Ciciku Yang Hott..

Ciciku Yang Hott..

Ceritamaya | Aku dan cici-ku sama-sama sekolah di SMU swasta di Surabaya. Aku di kelas satu, umurku 16 tahun. Sementara cici-ku kelas tiga, umurnya 18 tahun. Terus terang, cici-ku orangnya cakep. Kulitnya juga putih. Tingginya 161 cm, beratnya 48 kg. Rambutnya sebahu dicat kecoklatan. Tubuhnya telah tumbuh jadi sexy. Dadanya nampak menonjol. Gara-gara penasaran, pernah kulihat bra miliknya. Ia mempunyai bra dengan berbagai macam model dan berbagai warna. Mereknya kebanyakan Triumph dan ukurannya 34C. Ia pertama kali memakai bra waktu kelas 2 SMP.

Pada suatu siang sepulang sekolah, aku dan cici-ku lagi jalan-jalan di mal. Saat itu kami berdua masih memakai seragam. Waktu itu kita sedang antri beli minuman. Saat itu ada cowok pribumi anak STM yang berkulit hitam dan berambut grondrong. Tampangnya sangar dan badannya tinggi tegap. Ia memandangi cici-ku terus. Matanya memandang lekat-lekat ke cici-ku, mula-mula ke wajahnya lalu turun ke seluruh tubuhnya sampai ke ujung kaki. Cara melihatnya sangat kurang ajar seperti bagaikan menelanjanginya. Terutama selain wajahnya, ia juga menatap lekat-lekat ke arah dadanya. Memang baju seragam yang dipakai cici-ku waktu itu agak tipis kainnya sehingga bra-nya terlihat dengan jelas. Apalagi payudaranya cukup menonjol.Ditambah lagi wajahnya yang cakep dan kulitnya yang putih. Sepertinya cowok itu terangsang habis oleh cici-ku. Sementara itu cici-ku juga merasa kalau ia dilihatin seperti itu. Sepertinya ia kesal dibegituin. Sehingga orang itu ditatapnya balik. Dan orang itu malah balas memandanginya lekat-lekat. Sehingga untuk beberapa saat lamanya mereka berdua saling bertatapan. Kini justru aku yang agak takut.

“Kurang ajar bener itu orang. Ngeliatin orang seenaknya. Kamu labrak
dia dong,” perintahnya.
“Sudahlah Ci, biarin aja. Wong namanya juga orang iseng,” kataku.
“Kamu itu gimana sih. Jadi cowok bukannya ngebelain kakak. Memang
kamu suka ya ngeliat kehormatan cici dilecehkan seperti itu,”
serunya.
“Bukan begitu. Sudahlah namanya juga orang iseng. Mending kita jalan
aja yuk. Nggak usah ditanggepin,” kataku sambil mengajak dia pergi.
Kebetulan saat itu aku telah selesai membeli minuman.
“Alaah, bilang aja kamu takut. Dasar cowok pengecut. Coba, kamu
berani nggak berantem sama dia,” ejek cici-ku.
Aku diam saja karena dalam hati aku mengakui kebenaran kata-katanya itu. Setelah itu aku menoleh ke belakang melihat orang itu, ternyata dia masih terus memandangi cici-ku. Saat ia melihatku, ia mengacungkan tinjunya kepadaku. Lalu aku buru-buru menoleh ke depan kembali. Ceritamaya

Di dalam mobil, cici-ku terus mengata-ngataiku.
“Dasar cowok banci. Penakut.”
“Bukan begitu. Justru aku nggak mau nanti terjadi apa-apa terhadap cici.”
“Terjadi apa-apa gimana maksudmu?” tanyanya dengan nada tinggi.
“Nggak, bu-bukan gitu maksudku.”
“Terjadi apa-apa gimana! Ayo jawab!!”
“Maksudku, kalo ditanggapi, nanti malah nekat. Kalo misalnya dia
nanti nekat megang-megang cici gimana?”
“Kamu itu gimana sih. Memangnya cici diam aja kalo mau dipegang-pegang gitu. Trus ada kamu disini, buat apa. Kamu itu goblok banget sih. Masa nggak berani membela kehormatan cici-mu.”
“Bukan gitu. Ngapain kita cari gara-gara. Nanti kalo dia mukul gimana?”
“Berarti memang kamu takut khan. Huh, benar-benar pengecut!”
“Memang cici sendiri nggak takut berantem sama dia.”
“Goblok! Tolol! Memangnya ngapain cici mau berantem sama dia.
Kamulah yang harusnya maju melawan dia. Dasar cowok banci! Penakut!”
Terus terang, memang cici-ku pada dasarnya nggak suka dengan cowok-cowok semacam itu.

