yang berbulu lebat dengan bagian tengah yang memerah itu. Sherin memalingkan wajah ke samping dan memejamkan mata, dia merasa malu diperlakukan demikian, namun juga ada seperti rangsangan aneh yang membuatnya merasa seksi. Dia bisa merasakan dengus nafas pria itu menerpa vaginanya dan menambah sensasi nikmat.
    “Ooohh…Paakk !” Sherin mendesah panjang sambil menggenggam erat pegangan alat itu ketika lidah Pak Udin menyapu bibir kemaluannya.
    Demikian lihainya mulut ompong Pak Udin menjilati dan menyedot vagina Sherin sampai membuat gadis itu menikmatinya. Sherin mendesis-desis dan kakinya mengejang, dia mulai berani melihat ke bawah dimana selangkangannya sedang dijilati dan dihisap-hisap oleh pria tua itu. Lidah Pak Udin bergerak dengan lincah, kadang dengan gerakan lambat, kadang cepat, kadang menjilati memutar di daerah itu sehingga tanpa disadari Sherin merasa terbang ke awang-awang, tanpa disadari tangannya meraih tangan Pak Udin dan meletakkannya pada payudaranya, tangan keriput itupun langsung bekerja meremas dan memilin-milin putingnya.

    Setelah setengah jam lebih sedikit, tubuh Sherin mengejang hebat, cairan orgasme meleleh dari liang vaginanya.
    “Aahh…oohhh…!” Sherin mengerang panjang dalam orgasme pertamanya dengan si tukang kebun itu.
    Pak Udin sengaja menghentikan jilatannya untuk mengamati lendir vagina gadis itu yang membanjir sampai menetes ke lapisan kulit pada alat fitness itu. Sebuah senyum mesum tergurat pada wajah tuanya, sepertinya dia senang sekali berhasil menaklukkan nona majikannya seperti ini.
    “Huehehe…gila banjir gini, Non juga konak yah, Bapak suka banget sama memek Non, hhhmhh…ssllrrpp !” Pak Udin mengakhiri kata-katanya dengan menghirup lendir vagina nona majikannya.
    Mulutnya sampai menyedoti bibir vagina gadis itu sehingga membuat tubuhnya makin mengejang dan menambah nikmat orgasmenya.
    “Hhmm..enak yah rasa pejunya, Bapak udah lama nggak ngerasain seperti ini !” gumamnya sambil terus menghirup cairan orgasme Sherin.
    Gairah Sherin dengan cepat bangkit kembali karena Pak Udin terus menjilati vaginanya dan melahap cairan orgasmenya hingga habis menyisakan bercak ludah di daerah selangkangan gadis itu. Gairah itu menghapus sementara rasa marah dan jijik yang sebelumnya melingkupinya, entah mengapa dia kini merasa ingin penis lelaki tua ini segera menusuk vaginanya.

    Jantung Sherin semakin berdebar-debar ketika kepala penis pria itu menyentuh bibir vaginanya. Nuraninya menghendaki agar dirinya memberontak dan kabur, tapi tubuhnya yang berkata lain malah menggerakkannya untuk membuka kakinya lebih lebar. Dia melihat jelas bagaimana penis pria itu memasuki vaginanya juga ekspresi puas di wajah tuanya karena berhasil menikmati tubuh gadis cantik yang baru pernah dirasakan seumur hidupnya.
    “Hhsshhh…enngghh…me…mek Non seret…banget !” gumam tukang kebun itu disela-sela nafasnya yang memburu.
    “Ahhh…Pak Udin…ooohh !” rintih Sherin menahan nikmat saat penis itu mulai bergerak menggesek dinding vaginanya.
    Pak Udin mulai menggenjoti vagina nona majikannya itu dengan kecepatan makin meningkat tapi tidak sebrutal Imron atau sopirnya dulu karena faktor usia. Pak Udin pun nampaknya sadar akan hal ini sehingga dia tidak mau menggenjotnya terlalu cepat agar tidak terlalu menghamburkan tenaga dan dapat menikmati kenikmatan langka ini lebih lama. Sherin sendiri mulai terhanyut oleh gaya Pak Udin yang khas itu. Tanpa disadari dia menggerakkan tubuh bagian bawahnya menyambut hujaman-hujaman penis Pak Udin. Mata pria tua itu menatap kedua payudaranya yang turut bergoyang-goyang mengikuti goyangan tubuhnya sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjulurkan tangan kanannya meremasi benda itu sambil tangan yang satunya tetap menyangga lutut gadis itu. Sherin nampak meringis-ringis dan mendesah sambil sesekali menggigiti bibir bawah atau tangannya yang terkepal.

    “Balik Non, nungging !” perintah pria itu setelah 20 menitan dalam posisi yang sama.
    Sherin kini berpijak dengan kedua lututnya dan tangannya bertumpu pada alat sit-up itu. Pria itu melebarkan sedikit kakinya lalu kembali memasukkan penisnya ke liang senggama gadis itu yang telah licin oleh lendir. Sherin merasakan sodokan tukang kebunnya ini kini terasa lebih bertenaga dan lebih dalam sehingga tubuhnya lebih terguncang daripada sebelumnya. Sambil menggenjot, kedua tangan keriputnya juga menggerayangi sepasang payudara yang menggantung itu. Suara benturan antara pantat Sherin dengan selangkangan pria itu bercampur baur dengan irama musik R&B yang masih mengalun dari CD player.
    “Aarhhh…terus Non, goyang terus !” erang pria itu dengan suara parau.
    Sebagai gadis yang sudah berpengalaman soal seks, Sherin tahu bahwa bajingan tua ini sudah mau klimaks. Maka dia pun merespon dengan menggoyangkan pinggulnya lebih cepat. Benar saja, tak lama kemudian dia merasakan adanya siraman hangat di dalam vaginanya. Pria itu mengerang menikmati spermanya mengisi rahim anak gadis majikannya tersebut. Genjotannya makin menurun kecepatannya hingga akhirnya berhenti dan penisnya tercabut. Akhirnya pria tua itu duduk berselonjor di lantai dengan nafas ngos-ngosan. Sherin terlalu seksi baginya sehingga dia menggenjotnya terlalu bernafsu di saat-saat terakhir sehingga tenaganya banyak terkuras.

    Sherin buru-buru memunguti pakaiannya dan keluar dari ruangan itu setelah terlebih dahulu mematikan cd-player. Dia menatap kesal pada pria itu ketika melintas di depannya sementara Pak Udin sendiri hanya tersenyum puas sambil mengatur nafasnya yang masih putus-putus. Sherin langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu serta menguncinya. Kurang ajar sekali tua bangka ini, marahnya, tidak disangka si tua itu ternyata adalah paman dari bekas sopir yang pernah mempecundanginya dulu. Sekarang dirinya telah jatuh dalam kekuasaan bajingan tua ini tanpa dapat berbuat apa-apa karena dia memegang kartu trufnya. Setelah air di bathtub penuh, Sherin menaburkan sabun ke dalamnya hingga berbusa lalu dia masuk ke dalam dan membasuh tubuhnya dari sisa-sisa persetubuhan. Rasa lelah dari berolah raga dan persetubuhan tadi membuatnya merasa ngantuk di dalam air hangat yang memberi kenyamanan itu sehingga tanpa terasa dia mulai tertidur di bak. Lebih dari setengah jam kemudian barulah dia terbangun karena ponselnya yang diletakkan di pinggir bathtub berbunyi. Dia segera mengangkat telepon dari mamanya yang mengabarkan mereka besok sore baru pulang dan berpesan agar jaga diri di rumah, dan jangan lupa kunci rumah yang benar. Betapa dongkolnya Sherin karena dengan demikian berarti dia tidak bisa melepaskan diri dari Pak Udin hingga besok dan masih harus iklas dikerjai orang tua itu.

    Diapun bangkit dan keluar dari bak menyudahi mandinya. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk dipakainya sebuah kaos longgar warna biru muda dan celana pendek. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua ketika itu, diluar sana matahari sedang terik-teriknya. Sherin merasa perutnya telah berbunyi minta diisi. Dibukanya pintu sedikit dan melongokkan kepala keluar melihat keadaan, sepi…Pak Udin sepertinya sedang di belakang sana. Maka dia pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Setelah menyendok nasi ke piringnya, dibukanya tudung saji yang menutupi makanan di atas meja makan dan diambilnya lauk secukupnya. Sepuluh menit kemudian, dia pun selesai makan, lalu dibawanya piring dan gelas bekas itu ke tempat cuci piring. Selagi mencuci piring, tiba-tiba dia merasa sebuah tangan mendarat di pantatnya lalu meremasnya. Spontan diapun membalik badannya dan menepis tangan itu.
    “Kurang ajar !” omelnya dengan wajah cemberut.
    “Siang Non, udah bangun yah, asyik kan tadi ?” goda Pak Udin sambil cengengesan.
    Wajah Sherin langsung merah padam mendengarnya, memang tak dapat dipungkiri walaupun tindakan pria ini bisa digolongkan sebagai pemerkosaan dan merendahkan harga dirinya namun dia sendiri juga menikmatinya. Ingin rasanya menghantamkan piring di belakangnya ke kepala tua bangka ini hingga bocor, tapi nyalinya tidak sebesar itu. Dia hanya bisa menepis tangan pria itu ketika hendak meraba dadanya lalu mendengus kesal sambil melengos meninggalkannya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibanting dari kamarnya. Pak Udin sendiri hanya tertawa-tawa melihat reaksi nona majikannya itu.

    Di kamar Sherin menyetel cd-playernya keras-keras sambil menyalakan sebatang rokok untuk melampiaskan kekesalan pada tukang kebunnya yang brengsek itu. Setelah rokok itu habis setengah batang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dia kecilkan sedikit volume cd-playernya lalu membuka pintu.
    “Ngapain lagi sih Pak ?!” ujarnya ketus.
    “Waduh…jangan judes gitu dong Non, ini Bapak cuma konak lagi nginget yang barusan, kita main lagi dikit yuk Non, mumpung cuma kita duaan disini” sahut Pak Udin.
    “Nggak ah, tadi kan udah…pergi sana !” tolak Sherin dengan kesal seraya menutup pintu.
    “Ayo dong Non jangan gitu ah…sebentar aja, tadi Bapak belum ngerasain kontol Bapak dimulut Non, ayo dong…yah !” Pak Udin menahan pintu itu dengan setengah memohon dan setengah memaksa.
    Pak Udin membuatnya tidak punya pilihan lain sehingga akhirnya dengan terpaksa diiyakannya kemauan pria ini. Dengan berat hati dibiarkannya pria itu masuk ke kamarnya. Sherin menghempaskan pantatnya hingga terduduk di tepi ranjang tanpa melepas pandangan marahnya pada pria itu. Pak Udin berdiri di hadapannya dan mulai melepaskan celananya. Setelah celana panjangnya melorot jatuh, dia mengeluarkan penisnya yang sudah menegang dari balik celana dalamnya.

    “Ayo Non disepong yang enak !” Pak Udin menyodorkan penis itu pada nona majikannya.
    Walau terbiasa melihat penis hitam dan dilecehkan seperti itu, namun Sherin baru pernah berurusan dengan penis tua yang bulu-bulunya sudah mulai beruban seperti yang satu ini sehingga ada rasa enggan untuk mengoralnya. Sherin sadar bahwa itu adalah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, maka dengan terpaksa dia mulai menggenggam penis itu, terasa denyutan benda itu dalam genggamannya. Tanpa menunggu perintah lagi dia mendekatkan wajahnya pada penis yang menodong wajahnya itu. Lidahnya bergerak menyapu bagian kepalanya yang bersunat. Pak Udin mengerang parau merasakan jilatan lidah gadis itu pada ujung penisnya, tubuhnya bergetar sambil meremas rambut gadis itu. Seumur hidupnya baru pernah pria tua itu merasakan yang namanya oral seks, istrinya selalu menolak untuk melakukan hal itu, sehingga kehidupan seksnya terasa hambar selama puluhan tahun menikah. Oral seks pertama dengan gadis secantik nona majikannya ini memberinya sensasi luar biasa, rasanya seperti kembali muda lagi sehingga dia melenguh tak karuan. Penisnya kini sudah masuk ke mulut gadis itu, dia merasakan lidahnya menggelikitik penisnya juga sensasi hangat dari air liurnya.
    “Uhhh…enak banget Non, terus gituin yah…eeemm…jangan dilepas yah !” erangnya sambil memegangi kepala gadis itu.

    Sherin melancarkan teknik-teknik mengoralnya, semakin hari dia semakin terbiasa diperlakukan demikian di kampus, terutama yang paling sering dengan Imron, sesekali dengan Pak Dahlan si dosen bejat itu atau pernah juga dengan Pak Kahar, si satpam kampus yang tak bermoral. Dia memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, tangannya juga ikut bekerja mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya. Pria setengah baya itu merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Sherin seolah menyetubuhinya. Kini Sherin berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai tukang kebunnya itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak bisa melepaskan diri. Kurang lebih sepuluh menitan akhirnya Pak Udin mencapai puncak, dia mengerang tak karuan dan menggerakkan pinggulnya lebih cepat sehingga membuat Sherin agak kelabakan. Diiringi erangan keras, keluarlah spermanya di mulut Sherin. Walaupun jijik karena aromanya yang cukup tajam, Sherin bisa juga menelan habis cairan itu tanpa menetes keluar dari mulutnya. Memang menghisap merupakan salah satu kelebihannya dalam hubungan seks. Frans, pacarnya, juga sangat suka penisnya dioral olehnya, terkadang kalau sudah mau orgasme dia minta padanya untuk dioral agar bisa keluar di mulut dan merasakan hisapannya yang dahsyat itu. Setelah semprotannya berhenti, dijilatinya juga sisanya yang blepotan pada batang itu hingga bersih.

    “Udah Pak…cukup sampai sini, sekarang keluar !” Sherin berdiri dan menyuruhnya keluar.
    “Alah Non…masa sih segitu aja ? ayo dong biar Bapak muasin Non !” Pak Udin mendekap tubuh Sherin dan tangannya bergerak ke bawah meremas pantatnya.
    Sherin meronta dan mendorong tubuh pria tua itu hingga dia terhuyung ke belakang hampir terjatuh.
    “Udah dong Pak, saya bilang jangan sekarang, kenapa sih !?” kata Sherin setengah menghardik.
    Pak Udin hanya tersenyum kecil sambil menaikkan kembali celananya.
    “Ya udah ga apa-apa deh…dasar lonte…awas ya nanti !” dia lalu membalikkan badan dan keluar dari kamar.
    Akhirnya Sherin berhasil juga menolak pria itu, tapi dia agak takut juga mendengar perkataan terakhir Pak Udin yang bernada mengancam itu. Ya sudahlah paling-paling digarap habis-habisan lagi dan disuruh tidur bareng dengan si tua brengsek itu, toh yang seperti itu bisa dibilang sudah menjadi hal biasa sejak dirinya menjadi budak seks. Sekarang ini dia sedang tidak mood melakukan hal itu. Dia pun berbaring di ranjang empuk itu sambil mendengarkan musik yang mengalun dari cd-player. Matanya terpejam hingga tanpa terasa dia tertidur lagi.

    Sekitar jam setengah empat, Sherin terbangun dari tidurnya karena ada suara ketukan di pintu beserta suara Pak Udin memintanya membuka pintu.
    “Huh, tua bangka itu lagi, dasar ga tau diri” omelnya.
    “Ngapain lagi sih Pak, jangan kelewatan dong !” katanya dengan judes begitu nongol di depan pintu.
    “Wes…wes…jangan marah-marah melulu dong Non, Bapak bukan mau ganggu Non, itu ada orang dari pabrik dateng katanya mau ambil barang titipan tuan !” kata Pak Udin kalem.
    Sherin baru ingat memang sebelum pergi papanya pernah menitipkan dokumen kerja dan sebuah CD yang dibungkus dalam amplop besar berwarna coklat. Dia pun langsung menuju ke ruang kerja papanya setelah sebelumnya menutup pintu kamar dengan setengah dibanting di depan tukang kebunnya itu. Diambilnya amplop coklat yang dimaksud itu dari lemari meja papanya dan dibawanya ke ruang tengah dimana orang suruhan papanya itu menunggu. Di sofa ruang tengah telah menunggu dua orang pria yaitu Pak Irfan, salah satu staff papanya, seorang yang berpostur pendek berusia 40-an, dan satunya adalah sopir pabriknya yang bernama Jabir, seorang pria berkumis tebal dan tubuhnya padat berisi serta kulitnya hitam kasar karena sering terbiasa bekerja di bawah sinar matahari.

    “Sore Non Sherin” sapa Pak Irfan ramah, Jabir juga tersenyum menyapanya.
    “Sore Pak” Sherin balas menyapa dan tersenyum kecil “Ini Pak , titipan dari papa, bener kan?”
    “Ah…iya Non bener ini, makasih yah !” kata Pak Irfan seraya menerima amplop itu.
    “Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Sherin melihat mereka yang belum beranjak pergi.
    Kedua pria itu terdiam sejenak saling pandang satu sama lain, lalu Pak Irfan berkata,
    “Mmm…anu Non sekalian itu…THR nya ?”
    “THR ? Kok mintanya ke saya, kan yang ngurus bagian pabrik ?” Sherin agak heran.
    “Itu Non, THR spesialnya…kan Pak Udin juga dikasih, masa kita nggak ?” sambung Jabir si sopir pabrik.
    Deg…Sherin terperanjat mendengar perkataan Jabir itu, apalagi ekpresi mereka mulai berubah menyeringai mesum begitu melihat reaksinya.
    “Brengsek…tua bangka mulut ember, keterlaluan banget sih !” makinya dalam hati.
    “Nnngg….ma-maksudnya apa sih Pak ?” tanyanya gugup pura-pura tidak tahu apa-apa.
    “Alah Non pura-pura bego aja” kata Pak Irfan sambil menggeser duduknya mendekati Sherin, “THR dari Non, ini loh” katanya memegang paha gadis itu.
    “Eeii…jangan kurang ajar yah !” bentak Sherin mendorong pria itu.
    Tanpa diduga, Jabir telah berada di sebelahnya dan mendekap tubuhnya setelah dia mendorong Pak Irfan.

    “Apa-apaan nih, lepasin saya, tolong…tolong…!!” jeritnya sambil meronta.
    “Hus jangan teriak Non, ntar semua orang tau mau taro dimana mukanya…kan kasian juga bapak Non, di pabrik dibilang apa ntar kalau anaknya ada main sama tukang kebun hehehe !” kata Pak Irfan sambil tertawa-tawa.
    “Iya Non, lagian kan udah mau hari raya, boleh dong sekali-sekali nyenengin kita-kita yang udah kerja buat keluarga Non” timpal Jabir
    “Hehe…gimana Non, kata Nurdin dulu Non suka keroyokan makannya Bapak ajak mereka ngerasain Non, dijamin Non puas deh” kata Pak Udin yang sudah berdiri di belakang sofa.
    Sherin sadar bahwa kini dirinya benar-benar terjebak, tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti kemauan bejat mereka. Dipandangnya tiga wajah mesum yang mengelilinginya dengan kesal, terutama Pak Irfan, bawahan papanya yang telah dikenalnya sejak masih kecil itu tega-teganya berbuat demikian terhadapnya, ternyata dia tidak berbeda dengan pria-pria lain yang pernah memperkosanya, bermoral bejat. Tangan pria itu kini memegangi pergelangan kakinya dan tangan lainnya mengelusi betis hingga pahanya yang ramping dan mulus itu sehingga darahnya mulai berdesir. Demikian pula Pak Udin dan Si Jabir yang mendekapnya juga mulai menggerayangi tubuh bagian atas payudaranya dari luar sehingga membuatnya menggeliat-geliat. Jantungnya berdetak dengan kencang, adakah yang lebih buruk daripada melayani ketiga binatang berwajah manusia ini, demikian katanya dalam hati.

    “Ga kerasa Non udah dewasa yah, udah tambah cantik, tambah nafsuin” kata Pak Irfan sambil melepas celana pendek Sherin.
    Jabir mengikuti tindakan Pak Irfan dengan melepas kaos gadis itu. Maka kini tubuh Sherin yang putih mulus itu hanya tinggal memakai bra berenda dan celana dalam yang keduanya berwarna putih, bulu kemaluannya nampak terlihat melalui celana dalamnya yang semi transparan. Mata ketiganya terbelakak melihat kemolekan tubuhnya, nampak jakun mereka bergerak naik-turun dan pandangan mata mereka demikian bernafsu seperti srigala lapar.
    “Akhirnya bisa juga ngeliat bodynya Non Sherin, tiap kali saya konak banget kalau liat Non pake baju seksi ke pabrik” kata Jabir.
    “Misi yah Non, bapak mau nyusu dulu” Pak Udin yang sudah berpindah tempat berjongkok di depan sofa meminta ijin seraya menyingkap cup bra sebelah kanannya.
    Tanpa ba-bi-bu lagi pria setengah baya itu langsung melumat payudara kanannya.
    “Sshhh !” desis Sherin merasakan payudaranya dikenyoti.
    Terasa sekali lidah bagian atas pria itu menggesek-gesek putingnya seperti mengamplas sehingga benda itu makin menegang tanpa bisa tertahan. Jabir yang dibelakangnya juga merangsangnya dengan ciuman dan jilatan pada leher dan telinganya, telapak tangannya yang besar itu menyusup masuk ke cup bra kirinya menyentuh kulitnya yang halus, segera jari-jarinya memilin-milin putingnya setelah menemukannya. Sementara itu, Pak Irfan di bawah sana sedang memegangi kaki kanannya agar tetap terbentang sambil tangan satunya memainkan jari-jarinya mengosok-gosok kemaluannya dari luar celana dalam.

    Baca Juga Cerita Seks Nightmare Sidestory: Campus SAL (Sex After Lunch)

    Senyum pria itu makin lebar seiring dengan bercak cairan pada celana dalamnya yang makin lebar.
    “Enak kan Non, sampe banjir gini” kata Pak Irfan yang semakin gencar menggerayangi selangkangannya.
    Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Sherin mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Jabir melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Sherin membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan. Kumis tebal Jabir bergesekan dengan daerah sekitar mulut Sherin, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat. Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini. Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sherin lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu.

    Pak Irfan menarik lepas celana dalam Sherin yang bagian tengahnya sudah basah. Matanya langsung nanar melihat kemaluannya yang berbulu lebat dan sudah becek itu. Sebelum melanjutkan mereka membaringkan tubuh gadis itu di atas meja ruang tamu dari bahan kayu berukir dekat mereka. Pak Udin menyingkirkan barang-barang diatasnya, Jabir melucuti branya sehingga kini tubuh Sherin yang sudah telanjang bulat itu ditelentangkan di atas meja dengan kedua kaki menjuntai ke bawah. Ketiganya menatapi tubuh telanjang itu dengan pandangan penuh birahi. Pak Irfan nampaknya tidak sabar lagi untuk segera menikmati, dia segera berlutut di antara paha Sherin dan menaikkan kedua pahanya ke bahu lalu membenamkan wajahnya di selangkangan gadis itu.
    “Oohhh…!!” desah Sherin sambil menggeliat ketika lidah pria itu menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak masuk seperti ular.
    Lidah itu menari-nari dan menjilati vaginanya, dia merasakan suatu perasaan yang sulit dilukiskan saat lidah pria itu menyentuh klitorisnya sehingga dia hanya bisa mendesah lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang. Pak Udin dan Jabir masing-masing berdiri di kanan dan kiri kepalanya, mereka membuka celananya masing-masing. Betapa terpananya Sherin melihat penis Jabir yang demikian besar dan berurat itu, ada mungkin ukurannya 20 cm. Dia merasakan penis itu bergetar di tangannya ketika digenggam.
    “Sepong Non, Pak Udin bilang Non nyepongnya enak !” perintah Jabir.
    Walau kata-kata tidak senonoh itu terasa panas di kupingnya, namun dimasukkan juga benda itu ke mulutnya. Dia membuka mulut selebar-lebarnya untuk memasukkannya.

    Sherin mengoral penis Jabir sambil tangan satunya mengocoki penis Pak Udin. Kedua pria itu melenguh sambil merem-merem menikmati ‘adik’nya dilayani oleh gadis itu. Rangsangan-rangsangan akibat jilatan Pak Irfan pada vaginanya menyebabkan libidonya meninggi sehingga semakin baik pula pelayanannya pada dua penis itu. Tak lama kemudian Pak Irfan merasa puas menjilati vagina Sherin.Ketika dia bersiap hendak menyetubuhi putri atasannya itu, tiba-tiba si Jabir menyela,
    “Eh…tunggu-tunggu, jangan disodok dulu, gua mau nyicipin bentar memeknya, pengen tau rasanya memek cewek cantik !”
    “Sabar dong, semua dapet giliran kok, gua udah ga tahan nih !” kata Pak Irfan.
    “Ayolah bentar aja, ntar kalau lu tusuk keburu bau kontol, gua jadi ga selera” pinta Jabir sekali lagi.
    Mereka bertiga tertawa-tawa mendengarnya, akhirnya Pak Irfan mengalah sedikit dan membiarkan Jabir menjilati vagina Sherin.
    “Ya udah, sana nyepong, jangan lama-lama, abis ini gua nusuk duluan yah !” kata Pak Irfan sambil membuka celananya dan berdiri di sebelah Sherin.
    Maka mulailah si kumis itu menjilati vaginanya, bukan hanya lidahnya yang bermain, jarinya pun turut menusuk-nusuk sehingga tubuh Sherin dibuatnya makin menggelinjang. Di saat yang sama Sherin kini melayani penis Pak Irfan dan Pak Udin, tukang kebunnya.

    Kedua tangan Sherin menggenggam penis itu, mengocok dan mengoralnya secara bergantian. Karena keenakan, Pak Irfan memegangi kepala Sherin ketika diemut penisnya, tidak rela kehilangan kuluman nikmat itu.
    “Hehehe…bener kan kata saya, situ sampe ketagihan sepongan si Non ?” kata Pak Udin terkekeh melihat tingkah Pak Irfan.
    “Iya toh…enak tenan bener sepongan Non…emmm…hati-hati Non, jangan kena gigi !” ucap Pak Irfan sambil merem-melek keenakan.
    Dengan birahinya yang semakin naik, Sherin pun mulai menikmati diperlakukan demikian, tidak nampak dirinya meronta seperti orang diperkosa ataupun menangis seperti dulu waktu pertama kali di kampus dulu, baginya yang seperti ini sudah biasa. Tiba-tiba tubuh Sherin menggelinjang, dari mulutnya yang dijejali penis Pak Irfan terdengar erangan tertahan. Rupanya dia telah mencapai orgasme akibat jilatan dan permainan jari Jabir pada vaginanya. Nampaknya Pak Irfan cukup pengertian dengan kondisinya dia melepaskan sejenak penisnya dari mulut gadis itu. Ketiga pria itu kelihatan senang melihat reaksinya saat mencapai orgasme itu. Si Jabir dengan rakusnya melahap cairan orgasme yang membanjir dari vagina gadis itu.
    “Ssrrpp…slurp….wuih, uenak banget pejunya si Non ini slluurpp !” komentarnya sambil mengisapi vagina Sherin.
    Kedua paha mulus Sherin mengapit wajah pria itu karena tubuhnya yang menegang dan merasa geli karena oral seks si kumis itu. Setelah beberapa saat akhirnya gelombang orgasme itu reda, namun Jabir masih terus mengisapi vaginanya hingga cairan orgasmenya habis dilahap.

    Sherin terbaring bugil di meja itu dengan nafas terputus-putus setelah mencapai klimaks barusan. Kedua buah dadanya nampak naik-turun seirama nafasnya. Matanya melihat sekelilingnya dimana ketiga lelaki itu manatapnya dengan mata nanar. Mereka membuka pakaiannya masing-masing hingga bugil. Dia melihat tubuh si Jabir begitu padat dan berotot dan dadanya ditumbuhi sedikit bulu.
    “Gila…mampus dah gua !” keluhnya dalam hati membayangkan dirinya akan habis ‘dibantai’ ketiga orang itu.
    Sesuai perjanjian, Pak Irfan menagih giliran pertamanya untuk menyetubuhi Sherin. Dia langsung mengambil posisi diantara kedua paha gadis itu dan mengarahkan penisnya.
    “Uhhh…nikmat, seret, becek banget !” erangnya sambil menekan pelan-pelan penisnya memasuki liang senggama gadis itu.
    Dengan cairan orgasme yang berfungsi sebagai pelumas, penis Pak Irfan melesak masuk dengan lancar, ukurannya juga termasuk sedang sehingga tidak terlalu sulit dalam melakukan penetrasi.
    “Enak Pak ?” tanya Jabir setelah atasannya itu berhasil menancapkan seluruh penisnya pada vagina nona majikan mereka.
    “Yo jelas toh, mana Non nya ayu gini lagi, uuhh bini gua aja kalah dah !” komentarnya.
    “Dasar bajingan, istri sendiri diomongin gitu” omel Sherin dalam hati.
    Tak lama kemudian Pak Irfan mulai menggoyangkan pinggulnya memompa gadis itu.
    “Oohhh…oohh !” desah Sherin merasakan sodokan pria itu.

    Jabir kini berjongkok di sebelahnya, lidahnya menjilati payudaranya dan tangannya bergerilya menjamah-jamah bagian tubuh lainnya. Sementara itu Pak Udin mendekatkan penisnya ke wajahnya. Tahu apa yang harus dilakukan, Sherin meraih batang itu dan menjilatinya.
    “Uuuhh…enak…enak…seret banget !” ceracau Pak Irfan sambil menggenjot Sherin.
    Pria itu memaju-mundurkan pinggulnya sambil tangannya memegangi pergelangan kaki gadis itu. Suara cek…cek…cek…terdengar dari selangakangan mereka yang saling bertumbukkan. Sherin sendiri sedang terlarut menikmati penis Pak Udin, penis itu dia jilati, sesekali digosokkan ke wajahnya yang mulus, buah zakarnya dia pijati sehingga pria setengah baya itu mengerang keenakan. , kalau saja jantungnya tidak kuat mungkin saat itu dia sudah kena serangan jantung saking berdebar-debarnya. Si Jabir juga masih asyik bermain dengan payudara Sherin, wangi tubuh gadis itu membuatnya semakin bernafsu menjilatinya, air liur dan bekas cupangan memerah pun menghiasi kulitnya yang putih, terutama di daerah payudara. Kumis si Jabir yang tebal itu terasa sangat menggelitik tubuhnya dan memberinya sensasi plus di samping cupangan-cupangannya. Sungguh nampak kontras sekali adegan seks di ruang tengah itu, seorang gadis berparas cantik, berkulit putih mulus sedang digauli tiga orang pria bertampang minus berkulit gelap kasar, juga berbeda status dan rasnya. Sherin pun tidak bisa memungkiri bahwa seks liar seperti ini memberinya kepuasan lebih daripada melakukannya dengan pacarnya.

    “Uuhh…uhh…mau keluar Non…bapak buang di dalem ya !!” erang Pak Irfan sambil mempercepat sodokannya karena sudah mau mencapai puncak.
    Sherin tidak peduli lagi apapun yang dikatakan padanya, dia sedang mengulum penis Pak Udin ketika itu. Lagipula kalaupun ia menolak buang di dalam apakah Pak Irfan mendengarkannya. Pak Irfan memutar-mutar penisnya dalam vagina Sherin seperti gerakan mengaduk adonan., lalu dia menekannya dalam-dalam. Sherin merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya, banyak sekali sampai cairan itu meluber keluar dan semakin membasahi selangakangannya. Genjotan Pak Irfan makin melemah hingga akhirnya berhenti dan penisnya terlepas dari vaginanya.
    “Wuihh…puas banget main sama si Non ini !” katanya dengan nafas ngos-ngosan.
    “Payah, cuma segitu aja” kata Sherin dalam hati karena masih belum puas, “Oh my God, apa yang gua pikir barusan ?” ia baru menyadari pikiran tadi terlintas begitu saja di benaknya akibat birahi yang semakin naik sehingga akal sehatnya semakin hilang.
    “Gua…gua sekarang !” sahut Jabir yang sudah tak sabar menikmati kehangatan tubuh Sherin, “tapi jangan disini dong, tempatnya sempit, kita bawa ke kamarnya aja gimana, boleh yah Non, main di kamar Non aja, OK ?”
    Sherin hanya mengangguk lemah saja sebagai jawabannya. Maka mereka pun segera membawanya ke kamarnya. Jabir menggendong tubuh telanjang Sherin dengan kedua lengan kekarnya sambil berjalan mengikuti Pak Udin yang menuntun mereka ke kamar gadis itu.

    “Wah asyik yah kamarnya enak, ber-AC lagi !” komentar Pak Irfan begitu memasukinya.
    “Main sama cewek cakep emang enaknya di tempat yang enak gini” timpal Jabir sambil menurunkan Sherin di ranjanganya.
    Jabir langsung menyuruhnya nungging karena dia ingin melakukannya dengan gaya doggie. Sherin yang masih belum puas dan masih ingin disetubuhi menurut tanpa diperintah dua kali.
    “Eenggh !” desahnya saat Jabir memenekankan kepala penisnya pada vaginanya, “jangan kasar-kasar dong Bang, sakit !”
    “Sori Non, abis nafsu sih hehehe !” tawanya, sepertinya dia cukup menurut sehingga memperlembut proses penetrasi itu.
    Sherin mengerang dengan wajah meringis dan sesekali menggigit bibir karena penis Jabir yang besar dan berurat itu terasa sesak di vaginanya. Tangannya terkepal erat sambil meremasi sprei di bawahnya. Sedikit demi sedikit akhirnya penis hitam besar itu masuk juga seluruhnya ke dalam liang vagina Sherin.
    “Wuih, sempit banget nih memek Non, baru pernah loh saya ngerasain yang gini !” komentar si kumis itu setelah berhasil menancapkan penisnya.
    Beberapa saat kemudian mulailah dia menggerakkan pinggulnya menggenjot gadis itu.
    “Aahh…ahhh…iyahh…aahh…enak !” Sherin mendesah dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
    Jabir yang mengetahui Sherin sudah terangsang berat itu semakin bernafsu, frekuensi genjotannya semakin kencang, tangannya juga meremasi pantat dan payudara gadis itu.

    “Ternyata Non ini bener-bener lonte yah, awalnya nolak sekarang malah keenakan hehehe !” ejek Pak Udin sambil meremas sebuah payudaranya.
    Sherin tidak menghiraukan hinaan itu karena bukan hal baru baginya, malah kata-kata merendahkan itu membuatnya makin bergairah. Dia turut memacu tubuhnya bersama Jabir, seolah ingin penis itu menusuk lebih dalam lagi. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat melihat bingkai foto di bufet sebelah ranjangnya yang berisi foto studionya bersama Frans, pacarnya. Dalam foto itu keduanya tampak serasi dan mesra sekali, karena itulah ia tidak sanggup menatapinya lama-lama karena keadaannya sekarang sangat bertentangan dari di foto itu, ia malah menikmati hubungan terlarang dengan orang-orang yang tidak seharusnya seperti ini, sungguh suatu dilema baginya, dia masih mencintai Frans, namun dia juga telah terperangkap dan diperbudak oleh hasrat liarnya yang semakin tak terkendali sejak hasrat itu dilepaskan keluar oleh Imron. Pak Udin kini mengangkat tubuh Sherin hingga posisinya kini berlutut sambil tetap disetubuhi Jabir dari belakang, ia memeluk tubuh kerempeng tukang kebunnya itu sebagai tempat bertumpu. Erangannya teredam setelah pria itu melumat bibirnya, dia menciuminya dengan ganas sambil menggerayangi payudaranya. Pak Irfan lalu bergabung dengan mereka, ia memegang payudara Sherin yang satunya dan menciuminya, tangannya menggerayangi bagian tubuh sensitif lainnya. Setelah Pak Udin melepaskan ciumannya, ia masih harus beradu lidah dengan Pak Irfan yang menggantikannya.
    “Oohh…gila, ini sinting…tapi…tapi nikmat sekali !” Sherin mengalami pergumulan hebat dalam hatinya.

    Sekitar setengah jam kemudian, Sherin mendesah makin keras, dia merasa tubuhnya mengejang hebat dan dari vaginanya ingin mengeluarkan sesuatu yang makin tak tertahankan.
    “Aakkhh….aahhh…oohhh !” Sherin mendesah panjang sekali, ia mengalami orgasme panjang yang membawanya pada puncak kenikmatan tertinggi.
    Dia memeluk erat-erat tubuh Pak Irfan yang saat itu sedang menjilati lehernya. Punggung pria itu sempat tergores sedikit oleh kukunya. Setelah orgasmenya reda, mereka membaringkan tubuhnya di ranjang, keringat sudah nampak membasahi tubuhnya. Jabir yang baru melepas penisnya buru-buru menaiki wajah Sherin, tangannya menarik kepala gadis itu sementara tangan lainnya memegang penisnya.
    “Buka mulut Non, saya mau keluar di mulut Non !” suruhnya terbata-bata.
    Jabir tidak bisa menahan spermanya lebih lama lagi, baru saja Sherin membuka mulut dan kepala penisnya menyentuh bibir gadis itu, dia sudah ejakulasi. Cairan spermanya yang kental itu sebagian masuk ke mulut Sherin dan sebagian berceceran membasahi mulut gadis itu. Jabir menjejali benda itu ke mulut Sherin tak peduli walau dia kelabakan menerima penisnya yang besar dan memuncratkan sperma dengan deras. Sherin meronta karena merasa tersiksa, namun tangan Jabir terlalu kokoh menahan kepalanya. Terpaksa dia harus berusaha menelan sperma yang menyemprot di dalam mulutnya sampai semprotannya berhenti dan batang itu menyusut dalam mulutnya.

    Sherin merasa lelah sekali tubuhnya basah oleh keringat dan sisa air liur, cipratan sperma nampak pada hidung, dagu, dan terutama daerah mulutnya. Jabir mencolek cipratan spermanya pada hidung Sherin lalu di tempelkan ke bibirnya.
    “Nih Non, sayang kalau mubazir, Non kan demen negak peju” katanya disambut tawa kedua pria lainnya.
    Sherin pasrah saja membuka sedikit mulutnya membiarkan jari itu masuk lalu diemutnya pelan. Ketiga pria itu cengengesan memandangi dirinya yang telah terkulai lemas, komentar-komentar jorok keluar dari mulut mereka.
    “Sudah demikian hinakah gua ?” Sherin bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, dalam rasa terhina itu dia juga menikmati menjadi budak seks, sungguh dilema yang rumit.
    Pak Udin memberinya tisu dan air minum untuk menyegarkan diri, setelah mengelap cipratan sperma di wajahnya, dia langsung menyambar gelas itu dan meminum isinya hingga habis.
    “Bisa kita mulai lagi Non ?” tanya Pak Udin.
    “Jangan terlalu kasar dong, saya udah capek” jawabnya lemas.
    “Ngga, kali ini santai aja, ayo dong Non…naik sini !” perintah Pak Udin yang berbaring telentang sambil menunjuk pada penisnya.

    Sherin pun naik ke tubuh tukang kebunnya itu. Penis yang mengacung itu digenggamnya dan diarahkan ke vaginanya. Kemudian ia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.
    “Ahhh….!” desahnya merasakan penis itu mengisi vaginanya.
    Sebentar saja Sherin sudah menaik turunkan tubuhnya, kedua telapak tangannya saling genggam dengan Pak Udin. Pak Irfan berdiri di ranjang dan mendekatkan penisnya ke wajah gadis itu. Tahu apa yang akan diminta pria itu, sebelum disuruh Sherin sudah menggenggam batang itu dan membuka mulut. Dia mengoral penis itu sambil memacu tubuhnya. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang itu membuat Jabir merasa gemas sehingga dia mendekatinya dan mencaplok yang sebelah kanan.
    “Sakit Bang, jangan gigitnya jangan keras gitu dong !” rintihnya karena merasa nyeri putingnya digigit dengan keras oleh pria itu.
    “Jangan nafsu gitu oi, ntar salah-salah kontol gua kegigit gimana ?” kata Pak Irfan.
    “Huehehe…sori abis bikin gemes sih, iya ane pelanin deh nih !” lalu dia menyapukan lidahnya pada puting itu.
    Sapuan lidah itu membuatnya merasa lebih nyaman dan memberinya rangsangan setelah rasa nyeri barusan. Pak Udin pun menjulurkan tangannya meremasi payudara gadis itu yang sebelahnya, putingnya dia pilin-pilin sehingga makin mengeras.

    Setelah merasa cukup dioral oleh Sherin, Pak Irfan siap menyetubuhinya kembali. Dia menuju ke belakang dan membuka pantat gadis itu.
    “Bapak cobain disini yah Non, pasti lebih seret !” pintanya.
    “Tapi jangan kasar-kasar Pak” kata gadis itu.
    Setidaknya Sherin merasa bersyukur karena yang meminta anal seks Pak Irfan yang ukuran penisnya sedang-sedang saja, kalau Jabir yang minta pasti sakitnya akan terasa selama beberapa hari. Setelah meludahi duburnya Pak Irfan memulai proses penetrasinya.
    “Sempit toh Pak ?” sahut Pak Udin dari bawah tubuh Sherin melihat Sherin dan pria itu merintih-rintih.
    “Iya nih…uh sempit banget !” jawab Pak Irfan sambil terus menekan-nekankan penisnya.
    Semenit kemudian akhirnya Pak Irfan berhasil memasukkan penisnya ke dubur Sherin, dia mendiamkannya untuk beradaptasi dengan jepitannya yang keras. Pak Udin menarik wajah gadis itu mendekati wajahnya untuk berciuman. Di tengah percumbuannya dengan Pak Udin, Sherin merasakan penis di duburnya mulai bergerak, Pak Udin pun mulai menggerakkan pinggulnya lagi menusuk-nusuk vaginanya. Posisinya kini sedang disandwitch oleh kedua tukang kebunnya dan bawahan papanya. Perbedaan warna kulit yang mencolok membuatnya terlihat seperti daging bersih dijepit dengan dua roti hangus. Cerita Maya

    Selain melakukan double penetration, tugas Sherin bertambah ketika Jabir menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya. Posisi serangan tiga arah itu bertahan sekitar sepuluh menit sebelum Pak Udin dan Pak Irfan melepaskan penisnya karena akan orgasme. Mereka menelentangkan tubuhnya, dan berejakulasi di atasnya. Pak Irfan menumpahkan spermanya di perut dan dadanya, sedangkan Pak Udin di mulut. Jabir yang masih belum puas berlutut diantara kedua paha Sherin dan menyutubuhinya sampai sepuluh menit berikutnya. Keduanya mencapai orgasme secara berbarengan sperma Jabir muncrat di dalam vaginanya dan Sherin sendiri menggelinjang hebat. Dia harus mengakui bahwa Jabir benar-benar perkasa dibandingkan dengan Pak Irfan atau Pak Udin, bahkan dengan Frans, pacarnya, mungkin keperkasaannya bisa disejajarkan dengan Imron, si penjaga kampus itu. Kamar itu hening selama beberapa menit, yang terdengar hanya dengusan nafas kelelahan. Langit di luar sudah menguning, jam telah menunjukkan pukul 5.40. Pak Irfan akhirnya turun dari ranjang dan masuk ke toilet di kamar itu.
    “Cabut yuk, udah sore lagi nih !” katanya pada Jabir yang lalu menggerakkan tubuhnya untuk bangkit.
    “Udah ya Non, kita pulang dulu, makasih banget THRnya, lain kali lagi yah hehehe…!” pamitnya sambil meremas payudara Sherin.
    “Go to hell lah…THR…THR !” omel Sherin dalam hati.
    Setelah mereka berpakaian Pak Udin mengantarkan mereka keluar rumah dan membukakan pagar.

    Setelah itu Pak Udin masih terus mengerjai Sherin mulai dari mandi bareng hingga malamnya minta tidur bareng di kamarnya. Sherin tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Hari-hari berikutnya pun setiap kali ada kesempatan Pak Udin selalu meminta jatah darinya. Sherin sendiri walaupun merasa benci dan kesal juga diam-diam menikmatinya. Hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena dua mingguan setelah kejadian itu, Pak Udin terjatuh dari bangku tinggi ketika sedang mengairi tanaman di pot gantung. Kepala belakangnya membentur lantai cukup keras dan berdarah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Hari ketiga di rumah sakit Sherin sengaja datang membesuknya. Suasana kamar tempatnya dirawat tidak ada siapa-siapa ketika itu, Sherin masuk dan mengunci pintu. Ia menatap tajam dengan pandangan penuh dendam pada pria yang pernah melecehkan dan merendahkannya itu yang kini tergolek tak berdaya di ranjang pesakitan. Perlahan si sakit membuka matannya dan dia mengembangkan senyum melihat siapa yang di sebelahnya.

    “He…he…Bapak tau Bapak gak bakal hidup lebih lama lagi, tapi Bapak puas…soalnya udah ngerasain kehangatan dari Non” katanya terputus-putus.
    Sherin tetap diam tak bersuara apapun sejak tadi, lalu dia menundukkan badan dan mendekatkan wajahnya ke wajah keriput pria itu. Bibir mereka bertemu, membuka dan beradu lidah seperti hari itu. Namun tiba-tiba Sherin menarik wajahnya dengan cepat. Pak Udin merasakan bantal di bawah kepalanya ditarik dan tak sampai sedetik benda itu sudah berpindah menutupi wajahnya. Sherin menekan bantal itu keras-keras membekap wajah pria itu. Tubuh tua itu meronta tapi tak lama sebelum akhirnya diam tak bergerak. Setelahnya barulah Sherin melepaskan bantal itu, mata pria membuka dengan tatapan kosong, nafasnya sudah tak terdengar lagi. Sherin menaruh kembali bantal itu dibawah kepalanya.
    “Salam buat iblis di neraka” katanya sambil menutup mata pria itu.
    Setelah menyisir rambutnya, iapun keluar dari kamar itu dengan hati puas telah membalaskan dendamnya. Keluarga Pak Udin di kampung menerima santunan dari keluarga Sherin dan mereka menerima dengan ikhlas kematiannya yang mereka anggap sebagai kecelakaan kerja itu.

  • Nightmare Sidestory: Campus SAL (Sex After Lunch)

    Nightmare Sidestory: Campus SAL (Sex After Lunch)


    139 views
    Rania

    Cerita Maya | Hari itu jam sebelas kurang di gedung administrasi pusat Universitas ******. Nampak beberapa orang sedang berdiri di depan pintu lift. Tak lama kemudian pintu lift sebelah kiri yang menuju ke atas membuka, lima orang masuk sedangkan sisanya menunggu lift berikut karena berlawanan jurusan.
    “Tunggu-tunggu, sori tahan bentar !” kata seorang wanita dari luar sambil berlari-lari kecil menuju lift yang pintunya sudah mau menutup itu.
    Seorang pria dari dalam yang dekat tombol lift menahan tombol open sehingga wanita muda itu tidak ketinggalan lift. Setelah pintu menutup lift pun bergerak ke atas. Di lantai tiga seorang wanita 30an dan seorang pria yang berseragam staff administrasi keluar. Lift naik lagi hingga berhenti di lantai lima dimana pria yang menahan pintu lift tadi turun dan di tingkat berikutnya seorang mahasiswi turun, sepertinya dia hendak mengurus biaya kuliah karena di tingkat itu adalah ruang bagian keuangan. Maka kini di lift tinggal dua orang saja, yaitu wanita muda tadi dan seorang pria tambun.

    “Emmm…Bu Rania yah !” sapa pria tambun itu sehingga si wanita menoleh ke belakang dan agak kaget bagimana pria ini mengenal dirinya.
    Rania memang mengenal pria ini sebagai Pak Dahlan, kepala fakultas arsitektur, tapi hanya sekedar tahu saja karena mereka tidak pernah berhubungan karena jurusan berbeda dan Rania juga hanya dosen muda dan hubungannya dengan dosen fakultas lain tidak terlalu luas. Sekarang ini dirinya sedang hendak mewakili kepala jurusaannya yang berhalangan hadir untuk mengikuti rapat umum di ruang rapat lantai 12.

    “Mau rapat Bu ?” tanya pria itu.
    “Eengg…iya…iya Pak” Rania tersenyum kecil menjawabnya lalu berbalik lagi menatap indikator lift.
    Walaupun bersikap sopan, namun Rania merasa tidak nyaman berada satu lift dengan pria ini, entah mengapa instingnya mengatakan demikian, dia merasa lift berjalan lambat sekali. Firasat tidak baik itu terbukti ketika tiba-tiba ada tangan dari belakang menepuk pantatnya dan meremasnya. Spontan Rania pun kaget dan membalikkan badan.
    “Kurang ajar ! apa-apaan sih Pak !” bentaknya dengan marah.
    “Hehehe…memangnya kenapa Bu, Pak Imron aja boleh kan ?” ujar Pak Dahlan enteng.
    Rania tertegun seperti disambar petir mendengar perkataaan pria itu.
    “A-apa, apa…Bapak ngomong apa ?” suaranya terasa berat karena terkejut.
    “Nah kan bener, dari reaksinya aja saya tau tuh”
    “Gimana mungkin dia tau ?” Rania bertanya dalam hati dan menyesal karena tidak bisa menahan rasa nervousnya.
    “Maksud Bapak apa…saya peringatkan jangan macam-macam Pak !” gertaknya menutupi rasa gugup.
    “Ah, Ibu ini masa gak ngerti sih maksud saya apa ? kita kan sudah sama-sama dewasa Bu” katanya sambil mendekat dan meraih lengan Rania “saya sudah tau semua Bu, masa sih ada dosen main lesbian sama mahasiswinya hehehe…!”
    “Bapak mengancam saya ya !” bentak Rania sambil menyentak tangannya. Cerita Maya

    ‘Ting !’ lift sampai ke lantai 12 yang dituju sehingga keduanya menjaga sikap agar tidak terlihat mencurigakan.
    “Pikirkan lagi yah Bu, saya dengar keputusannya setelah rapat” katanya pelan sambil berjalan keluar dari lift dan sempat mencolek pantat Rania.
    “Huh…bangsat nih orang !” makinya dalam hati.
    Disana sudah cukup banyak orang berkumpul, sebagian sudah menempati kursinya di ruang rapat, sebagian lainnya masih di luar ngobrol-ngobrol dengan rekannya atau merokok. Walau hatinya galau, Rania berusaha agar dapat tersenyum dan berbasa-basi bila ada orang menyapanya. Rapat pun akhirnya dimulai, Rania tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada hal yang dibahas karena terganggu oleh yang satu itu. Dia membalas senyum Pak Dahlan yang duduk berseberangan dengannya itu dengan pandangan tajam, rasanya ingin melempar botol air mineral mejanya ke wajah pria itu kalau saja emosinya meledak. Hatinya makin membara ketika Pak Dahlan angkat bicara, pria itu jelas sedang menyindirnya di depan dosen-dosen lain dengan berlagak sok bermoral.
    “Hhh…saya rasa kampus kita ini perlu merevisi tata-tertib agar lebih ketat, soalnya belakangan ini saya dengar mahasiswa-mahasiswa kita ini makin nggak karuan tingkah lakunya, mau jadi apa bangsa kita kalau moralnya begini…yang lebih gila saya pernah dengar…ini nggak tau benar atau nggak ya…dosen juga ada yang kebawa-bawa”
    Rania menjaga sikapnya senormal mungkin agar para peserta rapat tidak curiga, padahal dalam hatinya ia benar-benar marah pada pria itu, atas sikapnya yang kurang ajar dan kemunafikannya yang memuakkan.

    Jam 12.15 rapat dihentikan sementara untuk jam makan siang dan akan dilanjutkan jam 1.00. Rania buru-buru keluar dari ruang itu bersama dua dosen wanita lainnya yang mengajaknya makan siang bersama. Dia berharap dengan begitu dapat terhindar dari Pak Dahlan sementara pria itu juga masih berbincang-bincang dengan seorang dosen lain di ruang rapat.
    “Aduh lama banget sih ! cepetan dong !” serunya dalam hati karena merasa cemas pria itu akan menyusulnya.
    Lift makin naik, namun ketika baru menunjukkan tiba di lantai 10, tiba-tiba terdengar dari belakang namanya dipanggil, suara itu dikenalnya dan tidak diharapkannya.
    “Bu…Bu Rania tunggu sebentar, saya harus bicara dengan ibu sebentar !” panggil Pak Dahlan, “Eh…maaf ngeganggu bentar yah…udah pada pengen makan yah ?” sapanya pada dua dosen wanita yang bersama Rania.
    Rania tidak mungkin bersikap judes padanya disitu karena justru akan mengundang kecurigaan orang.
    “Oh…iya Pak ada apa yah ?” tanyanya dengan sikap ramah dibuat-buat.
    “Hhmm…kalau Bu Nia buru-buru ya udah nggak apa-apa deh, hanya masalah yang terlewat saja kok, saya pikir bisa dibahas sekarang supaya Ibu lebih nyantai, nggak repot lagi ntar !” nada bicara Pak Dahlan begitu kebapakan dan berwibawa bila di depan umum seperti ini, sungguh pandai dia menutupi tabiat mesumnya.

    Rania tahu apa yang dimaksud ‘repot’ oleh pria tambun itu sehingga dengan terpaksa dia memilih berbicara dulu dengan pria itu dan menyuruh kedua rekannya pergi makan siang tanpa dirinya.
    “Maaf yah…saya ada urusan sebentar, kalian duluan aja deh ga usah nunggu saya, ini ada urusan dikit. Biasalah kalau mewakili orang jadi banyak yang harus diomongin hehehe…!” katanya pada kedua dosen itu.
    “Ya udah deh Bu Nia, kita duluan deh kalau sempat nyusul saja yah di seberang !” kata dosen wanita yang gemuk itu sebelum masuk ke lift.
    Begitu pintu lift menutup senyum di wajah Rania langsung berganti dengan wajah masam yang diarahkan pada pria itu.
    “Ada apa sih Pak ?” tanyanya ketus.
    “Hehe…jangan galak gitu Bu, nggak enak kalau ada yang liat, gimana nih jadi keputusannya ?” tanyanya kalem.
    “Saya benar-benar ga nyangka kalau anda itu begitu menjijikkan !” Rania melipat tangan dengan memandang jijik padanya.
    “Jadi menurut Ibu kalau ada dosen main lesbian sama mahasiswinya itu ga menjijikkan” balas Pak Dahlan.
    Rania sudah mau menjerit dan menampar pria ini kalau saja dia tidak ingat di ruang rapat sana masih ada orang sehingga dia hanya bisa mengepalkan tangan dan menggigit bibir untuk melampiaskan kekesalan.

    “Ya itu sih terserah sama Ibu saja kok, saya nggak suka maksa orang, paling akibatnya Ibu tanggung saja nanti” kata pria itu dengan tenang, “ah…sekarang saya mau ke toilet dulu nih, kalau Ibu mau nyusul aja yah ke lantai 14″
    Pria itu lalu melangkahkan kaki menuju ke tangga. Rania diam terpaku, hatinya gelisah tidak tahu apa yang harus diperbuat.
    “Lho…Bu lagi ngapain sendirian ? Kok belum turun ?” sebuah suara dari belakang membuyarkan lamunannya.
    Pak Budi, si rektor universitas menyapanya dengan ramah, bersamanya juga ada dua orang staff rektorat dan seorang dekan yang keluar belakangan.
    “Oh, ini Pak baru nelepon ke rumah, jadi belum sempat turun !” balasnya menyapa dengan senyum dipaksa.
    “O gitu, ya udah kita turun bareng sekarang !” ajak Pak Budi pas ketika lift membuka.
    “Eehh…saya nanti aja Pak, kalian duluan aja, saya masih harus nelepon lagi, ada masalah keluarga” kata Rania terbata-bata seraya mengambil ponselnya pura-pura mau menelepon.
    “Ibu baik-baik aja kan ? masalahnya tidak serius kan ?” tanya staff rektorat, seorang wanita paruh baya.
    “Nggak, nggak apa-apa kok, biasa masalah di rumah, ntar juga bisa selesai kok. Iya…gak apa-apa !” jawabnya.
    “Ya udah Bu, semoga cepat selesai deh, kita duluan ya !” pamit Pak Budi sebelum masuk lift.

    Setelah lift menutup tinggallah dia sendirian di lantai itu dan kembalilah kegelisahan itu melandanya. Sepertinya tidak ada pilihan lain baginya selain menuruti apa yang diminta si dosen bejat itu, lagipula dirinya toh sudah ternoda dan dua bulan terakhir ini sudah beberapa kali terlibat hubungan seks dengan Imron, si penjaga kampus, apa bedanya bila melakukannya dengan Pak Dahlan daripada pria itu nanti ‘bernyanyi’ dalam rapat yang malah mempermalukannya di depan umum. Maka Rania melangkahkan kakinya menuju tangga ke atas ke lantai 14. Lantai 13 gedung itu kosong belum terpakai, sementara ini hanya berfungsi sebagai gudang. Lantai 14 adalah lantai teratas sebelum atap gedung, disana terdapat teater yang biasanya dipakai untuk acara seminar, drama, atau pertunjukkan. Namun dihari-hari biasa tempat itu sepi hampir tidak ada yang mengunjungi sampai suara langkah kakinya yang memakai sepatu hak terdengar. Rania menuju ke toilet di lantai itu yang tadi disebutkan oleh Pak Dahlan. Semakin mendekati tempat itu, langkahnya terasa makin berat dan detak jantungnya semakin cepat. Di lorong itu terdapat tempat rias dan cermin-cermin besar tempat make-up, biasanya dipakai untuk persiapan drama. Pada salah satu sisi lorong tersebut nampak sebuah toilet pria yang lampunya menyala. Ia membuka pintu toilet itu dengan tangan bergetar.
    “Ah…Bu Nia, hampir saja saya pergi, kirain Ibu nggak jadi datang” sapa Pak Dahlan yang sedang mencuci muka di wastafel, dia hanya melihat dari cermin tanpa membalikkan badan.
    “Sudahlah Pak nggak usah basa-basi lagi, saya gak ada banyak waktu untuk anda !” ujar Rania ketus.

    “Santai aja Bu, masih ada waktu setengah jam-an kok” pria itu membalik badan dan berjalan menghampirinya.
    Rania nampak tegang sekali, beberapa kali dia menelan ludah, punggungnya bersandar pada tembok karena kakinya agak gemetar. Pak Imron meraih saklar yang terletak di sebelah Rania dan mematikan lampu. Ruang dengan dengan dua toilet bersekat itu kini hanya diterangi oleh sinar matahari dari ventilasi di atasnya.
    “Nah…begini lebih romantis suasanya, biar lebih enak” katanya sambil menyandarkan telapak tangan kiri di sebelah kepala Rania.
    Jarak mereka kini begitu dekat sehingga Rania bisa merasakan hembusan nafas Pak Dahlan pada wajahnya, pria itu lebih pendek sedikit darinya.
    Rania menepis tangan pria itu ketika hendak meraba dadanya.
    “Kenapa Bu ? bukannya udah biasa, kalau berubah pikiran ya udah kita keluar aja”
    “Bajingan !” umpatnya dalam hati.
    Dengan berat hati diapun membiarkan dadanya dipegang oleh Pak Dahlan. Pria itu juga mengendusi daerah leher yang tertutup sedikit oleh rambut panjangnya. Bau badan Rania yang bercampur parfum menaikkan birahinya sehingga bibir tebalnya langsung menciumi pipi dosen muda itu. Rania memejamkan mata menahan jijik, kumis pria itu menyapu wajahnya yang mulus. Dia memalingkan muka ke arah lain ketika bibir pria itu makin merambat ke bibirnya.
    “Jangan…emmhh !” baru mau memalingkan wajah kedua kalinya, Pak Dahlan sudah melumat bibirnya dan meredam protesnya.

    Spontan bulu kuduk Rania berdiri karena jijik, dia meronta berusaha melepaskan diri, namun entah mengapa ada hasrat menggebu-gebu yang menginginkan tubuhnya dimanja sehingga perlawanannya pun hanya setengah tenaga. Bibirnya yang tadinya dikatupkan rapat-rapat mulai mengendur sehingga lidah pria itu masuk dan bermain-main dalam mulutnya. Perasaan Rania campur aduk antara marah, jijik dan terangsang, apalagi Pak Dahlan terus menggerayangi tubuhnya dari luar pakaian. Berangsur-angsur rontaannya berkurang hingga akhirnya pasrah menerima apapun yang dilakukan pria itu. Rania mulai membalas cumbuan pria itu, lidahnya kini bertautan dengan lidahnya. Desahan tertahan terdengar di antara percumbuan yang makin panas itu. Merasa lawannya telah takluk, pria itu mempergencar serangannya. Blazer krem itu dilucutinya, Rania sendiri secara refleks menggerakkan tangannya membiarkan blazer itu terlepas dari tubuhnya sehingga tinggal tank-top ungu yang membalut tubuh atasnya. Pak Dahlan menggantungkan blazer itu pada gagang pintu tanpa melepas ciumannya. Tubuh mereka berdekapan begitu ketat, Rania dapat merasakan benda keras dari balik celana Pak Dahlan mengganjal selangkangannya. Tangan Pak Dahlan yang tadinya cuma meremas payudara dari luar mulai menyusup masuk lewat bawah tank topnya langsung menyusupi cup branya dan tangan satunya masih tetap meremasi pantatnya.

    “Eennghh !” Rania makin mendesah merasakan jari-jari besar itu menyentuh putingnya serta memencetnya.
    Lidahnya semakin aktif membalas lidah Pak Dahlan hingga masuk ke mulut pria itu menyapu rongga mulutnya, tangannya pun tanpa disadari memeluk tubuh tambunnya. Nafasnya makin memburu dan gairahnya makin naik. Mulut Pak Dahlan turun ke dagunya, bawah telinga, dan leher. Rania agak lega bisa mengambil udara segar walau dengan nafas putus-putus. Pak Dahlan memutar tubuh Rania menghadap tembok sehingga wanita itu bertumpu disana dengan kedua lengannya. Ia juga menyibakkan rambut Rania ke sebelah kiri sehingga mulutnya dapat dengan leluasa menciumi leher, pundak, dan bahunya yang terbuka. Tangan pria itu yang satu lagi ikut menyusup lewat bawah tank topnya sehingga kini pakaian itu setengah tersingkap. Sambil mempermainkan kedua payudara wanita itu, Pak Dahlan menciumi leher jenjangnya. Dengan penuh penghayatan disedotnya kulit leher samping yang putih mulus itu.
    “Sshhh…jangan terlalu depan Pak…eeemm…ntar bekasnya keliatan” Rania mengingatkannya dengan suara lirih.
    “Gak usah kuatir Bu, saya juga ngerti kok, lagian Ibu kan rambutnya panjang bisa buat nutupin” katanya.
    Rania semakin mendesah, pipinya bersemu merah ketika merasakan lidah pria itu yang basah pada telinganya, menggelitik dan memancing gairahnya.

    “Sudah Pak…jangan disitu !” Rania semakin mendesah waktu Pak Dahlan hendak merogohkan tangannya lewat atas celana panjangnya..
    Rania menggerakkan tangannya menahan tangan pria itu yang ingin masuk. Namun penolakan itu dilakukannya hanya dengan setengah hati karena walaupun merasa dilecehkan di saat yang sama dia juga sudah terhanyut dalam pemanasan yang dilakukan dengan cemerlang oleh Pak Dahlan. Gaya Pak Dahlan yang gentle sangat membuatnya terbuai, berbeda dengan gaya permainan Imron, si penjaga kampus, yang cenderung kasar. Pak Dahlan memang berpengalaman dan tahu persis bagaimana menundukkan wanita secara seksual sehingga Rania yang seorang dosen terhormat pun ingin menikmati buaiannya lebih jauh. Setelah menyentakkan perlahan tangannya pegangan Rania pun lepas dan langsung ia menyusupkan langannya ke balik celana wanita itu. Pak Dahlan merasakan bulu-bulu lebat yang tumbuh pada permukaan vaginanya juga sedikit basah pada bagian belahannya.
    “Oohh…mmmhh…tolong hentikan !” desahnya antara mau dan tidak.
    Desahan itu membuat Pak Dahlan semakin bernafsu, dengan nakal jari-jari besarnya menggerayangi daerah sensitif itu. Mulutnya mencaplok bahu kanan wanita itu sambil menjilat dan mengisapnya dan tangannya yang sejak tadi bercokol di payudara makin gencar menyerang. Payudara 34B itu diremas-remas, putingnya dipilin-pilin atau kadang digesek-gesekan dengan jarinya sehingga benda itu makin keras saja.

    Pak Dahlan melebarkan kedua paha Rania dengan menggeserkan telapak kakinya sehingga dapat lebih menjelajahi vaginanya lebih luas. Tubuh Rania tersentak saat jari pria itu memasuki liang vaginanya dan mulai mengorek-ngoreknya. Digesek-geseknya klentitnya dengan jari sehingga membuat wanita itu semakin seperti cacing kepanasan.
    “Aahh…aahh…saya mohon…nngghh….jangan teruskan” desahnya.
    “Hehehe…Ibu ini masih pura-pura aja, udah becek gini masih sok suci” ejek Pak Dahlan.
    Rania yang sudah pasrah hanya bisa mendesah saja merasakan jari-jari pria itu mengaduk vaginanya. Lima menit Pak Dahlan merogoh-rogoh celana dalam Rania dengan diselingi beberapa ciuman lalu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Nampak lendir kewanitaan Rania membasahi jari-jari besar itu.
    “Hhhmm…enak, lendir yang enak !” katanya sambil mengemut jari tengahnya, “lihat ini Bu, banyak gini cairannya” didekatkannya tangannya ke wajah wanita itu.
    Rania yang merasa tanggung karena hampir mencapai orgasme menurut saja ketika pria itu meletakkan jarinya yang belepotan itu di bibirnya untuk diemut. Diemutnya jari itu dan dirasakannya lendir kewanitaannya sendiri, ini bukan yang pertama kali baginya karena Imron pun pernah menyuruhnya demikian sehingga tidak ada rasa ragu ataupun risih lagi dalam melakukannya.
    “Wah…wah…pinter juga Ibu nyenengin laki-laki, baru emut jari aja udah enak gini, gimana kalau emut kontol” kata Pak Dahlan.
    Kata-kata itu membuat Rania merasa dilecehkan namun juga membuatnya bergairah.

    Kemudian Pak Dahlan menyuruh dosen muda itu berlutut di hadapannya. Dengan agak buru-buru dia membuka sabuknya dan menurunkan resletingnya. Setelah celananya melorot jatuh dia menurunkan celana dalamnya mengeluarkan penisnya yang telah tegang. Rania terperangah melihat penis hitam yang berdiameter lumayan besar itu, pangkalnya ditumbuhi bulu-bulu lebat, kepalanya seperti jamur kemerahan menyembul dari kulupnya yang bersunat.
    “Ayo Bu jangan bengong gitu, waktunya mepet nih !” sahut pria itu membuyarkan lamunannya.
    Dia menggenggam batangnya dan menyodorkannya ke wajah wanita itu. Dengan ragu-ragu Rania menggerakkan tangannya memegang batang itu. Dia tahu pria itu menginginkan dirinya melakukan oral pada penisnya, maka tanpa menunggu perintah lagi dia mengocok perlahan batang itu dan membuka mulut menjilati permukaan batang itu. Pria itu menarik nafas panjang dan melenguh merasakan sapuan lidah Rania pada penisnya. Sejak menjadi budak seks, kemampuan Rania dalam berhubungan seks termasuk oral semakin meningkat dari hari ke hari. Dia semakin menikmati seks walaupun hubungan itu bertentangan dengan hati nuraninya karena dilakukan dengan paksaan, dengan tunangannya saja dia baru pernah sebatas petting bahkan melihat penisnya saja belum pernah, namun dengan lelaki yang dibencinya telah berbuat sejauh ini, ironisnya malah terbuai dalam kenikmatan terlarang itu.

    Setelah menjilati penis Pak Dahlan hingga basah oleh liurnya, Rania mulai memasukkan benda itu ke mulutnya.
    “Uuuhh…iya, gitu Bu…isap terus !” Pak Dahlan mendesah keenakan.
    Rania bekerja keras mengulum dan memainkan lidahnya pada batang itu yang terasa sesak di mulutnya yang mungil. Benda itu bergetar setiap lidah Rania menyapu kepalanya. Pak Dahlan yang merasa nikmat itu memaju-mundurkan pinggulnya secara perlahan seperti gerakan menyetubuhi.
    “Mmmm…enak sekali Bu, ga salah kata si Imron !” lenguhnya sambil meremasi rambut Rania.
    “Iyah Bu…dikit lagi…terus aaahh…saya mau keluar di mulut Ibu !” erang pria itu setelah sepuluh menitan Rania mengoral penisnya.
    Tak lama kemudian, Pak Dahlan mencapai puncak kenikmatannya dengan mengeluarkan cairan putih kental dari penisnya. Cairan hangat itu menyemprot di dalam mulut Rania yang langsung ditelannya agar tidak terlalu terasa di mulut. Cairan itu meleleh sedikit di ujung bibirnya karena mulutnya terasa sesak sehingga tidak bisa menelan dengan sempurna. Penis itu semakin menyusut seiring semprotannya yang semakin lemah. Akhirnya dia melepaskan penisnya dari mulut wanita itu. Rania merasa pegal pada mulutnya karena sesak dan harus bekerja keras sejak tadi, dia juga nampak terengah-engah mengambil udara segar.

    “Bagus Bu, awal yang bagus…kita akan lanjutkan setelah rapat” kata Pak Dahlan sambil membenahi celananya, “yuk kita turun, sudah mau mulai lagi !”
    “What…lagi ? jadi ini baru awal ?” kata Rania dalam hatinya.
    “Saya turun duluan yah Bu, Ibu beres-beres aja dulu, masih lima menit lagi kok” katanya, “dan…kalau masih mau terus saya tunggu di ruang saya setelah rapat” sambungnya lagi sebelum menutup pintu meninggalkannya sendirian di ruang itu.
    Rania berdiri dan merapikan lagi pakaiannya yang tersingkap sana-sini, dipakainya kembali blazernya. Kemudian dia berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan dan berkumur-kumur. Setelah memoles kembali bibirnya dengan lipstik dan menyisir rambutnya, diapun keluar dari sana dan kembali ke ruang rapat. Perasaan kesal sekaligus terangsang melingkupi dirinya. Untuk sementara hal tersebut terabaikan karena di sesi kedua rapat ini ia harus mencatat beberapa hal penting yang harus dia sampaikan pada kepala jurusannya. Rapat baru bubar pada pukul setengah dua.
    “Saya tunggu di ruang saya yah Bu, lantai tiga gedung arsitektur” kata Pak Dahlan yang menghampirinya yang sedang membereskan barang-barangnya.
    “Gak bisa sekarang Pak saya masih ada urusan !” jawab Rania ketus namun pelan agar tidak memancing pelan.
    “Jadi jam berapa Bu ?”
    “Gak tau ah, sejam lagi aja, saya sibuk, permisi !” jawabnya sambil bangkit berdiri dan melengos begitu saja dengan sikap judes.

    Rania turun ke kantin bawah dan membeli makan. Perutnya terasa lapar sekali karena jam makan siangnya tertunda gara-gara dosen bejat itu. Setelah selesai makan dia kembali ke ruang dosen fakultasnya untuk menyelesaikan tugasnya yaitu membereskan sisa koreksian hari itu. Setelah pekerjaan itu beres dalam waktu duapuluh menit, hal yang mengganjal pikirannya itu datang lagi. Benar-benar bingung memikirkannya, kok rasanya dirinya yang terpelajar ini sudah tidak beda dari pelacur, apa yang akan dikatakan pada tunangannya nanti setelah pria itu kembali dari studinya di luar negeri, apakah dia masih sanggup menatap wajah kekasihnya itu dengan keadaan sudah ternoda seperti sekarang. Pikiran-pikiran seperti itu seringkali mengusiknya, namun ketika harus menunaikan kewajibannya sebagai budak seks dia justru terlarut di dalamnya, tidak bisa untuk tidak menikmati, bahkan terkadang hasrat liar itu muncul sendiri dari dalam dirinya.
    “Hai Nia…kamu nggak enak badan ?” tanya seorang dosen pria melihatnya melamun dengan menyandarkan kepala pada kedua telapak tangan.
    “Eehh…nggak…ga papa kok Ton, baru nyelesaiin koreksian aja, capek dikit hehe !” jawabnya berkelit.
    Merasa tidak ada lagi yang perlu dikerjakan akhirnya Rania membereskan barang-barangnya untuk pulang, tentunya sebelumnya ia harus menyelesaikan tugas terakhirnya…melayani Pak Dahlan. Dia pun berpamitan pada beberapa rekan dosen yang masih ada di ruang itu dan keluar dari situ.

    Baca Juga Cerita Seks Beware of Whom You Rape

    Dengan jantung deg-degan dan langkah berat ia berjalan menuju ke ruang kerja pria itu di gedung fakultas arsitektur. Diketuknya pintu ruang itu sesampainya di sana.
    “Iya…masuk aja !” terdengar suara dari dalam yang dikenalnya.
    “Bu Nia…saya sudah lama menunggu” sapa pria itu dari balik meja kerjanya “tolong ya Bu pintunya sekalian dikunci dan tirainya tutup yah, supaya nyaman !”
    Rania membanting pantatnya ke sofa setelah menutup tirai. Pak Dahlan tersenyum dan menghampirinya, dia duduk di sebelah Rania dan melingkarkan tangannya ke bahu dosen muda itu.
    “Minum dulu Bu !” katanya menawarkan segelas air yang sebelumnya diambil dari dispenser, “sebelumnya saya ingin mengenal Ibu lebih dalam dulu, eehhmm…apa Ibu sudah punya pacar ? selama ini saya lihat Ibu selalu datang dan pulang sendiri”
    “Itu bukan urusan Bapak, apa kita bisa cepat dikit ? saya capek, mau pulang !” sahut Rania dengan hambar sambil meletakkan gelasnya di meja.
    “Aduh, Ibu ini kok ketus banget ke saya ? Oh…iya gimana Bu hubungannya sama si Imron, gimana kesan-kesan Ibu ?” tanyanya lagi.
    Rania benar-benar kesal dengan sikapnya yang menyebalkan itu, apalagi ketika mengungkit-ungkit tentang yang terakhir itu. Dia menoleh menatap wajah pria itu.
    “Pak please yah, saya udah bilang saya nggak banyak waktu, kenapa sih gak to the point aja !” sehabis berkata dia langsung mendorong dada pria itu dengan kedua tangannya hingga tubuh tambun itu terjungkal ke belakang.