Seharian itu aku masih terus memikirkan kejadian itu sambil berandai-andai. Seandainya cowok itu nekat mengajak berkelahi, terus terang memang aku takut menghadapinya. Dan terus terang, hal lain yang dalam hati kuakui, cici-ku memang orangnya cakep, body-nya sexy dan sering bikin cowok-cowok suka ngeliatin. Dan kejadian seperti ini telah sering kali terjadi. Yang aku ingat persis sampai sekarang, ketika kita pergi berenang, ada cowok pribumi juga yang ngeliatin dia terus. Kali ini malah lebih parah karena ia bisa melihat lekukan payudara cici-ku yang nampak bagian atasnya serta pahanya yang putih mulus. Jujur saja, diam-diam kadang aku pun juga bisa jadi ngaceng sendiri. Meskipun aku tidak pernah punya pikiran untuk berbuat yang nggak-nggak kepadanya. Seperti saat ini, ketika ia memakai kaus tank-top ketat warna hijau muda dan celana pendek. Nampak belahan dada bagian atasnya terutama kalau dia menunduk. Memang kalau di rumah, ia agak berani dan cuek berpakaian. Karena disini serumah cuman ada aku dan seorang pembantu cewek yang agak tua. Orangtuaku tinggal di kota lain dan rumah ini disewa buat aku dan ciciku sekolah di kota
ini. Beberapa kali aku pernah melihatnya tidak memakai bra, terutama kalau malam hari menjelang tidur. Bahkan pernah satu kali, sewaktu dia kelas 1 SMU, aku melihatnya telanjang bulat! Saat itu ia lupa mengunci pintu kamarnya sehingga aku masuk begitu saja.

Tiga hari setelah itu (saat malam Minggu)…
Entah kenapa mendadak malam itu aku terbangun. Aku tidak ngeliat jam, tapi menurut perasaanku saat itu sekitar tengah malam. Setelah bangun aku segera keluar dari kamarku. Saat itu ruang tengah telah gelap gulita. Namun kulihat pintu kamar cici-ku sedikit terbuka dan lampu didalamnya menyala terang benderang. Karena pengin tahu aku berjalan mendekatinya. Semakin dekat dari kamarnya, aku mendengar ada suara cowok di dalam kamarnya! Karena penasaran, aku masuk ke kamarnya. Aku ingin berbicara namun entah kenapa aku jadi seperti tidak bisa berbicara. Dan saat kulihat…ternyata cici-ku sedang berduaan dengan cowok. Dan cowok itu adalah cowok pribumi di mal beberapa hari lalu!! Mereka tidak memperhatikanku karena mereka nampak asyik bermesraan.

Aku jadi bingung, sejak kapan mereka saling mengenal. Kok bisa-bisanya cici-ku yang biasanya (maaf, bukannya sara) tidak suka bergaul dengan cowok pribumi kok sekarang malah bermesraan dengan cowok ini!! Karena bingung dan penasaran, aku bersembunyi di balik lemari dan dengan leluasa melihat apa yang dilakukan mereka berdua ini.

Saat itu ciciku memakai daster warna merah coklat yang sangat jarang sekali dipakainya. Mereka berdua duduk berdempetan di ranjang. Kedua tangan cowok itu memegang-megang tubuh cici-ku sambil ia menciumi rambut dan leher cici-ku. Cici-ku nampak menonjol dadanya di balik daster tipis yang dikenakannya. Cowok itu kemudian menyentuh dadanya dan dengan kedua tangannya diraba-rabainya dan diremas-remas sambil terus menciumi leher ciciku yang putih serta rambutnya yang hitam kecoklatan.

Sejenak perhatianku terganggu oleh kantong kresek Hero yang tergeletak di lantai di dekat ranjang. Aku agak heran kok bisa ada kantong kresek itu padahal kita tidak pernah ke Hero supermarket. Mungkin dibawa oleh cowok ini, pikirku. Namun perhatianku segera beralih kembali ke adegan seru yang ada di depanku ini.