    Sebelum Pak Dahlan sempat bangun, Rania sudah berada diatas tubuhnya dan memeluknya. Bibirnya langsung menempel di bibir tebal pria itu menciuminya dengan ganas. Rasa kesal bercampur gairah yang masih tersisa dari pemanasan tadi siang membuatnya nekad mengambil inisiatif memulai duluan. Yang diinginkan pria ini toh hanya tubuhnya, kenapa sih harus buang-buang waktu sampai mengungkit-ungkit masalah pribadi segala, demikian pikirnya. Entah setan apa yang merasukinya sehingga menjadi seliar itu, mungkin dengan cara demikianlah ia melampiaskan kekesalannya. Sambil terus berciuman ia menggesekkan dadanya yang menempel dengan dada pria itu, bukan itu saja, ia juga menggerakkan tangannya menjamah selangkangan serta mengelus-elusnya. Perlahan benda di balik celananya itu makin mengeras.
    “Hoo…ho…ga usah nafsu gitu Bu, santai saja !” gumamnya perlahan.
    “Sudahlah Pak, nikmati saja atau tidak sama sekali” bisik Rania dengan suara sedikit mendesah di dekat telinganya.
    Di bawah sana Rania telah membuka resleting celana pria itu dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang dari lubang resleting itu. Wajah pria itu menunjukkan ekspresi nikmat akibat belaian tangan Rania pada penisnya. Rania menegakkan tubuhnya sejenak untuk melepaskan blazernya. Setelah melempar blazer itu ke sofa pendek di samping, dia menggeser tubuhnya ke bawah, disana ia membungkuk dan memasukkan penis itu ke mulutnya. Di dalam mulut benda lidahnya bermain-main memanjakan benda itu, sesekali disertai hisapan.
    “Ooohh…Bu Nia, anda ngapain…uughh !” erang Pak Dahlan yang masih bengong dengan perubahan sikap Rania.

    Rania sendiri tidak tahu kenapa dirinya menjadi senekad ini, yang jelas dia merasa gairahnya menggebu-gebu. Hal yang sering dialaminya sejak menjadi budak seks, kadang pelecehan dan kata-kata yang merendahkannya justru memancing gairahnya. Benci dan birahi bercampur membentuk gairah yang liar seperti yang sekarang ini. Ia mengisapi kepala penis Pak Dahlan yang bersunat itu tanpa canggung, kadang lidahnya menjilati ujungnya sehingga pria tambun itu belingsatan keenakan.
    “Aarghh…saya…mau keluar, stop dulu Bu…stop !” erang pria itu.
    Pak Dahlan bangkit dan mengangkat tubuh Rania yang sedang mengoralnya serta mendorongnya ke belakang hingga terbaring di sofa. Kini pria itu berada di atas tubuhnya, wajah mereka saling bertatapan dalam jarak kurang dari sejengkal.
    “Itu yang anda mau kan ? bangsat !” ujar Rania dengan sinis.
    “Hehehe, Ibu memang pintar, saya yakin kita bakal sama-sama puas, saya sudah sering main sama mahasiswi, tapi baru kali ini sama dosen” katanya sambil mengelus pipi wanita itu.
    “Dasar serigala berbulu domba, anda tidak malu dengan kelakuan anda hah !?”
    “Kenapa harus malu, toh mereka yang datang pada saya, saya hanya menyetujui tawaran saja, lagipula mereka juga enjoy kok” jawabnya santai, “jangan munafik Bu, manusia butuh seks, toh Ibu sendiri juga menikmati kan, apakah bercumbu dengan mahasiswi dan terlibat seks dengan penjaga kampus tidak memalukan bagi Ibu”
    “Lebih baik cepat selesaikan nafsu iblis anda” tidak ingin mendengar ocehan pria itu lebih panjang, Rania langsung melumat bibir tebal pria itu begitu menyelesaikan kata-katanya.

    Sambil berciuman pria itu menyingkap tank-top Rania beserta bra tanpa tali bahunya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya ketika jari-jari besar itu memencet putingnya. Pak Dahlan menggeser bibirnya menciumi leher jenjang itu terus turun hingga ke payudaranya. Sebelum menikmati kedua gunung kembar itu, dia melepaskan terlebih dulu kait bra itu lalu menjatuhkannya ke lantai. Mata pria itu memandang nanar pada payudara 34B dengan puting kemerahan itu. Kedua tangannya langsung meremas sepasang daging kenyal itu, lidahnya menjilati melingkar di daerah areolanya lalu menyentil-nyentil benda mungil yang sensitif itu sehingga pemiliknya tidak bisa menahan desahan. Tangannya yang satu merayap ke bawah melepaskan sabuk Rania, lalu melepaskan kancing celananya disusul resletingnya.
    “Aaahh…aahhh…Pak !” desah Rania dengan nikmatnya ketika pria itu mengenyoti putingnya sambil merogohkan tangannya ke balik celana dalamnya.
    Kedua matanya terpejam sambil menggigit bibir bawah, tangannya meremas-remas rambut Pak Dahlan yang sedang asyik menyusu darinya. Dengan penuh perasaan Pak Dahlan meremas, menciumi dan menjilati kedua payudara Rania secara bergantian. Hal ini membuat birahi Rania bergolak hebat, dia tak bisa menyangkal bahwa pria yang dibencinya ini telah sanggup membuatnya serasa terbang. Setelah puas menyusu, Pak Dahlan bangkit sebentar untuk melepaskan pakaiannya sendiri. Rania memandangi tubuhnya yang gempal hitam dengan sedikit bulu di dadanya itu, penisnya mengacung tegak diantara kedua pahanya.

    Setelah membuka pakaiannya pria itu melepaskan sepatu yang dipakai Rania lalu melepaskan celana panjangnya. Sepasang pahanya yang panjang dan putih mulus itu kini tidak tertutup apa-apa lagi, yang masih tersisa di tubuhnya hanya tank-top yang sudah tersingkap dan celana dalam pink berenda. Pak Dahlan memandang tubuh seksi itu dengan bernafsu dan mengelusinya.
    “Paha yang indah, benar-benar indah !” pujinya sambil mengelus paha itu dengan tangan bergetar.
    Darah Rania berdesir seiring dengan sentuhan erotis itu dan terpaan AC yang langsung mengenai tubuhnya. Pria itu juga memberi kecupan-kecupan ringan dan jilatan pada kulit pahanya yang mulus. Perlahan-lahan ia memeloroti celana dalam itu hingga lepas. Tangan pria itu terus menggerayangi tubuh Rania dengan lihainya, memberinya sensasi nikmat pada setiap daerah sensitif. Kemudian didorongnya tubuh dosen muda itu ke belakang hingga mentok ke sandaran tangan pada sofa itu. Rania kini duduk menyamping di sofa itu. Pak Dahlan melebarkan sepasang pahanya lalu merunduk serta mengarahkan wajahnya ke selangkangan wanita itu.
    “Aakkhh” desah Rania sambil menggeliat begitu lidah Pak Dahlan menyapu bibir vaginanya.
    Lidah itu terus bergerak masuk menyentuh bagian lebih dalam dari vaginanya. Kenikmatan makin menjalari tubuhnya membuat wajahnya memerah dan nafasnya makin memburu.

    Setelah lima menitan menikmati vagina Rania, Pak Dahlan memintanya melakukan posisi 69, yaitu saling mengoral kelamin pasangan dalam saat bersamaan. Rania yang sudah horny itu menurut saja disuruh naik ke wajah pria itu. Pak Dahlan meneruskan lagi jilatannya pada vagina wanita itu, kali ini sambil merasakan nikmatnya kuluman Rania pada penisnya. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati vagina Rania, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda SMS masuk. Ia mengambil ponsel itu dari kantong celananya yang diletakkan tidak jauh dari situ sementara tangan satunya tetap mengorek-ngorek vagina Rania. Hanya SMS dari sesama dosen ternyata yang memberitahukan masalah pekerjaan. Setelah selesai membaca SMS itu, Pak Dahlan memencet nomor lagi untuk menghubungi seseorang.
    “Hoi, Ron pakabar nih ?” sapanya pada orang disana.”saya sekarang lagi sama Bu Rania nih, itu tuh dosen yang lu kasih tau Rabu kemaren”
    Ternyata dia menghubungi Imron untuk memberitahukan keberhasilannya menggaet dosen muda itu.
    “Enak banget loh Ron sepongannya, wuih…yahud !” katanya di telepon.
    “Bener kan Pak apa kata saya juga, dosen juga manusia kalau udah terangsang ya ga beda sama lonte hahaha !” kata Imron di telepon.
    “Dasar dua bajingan tengik !” maki Rania dalam hati, dia memperkuat hisapannya sebagai pelampiasan.

    “Uooh…gila nih Ron, kontol gua lagi diisep, enak banget !” katanya “eh, mau bergabung ga, udah jam segini nyantai kan ?” tawarnya.
    “Ohh, ga deh Pak, enjoy aja dulu, saya juga lagi sibuk nih” jawab Imron “Uuhhh !” Pak Dahlan samar-samar mendengar suara desahan wanita di seberang sana.
    “Wahaha…lagi asyik juga toh lu Ron, itu suara apa tuh, hayo !”
    “Iyalah Pak biasa abis jam sibuk gini kan enaknya cari penyegaran dikit” jawab Imron yang saat itu sedang berbaring di dipan di ruangannya menikmati Joane yang sedang melakukan woman on top posisi memunggungi di atas penisnya.
    “Ya udah selamat bersenang-senang yah !”
    “Yok Pak sama-sama salam buat Bu Rania yah, hehe” balas Imron lalu dia menutup ponselnya.
    “Ayo manis, kita ganti gaya !” perintahnya sambil mendekap tubuh Joane yang pakaiannya telah tersingkap sana-sini.
    Dia lalu menindih tubuh gadis itu dan memasukkan kembali penisnya bersiap untuk gaya misionaris. Tapi agaknya kita harus meninggalkan Imron dan Joane karena episode ini bukanlah porsinya mereka. Yah, sebaiknya kita kini kembali pada Rania dan Pak Dahlan yang juga sedang berasyik-masyuk.

    Rania sedang menaik-turunkan kepalanya melayani penis Pak Dahlan. Dia merasakan jari Pak Dahlan bergerak memutar-mutar dalam vaginanya dan juga lidahnya yang nakal itu terus saja menjilati daerah kewanitaannya sehingga makin menaikkan birahinya. Vagina Rania makin berlendir karena terus-menerus dirangsang sedemikian rupa dan nampaknya pria itu sangat menikmati cairan itu yang dijlatinya dengan bernafsu. Ketika di ambang orgasme, sekali lagi dia menyuruh Rania berhenti mengulum, ia ingin menikmati tubuh wanita itu sepenuhnya sehingga tidak mau cepat-cepat keluar. Kini diperintahkannya Rania menaiki penisnya. Tidak terlalu sulit penisnya memasuki vagina itu karena sudah basah dan licin. Erangan Rania turut mengiringi proses penetrasi itu hingga akhirnya penis itu tertancap seluruhnya.
    “Mmhhh…enak Bu, memek Ibu legit sekali !” gumam Pak Dahlan merasakan himpitan dinding vagina Rania terhadap penisnya.
    Tanpa menghiraukan ocehan Pak Dahlan, Rania mulai menggoyangkan tubuhnya naik-turun. Sesekali ia meliukkan pinggulnya sehingga Pak Dahlan merasa penisnya seperti dipelintir. Secara refleks tangannya yang saling genggam dengan tangan pria itu membimbingnya ke salah satu payudaranya seolah meminta pria itu meremasinya. Pak Dahlan mulai memainkan payudaranya dan tangan satunya menelusuri tubuh yang molek itu, merasakan kulitnya yang halus dan lekuk tubuhnya yang indah. Rania sudah semakin hanyut dalam persetubuhan itu walaupun pada awalnya dilakukannya dengan terpaksa.

    “Yah…terus Bu, enak…terushh !” desah pria itu seiring genjotan Rania yang semakin liar karena semakin dikuasai birahi.
    Kemudian Rania menegakkan tubuhnya sejenak untuk melepaskan tank topnya yang tersingkap, satu-satunya pakaian yang masih tersisa, sehingga kini keduanya telanjang bulat. Dari bawah Pak Dahlan juga ikut menggerakkan pinggulnya, tumbukkan mereka yang saling berlawanan arah itu menyebabkan penis itu menusuk lebih dalam. Rania tidak menghiraukan yang lain lagi selain birahinya yang menuntut pemuasan, rasio, hati nurani, dan perasaan-perasaan lainnya untuk sementara terkubur.
    “Gimana Bu Nia ? Enak ga kontol saya ?” tanya Pak Dahlan yang merasa telah menaklukkannya.
    “Aahh…ahhh…enak Pak…terus…goyang terus Pak !” erang Rania tanpa malu-malu lagi.
    Tidak sampai sepuluh menit setelahnya, Rania mulai sampai ke puncak, otot-otot vaginanya berkontraksi dengan cepat dan makin basah. Dia menambah kecepatan goyangannya sehingga pria itu juga makin mendesah.
    “Oohhh !” Rania menggelinjang dahsyat di atas tubuh tambun Pak Dahlan.
    Selama beberapa saat tubuhnya menegang tak terkendali, dinding vaginanya makin meremasi penis pria itu sehingga diapun tak mampu menahan ejakulasinya.
    “Ooohh…saya juga keluar Bu !” erangnya menyambut gelombang orgasme, spermanya menyemprot deras mengisi vagina Rania.

    Tubuh mereka berangsur-angsur melemas kembali. Rania ambruk diatas tubuh Pak Dahlan dengan nafas tesenggal-senggal dan bersimbah keringat, penis itu masih menancap di vaginanya. Senyuman puas terlihat pada wajah pria itu karena berhasil menikmati dosen cantik bertubuh molek ini.
    “Hebat, enak sekali Bu, Ibu memang pintar memuaskan pria” kata Pak Dahlan sambil mengelus rambut panjang Rania yang agak bergelombang.
    “Persetan lah !” omel Rania dalam hati.
    Rania yang kesadarannya mulai pulih merasakan dirinya benar-benar kotor, dia ingin melawan namun tidak sanggup apalagi dalam keadaan seperti ini dan dibawah tekanan. Namun dia juga harus mengakui dirinya sangat menikmati persetubuhan dengan pria tambun yang umurnya dua kali lipat dirinya itu.
    “Misi bentar Bu, saya mau ambil minum dulu” sahut Pak Dahlan seraya menurunkan tubuh Rania hingga terbaring di sofa, lalu berjalan ke arah dispenser.
    Setelah minum seteguk, dia menyodorkan gelas yang tinggal setengah isinya itu pada Rania. Rania mengambil gelas itu lalu menggeser tubuhnya agak bersandar pada sandaran tangan. Air itu memberinya sedikit kesegaran pada tenggorokkannya yang terasa kering karena mendesah juga mengembalikan sedikit tenaganya.
    Pak Dahlan terus memperhatikan Rania sementara dia sedang meneguk minumannya, diperhatikannya lehernya yang jenjang itu berdenyut-denyut karena meneguk air, tubuh telanjangnya dengan payudara putih montok, perut rata, dan paha yang panjang dan mulus, semua itu membuat birahi Pak Dahlan kembali naik.

    Setelah air dalam gelas itu habis, Pak Dahlan mengambilnya dan meletakkannya kembali di atas meja. Didekapnya tubuh Rania dengan tangannya yang kokoh dan tangan yang satunya menyeka keringat di dahinya. Rania dengan ketus menepis tangan pria itu.
    “Gak usah sok sayang gitu, Bapak bukan siapa-siapa saya !” katanya ketus sambil menyeka sendiri keringat di dahinya.
    Pak Dahlan hanya senyum-senyum saja melihat reaksi Rania, karena dia malah senang dengan korban yang reaksinya sok jual mahal seperti ini. Kemudian dia meraih salah satu payudara wanita itu dan menundukkan kepala.
    “Oouucchh !” rintih Rania dengan wajah meringis karena Pak Dahlan menggigiti putingnya.
    Tubuh Rania menggeliat sambil tangannya mendorong-dorong kepala pria itu karena dia terus menggigiti putingnya dengan menggetarkan giginya, rasanya ngilu dan sakit, tapi juga…enak.
    “Aduh…aah…jangan terlalu keras Pak…aahh…sakit !” rintihnya sambil meremas-remas rambut pria itu.
    Pak Dahlan akhirnya melepaskan juga gigitannya pada puting Rania setelah beberapa saat kepalanya didorong-dorong hingga rambutnya agak acak-acakan. Dia tersenyum nakal melihat wajah Rania yang bersemu merah karena terangsang oleh gigitannya.

    Kemudian pria itu menundukkan kepalanya hendak mengarah ke payudaranya lagi.
    “Sudah Pak, jangan lagi…eeengghh !” ternyata kali ini bukan gigitan melainkan sapuan lidah yang diterimanya.
    Kali ini Rania merasa lebih nyaman setelah tadi putingnya sempat panas nyut-nyutan akibat gigitan pria itu. Jilatan-jilatan itu membuatnya kembali bergairah. Memang Pak Dahlan sangat lihai mempermainkan nafsu korban-korbannya sehingga mereka takluk padanya. Sambil terus menjilati putting itu, tangan Pak Dahlan merambat ke bawah menyentuh kemaluannya. Rania makin mendesah dan menggeliat saat jari-jari besar itu mengelusi bibir vaginanya. Pria itu naik ke sofa menindih tubuhnya, kali ini mulutnya naik mencupangi leher jenjangnya sambil tangannya terus mengorek-ngorek vaginanya. Tak lama kemudian Rania merasakan benda tumpul didorong-dorong hendak memasuki vaginanya. Dia mendesah menahan sakit saat penis itu menyeruak masuk ke dalam vaginanya. Penis itu tidak terlalu sulit melakukan penetrasi karena vagina Rania sudah becek sekali.
    “Uhhh…enaknya, memek Ibu emang seret banget !” dengus pria itu.
    Pak Dahlan mulai menggerakkan pinggulnya menyodoki vagina Rania dengan penisnya. Terdengar suara seperti tepukan setiap kali selangakangan mereka bertumbukkan. Pompaan Pak Dahlan kadang keras tapi kadang juga lembut sehingga membuat Rania larut menikmati persetubuhan itu.

    Setelah lewat seperempat jam Rania tidak mampu lagi menahan orgasme. Dia mendesah panjang dan mengeluarkan banyak sekali cairan dari vaginanya. Tubuhnya mengejang dan memeluk erat-erat tubuh Pak Dahlan yang menindihnya. Pak Dahlan sendiri masih belum mencapai puncak, dia terus menggenjoti Rania semakin ganas karena sensasi nikmat yang didapat dari kontraksi dinding vagina wanita itu ketika orgasme yang semakin erat menghimpit penisnya. Tak lama kemudian ketika di ambang orgasme, pria itu mencabut penisnya dari vagina Rania. Cairan lendir meleleh-leleh dari batang itu dan membuatnya terlihat mengkilap ketika baru saja ditarik lepas dari liang vaginanya. Kemudian pria itu naik ke dada Rania dan menjepitkan penisnya dengan kedua payudara montok itu. Rania yang masih lelah pasca orgasme hanya pasrah saja membiarkan pria itu melakukan breast-fucking terhadapnya. Penis yang sudah licin itu maju mundur dengan lancar diantara kedua gunung kembarnya. Dia sedikit merintih karena Pak Dahlan terkadang meremas payudaranya terlalu keras. Tidak sampai lima menit, pria itu mengerang nikmat dan menyemprotkan spermanya. Cairan seperti susu kental itu mengenai wajah Rania, terutama daerah dagu dan mulut, juga menciprati leher dan dadanya. Tubuh gempal itu berkelejotan meresapi gelombang orgasme yang melandanya. Setelah spermanya tidak keluar lagi, pria itu turun dari dada Rania dan duduk di sofa itu. Sambil beristirahat tangannya iseng mengolesi cipratan spermanya di dada wanita itu hingga merata.

    Rania, dengan tenaga yang sudah mulai terkumpul, menggerakkan tangannya dan menepis tangan pria itu dari dadanya.
    “Jangan gitu dong Pak, lengket tau gak !?” bentaknya lemas.
    “Hehehe…puas banget saya Bu, lain kali lagi yah” pria itu berkata dengan nafas berat kelelahan.
    Rania memutuskan untuk secepatnya angkat kaki dari tempat itu sebelum pria itu pulih dan mengerjainya lagi. Maka dia buru-buru turun dari sofa dan memunguti pakaiannya lalu memakainya kembali, sebelumnya dia mengelap ceceran sperma di tubuhnya dengan tisue yang dibasahi air. Tanpa memberi salam selain tatapan marah dia keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintunya dengan setengah dibanting.
    “Dasar bajingan ga bermoral, munafik !” makinya dalam hati sambil terus berjalan.
    Detak jantung Rania tertahan sejenak ketika dilihatnya sesosok tubuh yang dikenalnya muncul dari arah tangga lantai bawah, seseorang yang dikenalnya. Cerita Maya

    Di koridor lantai dua yang sudah sepi itu dia berpapasan dengan Imron yang baru saja naik dari lantai satu.
    “Woo…hoo…Bu Nia, baru beres sama Pak Dahlan yah, gimana acara gininya Bu ?” sapanya sambil menunjukkan jempol yang diselipkan antara telunjuk dan jari tengahnya.
    Rania terus saja melengos tanpa menjawabnya, sungguh benci dia pada pria yang telah merenggut kesuciannya dan menjerumuskannya dalam lembah nista.
    “Yee…ditanya diem aja, dasar dosen lonte !” kata Imron seraya menepuk pantat Rania yang berlalu sambil mengacuhkannya.
    Rania menengok dan memelototinya, namun ia tidak bisa lebih berbuat lebih selain mempercepat langkahnya agar menjauh dari pria itu, untunglah Imron tidak macam-macam karena dia baru menuntaskan hajatnya dengan Joane beberapa saat lalu.
    “Gimana Pak barang barunya, sedap gak ?” tanya Imron yang menemui Pak Dahlan di ruangannya.
    “Ya sedap toh, puas banget nih saya, hebat lu Ron bisa dapetin dosen, kalau mahasiswi bispak sih saya udah biasa, tapi kalau dosen bispak baru luar biasa, hahaha” katanya berkelakar.
    Kedua penjahat kelamin itu pun tertawa-tawa penuh kemenangan.

  • Beware of Whom You Rape

    Beware of Whom You Rape


    136 views

    Pukul 20.48 di sebuah rumah kecil di pinggiran kota.

    Cerita Maya | ‘Plak’ pria berwajah sangar dan berambut cepak ala tentara itu melayangkan telapak tangannya pada seorang pria muda yang terikat tak berdaya di sebuah kursi. Tamparan itu cukup kuat sampai kursi tempat pria muda itu terikat agak limbung.
    “Guoblok…masih tutup mulut juga lu! Hah!” bentaknya.
    Sebelum si rambut cepak itu sempat melayangkan tamparan berikutnya, seorang pria lain berpenampilan parlente, memakai kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga siku, memegang tangannya. Ia lalu mendekati si pria yang terikat itu dengan memasang wajah mengejek.
    “Nah…bagaimana? Apa ga sebaiknya lu ngomong aja dimana sebenarnya rekaman itu dan siapa lagi yang tau selain lu?” tanyanya sambil menjenggut rambut pemuda itu.
    Wajah pria yang terikat di kursi itu sudah babak belur sana-sini, bibirnya pecah-pecah akibat siksaan yang dideritanya sejak tadi, belum lagi bengkak pada mata kirinya. Pakaiannya pun sudah penuh noda darah, debu, dan bekas cetakan sol sepatu yang didapatnya dari tendangan para penyiksanya. Robby (28 tahun), sudah tahu inilah risiko yang akan diterimanya karena tugasnya sebagai wartawan. Dari penyelidikannya pada sebuah perusahaan bermasalah ia mendapati indikasi perdagangan narkoba yang melibatkan Munarman, salah satu kepala staff perusahaan tersebut, yang tidak lain adalah pria yang kini menjenggut rambutnya itu. Keesokan harinya ia berencana menyerahkan file hasil rekaman hidden camera berisi kegiatan transaksi mereka di sebuah gudang di pelabuhan kepada yang berwajib. Namun tadi sore ketika baru saja masuk ke mobil tiba-tiba seseorang membekap mulutnya dari belakang, ia sempat meronta dan melakukan perlawanan namun tak sanggup melawan pengaruh obat bius yang dibekapkan padanya sehingga kehilangan kesadaran. Cerita Maya

    Kesalahan fatal yang telah dilakukan Robby yang membuatnya sampai tertangkap seperti sekarang ini adalah ketika melakukan rekaman secara diam-diam itu, ia secara tidak sengaja menyenggol sebuah benda hingga jatuh. Suara itu tentu saja memancing perhatian mereka yang sedang bertransaksi ilegal itu. Adegan kejar-kejaran pun tak terhindarkan, meskipun berhasil mencapai mobil dan melarikan diri sejauh mungkin namun flashdisk-nya yang tersimpan di tas kameranya yang setengah terbuka jatuh. Benda itu dipungut oleh salah satu anak buah Munarman, dari situlah ia mengetahui siapa orang yang tadi telah mengintipnya karena di antara data-data di dalamnya terdapat beberapa foto Robby bersama kekasihnya, Liany, ketika berlibur. Robby sendiri bukannya tidak tahu dirinya telah kehilangan benda yang dapat membuat orang-orang itu melacaknya. Ia hanya kalah cepat dengan mereka, sehari sebelumnya ia memang telah menyuruh Liany buru-buru kabur ke rumah sepupunya di Solo untuk bersembunyi sementara disana. Namun sebelum ia sendiri meminta perlindungan dari polisi dan menyerahkan file rekaman itu, anak buah Munarman telah menyergapnya terlebih dulu dan membawanya ke tempat ini.
    “Oke…hsshh…hhsshh…ada di…” Robby mulai bersuara sambil mengatur nafasnya yang ngos-ngosan menahan sakit karena dihajar sejak tadi.
    “Dimana? Ayo katakan?” Munarman mendekatkan wajahnya pada Robby agar bisa mendengar lebih jelas.
    “Cuiihh!” Robby meludahkan darah tepat mengenai wajah Munarman.
    “Bah…sialan! Masih belagu juga lo anjing!” maki Munarman sambil menendang dada Robby hingga ia tersungkur bersama kursinya, “Syad hajar dia sampe mampus!”
    Irsyad, si muka sangar berambut cepak itu segera maju dan turut menyiksa Robby seperti yang diperintahkan bossnya.

    Keduanya masih menghujani Robby dengan tendangan dan pukulan ketika tiba-tiba dari arah luar terdengar bunyi gaduh. Irsyad dan Munarman saling berpandangan, lalu berlari kecil ke pintu samping ke arah datangnya suara tersebut. Sesaat kemudian terdengar sebuah jeritan perempuan disertai bentakan pria. Seorang pria lain yang rambutnya dikuncir ke belakang dan berwajah kasar menyeret tubuh seorang gadis yang meronta-ronta berusaha untuk lepas.
    “Lepas…lepasin saya!” jerit gadis itu.
    Pria berambut kucir itu segera membekap mulut gadis itu dan meminting tangannya ke belakang agar tidak berteriak lagi.
    “Siapa nih!?” tanya Munarman pada pria itu.
    “Dia ada di halaman samping Bos, waktu saya panggil dia lari…dia pasti udah liat semuanya” jawab pria itu.
    “Ngapain lu disini hah!?” bentak Munarman.
    “Mmhh…saya…saya cuma lewat mau pulang ke vila, tapi hujan tambah besar jadi saya kepaksa berteduh dulu…tolong lepasin saya, bener saya ga liat apa-apa!” jawab gadis itu ketakutan, matanya yang indah mulai berkaca-kaca.
    “Bohong Bos, dia pasti udah denger dan liat semuanya!” potong si rambut kuncir, “untung tadi saya sigap”
    “Gimana nih Bos sekarang?” tanya Irsyad menunggu perintah.
    Munarman mengelus-elus dagunya yang berjenggot kambing itu sambil memandangi gadis itu. Usianya masih muda sekitar awal 20an, dari penampilannya sepertinya ia seorang mahasiswi. Parasnya sungguh cantik dengan rambut hitam yang lurus dan panjang, tubuhnya yang langsing dibungkus oleh kaos hitam tanpa lengan dilapisi cardigan pink untuk melindungi dari udara malam serta bawahan berupa celana pendek longgar yang menggantung sejengkal di atas lutut sehingga memperlihatkan pahanya yang jenjang dan mulus. Pakaian dan rambutnya agak basah terkena hujan, nampaknya ia memang bermaksud berteduh.

    Grace

    “Siapa namalu manis?” tanya Munarman mendekati dan mengelus pipi gadis itu.
    “Kalau ditanya jawab hah! Siapa namalu!?” bentaknya melihat gadis itu terdiam ketakutan.
    “Saya…Grace, tolong lepaskan saya, saya gak akan bilang siapa-siapa” ibanya tanpa bisa menahan air matanya yang menetes membasahi pipi.
    “Grace heh, nama yang indah, seindah rupanya hahaha!” Munarman mengangkat dagu gadis itu, menatapi wajah cantik itu sambil tertawa disambut tawa kedua anak buahnya.
    Rabaan Munarman dari pipinya merambat turun ke leher, bahu, hingga akhirnya payudara kiri Grace.
    “Jangan…jang…eemmhphp!” jeritan Grace langsung terhambat karena si pria berkucir kembali membekap mulutnya.
    “Buka mulutnya Di, biar aja dia teriak…ayo teriak, ga akan ada yang denger suara lu, daerah ini sepi dan lagi hujan!” kata Munarman sambil tangannya mulai meremasi payudara gadis itu.
    “Ayo kita nikmatin dulu cewek cantik ini, sayang kan yang bening gini lepas gitu aja…Syad sumpal dulu mulut anjing itu kita urus dia nanti abis ini!” perintahnya pada Irsyad.
    “Siap Bos…kita juga kebagian kan, capek nih dari tadi mukulin melulu hehehe!” Irsyad nampak antusias dan tersenyum mesum, demikian pula Muchdi, temannya yang rambutnya dikucir itu.
    “Iya, yang penting pastiin dulu ikatan si goblok itu kencang…sampai dia lolos gua kebiri juga lu!”
    “Hehe…emang Bos dingin-dingin gini paling enak ya ngentot!” sahut Muchdi yang tangannya mulai ikut menggerayangi tubuh Grace.

    “Hentikan! Jangan lakukan itu!” jerit Grace sambil meronta berusaha melepaskan diri, namun tenaganya bukanlah tandingan kedua pria itu yang telah menghimpit tubuhnya.
    Ia menggeleng-gelengkan kepalanya menghindari Munarman yang hendak melumat bibirnya, sementara tangan-tangan kasar mereka sudah bergerilya di tubuhnya. Dalam satu kesempatan ketika kuncian Muchdi mengendur karena sibuk menggerayangi tubuhnya, Grace berhasil menendang perut Munarman dengan lututnya sehingga pria itu terhuyung ke belakang sambil mengaduh memegangi perutnya. Gadis itu buru-buru lari ke arah pintu, namun baru saja beberapa langkah sebuah tangan menariknya ke belakang. Irsyad yang baru saja mengencangkan ikatan Robby dan mengikat mulutnya, rupanya bertindak cukup sigap. Ia berhasil menggapai cardigan gadis itu, menariknya hingga lepas dari tubuhnya. Sesaat kemudian gadis itu sudah berada dalam dekapannya.
    “Bajingan! Lepaskan saya!” jerit Grace memakinya.
    “Huehehe…mau kemana Non…emmhh…uuh!” Irsyad memperkuat dekapannya sambil berusaha menciumi leher dan tenguk gadis itu.
    “Plak! Aawww!” rintih Grace ketika telapak tangan Munarman yang marah mendarat di pipinya.
    “Diam perek!” bentaknya.
    Air mata gadis itu makin mengucur membasahi pipinya ketika tangan Munarman membetot keras kaosnya hingga robek. Mata ketiga pria bejat itu melotot melihat buah dada gadis itu yang masih terlindung di balik bra kremnya. Tubuh Grace bergetar saat Irsyad menyusupkan tangannya ke balik branya dan mulai meremas payudaranya dengan kasar, jarinya sesekali menjepit dan memelintir putingnya.
    “Wuih…ini bener-bener mantep Bos, montok bener!” celoteh Irsad.
    Grace semakin menangis mengiba dan menjerit ketika Munarman menarik lepas branya.

    “Jangan nangis sayang, kita kan mau bersenang-senang hahaha!” kata Munarman sambil meremas payudaranya, “yang gini nih yang gua suka, bener-bener seger!”
    “Ayo Non, abang bisa kok bikin Non kejang-kejang keenakan huehehehe!” Muchdi mendekatinya dan mulai menggerayangi tubuhnya yang sudah topless.
    Desahan gadis itu di sela-sela tangisannya membuat ketiga pria bejat yang mengerubunginya semakin bernafsu. Tangan Muchdi kini merambat turun ke bawah, menyusup masuk ke pinggang celana pendek yang dikenakan gadis itu. Grace merasakan tangan kasar pria itu menyentuh permukaan vaginanya, jari-jarinya mengelusi bibir vaginanya. Tubuhnya menggelinjang ketika jari-jari itu menyusup ke vaginanya dan mulai bergerak keluar masuk menggeseki dinding vaginanya. Pada saat yang sama, Munarman menundukkan badannya dan melumat payudara Grace dengan gemas.
    “Mmhhh…lepaskan…aaahhh-aahh….jangan!” ia mulai mendesah tak tertahankan.
    Irsyad menyibakkan rambut panjang gadis itu ke kanan agar bisa menjilati dan mencupang leher sebelah kirinya. Lidah Irsyad yang kasar dan basah itu menyapu telak kulit lehernya membuat bulu kuduk gadis itu merinding.  Mereka lalu menyeret tubuh Grace dan membaringkannya di atas sebuah meja kayu di ruangan itu. Munarman yang mengambil posisi di antara paha gadis itu menarik lepas celana pendek berikut dalamannya. Kini vagina Grace yang ditumbuhi bulu-bulu hitam lebat terekpos sudah membuat mata ketiga pria bejat itu nanar menatapinya.
    “Wah…gua suka yang kaya gini, jembut lebat, bibirnya rapet!” sahut Munarman sambil meraba kemaluan gadis itu yang sudah agak basah karena dipermainkan Muchdi tadi.
    Ia lalu menusukkan jari tengahnya ke liang vagina Grace sehingga tubuh gadis itu mengejang dan jeritan kecil keluar dari mulutnya. Dengan gemas Munarman memutar-mutar jarinya mengobok-obok vagina gadis itu. Tanpa bisa tertahankan Grace menggelinjang, ia memohon agar mereka tidak meneruskan perbuatannya sambil diiringi desahan-desahan yang justru membuat mereka semakin nafsu.

    Sementara Muchdi dan Irsyad juga tidak tinggal diam, mereka ikut menggerayangi tubuh mulus Grace yang sudah terbaring tak berdaya. Irsyad mencaplok payudara kiri gadis itu dan mengemut-emutnya, dihisap dan digigitinya puting susu itu hingga pemiliknya semakin menggelinjang dan mendesah tak karuan. Grace menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Muchdi hendak menciumnya, tapi reaksinya malah membuat pria itu tertawa-tawa lalu menjenggut rambut panjangnya, lidahnya langsung menyapu pipinya yang halus lalu menempel pada bibir tipis gadis itu. ‘eeemmhhh….eemmm!’ Grace mengatupkan mulutnya menolak diciumi Muchdi, namun rangsangan pada sekujur tubuhnya membuatnya tak tahan untuk tidak mendesah, Muchdi sendiri saat itu juga aktif menggerayangi lekuk-lekuk tubuh gadis itu. Mulut Grace yang tertutup pun kian mengendur hingga akhirnya Muchdi berhasil memasukkan lidahnya ke mulut gadis itu dan mencumbuinya dengan liar. Lidah Muchdi mengais-ngais mulut Grace dan menyapu rongga mulutnya, ludah mereka saling bertukar dan tanpa sadar Grace pun mulai ikut memainkan lidahnya beradu dengan lidah pria itu karena libidonya semakin naik tanpa dapat ia kendalikan. ‘Eeenngghhh!’ lenguh gadis itu di tengah percumbuannya karena merasakan ada benda hangat basah menyentuh bibir vaginanya. Ia menggerakkan bola matanya melirik ke bawah sana dimana Munarman tengah membenamkan wajahnya agar dapat melumat vaginanya. Sensasi geli segera timbul dari bawah sana menjalar ke syaraf-syaraf kenikmatan di tubuhnya dan membuat birahinya semakin naik tanpa dapat ia kendalikan. Lidah Munarman menyapu telak bibir vaginanya lalu menyusup masuk menggelitik dinding bagian dalamnya.
    “Uuuummhh…gurih, bener-bener hoki kita hari ini bisa nikmatin yang sedap gini hahaha!” celoteh Munarman di tengah lumatannya terhadap kewanitaan Grace.
    Dengan dua jari ia membuka bibir vagina gadis itu semakin lebar sehingga menampakkan warna merah merekah. Sementara Irsyad terus menjilati kedua payudaranya secara bergantian, sebentar saja kedua gunung kembar itu sudah basah oleh ludahnya, bekas gigitan memerah juga tampak pada beberapa bagian.

    Setelah hampir lima menit bercumbu, Muchdi melepaskan mulutnya dari Grace. Gadis itu bernafas terengah-engah sambil terisak dan mendesah. Belum terlalu lama ia mengambil udara segar Muchdi sudah menarik rambutnya sehingga kepalanya kini terjuntai ke bawah di tepi meja dan pandangannya terbalik.
    “Aaah…jangg….eeemmphhh…mmmm!” kata-katanya terputus karena Muchdi menjejalkan penisnya ke mulut gadis itu.
    Pria itu memaju-mundurkan penisnya pada mulut Grace seperti menyetubuhinya, kedua kantung pelirnya menampar-nampar hidung gadis itu, aroma tak sedap segera menyergap hidungnya. Namun Grace tidak punya pilihan lain selain beradaptasi mengisap penis di mulutnya. Tubuhnya menggelinjang-gelinjang di atas meja kayu itu tanpa dapat ditahannya. Tangan-tangan kasar dan lidah-lidah para pria bejat itu terus merangsang tubuhnya. Di bawah sana, lidah Munarman menjelajah semakin dalam ke dalam vagina Grace dan menemukan klitorisnya. Daging kecil yang sensitif itu digigitnya pelan dan dihisap-hisap, kontan Grace pun semakin menggelinjang dan mendesah tak karuan dibuatnya.
    “Eemmhhh….eemmmm!” dari mulutnya yang dijejali penis Muchdi terdengar desahan tertahan.
    Sebentar saja Grace merasakan vaginanya makin berdenyut-denyut hendak mengeluarkan cairan klimaksnya. Akhirnya…ssrrrr…cairan bening dan hangat itu meleleh dengan derasnya dibarengi dengan mengejangnya tubuh gadis itu. Dengan rakus, Munarman menyeruput cairan itu seperti orang kehausan.
    “Ssshhrrppp…ssllluurrpp…ini baru sip, hhmmm udah ga sabar gua jejelin kontol gua kesini!” kata Munarman setelah puas menyeruput cairan kewanitaan Grace.
    Setelah itu ia buru-buru membuka celana dan mengeluarkan penisnya yang sudah mengeras lalu mengarahkan kepalanya ke belahan bibir vagina gadis itu yang sudah becek siap melakukan penetrasi. Saat itu Grace yang masih mengulum penis Muchdi membelakkan mata merasakan sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke vaginanya.

    Munarman melenguh keenakan merasakan himpitan dinding vagina Grace yang begitu sempit dan bergerinjal-gerinjal. Tak lama kemudian ia mulai mengocok penisnya keluar masuk, mula-mula pelan hingga frekuensi genjotannya main naik dan menimbulkan bunyi kecipak dari gesekan alat kelamin mereka dan cairan dari vagina gadis itu. Tubuh Grace tergoncang-goncang, demikian pula sepasang payudaranya sehingga nampak makin menggemaskan, sepasang gunung kembar itu tidak pernah lepas dari tangan dan mulut mereka.
    “Hhuuuhh…seret banget…uuhh…ini baru top!” sahut Munarman sambil menyetubuhi Grace semakin liar.
    “Sepongannya juga sip Bos…edan kaya diisep-isep nih!” timpal Muchdi yang penisnya sedang dioral oleh gadis itu.
    “Gantian dong Di, gua juga pengen nyicipin, kayanya enak tuh ya!”
    Muchdi mempersilakan Irsyad mengambil posisinya karena ia sendiri tidak ingin buru-buru keluar sebelum menikmati hidangan utamanya yaitu mencoblos vagina gadis itu. Pria berambut cepak itu segera meraih kepala Grace, gadis itu sempat mengambil udara segar sebentar dan sedikit terbatuk-batuk sebelum akhirnya mulutnya kembali dijejali penis, kali ini oleh Irsyad, pria itu memegangi kepalanya sehingga kini kepala gadis itu tidak lagi terjuntai terbalik yang membuatnya tidak nyaman.
    “Sudah…saya mo…hhhmmmhh!” Irsyad memasukkan penisnya dengan paksa ke mulut gadis itu dan memotong kata-katanya.
    Irsyad mendesah nikmat merasakan mulut gadis itu memanjakan penisnya dengan ludahnya yang hangat dan lidahnya. Grace nampak kewalahan karena penis Irsyad diameternya lebih lebar daripada milik Muchdi. Dengan susah payah Grace mencoba menggerakkan lidahnya menyapu kepala penis itu.
    “Uuuhh…mantap Non, yah…jilatin terus…emuthh!” desah pria itu sambil meremasi rambut Grace.

    Muchdi menarik kursi ke dekat meja itu lalu duduk di atasnya, ia mengamat-amati tubuh mulus Grace yang sudah mulai berkeringat dan mengelusinya dengan kagum. Lidahnya terjulur keluar menjilati wilayah puting gadis itu sementara tangannya yang satu meremasi payudaranya yang sebelah. Di sisi lain, Munarman semakin cepat menggoyangkan pinggulnya menyodok-nyodok vagina Grace dengan penisnya. Mulut pria itu menceracau tak karuan hingga akhirnya melenguh panjang, ia menekankan penisnya dalam-dalam ketika mencapai klimaks. Akhirnya setelah dua puluh menitan menggarap Grace, Munarman tidak bisa lagi menahan keluarnya spermanya yang mengisi vagina gadis itu. Pada saat hampir bersamaan, Grace pun kembali berorgasme, nafasnya mendengus-dengus, erangan tertahan terdengar dari mulutnya yang tengah dijejali penis, tubuh telanjangnya hanya bisa menggelinjang-gelinjang menyebabkan dadanya makin membusung dan membuat Muchdi yang sedang menyusu semakin bernafsu dibuatnya. Terdengar suara ‘plok’ saat Munarman menarik lepas penisnya dari vagina Grace, liang vagina gadis itu ternganga selama beberapa saat sebelum menutup kembali, cairan orgasmenya meleleh keluar dari liang itu bercampur dengan cairan kental berwarna putih susu membasahi selangkangan dan meja di bawahnya.
    “Ayo siapa mau coba nih!” sahut Munarman seusai melampiaskan nafsunya.
    “Gua Boss…gua dah konak nih daritadi!” Muchdi buru-buru mengambil posisi di antara kedua paha Grace, “eh, Syad…turunin dulu dong, gua mau gaya doggy nih, biar lebih enak!”
    Irsyad yang sedang asyik menikmati penisnya dikulum membantunya menurunkan tubuh gadis itu ke lantai. Grace berusaha beringsut untuk menjauh dari mereka, namun ia harus pasrah mendapati kenyataan bahwa tubuhnya sudah terlalu lemas untuk itu, belum lagi ditambah rasa nyeri pada vaginanya yang baru saja dibombardir penis Munarman.

    Muchdi mengatur tubuh Grace menungging di lantai kayu itu dengan bertumpu pada kedua lutut dan siku tangannya. Tak lama kemudian kepala penisnya sudah membelah vagina gadis itu.
    “Ooohh…sakit!” Grace mendesah lirih, “Aahhkk!!” Muchdi menyentakkan pinggulnya kuat-kuat setelah penisnya menancap setengahnya hingga benda itu melesak masuk dan gadis itu menjerit.
    Tanpa memberi kesempatan pada gadis itu untuk beradaptasi, Muchdi menyodok-nyodokkan penisnya dengan buas. Nampak sepasang payudara Grace terayun-ayun seirama goncangan tubuhnya menciptakan suasana yang semakin erotis. Tangan kiri Muchdi meraih payudara itu dan meremasinya sambil terus menyodoknya dari belakang. Erangan Grace semakin keras, matanya merem-melek, secara refleks ia juga turut menggerakkan pinggulnya mencari kenikmatan. Munarman dan Irsyad tertawa-tawa melihat reaksi gadis itu.
    “Hahaha…tuh kan jadi ketagihan, tadi nangis-nangis minta dilepasin sekarang malah pengen dientot!” ejek Munarman.
    “Biasa Bos…belum tau enaknya dia hahaha!” timpal Irsyad.
    Sodokan Muchdi semakin cepat, lenguhannya bercampur dengan erangan Grace memenuhi ruangan itu, ditambah lagi dengan bunyi tumbukan alat kelamin mereka, ‘plok…plok…plok!’. Sementara itu, Robby yang terikat tak berdaya hanya bisa menyaksikan gadis itu diperkosa tanpa bisa berbuat apa-apa. Sebenarnya ia merasa sangat kasihan dan ingin menolongnya, namun apa yang dapat diperbuatnya? bahkan nasibnya sendiri sedang di ujung tanduk. Secara naluriah, ia sendiri terangsang melihat gadis secantik Grace diperkosa massal oleh ketiga bajingan itu, tanpa dapat ditahan penisnya pun mengeras karenanya.

    “Uuuhh…uhhh…enak kan Non…seretnya!” ceracau Muchdi yang terus menggenjoti gadis itu dan meremas-remas payudaranya.
    “Ditanya jawab yah!! Enak gak!!” Muchdi menjambak rambut panjang gadis itu hingga kepalanya menengadah.
    “Aduuhh….ahhh…iyah enak…sakit, jangan ditarik gitu….aahh!” rintih Grace yang wajahnya semakin berlinang air mata.
    Ketiga pria bejat itu tertawa-tawa, ejekan-ejekan yang melecehkannya terus keluar dari mulut mereka.
    “Ayo Di…bikin dia kelepek-kelepek hahaha!” kata Irsyad.
    Merasa tertantang Muchdi semakin mempercepat sodokannya pada vagina gadis itu. Hingga akhirnya tak lama kemudian pria itu semakin melenguh-lenguh, frekuensi genjotannya semakin cepat dan remasannya pada payudara gadis itu semakin keras. Desahan Grace bercampur dengan rintihan kesakitan. Dengan satu lenguhan panjang, preman berkuncir itu menancapkan penisnya dalam-dalam dan melepas orgasme. Untuk kedua kalinya vagina Grace terisi dengan sperma, ia dapat merasakan kedutan-kedutan penis pria itu dan cairan putihnya yang hangat memenuhi rahimnya. Ketika Muchdi mencabut penisnya nampak cairan spermanya bercampur cairan kewanitaan gadis itu membentuk untaian sepanjang lima centian.
    “Nih…bersihin!” perintah Muchdi menarik rambut panjang Grace dan mendekatkan penisnya yang belepotan ke bibir gadis itu.
    Grace pun melakukan yang diperintahkannya, penis itu ia jilati dan kulum, cairan-cairan yang berlumuran disana dijilatinya hingga bersih sampai sisa-sisa sperma pun dihisapinya.
    “Hhhssshhh…ngisepnya jago juga lu Non, dah pengalaman ya!?” komentar Muchdi
    “Lu pecun yang suka beroperasi di puncak ya Non, hahaha!” ejek Irsyad membuat kupingnya memerah.
    “Hus…yang bener aja lu Syad pecun disini mana ada yang bening gini, biasanya item-item kaya babu gitu hehehe” sahut Munarman.

    Grace merasakan tubuhnya luluh lantak sehingga ia harus bersandar pada kaki meja menopang tubuhnya, namun ia masih merasakan kurang karena bersama Muchdi tadi ia hampir mencapai klimaks namun pria itu sudah lebih dulu klimaks dan menarik lepas penisnya. Sekarang giliran Irsyad mencicipi tubuhnya, pria cepak bertubuh besar itu mendekapnya, lalu duduk di kursi dan menaikkan gadis itu ke pangkuannya dalam posisi memunggungi.
    “Angkat badan lu dikit manis!” perintah Irsyad di dekat telinga Grace, “buka memek lu terus masukin nih kontol gua”
    Orgasme yang tidak kesampaian membuat Grace menikmati persetubuhan itu. Ia mengangkat tubuhnya sedikit, tangan kanannya membuka lebar-lebar bibir vaginanya dan yang kiri menggenggam penis Irsyad yang berurat, mengarahkannya memasuki liang senggamanya. Ia mulai menurunkan tubuhnya pelan-pelan setelah dirasanya kepala penis itu menyentuh bagian tengah vaginanya. Desahannya mengiringi proses penetrasi penis itu. Berkat cairan kewanitaan yang telah membanjiri vaginanya, penis besar Irsyad lebih mudah memasuki vaginanya, namun tetap saja rasa ngilu mengiringinya karena vaginanya sudah sejak tadi digempur. Irsyad lalu memutar wajah Grace dan melumat bibirnya. Grace membalas permainan lidah pria itu sambil beradaptasi dengan penis yang menyesaki vaginanya itu. Tanpa disuruh, Grace mulai menggerakkan tubuhnya naik turun tanpa melepas percumbuannya dengan preman itu. Kedua tangan kasar Irsyad terus bercokol pada payudara gadis itu, meremasi, memilin atau mencubiti putingnya. Goyangan tubuh Grace kian cepat, mulutnya juga semakin menceracau menahan nikmat. Munarman yang mulai bernafsu lagi mendekati mereka, ia meraih kepala Grace dan menjejali mulut gadis itu dengan penisnya. Muchdi juga tidak membiarkan tangan gadis itu yang nganggur, ia menggenggamkan penisnya pada tangan gadis itu dan memintanya untuk mengocok. Sambil menikmati vagina Grace, Irsyad mencium dan menjilati leher jenjangnya, sementara tangannya bergerilya menggerayangi lekuk-lekuk tubuh yang mulus itu. Tanpa dapat ditahan Robby yang terikat di kursi juga terangsang melihat adegan itu, tak terasa penisnya juga mulai basah karenanya.

    “Eeemm…mmmm…uuhhm!” suara desahan Grace yang tertahan oleh penis Munarman.
    Ia merasakan penis itu semakin bertambah keras di mulutnya. Munarman tidak lagi memegangi kepalanya, Grace menggenggam sendiri penis itu sambil memaju-mundurkan kepalanya dan mengulum-ngulum benda itu. Sementara tangannya yang satu sedang mengocok penis Muchdi dengan kecepatan sedang disertai pijatan membuat pria itu melenguh menahan nikmat. Tak lama kemudian mengeluarkan penis Munarman dari mulutnya dan ganti mengoral penis Muchdi.
    “Bagus…sekarang udah nurut ya! Udah ketagihan kontol rupanya” kata Muchdi.
    Tanpa mempedulikan komentar-komentar yang merendahkannya itu, Grace terus mengulum dan mengocoki penis Munarman dan Muchdi sambil menaik-turunkan tubuhnya. Lidahnya menyapu kepala penis Muchdi dan menggelitik lubang kencingnya membuat pria itu semakin tak tahan hingga tak lama kemudian…croot…ccroot…diiringi lenguhan panjang Muchdi mengeluarkan spermanya di mulut gadis itu.
    “Uuhh…enakhh!” lenguhnya sambil memegangi kepala gadis itu, “isep Non…isep kuat…minum peju gua!
    Grace gelagapan namun mau tidak mau ia harus menghabiskan cairan putih yang tertumpah di mulutnya itu, baunya sungguh tajam dan kental, sebagian cairan itu meleleh di sudut bibirnya karena yang keluar cukup banyak. Ia terpaksa menelan cairan putih kental itu agar tidak terlalu terasa di mulutnya, selain itu juga dihisapinya penis Muchdi yang semakin menyusut itu dan dihisapi sisa-sisa spermanya hingga pria itu akhirnya mencabut penisnya dengan puas. Baru sebentar penis Muchdi lepas dari mulutnya, Munarman yang penisnya sedang sedang dikocok olehnya juga mencapai klimaks. Penisnya berkedut-kedut dan menyemprotkan isinya ke wajah cantik gadis itu. Pria itu tersenyum puas setelah berejakulasi di wajah gadis itu.
    “Mulutnya dibuka!” perintahnya, ia lalu mengarahkan penisnya ke mulut Grace sehingga cipratan spermanya masuk ke mulut gadis itu.

    Kembali mulut Grace dijejali penis, kali ini oleh Munarman yang memintanya mengisap dan membersihkan miliknya itu dari sisa-sisa sperma. Mereka tertawa-tawa melihat keadaannya dengan wajah telah belepotan sperma.
    “Hehehe…gitu lebih cantik Non, lumayan tuh buat krim wajah, jadi tambah cantik!” ejek Muchdi.
    Terlihat sekali Grace menikmati perkosaan atas dirinya itu, tubuhnya sudah dikuasai dorongan seksual tanpa menghiraukan cemoohan ketiga pemerkosanya itu. Ia meliuk-liukkan tubuhnya sehingga penis besar Irsyad semakin mengaduk-aduk vaginanya.
    “Uuuhh…ngehek…mau keluar nih…eerrrhh!!” geram Iryad sambil menurunkan tubuh Grace dan bangkit dari kursi tanpa melepas penisnya yang tertancap.
    Grace segera menumpukan kedua tangannya pada tepi meja di dekatnya, persetubuhan itu berlanjut dengan posisi si pria menyodoki dari belakang sambil berdiri dan si wanita berdiri nungging dengan bertumpu pada bibir meja di depannya. Dengan posisi demikian Grace merasakan penis Irsyad menyodok semakin dalam dan semakin kencang. Desahan Grace semakin menjadi-jadi, mulut gadis itu membuka bulat dan mengeluarkan desahan yang susul menyusul dengan lenguhan pria itu.
    “Aaahh…aakkhh…ooooohh!” Grace mengerang sekuat tenaga seiring dengan ledakan orgasme yang seakan meledakkan tubuhnya dari dalam.
    Tubuhnya mengejang dengan dahsyat, vaginanya semakin becek dan semakin kuat mencengkram penis Iryad yang juga sudah mau meledak. Pria berambut cepak itu pun akhirnya tak tahan lagi, dengan satu dorongan keras dilesakkannya penisnya dalam-dalam pada vagina Grace.
    “Uugghh!” Irsyad mendesah nikmat sambil menumpahkan spermanya mengisi vagina gadis itu.
    Pria itu meresapi orgasme itu dengan memeluk tubuh mulus itu merasakan kehangatan tubuh gadis itu menyatu dengan tubuhnya. Tangannya meremasi payudara gadis itu dan mulutnya menciumi tenguk dan pundaknya.

    “Wah…gua konak lagi nih, sini Non sama abang lagi!” Muchdi yang penisnya mulai mengeras lagi meraih lengan Grace begitu Irsyad melepaskan dekapannya.
    Tubuh Grace saat itu demikian lemah lunglai setelah mengalami orgasme panjang bersama Irsyad, namun Muchdi sepertinya tidak terlalu mempedulikannya. Pria itu duduk selonjoran di lantai dan mendudukkan gadis itu di selangkangannya.
    “Aaahhh!!” desah Grace merasakan vaginanya kembali dimasuki penis.
    “Yah Non…turun terus, masuk nih…uuhhh gitu!” Muchdi merasakan nikmat penisnya terjepit himpitan vagina gadis itu.
    Pria itu menyentakkan pinggulnya ke atas setelah lebih dari setengah batang penisnya melesak ke vagina Grace, akibatnya tubuh gadis itu pun ikut tersentak dan jeritan kecil keluar dari mulutnya tanpa tertahankan.
    “Goyang Non!” perintah pria berkuncir itu.
    Grace pun mulai menaik-turunkan tubuhnya. Muchdi menikmati goyangan gadis itu sambil mengenyoti dadanya yang kanan. Tangannya menjelajahi kemulusan tubuh gadis itu. Lima menit kemudian Munarman mendekati mereka dan mendorong punggung gadis itu ke depan sehingga pinggulnya lebih menungging.
    “Lubangnya masih ada kan, gua sekarang mau nyoba lubang yang ini nih!” kata Munarman sambil mencucukkan jarinya ke dubur Grace.
    “Aaahh…jangan, jangan disitu!” Grace mengiba ketika pria itu mulai mengarahkan penisnya ke lubang belakangnya.
    Muchdi memegangi lengan Grace yang meronta-ronta sementara Munarman terus menekan penisnya memasuki anus gadis itu. Grace merintih menahan sakit merasakan lubang belakangnya dimasuki paksa oleh penis pria itu. Jari-jari pria itu sudah lebih dulu memasuki lubang itu untuk membuka jalan bagi penisnya.
    “Aaaaww….sakkiitt…aarrhh!” mata sipit gadis itu membelakak dan mulutnya menjerit merasakan nyerinya anal seks secara paksa itu.

    “Uuuggh…sempitnya!” lenguh Munarman mengomentari lubang dubur Grace yang jauh lebih sempit dari vaginanya.
    Penis kedua pria itu menyodok-nyodok kedua lubang Grace seperti mesin saja. Robby yang terikat di kursi sempat bertatap mata dengan gadis malang yang sedang diperkosa itu. Ia melihat beban penderitaan yang sangat berat pada mata gadis itu, dari tatapan matanya seolah ia ingin meminta tolong pada dirinya. Simpati, kasihan, marah, dan terangsang bercampur-baur dalam hatinya. Ia benar-benar muak dengan kebiadaban para begundal itu, mereka seolah tidak cukup menyiksa dirinya, tapi juga menzalimi orang lain yang tidak tahu apa-apa mengenai masalah ini. Giginya gemertak dan tangannya mengepal keras, seandainya saja ia mampu melepaskan ikatan, ingin rasanya menghajar ketiga pria amoral itu dan membebaskan gadis itu. Tidak tahan terus menyasikan, ia hanya dapat memalingkan wajah atau memejamkan mata tidak tahan melihat kebiadaban itu. Kini Irsyad juga maju, ia mengangkat wajah gadis itu dan menyuruhnya mengoral penisnya yang mulai bangkit lagi. Dengan terpaksa Grace meraih benda itu dengan tangan kanannya, ia tidak ingin pria itu dengan paksa menjejali mulutnya dengan penis sehingga membuatnya tersiksa karena gelagapan. Sambil menahan nyeri pada duburnya yang sedang dibombardir Munarman, ia mulai menjilati penis Irsyad dan memasukkannya ke mulut.
    “Eemmm…eengghhh..mmmhh!” desah gadis itu tertahan.
    Dengan diserangnya seluruh bagian sensitif tubuhnya, Grace merasakan darahnya semaking berdesir, gelombang klimaks akan segera menerpanya kembali. Namun sebelumnya, Munarman sudah terlebih dulu orgasme karena sempitnya lubang belakang gadis itu. Ia melenguh panjang, menarik penisnya dan menyemprotkan spermanya membasahi punggung dan bongkahan pantat gadis itu. Baru setelahnya, sekitar tiga menit kemudian Grace mencapai puncak kenikmatannya, tubuh mulusnya menggelinjang hebat di atas tubuh Muchdi, mulutnya mengeluarkan erangan panjang, tangannya mengocoki penis Irsyad semakin cepat. Kedua bawahan Munarman itu menurunkan tubuh Grace dan menelentangkannya di lantai. Muchdi terus menggenjotnya sampai lima menit ke depan hingga akhirnya ia mencabut penisnya dan menumpahkan spermanya membasahi perut gadis itu. Tubuh Grace semakin blepotan cairan putih itu setelah Irsyad menuntaskan hajatnya dengan menyemburkan spermanya di wajah gadis itu.

    Ketiga pria tak bermoral itu pun meninggalkan tubuh telanjang gadis itu terbaring lemas bersimbah keringat dan sperma. Mereka tertawa puas berhasil menikmati kehangatan tubuh Grace. Mereka mulai memakai kembali pakaiannya. Ketika mereka bercengkerama antara mereka itulah tanpa disadari Grace merangkak diam-diam ke arah pisau lipat yang terjatuh dari kantung Muchdi, semakin dekat…terus…sedikit lagi…dan…
    “Bajingan…kalian bangsat semua!” jerit gadis itu sambil merangsek mengayunkan pisau itu sehingga kontan membuat mereka terkejut.
    Beberapa kali ia mengayun dan menusukkan pisau lipat itu pada Munarman, namun langkahnya masih sempoyongan karena tubuhnya belum pulih benar sehingga Munarman dapat mengelak walaupun dilanda kekagetan dan panik. Sebelum gadis itu kembali mengayunkan pisaunya, tiba-tiba Muchdi menyergapnya dari samping. Ditangkapnya pergelangan kanan gadis itu yang memegang pisau, namun kali ini gadis yang kalap itu menendang selangkangannya sehingga pria berkucir itu terhuyung ke belakang sambil menunduk-nunduk memegangi pangkal pahanya dan mengaduh kesakitan. Irsyad turut maju membela bosnya, ia terlibat pergumulan dengan gadis itu beberapa saat hingga akhirnya…jreb!! Pergumulan itu mendadak terhenti, tubuh mereka berhimpitan erat. Terlihat wajah Grace seperti menahan sakit, jari-jarinya mencengkram lengan berotot Irsyad dengan sangat erat. Suasana hening sejenak, semua mata tertuju pada mereka sampai Irsyad mundur selangkah sambil menarik tangannya yang berhasil merebut pisau itu…yang tertikam ke perut Grace.
    “Akh…kamu…kalian…!” ucap Grace terpatah-patah sambil memegangi perutnya yang berdarah sebelum akhirnya ambruk ke lantai kayu itu dengan mata membelakak.
    “Hah…dia, dia mati Bos!” sahut Muchdi gugup.
    “Sialan, nambah lagi satu masalah baru!” maki Munarman, “itu kan pisau lu goblok, gara-gara lu sembarangan sampai ga nyadar tuh barang jatuh!”

    “Udah Bos, mendingan sekarang kita habisin juga wartawan sial itu, dah gitu cepetan beresin semuanya!” usul Irsyad.
    Munarman memandang sekeliling antara kedua anak buahnya, Robby yang terikat di kursi, dan tubuh Grace yang sudah tergeletak kaku sambil berpikir sejenak hingga akhirnya ia memutuskan,
    “Oke, Syad…habisin dia sekarang juga, udah gitu cepet kita beresin mayat-mayat sialan ini!” perintahnya.
    Tanpa menunggu diperintah lagi, Irsyad langsung mengambil belati rambonya yang terletak di meja lalu menghampiri Robby. Pemuda itu sudah pasrah akan nasibnya, kali ini sudah tidak ada jalan keluar lagi. Ia memejamkan mata menanti belati itu menusuk tubuhnya, namun baru saja Irsyad mengeluarkan benda itu dari sarungnya tiba-tiba terdengar suara cekikikan tawa perempuan yang membuat bulu kuduk berdiri. Suara itu membuat mereka semua di ruangan itu tercekat. Hawa malam pegunungan yang dingin di tengah hujan itu terasa semakin dingin menerpa tubuh mereka.
    “Apa…apa itu tadi?” tanya Munarman gugup pada anak buahnya.
    “Gak tau Bos, saya juga denger…suara apa tadi, hoi…siapa disitu!?” seru Muchdi yang tidak yakin ada setan di tempat ini.
    Suara tawa itu kembali terdengar, kali ini terdengar lebih jelas membuat semua yang berada di ruangan itu celingak-celinguk mencari sumber suara yang ternyata dari…mayat gadis itu yang terbaring menyamping memunggungi mereka. Semua memandang dengan mata terbelakak ketika mayat itu mulai bergerak-gerak…bangkit…lalu menengokkan wajahnya yang sedikit tertutup rambut panjangnya, wajah itu begitu pucat dan mengerikan. Mereka semakin kaget melihat wajah sebelah kiri gadis itu yang rusak seperti meleleh memperlihatkan daging dan sebagian tulang wajah, bola mata kirinya seolah mau lepas dari tempatnya. Dari bibirnya mengembang sebuah senyum yang…seram dan dingin.

    Grace’s transformation

    Ketiga pria bejat itu secara refleks mundur satu-dua langkah, termasuk Robby yang terikat di kursi pun ikut kaget namun ia hanya bisa bergoyang-goyang di kursinya.
    “Siapa lu??” tanya Irsyad dengan membentak, padahal pisau di tangannya saja sudah hampir lepas karena gemetaran.
    “Saya?…hihihi…saya malaikat maut kalian, lelaki bajingan…hihihi!” jawabnya sambil tertawa seram, makhluk itu mulai melangkah maju perlahan mendekati mereka.
    “Hiaatt…pergi lu ke neraka setan!!!” Muchdi memberanikan diri menyambar kapak yang tergantung di tembok dan menerjang makhluk itu.
    Mata kapak itu menebas bahu kanan makhluk itu, menghujam hingga hampir menyentuh dada, darah mengalir dari luka tebasan itu, namun makhluk itu tetap berdiri tak bergeming tanpa ekspresi kesakitan.
    “Neraka katamu? Saya memang pernah di sana” ucap makhluk itu dengan nada dingin.
    Saat itulah Muchdi merasa yang terburuk akan segera dialaminya. Tubuhnya kaku, wajahnya pucat pasi, pegangannya terlepas dari gagang kapak karena ketakutan. Sebelum ia sempat beringsut mundur, makhluk itu mengibaskan lengan kirinya dengan cepat. Preman itu berdiri kaku tanpa sempat mengeluarkan suara sambil memegangi lehernya yang nampak mulai dilelehi darah. Tidak sampai lima detik, ia ambruk ke lantai dengan kepala terlepas dari lehernya. Kontan mereka yang tersisa pun semakin ciut nyalinya. Munarman langsung menghambur ke arah pintu, ia menarik dan mendorong pintu itu sambil menekan-nekan gagangnya, namun pintu itu tidak juga terbuka. Sementara makhluk itu terus mendekat setelah melangkahi tubuh Muchdi yang sudah tak berkepala. Ia mencabut kapak yang menancap di bahunya dan menjatuhkan benda itu. Sosoknya jadi semakin menyeramkan dengan darah yang semakin berlumuran di tubuhnya.

    “Mampus!!” Irsyad mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya dan menyerang makhluk itu dengan belatinya.
    “Aaakkhh!” terdengar erangan kesakitan dari mulut pria itu, pisau yang digenggamnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai.
    Baik Robby maupun Munarman tidak dapat melihat jelas apa yang terjadi pada Irsyad karena tubuh besarnya memunggungi mereka, hanya terlihat makhluk itu menempelkan telapak tangannya ke dada pria itu. Sebentar kemudian terdengar suara seperti tulang dada remuk dan lalu makhluk itu menarik kembali tangannya sambil menggenggam jantung yang masih berdetak. Kuku-kuku di jarinya memanjang runcing seperti Lady Deathstrike, salah satu musuh X-men. Irsyad mundur selangkah memegangi dadanya yang telah bolong sebelum akhirnya ambruk dengan darah mengucur deras dari lubang di dadanya.
    “Whuuaa…pergi kamu setan! Pergi!” Munarman melemparkan benda apa saja di dekatnya pada makhluk itu yang tetap berjalan mendekatinya.
    Ia berlari ke arah jendela, mengambil kursi untuk memecahkan kacanya, namun anehnya kaca itu tidak pecah walau sudah dihantam sekuat tenaga.
    “Ampun…ampun, jangan bunuh saya, saya akan lakukan apa saja!” mohonnya ketika sudah terpojok sampai punggungnya menempel di tembok.
    “Ampun?….orang seperti kamu ternyata cuma sampah, mana kearogananmu tadi itu! Ternyata cuma tikus pengecut…Hihihi” ejek makhluk itu sambil mengerat jantung di genggamannya membuat Munarman dan Robby semakin bergidik menyaksikan pemandangan seram itu. Makhluk itu mengibaskan tangannya yang sebelah hingga belati milik Irsyad yang tergeletak di lantai tiba-tiba melayang…ke arah Munarman.

    Baca Juga Cerita Seks Naughty Wife Sarah 3A: Satu Minggu yang Tak Terlupakan

    “Aaaaahh!” jeritnya sambil menyilangkan kedua tangan menutupi wajah.
    Satu detik…dua…tiga, ia membuka matanya, ternyata pisau itu tidak menancap di tubuhnya melainkan di dinding tepat di samping kepalanya. Buru-buru diraihnya gagang belati itu dan dicabutnya dari tembok.
    “Jangan mendekat…biarkan saya pergi…pergi!” gertaknya seraya mengacung-acungkan belati itu.
    Makhluk itu hanya tersenyum sinis sambil memakan jantung di genggamannya itu, sungguh pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri dan mengocok perut, terlebih ketika darah dari jantung itu terciprat. Sorot matanya menatap dalam-dalam pria di hadapannya itu yang sedang gemetar ketakutan.
    “Jangan…jangan…ampun!” ucap Munarman bergetar, tangannya yang memegang belati juga ikut gemetar.
    Respon Grace hanya tertawa cekikikan sambil terus menjilati jantung manusia di genggamannya.
    “Aaaa…aaaahh!” Munarman membuka mulutnya dan mengarahkan mata belati itu kesana, tubuhnya bergerak sendiri tanpa bisa ia kendalikan.
    Dengan belati itu ia mengiris mulutnya sendiri kanan dan kiri hingga terbelah sampai ke telinga. Ia hanya bisa mengerang kesakitan tanpa bisa mengendalikan gerakan tubuhnya. Setelah mulutnya terbelah dari telinga kiri hingga kanan, Munarman membuka lebar-lebar mulutnya yang terbelah dan mengarahkan pisau itu ke dalam mulutnya. Sekuat apapun ia menahan tangannya tetap tak mampu menahan kekuatan asing yang menggerakkan tubuhnya itu.
    “Aarrggh…gggrrrlll!!” ujung runcing belati itu mulai masuk dan melukai kerongkongannya, terus masuk tanpa bisa ditahan menciptakan pemandangan yang sangat miris dan mengerikan.

    ‘Bruk!’ ambruklah Munarman dengan mulut robek dan belati tertancap di sana. Tubuhnya menggelepar-gelepar sesaat hingga akhirnya kaku tak bergerak lagi dengan kepala terkulai ke samping menghadap Robby yang masih terikat. Ia tewas dengan sangat mengenaskan, darah segar mengalir dari mulutnya membasahi lantai di bawahnya, matanya membelakak menatap kosong pada Robby.
    “Eemmhh…eeemmm….mmm!” jeritan Robby tertahan oleh kain yang menyumpal mulutnya, ia hanya bisa meronta-ronta di kursi tempatnya terikat, bagaimana ia tidak ketakutan menyaksikan pemandangan penuh horror dan berdarah-darah nyata di depan matanya sendiri.
    Kini makhluk itu menengokkan wajahnya menatap dirinya dengan pandangan menusuk.
    “Hihihi…sekarang tinggal kita berdua sayang”
    Keringat dingin semakin membasahi tubuh wartawan itu, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi dan merasa sebentar lagi akan bernasib sama seperti mereka. Makhluk itu mendekatinya sambil tertawa seram sambil sesekali memakan jantung yang digenggamnya. ‘Eeemmm….mmmm!’ Robby menggeleng-gelengkan kepalanya pada makhluk itu yang sudah tepat di hadapannya. Wajahnya nampak semakin mengerikan terutama bagian yang meleleh itu. Makhluk itu menggerakkan tangannya dan….’eeemmmm!!!’ Robby meronta dan menjerit sekuat tenaga walau mulutnya tersumpal sebelum akhirnya segalanya menjadi gelap baginya. Ada tertulis dalam sebuah puisi kuno,

    Lidah ular Jia Sidao* menggiringnya pada kebinasaan,
    Bukit tembaga Yuan Zai** membawa kehancuran bagi dirinya.
    Mereka yang memangsa sesama,
    berakhir sebagai korban kejahatannya sendiri.
    Mereka mengundang bencana bagi dirinya,
    semua tindakan dan pikiran telah diketahui langit,
    Keadilan dari akhirat tak pernah meleset.
    Dengan kebaikan dan kejahatan yang berdampingan,
    engkau akan melihat mana yang diberkati mana yang dikutuk.
    Ini adalah peringatan pada para pelaku kejahatan,
    bahwa pembalasan karma tidaklah jauh.

    ******************************
    Pukul 22.30, di sebuah villa terlantar

    Hujan masih turun mengguyur wilayah perbukitan itu, bahkan makin deras. Grace melintasi ruang tengah villa itu. Wajah kirinya yang hancur telah kembali halus, namun warna kulitnya sepucat mayat dan tubuh telanjangnya masih berlumur darah. Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
    “Masih ingat pulang juga lu? Darimana aja seharian?”
    ‘Jger!’ kilatan petir disusul bunyi gledek memperlihatkan sosok itu lebih jelas dan seram. Gadis itu duduk menyilangkan kaki di atas lampu gantung besar di tengah ruangan, santai seperti duduk di atas ayunan saja. Rambutnya kemerahan dan agak bergelombang menutupi sebelah wajahnya yang cantik, namun kecantikan yang menyebabkan bulu kuduk berdiri karena kulitnya yang pucat dan noda-noda darah di gaun terusan yang dikenakannya.
    “Biasa…cari angin aja supaya ga bosen” jawab Grace tanpa menoleh padanya.
    “Cari angin? Keliatannya gak cuma itu…Hmmm… lu bau darah manusia, it turns me on.” lanjut gadis di atas lampu gantung itu, “jangan bilang itu darah anjing, kucing, atau sejenisnya ya”
    ”Hm… Do you think we are fools? Obviously you’re lying.” sahut sebuah suara lain dari sosok yang duduk di sofa.
    Wujud sosok itu lebih menyeramkan lagi, ia tidak memiliki kepala, kepalanya diletakkan di pangkuannya sementara tangannya mengelus-elus rambut pirangnya. Kepala itu tersenyum menyeringai ke arah Grace.
    “Siapa yang jadi korban hari ini say?” tanya gadis di lampu gantung itu.
    “Cuma seonggok sampah nggak berguna yang pantas mati”
    “Yah whateverlah…gua cuma minta lu gak ceroboh ninggalin saksi aja” katanya lagi.
    “Did you enjoy your moment, baby? That sperm coming from your body smells deliciously sweet. Heheh.” tanya makhluk tak berkepala itu.
    “I don’t talk to you…so just shut the hell up, headless bitch!” bentak Grace padanya lalu ngeloyor ke tangga yang menuju lantai atas.
    “Ouch… now that’s rude.” kata kepala itu di pangkuannya.
    “Easy Sam, only her bad temper like usual”
    “Tsk…tsk…poor little Grace, cursed to be hungry ghost like that” kata kepala berambut pirang itu.
    “No Sam, poor us, we’re all cursed…cursed to punish all lechers…yaahh…for our slutty life” gadis di lampu gantung itu berkata dengan suara rendah seakan menyesali masa lalu.

    Grace menyusuri koridor lantai dua yang gelap itu lalu tiba-tiba ‘jrennngg!!’ dari langit-langit muncul sesosok makhluk dengan tubuh hitam melepuh habis terbakar dengan posisi menggelantung terbalik seperti kelelawar, wajahnya yang rusak tersenyum lebar mengerikan. Siapapun tentu akan terkejut atau bahkan pingsan ketakutan bila melihat penampakan itu.
    “Udah ngelawaknya?” tanya Grace ketus, lalu tangan kanannya dengan cepat menarik leher makhluk itu dan membantingnya ke lantai.
    “Aaaww…aauuhh…aduuhh…duh…kenapa sih Sis?” rintih makhluk itu sambil mengelus-elus kepalanya yang membentur lantai, “kasar banget sih, orang cuma bercanda juga…lagi datang ya? Emang hantu kaya kita masih bisa datang bulan apa…duhh!”
    Sosok makhluk bertubuh hangus itu berangsur-angsur berubah, kulitnya menjadi mulus, wajah seramnya mulai membentuk wajah manusia dan tumbuh rambut kecoklatan sebahu. Makhluk seram itu akhirnya berubah menjadi sesosok gadis cantik yang tersungkur di lantai tanpa busana, sebuah pemandangan erotis di tengah suasana horror.
    “Eeehh…Sis? Kenapa? Ada apa nih!?” Katherine, nama gadis itu, bangkit dan buru-buru menghampiri Grace yang tiba-tiba tubuhnya lemas dan bersandar di tembok sambil memegangi kepalanya.
    “Nggak…gapapa kok, gua cuma perlu istirahat sebentar…tadi terlalu banyak pakai tenaga”
    “Aduh, emang tadi ngapain aja sih Sis…sampai berdarah-darah gini!?” tanya Katherine nampak khawatir dengan keadaan temannya itu.
    “Udah-udah…gua tambah pusing aja kalau dicerewetin terus…ntar aja ceritanya, gua mau istirahat dulu ah”
    Katherine mengulurkan tangan padanya dan membiarkan Grace memeluk lengannya sebagai penopang lalu keduanya berjalan memasuki kamar dan menghilang di tengah kegelapan.

    *******************************
    Keesokan harinya, pukul 6.20, tempat Robby disekap

    Mata Robby mulai membuka dan berkedip-kedip, sinar matahari pagi masuk dari kaca ventilasi mengenai wajahnya. Ia menemukan dirinya masih terduduk di kursi, tapi ikatan tangannya telah terlepas sehingga dapat menggerakkannya untuk melepaskan ikatan mulutnya. Setelah pandangan matanya jelas ia melihat sekeliling, nampak perkakas dan perabotan berantakan seperti baru terjadi perkelahian, namun tidak nampak setetespun ceceran darah. Apa gerangan yang terjadi? ia tidak apa-apa selain kemarin sore dirinya disergap dan dibius oleh Munarman dan anak buahnya, lalu dibawa ke tempat ini dan dipukuli untuk buka mulut…tapi apa yang terjadi setelahnya, apakah dipukuli hingga tak sadarkan diri, tidak jelas. Rasa sakit dan memar-memar pada tubuhnya masih terasa…jadi ini bukan mimpi, memang benar kemarin itu mereka telah menangkap dan memukulinya, tapi entah kemana mereka sekarang? mengapa mereka meninggalkannya disini hanya seorang diri? Seribu satu pertanyaan memenuhi benaknya. Ia mencoba bangkit dan terbatuk-batuk menahan rasa sakit yang masih terasa pada sekujur tubuhnya. Ia berjalan menuju pintu keluar dan membukanya, udara pagi pegunungan yang segar berhembus, berarti ini masih di dunia….ini bukan akhirat, tapi dimana? Ia tidak tahu daerah ini karena ketika dibawa kesini ia dalam keadaan pingsan dibius. Matanya melihat sesuatu di lantai dekat pintu itu, kunci dengan gantungan kunci remote mobil, untuk mobil kijang di samping rumah inikah? Dipungutnya kunci itu, lalu ditekannya tombol, terdengar bunyi ‘nit-nit’ pertanda kunci itu memang pasangan mobil itu. Ia melangkah tertatih-tatih menuju kesana dan menjatuhkan dirinya ke jok kemudi. Ia mencoba mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi, tapi tidak ada satupun diingatnya selain terakhir dirinya dijadikan samsak hidup oleh mereka. Setelah tenaganya terkumpul ia menghidupkan mobil keluar dari pekarangan rumah kecil itu.

    Selama sepuluh menit ia menyusuri jalan yang sempit yang hanya bisa dilalui sebuah mobil, tidak ada seorang pun yang ia temui untuk menanyakan jalan selain beberapa satwa liar melintas sebelum akhirnya ia melihat tidak jauh dari situ terdapat perumahan, sepertinya itu wilayah villa elite. Robby tetap mengemudikan mobil itu pelan-pelan karena tidak mengenal daerah hingga ia bertemu seorang gadis sedang berjalan dengan menggendong sebuah tas ransel kecil yang biasa di punggungnya. Dari penampilannya yang memakai kaos dan celana pendek serta topi pet di kepalanya sepertinya ia sedang liburan di wilayah villa yang barusan dilihatnya itu.
    “Mbak…Mbak…maaf saya numpang tanya sebentar!” Robby memanggilnya sehingga gadis itu menengok ke belakang, wajahnya cantik dengan rambutnya yang kemerahan, “Mbak ini dimana? Jalan keluar dari sini lewat mana? Saya harus cepat pulang ke Jakarta” tanyanya dengan ekspresi bingung.
    Gadis itu dengan ramah menjelaskan posisi tempat itu bahkan menawarkan diri untuk mengantarkannya hingga ke jalan raya.
    “Saya Arlene, villa saya ada di sana…biasa jam segini enaknya joging sambil nikmatin pemandangan” katanya memperkenalkan diri setelah masuk ke mobil, ia meletakkan ransel kecilnya di jok belakang, “kamu…kamu kenapa sampai begini?”
    “Ceritanya panjang, saya….” Robby juga memperkenalkan diri dan menceritakan bagaimana ia bisa sampai di tempat itu hingga akhirnya kehilangan kesadaran dan menemukan dirinya hanya sendirian di pondok itu, “aneh yang saya gak ngerti mereka itu mau menghabisi saya, tapi paginya tinggal saya sendirian aja…saya juga ga inget apa-apa semalam itu, seperti ada yang kosong dalam ingatan saya”
    “Yah…saya juga nggak tau gimana jelasinnya, tapi syukurlah kamu selamat…tapi kamu babak belur begitu, apa gak sebaiknya mampir di tempat saya biar kita rawat dulu lukanya?” tawar Arlene sambil menumpangkan kakinya yang kanan ke kaki sebelahnya, entah sengaja atau tidak ia melakukannya yang jelas hal itu sedikit banyak memancing perhatian Robby mencuri pandang ke pahanya yang ramping dan mulus.

    “Nggak makasih, ntar ngerepotin kalian, gak enak…lagian saya harus buru-buru pulang ke Jakarta terus hubungi pacar saya…aahhh itu ya jalan rayanya?” tolak Robby dengan halus dan tak lama kemudian ia melihat jalan raya terbentang tak jauh di depannya.
    “Iya…ntar kamu tinggal belok kiri lurus aja pasti ketemu gerbang tol ********, ok turunin saya disana aja, tinggal jalan dikit, tempat kita di atas sana” gadis itu menunjuk ke wilayah yang agak tinggi di kawasan villa tersebut.
    Robby menurunkan gadis itu di daerah yang sepi dan ditumbuhi pohon-pohon rindang di tepiannya sesuai permintaan gadis itu.
    “Makasih…hati-hati ya!” pamit Arlene setelah mengambil ranselnya dan turun dari mobil.
    “Saya yang makasih…udah ngerepotin” balas Robby
    Gadis itu melambaikan tangan pada Robby yang mulai menjalankan mobil menjauhinya. Baru dua meter maju, Robby baru ingat kenapa ia tidak meminjam ponsel saja pada gadis itu untuk menelepon Liany, dilihatnya spion samping untuk melihat apakah gadis itu masih disana, tapi…kosong…hah? Kemana dia, mana mungkin ia dapat pergi secepat itu tanpa meninggalkan tanda-tanda keberadaannya. Penasaran, Robby membuka kaca dan melongokkan kepalanya ke luar, sepi…tidak ada siapa-siapa disitu. Ia buru-buru menginjak gas meninggalkan tempat itu menuju jalan raya, aneh…sungguh hari yang aneh, tapi yang jelas ia bersyukur telah bebas dari Munarman yang hendak menghabisinya, yang kini harus dilakukannya adalah menghubungi Liany yang pasti sangat mengkhawatirkan dirinya, karena itu ia segera tancap gas agar dapat segera pulang dan berkumpul kembali dengan orang yang dikasihinya.

    Manusia akan terbebas dari mulut kematian,
    apabila waktu pembebasan telah tiba.
    Karma dan darma selalu datang tepat waktunya.

    ******************************
    Di villa

    Segumpal asap putih kebiruan bergulung-gulung seperti awan di ruang depan villa itu dekat pintu masuk dan membentuk sebuah sosok yang tak lain adalah gadis yang ditemui Robby di jalan tadi.
    “Well…well…little Grace has erased his memory last night!” kata Arlene, wajahnya kini lebih pucat daripada ketika di jalan tadi, sekitar matanya nampak lingkaran hitam, “careful enough, although cost her much energy”
    “Yea…I also think that guy is nice, isn’t he” kata suara dari dalam ransel itu.
    “That’s why I released him free” Arlene membuka ransel itu dan mengeluarkan sebuah kepala berambut pirang dengan darah kering di sekitar potongan lehernya, “a nice guy who dedicates to his lover, whom I never get when I was alive”
    “So how about Grace now?” tanya Arlene sambil melemparkan kepala itu pada tubuh tak berkepala yang duduk di sofa dan langsung menangkapnya.
    “Still have a rest, Kath is out, but I dunno where” jawab kepala Sam.
    “I think we need a rest too…till tonight!” kata Arlene sambil menuju ke sebuah kamar.
    Keheningan menyelimuti villa terlantar di atas bukit itu, semua tampak biasa saja bila melihat villa bertingkat dua itu dari luar.

    Sementara itu di tempat lain agak jauh dari kompleks villa itu, di wilayah hutan lindung yang sepi nampak sebuah sepeda motor diparkirkan di pinggir jalan setapak itu. Sekitar sepuluh meter dari situ nampak sebuah semak-semak yang bergoyang-goyang. Sayup-sayup terdengar suara desahan dari sana. Di balik semak-semak itu seorang pria berusia 40an, bertubuh agak gempal dan berkumis tebal sedang berlutut di atas tanah berumput, ia hanya mengenakan pakaian atasnya saja berupa jaket kulit hitam dan kaos kampanye sebuah parpol warna hijau lusuh di baliknya. Mulutnya melenguh pelan sementara pinggulnya bergerak maju-mundur menyetubuhi seorang gadis cantik yang sedang menungging dalam posisi doggie di depannya. Rambutnya yang kecoklatan sebahu itu diikat ke belakang, wajahnya yang putih bersemu kemerahan akibat gelora birahi yang sedang melandanya. Kancing depan pada gaun terusan warna pink yang dikenakannya telah terbuka semua, branya telah tersingkap ke atas sehingga mengekspos payudaranya yang kini sedang digerayangi pria itu, bawahannya telah tersingkap hingga pinggang, celana dalamnya telah lepas dan tergeletak di dekat kakinya.
    “Hhhssshh…oohh…oohh…iyah Pak, terus…enak nggghh!” desahnya sambil merem melek menikmati genjotan pria itu pada vaginanya.
    Pria itu meningkatkan ritme genjotannya hingga tumbukan selangkangan mereka menghasilkan bunyi tepukan. Tangannya yang satu meremas pantat gadis itu dan menepuknya dengan gemas.
    “Uugghh…Bapak mau keluar Non….uuuhh enaknya peret!” ceracau pria itu.
    Tak lama kemudian, dengan sebuah lenguhan panjang, pria itu mencapai orgasme, ia menusukkan penisnya dalam-dalam ke vagina gadis itu dan menumpahkan spermanya di dalam sana. Tubuhnya mengejang sekitar 1-2 menit sebelum akhirnya ambruk menindih gadis itu. Cerita Maya

    Setelah beberapa saat berpelukan menikmati sisa orgasme, pria itu pun berguling ke samping hingga tubuh mereka terpisah.
    “Hhhmmm…Non cantik banget…selama jadi tukang ojek baru pernah dapet penumpang kaya Non …rela deh Bapak tiap hari ngebonceng Non kalau gini, kasih gratis dah hahaha!” puji pria itu sambil menarik kepala gadis itu sehingga dapat mencium bibirnya yang tipis dan indah.
    “Ohh ya? Kalau sama saya tiap hari kasian tuh istri Bapak” gadis itu tersenyum nakal.
    “Aaaahh…si Non, istri saya sih, waktu muda aja kalau dibanding Non ga ada apa-apanya deh!” kata pria itu sambil mengelus-elus payudara gadis itu.
    “Masa sih? Masa dibandingin sama istri Bapak, saya kan ga enak…mmmhh!” desahnya nakal karena pria itu melumat payudaranya dengan gemas.
    “Iyah Non, kulit Non bening gini, mana cantik lagi…sssllrrpp…sumpah istri Bapak kalah deh!” ucapnya sambil mengenyot dan menjilati payudara gadis itu.
    “Hihihi, gitu yah…jadi saya cantik? Bahkan kalau seperti ini?” gadis itu mengangkat wajah si tukang ojek yang sedang asyik menyusu darinya.
    “Wwhuuaa!!” pria itu sangat terkejut melihat wajah si gadis yang telah berubah mengerikan, wajah cantik itu kini menjadi hitam melepuh sampai terlihat sebagian tulang wajahnya, belum lagi ditambah seringainya yang membuat bulu kuduk berdiri.
    “Setann…toll…hheeekkhhh!” suaranya terpotong sebelum sempat berteriak, dari balik semak-semak itu nampak lelehan darah membasahi rumput.

    Nafsu berlebih ibarat pedang yang memotong daging;
    Kelemahan terhadap wanita membawa pada bencana.

    NB:
    * Jia Sidao (贾似道, 1213-1275) adalah perdana menteri korup pada akhir Dinasti Song. Ia meraih jabatan berkat hubungannya sebagai adik dari selir kesayangan Kaisar Lizong dan kepandaiannya menjilat pada sang kaisar dungu itu. Sepanjang karirnya ia telah mencelakai banyak pejabat bersih dan menindas rakyat. Anggaran militer dikorupsinya sehingga pasukan Song tak dapat memperkuat diri dan akhirnya mengalami kekalahan besar dari bangsa Mongol. Para lawan politiknya mempersalahkan Jia atas bencana ini hingga ia akhirnya dipecat dan dibuang ke pengasingan. Dalam perjalanan ke pengasingan, Jia dan kedua putranya dibunuh oleh Zheng Huchen, perwira militer yang mengawalnya dan yang menyimpan dendam terhadapnya karena ayahnya pernah menjadi korban fitnah Jia.

    ** Yuan Zai (元载, ?-777) adalah perdana menteri pada pertengahan Dinasti Tang semasa pemerintahan Kaisar Daizong. Ia seorang politikus dan ekonom yang gemilang, juga berjasa membantu kaisar membunuh kasim jahat, Yu Chao’en, namun sangat gila harta. Yuan dan keluarganya terlibat penyalahgunaan wewenang dan korupsi besar-besaran untuk memperkaya diri. Pada akhirnya skandal itu terungkap juga sehingga kaisar menjatuhinya hukuman mati beserta istri dan ketiga putranya. Ketika petugas kekaisaran mendatangi kediamannya untuk menyita aset-asetnya, mereka menemukan sejumlah besar emas, perak, dan benda-benda berharga lainnya yang cukup untuk memenuhi kas negara selama beberapa tahun. Bukit tembaga sendiri adalah ungkapan umum di China untuk kekayaan yang berlimpah ruah.

  • Naughty Wife Sarah: Tejo, Keponakan yang Nakal

    Naughty Wife Sarah: Tejo, Keponakan yang Nakal


    58 views

    Disclaimer :

    • Cerita ini akan mengandung tema berbagai aktivitas seksual, mulai dari masturbasi, pelecehan, perselingkuhan, bahkan gangbang, ekshibisionisme, dll sesuai dengan fantasi penulis. Tapi penulis sama sekali tidak menganjurkan pembaca untuk melakukan ataupun meniru tindakan seks amoral serta pelecehan sebagaimana tertulis dalam cerita ini.
    • Penulis tidak memaksa siapapun untuk membaca ataupun mengkoleksi karyanya. Kalau pembaca tidak suka dengan tema di atas dengan alasan apapun, tidak ada yang melarang pembaca untuk meninggalkan halaman ini. Kalau pembaca merasa cukup dewasa untuk membaca cerita dengan tema yang sudah disebut di atas, silakan untuk terus membaca.
    • Cerita ini beserta seluruh tokoh-tokoh yang ada di dalamnya adalah 100% FIKSI, bukan KENYATAAN.
    • Cerita ini adalah karya asli ‘enamsembilan’, walau terinspirasi dari beberapa kisah yang pernah ada.
    • Cerita ini sejak awal dibuat untuk ditampilkan di blog kisahbb. Enamsembilan selaku penulis tidak mengijinkan Cerita ini dimuat di situs apapun, dalam bentuk apapun, selain di blog kisahbb
    ########################################
    INTRODUCTION

    Sarah

    Cerita Maya | Tokoh kita kali ini adalah Sarah. Gadis muda yang dikaruniai wajah jelita. Usianya baru 22 tahun saat dia menikah. Heru, suaminya kini, melamarnya setelah 2 tahun memacarinya. Bagi sebagian orang terutama kalangan modern penghuni kota besar, usia itu jelas dipandang terlalu muda buat menikah. Sarah sendiri menyadari hal itu.

    Teman-temannya saat itu juga banyak yang mengkritik, “Buru-buru amat lo Sar, ga pingin meniti karir dulu?”, “Beneran lo dah mantep sama si Heru?”, “Kuliah lo gimana Sar?”, dan banyak lagi kata-kata semacam itu dari teman-temannya, tak terkecuali dari orang tuanya sendiri. Tapi Sarah tak bergeming. Usia Sarah terpaut 6 tahun dengan Heru yang saat itu 28 tahun. Sebenarnya di usia itu Heru telah menjadi seorang eksekutif muda yang sukses, jadi masalah ekonomi sudah bukan masalah bagi keluarga baru mereka kelak. Tapi, di samping masalah ekonomi itu, Sarah punya alasan lain mengapa ia langsung menerima saat Heru melamarnya. Sepanjang 2 tahun berpacaran dengan Heru, mereka telah terbiasa dengan hubungan seks yang bebas. Sarah sendiri memang sudah terbiasa dengan pergaulan bebas sejak duduk di bangku SMA. Sebelum berpacaran dengan Heru, dia menghitung sudah 5 pria yang pernah bersetubuh dengannya. Tidak semuanya pacar, hanya 2 orang yang pernah benar-benar berpacaran dengannya, 3 lainnya hanya teman, bahkan salah satunya hanya hubungan one night stand. Jadi heru adalah laki-laki keenam yang hadir dalam kehidupan bebas Sarah. Diam-diam, saat itu Sarah yang benar-benar mencintai Heru sempat berpikiran bahwa Heru harus menjadi laki-laki terakhirnya. Sebenarnya saat berpacaran dengannya pun Sarah beberapa kali menjalin hubungan persetubuhan dengan seorang mantan pacarnya. Orang bilang itu selingkuh, tapi bagi Sarah sendiri, dia melakukannya hanya untuk bersenang-senang karena dia memang sudah terbiasa melakukan itu. Mantan pacarnya itu pun sudah mempunyai pacar yang lain lagi. Jadi, Sarah tetap mencintai Heru yang dia pandang sudah mapan, lebih dewasa, dan secara penampilan, bagi Sarah Heru itu paling tampan dibanding lainnya.

    Selama menikah Sarah bersyukur memiliki Heru dan tak ingin kehilangan dia. Tapi dasar kelakuannya itu sudah susah dirubah, kadang dia pun memaki dirinya sendiri yang terlalu ‘kegatelan’. Sarah tidak berdaya dan kembali jatuh ke dalam hubungan persetubuhan dengan laki-laki lain lagi yang baru dia kenal. Anton, namanya. Mahasiswa tingkat dua, penghuni baru kos sebelah. Anton ini ini memang terkenal playboy. Penjahat kelamin sejati. Wajahnya memang cukup ganteng, pacarnya barangkali ada selusin lebih. Tapi, sekali lagi, hubungan Sarah dengannya juga sebatas bersenang-senang. Anton dan Sarah sama-sama tahu keliaran masing-masing. Anton tahu bahwa Sarah tahu tentang keplayboy-annya. Jadi hubungan mereka benar-benar tanpa ada embel-embel cinta dan tuntutan apapun. Semuanya murni nafsu. Celakanya, karena Anton itu tetangga kos Sarah, maka hubungan persetubuhan mereka pun intensitasnya mulai melebihi hubungan Sarah dengan Heru yang berjarak cukup jauh darinya. Apalagi ditambah dengan kesibukannya gara-gara karirnya yang memang sedang menanjak. Sungguh Sarah benar-benar lemah kalau soal godaan seks ini. Walhasil, sudah 7 laki-laki pernah mengisi kehidupan liar Sarah saat itu. Angka 6 yang dianggapnya lebih dari cukup, ternyata tidak bertahan lama. Tapi bagaimanapun Sarah berpikir, hatinya tetap milik Heru, sang laki-laki keenam. Itulah sebabnya dia langsung menerima lamaran Heru saat itu. Bahkan Sarah meminta Heru untuk mempercepat pernikahan mereka. Heru yang baru dapat promosi senang saja waktu itu tanpa ada kecurigaan apapun. Sarah sendiri juga merasa tulus, hubungannya dengan laki-laki lain tidak pernah dianggapnya sebagai penghianatan, walau tentu saja tetap dirahasiakan dari Heru. Sarah benar-benar berharap dengan status barunya sebagai seorang istri bisa meredam gejolak liarnya, dan juga menghalangi orang untuk menggoda dirinya yang memang berwajah di atas rata-rata itu. Cerita Maya

    Kalau saja niat Sarah yang tulus itu benar-benar bisa berjalan lancar tentu cerita ini tidak akan pernah ada. Yah, apa daya, walau dia telah menikah, Anton tetap saja kerap mengunjunginya. Sarah juga tak kuasa menolaknya. Suatu ketika dengan perasaan was-was, Sarah mengingatkan pada Anton,

    “Ingat Ton, jangan ada cinta! Hatiku tetap milik mas Heru!”

    Dia khawatir Anton yang tak berhenti mengunjunginya itu gara-gara diam-diam menaruh cinta padanya. Tapi kekhawatirannya agaknya tak terbukti.

    “Tenang mbak, siapa sih yang tidak senang bisa berhubungan dengan wanita secantik mbak tanpa ada tuntutan tanggungjawab apapun?” Jawabnya terkekeh, “Aku juga masih muda, semua ini kita lakukan just for fun kan? Aku masih sadar dan merasa beruntung dengan itu.”

    Anton menegaskan pada Sarah untuk tidak khawatir dengan perasaannya. Kurang ajar juga, pikir Sarah, tapi Sarah sendiri pun sudah terbiasa menikmati hubungan semacam itu. Dia pun mencoba menunjukkan sikap tidak tersinggung dengan itu. Kadang dalam hati saat sedang merenung Sarah kerap berapologi membela diri sendiri.

    “Suamiku sudah sangat sibuk di kantornya. Dia berangkat kerja pagi jam 7 dan pulang ke rumah jam 7 malamnya. Itu kalau tidak lembur. Apalagi tidak jarang juga di akhir pekan dia ada tugas keluar kota,” gumamnya dalam hati. “Walau memang hal itu sama sekali tidak mengurangi kemesraan kami sih… Saat ada di rumah, mas Heru agaknya tahu bagaimana memanfaatkan waktu yang tidak lama itu untuk habis-habisan bercumbu denganku. Aku pun merasa senang dengan hal itu. Hubungan sex-ku dengan suamiku tetap mesra, panas, dan baik-baik saja. Yang menjadi masalah mungkin hanya ‘kurang sering’ saja,” pikirnya lebih lanjut. “Agaknya libidoku ini terlalu tinggi…” Keluhnya.

    #################################
    A PIECE OF BAMBANG

    Namun, belakangan Sarah mulai menyadari bahwa masalahnya bukan hanya itu. Otak nakalnya mulai menyatakan; “beda ‘batang’, beda rasa dan beda sensasi”. Sarah mulai memahami hal itu saat dia tak kuasa menerima laki-laki lain lagi selain Anton masuk ke dalam kehidupan seks-nya. Gila, 2 pria sudah yang diajaknya berselingkuh. Dialah Bambang, teman Heru -suaminya sendiri- saat kuliah. Nasibnya tidak seberuntung Heru. Pekerjaan dan penghasilannya biasa-biasa saja. Dia seorang salesman yang kerjaannya keliling. Karena itulah dia sering sempat mampir ke rumah di tengah hari. Sarah yang sudah kenal Bambang lama sebagai teman Heru baik-baik saja menerima dia. Bambang selalu curhat pada Sarah tentang pekerjaannya. Keakraban mereka yang memang sudah lama membuat perselingkuhan terjadi tanpa membutuhkan waktu lama. Hanya dalam kunjungan ketiga, Bambang sudah berakhir di ranjang Sarah. Bambang memang supel dan humoris, Sarah merasa sangat nyaman dan terhibur ngobrol dengannya. Yah, begitulah… Di tengah hubungan gelapnya dengan Anton dan ditambah lagi Bambang, Sarah mulai berpikir,

    “Beginilah diriku… Aku memang binal, i just can’t help it…” Bahkan hubungan suami istri antara dia dengan suaminya yang masih harmonis dan saling mencintai, malah menjadi pembenaran baginya dalam melakukan hubungan gelap itu.

    “Yang penting aku tetap cinta dengan suamiku, dan tidak sekali-kali hatiku beralih ke laki-laki lain. Hubunganku dengan Anton dan Bambang tidak akan merusak dan tidak membahayakan!” Begitu pikirnya mencari pembenaran yang tentu saja terbalik logikanya. Yah namanya juga pembenaran…

    Sejujurnya, berbeda dengan Anton dan apalagi suaminya, wajah Bambang bisa dikatakan jauh di bawah mereka alias jelek. Sarah sendiri merasa heran bagaimana dia bisa berakhir di ranjang dengan orang seperti Bambang. Semuanya mengalir begitu saja saat itu. Sarah juga tidak berpikir panjang, dan karena ternyata Bambang sama sekali tidak ‘mengecewakan’ dalam hal bercinta, Sarah pun tidak mengeluh. Bahkan, Bambang bisa dikatakan mengalahkan Anton yang playboy itu dalam hal memuaskan dirinya, kalau dibandingkan dengan Heru yang lebih jarang menggauli dirinya, apalagi. Hanya saja kalau dipikir-pikir di malam hari, mengenang-ngenang persetubuhan dengan Bambang yang buruk rupa itu di siang harinya, Sarah tersenyum kecut sendiri dibuatnya. Tapi pada akhirnya dia malah sering merasa geli sendiri dengan hal itu. “Ahh sudahlah…” pikirnya.

    ###################################
    TEJO THE NEPHEW

    Tejo

    Bagaimanapun, hubungan gelap Sarah itu harus terhenti ketika ia mulai hamil. Anton dan Bambang juga tahu diri. Walau begitu, sebagai teman, mereka kadang tetap mengunjungi Sarah tanpa mengharapkan seks. Sarah senang mereka begitu. Kehamilannya ini tidak mengurangi kesibukan Heru, jadi sering sekali dia membutuhkan teman di siang hari saat Heru bekerja. Saat itu hadirlah seorang laki-laki lain dalam kehidupan Sarah. Dialah Tejo, keponakannya sendiri yang datang dari desa. Usianya baru 15 tahun-an, masih duduk di bangku SMP. Tejo adalah anak dari kakak Heru, alias kakak iparnya. Berbeda dengan Heru yang merantau ke kota dan menggapai sukses, kakaknya itu tetap di desa dan hidup biasa-biasa saja. Dia bahkan mengalami kesulitan dalam menanggung biaya sekolah Tejo yang anak semata wayangnya. Heru mendengar hal itu dan mengutarakan keinginannya untuk mengajak Tejo tinggal bersama dia dan Sarah di kota untuk disekolahkan di sana. Tentu saja Heru akan menanggung seluruh biaya sekolah dan hidup Tejo. Yah bisa dikatakan seperti mengambil anak angkat, tapi memang tidak ada kata-kata mengangkat anak, adopsi, atau yang semacamnya. Niat Heru itu langsung disetujui oleh kakanya dan dia merasa sangat berutang Budi dengan begitu. Tejo sendiri nurut-nurut saja, dan Sarah juga sama sekali tidak menunjukkan rasa keberatan. Pada hari kedatangan Tejo, Sarah mengamati perawakannya dalam-dalam. Badannya kurus, kulitnya hitam legam. Dia tidak terlalu tinggi, barangkali sekitar 150cm. Wajahnya jauh dari tampan, yang terlintas spontan di benak Sarah saat itu adalah,

    “Benar-benar ndeso….”

    Walaupun tentu saja banyak sekali orang-orang desa yang tampan. Contohnya ya suaminya sendiri, Heru yang notabene berasal dari desa yang sama dengan Tejo.

    “Masuk Jo sini jangan malu-malu!” Panggil Heru pada Tejo yang berdiam di ruang tamu.

    Tejo pun masuk, Heru mengenalkan Sarah padanya,

    “Ini tantemu, tante Sarah, istri Oom…ayo salaman!”

    Tejo meraih tangan Sarah dan sebagai sopan santun dia menundukkan kepala menyentuhkan keningnya pada punggung tangan tantenya itu.

    “Saya Tejo tante…” Dia memperkenalkan dirinya.

    “Ya, kamu baik-baik ya di sini, belajar yang baik nanti.” Kata Sarah basa-basi.“Di sini santai saja nggak usah canggung, anggap saja rumah sendiri… Tante Cuma berdua sama Oom-mu di rumah ini.” Lanjutnya.

    “Oom tiap hari ngantor, kami tidak ada pembantu jadi nanti kamu bantu-bantu tantemu ya.” Timpal Heru.

    Tejo tidak banyak bicara saat itu, hanya sekedar mengangguk atau menggeleng dalam menjawab penjelasan-penjelasan Heru. Pikiran remajanya terusik dengan kecantikan Sarah. Benar-benar Sarah ini wanita tercantik yang pernah dia tahu sepanjang hidupnya. Tejo memandangi Sarah dengan tertegun saat itu. Dia yang masih kecil tidak berusaha menyembunyikan pandangannya, atau mengalihkan muka dan berusaha curi-curi pandang pada Sarah. Tidak. Dia benar-benar terang-terangan memandangi wajah Sarah. Hanya saat bertemu pandangan mata dengan Sarah saja dia merasa segan dan mengalihkan pandangannya dari wajah Sarah, tapi turun ke tubuh Sarah dan bukan memandang ke arah lain. Sama sekali tidak kelihatan salah tingkah, termasuk saat Sarah mengantar ke kamarnya dan membantu membereskan barangnya.

    Sarah jelas menyadari hal itu. “Anak ini antara lugu atau tidak sopan,” pikirnya.

    Tampak tipis perbedaannya, tapi tentu Sarah menganggapnya lugu.

    “Belum pernah lihat cewek cantik mulus ya?” Pikirnya lagi dalam hati kegeeran.

    Memang dalam pandangan Tejo itu tidak bisa disembunyikan kekagumannya pada tantenya itu. Dalam bahasa binal Sarah; “Gila, mupeng banget ni anak… Hehehehe. Aduh, aku ini mikir apa sih, binal banget!” Sarah menghardik dirinya sendiri dalam hati.

    Saat itu Sarah mengenakan pakaian sehari-hari biasa; daster tipis yang bawahnya hampir sejengkal di atas lutut. Pakaian yang dipikirnya jauh dari seksi. Daster yang sangat biasa sekali, jauh dari seksi karena agak longgar supaya tidak gerah. Benar-benar pakaian yang biasa dipakai ibu-ibu di rumah. Tapi, ibu yang satu ini masih muda, putih, langsing, dan segar dipandang… Begitulah Sarah yang walaupun sudah jadi ibu tapi usianya memang masih terbilang muda. Tejo sendiri memang silau dengan paha Sarah yang terbuka bebas itu. Putih dan mulusnya itu benar-benar gak nahan. Desa asalnya yang dekat pesisir itu memang nyaris tidak ada manusia berkulit putih di sana, semuanya berkulit gelap, hitam terbakar matahari yang sangat terik, tidak terkecuali anak-anak sekalipun dan para wanitanya. Heru sendiri juga berkulit gelap. Jadi, maklum saja, jangankan Tejo yang dari desa, pemuda kota seperti Anton pun blingsatan jika memandangi tubuh mulus Sarah itu. Walaupun tengah hamil saat itu, Tejo tetap terpesona dengan tantenya itu. Berkali-kali dia menelan ludah, dan itu kentara sekali hingga disadari oleh Sarah sendiri. Dasar binal, Sarah tidak merasa risih sama sekali. Dalam hati dia malah jadi tidak bisa berhenti memuji-muji diri sendiri. Akibatnya dari luar tidak sadar dia suka senyum-senyum sendiri.

    “Ada apa senyum-senyum sendiri?” Tanya Heru membuyarkan lamunannya.

    Sarah terkaget, “Eh… mas ini, gak papa, gak ada apa-apa!” sahutnya tergagap.

    “Tejonya mana?” Tanya Heru lagi.

    “Ya lagi beres-beres pakaiannya di lemarinya mas, banyak juga bawaan dia,” jawab Sarah. “Tadi aku bantu sebentar dengan barang-barangnya, tapi masalah pakaian biarlah dia yang menata sendiri.” Kata Sarah lagi.

    ################################
    THE BITCH IS ON DA HOUSE AGAIN!

    Tidak lama kemudian, Sarah pun melahirkan. Anaknya cowok, mungil dan sehat. Sarah benar-benar bahagia saat itu, dia dan Heru menamai putra pertamanya itu Doni. Hari-harinya setelah itu pun disibukkan dengan mengurusi bayinya. Di tengah bahagianya, satu hal yang membuat Sarah resah adalah penampilan badannya yang menjadi seakan melar setelah melahirkan.

    “Benar-benar menjadi tidak menarik,” pikirnya saat memandangi dirinya di depan cermin.

    Sarah yang menyadari kesempurnaan fisiknya itu memang sangat peduli dengan perawatan tubuh. Dia menyadari betul kelebihannya dan tidak mau kehilangan karunianya itu. Kalau berat badannya naik sedikit saja dia sudah panik dan langsung mengurangi makan. Karena itulah Sarah menjadi sangat pintar dalam menjaga dan merawat kebugaran tubuhnya. Oleh karena itu, di samping kesibukan mengurus bayi, Sarah mencanangkan program pribadi: ‘mengembalikan keadaan tubuh seperti semula!’ Sarah berkata mantap dalam hati. Semangat banget dia kalau sudah bicara urusan penampilan. Dengan kedisiplinan dan keseriusannya, hasilnya pun segera nampak. Bentuk badannya kembali normal tidak lebih dari 2 bulan. Suatu ketika sehabis mandi Sarah terlihat asik berpatut diri di depan cermin dengan hanya berlilitkan handuk.

    “Yess, sudah ideal lagi bentuk badanku kini!” Sarah berbangga diri.

    Kebanggaan itu bahkan bertambah lagi dengan payudaranya yang semakin montok berisi gara-gara sudah memproduksi ASI di dalamnya. Dia melepas handuknya dan mengelus-elus sendiri payudaranya yang membanggakan itu di depan cermin. Sambil tersenyum puas dan bangga tidak bosan-bosannya dia berlama-lama di depan cermin. Yah, bernarsis-narsis ria di depan cermin ini juga sudah menjadi kebiasaan Sarah sejak kecil.

    ############################
    THE PLAYBOY STRIKES BACK

    Suatu ketika Anton mengunjunginya. Padahal saat itu hari minggu, jadi Heru dan Tejo sedang ada di rumah. “Mau menengok bayi…” begitu alasan Anton. Sarah memperkenalkannya sebagai teman saat kuliah pada Heru. Anton yang mendapati tubuh Sarah sudah kembali seksi seperti sediakala jelas mupeng berat. Dia berbisik pada Sarah,

    “Gimana nih mbak, hampir setahun kita libur, menunggu bayimu lahir, eh sekarang ada si Tejo di rumahmu?”

    Mendengar itu, Sarah mencubit lengan Anton sambil tertawa kecil, “kamu ini kirain sudah insyaf ternyata masih ngarep ya?” Godanya.

    “Ya iyalah mbak, kamu ini kan wanita favoritku…” Rayu Anton masih berbisik.

    “Gombal ih Ton, kamu kan banyak pacar mahasiswi yang masih seger-seger, muda-muda, dibanding aku yang sudah Ibu-ibu…” Sarah pura-pura tidak termakan rayuannya.

    “Yah, mbak Sarah ini sok merendah… Gak mungkin mbak nggak nyadar dengan kecantikan sendiri. Jujur aja, kalau secara wajah dan bodi mbak ini nggak kalah deh dengan pacar-pacarku itu, tapi kalau masalah pengalaman dan pengertian, mbak Sarah jelas nomor satu!” Jawab Anton meyakinkan. “Hubunganku dengan mbak Sarah ini yang paling ingin kupertahankan loh! Kita sama-sama mengerti, ga ada tuntutan satu sama lain. Dengan pacarku yang lain aku harus keluar uang buat makan, nonton atau apalah… namanya juga orang pacaran, repot. Sedangkan sama mbak Sarah gak ada embel-embel lain, tiap kali ketemu langsung tancap!” Terangnya nakal. Sarah sudah tahu keuntungan hubungan mereka itu, dia pun senyum-senyum menggoda Anton tanpa menjawab.

    “Yah malah senyum-senyum menggoda nih, mentang-mentang manis,” ujar Anton gemas menjawil dagu Sarah. “Eit! Kamu ini, kalau suamiku lihat gimana?!” Hardik Sarah pelan, dia pun menengok kanan-kiri, suaminya tidak ada, mungkin masih di kamar. Heru memang kurang pandai bersosialisasi dengan teman-teman maupun keluarga Sarah. “Huh, aman..” pikir Sarah. Tapi dia kemudian terhenyak melihat keberadaan Tejo di teras yang tidak terhalang pintu dengannya.

    Tejo yang sedang meyirami tanaman tampak fokus pada pekerjaannya, tapi andai tadi dia melihat ke dalam ruang tamu pasti dia menyaksikan peristiwa tadi. Sarah tidak tahu apakah Tejo tadi melihat, tapi hatinya jadi was-was juga,

    “uh kamu sih, udah datangnya hari minggu, malah ga liat-liat keadaan!” Tukas Sarah pelan.

    Anton tidak kelihatan menyesal malah tersenyum nakal, “Kamu ini terlalu parno, ga mungkin tadi dia mengintip kita!” jawabnya menenangkan.

    Sarah tetap merengut kesal. Anton yang mengangggap Sarah sedang merajuk bermanja malah merasa ge-er. Dalam hatinya dia girang, Sarah belum lepas dari pelukannya. Cuma satu masalahnya, si Tejo ponakannya ini keberadaannya jelas mengganggu.

    “Apa besok-besok kita perlu keluar ke hotel atau…”

    “Ssst!” Sarah memotong pertanyaan Anton kesal. “Bisa nggak sih mikirnya nggak kesitu melulu?”

    Walau dalam hati Sarah juga merindukan permainannya lagi dengan Anton dan bahkan Bambang seperti masa-masa sebelum hamil dulu. Memang nyaris setahun hubungan gelap itu terhenti. Tidak hanya dengan Anton dan Bambang, dengan suaminya sendiri otomatis juga berhenti. Sarah sudah mulai membayangkan kenikmatan aktifitas seks lagi setelah pesonanya kembali seperti sedia kala, bagai perawan yang belum pernah menikah apalagi melahirkan bayi.

    “Tejo memang tinggal di sini, tapi dia kan anak sekolah Jo… Jadi dari pagi sampai siang sebelum Tejo pulang ya di sini dijamin masih aman!” Terang Sarah mengerling.

    Anton jelas girang mendengar kalimat Sarah itu. “Baru saja dia minta mengalihkan pembicaraan, ternyata kepikiran juga. Dasar…” Batin Anton. Tapi benar juga, pikirnya.

    Walaupun tidak seperti dulu yang bisa memuaskan diri mencumbu Sarah sampai sore, dengan keberadaan Tejo bakal jadi terbatasi sampai siang saja. Tapi lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali!

    Tidak ingin menunggu lama, Anton “membooking” Sarah senin besoknya langsung. Sarah yang dalam hatinya sempat kepikiran ingin jual mahal dengan menolak, tapi yang keluar dari bibir indahnya itu malah mengiyakan begitu saja.

    “Duh, keliatan banget pengennya aku ini…” gerutu Sarah dalam hati. “Biarlah, kalo sama dia sih ga mempan jaim…” Sarah terus bergumam dalam hati sambil mengantarkan Anton keluar rumah.

    “Oi, Jo, mas pulang dulu!” Anton berpamitan pada si Tejo dengan gaya ‘sok kenal sok dekat’.

    “Ya, Oom…” Jawab Tejo sambil menyirami tanaman.

    “Loh kok Oom sih? Aku ini masih mahasiswa lha!” Sahut Anton.

    “Mahasiswa abadi! Pantes dong dipanggil Oom!” Sarah ikut menyahut, “Skripsi dah ganti judul 2 kali, mau lulus kapan Oom?” lanjut Sarah menggoda.

    “Gimana mau lulus, garap skripsi ga bisa konsen mikirin tante Sarah terus, lagian kalo lulus nanti kudu pulang kampung ga bisa main bareng tante Sarah lagi dong.” Canda Anton.

    Gebleg! Pikir Sarah, di depan Tejo dia malah terang-terangan menggoda begitu. Tapi Sarah tidak ambil pusing, entah apa yang dipikirkan Tejo, begitu Anton pergi dengan motornya Sarah langsung masuk rumah, bergegas menuju kamar suaminya. “Sebelum besok ‘dikerjain’ Anton, habis hamil mustinya suamiku dulu yang merasakan tubuhku lagi,” Pikir Sarah. Seks perdana setelah hamil, ga etis kalau langsung diberikan ke orang lain dulu. Lagipula perbincangan dengan Anton tadi memang membuat dia horny berat. Langsung butuh pelampiasan! Dengan semangat 45 Sarah masuk kamar. Tapi, alangkah kecewanya Sarah mendapati suaminya tertidur pulas tidak bisa dibangunkan.

    “Nyebelin banget sih…” gerutu Sarah. Tapi dia sendiri sudah hafal, kalau hari minggu seperti ini suaminya itu emang lebih sering menghabiskan hari dengan tidur. Sebelum hari ini Sarah tidak pernah mempermasalahkan hal itu, tapi kali ini dalam keadaannya yang sedang ‘on’ jelas bete Sarah dibuatnya.

    ##############################
    STRANGE SITUATION

    Tiba-tiba Sarah mendengar tangisan Doni.

    “Wah, terbangun rupanya dia…” Pikir Sarah. Dia pun segera mendatangi bayinya itu.

    “Sudah waktunya mimik susu ya cayang?” Sarah mengangkat bayinya, “Yailah biasa deh ngompol…” keluh Sarah.

    Sarah langsung memanggil Tejo meminta bantuan, “Jon, sudah selesai kan nyiram tanamannya? Tolong ambilin popok Doni ya!” Pintanya.

    “Ya udah selesai dari tadi dong tante, emang halaman tante segede apa?” Jawab Tejo sambil segera memenuhi perintah tantenya itu.

    “Makasih ya,” Sarah menerima popok dari Tejo dan dengan sigap mengganti popok Doni.

    Tejo melihat tantenya dengan kagum, meskipun baru jadi ibu, Sarah memang tidak terlihat canggung dan sangat cekatan mengurusi segala keperluan bayinya itu. Inilah kelebihan Sarah, walaupun binal, naluri keibuannya tinggi. Selesai mengganti popok, Sarah menggendong Doni dengan 1 tangan, sementara tangan satunya mulai melolosi kancing bajunya satu demi satu dari atas. Melihat hal itu mata Tejo langsung melotot tahu apa yang akan terjadi, sebentar lagi tantenya ini akan mengeluarkan buah dadanya untuk menyusui Doni. Glek! tanpa sadar Tejo menahan napas dan menelan ludah. Belum apa-apa penisnya langsung mengeras di balik celananya. Akan tetapi sambil membuka kancing bajunya, dan belum sempat mengeluarkan payudaranya itu, Sarah sudah menyuruh Tejo membawa popok kotor Doni ke belakang.

    “Tolong, bawa popok kotor ini ke belakang ya, ditaruh di ember biru!” Pinta Sarah sambil melepas kancing ketiga di bajunya.

    Dugaan Tejo itu kancing terakhir yang harus diloloskan supaya tantenya itu bisa mengeluarkan payudaranya dengan mudah dan bebas. Sungguh sial!

    “Eeh, i.. iya tante, baik..” Tejo tidak menduga perintah itu dan menjawab dengan napas agak tercekat. Tenggorokannya kering gara-gara terangsang. “Duh belum rejekinya nih,” gerutunya dalam hati saat membawa popok kotor Doni ke belakang.

    Saat kembali Tejo tidak menduga ternyata tantenya yang telah menyusui Doni itu tidak masuk ke dalam kamar, melainkan duduk dengan santai di ruang tengah. Tidak diduga juga, Tejo melihat ternyata Tantenya melolosi semua kancing bajunya walau hanya untuk mengeluarkan 1 buah dadanya itu. Sungguh tidak disangka, padahal dengan meloloskan 3 kancing saja, sudah cukup terbuka untuk bisa mengeluarkan 1 buah dada, tapi tantenya ini sedang kegerahan rupanya, pikir Tejo. Tejo sama sekali tidak punya perasaan bersalah membayangkan tantenya dengan pikiran-pikiran nakal seperti itu. Bahkan dia mulai mempertimbangkan untuk ikut duduk di ruang tengah menemani tantenya yang sedang menyusui itu. Dia membayangkan bisa melihat dari dekat kemulusan kulit payudara tantenya yang putih bersih itu. Tak mengapa, pikirnya, walau dia melewatkan adegan dikeluarkannya payudara itu dari sarangnya sehingga dia akan sempat mengintip puting yang menjadi ‘point of interest’ dari buah dada sebelum dicaplok mulut Doni yang sangat lahap itu. Tejo membayangkan dirinya sudah cukup senang dengan suguhan kulit payudara terbuka tante Sarah. Tapi Tejo ragu juga, jangan-jangan setelah dia ikut duduk di sana, tantenya malah mengusirnya. Malu dong kalau begitu. Walau ragu toh Tejo melangkah juga mendekati tantenya itu. Lagi-lagi tanpa terduga, Sarah yang melihat Tejo mendekat memanggilnya,

    “Gimana Jo, sudah nggak ada kerjaan ya? Sini duduk sini istirahat sambil ngobrol sama tante!”

    Bagai disamber geledek Tejo mendengar kata-kata tantenya itu. Tante Sarah benar-benar penuh kejutan! Pikirnya girang. Tejo duduk di depan Sarah. Jantungnya blingsatan nggak karuan melihat dada tantenya yang terbuka bebas gara-gara kancing bajunya terlepas semua itu. Satu buah dada keluar dan sedang dihisap Doni dengan lahap. Sementara buah dada satunya tersembunyi di balik kain baju Sarah. Hanya bagian sampingnya yang terlihat karena kancing baju yang terbuka semua.

    “Putiiihh muluuussss…” batin Jo yang mulai berkeringat dingin melihat pemandangan luar biasa itu.

    Di dalam benaknya terbayang-bayang seperti apa puting payudara tantenya ini yang saat itu dalam keadaan ‘tersensor’. “Duh, kayak apa ya indahnya, bisa-bisa aku pingsan saking bahagianya kalau bisa melihat susu tante Sarah secara utuh! Lha wong begini saja sudah blingsatan aku dibuatnya…” Lamunan mesum tentang tantenya sendiri itu terus menari-nari di benak Tejo. Walau begitu, tampak luar, Tejo berusaha sekalem mungkin di depan Sarah. Bukan Sarah namanya kalau tidak menyadari kegelisahan Tejo. Sepintar apapun Tejo menyembunyikannya Sarah tetap bisa melihatnya. Padahal, Sarah sama sekali tidak bermaksud menggoda Tejo dengan membuka seluruh kancing bajunya dan mengajak Tejo mengobrol sementara dia menyusui bayinya. Sarah biasa melakukan itu saat menyusui bayinya di dalam rumah. Dia suka payudaranya keluar dengan bebas tanpa hambatan. Dan yang namanya ibu menyusui dianggapnya bukan sesuatu yang binal sama sekali. Jangankan di dalam rumah, di luar rumah saja orang-orang akan maklum jika seorang ibu harus mengeluarkan buah dada untuk menyusui bayinya. Walau ada pakaian khusus ibu yang menyusui, yang memungkinkan seorang ibu membuka area puting susu saja tanpa mengekspos seluruh buah dadanya saat harus menyusui bayi, Sarah sama sekali tidak memiliki baju semacam itu. Mungkin karena dia memang sangat jarang keluar rumah sehingga dia tidak merasa perlu memiliki baju seperti itu.

    “Bagaimana sekolahmu Jo? Tante dengar kamu nakal ya di sekolah?” Sarah mengawali perbincangan.

    Dia berusaha serileks mungkin supaya keadaan tersebut tampak wajar dan bukannya seperti seorang tante yang sedang merangsang ponakannya sendiri.

    “Ah nggak kok tante, Tejo rajin belajar kok di sekolah…” Jawab Tejo. Dia pun sama berusaha bersikap sewajar mungkin meski di ‘bawah’ sana terjadi gejolak hebat.

    Sarah sendiri tidak berbasa-basi dalam topik perbincangan ini. Dia memang ingin mengajak bicara Tejo tentang masalah sekolah ini. Sebelumnya orang tua Tejo memang sempat menyampaikan perilaku Tejo yang agak badung. Pergaulannya dengan anak-anak nakal dan kerap membolos sekolah. Meski begitu, otaknya memang cukup encer untuk bisa memahami tiap pelajaran di sekolah.

    “Bukan masalah itu Jo, tante tahu kok, tante juga sudah melihat nilai hasil ulanganmu yang sudah-sudah. Nilai-nilaimu memang nggak mengecewakan. Tapi yang tante maksud masalah pergaulan kamu Jo…” Sarah meneruskan pembicaraan.

    Tejo pernah beberapa kali mengajak teman sekolahnya main ke rumah. Sarah melihat ada 5 teman yang selalu di bawa Tejo main ke rumahnya. Memang Sarah hanya menilai penampilan luar ‘geng’ Tejo yang terlihat urakan. Baju kumal yang dikeluarkan, sepatu tanpa kaos kaki, memakai topi terbalik, bahkan ada yang bertato dan bertindik. Sarah juga melihat ada yang membawa rokok walau belum pernah sekalipun mereka merokok di rumahnya. Sarah dan Heru yang agak liberal sebenarnya cuek dengan hal-hal semacam itu… Asal tidak mabuk, ngedrugs atau tawuran aja sih, pikir Sarah waktu itu. Tapi ada baiknya jangan sampai tidak ada komunikasi antara dia dengan Tejo yang notabene di bawah asuhannya kini.

    “Tante tidak menghakimi teman kamu atau ngatur-ngatur kamu sih Jo, sejauh tante lihat meski penampilannya urakan teman-teman kamu cukup sopan kalau main kemari…” Sarah tersenyum mencoba tidak terkesan angker. Dia takut Tejo salah paham mengira dia sedang diceramahi apalagi dimarahi.

    “Iya tante, walau penampilannya begitu teman-teman Tejo itu baik-baik kok…” Jawab Tejo singkat.

    “Ya makanya itu, sejauh yang tante lihat di sini sih tante tidak ada komplain. Tapi takutnya kamu di luar suka terlibat tawuran atau yang semacamnya… Nggak kan Jo, kamu bisa menjaga kepercayaan tante kan Jo?” Tanya Sarah lembut.

    “Wah nggak tante kalau sampe tawuran mah… Tejo nggak pintar berkelahi tante, badan Tejo kan kecil… Tejo ini kalahan tante!” Tejo mencoba meyakinkan.

    “Ah kamu bisa aja Jo… Ya sudah tante sih percaya aja sama kamu. Yang penting kamu jaga nilai-nilai kamu tuh, jangan sampai turun ya?” Sarah berpesan, “Oh ya, kalau bisa teman-teman kamu kalau main ke sini lagi dikenalin lah sama tante. Tante di sini kan pengganti orang tuamu Jo.” Lanjut Sarah.

    Pembicaraan mereka terus berlanjut santai, sambil saling menyembunyikan perasaannya masing-masing. Sarah mulai menyadari, ternyata keadaan dirinya yang merangsang Tejo itu juga membuat dirinya terangsang. Jadi Sarah merasa terangsang memikirkan bahwa saat ini di depannya Tejo sedang terangsang dengan dirinya. Lagipula sebelumnya memang dia dalam keadaan terangsang dan tidak mendapatkan pelampiasan. Walau mulai hilang ketika dia menyusui Doni dan bebrbicara dengan Tejo, perasaan itu datang lagi dalam bentuk yang berbeda. Mulanya hal itu dirasakan sebagai perasaan yang aneh mendesir dalam dadanya, belakangan Sarah sadar bahwa perasaan itu adalah rangsangan seksual yang memang tidak lazim. Sarah mulai membayangkan dirinya sebagai wanita penggoda atau jangan-jangan malah seorang ekshibisionis. Anehnya, walau sama-sama mencoba bersikap wajar menyembunyikan gejolaknya masing-masing, Tejo ini tidak berusaha menyembunyikan pandangannya terhadap dada Sarah yang terbuka itu. Persis seperti saat pertama bertemu. Sarah tahu hal itu, dan Tejo juga sebenarnya sadar bahwa tantenya itu tahu bahwa dirinya terus menatap buah dadanya. Suasana itu terus terjadi sepanjang Doni menyusu pada Sarah. Terkadang saat topik pembicaraan habis, suasana berubah menjadi serba canggung, baik Sarah maupun Tejo seperti terkunci dalam posisi masing-masing. Tidak satupun dari mereka yang beranjak. Bedanya, jika Tejo terangsang dan membayangkan pelampiasannya pada tantenya itu, Sarah yang terangsang jelas tidak membayangkan pelampiasannya pada Tejo. Dia lebih membayangkan ingin segera bermasturbasi sambil membayangkan Anton yang besok akan datang untuk mendaki kenikmatan bersama lagi seperti dulu. Baru pada saat Doni kenyang menyusu dan Sarah mengancingkan bajunya kembali, kunci itu seakan dibuka. Seakan terlepas dari belenggu, Sarah dan Tejo sama-sama bangkit dari duduknya. Hal itu menimbulkan perasaan aneh canggung di antara keduanya. Bagaimana tidak, begitu Sarah menutup bajunya, dia dan Tejo bangkit dengan cepat dalam waktu yang benar-benar bersamaan. Benar-benar seperti orang yang baru menonton film di bioskop dan filmnya berakhir, atau seperti murid-murid dalam kelas yang mendengar bel tanda akhir pelajaran berbunyi.

    “Eh, mau kemana Jo?” Sarah spontan bertanya canggung. Pertanyaan bodoh! Pikirnya. Ngapain juga bertanya begitu.

    “Eh, yaa… mau ke kamar tante…” Jawab Tejo sama canggung.

    “Ya udah, tante juga mau ke kamar tante… yuk…” Sahut Sarah. Jawaban ini juga disesalinya, duh ngapain juga dijawab lagi? Mau ke kamar aja saling pamitan!? Batin Sarah menghardik dirinya sendiri.

    Mereka berdua segera menuju kamar masing-masing. Dapat diduga adegan selanjutnya yang terjadi adalah, baik Tejo maupun Sarah sama-sama bermasturbasi dengan hebat di kamar mandi masing-masing. Paahal ketika Sarah memasuki kamar, dia mendapati suaminya sudah terbangun dan sedang asik di depan laptopnya. Tapi entah kenapa Sarah lebih memilih bermasturbasi diam-diam di bawah shower dalam kamar mandinya.

    Baca Juga Cerita Seks Naughty Wife Sarah 3A: Satu Minggu yang Tak Terlupakan

    “Duuh Tejo, kamu ini nakal banget sih memandangi tante seperti itu? Gak malu-malu gitu loh kamu ini melototin buah dada tante. Tante benar-benar merasa ditelanjangi oleh kamu Jooo… Nakal kamu Jo! Kamu mau memperkosa tante ya?! Kurang ajar kamu Jo, nakal kamu…!” Dalam benak Sarah terus mengalir kata-kata kotor tentang Tejo semacam itu di tengah masturbasinya yang begitu hebat. Dia menggosok-gosokkan jari pada vaginanya dengan kencang, dipelintir-pelintirnya klitorisnya sendiri, di bawah shower yang deras. “Ouuhh…” “Aaaahhh…” rintihnya pelan.

    “Duuh, tanteku sayaaang… Tante kok cantik sekali siiih? Mulus sekaliii…! Tejo ngaceng berat melihat tante tau nggaak…? Tanggung jawab dong tantee… Ini semua gara-gara tante terlalu cantik! Putihhh mulus… Bisa-bisanya sih ada perempuan secantik Tante di dunia ini.. Terus bagaimana nasib laki-laki kayak Tejo tante? Apakah Tejo selamanya hanya bisa memandang tante tanpa dapat meraih kenikmatan dari tante? Tejo ga terima kalau Tejo ga bisa nikmatin tubuh tante! Aahh tejo ga kuat tantee… Puaskan Tejo tantee… mana susumu tantee, Tejo ingin kenyot sampe puas tante, pliss tantee… pliss…!” Begitulah kalimat-kalimat mesum tentang tantenya sendiri yang terus diucapkan Tejo dalam hati di tengah-tengah kocokannya pada batang pelernya yang sudah mengeras dari tadi.

    “Kasihan kamu pelerkuu… kamu tersiksa dari tadi ya?? Kamu mau memek tante Sarah ya?? Tuhh tante, tanggung jawab dong! Ayo tante…!” Tidak ada perasaan bersalah sama sekali membayangkan tantenya sendiri seperti itu. Tidak lama Tejo beronani, tidak sampai 10 menit spermanya sudah berhamburan keluar banyak sekali. “Crooott..croott!”, “Ooohhh… tantee… terima pejuku tantee… Enak nggak tante, hangat kan tante…??” Tejo tetap membayangkan hal-hal kotor terhadap Sarah benar-benar sampai tetes spermanya yang terakhir.

    Sementara dengan Sarah, tentu masturbasinya tidak berakhir secepat itu. Bahkan kini di kamar mandi ia mulai kebingungan mencari-cari benda yang bisa digunakan untuk menggaruk vaginanya yang terasa sangat gatal itu. Pancuran air dia setel yang paling deras diarahkan langsung ke bibir vaginanya, “ooouuhhh…” Nikmat rasanya tapi tetap saja hal itu tidak cukup bisa memancing cairan cintanya untuk munrat keluar.

    “Duh gimana ini, aku kok jadi blingsatan begini?” Sarah terus mencari-cari.

    Dia menggenggam satu demi satu benda yang ada di situ, dari sabun, botol shampo, botol parfum, semuanya dia timbang-timbang untuk dapat digunakan menyodok-nyodok vaginanya sendiri.

    “Uuhh sial, ga ada yang pas sih bentuknya!” Makinya dalam hati.

    Sarah meraih handuk, dililitkannya ke tubuhnya yang masih basah dan bergegas keluar. Dia bermaksud mengambil dildo yang dia simpan dalam lemari. Tentu dia berharap suaminya sudah keluar kamar saat itu supaya dia tidak melihat dirinya mengambil dildo. Sarah memiliki beberapa koleksi dildo yang suaminya sendiri tidak tahu. Sial, ternyata suaminya masih betah aja di dalam kamar berkutat dengan laptopnya.

    “Mas kok nggak keluar sih?” Tanpa sadar Sarah bertanya ketus pada Heru.

    “Gak ah lagi males!” Jawab Heru tanpa menoleh. Dia tidak menyadari keketusan Sarah.

    Sarah pun ngeloyor keluar kamar. “Lho mau kemana kamu kok masih handukan aja gitu? Pakai pakaian dulu!” Tanya Heru baru menoleh dan melihat keadaan istrinya.

    “Emang aku belum selesai mandinya kok! Ini mau ambil sabun di dapur! Sabun habis!” Sahut Sarah berbohong.

    Tujuannya sebenarnya mengambil mentimun di lemari es. Seingatnya, masih ada beberapa mentimun yang dia simpan di sana. Kaget sekali Sarah ketika menuju dapur berpapasan dengan Tejo yang sudah selesai duluan mandi (dan berbermasturbasi)nya.

    “Eh, Tejo, sudah mandi kamu?” Tanya Sarah menyembunyikan keterkejutannya.

    “Sudah tante!” Jawab Tejo. Gila! tantenya ini tahu-tahu muncul di hadapannya dengan tubuhnya hanya berbalut handuk kecil. Badannya yang masih basah juga tercium wangi sabun darinya membuat penis Tejo langsung berdenyut lagi. “Shiiit! Mulus abisss!” gumamnya dalam hati.

    “Tante sendiri baru mandi juga tante?” Tanya Tejo sekenanya.

    “Ya, tapi tante belum selesai mandinya ini mau mengambil sesuatu Jo.” Jawab Sarah membuka kulkas. “Duh, kok nggak ada sih? Apa sudah habis, perasaan kemarin masih ada!” Gerutu Sarah. Tejo yang memandang takjub dari belakang Sarah yang sedang menungging di depan kulkas mulai meremas-remas selangkangannya sendiri. “Aduh, tante jangan siksa Tejo begini terus dong…!” dalam hati Tejo terus mengata-ngatai tantenya dengan kata-kata kotor. Handuk yang digunakan melilit tubuh tantenya itu memang tebal tapi tidak terlalu besar. Handuk putih itu hanya bisa menutupi sebagian kecil pahanya di bawah pantat. Tejo benar-benar memuaskan matanya melahap pemandangan indah di depannya. Dari betis, paha, hingga pundak tantenya yang terbuka dipelototinya bergantian tanpa henti. Kulitnya yang putih mulus dihiasi butiran-butiran air itu benar-benar mempesona Tejo. Sesekali dengan gerakan kecil Sarah, butiran-butiran air itu tergelincir satu-demi satu di atas halus kulitnya. Hal itu makin membuat Tejo mengangankan menyentuh dan mengelus kulit itu, merasakan lembutnya, menikmati putihnya.

    Dalam posisi menungging begitu, pantat Sarah yang montok menghadap langsung ke arah Tejo. Tambahlah Tejo tak kuasa terus membayangkan keindahannya jika tidak tertutup handuk seperti itu. Dibayangkan juga lubang keramat yang bukitnya dihiasi bulu-bulu halus terselip di antara kedua bongkahan pantat montok tersebut. Bahkan Tejo berpikir nakal, “kalau aku jongkok pasti memek tante bisa kulihat…” Gelisah sekali Tejo memikirkan hal itu. Dia bimbang untuk berjongkok atau tidak. Jantungnya berdegup makin kencang.

    “Kalau aku jongkok sadarkah tante kalau aku berusaha mengintip selangkangannya…?” Tejo bertanya pada diri sendiri dalam hati. “Pasti tante sadar deh, tapi mungkin juga tidak… mungkin aku bisa berpura-pura ikut membantu… atau pura-pura keseleo di kaki… atau… duh gimana ya, jongkok… tidak… jongkok… tidak…” Dalam hatinya terus bergolak pertanyaan itu.

    Dianggapnya ini kesempatan langka yang jarang ada. Tejo yang tidak kunjung berani berjongkok memaki dirinya sendiri pengecut, maho, payah, dan sebagainya.

    “Emangnya cari apa tante, kok di kulkas nyarinya?” akhirnya Tejo bertanya.

    “Tante nyari timun Jo, kamu yang makan ya, perasaan kemarin masih ada?” ups, tanpa sadar Sarah menjawab jujur pada Tejo.

    Benar saja Tejo langsung bertanya lagi keheranan, “Loh, buat apa mentimun buat mandi tante?”

    Dalam hati dia menyesal karena kesempatannya sudah berlalu. Kini tantenya sudah bangkit dan menutup kulkas. Walau begitu pikirannya makin keruh mendengar tantenya itu mencari timun. Penisnya makin berontak saja di balik celana jeansnya yang sempit.

    Sarah sendiri juga menyadari kekeliruannya dan menjadi gelagapan memikirkan jawabannya.

    “Ya buat masker wajah Jo, kamu tahu kan kayak di majalah-majalah itu loh, timun diiris-iris dan ditempelkan di wajah. Itu berkhasiat buat kulit wajah bersih dan kencang Jo…” Fiuuh… Sarah merasa lega bisa menjawab begitu.

    Jawaban itu cukup masuk akal baginya. Tejo juga tampaknya mangut-mangut paham.

    “Makanya kamu lihat gak mentimun tante?” lanjutnya bertanya pada Tejo. “Nggak lihat tante, bukan Tejo kok yang makan, mungkin Oom Heru tante.” Jawab Tejo. “Emang nggak bisa pakai yang lain ya tante?” Tejo bertanya lagi.

    “Duuh, ya pakai apa ya kalau nggak pakai mentimun…?” sahut Sarah sambil berpikir, tapi jawaban itu terdengar seperti balik bertanya pada Tejo. Tanpa diduga Tejo menjawab,

    “Mmm… Kalau pakai jagung bisa nggak tante?” Terkejut sekali Sarah dengan pertanyaan Tejo itu.

    “Haah, ada-ada aja kamu, emangnya jagung bisa buat masker wajah?” Tanya Sarah gusar.

    “Ya Tejo gak tahu tante. Kan tante lebih tahu kalo masalah itu…” Jawab Tejo.

    Sarah benar-benar masih terkejut, bisa-bisanya Tejo memberi alternatif jagung untuk pengganti timun yang dia cari. “Jangan-jangan ni anak tahu maksudku? Duuhhh parah!” Keluh Sarah dalam hati.

    “Kalo jagung memangnya ada Jo?” Ternyata Sarah bertanya juga penasaran.

    “Ada tante, Tejo baru beli jagung rebus sama abang yang lewat di depan.” Jawab Tejo. “Kalau bisa ya gapapa Tejo kasih tante, tapi kalau gak bisa ya sudah…” lanjutnya.

    “Eh, bisa Jo… bisaa! Bisa kok, boleh buat tante Jo?” Sahut Sarah penuh harap. “Tante baru ingat kayaknya Tante pernah liat juga di majalah…” lanjutnya ngeles.

    “Ooh, ya kalau bisa pake aja tante, gapapa kok nanti Tejo bisa beli lagi. Tapi gimana caranya tante jagung dibuat masker…?” Tejo menjawab sambil berjalan menuju kamarnya untuk mengambil jagung yang baru dibelinya.

    Sarah mengikutinya dari belakang. “Ni anak pake ngejar masalah masker lagi… Mana bisa, monyong?!” Batin Sarah agak kesal tapi bercampur geli.

    “Ee, iya kayaknya sih Tante pernah liat gitu di majalah… Nanti Tante liat-liat lagi. Memang banyak Jo tips-tips tentang kosmetik alami begitu. Kayaknya semua buah-buahan bisa dimanfaatin buat perawatan begitu Jo…” Sarah menjawab sekenanya aja.

    Gak tahu deh Tejo peduli apa nggak dengan jawaban itu. “Eh, besar nggak Jo jagungnya?” Nah lo, dasar sableng Sarah malah iseng bertanya begitu.

    “Biarin deh, ngapain jadi keliatan kagok… Sekalian aja aku pancing-pancing ke yang menjurus begitu. Sambil liat juga gimana reaksi dia…” Begitu pikir Sarah mulai nakal.

    “Besar juga kok tante, niih… Besar kan?” Tejo menjawab santai sambil mengeluarkan jagung dari dalam kresek hitam.

    Raut mukanya terlihat biasa-biasa saja. Jagung rebus di tangan Tejo itu masih hangat, masih terlihat sedikit uap mengepul dari batangnya yang masih terbungkus kulit. Sarah langsung meraih jagung itu seperti tak sabar,

    “sempurna!” Pikirnya girang.

    Dia tidak menanggapi kata-kata Tejo karena tidak tahu harus menjawab apa. Walau dia cukup kaget dengan jawaban Tejo, tapi dia melihat ekspresi Tejo tampak biasa-biasa saja. Raut mukanya tidak berubah.

    “Duh, aku aja kali yang mikirnya terlalu liar kebablasan, gimanapun dia ini kan masih kecil… Ponakanku sendiri lagi!” Pikirnya menyesali diri.

    Ternyata penyesalan Sarah tidak lama karena sesaat kemudian Tejo menambahi,

    “Mungkin gak sebesar timun tante sih… Tapi segitu juga cukup besar kan tante? Gimana tante, ukurannya pas nggak?” tanyanya sambil tersenyum yang bagi Sarah terlihat seperti senyum mesum.

    “Gebleeg ni anak…!” maki Sarah dalam hati. Kini Sarah benar-benar hampir yakin Tejo sudah menduga dan membaca pikirannya.

    “Iya Jo segini mah cukup besar… Pas dengan keinginan tante! Makasih ya…!” Jawab Sarah sambil menggenggam jagung itu di tangan kanannya. Dia seperti ingin menunjukkan genggaman itu pada Tejo. Tejo terdiam menelan ludahnya, “glek!”

    Benar-benar aneh rasanya peristiwa itu. Seorang tante dan keponakannya yang masih SMP berbincang dengan kata-kata menjurus seperti saling menggoda. Walau itu didasari oleh asumsi satu sama lain. Sarah yang berasumsi Tejo tau pikirannya, dan Tejo yang berasumsi tantenya hendak bermasturbasi dengan batang jagung yang diberinya. Hati keduanya hanya berasumsi dan terjadilah percakapan yang sama-sama memacu degup jantung masing-masing. Walaupun asumsi-asumsi tersebut benar adanya, tentu saja baik Tejo dan Sarah tetap tidak ada yang tahu secara pasti. Tapi diam-diam timbul keinginan di dalam hati keduanya untuk memastikan hal itu. Yang jelas, setelah berterima kasih pada Tejo, Sarah langsung bergegas kembali ke kamar mandi. Disembunyikan jagung dari Tejo itu di balik handuknya supaya suaminya tidak melihat. Sementara Tejo yang penisnya sudah menegang lagi juga buru-buru masuk ke kamarnya. Adegan masturbasi bersama di kamar masing-masing pun terjadi lagi dengan jauh lebih bersemangat dibanding sebelumnya. Kali ini Tejo tidak melakukannya di kamar mandi. Dia berbaring di kasurnya sambil matanya menerawang ke langit-langit. Dia mengelus penisnya pelan, mengurutnya, kadang mempercepat gerakan tangannya, tapi saat hendak mencapai klimaks dia buru-buru memperlambat gerakannya.