Cowok itu kini mulai menciumi bibir cici-ku dan tangannya mulai bergerilya di bagian bawah. Tangannya dimasukkan di balik daster cici-ku, diraba-rabainya pahanya. Lalu daster itu dinaikkan ke atas sehingga nampaklah kini paha cici-ku yang putih mulus serta CD berwarna merah menyala. Sejenak ia memandang warna merah putih yang kontras dan indah itu. Lalu diraba-rabainya pahanya yang putih mulus. Setelah itu gantian “bagian merahnya” yang dipegang-pegang dan diraba-rabai. Jarinya dimainkan dan digesek-gesekkan di daerah sensitif itu. Ia melakukan itu sambil menciumi cici-ku dan tangan yang satunya meraba-raba payudaranya.

Selama ini kulihat reaksi cici-ku sama sekali tidak melawan. Bahkan ia menikmati saja diperlakukan seperti itu oleh cowok itu. Dalam hati aku berpikir, dia suka mengata-ngataiku pengecut karena aku dianggap tidak berani membela kehormatannya saat dia dilecehkan oleh cowok pribumi tak dikenal. Namun sekarang apa kenyataannya, malah dia menyerahkan kehormatan dirinya secara sukarela kepada cowok pribumi yang tak dikenal dan justru menikmati hal itu! Kalau begini persoalannya, tentu nggak salah sikapku selama ini. Buat apa dibela kalau yang dibela ternyata memang mau dengan suka rela. Kalau sekarang misalnya aku tiba-tiba mendatangi mereka dan menantang cowok itu, jangan-jangan malah cici-ku menyuruh cowok itu untuk menghajarku supaya aku tidak menghalangi mereka. Sudah malu babak belur pula. Seandainya pun aku bisa menghajar cowok itu, toh juga tidak ada gunanya. Kalau pada dasarnya memang mau, cici-ku bisa saja terus berhubungan diam-diam dengan cowok itu.

Ternyata omongan dan sikapnya selama ini sungguh berbeda dengan perbuatannya sekarang ini. Jadi ada pepatah baru,” Mulut mengatakan tidak mau kencing berdiri namun diam-diam melakukan kencing sambil berlari”. Selama ini ia bersikap tidak suka dan tak mau bergaul dengan cowok pribumi namun pada saat ini justru ia sedang bermesraan dengan cowok pribumi. Aku dimaki-maki karena dianggapnya diam saja saat dia diliatin sama cowok tak dikenal, ternyata justru dia mau digrepe-grepe oleh cowok tak dikenal, malah menikmati pula. Akhirnya kuputuskan aku akan menyaksikan saja apa yang akan terjadi seterusnya.

Cowok itu jadi makin berani. Daster cici-ku yang bagian bawahnya telah terbuka, kini diloloskannya dari kepala dan kedua tangan cici-ku yang dengan sukarela mengangkat kedua tangannya supaya dasternya bisa terlepas dari tubuhnya. Bra-nya juga berwarna sama, merah menyala yang kontras dengan tubuhnya yang putih mulus. Dengan penuh nafsu, cowok itu melepaskan bra cici-ku yang pengaitnya ada di depan. Sambil memandangi payudara cici-ku dari jarak begitu dekat, ia meloloskan tali bahunya dari kedua tangannya. Lagi-lagi cici-ku “bersikap kooperatif” membiarkan cowok itu membuka bagian rahasianya.

Cowok itu memandangi payudara cici-ku sambil tersenyum-senyum. Memang payudaranya benar-benar indah dan sungguh mengggoda. Jauh lebih indah dan padat berisi dibanding yang kulihat beberapa tahun lalu. Belahannya begitu sempurna dan keduanya nampak simetri. Celah lekukan diantara payudaranya betul-betul indah. Putingnya berwarna segar kemerahan. Kedua ujung putingnya menonjol.

Baca Juga : Relik

Langsung saja kedua tangan cowok itu merengkuh masing-masing satu payudara cici-ku. Diraba-raba dan diremas-remasnya. Dirasakan kekenyalannya. Jari jemarinya meraba-raba dan memilin-milin kedua putingnya terutama ujungnya yang nampak sensitif. Terbukti karena cici-ku dibuat mendesah-desah perlahan karenanya.