    Kali ini dia ingin berlama-lama membayangkan keindahan tantenya. Berbagai bayangan jorok terus menari di benaknya. Ketelanjangan tantenya, kemontokan payudaranya, putih mulus kulitnya. Tejo membayangkan senyum manis tantenya, dia mengkhayalkan mengecup bibirnya, membenamkan wajahnya di antara buah dadanya, menciumi permukaannya yang wangi, dan seterusnya… Tejo tak ingin bayangan-bayangan indah itu segera berlalu. Tentu saja semua itu sangat tidak pantas dia lamunkan terhadap Sarah yang jelas-jelas tantenya sendiri. Istri Oomnya yang dia hormati. Yang selama ini telah mengasuh dan membiayainya bagai anak sendiri. Tapi bagai kerasukan setan, pikiran semacam itu jelas hilang sama sekali dalam benak Tejo. Apalagi terus terbayang juga dalam benak Tejo tantenya di kamar mandi pada saat yang bersamaan juga sedang asik menyodok-nyodok vaginanya dengan jagung pemberiannya. Dengan bayangan itu makin tidak terpikir perasaan bersalah apalagi kesadaran moral dalam diri Tejo. Yang ada Tejo malah makin terobsesi dengan tantenya sendiri itu. Tejo jelas tidak tahu pasti bahwa Sarah bermasturbasi dengan jagung pemberiannya. Bisa saja tantenya itu memang hendak memanfaatkannya untuk perawatan kulit, seperti penjelasannya. Tapi Tejo lebih senang membayangkan adegan masturbasi itu (di mana kenyataannya memang itulah yang terjadi). Terlebih lagi terus terngiang-ngiang juga percakapan singkat yang ‘ajaib’ tadi. Hal serupa jugalah yang dialami Sarah. Dia seperti menemukan keasyikan baru. Sesuatu yang sudah lama dialaminya, terutama saat bersama Bambang, tapi dengan Tejo baru sekarang dia makin menyadarinya. Sarah suka membayangkan orang lain terangsang pada kecantikan dirinya. Terangsangnya orang lain pada dirinya, membuat dirinya terangsang pula. Makin terlihat mupeng seseorang terhadapnya, makin terangsang pulalah dia. Karena, untuk membuat orang makin terangsang, bernafsu, dan mupeng terhadapnya, maka berarti Sarah sendiri harus makin berani ‘membuka’ dirinya. Bukan hanya itu, dengan Tejo yang ditambahi kata-kata nakal yang menjurus dan saling berbalas, makin menambah sensasi rangsangan tersebut. Segera setelah memasuki kamar mandi dan menguncinya, Sarah langsung membuka kulit jagung pemberian Tejo. Membersihkan rambut-rambutnya hingga tersisa hanya batang jagung dengan biji-biji kuningnya yang rapat. Dirasakan batang itu masih hangat. Jantung Sarah masih berdegup kencang, belum pernah dirinya bermasturbasi dengan batang jagung seperti itu. Dengan mentimun yang dia cari awalnya juga tidak pernah. Yang tadi itu hanya kreatifitas spontan akibat dirinya yang sedang dibakar nafsu.

    Ditempelkannya batang jagung itu ke pipinya, dielus-eluskannya di sana sambil memejam matanya. Sarah berbaling rileks di bathub. Tangan satunya sibuk merangsang vaginanya agar segera memproduksi pelumas alami supaya batang jagung itu bisa keluar masuk dengan lancar dalam liangnya. Jari telunjuk dan tengahnya menyusup masuk ke liang vaginanya, dikeluarmasukkannya dengan pelan dan lembut. Terkadang jarinya hanya mengelus di seputaran liangnya itu. Memijit-mijit labia dan klitorisnya hingga mulai dirasakannya kenikmatan itu. Kenikmatan yang bukan melegakan, melainkan kenikmatan yang malah makin membutuhkan pelampiasan lebih. Kenikmatan gatalnya dinding-dinding rahimnya, mengeras dan makin berkedutnya klitorisnya, menuntut sesuatu yang lebih.

    “Uuhh….” erang Sarah lirih.

    Jantungnya berdegup makin kencang. Matanya mulai nanar. Dieluskan pelan batang jagung dari pipi satu ke pipi lainnya. Terkadang berhenti diciumi dan dijilatinya batang itu.

    “Sekarang giliranmu ya sayang… Mau kan masuk ke dalam liangku?” digerak-gerakkan batang jagung itu di depan wajahnya seakan sedang berbicara dengannya. Matanya menatap sayu seakan sedang menggoda batang itu. “Apa? Kamu takut gelap…? Duh gapapa lagi, kan ada tante menjaga di luar sini… Mau ya sayang?” bisiknya sambil menggoyang-goyangkan batang itu seperti sedang memainkan boneka. “Walau gelap tapi nyaman loh di dalam sana, kamu pasti ketagihan deh… Lagian hangat, tuh badan kamu udah mulai mendingin…” dikecupinya batang jagung itu, lalu ditempelkannya lagi ke pipinya.

    Dimainkannya batang jagung itu seperti anak kecil yang sedang merajuk, diusap-usapkannya ke pipinya dengan penuh penghayatan Sarah berbisik lagi,

    “Nah, mau ya? Masuk ya? Iya kan, tuh kamu kedinginan kan…?” Seperti orang gila saja Sarah mengajak bicara sebatang jagung.

    Sarah mulai mengarahkan jagung itu ke liangnya. Tangan satunya membuka liangnya dengan kedua jari. Dihadapkannya batang jagung itu ke arah vaginanya yang terbuka itu.

    “Nah, asik kan? Gak nyeremin kan?” Di oles-oleskannya ujung batang jagung itu di muka liangnya. “Kalau udah liat pasti langsung kepingin masuk deh… Dasar kamu tadi pura-pura takut, sekarang malah maksa-maksa segera masuk…!” Sarah terus bertingkah seperti itu, baginya menyenangkan dan sensasional berlaku seperti itu. Kalau saja adegan itu direkam dan ditontonnya sendiri di keesokan hari pasti dia pun akan malu sendiri. Sarah mulai memasukkan pelan-pelan batang itu centi demi centi…

    “Ouuhhh…” Kamu besar juga sayang, jadi sempit deh, makanya pelan-pelan ya masuknya…”

    Sarah menghentikan dorongannya saat batang itu sudah masuk separuhnya. Dilepas kedua tangannya dan dia memandangi batang jagung yang terbenam separuh di dalam liangnya itu. Kedua tangannya bertumpu di dasar bathub lalu dinaikkannya pantatnya sambil kakinya mengangkang. Dia membuat liangnya seperti mengacung-acungkan batang jagung itu, digoyang-goyangkan pinggulnya untuk mengetes bagaimana kencangnya batang jagung itu tertanam di liangnya.

    “Hi hi hi…” Tertawa geli sendiri Sarah dengan tingkahnya itu.

    Besarnya batang jagung itu membuat posisinya kencang di dalam vaginanya yang sebenarnya sudah tidak terlalu sempit lagi.

    “Apa? mau masuk semua? Iya… iyaa deeh… sabar dong…” Sarah menurunkan kembali pantatnya. Diraihnya jagung itu dan didorongnya lagi pelan-pelan hingga benar-benar terbenam seluruhnya di dalam vaginanya. Dari luar yang terlihat hanya tangkainya yang cukup panjang untuk bisa dipegang dengan 3 jari.

    “Horeee…. Sudah masuk semua! Pinteer…!” Sarah bertepuk tangan pelan kegirangan. Digoyang-goyangkan lagi pantatnya untuk melihat tangkai jagung itu ikut bergerak-gerak di luar sementara batang jagungnya sendiri dengan kencang tertancap mantap dalam vaginanya. Kemudian langsung diraihnya tangkai itu dengan tangan kanannya, 2 jari tangan kirinya berusaha membelah bibir vaginanya.

    Ditarik keluar lagi jagung itu pelan-pelan. Seeettt… Aahhh, Sarah benar-benar meresapi tiap gesekan butiran2 biji jagung yang rapat itu di dinding rahimnya. Matanya memicing sayu, menatap sedikit-demi sedikit penampakan batang yang bergerak keluar dari vaginanya itu. Sebelum batang itu keluar semuanya, sudah didorongnya balik masuk ke dalam lagi, kali ini dengan gerakan yang lebih cepat. Setelah terbenam seluruhnya, serta merta ditariknya keluar lagi. Sampai hampir keluar seluruhnya, didorongnya masuk lagi, begitu seterusnya dengan gerakan yang makin cepat dan makin cepat. Hingga dinding rahimnya mulai menyesuaikan diri dengan tekstur batang jagung. Gesekan-gesekan keduanya pun dirasa makin lancar dengan makin licinnya liang Sarah yang mulai dibanjiri cairan cintanya. Akhirnya batang jagung itu benar-benar mengocok-ngocok liangnya. Tangan Sarah bergerak dengan cepat mengeluarmasukkan batang jagung itu. Bila mulai pegal bergantian dengan tangan kirinya. Kepalanya mendongak ke atas, matanya terpejam. Dihayati dan diresapinya rasa sensasional tekstur batang jagung di dalam vaginanya, sambil telinganya mendengarkan suara merdu yang dihasilkan kocokan itu. “Preet… preet… preet… !” Mulutnya juga mulai meracau dan mengerang seirama dengan kocokan itu. “Uuuhh… aahhh…”

    “Preet… ssreet… preet… !”

    “Uuuhh… aahhh… ouuhhh”

    Suara kocokan itu bagaikan sebuah musik nan merdu, dan erangan Sarah itu sebagai nyanyiannya, menghasilkan simponi nan indah di ruang mandi yang kedap suara itu yang sebagai arena konsernya. Tak lama kemudian Sarah menggelinjang saat mengalami orgasme pertamanya. Matanya makin memejam rapat. Cairan cintanya menyembur dengan kencang membasahi jagung yang masih berada dalam liangnya sambil tetap dikocok-kocokkan bersamaan dengan orgasmenya itu.

    “Aahhhh……” Sarah menjerit kecil.

    Luar biasa sekali kenikmatan yang dirasakan Sarah saat itu. Sampai semburan cairannya berhenti, Sarah pun menghentikan kocokannya. Nafasnya terengah-engah. Dicabutnya batang jagung itu dan dipandanginya dengan takjub. Biji-biji kuning jagung yang rapat itu dihiasi lumuran cairan cintanya. Tanpa jijik diciuminya batang jagung itu. Cup cup cup,

    “Ternyata kamu kalo udah di dalam keenakan ya…? Malah liar sekali gak bisa diam… Jadi nyembur dong liang tante ini… Enak tahuu?” Sarah mulai bertingkah lagi mengajak bicara jagung itu.

    “Ya sudah sekarang masuk lagi ya…?” bisiknya lagi. Dian menggoyang-nggoyangkan jagung itu seperti memainkan boneka dengan ekspresi kegirangan. “Iiihh ngebet juga kamu ternyata… genit ih! Ya sabar doong…”

    Sarah beranjak keluar dari bathub yang dianggapnya membatasi gerak. Dia ingin berbaring di lantai kamar mandinya yang memang luas. Di siramkannya beberapa gayung air di atas permukaan lantai kamar mandinya kemudian Sarah mulai berbaring sambil mengarahkan batang jagung itu lagi ke vaginanya. “Seettt,” batang jagung itu masuk lagi untuk kedua kalinya, kali ini jauh lebih lancar, dan tanpa banyak pemanasan Sarah langsung bisa mengocok-ngocokkannya lagi dengan cepat. “Preet… ssreet… preet… !”

    “Uuuhh… aahhh… ouuhhh”

    Konser orkes masturbasi pun berkumandang lagi dengan megah. Benar saja di lantai kamar mandi Sarah bisa bergerak bebas. Lantai kamar mandinya yang dari keramik itu memang senantiasa digosok tiap hari sehingga kondisinya sangat bersih. Karena itulah Sarah tidak merasa risih berguling-guling di atas lantai itu sambil terus mengocok-ngocok liangnya. Tubuhnya seperti kelojotan, berputar ke kiri, balik ke kanan, terkadang diangkatnya pantatnya tinggi-tinggi, dijatuhkannya lagi, berbalik tengkurap, menungging… benar-benar adegan yang seru sekali.

    Jauh lebih seru dari yang bisa dibayangkan Tejo. Walau kondisi di kamar mandi dingin dan basah, Sarah tetap memanas dan peluh mulai deras membanjiri tubuhnya. Entah berapa menit adegan itu berlangsung, yang jelas setelah orgasme ketiganya barulah Sarah mulai berhenti. Di tengah-tengah adegan tadi sebenarnya Sarah mendengar suaminya mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Mungkin dia penasaran kenapa Sarah berlama-lama di dalam. Padahal yang namanya wanita, terlebih Sarah, memang sudah biasa lama di kamar mandi. Heru juga sangat biasa memahami itu. Jadi, bila sampai dia mengetuk pintu kamar mandi, itu artinya kali ini Sarah sudah terlalu lama di dalam. Sarah menyadari hal itu, karena itulah dia menyudahi masturbasinya walau masih kuat dan ‘nagih’. Selama suaminya mengetuk tadi Sarah juga tidak menyahut apapun. Dia takut suaminya itu minta masuk karena memang tidak lazim Sarah mengunci pintu kamar mandi darinya. Sarah berpikir akan berbohong pada suaminya nanti dengan mengatakan bahwa dirinya ketiduran di bathub. Tanpa mencabut jagung itu dari vaginanya Sarah berbaring menatap langit-langit kamar mandi. Masih dirasakan sedikit denyutan pelan di dinding rahimnya setelah orgasme ketiga barusan. Nafasnya yang tadinya terengah-engah kini mulai teratur. Keringatnya dibiarkan berlelehan di wajah dan tubuhnya yang halus itu. Beberapa saat kemudian dicabutnya batang jagung itu pelan. Dipandangnya sebentar dan dikecupnya tanpa merasa jijik dengan lumuran cairan cintanya sendiri di seluruh permukaan jagung itu, bahkan dihirupnya aroma khas cairan itu dalam-dalam,

    “terima kasih yaa?” ucapnya sambil tersenyum.

    Badannya yang masih agak capek ingin dibaringkannya sebentar lagi. Diletakkannya jagung itu di atas perutnya yang langsing. Dirasakan basah cairannya ada yang turun melelehi perutnya.

    Pikirannya menerawang lagi megingat perbincangan sebelumnya dengan Tejo.

    “Apa Tejo sedang membayangkan aku masturbasi begini ya? Kalau begitu dia pasti membayangkan sambil bermasturbasi juga…” Pikirnya.

    Dibayangkannya keponakannya yang ndeso itu mengocok-ngocok penisnya. Tubuhnya hitam legam, penisnya juga pasti hitam, segede apa ya miliknya…? Penasaran juga Sarah dibuatnya.

    “Aku ragu dia percaya kebohonganku tentang masker wajah tadi, duuh, tapi moga-moga aja deh dia percaya…” Walau berpikir begitu, sejurus kemudian dia berubah pikiran lagi, “tapi kalau dia nggak percaya seru juga sih, hi hi hi…” batinnya.

    Sarah tidak merasa malu bertemu Tejo lagi setelah ini. Dia bahkan seperti tidak sabar untuk berinteraksi lagi dengan Tejo, mengamati mimik wajahnya dengan obrolan-obrolan menjurus lagi. Diam-diam Sarah terobsesi juga untuk benar-benar bisa mengetahui secara pasti isi benak Tejo tentang dirinya , dan berharap Tejo juga akan tahu dengan pasti tentang dirinya yang hobi seks itu. Tentu saja semua itu tanpa bicara terang-terangan,

    “ahh bagaimana caranya ya..?” pikir Sarah. “Musti main cantik nih…” pikirnya terus sambil senyum-senyum sendiri.

    Makin mantaplah keyakinan bahwa dalam dirinya terdapat bakat ekshibisionis.

    “Terima kasih ya Jo, kamu sudah memberikan solusi jagung ini pada tante. Tahu aja kamu apa mau tante…” lamunan Sarah makin nakal.

    Coba tadi dia jadi memakai mentimun, tentu tidak senikmat jagung yang lebih halus dengan tekstur yang khas kumpulan biji-biji yang menutupi batangnya itu.

    “Tejo.. tejo.. Tante harus kasih hadiah apa ya ke kamu? Hi hi hi… Kamu maunya apa Jo? Pasti kamu mau tubuh tante ini ya… ih enak aja, dasar mesum jelek! HI hi hi…” Takut makin lama, ia pun bangkit dan membasuh diri di bawah shower. Segar sekali rasanya. Kepenatan tubuhnya gara-gara masturbasi yang penuh semangat tadi seakan dilolosi satu persatu dari tubuhnya dengan kucuran air shower yang hangat itu.

    Setelah membasuh dan menyabuni tubuhnya, tidak lupa membersihkan vaginanya dari cairan orgasme yang membanjirinya, Sarah pun keluar, tidak lupa dibawanya jagung itu sambil disembunyikannya di balik handuk.

    “Duh, kamu lama banget mandinya, lagian kenapa dikunci sih…?” Heru yang menungguinya di kamar langsung menggerutu begitu Sarah keluar.

    “iya, aku ketiduran di bathub mas… Sori ya, mas nungguin ya?” Jawab Sarah seperti direncanakan.

    “Iya lah sudah sore begini gitu loh…” Heru bangkit menuju kamar mandi, dikecupnya pipi Sarah sebelum masuk. “Wanginya istriku…” godanya. “Iiih kamu masih bau nyium-nyium aku…” Sarah mencoba mengelak. “Kamu jangan kebiasaan ketiduran di kamar mandi seperti itu, kalau masuk angin gimana? Kan repot…” Nasehat heru sebelum kemudian masuk ke kamar mandi. Sarah manggut-manggut saja tanpa berkata. “Oh iya, Doni bangun tuuuhh, sekarang lagi digendong si Tejo!” Teriak Heru dari dalam kamar mandi.

    ***

    Setelah berpakaian rapi Sarah pun keluar kamar. Dia hanya memakai daster yang bagian bahunya terbuka dengan tali melintasi pundak, dan seperti biasa dengan mengekspos paha terbuka sejengkal di atas lutut.

    “Spesial buat kamu Jo. Hi hi hi…” kata Sarah dalam hati.

    Diam-diam dia ingin tampil cantik di depan keponakannya itu. Tidak lupa Sarah membawa jagung tadi keluar kamar hendak membuangnya. Dia memegangnya dengan selembar tissu. Sarah mendapati Tejo sedang menimang-nimang Doni di teras rumah.

    “Tejo, makasih ya sudah jagain Doni bentar… Tadi tante ketiduran di kamar mandi. Rewel gak si Doni?” Tanya Sarah sambil tersenyum manis. Tejo makin melek aja bertemu lagi dengan tantenya yang molek itu. “Duuh tante ini makin dilihat makin cantik aja…!” gumam Jo dalam hati. “Ah nggak rewel sama sekali kok tante, mungkin tadi sudah kenyang minum susu tante… Jadi anteng deh.” Jawab Tejo menyinggung-nyinggung susu Sarah yang tersipu dibuatnya. “Iya tadi siang dia lahap sekali minum susu tante.” Jawab Sarah tak mau kalah. “Sini Jo Doninya biar tante yang gendong sekarang…” kata Sarah sambil merunduk di depan Tejo meraih Doni dari gendongan Tejo. Hal itu membuat Tejo terbelalak yang melihat daster Sarah yang ikut menurun. Terlihat jelas kini walau singkat sekali seluruh bongkahan payudara tantenya menggantung di balik daster yang dikenakannya. “Gleekk…” Tejo menelan ludah kesekian kalinya demi telah menikmati pemandangan dari tantenya yang super indah itu. Sarah agak kerepotan karena lupa tangannya masih menggenggam jagung yang hendak dibuangnya.

    “Oh iya, ini Jo tolong dibuang jagung kamu tadi habis tante pakai..!” Pinta Sarah pada Tejo.

    “Ok tante.” Tejo meraih jagung itu dengan perasaan tak tentu.

    “Masih utuh jagungnya tante?” Tanya Tejo.

    “Lah iya lah, emangnya tante makan, kan tadi tante bilang itu buat masker.” Jelas Sarah sambil geli dalam hatinya. Dia sama sekali tidak khawatir lagi dengan apa yang akan dipikirkan Tejo.

    “Tapi gak dibelah-belah ya Tante?” Tanya Tejo lagi.

    “Ya nggaklah Jo, emangnya timun bisa dibelah. Kan keras Jo, gimana belahnya? Cara pakainya ya berbeda dong Jo…” Sarah menjawab sambil tersenyum.

    “Oiya, lantas gimana tadi cara pakainya tante?” Tejo bertanya lagi tanpa merasa grogi walau terus terpesona dengan senyum tantenya itu.

    “Udah ga usah nanya terus… emang kamu mau ikut-ikutan pake kaya tante? Mau pake seton jagung juga ga bakal putih kulitmu Jo… Hi hi hi…” ledek Sarah menggoda Tejo. Sarah tidak kelabakan lagi menjawab pertanyaan Tejo yang mengejar itu. Dia menjawab sekenanya saja tanpa peduli. Diam-diam dia malah senang Tejo mengejarnya dengan pertanyaan seperti itu.

    “Bukan gitu tante, maksudnya ini kalo masih bisa dimakan kan sayang kalo dibuang tante… Tejo makan ya tante?” Jawab Tejo tersipu. Kali ini Sarah cukup terkejut juga dengan kata-kata Tejo itu. “Haah… mau dimakan? Gila kamu Jo, bukannya kamu sebenarnya tahu itu habis tante pake buat ngocok vagina tante tadi? Penuh cairan tante tuh Jo… Atau jangan-jangan justru karena itu kamu mau memakannya ya?” Pikir Sarah gusar. Tapi sambil tertawa kecil menggoda, yang keluar dari mulutnya malah kalimat ini; “Oh mau kamu makan? Ya makan aja Jo, masih bisa kok, dijamin menyehatkan lagi! Hi hi hi… Kirain kamu udah ngikhlasin jagung itu tadi, ternyata masih ngidam ya? Hi hi hi…”

    Tejo makin tersipu, “iya tante, kebetulan juga sudah agak lapar, buat ganjal perut sambil nunggu makan malam tante.” Jawabnya. Dia pun duduk sambil mulai menyantap jagung itu. Sarah yang ikut duduk bersebelahan dengannya memandang dengan takjub. Berdesir lagi perasaan aneh dalam dadanya. Jagung itu sama sekali tidak dicucinya tadi. Walau sudah kering cairannya, pastilah masih tersisa lengket-lengket di seluruh permukaan jagung itu, belum lagi baunya yang khas pasti tercium juga oleh Tejo.

    Bagaimanapun juga Tejo tetap memakan jagung itu dengan lahap. Sarah melihatnya menggigit dan mengunyah biji-biji jagung itu tanpa menunjukkan erubahan ekspresi apapun, seakan-akan itu jagung yang masih normal-normal saja.

    “Eeh… Enak nggak Jo?” dengan penasaran Sarah bertanya.

    “Ya enak tante, Tejo memang paling suka makan jagung sih.” Jawab Tejo.

    “Ooh gitu ya…?” Sarah manggut-manggut.

    “Memang tante mau?” Tanya Tejo sambil tersenyum.

    Makin surprise Sarah dengan keponakannya yang satu ini. “Kurang ajar bener ni anak…” batinnya. Tapi tertantang juga Sarah untuk mencobanya, “Ee… Boleh deh Jo, tante juga sebenernya sudah lapar juga sih… Hi hi hi…” Tejo makin gemas saja dengan tantenya itu. Apalagi dari tadi tantenya itu terus tersenyum padanya. Sebenarnya dari awal memang Tejo lebih akrab pada Sarah ketimbang Heru yang sibuk bekerja. Heru sendiri juga seperti menitipkan Tejo pada Sarah. Dimintanya Sarah yang memperhatikan dan mengajari Tejo selama dia hidup menumpang bersama mereka. “Bukan hanya nilai pelajaran di sekolah, tapi juga pergaulan dia, sikap dia, dan sebagainya…” Pesan Heru waktu itu pada Sarah. Heru sadar juga dengan sifat keibuan istrinya yang cukup menonjol. Meskipun begitu, bagi Tejo kali ini dirasakan kedekatannya yang paling akrab pada tantenya itu. Kalau di awal tantenya lebih banyak bersikap formal, kali ini tantenya itu lebih sering tersenyum lepas padanya. Gilanya, hal itu malah makin membuat Tejo terobsesi. Apalagi dalam diri Sarah sendiri memang terbesit niat untuk menggoda dan memancing Tejo.

    “Tapi tangan tante sibuk menggendong Doni nih, kayaknya mulai rewel ga mau anteng.” Sarah memecah keheningan sesaat yang baru saja terjadi. Bayinya memang agak aktif dalam gendongannya membuat Sarah cukup repot. “Kamu suapin ke mulut tante ya?” Pinta Sarah sambil mengerling tersenyum pada Tejo.

    “Makin manis saja senyummu tantee…” Dalam hati Tejo gemas.

    Dia agak canggung mendengar permintaan tantenya itu. Dengan ragu dia mengulurkan jagung itu ke arah mulut tantenya. Tanpa ragu Sarah pun menyambutnya, haap…! Jantung Tejo berdegup makin kencang, darahnya terasa panas naik ke ubun-ubun demi melihat bibir mungil tantenya menempel di permukaan biji-biji jagung itu. Gara-gara itu tangan Tejo pun kurang kuat dalam menyodorkan jagung itu, hal itu membuat Sarah cukup kesulitan dalam menggigit jagung itu. “Duh Jo, kayak lomba makan kerupuk aja nih, yang kuat dong megangnya!” ujar Sarah cemberut manja pada Tejo yang makin blingsatan aja dibuatnya.

    “Eeh.. iya sori tante, Tejo gak konsen!” Tertawa lepas Sarah mendengar jawaban lugu Tejo itu, “Ha ha ha… kamu ini, ga konsen mikirin apa siih?” godanya. Tejo pun tersipu. Kali ini dia tidak menjawab lagi, dan Sarah pun berhasil menggigit jagung yang disodorkan Tejo padanya. Ada perasaan aneh dan bau yang khas tercium dari jagung itu. Hal itu malah membuat Sarah bersemangat. Dia mengunyah jagung itu sambil tersenyum menatap Tejo. Seperti ingin berkata pada Tejo, “niihhh, tante makan juga jagung yang dibumbui cairan cinta tante sendiri!” Tejo pun ikut tersenyum. Dia juga segera menggigit jagung itu karena ingin makan bersamaan dengan Tantenya. Kemudian sambil sama-sama mengunyah jagung ‘spesial’ itu keduanya saling berpandangan sambil tersenyum. Jika sudah menelan seluruhnya Sarah segera minta lagi, “Aaa’ Jo…” Tejo pun dengan sigap menyodorkan jagung itu lagi ke mulut Sarah, dan setelah itu juga ikut mengambil segigit lagi jagung itu. Adegan itu terus berlangsung sampai seluruh biji jagung itu habis tak bersisa. Cerita Maya

    “Ah, bener juga nikmat Jo jagungnya, besok kamu beli lagi yah?” pinta Sarah.

    “Mau ‘maskeran’ lagi tante?” tanya Tejo sambil senyam senyum.

    “Ya nggaklah, buat dimakan! Dasar kamuu…” Sarah tertawa.

    Timbul kepuasan aneh dalam hati mereka berdua setelah itu. Baik Sarah maupun Tejo merasa sudah saling tahu perasaan masing-masing. Sarah sudah sangat yakin dengan apa yang dipikirkan Tejo, dan dia merasa puas dengan itu.

    “Tejo, kamu ternyata nakal juga ya…? Tapi tante maklum kalau kamu mupeng berat dengan tantemu sendiri ini. Hi hi hi… Tunggu aja besok-besok tante akan bikin kamu makin blingsatan lagi!” Pikir Sarah nakal.

    Begitu pun Tejo yang makin yakin pada apa yang terjadi pada diri tantenya. Tejo juga yakin bahwa tantenya tahu juga tentang perasaan Tejo terhadapnya, dan itu makin memacu obsesi Tejo untuk bisa mendapatkan yang ‘lebih’ lagi di hari-hari ke depan yang akan dia jelang bersama Sarah. “Tanteku…, tante ini cantik-cantik tapi binal juga. Hari yang akan kita lalui bersama masih panjang tante! Tejo pasti akan mereguk keindahan dan kenikmatan dari tante secara maksimal!” Begitu yang dipikirkan Tejo. Membayangkan persetubuhan dengan tantenya bisa dibilang bagai pungguk merindukan bulan bagi Tejo, amat sangat terlalu mewah bagi anak desa sepertinya. Karena itu Tejo memang tidak berani membayangkan hingga ke situ. Dia hanya berani membayangkan strategi-strategi nakal untuk bisa mengintip ketelanjangan total tantenya itu saat mandi, bila beruntung bisa mendapati adegan masturbasi atau bahkan adegan persetubuhan tantenya dengan Oom Heru… Panas dingin tubuh Tejo yang tidak bisa mengenyahkan bayangan-bayangan mesum itu dalam benaknya. Dia berpikir, malam ini bakal jadi malam yang panjang baginya. Sepertinya malam ini dia bakal menguras habis lagi spermanya yang banyak itu demi tantenya. Sementara Sarah sendiri berpikir,

    “Malam ini harus bercinta! Ya! Mas Heru harus bisa muasin aku malam ini! Awas kalo dia ogah-ogahan aku perkosa saja dia nanti!”

    Begitulah Tejo dan Sarah, seorang keponakan dan tantenya sendiri dengan rencananya masing-masing malam ini maupun untuk hari-hari esok. Entah apa yang akan terjadi nanti antara mereka berdua yang hari ini sama-sama sudah kehilangan sense of moralitynya. Bagaimanakah kelanjutan hari-hari mereka nantinya? Apa yang direncanakan Sarah untuk Tejo, dan sebaliknya yang direncanakan Tejo untuk Sarah? Akan sukseskah rencana mereka masing-masing? Bagaimana pula kelanjutan hubungan gelap Sarah dengan Anton maupun Bambang?

    TO BE CONTINUED TO part 2…


    By: Enamsembilan

  • Naughty Wife Sarah 3A: Satu Minggu yang Tak Terlupakan

    Naughty Wife Sarah 3A: Satu Minggu yang Tak Terlupakan


    54 views
    Sarah

    Cerita Maya | Badan Sarah terasa segar setelah mandi dengan air hangat. Dirasakannya kondisi badannya sudah mulai enteng. Panas badannya sudah menurun dan pening di kepalanya pun telah menghilang. Ya, sebenarnya dia sudah merasa cukup sehat tapi dia toh beringsut lagi di balik selimut. “Kapan lagi bisa malas-malasan seperti ini…?” Pikirnya senang. Sambil tiduran dipencetnya remote televisi mencari-cari channel yang menayangkan infotainment. Setelah memilih 1 channel, diraihnya sebuah apel dari meja kecil di samping ranjangnya. “Hari ini muas-muasin manjain diri aah…” ucapnya dalam hati. Sementara itu Tejo baru saja selesai menyapu seisi rumah. Di dekatnya, Doni yang sebelumnya anteng di dalam babywalkernya mulai merengek-rengek. Tejo pun paham, botol susu yang sudah disiapkan sejak tadi segera diberikannya. Pokoknya hari ini Tejo benar-benar seperti ibu rumah tangga menggantikan Sarah. Setelah menyapu dia mengerjakan pekerjaan lainnya dengan sigap. Dan bila Doni rewel, Tejo juga sudah tak canggung lagi memomongnya.

    ***

    Hari kini menjelang siang. Doni yang sebelumnya aktif bermain ditemani oleh Tejo sudah tampak kelelahan. Tejo pun menggendongnya dan masuk ke kamar Sarah. Diketuknya pintu kamar Sarah yang tidak tertutup. Cerita Maya

    “Yaa…?” Sahut Sarah yang masih bermalas-malasan di ranjang.

    “Tante nggak tidur ya?” Tanya Tejo setelah masuk.

    “Nggak Jo, tidur terus-terusan malah tambah pening…” Jawab Sarah. Dihadiahinya Tejo dengan senyuman manis karna dia sudah membantu mengurusi rumah dan Doni.

    “Sudah beres semua ya Jo, duh kamu hebat deehh… Bisa diandalkan!” Pujinya.

    “Iya Tante… Ini Doninya udah ngantuk lagi, biar tidur dulu…” Jawab Tejo yang kegeeran. Hatinya melambung mendapat senyuman dari Tantenya itu. Takut salah tingkah, Tejo segera melangkah ke ruang sebelah hendak menidurkan Doni di box bayi.

    “Eh, sini aja Jo, biar tidur di samping Tante. Biar Tante kelonin…” Sarah menggelar kain perlak di sampingnya dan ditutupinya lagi dengan kain yang empuk. Disuruhnya Tejo membaringkan Doni di atasnya.

    “Kamu ambilin bantalnya di box bayi…” Pinta Sarah lagi.

    “Ya Tante…” Jawab Tejo.

    Setelah Tejo menyerahkan bantal Doni Sarah pun mengeloni Doni dengan sayang. “Makasih ya Jo, kamu istirahat gih…” Ucap Sarah lembut.

    Tejo yang begitu mengagumi Tantenya itu kali ini memandangnya tanpa nafsu karna Sarah sedang memancarkan kharisma keibuannya. Tapi, melihat ibu yang cantik begitu, Tejo pun berkhayal seandainya istrinya nanti, ibu dari anak-anaknya kelak bisa secantik Sarah. Tejo yang sangat menghayati tanggungjawabnya kini berpikir untuk menyiapkan lagi susu Tejo untuk sore nanti. Seperti tadi pagi, dia sudah menyiapkan susu di awal sehingga ketika Doni rewel minta minum dia tinggal menyerahkan botol susunya. Tapi tiba-tiba saja muncul rasa penasaran Tejo dengan air susu itu ketika mengambilnya dari lemari es. Ditimang-timangnya botol susu itu. Ini adalah air susu Sarah yang diperah Sarah sendiri. Sebelumnya belum pernah Tejo membayangkan seorang ibu memerah air susunya sendiri. Air susu itu adalah yang terakhir. Hanya cukup untuk 1 botol lagi. Setelah ini jika Tantenya masih belum bisa menyusui Doni, berarti tentu dia harus memerah susunya lagi. Wajah Tejo mulai mupeng membayangkan adegan Sarah memerah air susunya sendiri dari payudaranya yang indah itu. Terbesit ide nakal dalam benak Tejo. Dia penasaran seperti apa rasa susu ibu itu. Bukannya memindah air susu itu ke botol susu Doni, Tejo malah menuangkannya ke dalam gelas untuk diminumnya sendiri.

    Awalnya Tejo agak ragu dengan rencananya itu, dalam hatinya merasa konyol. Tapi persetan, pikirnya kemudian. Ditenggak habis juga akhirnya gelas berisi air susu Tantenya itu. Tiap kali meneguk susu itu, dada Tejo berdebar kencang. Dipandangnya gelas yang sudah licin tandas itu. Tanpa memikirkan rasa susu itu, ada semacam perasaan puas dalam diri Tejo. Bahkan tanpa terasa batang Tejo mengeras di balik celananya.

    “Waduh…” Keluhnya. “Bisa-bisanya bangun adik kecilku ini…?” Keluh Tejo pada dirinya sendiri dalam hati.

    Ya terang saja batangnya itu mengeras. Jelas tidak mungkin kalau dia minum air susu Tantenya tanpa memikirkan sumbernya, alias buah dada Tantenya yang montok itu. Tejo menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Sesekali tangannya menepuk-nepuk kepalanya sendiri. Dia seperti ingin mengenyahkan bayangan yang kerap menyiksa batinnya itu. Tapi alih-alih hilang, bayangan itu malah makin menjadi. Batangnya malah makin menegang hingga maksimal. “Anjiir…” makinya dalam hati. Entah setan mana yang merasukinya, tiba-tiba Tejo bangkit menuju kamar Sarah. Dia sendiri tidak tahu apa yang hendak dilakukannya. Kakinya seperti bergerak sendiri melangkah memasuki kamar Tantenya itu. Di dalam kamar dijumpai Tantenya sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil membaca majalah. Di sampingnya Doni tampak telah tertidur pulas.

    “Ada apa Jo?” Tanya Sarah.

    Tejo terdiam. Wajah Sarah yang tampak segar, dengan beberapa helai rambut tipis jatuh menutupi dahi dan wajahnya, makin tampak mempesona di mata Tejo. Sarah menyibak rambut yang jatuh menutupi wajahnya itu. Darah Tejo makin berdesir. Tiap gerakan Sarah seperti sudah didesain untuk memanjakan mata laki-laki. Lidah Tejo pun makin kelu.

    “Ngapain aku ke sini dalam keadaan ngaceng begini???” Dalam hati dia menghardik dirinya sendiri. “Kamu mau perkosa Tantemu sendiri memangnya, haah??? Buruan sana ke kamar!! Coli sanaaa…!!!” Hatinya menghardik kembali. Tapi dia sudah terlanjur masuk ke kamar Sarah. Jelas tidak mungkin pergi begitu saja mengatakan apa-apa. Makin lama dirinya diam, makin heran Sarah dibuatnya.

    “Ngg…ga Tante, ga ada apa-apa…” Akhirnya Tejo menjawab.

    Tapi jawaban macam apa itu? Kalo ga ada apa-apa ngapain masuk? Hatinya seperti menertawai dirinya sendiri. Tejo pun tersenyum kecut. Sarah tampak heran dengan jawaban itu, matanya melirik gelas kosong yang dibawa Tejo.

    “Oh mai gat!! Tantee… Cantik nian dirimuuu…” Puja Tejo dalam hatinya yang makin terbuai.

    Sungguh dahsyat kharisma kecantikan Tantenya itu. Hanya dengan gerakan mata saja, dia sudah bisa membuat hati Tejo blingsatan. Tapi hanya sekejap saja dirinya terbuai. Tanpa sengaja gelas yang tadi digunakan untuk minum susu Sarah masih dipegang di tangannya. Menyadari hal itu, Tejo pun makin bingung harus berkata apa. Lirikan Sarah pada gelas itu seperti memberondongnya dengan pertanyaan, “gelas apa itu Jo?! Kamu baru minum apa Jo?!” Padahal Sarah sendiri sama sekali tidak menanyakan apa-apa.

    “Sini Jo…” Sarah menyuruh Tejo mendekat.

    Tangannya menepuk-nepuk sisi ranjangnya mengisyaratkan bahwa dia mempersilahkan Tejo duduk di situ. Sarah tersenyum. Dalam hatinya bertanya ada apa dengan keponakannya itu, kok canggung seperti dulu saat awal-awal dia baru datang. Sungguh bagi Tejo saat itu lebih baik Sarah menyuruhnya keluar kamar saja ketimbang malah menyuruhnya mendekat. Tapi sambil melangkah dikuatkan hatinya.

    “Tampaknya aku sudah tak bisa mundur lagi… Maju teruuuss…” Katanya dalam hati. Lho, seperti mau ngapain aja dia itu. Gila.

    Bukan Tejo namanya kalau tidak segera bisa menguasai diri.

    “Ini, susunya habis Tante…” Ucapnya lancar setelah duduk di dekat Sarah.

    “Lho… Habis ya…? Kirain cukup buat 3 kali…” Jawab Sarah.

    “Eee… Iya sih tadi sebenernya masih ada buat sekali lagi Tante.” Sahut Tejo.

    “Nah, trus kemana? Tumpah ya?” Tanya Sarah.

    Tejo hendak mengiyakan. Dia sudah siap berbohong tentang hal ini. Tapi entah kenapa, tiba-tiba muncul keberanian dalam dirinya untuk menjawab jujur.

    “Tejo minum Tante…” Jawabnya polos. Hatinya pun berdebar menanti reaksi Tantenya.

    Sungguh di luar dugaan, Sarah spontan tertawa geli mendengar jawaban Tejo. Tejo meringis.

    “Aduuh… Serius kamu Jo? Kok bisa-bisanya kamu minum air susu Tante itu…? Bukannya Tante udah belikan susu buat kamu sendiri? Sudah habis memangnya?” Tanya Sarah bertubi-tubi setelah tawanya reda. Senyum lebar masih tersungging di bibir manisnya.

    “Penasaran aja Tante…” Jawab Tejo cengengesan dengan muka memerah.

    “Penasaran gimana?” Tanya Sarah lagi.

    “Ya yang dibelikan Tante kan susu sapi…” Jawab Tejo.

    “Ya iyalah… terus kamu penasaran ya rasanya ASI? Duh, kamu ini ada-ada aja Jo… Jatah Doni gitu loh kamu minuum…” Ujar Sarah gemas.

    “Iya Tante, tadi Tejo cuma iseng aja… ga tau deh… Maaf ya Tante…” Ucap Tejo meminta maaf walau Tantenya itu sama sekali tidak menampakkan nada marah.

    “Yah udah deh… Tapi gimana nanti kalo Doni haus, hayoo…? Tante belum bisa nyusuin nih… masih lemesss…” Ucap Sarah manja.

    “Diperah lagi aja Tante…” Jawab Tejo enteng.

    “Huuu… Kamu ini… Dipikirnya enak?” Ujar Sarah sambil mengusap-usap kepala Tejo dengan cepat hingga rambutnya berantakan. Tejo meringis saja sambil merapikan rambutnya. Hatinya senang diperlakukan seperti itu oleh Sarah.

    “Badan Tante ini masih pegal. Terutama leher ini loh yang paling sakit kalo masuk angin… Kalo merah susu kepalanya harus nunduk terus, Tante belum kuat…” Jelas Sarah. Tangannya diangkat memijit-mijit tengkuknya.

    “Mmm… Biar Tejo bantu Tante…” Entah angin darimana yang membuat Tejo nekat mengucapkan itu tanpa ragu sedikit pun. Sarah agak tercengang dalam hatinya melihat ponakannya yang mulai ‘nakal’ itu. Tapi dalam hatinya malah merasa gemas dan makin ingin menggoda Tejo lebih jauh.

    “Iih kamu… bantu ngapain?” Tanyanya menggoda. Tejo tersipu tak menjawab.

    “Tejoo… kamu mulai genit yah? Kamu mau bantu memerah buah dada Tante iniii…?” Sarah mencubit Tejo gemas.

    “I… iyaa Tante, kan kemarin Tante sendiri yang bilang…” Tejo meringis membela diri. Cubitan Sarah yang tidak sakit seperti cubitan sayang baginya. Jantungnya mulai berdebar-debar lagi, kali ini karena terlampau bersemangat.

    “Kamu ini… Jo…” Ucap Sarah lembut sambil membelai-belai rambut Tejo yang terdiam tidak berani menatapnya.

    “Sebenarnya itu ide bagus Jo, Tante memang butuh bantuan, kalau Oom-mu ada pasti Tante udah minta ke dia… Tapi kalo sama kamu…?” Sarah idak melanjutkan ucapannya.

    Tejo

    “Kenapa memangnya Tante…” Tanya Tejo berlagak polos.

    Sarah tersenyum geli mendengarnya. Dipijitnya hidung Tejo gemas,

    “Kamu ini udah gede Jo…!” Ucapnya. Sarah sebenarnya sedang mempermainkan perasaan Tejo.

    Dari tadi tangannya melancarkan ‘serangan maut’ mengusap-usap kepala Tejo, mengelus rambutnya, mencubitnya, menepuk-nepuknya, kini bahkan memijit hidungnya. Belum lagi ditambah senyum manis yang bertubi-tubi dilemparkan pada Tejo dari tadi.

    “Kamu udah remaja sekarang. Udah pernah ‘ngimpi’ kan Jo? Kapan pertama kali?” Tanya Sarah serius.

    “Ee…Ngimpi apa…? Ooh maksud Tante mimpi basah?” Tejo balik bertanya.Wajahnya merah padam tak menyangka Tantenya bakal menanyakan hal itu.

    “Ya iya…” Jawab Sarah. “Udah kan?” lanjutnya mengulang pertanyaan.

    “Ya… Udah Tante…”

    “Kapan pertama kali?”

    “Yaa… Ga tahu Tante udah lama deh, pas SD…”

    “Nah lo, malah udah sejak SD…!”

    Tejo terdiam. Sarah juga ikut diam sejenak memikirkan kata-kata yang akan dilontarkannya lagi.

    “Artinya kamu udah matang Jo… Udah punya nafsu kamu…” Sarah menerangkan dengan serius. “Coba Tante tanya, gimana menurutmu Tante ini?” Tanyanya kemudian.

    “Ee… maksudnya? Tante… Ya Tante orangnya baik…?” Jawab Tejo masih terbata bata belum tahu arah pembicaraan Tantenya.

    “Bukan gitu…” Sarah tertawa kecil. “Maksudnya secara fisik, bagaimana penilaian kamu sebagai laki-laki dewasa terhadap Tante sebagai seorang wanita dewasa… Bagaimana kamu memandang Tante?” Tanya Sarah lagi.

    “Ta… Tante cantik…?” Jawab Tejo agak ragu.

    Sarah tersenyum. “Hanya itu?”

    “Mmm…” Tejo bingung harus berkata apa lagi. Sebenarnya dengan ditanya begitu ingin sekali ditumpahkan perasaannya saat itu juga. Tapi dia segan dan ragu, di samping menerka-nerka apa sebenarnya maksud Tantenya itu.

    “Jangan malu… Hayo…?” Sarah mengusap-usap rambut Tejo lagi seperti hendak memunculkan keberaniannya.

    “S… Seksi Tante…!” Jawab Tejo sambil meringis.

    “Haa…?” Sarah berlagak tak mendengar.

    “Iya… Tante seksi. Cantik dan seksi!” Ucap Tejo lagi kali ini mantap.

    Sarah tertawa kecil. “Apa selama ini cuma itu yang kamu pikirkan tentang Tante?” Ucapnya. “Tante tahu, bukannya sombong ya Tante sadar dengan kecantikan Tante. Dulu Oom-mu itu banyak saingannya loh… Memperebutkan Tantemu ini. Hi hi hi…”

    Tejo mangut-mangut. Sarah melanjutkan, “Tapi kalau cuma cantik dan seksi… Mmm…” Kalimatnya terputus. Dia bingung bagaimana menjelaskan maksudnya.

    “Sekarang gini aja… Tante tanya, gimana menurutmu kulit Tante?” Tanya Sarah lagi. Tejo berpikir sebentar, tapi kemudian dia tak ragu lagi.

    “Putih dan mulus…” Jawabnya meringis.

    Sarah tersenyum. “Nah begitu, kalo body Tante gimana?” Kerlingnya.

    “Yaaa… Itu tadi, seksi…” Sahut Tejo tak bisa menemukan kata lain.

    Sarah tertawa, “Oh iya…” Ucapnya. Tejo jadi ikut tertawa.

    “Yaa ya… sudah deh nanti Tante malah kege-eran… Tapi kamu dah paham kan maksud Tante? Kamu itu udah gede, naluri seksualmu pasti udah tumbuh. Wanita dewasa dan bagian-bagian tubuhnya menjadi sangat menarik dan merangsang buat kamu… Iya kan? Buktinya kemarin kamu nonton DVD porno… Kamu bilang penasaran. Lha iya memang begitu fitrahnya. Tante juga wanita dewasa. Bukannya ge-er, tapi Tante tahu kok selama ini kamu mengagumi Tante. Kamu suka curi-curi pandang ke Tante, terutama kalo Tante lagi nyusuin si Doni… Tante nggak marah karena emang begitu normalnya. Kecuali kamu homo…” Jelas sarah panjang lebar.

    Baca Juga Cerita Seks Bad Cop, Naughty Wife

    “Buah dada memang salah satu bagian dari wanita yang paling menarik bagi laki-laki di samping wajahnya. Kalo wajah kan selalu terlihat… Sementara buah dada selalu tersembunyi, jadi memang menjadi misteri yang menyenangkan bagi laki-laki, dan sensasinya jauh lebih besar kalo sudah bisa melihatnya.” Lanjut Sarah masih panjang lebar. “Itulah sebabnya Tante ragu kasih kamu memerah buah dada Tante Jo… Tante ga berani…” Pungkasnya.

    Tejo menelan ludahnya. Mendengar Sarah mengucap ‘buah dada’ berulang kali saja sudah membuat jantungnya blingsatan.

    “Memangnya kenapa Tante?” Tejo bertanya lugu.

    “Halah, masih nanya juga kamu udah dijelasin juga… Jo, kamu bukan hanya bakal melihat buah dada Tante telanjang tapi juga menyentuhnya Jo… Bahkan meremas-remas… Itu terlalu beresiko!” Jawab Sarah gemas.

    “Tapi Tejo kan ga mungkin macem-macem Tante… Kan sama Tante sendiri.” Jawab Tejo meyakinkan. Sarah terdiam. Dipandangnya wajah Tejo yang ngenes.

    “Duuh, kamu ini benar-benar kepingin yaa…?” Tanya Sarah pelan. Dibelainya lagi kepala Tejo.

    “I… Iya Tante…” Jawab Tejo tercekat. Matanya memandang Sarah penuh harap.

    “Kamu belum punya pacar Jo?” Sarah mencoba mengalihkan pembicaraan.

    “Duh, ga kepikiran Tante… Lagian sejak kenal Tante rasanya cewek lain jadi ga menarik di mata Tejo…” Jawab Tejo polos.

    “Waduuh, malah sudah berani merayu kamu ini… Ini Tantemu Jo…!” Tawa Sarah meledak. Tejo seketika tersipu. Dia sama sekali tidak ada maksud merayu tadi. Ucapannya benar-benar apa adanya.

    Tiba-tiba mimik Sarah berubah serius, ditatapnya mata Tejo dalam-dalam.

    “Jo……” Ucapnya.

    “Ya Tante?” Sahut Tejo berdebar-debar.

    “Gimanapun Doni memang butuh ASI… Kamu… Kamu bener ya janji ga macem-macem?” Tanya Sarah agak terbata. Diam-diam dia sendiri juga mulai terangsang.

    “Janji Tante!” Jawab Tejo mantap.

    Sarah terdiam sesaat. Berdebar-debar Tejo dibuatnya.

    “Ya udah, kamu ambil wadah sana…” Akhirnya Sarah memberi instruksi.

    “Ja… Jadi Tante…?” Sahut Tejo seperti tak percaya. Dalam hatinya seketika berteriak girang seperti orang yang baru menang lotre.

    “Tapi ingat loh Jo…! walau kamu nanti terangsang dengan buah dada Tante, ini demi Doni. Bukan buat pelampiasan nafsu kamu. Kamu kontrol diri ya, ingat Oom kamu…!” Ucap Sarah mengingatkan.

    “Siap Tante!” Sahut Tejo sambil melesat keluar kamar mengambil wadah yang diminta Tantenya.

    Sarah diam terpaku di atas ranjang. Dirinya juga berdebar membayangkan apa yang sebentar lagi bakal terjadi. Ada perasaan grogi menyelinap, di samping nafsunya juga mulai meluap-luap.

    “Aah Tejo, gak nyangka secepat ini kamu sudah bisa menjamah Tante.” Ucapnya dalam hati.

    Kalau saja di dapur ada kamera tersembunyi, tentu polah Tejo yang melompat-lompat kegirangan seperti orang yang lupa diri akan terekam. Ya, begitulah Tejo saat Sarah tak lagi melihatnya di luar kamar. Kegembiraannya teramat sangat, bahkan ingin rasanya dia teriak, tapi urung karena tentu Sarah bakal mendengarnya. “Yess, datang juga hari ini…!” Pekiknya dalam hati.

    ###################

    Holy Cow!

    Dengan membawa wadah yang dibutuhkan Tejo segera kembali ke dalam kamar. Dilihatnya Sarah duduk pasrah di tepi ranjang. Sarah menoleh, senyumnya tersungging lagi.

    “Ahh Tante…” gumam Tejo dalam hati dengan gemas. Tak membuang waktu Tejo segera duduk di ranjang berhadapan dengan Sarah. Untuk sesaat keduanya tampak canggung. Tapi Sarah segera angkat bicara.

    “Siap Jo…?” Ucapnya tersenyum menggoda.

    “Y.. ya Tante…” Tejo tampak grogi.

    “Yang lembut ya…?” Melihat Tejo yang grogi Sarah malah makin gemas menggodanya.

    “I… iya Pasti Tante!” Tejo makin blingsatan.

    “Tante tahu ini saat teristimewa bagimu…” Sarah makin nekat menggoda.

    Tejo terdiam.

    “Ini pertama kalinya kamu lihat payudara secara langsung kan?’ Tanya Sarah.

    Tejo mengangguk cepat.

    “Nah, Tante ingin kasih yang spesial buat kamu…” Kerling Sarah. “Sekarang Tante kasih kamu kesempatan, kamu yang buka baju Tante…” Tantangnya.

    Edan. Sarah seperti lupa kata-katanya sendiri. Padahal tadi dia minta pada Tejo untuk mengontrol diri dan tidak menganggapnya sebagai pelampiasan nafsu, tapi kini malah dia sendiri menggodanya seperti itu. Tejo sendiri jelas terkesiap mendengar kata-kata Sarah. Jakunnya naik turun, tapi belum juga berani bergeming.

    “Nah lo, sekarang malah kamu yang malu-malu… Hi hi hi…” Sarah membelai pipi Tejo, diangkat dan ditolehkannya kepala Tejo yang dari tadi menunduk supaya menghadap dirinya. Kemudian Sarah membuka 1 kancing paling atas piyamanya lantas diam menunggu Tejo untuk meneruskannya. Tejo yang paham apa yang dikehendaki Tantenya mulai memberanikan diri. Dengan gemetar tangannya mulai melolosi kancing piyama Sarah satu demi satu. Nafasnya menderu. Dalam hatinya geregetan sekali dia pada Tantenya. Serasa ingin langsung ditubruk dan digagahinya. Inilah yang selalu dia bayangkan saat Anton mengunjungi Tantenya itu. Bayangan yang selalu menyiksa dirinya, tentang bagaimana Anton menelanjangi Tantenya. Kini peran itu dimainkan olehnya. Sekarang dia yang jadi bintangnya! Tejo berhenti di kancing ketiga. 2 kancing paling bawah dibiarkannya tetap mengancing. Nafasnya makin memburu. Keberanian makin muncul dalam dadanya. Dibukanya piyama Sarah dengan menyibak bagian kerahnya dan memelorotkannya dengan cepat dari atas melewati bahunya hingga berhenti di tengah lengannya. Sarah tentu saja kaget.

    “Kyaaa…!” Kedua payudaranya langsung melompat keluar karena dia tak mengenakan BH.

    Tejo terkesiap melihat pemandangan yang begitu indahnya itu. Pemandangan yang selama ini menghantui jiwa remajanya, yang menjadi impian tiap laki-laki untuk memandangnya, kini terpampang jelas di hadapannya tanpa halangan apapun. Detak jantungnya mengencang bak dentuman meriam. Nafasnya tercekat, tenggorokannya menjadi gersang, dan yang pasti ‘adik kecil’nya langsung terbangun dengan tegangan super tinggi. Tejo merasa betapa beruntungnya dirinya. Pengalaman pertama melihat payudara wanita, dirinya langsung mendapat kualitas nomor satu. Payudara Sarah memang benar-benar sempurna. Besar, namun padat dan kencang sehingga putingnya yang mungil mengacung seperti menantang minta segera dihisap. Putih tanpa noda, mulus tanpa cacat.

    “Ahh…” Sarah mendesah lirih merasakan angin dingin AC menerpa kulit payudaranya yang terbuka bebas.

    Bulu kuduknya berdiri seketika. Debar jantungnya juga makin keras seperti halnya Tejo. Naluri ekshibisionisnya hari ini naik ke level yang lebih tinggi dengan mempertontonkan kedua payudaranya dengan bebas tepat di hadapan keponakannya sendiri yang buruk rupa itu.

    Awalnya Sarah mengira Tejo hanya akan menyingkap piyamanya saja. Tak disangka Tejo telah membuka dirinya dengan cara seperti itu. Bagian pundak hingga dada Sarah kini terekspos. Secara spontan dia menyilangkan kedua tangannya di dada.

    “Kenapa dibuka dua-duanya Jo…? Nakal iih… Satu aja…” Ujarnya.

    “Hari ini Tejo mau memeras Susu yang banyak…!” Jawab Tejo nakal.

    “Satu aja cukup Jo…” Ucap Sarah tersenyum.

    Ditariknya piyamanya supaya menutupi lagi pundaknya yang terbuka. Tejo buru-buru mencegahnya.

    “Jangan Tante pliss…” Ucapnya ngenes. Dia tak ingin pemandangan itu segera berakhir.

    Sarah langsung mencubit pipinya, “Nah lo, mulai nakal… Tante ini bukannya mau memuaskan nafsu kamu Jo. Hayo, tadi katanya janji mau kontrol diri…?! Lagian dingin kan, nanti Tante sakit lagi…” Sahutnya tegas.

    Tejo tidak berani membantah. Geregetan perasaannya dengan sikap Sarah yang main tarik ulur itu. Sarah sendiri dalam hati juga menikmati permainannya itu. Dia tahu Tejo tentu terangsang berat saat itu.

    “Kamu suka Jo?” Tanya Sarah pelan.

    “I.. Iya Tante, suka sekali…” Jawab Tejo polos.

    Sarah tersenyum mendengarnya. Dielusnya lagi kepala Tejo.

    “Tante tahu betapa menariknya buah dada Tante buat kamu. Dan Tante nggak marah, justru itu menunjukkan kalo kamu laki-laki normal. Walaupun niat kita menyediakan ASI buat Doni, Tante tahu bagaimanapun juga nafsu kamu pasti tetap muncul. Kamu pasti terangsang kan? Itu resiko yang Tante ambil dan Tante harap kamu ikut jaga kehormatan Tante… Oke?” Ucap Sarah, mencoba memainkan peran sebagai Tante yang bijaksana. Tejo pun mengangguk tanda menurut.

    “Nah ayo dimulai Jo…” Ucap Sarah tersenyum menggoda. Manis sekali. Tejo mulai mengulurkan tangannya.

    Waktu seakan berhenti saat jemarinya menyentuh kulit payudara Sarah. Bahkan jantungnya sendiri pun seolah berhenti berdenyut. Tejo tidak langsung menggenggam payudara itu. Dia terlebih dulu mengelusnya dengan lembut, ingin merasakan kehalusannya. Sarah merinding saat merasakan kulit payudaranya bergesekan dengan jemari Tejo yang kasar. Dia membiarkan Tejo mengelus-elus payudaranya untuk beberapa saat. Dipandangnya wajah Tejo yang tampak tegang.

    “Puas-puasin deh Jo rasa penasaran kamu dengan payudara Tante…” gumamnya dalam hati. Sesaat kemudian, tangannya meraih tangan Tejo dan digenggamkannya pada payudaranya.

    “Kok malah dielus-elus Jo, ayo mulai diperas ASI Tante…” Ucapnya. Dia pun membimbing tangan Tejo dengan gerakan meremas. “Begini caranya Jo…” Jelasnya.

    Sarah mengajarkan gerakan mengurut dan memeras dengan 2 jari hingga air susunya pun mulai keluar. Tejo benar-benar takjub melihat air susu yang mengucur keluar dari puting susu Tantenya itu. Sarah melepaskan tangannya dan menyandarkan tubuhnya. Tejo mengerti, dia pun segera meneruskan memeras payudara Sarah. Air susu Sarah yang mulai mengucur deras ditampungnya di wadah yang telah disiapkan. “Curr… Cuurr… Cuurrr…” Sarah memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Bagaimanapun dia juga merasakan sensasi dari remasan tangan Tejo pada payudaranya.

    “Aah… Jo jangan terlalu kencang, sakit…” Desah Sarah manja.

    “Iya Tante… Maaf…” Tejo tersipu menyadari dirinya yang terlalu bersemangat.

    “Pelan aja ya sayang…” Ucap Sarah lagi.

    Lagi-lagi perasaan Tejo dilambungkan oleh godaan Sarah yang memanggilnya dengan sebutan sayang. Makin gemas dia melumat payudara Tantenya itu dengan tangannya. Betapa menakjubkannya gumpalan payudara itu. Bentuknya sangat sederhana tapi bisa membuat semua laki-laki mabuk kepayang, blingsatan, hingga lupa diri. “Duh herannya, benda ginian aja kok nggemesin banget… Hiiih…!!! Oh mai gat… indahnyaaa…!!! Ingin rasanya Tejo teriak.

    “Ouuuhhh…. Joooo, pelan…!” Sarah mendesah panjang. Matanya mulai sayu. Tanpa sadar Tejo terlalu keras lagi meremasnya. Lenguhan Sarah terdengar merdu sekali di telinga Tejo. Penisnya pun makin meronta di balik celananya.

    “Maaf Tante… Habis gemas…” Tejo meringis seperti tanpa dosa.

    “Kamu ini… mau memerah susu apa mau mencabuli Tante sih…?” Sarah merengut manja. Sekali lagi Tejo takjub mendengar kata-kata “mencabuli” dari bibir Tantenya itu. Hatinya teriak, “Iyaa Tante, Tejo pingin mencabuli Tante sekarang jugaa…!” Tapi tentu saja kalimat itu tidak sampai keluar dari mulutnya.

    Dengan pelan Tejo meneruskan lagi memerah ASI dari payudara Sarah. Sedikit demi sedikit wadah yang dibawanya pun mulai penuh. Sarah diam saja sambil tetap menyandarkan tubuhnya. Posisinya terlihat seperti sedang pasrah. Kalau saja Doni terbangun dan bisa berpikir, tentu dia akan takjub melihat pemandangan yang ganjil itu. Mamanya yang cantik jelita bersandar pasrah sementara payudaranya yang putih mulus diremas-remas oleh tangan Tejo yang kasar dan hitam legam. Sesekali Sarah terlihat meringis dan menggigit bibir karena Tejo masih saja kerap meremas terlalu kencang. Tapi dirinya tidak lagi memprotesnya. Diam-diam sesungguhnya dia pun menikmatinya. Tak lama kemudian wadah yang dibawanya pun penuh dengan air susu Sarah. Tejo menghentikan perasannya. Diambilnya tisu dan diusapnya puting susu Sarah yang basah.

    “Sudah Jo?” Tanya Sarah. Tubuhnya menggelinjang merasakan geli di putingnya yang disapu tisu.

    “Iya Tante, ni yang satu udah penuh…” Tejo yang masih gemas pada payudara Sarah ternyata sudah menyiapkan wadah kedua. Lho… Sarah jelas tidak menyangka, tapi dirinya malah tertawa geli.

    “Ya ampun Tejo, kamu bawa 2 wadah? Buat apa banyak-banyak Jo, 1 aja cukup…!” Ujarnya gemas.

    “Buat persediaan Tante…” Jawab Tejo meringis. Tapi dirinya ragu juga untuk meneruskan karna tampaknya Sarah keberatan. “Itu kan sudah bisa buat 2 kali Jo… Lagian nanti kalo habis kan bisa diperah lagi…” Ucap Sarah lembut.

    Tejo terdiam. Jelas sekali dia menahan sesuatu yang hendak disampaikannya. Mungkin karena takut. Sarah yang mengamati raut muka Tejo pun memahami.

    “Kamu mau perah buat kamu sendiri ya? Hayo…?” Terkanya.

    Muka Tejo memerah. Sebenarnya dia hanya ingin lebih lama lagi menikmati menjamah payudara Tantenya itu. Tapi dirinya pun mengangguk mengiyakan.

    “He eh Tante…. Bo.. leh kan Tante?” Tanyanya ragu.

    Lagi-lagi Sarah tertawa geli. “Kamu ini ada-ada aja Jo… Tante beliin kamu susu sapi, jarang sekali kamu minum. Eh, sekarang kamu malah ketagihan susu Tante…” Ucapnya sambil mengacak-acak rambut Tejo karena gemas.

    Tejo hanya meringis saja. Dirinya masih belum berani bicara.

    “Ya udah deh Tante kasih…” Akhirnya Sarah memutuskan. “Tapi, secukupnya saja ya…?” Kerlingnya.

    Tejo pun sumringah, “Baik Tante…” Sahutnya cepat.

    Sarah tersenyum geli. Tubuhnya pun bersandar lagi mempersilahkan Tejo melanjutkan. Tejo tidak buang waktu. Disingkapnya piyama Sarah yang menutupi payudaranya yang 1 lagi. Sarah langsung memprotesnya,

    “Nah lo, kok dibuka lagi Jo…? Nakal banget sih kamu…” Ujarnya pura-pura mengomel.

    “Ka… Katanya boleh 1 lagi Tante…?” Jawab Tejo ngeles. “Kan biar imbang Tante, kalo ga pindah susu nanti yang 1 kosong, yang 1 penuh kan jadi berat sebelah…” Lanjutnya.

    Sarah langsung tertawa geli mendengar logika Tejo yang lugu itu. “Huuu…! Sok tahu kamu Jo…!” Dicubitnya pipi Tejo dengan gemas. “Ya udah deh terserah kamu… Dasar genit!” Lanjutnya. Bagaimanapun juga pada akhirnya Sarah membiarkan saja apa mau Tejo.

    Tidak heran memang kalau Tejo terobsesi menelanjangi seluruh dada Tantenya itu. Payudara tentu jauh lebih indah bila tampil sepasang ketimbang hanya sebelah. Tejo hanya mesam-mesem saja melihat tingkah Tantenya yang sok jual mahal itu. Dia pun mulai nekat. Sebelum mulai memeras, dia menyingkap lagi bagian atas piyama Sarah yang masih menutupi bahunya. Dengan 1 gerakan, bahu Sarah pun terbuka lagi. Sarah langsung bergidik merasakan angin AC yang kembali menerpa tubuhnya.

    “Iiih Tejo…!” Protesnya.

    “Biar leluasa Tante…” Tejo berdalih.

    “Dingiin Joo…” Keluh Sarah.

    “AC-nya dikecilin aja Tante…” Usul Tejo.

    Tanpa minta persetujuan Sarah dia sendiri langsung meraih remote AC dan menekan tombol untuk menaikkan suhu. Sarah terdiam menyaksikan ulah keponakannya yang mulai nakal itu. Piyamanya yang masih terbuka separuh dan menggantung di lengannya pun ia lolosi hingga terlepas sepenuhnya. Kemudian piyama itu dilemparkannya ke wajah Tejo dengan gemas.

    “Niih… Puaas…? Puaaass…?” Serunya menirukan Tukul Arwana.

    Tejo jelas terkesiap melihat Tantenya yang kini bertelanjang dada. Dia tak berani menjawab, hanya menelan ludah berkali-kali.

    “Gila… Betapa mulus dan betapa sempurnanya…” Puja Tejo dalam hatinya.

    Ingin sekali dijelajahi dan dielusnya seluruh tubuh Tantenya itu. Darah Sarah juga makin berdesir kencang di dalam dadanya. Dia sendiri tak menyangka akan berbuat sejauh itu. Tapi ada semacam perasaan lega dan puas sekali dalam dirinya saat itu. Terjadi keheningan sesaat yang membuat mereka berdua merasa canggung satu sama lain. Akhirnya karena tidak tahan Sarah pun angkat bicara.

    “Hayo dimulai lagi… Kok malah bengong? Kalo kamu cuma mau melototi tubuh Tante, tak usah yaa…! Tante pakai lagi lho piyamanya!” Ujarnya.

    Tejo tersentak. “I… Iya Tante!” Jawabnya.

    Dengan sigap Tejo mulai memerah payudara Sarah yang satunya. ASI murni nan jernih pun mulai mengucur deras dari puting susu Sarah yang bersandar terdiam. Dirasakannya Tejo masih saja kerap meremas payudaranya dengan kasar. Tapi dia enggan memprotesnya lagi. Lagipula dirinya juga mulai merasakan keenakan dari sensasi itu.

    “Aaahh…” Desahnya lirih.

    Mendengar itu Tejo spontan memperlunak remasannya. “Sakit Tante? Tejo terlalu kencang ya…?” Tanyanya prihatin.

    “Eh ng… Nggak Jo, terusin aja…” Jawab Sarah dengan muka memerah. Ada perasaan malu menyelinap. Desahan tadi keluar spontan saja, tak diduganya Tejo ternyata memperhatikan.

    Adegan pemerahan susu itu pun berlanjut. Suasana kamar menjadi hening karena tak satupun di antara mereka yang bersuara. Yang ada hanya suara derasnya kucuran air susu Sarah yang tertampung dalam wadah. Baik Sarah maupun Tejo, sama-sama saling meresapi fantasi dan kenikmatannya masing-masing. Lama kelamaan Tejo pun makin tidak konsentrasi dengan pekerjaan memerahnya. Perahan pada payudara Sarah untuk mengeluarkan ASInya membutuhkan gerakan mengurut yang konsisten. Sementara gerakan tangan Tejo sendiri makin bervariasi, dari meremas, mengelus, bahkan memelintir-melintir puting susu Sarah dengan gemas. Jelas air susu Sarah tidak keluar lagi. Tejo bukannya tidak menyadari hal itu, namun dia tidak peduli. Padahal wadah yang dibawanya baru terisi separuh. Sarah sebenarnya juga merasakan bahwa gerakan tangan Tejo mulai ‘ngaco’. Tapi dia sendiri malah mendiamkannya. Ada kepuasan tersendiri dari membiarkan jiwa remaja Tejo melampiaskan rasa gemas dan penasaran pada payudaranya. Dia sendiri juga sedang melampiaskan kecenderungan ekshibisionisnya, dan kejadian hari ini sungguh memuaskan dirinya. Perasaan itu terus bergejolak, terus memuncak dan makin memuncak, makin memuncak, hingga akhirnya… “Aaahhh… hhh…” Tubuh Sarah menggelinjang hebat. Dirinya mengalami orgasme hanya dengan rangsangan di buah dadanya. Cairan cintanya memancar dengan deras di dalam rahimnya hingga membanjirinya.

    Tejo tersentak. Remasannya spontan terhenti. Disaksikannya tubuh Tantenya yang melemas seakan seluruh tulang dalam tubuhnya dilolosi satu persatu. Tejo tidak menyadari bahwa Tantenya itu sedang mengalami orgasme. Dirinya pun khawatir, wajahnya memucat merasa telah melakukan kesalahan.

    “T… Tante gapapa? Tante capek ya? Maafin Tejo Tante…” Ucapnya gugup.

    “Nggak Jo, Tante gapapa kok…” Jawab Sarah sambil tersenyum.

    Wajahnya terlihat sendu. Matanya yang sayu menatap Tejo. Dielusnya lembut tangan Tejo yang barusan memeras payudaranya. Tejo terkesima memandang wajah Sarah yang sayu namun memancarkan ‘kharisma’ keayuan tersendiri. Dirinya pun tak sanggup berkata.

    “Jo…” Gumam Sarah lirih.

    “Iya Tante?” Jawab Tejo.

    “Kalo udah, udah ya…” Ucap Sarah tersenyum. Dielusnya pipi tejo dengan perasaan sayang. Tejo pun tersipu.

    “Jangan keterusan Jo, ga bakal ada habisnya kamu mainin buah dada Tante. Kamu menyiksa diri sendiri kan dengan begitu…? Udah sana buruan dibuang, biar plong…” Lanjut Sarah bijaksana.

    Muka Tejo makin memerah mendengarnya. Tantenya ternyata mengerti betul apa yang dirasakannya. Gejolak dalam dadanya. Dia pun perlahan bangkit.

    “Iya Tante…” Jawabnya lirih.

    “Sana di kamar mandi Tante aja… Tapi disiram ya?” Ucap Sarah.

    Tejo menurut. Ditaruhnya kedua wadah yang berisi air susu Sarah di atas meja dan dirinya segera ngeloyor ke kamar mandi. Sarah melihat ke 2 wadah itu. Satunya penuh dan satunya hanya terisi separuh. Dia pun hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Puas sekali dirinya sudah menyuguhkan dirinya pada keponakannya sendiri yang baru berumur belasan itu. Dia terdiam sejenak, namun kemudian pikirannya mulai membayangkan Tejo yang sedang coli di kamar mandinya. Darahnya pun berdesir kembali. Tanpa mengenakan piyamanya lagi ia pun bangkit menuju kamar mandi. Penasaran dia ingin menonton pertunjukan Tejo yang sedang menguras amunisinya di situ.

    Tejo yang sedang berkonsentrasi mengocok batangnya sama sekali tidak menyangka Sarah muncul dengan bertelanjang dada. Tantenya itu hanya berdiri di pintu kamar mandi, menatapnya sambil tersenyum manis. Namun karena mungkin setan sudah menguasai kepalanya, hal itu sama sekali tidak mengusik Tejo. Justru pemandangan Tantenya yang telanjang dada itu makin memicu kocokannya.

    “Aahh… Tanteee…” Desahnya sambil menatap tubuh telanjang Sarah.

    Perasaan Sarah bergolak lagi melihat bagaimana Tejo onani sambil melihat tubuh telanjangnya. Dirinya merasa seksi sekali dengan begitu. Terlebih lagi dia benar-benar takjub melihat ukuran penis Tejo. Sungguh tidak disangka penis keponakannya itu berukuran super. Tangan Tejo sendiri bahkan terlihat tidak cukup untuk menggenggamnya. Panjangnya mungkin 2 kali genggaman tangan Tejo. Mata sarah berbinar memandang batang berurat itu diurut maju mundur dengan tangan kecil Tejo. Kepalanya jamurnya yang mengkilat terlihat merah padam seakan semua darah di tubuh Tejo berkumpul di situ. Timbul kerinduan luar biasa dalam dirinya pada ‘batang ajaib’ milik laki-laki itu. Bayangan penis-penis semua pria yang pernah menidurinya pun berseliweran dalam benaknya. Wajah Sarah memerah menyadari Tejo yang sedang memandanginya. Keponakannya itu tentu menyadari matanya tadi terpaku pada penis miliknya. Senyum manisnya pun mengembang dan dihadiahkan pada Tejo seakan mengatakan,

    “Kereen Jo… Kamu punya barang bagus!” Dihadiahi senyuman maut itu Tejo pun tak kuasa menahan laharnya yang sudah di ujung. Kocokannya dipercepat, dan… “Crraaattzz…!” Sperma Tejo muncrat berkali-kali membasahi dinding kamar mandi Sarah. Lagi-lagi Sarah dibuat takjub melihat kekuatan orgasme Tejo. Padahal antara Tejo berdiri dan dinding kamar mandinya berjarak lebih dari 1 meter. Namun sperma Tejo mampu muncrat begitu jauh hingga mencapai dinding itu. Tak setetes pun yang jatuh mendarat di lantai kecuali yang sisa-sisa akhir saja. Dihitungnya ada 5 kali semburan yang bertubi-tubi pada dinding kamar mandinya. Semuanya berwarna putih dan kental. Benar-benar orgasme yang luar biasa. Sarah sampai ikut berdebar melihatnya. Dia pun menyadari bahwa hari ini dirinya telah menghadiahi Tejo dengan sesuatu yang sangat luar biasa istimewa. Bangga sekali dirinya memikirkan hal itu.

    “Tejoo… Tejoo… Cepet cari pacar gih…!” Candanya.

    Tejo hanya tersipu tanpa menjawab. Dia sibuk menyiram spermanya hingga bersih. Sarah pun beranjak meninggalkannya. Dirasakannya tubuhnya mulai panas dingin lagi, mungkin gara-gara nafsunya yang bergejolak. Piyamanya dikenakan lagi sebelum dia kemudian beringsut kembali di balik selimutnya.

    ***

    Setelah itu Sarah masih memuaskan diri bermalas-malasan sepanjang hari, sementara Tejo sendiri makin bersemangat mengerjakan tugas-tugas rumah tangga menggantikannya. Hingga hari berakhir, tak ada lagi obrolan atau peristiwa yang ‘menjurus’ di antara keduanya. Baik Sarah maupun Tejo pun saling bersikap wajar seolah pagi tadi tak terjadi apa-apa. Saat Doni bangun, ASI yang cukup untuk diminum seharian pun telah siap. Selain itu Tejo juga yang memandikannya, mengajaknya bermain, menyiapkan makan dan menyuapinya.

    ########################

    Hari Kedua

    Keesokan harinya. Sarah masih meminta Tejo untuk tak masuk sekolah dulu. Meskipun urusan Doni sudah bisa ditanganinya sendiri, dia belum mau ditinggal sendirian di rumah. Tejo masih sering dimintai tolong mengambilkan ini-itu saat Sarah mengurusi Doni. Dari menyiapkan air hangat, handuk, popok, bedak, dan lain-lain. Sarah masih mudah kecapekan kalau semua itu harus ditanganinya sendiri. Di samping itu, urusan kebersihan rumah juga masih dibebankan kepada Tejo. Menjelang siang saat semua sudah beres, Sarah bersantai-santai menemani Doni bermain-main di ruang tengah. Tejo yang baru selesai mandi ikut duduk di situ namun tidak berkata apa-apa. Dirinya seperti menunggu-nunggu kejutan apa lagi yang akan dia dapatkan dari Tantenya yang seksi itu. Wajah Sarah tampak cerah dan segar. Agaknya kondisinya benar-benar sudah pulih seperti sedia kala. Tak bosan-bosannya Tejo memandangi dan mengaguminya.

    “Sarapan gih Jo…!” Karena merasa diamati oleh Tejo, Sarah pun angkat bicara.

    “Iya Tante…” Tejo mengiyakan tapi enggan beranjak.

    “Habis sarapan kamu belajar ya Jo? Yah baca-baca dikit lah… Kamu kan udah 3 hari ini bolos sekolah. Tante gak mau kamu ketinggalan pelajaran loh Jo…” Ucap Sarah lagi.

    Tejo manggut-manggut saja. Meski dia cukup bagus dalam pelajaran ada kalanya juga dia malas belajar. Dan saat-saat sekarang ini justru sedang malas-malasnya dia membuka buku pelajaran. Terlebih, berduaan dengan Tantenya yang membuat pikirannya sering melayang dan susah konsentrasi. Walau bagaimanapun, Tejo tetap tak berani membantah Sarah. Dia pun beranjak. Saat sarapan Tejo tak banyak makan. Dirinya seperti tak bernafsu. Atau lebih tepatnya, ‘nafsu’ lainnya lebih berbicara ketimbang nafsu makan. Apalagi saat dia harus diam di kamar membaca buku. Tak satupun bab pelajaran yang masuk ke dalam otaknya. Dia pun lebih banyak tiduran dan melamun, namun tak keluar kamar. Paling tidak Tantenya mengira dia sedang belajar di dalam kamar. Beberapa saat kemudian, merasa sudah lama di dalam kamar Tejo pun tidak betah lagi.

    Dilihatnya jam dinding,

    “Buseet, ternyata waktu baru berlalu sejam…” Keluhnya dalam hati. Padahal dirinya merasa seakan sudah berjam-jam dia di dalam kamar.

    Tapi persetan, gumamnya. Dia pun melangkah keluar kamar. Kalau Tantenya menanyakan, dia akan menjawab bahwa dia sudah belajar. Betapa girangnya Tejo, di luar kamar dia menjumpai Sarah sedang menyusui Doni. Sekali lagi dia mendapat pemandangan mulusnya kulit buah dada Tantenya itu. Agaknya dari ke hari pujaan dirinya terhadap Tantenya itu bukannya surut, tapi malah makin menjadi.

    “Cepet amat belajarnya Jo?” Sarah langsung bertanya begitu melihat Tejo.

    Sama sekali bukan pertanyaan menghardik. Malahan seperti biasa Sarah melemparkan senyuman manisnya, seperti hendak mengatakan,

    “Ya sudah kalo sedang tidak ingin belajar ya tak apa.” Itulah sebabnya Tejo tak jadi berbohong menjawab pertanyaan Sarah itu. Dengan polos dia menjawab,

    “Susah konsentrasi Tante…” Dan jawaban itu ternyata memancing tawa Sarah.

    “Ya ampun Jo, awas loh nilai kamu turun…” Ucapnya. “Itulah sebabnya kemarin Tante ragu ngasih kamu buah dada Tante…!” Lanjut Sarah. “Yang kayak begitu memang sebenarnya ga baik buat kamu yang masih remaja. Kalo bayangan-bayangan porno sudah masuk ke otak, susah banget ngilanginnya, akibatnya ya itu kamu jadi susah konsentrasi… Pikiran-pikiran kamu yang harusnya dicurahkan ke pelajaran malah teralih ke hal-hal yang mesum… Kalo saja kemarin bukan karna demi Doni, Tante pasti tegas sama kamu.”

    Sarah terus menyerocos panjang lebar. Tejo tersipu mendengarnya, walaupun sudah tidak surprise lagi dengan kalimat Tantenya itu.

    “He he iya Tante… Nah itu sekarang sudah bisa nyusuin Doni, berarti ga ada acara memerah susu lagi dong Tante…?” Ucap Tejo nakal.

    “Idiih kamu ini baru dibilangin malah udah genit…!” Sahut Sarah seraya mencubit lengan Tejo. Tejo menghindar sambil meringis.

    “Trus yang kemarin masih sisa loh Tante…” Ucapnya.

    “Kamu minum aja… Katanya doyan?” Jawab Sarah sekenanya.

    “Ya udah Tejo minum ya…” Tejo beranjak ke ruang makan mengambil air susu Sarah yang tersisa di dalam lemari es.

    Setelah menuangkannya dalam gelas, dia pun balik lagi duduk menemani Sarah yang masih menyusui Doni di ruang tengah. Tejo meringis mesum padanya, tapi Sarah berlagak tak memperhatikannya. Untuk sesaat keduanya duduk tanpa memulai obrolan. Pikiran Tejo juga sudah sibuk berfantasi. Cerita Maya

    “Wah ini peristiwa unik,” pikirnya. Dia, Sarah dan Doni duduk berkumpul.

    Baik Tejo maupun Doni sama-sama minum ASI dari Sarah, bedanya Doni minum langsung dari sumbernya, sedangkan Tejo minum dari gelas. Sarah juga tampak canggung dengan keadaan itu. Diliriknya Tejo yang sedang minum. Ternyata Tejo juga sedang memandangi wajahnya, hingga kedua mata mereka pun bertemu.

    “Enak Jo?” Tanya Sarah spontan. Tejo yang ditanya malah cengengesan.

    “Yang penting bukan rasanya Tante…” Jawabnya nakal.

    Sarah merengut mendengarnya. “Dasar kamu…” Diambilnya bantal kursi dan dilemparkan pada Tejo gemas.

    Tiba-tiba mereka dikejutkan suara bel. Sesaat keduanya terdiam bertanya-tanya. “Kalo Heru mestinya baru balik 4 hari lagi…” Gumam Sarah dalam hati.

    “Jo, bukain pintu sana…!” Perintahnya kesal karena Tejo tak juga beranjak.

    Sambil senyam-senyum dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal Tejo bangkit menuju pintu depan. Tak disangka ternyata teman-temannyalah yang datang. Luki cs berlima seperti biasa. Melihat Tejo sendiri yang membukakan pintu, mereka langsung menyeru nyaris bersamaan dengan suara cempreng,

    “Oi Jo ngapain aja kamu bolos 3 hari??!”

    Bukannya menjawab Tejo malah menghardik, “Apa-apaan sih langsung teriak aja, anak Tante lagi mau tidur tuh! Lagian kok jam segini udah pada pulang sekolah? Bolos juga ya kalian?” Selidiknya.

    “Guru-guru pada rapat Jo…” Jawab Luki cs cengengesan.

    “Ooh Luki dan geng… Ayo masuk masuk…!” Seru Sarah dari dalam.

    Kebetulan Doni baru saja selesai menyusu dan kini sedang terkantuk-kantuk dalam gendongan Sarah. Kelima remaja tanggung sahabat Tejo itu nyengir kuda lebar saat bertemu Sarah. Ya, sama seperti Tejo mereka juga sangat memuja-muja kecantikan Sarah. Sarah juga balas menghadiahi mereka dengan senyum manis.

    To be continued….

    By: Enamsembilan

  • Bad Cop, Naughty Wife

    Bad Cop, Naughty Wife


    148 views
    SD a.k.a. Bang Sus

    Cerita Maya | Sebelumnya aku akan memperkenalkan diriku dulu, namaku sebut saja SD, ga usah sebutin lengkapnya, malu ah lagi ada skandal soalnya. Banyak orang mengatakan wajahku menyiratkan kelicikan, mataku sipit walau aku bukan Chinese, sipit yang kata ahli melihat wajah adalah guratan mata yang mengerikan karena mengandung aura jahat. Masa sih? Padahal aku gak seburuk itu kok, aku ini seorang polisi, gak korup kok, cuma nilep-nilep dikit lah, masa ga boleh sih, kan lumrah lah di negeri ini. Ya seiring naiknya jabatanku nilepnya juga tambah banyak lah, terima hadiah juga tambah banyak lah, kenapa? wajar kan? Ibaratnya orang semakin gede ya makannya juga semakin banyak kan? Dalam kesempatan ini aku akan menceritakan pengalaman seksku dengan seorang wanita, aku juga punya pengalaman seks dengan pria tapi gak akan kuceritakan disini, soalnya bukan tempatnya, nanti sama yang punya situs ga dimuat, nanti aja saya ceritakan di tempat lain di situs-situs gay, saya langganan kok di sana ok. Aku sendiri berkenalan dengan seks pada waktu usiaku 14 tahun di kampungku. Hmmm…sebenarnya agak malu juga menceritakan peristiwa ‘tragis’ yang merenggut keperjakaanku itu, tapi ya sudahlah terus terang saja. Aku kehilangan keperjakaan karena diperkosa…ya…diperkosa bukan memperkosa. Pelakunya adalah janda genit tetanggaku sendiri setelah mencekokiku dengan juice yang telah sengaja diberi obat tidur waktu aku silaturahmi lebaran ke rumahnya. Lalu kenapa kukatakan tragedi? Ya iyalah…kalau jandanya secantik Desy Ratnasari, Rachel Maryam, atau Olla Ramlan sih ya namanya berkah, tapi ini jandanya gendut kaya Pretty Asmara gimana gak tragedi coba? Sejak menjadi budak seks si tante gendut tetanggaku, aku jadi pemurung dan paranoid, orang tuaku mencoba mencari tahu penyebabnya tapi aku menyembunyikan dalam-dalam perasaan trauma itu hingga dewasa. Akhirnya aku lulus akademi kepolisian dan menjadi polisi, karirku cukup mulus, karena traumaku aku menjadi sangat berhati-hati dan pintar menyembunyikan sifat asliku. Waktu aku menjabat kapolda di suatu daerah aku dengan lantang mengatakan “jangan setori saya!”. Ya benar semua itu terlaksana, tidak ada yang nyetor padaku, tapi mereka memberikannya lewat istri saya, saudara saya, dll. Loh boleh dong, aku kan gak melanggar kata-kata saya, kan yang disetori bukan saya. Halal kan saya terima? Jangan sirik gitu ah! Aku juga suka seringkali mengajak berhubungan seks sesama jenis para polisi muda yang baru lulus dengan janji karirnya akan kunaikkan, itu memang kesenanganku, nikmat banget main dengan cowok-cowok muda berseragam itu, duh jadi horny bayanginnya aja. Dan selain itu aku juga seringkali menggoda istri-istri mereka yang cantik untuk juga kuajak main. Nah ini lah yang akan kuceritakan di sini. Cerita Maya

    Saat itu aku masih berumur pertengahan 30an dan masih perwira menengah. Sedangkan wanita itu namanya Veny, orangnya cantik sekali, kulitnya putih mulus, tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi serasi, buah dadanya agak besar montok pantatnya besar. Saat itu umurnya kurang lebih 28 tahun, dia sudah bersuami dan beranak 1 umur 5 tahun. Sejak dia gadis aku sudah kenal dia karena dia tetanggaku. Aku sering main ke rumahnya karena kebetulan Joni, suaminya, adalah rekanku sesama polisi. Rupanya dia tidak harmonis dengan suaminya karena si Joni memang agak egois orangnya. Veny kalau di rumah sering pakai celana pendek longgar sehingga pahanya yang putih mulus tampak menggairahkan sekali. Setiap kali melihatnya aku nafsuku sering naik dan sesekali ingin meremasnya, merabanya, serta menciumnya. Pokoknya aku kepingin merasakan kehangatan tubuhnya, aroma vaginanya juga pasti wangi. Kadang kalau aku lirik dia, ia balas tersenyum padaku. Aku pun makin sering main ke rumahnya ngobrol dengan Joni sambil menikmati kecantikan istrinya.

    “Aah kapan ya aku bisa menikmatinya?? Kebelet aku mau merasakan tubuh indahnya itu apalagi kalau pas dia duduk cdnya kelihatan sedikit yang membuatku makin terangsang. Kadang aku bertanya-tanya, apa dia sengaja begitu untuk menggodaku? aku pun tidak tahu, kadang dia melihat tonjolan di celanaku lalu tersenyum. Apa hubungan dengan suaminya sudah separah itu? Suatu sore aku main ke rumahnya, biasa ngobrol dengan si Joni sambil liat-liat barang bagus hehehe. Saat itu dia baru selesai mandi dan dengan berbalut handuk saja dia keluar dari kamar mandi.

    “Eh…Bang Sus (demikian orang biasa memanggilku), maaf ya!” katanya begitu melewat di ruang tamu melihatku ada di sana, nampaknya ia tidak tahu ada tamu, tapi kelihatannya juga ia sengaja menggodaku dengan penampilannya seperti itu.

    Aku terpana melihat kemolekan tubuhnya yang putih mulus itu, sambil buru-buru berlalu dia masih sempat melirik nakal padaku sambil tersenyum. Kubalas senyumannya dengan penuh arti. Aku pamit sebentar sama si Joni untuk ke kamar mandi mau pipis. Hhhmmm…aroma tubuhnya yang harum masih terasa di kamar mandi yang masih hangat itu. Aku membuka resletingku dan mengeluarkan penisku, bukannya pipis aku malah mengocok penisku sambil membayangkan tubuh telanjang Veny. Terus kukocok sambil membayangkan bersetubuh dengannya hingga tak tahan lagi, aku pun akhirnya orgasme. Oohh…enak cret spermaku keluar membasahi tanganku. Puas aku rasanya. Cklik…cklik…tiba-tiba gagang putar kamar mandi berputar dan pintu terbuka. Aku terkejut dan buru-buru kutarik resleting celana dan kuperbaiki sabukku lalu berbalik badan. Di ambang pintu kudapati Nia, putri mereka, berdiri di situ dan bengong menatapku.

    “Om Sus?” sapanya, “lagi apa? Itu di tangan apa? Yang putih-putih!?” tanyanya polos.

    “Wadoh…ngahak!” makiku dalam hati, “ini kan air maniku, belum sempat kubersihkan gara-gara tuyul kecil ini nyelenong masuk gitu aja”

    “Ooooh…ini minyak rambut, om pinjem punya papa hehehe!” jawabku berbohong.

    “Loh…Nia, ngapain masuk sini, kan Om Sus lagi di dalem?” Veny yang sudah berpakaian menghampiri anaknya membuatku tambah tegang saja.

    Veny

    “Hahaha…ga apa-apa saya tadi lupa kunci pintu, jadi Nia kira gak ada orang!” aku tertawa berusaha menutupi kegugupan.

    “Ooo ini Ven, bagi minyak rambutnya dikit ya, abis ini mau ke kantor lagi, supaya rapi gitu loh” kataku berusaha tetap tenang begitu menyadari Veny melihat tanganku yang masih berlumuran sperma.

    Aku jadi serba salah ketakutan dan malu kalau dia tahu aku baru saja onani membayangkan dirinya, wah kalau dia sampai lapor sama suaminya mau ditaruh di mana ini muka. Agar ia percaya aku pun berbalik badan dan menghadap cermin, sambil menahan nafas, kuangkat tanganku yang berlumuran mani itu ke atas kepalaku dan mulai kugosok rata. Duuuhh…dengan menahan jijik aku terpaksa melakukannya di depan ibu dan anak itu.

    “Sial…bah…sial!” omelku dalam hati meratapi nasibku yang harus memakai gel dari cairan produksi sendiri.

    Setelahnya aku mengambil sisir dari saku celana dan menyisir rambutku yang menjadi agak lengket dan rambutku menjadi klimis seperti vampir, ini lah yang menjadi model rambut trade markku hingga kini untuk mengingatkan diriku pada insiden memalukan ini.

    “Nah udah rapi, beres!” sahutku dengan senyum dipaksakan.

    Lalu aku pun kembali ke ruang tengah ngobrol dengan Joni, Veny sekarang ikut duduk di depanku sambil melirik padaku dan tersenyum, aku serba salah malu menatapnya. Apakah dia tahu apa yang kulakukan tadi? Aku terus bertanya-tanya dalam hati

    ”Sus diminum kopinya!” kata Joni.

    ”Bang Sus sudah dak haus pa,tadi sudah minum di belakang!“ kata Veny menggodaku.

    Makin malu aku dia menyindirku lalu si Joni pamit mau mandi. Inilah kesempatan aku bicara dengan Veny, tapi aku sulit untuk mulai bicara. Lalu dia duduk mendekatiku, aroma tubuhnya yang baru mandi terasa wangi sekali

    “Abang jorok ih masa peju digosokin ke rambut?” bisiknya dengan senyum nakal

    Jreenngg….mukaku langsung memerah malu, jadi dia tahu…pantes dari tadi senyum-senyum saja ”abang ngocok di kamar mandi bayangin aku kan?” lanjutnya sambil tangannya meraba tonjolan celanaku

    Betapa terkesiap aku karena dia begitu berani meremas remas selangkanganku. Rupanya dia senang memangnya binal sehingga aku makin dapat angin, walau kesal juga harus memakai gel ‘sperma’ pada rambut sendiri.

    ”Ven…apa maksud kamu?” tanyaku pura-pura.

    “Hihihi…abang belum mau ngaku juga nih? Kalau abang kepengen kenapa ga minta aja?” tawanya nakal sambil terus meremas selangkanganku sehingga penisku makin keras.

    “Minggu depan Bang Joni dinas ke luar kota” katanya pelan

    Aku tahu kata-kata itu merupakan isyarat sehingga ku pun tidak malu-malu lagi mulai mengelus paha mulusnya.

    “Ssttt…nanti aja ya Bang, Bang Joni udah mau selesai kayanya” katanya tersipu sipu sambil duduk menjauh dariku takut ketahuan sama suaminya.

    ”Ven kamu kalau maen sama Joni kenapa? dia ga bisa puasin kamu?” tamyaku makin berani saja.

    ”Ndak pernah Bang, dia kalo maen langsung tancep aja” katanya mulai berani terus terang dengan suara pelan.

    Dia pun mulai bercerita tentang kehidupan seksnya yang hambar dengan Joni, aku ngangguk-ngangguk mengerti, pantas ia begitu gatel dan binal. Tak lama, Joni pun keluar dari kamar mandi dan aku pamitan dengan alasan mau ke kantor. Sampai di rumah aku buru-buru turun dari mobilku ingin segera mandi membersihkan rambut ini dari cairanku sendiri.

    “Pa…papa pakai apa hari ini? Kok baunya aneh?” tanya anakku

    “Diem kamu!” jawabku kesal sambil buru-buru masuk ke kamar mandi.

    Aku langsung membilas rambutku bersih-bersih di dalam sana. Doh…benar-benar sial dan memalukan sekali hari ini. Tapi rasanya semua itu terbayar sebentar lagi karena Veny sudah menunjukkan sinyal positif. Aku sudah membayangkan bercinta dengan istri temanku yang bahenol itu, tidak sabar aku menanti hari itu.

    ##############################

    Seminggu kemudian

    Joni akhirnya dikirim tugas ke luar kota, pada malam harinya jam tujuh kucoba menelepon Veny.

    ”Ven, Joni udah keluar kota kan, bisa Abang ke sana sekarang?”tanyaku.

    ”Ada apa emangnya Bang?” jawabnya pura-pura tidak mengerti.

    ”Ah ndak cuma mau ke sana aja, aku baru selesai patroli nih, sekalian jenguk istri teman”

    “Hehehe…Abang pasti ada maunya ya? Tapi ya oke, Abang ke sini aja, temenin saya” jawabnya dengan suara dibuat mendesah sengaja menggodaku

    Wah rupanya dia mengerti maksudku. Dengan girang aku menuju ke rumahnya. Senang sekali hari ini, sebelumnya aku baru saja dapet setoran dari pemilik night club sekarang bakal dapet cewek cantik pula. Sesampainya di sana kulihat Nia, anaknya, lagi main PS, Veny menyambutku dengan tersenyum. Saat itu ia pakai kaos gombrong dan celana pendek longgar yang biasa dipakai untuk tidur, ia terlihat makin cantik dan menggairahkan saja.

    ”Main game apa Nia? wah seru ya?” aku basa basi sama anaknya,

    ”ya om ini aku main game baru, sulit om aku diajarin ya” lalu aku coba ajari dia main game,

    ”wah om bisa ya,aku diajarin ya.”

    Aku duduk di sampingnya, Veny mendekatiku berdiri di samping belakangku. Aku makin senang, wangi tubuhnya tercium sekali. Tangannya ditaruh di pundakku makin dirapatkanya, payudaranya sengaja ditekannya ke punggungku dan pahanya menyentuh sikutku. Kuelus pahanya dengan sikutku sampai naik ke atas dekat selangkangannya yang lembut dan hangat. Dia rupanya menikmati perlakuanku sehingga makin ditekannya wilayah selangkangannya ke sikutku. Wah makin berani aja perempuan ini, main ‘api’ di dekat anaknya sendiri.

    ”Abang nakal ih, jadi terangsang aku nih! Tanggung jawab loh!” bisiknya pelan di telingaku.

    Lalu kuraba dari belakang pantatnya terus ke pangkal pahanya. Kuelus elus selangkangannya, lembut dan hangat sekali kulitnya. Tanganku diarahkannya sama dia ke vaginanya. Celana dalamnya terasa basah, dia sudah terangsang berat rupanya.

    ”Liat kan Bang, udah basah gini” bisiknya keenakan.

    Saat itu Nia sudah asyik dengan gamenya, matanya tertuju ke TV dan tangannya asyik memencet-mencet joystick. Sehingga aku dapat lebih leluasa menyusupkan jariku masuk ke dalam cd Veny. Kuraba vaginanya yang berbulu lebat, aku sudah tidak sabar ingin menjilatnya sekarang juga, tapi masih ada anaknya. Nampak Veny berusaha keras agar tidak mendesah, vaginanya yang kukocok semakin berlendir hingga akhirnya ia menarik tanganku keluar dari celananya dan berkata mau ke kamar mandi mau dulu untuk pipis. Kucium jariku yang basah oleh cairan kewanitaannya lalu kuemut. Sambil menunggunya aku kembali ajarin Nia main game.

    Cukup lama juga Veny ke belakang, setelah Nia kembali asyik dengan gamenya, aku pun menyusul ke sana. Ternyata dia sedang di dapur membuat kopi. Aku mendekati Veny yang membelakangiku diam-diam dan langsung kupeluk dia kucium lehernya, dia tertawa geli dan meronta pelan, tubuhnya lembut dan wangi. Ia menengokkan wajahnya melumat bibirku. Akhirnya impianku selama ini menjadi kenyataan juga

    ”Bang ntar ah, nanti tumpah nih” katanya sambil meronta.

    Aku tidak menghiraukannya dan terus menggerayangi tubuhnya, mulutku juga terus menciumi leher jenjangnya itu.

    ”Ih abang napsu banget sih, Nia kan masih belum tidur” katanya tersipu sipu.

    “Hehehe…berarti kalau Nia udah tidur kamu mau dong Ven?” godaku yang dijawabnya dengan senyum nakal

    Lalu kami kembali ke depan, dia suruh anaknya untuk cepat tidur.

    ”Nia sana bobok gih, dah malem, besok sekolah!”

    ”Ntar ma lagi seru nih, belum tamat mainnya”

    Tak sabar Veny rupanya, kali ini dia bentak Nia.

    ”sudah cepet bobok besok lagi mainnya, om juga mau pulang!” katanya bohongi putrinya.

    ”ya bener, besok lagi om ajarin ya, om mau pulang sekarang”. kataku supaya dia cepat tidur

    Aku sudah tak sabar mau main sama mamanya. Lalu Nia pun beranjak tidur masuk kamarnya. Setelah yakin anak itu masuk ke kamarnya, kupeluk Veny dengab mesra di ruang depan, kucium bibirnya dengan bernafsu. Dibalasnya lumatanku dengan tidak kalah liar, lidah kami saling bergelut dan liur kami saling bertukar, enak rasanya nikmat sekali. Belum pernah aku rasakan cewek mulus seperti ini. Betul-betul nikmat. Kini kupangku dia dan kuciumi lehernya, belahan dadanya wangi sekali aroma tubuhnya. Kuangkat tangannya dan kucium ketiaknya, halus putih mulus hangat dan wangi. Tak puas-puasnya aku mencium wilaya itu sampai hidungku tenggelam di sana. Kuremas remas payudaranya setelah kaosnya kulepas. Payudaranya yang montok putih dengan putingnya yang merah muda sungguh indah rupanya. Kulumat gunung kembar itu sehingga ia menggelijang terangsang.

    ”Oooh enak Bang, geli, terus Bang cium ketiakku, cium tetekku, isep Bang!” erangnya keenakan.

    Makin nafsu saja aku melumat tubuhnya, kapan lagi dapat kesempatan ini. Kunikmati sepuas puasnya kehalusan tubuhnya tak perduli dia istri temanku. Sambil kurabai pahanya, pangkal pahanya yang halus dan hangat lalu selangkangannya kuelus-elus. Veny mendesah makin tak karuan, lalu kurebahkan dia sofa dan kucium pahanya yang putih mulus itu terus naik ke atas pangkal pahanya. Dibukanya kakinya lalu kucium selangkangannya, enak hangat dan lembut wangi, kuciumi wilayah kewanitaannya sepuasku lalu kucium vaginanya yang sudah sangat basah,

    ”Uuuhhh….aaahhh….aaaahh” desahnya dengan tubuh menggelinjang.

    ”enak Ven?”

    “enak bang, cepet dijilat nonokku bang, jilat sepuas kamu!”.

    Kukuakkan celananya yang longgar itu hingga kelihatan vaginanya yang putih mulus. Rambutnya sedikit, bibirnya tipis merekah merah indah sekali. Belum pernah aku lihat vagina begini mulusnya lalu kucium cium aromanya yang wangi. Kumasukkan hidungku ke belahan vaginanya, sungguh nikmat aromanya. Kumasukkan lidahku sampai ke dalam lalu kumainkan menjilati bagian dalam.

    “ooh ennaaak enak trus jilat isep, terussss ooh aku mau pipis rasanya mau keluar bang!”

    Cairan vaginanya memancar deras. Aku tidak meyia-nyiakan kesempatan ini, kunikmati air vaginanya yang gurih itu, puas aku.

    ”Bang, aku belum pernah nonokku dijilati gini sama dia lo, baru kali ini abang yang gituin nonokku. enak lo aku bisa keluar, lega rasanya” rayunya.

    Memang bodoh si Joni, vagina begini enak dia tak mau nikmati pikirku. Mau aku memiliki dia, kawini dia kalau belum punya istri supaya aku dapat menikmati vaginanya tiap hari. Oh Ven kamu memang cantik sekali, cemburu aku sama si Joni jadinya. Penisku makin tegang mau ngecret rasanya dikocok olehnya.

    ”Bang…itunya aku isep ya? aku pengin ngerasain itunya Abang”.katanya

    Lalu dia bangkit duduk di lantai dan dibukanya celanaku, cdku dipelorotnya, penisku sudah tegang sekali.

    ”Wah Bang gede lo ini, kepalanya kelihatan semua” katanya kagum melihat penisku yang sebenarnya hasil berobat ke Mak Erot, tadinya sih cuma segede spidol yang biasa dipakai anak-anak untuk menggambar. Mahal memang biaya untuk membesarkannya jadi seperti ini, tapi biar deh, toh duitnya juga kudapat dari setoran para pemilik tempat hiburan atau dari bagi hasil ‘prit goban’ dari para anak buahku hehehe…halal dong, kan bukan hasil ngerampok. Kata Veny punya si Joni lebih kecil dan kepalanya tertutup karena belum disunat. Sambil diremasnya dengan lembut, diusap usapnya ke pipinya dan ke lehernya, tanpa ragu-ragu dia mulai mencium nya.

    ”Hhhmm mantep, keras juga bang“ katanya terus menciumnya

    Untung aku tadi sudah mencucinya sehingga baunya wangi, kalau tidak dia bisa trauma dan kehilangan mood bercinta karena dia belum pernah begini sama si Joni. Kini mulai dijilatnya kepalanya, lobang kencingku juga dijilatnya, geli nikmat rasanya aku digitukan,

    ”enak juga ya Bang, asin rasanya aku baru kali ini jilati kontol.”

    “oh enak jilat terus Ven ,dikulum diisep Ven “kataku keenakan lalu tanpa ragu kepala penisku mulai dimasukkan ke mulutnya dan dikulumnya serta digigitnya dengan bibirnya, dikenyotnya sambil dimasukkan separuh ditariknya naik turun sambil lidahnya menjilati kepalanya.

    Wah enak sekali senang juga penisku dimanjakan seperti ini, mau nanti aku keluar di dalam mulutnya supaya tertelan spermaku dan makin senang dia padaku. Separuh penisku telah masuk ke mulutnya. Ia begitu bergairah, tak puas-puasnya dia melumatnya. Lama sekali dia memainkan penisku sampai aku merem melek dan mendesah-desah tak karuan dibuatnya

    Walau baru kali ini dia melakukan oral seks, tak ada rasa jijik sama sekali. Diurutnya penisku dengan bibirnya sambil diputar-putar, caranya makin pintar melumat penisku seperti di film-film porno,mungkin dia tiru dari situ. Aku menikmati sekali tak tahan aku ahirnya mau keluar.

    ”Ven abang maaauu keluar lo…di keluarin di mulut ya?” pintaku.

    ”he eh keluarin aja Bang, ndak apa-apa aku malah mau banget”.

    ooh ohh huu croot rasanya enak karena pas mau keluar dia menyedotnya dengan keras, terasa spermaku disedot habis keluar banyak sekali spermaku di mulutnya. Ditelannya spermaku yang bercipratan itu.

    ”Ven, ditelen ya spermaku?”.

    ”ya.tak telen semua enak lo rasanya sperma itu,aku baru ini ngerasain, ndak apa-apa kan?” katanya,

    ”ndak apa, itu buat obat awet muda kok, aku juga tadi telen air memekmu kok enak sekali hehhee”

    Puas rasanya penisku digitukan sama dia, makin senang aku padanya, pintar juga dia memuaskanku, kucium pipinya

    “Ven, aku puas sekali digitukan tadi, kamu senang juga memekmu aku jilat-jilat?” rayuku.

    ”ya Bang aku puas,enak sekali, kapan-kapan aku pengin ngentot ya?”.

    ”ya aku juga pengen maen, tapi sekarang ndak bisa, aku dah keluar, punyaku jadi lemes,” kataku padahal aku mau merasakan vaginanya.

    ”Ven maen jepit aja ya, supaya kontolku tegang lagi”, kusuruh dia berdiri kumasukkan kontolku di sela sela selangkangannya.

    Baca Juga Cerita Seks Balada Viana 3: Forbidden Love

    Dijepitnya sambil kugesek-gesek maju mundur, enak juga karena basah vaginanya jadi licin, dia juga keenakan sambil memelukku dan menjilat leherku. Penisku sudah terasa berdiri lagi kena jepitannya, kucoba masuk vaginanya tapi agak sulit hanya kepalanya yg masuk. Ahirnya aku tak tahan keluar sedikit, membasahi vaginanya. Sebetulnya aku mau keluar di dalam sana supaya spermaku tertanam di tubuhnya.

    ”ooh,enak, abang sudah keluar ya?” tanyanya.

    Puas aku tak terbayangkan aku akhirnya dapat menikmati tubuh istri temanku sendiri. Petualanan seks yang berbahaya seperti ini yang justru mengasyikkan. Veny memang beda dari PSK yang terjaring razia yang pernah kuajak main.

    ####################################

    Setelah kejadian itu, Veny makin binal saja sifatnya. Aku pun makin sering main ke rumahnya. Di depan si Joni sikapnya biasa-biasa saja padaku tapi dia curi-curi senyum nakal padaku. Aku masih ingin menikmati tubuhnya lagi, tapi belum ada kesempatan lagi. Sudah hampir 2 minggu si Joni tidak keluar kota, aku hanya dapat memuaskan nafsuku dengan istriku yang membosankan atau dengan bawahanku yang sesama jenis. Hingga akhirnya suatu sore Veny menelepon aku.

    ”Bang, main ke sini dong, aku lagi sendirian sekarang” katanya manja.

    “lo,si Joni kemana? Apa dia keluar kota?” tanyaku.

    ”Ndak, dia sama Nia lagi pergi ke mall mau beli cd game”.

    Wah ini kesempatan aku dapat main denganya lagi walau sebentar saja tak apa-apa karena aku sudah kepingin banget, rupanya dia juga kepingin. Aku langsung menuju ke rumahnya. Setiba di sana setelah menutup pintu langsung kupeluk dia, kucium pipinya, kulumat bibirnya. Dia balas memagutku dengan tak kalah liar

    ”Bang aku kangen lo, aku pengen maen lagi”.

    Lalu aku berlutut di depannya, kuciumi pahanya yang mulus dengan napsu. Kukuakkan celananya terus naik ke atas ke selangkangannya. Dia tak pakai cd, sudah siap rupanya. Kuciumi dan kugeseki hidungku di selangkangannya, lembut halus dan hangat wangi, nikmat sekali. Makin kunikmati cium selangkangannya, enak sekali terus mulai kucium vaginanya

    ”Bang enak…geli,see nikmmmat banget, jilat cepet aku ndak tahan om” erangnya.

    Kujilat vaginanya yang mulai basah, kulumat dengan bibirku dan kuhisapi lendirnya, kukulum kelentitnya dengan bibirku juga kukenyot dan kuhisapi sehingga makin menggelinjanglah tubuhnya yang sudah bugil di bawah

    ”aaaduuh enak Bang, itilnya diisep dong, terus isep itu, uuuhhh sedapppp“.

    Satu kakinya dinaikkan ke atas kursi sehingga makin leluasa aku menjilatnya, kujilat dari bawah ke atas. Kujilat juga bibir dalamnya hingga lidahku masuk ke dalam lubang kenikmatannya. Makin banyak lendirnya keluar, tak kusia-siakan semua itu, kusedot saja sebanyak-banyaknya lalu kulepaskan celananya yang masih menyangkut di pahanya. Kusuruh dia berbalik untuk kuciumi pantatnya yang putih mulus. Kujilat belahannya

    “Aaawww…geli ih Bang….aaahhh!” desahnya sambil bergidik kegeliaan pantatnya kujilati.

    Anusnya pun kujilat dan kulumat dengan bibirku, enak juga rasanya, halus lembut dan aromanya enak, pasti ia sangat telaten merawat daerah kewanitaannya seperti merawat tubuhnya

    “Bang…aku dak pernah, ituku dijilat, ndak jijik Bang?” katanya.

    Tanpa menjawab aku terus menikmati anusnya, kusapu dengan bibirku. Memang aku pun sebelumnya belum pernah jilatin anusnya cewek, tapi kalau anusnya laki-laki aku pernah melakukannya, bahkan banci juga aku pernah, banci yang terkena razia gitu loh. Aku mau jilatin karena anusnya dia bersih dan lembut. Wah aku membayangkan bagaimana kalau si Joni tahu anus istrinya kujilat jilat gini,apa dia ndak marah pikirku nakal, jangan-jangan dia mengeluarkan pistolnya dan langsung memberondongku dengan peluru. Aku selama beberapa saat memberi kepuasan padanya dengan menjilat anusnya yang mungkin bagi dia suatu kenangan yang tak terlupakan.

    ”Bang, enak banget, Abang nakal banget ya, sampe mau jilati anusku”.

    ”Hehehe….ya Ven abis enak sih” rayuku sambil memencet putingnya.

    “Bang sekarang entotin aku ya, pengen nih udah gatel”.

    Aku melepas celanaku lalu kududukkan dia di meja makan dengan kaki mekangkang. Vaginanya merekah merangsang sekali. Sekali lagi kujilat jilat vaginanya lalu penisku kugesek-geserk ke lubang senggamanya. Tak lama kemudian…sleeeb masuklah kepalanya

    ”Uhhh….dorong terus Bang!!”

    Kudorong terus sampai masuk penisku, setelah itu dia kuturunkan dari meja makan dan duduk di pangkuanku. Kupeluk dia dan kulumat payudaranya, kucium ketiaknya . Sementara Veny mulai menaik turunkan pantatnya. Wah enak sekali, hangat vaginanya benar-benar terasa, penisku terasa dipijat-pijat di dalam sana.

    ”uuh uuh seeee eees enak aanak Bang…memekku rasanya sesak, kontolnya besar sekali Bang”

    Memang terasa vaginanya sempit sekali berkedut kedut karena punya si Joni katanya lebih kecil.

    ”enak sekali, terasa sekali kontol Abang sampe di perutku, belum pernah aku maen sama duduk gini….aaah enak!!”

    Kunikmati genjotannya, tubuhnya terus naik turun berkali kali. Sungguh nyaman rasanya penisku seperti diurut, digoyangnya kiri kanan maju mundur diimbangi sama empetannya. Sebentar saja aku mau keluar rasanya, vaginanya sudah amat basah pertanda ia sudah orgasme,

    ”Ven aku mau keluar, kukeluarin di dalem mau ya?” pintaku, aku kepingin sekali spermaku tumpah di dalam tubuhnya.

    ”ya Bang, keluarin di dalem supaya lebih enak”.

    Penisku terasa makin menegang dan berkedut-kedut sudah akan mencapai puncaknya. Crooot….akhirnya kulepas spermaku di dalam rahimnya. Enak sekali sensasinya, kutuntaskan sampai habis semprotan spermaku. Lega rasanya kenikmatan ini. Spermaku sudah tertanam di tubuhnya. Aku paling senang bila berhasil menyelingkuhi istri seseorang, ada kepuasan tersendiri dalam hatiku, mungkin dampak psikologis dulu aku diperawani oleh si tante gendut itu. Setelah itu ku pakaikan lagi pakaiannya sambil kucium dia dengan mesra,

    ”Gimana Ven? kamu puas ya sayang?” bisikku .

    ”he eh Bang, enak sekali aku sampe orgasme berkali kali, belum pernah aku rasakan kayak gini kalau sama Bang Joni” balasnya

    Lebih gila lagi ia malah dia mengusulkan kami main di hotel kapan-kapan supaya bisa leluasa menikmatinya seharian.Memang akupun mau mengajak dia kehotel supaya kami bisa leluasa menikmatinya tapi terpaksa aku harus menolak yang satu ini karena kalau ketahuan aku sebagai aparat melakukan seperti itu habislah aku, apalagi selama ini aku telah berhasil menanamkan citra diriku ‘bersih’ di tengah masyarakat. Lebih aman di rumahnya ketika sepi seperti sekarang ini, terutama ketika Joni sedang di luar, aku pun cukup tahu jadwal temanku itu sehingga lebih mudah mengaturnya. Sejak itu aku lebih sering ke rumahnya pura-pura ngobrol sama suaminya, padahal aku mau lihat si Veny. Dia makin senang kalau aku datang lalu sembunyi-sembunyi dia senyum-senyum padaku sambil berbisik

    “aku seneng kalo abang ke sini, aku kalau lihat Abang terangsang aku, inget kalo kita maen gila”.

    Aku pun juga terangsang kalau lihat tubuhnya yang sering dibungkus pakaian yang minim. Pernah waktu si Joni lagi mandi dia minta main sebentar di dapur sambil berdiri.

    ”Bang ayo bentar aja, dimasukin cepat!” katanya sambil melorotkan celananya dan cdnya,. posisinya membelakangiku sambil agak nungging.

    Sebelum kumasuki aku cium dulu vaginanya dari belakang dan kujilat jilat supaya basah. Lalu kumasukkan kontolku, sleeeeeb. Kuenjot enjot keluar masuk. Enak juga penuh sensasi maen sembunyi-sembunyi gini, selagi suaminya mandi, istrinya aku setubuhi di dapur,

    ”Aaahh…terus dorong masuk ee.aaaduh enakhh”.

    Kugoyang-goyang dan kutusuk sampai dalam lalu kuputar-putar di dalam terasa penisku mengaduk-aduk vaginanya. Dia makin menikmati adukanku, penisku terasa diurut-urut, enak sekali licin dan lancar keluar masuknya. Akhirnya dia orgasme dengan rintihan pelan sekali takut kedengaran si Joni. Lagipula kedengarannya Joni sudah mau selesai mandi, wah aku belum keluar juga tanggung jadinya, maka dengan cepat kucabut penisku, kunaikkan celanaku. Veny juga dengan cepat menaikkan celananya. Buru-buru aku menuju ruang depan. Setelah itu dia masuk kamar mandi, tak lama kemudian ia keluar lagi dengan sikap biasa. Baru sebentar main catur dengan Joni, ia pamit ke toko sebentar mau beli rokok katanya. Kesempatan ini segera kupakai menghampiri Veny yang sedang duduk menonton TV di ruang itu. Dengan gerakan kasar karena buru-buru kudorong dia hingga terbaring di sofa, celananya kulepas dan kukeluarkan penisku. Kugenjot dia dengan sangat cepat karena sebelum suaminya pulang, agak tegang juga aku melakukan itu karena cukup berisiko. Tidak sampai lima menit aku pun keluar, cret…crett…spermaku menyembur di dalam vaginanya.

    “Udah puas sekarang?” tanya Veny tersenyum nakal.

    “Hehehe…lega, tadi kebelet banget belum puas” jawabku sambil membetulkan celanaku.

    Waktunya sangat tepat karena 2 menit kemudian pintu pagar terbuka dan Joni pulang.

    ######################################

    Satu minggu setelahnya, Veny memintaku datang lagi ke rumahnya karena si Joni keluar kota bersama putri mereka ikut neneknya bermalam di rumahnya. Senang sekali aku, tak sabar kutunggu malam tiba. Pastinya nanti kami bebas bercumbu rayu. Dia menyambutku dengan mesra, sungguh seksi merangsang penampilannya malam itu, dia memakai daster tipis dan tak pakai bh, kelihatan cdnya warna hitam dari balik pakaian itu. Rupanya dia tahu kalau aku makin bernapsu kalau dia pakai cd. Kupeluk dan kupangku dia, kucium bibirnya, bibir kami saling melumat dengan penuh nafsu. Kuisep liurnya, kusedot lidahnya sambil kuremas remas payudaranya. Kucium ketiaknya yang harum. Aku paling senang mencium ketiaknya yang halus itu, kucium dan kubenamkan hidungku di sana. Sambil kami saling merayu seperti orang pacaran, katanya dia senang aku dapat memanjakannya, dia mau saja jadi istriku karena dengan si Joni dia tidak puas dan sering bertengkar. Sayangnya itu tidak mungkin terwujud, selain karena aku sudah beristri, citraku bakal jatuh nantinya. Lalu kuajak dia masuk ke kamarnya, kurebahkan di atas ranjang dan kucium kakinya, betisnya dan pahanya yang ditumbuhi bulu-bulu halus, putih dan lembut sungguh mulus sekali. Kucium sampai ke atas ke pangkal pahanya. Dia merasakan kenikmatan sambil mendesah lalu kucium selangkangannya yang paling aku senangi. Dia juga senang sekali kalau kucium selangkangannya, katanya dia makin terangsang. Kunikmati kehangatan dan kelembutan selangkangannya yang harum..Aku tak bosan-bosannya menciumnya walau keadaan sudah basah malah makin napsu aku menciumnya. Kuisep isep cdnya dan kunikmati kebasahannya, lalu kutarik dengan mulutku sedikit kucium bibirnya dan lobangnya. Kujilat jilat belahan memeknya lalu kubalikan badannya kucium pantatnya kubuka pantatnya kucium, kugesek-gesekkan hidungku ke belahan pantatnya

    “Abang emang pinter muasin aku, ohh ciumin terus pantatku!” desahnya

    Kupuaskan mencium pantatnya yang semok itu. Kujilat cdnya dan kulumat dengan mulutku. Kupeloroti cdnya sampai lepas dia menungging kujilat lagi vaginanya naik ke atas lalu kujilat anusnya. Makin mengelinjang dan merintih kenikmatan dia kujilat daerah itu, kusapu anusnya dengan bibirku sambil kumasukkan jari ke dalam vaginanya. Kukilik-kilik dalamnya, sungguh suatu kenikmatan luar biasa katanya sampai lendirnya keluar banyak sekali. Kemudian kami berposisi 69 karena dia mau melumat penisku, mukaku makin terbenam di pantatnya. Senang aku dapat leluasa menikmati vaginanya. Kutampung vaginanya dengan mulutku sambil kusedot dan lidahku bermain di dalamnya. Penisku dilumat lumatnya dengan cepat dikocoknya dengan mulutnya sambil diisep isep terasa penisku kayak disedot vacum cleaner. Serasa kami melayang layang menikmati kenikmatan ini. Seandai nya si Joni tahu aku sedang melumat vagina istrinya dan istrinya melumat penisku, pasti dia akan marah besar aku akan ditembaknya sampai bolong-bolong tubuhku dan Veny pasti akan dicerainya, begitu lamunanku. Hampir satu jam kami saling melumat kemaluan masing-masing sampai mukaku basah tak karuan entah berapa banyak cairan vaginanya kutelan, dia juga menelan spermaku dengan lahapnya. Kurebahkan dia telentang, kakinya dibuka lebar dan diangkat, kugesek gesek kepala penisku ke lubangnya supaya aku terangsang dan tegang lagi.

    Tak sabar dia agar aku segera memasukinya. Penisku sudah mulai keras dan kumasukan sleeb blees,enak sekali kumasukkan sampai dalam sambil kakinya dilingkarkan ke pinggangku ikut menekan supaya masuk lebih dalam sambil dia merintih rintih manja. Makin bernapsu aku dengar rintihannya, dengan gemas kulumat payudaranya. Ketiaknya kuciumi terus kiri kanan. Makin nikmat rasanya enjot-enjotan sambil mencium ketiaknya, napsuku makin mengebu gebu. Kubalik badanku sekarang dia di atas makin seru dia bergoyang. Payudaranya bergantung bergerak gerak, kulumat dan kuhisap putingnya. Makin dalam peinsku masuk tambah ditekannya vaginanya seolah olah masih kurang panjang penisku,sambil merintih rintih melepas kenikmatannya sampai orgasme berkali kali. Kami sama-sama berkeringat, makin asik makin licin tubuh kami berdua. Kuhirup keringatnya yang wangi keringatku juga dijilat jilatnya, ketiaknya kujilat keringatnya. Sungguh 2 kenikmatan tiada tara. Tubuh kami betul-betul menjadi satu bergelut dalam berahi dan kenikmatan. Akhirnya kami orgasme bersamaan. Dia amat puas sekali katanya, dia makin cinta samaku mau kawin denganku dan cerai sama Joni, lagi-lagi aku harus menolaknya dengan banyak alasan. Kami akhirnya tertidur sebentar karena kepayahan, dia tertidur di atasku dengan penisku masih berada di dalam tak boleh dilepas karena dia mau tertidur dengan barangku di dalam barangnya. Sungguh nyenyak tidur begini sehabis tenagaku terkuras. Setengah jam kami tertidur, lalu dia mau main lagi katanya, dia mengajakku mandi bersama. Sama-sama telanjang kugendong dia masuk kamar mandi, kucium bibirnya. Kami mandi di bawah siraman shower yang hangat, kusabuni tubuhnya sambil kugerayangi

    ”Bang sudah keras lagi nih, dimasukin ya!”. dia menungging minta dimasukkan dari belakang

    Bibir vaginanya yang merah muda itu siap menerima penisku lagi. Aku pun sudah siap memulai ronde berikutnya. Kugesek gesek dulu penisku ke lobang vaginanya, lalu kudorong masuk hingga amblas sampai mentok. Himpitan vaginanya sungguh sempit dan enak sekali. Kutarik keluar masuk kuputar putar di dalam, selangkangannya kuelusi, kelentitnya kupilin-pilin.

    “Aaahhh….asyik Bang, geli, enak!” erangnya

    Pantatnya maju mundur mengimbangi goyanganku tambah nikmat rasanya. Kemudian dia rebahan di lantai dengan pantat masih diangkat, aku setengah jongkok lalu kuenjot enjot makin mantap rasanya. Tak lama kemudian kami ganti posisi, aku telentang dan dia di atasku. Lalu dia naik jongkok di atas penisku, dituntunnya penisku ke lubang vaginanya, diusap usapkan ke lubangnya hingga rasanya geli. Setelah masuk kepalanya lalu ditekan ke bawah sampai masuk semua,dia jongkok naik turun, kelihatan penisku keluar masuk di vaginanya dan makin basah dengan cairannya. Ia menggenjot tubuhnya naik turun sambil diputar putar,mengaduk aduk di dalam terasa berdenyut. Kulumat payudaranya dan kumasukkan semua ke mulutku, kujilat dan kusedot putingnya membuatnya makin mengerang kenikmatan, vaginanya juga makin banjir. Aku pun serasa melayang menikmatinya. Dengan gaya ini makin bebas dia menggoyang pantatnya sambil kuremas remas payudaranya. Dua puluh menit kemudian, ahirnya spermaku nyemprot lagi. Kami terbaring lemas di kamar mandi dengan penuh kepuasan. Cerita Maya

    #######################################

    Tahun demi tahun berlalu, Veny belakangan ikut Joni yang dipindah tugaskan ke luar pulau. Beberapa tahun yang lalu mereka akhirnya bercerai karena ketidakcocokan mereka semakin dalam, putri mereka ikut dengan ibunya. Tak lama setelah bercerai, Veny sendiri menikah lagi dengan seorang bule Amerika dan diboyong ke negara suaminya. Sedangkan aku, walau rumah tanggaku dengan istriku semakin dingin kami tidak bercerai, karena malu dan demi anak-anak. Aku beberapa tahun belakangan jatuh hati dengan sesama jenisku, ia seorang petugas pajak, sebut saja namanya GT. Aku begitu tergila-gila dengannya, tampangnya yang imut-imut bangsat juga dengan gayanya di ranjang yang memuaskan hasratku pada sesama jenis. Dia begitu terbuka padaku sampai aku tahu banyak mengenai dirinya yang terlibat mafia pajak, ia sering memanipulasi pajak dari klien dan keuntungannya masuk ke kantongnya sendiri. Karena cintaku padanya aku dengan sukarela membackingnya. Kami sering bercinta baik di rumahnya atau pernah juga di kantorku bila situasi memungkinkan. Kadang aku yang menyodominya, kadang dia yang menyodomiku, pokoknya asyik deh. Hingga akhirnya suatu saat setelah oral seks singkat di kantorku, aku mengutarakan perasaan hatiku padanya. Tapi betapa hancurnya hati ini mendengarkan bahwa dia menolak cintaku yang tulus padanya. GT berterus terang bahwa ia sebenarnya sudah mencintai seseorang lain, orang itu adalah AB, konglomerat kaya dan politisi busuk yang sangat berpengaruh di tanah air. Ia mengaku terus terang bahwa ia sangat mencintai AB dan AB pun mencintainya walau mereka tidak bisa benar-benar bersatu secara sah karena hukum dan situasi sosial di negeri ini. Ia juga minta maaf padaku karena selama ini seperti memberi harapan padaku untuk mendapatkan cintanya. Aku benar-benar marah, sedih, dan terluka, aku mengusirnya dari kantorku saat itu juga. Tak lama kemudian aku terkena kasus dan diselidiki oleh KPK dan DPR, karena masih memendam amarah pada GT, aku membuka semua skandalnya ketika dalam penyidikan. Sejak itulah nama GT yang tadinya tidak dikenal publik mendadak jadi seperti selebritis yang nama dan fotonya menghiasi media cetak dan elektronik. Setelah penyidikan yang bertele-tele ala negeri ini akhirnya GT dan aku pun divonis hukuman penjara. Kami bertemu lagi di penjara, dan entah mengapa waktu itu kemarahanku sirna ketika bertemu dengannya. Aku langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Yang kuinginkan hanyalah bersama dengannya, tapi bagaimanapun GT tidak bisa menerimaku. Di situlah aku menyadari GT benar-benar tulus mencintai AB. Dan akhirnya aku menyerah tidak bisa mendapatkan cintanya, tapi kami masih tetap bersama di penjara ini, dan kami masih sering berhubungan badan sesama jenis setiap ada kesempatan. Bahkan sempat ikut liburan bersama GT ke Bali mencuri-curi kesempatan dengan menyogok petugas penjara. Untung waktu nonton turnamen tenis itu aku sakit kepala dan terpaksa tinggal di hotel dan tidak menyertai GT, kalau tidak fotoku yang memakai wig gimbal dan kacamata berbentuk bintang yang sudah disiapkan pasti ikut tersebar di media. Baiklah sekian dulu tulisanku dari penjara, semoga mupengers puas.

    By: Susan Lonte

  • Balada Viana 3: Forbidden Love

    Balada Viana 3: Forbidden Love


    164 views

    Chapter 1

    Viana

    Cerita Maya | Siang hari itu terasa panas sekali, khususnya bagi orang-orang dari kota besar seperti Pak Sumarga yang terbiasa dengan dinginnya AC ruangan, namun meskipun panas terasa sangat menyengat kulit Pak Sumarga tampak semangat sekali berjalan diiringi oleh dua orang pembantunya. Mereka menuju mobil  Kijang yang teronggok di tepi jalan.

    “Jo, kamu yang nyetir ya, kita langsung pulang saja sekarang” dengan wajah berseri Pak Sumarga memasuki mobil yang baru seminggu dibelinya diikuti Udin yang merasa bangga bisa duduk bersama dengan sang majikan.
    “Siap bos” kemudian nafas lega terdengar dari mulut Tarjo yang daritadi merasa kepanasan dan akan segera merasakan sejuknya AC dalam mobil.
    “wahhh, jasa-jasa kalian pasti saya balas, terutama kamu jo!”
    “Terimakasih bos, kita sama-sama udah kecipratan rejeki koq bos” sahut Tarjo di belakang kemudi.
    “ya, itu masih kurang, kalian juga akan saya nikahkan, semua biaya biar saya yang tanggung, tinggal kalian pilih sendiri ceweknya mau yang mana?” dengan wajah gembira, pria yang agak tambun itu menimpali pembantunya.
    “yah bos, kita belum niat nikah, lagian kalau dipaksa nikah juga belum ada yang mau bos”
    Tarjo tampak tersenyum mendengar kalimat Udin yang bernada lugu.. “kita?? Elu kali din” pikirnya..
    “kalau gitu, kalian pilih saja maunya apa? Pasti saya penuhi!” tegas Pak Sumarga saking gembiranya melontarkan kalimat tanpa pikir panjang.
    “bener nih bos?” tanya Udin setengah tak percaya.
    “Ya iya Din, terutama kamu Jo, kan kamu yang pertama kenalin aku ke si Sumirah, jadi kamu juga tadinya mau aku biayain nikah”
    “Nah Jo, kesempatan lu tuh nikahin anak Pak RT di kampung lu dulu, katanya dulu lu demen sama tuh cewek” balas Udin sehingga membuat Tarjo gelagapan, karena dia memang menyukai Tarmini, anak ketua RT di kampungnya, namun ditolak bapaknya lantaran dia masih pelaku kriminal.
    “eh… itukan dulu Din, sekarang si Tarmi mungkin udah nikah, diakan juga banyak yang naksir”
    “Wah, kebetulan kalau gitu Jo, kamu cari tau dulu saja. Kalau masih single, nanti kita lamar sekalian”
    “Iya deh bos, nanti saya selidiki dulu orangnya” sahut Tarjo ogah-ogahan. Pikirannya sedang menimbang-nimbang antara mau atau tidak, karena sebenarnya dia sedang mengincar Viana, anak bosnya ini, namun dia juga tau diri menyadari statusnya. Cerita Maya

    Tarjo memang mengalami trauma sejak ditolak bapaknya Tarmini gara-gara tindak premanisme dan kegiatan kriminal yang dilakukannya bersama gerombolannya dulu, tapi masalah hati Tarjo sangat menyukai Tarmini. Sekarang ini Tarjo mulai berubah sejak dia bekerja pada Pak Sumarga. Perubahan itu semata-mata akibat kedua gadis anak majikannya itu yang selalu membuat  birahinya naik, juga akibat keisengannya melepas ilmu gendam pada Viana yang tadinya untuk membuat gadis itu takluk seperti perbuatannya pada banyak gadis desa, tapi malah membuatnya tambah berminat pada gadis bermata sipit majikannya itu apalagi sejak melihat tubuh polos Viana yang putih terang pada kejadian beberapa hari sebelumnya. Tapi dalam hati kecilnya Tarjo tetap mencintai Tarmini, hanya saja hubungan mereka tidak direstui oleh ayah Tarmini, sang ketua RT. Jika dibandingkan secara fisik, memang keduanya bagaikan langit dan bumi, tentu lebih memilih Viana, namun sikap Tarmini yang sangat baik itu membuat Tarjo tidak bisa melupakannya begitu saja, cocok sekali bila dijadikan istri, apalagi sekarang dia telah mempunyai pekerjaan tetap, bukan lagi pengangguran yang selalu membuat ulah.  Lagian terlalu berharap pada Vianapun kemungkinan besar terlalu membuang-buang waktu, seperti punguk merindukan bulan, jadi cukuplah baginya hanya mencicipi tubuh mulus Viana saja tanpa harus bertanggung jawab pada hidup Viana, itu sudah membuatnya sangat puas. Biar saja si Udin yang mengurus Viana, itupun kalau dia berhasil mendapat persetujuan PakSumarga majikannya. Sepanjang perjalanan pulang itu otak Tarjo yang licin berdenyut-denyut menimbang-nimbang yang harus dia pilih, apakah menerima atau menolak hadiah dari majikannya. Sementara Pak Sumarga sedang berbunga-bunga hatinya karena tak lama lagi ia akan memiliki Sumirah sebagai istri barunya. Udin disampingnya pun sedang sibuk memikirkan siasat bagaimana menjerat Viana tanpa harus bertanggung jawab sekaligus menguasai kekayaan majikannya. Memang selama ini Pak Sumarga sangat bergantung pada mereka berdua dalam mencari pelacur-pelacur untuk kesenangannya, bahkan terakhir Tarjo malah berhasil mendapatkan seorang gadis desa baik-baik dan menjerat gadis itu untuknya hingga kemudian gadis itu hamil dan tak lama lagi akanmenjadi istri barunya. Dengan begitu, Pak Sumarga merasa harus memberi penghargaan khusus pada kedua pembantu atau lebih tepat dikatakan kaki tangannya itu, selama inipun kedua pembantunya selalu dimanjakan oleh banyak pelacur suruhannya, namun begitu mendapatkan Sumirah yang masih perawan, Pak Sumarga pun rela memberikan bonus khusus pada kedua pembantunya terutama Tarjo. Berburu gadis-gadis desa yang lugu membuat kesan tersendiri bagi Pak Sumarga yang terbiasa dengan gadis-gadis mewah kota Jakarta yang matre dan juga untuk keadaan sekarang yang sedang bangkit dari kebangkrutan, berburu gadis desa lebih pas dikantongnya. Secara kenikmatan, memang gadis dimanapun sama saja kalau sudah diranjang, hanya sensasinya bagi Pak Sumarga saat ini lebih memilih gadis manis berkulit mulus sawo matang di desa daripada gadis cantik berkulit putih dikota.

    Sejak hari itu gemparlah seisi rumah Viana karena niat Pak Sumarga yang akan nikah dengan gadis 18 tahun seumuran dengannya. Tatik, istri Pak Sumarga tentu saja merasa gerah mengetahui berita itu, niatnya seakan mendapat saingan untuk menguasai harta Pak Sumarga terlebih sampai saat ini dirinya belum juga hamil.
    “Kalian harus secepatnya membereskan kedua anak itu, aku sudah tidak sabar memiliki rumah dan usaha ini. Bandot tua itu makin membuatku tidak betah, sekarang dia malah mau kawin lagi” katanya berbisik pada Udin sewaktu mereka berpapasan dibagian belakang toko.
    “hehe tenang Tik, sebentar lagi beres koq, katanya si Bos ga sengaja bikin tu cewek hamil, kita juga gak maksud nambah saingan buat ente Tik, semuanya diluar rencana semula, maksud awalnya sih cuma senang-senang, ngambil hati si Bos” jawab Udin.
    “Huuh, kalian para pria memang sama, gila perempuan. Pokoknya aku tidak mau ada saingan di rumah ini, termasuk juga tuh cewek” ketus Tatik sambil ngeloyor pergi kedepan.
    Udinpun mengikuti Tatik dari belakang dengan langkah seenaknya. Udin dan Tarjo selama ini memang telah menjadi kepercayaan Pak Sumarga, sebagai tukang pukul, sebagai kuli dan juga sebagai penghubung pada gadis-gadis desa yang lugu. Sebagai upah mengenalkan gadis-gadis desa, Udin dan Tarjo ditraktir bermain pelacur sepuasnya, malah Pak Sumarga menawarkan akan menikahkan Udin dan Tarjo dengan salah satu gadis desa, tapi Udin menolak tawaran itu, karena baginya lebih baik bermain dengan pelacur daripada menikah dengan gadis desa yang tidak dapat menjamin hidupnya yang memang pemalas dan pelaku kriminal. Udin malah lebih mengincar Viana atau Airin, karena lebih bisa menjamin masa depannya dan juga jauh lebih menggairahkan secara sexual daripada gadis-gadis desa yang kusam, hanya dia belum berani mengatakannya pada Pak Sumarga, masih menunggu saat yang tepat. Tinggallah Tarjo yang masih berkutat dengan pertimbangannya akan penawaran Pak Sumarga.
    Dua hari kemudian Tarjo dipanggil kembali oleh Pak Sumarga sang boss di ruangannya.
    “Gimana Jo, kamu sudah selidiki belum?” tanyanya.
    “Sudah bos, ternyata masih lajang”
    “Terus bagaimana, apa yang kamu pilih? Mau dinikahkan dengan Tarmini atau pilih yang lain atau pilih hadiah lain?” tanyanya lagi.

    5 jagoan ((Tarjo, Warsa, Darsono, Kosim, dan Udin)

    “Terus terang bos, sebenarnya saya punya pilihan lain, tapi sepertinya tidak akan terlaksana”
    “Lho, kenapa bisa begitu?”
    “percuma bos, orang tuanya tak akan setuju kalau nikah dengan saya”
    “Lho, koq kamu sok tau begitu, bukannya orang tuanya Tarmini juga tak setuju? Apa bedanya”
    “Ini lain bos, ada alesan lain yang lebih penting daripada alesan karena masalah pekerjaan saya dulu”
    “Hmmmm, ya sudahlah jadi sekarang mau kamu bagaimana?” Pak Sumarga masih tidak menyadari maksud Tarjo yang membicarakan masalah Viana dan tentu dirinya sebagai orangtua gadis itu.
    “Saya pilih dinikahkan saja bos, lagian umur saya sudah hampir kepala empat, masa belum nikah juga”
    “hahaha baguslah kalau begitu Jo, masalah kepala empatmu itu ya salahmu sendiri kebanyakan kawin sama  main cewek sampai lupa nikah.”
    “hehehe iya bos, makanya mumpung ada yang bayarin, aku pilih nikah saja, kan enak”
    “ya  sudah, kamu nikah minggu depan saja, ajak cewek itu nikah, diusahain secepat mungkin ya Jo, aku juga minggu depan kan nikah juga, jadi waktu kerja tidak terbuang dan tetap efektif” sahut Pak Sumarga masih saja naluri bisnisnya keluar disaat-saat begitu.
    “Koq digabung sih bos, saya belakangan saja, gak apa koq, jodoh kan tak akan lari dikejar”
    “OO ga bisa! Soalnya toko akan diliburkan 3 hari, jadi kita harus pakai kesempatan itu buat nikah. Kalau nikahnya terpisah, pasti ditoko ini cuma tinggal si Udin sama aku yang kerja, sementara kamu pasti ambil cuti satu minggu, betul kan Jo?”
    “hehehe si bos bisa aja, koq tau sih bos?”
    “OO ya iya, tentu aku tau sifatmu, apalagi kalau lagi sama cewek”
    Hari berikutnya bertambahlah kegemparan ditoko sembako itu karena Tarjo, sang tangan kiri bos sembako juga akan menikah dengan anak ketua RT dikampung sebelah dihari yang sama dengan pernikahan sang Bos.
    “Bagaimana dengan kamu Din? Kamu mau hadiah atau mau dinikahkan juga?” kata Pak Sumarga disela-sela kesibukannya pada Udin sang tangan kanan.
    “Saya masih bingung boss, takut ditolak sama ortunya”
    “Yah, kamu ini bagaimana, mau dinikahin juga susah, yasudah bilang saja mau apapun pasti saya kasih, asal jangan minta uang banyak” kata Pak Sumarga masih tetap serakah.

    “Weh bener nih bos, minta apapun dikabulkan?” tanya Udin dan dijawab dengan anggukan Pak Sumarga.
    “bagaimana kalau saya minta dinikahkan sama anaknya si bos sendiri, non Viana” jawab Udin datar.
    Untuk sementara Pak Sumarga diam, wajahnya yang kekuningan menjadi merah padam, betapapun ia akan menikahkan Udin, tapi tentu bukan dengan anaknya sendiri.
    “Kurang ajar kamu Din!! Dikasih hati malah minta jantung! Kamu mana level dengan anakku, ngaca dulu dong, goblok!” makinya tak tertahankan.
    “Lho, tadi katanya apapun yang saya minta pasti bos kabulkan, gimana sih bos, koq sekarang saya malah dimarah-marahi”
    “Tapi bukan dengan Viana!!”
    “Y asudah deh bagaimana kalau dengan Non Airin saja” kata Udin malah makin menjadi, dan membuat Pak Sumarga naik pitam.
    “Sama saja guoblokkk!! Tidak bisa! Sudah, kamu kembali kerja! Jangan pikir lagi masalah hadiah! Tidak akan ada hadiah buat kamu Udin, dan sekali lagi kamu berpikir yang tidak-tidak terhadap Viana atau Airin, kamu akan saya pecat! Ngerti kamu!!!” Udinpun ngeloyor pergi dari hadapan Pak Sumarga sebelum bosnya itu bertambah marah.
    Udin bersungut-sungut dalam hatinya “awas saja kamu bos, liat nanti malah anakmu yang kubuat memohon-mohon kawin dengan aku” .
    Sebagai seorang pengusaha, Pak Sumarga selalu memegang teguh apa yang telah diucapkannya. Setelah memarahi Udin diapun merasa menyesal telah menjanjikan “apapun” pada Udin, dan bukan salah Udin kalau dia memilih anaknya. Diapun tahu kalau anaknya telah menjadi incaran para pemuda di desa itu, tapi dia baru sadar ternyata Udinpun menginginkan anaknya. Semalam suntuk Pak Sumarga tidak dapat memejamkan matanya.
    “Sudah malam koq belum tidur Pak,  mikirin Sumirah terus ya?” tanya Tatik menyindir suaminya, namun hanya dibalas senyuman dari Pak Sumarga.
    Berikutnya Tatik malah tertdur lebih dahulu. Otak Pak Sumarga sibuk memikirkan jalan keluar baginya agar tidak jadi bahan tertawaan para pembantu di tokonya, sebagai seorang bos yang ingkar janji. Beberapa jam kemudian sebersit ide terlintas dibenaknya, Pak Sumarga tersenyum senang akan ide briliannya. Barulah dia bisa tertidur dengan pulas, karena hatinya sudah merasa plong.

    Pagi-pagi sekali kembali Pak Sumarga memanggil Udin ke kantornya di toko.
    “Baiklah Din, semalaman saya sudah pikirkan masalah kamu kemarin. Rasanya tidak adil kalau saya membedakan kamu karena masalah ras. Baiklah, kamu saya izinkan mendekati Viana, tapi ingat selama Viana setuju, saya tidak akan melarang hubungan kalian, tapi kalau anakku itu tidak mau, kamu harus berhenti mengejarnya, jelas?!”
    Bukan main senangnya Udin mendengar lampu hijau dari bosnya yang mengizinkan dia merayu putri sulungnya.
    “Wah, bener nih bos, waduh terima kasih banyak bos, siapa tau saya jadi mantu si bos. Hehehe” sahut Udin senang.
    Pak Sumarga hanya tersenyum, namun hatinya juga ikut tertawa “hahaha anakku mana mau sama orang kayak elu Din, apalagi dia akan aku kenalkan pada anak temanku di kota, Via tidak akan memilih kamu…hahaha dasar orang udik bodoh, mana bisa memperistri anakku”. Pak Sumarga benar-benar tidak tahu apa yang terjadi dalam rumahnya beberapa hari belakangan ini yang menyangkut putrinya bersama dengan kedua pembantunya itu.

    #################################
    Chapter 2

    Gadis itu termenung sendiri di kamarnya. Kehidupan di rumah ini meskipun terlihat sibuk, namun tetap saja gadis itu merasa kesepian. Berbeda jauh dengan di Jakarta, selalu ada teman istimewa yang selalu siap menemaninya bermain-main. Viana sangat membutuhkan kehadiran seorang pria dalam hidupnya sekarang. Memang banyak pria-pria yang mendekatinya, di sekolahnya pun sekarang banyak dikunjungi para alumni pria yang tujuannya untuk berkenalan dengannya ataupun dengan Airin belum lagi teman-teman SMA nya yang berebut perhatian darinya. Di luar sekolah ada Supri tukang bakso tahu langganannya yang sering merayunya dengan bonus siomay, atau  Mas Burhan tukang becak yang selalu menawarkan becaknya meskipun sudah tau ada yang menjemput pulang sekolah, belum lagi pemuda-pemuda pengangguran tetangganya yang selalu nongkrong di depan tokonya sambil bermain gitar yang selalu menggodanya di kala lewat sendirian. Di dalam rumahpun ada Udin dan Tarjo yang selalu baik padanya, yang juga sudah membuatnya terlena dengan kata-kata cabul dan porno.  Bahkan mereka sudah menembaknya beberapa hari yang lalu dan lebih parah lagi mereka sudah melihat tubuhnya polos tanpa pakaian. Satu hal yang disayangkan dan hal itulah yang membuat kehancuran dalam hidupnya kelah, yaitu Viana telah memuaskan kedua pembantunya dengan sex oral dan handjob. Udin dan Tarjo telah berhasil memasukkan pengaruh percabulan dalam alam bawah sadar Viana. Di saat-saat seperti inilah pengaruh cabul itu muncul dalam pikiran Viana. Saat dia membutuhkan teman pria yang bisa menemani hari-harinya. Sebenarnya tak ada satupun yang dia suka dari para pemuda yang mendekatinya, dia lebih mengharapkan di desa itu ada pemuda chinesse yang mendekatinya karena tentu tak akan mendapat halangan dari papanya, berbeda kalau para pemuda pribumi itu yang mendekatinya, tentu dia yang akan kena marah papanya meskipun dari dirinya sendiri tak terlalu mempermasalahkan tentang ras terutama sejak kejadian dengan mantan pacarnya dulu. Namun berhubung di tempat itu jarang sekali keluarga yang satu ras, (kalaupun ada tentu anak-anaknya sekolah di kota besar) mulailah Viana menimbang-nimbang semua pemuda yang mendekatinya, celakanya hanya Udin dan Tarjo yang sudah menembaknya, sedangkan yang lainnya semua masih berusaha merebut perhatiannya. Sekali lagi pengaruh gendam Udin dan Tarjo menunjukkan keunggulannya. Tarjo menjadi pilihan utamanya sekarang, wajahnya tak bisa dibilang tampan, malah jauh dari tampan, namun cuma Tarjo yang masih lumayan dibanding yang lainnya. Telah beberapakali pula Viana memandang tubuh telanjang para pembantunya itu, tak terasa nafsunya perlahan-lahan bangkit membayangkan tubuh kekar kehitaman dengan penis 20cm yang tegak menantang di wajahnya. Namun lamunan itu sirna bahkan berakhir dengan kekecewaan yang terbayang di wajahnya yang putih dan tampak pada lingkaran kemerahan di sekitar matanya seperti menahan tangis. Betapa tidak, setelah sekian lama dia menimbang tentang siapa pria yang dipilihnya, sekarang pria yang telah dipilihnya malah akan menikahi wanita lain, Viana merasa rugi telah memuaskan Tarjo, apalagi telah membiarkannya memandangi tubuh telanjangnya sepuas hati.