Setelah cukup puas bermain-main dengan payudara, cowok itu melepas baju kaus dan celana panjangnya sendiri, berikut celana dalamnya. Sehingga kini ia telanjang bulat dihadapan ciciku. Kulitnya coklat kehitaman. Badannya tegap serta dadanya bidang. Cici-ku nampak jengah karenanya, mungkin terutama karena batang penisnya yang besar dan panjang telah ngaceng dengan kuatnya. Apalagi kepala penisnya yang disunat jadi makin nampak besar. Kelihatan pula urat-uratnya menonjol di tubuh penisnya yang lebih hitam dibanding kulitnya. Seluruh paha dan kakinya berbulu lebat.

Kemudian ia melepaskan CD merah cici-ku sehingga kini keduanya telah telanjang bulat. Lagi-lagi ciciku dengan sukarela membiarkan cowok itu melucuti pakaian terakhir yang melekat di tubuhnya. Rambut kemaluannya nampak cukup lebat. Cowok itu membuka lebar-lebar paha cici-ku mungkin supaya ia bisa melihat dengan jelas vagina dan klitoris cici-ku. Betul-betul kurang ajar cowok itu!

Lalu direbahkannya cici-ku dan kembali ia menciumi leher, rambut, dan seluruh wajah cici-ku. Dikulum dan dilumatnya bibir cici-ku sementara tangannya meraba-raba tubuh cici-ku terutama payudara dan paha. Kemudian mulutnya turun ke bawah, dari leher ke bagian dada. Dikecupinya kedua payudara cici-ku dan dikulumnya putingnya bergantian, lidahnya bergerak-gerak melingkari putingnya, putingnya digerak-gerakkannya dengan lidahnya, dan terakhir putingnya dikenyot-kenyot. Dan tangannya digesek-gesekkan di vagina terutama klitorisnya. Membuat cici-ku tanpa malu-malu lagi mendesah-desah tak keruan.
“Oooh, ahhhh, oohhhhh.”
Aku pun jadi terangsang juga menyaksikan dan mendengar itu. Penisku
telah berdiri tegak dan cairan pre-cum ku mulai keluar.

Cowok itu kemudian menjilati vagina cici-ku. Wah, gila! Seperti AV Jepang saja. Tak jelas apa yang dilakukannya namun cici-ku jadi makin mendesah-desah dan mengerang-ngerang dibuatnya.

Lalu ia menindih tubuh cici-ku, pahanya yang hitam berbulu menempel di paha cici-ku yang putih mulus sementara dadanya yang bidang menempel ke payudara cici-ku. Kembali dengan penuh nafsu ia menciumi bibir cici-ku kemudian ke lehernya.

Tak lama kemudian, ia membuka lebar-lebar kedua paha ciciku. Diatur posisi penisnya di depan vagina cici-ku. Lalu dengan gerakan mendorong ke depan, dimasukkan kepala penisnya ke dalam liang vagina cici-ku.
“Oooohhhh.”
Lalu gerakan mendorong sekali lagi, mungkin untuk memasukkan seluruh penisnya ke dalam.
“aaahhhhhhhh.”
Setelah itu terjadilah gerakan berirama ketika ia memainkan penisnya di dalam vagina cici-ku. Tentu pada saat itu cowok itu – yang bahkan namanya pun aku tak tahu- telah berhasil merenggut kehormatan cici-ku secara telak. Bahkan bukan tidak mungkin pula kalau ia adalah cowok pertama yang menikmati keperawanan cici-ku. Sebelumnya aku tidak pernah menyangka kalau cici-ku bisa berkelakuan seperti saatini. Aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukannya karena cowok itu dalam posisi memunggungiku saat ia mem-”banging” cici-ku. Hanya bisa kulihat tubuhnya bergerak maju mundur. Aku tak bisa melihat cici-ku karena tertutup oleh punggungnya. Namun gerakan-gerakan itu membuat desahan-desahan cici-ku jadi makin liar dan makin cepat iramanya.
“Ooooh…Aaahhh….Ooohhhhh….Ahhhhhh…..Ooohhhhhh.”