    Memang Jodoh itu Tuhan yang mengatur, kalau saja Tarjo tahu Viana memilihnya, tentu dia tidak akan memilih menikahi Tarmini sebagai hadiah dari Pak Sumarga, sebaliknya dia akan dengan senang hati memilih putri sang bos yang demikian cantiknya. Sementara sebagai wanita yang hanya bisa menunggu aksi dari pria, Viana pun hanya bisa menunggu aksi Tarjo melanjutkan tembakannya tempo hari atau menagih jawabannya. Hasilnya kekecewaan yang didapat Viana, dirinya merasa Tarjo telah mempermainkan perasaannya. Tinggal Udinlah satu-satunya pria yang telah menembaknya, terlintas juga pikiran untuk menerima sebagai kekasihnya, namun terlintas juga pikiran buruknya, tentu Udin juga sama dengan Tarjo, yang hanya ingin bermain-main dengannya. Viana sangat menyesal telah mengobral tubuhnya untuk orgasme para pembantunya itu. Kini musnahlah harapannya untuk mendapat pria idaman, namun  kenangan akan kejantanan tubuh seorang pria tidak dapat menghilang dari pikirannya yang telah terinfeksi oleh gendam cabul Udin dan Tarjo. Dalam pikirannya selalu terlintas tubuh hitam kekar seorang pria pribumi yang sedang menyetubuhinya berulang-ulang. Tapi juga terlintas bayangan papanya dengan wajah galak melarangnya dan akhirnya Viana tertidur kecapean memikirkan itu semua.

    ##############################
    Chapter 3

    Seminggu kemudian tibalah hari yang ditunggu, pernikahan Pak Sumarga dan Tarjo dilaksanakan di dua tempat yang berbeda karena pengantin wanita berasal dari dua kampung yang berbeda pula.
    Akhirnya akad nikah pun dilaksanakan, dan resmilah Sumirah menjadi istri muda Pak Sumarga.
    Hari itu tampak pesta pernikahan diadakan dikeluarga mempelai wanita sesuai tradisi mereka. Viana dan Airin tampil seperti dua bidadari chinesse yang amat berbeda dengan tamu-tamu yang lain. Mereka memakai gaun putih berdada rendah yang hanya tersangkut oleh tali tipis berwarna putih yang kebetulan seperti warna kulit mereka yang putih. Gaun itu tentunya yang hanya cocok untuk pesta-pesta gedung mewah di kota besar, namun apa daya, hanya gaun itu yang mereka punya dan merekapun sudah terbiasa memakainya utuk pesta. Kali ini Viana dan Airin canggung sekali di pesta itu yang mayoritas tamunya malah mengenakan batik kebaya, sungguh di luar perkiraan mereka sebelumnya, tapi apa mau dikata, pesta sudah mulai dan mereka harus bersikap anggun sebagai putri dari pengantin pria. Udin tampak selalu berada didekat Viana, Udinpun baru menyaksikan Viana mengenakan gaun seperti itu, baginya justru Viana ataupun Airin yang seperti memakai baju pengantin. Mata Udin tak lepas dari belahan dada Viana yang begitu putih menggairahkan, pas sekali dengan usianya yang sudah 18 tahun, yang bagi orang didesa itu sudah layak untuk dinikmati. Pemandangan di pagi hari itu agak berbeda dengan pemandangan waktu malam dimana tubuh Viana polos di depannya. Sinar terang dari matahari begitu mengekspose terangnya kulit putih Viana dan Airin. Ingin rasanya Udin mengelus kulit yang terlihat sangat lembut itu, meskipun kemarin-kemarin dia bahkan sudah merayapi seluruh permukaan kulit Viana, namun kali ini tetap terlihat sekali perbedaannya. Seperti kebiasaan orang-orang desa yang masih mengutamakan kekeluargaan, hampir seluruh penduduk desa diundang ke acara pernikahan itu, tentunya diantara para undangan terdapat pula teman-teman sekolah Viana, mas Burhan, mas Supri, dan para pemuda lainnya yang berlomba mendekati Viana. Sepasang pengantin yang berada di pelaminan justru tidak terlalu menjadi perhatian para tamu yang hadir, justru Viana dan Airinlah yang menjadi pusat perhatian mereka, tapi meskipun begitu upacara pernikahan tetap berjalan seperti seharusnya. Sapaan demi sapaan terus berdatangan pada Viana dan Airin, mulai dari yang sopan sampai yang kurang ajar, semua itu tidak mereka tanggapi. Untuk mengalihkan perhatian para tamu, terutama para pemudanya yang mulai bermata nakal, Viana sengaja berdekat-dekatan dengan Udin seakan mencari perlindungan dari pembantunya itu. Tentu saja Udin yang sudah mendapat angin dari Pak Sumarga merasa di atas angin, dan dengan bangganya juga berani menggandeng pundak telanjang Viana di hadapan para tamu. Viana tentu merasa risih dengan ulah Udin, segera saja dia menepis tangan Udin, namun tetap tidak mau terpisah dengan pembantunya itu.

    Untuk beberapa waktu Viana aman dengan adanya Udin disampingnya, tinggallah Airin yang kelimpungan ditinggal sendiri oleh cicinya. Waktu makan pun dikerumuni para pemuda dan digoda habis-habisan, untunglah Tatik mendekatinya sehingga para pemuda itu otomatis bubar. Pesta berlangsung meriah sampai sore hari, setelah semua tamu bubar tinggallah keluarga kedua mempelai termasuk Viana , Airin dan juga Udin.
    “Wah-wah wah, ternyata kamu punya anak gadis yang cantik sekali ya…” kata Pak Hasan, orang tua Sumirah ketika melihat Viana dan Airin.
    “eh, hmm iya pak, mereka anak-anakku dari istriku yang pertama”
    “hmmm gitu toh, boleh juga tuh anakmu, sepertinya sudah waktunya dinikahkan juga tuh” kata Pak Hasan demi melihat Viana yang selalu bersama Udin, dikiranya Udin adalah pacar Viana.
    “hehehe masih lama pak, kedua anakku belum punya calon koq” kata Pak Sumarga, matanya mendelik ke arah Udin agar sedikit menjauh dari Viana.
    Tapi Udin malah bergeser duduknya mendekati Viana.
    “Wah, kebetulan kalau gitu, keponakan bapak juga sudah cukup waktunya buat nikah, bagaimana kalau kita jodohkan saja anakmu dengan ponakan bapak, Bagaimana?”
    Giliran Viana yang merah padam wajahnya, tapi tidak dapat berkata apa-apa.
    “ooo, kalau saya sih terserah anaknya, tapi anak saya ini masih sekolah, bagaimana kalau tunggu sampai sekolahnya selesai baru kita bicarakan lagi” kata Pak Sumarga menolak secara halus.
    “ooo iya juga, masih sekolah ternyata, iya nanti malah mengganggu sekolahnya, kasian juga ya, apalagi kalau sudah hamil, repot juga tuh, iya setuju, nanti saja dah” tukas Pak Hasan.
    Bergidik juga Viana mendengar kata hamil, sementara Airin tersenyum-senyum menggoda cicinya yang juga tengah melotot ke arahnya. Dua jam lamanya mereka mengobrol dengan hangatnya sebelum Tatik pamit untuk pulang karena tidak mau mengganggu malam pertama suaminya.Viana, Airin dan Udinpun ikut pulang karena dirumah Sumirah tidak ada tempat untuk menampung mereka semua. Apalagi mereka juga harus menghadiri resepsi pernikahan Tarjo di desa tetangga. Meskipun merestui pernikahan suaminya, Tatik tetap tidak mengizinkan Sumirah tinggal bersama mereka, sehingga Sumirah tetap tinggal bersama kedua orangtuanya, namun secara bergilir Pak Sumarga mengunjunginya. Usia Sumirah hanya berbeda tiga tahun dengan Viana, alias 21tahun, namun tubuhnya begitu sintal dengan kulit kecoklatan. Sebenarnya Sumirah sudah memiliki kekasih, tapi karena kekasihnya seorang pemuda pengangguran tanpa masa depan sehingga bujuk rayu Pak Sumarga dengan iming-iming sejumlah uang membuat Sumirah menyerahkan tubuhnya pada Pak Sumarga sampai akhirnya Sumirah hamil, maka terpaksalah Pak Sumarga menikahinya. Jadi begitulah sekarang Pak Sumarga harus membagi jatah waktu di rumahnya dan di rumah istri barunya secara adil. Keadaan itu membuat Viana menjadi semakin dalam terperangkap dalam jerat Udin dan Tarjo.

    #############################
    Chapter 4

    Viana sebenarnya enggan menghadiri pernikahan Tarjo di desa sebelah karena beberapa alasan, pertama Via malas bertemu dengan pria yang sudah dianggap mempermainkan perasaannya, kedua Viana merasa risih diperhatikan para tamu undangan seperti tadi siang, apalagi karena bajunya yang terlalu mewah , ketiga Viana tidak mau menghadiri pernikahan Tarjo hanya dengan adiknya, sementara papanya malah tengah bersenang-senang dengan istri mudanya. Ketiga alasan itu tampak percuma saja karena Tatik dan Udin yang menjadi sopir mobilnya malah berkeras akan ke pernikahan Tarjo. Jadi mau tidak mau, Viana dan Airin harus ikut bersama ibu tiri dan Udin. Airin tertidur dalam perjalanan itu, Vianapun tampak enggan berbicara sehingga dia menutup matanya berharap dapat tertidur seperti Airin, dan juga karena malas melihat Tatik yang duduk di depan disamping Udin. Tatik mengira kedua anak tirinya telah tertidur, merasa bebas berbicara dengan Udin, Namun Udin sebagai sopir selalu memperhatikan Viana dari balik kaca spion, dan tahu juga dari gerakgerik Viana bahwa gadis ini belum tidur.
    “Sekarang, setelah bapaknya tidak di rumah, apa rencanamu Din?” tanya Tatik sambil kepalanya menoleh ke belakang memastikan Viana benar-benar tertidur.
    Udin agak gelagapan juga ditanya begitu, namun otaknya yang culas seakan menemukan jalan terbentang di hadapannya.
    “Apa maksudmu mbak?”
    “ya apalagi kalau bukan kedua anak tiriku ini, apa kamu sudah berhasil dengan rencanamu itu?”
    “Walah, koq kamu tau sih mbak? Pasti si bos yang bilang ya…..? Aku sih sejujurnya berminat sama non Via itu, kalau saja dia mau jadi istriku mbak, pasti bahagia sekali rasanya, tapi apa daya, aku cuma sebagai pembantu, mana mau non Via nikah sama aku, si Tarjo saja nyerah mbak, sampai dia mau nikah sama cewek lain” kata Udin panjang lebar sambil agak mengeraskan suaranya.
    Tatik agak berkerut mendengar jawaban yang tidak seharusnya, tapi wanita ini cukup cerdik waktu melihat kedipan mata Udin. Tatik melirik pada Viana yang masih menutup matanya, lalu dia tersenyum kecil, mulai mengerti permainan Udin.
    “Oo iya yah Din, mana mau anakku ini sama kamu hihii… Aku juga Ibu tirinya tirinya merasa aneh, koq suamiku itu malah ngizinin kamu merayu anaknya ini, padahal kalau aku pribadi gak bakal ngizinin anakku pacaran sama orang macem kamu Din” Kata Tatik dengan cerdiknya merangkai kata agar terdengar Viana.
    “Yah itulah mbak, nasibnya jadi orang kecil, cewek jarang ada yang mau, padahal bapaknya malah sudah merestui lho kalau aku pacaran dengan anaknya”
    “Lho, kapan bapak bilang sama kamu Din?”
    “Itu lho mbak, waktu bos memberi Tarjo hadiah, dia juga menawarkan akan nikahkan aku sama gadis desa ini, tapi aku tetep gak mau mbak, karena aku cinta mati sama non Viana”
    “Wah, beruntung kamu Din kalau bisa dapetin Viana”
    “Jangan keras-keras mbak, nanti kalau Non Via bangun, malah jadi marah sama aku, bisa gawat nanti. Gak apalah kalau non Via gak mau sama aku, aku akan bawa cinta ini sampai mati, tapi mbak harus bisa jaga rahasiaku ini lho mbak, jangan sampai non Via tau, bisa malu aku…” kata Udin dengan suara mengecil dengan cerdiknya supaya tidak terdengan berlebihan di telinga Viana.

    Viana dari awal mendengar percakapan itu sungguh merasa seperti terbang di langit, betapa Udin yang memujanya seperti itu, dan juga Tatik ternyata bukan ibu tiri yang selama ini dia bayangkan. Viana merasa sangat tersanjung mendengar cerita mereka, namun andai saja dia berani membuka matanya, akan tampak Udin dan Tatik saling mengedipkan mata. Hilanglah sudah keraguan di hati Viana akan kata-kata Udin yang pernah menembaknya beberapa hari lalu. Ternyata Udin berbeda dengan Tarjo, Viana merasa Udin benar-benar tulus mencintainya, lebih plong lagi mendengar bahwa papanya sendiri sudah mengizinkan Udin jadi kekasihnya, itulah surprise terbesar dalam hidupnya meskipun papanya tidak secara langsung bicara padanya, Viana merasa Udin tak mungkin bohong karena mengira dia tidur dan tak mendengar semua pembicaraan mereka. Tatik tersenyum melihat telinga Viana menjadi merah, dia mengacungkan jempolnya pada Udin. Udin pun tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi anak bosnya di kaca spion.  Satu jam kemudian sampailah mereka di tempat resepsi Tarjo, pesta itu tidak semewah pernikahan Pak Sumarga, tapi berlangsung penuh kekeluargaan, tidak seperti pernikahan Pak Sumarga yang mewah tapi miskin suasana kekeluargaan, mungkin karena perbedaan budaya yang menyebabkan keengganan kedua belah pihak untuk saling berinteraksi. Bagi Viana tetap saja pesta itu memojokkan dirinya dan Airin, bahkan disini lebih parah lagi kejadiannya, karena ada seorang pemuda kampung telah berani mencolek dada Airin hingga membuat adiknya menangis, hingga terpaksa Tatik mengajak Udin untuk langsung pulang setelah bersalaman dengan Tarjo.
    “Selamat ya mang” begitu sepatah kata dari Viana begitu menyalami Tarjo
    “Iya, terima kasih non mau datang kesini. Eh, jangan panggil mang lagi ah, aku kan belum 40 tahun, panggil mas aja ya non, kan baru nikah nih”
    Viana mengangguk tersenyum kecil menahan kekecewaan hatinya “Iya deh mas, selamat ya”
    “Nah lho, berarti ke aku juga jangan panggil mang, mas aja ya biar lebih akrab gitu” celetuk Udin yang menunggu antri salaman di belakang Viana.
    Viana mendelik “Ihhh maunya…yeee” sambil tertawa kecil, sambil menggandeng adiknya yang salaman terlebih dulu dengan mata sembab akibat insiden colekan tadi.
    “Cici di depan ah..” kata Airin karena melihat di depannya ada pemuda yang tadi mencoleknya bersama dengan para pemuda lainnya.

    Baca Juga Cerita Seks Balada Viana 2: Birth of the Slut

    Viana pun agak ngeri melihatnya, jadi dia sengaja menunggu Udin bersalaman dengan Tarjo di belakangnya. Udin seakan tau masalah nona majikannya, dengan beraninya menggandeng bahu Viana seakan mereka sedang pacaran, padahal dipesta sebelumnya Viana sudah menolak tangan itu. Tapi kali ini Viana membiarkan tangan kekar Udin memegang bahunya, entah karena ketakutan melihat kumpulan pemuda kurang ajar tadi atau memang sengaja membiarkan Udin berbuat demikian. Airin pun memandang aneh pada cicinya yang mau saja dipeluk oleh pembantunya seperti itu, tapi dia tidak berpikir panjang, keinginannya adalah untuk secepatnya pergi dari situ. Terdengar suitan waktu mereka melewati kumpulan pemuda tadi, tapi mereka tidak lagi berani mengganggu Airin, entah kenapa. Mereka berempat kembali dalam perjalanan pulang, kali ini benar-benar pulang ke rumah Viana. Kali ini pula Viana dan Airin benar-benar tertidur dalam keadaan lelah. Udin mengedipkan mata dan Tatik tersenyum penuh arti. Rupanya Tatik telah mengetahui keadaan yang terjadi pada anak tirinya, segera saja  dia melapor perkembangan keadaan Pak Sumarga pada Kosim kakaknya yang masih di Jakarta. Dari Kosimlah Tatik mendapat kabar bahwa memang rencana Kosim untuk mengorbankan kedua putri Pak Sumarga pada Udin dan Tarjo sehingga Tatik tidak mendapat saingan dalam mengambil sisa-sisa kekayaan Pak Sumarga. Sayang sekali Tarjo malah memilih menikah dengan gadis lain. Dalam keluarga Chinesse, seorang anak gadis harus ikut suaminya dan memang tidak berhak mendapat warisan kecuali kalau memang diberikan oleh orangtuanya secara sukarela atau karena tidak ada anak lain yang lebih berhak. Keadaan inilah rupanya yang akan dimanfaatkan Kosim untuk membalas perlakuan Pak Sumarga padanya dahulu. Tentu saja Tatik sangat mendukung rencana kakaknya itu, maka dia sengaja membiarkan Viana dalam kekuasaan teman-teman kakaknya.

    ###############################
    Chapter 5

    Jam 8 malam ketika mereka berempat sampai di rumah yang lebih tepat dibilang toko. Kantuk Viana segera saja hilang, digantikan oleh rasa tidak nyaman akibat keringat yang keluar sepanjang hari tadi, ditambah lagi dalam mobil tadi penuh dengan aroma bau badan Tatik dan Udin, untunglah mobil mereka ber AC sehingga bau itu menjadi agak tawar. Mereka semua masuk dalam kamarnya masing-masing. Segera saja Viana dan Airin mandi membersihkan sisa kotoran dan make up yang menempel pada tubuhnya. Kedua kamar kakak beradik itu letaknya berhadapan dipisahkan oleh ruang keluarga berukuran 5×4 m. Sebagai gadis belia, keduanya mempunyai privasi sendiri-sendiri sehingga keduanya sepakat untuk tidak memasuki kamar tanpa seizin yang punya kamar, disamping itu pintu kamar mereka terbuat dari kayu jati yang terkenal kuat dan tebal membuat kedua gadis itu merasa nyaman dalam kamar masing-masing. Viana masih mengenakan baju daleman dari gaun yang dipakainya tadi. Ia merasa enggan mengganti baju daleman yang terbuat dari kain sutra pilihan itu. Yang penting gaun luarnya sudah dilepas barulah ia merasa nyaman dari rasa panas. Baju dalem berwarna putih bening itu memang pas sekali kalau untuk tidur, hamper mirip daster, namun lebih ketat dan lebih mewah tentunya. Kulitnya yang putih menjadi agak kekuningan diterpa cahaya lampu neon dikamarnya.  Saat itu ia masih bersantai sambil merebahkan badan di kasurnya. Ia ingin keluar dari kamar itu tapi malu juga kalau membiarkan dirinya dicolakcolek Udin, rasanya gengsi juga.  Tubuh Viana terkapar diatas ranjang angin semilir dari jendela yang sedikit terbuka menelusuri kedua kaki Viana sampai ke selangkangannya, terasa sejuklah seluruh tubuhnya.  Setelah mandi air hangat, hilanglah rasa lelahnya akibat kegiatan hari itu yang lumayan padat. Rasa nyaman yang dirasakan tubuhnya kembali membuat Viana merasa sendiri, apalagi papanya tidak dirumah, sedangkan Airin tentu sudah tertidur dikamarnya tanpa mau diganggu. Disaat-saat seperti itulah pengaruh gendam cabul dari Udin dan Tarjo bekerja. Pikiran Viana membayangkan Tarjo, pria yang dianggap telah mempermainkan perasaannya itu tentu sedang bersenang-senang menikmati malam pengantinnya, ada rasa panas dalam dadanya akibat cemburu. Cemburu? Pikirnya, sedetik kemudian pikiran itu hilang kembali mengingat Tarjo adalah jongos papanya, tentu dia tidak pantas untuk merasa cemburu. Hanya tinggal Udin yang tertinggal dalam benaknya. Terngiang kembali kata-kata Udin dalam mobil tadi siang sewaktu dirinya pura-pura tidur.Tiba-tiba terdengar bunyi SMS masuk dari HP Viana, dengan malas Viana membaca isi sms itu, ternyata dari Udin. Ada rasa bangga dalam hatinya, ternyata Udin benar-benar mencintainya, tidak seperti yang dia kira sebelumnya. Sebelumnya dia mengira Udin seperti pria lain yang hanya menginginkan tubuhnya, Viana menyesali kekeliruannya selama ini. Pandangan cabul yang selama ini selalu terpancar dari mata Udin kini mulai dirasakan Viana sebagai pernyataan cinta. Kata-kata cabul yang pernah dikeluarkan pembantunya itu pun terngiang-ngiang kembali dalam sanubarinya dan dirasakannya sebagai kata-kata cinta yang begitu menginginkannya.

    Viana seperti juga gadis normal seumurnya tentu menginginkan cinta dalam hidupnya, setelah dia mengalami kegagalan waktu pacaran di Jakarta dulu. Viana tidak lagi peduli meskipun di desa itu hanya ada para pemuda kampung yang dulu selalu dijauhinya karena merasa tidak level bergul dengan mereka, tapi kenyataan sekarang dia tidak punya pilihan lain karena sejauh mata memandang yang ada hanya pemuda-pemuda kampung. Sudah hampir setahun Viana tinggal di desa itu, dan lama kelamaan dirinya mulai tertarik dengan fisik para pemuda kampung yang rata-rata hitam, kekar dan berotot, namun ketertarikannya itu dibatasi oleh sikap papanya yang selalu menentangnya jika ketahuan berhubungan dengan mereka. Karena itulah Viana rela berhubungan dengan Udin dan Tarjo, sampai rela pula telanjang bulat di depan mereka dan membuat kedua pembantunya mengalami klimaks meskipun hanya dengan tangan dan lidahnya. Viana samasekali tidak menyadari semua itu karena ulah kedua pembantunya juga yang selalu menanamkan gendam cabul dalam pikirannya sejak awal mereka bekerja, malah gadis sipit itu menjadi terobsesi pada penis kedua pembantunya yang memang jantan dan perkasa itu. Udin dan Tarjo pada awalnya memang hanya ingin mempermainkan putri bosnya karena permintaan dendam dari Kosim, yang terhitung teman atau kakak seperguruan mereka, namun melihat kemajuan usaha Pak Sumarga, mereka semakin berniat buruk, selain menghancurkan nama baik Viana sekaligus menaklukkannya juga ingin merampas usaha keluarga mereka. Viana tidak dapat membayangkan tubuh pria lain selain Udin dan Tarjo yang memang pernah dilihatnya telanjang, jadi ketika pikiran cabul itu datang, tentu tubuh kekar kehitaman milik Udin yang menghantui otaknya. Dia berusaha membuang bayangan Tarjo, karena tidak ingin membayangkan pria yang sudah menikah. Begitu juga malam itu Viana begitu resah membayangkan keperkasaan Udin ketika membuatnya orgasme untuk pertama kalinya meskipun tanpa adanya hubungan badan diantara mereka. Viana merasa celana dalamnya menjadi  lembab hingga terasa agak basah. Pikiran Viana sibuk membayangkan bagaimana dia akan menjawab tembakan Udin beberapa hari yang lalu, dia merasa gengsi juga, namun senang karena menurut Udin, papanya telah menyetujui kalau Udin mendekatinya, ini berarti lampu hijau juga untuknya. Viana saat itu masih belum mengerti tujuan Pak Sumarga mengizinkan pembantunya mendekati putrinya sendiri, tapi Viana tidak mau berpikir terlalu jauh, yang penting sekarang Viana merasa bebas menentukan pilihan hatinya. Dan rasanya Viana sekarang telah memilih Udin sang jongos untuk menjadi kekasihnya, tapi dia masih bingung bagaimana cara menyampaikan pada Udin karena dia merasa gengsi juga apalagi kalau teman-temannya di Jakarta mengetahuinya, tentu dia akan malu sekali.

    “Hmmm duhh koq keluar lagi sih ni cairan” gumam Viana.
    Gadis berkulit terang itu sengaja membuka celana dalamnya sambil tetap posisi di ranjang, lalu melempar celana dalam itu ke sudut ruangan, angin sepoi-sepoipun kembali menghantam pahanya, kali ini menyapu vaginanya yang sengaja dengan maksud supaya kering. Tubuh belianya ternyata memang membutuhkan sentuhan pria, cairan yang keluar itu menjadi saksi seolah menyatakan bahwa tubuh mulus itu ingin segera disetubuhi. Bayangan akan tatapan cabul pada setiap lekuk tubuhnya justru membuat cairan vagina Viana tambah banyak. Sama halnya dengan Udin yang kini sedang berada di dalam gudang tempat kamarnya berada. Setelah mandi dia merasa gairahnya kembali meletup-letup, betapa seharian ini dia bersama dengan Viana yang terbalut gaun yang serba terbuka, memperlihatkan kulit tubuhnya yang bagi Udin sangat mewah itu. Sejak di resepsi Pak Sumarga, mata liar Udin selalu berusaha menelanjangi tubuh mulus Viana dan Airin, meskipun dia sudah melihat tubuh polos Viana, namun tetap saja keinginan melihat lagi tubuh itu datang tiap saat. Udin begitu bernafsu terhadap putri bosnya itu, terutama setelah mendengar Pak Sumarga memberi lampu hijau untuknya. Udin yang cukup cerdik memang agak curiga dengan “lampu hijau” nya Pak Sumarga, maka dari itu sebelum semuanya berubah, dia harus cepat mengambil tindakan untuk segera menaklukkan Viana dengan atau tanpa paksaan. Tubuh putih mulus putri bosnya itu terbayang terus di pelupuk matanya yang cabul dan membuat penisnya berkedut kencang dan membesar. Timbul niat Udin untuk meminta Viana datang lagi kegudang. Udin mulai aksinya dengan mengirim SMS yang isinya mengajak lagi Viana ke kamarnya. Tak lama kemudian Viana membalasnya.
    “Gak mau ah, mang, Via mau istirahat, kalau mau juga Mang Udin kesini pijitin Via”
    Bukan main senangnya Udin membaca SMS dari nona majikannya itu.
    “Lho, koq non masih bilang mang? Tadi siang kan non setuju panggil mas biar mesra gitu”
    Di dalam kamarnya tampak Viana tersipu membaca sms balasan Udin itu, rasanya janggal sekali melakukan panggilan yang tidak pernah dia ucapkan sebelumnya. Tapi keadaannya saat itu yang sedang dilanda gairah birahi, tentu saja semua sms dari Udin ditanggapinya dengan hati yang berdesir.
    “udah deh, kesini aja pijit Via sekarang ya, tapi masuknya lewat jendela aja biar gak ada yang tau” Viana merasa risih sekali kalau ada yang melihat Udin masuk ke kamarnya, jadi melihat jendela kamarnya yang sengaja dibuka, ia segera mendapat ide cemerlang.

    Kamar Viana terletak di lantai dua dan kebetulan tepat di atas gudang tempat kamar Udin. Jendela kamar Viana sebetulnya menghadap tembok rumah tetangga hanya dibatasi oleh celah ruang kosong sepanjang 1 meter yang gunanya untuk menerangi gudang agar tidak berbau dan tidak lembab. Udin pun dengan cekatan memanjat dinding dari arah gudang, berbekal kemampuannya sebagai bekas pencuri kampung akhirnya Udin berhasil mencapai jendela kamar Viana yang setengah terbuka, namun cukup untuknya dapat masuk ke kamar anak gadis bosnya itu. Menyadari Udin akan datang ke kamarnya, Viana segera memakai kembali celana dalamnya, dia tidak mau Udin mengetahui keadaannya barusan yang asyik berfantasi dengan pembantunya itu, tapi dia masih mengenakan baju sutra halus yang merupakan baju dalam dari gaun yang dipakainya tadi siang. Melihat Udin telah masuk kamar melalui jendela, jantung Viana berdebar kencang, baru kali ini dia berani memasukkan seorang laki-laki dalam kamarnya. Segera Viana berdiri di samping meja belajarnya. Udin menyeringai mesum pada Viana. Vianapun balas tersenyum pada Udin.
    “mang, tolong pijit punggung Via ya, seharian ini pegal baget” kata Viana. Udin sebenarnya mengerti Viana hanya pura-pura minta dipijat, tapi diapun menuruti keinginan Viana.
    “boleh non, tapi kan syaratnya kudu ganti panggilan tadi, ayo panggil mas, jangan malu-malu gitu ah” kata Udin sambil mencolek pantat Viana yang berjalan di depannya.
    Viana otomatis berbalik, tapi wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, malah tersenyum manja.
    “ehh maunya tuh! .. pijat dulu, baru dipanggil mas.. hehehe” Viana langsung telungkup di atas ranjangnya.
    Tanpa diperintah dua kali Udin langsung naik ke ranjang Viana yang berseprai putih, tangannya mulai bekerja meraba pundak halus Viana, lalu pelan-pelan memijatnya sampai ke punggung. Matanya menatap liar menelusuri sekujur tubuh Viana yang hanya dibatasi oleh selapis pakaian dalam sutra mahal yang dikaitkan kelehernya oleh seutas tali tipis.
    “hehehe non Via kangen ya sama dipijat sama mas” seringai Udin sambil tak hentinya menahan liur melihat keindahan tubuh Viana. Tapi Viana tak menjawabnya. Lima menit kemudian Viana tiba-tiba membalikkan tubuhnya menjadi posisi telentang, wajahnya kini berhadapan langsung dengan wajah Udin yang agak kaget karena tadi sedang asyik-asyiknya menikmati kehalusan kulit pundak Viana yang terbuka.
    “Papa pernah bilang apa tentang Via?” tanya Viana, matanya menatap Udin.
    Udin cepat mengerti, pertanyaan itu tentu karena pembicaraannya dengan Tatik tadi siang yang sengaja supaya didengar Viana.

    “Sebenernya papa non minta supaya mas ngawinin Via” jawab Udin
    “Terus mas jawab apa sama papa? Kenapa papa bisa sampai bilang gitu?”
    “Ya, mungkin papa non sudah kepingin punya cucu, lagian non Via kan sudah bisa dikawini” jawab Udin seenaknya.
    “Terus mas jawab apa?” tanya Viana makin tak sabar
    “aku sih mau non, justru mas udah ngebet sama non Via dari dulu, Cuma tinggal non Via nya aja, mau ga kawin sama mas?”
    Kalau saja posisi Viana tidak sedang telentang, tentu dia sudah membuang mukanya karena malu ditanya seperti itu oleh pembantunya sendiri, tapi posisinya mengharuskan Viana memperlihatkan ekspresi wajahnya yang merah, bukan karena marah, tapi malu dan hatinya berdebar kencang. Udin maklum reaksi seorang gadis seperti itu artinya setuju. Perlahan Udin mendekatkan wajah mesumnya ke wajah Viana yang putih oriental, lalu bibirnya mulai menciumi bibir Viana dengan lembutnya tanpa perlawanan dari Viana, malah Vianapun membalas ciuman itu dengan mesranya.
    “Gimana non? Mau kan dikawin sama mas?” bisik Udin ditelinga Viana sambil terus menciumi leher gadis itu.
    “ehhh hmmmmmm, memangnya mas mau kapan?”
    “non maunya kapan?” Udin balas bertanya.
    “ehhmm, abis Via lulus aja, gak lama lagi, gimana?” jawab Via
    “mungkin maksud Via nikah ya, wah kalau mas diajak nikah sih kapan juga mau, maksudnya kawin tadi tuh ngentot, ngerti  ga kamu Via?” jawab Udin sambil menyeringai mesum di depan wajah Viana.
    “Idiih mas, Via kirain resepsi, tapi mas benerkan mau nikahin Via?”
    “ya pasti mauu dong Via, kalau sudah nikah kan kita bisa ngewe tiap hari, gak usah sembunyi-sembunyi kayak sekarang, tapi gak apa-apa gitu Via nikah sama mas, kita kan beda keturunan, terus mas ini kan hitam, jelek, gak kayak Via, udah cantik, putih, muluss lagi”
    “Ya gak apa-apa mas, yang penting masnya serius dan papa juga setuju, Via mah suka-suka aja dikawinin…eh di nikahin sama mas Udin” jawab Viana polos tersipu.
    Udin yang tadinya hanya mau “kawin” merasa senang bukan main bakal mendapatkan istri anak bosnya sendiri yang tentu saja hidupnya akan sangat terjamin tanpa dia harus bekerja keras.
    “kawinnya sekarang aja yu non” ajak Udin
    “Koq mas masih panggil non sih? Panggil Via aja” jawab Viana sambil membiarkan saja tangan Udin merengkuhnya sampai posisinya menjadi duduk.

    Matanya memperhatikan Udin yang sedang membuka baju dan celananya hingga tersisa hanya celana dalam, Tubuh hitam Udin terlihat kekar dan tampak jantan sekali bagi Viana. Dirinya duduk di tengah-tengah ranjang memperhatikan tubuh pembantunya yang sedang mendekatinya. Jari-jari tangan Udin yang kasar membelai rambut Viana dari belakang. Udin mulai menciumi kulit leher Viana sampai ke daerah kuping. Tentu saja Viana merasa geli, tapi dia menahannya bahkan birahinya malah naik. Setelah puas menciumi wajah dan leher Viana, Udin mulai menurunkan tali penyangga dari bahu Viana hingga melorot sampai ke pinggang, dan tampaklah kulit mulai dari bahu, dada dan perut yang sangat putih. Udin semakin bernafsu melihatnya, Lidahnya menjilati kulit tubuh Viana itu dan menciuminya sementara tangannya melepas bra gadis itu hingga terlihatlah payudara Viana yang juga sangat putih dengan putting mencuat kemerahan. Memang ukuran payudara Viana tak terlalu besar, namun sangat proporsional dengan bentuk tubuhnya.  Viana yang memang sedang dilanda birahi, membiarkan saja ketika mulut Udin dengan bibir tebalnya mencaplok payudaranya dengan buas. Lidah Udin bermain-main di putting Viana dengan gerakan memutar-mutar, sesekali menyedotnya. Viana makin hilang kendali diperlakukan seperti itu, tangannya memeluk punggung Udin. Puas mempermainkan tubuh bagian atas Viana, Udin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda yaitu melepas baju dalam Viana yang cuma selapis itu, sekalian dengan celana dalam Viana. Kini poloslah tubuh Viana tanpa sehelai benangpun yang menempel pada tubuhnya dihadapan Udin. Udin ternganga melihat tubuh gadis di hadapannya, sungguh putih sekali, berbeda dengan yang dilihatnya sewaktu mereka didalam gudang yang hanya fiterangi oleh cahaya lampu kuning. Sekarang dalam kamar Viana yang diterangi lampu neon tampaklah tubuh Viana begitu indah, putih mulus menggairahkan siapapun pria yang melihatnya. Dilihat seperti itu Viana merasa bangga sekali dengan tubuhnya, ia merasa bangga bisa memuaskan “calon suami” di hadapannya itu.
    “kenapa melihat seperti itu mas?”
    “Via, kamu cantik sekali kalau polos seperti ini, badan kamu putih sekali Via, mas belum pernah liat badan gadis seperti ini”
    “Mas suka?”
    “Suka sekali non, eh Via. Ayo, sekarang kamu baring dulu aja, kakinya agak dibuka ya, mas mau periksa memek kamu.”
    Viana yang diam-diam menyukai pemuda pribumi seperti Udin, tak menolak kata-kata Udin tadi, langsung saja melakukannya.

    Vagina Viana terlihat kemerahan dengan bulu-bulu halus di sekitarnya yang tertata rapi dan masih dalam keadaan tertutup. Tangan Udin membuka vagina Via perlahan-lahan, terlihat genangan cairan di sekitar kulit penutupnya.
    “Wah, koq sudah basah begini ? Via sudah kepingin ya..”goda Udin sambil menjilati lender yang membasahi vagina Via.
    “Aduhh mas, enakkk…” rintih Viana.
    “Tuh kan non, enak.., kakinya buka lebih lebar lagi ya”
    Tangan kasar Udin membuka kedua kaki Viana lebih lebar, lidahnya terus menjilati permukaan Vagina Via, sesekali lidah itu masuk ke dalamnya tapi belum bisa terlalu dalam.
    10 menit Udin mengerjai vagina Viana membuat gadis itu orgasme kala lidah Udin menyapu bagisn dalam vaginanya, Via tak kuat lagi menahan gelora birahinya, dengan rinihan panjang gadis itu melepas orgasmenya. Kali ini giliran Viana memainkan penis  Udin yang sudah bugil. Penis itu sudah tegak sepenuhnya. Udin berdiri di hadapan Viana yang bersimpuh dengan wajah di depan penis Udin yang sedang ereksi total. Viana pun semakin jelas melihat penis Udin dibandingkan dengan waktu dalam gudang. Cahaya terang lampu neon seolah memperlihatkan detail alat kelamin pria yang sebentar lagi akan mengawininya itu. Viana kagum juga dalam hatinya, penis Udin yang tegak 20 cm itu terlihat sangat besar, hampir sepanjang wajahnya. Via mulai memasukkan penis itu dalam mulutnya. Udin memejamkan matanya, tak kuat melihat tubuh putri bos di depannya yang sedang bersimpuh mengulum ujung penisnya sambil sesekali mengocoknya pelan. Namun efek dari kocokan tangan Viana yang halus itu sungguh luar biasa dirasakan Udin, tak pernah ada pelacur yang disetubuhinya memiliki kehalusan dan kelembutan seperti kulit Viana. Sepuluh menit kemudian, Udin merebahkan tubuh Viana di ranjangnya.
    “Via, belum pernahkan ada kontol yang masuk?”
    Viana menggeleng, memang selama ini belum pernah ada yang menyetubuhinya. Keperawanannya hilang juga karena permainan tangan pacarnya dulu.
    “mau dicoba ya, sekarang”
    Tanpa menjawab, Viana merenggangkan kedua pahanya, berarti gadis itu telah siap menyerahkan tubuhnya pada Udin. Udin bersiap memasukkan penisnya yang keras seperti besi, daritadi dia disuguhi pemandangan tubuh polos seorang gadis, tentu saja penisnya yang sudah terlatih itu tegak terus, apalagi sekarang melihat Viana membuka kedua pahanya yang amat putih hingga ke pangkalnya, dan terlihatlah vagina yang kemerahan itu telah siap menanti penisnya.

    Tangan Udin membimbing penisnya sendiri menjejali vagina Via, tapi gagal, penis itu meleset kepaha Via, sentuhan kepala penisnya dengan kulit halus paha Via membuat sensasi tersendiri, membuat penis itu semakin tegang. Tusukan kedua agaknya berhasil membuat kepala penis itu masuk menyeruak vagina. Viana memejamkan mata sipitnya, tampak menikmati sekali malam pertamanya bersama Udin itu, ingin rasanya memuaskan pria di atas tubuhnya yang dikira nantinya bakal menjadi suami. Vaginanya pun menjadi semakin basah, dan itu malah memudahkan penis Udin memasukinya. Pelan-pelan kepala penis Udin masuk menembus kesempitan celah kemaluan gadis yang sudah pasrah itu. Kerasnya batang penis itu amat dirasakan oleh Via, betapa vaginanya kini mulai terasa penuh dan hangat, meskipun ada sedikit rasa nyeri dan perih saat penis itu berhenti memasukinya.  Tiba-tiba Udin menarik penisnya keluar setelah tadi dirasakannya menabrak sesuatu. Tampaklah sedikit darah di sekitar kepala penis Udin.
    “Via, masih ada sisa keperawanan kamu nih” katanya bangga ternyata masih tersisa keperawanan Viana yang tidak semuanya terenggut jari-jari Johan, mantan pacarnya. Viana tersenyum manis
    “yah, buat mas aja”
    Kembali Udin memasukkan penisnya, kali ini terasa lebih mudah, tapi tetap perlahan agar gadis itu tidak merasa sakit. Ketika Udin mulai memompanya pelan, rasa nyeri itu lama-lama hilang dan vaginanya serasa ditembus benda padat yang keras dan hangat. Cairan vagina Via sangat membantu Udin melancarkan gerakannya, kini vagina Via terasa licin oleh pelumas yang dihasilkannya sendiri, membuat pompaan Udin semakin cepat. Viana terlihat melentingkan tubuhnya tanda telah mencapai orgasme. Sementara Udin tanpa henti terus memompa lubang vagina Via, penis besar itu menabrak-nabrak dinding rahim Viana membuat Viana merasa diawang-awang hingga orgasme berkali-kali.
    Tubuh hitam sang pembantu itu tampak perkasa sekali menyetubuhi tubuh halus anak majikannya yang amat putih dan halus. Namun kedua manusia itu terus tenggelam dalam lautan nafsu birahi tanpa mempedulikan status sosial yang sebenarnya. Tubuh kekar sang pembantu terlihat naik turun diatas tubuh mulus putri majikan. Sang putri pun merintih menikmati setiap hentakan dan sodokan pria yang menyetubuhinya. Sementara Udin, si pembantu itu semakin memuncak birahinya, tatkala posisi mereka berubah menjadi gaya doggy, pemandangan punggung Viana yang putih halus, ditambah jepitan vaginanya amat membuat penisnya berkedut. Cerita Maya

    Menyadari dirinya akan keluar, Udin segera membalikkan tubuh Viana seperti posisi semula, namun tanpa mencabut penisnya.
    “Via, kamu lagi masa subur?” tanyanya sambil terus menggenjot Via.
    Viana menggeleng sambil tetap memejamkan matanya, terus menikmati tiap gerakan Udin.
    “Semprot di dalem ya?” bisik Udin.
    Viana tidak menjawab, pikirannya sedang terbang menikmati  persetubuhan pertamanya.
    Udin semakin mempercepat pompaannya. Viana merintih-rintih agak keras saat dirasakan penis Udin berkedut dalam vaginanya, nalurinya sebagai wanita seakan memberitahu bahwa pria yang menyetubuhinya akan orgasme juga. Namun pompaan Udin begitu dalamnya hingga membuat Viana orgasme untuk kesekian kalinya, secara reflek Viana memeluknya erat tanda diapun sangat menikmati orgasmenya itu. Udinpun tak bisa menahan lebih lama lagi spermanya segera menyembur deras dalam rahim Viana. Lidahnya memainkan lidah Viana membuat gadis itu mengusap-usap punggung Udin yang sedang menyelesaikan hasratnya. Dirasakannya juga penis Udin memuntahkan cairan hangat di dalam vagina membuat hangat juga rahimnya. Lima menit mereka meresapi kenikmatan terakhir itu sebelum akhirnya Udin mencabut penisnya. Mereka saling berpelukan, tampak wajah Viana merona merah tanda gadis itu merasa sangat puas, Udin pun menutup matanya menikmati kepuasan tak hingga yang baru saja dialaminya. Setelah dirasa cukup lama, badan merekapun terasa lelah. Lelehan sperma terlihat di celah lubang vagina Via yang sekarang telah bolong.
    “Mas, mandi dulu yuk..” ajak Viana. Udin mengangguk dan langsung membopong tubuh bugil Viana ke kamar mandinya yang terletak dalam kamarnya juga. Sisa air bekas tadi mandi masih terasa hangat, mereka berdua berendam dalam bathtub. Udin merasa berada di surga, baru kali ini dia mandi dalam kamar mandi yang mewah seperti itu. Selesai mandi merekapun tertidur pulas, letih akibat kegiatan resepsi tadi siang, juga letih akibat senggama tadi.

    ###############################
    Chapter 6

    Malam itu, ditempat yang berbeda, Pak Sumargapun terlihat habis melepas hajatnya, dia tertidur dalam pelukan Tumirah istri barunya yang amat muda. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa putri pertamanyapun saat itu tengah bermalam pengantin bersama Udin, pembantu tangan kanannya.
    Malam yang sama, nun jauh di kota Jakarta sana, Kosim terlihat menyeringai puas sekali memandangi tubuh telanjang wanita di dekatnya yang sedang tidur dalam keadaan telanjang bulat. Keadaannya mirip seperti keadaan Viana putrinya.Nyonya Irene terlihat puas sekali dalam tidurnya setelah sebelumnya Kosim memberi jatah kenikmatan padanya. Sesekali dilihatnya bunyi sms dilayar HPnya.
    “Mas, malam ini dendam mas mulai terbalas, cewek itu sudah jadi milik Udin malam ini, rencana kita berhasil”
    Tersungging senyum kejam di bibir Kosim melihat sms dari Tatik adiknya, Viana, gadis anak mantan majikannya yang membuatnya terusir dulu kini telah bisa dihancurkan. Sebentar lagi Airin, lalu semua usaha majikannya dapat dikuasai berikut tubuh telanjang yang tidur dalam pelukannya sekarang ini. Jam telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari, Kosimpun tertidur dengan pulasnya sambil membayangkan keberhasilan semua rencananya kelak…..

    Bersambung…
    By: Dream Master

  • Balada Viana 2: Birth of the Slut

    Balada Viana 2: Birth of the Slut


    213 views

    Chapter 1

    Viana

    Cerita Maya | Suasana terdengar hiruk-pikuk dalam kelas XII IPA-2, semua murid terlihat gelisah dan berharap Pak Joko tidak memberikan ulangan kimianya hari ini. Viana pun tampak agak cemas, karena iapun merasa belum siap untuk ulangan hari itu, tapi posisi sebagai anak pintar di kelasnya membuat Viana berusaha untuk tidak menampakkan kecemasannya. Saodah yang duduk di sebelahnya malah sibuk bertanya cara membuat isomer dari C7H16O, untunglah Viana cukup menguasai bagian isomer sehingga dia dapat menjelaskannya pada Saodah.

    “ Hmmm untung ga tanya masalah reaksi senyawa….hehehehe” pikirnya lega.

    Saodah yang polos merasa Vianalah satu-satunya teman yang baik dan mau mengajarinya, sedangkan Viana merasa Saodah adalah teman yang lugu dan layak menjadi temannya. Tidak seperti teman-teman wanitanya yang lain yang berkesan menjaga jarak dengannya. Memang di sekolah itu Viana menjadi incaran hampir semua murid pria, dan kenyataan ini membuatnya agak dijauhi oleh teman wanitanya karena iri atau cemburu. Dijauhi wanita adalah efek dari banyak didekati pria, itu adalah hukum alam yang terjadi pada Viana. Kecantikan, tubuh indah, kulit putih, halus dan lembut adalah kenyataan yang sulit diterima oleh murid wanita lain terutama yang pacarnya malah sibuk mendekati Viana. Untunglah para guru di kota kecil itu rata-rata sopan, tidak seperti guru-guru di sekolah Viana dulu, banyak yang mesum pada muridnya. Belum setahun Viana di sekolah itu, prestasinya sudah sangat menonjol, ini membuat para guru kagum pada Viana yang selain cantik tapi juga cerdas. Tapi bagi Viana sekolah di desa itu sangat mudah, tidak seperti di kota besar yang sangat sulit. Karena itu Viana menganggap terlalu berlebihan kalau mengira dirinya sepintar itu, mungkin itu karena kemampuan anak-anak yang lain memang di bawahnya. Cerita Maya

    “Baiklah anak-anak, ulangan kimia diundur sampai lusa” pengumuman dari Pak Joko seperti air di tengah gurun, semua anak menarik nafas lega, “hari ini ada rapat awal tahun dari kepala sekolah, jadi pelajaran hari ini cukup sampai disini, kalian boleh pulang dan belajar di rumah. Selamat siang anak-anak!” Pak Joko kembali mengumumkan berita gembira, makin riuhlah suasana kelas karena sudah bisa pulang jam 10 pagi.

    “Viana, Viana… pulang bareng yuk, aku antar ya…!” terlihat Ridwan beserta segerombolan anak dari kelas sebelah menghampirinya.

    “Aduh sory, aku lagi tunggu dijemput, barusan sudah sms” kata Viana berusaha menolaknya. Ridwan yang terkenal playboy malah cengengesan sok cakep tapi ancur.

    “ Dijemput siapa neng? Mending sama aku, bisa sambil jalan-jalan”

    “ Gak deh, lain kali ya wan, aku sudah minta dijemput papa”

    “Owh, ok deh tuan putri” kata Ridwan menyerah diikuti oleh tawa teman-temannya yang namanya pun Viana tidak tahu.

    Sesaat kemudian tatapan Viana seperti kosong, gadis itu terkenang pada SMA nya di Jakarta, saat seperti ini mungkin dia sedang ke mall bersama Sylvi, Fang-fang, Susan teman mainnya atau malah Johan mantan pacarnya yang brengsek itu. Sesaat timbul rasa kesendirian dalam hati Viana, dia menyadari bahwa dirinya tidak terbiasa sendirian seperti itu, ia ingin banyak teman main seperti dulu, ataupun seorang pria yang dapat selalu menemaninya tapi disini jangankan teman, mencari pria yang sesuai seleranya pun sangat sulit. Yang ada di sekelilingnya kini hanyalah anak-anak kampung yang sudah pasti tidak sesuai dengan selera gadis bermata sipit itu. Tiba-tiba juga Viana kangen mama… drrrrttttdrttttttdrrrrt…Viana membuka handphonenya yang baru saja bergetar tanda sms masuk. “TUNGGU 15 MENIT LAGI NON, INI BARU BERANGKAT”. Viana tersenyum kecil membaca sms itu, ia tidak mengira Udin dan Tarjo bisa mendekatinya. Mereka terlihat seperti pemuda kasar di Jakarta dulu, tapi ternyata cuma mereka berdua yang bersikap baik padanya dan adiknya, meskipun tatapan mereka padanya selalu mengarah pada hal-hal cabul, namun justru itu yang membuat Viana senang ada yang menginginkannya disaat dia sedang kesepian dan entah mengapa hatinya selalu bergetar jika dipandang oleh mereka bedua, terutama oleh Tarjo. Padahal mereka berdua sama sekali bukan tipe pria yang disukai Viana dilihat dari penampilan, wajah ataupun ekonomi. Dengan langkah santai Viana bergerak menuju ke gerbang sekolah, tampak Airin, adiknya sedang dikerumuni anak-anak sma, Vianapun bergegas menghampiri adiknya.

    “Rin, tunggunya didalam sekolah aja yuk.., jangan disini”

    “Sebentar cie, aku lagi beli basotahu” rupanya Airin sedang beli makanan di gerbang depan sekolah, sementara anak-anak smu yang tadi mengerumuninya kembali menggoda Airin.

    “Oooo, nama kamu Rini yaaa, tadi itu kakak kamu kan? Koq sombong sih Rin…”

    “Kenalan dooonggg……”

    “kamu mirip kakaknya yah, sama-sama cantik….”

    “ Rinrin, udah kedatangan bulan belum….hahaha”

    “ Rin, kakak kamu udah punya pacar belum?”

    “kamu sudah ada yang punyakah?”

    “ Rin, nama Cina kamu apa? Rinmoy gitu?”

    Begitulah godaan demi godaan yang ditanggapi Airin dengan cuek dan tanpa menjawab sedikitpun.

    Airin

    “Ini basotahunya neng” tukang baso tahu pun cengengesan melihat tampang Airin yang kemerahan karena panas matahari.

    Segera Airin mengambil mangkok basotahunya lalu lari menuju Viana kakaknya. Dari jauh Viana melihat anak-anak smu maupun tukang baso tahu melotot kearah betis putih Airin yang berlari menjauhi mereka. Suit-suitpun terdengar dari arah gerombolan anak smu itu.Viana tampak dongkol sekali melihat adiknya yang masih 3 smp digoda teman-teman smanya sendiri, tapi dia lega karena Airin tidak menanggapi mereka. Viana dan Airin sama-sama menunggu jemputan diareal sekolah sambil makan basotahu.

    “Kamu kenal mereka tadi rin?”

    “enggak tau cie, mereka kan teman-teman cici, harusnya aku yang tanya cie-cie” kata Airin sambil terus melahap basotahunya.

    “Cici juga gak kenal, kayaknya mereka anak-anak IPS tuh, dasar anak cowok”

    “yah biar aja cie, kirain aku cici kenal mereka”

    “kalau kenal, udah cici labrak tuh mereka yang udah gangguin kamu tadi, eh, tuh mang Udin sama Tarjo datang, ayo rin kita pulang” kata Viana meraih tangan adiknya.

    “ Iya cie, antar aku bayar basotahu dulu yah”

    “Yaudah ayo sambil jalan ke depan, motor kan gak boleh masuk ke dalam sini” Viana dan Airin berjalan lagi ke gerbang sekolah menuju Udin dan Tarjo yang menjemput mereka setelah sebelumnya membayar makanan.

    Seperti biasanya, Viana dibonceng Udin dan Airin dibonceng Tarjo. Masih di depan sekolah tangan jahil Udin meraba paha Viana yang tadi sempat tersingkap sewaktu menaiki motornya, secara reflek Viana mencubit punggung Udin dengan wajah merona merah sementara Tarjo senyum-senyum memandanginya. Sekilas Viana melirik Airin yang ternyata memang sedang melihat ke arahnya. Merekapun langsung tancap gas meninggalkan sekolah.

    “Mang Udin, lain kali jangan pegang-pegang via di depan umum, apalagi tadi ada Airin, kan malu, gimana kalau Airin lapor sama papa?!” tegur Viana

    “Iya, maaf non, tadi kirain gak ada yang lihat, trus abisnya mamang kangen sama non Via, udah satu minggu koq ga pernah mampir lagi ke gudang non?” jawab Udin nyengir kuda.

    “Pokoknya Via gak mau dipegang-pegang didepan umum, kemarin via lagi males ke gudang, ga enak badan, pegal-pegal, jadi via istirahat total.” Sahut Viana masih dengan nada galak.

    “pantes aja, kirain non marah sama mamang akibat kejadian minggu lalu itu tuh..hehehe, padahal gak apa-apa non dateng aja temenin mang Udin dikamar, nanti mang Udin pijitin biar ga pegal-pegal.”

    “Lho, memangnya mang Udin bisa pijit ya?”

    “Wah non, mang Udin ini ahlinya, tukang pijit buta dikota aja belajarnya sama mang Udin” sahut Udin tanpa merasa bersalah karena bohong. Viana yang masih berumur 18 tahun dan masih belum bisa mengenal orang dengan baik itupun percaya saja pada kata-kata Udin, di samping Viana memang sering terkena ilmu gendam Udin sehingga untuk mempengaruhi Viana bukanlah hal yang sulit bagi Udin.

    “Kebetulan dong mang, kalau Via lagi pegal bisa dong pijitin Via ”

    “Beres non, dijamin enak deh, pasti non ketagihan mamang pijit”

    Sementara itu, dimotor lainnya pun Tarjo dan Airin sedang mengobrol ringan dan menjurus pada percabulan. “Non Airin koq gak pernah mampir kegudang kayak non Via sih? Mampir dong non sekali-kali” kata Tarjo memulai pembicaraan.

    “Nanti deh mang, kemarin dulu juga cici suka ajak Airin, tapi Airin suka sibuk kalau malam gitu, soalnya rin gak biasa belajar siang, jadi harus malam atau pagi”

    “Siang juga gak apa-apa koq non hehehe…”

    “Lho, siang kan kalian juga kerja ditoko, masa Airin ajak ngobrol, papa bisa marah tuh”

    “OOO iyaya betul juga.. hehehe”

    “yeahhh gimana sih nih mang Tarjo, pikun ya…” kata Airin galak namun ceria.

    “Bukan pikun sih non, tapi karena ada non Airin di belakang mamang jadi gak bisa mikir lurus, apalagi tadi liat non Viana diraba-raba Udin, mamang jadi kepingin.. hehehe tadi non Airin lihat gak?”

    “Iya, tadi liat, koq kalian kurang ajar gitu ya sama cici”

    “hehehe harusnya non Airin tanya cici non, kenapa mau diraba gitu sama si Udin. Kalau cowok sih gak usah ditanya, siapa yang nolak apalagi ceweknya secantik non Viana, mang Tarjo juga mau tuh”

    “Memangnya kenapa mang? Jangan-jangan kalian sering lakuin kalau di gudang” serang Airin mulai curiga.

    “Eh, engga koq non, gak ngapa-ngapain.tapi memang kita suka koq sama kalian berdua, jadi boleh dong cari kesempatan, siapa tau cici non mau.hehehe” kata Tarjo mengelak.

    “Kalau suka kan juga gak usah pegang-pegang segala, gimana kalau ada yang liat, kan nama baik cici bisa tercemar”

    “Iya deh non, nanti mamang marahin si Udin itu. Tapi seandainya cici non mau, non Airin marah gak?”

    “Ya engga dong mang, kalau cicinya mau sich gak masalah, tapi gak boleh paksain lho… harus jantan” kata Airin menggurui, namun dalam hatinya merasa sangat penasaran akan kebenaran cerita pegawainya itu, diam-diam Airin bertekad akan mencaritau apa yang sedang terjadi pada diri cicinya itu.

    Perjalanan pulang menjadi lebih lambat, karena baik Udin ataupun Tarjo sengaja memperlambat laju motor mereka untuk bisa “berduaan” dengan pasangan masing-masing. Tiba di rumah seperti biasa kedua gadis itu langsung masuk ke kamarnya masing-masing, sedangkan Udin dan Tarjo kembali bekerja.

    ###########################

    Chapter 2

    Keseharian Viana dan Airin di desa kecil itu memang monoton, tidak seperti kebiasaan mereka sewaktu di Jakarta dulu yang penuh acara hura-hura. Teman ngobrol mereka memang hanya Udin dan Tarjo, sehingga tidaklah aneh jika mereka terlihat begitu akrab, tidak seperti hubungan nona majikan dan kuli rendahan. Lebih tidak aneh lagi jika orang tahu pelayanan Viana terhadap para kulinya itu dalam gudang sembakonya. Pak Sumarga, ayah Viana mengira hubungan anak dan para kulinya itu hanya karena sering antar jemput sekolah saja hingga tidak curiga sedikitpun ada hubungan terlarang di antara mereka. Tak seorangpun dapat mengira apa yang dipikirkan seseorang, termasuk Udin dan Tarjo, mereka tidak tahu dampak dari apa yang mereka lakukan pada Viana selama ini, bagi mereka yang terbiasa bermain pelacur, perlakuan pada Viana minggu lalu belum ada apa-apanya, sehingga mereka menganggap itu biasa saja. Lain lagi dengan Viana, efek ilmu gendam cabul dari kedua kulinya lambat laun mengakar dalam hati dan pikirannya hingga mempengaruhi hormon seksual dalam tubuhnya. Semburan sperma dari Udin dan Tarjo yang minggu lalu tepat mengenai wajahnya dan malah tidak sengaja tertelan, meskipun sedikit tapi sangat mengena, membuatnya terus mengenang kejadian itu. Terbayang dalam benaknya seringai cabul kepuasan Udin dan Tarjo begitu menuntaskan birahinya. Tidak sabar rasanya Viana menunggu malam tiba, ada sesuatu yang mendorongnya untuk selalu memuaskan birahi Udin dan Tarjo. Viana memang baru pertama kalinya mencicipi sperma laki-laki, namun pengalaman yang tidak disengaja itu justru memicunya untuk senantiasa memuaskan kulinya. Sebagai wanita, ada kebanggaan tersendiri jika bisa membuat Udin dan Tarjo terangsang, apalagi bisa membuatnya ejakulasi. Tatapan cabul Udin dan Tarjo diartikan Viana sebagai penghargaan padanya. Begitu parahnya pengaruh ilmu gendam Udin yang tidak Viana sadari secara perlahan akan membawa Viana pada suatu kehancuran dan sekaligus juga kenikmatan dalam hidupnya. Sore itu Mbok Saroh membawakan makanan di ruang makan keluarga lantai dua. Viana terlihat sexy dengan kaus ketat yang membalut tubuhnya, tapi tidak dapat menutupi keranuman tubuhnya yang beranjak dewasa, celana pendek putih yang dikenakannya tampak serasi dengan potongan bentuk kakinya yang indah. Sementara Airin mengenakan daster terusan warna pink terlihat sesuai dengan karakter feminimnya. Keduanya makan dengan lahap karena masakan mbok Saroh terkenal enak dilidah. Diam-diam Airin memperhatikan cicinya dengan seksama. Merasa diperhatikan, Viana menegur adiknya.

    “ Ada apa rin, daritadi liatin cici terus, ada yang aneh gitu?”

    “Ehmmmmm…. Ga sih ci, Cuma mau tanya…..”

    “Ehh, tanya apa? Kalau tanya pelajaran smp, cici juga banyak lupanya.”

    “Bukan itu cie, rin mau tanya, gimana rasanya dipegang cowok?”

    “Hah? Dipegang cowok? Memangnya siapa yang udah pegang kamu?” Tanya Viana lumayan kaget

    “bukan aku cie, tapi tadi siang aku liat paha ciecie dipegang mang Udin, gimana rasanya? Apa gak risih gitu? Koq cici gak marah?” deggg, gawat!! Pikir Viana..

    “kata siapa aku gak marah, tadi sepanjang jalan si Udin itu cici marahin koq “kata Viana ketakutan.

    “aduh cicie, aku sih cuma mau tau gimana rasanya dipegang gitu? Ga perlu jadi sewot gitu….”

    “Rasanya ya risih banget lah, memang kurang ajar tuh si Udin, aduhhh, cici jadi malu sama kamu nih, Rinnnn, jangan bilang papa yah, please, cici gak mau malu dua kali”

    “hohoho tenang aja cie, gak bakalan rin kasih tau koq, toh papa juga pasti sibuk sama istri barunya itu, mana peduli dia sama kita”

    “Nah, itu betul.!! Ternyata cuma kamu yang peduli sama cici, cici terharu lho rinn”

    “Nahkan kan ciciku yang cantik ini gombalnya lagi kumat tuh, padahal mang Udin juga keliatannya peduli koq sama cici”kata Airin mencoba memancing Viana.

    “Ah, masa sih rin, diakan kuli papa, gak pantes ah” kata Viana dengan wajah tersipu. Tentu saja Airin yang nakal malah makin senang menggoda cicinya itu.

    “Tuh kan kulit muka cici jadi kemerahan, senang ya cie? Mang Udin memang keliatan jantan lho waktu tangannya yang kekar meraba paha cici, jangan-jangan udah sering ya cie?”

    “Ihhh ngaco ah, udah, cici mau belajar buat besok nih” kata Viana meninggalkan adiknya di meja makan, sementara Airin masih cekikikan melihat cicinya salah tingkah begitu. Perasaannya yang tajam segera saja menangkap signal dari cicinya tentang Udin atau Tarjo.

    ####################################

    Chapter 3

    5 jagoan ((Tarjo, Warsa, Darsono, Kosim, dan Udin)

    Kamar dalam gudang itu hanya berukuran 4×3 meter namun cukup nyaman didiami oleh Udin dan Tarjo, apalagi Viana sudah menghadiahi mereka dua ranjang kayu dengan kasur yang empuk ditambah lagi televisi 14 inch plus dvd kecil. Viana membelikan semua barang itu dari uang tabungannya, tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Pak Sumarga, ayahnya. Pak Sumarga hanya tahu Udin dan Tarjo membeli barang-barang itu dengan uang mereka sendiri. Mendapat semua barang-barang itu membuat Udin dan Tarjo merasa mendapat angin dari anak gadis majikannya itu, keduanya tidak sabar ingin segera menguasai Viana yang sudah nyata memberikan lampu hijau bagi mereka. Udin dan Tarjo sengaja membiarkan Viana sendiri yang bergerak mendekati mereka, mereka cukup hati-hati dalam bertindak agar tidak mendapat celaka dikemudian hari. Dengan ilmu gendam itu, tampaknya mereka telah berhasil merebut hati Viana, seperti kejadian malam ini. Tepat pukul 10 malam, Viana telah muncul dipintu kamar mereka dengan senyum manis yang menghias wajah orientalnya. Udin mematikan rokoknya dan tangannya melambai kearah Viana yang hanya beberapa meter darinya sementara matanya mengerling penuh arti pada Tarjo yang duduk tak jauh darinya. Tarjopun mengangguk tanda mengerti isyarat dari rekannya itu. Viana berjalan kearah Udin, sambil matanya sesekali mengerling kearah Tarjo, ada debaran aneh di dadanya sewaktu melewati Tarjo, ini kedua kalinya Viana berdebar-debar di dekat Tarjo, tapi kedekatannya dengan Udin membuatnya lebih kelihatan cuek, kakinya melangkah santai kearah Udin yang memberi isyarat agar Viana duduk di sampingnya. Viana duduk di samping Udin, matanya melihat tempat tidur, dan TV pemberiannya.

    “ Gimana mang, sekarang udah enak ya, udah ada tempat tidur dan televisi buat hiburan”

    “heeh, makasih ya non, memang udah enak sekarang mah, tapi tetep aja lebih enak lagi kalau ada non yang nemenin kita. Hehehe iya gak Jo?”

    “Iya non, kita berdua sering kesepian di sini, kalau ada non, waktu jadi lebih cepet jalannya”

    “Ah mang Tarjo bisa aja, hari ini Via mau nagih janji mang Udin tadi siang, katanya mau pijitin, badan via pegel nih mang” kata Viana yang berusaha menahan debaran jantungnya yang semakin menjadi-jadi waktu Udin juga duduk disampingnya.

    Matanya tidak berani memandang Tarjo, malah selalu melihat kearah Udin di sebelah kirinya, sementara mata Tarjo jelalatan menjelajahi sekujur tubuh Viana terutama pundaknya yang terlihat putih tak tertutup tanktop.

    “Dari tadi udah mamang tunggu koq non, hehehe, sok atuh non baring dulu di ranjang”

    Segera saja Viana telungkup di ranjang baru Udin yang masih empuk. Udin dan Tarjo tercekat memandang paha mulus Viana yang hanya memakai celana kain pendek warna coklat.

    “Mang Udin mulai yah non, oh iya katanya mang Tarjo juga mau bantuin pijit non Via, boleh gak non?”

    Kata Udin menyeringai mesum penuh arti.

    “Mang Tarjo bisa mijit juga? Kalau bisa sich gak apa-apa, tapi kalau gak bisa jangan deh, nanti malah badan via tambah pegal” kata Viana tetap dalam keadaan telungkup, hatinya tambah berdebar, dia juga tahu kedua kulinya sedang jelalatan memandangi tubuhnya, tapi hatinya malah merasa bangga.

    “Bisa dong non, mamang juga biasa pijit orang sakit koq, apalagi non Via cuma pegal-pegal, itumah keciiiil” kata Tarjo.

    “ yaudah kalau bisa sih gak apa, tapi jangan terlalu keras ya mang”

    “ Beres non, Jo, lu bagian kaki ya” kata Udin sambil tangannya mulai memijit punggung Viana.

    Merasa sesuai skenario, Tarjo segera saja menyerbu kaki Viana yang sudah di depannya. Udin dan Tarjo pun sibuk memijit tubuh Viana, sambil sesekali meraba bagian sensitif gadis itu. Perasaan Viana sudah tidak karuan, campur aduk antara tegang, malu, pegal,berdebar, risih, geli dan juga bangga. Apalagi Tarjo yang memijat kaki, sambil sesekali meraba paha, membuat Viana makin tak bisa bergerak karena tegang. Dari kedua kuli yang berusaha mendekatinya itu, Viana memang tidak berusaha menghindarinya karena hatinya sudah menyambut signal dari mereka, tapi hanya Tarjo yang lebih bisa membuat hatinya bergetar. Sekarang orang yang telah menggetarkan hatinya itu malah sedang memijit kakinya, ini pertama kalinya tubuh Viana disentuh oleh pria, Johan sendiri yang dulu adalah pacarnya tidak pernah berbuat seperti ini padanya. Dia terkenang pada keperawanannya yang terenggut oleh tangan pacarnya waktu sedang petting. Gairahnya tiba-tiba bangkit. Udin yang bertugas memijit punggung, tangannya selalu nyasar ke bagian pinggir dadanya yang lunak. Tarjo yang sudah sedari siang selalu terbayang paha Viana yang putih diraba Udin sekarang sudah bisa merasakan kelembutan dan kehalusan kulit Viana secara langsung dengan tangannya yang kasar. Udin pun yang sudah seminggu menunggu Viana memuaskannya, kali ini dengan bebas tangannya bergerilya merayapi bagian tubuh atas Viana yang terbungkus tanktop abu-abu. Udin dan Tarjo merasa Viana memberi isyarat positif pada mereka, tapi ada sesuatu yang membuat mereka kurang puas menikmati anak majikannya. Untuk itu Udin mulai memancing obrolan cabulnya dengan Viana, sementara Tarjo menatap setiap lekuk tubuh Viana dengan penuh birahi.

    “Non Via, pernah gak non via dipijitin gini sama pacarnya non waktu di Jakarta dulu?” tanyanya.

    “mmmh …. be..belum mang, via gak pernah dipijit gini sama Johan”

    “hehehe kasian banget si non, harusnya pacar non itu suka pijit non kayak gini, masa tuh cowok ga tertarik”

    “ Yah gak tau mang, dia memang bukan jodoh kali”

    “Orang kota memang rata-rata gitu ya non, apalagi pacar non seumuran, ya gitu itu, belum dewasa, mau enaknya aja, habis manis sepah dibuang, ya gak non?

    “Iya betul mang, via masih nyesel koq bisa kebablasan waktu pacaran sama dia dulu” kata Viana curhat.

    “Iya non, koq si non bisa mau dientot sama tuh orang,” kata Tarjo memulai pertanyaannya.

    “Ihhh si mang, Via belum pernah gituan koq sama Johan”

    “ Lho, gimana si non ini, katanya udah gak perawan sama pacar non, maksudnya gimana? Tanya Udin kebingungan. Tarjopun mengerutkan alisnya pertanda ikut bingung.

    “ Aku memang udah gak perawan, tapi bukan sama itunya Johan” kata Viana makin bergairah.

    “Lho, jadi gimana non? Sama apanya?” Tanya Tarjo

    “Sama jari tangan mang, waktu itu kita udah lupa diri, jadi tangannya masuk terlalu dalem”

    “OOO jadi non Via dulu cuma pernah ngocokin kontol sama main jari doang? Gitu non?” Tanya Udin kaget

    “ he…eh, iya mang, kenapa koq kayak kaget sih kalian?”

    “Buset non, kirain kita non Via pernah diewe pake kontol beneran, Cuma sama tangan doang mah mana kerasa non”

    “ kerasa koq mang, sakit dan ngilu terutama waktu ada darah keluar, perih banget” kata Viana lugas.

    “yeah si non, pake becanda, maksudnya kerasa enak nonnnn” kata Tarjo gemas dan mencubit paha Viana.

    “Awww mang Tarjo jahat, sakit tau!” teriak Viana tak terlalu keras.

    “hehehe sakit mana tuh non sama waktu perawan non dicoblos tangan?” kata Udin terus menggoda Viana.

    “ Udah ah, ganti topik, via malu” kata Viana sambil merapatkan kedua kakinya yang tadi dicubit Tarjo.

    “Non sekarang udah punya pacar lagi belum?” sambung Tarjo sambil terus memijit betis Viana.

    “belum kepikir mang, lagian didaerah sini Via belum banyak kenal orang” kata Viana

    “Waduh non, sebenernya banyak pemuda kampung sini yang tergila-gila sama non, termasuk juga dari kampung sebelah. Mereka juga horny sama cewek sipit putih kayak non Via sama non Airin lho, tapi mamang bilang sama mereka bahwa non udah punya pacar, gitu non” cerita Udin.

    “idihhh mang Udin sok tau…. Lagian masa sih kayak gitu, Via kan belum kenal mereka, masa bisa suka?”

    “Iya, bener non, banyak yang suka tanya-tanya, kalau gak percaya Tanya aja sama Tatik, mama baru non itu. Hehehe iya harus gitu dong non, soalnya kita berdua juga suka sama non Via, apalagi sejak minggu lalu non kocokin kontol kita, jadi tambah pengen dah” kata Tarjo menyampaikan maksudnya.

    “Nah lho non, hayoo pilih siapa? Mang Udin atau si Tarjo ini?” Tanya Udin tak memberi kesempatan pada Viana yang juga kaget, sampai debaran jantungnya terasa ditangan Udin yang sedang memijitnya.

    “Hah??…. koq bisa gitu mang? Sejak kapan? Kenapa sama Via? Gak pantes ah, kalian ini becanda ya….”Viana tanpa sadar membalikkan badannya jadi terlentang.

    “ masa kita bohong sih non, sejak pertama ketemu non, kita udah suka sama non, apalagi pas non nyoliin kita, duhhh, tambah sreg aja sama non Via” kata Tarjo sambil sekarang tangannya memegang paha depan Viana yang membalik. Kontan saja Viana terduduk menghentikan pijitan kedua pembantunya.

    “Gak pantes kenapa non? Memang ada aturannya kalau orang suka? Non juga pasti suka kan? Tuh buktinya minggu kemarin bisa nyoliin kita” kata Udin segera.

    “Itukan karena via belum ada temen, jadi minta ditemenin, lagian kebetulan Via udah pernah ngocokin Johan, pacar Via dulu” kata Via.

    “Udah deh non, sekarang putusin aja, non Via mau gak sama kita, pilih aja, mang Udin atau mang Tarjo, atau dua-duanya juga boleh, ya Jo, kita udah siap jadi madu koq. Hehehe” kata Udin diam-diam bersiap memasukkan ilmu gendam simpanannya pada Viana.

    “Tapi kan mana pantes begitu, kalian kan pegawai papa, papa juga ga akan setuju karena kita beda ras”

    “hahaha si non lupa yah, tatik juga pegawai papa, tapi koq papa non mau, beda ras juga lagi, malah kalau non mau tau, papa non sekarang punya simpanan lagi cewek desa sebelah yang umurnya gak jauh dari non Via”kata Udin.

    “ga tau ah mang, via bingung, harus Via omongin dulu sama Airin, tapi pasti papa ga akan setuju” kata Viana, dalam hatinya membenarkan kata-kata Udin barusan.

    Lagian di desa ini jarang sekali orang Chinessenya, jadi jangankan mencari cowoknya, mencari keluarga Chinessepun susah, jadi apa salahnya dia memilih pembantunya itu, Vianapun menginginkan cowok yang umurnya lebih tua, apalagi dia selalu dibuat bergairah bila ada di dekat kedua pembantunya itu.

    “Aduhh… banyak sekali pertimbangan yang harus kubicarakan pusinn….k” katanya dalam hati.

    Hati Viana lebih memilih Tarjo, tapi dia bingung karena dengan Udin pun dia sudah sangat dekat dalam kesehariannya. Tarjo memang lebih pendiam dari Udin sehingga tampak lebih cool, meskipun dari segi wajah, keduanya jauh dari tampan, malah yang ada tampang mesum dan porno. Sekarang Udin memijat pundak Viana, kulit tangannya bersentuhan langsung dengan kulit pundak Viana yang halus, sedangkan Tarjo memijat jari-jari kaki Viana, sambil tetap saja matanya sibuk merayapi setiap lekuk tubuh Viana. Kali ini Viana yang dalam posisi telentang dapat melihat jelas wajah Tarjo yang sedang berfantasi cabul tentangnya, wajah Viana yang putih kembali merona merah, malu juga dipandang seperti itu oleh orang seperti Tarjo, tapi juga senang karena Viana tidak nampak berontak sama sekali, malah tersenyum manja pada Tarjo. Sementara Udin yang sudah tak tahan memandang kulit putih pundak Viana, tiba-tiba menghisap leher gadis itu, hingga akibatnya Viana lemah seketika, sekujur tubuhnya merinding penuh birahi.

    “Hmmmfff…. Manggg Udinnn ahh” desah Viana, matanya masih tidak berani menatap Udin, karena malu juga sama Tarjo yang masih meraba-raba betisnya.

    “Gimana non, kita serius nih, bener-bener suka sama non Via, mau kan? Tinggal pilih salah satu dari kita, kan non udah tau daleman kita waktu kemaren itu, gimana non?” kata Udin dengan kurang ajar mencolek dada Viana.

    “Gak tau ah mang, Via bingung” jawab Viana mulai gelisah.

    “Koq bingung non?jangan-jangan non Via suka sama kita berdua yah…hehehe”goda Udin memancingnya.

    Tidak diduga Viana mengangguk malu-malu didepan para pembantunya. Tentu saja wajah Udin dan Tarjo jadi berubah, dengan mata berbinar-binar penuh nafsu mereka mendekatkan wajah mereka ke depan wajah Viana yang sudah merah padam sambil tertunduk malu.

    “nah gitu dong non, kalau punya perasaan harus bilang, ga usah malu-malu segala, toh kita juga seneng koq, yaudah mulai sekarang non via jadi cewek kita ya” kata Udin.

    “Ihh mang Udin, Via kan belum mutusin gitu, masa pacar via ada dua, kan aneh mang”

    “Alaaahhh, gak kenapa-kenapa non, sekarang mah banyak yang gitu, malah ada cewek yang pacarnya lima orang, yang gak boleh itu main rahasia, punya pacar banyak tapi dirahasiain tuh kayak papa non hehehe sementara kita kan udah saling tau dan yang penting gak keberatan tuh, iya ga Jo, lu keberatan gak non Via punya dua pacar?” Tanya Udin

    Baca Juga Cerita Seks Balada Viana: The Beginning

    “yah engga non, jangankan dua orang, non mau punya pacar sepuluh juga mang Tarjo gak keberatan koq, asal non Via jujur sama kita terus yang penting jatah kita lancar…heheheh” sahut Tarjo.

    “mana bisa gitu mang, via kan cewek, nanti pendapat orang bisa negatif, lagian mana ada yang gitu?” kata Viana gundah dengan sendirinya.

    “Jangan peduli apa kata orang non, yang nikmatin kan kita, itu cuma kata-kata orang sirik, tapi memang banyak koq, ga cuma cowok yang pacarnya lebih dari satu, cewek juga banyak, tapi mereka nikmatin aja tuh non”Kata Udin memberi penjelasan sambil tangannya mengelus-ngelus punggung Viana, yang tentu saja itu bukan elusan sembarangan, namun elusan yang dibarengi efek gendam yang dilakukan sambil mempengaruhi alam bawah sadar Viana melalui kata-kata didekat telinga gadis majikannya, dibantu Tarjo yang memasukkan gendam dalam sentuhan jari-jari tangannya yang seakan beraliran listrik 1 volt didaerah betis Viana. Alam bawah sadar Viana yang telah lama dicemari oleh pikiran kotor kedua pembantunya itupun lambat laun merespon lagi terhadap aksi Udin dan Tarjo bagai dua kutub magnet yang tarik menarik.

    “Gimana non via, mau yah?” bisik Udin ditelinga kiri Viana, tangannya kini merangkul tubuh gadis itu. Viana kian salah tingkah dihimpit oleh kedua pria itu dan akhirnya …

    “gak tau ah mang, Via masih belum siap, nanti aja Via pikirin dulu ya, sekarang kalian pijitin Via dulu, masih pegal nih” sahut Viana menurunkan semangat kedua pembantunya. Ia kembali menelungkupkan badannya minta dipijit.

    “Iya deh non, nanti mamang tagih lho jawabannya” Udin dan Tarjo pun kembali memijat Viana sambil dalam hati mendongkol karena ketidakpuasan.

    “ya beres mang” sahut Viana, tersenyum kecil, sebagai gadis yang mulai dewasa, hatinya bangga mendengar tembakan kedua pembantunya tadi, namun perbedaan ras dan status sosial membuatnya ragu.

    ############################

    Chapter 4

    Pijatan Udin dan Tarjo semakin berani hingga sampai ke daerah sensitif, namun Viana tidak merespon seakan menikmati setiap pijatan mereka.

    “Non, nanti gantian ya, non juga pijitin kita” Udin masih berusaha memecah kesunyian.

    “Iya mang, nanti Via pijitin, tapi 15 menit lagi yah, pijitan mang Udin enak juga” jawab Viana setengah terpejam, ternyata memang sedang menikmati pijatan mereka.

    Dia tidak menyadari pijatan Udin dan Tarjo saat itu dilapisi oleh mantera gendam yang lambat laun meresapkan nikmat percabulan dalam jiwa Viana. Setiap sentuhan dan rabaan pada paha bagian atasnya menimbulkan sensasi nikmat, Viana sudah tidak peduli siapa yang melakukan itu karena posisinya sedang telungkup. Udin dan Tarjopun begitu menikmati kehalusan dan kemulusan tubuh anak majukannya, celana mereka sudah menggelembung pertanda penisnya sudah mekar.

    “non Via, bajunya dilepas aja ya, biar pijatannya tambah kerasa”kata Tarjo tak tahan.

    Viana diam sesaat lalu berkata “gak usah deh mang, jangan”

    “kenapa non? Malu ya diliat sama kita” kata Tarjo cengengesan.

    “Via gak biasa kayak gitu, malu ah, biar kayak gini aja, udah enak kok”

    “hehehe bener nih non, ga mau dibuka….padahal mau dibikin enak koq malu” kata Tarjo sambil tak lepas mengelus bahkan setengah meremas pantat Viana yang tengah telungkup.

    “gak usah malu non, kenapa harus malu, harusnya non Via bangga punya badan sebagus ini, udah putih, halus, mulus pula, tuh kontol kita juga sampai pada ngacung begini” Ujar Udin yang duduk disamping tubuh Viana sambil menunjuk selangkangannya yang memang kelihatan menggelembung.

    “ayo non, gak usah malu-malu, minggu lalu juga kita gak malu tuh liatin kontol kita sama non Via, sekarang giliran non yang buka baju, lagian disini kan cuma ada kita bertiga jadi ga bakal ada yang liat” rayu Tarjo sambil mengelus-elus paha Viana seakan tidak sabar melihat paha itu tanpa celana coklat yang menutupinya.

    Udin malah sudah menyusupkan jari-jari tangannya ke dada Viana yang masih telungkup. Vianapun merasakan ada tangan besar dan kasar sedang menyusupi dadanya bahkan meremasnya, semula gadis itu berniat menepis tangan jahil didadanya, namun ada sensasi birahi yang berkobar di dadanya itu yang membuat gadis sipit itu hanya bisa mengerang. Keadaan itu dimanfaatkan Tarjo mencium paha belakang Viana bahkan sampai menjilatinya sampai gadis itu kegelian dibuatnya. Posisi Vianapun otomatis berubah menjadi menyamping akibat serangan kedua pembantunya itu.

    “enak ya non, makanya ga usah malu, nanti malah bisa lebih enak lagi, kayak waktu itu kita juga sampai bucat saking enaknya dipijit sama non, sekarang non mau coba ga? Gratis koq, asal non Via mau lepas baju” Tarjo kembali membujuk Viana sesuai keinginannya.

    “Emmmmh ga tau ah mang, Via malu tapinya” lirih Viana malu-malu kucing.

    “ Waduh si non, masih malu juga, Nih coba dulu yang ini non! Jo, coba lu gantiin posisi gua disini, gua yang pegang kaki non Via” Kata Udin menyuruh Tarjo ganti posisi, sementara Viana dibuat telentang di ranjang barunya itu.

    Dengan cepat Udin menggantikan posisi Tarjo memijat kaki Viana, namun kali ini bagian paha depan Viana yang jadi buah bibir didesa itu karena terlihat begitu halus dan putih. Udin bukan hanya meraba dan mengelusnya, namun kali ini dia juga menjilati paha itu sampai kebagian dalam yang tertutup celana pendek, tangan Udin pun merayap mengelus-elus kemaluan Viana diluar celana pendeknya. Viana menggelinjang kecil karena kaget dan juga merasakan kenikmatan yang menjalar diseluruh bagian tubuhnya. Tarjo yang kini wajahnya dekat dengan wajah Viana tah tahan melihat wajah oriental dengan mata sipit yang sedikit terpejam akibat ulah Udin, bibir tipis gadis itu menjadi sedikit terbuka akibat rintihannya. Tak tahan pemandangan itu, Tarjo mencium bibir merah Viana, melumatnya lama sekali, lidahnya mulai melumat lidah Viana di dalam mulutnya. Viana pun dibuat tak tahan oleh Udin yang sudah mencium-cium selangkangannya sambil menjilat perutnya yang terbuka karena kaosnya tertarik keatas akibat gerakan Tarjo. Viana semakin blingsatan dikeroyok kedua pembantunya. Udin dan Tarjo tampak bersemangat sekali mengerjai anak majikannya itu apalagi melihat Viana yang memang terlihat mempunyai aura sex yang besar, keduanya seakan berlomba menyetubuhi gadis amoy itu. Melihat kaos Viana terangkat, tanpa berfikir lagi, Tarjo menyusupkan tangannya kebalik kaos Viana dan mempermainkan kedua payudara Viana terutama dibagian putingnya yang sangat sensitif bagi seorang gadis. Gairah Viana semakin berkobar, efek gendam cabul dari Udin dan Tarjo meledak-ledak dalam dadanya, sementara tangan perkasa Tarjo menyusuri bagian luar dadanya, bahkan sekarang tangan itu berusaha membuka tali bra yang sudah merosot ke bawah karena isinya sedang digrepe olehnya.

    “gimana non? Enak? Dilepas aja ya biar leluasa” kata Tarjo di telinga Viana, lalu mencium lehernya yang jenjang hingga seluruh tubuh Viana merinding dibuatnya.

    “Ehmmm… terserah mang Tarjo deh” desah Viana lirih,

    Bersamaan dengan itu, terdengar suara pengait bra yang terbuka. Tarjo melepas kaos ketat yang dipakai Viana dan tampaklah kulit punggung mulus dengan tali bra sudah terlepas. Tarjopun menuntaskannya dengan melolosi bra itu dari tubuh Viana. Viana secara reflex menutupi kedua payudaranya dengan tangan, namun posisi itu justru membuat birahi kedua pembantunya tambah naik. Udin dan Tarjo hampir meneteskan air liur melihat kulit tubuh Viana yang mulus tanpa noda, dan putih bagai salju. Selama ini mereka sering melihat gadis pelacur telanjang tapi baru kali ini mereka melihat tubuh yang begitu sempurna untuk dilihat dan untuk dinikmati.

    “wuihh mulus amat nih badan, celananya juga dilepas aja non biar lebih enak diliatnya” kata Udin akhirnya sambil menarik perlahan celana pendek Viana. Celana itupun melorot perlahan, Udin mengeluarkannya dari sepasang kaki Viana.

    “Wah Din, ini sih barang mewah, mulusnya merata, tuh liat si non juga memeknya udah basah” kata Tarjo menunjuk celana dalam Viana yang berwarna putih, namun dibagian yang menutupi vagina terlihat transparan, pertanda dibagian itu sudah terkena cairan.

    “Iya non, udah kepingin juga ya, sini mamang lepas celana dalemnya ya” tanpa menunggu jawaban Viana, Udin melolosi celana dalam Viana. Sekarang tampaklah tubuh sempurna Viana di hadapan kedua pembantunya. Viana terlihat grogi sekali dalam keadaan itu, dia malu sekali dilihat bugil oleh kedua pembantunya, seharusnya pemandangan itu hanya bisa dilihat oleh suaminya kelak. Tarjo memegangi tangan Viana agar tidak menutupi daerah kemaluan dan dadanya, sementara Udin berdiri di depan mereka sambil menaksir dan menikmati pemandangan tubuh telanjang Viana.

    “ayo non tetep telentang aja, ga usah malu lagi, sekarang kita udah sama-sama liat kan?” kata Udin.

    Tentu saja Viana belum berani bergerak banyak karena masih belum terbiasa dilihat orang dalam keadaan seperti itu, apalagi mata kedua pembantunya terus memelototi tubuhnya dengan seringai mesum.

    “Udah ah mang, malu” kata Viana dengan wajah memerah

    “Iya non, udah, kita langsung aja” kata Tarjo sambil kembali mencium bibir Viana, namun kali ini dengan nafsu dua kali lipat yang tadi. Tangannya sibuk menggerayangi payudara Viana satu-demi satu, sementara Viana sudah membalas ciuman Tarjo dengan bibirnya juga, lidahnya saling bergulat.

    Udin mendekatkan wajahnya kevagina Viana, pelan-pelan tangannya membuka bibir vagina yang masih menutup, namun disekeliling bibir itu telah berkilat oleh cairan vagina, pertanda tubuh Viana telah mengizinkan pria jantan untuk menyentuhnya. Didepan mata Udin terlihat paha Viana begitu putih sampai selangkangannya, benar-benar tanpa noda, baru terlihat merah muda didaerah sekitar vagina, dengan bulu-bulu tipis menghias kemaluannya. Sungguh berbeda dengan gadis-gadis yang pernah ditidurinya, semua rata-rata berwarna kehitaman didaerah vaginanya. Tangan Udin menyibakkan bibir kemaluan Viana dan tampaklah daerah kenikmatan itu juga berwarna merah muda, seperti belum pernah tersentuh, tapi Udin ingat bahwa Viana sudah jebol keperawanannya, untuk itu ia semakin memperlebar bukaannya, “benar-benar barang mahal” pikirnya. Lidah Udin perlahan menyapu bagian luar kemaluan Viana, rasa asin pun dirasakannya, lalu lidahnya kembali menyapu sedikit kedalam dan semakin kedalam, sementara bibirnya bergantian mengisap kelentit kecil dibagian atas bibir vagina yang terbuka. Diperlakukan seperti itu membuat Viana hilang kesadarannya sebagai gadis baik-baik, rasa nikmat yang sudah menjalar sejak tadi kian membludak terutama dibagian kemaluannya, lidah Udin seperti tahu mana titik penting dalam liang vaginanya berputar-putar, sampai akhirnya Viana tak kuasa membendung rasa nikmat itu, mulutnya terus disumpal mulut Tarjo hingga rintihannya tenggelam. Kedua kaki Viana secara tidak sadar semakin mengangkang mengapit wajah mesum Udin, disaat itu tubuh Viana menegang, pinggangnya melenting sesaat mengangkat pantatnya, kedua tangannya memeluk Tarjo keras sekali. Hanya Udin yang dapat merasakan betapa Viana telah mendapatkan orgasme pertamanya, cairan kewanitaan Viana keluar memercik dilidah Udin yang langsung segera menelannya. Tubuh Viana kembali melemah setelah orgasmenya tadi, kedua pembantunya yang ternyata sangat lihai mempermainkan tubuh gadis-gadis kampung, ternyata telah menaklukkan juga seorang gadis chinesse yang bahkan dirumahnya sendiri. Kini Udin dan Tarjo membuka juga seluruh pakaiannya, dan mereka berdua kembali berganti posisi.

    “Gimana non? Enak kan? sekarang giliran non yang pijitin kontol kita kayak kemarin itu” perintah Udin sambil mengacungkan penis hitamnya dihadapan wajah Viana yang putih kemerah-merahan sehabis orgasme.

    Sementara Tarjo di posisi bagian bawah mengangkat kaki Viana lalu menjilatinya, menyedot nyedot kulit pahanya sambil tangannya menggesek-gesek bagian klitoris. Birahi Vianapun bangkit kembali, tangannya meraih penis Udin yang sudah tegang, kepala penisnya yang berukuran besar, sedikit lebih besar dari kepunyaan Tarjo sudah mengkilat basah oleh cairan pelumas yang dikeluarkannya sejak tadi.

    “Non, belajar isep ya” kata Udin. Viana menggeleng lemah karena sedang menahan nikmat gosokan tangan Tarjo pada klitorisnya.

    “Ayolah non, lebih enakan kalau diisep daripada cuma dikocok-kocok, nanti juga terbiasa koq” kata Udin lagi.

    “Via belum pernah gitu, mang” ujar Viana berbisik

    “iya makanya non harus banyak belajar, biar banyak tau cara muasin kita, coba dulu aja, mamang ajarin deh”

    Wajah Viana kembali memerah, meskipun sudah pernah melihat penis Udin sebelumnya, namun ternyata gadis sipit itu masih malu dan risih melihat penis yang begitu besar baginya, dengan ujung yang telah disunat mencuat seperti jamur berwarna merah dan batang hitam berurat kira-kira 20 cm berdiameter 5 cm.

    “hayo non, coba dulu dicium ujungnya itu” bisik Udin mengarahkan nonanya, sementara Tarjo makin aktif menjilati paha Viana yang putih mulus, kini telah sampai kebagian belahan vagina. Udin mengarahkan penisnya kewajah Viana yang memerah takjub. Udin terus memajukan penisnya hingga menyentuh bibir lembut Via, tak lama setelah disentuhkan, Viana mencium pelan kepala penis Udin.

    “Nahh gitu non, ayo yang lama ciumnya, tahan dibibir non Via ya” kata Udin yang duduk di samping kepalanya. Udin kembali menyentuhkan penisnya kebibir Viana, kali ini Viana memberanikan diri memajukan kepalanya juga agar penis Udin lebih tertahan dibibirnya.

    “Bibirnya dibuka dikit-dikit non, coba jilat pake lidah” kata Udin sekarang sambil mengocok penisnya.

    Viana menuruti kata-kata Udin, dengan bibir sedikit terbuka, dia coba menjilat kepala penis itu. Kembali Viana meringis, karena terasa asin aneh dilidahnya. Tarjo tertawa melihatnya “kenapa non, bau ya? Hehehe tuh Din, makanya kontol lu mesti sering dimandiin biar ga bau, kan kasian non Via” katanya. Udin pun ikut tertawa mesum. “ lagi dong non, buka lebih lebar lagi, nanti juga baunya terbiasa, bau kontol memang gitu” kata Udin.

    “Bau khas mang, tapi ada aromanya juga, trus asin”

    “Ya, coba terusin lagi biar non juga kebiasa” kata Udin.

    Viana mencoba lagi ujung penis Udin dibibirnya, lalu dijilatnya lagi, lagi dan lagi sampai penis itu kelihatan basah oleh airliurnya. Udin sedikit memajukan penisnya di bibir Viana, hingga sekarang posisi kepala penisnya sudah didalam mulut Viana. Mulut mungil itu terlihat penuh dijejali kepala penis. Lidah Viana yang masih berusaha menjilat-jilat, secara tak sadar berubah gerakannya menjadi seperti memainkan lubang kencing Udin, itu karena seluruh kepala penis Udin sudah berada dimulutnya. Udin memejamkan matanya menikmati setiap gerakan lidah Viana dan juga kenyamanan penisnya dalam mulut gadis itu.

    “Nah, sekarang udah enak kan non?”tanya Udin.

    “mm…heehmmm”Viana mengangguk. “Gitu dong non, kan jadi sama-sama enak, nih sekarang non Via kocokin kontol trus nanti gentian diisep-isep ya” katanya lagi sambil mengarahkan tangan Viana pada penisnya yang sedang ereksi total.

    Begitulah Viana mengocok dan mengisap kelamin pembantunya. Sepuluh menit kemudian, penis Udin mengeras sempurna dalam mulut Viana. Tangannya memegangi posisi kepala Viana yang masih mengisap penisnya, lalu menyemburlah sperma kental keputihan dalam mulut Viana, secara reflek, dalam sekejap Viana membuang kembali sperma yang barusan tertuang dalam mulutnya sekaligus melepaskan penis Udin dari mulutnya meskipun terlambat, karena lagi-lagi Viana harus mencicipi rasa hambarnya sperma Udin dalam mulutnya bahkan jauh lebih banyak dari minggu lalu. Viana tidak menyadari bahwa rata-rata kaum pria bisa menyemprot 3- 4 kali. Baru dua kali semburan Viana sudah melepas penis Udin dari mulut mungilnya, akibatnya 2 semprotan berikutnya malah tepat mengenai wajahnya, telak mengenai antara kedua alisnya.

    “Idihh mang Udin koq banyak banget” kata Viana sambil sesekali meludah membersihkan mulutnya.

    “nah kan non, belum beres koq udah dilepas, tuh jadi belepotan dah, sini mamang bersihin” kata Udin sok perhatian, tangannya kemudian memberikan sesuatu pada Viana. Dengan reflek Viana mengelap wajahnya dari sperma Udin tanpa menyadari kain yang diberikan Udin itu adalah celana dalamnya sendiri.

    “wahhhh, mang Udin jahat, nanti Via pakai apa? Jadi basah gini tuh” rintih Viana sewaktu menyadari celana dalam putih kesayangannya sudah belepotan sperma juga.

    “O iya non, maaf ya, abis disini gak ada tisu, jadi tadi asal comot” celetuk Udin sekenanya.

    “Sekalian dong non, bersihin juga sisa pejunya pake celana dalem non, tanggung kan udah kotor” kata Udin sambil mengasongkan penisnya yang sudah mulai mengendor ketegangannya. Viana mencibirkan bibirnya, namun tangannya serta merta mengelap ujung penis Udin dengan celana dalamnya sendiri.

    “Non, sekarang kita entotan yuk” kata Tarjo mulai bersiap mengarahkan penisnya pada vagina Viana, namun Viana segera menutupkan kedua kakinya.

    “jangan mang, Via belum siap, udah lengket nih gara-gara mang Udin” katanya sambil menunjuk wajahnya sendiri yang tadi terkena cipratan sperma.

    “hehehe itu sih malah vitamin E non, biar kulit wajah non tetep cemerlang” sanggah Udin cengengesan.

    “tetep aja ga enak mang, udah ah, Via mau sekalian mandi aja” kata Viana bersiap memakai bajunya.

    “Lho, terus nasib mamang gimana non?” tanya Tarjo

    “Ayolah non, kasian tuh si Tarjo belum kebagian jatahnya” bujuk Udin membela rekannya.

    “Tapi ga mau dimasukin ya mang, Via belum siap”katanya Viana kemudian

    “padahal gak apa-apa non, malah ini bakal lebih enak lagi, non bisa sering orgasme nantinya, tapi yaudah deh disepong aja kayak ke si Udin tadi biar impas non” bujuk Tarjo.

    Dimulai lagilah acara Viana mengisap penis pembantunya, kali ini giliran Tarjo yang menikmati mulut Viana. Selama 5 menit itu Tarjo terus membujuk Viana.

    “Ayo non Via sayang, puasin kontol mamang juga yah, padahal tadinya mamang kepingin nyicipin memek non, keliatannya non enak buat diewein, abis putih sekali badan non, kontol mamang juga bisa muntah kalau dihimpit kulit sehalus ini mah”

    Akhirnya Tarjo termakan kata-katanya sendiri, 5 menit kemudian Tarjo memuntahkan spermanya, hanya kali ini Viana sudah siaga, merasakan penis Tarjo mengeras dan berkedut, dia buru-buru melepaskan dari mulutnya lalu mengocoknya kearah lain yang menjauhi tubuhnya. Tapi lagi-lagi dia melakukan kesalahan dengan melepas kocokannya sewaktu melihat sperma Tarjo keluar. Keadaan itu dimanfaatkan Tarjo dengan segera membalikkan badannya dan mengarahkan semprotan pada dada Viana. Satu semprotan mengenai dadanya, Viana kembali melakukan kesalahan yang tidak disengaja dengan membalikkan badannya, akibatnya semprotan berikutnya mengenai pantatnya yang bulat seperti bakpao. Cairan sperma Tarjo pun meleleh menuruni tubuh Viana dari dada dan pantatnya, tentu saja Viana panik ketakuta sperma itu akan mengenai vaginanya. Gadis itu langsung terduduk, tangannya menerima sodoran kain dari Tarjo. Lagi-lagi Viana tidak hati-hati, karena kain yang digunakan untuk membersihkan sperma dari tubuhnya adalah kaos putihnya sendiri. Udin dan Tarjo tertawa puas bisa mengerjai anak bosnya itu.

    “aduh non Via, maaf juga, mamang buru-buru, abisnya takut non Via hamil kena sperma mamang tadi” kata Tarjo malah terus menggoda Viana.

    “Ahh udah ah, mang Udin sama mang Tarjo nakal, Via harus cepet-cepet mandi nih” kata Viana, kali ini ia benar-benar memakai bajunya, hanya saja celana daam tidak jadi dipakai karena takut sperma Udin akan membuahinya. Baju putih nya pun terlihat basah dan beraroma khas sperma, namun tetap dipakainya karena tidak mungkin dia keluar gudang dengan hanya memakai celana pendek dan bra saja. Cerita Maya

    “kapan-kapan semprotnya didalem ya non, biar ga perlu dilap” kata Udin menatap Viana dengan tatapan puas.

    “Ihhh maunya… wee” kata Viana mencibir sambil mengernyitkan hidungnya, lalu bergegas meninggalkan kedua pembantunya dalam keadaan puas dan melupakan celana dalamnya.

    #############################

    Chapter 5

    Viana menaiki anak tangga menuju lantai dua rumahnya, sebelum sampai ke kamarnya dia harus melewati dapur dulu, dengan langkah agak berat Viana berjalan. Alangkah kagetnya sewaktu melewati dapur, didepannya telah berdiri Tatik, sang ibu tiri.

    “Lho, Via lagi apa, jam 1 malam gini koq belum tidur?” tanyanya.

    “eee, oh … itu, Via mau ambil minuman di kulkas” jawab Viana gugup dan mempercepat langkahnya menuju kulkas dan mengambil minuman dingin.

    “kamu ini aneh ya, jam 1 malam malah minum air dingin, kamu sakit Via?” katanya sambil mendekati Viana.

    “eh, gak koq mbak, eh mam, cuma di kamar panas sekali, jadi haus” jawab Viana sambil terus berlalu di depan Tatik menuju kamarnya.

    Viana tidak menyadari aroma khas sperma dari bajunya tercium oleh hidung Tatik yang tajam. Menyadari ada yang tidak beres dengan anak tirinya, Tatik yang cerdik mulai menduga apa yang terjadi dengan Viana, namun dia menahan niatnya agar Viana tidak merasa diketahui rahasianya. Viana bernafas lega dalam kamarnya, fiuhhh hampir saja ketauan mbak Tatik, dasar ibu Titi, mau tauuu aja. dan seperti rencananya semula dia mulai menghidupkan water heater dan membuka seluruh pakaiannya. Di depan kaca besar miliknya, terlihat banyak sekali cupangan merah pada tubuhnya, dan ya Tuhan ternyata benar kata kedua pembantunya, tubuhnya begitu putih, halus sempurna. Viana bangga pada tubuhnya, dia tersenyum sendiri didepan cermin. Didadanya masih ada bekas sperma, pelan-pelan jarinya menyapu bekas sperma Tarjo itu, lalu Viana menjilatinya.

    “Oh, mang Udin, mang Tarjo, kalian hebat” katanya dalam hati.

    Viana mengendus aroma kejantanan yang masih tersisa pada tubuhnya. Tak lama Viana pun menceburkan tubuhnya dalam bathtub berisi air hangat. Dan waktu berjalan lambat. Viana terjaga dalam tidurnya, rupanya dia kelelahan sampai tertidur sambil berendam. Buru-buru Viana mengeringkan badan dan memakai baju daster tidurnya, lalu segera saja dia kembali terlelap di kasurnya yang empuk.

    Bagaimana kisah Viana selanjutnya? Siapakah yang pertamakali mendapatkan tubuhnya? Apa rencana Tatik sang Ibu tiri? Ditunggu saran-saran para pembaca semuanya, Ikuti terus kelanjutannya dalam Balada Viana

    By: Dream Master

  • Balada Viana: The Beginning

    Balada Viana: The Beginning


    286 views

    Cerita ini bertolak dari ide roman sex yang indah berlatar budaya yang berbeda, dibumbui dengan ilmu gendam yang dahsyat juga kemelut keluarga sehari-hari. Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi pembacanya untuk menghayati bahwa perbedaan itu sangat indah.

    Chapter I

    Viana

    Cerita Maya | Viana adalah gadis smu putri Pak Sumarga, pengusaha kaya yang mata duitan dan terkenal pelit. Sebagai layaknya anak orang kaya tentu saja Viana luar biasa dimanja, akibatnya Viana tumbuh menjadi gadis yang malas dan mata duitan. Viana berwajah oriental yang cantik, imut dan mulus karena memang berasal dari keluarga kaya yang sangat menjaga penampilan luarnya sehingga kulit tubuh Viana begitu putih terang dibalut dengan pakaiannya yang selalu modis seperti layaknya gadis keturunan yang hidup di kota besar. Meskipun begitu sebenarnya Viana adalah gadis feminim yang dalam kesehariannya senang sekali belanja dan jalan-jalan bersama pacarnya, Johan. Berbeda dengan adiknya, Airin yang juga feminim, tapi lebih suka berada di rumah. Viana dan Airin hanya berbeda umur dua tahun, hal itu menyebabkan mereka terlihat lebih akrab dan kompak satu sama lain.

    Airin

    Nasib manusia memang sulit diterka, bencana secara beruntun menimpa keluarga Viana, pertama, ayah Viana mengalami kebangkrutan (karena ayah Viana senang sekali berjudi dan main perempuan) sehingga yang tadinya mempunyai pabrik dan banyak toko, sekarang habis semua, untunglah ayah Viana masih mempunyai tabungan. Bencana kedua, Viana harus merelakan keperawanannya oleh Johan, sang pacar. Bencana ketiga, mama Viana stress berat akibat semua kekayaannya habis karena ulah suaminya, hingga merekapun cerai. Bencana keempat, rupanya Johan hanya mengincar kekayaan Viana, karena setelah tahu ayah Viana bangkrut, Johanpun memutuskan Viana secara sepihak. Dan bencana kelima yang tidak disadarinya adalah dendam terpendam salah seorang pegawai ayah Viana yang dipecat beberapa tahun silam, dan bukan tidak mungkin akan menimbulkan bencana-bencana yang lain. Semua musibah itu cukup membuat Viana terluka juga pada awalnya, namun apa boleh dikata, hidup harus tetap dijalani, tangispun tak ada gunanya. Minimal karena peristiwa-peristiwa itulah mata Viana terbuka dalam memandang kehidupan, terutama dalam memilih cowok, Viana cukup trauma bergaul dengan teman-teman kaya yang sekarang malah menjauhinya. Viana sadar cowok kaya yang mendekatinya tak lebih dari sekumpulan buaya yang ingin memanfaatkannya setelah keluarganya mengalami kebangkrutan fatal. Seminggu lamanya Viana menyendiri meratapi nasibnya, untunglah dia punya adik yang bawel seperti Airin yang senantiasa menghiburnya, hingga taklama Vianapun ceria kembali. Setelah orangtuanya cerai, Vianapun harus hidup dengan papa dan adiknya keluar jauh dari Jakarta kedesa kecil dipinggir pantai utara pulau Jawa. Atas saran Tatik, istri mudanya, Papa Viana membuka toko sembako didesa itu karena tabungannya tidak cukup untuk buka usaha di kota besar. Penduduk sekitarnya kebanyakan adalah nelayan sehingga jarang ada toko sembako disitu, Untunglah naluri bisnisnya tetap jalan sehingga justru usaha sembakonya bisa berjalan mulus sebagai agen dan penyalur. Cerita Maya

    ###########################

    Chapter II

    Tarjo, Warsa, Darsono, Kosim, dan Udin

    Lima tahun yang lalu di desa kecil daerah pantai utara tempat Viana sekarang tinggal, dikenal lima orang preman yang kerapkali meresahkan warga sekitar. Darsono(40 tahun) adalah kepala preman, Warsa (40 thn) tangan kanannya dan tiga orang anak buah dan juga muridnya yang rata-rata berumur 30 tahunan yaitu Kosim, Tarjo dan Udin. Darsono dikenal sakti karena mempunyai ilmu kanuragan tingkat tinggi dan juga ilmu gendam, dengan bekal ilmu inilah setiap harinya mereka selalu meresahkan warga nelayan, dan mempermainkan gadis desa ataupun pelacur hingga kerapkali mereka masuk sel, namun tidak juga membuat jera. Sampai akhirnya Warsa harus tewas tertembak peluru polisi karena terlibat aksi bajing loncat yang merampok sopir truk yang lewat. Setelah kejadian itu mereka berempat mulai jera dan agak mengurangi aksinya. Kosim yang merasa ketakutan karena diapun ikut dalam perampokan itu, melarikan diri ke Jakarta dan tinggal bersama Tatik, adiknya. Sedangkan Tarjo dan Udin tetap didesa itu sambil berguru pada Darsono memperdalam ilmu kanuragan. Kosim ikut bekerja di tempat Tatik kerja yaitu di toko emas milik Pak Sumarga, seorang pengusaha keturunan chinesse kaya yang usahanya banyak, diantaranya toko emas, tekstil, café, dan lain sebagainya termasuk usaha rumah bordir yang dikelolanya secara gelap. Pak Sumarga ini terkenal suka main judi dan wanita hingga meskipun sudah punya istri cantikpun masih hobi main wanita. Tatik, adiknya Kosim adalah wanita Jawa yang hitam manis yang bekerja di toko emas milik Pak Sumarga sebagai kasir. Diam-diam Tatikpun jadi simpanan Pak Sumarga, hal inilah yang memudahkan Kosim untuk mendapatkan pekerjaan di rumah Pak Sumarga sebagai sopir pribadi. Pak Sumarga hanya mempunyai dua orang putri, yaitu Viana dan Airin, hasil perkawinannya dengan Irene, bekas teman kuliahnya dulu yang sekarang menjadi istrinya. Didesa asalnya, Kosim memang jarang melihat warga keturunan Chinesse apalagi yang seperti Viana dan Airin yang waktu itu masih anak SMP namun kecantikannya sudah terlihat menggairahkan dimata Kosim yang mata keranjang. Belum lagi Nyonya Irene yang umurnya 35 tahunan tidak terpaut jauh darinya yang masih 32 tahun. Nyonya majikannya masih terlihat cantik, apalagi dengan dandanan seperti halnya wanita kaya dari kalangan atas. Otak kotornya Kosim mulai bekerja, bagaimana ia bisa menguasai ketiga wanita majikannya tanpa paksaan, dan tanpa sepengetahuan bosnya sendiri yaitu Pak Sumarga. Kosimpun tidak ingin adiknya terus menjadi simpanan bosnya, bagaimanapun seorang kakak ingin adiknya bisa nyaman hidupnya dan tidak kekurangan materi seperti keluarganya.

    Akhirnya Kosimpun bekerjasama dengan Tatik, sang adik untuk menguasai para majikannya terutama hartanya. Dengan ilmu gendamnya yang tinggi, Kosim berhasil memikat hati Nyonya Irene sang majikan wanita. Nyonya cantik yang sering kesepian ini akhirnya jatuh dalam kekuasaan Kosim sang sopir. Tidak sampai tiga bulan bekerja, Kosim sudah mendapatkan bonus tubuh nyonya majikannya itu. Merekapun terlibat skandal terlarang diluar rumah Pak Sumarga. Untunglah rahim nyonya Irene sudah disteril sehingga tidak terjadi kehamilan dan rahasia bisa terus terjaga. Puas dengan tubuh sang nyonya, Kosim mulai mencari pelampiasan yang lain, yaitu Viana dan Airin. Ranumnya tubuh belia anak SMP rupanya cukup membuat Kosim mengocok penisnya tiap hari dengan khayalan tubuh mulus anak majikannya. Tapi apabolehbuat, Vania dan Airin benar-benar gadis yang tidak dapat dijangkau Kosim. Ilmu gendamnya belum dapat berpengaruh banyak pada anak SMP yang masih polos. Perbedaan status sosial juga membuat Kosim hanya bisa menelan ludah saat melihat paha Viana yang putih tersingkap dari balik seragam birunya karena tidak berani berbuat terang-terangan seperti kebiasaannya pada nyonya Irene. Tatikpun mulai melancarkan aksinya pada Pak Sumarga, ia ingin statusnya naik menjadi nyonya muda, dengan bujuk rayunya gadis itupun berhasil membuat Pak Sumarga menikahinya meskipun secara diam-diam. Namun sayang, drama rumah tangga ini harus berakhir dimana Kosim kepergok oleh Viana saat mencuri perhiasan emas. Seharusnya Kosim dipenjara, namun karena Tatiklah akhirnya Kosim hanya dipecat dari pekerjaannya. Hal ini membuat Kosim dendam pada keluarga Sumarga dan bertekad akan membalasnya dikemudian hari terutama pada Pak Sumarga yang juga adik iparnya. Karena hasratnya terputus ditengah jalan, Kosimpun kembali kedesa asalnya, niatnya untuk mencicipi tubuh anak majikannyapun kandas karena keserakahannya sendiri. Nyonya Irenepun harus merelakan kekasih gelapnya dipecat, tanpa berani menghalangi karena takut skandalnya malah jadi terungkap. Tatik juga tidak bisa berbuat banyak, karena posisinya sebagai istri muda, namun ia sudah tahu perihal hubungan nyonya Irene dengan kakaknya, namun Tatik memilih diam untuk kelanggengan hubungannya dengan Pak Sumarga yang baru seminggu menikahinya. Memang bukan saat yang tepat membocorkan ulah Nyonya Irene pada suaminya, Tatik takut kakaknya malah berurusan lagi dengan polisi, tentu nasibnya tambah parah. Namun Tatik sudah menyimpan rencana untuk merebut Pak Sumarga yang kaya dari istri tua saingannya, Nyonya Irene, sekaligus ikut membalas sakit hati Kosim pada anak-anak Pak Sumarga, terutama Viana yang menyebabkan Kosim dipecat secara kasar oleh Pas Sumarga.

    ###############################

    Chapter III

    Kehadiran keluarga Viana segera tersebar di desa kecil itu, karena keluarga Chinesse sangat jarang bahkan bisa dihitung dengan jari, itupun rata-rata sudah berbaur dengan pribumi setempat sehingga ciri-cirinya sudah hampir hilang. Keluarga Viana yang datang didesa itu atas bujukan Tatik, tentu saja menjadi pusat perhatian karena kehadiran Viana dan Airin yang bagai bidadari belia. Viana harus menghabiskan masa smu nya di sebuah smu pinggiran satu-satunya didesa itu, sementara Airin harus memulai masa SMU nya selama 3 tahun disitu, sungguh suatu beban yang berat bagi Viana dan Airin. Ini semua sudah rencana Kosim dan Tatik adiknya. Kosim yang masih merasa kesal karena aksinya dulu ketahuan langsung saja menghubungi kawan-kawannya.

    “Wah, yang bener sim, ceweknya cantik-cantik tah?”

    “Iyalah Jo, bagus buat sampeyan perbaiki keturunan, sayang Ibunya udah pindah” celoteh Kosim mempromosikan mantan majikannya.

    “Kalau begitu, daripada kalian nganggur, toh obyekan kita juga lagi sepi trus banyak diincer pulisi, mending kalian kerja ditempat dik Tatik saja, siapa tau anak bekas majikan si Kosim ini bisa kalian entotin, kan lumayan bisa dijadiin gundik, toh kalian ini belum punya istri, jadi kita gak perlu kerja lagi, tinggal minta uang sama bapaknya, iya toh Sim” dengan semangat Darsono menimpali laporan Kosim.

    “ Kalau aku sih ndak bisa lagi mas, aku kan sudah kerja di juragan baruku.paling si Tarjo sama Udin saja toh mas, lagian aku pasti ditolak mentah-mentah meski ada Tatik! Semua ini gara-gara anak itu!. Kalau sampeyan sendiri gimana mas? “

    “Hehehe itu juga bagus, kalau aku mending urusin istriku jualan ikan dipasar sim, jadi ga bisa ikutan, nanti sajalah aku ikut ngentotin non amoy itu yah, itu juga kalau lagi nganggur, gimana kalian mau apa ndak?”

    Serempak Tarjo dan Udin berkata keras “mauuuuuuu” karena mereka diam-diam sudah mengintip gadis muda di keluarga Pak Sumarga, mantan majikan Kosim. Kosim tersenyum puas mendengar semangat dua rekannya, terbayang lagi diingatannya tubuh Viana dan Airin yang putih bagai Kristal, tak ada Ibunya, anaknyapun jadi, malah pasti lebih nikmat daripada Ibunya dulu. Dia harus memutar otak agar kedua gadis itu terutama Viana jatuh ketangannya. Tarjo dan Udin harus menjadi alatnya untuk membalas keluarga Pak Sumarga. Akhirnya melalui Tatik juga, Tarjo dan Udin diterima kerja ditoko sembako sebagai kuli angkut merangkap tukang antar jemput sekolah Viana dan Airin.

    ############################

    Chapter IV

    Keluarga Viana menjadi pusat perhatian di desa itu, Viana dan Airin pun menjadi primadona para pemuda pribumi di sekitarnya. Banyak pemuda pribumi berusaha mendekati Viana, tapi papa Viana melarangnya sehingga Viana tidak dapat berteman sekalipun dengan para pemuda tersebut. Memang mungkin karena dikota kecil, jadi penduduknya agak kurang berpendidikan, rata-rata penduduk pribuminyanya hanya lulusan SMP dan pekerjaannya nelayan atau buruh kasar, mungkin karena itu ayah Viana melarang putrinya bergaul. Disekolahnya yang baru, Viana juga menjadi sorotan guru dan murid lainnya, karena penampilannya yang berbeda dengan murid lain. Untunglah pikir Viana dia hanya menghabiskan massa kelas 3 SMU saja disekolah itu, sementara Airin, adiknya harus menghabiskan 3 tahun lagi karena masih kelas 1 SMU. Viana dan Airin semenjak kecil sekolah disekolah elit di Jakarta, maka tidak heran penampilan mereka sangat modis didukung oleh dana yang besar selama di Jakarta. Dikota kecil itu mereka harus rela tidak berdandan, tapi meskipun begitu mereka memang pada dasarnya cantik, malah kecantikannya lebih natural kalau tanpa makeup, hanya tentu saja masalah berpakaian mereka hanya berubah kalau pergi kesekolah yang melarang muridnya berdandan, sedangkan kalau dirumah mereka bak model rumahan. Airin tidak terlalu kentara, tapi Viana benar-benar terlihat jelas kesexyannya, mereka berhotpants ria didalam rumah menampilkan paha yang putih mulus, tidak heran mereka diincar para pemuda sekitar dan juga para kuli ditoko sembakonya termasuk Tarjo dan Udin. Sejak awal bekerja, Tarjo dan Udin yang sudah berotak kotor selalu membayangkan tubuh anak majikannya yang memang amat mulus mengkilat. Mereka kerap menonton film porno sambil mengocok penis hitam kebanggaannya dan mengkhayal memperkosa Viana yang putih dan sipit dikamar mereka, tentu saja mereka melakukan itu waktu malam hari, karena kalau siang mereka berubah bagai serigala berbulu domba didepan para majikannya. Mereka sepakat untuk mendapatkan Viana dan Airin dengan segala cara termasuk dengan ilmu gendam yang mereka miliki.

    ######################################

    Chapter V

    Rumah Viana terdiri dari 2 tingkat, cukup besar karena juga berfungsi sebagai toko sembako. Tatik, istri muda papa Viana bertugas sebagai kasir dibantu oleh Dewi yang bertugas melayani pembeli. Diah adalah wanita yang ramah dalam melayani pembeli, juga teman curhat Viana yang baik, tapi sayang tugasnya hanya didepan toko, mungkin hanya sesekali Dewi kedalam rumah untuk buang air. Hanya Tarjo dan Udin yang bisa lalu lalang keluar-masuk rumah karena mereka adalah kuli yang bertugas mengangkut barang dari dalam gudang dibelakang rumah ketoko dan juga sekaligus bertugas membersihkan rumah dan gudang. Tinggallah Viana dan Airin didalam rumah bersama Mbok Saroh yang sudah tua dan agak tuli. Sejak kepindahannya dari Jakarta Viana dan Airin dilarang bergaul dengan orang-orang kampung disekitar rumahnya, jadi satu-satunya yang menjadi teman dirumah selain kedua orangtuanya adalah seorang pembantu, Tatik ibu tirinya, Dewi dan dua orang kuli. Tiap pagi Udin bertugas mengantar Viana kesekolah, sementara Airin diantar Tarjo, masing-masing menggunakan motor milik ayah Viana, karena semua mobil kepunyaannya telah habis dijual untuk menutup semua hutang-hutangnya. Awalnya Viana dan Airin merasa malu dan tidak biasa kesekolah menggunakan sepeda motor, tapi lama-kelamaan mereka akhirnya terbiasa juga dan dapat menerima keadaan itu, apalagi mereka sedikit terhibur karena disekolah merekapun malah rata-rata muridnya berjalan kaki kesekolah, tidak seperti disekolahnya yang dulu hampir semuanya menggunakan mobil pribadi. Saat-saat mengantar Viana sekolah adalah saat yang paling ditunggu Tarjo dan Udin, karena hanya pada saat itu tubuh mereka bisa saling menempel dan mereka bisa mempraktekkan ilmu gendam pada kedua gadis itu. Tentu saja kedua nona majikannya tidak menyadari niat busuknya itu. Hari demi hari ambisi Tarjo dan Udin semakin besar untuk memiliki gadis bermata sipit itu, nafsu mereka berkobar saat memandang belahan payudara Airin dibalik bra dan baju seragamnya. Ilmu Gendam yang tiap hari dilepaskan pada kedua gadis itu rupanya semakin bertumpuk, hingga tanpa disadari, Tarjo dan Udin leluasa memasukkan pengaruh cabul kedalam pikiran Viana dan Airin. Viana yang pernah merasa trauma dengan pacarnya memang ingin merubah cara pandangnya yang mata duitan, Viana memang ingin membuka kesempatan buat pria serius yang menginginkannya tanpa memandang harta bahkan ras, sehingga akibatnya banyak teman pria disekolah yang berusaha mendapatkan hati Viana. Namun pengaruh cabul dari Udin dan Tarjo justru malah mengingatkannya saat keperawanannya diambil dulu, bukan dari sisi sakitnya namun pikiran Viana justru membayangkan sisi kenikmatan yang seharusnya dia dapat dulu.

    Kata-kata cabul yang sering diucapkan Udin semakin menambah gairah Viana, bukannya menjadi jijik seperti umumnya anak gadis lain, Viana malah menjadi tambah dekat dengan Udin dan Tarjo akibat kata-katanya itu. Bagai gayung bersambut, Viana yang memang bertekad merubah pandangannya tentang pria, ditambah gendam yang semakin hari semakin kuat ditanamkan akhirnya tanpa disadari berhasil membuat hati Viana takluk pada Udin dan Tarjo. Pernyataan cinta dari teman-teman sekolahnyapun ditolaknya. Viana sudah tidak peduli pada fisik Udin atau Tarjo yang sangar, hitam, dengan kulit penuh tattoo bahkan Udin yang agak tonggos, malah Viana justru merasa bergairah sekali dalam hatinya hanya ada gairah, bukan cinta. Keadaan yang samapun terjadi pada Airin, tapi tidak separah Viana karena Airin masih perawan dan belum pernah dijamah pria manapun sehingga Airin meskipun dibawah pengaruh gendam, namun masih dapat menguasai dirinya. Udin yang merasa diatas angin, semakin yakin gendamnya berhasil telak pada Viana. Dia sering membisikkan kata jorok secara langsung pada Viana. Viana pun seakan tidak punya malu malah menanggapi dengan polos semua komentar Udin yang kurang ajar. Seperti hari itu sepulang sekolah disepeda motor tampak Viana dan Udin asyik berbincang tentang persetubuhan yang seharusnya tabu bagi mereka yang notabene adalah majikan dan kacung.

    “Non Via pernah pacaran ga?”

    “Pernah mang, dulu waktu masih dijakarta”

    “Pernah dientot gak sama pacarnya non? Jangan-jangan pernah ya”

    “Pernah mang, Cuma sekali koq” jawab Viana sangat polos sambil tersenyum.

    “Ah, masa Cuma sekali? hehehe enak gak non?”

    “Iya koq mang, Cuma sekali, itu juga udah lupa rasanya, sakit sih mang”

    “Lho, nantinya kan enak non, masa cuma sekali? Selebihnya ngapain non?” dengan semangat Udin berusaha.

    “Yah, seringnya malah cuma via kocokin aja koq mang, abis keluar yasudah, Via juga gak habis pikir bisa sampe kebobolan gitu”

    “Ya gapapa non, itumah wajar, cewek zaman sekarang apalagi dikota besar memang udah pada jebol. Pernah nyedot ga non?”

    “Nyedot? Nyedot apa mang?” Viana mulai ceria

    “ya nyedot kontolnya pacar non dulu itu”

    “yehhh, ga dong mang, jijik ah, ngeri kalo tumpah dimulut” wajah Viana mulai merona malu.

    “koq ngeri non? Memangnya kontolnya kegedean yah?”

    “Bukan gitu, cuma jijik aja kalo dimulut, ihhhh” Viana merinding membayangkan penis Johan kalo ada dimulutnya, justru sebenarnya bukan jijik, tapi nyesel juga kenapa belum pernah nyoba, kayaknya sensasinya lumayan juga pikirnya.

    “Non via, mamang malah jadi pengen nih” celoteh Udin cengar-cengir

    “Pengen apa mang?”

    “Pengen juga kalo dikocokin sama non Via..hehehe apalagi kalau sambil disedot, asyik!”

    “ihhh mang Udin porno tuh!”teriak Viana sambil mencubit Udin.

    “Aduh, sakit non.. Tapi non Via juga mau kan?”

    “Idih, amit-amit mang, udah ah via jijik nih ngomongin gitu terus” tanpa terasa sampailah via didepan rumah sekaligus tokonya sementara Airin menyusul dibelakangnya bersama Tarjo.

    “Non, nanti sore mampir kegudang ya, jangan dikamar terus, nanti cepet tua”

    “Di gudang tuh kotor banget, via males ke situ, memangnya mau apa mang? Lagian mana boleh sama papa”

    “Ya jangan bilang dong non, kita butuh temen ngobrol nih, kan lumayan kalau ada cewek ikut nimbrung”

    “ga ah mang, via takut, masa Cuma via ceweknya, disitukan ada mang Tarjo juga, ga enak kalau diliat orang”

    “Justru Cuma ada si Tarjo non, jadi sepi, datang kesana sore-sore aja non atau malem juga ga apa-apa, sepi koq, papa non juga kan kadang suka pergi, gimana non?

    “ Iya deh mang, liat nanti yah, via ngantuk nih, mau bobo dulu.” Ujar Viana sambil berjalan masuk kerumahnya diikuti Airin dan langsung naik kelantai dua dimana kamarnya berada. Aneh sungguh ajaib, permintaan Udin itu bagi Viana tak ubahnya sebagai kewajiban yang harus dijalani. Hanya gengsinya saja yang membuat lidahnya berkata lain. Sedemikian ampuhnya ilmu gendam yang dimiliki Udin hingga membuat Viana merasa bangga sekali bisa bergaul dengan Udin. Padahal status sosial Viana jauh diatas Udin.

    #####################################

    Chapter VI

    “Ayolah Airin, temenin cici yuk ke gudang…” rengek Viana pada adik satu-satunya itu.

    “Aku juga pingin cie, tapi ini banyak tugas fisika yang harus selesai besok, gimana nih? Kayaknya lain kali deh rin temenin yah cie, sekarang cici aja yang kesana” tampak pengaruh gendam Tarjo pada Airin membuat gadis itupun punya keinginan yang sama dengan cicinya.

    “Aduh, koq cici dibiarin sendirian, malu neh… rinnn ayuuuu…”

    “idihhh cici, koq pake malu segala, daripada jadi kuper sendirian terus ayo pilih mana? Lagian mang Udin juga orangnya lumayan nyenengin koq, meskipun tampangnya ancur, tapi obrolannya rame kan”

    “Iya tapi inikan baru pertamakali, temenin sekaliiii aja, nanti baru terserah kamu… yaaaaa”

    “ga ah, mang Tarjo juga rin tolak koq cie, ini demi nilai, besok harus dikumpulin, lagian gudangnyakan dirumah kita juga, sepi lagi Cuma ada mereka berdua, masa harus ditemenin sih?”

    “Jadi gimana nih? Cici mulai bosen dikamar terus, pingin ngobrol2 gitu aja koq”

    “Udah ciciku yang cantik sendiri aja gih, mumpung papa pergi sama mbak Tatik, nanti kalau keburu datang malah ga bisa kegudang.iyakan?

    “UUUhhhh alesannya banyak ya… yaudah deh cici kesana dulu” Viana yang kebelet pun akhirnya pergi juga memenuhi undangan Udin di kamarnya yang juga gudang sembako.

    ##################################

    Chapter VII

    Gudang sembako itu berukuran 15×15 meter, di dalamnya penuh berbagai kebutuhan sembako, tepat dipojok kiri ada bilik kecil 3×3 yang merupakan kamar Udin dan Tarjo. Baru kali ini Viana menjelajahi gudangnya sendiri, baru kali ini pula dia tahu letak kamar Udin.

    “Wah, ada non Viana berkunjung nih, masuk non, tuh si Udin lagi ngerokok dikasur. Koq sendirian non, mana non Airin?”

    Mata Tarjo mencari Airin dibelakang Viana sambil mulutnya tersenyum penuh arti, dan matanya mengerling kearah Udin yang memang sedang asyik merokok dikasurnya.

    “Airin lagi sibuk mang, tadi udah via ajakin, tapi gak bisa..lho, mau kemana mang? Koq malah pergi?” Viana heran karena Tarjo justru pergi meninggalkan kamarnya.

    “Mau keluar dulu non, beli makanan buat makan malem, kasian kalo nyusruh mbok Saroh, udah tua non, non masuk dulu aja ya”

    “Eh, non Viana tumben nih, kirain ga akan mampir kesini” tegur Udin dengan muka berseri namun tetap sangar dan mesum.

    “Yah, abis gak ada kerjaan dikamar mang, bosen”

    “wah yah bagus non, kalau gak ada kerjaan kesini aja temenin mang Udin. Hehehe duduk dulu atuh non, dibawah gak apa-apa ya, disini gak ada kursi, Cuma ada kasur aja tuh, buat alas tidur, jadi mau di tikar atau dikasur non?”

    “gak apa mang, via ditikar aja deh, nanti deh via minta papa beliin ranjang sama kursi buat disini” Viana tanpa ragu duduk ditikar yang ditunjuk Udin dengan terlebih dulu membetulkan posisi roknya yang selutut..

    “gak usah gitu non, malu ah, kerja belum satu taun masa udah minta segala macem” kata Udin sambil mematikan rokoknya karena Viana jadi batuk-batuk mencium asap rokoknya.

    “tapi itu kan fasilitas mang, masa dapet kamar gak nyaman begini” jawab Viana sambil memandang sekeliling kamar yang ternyata memang pengap, jauh berbeda dengan kamarnya yang ber-AC. Sementara diam-diam Udin tersenyum licik, otaknya cepat sekali berfikir untuk mendapatkan dua keuntungan bahkan bisa lebih sekaligus.

    “Ya, terserah non Viana deh, koq non baek banget, cantik lagi, goblok banget tuh pacarnya non ya…”

    Wajah Viana merona merah dalam remang lampu 50 watt dalam kamar Udin. Viana sendiri merasa aneh, kenapa tiba-tiba jantungnya berdebar kencang, naluri kewanitaannya tersentuh oleh pujian yang memang disengaja oleh kuli ayahnya itu.

    “Hmm udahlah mang, jangan ingetin via lagi, via ga mau inget dia lagi” dalam benaknya Viana teringat betapa keperawanannya telah terenggut oleh mantan pacarnya dulu, dia merasa menyesal andai saja….

    “iya maaf non, mamang Cuma ngerasa sayang aja padahal non udah dientotin, masa ditinggal gitu aja, kalau mang Udin jadi dia, pasti non via udah mang kawinin, jarang kan ada cewek kayak non ini, putih, badan mulus, cantik lagi” Udin terus melancarkan jurus memuji nya sekaligus dengan kata-kata vulgar yang cenderung jorok.

    “ah, mang Udin bisa aja, masa mau kawinin via segala” wajah Viana tambah memerah, bukan karena marah, tapi justru hatinya sedang berbunga-bunga. Udin benar-benar pintar memanfaatkan situasi hati Viana yang masih dalam tahap pemulihan, ditambah efek dari ilmu gendam yang tiap hari ditujukan pada Viana rupanya benar-benar sukses. Gadis 18 tahun majikannya ini telah 75% dalam genggamannya.

    “bener non, sumpah samber duit kalau mang bohong, suer dah”

    Viana malah tertawa “ heheheeh asik dong kesamber uang mah, via juga mau, ayo mang Udin nanti dimarahi istrinya lho,,,,!”

    “mamang mah belum punya istri, tapi kalau gundik mah banyak.hehehe, maklum non, kebutuhan si otong ini wajib dipenuhin, kalau gak malah ga bisa kerja, bawaannya ngaceng terus”

    “Ihhhh , mang Udin ternyata mata keranjang ya, dasar laki-laki buaya!” teriak Viana dengan pura-pura cemberut manja.

    “Yah gimana lagi non, gini nasib orang gak punya duit, terdesak dimana-mana termasuk siotong ini selalu minta jatah, nah siapalagi yang bisa mamang kerjain selain jajanan dijalan itu tuh…” tanpa ragu Udin menunjuk kearah retsleting celananya.

    “Idihhh, amit-amit ya mang koq mau sih sama cewek dijalan-jalan itu, emang cantik-cantik ya?” Tanya Viana penasaran.

    “Boro-boro non, jauh tanah kelangit kalau dibandingin sama non Viana, ini mah karena terdesak kebutuhan saja non”

    “kebutuhan apa sih mang? Kayaknya berat amat?”

    “Non pura-pura gak tau ah, ya kebutuhan siotong ini, kalau ga muncrat-muncrat belum bisa mikir jernih, pasti pacarnya non juga dulu gitu, tapi untung ada non Via”

    “Ah, masa sih mang? Berarti mang Udin sekarang juga masih suka jajan dong?”

    “hehehe jadi malu non, tapi sekarang mah ga pernah lagi sejak kerja disini non” Udin cengar-cengir didepan Viana.

    “Wah, berarti mang Udin udah insyaf yah, makanya kerja yang bener mang biar bisa cepet kawin, nanti malah ketuaan”

    “Sebenernya bukan insyap non, tapi sekarang mamang udah gak perlu jajan lagi, udah tersedia disini koq”

    “maksud mang Udin?” Tanya Viana dengan wajah masih innocent sambil membetulkan posisi kakinya yang pegal akibat tak biasa duduk bersimpuh seperti sinden.

    “tapi jangan marah ya non, sebenernya sekarang mamang sering ngocok sambil berkhayal tentang non Via”

    “Tentang aku mang? Berkhayal apa?” hati Viana bergetar-getar daritadi hingga pembicaraan itu jadi sangat menjurus tanpa sedikitpun rasa marah dalam hati Viana.

    “Ya tentang non Via dong, andai mang Udin jadi pacarnya Via, trus kita entotan, mamang service seluruh badan non Via yang putih mulus itu, sampai sperma mamang muncrat-muncrat kayaknya pacanya non Via itu dulu”

    “Ahhh, mang jangan singgung lagi tentang pacar Via dulu.”

    “Ehhh, iya maaf non, kelepasan bicara, maksudnya memang kebutuhan cowok itu ngeluarin sperma baru puas, gitu non”

    “kalau Cuma buat ngeluarin sperma, via juga bisa koq, tapi ga usah bayangin via sampai kayak gitu”

    “Yang bener non? Memangnya non Via mau sama mamang? Tadi siang katanya gak mau..hehehe”

    “Jangan geer dulu mang, Via mau dengan 3 syarat, gimana?

    “Syaratnya apa non? Jangan berat-berat nih, sekarang mamang gak tahan kepingin muncrat lagi”

    “Syaratnya, jangan bicarain pacar via lagi, kedua mamang ga boleh jajan diluar lagi trus syarat ketiga mang Udin harus nemenin via ngobrol kalau via lagi bosen, gimana mang?

    “Wehwehweh, syarat ketiga yang berat non, kalau siang mamang kan harus kerja, gimana caranya trus nanti gimana kalau papa non tau, bisa dipecat mamang nih”

    “ooo, kalau itu tenang aja mang, pintu kamar Via dilantai 2 selalu dikunci dan kuncinya via bawa terus, jadi papa pasti ngiranya Via lagi tidur atau belajar dikamar”

    Baca Juga Cerita Seks Skandal di Rumah 5: Lust Everywhere

    “ Okeh non, mulai sekarang ajah, udah gak nahan dari tadi nih” Udin tanpa malu melepas celana jins lusuhnya lalu selana dalam kumalnya yang sudah bau. Viana terkesiap melihat benda menggantung didepannya, bentuknya panjang hitam dan lumayan besar kalau dibandingkan dengan penis Johan yang belum sunat. Ini pertama kalinya dia melihat penis pria dewasa yang umurnya jauh diatas Johan.

    “Koq sekarang mang? Cepat sekali?”

    “Iya non, sebelum non datang juga udah mau nyoli, tapi keburu non dateng, jadi sekarang aja sekalian non yang kocokin”

    Ragu-ragu Viana malah terus memandang penis hitam didepannya, tercium bau yang kurang sedap dari penis itu, Viana mengernyitkan alisnya, tapi pelan-pelan tangannya memberanikan diri menyentuh batang penis Udin sambil terus duduk bersimpuh di depan kaki Udin yang dalam posisi berdiri. Ada perasaan aneh dalam hati Viana kenapa dia mau melakukan hal ini, tapi anehnya Viana semakin bergairah, mukanya yang putih oriental tampak sayu dalam nafsu yang memuncak. Udin sangat menikmati ketika batang pelernya digenggam Viana kemudian mulai diurut-urut, dipijat dan dikocok. Viana memang sudah berpengalaman mengocok penis Johan, mantan pacarnya sehingga tak butuh waktu lama dia mulai lancar mengocok penis Udin, hanya bedanya sekarang Viana tampak sedikit ragu memegang kepala penis yang disunat, baru kali ini Viana melihat penis pria yang disunat, namun lama kelamaan Viana malah asyik memainkan kepala penis bersunat itu. Sepuluh menit kemudian Udin tak kuat menahan arus sperma dalam penisnya hingga akhirnya menyemburlah sperma kental kekuningan. Viana yang sudah tau gelagat akan keluar, segera mengarahkan penis itu kearah samping mukanya sehingga wajah Viana terhindar dari semprotan sperma.

    “Aduh, banyak amat mang, sampai 5 kali keluar nih”

    “I…iya non, abis wajah non bikin mamang nafsu banget. Terusin non sampai beres, non Via enak bener, tangannya lembut banget, gak pernah kerja ya non” kata Udin dengan mata merem melek menikmati mani terakhir yang keluar dari ujung kemaluannya.

    “hehehe iya dong, udah via duga, mang Udin pasti keenakan dikocokin via, tapi ihhhh ada yang nempel ditangan via tuh, mana tisu mang, jijik ahh”

    Dengan santainya Udin menarik rok putih Viana hingga pahanya tersingkap, lalu malah mengelap tangan Viana yang terkena spermanya. “ Gini aja non, biar gampang, disini ga ada tisu, nanti dicuci si mbok Saroh aja” Tentu saja Viana melotot dengan wajah lucunya. “Mang Udin jorokkk aaah!”

    Tiba-tiba terdengar pintu gudang terbuka, pertanda ada orang yang masuk, Viana buru-buru berdiri “mang, ada yang datang, jangan-jangan papa pulang, sembunyi dimana nih?” bisiknya khawatir.

    “Itu si Tarjo pulang non, bukan papanya non. Hehehe tenang aja non, amann.”

    Viana menarik nafas lega, dia tidak jadi memarahi Udin yang menempelkan sisa sperma di roknya.

    “Wew, si non masih disini rupanya, maaf ya non saya ikutan nimbrung boleh kan?” Tarjo yang rupanya sudah pulang beli makanan berdiri didepan kamar.

    “Boleh koq mang, tapi via udah mau balik ke kamar via juga nih, udah mulai ngantuk”

    “padahal baru satu jam non, masa udah ngantuk? Tidur disini aja, nanti mamang tidurin, gimana non?” Udin nyeletuk, sampai Viana kembali mendelik kearahnya, wajahnya merah, malu karena disitu ada Tarjo yang tampak nyengir.

    “Tuh kan mang Udin genit, udah ah, via balik sekarang” sahut Viana sambil berjalan kearah pintu kamar.

    “Becanda non, koq marah, tapi tambah cantik ya…, mang Udin anterin deh” Udin juga ikut berjalan dibelakang Viana sambil matanya tak lepas memandang body Viana dari belakang yang tampak sexy. Didepan Tarjo, Udin rupanya ingin memperlihatkan bahwa Viana sudah dalam kekuasaannya. Udin mencoba merangkul pinggang Viana dari samping. Viana menyibakkan tangan tangan Udin sambil melirik kearah Tarjo dibelakangnya yang pura-pura memandang kearah lain. Sekeluar dari kamar, Udin lagi-lagi menggandeng pinggang Viana yang ramping, tapi kali ini Viana diam saja tak menolak sampai dipintu gudang. “Non, besok sore kesini lagi ya, tadi mamang puas banget, kocokan non Via mantap banget”

    Viana tertunduk malu, matanya yang sipit tak berani melihat muka Udin yang porno, tapi Viana senang dan bangga bisa memuaskan Udin. “Iya mang, nanti Via kesini lagi, tapi ingat janji mamang tadi” Viana mengangguk, tapi wajahnya tetap tertunduk. Viana pun kembali ke kamarnya tanpa ada yang melihat.

    ##################################

    Chapter VIII

    Hari itu Viana tampak berseri-seri, pagi-pagi sudah diantar Udin ke sekolah. Di sekolah, Viana malah membayangkan penis yang kemarin dipegangnya, melihat muntahan sperma didepan matanya rupanya membuat Viana terkesan, penis yang bagi Viana berukuran besar itu terlihat sexy sekali dengan kepala penis menyerupai helm berwarna merah kehitaman, berbeda sekali dengan penis Johan yang terlihat berkerut dan masih terselubung kulit malah terlihat kecil menguncup. Tiba-tiba saja Viana merasa rindu pada Udin, aroma penisnya yang meskipun tidak sedap malah menjadi daya tarik tersendiri. Wajah Udin yang selalu menatapnya dengan pandangan mesum malah terbayang-bayang, Viana malah kangen pada tatapan Udin padanya. Tatapan itu membuat Viana bangga pada tubuhnya sendiri. Viana ingin kembali memuaskan Udin, pemandangan muncratnya sperma didepan matanya telah membuat Viana puas sekali. Disisi lain , Viana tidak ingin Udin mendapat kepuasan yang lebih selain darinya, mungkin ini sisi feminimnya sebagai wanita, namun justru sisi inilah yang akan terus menjerumuskannya. Ilmu gendam yang dilancarkan Udin memang luar biasa, mampu mempengaruhi seseorang secara tidak sadar dengan permanen. Viana gadis Chinesse dengan masa lalu yang kelabu dan mungkin sekarang dengan masadepan yang suram yang samasekali tidak disadarinya. Sama sekali tidak ada cinta dalam hati Udin untuk Viana, yang ada hanya nafsu yang selalu memikirkan bagaimana cara menikmati tubuh anak majikannya itu. Dia penasaran sekali dengan gadis-gadis Chinesse yang selalu tertutup dan tidak dapat disentuhnya. Sejak bertemu Viana yang cantik oriental dengan tubuh yang bening mulus membuat Udin merasa bahwa Viana gadis yang tepat untuk dijadikan sasaran nafsu birahi terpendamnya. Bel sudah berbunyi, sekolahpun usai. Viana buru-buru keluar kelas membawa tasnya. Wajahnya lebih semangat dari hari sebelumnya, tapi didepan Udin justru dia berusaha menyembunyikan perasaan itu. Wajahnya yang bulat telur dengan kulit putih kemerahan terkena sinar matahari membuatnya tampak cantik sekali berbeda dengan teman-teman wanitanya yang lain yang tampak kumal kehitaman.

    “Mang, udah lama nunggunya? Ayo anter Via pulang, oiya mang Tarjo tadi Airin lagi makan dulu dikantin, jadi mang Trajo tunggu dulu aja, jadi Via duluan pulang ya”

    “Sip non, pasti ditunggu”

    Udin yang sudah siap, begitu Viana menaiki motor langsung saja tancap gas. Ini membuat Viana secara reflek memeluk pinggangnya, begitu sadar, kontan muka Viana merah malu dan segera melepas pelukannya.

    “Koq dilepas non, gak apa-apa pegang aja, nanti non Via malah jatuh dari motor, lagian enak non, susu non empuk sekali ya”

    Udin mulai lagi bicara seenaknya dan langsung berteriak karena pinggangnya dicubit Viana dengan keras sekali, kali ini motornya jadi oleng, lalu gantian Viana yang teriak ketakutan dan lagi-lagi tangannya merangkul Udin sampai motor itu kembali berjalan normal. Udin tersenyum puas bisa ngerjai anak majikannya itu. Viana pun melepas kembali rangkulannya.

    “Tuh, makanya mang nyetir yang bener dong!”

    “Iya, abis tadi non nyubitnya sakit, jadi aja gitu, tapi tadi ada yang enak lagi koq, cubit lagi dong non” teriak Udin disela-sela suara motornya.

    Viana mendelik dibelakangnya, tapi dia juga tersenyum geli mengingat kejadian tadi.

    “Awas aja kalau kayak tadi lagi, nanti sore gak jadi via service lho”

    “Ampun non, iya deh yang penting nanti servicenya memuaskan ya non”

    Viana diam saja pura-pura tidak menanggapi tapi hatinya berkata iya.

    Sesampainya didepan rumah, mereka pura-pura cuek karena ayah Viana tampak sedang memperhatikan anaknya dari dalam toko.

    “Non, nanti bajunya yang sexy ya” bisik Udin dibelakang Viana diiringi gendam dalam suaranya yang bernada perintah. Viana diam saja mendengar bisikan itu, dan terus berjalan kearah toko papanya dan terus kearah kamarnya dengan cuek.

    “Via, nanti sore papa mau pergi ambil stock ke Indramayu, papa udah titip kunci ke mama Tatik, tolong jaga rumah ya soalnya papa bakal pulang subuh”

    “Iya pa, tenang aja, kan urusan jaga rumah ada mang Udin sama Tarjo, suruh mereka aja”

    “Iya nanti juga papa bilang mereka sekalian suruh jaga kalian semua”

    “Ya udah deh pa, via masuk dulu, mau istirahat” tanpa menunggu jawaban papanya, Viana langsung masuk dan naik tangga ke kamarnya.

    ####################################

    Chapter IX

    Sore itu, setelah ayahnya berangkat, Viana pun bersiap mengunjungi gudang kepuasannya tapi kali ini Viana tidak ingin adiknya ikut. “Rin, besok kamu ada tugas apa lagi? Sibuk gak?” Tanya Viana memancing keadaan adiknya.

    “Iya cie, koq cici tau, masih yang kemarin belum selesai soalnya kemarin aku malah ketiduran ci”

    “ yaudah deh, cici udah mulai bosan lagi dikamar nih, mau main dulu kegudang ya”

    “Iya ci, kemarin rame ya ngobrolnya sampai ketagihan gitu”

    “yah lumayan, daripada bengong dikamar” Viana kembali kekamarnya untuk ganti baju sesuai pesan Udin tadi siang.

    Tiba-tiba Viana merasa horny membayangkan tatapan mesum Udin dan Tarjo padanya, ia ingin kulinya itu terus menatapnya seperti itu, perasaannya tersanjung sekali saat itu. Viana merasa dirinya diinginkan, dia tidak sadar Udin dan Tarjo hanya menginginkan tubuhnya saja. Sengaja Viana memilih baju atasan merah tua yang agak terbuka dibagian dada dan pundaknya, sedangkan untuk bawahan, dia pilih rok merah yang dia pikir matching dengan bajunya agar tampak feminim, ternyata roknya sudah agak kekecilan hingga terlihat agak ketat dan ujungnya sudah sedikit diatas lutut, padahal waktu dibeli dulu masih selutut, berarti sekarang ini dia jadi tambah tinggi. Yasudahlah, pikirnya yang penting matching dan terlihat feminim modis. Viana mengendap-endap keluar dari kamarnya setelah sebelumnya mengunci pintu kamar takut ketahuan Tatik dan mbok Saroh, lalu turun kelantai satu, untunglah semua orang berada dikamarnya masing-masing, jadi setelah sampai dilantai satu tokonya, Viana dengan bebas melenggang kearah gudang. Viana membuka pintu gudang yang tidak terkunci, lalu menutupnya kembali pelan-pelan.