Namun hal itu tak berlangsung lama. Karena tak lama kemudian mereka berubah posisi menghadap ke samping sehingga kini aku bisa melihat dengan jelas. Cowok itu menyuruh cici-ku menungging di depannya yang dengan patuh diikutinya. Nampak punggungnya yang putih mulus dan payudaranya bergerak-gerak menggantung dengan bebasnya. Kayaknya cowok itu ingin menikmati cici-ku dalam posisi doggy style. Namun sebelum itu, ia memegang dan menyangga payudara cici-ku. Kedua payudara yang indah itu kini berada dalam genggamannya, ditepuk-tepuknya dan diremas-remasnya.

Setelah puas memainkan payudaranya, kini dimasukkannya penisnya yang besar ke dalam lubang vagina cici-ku lalu dikocoknya di dalamnya. Saking nafsunya sampai-sampai seluruh tubuh cici-ku jadi ikut terdorong maju mundur mengikuti gerakan “kocokan” cowok itu. Cici-ku jadi makin mendesah-desah tak karuan dibuatnya. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang termasuk payudaranya juga bergoyang-goyang tak karuan. Bahkan ranjang pun jadi ikut tergoyang-goyang. Dengan posisi sekarang, kini aku bisa melihat langsung maupun dari refleksi kaca besar di meja rias di samping ranjang. Cowok itu nampak sangat puas menikmati “menggedor-gedor” seluruh tubuh cici-ku itu. Kini pandangannya mengarah ke kaca besar meja rias itu, tertuju ke tubuh cici-ku yang bergoyang-goyang karena kocokan penisnya itu. Memang betul-betul dahsyat pemandangan itu!

Setelah puas menggedor dalam posisi doggy style, kini cowok itu merebahkan dirinya telentang di ranjang. Nampak penisnya yang besar berdiri dengan tegaknya. Kepala penisnya mengkilap basah mungkin karena cairan pre-cum bercampur dengan cairan vagina cici-ku.

Lalu ia “membimbing” ciciku supaya “duduk dengan manis” diatas tubuh cowok itu dengan posisi yang tentunya diatur supaya penisnya berada di dalam vagina cici-ku. Setelah masuk ke dalam, dengan tangannya ia menggerakkan tubuh cici-ku naik turun. Mula-mula cici-ku agak canggung. Namun lama kelamaan ia jadi keenakan naik turun menunggang penis cowok itu. Payudaranya bergerak-gerak dan berputar-putar naik turun mengikuti gerakan tubuhnya. Namun aku tak lama bisa menikmati payudaranya karena kedua tangan cowok itu segera merengkuh payudara cici-ku dan kembali, untuk kesekian kalinya hari itu, meremas-remasnya. Nampak kontras perbedaan tubuh mereka. Cici-ku yang putih bergoyang-goyang di atas tubuh cowok itu yang hitam. Namun rupanya cici-ku sudah tidak mempedulikan segalanya. Karena ia terus-terusan menggerakkan tubuhnya naik turun sambil terus mendesah-desah dan berteriak-teriak. Diantara suara desahannya itu, aku juga bisa
mendengar suara beradunya penis cowok itu dengan vagina cici-ku.
“Ahhhhh, ahhhhhh, ahhhhhh, ahhhhhhh….” Ceritamaya
“Shleeb, shleeb, shleeb…”
Saat itu aku pun juga merasa ikutan “naik”. Tanpa sadar kukocok penisku menikmati pemandangan itu. Sementara cici-ku makin lama mendesah-desah makin cepat dan makin tinggi suaranya. Sampai akhirnya ia mendapatkan orgasme.

Setelah itu mereka berganti posisi. Tubuh cici-ku yang lebih kecil ditindihnya. Pahanya yang hitam berbulu kembali menempel di paha cici-ku yang putih mulus. Cici-ku sepertinya kegelian karena bulu-bulu di paha cowok itu menggelitik pahanya dan vaginanya. Kini giliran cowok itu yang diatas untuk menyetubuhinya dengan gaya missionaris. Kembali penisnya dimasukkan ke dalam vagina cici-ku. Kemudian benar-benar habis-habisan ia mengocoknya. Sampai-sampai seluruh ranjang kembali bergoyang-goyang.

Setelah itu ia mengubah sedikit posisinya. Ia menyetubuhi cici-ku dengan mengangkat kedua paha cici-ku dan menaruh diatas bahunya. Lalu kembali disodoknya cici-ku yang putih mulus itu dengan penisnya yang hitam besar. Tentu sodokannya itu membuat kembali terjadi “gempa setempat”. Seluruh tubuh cici-ku bergoyang-goyang. Kedua payudara cici-ku bergerak-gerak dan berputar-putar mengikuti irama gerakan sodokan cowok itu.