    “Wah non via sexy sekali, udah kangen sama kontol mamang ya…” Viana dikejutkan oleh bisikan cabul yang tiba-tiba dibelakangnya, belum sempat teriak, pinggangnya sudah dirangkul Udin dari belakang.

    “Non, bajunya sexy juga nih, tuh susunya keliatan, wew, putih banget non” bisik udin di belakang telinga Viana sambil mulutnya menjilati bahu Viana yang putih mulus, matanya terus melihat belahan dada Viana di belakang pundaknya.

    Viana yang belum hilang kagetnya secara reflek berbalik hingga tubuhnya menghadap Udin. “Aduhhh mang Udin bikin kag…mmmphhh mmmanghh” belum selesai kalimat diucapkan, Udin yang sudah kebelet mencium bibir Viana, lalu lidahnya dengan liar menyapu mulut Viana.

    “Mang, udah ah, nanti ada yang liat” bisik Viana sambil matanya melirik keadaan sekeiling.

    “tenang aja non, kebetulan si Tarjo sekarang masih belum pulang, jadi Cuma kita disini non”

    “memangnya mang Tarjo lagi kemana?”

    “Tadi sih bilangnya mau kerumah temannya didaerah pantai, pulangnya agak malam, non via kangen ya sama si Tarjo?”

    “iii gak koq, kirain ikut papa ke indramayu”

    “ga koq non, papa non via mana mau diikuti” sahut Udin mengomentari tuannya yang juga mata keranjang.

    “Iya, papa memang gitu, dari dulu juga kalau pergi selalu sendirian”

    “mungkin nyari ayam-ayam kampung non yang masih muda, hehehe”

    Viana termenung sejenak teringat pada mamanya diJakarta, betapa akibat perbuatan papanya, keluarganya jadi hancur, juga gara-gara Tatik yang suka morotin uang papanya, sekarangpun masih jadi benalu dirumahnya. Ia merasa geram sekali pada papanya itu. “Hmmmm kebiasaan papa memang belum berubah”

    “Yah, biarin aja non, banyak koq pengusaha cina yang demen gadis-gadis kampung, itumah wajar, udah bosen kali non tiap hari liat istrinya yang sipit-sipit juga kayak non… sekarang giliran mamang yang demen gadis sipit kayak non Via hehehehe” kata Udin sambil tangannya kembali menggandeng pinggang Viana dan digiringnya kedalam kamar. Viana tidak bisa menolak ajakan tidak langsung itu karena hatinya sedang dagdigdug digandeng oleh Udin. “masa sih mang, koq kayak gitu sih, emang semua cowok kayak gitu ya?”pikiran Viana terlintas pada mantan pacarnya yang sudah tega mencampakkannya.

    “gak semua sih non, itu terutama kalau si cowoknya kaya, cakep ya rata-rata begitu, makanya non kalau nyari suami,gak usah yang kaya-kaya, kayak kita aja dijamin puas, yang penting kontolnya gede-gede, non via juga udah liat yang punya mamang, suka kan?”

    “idihhh kata siapa via suka barangnya mamang?” sahut Viana nyengir malu.

    “Lah, non Via koq mau lagi dateng kesini, mau apalagi selain yang kemarin itu tuh, ayo non ngaku aja,non”

    Viana terdiam, risih sekali rasanya mendengar ada pria yang bicara begitu secara langsung didepannya, secara dirinya sendiri juga merasa senang mendengarnya. Udin maklum pada keadaan Viana yang masih belia tentu malu mengakui semua rahasia hatinya, tangannya segera mendudukan Viana, namun kali ini Viana didudukkan dikasurnya yang sudah lusuh dan bau. Matanya sibuk menjelajahi pundak Viana yang putih mulus sampai kebelahan dadanya, penisnya sudah tegang didalam celananya, putih amat nih cewek pikirnya.

    “mang, baju via bagus ga?” Viana asal bertanya memecah ketegangan dalam hatinya dengan suara lirih, badannya sudah lemas akibat sentuhan Boneng yang dibarengi ilmu gendamnya.

    “Bagus non, sesuai permintaan mamang, Cuma kurang sexy dikit non” kata Udin

    “Kurang sexy apanya mang? Kata via ini udah cukup modis, waktu beli malah jadi rebutan sama Airin”

    “Tetep kurang non, harusnya dibagian ini bukaannya dilebarin, jadi susu non lebih keliatan.” Kata Udin, kali ini tangannya sambil meraba baju bagian dada Viana yang memang agak terbuka, sekaligus tangannya yang besar ikut nyerempet kekulit dada Viana yang halus itu. Viana agak tersentak, bagaimanapun juga Viana adalah gadis baik-baik sehingga belum pernah ada pria yang menyentuh tubuhnya, kecuali Johan, mantan pacarnya. Justru kali ini tangan yang menyentuhnya adalah tangan kulinya sendiri yang jelas bukan siapa-siapanya.

    “Ihh, mang Udin jangan pegang-pegang ah, maluuu…”kata Viana lirih sambil menutupi dadanya yang tadi baru tersentuh, kulit wajahnya yang putih , merona merah.

    “kenapa malu non, itukan wajar, malah tadinya mamang mau liat susu non Via, ayolah non, jangan jual mahal gitu, lagian non Via juga udah ga perawan, jadi ngapain lagi jual mahal, lagian mamang Cuma mau liat susu non via aja” bujuk Udin.

    “malu ah mang, bukannya Via jual mahal, tapi dulukan Via sama pacar Via, mang Udinkan bukan siapa-siapa Via”

    “Gini aja non, gimana sekarang kalau mamang jadi pacar non Via, mau kan?” desak Udin tidak sabar. Viana pun melongo.

    “Yah, nanti dulu deh mang, Via belum siap, nanti Via pikir-pikir dulu ya” jawab Viana kemudian dengan santai.

    “Hmmm, ya sudah deh gimana non via aja, sekarang kocokin kontol mamang yah, udah basah nih rasanya” kata Udin sambil membuka celananya, dan benar saja, kepala penisnya yang tegang sudah mengkilat oleh cairan precum nya yang sudah meleleh menyelimuti ujung penisnya. Viana yang memang sudah terkesan dari kemarin, langsung saja memegang penis Udin yang sudah tegang.

    “Hmm udah tegang ya mang?” Tanya Viana sambil tersenyum menggoda. Senyuman itu membuat Udin langsung mendekatkan kepalanya ke wajah Viana, sambil berbisik “Non, sekarang oralin ya, mau kan?” lalu bibir tebalnya mengecup pundak lalu terus merayap kebibir Viana yang tipis. Vianapun membalas ciuman itu dengan bibirnya yang lembut. Lidah Udin dan lidah Viana saling bersentuhan. Udin dengan lahapnya menyedot lidah Viana. Untunglah Viana segera menarik lidahnya, takut adegan it uterus berlanjut dan membobol pertahanannya.

    “Via gak suka oral, jijik banget mang, via kocokin aja yah, kayak kemarin, mang Udin puas juga kan?”

    “kenapa non? Padahal enak lho, non Via Cuma ga biasa kali nyedot kontol, sedotinlah non, nanti juga jadi biasa koq, kan bisa lebih puas”

    “ lain kali deh mang, Via bisa muntah ngebayangin barang mang Udin dimulut Via”

    “Janji ya non, tapi sekarang non buka susunya dong, mang udin pingin liat, pasti tambah nafsu nih, boleh ya” tanpa menunggu jawaban Viana, tangan Udin memelorotkan baju Viana. Karena bajunya model bahu terbuka, maka dengan mudahnya baju Viana melorot ke pinggang, hingga nampaklah kulit pundak dan dada yang halus mulus, payudara Viana yang ukuran 34 masih tertutup bra putih kesayangannya. Secara reflek Viana menutupi payudaranya dengan kedua tangan, namun tangan Udin yang besar menghalanginya.

    “Udah, gak apa-apa non, gak mau oral, berarti non mesti begini” Viana yang sejak tadi birahinya sudah naik, tidak protes sewaktu tangan Udin melepas bra yang dipakainya.

    “Wuihh, putih amat non, gimana ngerawatnya nih susu, buat mamang ya” Udin tak kuat untuk tidak menjilati payudara Viana mulai dari belahan hingga putingnya yang merah muda.. Viana rupanya sudah kehilangan rasa malunya yang baru saja dia katakan pada Udin. Viana tidak menolak semua perlakuan Udin padanya, tangan Viana mulai mengocok penis Udin yang tegak mencapai 18 cm.

    Viana tidak menyadari, di ruangan itu telah bertambah satu orang lagi yaitu Tarjo yang memang sengaja pulang setelah mendapat SMS dari Udin sebelum Viana datang tadi. Tarjopun sengaja datang dengan mengendap-endap, Iapun ingin mengalami kenikmatan seperti yang diceritakan Udin kemarin. Tarjo datang tanpa membuat suara derit pintu karena siangnya pintu gudang telah diberinya pelumas untuk memuluskan kedatangannya. Dilihatnya Viana yang tengah bertelanjang dada sedang mengocok penis Udin, tak tahan melihat pemandangan itu, Tarjopun menyergap Viana dari belakang. Tangan Tarjo memeluk tubuh Viana dari belakang lalu meremas-remas payudara Viana yang putih lembut. Viana sedikit kaget melihat kehadiran Tarjo disaat dirinya sedang setengah telanjang, namun birahinya yang sudah memuncak dapat menutupi kekagetannya.

    “Ga apa-apa non, Cuma si Tarjo koq, terusin aja, tanggung enak nih”Udin rupanya sudah merencanakan itu semua.

    “Iya non, tenang aja, pintunya udah aku kunci barusan”kata Tarjo sambil ikut membuka celananya disamping Viana, lalu keluarlah penis hitam Tarjo yang sedang membesar dengan pesat. Tarjo mengelus-eluskan kepala penisnya yang sedikit lebih besar dari Udin ke punggung Viana yang terbuka. Menyadari ada benda asing dikulit punggungnya yang mulus, Viana membalikkan badannya, sekejap kemudian dia membalik lagi dengan cepat. Mukanya merah merona karena malu, jengah melihat penis pria lain didekatnya. Udin yang melihat itu tersenyum mengejek, lalu dia membimbing tangan Viana agar menyentuh penis Tarjo yang kian membesar.

    “Pegang juga non, kontol mang Tarjo, jangan malu-malu, ayo kocokin juga” kata Tarjo tersenyum mesum melihat Viana yang tampak canggung.

    Akhirnya perlahan-lahan tangan Viana mulai menyentuh penis Tarjo yang sekarang terlihat sudah lembab. Nasi sudah menjadi bubur pikir Viana, diapun melanjutkan kocokannya pada kedua penis pembantunya. Viana menggelengkan kepalanya sewaktu Tarjo mencoba membujuk agar dia mau mengulum penis mereka. Udin dan Tarjo saling berpandangan lalu mengangguk penuh arti, sementara Viana bersimpuh didepan penis mereka sambil tangannya terus bekerja memuaskan para pekerjanya. Selang sepuluh menit kemudian Viana merasakan kedutan pada penis Udin, ini saat yang dia tunggu, ia ingin melihat semprotan sperma Udin yang telah membuatnya terkesan kemarin. Tarjo memegangi kepala Viana yang tadinya akan menghindar ke samping.

    “ liatnya dari depan aja non, begini, jadi lebih nikmat” kata Tarjo memposisikan wajah Viana didepan penis Udin. Viana mau-tidak mau menghadap penis yang sesaat lagi akan muntah, dan benar saja beberapa detik kemudian, Udin melenguh sambil memuncratkan banyak sekali sperma kewajah Viana tanpa terelakkan. Viana memejamkan matanya sambil mengatupkan kedua bibirnya rapat-rapat. Sperma yang selama ini dihindari dari wajahnya kini malah total menghiasi kulit wajahnya yang putih. Tampak lendiran itu meleleh turun diantara kedua alisnya. Gadis itu tidak dapat berbicara bebas karena tentu sperma Udin akan ikut masuk bila mulutnya terbuka. Tangan Tarjo memegangi tangan Viana yang akan menyeka sperma Udin dari wajahnya. “tunggu non, biar aja peju mamang turun dengan sendirinya, wajah non keliatan lebih cantik koq sekarang” kata Udin sehabis melepas hajatnya.

    “Iya non tunggu mamang juga mau bucat nih” Tarjo kini sedang mengocok-ngocok penisnya didepan Viana yang mata sipitnya masih tertutup sperma. “Crott…cretttt” terdengar bunyi muncratan sperma Tarjo yang kental kekuningan melesat kewajah Viana, namun kali ini Tarjo juga mengarahkan spermanya ke payudara Viana yang sudah terpampang didepannya. Alhasil payudara Vianapun terkena sperma Tarjo.

    Kini tangan Viana mulai menyeka sperma dari wajahnya, terutama dari bibirnya. Udin ikut membantunya sambil berusaha memasukkan sperma kedalam mulut Viana agar terjilat oleh lidahnya. “nih non, sambil dicoba dikit-dikit biar terbiasa, jadi nanti-nanti non bisa nelen peju, enak kan non?” Tanya Udin kemudian, tetap dengan senyum puas melihat anak sulung majikannya sudah takluk pada mereka berdua. “mmmmh…” Viana cemberut tapi tetap tidak berani membuka mulutnya. Disela-sela bibirnya tampak lelehan sperma yang menggenang tepat dibelahan bibirnya hingga secara tidak sengaja ikut meresap kedalam mulut Viana. Tampak gadis sipit itu mengernyitkan dahinya dan mulai meludah kecil karena sperma yang meresap dibibirnya terasa bau dan hambar. “uuhhh, bau mang, kayak ingus rasanya” gerutu Viana

    “hehehe tapi enak kan non, asin gurih gitu, iya gak?” udin menyeringai

    “Asin gurih apanya!, hambar bau!”Viana terus meludah karena terasa dilidahnya justru rasa benih Udin itu mulai menjalar didalam rongga mulutnya.

    “Coba rasa peju mamang non, sama gak?” Tarjo yang tak mau kalah mempromosikan rasa spermanya sambil menyodorkan ujung penisnya yang masih terdapat sedikit sisa sperma

    “gak mauuu” Viana spontan menjawab diiringi tawa kedua pembantunya.

    Selanjutnya ketiga insan yang berbeda status itu bersenda gurau dengan candaan porno dari Udin dan Tarjo yang memang bertujuan untuk merusak pemikiran gadis yang mulai berangkat dewasa ini. Ilmu gendam pun secara diam-diam dilancarkan dari jarak dekat oleh kedua pembantu bermuka mesum ini. Viana semakin terlena oleh hasutan dan gendam kedua pembantunya yang menjurus pada suatu persetubuhan haram dengannya. Udin dan Tarjo semakin ahli dalam mempermainkan gairah Viana yang memang sedang pada masa pergolakan layaknya gadis dewasa, tapi sayangnya Viana hanya gadis abg yang kurang pengalaman sehingga gadis itu tidak tahu harus bagaimana memenuhi hasratnya terutama jika tidak dibimbing. Nalurinya sebagai gadis terhormat masih melekat sehingga meskipun sudah terbakar birahi namun Viana masih menolak untuk disetubuhi oleh kedua pembantunya itu. Cerita Maya

    “Non via kapan atuh mau cobain kontol mamang ini, tuh gak kasian non, udah pada tegang gini padahal belum 10 menit tadi baru pada muntah” kata Tarjo yang masih belum memakai celana sengaja memperlihatkan penisnya yang sudah tegang lagi.

    “iya non, cobain sekali aja non kulum, pasti ketagihan deh, lebih nikmat daridapa Cuma dikocok kayak tadi non” kata Udin menimpali sambil tangannya mempermainkan payudara Viana yang belum juga memakai branya.

    “engga deh mang. Via jijik kalau harus gitu” kata Viana sengaja tidak melihat penis kedua pembantunya, namun sesekali mata sipitnya melirik juga kearah penis Udin yang juga sedang membesar.

    “Jadi non Via maunya gimana? Nyobain ngentot yuk non, mau gak? Mumpung papa non belum pulang” kata Tarjo sambil tangannya mencoba menyibakkan rok Viana, namun tangan Viana menepisnya pelan.

    “ga ah mang, Via ngantuk nih, mau tidur, inikan udah jam 11 malem.” Kata Viana sambil menguap lebar.

    “yah koq gitu non, padahal pasti memek non juga udah basah kan?” Kata Udin dengan nada kecewa.

    “Yehh mang Udin tau aja, tapi jangan harap ya, cukup kayak tadi aja, toh kalian ini siapanya Via?” Sahut Viana.

    “Nah lu din, kita ditagih nih. Hehehe kalau non via mau, kita mau banget koq jadi pacar non Via, tinggal non aja yang mau atau gak sama kita, hayooo” kata Tarjo malah senang menemukan jalan pintas.

    “kalian ini udah gila ya, memangnya mau dimadu sama Via? Udah ah, makin ngelantur aja nih mang Tarjo, udah malem, Via mau balik kekamar” kata Viana tersenyum sambil memakai bajunya kembali.

    “kenapa ga disini aja tidurnya non? Kita juga masih mau koq dikocokin sama tangan non Via, apalagi sambil non nya telanjang, pasti asyik non” Udin mencoba membujuk Viana agar tidak kembali kekamar.

    “Via ngantuk mang, kapan-kapan lagi aja ya”

    “janji ya non, nanti mamang tagih janji non via” kata Udin

    “Iya deh mang, nanti tagih aja kalau mang Udin lagi kepengen” kata Viana tersenyum manis pada Udin

    “Sekarang cium dulu dong non kontol kita, sekaliii aja sebelum non tidur, biar ga penasaran nih si otong”Kata Tarjo.

    Viana yang sudah selesai merapikan pakaian, melirik kearah penis Udin dan Tarjo yang tegang-tegang mengacung kearahnya. Kembali Viana tersenyum nakal, kepalanya mendekat kearah selangkangan Udin, lalu mulutnya yang mungil mencium kepala penis Udin lalu berganti pada penis Tarjo. “Nah gitu dong non, yang sering ya, gak usah jijik segala, nanti non yang rugi“ kata Tarjo menyeringai sambil memakai celananya kembali.

    ”sampai nanti yang mang berdua, Via mau bobo dulu” kata Viana pamitan.

    Viana kembali kekamarnya dengan senyum puas karena telah bisa memuaskan kedua pria yang selama ini membuatnya penasaran dan tidak bisa tidur. Gadis itu tidak tahu perjalanan hidupnya sejak saat itu ada dibawah kendali Udin dan Tarjo. Bagaimana kisah keluarga Viana selanjutnya?

    Bersambung
    By: Dream Master

  • Skandal di Rumah 5: Lust Everywhere

    Skandal di Rumah 5: Lust Everywhere


    33 views
    Linda

    Cerita Maya | Pagi itu sekitar pukul 9.00, setelah rumah sepi, Linda keluar dari kamarnya hendak berenang dan santai sambil tiduran di tepi kolam renang halaman samping rumahnya yang mewah. Hawa yang sejuk, menggodanya untuk berenang di kolam renang di halaman samping rumahnya. Kebetulan Linda memiliki berbagai macam pakaian renang yang dibelinya dari berbagai butik. Linda kemudian memilah-milah pakaian renang mana yang akan dipakainya. Apakah ia akan berenang dalam keadaan polos alias bugil, karena di rumah hanya ada Ujang, pembantu prianya yang saat ini sedang memotong rumput di sekitar taman samping, di sekitar kolam renang itu. Ataukah ia akan berenang dengan bikini yang sangat sexy dan mampu menggoda Ujang, jongosnya yang perkasa itu. Bukankah Linda hampir setiap hari berani telanjang bulat dan seringkali disetubuhi oleh Ujang di rumahnya yang mewah itu. Tetapi, setelah dipikir-pikir, akhirnya Linda memutuskan untuk memakai pakaian renang two pieces, jenis micro thong bikini, yang baru dibelinya disebuah butik. Pakaian renang itu begitu tipis dan kecil, sehingga tidak mampu menutupi bagian tubuhnya yang sexy.

    Sesaat setelah mengenakan pakaian renang itu, Linda memperhatikan tubuhnya yang begitu indah dan menantang tertutup oleh sepotong bra mini berwarna kuning muda yang hampir memperlihatkan sebagian besar payudaranya yang montok. Terlihat jelas tonjolan puting susunya yang montok itu di balik bra yang kecil dan tipis itu. CDnya, yang juga berwarna kuning muda yang dipakainya begitu tipis dan kecil, dengan tali kecil yang diikatkan ke kiri dan kanan pinggangnya. Tampak jelas bulu-bulu kemaluan Linda keluar dari sela-sela CDnya. Begitu terpampang bebas paha dan buah pantat Linda yang bening, putih mulus yang gempal dan montok itu. Penampilan Linda yang dibalut bikini jenis thong yang begitu menantang itu, pasti akan membuat Ujang, jongosnya itu, naik birahinya. Linda memang sengaja mau menaikkan birahi Ujang dengan pakaian renang  yang amat sangat menantang itu. Setelah puas memperhatikan kesexyan tubuhnya di cermin, Linda kemudian mengambil cream sunblok dari meja riasnya dan dalam pikirannya ia akan meminta Ujang untuk melumuri sekujur tubuhnya dengan cream itu sambil dipijat. Lalu membiarkan Ujang dengan tangannya yang kasar merayapi sekujur tubuhnya yang bening dan mulus. Dan selanjutnya tentu saja, dengan penuh nafsu, Linda akan menyerahkan tubuh indahnya untuk ditunggangi atau disetubuhi dengan begitu liar oleh Ujang, jongos kampungan itu yang batang kemaluannya  besar dan panjang serta mampu memuaskan hasrat seksual Linda yang besar. Sengaja Linda tidak menutup tubuhnya dengan handuk besar, tetapi ia hanya membawa handuk kecil saja yang biasa digunakan untuk mengelap tubuhnya saat berkeringat dikala berolah-raga di ruang fitness, di rumahnya. Cerita Maya

    Setelah siap, Linda keluar kamar untuk memperlihatkan aksinya yang binal itu kepada Ujang, sang jongos perkasa. Tetapi, ketika Linda keluar dari kamarnya dengan bikini yang begitu super sexy, ia melihat adik iparnya Lily sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca majalah.
    “Halo ci Linda, saya tadi sudah sampai sekitar 30 menit yang lalu. Mampir sebentar mau ke Bogor, mau ajak cici sih, soalnya malas berangkat sendiri” kata Lily.
    “Yah, kenapa semalam nggak telepon dulu? Soalnya kalo mendadak begini susah juga. Aku mau berenang dulu nih” sahut Linda kepada Lily.
    “Aduh sexy banget pakaian renangnya. Ini kan jenis thong yah?” tanya Lily.
    “Iya nih Li, cici baru beli dua hari yang lalu di butik di sekitar Jakarta Selatan, jenisnya micro thong bikini. Enak lho dipakainya, nggak ketat” demikian sedikit penjelasan Linda.
    “Tapi ci, itu putingnya koq menerawang begitu dan bulu jembutnya juga kelihatan. Jadinya sexy banget kalo pakai jenis ini” Liliy masih agak heran dengan penampilan Linda.
    “Nggak apa-apalah, kan sexynya di rumah sendiri” Linda memberi penjelasan ke Lily.
    Lily memang berlagak tidak tau kalo dia pernah mengintip Linda yang sedang asyik bersetubuh dengan penuh nafsu di kamar jongosnya. Pikiran Lily mulai jalan, mungkin saja Linda mau menggoda jongosnya itu dengan penampilannya seperti sekarang ini, dan ujung-ujungnya pasti ML.
    “Iya kan ada Ujang, si jongos itu. Dan dia lagi beresin rumput di sekitar kolam renang. Kalo dia lihatin terus, gimana ci? Apa nggak rugi, badan yang putih mulus dan bening ini diliatin si Ujang?” Lily pura-pura bertanya demikian.
    “Ah jangan berpikiran begitu Li, mana dia berani sama kita. Kita kan nyonya majikannya, dia pasti nggak berani. Percaya deh!” demikian pembelaaan diri Linda.
    “Apa nanti si Ujang nggak napsu ci, kalo lihat cici pakai begini?” kembali Lily memancing-mancing. “Nggak apa-apa koq. Kalo dia liatin terus, cuek aja. Hehehehe. Biar aja dia ngeliat, kan kita bebas di rumah sendiri. Ikut berenang aja yuk” demikian akhirnya Linda mengajak Lily, adik iparnya yang juga cantik, putih dan mulus itu untuk ikut gabung berenang.
    “Kalo gitu, kenapa cici nggak berenang bugil aja? Sekalian aja ngasih lihat semua ke Ujang. Hehehehe” Lily menimpali keberanian Linda.
    “Pelan-pelan dulu dong. Aku sih berani aja berenang bugil di depan Ujang. Mau bukti? Ntar lihat aja. Yuk Li, ikut berenang” Linda menimpali pertanyaan Lily.
    “Benar nih, ntar buktiin yah kalo cici berani berenang bugil di depan Ujang, hihihi”.
    “Iya, itu sih kecil…” Linda lalu menarik tangan Lily ke dalam kamarnya untuk memilih pakaian renang  jenis bikini yang juga tidak kalah sexy.

    Linda mempersilahkan Lily membuka pakaiannya dan memakai bikini jenis micro thong warna abu-abu. Agak risih juga Lily bertelanjang di depan kakak iparnya, sehingga Lily melakukannya di dalam kamar mandi yang ada di kamar tidur itu. Sesaat setelah memakai bikini itu, Lily dapat melihat betapa tubuhnya juga begitu sexy, putih sekali, bening dan menantang. Lily merasa agak risih memakainya, karena pasti akan menjadi tatapan mata Ujang yang liar itu. Lily akhirnya cuek saja, toh ci Linda juga berani dengan bikini sexy seperti ini. Lily yakin penampilan dirinya dan ci Linda yang dibalut bikini seperti ini, pasti akan membangkitkan birahi Ujang. Dan seterusnya, Lily yakin, kalo ci Linda pasti berani bugil dan berbuat sesuatu yang gila dengan Ujang. Sama seperti Linda, Lily tidak membalut tubuhnya dengan handuk besar, tetapi mengambil handuk kecil yang sudah disediakan oleh Linda di tepi ranjang. Dengan sedikit keberanian, Lily mulai keluar dari kamar itu dan menuju kolam renang. Setelah Lily keluar dari kamar Linda yang indah itu, Lily sudah tidak menemukan Linda di dalam ruangan rumah itu, kemudian….. Ah rupanya Linda sudah berada di sekitar kolam renang itu. Benar saja, Lily saat ini sedang melihat pemandangan yang menggairahkan. Kakak iparnya itu bukan sekedar berbicara dengan Ujang, tetapi lebih dari itu. Lily melihat, kalau bibir indah Linda sedang disosor dengan begitu buas oleh mulut jongosnya yang tebal itu. Ujang yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boxer dekilnya itu, sedang asyik berpagutan dengan begitu nafsu, bahkan tampak jelas kalau  tangan Ujang yang hitam itu sedang masuk ke dalam CD tipis dan mengobok-obok vagina Linda. Kini Ujang bukan hanya asyik menikmati bibir Linda, tetapi juga asyik menyusu di payudara Linda yang bening dan montok itu.  Tampak sekali dengan begitu nafsu, Ujang menikmati payudara Linda dan dengan jari tangannya mengorek vaginanya.  Hal itu membua Linda mendesah penuh gairah
    “eegghhh eeghhh eessshhhh aaahhh”. Mata Linda yang merem melek dengan rintihan yang keluar dari mulutnya serta gelinjang tubuhnya, memperlihatkan kalau ia menikmati perlakuan nakal dan buas dari jongosnya itu.
    Jelas sekali Linda, membiarkan perlakuan Ujang atas tubuhnya.
    “Sudah jang, nanti aja, ada Bu Lily. Nggak enak ah” akhirnya Linda meminta ujang untuk menghentikan aksinya itu.
    “Sebentar lagi nyah, nih memek nyonya juga sudah basah” kata Ujang sambil terus mengoboki vagina Linda yang sudah berlendir, sebagai tanda sudah dikuasai nafsu.
    “Iya Jang, nanti kamu boleh ngewein nyonyamu ini sampai puas, tapi setelah Bu Lily pergi  yah” demikian pinta Linda pada Ujang.
    “Iya deh, nyonya cantik yang seksi, kalo gitu, Ujang ngewein nyonya ntar aja. Tapi kalo bisa…hehehehehe” Ujang tertawa.

    Ujang

    Linda kemudian menyahut: ”Kalo apa jang? Ayo ngomong!”
    “Kalo bisa sekalian ajak Bu Lily ngewe bareng, pasti enak hehehehehe” Ujang menyampaikan maksud liarnya ke nyonyanya.
    “Huh dasar…… yah sudah, lihat nanti. Sana kerja lagi beresin tanaman” Linda meminta Ujang untuk kembali bekerja.
    “Beres nyah… Ujang kerja lagi deh” sahutnya yang agak menjauh dr Linda dan mulai bekerja membereskan taman lagi.
    Lily menangkap pembicaraan Linda dengan Ujang apalagi mengenai permintaan Ujang itu. Lily menilai, di satu pihak ucapan Ujang memang kurang ajar, tetapi di lain pihak ucapan Ujang membangkitkan gairahnya. Bukankah Lily pun sudah beberapa kali menyerahkan tubuhnya disetubuhi oleh Otong, yang sama seperti Ujang adalah seorang jongos. Dan Lily juga pernah disetubuhi oleh Mamat, tukang antar ayam goreng (eps 2). Dan bukankah Lily sangat menikmati kocokan penis Otong dan Mamat yang besar dan panjang di dalam vaginanya. Apalagi LIly juga tahu kalau penis Ujang juga besar dan panjang, mungkin saja kini adalah kesempatannya untuk menikmati penis mantap milik Ujang. Linda saja sampai mendesah penuh nikmat, tentunya hal yang sama akan dialami olehnya bila ia disetubuhi oleh Ujang.
    “Ah biarkan saja, lihat apa kata nanti deh” Lily perlahan jalan ke arah kolam renang itu, di mana Linda sedang rebahan di kursi tidur di pinggir kolam itu.
    “Waduuhhh Li, kamu juga sexy lho dengan bikini seperti itu. Body kamu masih yahud banget deh” puji Linda ke Lily.
    “Ah biasa aja ci. Body cici lebih ok. Kalau pakai bikini seperti ini, pasti cowok yang ngelihatnya bisa nganceng abis deh hehehehe” Lily pun memuji tubuh Linda yang jg masih indah kemudian mulai rebahan di kursi tidur yang ada di samping Linda.
    “Tapi masih lebih indah body kamu, Li. Kan belum pernah melahirkan. Masih kenceng banget. Kalo aku kan sudah pernah melahirkan si Merry” timpal Linda. “Iya, tapi masih tetap kenceng koq. Pokoknya yahud banget deh. Apalagi kulitnya putih bening, pinggang cici juga ramping, pahanya putih dan berisi, dan lagi payudara cici masih begitu bagus. Pokoknya top deh” berkali-kali Lily memuji tubuh Linda yang indah.
    “Iya dong, nggak rugi kan buang uang untuk permak body di Singapur. Jadi indah kan? Kapan nih kamu mau permak body juga di Singapore, nanti aku kenalin sama dokter yang ok deh. Rumah sakitnya juga ok banget” demikian penjelasan Linda pada Lily.
    “Iya nanti aja deh setelah melahirkan yah. Kalo sekarang gimana ci, body saya?” tanya Lily kepada Linda untuk menilai tubuhnya.
    “Bagus kok, putih, bening, dan payudara kamu kelihatannya tambah montok nih! Apa rahasianya yah?” balik Linda bertanya pada Lily.

    Ketika ditanya begitu, Lily menjadi agak malu karena memang payudaranya bertambah besar, apalagi setelah Otong sering  menyetubuhinya dengan begitu nafsu sambil meremas payudaranya atau mengenyot putingnya dengan rakus. Untungnya payudara Lily tidak kendor atau turun, payudara itu masih kencang dan membusung sampai Linda pun memuji tubuh dan payudaranya.
    “Ah nggak diapa-apain koq ci, mungkin karena branya aja yang kekecilan. Memang sexy yah ci?” tanya Lily ke Linda.
    “Wah pokoknya, seksi deh payudara kamu, Li. Beruntung deh kita mendapat karunia tubuh yang indah. Kan nggak malu kalau dipamerin, betul kan?” demikian ungkap Linda.
    “Ah dipamerin ke mana? Paling ke suami aja. Tapi kalo ci Linda, kelihatannya suka pamerin body juga ke orang lain selain suami yah? Hayo ngaku aja, hehehehehe.”  demikian goda Lily kepada Linda.
    “Ih…ke siapa lagi sih? Jangan ngawur yah, nanti aku cubit lho teteknya!” sahut Linda kepada Lily sambil mencolek dan agak meremas sedikit payudara Lily yang juga menantang itu.
    “Hihihihi geli ci…geli ah. Hihihi, jangan dicubit dong. Tuh si Ujang ngeliatin kita terus” kata Lily sambil melirik ke arah Ujang, karena jongos itu sebentar-sebentar selalu memandang ke tubuh mereka yang dibalut bikini sexy itu.
    “Ci, katanya mau bereng bugil di depan Ujang! Mana buktinya” Lily mengingatkan Linda dengan nada menantang.
    “Ok lihat aja. Tapi pelan-pelan dong bugilnya, Jangan buru-buru, kan nggak enak. Sabar yah” kata Linda meyakinkan Lily.
    “Jang sini sebentar!” Linda dengan kuasa sebagai seorang nyonya majikan memanggil Ujang, pembantunya itu.
    “Iya nyah. Kenapa nyah?” tanya Ujang yang masih bertelanjang dada menghampiri nyonya Linda.
    Kelihatan sekali badan Ujang yang kurus dan hitam itu dibasahi keringat.
    “Kamu bisa berenang juga kan, Jang? Yuk ikut berenang bareng” ujar Linda mengajak Ujang untuk ikut berenang.
    “Tapi saya masa pakai celana ini nyah? Kan saya nggak punya celana renang” Ujang menyampaikan pendapatnya ke nyonya Linda.
    Tatapan mata jongos itu tanpa berkedip memandangi tubuh telanjang yang berbalut bikini tipis dan sexy yang dikenakan nyonya majikannya itu.
    “Tapi, kamu pakai celana dalam kan?” tanya nyonya Linda kepada Ujang.
    “Saya pakai celana dalam nyah. Apa celana boxernya ini saya lepas aja?” tanya Ujang kepada nyonyanya itu.
    “Yah sudah buka aja, celana boxernya. Pakai celana dalam aja. Yuk ikut berenang bareng!” nyonya Linda meminta Ujang untuk melepaskan celana boxernya itu.

    Ujang pun lalu membuka celana boxernya dihadapan nyonya majikannya dan Lily.  Ketika celana boxer itu sudah lepas, dan Ujang hanya mengenakan CD berwarna hijau dan sudah agak kumal itu, tampak kekaguman dari raut wajah kedua perempuan, yang tidak lain adalah majikannya. Linda dan Lily dapat melihat sesuatu yang membonggol besar di selangkangan Ujang. “Gundukan” di selangkangan Ujang tampak begitu besar, seperti mau lompat keluar dr CD kumal itu. Meskipun tubuh Ujang begitu hitam dan kurus, tetapi keistimewaannya ada di tengah selangkangannya yang membonggol besar itu. Ini memperlihatkan, betapa Ujang memiliki batang kemaluan yang begitu besar dan panjang. Kemudian Linda bangkit dan siap mau berenang, tetapi tiba-tiba ia tidak jadi nyemplung ke kolam itu. Linda lalu mengambil cream sunbloknya itu dan melumuri lengannya dengan cream itu. tetapi ia tidak bisa melumuri bagian belakang tubuhnya. Tadinya Linda mau meminta tolong Lily untuk mengolesi tubuhnya dengan cream itu, tetapi supaya situasi tidak menjadi kaku, justru Ujang yang diminta tolong untuk melakukannya.
    “Jang sini dulu, olesin cream ini di badanku dulu yah!” pinta Linda kepada Ujang.
    “Iya nyah” kata Ujang sambil mendekati nyonya Linda yang sudah tengkurap itu.
    Linda pun mengedipkan matanya ke Lily, seperti memberi tanda kalau “pertunjukkan” akan segera dimulai. Lily pun menanggapinya dengan tersenyum kepada Linda dan Lily paham kalau Linda akan memulai aksinya itu.
    “Sini olesin di pundak dulu, lalu ke kaki yah! Pokoknya semua badan saya diolesin cream ini yah” Linda menyuruh jongosnya itu.
    Ujang pun menimpalinya dengan patuh: “Iya nyah.
    ” Diambilnya cream itu dan sambil membungkuk, Ujang mulai melumuri tubuh bagian belakang nyonya Linda. “Sambil sekalian dipijit yah. Biar nggak pegel” ci Linda kembali memberi perintah ke Ujang. “Iya nyah, beres deh.” Sahut Ujang menanggapi keinginan nyonya Linda. Tampak terlihat oleh Lily, Ujang mulai mengolesi dan memijat tengkuk nyonya Linda. “Eegghh…pijitanmu enak juga, Jang” puji Linda kepada pembantunya itu. “Iya nyah, kalo untuk pijit aja sih gampang” kata Ujang sambil terus memijati pundak nyonya Linda. Dan ketika Ujang mulai menggerakkan telapak tangannya meyusuri punggung yang putih mulus itu, seakan ada sesuatu yang menghalanginya, yaitu tali bra bikini itu. Mengetahui hal itu, Linda kemudian meminta sesuatu kepada Ujang
    “Kalo talinya menganggu. Dilepas aja, Jang.”
    “Iya nyah” kata Ujang sambil menarik simpul pengikat tali bra bikini di belakang punggung Linda.

    Kini ikatan itu sudah lepas, dan tali itu sudah tidak menganggu punggung Linda untuk diolesi cream. Saat Ujang terus mengolesi dan memijat bagian belakang tubuh nyonya majikannya itu, tiba-tiba Linda menarik tali bra bikini itu, dan dalam keadaan masih tengkurap, Linda menaruh bra bikini itu di meja samping kursi tidur. Terlihat jelas gundukan payudara  yang sudah bebas dari penghalang itu, menempel di kursi tidur itu. Pijitan lembut dari Ujang rupanya membuat Linda berkali-kali melenguh penuh nikmat. Apalagi  ketika  Ujang mulai mengelus bagian samping kiri dan kanan tubuh nyonya Linda, dan terus naik ke ketiak dan terus merambat ke lengan Linda, beberapa kali tangan Ujang menyentuh bagian pinggir payudara Linda. Hal itu tentu saja membangkitkan gairah dalam diri nyonya Linda. Lagi-lagi ketika Ujang mulai mengolesi cream kearah pinggang bagian bawah dan menuju ke pangkal paha bagian dalam, tangan Ujang terhalang oleh CD bikini itu. Lily yang menyaksikan caranya Ujang mengolesi dan memijat tubuh ci Linda, mulai terangsang juga. Kini ia melihat sesuatu yang lebih menggairahkan lagi.
    “Tali celana dalamnya di lepas aja, Jang” pinta Linda kepada Ujang.
    “Oke nyah” kata Ujang kepada nyonyanya.
    Ujang pun menarik simpul ikatan CD bikini itu. Lalu Linda memberi perintah lagi kepada Ujang:
    “Jang, cd saya dilepas aja. Taruh di meja, di samping bra itu.”
    Ujang pun kembali melakukan apa yang diperintahkan Linda. Dia pun menarik CD itu, hingga lepas dari tubuh Linda dan meletakkannya di meja seperti diperintahkan Linda. Kini Linda, yang masih tengkurap itu, sudah tampil telanjang polos bagian belakangnya di hadapan Ujang yang masih mengolesi tubuh belakangnya dengan cream.  Ketika tangan Ujang mengolesi bagaian pantat Linda, tampak sekali Ujang begitu nafsu meremas pantat yang putih dan gempal itu. Hal itu membuat nyonya majikannya mendesah dalam lingkup birahi :
    ”eeggghhh Jang. Enak, pijitin terus Jang!”
    Kini Ujang akan mengolesi bagian paha bagian dalam. Perlahan telapak tangannya yang hitam dan kasar itu menyusuri paha yang putih dan mulus itu, terus ke bagian lipatan paha dalam Linda.
    “Eeeggghhhhh…….aaahhhh” Linda mendesah penuh nikmat.
    Telapak tangan Ujang terus merambat ke pangkal paha Linda dan Lily melihat, sepertinya Ujang menyentuh bagian yang sangat sensitif dari tubuh Linda. Linda yang mendapat perlakuan seperti itu, semakin membuka pahanya dan mengangkat sedikikit pantatnya, seolah-olah mempersilahkan tangan Ujang menyentuh kemaluannya. Agak lama tangan Ujang bermain dibagian itu, sehingga membuat Linda mendesah penuh gairah. Tak lama kemudian Ujang mengatakan sesuatu ke Linda:
    ”Nyah, bagian belakangnya sudah selesai.”
    “Ok, sekarang yang bagian depan yah. Sekalian dipijit yang enak yah” sahut Linda sambil membalik tubuhnya.

    Lily agak terkejut dan kagum akan keberanian kakak iparnya ini. Dan kini tampaklah tibuh bagian depan Linda yang begitu indah, terpampang polos, bugil di hadapan Ujang, jongosnya itu. Tidak ada perasaan sungkan dari Linda, ketika Ujang menatapi sepasang payudara yang bebas tanpa penghalang dengan putingnya yang berwarna kemerahan. Dan Linda juga sengaja membiarkan Ujang menatap bulu kemaluan yang lebat dan vaginanya yang agak mengintip itu. Linda sudah terlentang bugil polos, tanpa penutup sedikit pun di hadapan jongosnya. Kemudian Linda mengatakan sesuatu yang mengejutkan:
    “Jang, kamu pijitan tetek saya yah.”
    “Beres nyah!” sahut Ujang sambil mengangkat sepasang tangan nyonya majikannya dan meletakkannya di atas kepala Linda, sehingga tampak ketiak Linda yang begitu putih dan merangsang.
    Dengan posisi tangan di atas kepala, membuat payudara Linda semakin membusung dan menantang. Ujang mulai mengambil cream dan melumuri telapak tangannya dengannya, lalu……
    “Aaagghhhh Jaaangg, eennaakkkksss sekkaalliih. Ooouuggghhhhsss” demikian suara rintihan yang keluar dari mulut Linda, ketika Ujang mulai meremas payudara yang montok itu.
    ”Terus remas yang nikmat Jang…. Oooghhhssttt. Pijat putingnya….oooggghhhhss” Linda merintih ketika Ujang meremas sambil mempermainkan puting payudaranya yang semakin menegang itu.
    Mata Linda merem melek sambil mendesis penuh gairah, saat Ujang mulai meremas dengan begitu keras.
    “Remas yang kenceng, Jang” pinta Linda yang sudah diliputi nafsu.
    Nafsu birahi yang sudah menjalari sekujur tubuh Linda, sepertinya sudah melepas perasaan malu, bahwa di hadapannya ada Lily, adik iparnya. Tetapi di lain pihak, tindakan Linda dengan Ujang, memberikan sensasi tersendiri, sehingga birahi Lily pun lama-lama mulai naik.
    “Teteknya montok yah nyah. Putih dan mulus lagi. Benar-benar mantep. Pentil teteknya juga sudah nganceng” puji Ujang kepada nyonya Linda sambil terus meremas payudaranya yang putih mulus menantang itu dengan tangannya yang hitam kasar itu.
    “Jang…essshhh putingnya dijilatin dong!” Linda meminta Ujang melakukan perintahnya.

    Ujang sambil terus meremas payudara itu kemudian melakukan aksinya yang lebih berani lagi. Dengan mulutnya, Ujang mencaplok payudara nyonyanya dan mengemut dengan begitu liarnya puting payudara itu. Tubuh Linda menggeliat dan mulutnya terus mendesah menahan nikmat yang luar biasa, ketika mulut Ujang melumat dan menggigit lembut pentil susunya. Ketika Ujang menciumi dan menghisap payudara itu, Linda semakin membusungkan dadanya agar Ujang bisa melakukan perintahya. Wajah Ujang kini sudah menyatu lengket dengan payudara Linda. Kemudian perlahan tangan Ujang mulai turun menyusuridan mengelus perut, pusar dan akhirnya mengelus rimbunan bulu kemaluan Linda. Kelihatan jelas di mata Lily kalau Linda sudah dikuasai nafsu yang begitu hebat dan  menyerahkan tubuh bugilnya diperlakukan dengan penuh nafsu oleh Ujang. Telapak tangan Ujang, tampak mengelusi selangkangan Linda, dan kemudian menyentuh vaginanya. Lily pun kembali melihat betapa liarnya jari jemari Ujang mulai mempermainkan bibir kemaluan Linda. Perlakuan Ujang membuat nyonya Linda semakin menggeliat, saat Ujang mulai mengelusi dengan begitu liar vagina itu. Dan tanpa meminta ijin lagi pada Linda, Ujang mulai menyusupkan jari tengahnya perlahan-lahan dan masuk ke dalam rongga vagina Linda.
    “Egggssshhh Jaanngg….eesshhhh..teeerruusss Jannngg. Aaagghhh eeenaakkksss…” Linda sangat menikmati perlakuan Ujang yang begitu asyik mempermainkan vaginanya.
    Kini Lily terbengong-bengong melihat dan mendengar luapan birahi kakak iparnya dan kelihatannya Ujang mampu menjadi pemuas nafsu birahi Linda yang begitu menggebu-gebu. Mungkin Linda tidak pernah mendapat kenikmatan ketika bersetubuh dengan suaminya, sehingga Ujang yang hanya seorang pembantu yang menjadi pejantan untuk memuaskan nafsu birahinya. Lily terus menyaksikan adegan Linda dan Ujang. Tampak dengan penuh nafsu, Ujang menjilati, menyosor, mengemuti payudara montok dengan bibir dan mulutnya, sedangkan tangan kanannya bermain di selangkangan dan terus mengobok-obok vagina Linda yang berbulu rindang itu. Dilain pihak, Linda sangat menikmati perlakuan Ujang atas dirinya. Beberapa kali ia mendesah penuh nafsu dan membiarkan tubuh indahnya yang sudah bugil diperlakukan seperti itu oleh jongosnya. Lily semakin naik birahinya menyaksikan pemandangan sensual itu, kalau dahulu hanya mengintip, kini dpt melihat dengan jelas perbuatan mereka.

    “Aaaghhh ennaakkk sseekkaaliii Jaaanng……teeerrruusssiiinnn Jaaannnggg ooouuugghhh” Linda menggelinjang penuh birahi mendapat “serangan” Ujang.
    Linda dan Ujang tidak menghiraukan keberadaan Lily di tempat itu, bahkan mereka sengaja memperlihatkan tindakan sensual itu kepada Lily. Karena terus diemut payudaranya dan diobok-obok vaginanya dengan penuh nafsu oleh Ujang, akhirnya nyonya Linda menunjukkan tanda-tanda akan orgasme.
    “Ooouugghhh Jjaaannngg…. Akkuuuu kkeellluuuaaarrrr……eeessshhhh.” erang Linda panjang
    Tampak puas sekali Linda melepas letupan birahinya dan kemudian tubuhnya melemas setelah mendapatkan kepuasan itu. Tampak sekali payudaranya agak kemerahan karena dicupang dengan begitu nafsu oleh Ujang. Ketika Ujang menarik jari tengahnya dari vagina nyonyanya, ia memperlihatkan lendir birahi itu kepada nyonya majikannya yang cantik, lalu tiba-tiba Linda menarik jari itu, mendekatkannya pada mulutnya dan menjilati jari itu.
    “Nyah…memeknya rapet banget yah” puji Ujang kepada nyonya majikannya.
    “Iya dong, kan dirawat” kata Linda.
    “Iya nyah, padahal sudah sering Ujang coblos yah hehehehe” kata Ujang.
    Mereka tanpa malu-malu bercanda cabul seperti itu di depan Lily. Lalu segera Lily menimpali:
    “Wah rupanya ci Linda, sudah sering main sama Ujang yah? Hayo ngaku aja deh.”
    Tampak wajah Linda merona merah ditanya seperti itu oleh Lily:
    “Ujang jangan ngaco yah…”
    “Nggak apa-apa koq ci. Rahasia antara kita aja, ga usah kaya orang lain. Omong-omong saya juga pernah ngintip cici waktu ML sama Ujang di kamar Ujang. Wah seru banget deh hehehe.”
    Ujang lalu ikut bicara: “Iya benar non Lily, nyonya Linda paling suka sama kocokan kontol saya. Apalagi kalo dengar erangan nyonya Linda waktu saya entotin….wah nafsu banget deh.”
    Tampak wajah nyonya Linda tambah bersemu merah ketika Ujang membuka rahasia mereka, apalagi mendengar pengakuan Lily yang pernah mengintip skandal antara dirinya dengan Ujang.
    “Hayo Li, sekarang giliran kamu dipijat sama Ujang. Ayo Jang, kamu olesin badan non Lily sama cream ini.”

    Lily

    Masih dalam keadaan telanjang bulat, Linda mulai berdiri dan menarik tangan Ujang untuk melakukan perintahnya ke Lily. Ia menarik tali bra bikini Lily sehingga lepas dari tubuh indahnya:
    “Ini branya dibuka saja sekalian. Biar enak pijitnya.”
    “Oghh ci Linda… Jangan dibuka dong. Malu nih” kata Lily menutupi sepasang payudaranya yang terlepas dari bra bikini itu.
    “Nggak usah malu deh. Aku aja tadi nggak malu koq bugil di depan Ujang.” kata ci Linda sambil menarik tangan Lily supaya menjauh dari payudaranya yang putih, mulus, montok dan menantang itu, “toket indah jangan ditutup dong. Tuh Ujang juga ngiler lihatnya” canda Linda.
    Ujang pun begitu bernafsu memandang tubuh bagian atas Lily yang begitu putih dan payudaranya dengan pentil susunya berwarna kemerahan tegak menantang. Ia pun mendekati Lily
    “Sini non, saya pijitin!”
    “Iya Li, ayo jangan malu dipijitin Ujang. Enak lho. Bikin ketagihan deh.”
    Awalnya Lily masih malu-malu dengan menutupi payudaranya, tetapi setelah menyaksikan betapa Linda puas atas perlakuan Ujang, maka ia mulai tertarik ingin merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan kakak iparnya itu.
    “Iya, tapi pijitin bagian belakang aja yah. Malu ah” kata Lily pura-pura malu.
    “Iya pijitin belakangnya dulu. Nanti depannya sekalian. Hehehe. Ayo Jang pijit yang nikmat yah” perintah Linda kepada Ujang.
    “Beres nyah” Ujang mengikuti perintah nyonya majikannya itu dan mulai melumuri punggung Lily yang sudah terbuka itu dengan cream dan perlahan-lahan mulai menyentuhnya.
    “Aaagghh….” Lily mulai mendesah ketika telapak tangan Ujang yang kasar itu mulai menyentuh punggung yang terbuka itu dan mulai memijitnya. Perlahan Ujang mulai mengelusi pundak  dan mulai memijat tubuh bagian belakang Lily dengan penuh perasaan. Ujang pun menikmati kulit halus dan lembut itu. Sedangkan Linda, tampak cuek saja dalam keadaan bugil polos melihat Ujang yang sedang mengelusi tubuh bagian belakang adik iparnya. Ujang menuang sedikit demi sedikit cream itu di pundak dan punggung Lily dan mulai memijat dengan penuh perasaan. Pijitan dan usapan halus dari Ujang mendapat reaksi dari Lily, beberapa kali Lily mendesah dan menggelinjang, ketika jari jemari Ujang mulai mengelusi punggung mulus yang terbuka itu.

    Sementara itu, Linda memperhatikan mereka sambil berbaring santai di kursi di samping Lily dalam keadaan masih bugil polos. Lily melihat kalau Linda cuek saja dalam keadaan telanjang bulat, meskipun ada Ujang. Baru beberapa menit dipijit, Lily mendengar ada seseorang yang datang dan langsung masuk ke daerah kolam renang itu. Lily agak terkejut karena dalam keadaan hampir telanjang polos itu, mendengar ada suara lelaki yang masuk ke arah mereka. Tetapi anehnya Linda tetap cuek akan kehadiran lelaki itu, bukankah ia masih dalam keadaan bugil total.
    “Jang, ngapain aja luh?” sapa lelaki itu.
    “ini lagi pijitin non Lily, adik iparnya nyonya Linda” sahut Ujang.
    “Wah enak banget lu, bisa mijitin dua perempuan cantik” kata lelaki itu.
    “Tumben kamu, So datang ke sini? Hayo mau ngapain?” tanya Linda yang kelihatannya sudah kenal dengan lelaki itu.
    Lily mulai curiga melihat situasi itu, karena sepertinya Linda kenal dengan lelaki itu, dan tetap berani bugil berhadapan dengan lelaki itu. Penampilan lelaki itu tidak beda jauh dengan Ujang: kulitnya begitu hitam legam, kurus ceking, matanya belo dengan bibirnya yang tebal dan giginya yang agak tongos.
    “Tenang aja non Lily, ini teman saya juga. Namanya mang Darso (lihat eps. 3), dia juga kacung di kompleks perumahan ini” ujar Ujang kepada Lily.
    “Halo non Lily, wah nggak kalah cantik nih sama nyonya Linda. Saya Darso, kerja di rumah yang berwarna kuning itu. saya biasa ke sini koq ngobrol-ngobrol sama Ujang dan…ehhmmm…ikut muasin nyonya Linda juga hehehehe” demikian ungkap Darso kepada Lily
    ”Darso, jaga bacot lu ah!“ sergah Linda sambil meremas lembut selangkangan Darso.
    “Aduh nyah…kontol saya jangan di remes dong hehehehe” protes Darso yang sebenarnya senang akan perlakuan Linda.
    “Agghhh nakal kamu Darso…..” desah Linda karena tiba-tiba Darso meremas payudaranya yang mengantung bebas itu dan menarik tubuh bugilnya ke dalam pelukannya.
    Linda diam saja diperlakukan tidak senonoh oleh Darso, bahkan ia meminta agar Darso mengemut putingnya:
    “So…isepin pentil gua dong!”
    Darso menanggapinya dengan penuh nafsu:”Ok nyah, sini teteknya saya isep…..sambil saya obok-obok yah memek nyonya.”

    Linda lalu merebahkan tubuhnya di atas kursi malas itu mempersilahkan Darso menyusu pada payudaranya dan merenggangkan pahanya, supaya Darso bisa melakukan aktivitasnya di vaginanya.
    “Aaaaggghhhh……eeesssttttt…….ooooouuuwwww” demikian erangan Linda dan tubuhnya menggelinjang begitu hebat saat Darso mendaratkan bibirnya dan mulai menyusu di payudaranya, sambil jari tangannya mengelus dan mengoboki liang vaginana.
    “Non Lily, tuh lihat nyonya Linda sebentar lagi pasti entotan sama mang Darso hehehehehe” kata Ujang kepada non Lily.
    “Iya, dasar ci Linda nakal sih” ungkap Lily sambil tersenyum kepada Ujang, lalu Lily membalikkan tubuhnya menghadap Ujang.
    Ia sudah tidak malu lagi memamerkan payudaranya yang putih, bening dan montok itu kepada Ujang, karena ia pun sudah mulai terbakar birahinya dan ingin melihat pertunjukan antara Linda dengan Darso.
    “Teteknya mau saya pijat juga non?” tanya Ujang kepada Lily.
    Kemudian Lily mempersilahkan Ujang untuk memijat payudaranya: “Iya Jang, yang enak yah”
    “Beres deh  non, pokoknya non Lily pasti puas deh“ kata ujang sambil mengelus payudara Lily yang indah itu.
    “Egghhh aahhhh” Lily mulai mendesis ketika payudaranya disentuh dan diraba oleh Ujang.
    Ujang mengelus lembut payudara Lily tapi lama kelamaan meremasnya dengan penuh nafsu. Lily yang sudah dikuasai birahi akhirnya membiarkan Ujang menikmati payudaranya itu. Ujang lalu berbicara kepada Darso:
    ”Mang Darso telanjang juga dong! Bugil seperti nyonya Linda.”
    “Oh iya, Jang. Saya telanjang dulu yah.” ujar Darso menghentikan kegiatannya sejenak untuk melepas semua pakaiannya.
    Akhirnya Darso kini sudah telanjang polos seperti halnya Linda. Betapa hitam legam tubuh Darso dengan batang kemaluannya yang sudah menegang begitu hitam, besar dan panjang. Kini Darso memeluk tubuh Linda dengan begitu erat, kemudian mereka saling berciuman dengan begitu nafsu. Linda memeluk tubuh pria itu sambil tubuh mereka berhimpitan mesra, dan  memberikan bibirnya dan terus berciuman dengan begitu mesra. Sambil berpagutan mesra, tangan Darso bergerilya di sekujur tubuh Linda untuk mengelus dan meremas tubuh indah nyonya cantik itu. Payudara Linda dan vaginanya menjadi sasaran empuk bagi tangan Darso.

    “Nyah…saya mau mainin memek nyonya” Darso meminta agar Linda merenggangkan pahanya, dan hal itu diikuti olehnya
    “Wah, memeknya mantep sekali. Jembutnya lebat yah. Saya jadi nafsu nih” ujar Darso sambil membuka pangkal paha Linda, sehingga vaginanya semakin terbuka dan Darso dapat memandanginya dengan penuh gairah.
    Darso begitu kagum akan vagina Linda yang masih tetap indah, meskipun sudah beranak. Ketika Darso mulai mendekatkan wajahnya dan menjulurkan lidahnya untuk menjilat vagina itu, Linda mulai mendesah penuh gairah:
    “ooouugghhh….eessstttthhh aaahhh. Eeennaaakkk sseekkaaalliiihh.”
    Mendengar desahan dan merasakan tubuh Linda yang menggelinjang, Darso semakin meningkatkan “serangannya” pada vagina yang terpampang di hadapannya. Supaya Linda dan Darso lebih leluasa bergumul, lalu Ujang mengajak Lily untuk pindah ke kamarnya:
    “Non Lily, kita pindah aja yuk. Pijatnya dilanjuntukan di kamar saya aja yah” kata Ujang sambil terus mengelus payudara montok Lily yang sudah terbuka bebas itu dan terus memainkan pentilnya.
    Lily mengiyakan ajakan Ujang, kemudian ia pun bangkit dan siap pindah ke kamar Ujang. Ketika mereka akan beranjak dari lokasi kolam renang itu, tiba-tiba Ujang menarik lepas CD bikini Lily yang juga kecil itu
    “Ini sekalian dibuka aja yah, non Lily. Biar pijitnya enak.”
    Ujang lalu melempar CD itu ke atas kursi tidur itu, sehingga kini Lily sudah tampil telanjang polos tapa sehelai benang pun di hadapan Ujang, juga Linda dan Darso. Diperlalukan seperti itu, Lily hanya tersenyum lalu berkata:
    “Ah kamu bisa aja Jang. Bilang aja mau bugilin saya. Awas jangan perkosa saya yah hihihi.”
    “Nggak non, Ujang nggak akan perkosa non Lily yang cantik koq” ucap Ujang.
    Ujang kemudian mengandeng tangan non Lily dan membawanya ke kamar tidurnya. Saat itu, Ujang masih mengenakan CD bututnya dan Lily tanpa malu membiarkan tubuhnya yang mulus dan indah dalam keadaan telanjang bulat dituntun  ke kamar jongos itu. Mata Ujang terus menatap tubuh Lily yang benar-benar yahud itu dan terkadang tangannya dengan begitu liar meremas pantatnya. Suatu keberuntungan bagi Ujang, karena sebentar lagi ia pasti bisa menikmati tubuh indah Lily.

    Sementara di sekitar kolam itu, tampak Darso sedang menikmati suguhan vagina Linda dan terus menciumi dan menjilati vagina itu. Dua jari tangan Darso, yakni jari tengah dan telunjuknya sudah masuk menerobos vagina Linda dan mengorek kelentitnya, sehingga Linda mengerang penuh nikmat.
    “oouugghhh teerrusss So, aaagggghhhhh, eeeggghhhhh. Nikmat sekaliiii.” vagina Linda terus dirangsek oleh jemari Darso, sambil lidahnya juga bermain di dalam rongganya.
    Tampak sekali vagina Linda menjadi basah karena terus diobok-obok dengan begitu liar. Akhirnya setelah sekian lama diperlakukan seperti itu, Linda pun mendesah dengan begitu hebat, mengejan dan akhirnya lemas karena kembali mengalami orgasme dahsyat.
    “ooooggghhh So, akkuuu kkeellluuaaarrr…eessshhhh” rintih Linda.
    “Luar biasa, memek nyonya enak sekali. Lendirnya juga gurih. Hehehehe. Lagi nafsu yah nyah?” Darso sedikit meledek Linda.
    “Iya nih, nikmat banget. Hebat sekali kamu, So. Bisa bikin aku puas” puji Linda kepada Darso.
    “Ya pastilah, Darso….ntar nyonya akan saya bikin nikmat deh, apalagi kalo sudah saya entot sama kontol saya” ungkap Darso.
    “Iya, kontol kamu besar yah. Sini saya pegang kontol kamu” Linda meminta Darso mendekatkan batang penisnya yang sudah tegang itu.
    Darso lalu menyodorkan batang penisnya yang sudah tegang dan keras itu ke Linda, dan diarahkan ke dalam mulutnya. Masih dalam keadaan duduk, Linda menyambut batang penis yang besar itu dan mulai mengarahkannya ke dalam mulut mungilnya. Darso yang berdiri di hadapannya mulai memasukkan batang penisnya ke dalam rongga mulut Linda.
    “Terus nyah…..egghhh isep terus kontol saya.” Darso begitu menikmati service Linda atas penisnya.
    Darso pun tidak tinggal diam, dia terus memaju mundurkan penisnya di dalam mulut Linda, sampai-sampai batang penis yang besar itu masuk memenuhi rongga mulut dan menyentuh kerongkongan Linda. Tangannya memegang kepala Linda dan terus meremas rambutnya, seolah tak mau melepas cengkraman mulut nyonya cantik itu. Darso terus mengocok mulut Linda dengan penisnya, dan akhirnya setelah dirasa puas, ia melepaskan semburan spermanya.
    ”eeeggghhh nnyyaaahh. Saaayyyaa keelluuaarrr eessshhhh…crrrooott ccroooottt ccrrroooottttssss” Darso mengeram penuh nikmat dan menumpahkan spermanya di dalam mulut Linda.

    “Telan mani saya nyah…..oooggghhh” suruh Darso sambil, dengan kedua tangannya, menekan kepala Linda seolah tidak membiarkan spermanya keluar dari mulut nyonya haus seks itu. Linda pun akhirnya menelan sperma Darso sampai habis, dan menjilati ujung kepala penis dan dengan lidahnya membersihkan lubang kencingnya sampai bersih dari spermanya.
    “Luar biasa nyah, saya puas sekali” ungkap Darso.
    “Oke…skor kita 1-1 yah” sahut Linda sambil berdiri dan dalam keadaan masih telanjang bulat
    Mereka berpelukan dengan begitu mesra dan penuh nafsu. Tampak sekali tubuh putih mulus Linda menempel erat dengan tubuh hitam legam Darso. Dalam keadaan berpelukan, mereka masih terus saling remas anggota tubuh pasangan mereka. Sepasang tangan Darso tidak henti-hentinya meremas buah pantat dan payudara yang montok itu. Sedangkan tangan Linda terus bermain di buah pelir Darso dan terus meremasnya penuh mesra. Mereka pun kini sudah berciuman penuh mesra, mulut Darso bersatu sepenuhnya dengan mulut Linda dan saling berpagutan penuh birahi yang menggebu-gebu. Tak lama kemudian, batang penis Darso kembali menegang dan keras.
    “Nyah, kontol saya tegang lagi nih!” ungkap Darso.
    “Iya tuh sudah nganceng banget. Ngewe lagi yuk” ajak Linda kepada Darso.
    “Yuk dah, nyonya telentang deh, ntar saya entot sampai nyonya klepak-klepek.”
    Linda pun kemudian tiduran telentang di atas kursi malas itu dan membentangkan pahanya lebar-lebar memperlihatkan liang vaginanya kepada Darso untuk diterobos dengan batang penisnya yang besar dan panjang itu. Darso mulai mendekatkan penisnya yang sudah siap tempur itu ke arah vagina Linda. Dan ketika itu mulai menempel di mulut vagina Linda, Darso menggesek-gesek dahulu kepala penis itu di bibir vagina itu dan akhirnya perlahan-lahan……slebbbb bleeesss.
    “Oooogghhhhh Daaarrssssoooo…..eeeeeeggghh oooowwww” tubuh Linda melengkung menerima sodokan batang penis Darso yang luar biasa tegang itu dan mulutnya terus mendesis menahan gejolak birahi dengan matanya terpejam merasakan nikmatnya penis besar itu menerobos liang vaginanya.
    “Ogghh nyaahh, memek nyonya memang legit banget. Kontol saya seperti diremas-remas…eegghh” ungkap Darso kepada Linda.
    Batang penis Darso belum masuk sepenuhnya, baru setengahnya saja yang masuk dan itu sudah membuat Linda mengelinjang penuh birahi.

    Perlahan-lahan Darso mulai menekan pantatnya dan mendorongnya sehingga batang penisnya mulai masuk lagi menerobos liang vagina Linda. Setiap kali pria itu menekan pantatnya dan mendorong penisnya masuk ke dalam liang vaginanya, Linda kembali mengerang dan menggelinjang penuh nikmat. Tak tertahankan nikmatnya, ketika penis besar dan tegang milik Darso menerobos masuk bersatu erat di dalam vaginanya.
    “ooogghhh terrruuusss So, teeekkkaaannn saaammmppaiii meeennttookkk ooouuuwww eeessshhhhh” demikian rintih Linda penuh nafsu.
    Dan akhirnya, Darso menekan pantatnya dan akhirnya batang penis itu masuk sepenuhnya ke dalam liang vagina nyonya cantik itu
    “oohhhhgggg…..” Linda meringis penuh nikmat, ketika vaginanya dipenuhi oleh penis Darso yang besar dan tegang itu.
    Darso membiarkan penisnya berada sepenuhnya di dalam vagina Linda, terasa sekali penisnya seperti diremas di dalam rongga vagina itu. Sedangkan Linda begitu menikmati proses masuknya batang besar itu sampai full mentok menyentuh dinding rahimnya, dirasakannya betapa gagahnya penis Darso membelah liang senggamanya. Setelah Darso merasa cukup membenamkan penisnya dalam-dalam menerobos vagina Linda, kini ditariknya penisnya itu sampai di leher vagina, lalu ditekan lagi penis itu masuk ke dalam rongga kelamin Linda. Awalnya Darso melakukan itu dengan begitu lembut dan perlahan, tetapi karena sudah dikuasai nafsu yang begitu hebat, apalagi mendengar erangan penuh nikmat yang keluar dari mulut Linda, maka ia dengan begitu keras memaju-mundurkan penisnya dengan sangat cepat. Tampak sekali penis yang besar, panjang dan hitam itu mengocok vagina Linda yang cantik, putih, bening dan seksi itu.
    “Egghhh ooouughhh eesssttt aaahhhhh ooouuuwwww ssshhhhh” begitulah erangan yang tidak henti-hentinya keluar dari mulut Linda karena vaginanya diterobos oleh batang penis jongos tetangganya.
    Linda tidak tinggal diam menerima sodokan penis Darso, ia pun mulai memutar pantatnya yang semok itu, sehingga membuat batang penis itu seperti di remas-remas.
    “eegghh nyah…meemmeeekkk nyonnnyyaaa luuaaarr biiaaassaa niikkmmaatt oogghh” Darso sungguh merasa nikmat mendapat perlakuan seperti itu.
    Sambil terus mengenjot vagina Linda, Darso kembali berpagutan mesra. Bibir mereka bersatu erat, seolah terkunci dengan luapan birahi mereka. Tangan Darso pun terus meliar meraba dan meremas tubuh Linda dan yang menjadi sasaran utama adalah payudara yang montok dan indah itu.

    Darso dengan penuh semangat mengenjot penisnya di dalam liang vagina Linda. Tak lama kemudian ia menghentikan genjotannya itu dan meminta Linda ganti posisi. Darso ingin sekali menyetubuhi Linda dengan gaya nungging:
    “Nyonya nungging yah, saya mau entot nyonya sambil nungging!”
    Linda mengikuti kemauan jongos itu, kemudian menungging dan memasang posisi untuk kembali digenjot oleh penis besar itu dari belakang. Darso mengambil posisi di belakang Linda yang sudah menungging dan membuka pahanya, lalu mengarahkan batang penisnya ke liang vagina itu dan blleeesss….blleesss. masuklah kini penis hitam, besar dan tegang itu menyusuri liang vagina Linda sampai terbenam utuh sepenuhnya.
    “eeessstttt Daaarrssoooo, eesshhhh ooouuwwwhhh aaarrggghhhh” Linda kembali mendesah dan menggelinjang penuh nikmat saat liang vaginanya terisi penuh oleh penis Darso.
    Dengan penuh nafsu, Darso memompa vagina Linda dengan batang penisnya yang kekar itu. Kocokan penis itu terasa makin lama, makin kencang sehingga tubuh putih Linda menggelepar penuh birahi. Tubuh mereka sudah dibasahi oleh keringat yang deras mengucur karena persetubuhan yang dahsyat itu. Darso terus mengocok vagina Linda dengan penuh semangat, sambil menekan dan mendorong vagina Linda dengan penisnya yang besar itu.
    “Eggghhh Darrsssooo, aakkuu maauuuu kkeellluuuuaarrrr laaaggiii ooouuuggghhhhh eeesssssttttttttt aaaagggghhhhhhhhhhh” Linda kembali mengerang dan akhirnya “seerrrrr sseeerrrr”, ia pun orgasme dengan penuh nikmat.
    Meskipun Linda sudah sampai pada orgasmenya, tetapi belum ada tanda-tanda dari Darso untuk sampai pada orgasmenya. Darso kemudian mencabut penisnya dari liang vagina Linda:
    “Nikmat yah nyah entotan saya?”
    Linda menjawab pertanyaan Darso: “Hee-eh…nikmat banget, sodokan kontolmu nikmat sekali.”
    Tiba-tiba muncul hasrat Darso untuk menyetubuhi lubang anus Linda. Kalau dahulu Ujang yang menyodomi anus Linda, kini Darso pun ingin mensodominya.
    “Nyonya, saya entot lagi yah!”pinta Darso kepada Linda.
    “Ok aja, saya juga masih kepengen nih. Mau gaya apa lagi nih?” tanya Linda kepada Darso.
    “Nyonya tetap nungging aja. Saya lebih senang entot nyonya dengan gaya nungging” ungkap Darso yang sebenarnya ia ingin membenamkan batang penisnya ke dalam anus Linda. Mendengar ungkapan seperti itu, Linda tetap dalam posisi nungging, dan mempersilahkan Darso melakukan penetrasi ke dalam vaginanya.

    Kembali Darso mengambil posisi di belakang Linda lalu memegang pantat yang montok itu lalu mulai membukanya sedikit. Linda belum mengerti maksud Darso, sehingga ia membiarkan pria itu mengelus dan membuka pantatnya yang seksi itu, dikiranya Darso mau meraba pantatnya yang putih mulus itu. Darso melihat lubang anus Linda dan perlahan-lahan mulai mengarahkan penisnya siap menerobos anus itu. Setelah dirasa pas, Darso mulai menekan penisnya ke lubang anus Linda.
    “Aaaawwhhh… Daarrssoooo, kaammuu maauuu ssoooddoommmiii akkkuuu yah uuuhh…sakit!!” Linda mulai merintih ketika lubang anusnya dimasukki oleh penis Darso yang besar dan panjang itu.
    Sedikit demi sedikit masuklah penis itu ke dalam lubang anusnya kemudian…blleeess….bleesss tertanamlah batang penis Darso sampai akhirnya mentok sepenuhnya.
    “Oooouuuggghhhh ppeelllaaannn pppeelllaaannnn Sssoooo oooouuuwwwwggghhh eeesssttttttt” kembali Linda merintih dan mengelinjang.
    “Ogghh nnyyyaaahh, paannnttaaatttnnyyaaa ssseeeemmmpppiitt sseeeekkaaalliiih ooggghhh” Darso pun merintih penuh birahi saat penis itu sepenuhnya masuk ke dalam lubang anus Linda.
    Kini Darso dengan penuh nafsu mengenjot anus itu dengan bersemangat. Terasa peret dan sempit sekali lubang itu. Ada sensasi tersendiri dalam batin Darso setelah berhasil membenamkan dan memaju-mundurkan penisnya ke dalam liang anus tetangganya yang cantik itu. Kini Linda sudah sepenuhnya di bawah kendali Darso. Tangan Darso pun tidak tinggal diam, ia menjulurkan tangannya menggapai payudara Linda yang menggantung indah itu dan mulai meremasnya dengan penuh nafsu. Dengan penuh semangat, Darso menunggangi tubuh Linda dan terus menggenjot anusnya. Kembali terdengar erangan yang keluar dari mulut mereka berdua, erangan yang dikuasai penuh oleh nafsu birahi. Erangan tanda kemenangan yang keluar dari mulut Darso yang berhasil mensodomi anus Linda, dan erangan penuh nikmat sebagai ungkapan penyerahan tubuh Linda untuk dipenetrasi oleh Darso. Akhirnya sekitar 20 menit kemudian, setelah Darso mengenjot lubang anus Linda, ia sudah menunjukkan tanda-tanda akan orgasme. Dan akhirnya….crrrooottt…ccrroootttzzzz…ccrrooottt, muntahlah sperma Darso di dalam lubang anus Linda.