Cukup lama ia menggenjot cici-ku seperti itu. Setelah puas meng-“over-power” cici-ku seperti itu, akhirnya ia mengalami ejakulasi dan memuntahkan seluruh spermanya di dalam tubuh cici-ku.

Saat itu aku pun akhirnya juga mengalami ejakulasi yang terhebat yang pernah kualami. Kurasakan sperma yang tumpah di celanaku amat sangat banyak. Aku merasa sangat puas sekali. Setelah itu aku merasa ngantuk sekali dan tertidur.

…….
…….

Entah berapa lama kemudian, aku setengah sadar terbaring di ranjangku, dalam kondisi setengah sadar dan setengah bermimpi. Ooh, ternyata barusan aku cuma bermimpi, pikirku. Namun kurasakan celanaku basah kuyup dan bau sperma. Hmm, ternyata barusan aku mimpi basah mengenai cici-ku dan cowok tak dikenal. Dalam hati aku bersyukur bahwa semuanya ini hanyalah mimpi. Sungguh aku tidak mengharapkan kalau cici-ku dibegituin betulan sama cowok itu. Meski harus kuakui dengan jujur, bahwa itu adalah mimpi yang indah.
Mimpi yang sangat indah.
Dan juga sangat riil.
Sampai-sampai sulit dibedakan antara mimpi dan kenyataan.

Pagi harinya…
Aku bangun agak terlambat. Begitu bangun aku langsung teringat akan mimpi indah kemarin malam. Saat itu aku sudah betul-betul bangun dan sadar kalau saat ini bukan mimpi. Seketika kupegang celanaku, ternyata memang malam itu aku mimpi basah dengan hebat dan mengeluarkan sperma banyak sekali. Bahkan saking banyaknya, ada sisa sperma yang mengering di pahaku dan membekas sampai ke seprei-ku.

Badanku terasa lemas gara-gara keluar sperma yang sangat banyak malam tadi. Setelah cuci muka, aku keluar kamar. Tak lama kemudian keluarlah ciciku dari kamarnya. Tampangnya kusut dan rambutnya awut-awutan. Tampangnya seperti orang yang baru bangun. Tidak biasanya jam segini ia baru bangun. Biasanya ia selalu bangun lebih pagi dariku.

Namun yang mengherankanku adalah, ia memakai daster merah coklat yang sama persis dengan mimpiku semalam. Padahal daster itu biasanya jarang dipakainya. Dan bra yang dipakainya pun warnanya merah menyala. Hal ini terlihat dari talinya yang kelihatan di bahunya. Belakangan setelah ia selesai mandi, kulihat diantara tumpukan baju kotor, bra dan CD warna merah menyala yang modelnya sama persis dengan mimpiku kemarin!

Dan yang paling membuatku terkejut adalah, sewaktu pintu kamarnya terbuka agak lebar, kulihat ada kantong kresek Hero di tempat yang sama dengan yang kulihat kemarin!!

Kini aku jadi penasaran, apakah kemarin malam cici-ku betul-betul telah disetubuhi dan bercinta dengan cowok itu ataukah memang cuma mimpi? Untuk membuktikannya, aku mempunyai ide bagus, yaitu dengan mencek seprei di ranjangnya yang bisa jadi ada bukti bekas-bekas “pertempuran” malam itu kalau memang itu benar-benar terjadi.

Namun sayangnya aku tidak mendapat kesempatan itu. Karena disaat aku sedang mandi, seprei berikut sarung bantal dan guling serta comforter yang ada di bawah seprei telah diganti dengan yang baru.
Sementara yang lama telah dicuci di dalam mesin cuci dan comforter-nya telah dikirim ke laundry.
Kebetulankah?
Atau untuk menghilangkan bukti?

Kini aku benar-benar tidak tahu, apakah kejadian malam itu hanya mimpi?
Ataukah mimpi yang terjadi bersamaan dengan kenyataan?
Atau memang kenyataan?

Oleh karena sejak saat itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan cowok STM itu.
Jadi di dunia ini, hanya cici-ku seoranglah yang tahu akan kejadian sesungguhnya.
Ataukah ada diantara pembaca yang tahu kejadian sesungguhnya?
Entahlah.